Berbagi Cerita Hidup, Berbagi Inspirasi

Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Monday, May 20, 2019

[Puisi] Kisah Sehari - Arya Eka

pixabay.com/Republica

KISAH SEHARI
Karya : Arya Eka


Pagi adalah sahabatku,
yang mengajarkan tentang semangat dan keyakinan,
dalam sejuk dan terangnya.

Siang adalah majikanku,
yang mengajarkanku tentang perjuangan dan ketegaran
dalam terik dan debunya

Sore adalah guruku
yang mengajarkan tentang hikmah atas kisah hari ini,
dalam syahdu dan letihku.

Malam adalah kekasihku
Di mana aku dalam peluknya,

Tempat aku bercerita tentang suka, duka, lara dan menyusun rencana esok hari.
Di pangkuannya aku tertidur,
maka lepaslah segala penat hari ini.




Beringin Agung, Mei 2019
Taman Bacaan Bunga Kertas

Sunday, May 5, 2019

Puisi | Diriku - Aisyah N.H


pixabay.com/joenomias


Diriku

Aku membuka mata dalam kegelapan           
Saat detak jantungku terdengar asing…
Aku melihatmu di cermin…
Mata yang ketakutan, mengajukan sebuah pertanyaan

Mencintai diri sendiri…
Mungkin lebih sulit daripada mencintai orang lain
Mari kita mengakuinya…
Lingkaran pohon yang tebal dalam hidupmu, itu bagian dari dirimu,
sekarang mari kita memaafkan diri kita sendiri…
Hidup kita panjang, percaya dirilah…
Sejak musim dingin berlalu, musim semi selalu datang…

Dari mata malam yang dingin, aku mencoba menyembunyikan diri
Saat aku terus berputar dan berputar
Mungkin aku jatuh…
Untuk mengambil bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya.
Target dari ribuan panah itu adalah aku sendiri

Kau telah menunjukkan padaku…
Bahwa aku punya sebuah alasan
Aku harus mencintai diriku sendiri…
Aku akan menjawabnya dengan nafasku, jalanku…
Aku yang kemarin, aku di hari ini, aku di hari esok…
Aku belajar mencintai diriku sendiri
Tanpa kecuali, itu semua adalah aku.
Mungkin tak ada jawaban…                                                                                                      

Mungkin ini juga bukan jawabannya
Hanya saja mencintai diri sendiri tak memerlukan izin orang lain
Aku mencari diriku lagi…                                                                                                

Namun aku tak ingin kembali mati
Aku yang dulu sedih, aku yang dulu terluka
Itu akan membuatku jauh lebih cantik…

Aku memiliki kecantikan itu…
Mengetahui hal itu disaat aku berada di jalan untuk mencintai diri sendiri
Itu yang paling aku butuhkan…
Aku berjalan sendiri
Itu adalah tindakan yang di perlukan untukku…                 
                       
Sikapku terhadap diriku sendiri
Itulah kebahagiaan yang aku butuhkan untukku…
Aku akan menunjukkannya padamu apa yang aku dapatkan
Aku tak takut karena itu adalah aku yang mencintai diriku sendiri.

Sejak awal sampai akhir…
Hanya ada satu jawaban
Mengapa kau terus berusaha tuk sembunyi di balik topengmu?
Bahkan semua bekas luka dari kesalahanmu telah membentuk.

Di dalam diriku…
Masih ada bagian yang canggung dari diriku, namun…
Kau telah menunjukkan padaku bahwa aku punya sebuah alasan
Aku harus mencintai diriku sendiri…
Aku akan menjawabnya dengan nafasku, jalanku…             




Ditulis oleh
Aisyah N.H
Samboja, 5 Mei 2019

Wednesday, April 3, 2019

Puisi | Pagi Sahabat

Pixabay.com

Pagi ini aku berlari-lari
Kamu kejar aku dan terus berlari
Jangan berhenti
Jangan berhenti
Sampai kita raih cita dan mimpi

Pagi ini aku langkahkan kaki
Bersama dirimu merangkai hati
Kita ciptakan ribuan mimpi
Dan mewujudkannya dengan jemari

Kita bisa kawan
Walau kita beda, kawan.


Rin Muna
East Borneo, 03 April 2019

Sunday, March 24, 2019

Puisi | Cahaya Cinta


geralt

Satu.
Setelahnya, harus aku hitung mundur atau maju?
Beriku satu alasan saja.
Agar aku tahu, ke mana langkah kan tertuju

Di tengah ruang pekatnya malamku
Satu per satu kuhitung rindu.
Supaya kamu tahu,
Ada milyaran rindu dalam sedetik waktu

Kamulah ...
Kamulah tersangkanya.
Kamulah satu-satunya orang yang kudakwa.
Sebab telah mencuri hatiku
Dan tak pernah membawanya kembali

Dan jadilah kamu pemilik hatiku
Dan jadilah kamu cahaya dalam gelapku
Dan jadilah kamu tawa bahagia dalam setiap langkahku.

Jangan pernah coba tuk pergi
Sebab aku tak mampu melangkah dalam gelap.
Kaulah satu-satunya cahaya cinta di hati ini.
Maka, tetaplah bersinar walau sinarmu tak hanya untukku...


Rin Muna
20 Marer 2019

Friday, March 22, 2019

AKU

Pixel2013

Aku ...
Laksana siluet pohon di antara bias cahya senja yang indah
Aku ...
Bergumul pada titik hitam yang menghiburku

Aku berdiri di sini
Dalam kelam
Dalam tangis
Dalam lelah
Dalam sendu
Dalam kegelapan

Di antara ...
Bias cahaya mentari yang mengintip dari peraduan
Awan-awan yang dilukis begitu indah
Air tenang yang menyadarkanku bahwa aku tak sendiri

Walau aku kelam, aku hitam
Di mata bias cahaya indah yang hiasi senja
Aku tetap bisa lihat keindahan
Yang terbentang indah di sekitarku



Rin Muna
East Borneo, 22 Maret 2019

Wednesday, March 20, 2019

Puisi | Cinta Cita Kita

Silviarita


Telah kurajut detik demi detik
Hanya untuk tahu siapa aku bagimu
Dalam setiap simpul waktu
Kamu yang kujaga menepi di sana

Haruskah aku hapus yang aku yakini?
Haruskah aku buang yang aku punyai?

Tak mudah bagiku mengulang waktu yang hilang
Tak mudah bagiku mengulang kisah yang usang

Kita selalu bersama tapi tak pernah bicara
Aku lukis semua dinding dengan kisah kita
Agar kamu bisa sesekali menyapa
Mengingat bahwa kita pernah berjalan bersama

Namun semua tetap terasa bisu dan semu
Tak pernah kudengar sapamu
Walau ribuan detik kita habiskan duduk bersama
Bagaimana aku tahu masih ada cinta?
Sementara sapamu tak lagi ramah untuk cita kita.
Bunuh saja semua cinta dan cita kita!
Dan hancurkan, melayang jadi debu ...



Rin Muna
East Borneo, 20 Maret 2019 

Wednesday, March 13, 2019

Rumah


Rumah

Fietzfotos

Aku jejaki setiap ruang
Kemudian pergi mencari uang
Tak tentu kapan akan pulang
Menunggu hari-hari luang

Hari-hari luang aku pulang
Merebahkan diri bermimpi di atas ranjang
Jam-jam luang aku pulang
Menyapa jiwa-jiwa yang aku sayang

Terkadang berbulan-bulan aku tak pulang
Dirindukan orang-orang yang aku sayang
Sejauh apa pun aku melayang-layang
Rumah, tempatku kembali pulang
Sejauh mana pun aku terbang
Rumah, tempatku rindu memadu kasih sayang

Sejauh mana pun aku melangkah
Rumah adalah tempat terbaik untuk pulang
Sejauh mana pun aku berkelana
Rumah adalah tempat terindah untuk pulang
Sejauh apa pun kaki ini pergi
Ia tak pernah lupa rumahnya untuk pulang


~Rin Muna~
Kalimantan Timur, 01 November 2018

Aku Tak Peduli

Aku Tak Peduli
ThuyHabich


Aku tak peduli siapa kamu
Aku cinta
Aku tak peduli seperti apa dirimu
Aku terlanjur cinta
Aku tak peduli bagaimana dirimu
Aku sudah cinta

Aku tak peduli langit menghitam
Aku tetap cinta
Aku tak peduli ombak lautan menghantam
Aku tetap cinta

Aku tak peduli seribu pedang menembus dada
Aku akan cinta
Aku tak peduli sejuta panah bersarang di kepala
Aku akan tetap cinta

Aku tak peduli ratusan pisau menyayat kulitku
Aku sudah cinta
Aku tak peduli puluhan belati menembus jantungku
Aku sudah cinta

Aku tak peduli jutaan orang akan menjatuhkan langkahku agar berhenti mencintaimu
Aku sudah terlanjur cinta
Aku tak peduli miliaran kata biadab menghujani hatiku agar berhenti mencintaimu
Aku sudah terlanjur cinta


Ditulis Oleh Rin Muna
Kutai Kartanegara, 3 Agustus 2018
Teruntuk dirimu, yang membuatku jatuh cinta tanpa alasan (Alifia Shaumi Aleshana)

Kopiku Sendiri


Kopiku Sendiri

freephotocc


Kopiku
Masih hangat
Kusesap sendiri berteman sepi
Secangkir saja
Sunyi

Kopiku sendiri
Satu cangkir di meja sudut ruang
Tak berdenting bertemu cangkir yang lain
Tak bersapa dengan kopi yang lain

Di seberang meja
Kopi-kopi riuh penuh canda tawa
Cangkir-cangkir berdenting saling menyapa
Tawa bahagia dari penikmatnya

Kutatap kursi kayu di depanku
Kosong ...
Tak ada senyum penikmat kopi menemani
Aku tersenyum pada diri sendiri
Aku tertawa untuk diriku sendiri

Kopiku sendiri.
Sama dengan jiwaku

Menanti hadirmu
Sendiri!

~Rin Muna~
Kalimantan Timur, 16 Oktober 2018

TSUNAMI


Tsunami
Bumi bergetar
Merangkak memeluk alam
Dalam derap langkah dan jeritan
Luka menghampiri tanpa bisa dihindarkan

Bumi berguncang
Merayap-rayap aspal jalanan
Tanah penghisap angkara merekah

Bumi bergoyang
Gedung tinggi runtuh
Rumah-rumah runtuh
Jalan-jalan jatuh meluruh

Lautan menjerit layaknya bocah tantrum
Sulit hentikan riakannya
Sulit hentikan tangisannya

Pecah...!
Buyar...!
Tumpah...!

Melahap semua yang ada di hadapannya
Tanpa ampun...
Tanpa permisi...
Semua hancur, semua melebur

Apa yang telah dibangun dengan keindahan dan kebahagiaan
Kini raib ... menyisakan air mata tanpa kata-kata

Tsunami ... namamu begitu indah kala kau damai dalam pembaringan
Tsunami ... namamu begitu menakutkan kala kau menjerit tanpa bisa dihentikan

Kaulah alam yang memarah, yang memeluk alam dalam tangisan
Lalu kau tumpahkan tanpa peringatan
Banyak nyawa kau rebut atas nama Tuhan
Hadirmu adalah peringatan
Agar manusia ingat pada siapa yang menciptakan.


-Rin Muna-
Kalimantan Timur, 29 September 2018
Turut Berduka cita atas Tsunami Palu, 28 Septermber 2018

Fatamorgana Rasa


Fatamorgana Rasa


Peticasso

Kau rengkuh aku ke dalam kata tanpa jeda
Kau tarik aku ke dalam palung kata tanpa raga
Kau sentuh aku dengan rasa cinta berbalut ukiran kata

Lihatlah aku ...!
Aku kagumimu bagai mentari yang mengajarkan kehangatan
Aku kagumimu bagai lembayung senja yang mengajarkan kasih sayang
Aku kagumimu bagai rintik hujan yang mengajarkan kebahagiaan
Aku kagumimu bagai pelangi yang mengajarkan keindahan

Lihatlah aku ...!
Aku kini pilu dalam derap langkahku
Aku kini ngilu dalam sanubari hatiku
Aku kini bisu dalam setiap hariku

Tak bisakah kau hadir abadi dalam hatiku?
Tak sekedar fatamorgana yang mengusik rasa

Tak bisakah kau hadir abadi dalam diriku?
Tak sekedar fatamorgana yang mengusik jiwa

Tak bisakah kau hadir abadi dalam hari-hariku?
Tak sekedar fatamorgana yang mengusik asa

Aku ... tetap mencintaimu dalam anganku
Walau di hatiku bersemayam pilu
Walau di hariku berselimut pilu
Kamu ... tetap kekaguman terindahku ...

~Rin Muna~
Kalimantan Timur, 22 September 2018

Poskamling Cinta


Poskamling Cinta
Halbtonfoto

Aw ...!
Aku mengaduh saat jemari tanganmu mendarat di pundakku
Mengusir nyamuk yang asyik mengisi perut

Malam, kelam, sepi
Dan aku masih duduk di poskamling

Poskamling jadi saksi bisu cerita kita
Poskamling jadi saksi bisu cinta kita
Saat kau jaga hatiku dalam dekapmu
Saat kau jaga hatiku dari badai yang menerpa

Kau tahu?
Setiap malam aku rela biarkan dingin angin menusuk kulitku
Demi bisa menyaksikan indahnya bintang bersamamu
Di poskamling cinta kita

Kau tahu?
Setiap malam aku rela datang ke poskamling
Dengan teko panas berisi kopi
Untuk mengenang cerita kita yang kini tiada

Kau jaga banyak orang agar tetap aman dan nyaman menikmati mimpi
Namun kau lupa menjaga hatimu sendiri
Hingga kau biarkan hatimu terenggut begitu saja
Bahkan kau tak pernah peduli
Darah yang kukorbankan demi menjaga hatimu itu

Kau pergi bersamanya
Menyisakan luka tiada tara
Hanya poskamling saksi sejarah cerita kita
Walau luka, namun tak kan pernah ku lupa

~Rin Muna~
Kalimantan Timur, 22 September 2018

Puisi | Aroma Surgawi



Aroma Surgawi

[nosheep]

Kubasuh setiap peluh yang menetes dari kulit keriputmu
Kubasuh setiap kain yang membalut tubuh rentamu
Kuhirup aroma surgawi yang kata orang... itu pesing
Kuhirup aroma surgawi yang kata orang... itu bau
Kuhirup aroma surgawi yang kata orang... itu risih

Setiap hari kubasuh kakimu yang tak lagi wangi
Setap hari kubasuh lenganmu yang tak lagi kuat
Setiap hari kubasuh rambutmu yang telah rontok dan memutih

Aku suka aroma kakimu
Kata orang... seperti aroma keong yang telah membangkai
Tapi bagiku, kakimu adalah aroma surga yang ingin kuciumi setiap waktu

Aku suka aroma rambutmu
Kata orang... seperti aroma kain yang terendam air ratusan hari
Tapi bagiku, rambutmu adalah aroma surga yang ingin kusentuh setiap hari

Aku suka aroma tubuhmu
Kata orang... seperti kerbau yang bermandi lumpur
Tapi bagiku, tubuhmu adalah wangi kasturi surgawi

Ibu...
Kini kau tak wangi lagi
Kini kau tak muda lagi
Kini kau tak menarik lagi
Tapi... dalam dirimu aku cium aroma surgawi

Izinkan aku menciumi bau kaki ini
Izinkan aku menghirup aroma tubuh ini
Aku ingin mendekapmu dalam bahagia
Hingga waktu itu tiba
Bersama menikmati aroma taman surgawi
Di alam yang kekal nan abadi

Kalimantan Timur, 17 September 2018

[Puisi] IBU - Budiman Adi Yaksa | Taman Bacaan Bunga Kertas



PublicDomainPictures

Ibu ...
Kaulah wanita yang mulia
Derajatmu jauh lebih tinggi dibanding ayah yang kusayang
Kau mengandung,
melahirkan,
menyusui,
mengasuh dan merawat kami
Hingga putra-putrimu menjadi dewasa

Ibu ... 
Rautan kasih sayang di setiap insan
Matahari alam sebagai perumpamaan dunia dan isinya

Belumlah nepa dan sebagai balasan ibumu
Doanya terkabulkan, keramat di dunia kutukannya

Jadi, jangan coba durhaka kepada Ibu
Surganya Allah ada di bawah telapak kaki ibumu.
Ridhonya ibumu, ridhonya Allah.

Wahai anak-anak, janganlah menjadi durhaka pada ibumu ...!



Karya : Budiman Adi Yaksa (Taman Bacaan Bunga Kertas)
Samboja, 23 Februari 2019

Monday, March 11, 2019

Puisi | TLENIS [Sebelum Gerimis]

tonixjesse


Satu tetes ...
Jatuh di atas telapak tanganku
Terjeda oleh cerita

Dua tetes
Jatuh di atas satu helai rambutku
Terjeda oleh kisah kita

Tiga tetes
Jatuh di atas pangkuanku
Terjeda oleh kata-kata

Dia hadir tuk basahi relung jiwa
Sebelum gerimis menyentuh kalbu yang sepi
Sebelum gerimis menyapa nadi yang sendiri

Tlenis ...
Satu demi satu tetesan jatuh dari langit
Berusaha basuh jiwa-jiwa yang gersang
Namun belum mampu menyejukkan
Hingga gerimis ikut menyapa
Hingga hujan ikut menyertai
Hingga badai ikut mengukir kenangan

Tlenis mengajarkan cerita hidup penuh makna
Bahwa kita hadir tak langsung menjadi besar
Bahwa kita ada tidak terlahir dari badai
Kita terlahir seperti tlenis
Sebelum tercipta gerimis kemudian hujan lalu badai
Menetes-netes bersama angin yang melambai
Mengajak kita merangkai cerita bersama
Di bawah payung-payung dalam kaki-kaki yang tergenang untuk dikenang



Ditulis oleh Rin Muna
Samboja. 11 Maret 2018
Bersama alunan tlenis yang berubah menjadi gerimis


Tuesday, March 5, 2019

Puisi | Hujan Musim Kemarau

Free-Photos
Di antara miliaran debu yang beterbangan
Kau tiba-tiba hadir mengukir sebuah kenangan
Di antara dedaunan yang mengering
Kau tiba-tiba hadir membawa kesejukan

Dari tanah gersang kering kerontang
Kau datang membasahi setiap retakan tanah gersang
Merasuk sampai damai dalam kehangatan

Setetes demi setetes kau jatuh ke bumi
Membasahi langkah kaki yang hampir mati
Menyejukkan jiwa yang hampir lelah menanti
Menanti air yang menghidupkan kembali pohon-pohon yang mati
Menyuburkan kembali tanah-tanah tandus di tengah hari
Melukis keindahan warna di antara terik matahari

Hujan ...
Tiba-tiba kau datang di tengah kemarau
Saat aku hampir putus asa mencari sumber kehidupan

Dan kamu ... hati dan jiwa yang selalu di sisi
Kunanti lembutnya jemari menyejukkan hati
Kini sudah hujan
Jangan kau hiasi kisah kita dengan amarah
Jangan kau hiasi kisah kita dengan panas mentari membara
Tetaplah di sini bersama hujan di tengah kemarau
Agar kamu tahu, kisah kita menentramkan hati
Agar kamu tahu, kisah kita menyejukkan jiwa
Maka jangan pernah berpikir pergi 
saat aku tak mampu memberimu setetes cinta di musim kemarau
Sebab kita hanya butuh waktu
Untuk membasahi kisah kita yang menggersang
Aku tak kan biarkan hatimu terbakar
Sebab hujan pasti datang
Dan kita tetap bersama
Sampai musim kemarau dan hujan yang akan datang




Rin Muna
Kutai Kartanegara, 05 Maret 2019

Saturday, March 2, 2019

Dan Kamu



Lihat ...!
Aku di sini
Masih di sini
Menanti ...
Kamu yang pernah di sini
Kini pergi...
Kini hanya dalam mimpi

Lihat...!
Aku masih berdiri
Memeluk hati yang berduri
Melukai sebab kurindui

Aku belum pergi
Dan kamu belum juga kembali
Membiarkan hati ini menanti
Sedang kamu sudah berpindah ke lain hati

Dan kamu ...
Lukai aku bukan dengan kata
Lukai aku bukan dengan mata
Lukai aku bukan dengan rasa

Dan kamu ...
Lukai aku dengan 1 kisah cinta



Rin Muna, Samboja 01-03-2019

Sunday, February 24, 2019

IBU | Fathul Arifin | Taman Bacaan Bunga Kertas

Source: pixabay.com


IBU
Karya: Fathul Arifin

Ibu...
Kasihmu sepanjang masa
Terima kasih atas kasih cinta dan perjuanganmu terhadapku
Mengandungku...
Melahirkanku...
Menyusuiku...
Mendidikku...
Oh... Ibu...
Terima kasih atas pengorbananmu
Kau mengandungku selama sembilan bulan
Kau merawatku dengan kasih sayang dan tanpa letih
Kau menjagaku

Terima kasih Ibu
Atas apa yang telah kau berikan kepadaku
Aku akan selalu menyayangimu...







TENTANG PENULIS

Nama Lengkap  : Fathul Arifin
Nama Panggilan : Ifin
Asal Sekolah       : SMP N 05 Samboja
Komunitas          : Taman Bacaan Bunga Kertas
Alamat                  : Desa Beringin Agung, Samboja


Taman | Rafael Onibala | Taman Bacaan Bunga Kertas

Source: pixabay.com


TAMAN
Karya : Rafael Onibala

Kau tempat kami berpijak
Tempat kami menghibur diri dan bermain

Taman ...
Kadang kau menggugurkan bunga
Bunga yang gugur membuat punah

Akan tetapi ...
Taman pancarkan keindahan
Bunga pancarkan pesona harummu
Bagai kau tak muda
Menjadi penghibur diriku


PROFIL PENULIS
Nama                               : Rafael Onibala
Tempat, Tanggal Lahir    : Lalumpe, 06 Januari 2006
Sekolah                            : Kelas VI, SDN 036 Samboja
Komunitas                       : Taman Bacaan Bunga Kertas




Pantai | Rio Nanda Saputra | Taman Bacaan Bunga Kertas

Source: pixabay.com

PANTAI
Karya : Rio Nanda Saputra

Suasana pantai yang indah
Banyaknya pengunjung yang datang
Air yang biru dan ombak yang besar

Banyaknya nelayan mencari ikan
Dan pengunjung yang berenang
Banyak pedagang berjualan
Mobil berbaris di parkiran

PROFIL PENULIS
Nama                                   : Rio Nanda Saputra
Tempat, Tanggal Lahir        : Samboja, 16 Nopember 2006
Sekolah                               : Kelas VI, SDN 036 Samboja
Komunitas                          : Taman Bacaan Bunga Kertas

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas