Berbagi Cerita Hidup, Berbagi Inspirasi

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, April 29, 2019

Cerpen | I'm [not] President

Pixabay.com

Aku suka menggambar sejak kecil. Hanya saja, gambaranku tidak begitu baik. Sampai-sampai, semua orang ingin merobek hasil gambarku setiap kali aku memperlihatkannya. Mereka juga sering kali mengejek hanya karena aku menggambar daun berwarna biru.

Bagiku, itu hal menyebalkan dalam hidupku. Ketika orang lain ingin kita memahami pikirannya dan memaksa kita sepemikiran dengannya. Ia tak peduli pada pemikiran berbeda yang ada di kepalaku.

Hari ini aku berjalan ke hulu sungai. Membawa kertas dan pensil untuk menggambar bentuk sungai yang seharusnya punya buaya yang ganas. Bukan untuk memakan orang, tapi untuk menjaga alamnya tidak terjamah perusak.

"Mau ke mana?" sapa seorang anak kecil yang membuatku terkejut.

Aku memandangi sekelilingku yang hanya ditemani pohon-pohon rindang.

"Kamu siapa?"

"Namaku Raja." Anak kecil itu tersenyum ke arahku, manik matanya hijau karena pancaran dedaunan yang ada di hutan ini.

"Kamu dari mana?" tanyaku. Anak itu menunjuk ke salah satu dahan pohon yang me julang tinggi.

"Dari pohon?"

Raja menggelengkan kepalanya, tapi masih menunjuk dahan yang sama. Aku mengamatinya dan masih belum memahami apa maksud anak kecil yang kini ada di sebelahku.

"Aku dari planet 8331." Raja tersenyum bangga sementara aku mengernyitkan dahi mendengar ucapan anehnya itu.

Aku menepuk pipiku berkali-kali, bisa saja aku sedang berhalusinasi. Bisa jadi, anak ini sebenarnya tidak ada. Aku memejamkan mata, membukanya kembali dan menemukan anak kecil itu masih berdiri di depanku. Kuulangi beberapa kali, hasilnya masih sama.

"Mau apa ke sini?" tanyaku akhirnya. Walau aku tahu, kalau pertanyaanku pasti akan mendapatkan jawaban konyol dari anak kecil ini

"Aku mau cari presiden."

"Presiden?" Aku menatap wajah mungil itu penuh tanya, untuk apa dia mencari presiden?

Raja menganggukkan kepalanya dengan pasti. "Apa kamu seorang presiden?"

Aku menggelengkan kepala.

"Kenapa?"

Pertanyaan anak itu membuat bola mataku ingin keluar dari tempatnya.

"Kenapa? Yah ... karena ..." Aku berusaha mencari jawaban yang tepat agar anak kecil ini tidak perlu mengajukan pertanyaan yang berikutnya.

"Karena apa?" tanya Raja, wajahnya serius menatapku.

"Karena aku bukan seorang pemimpin."

"Kenapa bukan seorang pemimpin?"

"Pemimpin harus punya orang lain untuk di pimpin. Sedangkan aku, aku tidak bisa memimpin orang lain."

"Kalau begitu, pimpinlah aku!"

Kali ini kata-kata Raja membuat lidahku ingin keluar dari tempatnya. Aku tertawa kecil menatapnya. "Itu tidak mungkin."

"Kenapa?"

"Aku tidak bisa memimpin."

"Aku akan melakukan apa saja yang kamu perintahkan."

"Aku tidak bisa."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak bisa memimpin."

"Kenapa tidak bisa?"

"Tidak ada orang yang bisa aku pimpin."

"Aku mau."

Aku diam, tak lagi menghiraukan pertanyaannya. Aku berpaling dan melangkah pergi. Aku bisa gila jika meladeni pertanyaan anak-anak yang sulit sekali aku pahami.

"Jadilah presiden untukku!" Raja masih saja mengikuti langkahku.

"Untuk apa?"

"Supaya ada yang memimpin."

"Ada seseorang yang menjadi presiden. Carilah orang itu, bukan aku."

"Aku maunya kamu."

"Apa kamu tidak ada pekerjaan lain selain mencari seorang presiden? Lebih baik kamu pulang dan belajarlah membaca dengan baik!" gertakku.

"Kenapa orang dewasa selalu menilai anak-anak itu remeh?" tanya Raja lagi.

Aku menghela napas dan tidak menjawab pertanyaannya.

"Kenapa orang dewasa tidak mau memimpin anak-anak?"

Aku menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak mengerti maksud anak kecil yang masih berjalan di belakangku.

"Kenapa kamu tidak mau jadi presiden? Kalau tidak bisa memimpin banyak, cukup pimpin aku dan jadilah presiden."

Aku menghela napas dan membalikkan tubuhku. "Kalau hari ini aku jadi presiden, bisakah kamu pergi dari sini sekarang juga?"

"Tidak bisa."

"Kenapa? Bukankah kamu ingin menuruti semua perintah presiden?"

Raja menganggukkan kepalanya.

"Baiklah kalau begitu. Berhenti mengikutiku, pergilah jauh! Ini perintah presiden."

Raja menganggukkan kepalanya, namun wajahnya muram.

"Kenapa?"

"Aku menjadikan kamu presiden, lalu kamu mengusirku begitu saja setelah kamu menjadi presiden. Tidak bisakah kamu mengajakku mengelap kemejamu?"

"Tidak bisa. Aku bukan presiden. I'm not president. Jadi, pergilah dari sini karena aku masih punya banyak pekerjaan yang lebih penting."

Raja menundukkan kepalanya, wajahnya muram. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh. Menyusuri jalan setapak memasuki hutan, kemudian menghilang.

Saat anak itu benar-benar hilang, aku baru tersadar kalau aku sudah berbuat jahat pada seorang anak kecil. Terlebih ia di hutan seorang diri dan dengan tega aku mengusirnya hanya karena ia mengajukan pertanyaan anak-anak untuk seorang dewasa sepertiku.

Aku berusaha mengejar anak itu, namun tubuhnya telah benar-benar menghilang. Aku tersenyum, mungkin benar aku sedang berhalusinasi. Karena aku tidak lagi mendapatkan anak kecil yang telah mengajarkan aku sesuatu. Sesuatu yang terlihat sepele, tapi punya makna. Seharusnya aku mengucapkan terima kasih karena ia telah menjadikan aku seorang presiden walau dalam hitungan menit. Seharusnya, seorang presiden tidak pernah lupa pada orang yang ia pimpin. Dan aku telah mengusir satu-satunya orang yang aku pimpin. Kini, aku bukan lagi seorang presiden karena aku tidak punya seorang pun untuk aku pimpin.



Dibuat oleh
Rin Muna
Kukar, 29 April 2019




Saturday, April 13, 2019

Cerpen | Loving Art

pixabay.com

Siang itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku pulang sekolah dan menghabiskan waktuku di dalam kamar untuk sekedar membaca buku atau bermain gadget kesayangan.

Aku sibuk men-scroll layar ponselku. Melihat postingan di beranda facebook. Postingannya didominasi oleh teman-teman sekelasku dan beberapa teman yang tinggal di daerahku. Aku sempatkan untuk memberikan jempol dan berkomentar di beberapa postingan teman sambil asyik bercanda.

Di sisi pemberitahuan terbaru, tiba-tiba muncul sebuah notifikasi di logo pesan masuk. Ada pesan masuk dari seseorang yang tidak aku kenal.

"Hai ...!" Isi pesan itu menyapaku via inbox.

Aku hanya membaca pesannya tanpa ada keinginan untuk membalasnya sama sekali. Karena aku memang tidak mengenal sosok cowok yang ada di dalam foto itu. Aku juga tidak tertarik untuk membuka profilnya sampai beberapa hari ke depan. Sampai ia mengirim kembali sapaan "Hai...!" itu seminggu kemudian.

"Kamu beneran tinggal di Japan?" tanya cowok itu kemudian.
Hmm ... kok, dia bisa tahu aku tinggal di Japan? Japan sendiri bukan sebuah negara yang terkenal dengan samurainya itu. Japan adalah singkatan dari nama jalan utama yang ada di lingkungan RT tempat tinggalku, yakni Jalan Delapan.

"Iya. Kok, tahu?" balasku via inbox.

"Aku lihat di profil kamu."

"Oh," jawabku singkat.

"Aku nggak pernah lihat kamu."

"Maksudnya?" tanyaku heran.

"Semua anak cewek yang ada di Japan aku kenal, kecuali kamu. Anak baru ya?" tanyanya lagi.

"Nggak. Udah hampir 6 tahun aku tinggal di sini."

"Serius? Kok, aku nggak pernah lihat."

"Aku juga nggak pernah lihat kamu, kucing!" balasku karena cowok itu berganti gambar profil menggunakan gambar kucing.

"Aku bukan kucing!"

Aku mengirim emot tertawa.

Itulah awal aku mengenal sosok Syahri, cowok yang saat ini di sampingku. Yah ... akhirnya kami bertemu setelah banyak melakukan interaksi melalui media sosial. Kamu tahu, Syahri adalah sosok cowok langka yang aku temui. Usianya jauh lebih dewasa dari aku. Tampan, berkulit putih, jago main gitar, bassis salah satu band indie, pencipta lagu dan seniman bonsai juga seni rupa. Ah ... dia adalah cowok pertama yang mengenalkan aku dunia seni. Dunia yang begitu indah ... yang selalu membuat dunia kami ceria dan penuh cerita.

"Rin, suatu saat nanti kamu pasti bisa jadi pelukis yang hebat!" Syahri memandang wajahku yang sedang asyik belajar menggoreskan pensil di atas kertas.

"Preet!!"

"Loh? Kok, pret sih!? Serius, deh! Kalau kamu rajin belajar, kamu pasti bisa menjadi pelukis yang hebat."

"Berarti, kamu akan jadi super hebat, dong? Kan, kamu yang ajarin aku." Aku tersenyum sembari melirik dia, lalu kembali fokus pada lukisan pensil di tanganku.

Syahri tersenyum sembari merapikan rambut-rambutku yang menjuntai menutupi wajah. Sikapnya benar-benar membuatku salah tingkah. Aku meletakkan pensil dan bangkit dari tempat dudukku. Aku berdiri tepat di depan jendela. Dari sini aku bisa memandangi sebuah taman dengan luas 10x12 meter. Ada satu pohon besar yang berdiri kokoh. Di bawahnya, terdapat batu-batu besar yang mengitarinya. Juga aneka tanaman dan bunga yang disusun dengan baik. Terlihat sangat natural dan pastinya sejuk. Galeri seni milik Syahri juga masih terbuat dari kayu ulin. Tangganya dibuat sangat unik. Tidak akan ada yang menyangka kalau bangunan sederhana yang terlihat tua ini adalah sebuah galeri pribadi.

"Kok, berhenti?" Syahri berdiri tepat di sisiku.

Aku tersenyum ke arahnya. "Males ah, dilihatin sama kamu," celetukku.

"Gimana mau bisa kalau belajarnya nggak mau serius!"

Aku cuma cengengesan mendengar ucapan Syahri yang serius mengajariku melukis sementara aku kebanyakan bercanda daripada belajarnya.

"Mau teh anget?"

"Boleh."

Syahri berlalu memasuki dapur. Aku bisa melihatnya dari sini. Dia meracik minuman di dapur kecil dengan gaya kafe yang unik. Tapi, aku sama sekali tidak ingin mendekatinya. Aku sibuk memperhatikan lukisan-lukisan yang terpajang. Di sisi kanan ruangan terdapat lemari yang berisi patung-patung ukiran kayu. Di sisi kiri ada rak buku yang tingginya mencapai plafon, penuh dengan buku-buku seni dan sastra. Di sisi jendela tempat aku berdiri juga terdapat sebuah rak unik yang ketika tidak kita buka, bentuknya menyatu dengan dinding. Di dalam rak ini terdapat koleksi kaset mulai dari tahun 70-an. Aku kurang berminat karena aku memang tidak mengerti sama sekali tentang musik, terlebih musik zaman baheula.

"Minum!" Syahri menyodorkan secangkir teh ke arahku saat aku sedang berdiri di teras galeri. Aku tersenyum menerimanya sembari mengucapkan terima kasih.

"Kenapa kamu suka banget sama seni?" tanyaku sembari menyentuh ujung daun Anting Puteri yang tingginya hanya beberapa sentimeter.

"Karena seni itu punya nilai estetika, keindahan yang bisa membuat kita bahagia. Seni bonsai termasuk seni yang tinggi. Karena yang dibentuk adalah makhluk hidup. Dan masih ada lagi seni yang lebih tinggi."

"Oh ya? Apa itu?"

"Seni mencintaimu ..."

"Halah ... gombal!"

"Sherin, serius!"

"Nggak percaya!"

"Aku ini orangnya serius. Nggak kayak kamu yang bercanda mulu."

Aku meringis menanggapi ucapan Syahri.

"Mencintai seseorang itu bagian dari seni."

"Kok, bisa?"

"Saat kamu jatuh cinta ... kamu akan merasakan hal berbeda yang tidak pernah kamu rasakan. Kadang kamu bisa senyum-senyum sendiri, kecewa, sebel tanpa sebab, ngerasain kangen dan takut kehilangan. Mencintai itu ... seni menata hati."

Aku menaikkan kedua alisku dan duduk di tangga kayu yang terlihat dibuat asal-asalan tapi terlihat lebih estetik.

"Rin, aku nggak pernah pacaran dan nggak pernah tahu gimana rasanya jatuh cinta." Syahri duduk di sisiku.

"Botenya pang. Kamu kan punya banyak fans. Setiap kali band kamu manggung, banyak aja tuh fansmu teriak-teriak di bawah panggung."

"Jadi, kamu diam-diam nonton juga? Kamu selalu bilang nggak bisa datang."

"Datang terus, sih. Tapi cuma sebentar aja. Nggak enak lah sama kamu. Apalagi Joey dan yang lainnya juga minta aku datang."

Syahri tersenyum tanpa memandangku. Pandangannya tertuju pada tanaman-tanaman bonsai yang diatur rapi di depan kami.

"Ada banyak cewek cantik di luar sana. Tapi, cuma satu cewek yang bisa sampai masuk ke galeri pribadiku. Cuma kamu ...." Syahri memandangku dengan serius. Aku belum pernah melihat ekspresinya seserius ini.

"Aku masuk ke sini juga kamu yang minta buat datang. Bukan main nyelonong masuk aja. Bisa aja kan kamu begitu juga sama cewek-cewek yang lain."

Syahri menggelengkan kepalanya. "Entah ... aku sama sekali nggak berminat buat deket sama cewek mana pun. Tapi waktu kenal sama kamu, aku nggak bisa menahan diriku untuk selalu dekat sama kamu."

"Kenapa sih kamu nggak pernah sadar kalau kamu itu wanita spesial yang dengan mudahnya masuk ke dalam hatiku?"

Aku mengangkat kedua pundakku. Aku sendiri tidak paham. Apalagi disuruh buat mengerti tentang hati. Hatiku saja, aku sendiri belum bisa memahami. Apalagi harus memahami isi hati orang lain.
"Kamu nggak suka sama aku ya?" tanya Syahri serius.

Pertanyaannya benar-benar membuatku salah tingkah. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Kalau dibilang tidak suka, nggak mungkin sekarang aku di sini. Kalau dibilang aku suka, mungkin hanya sebatas mengagumi. Sama seperti cewek-cewek lain yang mengagumi sosok Syahri. Apa bedanya aku dengan mereka? Bagiku sama saja. Hanya waktu ... ya, waktulah yang membuat kita sering duduk bersama, bercerita, tertawa dan ... memikirkan tentang masa depan.

Aku tidak tahu apakah aku jatuh cinta padanya atau tidak. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Dan yang paling konyol adalah ... memikirkan tentang masa depan bersama. Tanpa status yang pasti. Tanpa hubungan yang pasti. Bisa dibilang kekasih tapi bukan, bisa dibilang teman tapi rasa kekasih. Ah, hariku memang aneh semenjak aku mengenalnya.

Dua tahun setelahnya, aku pindah tempat tinggal. Menjadikan hari yang berat karena aku harus kehilangan cowok yang sudah mewarnai hidupku dengan seni. Seni menata hati seperti yang ia bilang. Karena pada akhirnya aku memang harus menata hatiku. Kami harus bisa menjadikan cinta itu bagian dari keindahan. Walau pada prosesnya, ada banyak hal yang membuat kita merasakan sakit.

Tahun-tahun pertama kepindahanku, semua masih terasa baik-baik saja. Kami masih terus berkomunikasi jarak jauh. Bercerita tentang keseharian kita masing-masing. Namun, lama kelamaan komunikasi kami semakin buruk. Banyak miss komunikasi yang terjadi sampai akhirnya kami tidak pernah lagi saling berkomunikasi.

Aku tahu ... sesungguhnya kekesalan demi kekesalan itu terjadi karena kami sama-sama rindu. Sama-sama ingin bersama tapi jarak kami terlampau jauh. Ada rasa cemburu pada waktu yang seharusnya kita nikmati berdua, tapi kita menikmatinya dengan orang yang berbeda. Aku tidak bisa menyalahkan waktu, aku tidak bisa menyalahkan jarak. Sekuat apapun keinginan kami untuk hidup bersama ... jika tidak jodoh, maka Tuhan akan memisahkan kami dengan caranya. Cepat atau lambat, cerita kebersamaan kita akan menjadi sebuah kenangan.

Ada satu kalimat Syahri yang tidak pernah bisa aku lupakan seumur hidupku. "Jika kita tidak berjodoh, setidaknya aku bisa menjadi sebuah kenangan paling indah dalam hidupmu. Yang akan selalu kamu ingat, ke manapun kakimu melangkah pergi."

Dan sampai saat ini ... aku masih mengingatnya. Bersama dengan kanvas, kuas dan cat yang menemaniku bercerita. Melukiskan setiap keindahan tentang cinta ...

Satu hal yang tidak pernah dia tahu. Aku tidak suka dengan seni. Dia yang teramat mencintai dunia seni. Dan saat ini ... aku mencintai seni karena aku baru sadar kalau aku mencintainya ... setelah kami tidak lagi bisa bersama. I'm loving art, because I'm loving you ...


Melukis adalah bagian dari kerinduan ... kerinduan pada waktu yang tak mungkin bisa aku ulang. Kerinduan pada hari-hari indah yang telah coba ia ciptakan tapi aku selalu membuatnya berantakan. Kerinduan pada sosok orang yang telah mengajarkan aku banyak hal. Yang telah membuka mata dan hatiku, bahwa tidak ada yang lebih indah dari dunia ini selain cinta dan kasih sayang.
Jika suatu hari takdir menemukan kita kembali, aku ingin kamu mengenalku sebagai wanita yang lebih istimewa dari yang telah kamu ucapkan sebelumnya. Dan aku bisa dengan bangga berkata, "Yes, it's me!"


Ditulis oleh Rin Muna untuk Penakata
Samboja, 11 April 2019

Monday, March 25, 2019

Bermain Sambil Belajar Memanen Padi

 Hari ini aku langkahkan kakiku menuju area persawahan milik nenekku. Awalnya, aku dilarang pergi ke sawah dengan berbagai alasan. Nanti kotor, di sawah panas, banyak binatang, nanti gatal-gatal dan lain-lain. Tapi aku tetap keukeuh untuk berangkat ke sawah. Aku ingin membantu nenek, walau aku tahu kalau niatku membantu lebih banyak merepotkan orang tua.

Setiap hari, Mama, Bapak, Nenek dan Mbah Buyut bekerja keras untuk mencarikan uang jajan. Apa aku tidak boleh membantu? Setidaknya, aku bisa tahu bagaimana caranya mendapatkan uang. Kenapa nenek dan kakek rela kepanasan dan kehujanan setiap hari hanga untuk menanam padi, kemudian memotongnya.



Aku merasa geli saat jerami kering menyentuh kulitku, bahkan meninggalkan rasa gatal. Tapi, aku tetap semangat membantu walau cuaca sangat panas. Aku tidak takut menjadi hitam asalkan bisa membantu orang tua.
Aku merasa senang sekali bisa bermain di sawah sambil membantu orang tua. Aku juga bisa tahu bagaimana proses memanen padi di sawah. Banyak ilmu yang bisa aku dapatkan. Aku tahu bagaimana orang tua bekerja keras demi bisa memberikan yang terbaik untukku. Orang tua selalu mengajarkan kami kesederhanaan. Menjadi seorang petani memanglah tidak mulia di mata manusia, tapi petani selalu mulia di mata Allah SWT. Kenapa bisa dibilang mulia? Sebab petani tidak tahu bagaimana caranya korupsi hak orang lain. Yang mereka tahu hanyalah bagaimana caranya hasil panen satu musim bisa cukup untuk makan sampai musim panen berikutnya.

Tuesday, March 19, 2019

Short Story | I'm Alone for Love

[Beejees]
Clue : Jomblo dari Ummi Karla Wulaniyati

Jam istirahat aku jarang sekali ke kantin. Kebetulan ini hari senin, aku memang sedang puasa. Untungnya Maya dan teman-temanku yang lain mengerti kalau aku rutin berpuasa setiap hari senin dan kamis. Aku selalu menghabiskan waktu dengan menggambar di dalam kelas saat jam istirahat.

"Rin, ada salam dari Andi." Maya yang baru saja kembali dari kantin mengagetkanku. Karena aku sedang fokus menggoreskan pensil ke atas kertas, aku sama sekali tidak menyadari langkah kaki Maya saat masuk ke dalam kelas.

"Mmm," sahutku, masih tetap fokus dengan gambar yang sedang aku buat.

"Rin, kenapa sih kamu selalu nolak salam dari Andi? Dia kan ganteng, pinter, baik hati pula. Susah lho dapet cowok kayak gitu." Maya duduk di hadapanku.

Aku melirik ke arahnya. "Kamu dikasih apa sama dia? Muji-muji sampe segitunya," celetukku.

"Kamu nih buruk sangka mulu loh. Itu kenyataan tau! Kalo dia nggak naksir kamu, udah aku gebet deh biar jadi pacarku."

"Kelanjiannya pang," celetukku.

"Rin, kamu dicari sama Andi!" Linda langsung berteriak saat masih berada di pintu kelas.

"Sibuk!" sahutku.

"Ndi, Rinanya lagi sibuk katanya!" Linda berteriak sembari mengeluarkan kepalanya dari pintu kelas.

"Ada orangnya?" Aku langsung berdiri menghampiri Linda yang masih berpegangan dengan pintu kelas.

"Ada, tuh!" Linda menunjuk dengan dagunya. Aku melihat Andi sedang bersandar di dinding luar kelas sambil tersenyum ke arahku.

Aku segera menghampirinya. "Ada apa, Ndi?"

"Pulang sekolah nanti ada acara, nggak?" tanya Andi.

"Eh!? Ada." Aku mengangguk-anggukan kepala. "Aku mau ke rumah Maya bareng Linda, mau ngerjain tugas."

"Enggak, Ndi! Bohong dia," sahut Linda.

Aku langsung melemparnya dengan pensil yang sedari tadi masih aku pegang. "Nggak usah nguping!"

"Aku tau kalo kamu hari ini nggak ada jadwal les, kan? Tapi kamu masih mau ngeles mulu. Pulang sekolah, aku tunggu di parkiran ya!" pinta Andi tak lepas memandangku.

"Insya Allah ya! Aku nggak janji."

Andi tersenyum ke arahku.

"Ciyee ... ciyee.... jadian ciyee ...." Beberapa anak mulai menggodaku dengan kata "ciye" yang membuatku risih.

"Udah, ya! Aku mau masuk kelas. Itu aja, kan?"

Andi mengangguk dan mempersilakan aku masuk dengan isyarat tangannya. "Idih, aku bener-bener risih dengan sikap Andi yang sok-sok jadi cowok romantis."

Sepulang sekolah, aku bermalas-malasan melangkahkan kaki keluar dari kelas atau pun sekolah karena harus menemui Andi di parkiran. Jelas aku tidak bisa menghindar. Aku harus melewati parkiran terlebih dahulu untuk bisa keluar dari sekolah ini. Ini membuatku harus menemui Andi yang sudah menungguku di sisi mobilnya.

"Ada apa, Ndi?" Aku langsung bertanya saat sampai di hadapan Andi.

"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Tapi, nggak di sini."

"Di mana?"

"Masuk ke mobil dulu, yuk!"

Aku menggelengkan kepala.

"Kenapa?"

"Ngomong di sini aja!"

"Di sini nggak enak ngomongnya."

"Ya udah, nggak usah ngomong aja sekalian!" Aku membalikkan tubuhku dan bergegas pergi. Namun tangan Andi berhasil menahanku. Hal ini mengundang perhatian banyak mata yang sedang sibuk keluar dari parkiran sekolah.

Aku menghela napas dan kembali berhadapan dengan Andi.

"Please, Rin. Sekali ini aja!" pinta Andi.

Belum sempat menjawab, tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku langsung merogoh saku tasku dan mendapati nomor telepon dari pengurus Panti Asuhan.

"Assalamu'alaikum. Ada apa, Bu?"

"Wa'alaikumussalam. Kamu cepet ke sini ya! Sella sakit, abis diserempet mobil pas pulang sekolah."

"Apa!? Iya, iya. Aku langsung ke sana." Aku menutup telepon tanpa mengucap salam terlebih dahulu. Aku sudah panik dengan kabar kalau Sella sakit. Sella adalah anak yang masih kecil. Aku  nggak bisa ngebayangin gimana keadaan Sella sekarang.

"Kenapa?" Andi tiba-tiba menyentuh pundakku. Menyadarkan kalau aku sedang tidak sendirian. Dia pasti tahu kalau aku sedang dalam keadaan panik.

"Aku harus cepet-cepet pulang. Sorry!" Aku setengah berlari tanpa menghiraukan Andi lagi. Secepatnya aku keluar dari gerbang sekolah. Berjalan kaki sekitar 300 meter keluar dari gang untuk bisa menunggu angkot yang lewat.

Aku sudah berdiri beberapa menit di tepi jalan, tapi angkot tak kunjung muncul. Murid-murid yang biasa menunggu angkot bersamaku juga sudah tidak ada lagi. Sepertinya aku sedikit terlambat keluar dari sekolah sehingga supir angkot sudah tidak ngetem lagi di jalan masuk ke SMA-ku.

"Ayo, masuk! Buru-buru kan?" Tiba-tiba mobil Andi sudah berhenti di depanku. Aku sedikit ragu untuk menerima tawarannya. Apa iya aku harus berduaan di dalam mobil bersamanya. Aku takut kalau ... ah, aku nggak boleh suudzon sama orang. Lagipula, Andi terkenal sebagai cowok baik-baik di sekolah, entah kalau di luar sekolah.

Aku langsung masuk ke dalam mobil Andi. Ia mulai menjalankan mobilnya perlahan-lahan.

"Rumahmu di Regency, kan?" tanya Andi sebelum memutar arah mobilnya.

"Iya. Tapi, kita nggak usah muter. Aku mau ke kilo."

"Mau ngapain?" Andi menaikkan kedua alisnya karena heran.

"Aku mau ke Panti."

"Panti mana?"

"Ibu Pertiwi. Yang di kilo lapan."

"Oh, yang di belakang Poltek itu ya?" Andi mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Iya."

Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing selama beberapa saat.

"Rin!" panggil Andi dengan nada lirih.

"Iya."

"Kenapa kamu selalu menolak ajakan aku buat ketemu?"

"Kapan aku nolak?"

"Yah, nggak nolak sih. Tapi, sepertinya kamu memang sengaja menghindar setiap kali aku ngajak jalan."

"Aku banyak kegiatan, Ndi."

"Kamu belum punya pacar, kan?"

Aku menggelengkan kepala. "Nggak sempat mikirin pacar."

"Emangnya nggak pengen punya cowok kayak temen-temen kamu yang lain? Bukannya semua cewek seneng diperhatiin?"

"Iya, mungkin. Tapi buat aku, pacaran cuma bikin hidupku makin ribet."

"Kenapa?"

"Karena ada banyak hal yang bisa aku lakuin buat ngisi waktu luang aku daripada cuma ngabisin waktu buat dating sama pacar."

"Apa itu salah satu alasan kamu ngejauhin aku terus?"

"Iya," jawabku tanpa menoleh ke arahnya. Aku bisa melihat dari ekor mataku kalau wajah Andi terkejut dengan jawabanku yang to the point banget.

"Jadi, kamu belum pernah jatuh cinta sama seseorang?" tanya Andi lagi.

"Belum tau soal definisi jatuh cinta itu sendiri apa. Aku mencintai banyak orang di sekitarku. Menyayangi mereka semua. Dan aku sendiri nggak tahu kenapa kata cinta harus diawali dengan kata jatuh untuk mengungkapkan sebuah perasaan yang istimewa. Kalau kata orang jatuh cinta itu indah, kenapa harus pakai kata jatuh. Bukannya jatuh itu sakit?"

"Jatuhnya emang sakit. Apalagi cintanya nggak terbalaskan. Sangat sakit, Rin. Tapi cinta membuat kita rela merasakan sakit berkali-kali demi orang yang kita cintai." Andi menyandarkan tubuhnya setelah mesin mobilnya mati tepat di halaman Panti Asuhan Ibu Pertiwi.

Aku menatap Andi untuk pertama kalinya. Ia kini tak menoleh ke arahku sedikitpun. Pandangannya lurus ke depan dan aku bisa melihat guratan lelah dan rasa kecewa di dalam dirinya. Sebegitu jahatnya kah aku selama ini membiarkan Andi terus-menerus mengejarku tanpa tahu bagaimana akhirnya. Sejak kelas satu sampai kelas tiga SMA, dia tidak pernah lelah dan menyerah untuk bisa menyapaku. Walau di antara sapaan itu, ada jarak yang terbentang jauh. Kegigihannya memang patut untuk dihargai. Tapi, menghargainya bukan dengan cara menerimanya menjadi seorang pacar. Ini terlalu rumit bagiku.

Andi menoleh ke arahku dan berhasil membuat aku salah tingkah. Entah ... ketika ia menatapku tanpa bicara, justru membuat dadaku sesak dan berdebar-debar. Jauh berbeda dengan Andi yang konyol dan sering malu-maluin saat di sekolah. Bahkan ia tidak malu menyatakan pada semua murid kalau dia menyukaiku. Tingkahnya itu justru membuatku malu dan risih, itu juga salah satu alasan kenapa aku selalu menghindar untuk bertemu dengannya.

"Belum mau turun? Mau sampai kapan diem-dieman di mobil?"

Aku tersenyum, melepaskan safety belt yang masih melingkar di tubuhku dan bergegas keluar dari mobil. Andi mengikuti langkahku dari belakang.

Semua anak-anak panti menyambutku dengan riang gembira. Mereka selalu ceria saat aku datang dan itu adalah kebahagiaan tak terkira bagiku.

"Sella gimana?" tanyaku pada mereka.

"Lagi tidur, Kak." Aku melangkahkan kaki masuk ke kamar Sella ditemani dengan anak-anak yang lainnya. Aku bersyukur karena luka Sella tidak begitu parah. Untungnya si pelaku mau bertanggung jawab dan membawa Sella berobat ke klinik.

"Ya, sudah. Biarkan dia istirahat. Kita keluar yuk!" ajakku pada anak-anak panti yang ikut masuk ke dalam kamar Sella. Aku mengusap kepala mungil Sella dan mencium keningnya sebelum aku keluar kamar.

Aku melihat Andi sedang berkumpul dengan anak-anak lainnya di aula yang berada di depan musholla. Tempat anak-anak berkumpul dan berkegiatan di sana. Sepertinya dia sedang asyik mendongeng. Karena, laki-laki tidak boleh masuk ke kamar wanita. Andi memilih menunggu di aula bersama dengan anak-anak yang lainnya. Aku juga ikut bergabung mendengarkan dongeng yang sedang diceritakan oleh Andi.

Aku tidak menyangka kalau Andi punya kemampuan story telling yang baik. Dia juga terlihat nyaman berbaur dengan anak-anak panti. Bahkan ia tak sungkan menggendong salah satu anak yang memang tubuhnya paling kecil. Keceriaan dan kebahagiaan itu hadir di antara kita. Aku bisa melihatnya. Sesekali Andi memandang ke arahku sembari bermain dengan anak-anak.

Hampir dua jam kami menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak panti. Aku berpamitan usai memastikan kalau Sella akan baik-baik saja. Aku memang menjadi relawan di panti ini. Apa pun tentang keadaan anak-anak, aku selalu tahu. Kebetulan, ayahku juga menjadi salah satu donatur di panti asuhan ini. Aku mulai tertarik dengan anak-anak panti saat aku merayakan ulang tahunku yang ke-14. Ketika itu, ayah mengajakku merayakannya di Panti Asuhan. Sejak itulah aku menjadi rutin ke panti untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka secara moril dan materil.

"Kamu bisa mendongeng?" tanyaku saat kami sudah berada di dalam mobil.

"Sedikit."

"Tadi itu lumayan bagus, lho!"

"Oh ya?"

Aku mengangguk kepala. Ini pertama kalinya aku memuji Andi. Itu bukan berarti aku mulai menyukainya atau bahkan jatuh cinta dengannya. Tapi hanya sekedar pujian seorang teman, tak ada yang istimewa.

"Kamu sudah sering ke panti itu? Kelihatannya kamu deket banget sama anak-anaknya."

Aku mengangguk.

"Dari tadi cuma manggut-manggut aja. Pas di Panti, kamu kelihatan ceria dan cerewet banget. Kenapa kalau sama aku, cuma manggut-manggut aja?"

Aku tersenyum. "Nggak tau mau ngomong apa," jawabku sambil nyengir.

"Ngomong I Love You,kek!"

"Idih, maksa!"

"Biarin, daripada jomblo mulu!?"

"Mending jomblo."

"Emang kamu seneng jomblo mulu? Nggak ada yang sayang."

"Yee ... jomblo itu bukan berarti nggak disayang atau nggak punya cinta. Aku punya banyak anak-anak panti yang aku sayang banget dan mereka juga sayang sama aku. Cinta itu bukan cuma untuk satu orang saja, tapi buat semuanya juga. Biar hidup kita jauh lebih bahagia."

"Asal jangan cinta sesama jenis aja!" celetuk Andi.

"Iih ... apaan sih!?" Aku mendelik sembari menyubit lengan Andi.

"Sakit tau!" Andi mengelus lengan yang aku cubit. Ups ... sorry! Aku bener-bener nggak sadar sama tindakanku kali ini. Kok, bisa tanganku selancang ini?

"Sorry!"

Andi tersenyum. "Nggak papa, kok. Aku pasti bakal kangen sama cubitanmu."

Aku mengerucutkan bibirku. Lagi-lagi Andi memulai bualannya yang bikin perutku mual.

"Ndi ...!" panggilku tanpa menatap ke arahnya.

"Ya." Andi tetap berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.

"Kenapa kamu nggak pacaran sama cewek lain aja? Daripada kamu ditolak melulu sama aku, daripada kamu jomblo mulu."

Andi tersenyum ke arahku. "Rin, kalau aku nembak cewek lain dan ditolak lagi, lagi dan lagi ... itu namanya aku ngejatuhin derajat aku sebagai cowok paling ganteng se-Balikpapan."

Aku mengerutkan kening, rasanya mataku mau keluar mendengar ucapan Andi kali ini. Sumpah ini cowok, pede banget!

"Apa bedanya dengan ditolak berkali-kali? Pasti akan ada cewek yang mau jadi pacar kamu, kok."

"Kamu sendiri kenapa nolak aku berkali-kali?" tanya Andi balik. Aku merasa pertanyaanku tadi adalah senjata yang akan membunuhku sendiri.

"Eh!? Aku!? Karena ... aku nggak mau pacaran. Aku mau fokus sekolah dulu."

"Emangnya aku ganggu banget ya? Padahal, kamu ini kan pinter. Harusnya kamu bisa membagi waktu antara pacaran sama pelajaran!"

"Apa!?"

"Anak pinter harus bisa me-manage waktu dan pikirannya. Masa cuma karena pacar doang, belajarmu terganggu? Lemah!" celetuk Andi.

"Terserah! Aku nggak akan ngubah komitmen aku sampai aku ketemu cowok yang ngajak aku menikah, bukan pacaran!" Aku mendengus ke arah Andi.

"Jadi, kamu udah pengen nikah?"

Aku gelagapan dengan pertanyaan Andi. Seharusnya aku tidak mengatakah hal itu di usiaku yang masih delapan belas tahun.

"Lulus sekolah aku lamar kamu, boleh?"

"Eh!?"

"Diajak pacaran, katanya maunya nikah. Diajak nikah, malah plonga-plongo gitu."

"Eh ... aneh aja. Kita masih terlalu muda buat nikah. Lagipula aku masih mau kuliah dulu."

"Ya udah, abis wisuda aku lamar kamu!"

Aku tersenyum. "Oke. I'm wait! Sekarang, kamu coba aja dulu cari cewek lain yang bisa kamu jadiin pacar, biar nggak jomblo mulu! Siapa tau lima tahun lagi pikiran dan hatimu akan berubah."

"No. Insya Allah aku nggak akan berubah sampai lima puluh tahun ke depan."

"Sok yakin. Belum tentu kita jodoh!"

"Aku yakin kita jodoh. Itulah kenapa aku milih buat ngejomblo ketimbang cari cewek lain."

"Why?"

"Karena kamu adalah berlian yang sulit buat aku dapetin. Aku nggak akan nyia-nyian. I'm alone for love, because love is you!" Andi menunjuk tepat ke arah dadaku.
"Kamu tunggu aku lima tahun lagi! Aku harap kamu nggak nerima cowok lain di hatimu selain aku."

Aku mengedikkan bahuku.

"Ck. Please, Rin! Jangan terima cowok lain selain aku!" Andi menghentikan mobilnya tepat di halaman rumahku.

"Maksa!"

"Aku nggak maksa, aku cuma memohon."

"Iya. Insya Allah."

"Serius ya! Aku nggak bercanda ini."

"Iya!" Aku mendengus ke arah Andi.

"Galak amat, sih!" celetuknya.

"Udah tau galak, kenapa suka?" Aku makin kesal.

"Hehe ... justru aku suka kamu karena kamu galak, cuek dan jutek banget!" Andi memencet hidungku. "Aku tau kamu tipe cewek setia."

"Sakit, nah!" Aku mengelus hidungku yang digapit jemari tangan Andi.

"Ya udah, cepet masuk rumah dan jangan keluar lagi buat cowok lain selain aku ya!" goda Andi.

"Siap, Bos!" Aku bergegas melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah usai melambaikan tangan pada Andi yang mulai menjauh dari halaman rumah.

Aku menjalani hari-hariku seperti biasa. Andi tak lagi menggodaku di depan umum seperti biasa. Dia bisa lebih bersikap dewasa untuk menyatakan perasaannya. Aku tak perlu menahan malu karena olokan seisi kelas atau sekolahan. Dia lebih banyak menemuiku di rumah. Bercengkerama dengan ayah hampir setiap malam. Bahkan, ia jarang mengajakku bicara. Sepertinya, Andi sudah berhasil mengganti posisiku sebagai anak ayah.

Kita nggak perlu pacaran cuma untuk mencari dengan siapa kita akan menjalani hari-hari kita. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan bersama tanpa harus menjadi pacar.
Kalau jodoh, Tuhan pasti akan menyatukan kita. Kalau bukan jodoh, sekuat apa pun keinginan kita untuk bersamanya ... kita akan tetap berpisah.

Aku tidak memimpikan apa pun tentang masa depan. Sampai waktu itu benar-benar tiba.
                          Aku masih menunggu ... sendiri ... untuk cinta.


Rin Muna
East Borneo, 19 Maret 2019

Sunday, March 17, 2019

[Short Story] - Fall In Love with Ghost


[Pixabay]



Clue : Cinta Dua Dunia dari Mba Nur Halifah




Hari ini Megan masuk sekolah seperti biasanya. Tubuhnya sedikit lelah karena harus membantu membereskan rumah Ayura, sepupunya yang baru saja merayakan ulang tahun yang ke-17.

Megan meregangkan otot-ototnya usai menjatuhkan diri ke kursi. Sepertinya hari ini akan diawali dengan pelajaran yang cukup melelahkan. Guru matematika baru saja masuk ke kelas dan membuat tubuh Megan terasa semakin sakit. Ia tidak suka pelajaran matematika, berhitung adalah hal yang paling ia hindari. Tapi ia tetap harus mengikuti jam pelajaran agar tidak mendapat angka merah.

"Hai ...!" Wajah cowok tampan itu berkelebat di depan mata Megan. Ia terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Cowok berkulit putih pucat itu berjongkok tepat di depan mejanya.

"Kamu ngapain di sini?" bisik Megan.

"Aku mau bantu kamu ngerjain soal Matematika. Kamu kesulitan, kan?" Cowok itu tersenyum penuh arti menatap Megan.

Ayura menyenggol lengan Megan. Bulu kuduknya merinding setiap kali melihat tingkah aneh sepupunya itu. Ia tahu, Megan memang bisa melihat makhluk astral. Setiap kali melihat Megan berbicara dengan angin, ia sudah tahu kalau Megan sedang berbicara dengan makhluk yang tidak terlihat. Hal ini yang sering membuat Ayura ketakutan, terutama di malam hari. Ia lebih memilih untuk tidak jalan dengan Megan. Ia tidak siap melihat Megan berbicara dengan makhluk-makhluk astral itu.

Megan menoleh ke arah Ayura yang wajahnya memucat. Ia sadar kalau Ayura pasti ketakutan.

"Tenang ... dia baik, kok," bisik Megan, membuat Ayura mengedikkan bahunya. Ayura tetap saja tidak suka harus bersinggungan langsung dengan makhluk astral itu. Sebenarnya dia sudah terbiasa dengan sikap Megan, ia sudah mengenalnya sejak kecil.

"Apa dia cowok logaritma yang kamu ceritain?" bisik Ayura penasaran.

Megan menganggukkan kepalanya perlahan.

Megan mengenal Ahua, si cowok logaritma yang dimaksud Ayura. Gelar cowok logaritma itu tersemat karena Ahua adalah cowok yang jago Matematika dan Fisika. Ahua meninggal dunia di dalam kelas karena penyakit asmanya kambuh dan tidak dapat ditolong. Sejak itu, arwahnya masih gentayangan karena keluarganya masih belum mengikhlaskan kepergiannya yang tiba-tiba. Ibunya masih terus dirundung kesedihan karena Ahua adalah anak satu-satunya.

Hampir semua murid di sekolah mengenal Ahua, cowok cerdas yang sering mengikuti olimpiade Fisika dan Matematika. Seluruh sekolah juga mengetahui bagaimana Ahua meninggal dunia. Hanya saja, tak ada yang tahu kalau Ahua masih berada di sekolah hingga saat ini. Hanya Megan yang bisa melihat dan berkomunikasi dengan Ahua.

Sejak Ahua mengetahui kalau Megan bisa melihat, mendengar bahkan berkomunikasi dengannya, Ahua terus-menerus hadir di dalam hari-hari Megan. Ia sering muncul tiba-tiba terutama di saat Megan terlihat sedang berpikir keras seperti saat menghadapi pelajaran Matematika.

Ahua ingin agar Megan bisa menjadi penolongnya untuk melepaskan diri dari jerat kepiluan ibunya.
Agar ia bisa beristirahat dengan damai di tempat yang seharusnya.

Ahua tak menyerah begitu saja meski Megan selalu menolak untuk menolongnya. Ia terus mengikuti ke mana pun Megan pergi. Semakin hari membuat Megan semakin muak, banyak mata yang mulai curiga dengan sikap Megan yang sering berbicara sendiri. Tak ada yang tahu kalau Megan adalah anak Indigo kecuali Ayura.

"Sampe kapan kamu bakalan ngikutin aku terus?" sentak Megan saat ia berada di koridor sekolah yang mengarah ke kantin.

"Sampe kamu bisa bantu aku. Please!" Ahua menyatukan kedua telapak tangannya, memohon kepada Megan agar mau membantunya.

"Aku nggak bisa."
"Bisa."
"Enggak ...!"
"Bisa!"
"Gak! Aku gak mau!" teriak Megan. Semua mata tertuju kepadanya karena Megan terlihat berbicara seorang diri.

"Aneh!" celetuk murid-murid yang kebetulan lewat.

"Mungkin dia depresi abis putus dari pacarnya," sahut yang lain dan diikuti gelak tawa.

Megan mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan Ahua yang membuatnya tidak bisa mengontrol emosi. Di saat ia diejek teman-temannya, Ahua justru cekikan di hadapannya.

"Gimana? Mau bantu aku, kan?" Ahua tersenyum sambil melirik ke arah murid-murid yang mengejek Megan.

"Oke. Pulang sekolah aku ke rumah kamu." Megan menyerah untuk menolak permintaan Ahua, si hantu ganteng dan cerdas yang super duper jahil.

***
Sepulang sekolah, Megan memenuhi janjinya mengunjungi kedua orang tua Ahua. Ahua menunjukkan jalan dengan cukup baik dan dia tidak berhenti bercerita sampai Megan berada tepat di depan rumahnya.

Megan sudah yakin, kalau keluarga Ahua tidak akan percaya dengan apa yang akan dia katakan. Dan itu benar terjadi. Ini tidak hanya membuat Megan kesal, tapi juga membuat Ahua semakin sedih.

Ahua menangis sejadi-jadinya di sudut kamar Megan. Entah apa yang membuat hantu itu mengikuti Megan sampai ke rumahnya. Terlebih ia saat ini justru menangis dan membuat Megan kebingungan.

"Kamu itu cowok, kenapa nangis sih?" celetuk Megan.

"Siapa yang bisa nolongin aku? Nggak ada lagi. Aku bakal gentayangan terus." Ahua semakin terisak.

"Aku bakal nolong kamu. Please, jangan nangis! Aku pusing denger suara kamu nangis terus."

"Seriusan? Tapi, gimana caranya?"

"Aku akan coba terus sampai mereka percaya."

Ahua menghentikan tangisnya dan tersenyum bahagia. "Makasiiih ...!" Ia memeluk Megan, tapi ia sadar kalau dia tidak bisa menyentuh Megan dengan sempurna.

Megan merasakan sekujur tubuhnya dingin karena tubuh Ahua menyelimuti tubuhnya. Baru kali ini ia merasakan dipeluk oleh makhluk astral. Tak bisakah ia menjadi manusia normal seperti yang lainnya? Dipeluk oleh pacar sungguhan, hmm ....

Sejak hari itu, Megan selalu berusaha menyakinkan keluarga Ahua kalau ia bisa melihat arwah Ahua masih berada di bumi, sebab kesedihan ibunya tidak bisa membuatnya pergi ke tempat yang seharusnya.

Penolakan demi penolakan sudah ia lalui. Namun, Megan tidak akan menyerah sampai ia bisa membuat keluarga Ahua percaya kalau dia bukan cewek gila yang sedang berhalusinasi.

"Kamu belum punya pacar?" tanya Ahua saat Megan sedang serius mengerjakan PR Matematika di kamarnya.

"Kenapa?"

"Aku nggak pernah lihat kamu jalan sama cowok."

"Apa kamu nggak sadar kalau setiap hari kita jalan bareng? Bahkan kamu keluar masuk ke kamarku tanpa izin," jawab Megan ngasal. Ia kembali fokus pada angka-angka yang membuatnya pusing.

"Oh ... jadi, itu pacaran?"

"Bukan itu maksudku. Tadi kamu bilang nggak pernah lihat aku jalan sama cowok, kan? Bukan pertanyaan pacarnya," dengus Megan kesal.

Ahua cekikikan di sisinya. Megan semakin kesal. Ia melempar cowok itu dengan pena tapi hanya menembus tubuhnya. Membuat Ahua semakin tertawa.

"Pergi dari sini! Aku pusing banyak tugas. Apa kamu nggak bisa bikin aku tenang?"

"Kenapa aku harus pergi? Sini aku bantu!" Ahua mendekatkan wajahnya tepat bersebelahan dengan wajah Megan. Megan bisa merasakan hawa dingin yang menyentuh pipinya, sebab pipi mereka sebenarnya bertemu, hanya tak bisa bersentuhan layaknya manusia biasa.

Dengan penuh kelembutan, Ahua memandu Megan agar bisa mengerjakan tugas Matematikanya dengan baik. Ini bukan pertama kali ia membantu Megan. Sudah sering ia melakukannya dan membuat Megan mulai ketergantungan dengan cowok itu.

"Apa dulu kamu juga punya pacar?" Giliran Megan yang mengajukan pertanyaan pada Ahua.
Ahua menggelengkan kepalanya. "Aku terlalu sibuk mencintai angka-angka. Sampai aku lupa, kalau masa-masa remaja seharusnya aku isi juga dengan kisah-kisah indah. Tapi semua sudah terlambat. Aku sudah mati terlebih dahulu tanpa tahu bagaimana rasanya jatuh cinta."

"Oh ya?" Megan menoleh ke arah Ahua, tatapan mereka bertemu. Ujung hidungnya bersentuhan dengan hidung Ahua yang bangir. Mereka saling pandang beberapa saat.

Megan merasakan wajahnya menghangat dan degup jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ada rasa sesak di dadanya. Hatinya seolah mengajak berbicara tapi tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata. Hal itu membuat dadanya semakin sesak karena ia sendiri tak tahu apa yang seharusnya ia lakukan.

"Kamu kenapa?" tanya Ahua yang menyadari sesuatu yang aneh terjadi pada Megan.
Megan meraih tangan Ahua dan meletakkan di dadanya. Kali ini Ahua tertegun karena Megan bisa menyentuhnya. "Kamu tahu ini artinya apa?"

Ahua tersenyum penuh arti, tapi tidak mengatakan apa pun.

"Kamu terlalu sering berada di sisiku. Dan sekarang kamu membuat jantungku berdebar-debar. Tolong jangan membuatku jatuh cinta pada hantu, ini konyol!" celetuk Megan.

"Bagaimana kamu bisa menyentuhku?" tanya Ahua.

"Soal itu, aku nggak tau."

Ahua tersenyum, ia kembali mencoba untuk menyentuh Megan. Ia bisa melakukannya sekali saja dan selanjutnya ia gagal atau bisa dibilang tidak begitu sempurna.

"Apa aku bisa kembali menjadi manusia?" tanya Ahua konyol, membuat Megan tertawa terbahak-bahak.

"Aku serius. Aku ingin kembali menjadi manusia. Supaya aku bisa merasakan jatuh cinta ... aku ingin--" Kalimat Ahua terpotong karena tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar.

Megan membukakan pintu kamarnya dan Mama sudah berdiri di depan pintu. "Ada apa, Ma?"

"Ada teman yang cari kamu."

"Siapa?"

"Mama kurang tau. Katanya teman sekolah, namanya Satria."

"Satria?" Megan sedikit bingung karena ia sama sekali tidak punya teman sekelas yang bernama Satria. Ia bergegas keluar dari kamarnya dan melangkah ke teras rumah. Ada seorang cowok yang mengenakan sweeter putih sedang berdiri sembari memandang luasnya langit dari depan rumahnya. Ia memerhatika punggung cowok itu, tetap saja tidak bisa menebak siapa cowok yang sekarang ada di depannya. Sementara Ahua, masih setia mengikuti di belakang Megan.

"Siapa ya?" tanya Megan. Cowok itu membalikkan tubuhnya den tersenyum ke arah Megan.

"Kenalin, nama aku Satria. Aku salah satu kakak kelasmu." Satria menghampiri Megan dan mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Megan sembari menyebutkan namanya.

"Tau rumahku dari mana? Ayo, duduk!" Megan mempersilakan Satria untuk duduk di kursi terasnya.

"Dia teman sekelasku," bisik Ahua di telinga Megan.

Megan mengedipkan matanya sebagai tanda pengganti anggukan. Ia tak ingin kalau Satria melihatnya sebagai cewek yang aneh.

Mereka diam selama beberapa menit.

"Meg, apa benar arwah Ahua gentayangan?" tanya Satria membuka pembicaraan.

"Kamu tahu dari mana soal itu?"

"Keluarga Ahua, kemarin datang ke rumah dan mereka sekarang mulai percaya sama apa yang sudah kamu lakuin selama ini."

"Iya. Dia ada di sini, sekarang."

"Oh ya? Apa yang bisa aku lakuin buat bantu Ahua?" Satria menawarkan diri.

Megan melirik ke arah Ahua yang berdiri di sampingnya. Megan kemudian mengajak Satria berdiskusi dan menyusun rencana untuk membantu Ahua. Ahua tak sekedar teman sekelas Satria, tapi mereka justru bersahabat sejak mereka masih SMP. Itulah yang membuat Satria ingin membebaskan arwah Ahua agar tidak gentayangan.

Megan dan Satria sering bertemu untuk melancarkan rencana yang sudah mereka susun. Di hampir setiap pertemuan mereka, Ahua terlihat sangat kesal. Entah kenapa dia merasa cemburu saat Satria diam-diam mulai memberi perhatian pada Megan. Seharusnya dia senang karena Satria bisa membantu. Tapi, dia merasa tersisihkan saat Megan lebih banyak berdiskusi dan bercanda dengan Satria.

Berkat bantuan Satria, Megan berhasil meyakinkan keluarga Ahua. Dan Ibunya juga sudah bisa mengikhlaskan kepergian Ahua agar arwahnya bisa tenang dan berada di tempat yang baik.

"Megan ... terima kasih karena sudah membantuku. Sudah saatnya aku pergi." Ahua muncul tepat di saat Megan memandangi bintang-bintang dari jendela kamarnya.

Megan menatap Ahua, ia tak bisa menahan kesedihan kala harus kehilangan cowok logaritma yang selama beberapa bulan ini mengisi hari-harinya. Ia tak sekedar membuat Megan bisa mengerjakan soal Matematika, tapi juga membuat Megan mulai menyukai angka-angka itu bermain di kepalanya.
"Please, jangan nangis! Jangan menahanku lagi untuk kembali!" pinta Ahua, ia menyentuh pipi Megan yang basah. Ia tidak tahu bagaimana ia tiba-tiba menyentuh Megan layaknya seperti manusia. Adakah perasaan yang membuatnya bertambah kuat dari biasanya? Ia beranikan diri untuk memeluk Megan terakhir kalinya dan berhasil.

Kali ini Ahua merasakan dirinya bukan Arwah. Ia bisa memeluk Megan dengan baik, menyentuh rambutnya, menyentuh pipinya dan dia bisa merasakan kebahagiaan yang berbeda.

"Andai aku masih hidup, mungkin kamu adalah wanita pertama aku cintai," bisik Ahua di telinga Megan.

"Sekalipun kamu sudah mati, aku tidak bisa memungkiri kalau aku memang ... jatuh cinta sama hantu."

"Kamu tahu kan, aku tidak akan bisa kembali ke sana jika masih ada seseorang yang menahanku?" Ahua mengusap pipi Megan yang masih basah.

Megan menganggukkan kepalanya.

"Aku punya keinginan sebelum aku benar-benar pergi." Ahua menatap wajah Megan, dan ia menyadari kalau gadis yang ada di depannya memang cantik.

"Aku akan bantu mewujudkan itu selama aku masih mampu." Megan tersenyum dan mengusap air matanya yang masih tersisa.

"Tolong kamu ikhlaskan kepergianku. Suatu hari, kamu pasti akan menemukan seseorang yang akan menempati ruang istimewa di hatimu." Ahua menyentuh pipi Megan dengan kedua telapak tangannya.

"Izinkan aku untuk tahu bagaimana rasanya ...." Dengan lembut Ahua menarik wajah Megan mendekat dengan wajahnya. Ia menyentuhkan bibirnya pada bibir Megan.

Megan terkejut dengan apa yang dilakukan Ahua, namun ia bahagia karena ia juga bisa merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Ahua kali ini benar-benar hangat, ia seperti manusia sungguhan. Megan memejamkan matanya dan membiarkan bibir manisnya dikecup oleh Ahua. Rasa hangat itu perlahan menjadi dingin, kemudian menghilang.

Megan membuka matanya dan ia tak lagi bisa melihat sosok Ahua di depannya. "Ahua ...!" panggilnya lirih. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan ia menyadari kalau Ahua memang sudah pergi untuk selamanya. Ia tahu ini konyol, ia jatuh cinta pertama kali pada arwah gentayangan yang banyak ditakuti orang-orang normal.

Ia tak perlu menceritakan pada siapa pun tentang kisahnya dengan Ahua. Karena ia tahu, tak akan ada orang yang percaya dengan cerita anehnya, cinta di antara dua dunia yang berbeda.

***

Beberapa bulan kemudian ...

"Meg, katanya di sekolah kita bakal ada anak baru, lho." Ayura melangkahkan kaki masuk ke kelas bersama dengan Megan.

"Oh ya? Kamu tahu dari mana?"

"Kata anak-anak, sih. Soalnya, dia ganteng banget! Aku juga sudah lihat waktu kemarin dia daftar sekolah, semua cewek-cewek di sekolah pada ngomongin dia." Ayura duduk di atas kursi, menyisir rambutnya dengan jemari dan mengeluarkan kaca kecil dari tasnya untuk memastikan kalau penampilannya baik-baik saja. Ia tak ingin ketinggalan dengan cewek-cewek lain untuk merebut perhatian si cowok baru itu.

Megan tersenyum kecut melihat tingkah Ayura.

Tak lama kemudian, jam pelajaran dimulai. Guru Matematika masuk ke dalam kelas bersama cowok dengan seragam dari sekolah yang berbeda.

"Anak-anak, hari ini Bapak bawa cowok ganteng buat kalian." Ucapan Pak Yanto mendapat sambutan riuh dari murid sekelas, kecuali Megan yang justru melongo melihat cowok yang ada di depannya. Ia mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan kalau dia tidak salah lihat.

"Ayo, perkenalkan diri kamu!" pinta Pak Yanto pada murid baru itu.

Murid baru itu menganggukkan kepalanya. "Perkenalkan, nama saya Alex. Saya pindahan dari salah satu sekolah di Jakarta Barat. Saya pindah ke Borneo karena orang tua saya dipindah tugaskan ke sini. Terima kasih."

"Ada pertanyaan lagi?" tanya Pak Yanto. "Sebelum kita mulai pelajaran."

"Sudah punya pacar atau belum?" celetuk Ayura yang duduk di sebelah Megan. Megan menyikut Ayura dengan pertanyaan konyol yang disambut teriakan riuh teman-teman sekelasnya.

"Sekarang belum," jawabnya sambil tersenyum ke arah Megan, bukannya ke Ayura. Hal itu membuat Megan salah tingkah dan menunduk menatap kakinya sendiri.

Perkenalan dengan murid baru hari itu diiringi dengan riuh tawa murid-murid sekelas. Kecuali Megan yang masih merasa aneh dengan kehadiran Alex. Ia masih tidak percaya kalau cowok itu benar-benar ada di hadapannya. Sayangnya, Satria sudah lulus sekolah sebulan yang lalu. Andai saja belum, dia juga pasti akan bilang kalau Alex sangat mirip dengan Ahua, sahabatnya.

Saat jam istirahat tiba, cewek-cewek berebut untuk berkenalan dengan Alex. Alex tidak hanya tampan, dia juga jago Matematika, sama persis seperti Ahua. Ini membuat hati Megan tak karuan. Ia berusaha menyibukkan diri mengerjakan soal Matematika daripada sibuk memikirkan hal aneh yang terjadi dalam hidupnya.

"Suka Matematika, ya?" Tiba-tiba Alex sudah di bangku sebelah Megan, membuat Megan terlonjak dan menjatuhkan penanya ke lantai.

Megan menundukkan tubuhnya untuk mengambil pena itu, bersamaan dengan Alex yang juga ingin mengambilkan pena milik Megan.

"Au ...!" Megan mengaduh karena kepalanya berbenturan dengan kepala Alex.

"Kamu nggak papa? Biar aku aja yang ambil." Alex mengusap  kepala Megan dengan cepat dan mengambil pena yang terjatuh di lantai.

Megan langsung menyambar pena yang ada di tangan Alex dan melanjutkan mengerjakan soal Matematika. Ia tak peduli dengan Alex yang masih memerhatikan wajahnya. Matanya fokus menatap buku, walau tidak ada tugas ia tetap terus menghitung agar Alex segera pergi dari sisinya.

Bukannya pergi, Alex malah asyik memerhatikan wajah Megan sambil tersenyum. Ia seperti menemukan gadis lucu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Gadis yang mengalihkan rasa saltingnya dengan mengerjakan soal Matematika yang ada di dalam buku pelajaran.

"Mau dikerjain semua?" Alex masih memandang wajah Megan dengan santai, tangan kirinya ia letakkan di atas meja dan menopang kepalanya.

"Eh!? Enggak."

"Mau dibantuin? Biar cepat selesai. Sebentar lagi pelajaran Bahasa, kan?"

Megan menggelengkan kepalanya.

"Kamu dapet gelang itu dari mana?" tanya Alex sembari menunjuk gelang dengan simbol-simbol logaritma yang tersemat di pergelangan tangan Megan.

"Dikasih."

"Ahau?" Nama yang disebut Alex membuat Megan akhirnya menatap wajah Alex, menunjukkan ekspresi terkejut. Bagaimana dia tahu kalau gelang ini pemberian si Hantu Ahau itu?

"Gimana kamu bisa tau?" tanya Megan penasaran.

"Gelang itu gelang langka. Ahau mendesain sendiri gelang itu. Makanya, ada simbol-simbol Matematika di gelang itu. Dia buat gelang ini waktu usianya masih 12 tahun dan aku tahu kalau gelang ini benda paling berharga yang dia punya. Dia nggak mungkin kasih gelang ini ke sembarang orang."

Megan melongo mendengar pernyataan Alex. Dia sama sekali tidak tahu cerita dibalik gelang itu. Dia hanya mengambilnya di sebuah kotak kecil yang ditunjukkan Ahau di dalam kamarnya ketika ia masih menjalankan misi membantau Ahau.

"Aku punya satu." Alex tersenyum memamerkan gelang yang sama persis dengan gelang yang dikenakan Megan. "Dia ngasih aku lima tahun yang lalu. Katanya, aku harus menjaga baik-baik gelang ini karena dia membuatnya sendiri. Kami sama-sama suka bermain angka, tapi dia memang jauh lebih pandai dibanding aku."

"Kamu perhatikan!" Alex menunjuk simbol-simbol warna emas yang timbul di antara simbol-simbol yang lain. "a log x sama dengan satu. Setelah tanda titik ada simbol meg diakar pakai simbol love dan setelahnya ada huruf C besar pakai simbol derajat di belakangnya." Alex melihat dengan seksama gelang miliknya, sama juga yang dilakukan oleh Megan.

"Punyaku, C besarnya pakai simbol persen." Megan memerhatikan gelang miliknya lebih dekat lagi untuk memastikan kalau dia tidak salah lihat. Mereka menyocokkan kedua gelang itu dan memang hanya simbol di belakang huruf C itu saja yang berbeda.

"Kamu tahu apa maknanya?" tanya Alex.

"Aku selalu mencoba mencari tahu, tapi tidak berhasil. Aku coba mengartikan a log x sama dengan satu adalah Ahau dan Alex sama dengan satu, kami bersaudara."

"Kalian beneran bersaudara?" tanya Megan kaget.

Alex menganggukkan kepalanya. "Oh, ya. Nama kamu siapa?"

"Megan."

"Meg ... gan!?" Alex terbata menyebut nama Megan. Nama itu cocok dengan simbol yang tertulis di gelang itu. "Apa Ahau sudah tahu kalau kamu yang akan jadi pemilik gelang itu?"

Megan mengedikkan bahunya.

"Bisa jadi, simbol meg yang diakar dengan simbol love ini adalah namamu. Bisa jadi, juga bukan."
Megan mengerutkan keningnya. "Aku rasa tidak, aku baru mengenalnya. Jauh dari gelang ini dibuat."
"Sejak kapan kalian kenal?"

"Sebulan setelah kematian Ahau."

"Bagaimana bisa?" Alex terkejut mendengar pernyataan Megan. Megan ingin menceritakan apa yang terjadi, tapi guru Bahasa Indonesia keburu masuk ke dalam kelasnya dan membuat Alex harus beranjak pergi dari sisi Megan.

Sepulang sekolah, Alex menyegat Megan dan mengajaknya ke suatu tempat untuk menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya. Mereka duduk di atas rerumputan yang tumbuh rapi di area Gunung Dub. Tepat di depan mereka, bisa melihat indahnya pemandangan laut dan kota Balikpapan.

Megan menceritakan semuanya secara detil satu per satu. Termasuk tentang bagaimana Ahau dan Megan saling jatuh cinta walau mereka ada di dunia berbeda.

"Konyol!" gumam Alex sambil merebahkan tubuhnya di atas rerumputan.

Megan tersenyum menatap Alex yang sedang memandang langit di atas mereka. Ia merasa Ahau ada di dalam diri Alex. Bukan hanya wajahnya yang mirip, tapi sifat dan perilakunya juga tak jauh berbeda. Ahau suka mengajaknya bercerita sampai membuatnya pusing karena tak mau diam. Sementara Alex lebih banyak diam, dia justru senang mendengarkan cerita dan sering menanggapi dengan celetukan konyol yang membuatnya tertawa dengan gayanya yang tetap cool.

"Jangan liatin gue kayak gitu! Ntar lo jatuh cinta sama gue." Alex melirik Megan dan berbicara dengan bahasa khas anak Jakarta.

Megan mengerucutkan bibirnya dan membuang pandangannya ke arah laut yang membentang luas di hadapannya.

"Si Ahau yang kutu buku dan nggak pernah tertarik sama cewek aja bisa jatuh cinta sama lo. Gimana sama gue yang biasa-biasa aja? Kalau seandainya nanti gue jatuh cinta sama lo, gue pasti bakal ditolak abis-abisan. Secara lo kan demennya sama demit." Alex tergelak sembari melirik punggung Megan yang masih duduk di sisinya.

Megan menoleh ke arah Alex dan menyubit lengannya. Membuat Alex mengaduh. Bukannya berhenti, Alex justru terus-terusan meledek Megan dan membuat mereka kejar-kejaran seperti anak kecil.

Sejak hari itu, mereka selalu bersama walau di luar sekolah. Alex selalu membuat Megan tertawa setiap hari, bukan hanya membuat para cowok dan cewek di sekolah yang cemburu melihat kebersamaan dua sejoli itu. Tapi juga membuat makhluk-makhluk astral juga ikut cemburu.

"Jangan coba-coba berselingkuh dengan hantu hanya karena aku tidak bisa melihat perselingkuhanmu itu!" dengus Alex tepat di depan wajah Megan. Membuat Megan tak mampu menahan tawa melihat ekspresi Alex yang marahnya sengaja dibuat-buat.

Alex memeluk gadis aneh yang berhasil membuatnya jatuh cinta.
Megan tersenyum bahagia, setidaknya kali ini ia bisa merasakan jatuh cinta pada manusia sungguhan.




Rin Muna
Kutai Kartanegara, 17 Maret 2019

Friday, March 15, 2019

[Cerpen] Ratu untuk Raihan

Ratu untuk Raihan
Sumber Ilustrasi : Khiemmoshe

Clue : Jatuh Cinta Pada Pujangga dari Bunda Ester

Ini hari pertama bagi Ratu masuk ke sekolah elite yang ada di wilayah Jakarta Selatan. Ayahnya kini menjabat sebagai Direksi di salah satu perusahaan besar di Indonesia yang berkantor pusat di Jakarta. Kenaikan jabatan ayahnya memberikan kebahagian bagi keluarganya karena secara ekonomi pendapatan mereka juga meningkat.
Tapi tidak begitu membahagiakan bagi Ratu. Sejak kecil, ayahnya selalu berpindah-pindah tempat kerja. Ayah Ratu seorang pekerja keras yang membuat kariernya terus maju. Waktu Ratu masih kecil, ayahnya hanya menjabat sebagai Chief Clerk. Karena kerja keras dan loyalitasnya pada perusahaan, karier ayah Ratu lumayan bagus sampai dia bisa menduduki kursi Direksi.
Ratu sudah pindah sekolah puluhan kali. Terkadang, ayahnya ditugaskan hanya tiga bulan dan membuatnya harus berpindah-pindah sekolah. Ini salah satu faktor yang membuat Ratu tidak memiliki teman dekat.

Ratu menyusuri koridor penuh percaya diri. Seperti biasanya, ia tidak pernah malu sedikit pun berada di tempat yang memang asing baginya. Dia selalu berusaha mengakrabkan diri dan seramah mungkin memberikan senyumnya pada siapa saja yang ia lewati. Termasuk pada Raihan, cowok ganteng yang tidak terlalu populer di sekolah.

"Hai ...!" Ratu menyapa Raihan yang duduk di kursi kantin sendirian saat jam istirahat. Kebetulan, mereka juga sudah bertemu sebelumnya di dalam kelas.
"Hai, juga." Raihan tersenyum menatap Ratu yang sudah muncul di depannya.
"Boleh duduk di sini?"  tanya Ratu meminta izin sebelum duduk di kursi kosong yang berada tepat di depan Raihan.
"Boleh. Silakan!" Raihan mengulurkan tangannya mempersilakan Ratu untuk duduk.
Raihan tidak mampu berkata apa pun. Ia hanya sesekali mencuri pandang sembari menikmati makanan dan minuman yang ada di depannya. Ia memerhatikan Ratu yang sibuk mengamati pemandangan di sekitar kantin. Mulai dari melihat kerumunan anak-anak berpakaian olahraga sampai setiap murid yang keluar masuk kantin. Ia ingin sekali membuka pembicaraan, tapi matanya justru sibuk menikmati wajah Ratu yang cantik hingga mulutnya lupa mengajak bicara.
"Kamu tinggal di mana?" Ratu tiba-tiba menatap Raihan dan membuatnya gelagapan karena tertangkap basah sedang memerhatikan Ratu.
"Eh, tinggal di dekat sini aja, kok."
"Deket? Jadi, jalan kaki aja ke sekolah?"
Raihan menggeleng. "Naik mobil."
"Oh, berarti nggak deket dong?"
"Deket, cuma lima belas menit aja, kok."
Ratu menghela napas kecewa.
"Kenapa?" Raihan menyadari wajah Ratu yang tiba-tiba murung.
"Aku bingung mau balik ke rumah nanti gimana. Mau cari tebengan gitu sih sebenernya. Hpku ketinggalan, jadi aku nggak bisa pesen taksi online."
"Ya, udah. Ikut gue aja!"
"Rumah aku jauh, setengah jaman dari sini."
"Emang lo tinggalnya di mana?"
"Di daerah Casablanca."
"Oh, deket aja. Ntar gue antarin."
"Seriusan!?" Ratu menggenggam tangan Raihan, membuat Raihan salah tingkah dengan sikap Ratu yang terlihat sangat bahagia. Membuat beberapa pasang mata menuju ke arah mereka.
"Iya." Raihan tersenyum menatap Ratu.

***
Jam pelajaran kedua ...

Semua murid memerhatikan pelajaran seperti biasa. Tetapi tidak dengan Raihan, karena dia sibuk memerhatikan Ratu yang duduk di depannya. Ia seperti merasa punya dunia sendiri. Tak peduli dengan Bu Ratna yang sedang menjelaskan pelajaran biologi atau murid-murid lain yang sudah serius mendengarkan penjelasan. Raihan malah asyik menulis sebuah tulisan yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran.

Ratu ...
Sama seperti namamu
Kamu hadir penuh pesona
Bukan cuma aku yang terhipnotis cantik dan anggunnya wajahmu
Kurasa jutaan manusia akan bersedia menjadi rakyatmu
Bolehkah aku menjadi salah satunya?
Agar aku bisa menikmati keindahan yang Tuhan titipkan...

Tulisan di atas secarik kertas itu kemudian berpindah ke tangan Ratu. Ratu tersenyum membacanya dan menoleh ke arah Raihan yang juga tersenyum.
Ini hari pertama masuk sekolah, Ratu sudah mendapat kejutan puisi cinta dari cowok ganteng yang ada di kelasnya.
"Kayaknya Raihan naksir sama lo," bisik Ifah, teman sebangku Ratu.
"Oh ya? Bukannya cowok biasa ya goda-godain kayak gini? Paling dia cuma bercanda," balas Ratu berbisik agar tidak menarik perhatian Bu Ratna.
"Dia itu pujangga. Suka nulis puisi yang diposting di websitenya dia. Tapi, belum pernah ada satu pun cewek yang dikirim puisi secara langsung. Cuma lo aja yang dapet puisi dari pujangga keren kayak Raihan. Pasti semua cewek di sekolah bakalan ngiri kalo tau soal ini," bisik Ifah sambil melirik Bu Ratna yang masih sibuk menghadap ke papan tulis. Dia sedikit was-was kalau-kalau spidol yang dipegang Bu Ratna akan melayang ke wajahnya.
Wajah Ratu menghangat mendengar ucapan Ifah. Entah kenapa, bibirnya langsung auto-senyum saat mendengar bisikan Ifah. Apa iya dia juga jatuh cinta? Jatuh cinta pada pujangga sekolah. Ratu sendiri belum yakin karena dia tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Dia hanya selalu tersenyum setiap mengingat untaian kata yang dikirim Raihan.

***

Sejak hari itu, Ratu dan Raihan menjadi semakin dekat. Diam-diam, Ratu sering membuka website yang berisi puisi-puisi Raihan. Indah sekali... Ia yang tak suka membaca, tiba-tiba saja jatuh cinta dan selalu membaca semua puisi-puisi Raihan.

Jika air mata adalah kesedihanmu
Sudah pasti aku jadi yang pertama menggantinya dengan berlian
Jika tawa adalah bahagiamu
Sudah pasti aku jadi yang pertama membuatmu selalu tersenyum
Jika dunia ini ada di marketplace
Sudah pasti aku beli dan berikan untukmu
Jika hati ini harus termiliki
Sudah pasti hanya kamu yang boleh jadi pemiliknya
Maukah kamu menjadi RATU hatiku?

Ratu tersenyum geli membaca tulisan itu. Kenapa ada marketplace segala sih?
Ia langsung menangkap layar di ponselnya. Ia mengirimkan hasil screenshoot itu ke nomor Whatsapp Raihan.
"Ini untuk siapa?" tanya Ratu melalui pesan Whatsapp.
Ia menunggu beberapa saat sampai Raihan membaca pesannya. Sudah hampir sejam, Raihan tak kunjung membaca pesannya.
Ratu mulai uring-uringan. Mondar-mandir di kamarnya kayak setrikaan. Padahal, lantai kamarnya jelas sudah mulus.
Ratu kembali mengecek Whatsapp. Akhirnya, simbol centang dua itu sudah berwarna biru. Artinya si Raihan sudah membaca pesannya. Bukannya senang, ia malah makin kesal karena Raihan tak juga membalas pesan yang ia kirimkan.
"Duh, bodoh ... bodoh ... bodoh! Kenapa aku kepedean banget, sih!? Bisa aja puisi itu emang bukan buat aku," umpat Ratu pada dirinya sendiri.
Satu jam menunggu ... belum juga mendapat balasan.
Dua jam.
Tiga jam.
Ratu menghentakkan kakinya ke lantai. Semakin kesal dengan dirinya sendiri. Semua perhatian dan puisi-puisi dari Raihan telah membuat hatinya tak karuan. Mungkin benar kalau saat ini dia memang sedang jatuh cinta. Tapi bagaimana bisa Raihan justru cuek saat dia mulai membalas perhatian-perhatian dari Raihan.
"Aku pikir ... dia beneran suka sama aku." Ratu sangat muram. Ia menyandarkan kepalanya di pintu kamar yang mengarah ke balkon.
Samar-samar ia mendengar suara gitar dan orang yang sedang bernyanyi di taman belakang rumah. Tepat di belakang kamarnya. Ratu penasaran dan melangkahkan kakinya ke balkon untuk melihat siapa yang sedang bernyanyi di taman. "Apa iya, Mang Ujang bisa main gitar?" batinnya sembari membayangkan tukang kebunnya sedang bermain gitar.
Ratu terkejut ketika melihat cowok berjaket kulit itu melambaikan tangan ke arahnya. "Raihan!?" Ia tak menyangka kalau Raihan yang sedang bernyanyi di tamannya malam-malam begini. Sejak kapan ia datang? Apa sudah sejak sore tadi saat Ratu mengirimkan pesan chat itu?
Ratu bergegas turun dari kamarnya. Menemui Raihan yang sedang asyik bermain gitar di kursi taman belakang rumah Ratu.
"Sudah lama di sini?" Ratu tersenyum sembari menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi taman.
"Sejak gue baca pesan dari lo. Gue langsung ke sini."
"Tiga jam!?" Mulut Ratu menganga mendengar pernyataan Raihan.
"Ngitung?"
"Iya. Abisnya lama banget nggak dibalas-balas."
"Hapeku ketinggalan."
"Kamu nggak tau kalau dari tadi aku uring-uringan nunggu balasan dari kamu!" dengus Ratu sambil memukul pundak Raihan.
"Lo nggak tau kalo udah tiga jam gue nyanyi di sini dan lo sama sekali nggak dengerin?"
"Lagian, kenapa nggak ngomong sama Bibi atau Mang Ujang kalo kamu ke sini? Aku kan nggak tau. Aku kira Mang Ujang yang lagi main gitar."
"Emangnya Mang Ujang bisa main gitar?" tanya Raihan menatap Ratu.
Ratu mengangkat kedua pundaknya dan membuang pandangannya.
"Kamu suka buka-buka web aku, ya?" tanya Raihan.
Ratu tidak menghiraukan pertanyaan Raihan.
"Katanya ... nggak mau buka web aku? Katanya ... puisi-puisi aku jelek?" goda Raihan.
"Iih ... apaan sih!?" Ratu tak bisa menyembunyikan wajahnya kalau sedang tersipu malu. Ia tak berani menatap wajah Raihan yang ada di sisinya. Ia hanya menunduk memandangi rerumputan di kakinya.
"Kamu bisa balas puisi itu?" Tiba-tiba Raihan sudah berlutut di hadapan Ratu.
"Eh!? Aku nggak bisa bikin puisi."
"Aku nggak minta kamu bikin puisi."
"Oh ya? Terus gimana?"
Raihan tersenyum, menghela napasnya perlahan dan berkata, "Ratu ... kita sudah melalui ratusan jam bersama, kita sudah menjalani puluhan hari bersama. Kalau selama ini kamu selalu hidup berpindah-pindah. Maukah mulai sekarang menetap di hatiku? Aku telah persiapkan singgasana terindah hanya untuk kamu. Maukah kamu menjadi Ratu di singgasana hatiku?" Raihan meraih jemari Ratu sembari menatap penuh harap.
Wajah Ratu menghangat. Ada senyum bahagia tersungging dari bibir manisnya. Ia menganggukkan kepala tanpa mengucap satu kata pun. Sebab ia tahu, ia tak bisa merangkai kata-kata indah seperti pujangga yang kini membuatnya jatuh berkali-kali ke dalam cintanya.
Raihan mengecup punggung tangan Ratu dan memeluknya. Seorang pujangga bisa jatuh cinta pada hal-hal sederhana. Seperti jatuh cinta pada embun yang jatuh di ujung dedaunan. Hari ini ia merasakan jatuh cinta yang berbeda. Jatuh cinta pada hal yang bukan hanya menyambut cintanya, tapi juga membalasnya dengan pelukan hangat yang penuh cinta.

Jatuh cinta memang indah, tapi dicintai oleh seseorang yang membuat kita jatuh cinta jauh lebih indah.



Ditulis oleh Rin Muna
Kutai Kartanegara, 15 Maret 2019

Tuesday, March 12, 2019

Cerpen | Menanti Hadirmu

StockSnap

Tiba-tiba saja aku merasa hari ini waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Ada hal yang ingin aku lewatkan dengan cepat. Aku ingin hari ini cepat berakhir, supaya aku bisa lihat hari esokku seperti apa. Masih sama kah dengan hari ini?

Waktu terasa berjalan lambat, mungkin karena aku sedang menunggu sesuatu. Bukan sesuatu, lebih tepatnya seseorang. Aku sedang menunggu seseorang hadir dalam hari-hariku. Orang yang pernah istimewa mengisi hari-hariku. Katanya, besok dia akan tiba di Bandara. Aku sudah tidak sabar menunggu esok akan datang. Dan karena rasa tidak sabarku lah yang membuat waktu seolah-olah berjalan lambat. Bahkan aku memaki jarum jam yang tak segera beranjak dari tempatnya.

"Lun, kamu nunggu siapa?" Mama membuyarkan lamunanku saat aku melamun di antara bingkai jendela rumahku.
"Nunggu Ariel, Ma."
"Dia mau datang?"
Aku menganggukkan kepala.
"Hari ini?"
Aku menggeleng.
"Terus kapan?"
"Besok."
"Oh. Kalau begitu, bantu Mama bikin kue, yuk!" ajak Mama.
Aku membalikkan tubuhku dan melihat Mama tersenyum ke arahku. Ia tak bergerak sedikit pun sampai aku benar-benar melangkahkan kakiku ke arahnya.

Mama senang sekali membuat kue. Hampir setiap hari ia membuat kue untuk adik-adikku. Terlebih lagi dia tahu kalau Ariel akan datang setelah 5 tahun ia menetap di Birmingham untuk melanjutkan studinya.
Kali ini aku lebih bersemangat membantu Mama membuat kue. Setidaknya, ada yang aku suguhkan ketika Ariel berkunjung ke rumah.
"Kamu tidak jemput dia di Bandara?" tanya Mama.
Aku menggelengkan kepala. "Sudah ada keluarganya yang menjemput."
Mama mengangguk-anggukkan kepala dan kami melanjutkan membuat kue kering hingga matang.

***

Keesokan harinya ...
Aku masih duduk di teras rumah sambil memandangi rintik hujan yang menghiasi pagi. Tanganku tak henti memutar-mutar ponsel. Duduk, berdiri, duduk, berdiri, mondar-mandir, duduk lagi. Aku bingung harus berbuat apa. Harusnya Ariel sudah datang ke rumah jam segini. Tapi, ponselnya belum juga bisa dihubungi.

Satu jam
Dua jam
Tiga jam

Aku masih mondar-mandir penuh kecemasan. Saat matahari mulai tenggelam, kecemasanku semakin tinggi. Membuat pikiranku semakin tak karuan. Harusnya Ariel sudah bisa menghubungiku. Kalau sesuai jadwal, pesawat yang ditumpangi Ariel sudah sampai pagi tadi. Tapi sampai sore hari, Ariel tak juga bisa dihubungi.

Perasaanku semakin kacau. Aku takut terjadi apa-apa dengan Ariel. Secepatnya aku berlari dan menyalakan televisi. Siapa tahu ada berita tentang ...??? Ah! Tidak seharusnya aku berpikir seperti ini. Rasa takut itu belum hilang. Kejadian sepuluh tahun silam yang merenggut nyawa pacarku, terus terbayang di pelupuk mata. Bagaimana kalau yang terjadi pada Azka juga terjadi pada Ariel?

Aku terus menggigiti jariku, tubuhku terasa mengigil tiba-tiba dan aku tidak mampu mengendalikannya.
"Luna ...!" Mama tiba-tiba memeluk erat tubuhku agar aku tenang. Ia mematikan televisi dan memapahku masuk ke dalam kamar. 
Aku berbaring di atas kasur, memandang wajah Mama yang terlihat cemas.
"Kamu nggak papa?" Mama mengusap anak rambutku perlahan.
Aku mengangguk perlahan. Aku memang belum benar-benar sembuh. Setiap kali melihat televisi, bayangan luka masa lalu itu kembali hadir dan membuatku tidak mampu mengendalikan diriku sendiri. Terkadang aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan.
"Ariel nggak datang, Ma."
"Mungkin dia masih sibuk dengan keluarganya. Besok kita ke rumahnya ya!" Mama meyakinkanku kali ini agar aku tetap tenang.

Keesokan harinya, Mama mengantarkan aku berkunjung ke rumah Ariel. Namun, tak ada satu orang pun yang bisa kutemui. Bahkan, menurut penuturan tetangga sekitar, rumah keluarga Ariel sudah dijual sejak 1 tahun yang lalu. Sebuah kenyataan yang aku sendiri tidak mengetahuinya. Yang aku tahu, keluarga Ariel adalah pengusaha. Aku memang tidak terlalu dekat dengan keluarganya. Aku hanya sesekali berkunjung jika memang Ariel mengajakku. Selebihnya, aku sama sekali tidak mengunjungi kedua orang tuanya. Bahkan aku tidak pernah menjali silaturahmi via telepon. Aku merasa belum pantas masuk ke keluarga Ariel. Sebab hubungan kami hanya sebatas pacar.

Riel, aku sudah menunggu kamu bertahun-tahun dan kenapa harus berakhir seperti ini?
Riel, aku sudah tidak tahu harus mencarimu ke mana lagi.
Jika memang semuanya ingin kamu akhiri, kenapa tidak bicara baik-baik?


Aku menyandarkan tubuhku di sofa sepulang dari rumah Ariel yang kini kosong. Sama seperti hatiku yang kini juga kosong.
Aku menatap langit-langit sembari berpikir bagaimana caranya agar aku bisa menghubungi Ariel.
Aku merogoh ponsel yang aku selipkan di tasku. Mengusap setiap aplikasi yang ada di dalamnya. Aku membuka beberapa sosial media yang kemungkinan bisa menyambung komunikasiku dengan Ariel. Namun, tiba-tiba semuanya menghilang. Aku tidak bisa menemukan akun Ariel satu pun.
Aku di blokir tanpa alasan yang aku tidak mengerti.
Seminggu yang lalu, dia masih menelepon dan mengirim chat seperti biasa. Kami bercerita dengan mesra tanpa ada masalah. Kenapa tiba-tiba dia menghilang begitu saja?
Aku menghela napas kembali, mencoba menenangkan hati yang semakin tidak karuan.
Aku belum siap kehilangan lagi. Aku belum siap ... belum siap!

Seminggu berlalu ...
Aku belum juga mendapatkan kabar tentang Ariel. Bahkan sahabat-sahabat terdekatnya juga tidak ada yang bisa memberikan keterangan di mana Ariel berada.

Sebulan berlalu ...
Aku masih juga belum mendapat kabar tentang Ariel.
Aku mulai menyerah. Air mataku tak henti mengalir. Apa aku benar-benar akan kehilangan Ariel?
Seharusnya tidak berakhir seperti ini. Aku tidak ingin hubunganku kembali berakhir seperti hubunganku dengan Azka dahulu. Azka pergi tanpa pesan. Kecelakaan pesawat sepuluh tahun lalu telah merenggut nyawanya. Aku terluka ... sangat terpukul.
Dan kini aku harus menghadapi kenyataan kalau Ariel juga meninggalkan aku tanpa kata-kata. Tanpa aku tahu sebabnya. Dia pergi entah ke mana. Ke tempat yang tidak aku tahu sama sekali.

Aku akan tetap sabar menanti ... sampai kamu datang dan berkata, "Berhentilah menunggu!"


Ditulis oleh Rin Muna
12 Maret 2019

Monday, March 11, 2019

Indonesia Tanpa Pacaran Itu Keren!

Source: Facebook Indonesia Tanpa Pacaran

Hai temen-temen ...!
Selamat malam..!
Semoga hari kalian selalu menyenangkan ya!

Oh ya, hari ini aku dapet tantangan clue dari seorang blogger dan anak muda berbakat yang nggak bisa diragukan lagi deh prestasi dan karya-karyanya. Siapa ya? Hmm.. ini nih dia si Gigip Andreas, salah satu teman penulis yang namanya tersemat di template blog aku. Tema syantik yang ada di blog aku ini adalah buatannya dia. Selain cerdas dan bijak, dia juga baik hati. Buktinya dia bikinin aku template blog yang bagus banget.
Sebenarnya masih pengen dibikinin template buat taman baca aku. Tapi entar dibilang ngelunjak. Hahaha... It's ok. Enough! Lebih dari cukup dan aku berterima kasih banget karena blog aku sudah dibikin cantik kayak begini. Sayang banget kan kalau masih aku anggurin. Jadi, aku harus semangat nulis di blog ini biar si Gigip juga semangat menebar kebaikan ke mana-mana. Hehehe ...

Hari ini aku dapet clue : Indonesia Tanpa Pacaran.

Pas clue ini muncul, entah kenapa aku malah senyum-senyum dan cekikian sendiri. Karena apa? Aku sendiri pun nggak paham. Cuma ngebayangin gimana jadinya remaja-remaja Indonesia hidup tanpa pacaran. Pastinya pada nggak mau. Kalau sampai bisa Indonesia Tanpa Pacaran. Sudah pasti generasi-generasi muda Indonesia adalah generasi yang memiliki kualitas hidup yang tinggi. Secara, pacaran itu salah satu faktor yang bikin nilai ulangan jadi jeblok. Iya nggak sih? Ada yang pernah mengalaminya? Atau sekedar lihat teman-teman yang lagi jatuh cinta dan kadang ngelakuin hal-hal nggak masuk akal demi pacar.

Misalnya gini ... waktu kamu lagi fokus mau belajar Matematika buat ulangan minggu depan. Eh!? Tiba-tiba pacar kamu ngajak kamu jalan-jalan, makan, nonton dan ngabisin waktu buat ngerangkai kata-kata romantis supaya bisa dibilang anak kekinian. Eladalah ... padahal kamu harusnya lagi ngerangkai rumus Matematika buat masa depan kamu 10 tahun ke depan.

Kadang memang sulit dipahami, kenapa jatuh cinta itu kadang bikin kita buta. Kayaknya mata di kepala udah bener-bener pindah ke kaki sampai nggak bisa bedain mana kesenangan sesaat dan mana kesenangan untuk masa depan. Yang lebih parahnya lagi, banyak yang MBA alias Maried Baby Accident di masa-masa yang seharusnya kita lagi produktif-produktifnya berkarya.

Bisa jadi, yang ngasih clue ini juga salah satu tipe anak muda yang nggak demen pacaran. Bisa dilihat kok kalo dia produktif banget berkarya dan semuanya berkualitas. Pasti pikirannya nggak pernah terganggu sama yang namanya pacar atau cinta. Iya, nggak sih, Gip?

Pastinya sangat jauh berbeda dengan anak-anak muda yang udah demen pacaran. Kadang aku juga nggak paham. Ngabisin waktu banyak bahkan ngabisin duit banyak buat traktir si doi atau buat beliin hadiah-hadiah biar si doi makin cinta sama kamu. Tapi, hubungan pacaran itu nggak lama. Malah si doi ujung-ujungnya nikah sama yang lain. Kerasa banget kan kalo kita lagi jagain dan bahagiain jodohnya orang?

Saat anak-anak muda memilih untuk tidak berpacaran, maka ia sudah menjaga banyak hal dalam hidupnya.
Pertama, mereka jauh dari pergaulan bebas karena selalu menjaga dirinya untuk berada di tempat-tempat yang positif.
Kedua, mereka selalu berprestasi di sekolah maupun di masyarakat umum.
Ketiga, mereka selalu produktif berkarya sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing.
Keempat, mereka selalu menginspirasi banyak orang untuk sukses di usia muda.
Kelima, mereka menjadi generasi cerdas yang tidak mudah terprovokasi.
Keenam, mereka selalu mencintai dan menghargai apa yang sudah mereka punya [keluarga, sahabat, impian dan dunia sekitarnya]
Ketujuh, kedelapan dan seterusnya silakan ditambahi sendiri. Hehehe...

Yang jelas, Indonesia Tanpa Pacaran akan menciptakan generasi-generasi muda yang berprestasi dan berdaya saing tinggi secara ekonomi mau pun intelektual. Karena, dengan begitu anak-anak generasi muda akan lebih fokus meningkatkan kualitas dirinya untuk bersaing secara nasional mau pun internasional.
Lebih baik meningkatkan kualitas diri terlebih dahulu supaya dikemudian hari juga mendapatkan jodoh yang berkualitas. So, nggak usah bingung, malu atau takut kalau sampai hari ini kamu masih menyandang status sebagai jomlo. Karena dengan jomlo kamu bisa terus berkarya tanpa batas, bisa terus berjalan bebas tanpa ada yang menarik-narik kamu ngajak jalan ke tempat lain yang bukan tujuan utama hidup kamu. Harusnya bangga menjadi seorang jomlo. Jomlo yang selalu produktif dan terus berkarya.

Indonesia Tanpa Pacaran itu keren!
Indonesia bisa lebih kreatif, innovatif, dan produktif dalam berkarya.

Buat yang masih jomlo, nggak usah pusing cuma karena nggak punya teman buat makan bakso di pinggir jalan waktu malam minggu. Kamu punya keluarga yang jelas menyayangimu lebih dari seorang pacar, kamu hanya butuh bersyukur sama apa yang udah kamu punya.

Terima kasih untuk clue yang amazing ini.
Dan aku nggak nyangka kalau clue ini justru keluar dari seorang anak muda berbakat yang seharusnya lagi demen-demennya pacaran. Ini malah pengen Indonesia Tanpa Pacaran.
Semoga saja clue ini bisa menjadi sebuah gerakan besar anak-anak muda Indonesia dalam meraih prestasi dan meningkatkan kualitas intelektualnya juga kualitas ekonominya. Seperti yang sudah dicetuskan oleh La Ode Munafar pada tahun 2015. Semoga seluruh generasi muda di Indonesia tidak lagi merasa hatinya panas hanya karena menyandang status jomlo.

Terima kasih.
Cukup sampai di sini dulu tulisan dari aku.
Minta tolong dikoreksi kalau memang ada yang salah.
Karena ini sudah malam, aku pamit tidur terlebih dahulu.
Aku sudah lumayan mengantuk sejak aku menulis kalimat awal dari tulisan ini. Tapi, aku harus bisa menyelesaikannya supaya aku bisa tetap produktif berkarya walau aku tak lagi muda.



Salam hangat,


Rin Muna
Samboja, 11 Maret 2019, 21:44 WITA

Saturday, March 9, 2019

Cerpen | Pacar Khayalan | DWPF

miladenleschi


Clue tantangan dari Christine Gloriani 09/03/2019 : Pacar Khayalan


Minggu-minggu pertama aku masuk middle school memang mengasyikan. Aku bertemu dengan teman-teman baru yang tidak aku temui di sekolahku sebelumnya. Aku kini beranjak remaja, mulai ada rasa keinginan untuk kongkow bareng teman-teman sebayaku. Semuanya terasa biasa saja. Bahkan aku mulai sibuk dengan tugas-tugas sekolah.
Di ujian semester pertama, aku hampir gila karena nilai Matematika dan Fisikaku yang buruk. Dengan terpaksa aku harus mengikuti ujian ulang ketika anak-anak yang lain sudah terbebas dan asyik nongkrong saat class meeting. Hmm ... sedangkan aku harus menelan pil pahit karena tidak bisa berkumpul bersama mereka. Terlebih aku harus menjalani dua kali ujian ulang mata pelajaran Fisika.
"Aaargh ...!" Aku mengacak rambutku dan menjatuhkan tubuhku di kursi taman. Aku kesal kenapa aku tak sepandai anak-anak lain soal pelajaran Matematika dan Fisika.
Tepat di belakang bangunan laboratorium biologi, ada sebuah lapangan dengan mini stage di salah satu sisinya. Dari tempat aku duduk, aku bisa melihat mini stage yang tidak tertutup bangunan laboratorium. Aku memerhatikan seorang cowok berambut pendek dengan gitar akustik di tangannya.
Hampir semua mata tertuju pada cowok berkulit putih yang sedang duduk di atas mini stage, termasuk aku yang masih punya mata normal. Cowok itu mulai memetik senar gitar satu persatu dan melantunkan sebuah lagu romantis yang tak asing di telingaku.
Aku berjalan mendekat ke tepi lapangan. Sudah ada belasan ... eh!? sepertinya lebih dari belasan cewek yang berdiri di depan stage sambil melambaikan tangan kanannya mengikuti irama gitar yang dimainkan cowok itu.
Aku menyunggingkan senyuman tanpa aku sadari, bahkan mataku tak lepas memandangnya. Terlebih lagi ketika cowok itu melihat ke arahku yang berdiri seorang diri di sudut bangunan laboratorium. Bangunan ini berdiri di atas tanah yang lebih tinggi 2 meter dari lapangan. Hingga aku bisa melihat jelas seisi lapangan dari sini.
"Sam, kamu lagi perhatiin dia ya?" Senggolah di bahu membuyarkan lamunanku.
"Eh!? Enggak. Apaan sih?" cibirku ke arah Fanny.
"Duet sama dia, gih! Suara kamu kan bagus. Kayaknya cocok sama suaranya dia." Fanny tersenyum sembari memainkan kedua alisnya.
Aku mengangkat kedua pundakku. "Nggak kenal."
"Seriusan nggak kenal? Dia kakak kelas yang sering dibicarain anak-anak, Kak Aldhi," ucap Fanny setengah berbisik.
"Seriusan? Ganteng," pujiku.
"Makanya, duet bareng dia. Yuk!" Fanny menarik lenganku.
Aku menggelengkan kepala sembari menahan lenganku agar tak terseret oleh tangan Fanny.
"Samantha ... kamu lagi pusing sama ulangan Fisika yang nggak lulus-lulus itu kan?"
"Nah, itu tau!"
"Iya. Makanya kamu coba nyanyi aja, siapa tahu kamu bisa lebih hepi dan rileks." Fanny menarik lenganku cukup keras hingga aku harus mengikuti langkahnya menuju mini stage yang ada di sisi lapangan tersebut.
Tanpa malu Fanny naik ke atas stage dan berbisik ke arah kak Aldhi. Entah apa yang dibicarakannya, aku hanya bisa memandangnya dari bawah stage, berbaur dengan cewek-cewek lain yang sedang menikmati penampilan kak Aldhi.
Huft, mereka beruntung sekali karena tidak harus mengikuti ujian ulang. Setiap hari bisa melihat kak Aldhi tampil menghibur jam kosong usai ulangan semester.
"Oke, kali ini ada sebuah lagu spesial yang akan saya bawakan. Karena ... kali ini saya akan berduet dengan seseorang yang memiliki suara istimewa. Namanya Samantha ... silakan naik ke atas panggung!" Suara Kak Aldhi terdengar jelas di depan microfon yang ia gunakan.
Aku bergeming. Dari mana dia tahu suaraku istimewa? Dengar aku nyanyi pun belum pernah. Gimana kalau ternyata suaraku fals banget? Ini pasti kerjaan Fanny yang suka melebih-lebihkan sesuatu.
Perlahan-lahan aku melangkahkan kaki naik ke atas panggung. Kak Aldhi menyambutku dengan senyuman yang manis banget. Dan aku dibuat nervous nggak karuan karena dia mengulurkan tangannya bak pangeran yang sedang mengajak seorang putri untuk berdansa bersamanya.
Pipiku menghangat dan aku tahu pasti pipiku merona merah karena tersipu malu dengan perlakuan Kak Aldhi yang begitu istimewa, membuat para cewek berteriak karena iri. Kak Aldhi bukan cuma ganteng, tapi juga romantis dan jago main musik, suaranya juga bagus. Sepertinya semua tentang dia selalu indah, it's perfect boy!

"Sam!" Panggilan itu menyadarkan lamunanku.
"Ngelamun?" Tiba-tiba saja Fanny sudah duduk di sampingku.
"Eh ... oh ...." Aku gelagapan karena tertangkap basah sedang melamun. Oh tidak! Lebih tepatnya aku sedang menghayal kalau aku sedang berduet dengan Kak Aldhi. Kakak kelas ganteng favoriteku.
"Masih remedial Fisika?" Fanny melirik buku Fisika yang sedang aku pegang.
Aku mengangguk.
"Kamu ngelamunin apa tadi? Sampai aku panggil berkali-kali nggak dengar."
"Remedial Fisika." Aku berbohong agar tidak membuat Fanny terus bertanya. Dia pasti akan menertawakanku kalau tahu aku sedang menghayal tentang Kak Aldhi. Aku sadar kalau aku sama sekali tidak serasi dengan Kak Aldhi. Dia juga sudah punya pacar. Kak Mella, cewek paling cantik di sekolah yang juga sekelas dengan Kak Aldhi. Hmm ... mereka terlihat sempurna. Aku tidak mungkin bisa menjadi pacar Kak Aldhi. Dia hanya bisa jadi pacar khayalanku saja. Sampai kapan pun, dia akan jadi khayalan terindah dalam hidupku.



Ditulis oleh Rin Muna untuk PenA Friends
Samboja, 9 Maret 2019




Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas