Novel Author Love to imagination, telling story and making money.

Showing posts with label Daily. Show all posts
Showing posts with label Daily. Show all posts

Wednesday, December 1, 2021

November Fever


November tahun ini adalah November paling berat sepanjang hidupku.
Tepat di tanggal 09 November, aku mendapatkan surat panggilan resmi dari Pengadilan Agama. Mungkin, inilah kado yang tidak akan pernah terlupakan selama tiga puluh tahun aku terlahir di dunia.
 
Saat akhir bulan, aku dihadapkan oleh banyak hal sekaligus. Deadline tugas mata kuliah "Sastra Inggris" yang terlanjur aku ambil, deadline nulis novel dan harus kejar 30rb kata di akhir bulan, acara haulan almarhum kakek yang juga bikin sibuk karena harus masak-masak, panggilan sidang kedua dari Pengadilan Agama, dan anak kedua sakit. 
 
Tiga hari di akhir November kali ini, menjadi hari-hari yang begitu heroik. Entah kenapa semuanya terjadi bersamaan dan sama-sama harus di-prioritaskan. 
Perasaanku campur aduk tak karuan. Malam sebelum aku pergi ke Pengadilan Agama Tenggarong adalah malam yang membuatku tak bisa tidur semalaman. Ingin menangis pun rasanya sudah tidak sanggup saat melihat anak keduaku terkulai lemas karena sakit. Rasanya, duniaku mau runtuh saat itu juga.
 
Di saat perasaan dan kondisi puteraku belum membaik, aku kembali dihadapkan dengan kenyataan kalau aku harus menempuh perjalanan jauh ke kota Tenggarong. Jadwal sidang sudah tidak bisa diundur lagi karena ini adalah sidang terakhir.

Akhirnya, aku membawa si kecil yang sedang sakit untuk ikut serta. Aku menggendongnya di dalam mobil. Kubawa bersama sang kakak dan ibuku agar ada yang membantu menjaganya saat aku masuk ke ruang sidang.

Selama menanti sidang berlangsung, perasaanku sangat cemas. Aku khawatir jika anakku sakit lagi. Sehari sebelumnya, dia sudah terkulai lemas. Seolah nyawanya hanya tinggal separuhnya saja. Itulah yang membuatku sangat khawatir.

Alhamdulillah ...
Aku senang melihat kondisinya yang sudah membaik. Dia suka jalan-jalan dan naik mobil. Jadi, dia lumayan terhibur sepanjang perjalanan dan kembali ceria. Suhu tubuhnya perlahan turun dan normal.

Melihatnya bisa duduk sendiri dan bermain ceria seperti di gambar, aku sangat bahagia. Artinya, Allah masih memberiku kepercayaan untuk menjaga amanahnya. Membesarkannya dengan baik, merawatnya, memberi pendidikan dan kehidupan yang baik.

Meski harus survive sebagai single mother, aku tetap bahagia dan lega menjalanin kehidupan ini.
Hal paling berat yang membebani hidupku, akhirnya terlepas.
Aku bisa fokus mengejar cita-citaku, mengejar impian untuk anak-anakku tanpa rasa khawatir, tanpa rasa takut.

Aku sudah lelah ...
Dan aku percaya, anak-anak akan tetap bahagia meski dibesarkan oleh orang tua tunggal. 
Daripada harus memaksakan diri menjalani kehidupan yang tidak harmonis, akan berdampak buruk pada mental anak-anak.

Dan sejak hari ini, akulah yang memutuskan ... aku akan berjalan sendiri meski tertatih-tatih. Ada saatnya, aku akan beristirahat dan berbaring dengan tenang dalam keabadian.



Salam hangat dariku,


Rin Muna

Wednesday, November 17, 2021

Senangnya Hadir di Klinik Belajar Tugas dan Ujian Universitas Terbuka


Selasa, 16 November 2021

Hari ini, jadi hari yang paling menegangkan dalam hidupku.
Setelah aku belajar menulis begitu lama hingga novelku bisa menduduki posisi Best Seller. Aku malah mengambil risiko tinggi dengan masuk kuliah di Universitas Terbuka dan mengambil jurusan Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan. Saat lagi sibuk-sibuknya kejar tayang deadline novel, sibuk juga ngerjain tugas kuliah yang buanyak banget dan selalu deadline.

Kenapa sih ambil kuliah Sastra Inggris?

Yah, agak riskan sebenarnya dengan kemampuan bahasa Inggrisku yang minim banget. Tapi itulah yang bikin aku semangat. Aku pengen bisa bahasa Inggris. Setidaknya, untuk mengajar anak sendiri. Lebih seneng lagi, kalau aku juga bisa terbitkan novel berbahasa Inggris suatu hari nanti. (Ini mimpi, berdoa jadi kenyataan)

Dan hari ini ... aku ikut hadir dalam acara Klinik Belajar Tugas dan Ujian yang diadakan oleh Pokjar Amanah di Hotel Benakutai Balikpapan.

Seneng banget bisa hadir di acara ini.
Meski aku terlambat satu jam karena terkendala hujan deras dan lokasiku ke sana yang membutuhkan waktu hampir dua jam.
Di sini, aku bisa kenal dengan teman-teman baru. Mereka semua ramah. Aku pikir, cum aku doang emak-emak yang ambil kuliah di sana. Ternyata, ada banyak juga yang ambil kuliah meski sudah menikah dan punya anak. Yah, lumayan mengurangi tingkat insecure aku.

Sayangnya, Mahasiswa Prodi Sastra Inggris itu nggak banyak. Aku cuma ketemu sama dua orang temen di sana. Mbak Rani yang super duper bawel dan Melly yang super duper pendiem alias introvert banget.

Meski begitu, tetep seru sih. Ada yang diajak foto-foto bersama.
Aku mah, udah cekrak-cekrek aja tanpa tahu malu. Udah muka paling kucel, paling hitam, paling kampungan dan nggak punya malu juga. Hahaha.
Udahlah. Aku pikir, berteman tidak memandang warna kulit, kok. Biar nggak insecure melulu. Jujur, aku paling takut di depan kamera karena wajahku nggak cocok untuk dipajang.
Akibat dari keterlambatanku kali ini, akhirnya ya nggak punya teman. Semua juga sudah sibuk sama temannya masing-masing. Malu-malu gimana gitu kan? Secara, aku tuh kerjaannya di dalam rumah terus. Jarang bergaul. Jadi, agak sulit deh mau ngomong sama yang lain. So, kalau aku diam dan kehabisan kata-kata ... kamu ajak aku ngomong, ya! Supaya dunia kita ini tidak sepi.

Nah, ini nih temen prodi aku yang ketemu di sana. Mbak Rani yang super duper bawel, penyayang anak (Yang pakai kerudung kuning) karena dia guru bimbel dan private. Satunya lagi si Melly, pendiem, introvert, anak rumahan yang nggak bisa diajak jalan (hihihi).
Jangan tanya aku yang mana. Aku yang tengah, dong. Si kulit cokelat yang manis. Eeeaak ...
Pede amat ya ngomong gitu? Wkwkwk.

Oke. Ini perkenalan dan cerita singkat aku di kegiatan Klinik Belajar ini. Semoga, bisa bermanfaat. Menambah keilmuan dan pertemanan.

Buat kalian yang jurusan Sastra Inggris seperti aku ... komen di bawah, dong! Biar aku punya teman lebih banyak lagi. Yah, kalo kalian sudi berteman denganku, sih.


Salam kenal...!

Jangan lupa tinggalkan komentar!

MuchLove,
@rin.muna



Sunday, November 7, 2021

Mainan Buatan Si Mbah





Ini kisah sederhana yang ingin kutuliskan untuk masa depan. 
Untuk putera kecilku yang mungkin saja akan membacanya 10 tahun lagi.

Foto yang aku ambil ini adalah salah satu mainan favorite puteraku. Sederhana, tapi penuh makna bagiku.

Ini adalah salah satu mainan yang dibuatkan oleh bapakku. 
Bapakku bukan pensiunan pegawai negeri, bukan mantan karyawan swasta yang punya banyak tabungan untuk manusia. Beliau lahir sebagai petani dan sampai sekarang masih aktif bertani. 
Sebagai petani kecil, tentunya kedua orang tuaku tidak memiliki banyak penghasilan. Bahkan, untuk sekedar membelikan mainan saja, mereka pasti berpikir. Masih ada hal yang harus diprioritaskan, yaitu bahan makanan untuk makan besok.

Aku juga bukan pegawai yang memiliki penghasilan tetap. Kegiatan sehari-hariku hanya menjadi penjahit kecil dengan penghasilan rata-rata hanya dua puluh ribuan setiap harinya. Itulah sebabnya, aku juga harus berhemat dan berhati-hati dalam menggunakan uang. Tidak bisa membelikan banyak mainan untuk anak-anakku.


Saat ini, aku memilih menjadi seorang single mother. Terlalu banyak rasa sakit yang harus aku jalani ketika hidup berumah tangga sampai akhirnya aku memutuskan untuk melepaskan seluruh beban dan rasa sakit ini. 

Selama ini, aku hanya mengandalkan bertahan hidup dari tulisan-tulisanku. Dari pembaca yang berkenan membaca novelku.

Aku tidak punya banyak uang untuk membelikan mainan baru. Terlebih setiap kali membelikannya, pasti langsung dirusak karena sifat puteraku yang memang keras dan perusak nomor satu di dunia.

Sampai akhirnya, aku yang tidak tahu harus membelikan mainan seperti apa yang bisa awet di tangan puteraku. Bapakku dengan telaten membuatkan mainan untuk putera kecilku. Sederhana saja, mainan dari ban mobil bekas yang sudah rusak dan pipa bekas instalasi listrik, dirakit olehnya. Kalau kata bapakku, itu namanya 'gledegan'. Entah kalau di daerah lain, namanya apa.

Meski hanya mainan sederhana dan tak butuh modal banyak, hanya bermodalkan barang bekas, puteraku sangat menyukainya. Setiap harinya, dia akan mendorong 'gledegan' ini sambil berjalan kaki di halaman rumah atau di jalanan depan rumah. 

Terima kasih, Mbah ...!
Si Mbah selalu menyayangi cucunya dengan tulus. Meski tak punya uang untuk membelikan mainan cucunya, tapi selalu punya cara untuk membuatkan mainan untuk cucu-cucu kesayangannya. 

Terkadang, aku merasa bersalah.
Hidupku sudah sangat merepotkan kedua orang tuaku selama belasan tahun. 
Sampai aku menikah, aku justru semakin merepotkan mereka. Merepotkan mereka dengan membantu mengurus dan menghidupi anak-anakku.

Semoga, aku bisa membayarnya dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih mulia untuk kalian ... orang tua yang kasihnya takkan hilang sepanjang masa.


Nak, jika 10 tahun kemudian kamu membaca tulisan ini. Ingatlah, ada hal kecil yang lebih berharga dan berarti yang membuatmu bisa hidup hingga membaca tulisan ini...


Much Love,

Rin Muna
 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas