Showing posts with label Daily. Show all posts
Showing posts with label Daily. Show all posts

Monday, May 20, 2024

My Chilhood Experience

 


 

“My Childhood Experience”

 

Hi ...! I will introduce my self. My name is Rin.

 Today, I want to tell you about my childhood experience in a isolated village on the island of Borneo.

 Well, I was born in a village far from downtown. Makes me have to feel survive living in the jungle. Every day, I just eat-feed from the plants around the house. Never bought any food because there was no market in the forest. Even cooking oil, we produced from preparing the coconut.

Every day, my parents going to farm in a field. Every day I go to the fields to fish. I used to love fishing when I was a kid. Because, just by fishing I can eat fish every day. The most fun thing about fishing is when I get a lot of big fish. Then, I burned it in a fireplace of my own by the river. Just packed with salt, I can enjoy the fresh fish I've lured myself. I became more and more enjoyed.

 Normally, I enjoy moment a fresh grilled fish while relaxing under a tree. Sometimes I also made a small house on top of a tall tree so that I could spend the day without fear of wild animals such as wild pigs, bears, or big snakes.

 That was a very pleasant childhood experience. I've always longed for a primitive life experience that no modern person would ever experience today. For me, it was a rewarding experience because not everyone could experience like it.

 

Tuesday, February 13, 2024

Keinginan Kecil dari Malaikat Kecil

 



Pukul 15.00 WITA aku dibuat panik ketika tiba-tiba putera kecilku terserang demam tinggi. Sebenarnya, sudah tiga hari lalu dia demam, tapi belum aku bawa periksa ke dokter. Aku selalu menyiapkan termometer dan obat penurun panas di rumah. Hal itu aku lakukan untuk jaga-jaga ketika anak tiba-tiba demam. 

Hal yang paling membuat panik adalah ketika anak demam tinggi dan sudah berlangsung lebih dari 3 hari. Akhirnya, aku meminta tolong pada seseorang untuk membawa puteraku berobat ke bidan praktik yang berada di wilayah kilometer tiga puluhan, aku lupa persisnya di kilometer berapa, tapi aku memang beberapa kali pergi ke sana untuk membawa anak atau keluargaku berobat.

Ada hal yang begitu membuat hatiku tersentuh dan terenyuh ketika kami berada di tengah perjalanan. Putera kecilku yang bernama Arga, dalam kondisi demam tinggi dan sangat lemas, tiba-tiba minta masuk ke kawasan militer "Kompi Kavaleri" yang berada di wilayah kilometer 28. Arga sangat suka dengan tentara dan apa pun yang berhubungan dengan tentara. Entah apa yang membuatnya begitu menyukai hal yang berbau tentara ini, mungkin ... karena kakek buyut Arga adalah seorang mantan pejuang (ABRI) yang memiliki dedikasi untuk negeri ini. Aku rasa, hal inilah yang membuat Arga begitu menyukai tentara dan dia memiliki jiwa pemberani.

Karena sudah malam dan Kavaleri bukanlah tempat yang bisa diakses secara umum, akhirnya aku memutuskan untuk turun dan mengajak Arga untuk foto bersama di depan kompi tersebut. Hal ini aku lakukan untuk mengabadikan momen masa kecilnya, supaya bisa ia lihat kelak ketika ia sudah dewasa.

Jujur, aku nggak pernah masuk ke kawasan militer sejak aku sudah tidak lagi tinggal di panti asuhan (kebetulan pemilik panti asuhan tempat tinggalku adalah seorang tentara). Aku juga tidak berani mengambil sembarang foto, karena aku tidak tahu kawasan ini bisa dipublikasikan atau tidak. Sehingga, aku harus meminta izin terlebih dahulu pada petugas pos penjagaan untuk mengambil foto di depan pintu masuk Kavaleri tersebut. 

Alhamdulillah, kami diberikan izin untuk mengambil foto di sini dan aku bisa mengabadikan cerita bersama putera kecilku ini. Aku juga bisa kembali ke rumah dengan perasaan bahagia karena setelahnya, demam tinggi Arga bisa langsung reda dan dia bisa tidur dengan nyenyak.

Tak ada harapan lain dari seorang ibu selain melihat anak-anaknya baik-baik saja dan hidup bahagia.

Jika suatu hari nanti Tuhan menakdirkan Arga untuk kembali ke tempat ini, semoga dia kembali dengan menggendong prestasi dan kebanggaan untuk orang tuanya, juga untuk negeri ini. Aamiin ...




Wednesday, August 23, 2023

Kisahku Bersama Kim Mutiara Borneo


Hai, Peers!
Kali ini aku pakai seragam Diskominfo.
Kenapa?
Apa aku kerja di Dinas Komunikasi dan Informasi?
Oh, tidak!
Aku adalah relawan informasi yang tergabung dalam KIM (Komunitas Informasi Masyarakat). 
Kebetulan, aku dipercaya untuk jadi Ketua KIM Mutiara Borneo yang ada di Desa Beringin Agung.
Bersama tiga orang relawan lain (Rendy, Nisyam dan Arifin), aku berusaha untuk bergerak di bidang dokumentasi dan publikasi kegiatan desa. 
Foto ini diambil adikku saat kami mendokumentasikan kegiatan pagelaran seni budaya selama 3 hari 3 malam. 
Rasanya amazing banget karena tim dokumentasi dituntut untuk on dari awal sampai akhir.
Alhamdulillah ... berkat bantuan dari tim relawanku, kami berhasil juga mendokumentasikan kegiatan kali ini. 
Memang nggak bisa full video dari awal sampai akhir. Karena tim aku juga butuh untuk istirahat. Kesehatan mereka, juga menjadi bagian dari prioritas aku.
Harapannya, aku tetap bisa mendapatkan banyak relawan informasi untuk memublikasikan potensi-potensi yang ada di desa Beringin Agung.
Terima kasih untuk tim Kim Mutiara Borneo!

Jangan lupa support konten-konten kami supaya lebih semangat lagi berkarya!


Follow akun Ig @kimmutiaraborneo

Kunjungi juga website kami di Kim Mutiara Borneo

Saturday, July 29, 2023

Tuesday, July 25, 2023

Masa Mudamu Kamu Habiskan Untuk Apa?

Penanaman Mangrove bersama Pertamina Hulu Sanga-Sanga


Kalau kamu ditanya, "Masa mudamu kamu habiskan untuk apa?"
Kira-kira, kamu bakal jawab apa?

Apakah masa Mudamu Kamu Habiskan untuk hura-hura?
Apakah masa Mudamu Kamu Habiskan untuk main game sepanjang hari?
Apakah masa Mudamu Kamu Habiskan untuk berdiam diri di dalam kamar?
Apakah masa Mudamu Kamu Habiskan untuk melakukan banyak kebaikan?

Tidak semua anak muda beruntung punya lingkungan yang baik. Kebanyakan dari mereka, justru terjerumus dan terlena pada hal-hal negatif seperti pergaulan bebas, narkoba, dsb.
Lingkungan yang baik adalah rezeki dari Allah yang harus kita syukuri. Kita bisa bersyukur dengan cara, memberikan waktu dan tenaga kita untuk hal-hal positif.
Tidak banyak anak muda yang bisa berdiri seperti ini bersamaku. Mereka adalah anak-anak muda yang selalu ingin belajar dan berkembang ke arah yang lebih banyak. Mereka adalah anak-anak muda yang punya jiwa sosial tinggi. Karena tidak semua anak muda bisa seperti mereka, yang mau membantu tanpa pamrih.

Aku ingat, ada sebuah pertanyaan menggelitik ketika aku melakukan pendekatan pada salah satu anak muda di desaku saat aku mengajaknya untuk melakukan kegiatan sosial.
"KALAU AKU IKUT KEGIATAN ITU, AKU DAPAT KEUNTUNGAN APA?"

Uups ...! 🤭🤭🤭
Pertanyaan kayak gitu adalah pertanyaan yang paling aku hindari. Ketika seseorang sudah mengeluarkan kalimat pertanyaan seperti itu, artinya dia adalah orang yang harus aku lewatkan untuk menjadi bagian dari sebuah perubahan di desaku.

Sampai akhirnya ...
Aku pilih untuk pelan-pelan memperhatikan bibit-bibit generasi penerus yang berbakat dan bisa berkomitmen untuk terlibat dalam kegiatan sosial tanpa embel-embel keuntungan/profit di awal. Di sini, aku mendapatkan lima orang pemuda yang aku pilih dan siap menjadi bagian dari pengurus Yayasan Rumah Literasi Kreatif yang aku dirikan.

AH, ANAK MUDA BISA APA?

Celetukan seperti ini, seringkali aku dengar. Apalagi, saat di posisi merintis sebuah proyek kemanusiaan. Hasilnya tidak akan langsung terlihat, sehingga kami semua seringkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang sudah berpengalaman di bidangnya.

Tapi, aku selalu memberikan semangat ke teman-teman muda. Kalimat "Anak Muda Bisa Apa" harus menjadi cambuk untuk kalian agar bisa membuktikan bahwa anak muda juga bisa melakukan perubahan.

Jadi, pelan-pelan aku membukakan jalan untuk mereka agar anak-anak muda memiliki kesempatan dan tempat untuk berproses. Aku ingin, anak-anak muda punya waktu dan kegiatan yang bermanfaat ketika masih muda. Tidak hanya menghabiskan waktu untuk berfoya-foya atau melakukan hal yang terkadang menimbulkan penyesalan di masa tua. Seperti apa yang aku rasain. Aku selalu merasa menyesal karena masa mudaku tidak aku gunakan untuk sesuatu yang bermanfaat untuk orang-orang di sekelilingku. Andai saja, aku punya lingkungan yang baik seperti mereka, mungkin jalan cerita hidupku akan berbeda.

Buat kalian para anak muda yang baca tulisan ini, jangan malu dan ragu untuk berbuat kebaikan. Ingatlah kutipan bijak dari Buya Hamka "Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau hidup sekedar cari makan, monyet di hutan juga cari makan."
Pergunakanlah waktu kalian sebaik-baiknya mulai hari ini.
Jika kamu masih berada di lingkungan yang negatif, maka jangan ragu untuk keluar dari sana dan mencari lingkungan baru yang positif. Percayalah, kamu pasti akan diterima di tempat yang tepat sesuai dengan yang kamu inginkan.


Terima kasih sudah membaca tulisan ini.
Semoga menginspirasi dan bermanfaat.


Jadilah anak muda yang tangguh, kompetitif, bermartabat dan bermanfaat dalam kehidupan!



Much Love,


Rin Muna
Founder Yayasan Rumah Literasi Kreatif







Tuesday, June 27, 2023

Tentang Mengeluh

Mengeluh itu hal yang manusiawi.
Kalau nggak pernah mengeluh, namanya bukan manusia.
Meski tidak melahirkan solusi, tapi mengeluh bisa melegakan hati dan pikiran yang sedang lelah. 
Bahkan, sekedar mengeluarkan kata "Huft ...!" aja, rasa lelah sudah sedikit berkurang. Apalagi kalo mengeluh.

Dan ...
Setiap aku pengen ngeluh, aku selalu teringat nasihat seseorang.
Dia bilang ... "Kalau untuk kepentingan orang banyak, jangan dikeluhkan! Nanti hidupmu nggak berkah."

Astagfirullahaladzim ...
Aku selalu berusaha untuk beristigfar. Mohon ampunan dari Allah karena aku sudah mengeluhkan takdir yang sedang diatur oleh Allah.
Karena, hidup ini bukan melulu tentang uang.
Rezeki, juga bukan hanya berupa uang.

Aku bahkan ngerasa, hidupku sangat ajaib ketika aku bisa untuk belajar tulus membantu orang lain. 
Aku lebih sering bantu jahit, bukan full buka bisnis jahitan. 
Jadi, kalau ada anak-anak minta tolong kayak gini, aku selalu bantu dengan senang hati. 
Meski nggak dibayar, tetep aku kerjain dengan syarat, mereka bantuin aku ngerjainnya.
Selain dapet gratisan, dapet ilmu jahit juga.
Iya, kan?
Kalau ditanya feedback, aku juga pengen dapet feedback. Apalagi kalau aku lagi butuh sesuatu yang nggak bisa aku lakuin sendiri.
But, aku jadinya nggak ikhlas kalau mikirnya kayak gitu.

Seneng banget, ketika ada seseorang yang selalu mengingatkan aku untuk tulus menjalani sesuatu. Jangan mengharapkan apa-apa selain ridho dari Allah SWT. Kalau Allah meridhoi, kebaikan akan selalu menyelimuti kita. Jadi baik, bukan berarti tidak diuji. Pasti ujiannya akan jauh lebih berat untuk menguji ketulusan dan keikhlasan kita.
Saat ini, banyak orang yang diberi kenikmatan dunia oleh Allah, karena Allah tahu, akhirat bukan tempat orang-orang pengabdi dunia.

Semoga, yang baca tulisan ini sampai selesai, bisa jadi orang yang disayang Allah dan mendapatkan banyak berkah dunia dan akhirat.
Aamiin.





Friday, May 26, 2023

Banjir Air Mata Di Sertifikat PKP Dinkes Ini

 






Aku selalu menangis setiap kali lihat foto ini.
Rasanya, masih nggak percaya kalau aku bisa sampai ke sini.
Harus menempuh perjalanan selama sedikitnya 4 jam ke Tenggarong dan bawa motor sendiri.
Demi apa? Demi dapetin sertifikat PKP yang cuma diadakan setahun sekali sama Dinas Kesehatan.
Sebenarnya, aku nggak mau ke sana karena jauh banget.
Makanya, di tahun 2020 aku minta sama Pak Ispiani untuk bantu aku dapetin sertifikasi PKP, supaya kami bisa dapet PIRT dan Sertifikat Halal. Karena aku memang menjadi mitra binaan PHSS sejak tahun 2019.
Alhamdulillah, beliau mengiyakan. Awalnya, mau aku aja. Tapi, aku pengen semua temen-temen Pelaku Usaha juga bisa dapet. Akhirnya, di tahun 2021, PHSS ngasih pelatihan bertahap lewat Unmul, supaya aku bisa dapet sertifikat PKP.
Sayangnya, hasilnya malah nihil. Aku bener-bener nggak dapet kesempatan buat dapetin sertifikat ini, sementara yang lain sudah bisa dapat. Aku sempat protes sama salah satu ComDev PHSS karena mereka nggak kasih apa yang mereka janjikan ke aku. Aku minta maaf banget soal ini. Karena emosi itu, perasaan yang manusiawi .
Okelah, nggak papa. Aku akan coba usaha lagi.
And then, saat temen dosen ITK datang ke rumah, aku berusaha minta tolong adakan pelatihan untuk UMKM lagi, supaya aku bisa dapet sertifikat PKP. Hasilnya ... nihil lagi.
Aku rasanya sedih banget. Karena udah 2x sertifikasi PKP ke kampungku, tapi aku malah nggak dapat.
Artinya, aku harus go sendiri ke Tenggarong demi dapetin sertifikatnya.
Aku udah nyerah minta bantuan ke sana ke sini.
Pada akhirnya, aku cuma bisa mengandalkan diriku sendiri.
Dan ... tanggal 24 Mei kemarin, aku otewe ke Tenggarong. Berangkat jam 5 sore, sampai di sana jam 10 malam. Karena jalanan banyak yang rusak dan gelap, aku nggak bisa cepet bawa motor.
Aku bawa motor dalam keadaan nahan sakit perut dan sakit kaki. Karena emang kebetulan lagi sakit sejak tiga hari sebelumnya.
Pelatihannya dari pagi sampe sore. Akhirnya, aku harus nginap lagi karena aku nggak berani lewat Bukit Soeharto sendirian dalam keadaan gelap gulita. Aku baru pulang ke Samboja paginya. Kali ini, aku berangkat subuh dan baru sampe samboja jam.10. Nggak tahu kenapa lambat banget nyampenya, padahal aku nggak ada istirahat sama sekali dari Tenggarong sampai ke km.48.

Sepanjang perjalanan pergi dan pulang, aku selalu berderai air mata. Rasanya sedih, terharu dan puas banget. Nggak nyangka kalau akhirnya aku bisa dapetin selembar kertas ini dengan berjuang seorang diri, tanpa minta bantuan siapa pun lagi. Setiap lihat kertas ini, aku selalu mewek. Ini berharga banget buat aku. Karena ada perjuangan nggak mudah yang aku lakukan buat dapetin ini. Ibaratnya, aku udah bertaruh nyawa di jalanan demi dapetin ini aja. Sebagian orang, bakal menganggap aku ini bodoh. Buat apa sampe segininya?
Karena aku serius mau bawa produk daerah supaya dikenal sama orang banyak di luar sana. Bahkan, rak nanas pun udah aku siapkan sejak tahun 2018, tapi sampe sekarang masih belum sukses buat bawa produknya.
Kalau dibilang gagal, aku ini emang udah gagal. Dari tahun 2020, aku nggak bisa bawa Stick Nanas buatanku dikenal sama banyak orang. Bahkan, aku harus menghentikan produksi sementara karena tiba-tiba ada produk lain yang brandingnya sama persis. Aku harus mulai dari nol lagi untuk re-branding produk aku.
Sampai temen-temenku yang di luar Kalimantan bilang "Kamu berat ya lepasin anak kamu yang satu itu?"
Ya, berat banget. Karena ada darah dan air mata yang aku pertaruhkan untuk bisa sampai di sini.
Orang lain nggak tahu, yang ditahu cuma enaknya aja.
Makanya, saat temen-temen bisnis nyaranin buat berhenti dan lepasin, hati kecilku masih bilang "Aku masih mau berjuang. Aku belum nyerah, aku belum nyerah, aku belum nyerah!"
Kalau pada akhirnya aku tetap gagal, aku tetap ingat kalo aku pernah berjuang demi anakku yang satu ini.
Aku tetap bisa belajar dari kegagalanku. Aku tetap belajar dari semua pengalamanku.
Apa yang nggak bisa aku dapatkan hari ini, mungkin bisa aku dapatkan suatu hari nanti.
Terima kasih, untuk cerita hidup yang nggak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.
Akan aku abadikan, dalam tulisan-tulisanku.
Supaya ceritaku tetap hidup, saat aku sudah mati.
Supaya anak-anakku (anak biologis, anak angkat & karya-karyaku) tahu kalau aku juga pernah berjuang untuk mereka.



Much Love,


Rin Muna

Founder Rumah Literasi Kreatif

Monday, May 8, 2023

Hargailah Sebuah Proses Berkarya!

 


Buatku, menulis dan menjahit adalah hobby yang sangat menyenangkan. Berhubungan dengan sebuah karya penciptaan yang luar biasa. Hasilnya mungkin belum sebagus pengkarya lain. Tapi prosesnya ... sudah bisa membuatku belajar banyak hal. Belajar tentang kesabaran, ketelitian, keteguhan dan pantang menyerah.
Ada banyak hal yang bisa aku kagumi dari diriku sendiri sebagai rasa syukur atas semua hal yang dikaruniakan Tuhan di dunia ini. Aku bersyukur diberkahi sepasang mata, tangan dan kaki yang lengkap hingga membuatku tidak berhenti belajar hingga saat ini.
Aku sedang belajar banyak hal. Belajar untuk berkarya dan menghargai sebuah proses dalam berkarya. Ternyata, menjadi sesuatu itu tidaklah mudah. Yang terlihat  simple dan remeh, ternyata bisa ada tetesan darah dan air mata di dalamnya.
Jujur, aku masih belum percaya diri dengan karyaku sendiri. Karena aku masih dalam proses untuk belajar. Bisa dibilang ... aku terlambat karena baru belajar setelah setua ini. Mudanya ngapain aja? Aku bukan anak orang kaya. Masa mudaku habis untuk bertahan hidup dan menafkahi keluargaku. Sampai saat ini ... aku adalah sandaran dan  tulang punggung untuk keluarga dan anak-anak. Bersyukurnya, keadaan sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Sebelumnya, aku adalah karyawan perusahaan yang bekerja teratur sejak pagi sampai sore hari. Sekarang, aku adalah seorang ibu pengangguran yang setiap hari di dalam rumah. Hanya membuat karya yang masih belum pasti akan laku atau tidak. Tidak punya uang banyak, tapi mendapatkan banyak keberkahan dari Tuhan.
Sejak aku tahu bagaimana sulitnya berkarya, bagaimana rasanya karyaku tidak berharga, bagaimana karyaku dipandang sebelah mata dan dianggap sampah ... aku menjadi orang yang bisa lebih menghargai ... bagaimana cara menanggapi orang-orang yang masih belajar dan berproses. Semua ada masanya, semua ada waktunya. Hari ini jelek, lima tahun lagi mungkin jauh lebih baik. So, tetap semangat berkarya karena karya akan hidup untuk selamanya.



Monday, March 27, 2023

Subhanallah ...! Pembaca Yang Menghargai Banget!

 


Subhanallah ...
Ini salah satu pembacaku di Jakarta yang setia banget baca tulisan-tulisanku.
Aku jual bab 2rb, dia beli dengan harga 5rb. Pembaca yang lain juga sering ngasih tip lebih karena mereka suka sama ceritanya dan demi authornya update banyak.
Dulu, waktu di novelme jual bab cuma Rp 800. Ada 1008 bab buku berjudul "Perfect Hero". Pembaca harus ngabisin uang sekitar 800rb untuk baca 1 judul bukuku aja. Dan sebagian dari mereka masih ngikutin terus buku-buku lainnya meski berbayar.
Kalau pembaca yang suka gratisan, nggak bakal mau baca cerita yang berbayar. Murah aja mereka protes dan pilih baca cerita lain yang gratisan.
Yah, nggak papa sih...
Mereka yang suka baca gratisan, ya hak mereka juga.
Kadang, ada yang bilang ... cerita yang gratis juga kualitasnya nggak kalah bagus, kok.
Iya, sih. Aku juga sering ngasih cerita gratisan ke pembaca. Tapi, pastinya beda mood nulis naskah gratisan sama yang berbayar.
Ini bukan soal kualitas ceritanya. Tapi soal selera dan bagaimana cara menghargai kerja keras authornya.
Nulis itu nggak gampang. Nggak segampang nulis status facebook.
Dari premis, masih harus menciptakan tokoh/karakter, mengatur jalan cerita, menciptakan konflik dan penyelesaiannya, mengolah perasaan lewat kata-kata, nyari ide setengah mampus, baca banyak buku referensi bertumpuk-tumpuk dan sebagainya. Belum lagi kalau mood ilang gara-gara ada yang ganggu, ada kemalangan, dll. Karena author juga manusia biasa, kok.

Ada beberapa karya yang emang aku tulis exclusive dan berbayar. Tentunya, aku juga harus mencurahkan semuanya untuk ini dan memberikan bacaan terbaik untuk pembacaku. Meski cuma 10 orang yang beli, aku tetep ngerasa harus ngasih bacaan yang paling baik. Karena mereka udah bayar untuk baca ceritaku dan aku punya utang tanggung jawab.
Apalagi pembacaku itu ternyata ada di kalangan elite yang nggak mau disuguhi cerita-cerita ringan dengan konflik yang biasa aja. Terlalu klise untuk mereka.
So, kalau nggak mau baca ceritaku yang berbayar, nggak usah julid, yak! Pasar pembacaku jelas bukan kamu. Karena, masih banyak orang di luar sana yang mau menghargai karyaku, tanpa tahu siapa aku sebenarnya.

Wednesday, March 15, 2023

PENGEN BERHENTI NULIS

 



“Pengen Berhenti Nulis”

 

Huft …!

Tulisan ini aku tulis untuk menggambarkan kegelisahanku selama ini. Dari dulu, aku pengen banget berhenti nulis. Rasanya … otak dan tubuh sudah lelah untuk terus mencari ide. Belum lagi terdistraksi dengan kegiatan anak-anak. Pengen bisa berhenti nulis, apalagi kalau tulisan yang kita buat nggak ada yang baca. Bikin mental down karena aku ngerasa sudah mencurahkan tenaga dan pikiranku untuk membuat cerita yang menarik, tapi ternyata nggak bisa menarik. Karena yang bisa menarik itu cuma tangan.

Di sela-sela pergantian malam, aku sering termenung sendirian di deket kulkas. Kenapa harus deket kulkas? Yah, karena aku nggak punya AC buat ngadem. Terpaksa dah jadiin kulkas sebagai alat untuk mendinginkan hati dan pikiran ini.

Aku sering banget merenung dan bingung mau bikin ide apa lagi untuk ceritaku. Kadang, aku sampai mengabaikan dan melupakan kegiatan penting karena waktuku habis kupake buat ngelamun.

Sambil duduk menatap diri sendiri yang nggak kelihatan, aku terus berpikir untuk berhenti menulis. Pengen aja netralin otak dan pikiran. Pengen bisa hidup seperti wanita-wanita yang lain yang bisa bersantai tiap hari tanpa beban. Tapi, balik lagi sih sial sawang sinawang yang kerap aku dengar dalam nasihat orang jawa.

Terlalu banyak hal yang terjadi sama aku sejak tujuh tahun belakangan ini. Aku harus menanggung banyak penderitaan dan rasa sakit yang orang lain nggak pernah mengetahuinya. Karena semua itu masih aku simpan sendiri dengan begitu rapat. Aku cuma nggak mau ditertawakan sama orang yang nggak suka sama aku, saat aku lagi ada dalam penderitaan.

Ketika aku memutuskan untuk menjadi seorang single mom sejak satu tahun lalu, aku harus siap dengan segala konsekuensinya. Harus siap menanggung masa depan anak-anak dan keluargaku. Menjadi single fighter tidaklah mudah. Butuh effort yang lebih karena harus bisa menjadi ibu yang bertanggung jawab pada rumah dan anak-anak, sekaligus menjadi ayah yang harus mencari nafkah dan memastikan kalau besok keluargaku masih punya makanan.

Semua rasa sakit itu … nggak bisa aku gambarkan dengan kata-kata. Mungkin, akan butuh naskah berjilid-jilid hanya untuk menggambarkan apa yang telah terjadi dalam hidupku.

Setiap malam … aku nggak bisa tidur nyenyak. Saat diri ini mulai berselimut sepi dalam kelapnya malam, aku selalu dihantui banyak ketakutan. Ketakutan tentang masa depan anak-anakku, ketakutan tentang kegiatan-kegiatan sosial yang selama ini lakukan, ketakutan tentang bagaimana menjalani hubungan kembali dengan seseorang.

Sungguh, aku ingin lepas dari ini semua. Tapi aku nggak sanggup. Bagiku, tengah malam adalah pintu yang selalu membawaku pada ingatan masa laluku. Setiap kali aku lihat pintu itu … aku melihat diriku sendiri yang terluka di masa laluku. Rasanya sakit, pilu dan sulit untuk aku gambarkan dengan kata-kata.

Aku sedih bukan karena membenci orang yang melukaiku selama ini. Aku sedih karena aku bisa melihat diriku sendiri yang masih berusaha keras berdiri kuat meski seluruh tubuhnya tersayat dan berdarah-darah.

Aku takut aku dilukai lagi.

Aku takut aku dikecewakan lagi.

Aku takut aku tidak bisa bahagia lagi.

Dan masih banyak rasa takut yang menghantui pikiranku setiap malamnya.

Setiap aku terjaga di tengah malam, aku selalu bersedih. Kesunyian dan kegelapan malam itu sungguh-sungguh hal yang sempurna untuk menggambarkan sebuah penderitaan. Air mata ini selalu menetes untuk menangisi nasib diriku sendiri.

Di tengah kekalutan hatiku, rasanya aku pengen nulis. Karena aku tahu, aku nggak akan sanggup memenuhi keinginan pembacaku yang harus update setiap hari, sementara aku sibuk bertahan hidup dan mempertahankan kewarasanku.

Aku pengen berhenti nulis. Tapi aku sadar kalau aku nggak akan bisa melakukannya. Bagiku, menulis seperti healing atas semua rasa sakit yang aku alami selama ini. Kalau aku tidak menulis, mungkin semua yang aku rasakan akan lebih sakit. Karena saat malam hari dan aku nggak bisa tidur, aku selalu nulis untuk mengalihkan semua kesedihan dan penderitaanku. Meski aku pengen berhenti menulis, menulis menjadi bagian dari healing (penyembuhan) atas semua rasa sakit yang sedang aku pikul.

Aku selalu pengen berhenti nulis, tapi aku selalu gagal. Karena menulis adalah bagian dari kebutuhan dan bagian dari rutinitasku yang nggak bisa aku tinggalin. Setiap kali aku nggak nulis, kepalaku rasanya mau pecah. Tapi … mau nulis juga selalu nggak ada waktu untuk melakukannya. Jadi, aku pilih berhenti menulis sejenak saja. Mengatur suasana hatiku dan aku akan menulis apa yang ingin aku tulis saja. Karena terkadang … aku nggak bisa bahagia ketika aku sedang membahagiakan orang lain.

 

 

 

 

 



Wednesday, March 8, 2023

Penggalangan Dana untuk Kebakaran SMP Negeri 05 Samboja

 


Tragedi kebakaran pada 05 Maret 2023 yang terjadi di SMP Negeri 5 Samboja telah membuat 143 siswa kehilangan tempat belajar mereka. Kebakaran hebat yang terjadi pada minggu sore itu telah menghanguskan 8 ruangan yang ada di SMP Negeri 05 Samboja, yakni gudang, ruang kelas 7A, ruang kelas 7B, ruang kelas 8A, perpustakaan, ruang kantor guru, ruang kepsek, dan ruang komputer. Murid-murid harus mengungsi ke gedung lama SDN 036 Samboja agar bisa belajar seperti biasanya. Kondisi gedung lama SDN 036 sangat memprihatinkan karena masih bangunan kayu yang berdiri sejak tahun 90-an dan tidak terpakai lagi. Mereka tidak punya pilihan lain selain menggunakan gedung usang tersebut dan membutuhkan banyak bantuan untuk renovasi agar murid-murid bisa belajar dengan tenang. Kondisi sebagian lantai kayu dan atap sudah rusak dan perlu perbaikan.

Oleh karenanya, kami mengharapkan uluran tangan para dermawan agar bisa membantu adik-adik kami melanjutkan aktivitas sekolah seperti biasanya. Uluran tangan Anda akan sangat membantu keberlangsungan aktivitas belajar-mengajar di SMP Negeri 05 Samboja.

Silakan salurkan donasi Anda secara langsung ke SMP Negeri 05 Samboja atau melalui Rekening BRI 4478-01-031970-53-6 atas nama Yayasan Rumah Literasi Kreatif. Donasi yang dikirim melalui Yayasan Rumah Literasi Kreatif akan disalurkan langsung ke SMP Negeri 05 Samboja agar adik-adik bisa belajar dengan nyaman seperti sedia kala.



Terima kasih atas kebaikannya. Semoga amal jariyahnya diterima oleh Allah SWT dan kehidupannya selalu dipenuhi keberkahan.



Salam,


Rin Muna

Founder Yayasan Rumah Literasi Kreatif

Tuesday, February 14, 2023

Pengalaman Mengikuti Pelatihan Wikipedia Bahasa Indonesia di Samarinda

 




12 Februari 2023 menjadi sebuah cerita yang tidak akan terlupakan dan harus diabadikan. Sebab, aku belum tentu mendapatkan pengalaman seperti ini lagi seumur hidupku.

Hari ini aku mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sebuah pelatihan yang diselenggarakan oleh Wikimedia di TBM Iqra' Samarinda. Wikilatih ini berguna banget buat aku yang selalu ingin belajar menulis dan upgrading ilmu menulisku. Karena aku tidak sekedar menulis novel, aku juga aktif menulis beberapa artikel, opini, cerpen, puisi dan cerita anak.

Oleh karenanya, belajar di sini menjadi salah satu kesempatan yang tidak terlupakan. Aku juga bisa banyak bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru. Ada banyak anak-anak muda yang hebat dan memiliki potensi besar dalam memajukan negeri ini.

Di sini, kami dibimbing oleh Mas Nadiantara (Wikimedia) yang menjadi kontributor di Wikimedia. Beliau pernah menjuarai kompetisi menulis di Wikimedia dan mendapatkan hadiah beasiswa ke Jerman. Pemuda yang berasal dari kota Palu ini sungguh menginspirasi dan memberikan semangat pada generasi muda yang memiliki hobi menulis.

Aku berharap, ilmu yang aku dapatkan kali ini bisa bermanfaat untuk masa depan dan membuatku bisa mengabadikan setiap tempat-tempat bersejarah yang ada di sekitarku. Sebab, wikipedia adalah salah satu situs/platform yang selalu berada di pencarian teratas mesin pencarian /search engine. Ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk orang-orang seperti aku agar tulisannya bisa muncul ke permukaan.


Terima kasih untuk ilmu dan pengalamannya hari ini ...!

Semoga bisa bermanfaat untuk masa depan ...!



Much Love,


Rin Muna



Saturday, February 11, 2023

Jadilah Diri Sendiri!

 



Apalah aku ...?
Aku cuma emak-emak anak 2 yang sedikit liar. Suka berterbangan ke mana-mana.
Nggak suka duduk-diam setiap hari.
Makin tua, makin pengen belajar banyak hal.
Karena semakin banyak belajar, aku merasa semakin bodoh.
Ternyata, ada begitu banyak ilmu pengetahuan di dunia ini ... dan aku baru punya sebutir debu ilmu pengetahuan itu.

Mencari ilmu, bukan sekedar ilmu pengetahuan akademik. Tapi juga ilmu untuk mengendalikan emosi dan keegoisan diri.
Belajar untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.
Belajar untuk lebih menyadari posisi diri sendiri.
Belajar untuk menyapa dan mengungkapkan sesuatu sesuai dengan konteks-nya.

Ada banyak proses kehidupan dan masalah yang harus dilewati.
Tetap berusaha berdiri kokoh ketika diserang badai yang begitu besar.
Aku tidak punya sandaran. Tidak punya siapa pun yang bisa kuharapkan dan kuandalkan.
Aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri.

Dan semua hal yang sudah terlewati ... mengajarkan aku untuk kuat dan berani menghadapi setiap masalah yang menerpa.

Aku udah nggak bisa baper ketika dapet hate comment dari banyak orang. Semua itu sudah terlewati dan melatih mentalku untuk tidak menuruti keinginan semua orang.
Sebab, manusia terlahir dengan takdirnya masing-masing.
Aku tidak akan bisa menjadi seperti dirimu. Begitu juga sebaliknya.

Jadi, jangan menilai aku buruk hanya karena aku tidak mampu menjadi sama seperti kamu.
Karena aku juga tidak pernah menilai orang lain buruk hanya karena mereka tidak bisa menjadi seperti aku.

Jadilah diri sendiri!
Mengandalkan diri sendiri agar tidak kecewa pada keadaan.
Dan carilah bahagiamu sendiri tanpa harus melukai orang lain.

Saturday, January 14, 2023

Pengalaman Jadi MC Acara Pagelaran Seni Kuda Lumping di Pantai Duta Pemedas

 



Mohon maaf kalau aku baru nulis ini. Sebenarnya, udah lama sih pengen nulis supaya ada cerita yang bisa aku bagi tentang pengalaman aku. Sayangnya, kesibukan dan rasa mager itu lebih dominan di kepalaku daripada nulis.
Terus, aku ke-trigger banget ketika memori laptop dan memori komputerku udah full semua dengan video dan foto-foto koleksiku. Alhasil, aku nggak tahu nih mau nyimpan file fotoku di mana lagi supaya nanti bisa aku lihat kembali saat aku tua dan terserang alzheimer.

Foto ini adalah fotoku bersama Pak Kundori di Pantai Duta Pemedas pada tanggal 21 September 2022. 
Nggak tahu kenapa, tiba-tiba aku jadi MC dadakan karena MC yang biasa ngisi acara nggak bisa datang. Yah, alhasil aku harus backup supaya kegiatan ini bisa berjalan dan bisa berkomunikasi dengan pengunjung pantai yang ada di sana.
Alhamdulillah, acara berjalan dan berlangsung dengan baik. Meski setiap jadi MC, aku sering banget nggak sampe kelar. Kenapa? Karena biasanya udah ada yang backup juga. Di Paguyuban Turonggo Lestari Budoyo, semuanya memang relawan dan saling support. Bukan cuma saling support, tapi juga saling backup keadaan. Semua anggota bisa fleksibel bergerak sesuai kemampuan dan kebutuhan. 
Meski nggak dapet bayaran, tapi bisa happy banget saat jadi MC di sini. Suasananya menyenangkan, semua orang di panggung ramah dan mudah mendapatkan informasi. Tak jarang, mereka mengajak aku bercanda di belakang panggung supaya aku nggak nervous saat membawakan acara. Maklumlah, aku MC amatiran yang suka dipake saat nggak ada yang lain yang ngisi. So, jangan berharap kalau aku tampil dengan performa yang bagus banget. Karena inilah aku, jadi MC apa adanya, hehehe.


Ini adalah pengalaman hidup yang mungkin bisa aku kenang suatu saat nanti. 
Kalau ada yang butuh MC untuk acara, aku juga open tenaga dan pikiran buat siapa saja. Dengan catatan, nggak tabrakan sama jadwal-jadwal aku yang lainnya. So, booking dari jauh-jauh hari, ya! Wkwkwkwk




Sunday, October 16, 2022

Lesty Kejora Wanita yang Hebat



Maaf, kalau kali ini aku agak ke-trigger sama berita yang lagi viral soal artis terkenal yang menjadi korban KDRT. 
Karena setelah lihat cuplikan video yang beredar di dunia maya, aku ngerasa kayak flashback ke masa lalu.
Apa yang dialami Lesty, aku juga pernah mengalaminya. Nggak kebayang gimana ketakutannya melihat suami yang temperamental, yang tega memukul kita meski kita sedang dalam keadaan menggendong bayi yang itu adalah anak dia.
Aku inget banget, aku juga pernah hampir ditonjok dalam keadaan lagi gendong Arga yang baru umur tiga bulan. Tapi saat itu mantan suamiku masih bisa mengalihkan emosinya dengan nonjok dinding di  dekatku sampai jebol. Tapi nggak sampai di situ, dia masih punya kesempatan buat nyekik aku. Dan tatapan mata penuh emosi itu, nggak pernah bisa aku lupain. 
Meski dia sudah minta maaf berkali-kali dan aku juga sudah memaafkan, tapi kejadian itu nggak pernah bisa aku lupain. Bener-bener bikin aku trauma. Meski aku berusaha untuk bertahan dan memperbaiki semuanya, tetap saja gagal karena trauma disakiti secara fisik itu masih sangat membekas. Membuat aku kesulitan untuk menumbuhkan rasa sayang yang sudah hancur saat orang yang paling dekat denganku, malah menyakitiku tanpa beban.

Saat kekerasan itu terjadi, aku nggak bisa berbuat apa-apa. Aku juga nggak berani lapor polisi. Dua orang saksi yang melihat aku dicekik sama suamiku sendiri (Mbah Lanang & Mbah Wedok) juga memilih untuk diam dan bungkam. tidak membelaku sama sekali. Jadi, aku juga memilih untuk bungkam dan berusaha menyelesaikan permasalahanku sendiri. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang sudah terlanjur toxic.

Jujur, saat itu aku memang berada diselimuti keresahan karena aku sangat takut berada di sisi orang terdekatku, juga tidak berani mengakhiri hubungan dengan alasan anak.

Lesty Kejora adalah wanita yang hebat karena dia bisa dengan begitu cepat memutuskan memenjarakan pria yang sangat ia cintai. Untuk mengambil keputusan seperti itu, tentunya tidak akan mudah. 
Aku sendiri, meski aku tidak bisa lagi mencintai pria yang sudah menyakitiku secara verbal dan fisik, aku tetap tidak tega melaporkan dia ke polisi. Bahkan, melihat ayah dari anak-anakku hidup susah saja, sesungguhnya aku nggak tega. 
Lesty adalah wanita yang hebat karena bisa membuat suaminya sendiri kelimpungan dan memakai baju orange. Dia adalah wanita yang bisa memberikan shock therapy untuk suaminya yang telah melakukan perbuatan KDRT. Aku rasa, nggak banyak wanita yang memiliki keberanian seperti itu. Karena terkadang ada banyak pertimbangan sebelum mengambil keputusan untuk mengambil langkah hukum.

Ada banyak hal yang dipertaruhkan oleh Lesty Kejora ketika ia memutuskan untuk melaporkan suaminya sendiri. Mungkin apa yang dia pertaruhkan itu sepadan untuk membuat suaminya benar-benar jera. 

Lesty adalah wanita yang hebat karena dia sangat sabar dan mau menerima suaminya kembali di sisinya. Bagiku, itu hal yang sangat sulit. Berada satu ranjang lagi dengan pria yang pernah memukul kita ... itu sulit. Karena trauma itu akan selalu terbayang di pelupuk mata setiap kali melihat wajahnya.
Benar kata Dewi Persik. Sekeras apa pun menumbuhkan rasa sayang itu kembali, tetap tidak akan bisa. Karena bayangan dilukai secara fisik, membuat aku juga tidak bisa nafsu saat diranjang. Memaksakan diri melayani suami yang menjadi sumber ketakutan, memanglah sangat sulit.
Jika Lesty bisa melewati ini semua dan menghapus rasa traumanya. Dia adalah wanita yang hebat. Karena aku sudah berusaha begitu keras, aku tetap tidak bisa menjadi seperti dia.


Semoga wanita-wanita di luar sana dijauhkan dari pria yang ringan tangan dan selalu mendapatkan banyak kasih sayang dari pria yang dia cintai.



Salam,


Rin Muna





Friday, September 16, 2022

Bingungnya Jadi Janda



Hai ... Hai ...!

SELAMAT DATANG DI SESI CURHAT‼️

Seperti biasa, kali ini aku mu curhat tentang kehidupan aku.
Tulisan ini nggak terlalu penting dan receh banget. Tapi aku harap, ada secuil hikmah yang bisa kalian ambil dari pengalaman hidupku.

Ya, sesuai judul tulisanku kali ini ... aku lagi bingung banget saat aku tiba-tiba jadi janda.
Eh, nggak tiba-tiba juga, sih. Karena sebenarnya aku udah mendapat gelar sebagai janda sudah 10 bulan lalu.
10 bulan itu waktu yang sebentar atau lama, sih? 
Sebentar lah ya ... masih lama 10 tahun. Hehehe

Apa sih yang always aku bingungin saat ini?
Ya statusku inilah... Karena aku harus survive dan struggle sebagai ibu dari dua orang anak dan juga tulang punggung keluarga.
Sebenarnya, aku udah biasa jadi tulang punggung keluarga yang juga harus berbagi waktu buat ngurus rumah dan anak-anakku. Aku nggak pernah keberatan dan fine-fine aja gitu.

Tapi akhir-akhir ini ...
Aku agak bingung karena aku mulai keteteran buat cover kerjaan rumah dan cari nafkah sekaligus. Apalagi kerjaanku serabutan banget. Mengandalkan uang dari menjahit untuk kehidupan sehari-hari, masih jauh dari cukup karena yang datang jahitkan pakaian juga nggak banyak dan nggak setiap hari ada.
So, aku always cari sampingan lain. Artinya, aku memang punya second income dan third income supaya aku bisa bertahan hidup dan mempertahankan hidup anak-anakku.

Capek? Banget.
Dan yang bikin aku lebih capek lagi adalah dengerin keluhan dari orang yang paling Deket sama aku. Yaitu nenekku.
Maybe, karena suaminya udah meninggal setahun lalu dan ngerasa kesepian, dia jadi lebih bawel dari sebelumnya. Maunya dia tuh, aku pegang kerjaan rumah terus. Harus nyuci baju, nyuci piring dan beres-beres tepat waktu. Sementara, aku sering keteteran sama kerjaan yang tiba-tiba. Yah, namanya kerja serabutan, waktunya nggak bisa ditentukan dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore kayak orang kerja kantoran.
Alhasil, aku malah makin nggak konsen sama kerjaanku sendiri. Karena yang menurut aku prioritas (nyari nafkah buat keluarga) malah jadi sampingan. Karena aku harus mendahulukan ngurus rumah yang nggak menghasilkan apa-apa dan bikin aku kehilangan banyak job.

Aku udah berusaha keras buat beresin rumah. Meski nggak rapi-rapi banget karena aku emang nggak berbakat rapi-rapi rumah. Setidaknya, aku kelihatan kerja di depan nenekku biar dia nggak mengomel terus. Karena kalau aku lagi nulis novel di handphone, dia anggap aku cuma mainan doang. Alhasil, dia bakal ganggu aku dengan berbagai cara, hahaha.

Kalau menurut kalian, aku harus gimana ya?
Kalau pakai jasa ART, jelas aku belum mampu melakukannya karena income aku nggak nentu. Apalagi kalau yang baca tulisanku sepi. Makin sulitlah hidupku ini.

Jadi, buat kalian rumah berantakan itu wajar atau nggak sih buat aku yang harus hidup survive dan struggle buat anak-anakku?


Kasih pendapat kalian, dong!
Biar aku bisa lebih semangat menjalani hidup karena aku masih punya kalian yang nggak pernah lelah menemani aku bercerita tentang banyak hal di sekitarku. 
Entah itu aku kemas dalam bentuk fiksi maupun non-fiksi...


Much Love,
@rin.muna


Monday, September 12, 2022

Menjahit Bendera Merah Putih untuk HUT Ke-77 RI Desa Beringin Agung





Sebuah kebanggaan tersendiri buatku karena dipercaya untuk menjahit bendera Merah Putih yang digunakan untuk upara HUT Ke-77 RI di Desa Beringin Agung. 
Aku juga nggak nyangka kalau akan dapet kepercayaan ini.
Because, aku adalah penjahit yang jarang jahit. Karena lebih banyak nulis novel dan curhat di blog, hahaha.

Kali ini, aku hanya ingin berbagi pengalaman dan mengabadikan sebuah momen yang mungkin tidak akan terulang dua kali dalam hidupku. Aku merasa istimewa dan mendapatkan sesuatu yang begitu indah. Terlebih ketika melihat bendera Merah Putih ini bisa terbang dengan gagahnya di atas sana bersama pasukan pengibar bendera yang seragamnya juga hasil jahitan tanganku dan timku di rumah jahit "Lovella Mode".

Aku tahu, karir menjahitku tidak sebagus orang-orang lain. Bisa dibilang, aku cuma dapet orderan setahun sekali, hahaha. Gitu aja bangga, ya? Gimana kalo dapet orderan setiap hari? Hahaha.
Udahlah, udah cukup menertawakan diri sendiri untuk segala kepayahan yang aku miliki.
Mau sepayah apa pun itu, buatku tetap istimewa. Karena perjuanganku nggak mudah dan effort besar itulah yang membuatku merasa bangga pada diriku sendiri. Di sela-sela mengurus dua anak yang masih kecil, di sela-sela kesibukanku menulis buku, ternyata aku masih bisa menghasilkan sebuah karya, meski karya itu sangat sederhana.

Buat kalian, aku ini lebay atau nggak, sih?
Lebay ya? Cuma kayak gini aja udah pamer-pamer.
Eits, sebenarnya bukan lebay dan pengen pamer, sih.
Tujuanku menuliskan semua hal di blog ini adalah untuk kenang-kenangan supaya suatu saat nanti aku masih diingat dalam sejarah anak-cucuku. Setidaknya aku bisa membaca ulang kisah-kisahku sendiri jika suatu hari aku terserang alzheimer.

Kamu yang udah baca tulisan ini, jangan lupa berbagi dan menginspirasi. Semoga apa yang kamu beri bisa jadi jalan rezeki untuk dirimu sendiri dan orang-orang yang kamu cintai.



Much Love,

Rin Muna


 


Thursday, July 14, 2022

Alhamdulillah ...! Nurul Jadid Jadi Juara 3 Hadrah Putri

 




Alhamdulillah, setelah berlelah-lelah selama berbulan-bulan, akhirnya terbayarkan juga ketika Hadrah Nurul Jadid berhasil menjadi juara 3 untuk lomba hadrah dalam acara MTQ ke-43 Desa Bukit Raya.


Nurul Jadid adalah group hadrah yang didirikan oleh LPTQ Desa  Beringin Agung pada tahun 2015.

Group hadrah dan rebana ini sudah sering mengisi acara-acara pengajian, pernikahan atau khitanan. 

Group hadrah Nurul Jadid juga selalu ikut meramaikan perhelatan MTQ setiap tahunnya.


Semoga, dengan menjadi juara tahun ini membuat anggota semakin bersemangat untuk berkarya dan mendapatkan prestasi yang lebih baik lagi.








Tuesday, July 5, 2022

WARNING !!! Waspada Penipuan Mengatasnamakan PT. Alam Jaya Persada dan Darwin Indigo

 






Karena aku pernah bekerja di PT. Alam Jaya Persada dan menjadi PIC selama 7 tahun di sana, nomer ponselku masih terpampang nyata dan menjadi sasaran banyak orang untuk melakukan konfirmasi terkait kontrak kerja, supply barang dan lain-lain.
Tapi akhir-akhir ini, aku disibukkan dengan banyaknya orang yang mengkonfirmasi bahwa mereka ditawari kerjasama untuk pembelian pulsa karyawan PT. Alam Jaya Persada oleh Bapak Darwin Indigo.
Alhasil, aku udah kayak CS PT. Alam Jaya Persada yang harus menjelaskan panjang lebar bahwa tidak ada tunjangan pulsa untuk karyawan PT. Alam Jaya Persada.
Karena aku udah capek melayani belasan orang yang tertipu, maka dari itu aku tulis semuanya di blog ini supaya orang yang menjadi korban atau target selanjutnya bisa membaca tulisan ini terlebih dahulu. Aku nggak mau setiap hari buang-buang waktu untuk menjelaskan sesuatu yang seharusnya bukan aku yang menjelaskannya. Walau bagaimana pun, aku resign dari PT. Alam Jaya Persada secara baik-baik dan aku tetap ingin menjaga nama baiknya.

Oleh karena itu, buat kalian semua yang punya bisnis jualan pulsa atau punya kenalan yang bisnis pulsa, kalian wajib share tulisan aku ini supaya kalian nggak jadi korban selanjutnya!
Ini semua demi kebaikan bersama supaya tidak ada lagi korban yang tertipu. Karena sudah banyak yang konfirmasi kalau mereka ada yang tertipu sampai puluhan juta.






Aku adalah eks. admin PT. Alam Jaya Persada (Samboja, Kalimantan Timur). Nomor ponselku memang dipakai untuk PIC karena di perkebunan memang tidak ada nomor khusus kantor. Karena bekerja cukup lama, mau tidak mau aku memang harus merelakan nomorku digunakan sebagai nomor PIC yang melayani semua transaksi di perusahaan baik internal maupun eksternal. 
Karena sudah resign 5 tahun lalu, tentunya aku tidak nyaman jika harus diusik untuk urusan perusahaan yang bukan lagi menjadi ranahku atau bagian hidupku. So, aku harap tulisan ini bisa membuat kalian semua tahu bahwa kalian tidak perlu mengkonfirmasi ke nomorku lagi karena jelas-jelas semua itu adalah penipuan.

Sebagai informasi, Bapak Darwin Indigo adalah putera dari Maratua Sitorus dan merupakan orang yang masuk ke dalam daftar rich people di Indonesia. Profile beliau terekspose sejak kasus minyak goreng mahal menjadi polemik di Indonesia. 
Itulah salah satu sebab mengapa profile beliau digunakan untuk penipuan. Saat ini, banyak sekali sindikat penipuan mengatasnamakan orang-orang besar untuk melancarkan aksinya dan mendapatkan kepercayaan dari korban. Kalian semua harus lebih berhati-hati lagi!

Sebagai karyawan yang pernah bekerja di salah satu anak perusahaan milik Pak Darwin dan keluarga, saya mengetahui jika Top Management atau executive yang level direktur ke atas, tidak akan semudah itu dihubungi dan memiliki nomor yang tersebar ke mana-mana. Karena di perusahaan besar sudah ada Humas atau Public Relation yang sudah mengurus semuanya. Mustahil jika orang dengan nama besar itu begitu mudah menghubungi orang luar dengan nomor pribadi. Karena saat aku bekerja di sana, semua transaksi perusahaan dilakukan secara private melalui sistem perusahaan terintegrasi. Tidak semudah itu bisa mendapatkan nomor ponsel Pak Darwin Indigo.

Pak Darwin Indigo juga tidak pernah menangani PT. Alam Jaya Persada secara langsung karena PT. AJP adalah anak perusahaan kecil di bawah naungan Group Perusahaan besar yang ia miliki. Semua urusan perusahaan sudah ditangani oleh belasan direktur yang ada di bawahnya. Yang menjadi penanggung jawab di site hanya sampai ke level manager saja. Orang besar seperti beliau tidak akan mengurus langsung perusahaan kecil selevel PT. Alam Jaya Persada.








Jadi, saya mohon dengan sangat kepada kalian semua untuk tidak menghubungi nomor kontak saya lagi. Saya harap, ini cukup untuk menjadi sebuah penjelasan bahwa orang yang meminta kerjasama untuk pengisian pulsa karyawan bukanlah Bapak Darwin Indigo dan tidak ada hubungannya dengan PT. Alam Jaya Persada. Sebab, tunjangan pulsa hanya diberikan pada level asisten manager ke atas dan diberikan secara langsung kepada staff atau melalui proses reimbursment.

Demikian penjelasan singkat dari saya. Semoga tulisan ini bermanfaat dan meminimalisir korban penipuan yang telah terjadi.

Jika kalian peduli dengan keluarga dan teman-teman sekitar, kalian bisa bagikan postingan ini supaya mereka semua lebih waspada dan tidak mudah percaya dengan oknum yang mengatasnamakan Pak Darwin Indigo.




Salam santun,


@rin.muna

Sunday, June 19, 2022

Sajadah Usang dan Hebatnya Kekuatan Sedekah

 



 

Saking miskinnya, aku punya sajadah nggak pernah ganti. Bahkan sudah sobek di sisi-sisinya pun masih aku pakai.

Yah, mau gimana lagi. Mau beli sajadah baru, tapi kalah sama kebutuhan hidup. Lagipula, ini sajadah masih bisa terpakai dan sangat layak meski aku memilikinya sejak aku duduk di bangku SMP.

 

Sajadah kecil ini punya sejarah besar dalam hidupku. Menemani setiap hari-hariku sejak masih remaja hingga kini. Bisa dikatakan, barang ini adalah barang yang tidak hilang dan rusak selama belasan tahun.

Sejadah ini bukan aku beli dengan uangku sendiri. Aku mendapatkannya sekitar tahun 2007 dari seorang donatur saat aku tinggal di panti asuhan. Tidak tahu siapa donatur yang sudah memberikan sajadah hari itu, siapa pun dia, amalannya tentu akan terus mengalir hingga kini.

 

Kenapa? Karena sajadah pemberian donatur ini masih aku pakai sampai sekarang. Dari aku SMP, sampai aku sudah punya dua anak, aku masih menggunakannya setiap hari. Tentunya, amalanku itu juga akan mengalir kepadanya setiap aku beribadah.

Sehebat itu kekuatan sedekah, meski nilainya tidak seberapa, manfaatnya bertahan begitu lama dan menjadi amalan jariyah.

 

Hal kecil ini mengajarkan aku tentang sedekah. Sedekah tidak harus berbentuk uang. Sedekah juga bisa berbentuk barang seperti sajadah ini. Bahkan, bisa bermanfaat hingga bertahun-tahun.

 

Sampai saat ini, aku belum memiliki keinginan untuk mengganti sajadahku. Selain nggak punya uang, sejadah ini juga masih bagus dan aku sayang banget sama barang ini. Buatku, dia punya nilai yang sangat tinggi karena sudah menjadi kawan suka-duka selama bertahun-tahun. Menjadi tempatku bersujud saat aku sedang berada di titik terendah dalam hidupku. Terkadang bisa menjadi selimut yang menghangatkan saat malamku begitu sepi dan kedinginan.

 

Kalau kamu gimana? Punya barang sederhana yang pernah kamu sedekahkan ke orang lain dan orang itu masih menggunakannya sampai sekarang?

 

 

 

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas