Blog ini menceritakan tentang Kehidupan yang aku jalani. Keseharian yang ada dalam hidupku. Tentang cinta, tentang perjuangan dan pengorbanan, tentang rasa sakit dan tentang orang-orang yang ada di dalam kehidupanku. Tentang Desa Kecil dan gadis kecil yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat sekitar.

Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Tuesday, October 8, 2019

Menyerah ...



Kamu ada ...
Tapi kamu tak pernah tahu berapa banyak penderitaan yang aku rasa.
Kamu tak pernah tahu berapa dalam luka yang kupunya.
Kamu tak pernah tahu berapa luasnya air mata yang aku tampung

Kamu tak pernah sembuhkan luka
Kamu tak pernah keluarkanku dari derita
Kamu tahu aku luka
Kamu beri aku luka
Kamu tambah aku luka
Kamu seolah lupa
Bahwa lukaku terus kau lukai

Lalu tuk apa kau berdiri di sisi?
Jika janji mengajak bahagia kau ingkari?
Lalu tuk apa kau ada di hati?
Jika kau sembuhkan luka dengan melukai?

Kamu saksikan air mataku berderai dalam tiap-tiap malamku ...
Kamu saksikan kakiku berjalan merangkak penuh luka-luka ...
Kamu saksikan tanganku berdarah menggapai cita kita.

Tapi kamu tetap diam membisu
Mendorongku ke lubang penderitaan yang lebih dalam...
Hingga akhirnya aku memilih
MENYERAH ...




Ditulis oleh Rin Muna
Dalam lautan air mata ...

8 Oktober 2019


Friday, September 20, 2019

Puisi Akrostik | Rahma Nur Syifa Solehah | Rembulan di Atas Rembulan


 
pixabay.com

Judul Puisi "Rembulan Di Atas Rembulan"


Rembulan bersinar terang
Aku menikmatinya di ruang kelam
Hatiku merekah terterkam cahayanya
Mataku memantulkan cahaya keindahan
Anganku terbang melayang jauh ke angkasa

Niatku untuk mengulum cahaya
Ukirkan keindahan seluas angkasa
Rangkai berjuta cahaya penuh warna

Saat aku termenung menyapa diriku sendiri
Yang hanya meninggalkan jejak-jejak kesendirian
Indahnya dunia tak seindah kesendirianku
Fitrahku mengagumi cahaya di atas cahaya
Asaku ku ukir indah bersamanya

Saat itu, kesendirian jadi penenang tidurku
Obat yang mujarab bagi kegelisahan
Lukisan cahaya rembulan di atas rembulan
Elok tak terkira
Hanya aku yang ada di sini
Aku ingin ada di antara kalian
Harapan yang tak putus tergantung di atas rembulan


ditulis oleh Rin Muna
Samboja, 22 Juli 2018

Puisi Akrostik | Caca Rahmadi | Ceria Kita


 
pixabay.com

Judul Puisi “Ceria Kita”

Karya : Rin Muna

Cerita kita hadir bukan tanpa alasan
Antara kau dan aku sudah jadi suratan
Ceria kita hadir bukan tanpa balasan
Antara aku, kau dan mereka sudah jadi ingatan

Rasa cinta kan mengalahkan segala hina
Angkara yang kadang merasuk ke dalam jiwa
Hanya tawa ceria yang mampu meredam segala
Marah yang terkadang membawa petaka
Akankah cerita kita berakhir sengsara
Dan kamu hanya jadi bagian terlupa
Inginku ... selamanya kita bersama dan bahagia

Kalimantan Timur, 18 Oktober 2018

Puisi Akrostik | Aisyah Nurul Hidayah | Mimpi Pipit Kecil


 

 

Judul Puisi "Mimpi Pipit Kecil"


Aku bagai pipit yang baru merekah di antara semak belukar
Ingin belajar berjalan tanpa kaki, ingin belajar terbang tanpa sayap
Setiap apa yang kulihat adalah keindahan dunia
Yang bahkan semua makhluk tak menyadari dengan syukur tak terkira
Aku ini kecil, lemah, dan dunia begitu besar penuh pesoa
Hingga aku tak mampu melihat semua dengan kedua mataku

Napas pertama yang kuhembus adalah harapan setiap mimpi
Untuk mengubahnya menjadi nyata tak sekedar ilusi
Raga pertama yang bergerak adalah harapan setiap doa
Untuk mengubah mimpi jadi nyata dengan kekuaran doa
Lalu mencipta duniaku sendiri penuh keceriaan

Hempasan setiap sayap-sayap elang menciptakan rasa takut tak bertepi
Ingin aku bisa terbang agar tak tertelan
Dalam setiap kepakkan sayap kecil yang memeluk butir-butir awan putih
Aku ini kecil, lemah dan siap diterkam siapa saja yang serakah
Yang sedang bermimpi terbang menembus awan
Aku ingin kisahku abadi di sana, di negeri awan yang indah
Hingga aku menutup mata, namaku tetap abadi di udara


Ditulis oleh Rin Muna

Samboja, 17 Juli 2018

Sunday, July 21, 2019

Puisi Akrostik | Rizki Rangga Pratama | Rumah Kita



Judul Puisi "Rumah Kita"


Ramai kau hadirkan dalam setiap ruang
Ilusi tentang cinta dan kasih dalam satu detik
Zaman sudah berubah saat kau beranjak dewasa
Kini kau bukan lagi wajah merah yang hadirkan tawa
Indah dikala bibir mungilmu menyunggingkan senyuman

Rumah ini adalah tawa kita
Aku, kamu dan mereka
Niscaya akan kita temukan indahnya ruang yang kita cipta
Gubuk-gubuk kecil yang dulu usang hampir hilang
Gubuk-gubuk kecil yang kini menjadi kenangan
Akan apa yang pernah ada dalam kisah kita

Pagar-pagar rumah kita jadi saksi
Rahasiakan cerita dalam ruang yang terkadang hampa
Antara suka dan duka di dalamnya
Tempat kita saling bergenggam tangan walau banyak luka
Akankah kau selalu ada dalam cerita kita?
Mengukir setiap dinding rumah kita dengan cinta
Alangkah indahnya saat kau tetap ada menjadi kita


Nama : Rizki Rangga Pratama

Ditulis Oleh Rin Muna
Kalimantan Timur, 13 Oktober 2018

Tuesday, July 9, 2019

Puisi Akrostik | Asmilah | Kupeluk Peluh

Judul “Kupeluk Peluh”

Source : www.pixabay.com

Andaikan waktu mampu kutempuh dalam jenuh
Suasana hati yang kadang dilanda rasa gemuruh
Mungkin hatiku tak kan menjadi rusuh
Ikatan hati antara kita jangan sampai gaduh
Lalui jalan hidup tanpa mengeluh
Aku kan tetap berdiri memeluk berjuta peluh
Hingga hari-hari indah kan mampu kita rengkuh
~Rin Muna~
Kalimantan Timur, 6 Desember 2018

Puisi Akrostik | Suramen | Rindu

Judul "Rindu"

Source : pexels.com

Simfoni rindu menusuk kalbu
Untukmu yang kukenang tak mampu kusentuh
Rindu-rindu yang begitu dalam
Akankah kusampaikan mata ini melihatmu lagi
Mengenangmu saja sudah membuat hatiku bergetar
Engkaulah yang selalu kurindukan
Namun tak sedetikpun kulihat indah senyummu

Samboja, 2017

Puisi Akrostik | Sriwigati | Sholat

Judul "Sholat"
 
Source: www.pixabay.com
Seruan adzan berkumandang
Ramai orang berdatangan
Ingin menghadiri undangan Tuhan
Wudhu sucikan diri di hadapan Illahi
Indahnya sujud dalam kedamaian
Gerak sholat sejajar dalam barisan
Agungkan kebesaran Allah
Tiada terpikir gemerlap dunia
Indahnya sholat berjamaah di rumah Allah

Samboja, 2017

Puisi Akrostik | Sukirman | Kuatkanku

Judul "Kuatkanku"
 
Source: www.pixabay.com
Saat ku letih berjalan
Uluran tanganmu membangkitkanku
Kuatkan langkah demi langkah
Ingin ku menyerah dalam setiap luka
Rasa sakit yang terus mendera
Menyiksa hati dan jiwa dalam naungan
Aku rapuh dan ingin menyerah
Namun kau hadir kuatkanku


Samboja, 2017

Puisi Akrostik | Asih Nurdiati | Setia

Judul "Setia"
 
Source : www.pixabay.com
Angsa putih itu mengajarkanku tentang kesetiaan
Sakit, tangis dan tawa yang sudah kita lalui
Indahnya kupeluk erat semua luka yang ada
Hampir ku menyerah jalani semua

Namun hadirmu bagai cahaya yang tak pernah redup
Uluran kasih sayangmu tak pernah jenuh sedetikpun
Rasa yang ada menjadikan kita kuat dan setia
Dalam buaian yang jatuh sejatuh-jatuhnya
Ingin kutinggalkan semua luka dan duka
Aku takkan pernah menyerah mencintaimu
Tak kan kubiarkan sabarku bersudut
Indahnya cinta saat kupeluk semua rasa


Samboja, 2017

Puisi Akrostik | Rendi Setiawan | Rinai Hujan

Judul "Rinai Hujan"

 
Source : www.pixabay.com
Rinai hujan basahi tubuhku
Entah berapa lama menunggunya hengkang
Nada petir menggelegar menusuk telinga
Dentuman geledek menemaninya
Inilah hujan dan segala tentangnya

Semilir angin lembut yang terkadang menjadi badai
Entah kenapa hujan tak dapat kutebak
Tapi dapat kurasakan hadirnya membawa sejuta tanya
Ingin kunikmati lembutnya tetes demi tetes
Alangkah indahnya saat mentari jadi saksi kala hujan
Warna-warni yang terukir di atas awan
Awan yang selalu hadir meneduhkan hati yang panas
Niscaya hujan akan selalu memberi kebaikan pada yang baik



Ditulis Oleh Rin Muna

Puisi Akrostik | Khasanah | Dirimu

Judul "Dirimu"
 
Source : www.pixabay.com
Kasihmu tiada dapat kuterka berapa luasnya
Hatimu tiada dapat kuterka berapa dalamya
Amalmu tiada dapat kuterka berapa banyaknya
Sayangmu tiada dapat kuterka berapa jumlahnya
Asamu tiada dapat kuterka berapa tingginya
Nadimu tiada dapat kuterka berapa lelahnya
Api semangatmu tiada dapat kuterka berapa suhunya
Harimu tiada dapat kuterka berapa banyak harapannya



Ditulis oleh Rin Muna

Puisi Akrostik | Mulyono | Hari Tua

Judul "Hari Tua"

 
Source: www.pixabay.com
Mungkin ragamu tak lagi kuat tuk berjalan
Untuk mendengar setiap kata tak lagi seindah dulu
Lihat dunia menjadi semu
Yang dulu muda sekarang renta
Oh... betapa cepatnya hidup berubah
Namun semangatmu tak pernah pudar
Oh... Tuhan, jagalah dia dalam indahnya pelukmu

Puisi Akrostik | Khotimah | Ibu ...

Judul Puisi “Ibu...”

Source: pixabay.com

Kata yang terucap dari bibirmu adalah do’a
Harapan dan segala cita kau tumpukan padaku
Orang bilang kau adalah pejuang tertangguh dalam hariku
Tak pernah mengeluh walau jutaan peluh menetes dalam pilu
Ibu... namamu tak kan pernah terganti di hati ini
Manusia terhebat yang hadir dalam hidup ini
Aku sungguh cintaimu dalam kebodohan ini
Hanya do’a-do’a yang bisa kupanjatkan untuk memberimu istana surgawi
 Samboja, 17 Juli 2018
Teruntuk wanita terhebat dalam hidupku.

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas