Blog ini menceritakan tentang Kehidupan yang aku jalani. Keseharian yang ada dalam hidupku. Tentang cinta, tentang perjuangan dan pengorbanan, tentang rasa sakit dan tentang orang-orang yang ada di dalam kehidupanku. Tentang Desa Kecil dan gadis kecil yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat sekitar.

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, November 5, 2019

Race in Love


www.rinmuna.com


Hari ini, aku kembali duduk di bangku penonton untuk menyaksikan balapan sepeda motor. Sebenarnya, aku tidak suka berada di tempat ini karena aku harus menyaksikan kalau pacarku sedang dalam bahaya. Bahaya? Ya, bahaya yang bisa saja terjadi di sirkuit. Aku tidak ingin melihatnya terluka sedikit saja.

Setiap kali Rendra cedera, aku selalu menangis semalaman. Aku tidak bisa melihatnya terluka. Tapi, dia selalu bilang kalau dia baik-baik saja. Ia sangat mencintai dunia balap. Sekalipun aku terus memohon padanya untuk berhenti, ia tidak akan melakukannya. 
 
"Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Aku mencintai dunia balap. Aku tidak ingin mengecewakan orang-orang yang telah memberikan kepercayaan kepadaku," tutur Rendra tiga tahun silam saat ia lolos seleksi tingkat nasional. 

Aku ingin mengakhiri semuanya. Beberapa kali hubungan harus putus karena aku egois. Aku terus menginginkannya berhenti balapan. Sementara Rendra, selalu kembali ke pelukanku setiap kali ia mengakhiri musim balapannya. Kami saling mencintai, itulah alasan kenapa aku tidak bisa melihatnya di arena balap.

Waktu terus bergulir, Rendra tak menyerah memberikan aku pengertian sampai akhirnya aku terus berada di sisinya dalam keadaan apa pun. Kini, Rendra berhasil menjuarai beberapa kejuaraan internasional di beberapa negara Asia. Walau banyak prestasi yang sudah ia raih. Aku tetap saja mengkhawatirkan dirinya.

Aku langsung menghampiri Rendra begitu ia selesai balapan. Aku selalu berlari ke arahnya dan memeluknya begitu erat. Aku berharap, Rendra akan terus memelukku sampai kami menua bersama.

"Kenapa masih nangis?" tanya Rendra sambil mengusap air mataku.

Aku tersenyum. "Karena aku takut kehilangan kamu."
"Kamu nggak akan pernah kehilangan aku. Aku ada di sini," tutur Rendra sambil menunjuk dadaku.

Ya, dia tahu kalau aku selalu menyimpan hatinya di dalam hatiku. Dia tahu kalau aku sangat mencintainya.

Rendra memelukku dengan erat. "Kamu jangan pernah pergi lagi! Jangan pernah bilang kata putus lagi. Aku sayang sama kamu. Sama seperti aku mencintai dunia balap. Jangan minta aku memilih antara kamu dan dunia balap. Aku mencintai keduanya."

Rendra selalu menenangkan perasaanku. Ia mengerti kekhawatiran yang menghantuiku. Itulah sebabnya, ia selalu mengajakku makan malam romantis setiap kali ia usai balapan.

Waktu begitu cepat bergulir. Rendra akan kembali ke sirkuit seminggu lagi. Entah kenapa, perasaanku begitu gelisah. Tak seperti biasanya. Rendra selalu menginginkan aku ada di kursi penonton setiap kali ia balapan. Tapi, kali ini Rendra justru memintaku untuk berdiam di dalam rumah. Dia bilang, "tidak perlu menyusul aku ke sini. Aku bakal baik-baik aja. Aku pasti pulang. Jangan lupa bikinin aku cream soup! Aku rindu cream soup buatan kamu."

Sikap Rendra benar-benar tak biasa. Hal ini justru membuat aku gelisah dan khawatir. Kami sudah tidak bertemu selama beberapa bulan karena Rendra sibuk latihan dan aku sibuk dengan tugas kuliahku.

Tak ingin terus dihantui rasa khawatir. Aku langsung mengemasi pakaianku ke dalam koper dan memesan tiket menuju Malaysia. Di sana, Rendra akan mengikuti balapan yang ke sekian kalinya. Aku tetap ingin melihatnya sebab aku sangat merindukannya.

Aku baru memberi kabar pada Rendra ketika aku sudah sampai di Malaysia. Rendra sangat terkejut karena aku selalu rela terbang ke negara tempat ia mengikuti kompetisi balap.
 
Malam hari sebelum balapan, Rendra memaksakan diri menemuiku di apartemen tempat aku menginap. Ia langsung memeluk erat tubuhku begitu aku membukakan pintu untuknya.

"Kamu boleh keluar?" tanyaku heran.

"Sebentar saja, mereka nggak akan tahu. Aku kangen sama kamu," jawab Rendra sambil memelukku begitu erat. Ia bahkan menciumku berkali-kali. 

"Oh ya, aku bikinin cream soup buat kamu. Mau makan?" tanyaku sambil menatap wajah Rendra.

"Serius?" Rendra terlihat senang dan langsung menghampiri meja makan. Ia tersenyum senang dan langsung menikmati cream soup buatanku dengan lahap.

"Mmh ... aku kangen banget sama cream soup buatan kamu. Nggak nyangka kalo kamu bikinin sekarang. Padahal, aku kan minta bikinin kalo udah pulang ke Indonesia."

Aku tertawa bahagia melihat wajahnya. "Kamu sudah telepon Mama kamu?" tanyaku.

"Sudah. Besok pagi aku telepon lagi sebelum mulai balapan," jawab Rendra.

Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala.

"Besok kamu nggak usah ke sirkuit ya!" pinta Rendra.

"Hah!? Kenapa?"

"Nggak papa. Aku janji bakal langsung nemuin kamu begitu selesai balapan. Kita pulang ke Indonesia bareng," tutur Rendra sambil tersenyum. 

"Tumben buru-buru pulang?"

Rendra tersenyum. "Nggak boleh?"

"Boleh banget," sahutku.

Kami terdiam selama beberapa saat.

"Ren, aku khawatir sama kamu. Aku takut kehilangan kamu," tuturku perlahan sambil bergelayut di pundak Rendra.

"Anggi sayang ... kamu nggak perlu khawatir! Kamu cukup doain aku biar aku menang," pinta Rendra.

Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum.

"Buat seorang pembalap, mati di sirkuit itu sebuah kehormatan," tutur Rendra sambil tersenyum.

"Iih ... apaan sih!? Nggak usah ngomong soal mati, deh!" Aku menepuk bahu Rendra.

Rendra tertawa kecil. "Semua orang bakal mati dan aku bakal bahagia banget kalau aku mati dalam kompetisi. Itu kehormatan buat aku."

Hatiku nyeri mendengar ucapan Rendra. Aku tidak bisa menahan kesedihan dan air mataku menetes begitu saja. Aku paling benci ketika Rendra membahas soal kematian. Apa dia tidak tahu kalau perkerjaannya penuh dengan resiko dan dia justru menakut-nakuti dengan kematian.

Rendra tertawa kecil dan langsung merengkuh tubuhku. "Jangan pernah nangisin aku, karena aku bahagia sama dunia ini. Kamu harus tersenyum!" pinta Rendra sambil mengusap air mataku.

"Gimana aku bisa senyum kalo kamu ngomongnya kayak gitu? Kamu tahu nggak sih kalo aku khawatir banget sama kamu. Rasanya, aku pengen iket kamu sekarang di sini biar kamu nggak pergi ke sirkuit!" tuturku kesal.

Rendra tertawa kecil. "Jangan marah, dong! Jelek tahu."

Aku bergeming. Rendra benar-benar tak mengerti perasaanku. Apa dia tidak bisa merasakan kalau aku begitu mengkhawatirkannya?

Rendra tertawa kecil. Ia mengangkat tubuhku dan menarik ke pangkuannya. "Aku cuma bercanda. Makasih ya udah peduli dan selalu khawatir sama aku," tutur Rendra sambil tersenyum menatapku. Ia menyentuh pipiku dengan lembut, menyibakkan anak rambut yang berantakan menutupi wajahku. Kemudian ia menciumku penuh cinta.

"Aku sayang sama kamu," tutur Rendra terus menciumiku. 

Mungkin ia sangat merindukanku sehingga ia sampai menciumku berkali-kali. Tak seperti biasanya.

"Kita menikah setelah kamu wisuda ya!" pinta Rendra.

Aku menganggukkan kepala. Aku masih harus menyelesaikan empat semester lagi untuk bisa mendapatkan gelar sarjana. Kami sudah bertunangan sejak setahun yang lalu. Rendra tidak ingin aku terus mengajaknya putus hanya karena balapan dan dia benar-benar membuktika keseriusannya untuk menjadikan aku satu-satunya wanita yang ada dalam hatinya.

"Aku balik dulu!" pamit Rendra. "Besok nggak usah dateng ke sirkuit. Aku yang bakal datengin kamu. Kita sama-sama pulang ke Indonesia." Rendra mencium keningku dan bergegas pergi.

Keesokan harinya, aku menuruti permintaan Rendra untuk tidak hadir di sirkuit. Aku hanya menontonnya lewat siaran live di televisi. Aku menonton sambil sibuk membuatkan cream soup untuk Rendra. Dia akan senang sekali jika aku menyiapkan makanan kesukaaannya saat ia datang.

Aku langsung menatap layar televisi begitu mendengar nama Rendra disebut oleh komentator. Aku melangkah perlahan mendekat ke televisi sambil membawa mangkuk berisi cream soup hangat yang baru saja aku masak.

PRANG!

Aku membiarkan mangkuk itu terjatuh di lantai. Tangan dan tubuhku tiba-tiba lemas saat melihat Rendra terjatuh dari motornya saat balapan hampir usai. Ini bukan pertama kalinya Rendra terjatuh dari motor. Ia pernah cedera beberapa kali dan aku berharap Rendra hanya mengalami luka ringan. Aku langsung melangkahkan kaki keluar dari apartemen. Aku tidak ingin menunggu kabar dari televisi tentang keadaan Rendra. Aku langsung memesan taksi dan berangkat menuju lokasi sirkuit.

"Rendra mana?" tanyaku pada salah satu tim Rendra. Hampir semuat tim Rendra mengenaliku karena Rendra sering mengajakku pergi bersama mereka.

"Udah di bawa ke rumah sakit," jawab tim yang aku tanya.

"Rumah sakit? Emangnya petugas medis di sini nggak bisa nanganin?" tanyaku.

Cowok itu menggelengkan kepala dengan wajah murung.

"Rendra baik-baik aja, kan?" tanyaku dengan mata berkaca-kaca.

"Kami nggak tahu."

"Dia di bawa ke rumah sakit mana?" tanyaku.

Cowok itu menyebutkan nama rumah sakit yang ada di Kuala Lumpur. Aku langsung bergegas kembali menaiki taksi menuju rumah sakit. Perasaanku makin tak karuan saat tahu kalau Rendra dilarikan ke rumah sakit. Aku tak bisa menahan tangis selama perjalanan. 

Saat Rendra mengalami cedera ringan saja, aku menangis semalaman di sampingnya. Bagaimana aku harus menghadapi kenyataan yang lebih dari itu? Rasanya, hatiku begitu sakit.

Sesampainya di rumah sakit, aku langsung berlari mencari Rendra. Tidak begitu sulit untuk mendapatkan informasi. Aku langsung menuju ke ruang Emergency. Di luar ruangan, ada beberapa tim yang sedang duduk sambil menangis. Manager Rendra langsung berdiri menatapku begitu aku datang. Dari raut wajahnya, aku bisa mengerti kalau Rendra tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Kakiku terasa begitu berat untuk melangkah. Aku menyeret kakiku untuk mendekati Manager Rendra. Aku tidak bisa mengatakan apa pun, aku hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Manager itu menatapku penuh kesedihan, ia menahan tangisnya dan tidak bisa berkata apa pun.

"Mister, dia baik-baik aja kan?" tanyaku perlahan saat melihat matanya berlinang. Aku berusaha untuk tersenyum walau hatiku begitu sakit.

"He's died." Tangis Manager itu akhirnya pecah.

DUAR!!

Aku merasa seperti tersambar petir ribuan voltase. Dunia dan isinya serasa runtuh. Aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Aku menatap pintu ruang emergency. Di dalam sana ada Rendra yang ingin ia peluk erat. Aku ingin menagih janjinya untuk pulang sama-sama ke Indonesia. Aku tidak ingin pulang bersama dalam keadaan seperti ini. Tidak adakah hal yang bisa lebih membahagiakan, Rendra?

Kakiku terasa lemas, aku menjatuhkan lututku ke lantai dan membiarkan derai air mataku membasahi lantai. Hari ini, Rendra melarangku pergi ke sirkuit karena tidak ingin melihatnya merasakan sakit seorang diri. Ini jelas lebih menyakitkan dari apa pun. Aku tidak ada di saat dia berjuang sendirian. Kenapa dia biarkan aku seperti orang bodoh? Kenapa aku tidak pergi saja ke sirkuit dan memberikan semangat untuknya? Bukankah dia berjanji kalau dia tidak akan pernah membiarkan aku merasa kehilangan?

"Nggak mungkin. Nggak mungkin kamu ninggalin aku," ucapku sambil menggelengkan kepala. "Baru semalam kamu bilang kalo kamu nggak akan ninggalin aku. Kamu janji bakal datang dan kita sama-sama pulang ke Indonesia. Kamu bakal menuhin janji kamu kan?" tanyaku sambil terisak.

Beberapa saat kemudian, pintu ruang emergency terbuka. Aku langsung berlari dan menerobos masuk. Beberapa teman Rendra mencoba menahanku dan aku tetap tidak bisa mengendalikan diriku untuk menemui Rendra yang sudah terbaring kaku di atas ranjang pasien. Aku langsung memeluk erat tubuhnya.

"RENDRA, BANGUN!" teriakku sejadi-jadinya. "BANGUN, REN! BANGUN!" Aku memeluk tubuh Rendra dengan erat. Membiarkan air mataku jatuh ke pipinya. Aku terpaku menatap Rendra yang tersenyum dalam beku. 

Aku langsung menciumi bibirnya yang dingin. "Please ... balik buat aku, Ren!" bisikku bersama derai air mata. Aku terus menangis sambil memeluk erat tubuh Rendra sampai aku tidak bisa merasakan apa pun selain tubuh Rendra yang dingin seperti es. Aku harap ini cuma mimpi. Aku memejamkan mata dan berharap, Rendra masih tersenyum sambil memelukku erat saat aku membuka mata.

Aku berharap semuanya hanyalah mimpi. Tapi, Tuhan tidak berpihak padaku. Ia benar-benar mengambil Rendra untuk selamanya. Aku begitu terluka saat pulang ke Indonesia bersama Rendra yang tak lagi bisa kuajak bicara. Rendra selalu membuatku tertawa dengan candaan-candaan yang keluar dari mulutnya. Kini, ia hanya diam dan tak bicara apa pun.

Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau aku harus berpisah untuk selama-lamanya. Saat melihat tubuh Rendra dimasukkan ke dalam liang lahat. Aku benar-benar yakin kalau Rendra tidak akan pernah kembali lagi untukku. Aku terjatuh beberapa kali, aku merasa tubuhku benar-benar lemas dan tak bertenaga. Aku belum bisa menerima kenyataan kalau Rendra benar-benar meninggalkanku.

"Ikhlaskan ... Biarkan Rendra bahagia di surga!" Sebuah bisikan terdengar di telingaku. Entah bisikan dari siapa di saat kesadaranku tidak begitu baik.  Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ya, Rendra pasti bahagia di sana dan aku tidak bisa menahannya seperti ini. Aku harus belajar mengikhlaskan kepergiannya walau rasanya begitu sulit.

"Mati di sirkuit itu sebuah kehormatan." Kalimat itu terus terngiang di telingaku. Aku melihat wajah Rendra tersenyum bahagia saat mengatakan kalimat itu.

"Ren, apa kamu bahagia ninggalin aku dan dunia balap yang sama-sama kamu cintai?" bisikku dalam hati.

Aku sama sekali tidak menyangka kalau Rendra begitu cepat pergi meninggalkanku. Setiap hari dalam doaku, aku berharap Tuhan akan mempersatukan kembali aku bersama Rendra dengan cara-Nya. Sebab, tak ada hal lain yang lebih membahagiakan selain menjalani hari bersamanya.

"Ren, terima kasih karena kamu telah memberikan kenangan indah dalam hidupku. Sungguh, aku tidak ingin menjadikannya kenangan. Tapi takdir Tuhan membawa kisah kita menjadi sebuah kenangan, bukan harapan masa depan. Kamu cintai aku sampai menutup mata, aku janji akan selalu tersenyum seperti yang kamu inginkan. Kamu juga harus bahagia di sana, di tempat yang abadi... "

"Tunggu aku, sampai surga menjadi milik kita!"





Ditulis oleh Rin Muna dalam isak tangis.


Samboja, 05 November 2019.
_______________________________________________________________

Cerita ini hanyalah fiktif belaka.

Aku persembahkan cerita ini untuk Alm. Afridza Syach Munandar. Salah satu anak muda yang berprestasi dan berhasil mengharumkan nama Indonesia. Semoga tenang dan bahagia di Surga Allah. Prestasi-prestasimu akan dikenang selalu ...

_______________________________________________________________





























Monday, September 23, 2019

Court of Love



Ini ketiga kalinya aku menjalani sidang di ruang Kepala Sekolah karena kasus yang sama, berkelahi dengan Gatara. Entah kenapa, semenjak kejadian di kantin tahun lalu dia sangat membenciku. Padahal aku tidak sengaja menumpahkan sambal ke tubuhnya, saat itu kakiku tersandung, terjatuh tepat di depannya.
Semua sekolah sudah tahu bagaimana setiap hari Gatara terhadapku. Dia selalu tertawa terbahak-bahak setiap kali aku kesusahan dan marah-marah. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam otaknya? Sepertinya saraf otaknya sudah geser, atau bahkan keluar dari tempurung kepalanya sendiri. Dia tidak pernah puas mengerjaiku setiap hari.
Dikerjai seperti itu sudah menjadi hal biasa. Ada hal yang lebih tak biasa sampai aku dan Gatara harus menjalani sidang di ruang Kepala Sekolah.
Kasus pertama, Gatara berhasil membuatku masuk ruang ICU karena dia meneteskan larutan tetrahydrozline HCL (obat tetes mata) ke dalam botol air mineral yang sering aku letakkan di meja belajarku.
Kasus kedua, Gatara berhasil membuatku kembali di rawat karena dia sengaja meletakkan paku payung saat aku melintas, paku itu menusuk telapak kakiku hingga kedalaman 2,5 cm.
Kasus yang ketiga ini, Gatara berhasil membuatku jatuh dari tangga sekolah, tepat disaksikan oleh Kepala Sekolah yang kebetulan sedang melintas.Gatara dengan sengaja mendorongku dengan bahunya, kejadian itu juga terekam CCTV sekolah.
“Gatara! Apa yang kamu lakukan pada Riris sudah keterlaluan!” ucap Kepala Sekolah geram, kami berkumpul di ruangannya.
“Maafkan anak kami Pak, anak kami suka iseng,” kata Papa Gatara.
“Ini bukan lagi keisengan Pak, tapi sudah masuk dalam tindakan kriminal. Dia sudah tiga kali mencoba menghilangkan nyawa Riris!” kata Kepala Sekolah.
“Pak, saya nggak bermaksud untuk membunuh. Saya mau ngerjain dia doang Pak!” kata Gatara panik karena ketakutan. Dia takut juga kalau kasus ini dibawa ke polisi.
Gatara menggeleng.
Aku hanya menyimak dengan baik saat Gatara dihakimi oleh Kepala Sekolah, Guru dan kedua orangtuanya.
Kedua orangtuaku tidak hadir karena mereka sudah meninggal sejak satu tahun yang lalu. Aku hanya tinggal bersama nenek dan kedua adikku. Aku sudah menjelaskan kepada pihak sekolah bahwa nenekku tidak bisa hadir karena usianya yang sudah renta.
Bu Ratih menjelaskan secara detil beberapa kejadian yang menimpaku dan juga menjelaskan latar belakang keluargaku.
Sidang ketiga itu masih tak membuat Gatara jera. Saat aku berjalan sendiri di tepi jalan, dengan sengaja motor Gatara menyerempet tubuhku hingga aku terjerembab ke selokan. Dia tertawa sangat bahagia melihatku terjatuh, hingga ia tak menyadari kalau motor yang ia naiki kehilangan kendali.
“Braaaaakk....!!!” tabrakan itu terjadi tepat di depan mataku. Aku terkesiap, tubuhku gemetar. Sangat cepat dan membuat jantungku berhenti beberapa saat.
Aku langsung berlari menghampiri Gatara yang sudah berlumuran darah, motor yang ia kemudikan menyebrang ke jalur berlawanan, saat itu juga ada mobil melintas. Tubuh Gatara terpental jauh keluar dari badan jalan.
Aku berteriak histeris meminta pertolongan sambil berusaha mengangkat tubuh Gatara yang sangat berat. Secepatnya aku membawa Gatara ke Rumah Sakit dengan bantuan warga sekitar. Untunglah orang yang menabraknya juga mau bertanggung jawab walau yang salah adalah Gatara.
Sesampainya di rumah sakit, Gatara langsung ditangani oleh dokter dan harus menjalani serangkaian operasi karena tangan dan punggungnya mengalami patah tulang. Aku mencoba menghubungi teman-teman dekat Gatara agar memberi kabar kepada kedua orangtuanya.
Sepuluh hari aku menemani Gatara di rumah sakit bergantian dengan pembantunya yang sesekali datang untuk mengantarkan pakaian ganti. Selama itu juga Gatara banyak berubah sikap terhadapku, tak lagi sewot dan marah-marah setiap kali melihatku. Aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri. Sejahat apapun Gatara terhadapku, aku tidak pernah berpikir untuk membalasnya atau membencinya.
Sepuluh hari itu belum berakhir, aku masih harus menemani dan merawat Gatara di rumahnya, kondisi punggung dan tangannya yang belum bisa kembali normal, ia harus menjalani rawat jalan.
“Ris, kenapa kamu mau ngerawat aku?” tanya Gata.
Aku tidak mengerti kenapa dia baru bertanya setelah satu bulan aku menemani dan merawatnya?
Apa dia tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku? Bagaimana aku harus membesarkan hatiku merawat orang yang selama ini membenciku dan selalu mencelakaiku? Aku tidak mengerti apa yang selama ini membuat Gatara begitu membenciku? “Maafkan aku Ris, tidak seharusnya aku begitu membencimu hanya karena kejadian di kantin setahun lalu. Aku selalu melukaimu tapi kamu tidak pernah menangis, kenapa sekarang kamu justru menangis saat aku tidak bisa menjaili dan melukaimu lagi?” tanya Gatara.
Aku tidak sadar kalau air mataku keluar begitu deras hanya karena satu pertanyaan dari Gatara. “Jika dengan merawatmu bisa membuatmu berhenti membenciku, aku ikhlas melakukannya seumur hidupku.” Aku mengusap air mataku.
“Aku yang seharusnya minta maaf Ris. Aku yang melukaimu, aku yang selalu menyulitkan hidupmu. Seharusnya kamu biarkan saja aku mati, kamu biarkan saja aku sendirian. Aku tidak pantas mendapatkan kebaikan hatimu Ris. Aku... aku... aku sudah...” Gatara terisak.
“Bukankah aku sudah memaafkannya sejak dulu? Jika tidak, kamu pasti sudah ada di penjara sekarang.”
“Lalu apa yang membuatmu menangis? Kenapa kamu justru menangis saat aku tidak melukaimu?” tanya Gatara.
“Karena ada yang hal lebih menyakitkan. Hatiku sangat sakit saat kamu begitu membenciku tanpa ku tahu apa sebabnya,” ucapku lirih.
Gatara bergeming.
“Andai bisa kuulang semuanya, aku sangat ingin satu tahun yang lalu adalah saat hatiku mencintaimu, bukan membencimu.”
Deg....!
Saat itu aku merasa jantungku berhenti berdetak. Aku tidak tahu kalau Gatara bisa berbicara selembut dan seindah ini? Apakah saraf otaknya benar-benar sudah baik karena kecelakaan itu?
“Oh ya, seminggu lagi pengumuman kelulusan sekolah ya? Aku sudah tidak sabar menunggunya. Kedua orangtuaku menginginkan aku melanjutkan pendidikan ke New York. Menurutmu bagaimana Ris?” tanya Gatara.
“Eh... Bagus! Bukankah semua orang menginginkan hal seperti itu?” kataku sebal. “Tenang saja, aku tidak akan pergi jika tidak bersamamu,” kata Gatara sambil tersenyum seperti bisa membaca pikiranku.
Aku tertawa dan sejak hari itu hidupku jauh lebih baik. Setidaknya tidak ada lagi orang yang akan menyerempetku hingga terjatuh saat aku berjalan sendirian, karena orang itu sekarang selalu melangkah bersamaku dan menggenggam tanganku untuk tidak pernah terjatuh.

Friday, September 20, 2019

Rahasia Sang Perindu



Adifa menatap tubuhnya di depan cermin besar yang berdiri kokoh di dinding kamarnya. Senyumnya mengembang menatap wajahnya yang sempurna dengan polesan make up natural. Tubuhnya yang tinggi dan kulit putih bersih. Tubuh indahnya dibalut pakaian muslim yang memadukan warna cream dan hitam.
      Drrt.... Drrt... Drrt...
      Getaran ponsel di atas meja rias membuyarkan lamunannya.
      "Hallo... " Suara lelaki di seberang telpon terdengar merdu di telinga Adifa.
      "Iya Mas. Aku sudah siap." Adifa bergegas meraih tas dan keluar dari kamarnya.
      "Iya. Mas tunggu di depan." Komunikasi via telepon itu terhenti. Adifa memasukkan ponsel ke dalam tasnya. Berjalan ke halaman rumah, tempat Mas Ardi memarkirkan mobilnya.
      Seketika mobil itu melaju menuju sebuah Masjid. Kedua kakak beradik itu akan menghadiri acara Tabligh Akbar yang di selenggarakan di salah satu Masjid kota itu.
      Adifa melangkahkan kakinya menuju shaf para wanita berkumpul. Sedangkan Ardi berada di shaf laki-laki.
      Dua jam berselang, mereka keluar dari Masjid. Adifa merasa hatinya lebih tenang, lebih damai dan indah dengan siraman rohani yang sering ia dengarkan bersama kakaknya.
      "Dif, ini ada titipan untukmu." Ardi mengulurkan sebuah amplop dari sakunya.
      "Dari siapa, Mas?" tanya Adifa penasaran.
      "Dari Maulana."
      "Wah... Kak Maulana baik ya Mas? Udah kasih THR duluan. Mas Ardi aja belum kasih THR buat aku." Adifa menatap amplop itu, membolak-balik, menerawang isinya lewat cahaya yang masuk di jendela mobil.
      "Ngapain diterawang segala. Langsung dibuka aja!" celetuk Ardi sambil mengendalikan setir mobilnya.
      Adifa tersenyum. "Benar juga kata Mas Ardi," batinnya sembari membuka amplop yang diberikan Maulana.
      Adifa membelalakkan matanya, karena amplop itu bukan berisi uang. Melainkan sebuah surat yang tidak tahu apa isinya. Cepat-cepat ia memasukkan amplop itu ke dalam tasnya sebelum kakaknya melihat.
      "Kenapa dimasukkan?" tanya Ardi penasaran.
      "Nggak papa. Nanti aku buka di rumah aja Mas." Adifa membuang pandangannya ke arah jendela. Menikmati pemandangan tepi jalan untuk mengalihkan pembicaraan dengan kakaknya.
      Sesampainya di rumah, Adifa langsung masuk kamar. Mengunci pintu kamar rapat-rapat. Perlahan ia mengeluarkan surat dari dalam tasnya. "Kenapa Kak Maulana berkirim surat? Bukankah bisa menelepon atau datang langsung ke rumah untuk berbicara?" batin Adifa. Adifa begitu mengagumi sosok pria seperti Maulana. Lelaki tampan yang baik hati, soleh dan santun. Namun, Adifa selalu merasa Maulana tak menyukainya, Maulana selalu menghindar tiap kali bertemu dengannya. Sebab Maulana begitu menjaga pandangannya terhadap perempuan.

      Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
        Adifa... bersama dengan surat ini, aku ingin menyampaikan perihal penting untukmu.
      Aku sudah melakukan perjalanan selama puluhan hari untuk mencari ridho Illahi.
      Aku sudah melakukan perjalanan selama puluhan hari untuk sekedar tahu isi hatimu.
      Aku bertanya pada semua yang telah bersamamu sepanjang hidupmu, Abah, Umma dan Masmu.
      Aku sudah mantap bahwa kamu adalah wanita terbaik dari pilihan yang baik.

      Telah lama aku buang khayalanku agar tak merindukanmu, namun aku gagal.
      Aku hanya lelaki biasa yang Tuhan ciptakan dengan hati untuk mengagumimu.
      Aku tak ingin terus-menerus merahasiakan rasa rinduku.
      Aku ingin mengungkapkan semua rasa dihadapan Allah.
      Jika berkenan, ijinkan aku meminangmu dengan ijab kabul.

      Tak perlu membalas surat ini. Cukup beritahukan kepada Ardi jika kamu menerimanya.
        Aku akan membawa serta keluargaku menemui Abah dan Umma.
        Wassalamu'alaikum warohmatullahi Wabarokatuh.


      Adifa berlari keluar kamar sembari berteriak memanggil nama kakaknya.
      "Ada apa sih teriak-teriak?" tanya Ardi.
      "Mas, amplop dari Kak Maulana itu bukan THR. Tapi lebih mahal dari THR." Adifa sangat seumringah mengungkapkannya.
      "Oh ya? Apa dong?" tanya Ardi.
      "Baca!" pinta Adifa sambil menyodorkan surat dari Maulana.
      Ardi tersenyum setelah membaca surat dari Maulana. "Alhamdulillah... Akhirnya cinta adikku terbalaskan."
      "Apaan sih Mas!?" Adifa tersipu, pipinya terlihat memerah.
      Ardi tersenyum menggoda. "Nanti akan Mas bicarakan dengan Umma dan Abah saat mereka pulang. Maulana itu pria yang baik. Sebentar lagi dia akan jadi ustadz muda yang ganteng dan pastinya digandrungi banyak perempuan."
      "Lalu?"
      "Lalu kamu akan patah hati jika tidak segera menerima pinangannya. Dia pasti akan bertemu dengan wanita yang lebih baik yang mampu merebut hatinya," sergah Ardi.
      "Aku mau kok Mas," tutur Adifa penuh semangat.
      "Bagus. Akhirya Sang Perindu itu tak lagi merahasiakan dirinya," ucap Ardi sambil berlalu pergi.
      "Maksudnya, Mas?" tanya Adifa penasaran.
      "Sudah lama Maulana menyimpan rasa cintanya untukmu. Hanya saja karena belum muhrim, ia tak ingin dekat denganmu. Saat aku bilang jika kamu begitu mengagumi dia, dia langsung membuat keputusan yang sangat indah." Ardi mengerdipkan salah satu matanya.
      Adifa tersenyum bahagia. Ia tak menyangka jika rahasia hati antara dia dan Maulana bisa terungkap. Sepandai apapun manusia menutupi rahasia hatinya, Allah akan tahu. Dan beginilah cara Allah menyatukan dua insan yang saling mencintai karena Allah.

Rasi Bintang Risa




 Iwan adalah salah satu aktivis pecinta alam. Kali ini, Iwan dan teman-temannya memilih menginap di daerah batu dinding demi bisa menikmati indahnya sunrise dari ketinggian.
      Tenda-tenda kemah telah mereka persiapkan di kaki bukit batu dinding.
      "Wan... cari air dulu ya!" salah satu temannya menyodorkan dua buah jerigen lima liter. Mereka harus mencari air untuk memasak malam ini.
      "Bentar. Sama siapa?" Iwan sibuk menyiapkan kamera DSLR -nya, bersiap membidik setiap moment yang ada di depan matanya.
      "Sendiri. Yang lain belum kelar bikin tenda."
      "Ah, nggak mau kalau sendiri!" Iwan menolak tanpa basa-basi.
      "Nggak masak kita ini. Nggak ada air Wan!"
      "Ogah bawa-bawa air jerigen beratnya gitu. Suruh yang lain aja!" Iwan ngeloyor pergi meninggalkan teman-temannya yang sedang sibuk mempersiapkan tenda.
      Iwan melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak, membidik setiap objek yang menarik perhatiannya.
      Waktu terus bergulir, sore berganti malam.
      "Wan... mau minum?" Risa menyodorkan segelas kopi hangat.
      "Makasih." Iwan meraih gelas yang diberikan Risa tanpa menoleh sedikitpun.
      "Belum ngantuk?" tanya Iwan.
      Risa menggeleng. "Terlalu berharga saat ini untuk di lewati. Semakin malam, tempat ini semakin indah." Risa berdiri di tepi batu dinding. Dengan ketinggian kurang lebih 500 meter, ia bisa melihat dengan jelas taburan bintang-bintang yang menghiasi angkasa. Sungguh pemandangan yang langka. Yang tak pernah ia saksikan di perkotaan.
      Risa menarik napas panjang. Memejamkan matanya, merasakan desir angin yang menggelayut manja menyentuh rambutnya.
      "Suka bintang?" Iwan tiba-tiba sudah berdiri di sisinya.
      "Iya. Aku suka banget sama bintang. Terutama rasi bintang scorpio."
      "Kamu tahu mana rasi bintang scorpio itu?" Iwan mengangkat satu alisnya menatap wajah Risa.
      "Tahu. Itu!" Risa menunjuk kumpulan bintang yang membentuk rasi bintang scorpio.
      "Alasan kamu suka rasi scorpio apa?" tanya Iwan.
      "Ya, karena aku lahir di bulan november dan zodiak aku scorpio."
      "Oh ya? Kalau rasi bintang Aries yang mana?"
      "Hmm..." Risa menatap langit dengan seksama. Matanya memburu rasi bintang aries. "Nah... itu dia! Sangat simple."
      Iwan mengangguk-anggukan kepalanya.
      "Bintangmu Aries?" tanya Risa.
      Iwan mengangguk.
      "Hmm... memang sangat cocok denganmu."
      Mereka bergeming selama beberapa menit. Membiarkan angin yang menyapa dan mengajak mereka bercanda. Tak ada kata satupun yang keluar dari mulutnya.
      Risa asyik menikmati jutaan bintang yang bertaburan di atas kepalanya. Ia merasa sedang menari dengan jutaan bintang-bintang. Melayang bersama kebahagiaan. Ia ingin malam ini tak berakhir. Tak peduli dengan Iwan yang diam-diam membidiknya dengan kamera. Ia lebih memilih menikmati waktu bersama bintang-bintang. Melupakan sejenak rasa cinta yang ia pendam. Iwan tak pernah menerima perhatian yang Risa berikan. Itu sudah cukup membuat hati Risa mantap melupakan Iwan. Melupakan semua perasaannya, melupakan semua harapan-harapan tentangnya.

* * *

        Tiga Tahun kemudian...
      Risa melangkahkan kakinya menyusuri gedung pameran photography. Satu per satu menikmati indahnya hasil jepretan kamera profesional para photographer.
      Matanya tertuju pada sebuah foto berukuran 200x200. Foto yang indah... seorang gadis berambut panjang di bawah taburan bintang-bintang. Ia terlalu familiar dengan gambar itu. Ya, itu potret diri Risa tiga tahun lalu di atas batu dinding.
      Risa membaca sebuah note yang tertera di bawah foto. Judul "Rasi Bintang Risa". Karya : "WanRis"
      Lama Risa berdiri mematung di depan potret dirinya sendiri. Bergeming. Bibirnya beku. Air mata menetes mengingat masa di mana ia begitu mencintai Iwan. Jauh di dalam lubuk hati, ia masih sangat mencintai Iwan. Satu-satunya pria yang mempu merebut perhatiannya. Gayanya yang dingin membuat Risa semakin ingin mendekatinya. Namun, Iwan terlalu dingin untuknya, hatinya terlalu beku. Risa tak berhasil mencairkan hati Iwan.
      Tapi, hari ini waktu berkata lain. Jika Iwan tak menganggapnya. Kenapa ada foto ini? Kenapa namanya berubah menjadi WanRis? Apakah itu singkatan Iwan dan Risa?
      "Ris... maafkan aku!" Suara Iwan mengejutkan Risa. Risa membalikkan tubuhnya, menatap tubuh Iwan yang telah jauh berubah. Rambutnya gondrong dengan kumis yang menghiasi wajahnya. Moment di atas batu dinding itu adalah saat perpisahan mereka. Sejak itu, mereka tak pernah bertemu selama tiga tahun.
      "Iwan..." Mata Risa berkaca-kaca menatap tubuh Iwan yang tegap. Ingin rasanya memeluk pria itu dan mengatakan kalau Ia mencintainya.
      "Aku terlalu naif untuk menunjukkan perasaanku sendiri."
      "Lupakan saja! Waktu tidak pernah bisa kembali lagi. Aku telah memutuskan melupakanmu. Aku telah memutuskan untuk berhenti mencintaimu. Kini aku telah termiliki, kuharap kamu mengerti. Biarkan kisah kita jadi kenangan!" Risa meninggalkan Iwan yang mematung.
      Ada rasa sesal dalam hati Iwan. Andai saja ia bisa membalas perhatian Risa tiga tahun lalu. Mungkin saat ini hatinya tak selalu gelisah merindukan gadis cantik yang berhasil mengganggu hatinya.


Monday, July 15, 2019

Cerpen | Kekasih Gelapmu Simpananmu


www.pixabay.com

Sore ini aku pergi jalan-jalan bersama dengan anak-anak remaja yang ada di taman bacaku. Tak banyak yang kita lakukan. Yah, hanya jalan-jalan mencari hiburan saja sesekali. Karena bagiku, mereka adalah sahabat. Walau usia kami memang terpaut lumayan jauh. Selama mereka nyaman berada bersamaku, ya nggak ada salahnya juga jalan bareng anak-anak remaja. Biar berasa muda terus kan ya? Hihihi...

Seperti biasa, setelah menghabiskan waktu jalan-jalan dan foto selfie di salah satu tempat wisata. Kami langsung pulang. Eh, nggak langsung pulang. Aku ngajak mereka dulu mampir ke warung Bakso. Mau ngapain? Ya, mau makan Bakso. Masa cuci mangkok?

Saat kami sudah selesai makan. Tiba-tiba datang seorang laki-laki paruh baya yang sudah tak asing lagi bagi kami. Laki-laki itu datang bersama seorang cewek cantik dan seksi. 
Tak ada kecurigaan dalam benak kami. Yang kami pikir, cewek itu adalah rekan kerja beliau.
Namun, entah kenapa bapak itu justru memperlihatkan gelagat aneh. Dia mencolek kami satu per satu sambil membisikkan sesuatu. Aku juga bingung, what happen?

Ternyata, dia bilang, "jangan kasih tahu anakku kalau aku jalan sama dia." sambil menunjuk ke arah cewek yang dia bawa.
Jelas saja kami justru curiga saat dia bilang seperti itu. Ada banyak persepsi di kepala kami. Kenapa kami tidak boleh bilang? Kalau hanya rekan bisnis atau rekan kerja, rasanya tidak akan menjadi masalah.

Oh, mungkin karena dia bilang juga kalau cewek itu "tamunya."
Tamu dalam hal apa ya?
Ah, entahlah ...
Makna tamu di zaman sekarang itu luas sekali. Apalagi tamunya ketemu di warung bakso, bukan di rumah. Jelaslah itu tamu yang istimewa.

"Siapa ya cewek yang dibawa bapak itu?" tanya Mira setelah kami keluar dari warung bakso.
"Nggak tahu." Rasya mengedikkan bahunya.
"Temen kerjanya kali," sahut Mega.
"Tadi bapak itu bilang tamunya." Dara menimpali.
"Iya, kalau teman kerja, buat apa bapak itu repot-repot klarifikasi ke kita? Pake acara nggak boleh kasih tahu si Ardhi. Kalau nggak ada hubungan apa-apa ya nggak perlu sibuk bisikin kita." Aku ikut berkomentar.
"Nggak tahu, Mbak. Pacar gelapnya kali," sahut Rasya sambil tertawa kecil.
"Sephia - Kekasih gelapku," lanjut Mega berbisik.
"Sst ...jangan keras-keras ngomongnya!" pintaku. "Dan jangan kasih tahu, Ardhi ya!"
"Tapi, kasihan tahu mba si Ardhi kalo nggak dikasih tahu. Kelakuan bapaknya begitu," sahut Mega.
"Sst ... nggak semua hal harus kita ungkapin. Biar aja, kita nggak usah ikut campur. Biar Tuhan yang menunjukkan suatu hari nanti kalau emang beliau salah. Mudahan nggak seperti yang kita pikirkan," tuturku.
"Jadi, nggak usah dikasih tahu, Mbak?" tanya Dara.
"Iya. Nggak usah!"
"Kalau kita keceplosan gimana?"
"Jangan sampai, lah!"
"Namanya aja keceplosan, Mbak."
"Ya nggak usah dibahas. Kalau emang kira-kira perlu, nanti Mbak yang ngomong sama Ardhi pelan-pelan. Dia juga sudah besar. Bisa bedain mana yang baik dan enggak. Lagian, selama semuanya baik-baik saja. Kita pura-pura nggak tahu saja. Anggap saja kita hari ini tidak melihat apa-apa." pintaku. "Ayo, pulang!"

Kami langsung bergegas pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan aku terus berpikir. Ternyata, laki-laki memang tidak akan pernah puas. Walau istri setia di rumah, dia masih bisa keluar jalan-jalan sama perempuan lain. Entah siapa yang menggoda dan siapa yang digoda. Yang jelas, hal ini membuatku berpikir bahwa perempuan emang nggak seharusnya di rumah terus. Karena saat di dalam rumah terus, bisa jadi suaminya malah main gila sama perempuan lain. 
Memang tak semua laki-laki seperti itu. Tapi, untuk laki-laki setengah baya yang masih punya kekasih gelap? What do you think?
Ah, aku pilih tidur...



Ini cerita hanya fiksi. Jangan ditanya bener atau enggaknya. Please, ini cuma naskah fiksi yang hanya khayalanku semata. Yang nyata adalah makan bakso bareng anak-anak remaja taman baca. But, nggak ada hal lain yang terjadi.
Cerita ini dibuat untuk memenuhi tantangan clue "Kekasih Gelap" dari PenAFriends.

Terima kasih untuk teman-teman yang selalu menginspirasi.

Saturday, June 15, 2019

Cinta yang Ternoda


Pagi ini hujan turun teramat deras, menyatu dengan derasnya air mata yang jatuh membasahi pipi. Aku begitu sakit saat aku tahu bahwa orang yang aku cintai justru memilih wanita lain untuk menjadi pasangan hidupnya.

Aku dan Riko sudah berpacaran selama 3 tahun sejak kami masih sama-sama kuliah. Aku pikir hubungan kami akan baik-baik saja. Ternyata tidak.

Riko adalah sosok pria yang baik di mataku. Tak pernah sekalipun kami bertengkar serius. Dia pria yang baik, bijaksana dan romantis. Aku ingat bagaimana cara ia memberikan kejutan-kejutan kecil yang selalu membuatku terkesan. Setiap hari yang aku jalani bersamanya selalu terasa indah.

Semua keindahan hubungan kami itu benar-benar sirna hanya dalam sekejap. Dunia rasanya gelap gulita. Aku seperti tidak pernah menemukan siang dalam hari-hariku. Aku terlalu sakit ditinggalkan begitu saja oleh pria yang kuanggap baik, ternyata bisa menyakitiku lebih dari sakitnya kematian.

Dua hari yang lalu, Riko memberikan aku secarik kertas undangan. Aku pikir, dia mengajakku pergi ke pernikahan teman seperti biasanya. Aku tidak menyangka kalau itu adalah hari pernikahannya dia. Kamu tahu, bagaimana rasanya ketika pacarmu sendiri memberikan undangan pernikahannya dengan wanita lain? Sakit. Sangat sakit.

"Maafin aku ...!" Riko hanya menatapku kosong sementara aku menangis histeris karena secarik kertas undangan yang ia berikan padaku.

"Kenapa kamu tega sama aku?" tanyaku bersama derai air mata. Entah kenapa dia tega melakukannya padaku. Bahkan seluruh keluarganya juga berhasil membohongiku. Bagaimana tidak, seminggu yang lalu aku masih bersilaturahmi ke rumah orang tua Riko. Status kami masih pacaran. Hubungan kami masih baik-baik saja. Ibunya juga bersikap baik padaku. Aku sama sekali tidak tahu kalau mereka sudah menyiapkan pernikahan untuk Riko dan wanita yang tidak aku kenal.

"Aku sayang sama kamu. Kamu bilang, kamu sayang sama aku. Kenapa kamu malah nikah sama cewek lain? Kamu jahat banget! Kamu punya hati apa nggak sih!?" makiku tanpa sadar memberontak dan memukuli tubuhnya sesukaku.

Riko sama sekali tidak membalas atau pun mencegah. Ia membiarkan aku menampar, memukuli dadanya dan menangis sejadi-jadinya. Ia tahu, aku jauh lebih sakit daripada aku melukainya dengan kuku atau benda tajam.

"Aku sayang sama kamu. Dan nggak akan pernah berubah."

"BOHONG!!!"

"Kita sama-sama cinta tapi kita nggak berjodoh. Aku minta maaf ... ini semua salahku." Riko menahan air matanya untuk bisa keluar, namun bisa aku lihat kalau sudut-sudut matanya juga basah.

"BAJINGAN!!!"

"Maki aku sesukamu. Kalau perlu, bunuh aku sekarang juga!" teriak Riko.

"Kalo kamu cinta sama aku, kenapa kamu nikah sama orang lain? Kamu selingkuh di belakang aku, hah!? Aku kira kamu cowok baik. Nyatanya kamu jauh lebih jahat dari yang aku kira."

"Aku nggak bisa menolak pernikahan ini."

"Kenapa? Orang tua jodohin kamu? Aku pikir ortu kamu suka sama aku. Mereka selama ini baik sama aku. Udah anggep aku kayak anaknya sendiri. Aku nggak nyangka kalau mereka juga sejahat ini sama aku."

"Bukan salah mereka. Mereka nggak jahat! Aku yang jahat! Mereka sayang sama kamu seperti yang kamu lihat."

"Terus kenapa kamu tega ngelakuin ini sama aku?"

"Aku nggak bisa nolak. Mama sama Papa juga nggak setuju aku nikahin dia. Tapi ...." Riko terdiam beberapa saat. Suaranya tercekat dan air matanya mengalir deras saat menatapku. Pundaknya naik turun menahan emosinya. "Dia hamil dan aku harus bertanggung jawab." Riko menjatuhkan lututnya ke lantai. Merangkul kaki dan mengecup ujung jemari kakiku. "Maafin aku. Aku udah berdosa karena menghianati cinta sucimu. Aku menyesal karena tergoda dengan nikmatnya nafsu yang ia tawarkan."

Aku serasa tersambar petir jutaan voltase saat mendengar kalimat-kalimat menyakitkan itu keluar dari mulut Riko. Aku tidak percaya kalau ia telah melakukan hal sekotor itu di belakangku. Untuk apa kami berpacaran kalau dia tidur dengan wanita lain. Ini gila! Benar-benar gila. Dia main gila di belakangku dan dia masih bersikap baik dan manis. Ini lebih menyakitkan dari apa pun.

Siapa aku sekarang?
Cuma jadi perempuan tak berguna yang mengurung diri di dalam kamar selama dua hari.
Aku malu ... malu bertemu dengan siapa pun termasuk ibuku.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Semua orang pasti akan bertanya kenapa Riko menikah dengan wanita lain?
Kalau wanita yang bukan menjadi pacarnya sudah dihamili ... semua orang akan berpikir kalau aku adalah wanita murahan yang sudah menyerahkan tubuhku pada Riko. Padahal, aku sama sekali tidak pernah melakukannya. Mungkin hal itu juga yang membuat Riko akhirnya berpaling, karena aku tidak mau melakukan hal bodoh dan menghancurkan masa depanku. Maka dia pilih wanita lain untuk bisa memuaskan nafsunya.

Tapi, persepsi orang tidak akan berubah. Zaman sekarang, mana ada perempuan yang masih mempertahankan keperawanannya untuk laki-laki yang menjadi suaminya. Sex after married menjadi hal yang tabu di zaman sekarang ini. Dan kamu hanya akan jadi bahan tertawaan teman-temanmu saat kamu bilang belum pernah melakukan hubungan seks di luar nikah. Ini aku alami selama aku berpacaran dengan Riko. Mungkin saja Riko lebih tertarik dengan gaya hidup teman-temannya ketimbang mempertahankan prinsip kesucian dalam sebuah hubungan. Dan hal itu yang membuatnya memilih tidur dengan perempuan lain.

Aku tidak menyangka kalau laki-laki lebih memilih wanita yang bisa memberinya kenikmatan sebelum menikah ketimbang wanita yang mempertahankan kesuciannya sampai dia benar-benar dinikahi oleh pria yang mencintainya.

Mungkin benar kalau wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik. Tuhan telah menunjukkan padaku kalau Riko bukanlah laki-laki yang baik untukku. Aku harap ... Tuhan akan mempertemukan aku dengan laki-laki baik. Laki-laki yang bisa menjaga dan mencintaiku dengan ketulusan hati karena Allah SWT.

Tapi ... aku tetap hancur saat ini. Bahkan aku tidak sanggup menghadapi hari esok. Aku tak sanggup menatap matahari walau begitu kurindukan kehangatannya. Aku terlalu hancur dan tak mampu bangkit lagi. Selamat tinggal Riko ... selamat tinggal kenangan tentang kita.




Ditulis oleh Rin Muna
Samboja, 15 Juni 2019



Thursday, June 13, 2019

Not Me Love


Bagiku ... ini hari paling buruk selama hidupku. Entah kenapa aku harus putus dengan Ian, cowok terbaik yang aku kenal dalam hidupku. Yah, dia memang yang paling baik. Setidaknya sampai hari kemarin, tidak dengan hari ini.

Aku masih tidak mengerti kenapa hubungan kita harus berakhir. Tidak ada orang ketiga di antara hubungan kami, kami masih saling menyayangi walau kata pisah itu harus terucap. Kami sama-sama terbawa emosi hanya karena berbeda pendapat tentang masa depan. Banyak hal yang terjadi, banyak hal yang telah kita lewati. Bagaimana bisa aku masih berpikir kalau dia hanya bercanda, hanya main-main dengan hubungan ini sebab kita sama-sama sudah dewasa dan ia masih belum bisa memberi kepastian bagaimana akhir hubungan cinta kita yang sudah terjalin lebih dari 2 tahun.

Ketika akhirnya memutuskan untuk berpisah, kami hanya berpikir bahwa kami tidak berjodoh. Walau tak dapat dipungkiri jika hati ini masih rindu, masih sangat menyayanginya walau tak lagi bisa bersama. Sebab membencinya adalah hal tersulit dalam hidupku.

Dia bukan pacar pertamaku, tapi dialah cowok pertama yang mengajarkanku apa itu cinta, apa arti kasih sayang dan bagaimana cara menikmati kebersamaan dengan hal-hal yang akan aku ingat sepanjang hidupku.

“Aku terlalu sederhana untuk membuatmu istimewa. Tapi, aku ingin menjadi orang yang paling kamu ingat sepanjang hidupmu walau akhirnya kita tidak berjodoh. Sebab jodoh adalah rahasia Tuhan. Aku tidak pernah menyesal menjaga dan membahagiakanmu di waktu-waktu kita masih bisa bersama. Aku berharap, Tuhan menjodohkan kita.” Kalimat yang pernah diucapkan Ian terus terngiang di telingaku. Sesakit inikah rasanya merindukan seseorang yang tak lagi bisa kusapa, tak lagi bisa kulihat senyumnya, tak lagi bisa kudengar suaranya.

Entah kenapa ... kisah cintaku selalu berakhir dengan kata putus. Aku merasa permainan cinta begitu pelik membelenggu hidupku.

Pacar pertamaku, bukan laki-laki yang aku harapkan sebab aku terpaksa menerima dia menjadi pacarku. Dia selalu menghadangku setiap kali pulang sholat Isya’ dari Masjid yang tak begitu jauh dari rumah. Aku menerimanya karena rasa takut, bukan karena cinta. Dan aku harus mengucap kata putus 3 hari setelahnya melalui pesan singkat. Sejak itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Aku masih SMP kala itu, aku tidak tahu apa itu kata pacar. Sebab aku lebih sibuk mengerjakan tugas sekolah dan tugas rumah ketimbang memikirkan hal yang tak kupahami sama sekali.

Pacarku yang kedua, cowok yang terlihat baik, romantis, rayuannya begitu manis. Bagaimana aku tidak tersipu setiapp kali ia mengucapkan kalimat indah? Aku langsung tenggelam dalam pesonanya. Sesekali ia menjemputku sepulang dari SMA. Mengajakku makan siang sembari bercerita tentang usaha meubel miliknya. Namun, tak bertahan lama sebab sifat penyayangnya tidak hanya ia gunakan untuk menyayangiku, ia juga menyayangi wanita-wanita lain dan dengan kerendahan hati aku memintanya untuk melepasku pergi. Aku tidak bisa jika harus merindukan cowok yang rindunya ia bagi-bagi.

Pacar yang ketiga, cowok keren yang digandrungi banyak wanita. Daripada aku selalu cemburu setiap melihatnya didekati cewek-cewek cantik, aku memilih untuk putus saja. Dia juga tidak keberatan karena dengan mudahnya bisa berpindah dari hati ke hati.

Pacar yang keempat ... kelima ... keenam dan seterusnya juga tak ada yang berkesan di hatiku. Bagiku, semuanya sama saja. Sama-sama tidak bisa menghargai aku sebagai seorang wanita. Bagi mereka, pacar adalah bagian dari gaya hidup. Bukan untuk menyayangi seorang wanita dengan ketulusan dan kesetiaan.

Sampai akhirnya aku bertemu dengan Ian. Cowok yang aku pikir aneh. Bagaimana tidak aneh ... di usianya yang ke-25 tahun ia tidak pernah punya pacar sama sekali. Padahal, Ian adalah anak band yang keren. Kulitnya putih, matanya sipit, tubuhnya tinggi, cerdas dan ramah. Siapa yang tidak menyukainya. Semua cewek-cewek di kotaku mengidolakannya terutama saat ia manggung bersama band-nya.

Aku sendiri tidak pernah tahu kenapa Ian justru tertarik untuk dekat denganku. Padahal, sudah jelas kalau aku bukan cewek yang layak ada di sisinya. Aku cewek yang berganti-ganti pacar. Kalau kata orang, berganti-ganti pacar adalah cewek yang nggak bener. Terlebih lagi sahabat dekatku semuanya laki-laki. Aku tidak bisa berteman baik dengan cewek karena beberapa hal. Yang pertama, cewek itu baperan. Nggak semua bisa diajak bercanda dengan bebas. Yang kedua, cewek yang deket sama aku seringkali berprasangka kalau aku bakal ngerebut pacarnya. Bisa-bisa berantem cuma gara-gara cowok dan itu hal yang paling memalukan dalam hidupku.

Ian bilang ... aku berbeda dengan cewek-cewek yang lainnya. Aku tidak begitu cantik, tapi bisa membuatnya tertarik. Padahal, ada banyak cewek cantik yang mengelilinginya. Tak satu pun yang bisa menarik perhatiannya.

"Entah kenapa, setiap lihat kamu ... aku selalu bahagia," ucap Ian saat kami bersama di sebuah galeri seni miliknya.

Dan sejak saat itu, aku menjadi satu-satunya cewek yang ada di dalam hatinya. Cewek biasa yang bisa menyingkirkan banyak cewek istimewa yang berusaha merebut perhatian Ian. Mungkin benar apa yang dibilang sama Ian. Ia bosan dengan cewek cantik. Ia lebih suka dengan wanita baik yang selalu ceria dan bisa menghidupkan suasana.

Selama 2 tahun jalan bareng. Dia adalah cowok terbaik yang aku kenal. Dan dia cuma satu-satunya cowok yang bisa pacaran sama aku sampai 2 tahun. Karena pacar yang sebelumnya cuma bisa jalan paling lama 3 bulan. Aku seringkali putus karena cowok-cowok itu cuma sayang di awal dan menjadikan aku pacar hanya karena bagian dari gaya hidup. Jauh berbeda dengan Ian yang tak hanya menganggapku pacar, ia juga menganggapku sebagai teman, sebagai partner, sebagai pendengar yang baik dan pencerita yang handal.

Aku dan dia saling melengkapi. Seperti wajan dengan spatula. Seperti galon dengan airnya. 
Hal inilah yang membuatku begitu terluka saat harus berpisah dengannya. Alasannya sebenarnya sangat sederhana. Aku memintanya untuk menikahiku karena usia kami bukan lagi usia remaja. Saling mengenal selama 2 tahun, aku rasa sudah cukup untuk maju ke hubungan yang lebih serius lagi. Tapi, dia menolak dengan alasan belum siap. Dan penolakan itu terjadi saat aku mengajukan pertanyaan yang sama tiga bulan kemudian. Yang ada dibenakku saat itu hanyalah ... Ian tidak serius menyayangiku.

Aku mengakhiri hubunganku dengan cara dewasa. Walau kami masih saling menyayangi ... kami tidak berjodoh. Dan hubungan pertemanan kami masih berjalan baik-baik saja. Bahkan tidak ada teman atau keluarga yang tahu kalau aku dan Ian sudah putus. Sejak putus, aku memilih untuk tidak pernah bertemu lagi dengannya. Sebab mengingatnya saja sudah menyakitkan, apalagi bila harus menatapnya, duniaku serasa hancur.

"Udah siap?" sentuhan di kedua bahu menyadarkan lamunanku. Aku menatap wajahku di cermin. Memaksakan bibirku untuk tersenyum agar semua orang melihat kalau aku sedang bahagia. Tak perlu mereka tahu apa yang ada di dalamnya. Aku bangkit, menengadahkan tangan yang telah berhias henna. Berdoa agar aku bisa menyayangi laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupku.

Aku keluar dari kamar, menuju ruangan di mana aku akan mengikat janji di hadapan seorang penghulu. Mengikat janji dengan laki-laki yang tidak aku cintai karena permintaan ayah yang sedang sakit. Beliau takut jika sisa hidupnya tidak lama lagi dan dia belum menikahkan anak perempuan satu-satunya.

Ini bukan akhir dari sebuah cerita cinta, bukan pula awalnya sebab tidak melakukannya dengan cinta. Ini adalah awal di mana aku menyerahkan hidupku pada laki-laki yang aku tidak tahu hati dan jiwanya bisa menyayangiku dengan tulus atau tidak. Aku telah menyerahkan hidupku pada laki-laki yang tidak aku cintai, tapi aku akan berusaha mencintai semampuku. Sebab aku tidak akan pernah tahu pada akhirnya aku akan mencintainya atau justru membencinya.

Aku bisa memilih diriku menikah siapa, tapi hatiku tak bisa memilih cinta ini untuk siapa. Andai bisa aku buat proposal kepada Tuhan agar Ian yang menjadi jodohku, maka sudah kubuat jutaan proposal agar aku bisa hidup bersama orang yang aku cintai ...




Ditulis oleh Rin Muna
Samboja, 13 Juni 2019



Monday, April 29, 2019

Cerpen | I'm [not] President

Pixabay.com

Aku suka menggambar sejak kecil. Hanya saja, gambaranku tidak begitu baik. Sampai-sampai, semua orang ingin merobek hasil gambarku setiap kali aku memperlihatkannya. Mereka juga sering kali mengejek hanya karena aku menggambar daun berwarna biru.

Bagiku, itu hal menyebalkan dalam hidupku. Ketika orang lain ingin kita memahami pikirannya dan memaksa kita sepemikiran dengannya. Ia tak peduli pada pemikiran berbeda yang ada di kepalaku.

Hari ini aku berjalan ke hulu sungai. Membawa kertas dan pensil untuk menggambar bentuk sungai yang seharusnya punya buaya yang ganas. Bukan untuk memakan orang, tapi untuk menjaga alamnya tidak terjamah perusak.

"Mau ke mana?" sapa seorang anak kecil yang membuatku terkejut.

Aku memandangi sekelilingku yang hanya ditemani pohon-pohon rindang.

"Kamu siapa?"

"Namaku Raja." Anak kecil itu tersenyum ke arahku, manik matanya hijau karena pancaran dedaunan yang ada di hutan ini.

"Kamu dari mana?" tanyaku. Anak itu menunjuk ke salah satu dahan pohon yang me julang tinggi.

"Dari pohon?"

Raja menggelengkan kepalanya, tapi masih menunjuk dahan yang sama. Aku mengamatinya dan masih belum memahami apa maksud anak kecil yang kini ada di sebelahku.

"Aku dari planet 8331." Raja tersenyum bangga sementara aku mengernyitkan dahi mendengar ucapan anehnya itu.

Aku menepuk pipiku berkali-kali, bisa saja aku sedang berhalusinasi. Bisa jadi, anak ini sebenarnya tidak ada. Aku memejamkan mata, membukanya kembali dan menemukan anak kecil itu masih berdiri di depanku. Kuulangi beberapa kali, hasilnya masih sama.

"Mau apa ke sini?" tanyaku akhirnya. Walau aku tahu, kalau pertanyaanku pasti akan mendapatkan jawaban konyol dari anak kecil ini

"Aku mau cari presiden."

"Presiden?" Aku menatap wajah mungil itu penuh tanya, untuk apa dia mencari presiden?

Raja menganggukkan kepalanya dengan pasti. "Apa kamu seorang presiden?"

Aku menggelengkan kepala.

"Kenapa?"

Pertanyaan anak itu membuat bola mataku ingin keluar dari tempatnya.

"Kenapa? Yah ... karena ..." Aku berusaha mencari jawaban yang tepat agar anak kecil ini tidak perlu mengajukan pertanyaan yang berikutnya.

"Karena apa?" tanya Raja, wajahnya serius menatapku.

"Karena aku bukan seorang pemimpin."

"Kenapa bukan seorang pemimpin?"

"Pemimpin harus punya orang lain untuk di pimpin. Sedangkan aku, aku tidak bisa memimpin orang lain."

"Kalau begitu, pimpinlah aku!"

Kali ini kata-kata Raja membuat lidahku ingin keluar dari tempatnya. Aku tertawa kecil menatapnya. "Itu tidak mungkin."

"Kenapa?"

"Aku tidak bisa memimpin."

"Aku akan melakukan apa saja yang kamu perintahkan."

"Aku tidak bisa."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak bisa memimpin."

"Kenapa tidak bisa?"

"Tidak ada orang yang bisa aku pimpin."

"Aku mau."

Aku diam, tak lagi menghiraukan pertanyaannya. Aku berpaling dan melangkah pergi. Aku bisa gila jika meladeni pertanyaan anak-anak yang sulit sekali aku pahami.

"Jadilah presiden untukku!" Raja masih saja mengikuti langkahku.

"Untuk apa?"

"Supaya ada yang memimpin."

"Ada seseorang yang menjadi presiden. Carilah orang itu, bukan aku."

"Aku maunya kamu."

"Apa kamu tidak ada pekerjaan lain selain mencari seorang presiden? Lebih baik kamu pulang dan belajarlah membaca dengan baik!" gertakku.

"Kenapa orang dewasa selalu menilai anak-anak itu remeh?" tanya Raja lagi.

Aku menghela napas dan tidak menjawab pertanyaannya.

"Kenapa orang dewasa tidak mau memimpin anak-anak?"

Aku menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak mengerti maksud anak kecil yang masih berjalan di belakangku.

"Kenapa kamu tidak mau jadi presiden? Kalau tidak bisa memimpin banyak, cukup pimpin aku dan jadilah presiden."

Aku menghela napas dan membalikkan tubuhku. "Kalau hari ini aku jadi presiden, bisakah kamu pergi dari sini sekarang juga?"

"Tidak bisa."

"Kenapa? Bukankah kamu ingin menuruti semua perintah presiden?"

Raja menganggukkan kepalanya.

"Baiklah kalau begitu. Berhenti mengikutiku, pergilah jauh! Ini perintah presiden."

Raja menganggukkan kepalanya, namun wajahnya muram.

"Kenapa?"

"Aku menjadikan kamu presiden, lalu kamu mengusirku begitu saja setelah kamu menjadi presiden. Tidak bisakah kamu mengajakku mengelap kemejamu?"

"Tidak bisa. Aku bukan presiden. I'm not president. Jadi, pergilah dari sini karena aku masih punya banyak pekerjaan yang lebih penting."

Raja menundukkan kepalanya, wajahnya muram. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh. Menyusuri jalan setapak memasuki hutan, kemudian menghilang.

Saat anak itu benar-benar hilang, aku baru tersadar kalau aku sudah berbuat jahat pada seorang anak kecil. Terlebih ia di hutan seorang diri dan dengan tega aku mengusirnya hanya karena ia mengajukan pertanyaan anak-anak untuk seorang dewasa sepertiku.

Aku berusaha mengejar anak itu, namun tubuhnya telah benar-benar menghilang. Aku tersenyum, mungkin benar aku sedang berhalusinasi. Karena aku tidak lagi mendapatkan anak kecil yang telah mengajarkan aku sesuatu. Sesuatu yang terlihat sepele, tapi punya makna. Seharusnya aku mengucapkan terima kasih karena ia telah menjadikan aku seorang presiden walau dalam hitungan menit. Seharusnya, seorang presiden tidak pernah lupa pada orang yang ia pimpin. Dan aku telah mengusir satu-satunya orang yang aku pimpin. Kini, aku bukan lagi seorang presiden karena aku tidak punya seorang pun untuk aku pimpin.



Dibuat oleh
Rin Muna
Kukar, 29 April 2019




Saturday, April 13, 2019

Cerpen | Loving Art

pixabay.com

Siang itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku pulang sekolah dan menghabiskan waktuku di dalam kamar untuk sekedar membaca buku atau bermain gadget kesayangan.

Aku sibuk men-scroll layar ponselku. Melihat postingan di beranda facebook. Postingannya didominasi oleh teman-teman sekelasku dan beberapa teman yang tinggal di daerahku. Aku sempatkan untuk memberikan jempol dan berkomentar di beberapa postingan teman sambil asyik bercanda.

Di sisi pemberitahuan terbaru, tiba-tiba muncul sebuah notifikasi di logo pesan masuk. Ada pesan masuk dari seseorang yang tidak aku kenal.

"Hai ...!" Isi pesan itu menyapaku via inbox.

Aku hanya membaca pesannya tanpa ada keinginan untuk membalasnya sama sekali. Karena aku memang tidak mengenal sosok cowok yang ada di dalam foto itu. Aku juga tidak tertarik untuk membuka profilnya sampai beberapa hari ke depan. Sampai ia mengirim kembali sapaan "Hai...!" itu seminggu kemudian.

"Kamu beneran tinggal di Japan?" tanya cowok itu kemudian.
Hmm ... kok, dia bisa tahu aku tinggal di Japan? Japan sendiri bukan sebuah negara yang terkenal dengan samurainya itu. Japan adalah singkatan dari nama jalan utama yang ada di lingkungan RT tempat tinggalku, yakni Jalan Delapan.

"Iya. Kok, tahu?" balasku via inbox.

"Aku lihat di profil kamu."

"Oh," jawabku singkat.

"Aku nggak pernah lihat kamu."

"Maksudnya?" tanyaku heran.

"Semua anak cewek yang ada di Japan aku kenal, kecuali kamu. Anak baru ya?" tanyanya lagi.

"Nggak. Udah hampir 6 tahun aku tinggal di sini."

"Serius? Kok, aku nggak pernah lihat."

"Aku juga nggak pernah lihat kamu, kucing!" balasku karena cowok itu berganti gambar profil menggunakan gambar kucing.

"Aku bukan kucing!"

Aku mengirim emot tertawa.

Itulah awal aku mengenal sosok Syahri, cowok yang saat ini di sampingku. Yah ... akhirnya kami bertemu setelah banyak melakukan interaksi melalui media sosial. Kamu tahu, Syahri adalah sosok cowok langka yang aku temui. Usianya jauh lebih dewasa dari aku. Tampan, berkulit putih, jago main gitar, bassis salah satu band indie, pencipta lagu dan seniman bonsai juga seni rupa. Ah ... dia adalah cowok pertama yang mengenalkan aku dunia seni. Dunia yang begitu indah ... yang selalu membuat dunia kami ceria dan penuh cerita.

"Rin, suatu saat nanti kamu pasti bisa jadi pelukis yang hebat!" Syahri memandang wajahku yang sedang asyik belajar menggoreskan pensil di atas kertas.

"Preet!!"

"Loh? Kok, pret sih!? Serius, deh! Kalau kamu rajin belajar, kamu pasti bisa menjadi pelukis yang hebat."

"Berarti, kamu akan jadi super hebat, dong? Kan, kamu yang ajarin aku." Aku tersenyum sembari melirik dia, lalu kembali fokus pada lukisan pensil di tanganku.

Syahri tersenyum sembari merapikan rambut-rambutku yang menjuntai menutupi wajah. Sikapnya benar-benar membuatku salah tingkah. Aku meletakkan pensil dan bangkit dari tempat dudukku. Aku berdiri tepat di depan jendela. Dari sini aku bisa memandangi sebuah taman dengan luas 10x12 meter. Ada satu pohon besar yang berdiri kokoh. Di bawahnya, terdapat batu-batu besar yang mengitarinya. Juga aneka tanaman dan bunga yang disusun dengan baik. Terlihat sangat natural dan pastinya sejuk. Galeri seni milik Syahri juga masih terbuat dari kayu ulin. Tangganya dibuat sangat unik. Tidak akan ada yang menyangka kalau bangunan sederhana yang terlihat tua ini adalah sebuah galeri pribadi.

"Kok, berhenti?" Syahri berdiri tepat di sisiku.

Aku tersenyum ke arahnya. "Males ah, dilihatin sama kamu," celetukku.

"Gimana mau bisa kalau belajarnya nggak mau serius!"

Aku cuma cengengesan mendengar ucapan Syahri yang serius mengajariku melukis sementara aku kebanyakan bercanda daripada belajarnya.

"Mau teh anget?"

"Boleh."

Syahri berlalu memasuki dapur. Aku bisa melihatnya dari sini. Dia meracik minuman di dapur kecil dengan gaya kafe yang unik. Tapi, aku sama sekali tidak ingin mendekatinya. Aku sibuk memperhatikan lukisan-lukisan yang terpajang. Di sisi kanan ruangan terdapat lemari yang berisi patung-patung ukiran kayu. Di sisi kiri ada rak buku yang tingginya mencapai plafon, penuh dengan buku-buku seni dan sastra. Di sisi jendela tempat aku berdiri juga terdapat sebuah rak unik yang ketika tidak kita buka, bentuknya menyatu dengan dinding. Di dalam rak ini terdapat koleksi kaset mulai dari tahun 70-an. Aku kurang berminat karena aku memang tidak mengerti sama sekali tentang musik, terlebih musik zaman baheula.

"Minum!" Syahri menyodorkan secangkir teh ke arahku saat aku sedang berdiri di teras galeri. Aku tersenyum menerimanya sembari mengucapkan terima kasih.

"Kenapa kamu suka banget sama seni?" tanyaku sembari menyentuh ujung daun Anting Puteri yang tingginya hanya beberapa sentimeter.

"Karena seni itu punya nilai estetika, keindahan yang bisa membuat kita bahagia. Seni bonsai termasuk seni yang tinggi. Karena yang dibentuk adalah makhluk hidup. Dan masih ada lagi seni yang lebih tinggi."

"Oh ya? Apa itu?"

"Seni mencintaimu ..."

"Halah ... gombal!"

"Sherin, serius!"

"Nggak percaya!"

"Aku ini orangnya serius. Nggak kayak kamu yang bercanda mulu."

Aku meringis menanggapi ucapan Syahri.

"Mencintai seseorang itu bagian dari seni."

"Kok, bisa?"

"Saat kamu jatuh cinta ... kamu akan merasakan hal berbeda yang tidak pernah kamu rasakan. Kadang kamu bisa senyum-senyum sendiri, kecewa, sebel tanpa sebab, ngerasain kangen dan takut kehilangan. Mencintai itu ... seni menata hati."

Aku menaikkan kedua alisku dan duduk di tangga kayu yang terlihat dibuat asal-asalan tapi terlihat lebih estetik.

"Rin, aku nggak pernah pacaran dan nggak pernah tahu gimana rasanya jatuh cinta." Syahri duduk di sisiku.

"Botenya pang. Kamu kan punya banyak fans. Setiap kali band kamu manggung, banyak aja tuh fansmu teriak-teriak di bawah panggung."

"Jadi, kamu diam-diam nonton juga? Kamu selalu bilang nggak bisa datang."

"Datang terus, sih. Tapi cuma sebentar aja. Nggak enak lah sama kamu. Apalagi Joey dan yang lainnya juga minta aku datang."

Syahri tersenyum tanpa memandangku. Pandangannya tertuju pada tanaman-tanaman bonsai yang diatur rapi di depan kami.

"Ada banyak cewek cantik di luar sana. Tapi, cuma satu cewek yang bisa sampai masuk ke galeri pribadiku. Cuma kamu ...." Syahri memandangku dengan serius. Aku belum pernah melihat ekspresinya seserius ini.

"Aku masuk ke sini juga kamu yang minta buat datang. Bukan main nyelonong masuk aja. Bisa aja kan kamu begitu juga sama cewek-cewek yang lain."

Syahri menggelengkan kepalanya. "Entah ... aku sama sekali nggak berminat buat deket sama cewek mana pun. Tapi waktu kenal sama kamu, aku nggak bisa menahan diriku untuk selalu dekat sama kamu."

"Kenapa sih kamu nggak pernah sadar kalau kamu itu wanita spesial yang dengan mudahnya masuk ke dalam hatiku?"

Aku mengangkat kedua pundakku. Aku sendiri tidak paham. Apalagi disuruh buat mengerti tentang hati. Hatiku saja, aku sendiri belum bisa memahami. Apalagi harus memahami isi hati orang lain.
"Kamu nggak suka sama aku ya?" tanya Syahri serius.

Pertanyaannya benar-benar membuatku salah tingkah. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Kalau dibilang tidak suka, nggak mungkin sekarang aku di sini. Kalau dibilang aku suka, mungkin hanya sebatas mengagumi. Sama seperti cewek-cewek lain yang mengagumi sosok Syahri. Apa bedanya aku dengan mereka? Bagiku sama saja. Hanya waktu ... ya, waktulah yang membuat kita sering duduk bersama, bercerita, tertawa dan ... memikirkan tentang masa depan.

Aku tidak tahu apakah aku jatuh cinta padanya atau tidak. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Dan yang paling konyol adalah ... memikirkan tentang masa depan bersama. Tanpa status yang pasti. Tanpa hubungan yang pasti. Bisa dibilang kekasih tapi bukan, bisa dibilang teman tapi rasa kekasih. Ah, hariku memang aneh semenjak aku mengenalnya.

Dua tahun setelahnya, aku pindah tempat tinggal. Menjadikan hari yang berat karena aku harus kehilangan cowok yang sudah mewarnai hidupku dengan seni. Seni menata hati seperti yang ia bilang. Karena pada akhirnya aku memang harus menata hatiku. Kami harus bisa menjadikan cinta itu bagian dari keindahan. Walau pada prosesnya, ada banyak hal yang membuat kita merasakan sakit.

Tahun-tahun pertama kepindahanku, semua masih terasa baik-baik saja. Kami masih terus berkomunikasi jarak jauh. Bercerita tentang keseharian kita masing-masing. Namun, lama kelamaan komunikasi kami semakin buruk. Banyak miss komunikasi yang terjadi sampai akhirnya kami tidak pernah lagi saling berkomunikasi.

Aku tahu ... sesungguhnya kekesalan demi kekesalan itu terjadi karena kami sama-sama rindu. Sama-sama ingin bersama tapi jarak kami terlampau jauh. Ada rasa cemburu pada waktu yang seharusnya kita nikmati berdua, tapi kita menikmatinya dengan orang yang berbeda. Aku tidak bisa menyalahkan waktu, aku tidak bisa menyalahkan jarak. Sekuat apapun keinginan kami untuk hidup bersama ... jika tidak jodoh, maka Tuhan akan memisahkan kami dengan caranya. Cepat atau lambat, cerita kebersamaan kita akan menjadi sebuah kenangan.

Ada satu kalimat Syahri yang tidak pernah bisa aku lupakan seumur hidupku. "Jika kita tidak berjodoh, setidaknya aku bisa menjadi sebuah kenangan paling indah dalam hidupmu. Yang akan selalu kamu ingat, ke manapun kakimu melangkah pergi."

Dan sampai saat ini ... aku masih mengingatnya. Bersama dengan kanvas, kuas dan cat yang menemaniku bercerita. Melukiskan setiap keindahan tentang cinta ...

Satu hal yang tidak pernah dia tahu. Aku tidak suka dengan seni. Dia yang teramat mencintai dunia seni. Dan saat ini ... aku mencintai seni karena aku baru sadar kalau aku mencintainya ... setelah kami tidak lagi bisa bersama. I'm loving art, because I'm loving you ...


Melukis adalah bagian dari kerinduan ... kerinduan pada waktu yang tak mungkin bisa aku ulang. Kerinduan pada hari-hari indah yang telah coba ia ciptakan tapi aku selalu membuatnya berantakan. Kerinduan pada sosok orang yang telah mengajarkan aku banyak hal. Yang telah membuka mata dan hatiku, bahwa tidak ada yang lebih indah dari dunia ini selain cinta dan kasih sayang.
Jika suatu hari takdir menemukan kita kembali, aku ingin kamu mengenalku sebagai wanita yang lebih istimewa dari yang telah kamu ucapkan sebelumnya. Dan aku bisa dengan bangga berkata, "Yes, it's me!"


Ditulis oleh Rin Muna untuk Penakata
Samboja, 11 April 2019

Monday, March 25, 2019

Bermain Sambil Belajar Memanen Padi

 Hari ini aku langkahkan kakiku menuju area persawahan milik nenekku. Awalnya, aku dilarang pergi ke sawah dengan berbagai alasan. Nanti kotor, di sawah panas, banyak binatang, nanti gatal-gatal dan lain-lain. Tapi aku tetap keukeuh untuk berangkat ke sawah. Aku ingin membantu nenek, walau aku tahu kalau niatku membantu lebih banyak merepotkan orang tua.

Setiap hari, Mama, Bapak, Nenek dan Mbah Buyut bekerja keras untuk mencarikan uang jajan. Apa aku tidak boleh membantu? Setidaknya, aku bisa tahu bagaimana caranya mendapatkan uang. Kenapa nenek dan kakek rela kepanasan dan kehujanan setiap hari hanga untuk menanam padi, kemudian memotongnya.



Aku merasa geli saat jerami kering menyentuh kulitku, bahkan meninggalkan rasa gatal. Tapi, aku tetap semangat membantu walau cuaca sangat panas. Aku tidak takut menjadi hitam asalkan bisa membantu orang tua.
Aku merasa senang sekali bisa bermain di sawah sambil membantu orang tua. Aku juga bisa tahu bagaimana proses memanen padi di sawah. Banyak ilmu yang bisa aku dapatkan. Aku tahu bagaimana orang tua bekerja keras demi bisa memberikan yang terbaik untukku. Orang tua selalu mengajarkan kami kesederhanaan. Menjadi seorang petani memanglah tidak mulia di mata manusia, tapi petani selalu mulia di mata Allah SWT. Kenapa bisa dibilang mulia? Sebab petani tidak tahu bagaimana caranya korupsi hak orang lain. Yang mereka tahu hanyalah bagaimana caranya hasil panen satu musim bisa cukup untuk makan sampai musim panen berikutnya.

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas