Wednesday, August 23, 2023

Kisahku Bersama Kim Mutiara Borneo


Hai, Peers!
Kali ini aku pakai seragam Diskominfo.
Kenapa?
Apa aku kerja di Dinas Komunikasi dan Informasi?
Oh, tidak!
Aku adalah relawan informasi yang tergabung dalam KIM (Komunitas Informasi Masyarakat). 
Kebetulan, aku dipercaya untuk jadi Ketua KIM Mutiara Borneo yang ada di Desa Beringin Agung.
Bersama tiga orang relawan lain (Rendy, Nisyam dan Arifin), aku berusaha untuk bergerak di bidang dokumentasi dan publikasi kegiatan desa. 
Foto ini diambil adikku saat kami mendokumentasikan kegiatan pagelaran seni budaya selama 3 hari 3 malam. 
Rasanya amazing banget karena tim dokumentasi dituntut untuk on dari awal sampai akhir.
Alhamdulillah ... berkat bantuan dari tim relawanku, kami berhasil juga mendokumentasikan kegiatan kali ini. 
Memang nggak bisa full video dari awal sampai akhir. Karena tim aku juga butuh untuk istirahat. Kesehatan mereka, juga menjadi bagian dari prioritas aku.
Harapannya, aku tetap bisa mendapatkan banyak relawan informasi untuk memublikasikan potensi-potensi yang ada di desa Beringin Agung.
Terima kasih untuk tim Kim Mutiara Borneo!

Jangan lupa support konten-konten kami supaya lebih semangat lagi berkarya!


Follow akun Ig @kimmutiaraborneo

Kunjungi juga website kami di Kim Mutiara Borneo

Wednesday, August 16, 2023

Perjuangan Dapatkan Tim Kaligrafi Yang Tidak Mudah


08 Agustus 2023 menjadi salah satu momen yang tidak bisa dilupakan seumur hidup dan harus aku tulis sebagai sebuah sejarah.
Kenapa?
Karena ini adalah hari di mana 8 tim kaligrafiku berhasil membawa piala di ajang lomba MTQ ke-44 Kecamatan Samboja.
Rasanya bangga banget. 
Ada proses panjang yang harus dilalui.
Bener-bener nggak mudah untuk bisa ada di titik ini. Berkali-kali aku mencoba mencari bakat baru, tapi hasilnya juga tidak maksimal. Banyak yang memilih untuk menyerah, bahkan di saat belum memulai. Bisa dibilang, seni kaligrafi adalah tantangan besar bagi anak-anak.
Ini adalah tahun ke-4 aku mendampingi mereka dan sangat senang melihat perkembangan-perkembangan mereka.
Terima kasih untuk tim kaligrafiku.
Selalu solid, tetep rendah hati, selalu belajar di mana pun berada. Semoga semuanya sukses di masa depan. Aamiin. 

Cerpen Kompetisi : Satu Hari dalam Ingatan Kakek karya Amelia Rizki

Satu Hari dalam Ingatan Kakek

Penulis: Amelia Rizki




Semarang, 17 Desember 1945


Empat bulan setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, Santo kembali ke rumahnya di Semarang.


Suasana malam terasa mencekam akibat Belanda yang masih bercokol di tanah air. Tak banyak yang berani beraktivitas di malam hari, begitu juga dengan Santo. Sebagai seorang pejuang, ia harus lebih berhati-hati agar tak menarik perhatian para pasukan Belanda.


Malam itu terasa berbeda karena menjadi saksi kemarahan Mutia. Ia terdiam dengan tangan yang tergenggam kuat, setelah perselisihan dengan Santo, suaminya, hingga membuat kepalanya terasa pening. Dadanya naik-turun dengan helaan napas yang diambil sembarangan. Jantungnya berdentam-dentam begitu kuat, terasa ingin lepas dari tempatnya.


"Tolong mengertilah, Mutia. Ini demi negara kita." Santo mengusap wajahnya kasar.


"Tetapi Bagas itu masih berusia 16 tahun, Mas. Apa ndak kasihan sama anakmu?" Mutia menahan air yang akan jatuh di sudut matanya.


Santo menggeleng pelan, pertanda ia tetap pada keputusan. Pernyataannya yang ingin membawa anak mereka turut serta menjadi pejuang, menorehkan kecemasan yang mendalam di hati Mutia. Ingin rasanya ia menjelaskan betapa rasa khawatir itu juga datang menghampirinya, tetapi kecintaannya kepada negara ini lebih besar dari segala yang ia miliki.


Mutia terisak lirih, sadar bahwa tak ada lagi yang bisa menghentikan keputusan suaminya.


"Pergilah ke rumah simbok di Demak. Di sana kamu akan aman sementara waktu. Aku dan Bagas akan datang menjemputmu jika kondisi Semarang sudah membaik."


Santo mengecup puncak kepala Mutia, lalu memeluknya sebentar. 


"Berhati-hatilah dalam perjalanan. Jadilah wanita yang tangguh lagi kuat."


Mutia mengemas pakaiannya ke dalam sebuah kain yang diikat sedemikian rupa. Bersamanya juga ia membawa secercah harapan atas keselamatan suami dan putra semata wayang. Mutia harus kuat. Menjadi istri seorang pejuang memanglah tak mudah. Dengan mengendap-endap, ia berjalan keluar meninggalkan rumah yang telah memberikan naungan belasan tahun lamanya.


"Aku menunggu kalian datang dalam keadaan bernyawa," ucap Mutia lirih sembari menengok ke arah rumah yang baru saja ia tinggalkan.


Akan tetapi, betapa terkejutnya Mutia ketika mendengar suara ledakan granat bergema dari arah belakang. Ia menjerit kala melihat rumahnya telah berlobang di beberapa bagian. Entah bagaimana dengan nasib Santo dan Bagas. Satu yang ia pahami, keputusan Santo menyuruhnya pergi adalah demi keselamatan dan kebaikannya sendiri.


Tanpa Mutia ketahui, detik di mana granat itu meledak dan membuat lubang di dinding rumahnya, detik itu pula Santo dan Bagas bergerilya menuju basecamp para pejuang. Mereka menyamar menjadi warga sipil biasa tanpa senjata, agar para tentara musuh tak curiga dengan keberadaan mereka.


"Kita akan melakukan gerakan senyap. Semua akan dilakukan dengan cermat dan hati-hati." Letkol Basuni memberikan penjelasan.


"Kita akan menyerang mulai malam ini. Tentu saja ini akan berhasil jika kita semua bekerja sama. Musuh telah membakar rumah-rumah warga dan juga gudang persenjataan. Kita hanya memiliki tekad kuat dan bambu runcing sebagai senjata. Apakah kalian bersedia?!"


"Siap, bersedia!" Gemuruh suara penuh rasa nasionalisme mengobarkan semangat juang yang tinggi.


Mereka mulai membagi tugas agar penyerangan dapat sukses terlaksana. Golongan Toekang Listrik yang biasanya bertugas mengaliri listrik di seluruh kota, kini bekerja sama untuk memadamkan seluruh listrik di dalam kota. Sabotase ini dilakukan agar 


konsentrasi Belanda terpecah belah.


"Santo! Maju ke arah jantung kota kemudian kepung markas musuh. Bawa beberapa pasukan bersamamu!" Dengan tegas Komandan Basuni memberikan perintah. Dalam situasi seperti ini, titah  komandan menjadi keharusan dlyang harus dipatuhi tanpa ada perlawanan.


Santo mengangguk. Matanya berkilat tajam, dengan bendera merah putih terikat kuat di atas bambu runcing miliknya. Ia dan beberapa pasukan muda untuk bergerilya menuju markas musuh.


"Kita berpencar! Lumpuhkan musuh dengan senjata apa pun yang kita punya. Takada kata menyerah demi mempertahankan kemerdekaan kita," teriakan Santo berhasil memantik semangat para pemuda.


Akan tetapi, baru saja Santo hendak menyergap musuh, derap langkah sepatu terdengat mendekat.


"Hou je mond!"


Santo mematung merasakan dinginnya moncong senjata tepat berada di keningnya.


"Bajingan!" umpat Santo sembari meludah ke arah pasukan Belanda.


Terang saja tindakannya itu membuat berang tentara Belanda. Ia bergumam, lalu memukulkan senjata laras panjang itu ke kepala Santo hingga membuat kepalanya berambut gondrong miliknya mengeluarkan darah.


Pandangannya mulai kabur, lalu samar-samar ia mendengar beberapa pejuang berlari menuju ke arahnya.


"Mati kowe!" Santo berteriak sambil mendorong tubuh tegap si Belanda hingga terhuyung.


Melihat kesempatan baik ada padanya, ia menangkap tinggi-tinggi bambu runcing miliknya, lalu menghujamkannya berulang kali. Senyuman terbit di ujung bibirnya. Perasaan puas telah mengalahkan seorang musuh seakan memenuhi ruang di dalam hati. Ia kemudian bergabung bersama pasukannya untuk terus menggempur musuh.


Semangat membara para Toekang Listrik yang sebelumnya membantu memadamkan listrik kini telah turun lapangan. Mereka bergerak dengan menggenggam berbagai macam keahlian mereka seperti;kunci-kunci, linggis, palu dan lain sebagainya.


"Merdeka!"


"Merdeka!"


"Usir Belanda dari Bumi Pertiwi!"


Teriakan-teriakan itu terus menggema dari para pejuang tanah air. Beberapa saat, Santo mulai ingat keberadaan Bagas. Bagaimana pun ia bertanggung jawab atas keselamatan anaknya. Mutia, sang istri, tak akan memaafkannya jika sesuatu hal terjadi kepada anak semata wayang mereka.


"Hendro! Di mana Bagas?" tanyanya sambil menepuk pundak teman seperjuangannya.


"Bagas tadi sudah lebih dulu berangkat ke daerah di sebelah utara. Pasukannya berhasil menakuti para Belanda itu," ujar Hendro sedikit berkelakar.


"Syukurlah kalau begitu." Santo meringis memegangi keningnya yang masih berdarah. Ia menyobek kain baju miliknya, lalu membebatnya kuat agar pendarahan segera berhenti.


Jarum jam terus berputar pada porosnya. Dalam dinginnya malam, pasukan Belanda berhasil dipukul mundur. Beberapa bangunan penting tadinya berhasil dikuasai musuh, akhirnya bisa direbut kembali oleh pejuang tanah air. Markas besar berisi beberapa berkas penting dan perlengkapan senjata lengkap beserta amunisi juga aman terkendali.


Malam yang melelahkan telah terlewati. Matahari pagi bersinar hangat menerpa wajah-wajah dingin yang penuh bekas luka. Namun, wajah-wajah itu tetap menampilkan senyuman terbaik meski rasa lelah seakan mematahkan tulang belulang. Mereka tetap bersorak bangga karena berhasil memukul mundur Belanda dan mempertahankan Ibu Kota Jawa Tengah.


Santo sudah mendapatkan perawatan agar lukanya tak semakin parah. Bagas pun tak terluka parah. Hanya beberapa goresan di tangan dan kakinya. Berita kemenangan pejuang tersebar melalui radio-radio tanah air.


"Berita pagi hari itu dari sekitar Mranggen para pejuang republieken menyataken bahwa niat moesoeh menggempoer Mranggen tidak berhasil. Peloeroe-peloereo moesoeh djatoeh berhamboeran dimoeka Kota, di belakang Semarang, dan sekitar Mranggen!"


Tak terlukiskan betapa gembiranya hati Mutia mengetahui keberanian para pejuang telah berhasil mengalahkan Belanda.


"Mbok! Simbok! Belanda sudah pergi, Mbok. Mas Santo dan Bagas sebentar lagi pasti datang menjemputku di sini." Mutia berlari-lari menyampaikan kabar gembira kepada ibunya.


Bibir yang sejak semalam hanya terkulum kini mulai tersenyum manis. Begitu bahagianya hingga masih pagi-pagi sekali ia sudah mandi dan bersolek demi menunggu kedatangan anak dan suaminya. Kebanggaannya menjadi berlipat-lipat kala teringat perdebatan mereka malam itu. Mutia merasa beruntung karena suaminya bersikeras membawa Bagas berjuang bersamanya. 


"Mutia!"


"Ibuk!"


Teriakan Santo dan Bagas memudarkan lamunan Mutia. Senyumnya makin melebar tatkala ia melihat dua sosok lelaki berjalan menuju ke arahnya. 


17 Agustus 2023


78 tahun Indonesia merdeka.


Hari ini Kota Semarang begitu semarak dengan bendera merah putih berdiri tegak di depan rumah para warga. Seorang lelaki renta memakai topi veteran duduk di kursi dengan pandangan lurus ke depan. Matanya berkaca-kaca dengan tangan yang sesekali gemetar. 


Tujuh puluh delapan tahun lalu, ia berjuang memukul mundur pasukan Belanda yang hampir saja kembali menduduki Ibu Kota Jawa Tengah. Meski bukan di hari yang sama, tetapi ia masih ingat keringat dan darah yang menetes dari dahinya.


Ia menggenggam kuat kain berwarna merah dan putih. Menghidu aromanya dengan sepenuh hati, lalu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.


Meski suaranya tak sekuat dulu, meski tenaganya telah rapuh dimakan usia, tetapi ingatannya tentang hari itu takpernah hilang walau sedetik saja.


Ia terus bergumam, hingga seorang anak kecil bertubuh tambun dengan rambut sebahu itu menghambur ke dalam pangkuannya.


"Kakek Bagas, ayo pasang bendera!" ujarnya sambil menarik-narik kain yang dipegang sang kakek.


Di belakangnya, seorang lelaki berpakaian TNI juga turut menghampiri.


"Ayah, terima kasih telah berjuang bersama seluruh warga Semarang kala itu."


"Terima kasih telah menjadi tentara yang tangguh. Tugasmu menjaga tanah air, aku yang melanjutkan."


Kemudian mereka bersama-sama memasang bendera pada tiang kayu yang telah disediakan sebelumnya. Memberikan hormat pada sang saka merah putih yang demi dirinya telah rela bertumpah darah. 


Semarak bulan Agustus selalu saja ditunggu warga. Berbagai lomba diadakan demi memeriahkan suasana. Dari anak-anak hingga dewasa semua larut dalam bahagia yang nyata. Pasukan gerak jalan, panjat pinang, tarik tambang dan sepak bola menjadi pertandingan rutin setiap tahunnya.


Tak lupa yang selalu menjadi topik utama adalah karnaval dengan berbagai jenis kostum kepahlawanan. Jika sudah begini, Kakek Bagas akan setia duduk di kursi miliknya, lalu mulai bercerita tentang hebatnya para pejuang memukul mundur para penjajah. Tentang bagaimana mempertahankan bendera merah putih tetap berkibar  di udara. Tentang duka kehilangan teman dan saudara di waktu yang nyaris berdekatan. 


Selanjutnya ia akan bercerita tentang bahan makanan yang hanya terbuat dari umbi singkong semata, serta senjata yang tak seberapa, para pejuang tetap gigih membela. Lalu, Kakek Bagas mulai membanding-bandingkan, bagaimana hidupnya semasa menjadi pejuang muda dengan para muda mudi jaman sekarang.



"Dulu, menjadi prajurit itu begitu membanggakan, sekarang disuruh hormat bendera saja banyak yang tidak mau."


"Zaman dulu, senjata hanya milik penguasa. Kini pasukan adalah kita yang bergerak bersama melindungi tujuan negara."



Kakek Bagas meneteskan air mata yang sempat menggantung di pelupuk. Hatinya campur aduk melihat perkembangan Indonesia yang semakin modern. Satu hal yang selalu ia katakan, "Kita sudah lama merdeka, tetapi hari ini aku melihat rakyat dijajah oleh bangsa sendiri. Orang susah semakin susah karena mereka yang berkuasa berbuat semena-mena. Sungguh kasihan!"



PROFIL PENULIS

Amelia Rizki adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki hobi menulis cerpen. Ia telah mengikuti beberapa event dan berhasil menjuarainya. Selain itu, ia juga turut serta menjadi penulis di beberapa antologi bersama. Jika ingin berkomunikasi dengannya bisa melalui  FB: Amelia Rizki


Cerpen Kompetisi : Surga yang Tak Pernah Ada karya Riri Rosy

 

 

Surga yang Tak Pernah Ada

 

Oleh : Riri Rosy

 

 

Surga, tidak selamanya tampak indah dan sempurna. Bukan juga tempat yang dipenuhi aneka bunga cantik nan harum, dengan berbagai pohon buah yang ranum. Apalagi tempat yang akan dialiri susu dan madu. Surga tidak seperti itu bagi sepasang kekasih, Anneliese dan Wirojoyo. Bagi mereka surga itu hanyalah tempat mereka biasa bersua, dengan pohon bambu di tepi sungai dengan air jernih meneduhkan keduanya.

 

Tempat rahasia mereka jauh dari keramaian. Mereka terpaksa selalu bertemu diam-diam karena ayah Anneliese, Meneer Aart Leonard Langenberg, melarang putri semata wayangnya menjalin hubungan dengan orang pribumi. Baginya tidak akan mudah menyatukan banyak perbedaan di antara mereka.

 

Anneliese Beatrix Aart, wanita Belanda berkulit seputih susu itu duduk terpaku. Dengan wajah bermendung penuh kegalauan, ia menatap Wiro, pemuda pribumi yang menjadi tambatan hatinya. Pemuda itu duduk di sampingnya dengan mata menerawang jauh. Dahinya sedikit berkerut. Kemudian ia menghela napas dalam-dalam. Anneliese bisa merasakan betapa berat beban perasaan Wiro saat ini.

 

Anneliese menatap wajah pemuda di sampingnya. Rambutnya hitam legam bergelombang dipotong pendek dan rapi. Alisnya tebal, garis wajah tegas dengan mata beriris hitam. Hidungnya cukup mancung untuk ukuran pemuda pribumi. Kulitnya cokelat dengan sedikit bulu halus di lengan dan kakinya. Bibir tipisnya murah senyum, tetapi sangat hemat berkata-kata.

 

"Zeg eens¹, Wiro," pinta Anneliese.

 

"Mungkin kita memang harus berpisah." Wiro berpaling menatap sepasang mata cokelat gadis di sampingnya itu.

 

Seketika mata Anneliese tampak membulat, sepasang alis cantiknya terangkat. Ia menutup mulut dengan jemarinya.

 

"Nee². Kamu menyerah?"

 

"Meneer Aart benar. Kebahagiaanmu yang utama. Aku belum tentu bisa membahagiakanmu."

 

"Tidak, Wiro. Kebahagiaanku bersamamu. Ingat, ons paradijs³ . Surgaku bukanlah rumah megah, tapi di sini, bersamamu. Jangan pernah tinggalkan aku."

 

Wiro kembali berpaling, menatap pucuk-pucuk daun yang bergoyang oleh semilir angin. Gemericik air sungai bagai simponi indah mengiringi nyanyian burung yang sesekali hinggap di pohon sekitar sungai. Keduanya membisu, tenggelam dalam kekalutan masing-masing.

 

Anneliese, gadis berambut ikal sepinggang itu menunduk. Diamnya Wiro terasa menyiksanya. Ia menggigit bibirnya yang kemerahan. Jemarinya merapikan selendang penutup kepalanya yang sedikit melorot tertiup angin. Gadis langsing itu sengaja berpenampilan seperti wanita Jawa, menggunakan kain batik dan kebaya. Ia juga memakai selendang di kepalanya hingga menutup sebagian wajah untuk menyamarkan wajah Belandanya dengan hidung yang begitu mancung.

 

Anneliese mulai menaruh hati pada Wiro sejak pemuda itu menolongnya saat rombongan tentara Jepang berusaha menculiknya untuk dijadikan budak pemuas nafsu. Sejak Jepang berkuasa, banyak warga Belanda yang dibantai atau dipulangkan. Anneliese dan ayahnya berhasil menyelamatkan diri dan pindah ke tempat yang agak terpencil dengan bantuan seorang saudagar kaya, Tuan Suryo.

 

"Anneliese, hari Jumat aku akan pergi." Kata-kata Wiro membuat Anneliese langsung berpaling menatapnya.

 

"Aku ikut!"

 

"Maaf, Anneliese. Aku rasa itu tidak mungkin."

 

"Bawa aku, atau aku mati?"

 

Wiro terdiam. Ditatapnya gadis itu dalam-dalam. Anneliese tidak sedang bercanda. Wiro sangat paham sifat keras kepalanya.

 

"Aku tak mau menikah dengan saudagar tua gendut itu." Wajah Anneliese menampakkan kemarahan. "Keluargaku berhutang budi pada Tuan Suryo yang telah membantu kami menyelamatkan diri dan ternyata duda itu menginginkanku. Kamu rela?"

 

Wajah Wiro memerah. Dadanya seakan-akan bergemuruh dan ingin meledak. Sungguh tak ada pilihan mudah baginya.

 

"Kamu sungguh-sungguh ingin ikut?" tanya Wiro seraya menatap gadisnya yang juga sedang memperhatikannya.

 

Anneliese mengangguk, matanya berbinar penuh harap.

 

"Tak akan menyesal apapun risikonya?"

 

Anneliese tersenyum.

 

"Jumat malam selepas Isya', aku akan pergi dengan bendi. Kita bertemu di jembatan." Wiro akhirnya mengambil sebuah keputusan setelah melihat Anneliese yakin untuk ikut bersamanya.

 

Senyum Anneliese mengembang penuh mendengar kata-kata Wiro. "Semoga kita menemukan surga yang lebih indah," katanya berharap.

 

"Semoga aku tak akan membuatmu kecewa."

 

"Wiro, kenapa kamu takut membuatku kecewa? Aku senang bersamamu. Kamu tahu, kan?"

 

Wiro menghela napas. Bibirnya menyungging senyum sekilas.

 

"Bagaimanapun kehidupan kita sangat berbeda, Anneliese. Aku takut tak bisa menghadirkan surga untukmu."

 

"Percayalah. Surgaku ada padamu, Wiro."

 

***

 

Sejak istrinya meninggal akibat peluru pejuang pribumi yang salah sasaran dan Anneliese nyaris ditangkap tentara Jepang, Meneer Aart mulai depresi. Ia ingin kembali ke negaranya tetapi tidak bisa. Pria itu menyesali nasib harus kehilangan istri dan setelah Jepang berkuasa, kehidupannya berubah drastis. Kesehatannya agak menurun. Ia khawatir memikirkan masa depan Anneliese, hingga ketika Tuan Suryo yang kaya tampak tertarik pada putrinya, kekhawatirannya mulai berkurang.

 

Sementara, sang putri justru sangat tak menyukai Tuan Suryo yang dianggapnya hanya mencari untung di atas deritanya. Ia juga terlanjur mencintai Wiro, pemuda pribumi yang sederhana tetapi membuatnya nyaman bersamanya.

 

Rasa sedih untuk meninggalkan ayahnya tak urung dirasakan Anneliese juga. Bagaimanapun, Meneer Aart adalah ayah yang menyayanginya. Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan ayahnya, tetapi ia benar-benar muak dengan Tuan Suryo.  Tidak ada jalan lain baginya untuk menghindari Tuan Suryo selain lari bersama Wiro.

 

Anneliese mengucapkan selamat malam, lalu memeluk ayahnya erat.

 

"Kamu mau tidur sekarang, Anneliese?" tanya Meneer Aart yang sedikit heran.

 

"Aku merasa lelah dan ingin tidur sekarang," jawab Anneliese sambil berpaling ke arah pintu. Ia tidak ingin ayahnya curiga.

 

"Baiklah. Tidurlah sekarang."

 

Setelah gelisah menanti kesempatan yang tepat untuk menyelinap ke luar rumah, Anneliese melihat kedatangan dua orang pria, Tuan Suryo dan temannya. Meneer Aart menyambut mereka dengan gembira dan mereka pun langsung terlibat percakapan serius di ruangan tempat Meneer Aart biasa membaca.

 

Samar-samar ia mendengar radio menyiarkan bahwa Bung Karno telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia hari itu jam sepuluh pagi. Pekik merdeka kemudian mulai diperdengarkan.

 

Dengan debar dada yang tak karuan oleh berbagai perasaan, Anneliese mengambil beberapa potong pakaian dan menyelipkan sebuah pisau di dalamnya untuk berjaga-jaga. Ia segera melompat ke luar melalui jendela kamarnya dan berjalan dengan cepat menuju jembatan menembus gelapnya malam yang hanya diterangi sinar lampu minyak dari rumah penduduk dan cahaya bulan.

 

Wiro duduk di atas bendinya, menatap lurus ke jalan arah Anneliese akan datang. Jantungnya mulai berdentam-dentam tanpa irama. Seumur hidupnya ia belum pernah melakukan hal senekat ini, membawa lari seorang gadis. Bibir tipisnya menyungging senyum saat dilihatnya Anneliese samar-samar muncul dengan berjalan mengendap-endap ke arahnya.

 

Setelah jarak mereka tinggal kira-kira dua puluh meter, terdengar deru mobil mendekat. Mobil tentara Jepang yang berkeliling. Mata Wiro membulat, ia tak menyangka tentara Jepang itu bisa berkeliling sampai ke kampungnya. Mungkin keberadaan beberapa orang Belanda di wilayah itu sudah tercium.

 

Saat mereka melihat Anneliese berjalan seorang diri, mobil berhenti. Dua orang tentara turun dan langsung menarik gadis itu ke mobil mereka. Anneliese berontak, tetapi tenaganya kalah jauh dengan tentara-tentara bermata sipit itu. Mobil kembali melaju. Jeritan Anneliese terdengar menyayat hati saat mobil itu melintasi jembatan.

 

Wiro berusaha mengejar mobil itu meskipun kecepatan tak sepadan, tetapi kemarahannya yang memuncak membuatnya bertekad untuk menyelamatkan Anneliese. Dokar Wiro tertinggal cukup jauh, tetapi sebagai pria penduduk asli wilayah tersebut, Wiro sangat hafal jalan-jalan di sana.

 

Anneliese memeluk erat bungkusan berisi bajunya. Sepanjang perjalanan, para tentara itu memperlakukannya dengan sangat tak sopan. Ia seolah-olah hanya permainan bagi mereka. Tangan-tangan pria bermata sipit itu tak henti bergerilya di atas tubuhnya. Semakin ia meronta, semakin mereka bernafsu melakukannya. Bahkan pakaian Anneliese bagian atas sudah sebagian robek dan terbuka. Anneliese menutup dadanya dengan bungkusan yang dibawanya. Air matanya tak henti mengalir.

 

Para tentara itu bukannya merasa iba, tetapi justru tertawa semakin kencang. Benar-benar biadab. Tak puas melihat pakaian Anneliese yang mulai terbuka, seorang tentara bertubuh agak gemuk mendekati Anneliese dan dengan kasar menarik kain di tubuh gadis itu hingga memperlihatkan pahanya. Anneliese menjerit, pria itu tertawa keras.

 

Anneliese semakin marah dengan perlakuan mereka. Ia teringat pisau di dalam bungkusan bajunya. Sambil menunduk, ia memasukkan tangan kanannya untuk mengambil pisau. Begitu tangannya berhasil memegang pisau itu, dengan cepat ia menghujamkan pisau ke tubuh tentara yang menyingkapkan kainnya. Sayang, salah satu temannya dengan sigap menangkap tangannya.

 

"Oh, rupanya kamu diam-diam membawa senjata. Baiklah, pisau ini yang akan membuatmu menuruti semua perintah kami!" sergah tentara itu setelah berhasil merebut pisau.

 

Dengan bibir menyeringai, ia menyentuhkan pisau itu ke pipi, leher, lalu dada Anneliese. Ia tampak begitu menikmati ekspresi ketakutan gadis itu.

 

Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah rumah kosong bercat putih. Anneliese diseret masuk ke rumah kosong itu. Seorang tentara menamparnya saat ia berteriak meminta tolong. Gadis itu dibawa masuk ke sebuah ruangan bersama beberapa tentara.

 

Rumah kosong itu hanya menyisakan beberapa perabot besar, setelah penghuninya pergi, mungkin ada yang menjarah barang-barang di dalamnya.

 

Anneliese dibawa masuk ke sebuah kamar yang hanya berisi lemari kosong. Salah satu tentara yang memegang pisaunya segera mendorongnya ke lantai. Ia tersungkur. Saat ia meringis menahan sakit tubuhnya yang terbentur lantai, tentara bertubuh gemuk langsung menarik pakaiannya dan tertawa melihat bagian atas tubuh gadis itu terbuka.

 

Tentara yang memegang pisau langsung menarik kain bagian bawah Anneliese. Gadis itu menjerit dan berontak, tetapi salah satu tentara memegang erat kedua lengannya.

 

Bulan mengintip dari jendela yang terbuka. Ia menjadi saksi malam jahanam yang merenggut mahkota sang gadis Belanda.

 

Tentara bermata sipit itu tak peduli jerit tangis Anneliese. Mereka bergantian melampiaskan nafsu bejatnya.

 

Meskipun sempat kehilangan jejak, pada akhirnya, Wiro beruntung bisa menemukan mobil itu berhenti di depan rumah peninggalan Belanda yang kosong.

 

Beberapa lama kemudian, Wiro muncul dan langsung menghambur ke arah dua tentara yang berjaga di depan pintu. Baku hantam terjadi, satu tentara tersungkur. Satu lagi baru berhasil menembakkan senjatanya dan mengenai paha Wiro, tetapi pria itu justru menabraknya. Ia berhasil merebut senjata, menembak tentara itu lalu masuk mencari Anneliese.

 

Ia mendengar tangisan Anneliese dan tawa lelaki dari dalam sebuah ruangan. Wiro menendang pintu sambil menahan sakit di pahanya. Ia menembakkan senjata ke arah tentara Jepang yang sedang melampiaskan nafsu bejatnya pada Anneliese. Sayang, hanya tinggal satu peluru. Dua orang tentara merangsek ke arahnya dan berhasil merobohkannya. Salah satu kemudian menarik senjata dari balik bajunya dan menembakkan ke arah Wiro. Darah segar mengalir dari perut Wiro. Tak puas dengan itu, dua orang temannya ikut menendang dan menginjaknya. Wiro terkapar tak berdaya.

 

Ketiga tentara tertawa puas lalu melangkah pergi meninggal Wiro dan Anneliese yang tak berdaya. Di bawah temaram cahaya bulan yang masuk dari jendela, Anneliese samar-samar melihat tubuh Wiro yang bersimbah darah. Kali ini bersama Wiro, ia merasakan seolah-olah berada di neraka. Tubuhnya terasa sakit terutama di bagian bawah. Tangisnya tak lagi terdengar. Ia merangkak sekuat tenaga mendekati Wiro.

 

"Wiro," panggilnya sambil menyentuh wajah Wiro.

 

Ia masih merasakan embusan napas lemah dari hidung Wiro. Ia mencoba mengguncang tubuh pria itu.

 

"Wiro," panggilnya menahan tangis.

 

Mata Wiro terbuka perlahan.

 

"Ma-afkan aku, Anneliese." Terbata-bata Wiro berkata dengan nada sesal.

 

"Jangan tinggalkan aku, Wiro. Bertahanlah. Kamu tahu, negaramu sudah merdeka."

 

"A-palah artinya jika kita ... tak merdeka. Tak ada lagi surga. Ma-afkan aku membuatmu ... men-derita." Napas Wiro tersengal-sengal lalu tampak makin sulit bernapas dan matanya menutup.

 

Anneliese menangis memeluk jasad Wiro. Hidup terasa tidak adil baginya. Tak ada lagi surga.

 

Ia merangkak mengambil pisaunya yang tergeletak di dekat tempatnya berbaring sebelumnya.

 

"Aku akan menyusulmu, Wiro," bisiknya sambil menghunjamkan pisau ke jantungnya.

 

***

 

Catatan kaki:

1. zeg eens: katakan padaku

2. nee: tidak

3. ons paradijs: surga kita

 

 

***

 

Profil Penulis

 

Riri Rosy, wanita introvert yang suka melukis, membaca, dan membuat aneka kerajinan ini mulai mencoba menulis dengan menulis antologi cerpen. Meskipun awalnya menulis hanya sebuah cara untuk healing, kini ia benar-benar mencintai dunia menulis fiksi. Oleh karena itu, ia berniat terus belajar sehingga bisa menghasilkan tulisan yang berkualitas. Riri bisa disapa di akun facebook Riri Rosy dan instagram @riri.rosy.9.

Cerpen Kompetisi : Kemerdekaan Ada di Setumpuk Buku Lusuh Itu dan Mungkin Juga di Dada Kita karya Imas Hanifah N.

 

Kemerdekaan Ada di Setumpuk Buku

 Lusuh Itu dan Mungkin Juga di Dada

 Kita

 

Oleh: Imas Hanifah N

 

 

Aku menatap sepatu butut yang selalu kupakai sebelum berangkat ke sekolah dengan perasaan sedih. Abah sudah bilang akan membelikanku sepatu baru, tapi perkataannya tidak juga menjadi kenyataan hingga sekarang. Aku tahu Abah belum punya uang lebih. Kaki Abah sakit sejak minggu lalu, makanya ia tidak banyak bergerak dan belum bisa bekerja jadi kuli bangunan lagi.

 

Aku menyingkirkan sepatu butut itu, melepaskan tas, lalu ke dapur, menemui Abah yang sedang sarapan singkong rebus.

 

"Bah, Agus mau kerja bantu Abah saja hari ini. Agus tidak akan berangkat ke sekolah, ya."

 

Abah berhenti mengunyah singkong. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang kukatakan barusan. Namun sejurus kemudian, ia pun tersenyum dan berkata, "Lho, kenapa tidak sekolah? Kalau Agus mau bantu, Agus bisa bantu Abah setelah pulang sekolah. Agus sudah kelas enam, masa mau bolos. Nanti kalau tidak lulus, bagaimana?"

 

Aku terdiam. Sebenarnya, ingin kujawab dengan sejujur-jujurnya kalau tujuanku membantu Abah, agar uang untuk membeli sepatu lekas terkumpul, tapi aku tidak berani bicara untuk saat ini.

 

"Abah akan tawarkan singkong ke Pak Jumadi, teman di kampung sebelah. Katanya suka bikin keripik, jadi kamu sekolah saja, ya. Uang bekal hari ini masih ada, kok. Ini," ucap Abah sambil mengeluarkan uang lima ribu dari sakunya. Aku pun menerimanya dengan sedikit ragu.

 

"Abah ke sana naik apa? Ada ongkos buat ke kampung sebelah?"

 

"Itu perkara nanti. Abah bisa nebeng ke tetangga. Mang Yosep juga kalau tidak salah ada urusan mau ke sana."

 

Aku mengangguk-angguk. Memang Abah ini orangnya mudah akrab. Tidak heran kalau Abah punya banyak kenalan yang suka membantu. Memikirkan itu, aku jadi sedikit lega. Walaupun keinginanku untuk membeli sepatu baru belum tentu terlaksana, setidaknya ada kemungkinan kami bisa makan nasi dengan lauk yang lebih layak besok. Semoga saja, singkong Abah banyak yang membeli.

 

Aku melangkah keluar dari rumah. Sepatu butut yang saat ini kukenakan sangatlah tidak nyaman. Sudah bolong-bolong bagian bawahnya. Kalau misal kena genangan air, otomatis kena kaus kakinya juga. Lalu setelah itu, bau busuk yang tercium dari kaus kakiku itu sudah tentu tidak dapat lagi dihindari. Baunya menyengat dan mungkin bisa membuat orang pingsan. Aku saja tidak sanggup kalau lama-lama mencium baunya.

 

Di tengah perjalanan menuju ke sekolah, tidak disangka aku malah ditahan di warung Mang Kumara.

 

"Agus, ke sini dulu sebentar!" teriak Mang Kumara.

 

Aku menurut saja. Sepertinya ini masih terlalu pagi untuk sampai ke sekolah, jadi aku merasa masih punya waktu.

 

"Duduk dulu. Ada yang mau kuberikan," katanya lagi.

 

"Baik, Mang," jawabku seraya duduk di kursi panjang warungnya Mang Kumara. Tidak lama kemudian, saat Mang Kumara kembali ke dalam rumahnya entah untuk mengambil apa, datanglah beberapa pelanggan yang sepertinya sudah biasa ada di warung Mang Kumara.

 

"Sebentar lagi, tujuh belasan. Hari kemerdekaan. Halah, hukum di negeri kita aja masih ruwet begini. Bisa dibeli dengan uang, masyarakat masih banyak yang sengsara, makan pun masih ada yang cuma sekali sehari. Merdeka dari mananya negeri kita ini?"

 

Salah satu pelanggan itu bicara dengan nada berapi-api. Aku pun mau tidak mau ikut menyimaknya.

 

"Betul, sih. Hukum dibeli, rakyat banyak yang sengsara, memang sebenarnya kemerdekaan kita ini palsu. Capek hidup di negeri ini."

 

Pelanggan yang lainnya menimpali dengan pendapat serupa. Pembicaraan mengenai pemerintah dan kondisi rakyat yang menyedihkan terus berlangsung. Aku terus mendengarkan pembicaraan tentang kemerdekaan yang bagi mereka palsu itu, sebelum akhirnya Mang Kumara menepuk pundakku. "Maaf lama, Gus. Ini, ada sedikit makanan untuk kamu makan di sekolah. Kemarin abahmu bantu Amang di ladang, bantu mengusir ular. Kalau tidak ada abahmu, bisa saja Amang sudah mati."

 

Aku mengangguk, menyambut riang bungkusan beraroma harum itu. Aku yakin isinya nasi goreng dengan suwiran daging ayam. Aroma daging yang menyatu dengan kecap, bawang goreng, dan bumbu lainnya begitu jelas. Sungguh pastilah ini akan jadi nasi goreng paling nikmat di dunia.

 

"Terima kasih, Mang."

 

"Iya, sudah sana. Nanti kamu kesiangan."

 

Aku kembali berjalan menuju ke sekolah. Padahal tadi sudah makan singkong rebus untuk sarapan, sekarang aku sudah lapar lagi. Ya, karena aroma nasi goreng ini yang amat menggoda, tapi aku akan menahan keinginanku untuk memakannya. Aku akan makan ketika waktu istirahat nanti.

 

Sesampainya di sekolah, aku segera masuk ke kelas. Pelajaran pertama dimulai setelah beberapa menit kemudian. Sebelum memulai pelajaran, Pak Candra membagikan buku sejarah yang sudah lusuh kepada murid-murid.

 

"Dalam rangka menyambut hari kemerdekaan, sebelum memulai pelajaran pertama hari ini, seperti yang sering kita lakukan setiap tahun, hari ini pun Bapak akan kembali menceritakan sejarah Indonesia saat berjuang meraih kemerdekaan. Pasti sebenarnya kalian sudah tahu dan sudah sering mendengar, tapi Bapak tetap akan menceritakannya."

 

Begitulah Pak Candra. Sejak ia menjadi guru sejarah di sekolah kami setahun yang lalu, tepat saat aku naik ke kelas enam, ia selalu bersemangat kalau bercerita tentang sejarah Indonesia, salah satunya tentang bagaimana Indonesia meraih kemerdekaan. Pak Candra selalu menerangkan dengan penuh penghayatan, bahkan ada saat ketika ia menjelaskan tentang detik-detik proklamasi berkumandang, Pak Candra menyeka ujung matanya yang basah. Oh, tentulah aku dan murid lain ikut tersentuh, seolah-olah kami memang dekat sekali dengan peristiwa itu.

 

Hari ini pun, kami akan mengulangi hal yang sama. Kami akan mulai membuka halaman demi halaman buku sejarah yang sudah lusuh dan berdebu, lalu Pak Candra pasti akan menangis lagi ketika berbicara tentang beratnya perjuangan bangsa Indonesia meraih merdeka. Perasaan kagum dan haru, akan kami rasakan kembali.

 

 

***

 

Usai jam sekolah berakhir, aku pulang. Masih dengan sepatu butut yang memang satu-satunya kumiliki, aku terus melangkah melewati jalanan beraspal yang panas. Tiba-tiba terngiang di kepalaku kata-kata yang sempat diucapkan pelanggan-pelanggan warung Mang Kumara. Tentang kemerdekaan yang palsu, tentang hukum yang bisa dibeli, tentang rakyat yang sengsara.

 

Kalau kupikir lagi, mungkin semua itu memang benar adanya. Aku berpikir apakah kemerdekaan yang dimiliki rakyat negeri ini palsu?

 

Rasanya itu pun tidak bisa dikatakan benar. Di buku sejarah yang sudah kubaca berulang kali, di setiap cerita yang selalu Pak Candra sampaikan soal kemerdekaan, perjuangan Indonesia untuk meraih kebebasan dari tangan penjajah itu benar adanya. Bukan kebohongan, bukan tipuan. Semuanya sudah terbukti. Bangsa ini sudah tidak lagi dijajah. Sudah merdeka. Sudah bebas.

 

Jadi, sebenarnya mana yang benar? Apakah untuk orang susah sepertiku, orang susah seperti Abah, kemerdekaan itu tidak ada?

 

Aku membawa pertanyaan itu ke hadapan Abah. Ia tengah menggali singkong di ladang. Aku menghampirinya, dengan masih memakai seragam sekolah, tas, dan tentunya sepatu butut.

 

"Bah, kapan kita merdeka?" tanyaku sambil tidak ragu duduk di tanah. Mungkin Abah akan merasa aneh karena pertanyaanku yang tiba-tiba itu, tapi aku benar-benar ingin tahu jawaban Abah.

 

Abah yang sedang menggali singkong, berhenti sejenak. Aku mengalihkan pandangan dari tatapannya dan mulai memainkan daun-daun singkong yang berserakan.

 

"17 Agustus, tahun 1945. Kamu sedang main tebak-tebakan atau bagaimana? Masa kamu tidak tahu soal itu?"

 

"Bukan, Bah. Menurut Abah, kita ini sudah merdeka atau belum?"

 

"Sudah. Sudah tidak ada yang menjajah kita. Kita sudah tidak dijajah lagi oleh negara lain."

 

"Bukan itu, Bah."

 

Lalu Abah malah mendekat, menghampiriku.

 

"Apa kalau gitu?"

 

"Tadi, di warungnya Mang Kumara, Agus disuruh mampir sebentar, Mang Kumara memberi nasi goreng buat makan siang di sekolah."

 

"Alhamdulillah. Bagus kalau begitu. Baik memang dia."

 

"Ya, karena Abah baik juga, bukan? Bantu dia usir ular."

 

"Iya-iya."

 

"Tapi bukan itu, Bah. Bukan soal itu."

 

"Terus, soal apa?"

 

"Ada Bapak-Bapak yang berkumpul di warungnya Mang Kumara tadi. Mereka berbicara soal kemerdekaan Indonesia."

 

"Wah, bagus. Mungkin karena menjelang 17 Agustus, ya."

 

Aku mengangguk. "Tapi kata mereka, negara kita belum merdeka, Bah."

 

"Kenapa?"

 

"Karena hukum bisa dibeli, rakyat masih banyak yang sengsara, kurang lebih begitu, Bah. Kata-kata mereka itu. Menurut Abah bagaimana? Sepertinya memang apa yang mereka katakan itu benar ya, Bah?"

 

"Bisa benar, bisa tidak. Abah bukan orang pemerintahan, tidak tahu soal hukum yang dibeli, tapi bisa saja itu terjadi. Kalau soal rakyat masih banyak yang sengsara, itu juga mungkin benar. Tapi bukan berarti kita belum merdeka."

 

"Jadi, kita sudah merdeka, tapi walaupun sudah merdeka, tetap saja sengsara?"

 

Abah diam sebentar. Melihat sekeliling ladang, lalu menjawab, "Kamu merasa sengsara?"

 

"Sekarang, Bah?"

 

"Iya, apa sekarang kamu merasa sengsara? Sedih?"

 

"Iya, Bah."

 

Akhirnya aku katakan sebuah kejujuran.

 

"Kenapa?"

 

"Ya, kalau kita kaya, Agus bisa beli sepatu baru, Bah."

 

Aku menatap kedua kakiku sendiri, kedua kaki yang dibalut dengan sepatu tak layak pakai.

 

"Maafkan Abah, ya. Lusa kita beli sepatu baru. Pak Jumadi mau borong singkong kita katanya."

 

Seketika aku merasa bahagia. Harapan punya sepatu baru pun semakin dekat untuk menjadi kenyataan. Seakan tidak percaya, aku bertanya lagi untuk memastikan, "Betul, Bah? Agus bakalan punya sepatu baru?"

 

"Betul!"

 

Setelah itu, Abah pun bangkit, dengan langkah kaki yang tertatih, karena mungkin masih sakit. Ia kembali mencabuti singkong. Aku membuka sepatuku, mencoba membantu Abah.

 

Kemudian kami tertawa ketika aku hampir terjengkang karena berusaha mencabut batang singkong dengan sekuat tenaga.

 

Aku melihat kebahagiaan di mata Abah saat ia melihatku tertawa. Aku melihat bagaimana ia begitu bersemangat mengatakan tentang rencana membeli sepatu baruku nanti.

 

Namun ….

 

"Abah, bagaimana kalau uangnya kita pakai berobat kaki Abah saja? Sepatu Agus, nanti saja lagi," kataku saat kami hampir selesai mengumpulkan singkong yang hendak dijual.

 

Abah mengelus kepalaku dengan lembut. "Kaki Abah akan segera sembuh. Kakimu jangan terluka, ya. Kita akan tetap beli sepatu baru yang bagus."

 

Aku hanya mengangguk. Aku menyadari satu hal paling penting hari ini. Abah punya hati yang sepenuhnya sudah merdeka. Merdeka dari rasa benci dan mungkin sejuta prasangka. (*)

 

 

 

 

Tasikmalaya, 15 Agustus 2023

 

 

Tentang Penulis

 

 

Imas Hanifah N. Lahir dan tinggal di Tasikmalaya. Merupakan salah satu admin di lokerkata.com. Ia aktif menulis di beberapa platform kepenulisan. Sebagian karyanya sudah dimuat di media online maupun media cetak. Antologi terbarunya berjudul Jejak Mengabur terbit pada Juni 2023, berisi kumpulan cerpen bersama penulis lain di Amateur Writer Indonesia.

 

 


 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas