Blog ini menceritakan tentang Kehidupan yang aku jalani. Keseharian yang ada dalam hidupku. Tentang cinta, tentang perjuangan dan pengorbanan, tentang rasa sakit dan tentang orang-orang yang ada di dalam kehidupanku. Tentang Desa Kecil dan gadis kecil yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat sekitar.

Showing posts with label Belajar Nulis. Show all posts
Showing posts with label Belajar Nulis. Show all posts

Monday, September 16, 2019

Bagaimana Membuat Outline / Kerangka Karangan yang Baik dan Mudah?


Hai, temen-temen ...!
How are you?

Maaf banget kalo aku jarang nulis buat blog aku sendiri.
Bukan karena aku nggak nulis sama sekali atau berhenti nulis.
Tapi, karena aku lagi nulis project novel adaptasi dari salah satu perusahaan.
Yah, lumayan lah bisa buat beli susu anak.

Karena tulisanku seringkali dipinang oleh beberapa perusahaan. Aku tuh jadi sering dapet pertanyaan, gimana sih caranya biar admin itu bisa fall in love sama tulisan kita?

Hmm ... aku sendiri juga nggak tahu kenapa para mimin banyak yang hubungin aku buat ngasih job nulis. Dan pastinya, ada honor dari nulis itu sendiri. Kalo ditanya kayak gitu, aku selalu nggak bisa jawab. Mungkin takdir, mungkin itu jalan Allah kasih aku rezeki.

Nah, ada beberapa yang nanya sama aku ... gimana sih caranya bikin kerangka karangan atau outline biar cerita kita itu runtun sampai akhir. Nggak ngegantung-gantung dan saat kita nggak punya ide, tulisan itu bakal jadi sampah yang nggak tahu mau kita apain lagi.

Buatku, saat menulis novel, bagian paling penting yang harus kita lakukan adalah menyusun kerangka karangan atau outline.

Aku sendiri nggak pernah bikin outline yang baku banget. Kayak kerangka karangan yang ditulis beberapa artikel. Entah kenapa, aku tuh suka baca tapi gampang bosen. Mungkin karena cara penulisannya yang baku banget dan hampir semua artikel yang aku baca, isinya sama. Ya iyalah, namanya juga artikel. Kalo tema yang diangkat sama, pasti isinya nggak jauh beda. Yang bikin beda itu gaya penulisan si penulis itu sendiri.

Nah, kan ... aku malah ngoceh panjang lebar kayak gini. Padahal, aku cuma mau ngasih tahu ke kalian gimana caranya bikin outline yang baik, benar dan mudah dipahami.

Oke ...
Let's go!

Pertama-tama ... kamu harus tahu dulu tema yang mau kamu buat itu tentang apa. Misal, tentang percintaan dunia remaja, percintaan dewasa atau cerita-cerita lainnya. Karena, pemilihan tema itu hal pertama yang harus kamu lakukan sebelum kamu memilih sebuah judul.

Kedua, kamu harus nentuin di mana setting (tempat) dari cerita yang akan kamu buat. Misalnya, kamu mau setting di Jakarta atau di Toraja. Dua tempat ini punya budaya, bahasa dan kearifan lokal yang berbeda. Misalnya, kamu mau ambil setting tempat itu daerah pantai. Otomatis, kamu harus bikin cerita itu tentang orang yang suka banget sama air atau berenang. Jangan ambil peran pendaki karena nanti nggak akan nyambung sama tempat dan tokoh yang kamu buat. Setting/latar tempat ini adalah hal yang paling lama prosesnya karena aku juga melakukan riset yang lumayan panjang.

Ketiga, kamu harus bikin karakter tokoh atau penokohan. Biasanya, aku bikin list sendiri tentang tokoh yang mau aku munculkan. Mulai dari ciri-ciri fisik, hobi dan kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan oleh si tokoh. Poin yang satu ini bakal jadi acuan ketika si tokoh menghadapi masalah atau konflik.

Keempat, kamu harus bikin outline atau kerangka karangan per chapter atau per bab. Tulis secara singkat saja. Cukup satu atau dua kalimat yang bisa mewakili atau menggambarkan cerita yang akan kamu kembangkan. Misal, di Chapter 1, si A dan si B bertemu. Di Chapter 2, kamu harus bikin si A dan si B ini ada kelanjutan ceritanya. Misalnya, melakukan hobi mereka bersama atau apa saja. Begitu juga seterusnya ...


Yang kelima ... hmm, tentunya ini sama aja sama tips dari semua penulis-penulis senior. Seringlah baca buku-buku berkualitas. Karena, dengan membaca buku, kosa-kata kita akan terus bertambah. Yah, walau untuk seorang penulis yang sudah sibuk mengembangkan idenya setiap hari, pasti tidak ada waktu untuk membaca. Kadang, aku juga ngerasa kayak gitu. Nggak asyik banget rasanya, pengen baca tapi waktu buat baca buku nggak ada.


Buat adik-adik, selagi punya banyak waktu, pergunakanlah untuk belajar dan membaca. Membaca tidak akan kamu rasakan saat ini, tapi puluhan tahun ke depan.

Nah, itu dia tips singkat dari Kak Rin. Mudahan gampang dipahami ya!

Kalau mau tanya-tanya, bisa langsung komen di bawah.
Maaf, bukannya aku nggak bisa nulis pake bahasa baku. Tapi aku lebih nyaman santai kayak gini.

Terima Kasih ...


Rin Muna
 

Friday, March 29, 2019

Belajar Menulis | Apa Itu Sufiks?





Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sufiks merupakan afiks yang ditambahkan pada bagian belakang kaya dasar, misalnya -an, -kan, dan -i. Dengan kata lain, sufiks adalah akhiran.

Jenis-Jenis Akhiran dan contohnya:

  • -an : makanan 
  • -i : penuhi
  • -kan : jalankan
  • -ku, -mu, -nya : milikku, milikmu, miliknya
  • -pun : meskipun
  • -wati : karyawati
  • -er : parlementer
  • -wi : manusiawi
  • -at : muslimat
  • -in : masukin
  • -al : intelektual
  • -if : naratif
  • -ik : spesifik
  • -il : moril
  • -is : novelis
  • -isme : nasionalisme
  • -logi : etimologi
  • -ir : bankir
  • -or : editor
  • -ur : donatur
  • -itas : produktivitas
Sufiks atau akhiran ditulis serangkai dengan kata dasar yang diikutinya. Gabungan antara prefiks dan sufiks disebut dengan konfiks.

Belajar Menulis | Apa Itu Prefiks?

Firmbee




Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), prefiks merupakan imbuhan yang ditambahkan pada bagian awal sebuah kata dasar atau bentuk dasar, sering juga disebut sebagai awalan.

Dalam studi bahasa Semitik, sebuah awalan disebut dengan "preformatif", karena prefiks dapat mengubah bentuk kata yang dibubuhinya. [Wikipedia.org]

Contoh awalan dalam bahasa Indonesia:


  • berjalan: ber- adalah awalan yang memiliki arti "melakukan" sebuah kegiatan/aktifitas atau pekerjaan.
  • sebuah : se- adalah awalan yang memiliki arti "satu" atau jumlah benda/waktu/orang.
  • mahabesar : maha- adalah awalan serapan yang memiliki arti "paling" dari semua objek yang ada.

Jenis-jenis Awalan dan Contohnya:
  • Awalan se- : seorang
  • Awalan di- : dibalik
  • Awalan me- : memakan
  • Awalan meng- : mengecat
  • Awalan ber- : berdua
  • Awalan pe- : pelari
  • Awalan per- : pertanda
  • Awalan ter- : terindah
  • Awalan ke- : keluar

Prefiks atau awalan ditulis serangkai dengan kata dasar yang mengikutinya. Jadi, kalau mau nulis awalan harus ditulis serangkai dengan kata dasarnya, berbeda dengan kata depan yang ditulis secara terpisah.

Thursday, February 21, 2019

37 Kosa-Kata Yang Mendeskripsikan Mimik Wajah (Mata Tokoh) Dalam Cerita

pexel.com/Min An
Hai, teman-teman!
Kalian suka bingung nggak sih kalau bikin cerita saat mendeskripsikan mimik wajah tokoh yang ada di dalam cerita?
Aku kadang suka bingung. Bagusnya gimana ya?
Jadi, aku sering banget cari-cari ilmu kepenulisan baik offline maupun online.
Dan akhirnya aku dapat juga beberapa kosa-kata yang memang sudah nggak asing lagi, karena sering aku temui di dalam buku-buku yang aku baca.

Berikut ini kosa-kata yang cocok untuk menggambarkan kondisi mata pada mimik wajah tokoh dalam cerita:

Mata / Matanya ...

  1. ... melebar
  2. ... berkeling
  3. kelopak ... terkulai.
  4. ... menyipit
  5. ... menyala
  6. ... melesat
  7. memicingkan ...
  8. ... mengerjap
  9. ... berbinar
  10. ... berkelebat
  11. ... berkilat
  12. ... dibakar dengan...
  13. ... menyala dengan...
  14. ... berkedip-kedip
  15. ... bersinar
  16. sudut ... berkerut
  17. memutar bola matanya
  18. ... menatap...
  19. air matanya menggenang
  20. ... basah
  21. ... berkilau
  22. ... mengkilap
  23. ia menahan air mata
  24. menutup ...
  25. dahinya mengerut
  26. garis muncul di antara alisnya
  27. alisnya bertautan
  28. alisnya tersentak bersama-sama
  29. alisnya naik
  30. ... ditutup
  31. memejamkan ...
  32. ia mengangkat alisnya
  33. ... melotot
  34. ... mengintip
  35. ... meneliti
  36. ... mengamati
  37. pupil matanya besar

Sumber : Materi Kepenulisan Online

Dialog Tag Dalam Penulisan Naskah Fiksi

Source: pixabay.com/geralt


Hai guys ...!
Ketemu lagi sama aku. Aku siapa ya? Hahaha...
Gak penting lah ya, aku ini siapa.
Yang penting, hari ini aku lagi pengen belajar tentang dunia kepenulisan. Biar tulisanku rada rapian dikit lah, banyak berantakannya soalnya. Wkwkwk ...

Hari ini aku lagi mau belajar tentang Dialog tag.
Dialog tag itu apa sih?
Dialog tag adalah frase yang mengikuti dialog, yang memberikan informasi identitas si pengucap dialog.
Dialog tag biasanya ditandai dengan kata "ujar", "ucap", "kata", dan sejenisnya. Dialog tag bisa berada di awal atau akhir kalimat. Dialog tag menggunakan tanda baca petik ("), koma (,), tanda seru (!) atau tanda tanya (?). Dialog tag diawali dengan menggunakan huruf kecil.
Berikut ini contoh dialog tag dan penggunaan tanda bacanya. Perhatikan baik-baik bagaimana menuliskan tanda baca yang tepat.

- Dialog tag di awal kalimat:

* Rina berkata, "Aku lelah."    >>> Benar
* Rina berkata ,"Aku lelah."    >>> Salah
* Rina berkata, "Aku lelah".    >>> Salah
 
Kata "berkata" merupakan dialog tag di awal kalimat, diakhiri dengan tanda koma (,) kemudian diikuti dengan dialognya. Kalimat dalam dialog berada di antara tanda petik buka (") dan tanda petik tutup ("). Kalau kamu menulis menggunakan Microsoft Word, akan terlihat jelas perbedaan antara tanda petik buka dan tanda petik tutup. Sama fungsinya dengan tanda kurung buka dan kurung tutup. Di akhir dialog menggunakan tanda baca titik (.) untuk mengakhiri dialognya. Ingat ya, tanda baca titik (.) berada di dalam tanda petik, bukan di luar tanda petik atau setelah tanda petik tutup.


* Rina bertanya, "Sudah makan?" >>> Benar
* Rina bertanya, "Sudah makan.?" >>> Salah

Dialog tag ini sama dengan contoh yang pertama. Hanya saja diakhiri dengan tanda tanya sebagai kalimat pertanyaan, bukan pernyataan. Tanda tanya berfungsi sebagai pengganti tanda titik. Sehingga, tidak perlu lagi menggunakan tanda baca titik (.) jika sudah menggunakan tanda tanya (?)


* Rina mengumpat, "Aku benci kamu!"    >>> Benar
* Rina mengumpat, "Aku benci kamu.!"   >>> Salah

Dialog tag ini sama dengan contoh yang pertama. Hanya saja diakhiri dengan tanda seru sebagai penekanan kalimat atau sebuah teriakan. Tanda seru berfungsi sebagai pengganti tanda titik. Sehingga, tidak perlu lagi menggunakan tanda baca titik (.) jika sudah menggunakan tanda seru (!)

Diatas adalah 3 contoh dialog tag yang berada di awal kalimat.


Dialog tag di akhir kalimat:


* "Aku lelah," kata Rina.   >>> Benar
* "Aku lelah", kata Rina.   >>> Salah
* "Aku lelah," Kata Rina.   >>> Salah

Perhatikan baik-baik perbedaan penggunaan tanda baca di atas. Dialog berada di dalam tanda petik buka dan tanda petik kurung. Dialog diakhiri dengan tanda koma, kemudian diikuti dengan dialog tag. Dialog tag selalu diawali dengan huruf kecil ( bukan huruf kapital )

* "Sudah makan?" tanya Rina.   >>> Benar
* "Sudah makan?," tanya Rina.   >>> Salah
* "Sudah makan,?" tanya Rina.   >>> Salah
* "Sudah makan?" Tanya Rina.   >>> Salah

Penggunaan tanda tanya menjadi pengganti tanda baca koma, sehingga tidak perlu lagi menggunakan tanda baca koma pada dialog yang menggunakan dialog tag. Ingat, dialog tag selalu menggunakan awalan huruf kecil.

* "Aku benci kamu!" umpat Rina.  >>> Benar
* "Aku benci kamu,!" umpat Rina. >>> Salah
* "Aku benci kamu!" Umpat Rina. >>> Salah

Penggunaan tanda seru, perlakuannya sama dengan penggunaan tanda tanya. Hanya saja, makna kalimat tanya dan kalimat seru yang membuatnya berbeda.

Tidak semua dialog dalam sebuah cerita menggunakan dialog tag. Ada beberapa dialog yang tidak menggunakan dialog tag. Kita harus bisa membedakan mana dialog tag dan bukan dialog tag.

ontoh kalimat yang tidak menggunakan dialog tag adalah sebagai berikut:

* "Kemarin aku lihat kamu jalan sama pacarku." Rina menatap Rini tajam.
* Mata Rina menatap Rini tajam. "Kemarin aku lihat kamu jalan sama pacarku." 

Kalimat di atas merupakan dialog yang tidak menggunakan dialog tag. "Rina menatap Rini Tajam" adalah kalimat aksi/aktivitas yang mendeskripsikan aktivitas lain yang dilakukan tokoh saat berdialog. Kalimat aksi ini selalu diawali dengan huruf besar atau huruf kapital karena tidak menjadi bagian dari dialog.

Contoh lainnya:

* "Hehehe ... lupa." Tangan Rina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
* Tangan Rina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hehehe ... lupa."

Nah, itu dia contoh dialog tag sederhana yang bisa aku sharing buat temen-temen. Semoga bisa mengerti dengan mudah contoh dialog tag di atas ya! Dan bisa membedakan mana yang merupakan dialog tag dan mana yang bukan dialog tag.
Oh ya, aku mau kasih contoh penulisan dialog tag dan dialog dengan kalimat aksi/aktivitas.

* "Hehehe ... lupa." Tangan Rina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kamu sudah makan?" tanya Rina kemudian.

Kalimat yang aku beri tanda warna merah adalah kalimat aksi/aktivitas si tokoh. Sedangkan kalimat yang aku beri tanda warna pink merupakan dialog tag.

Ada macam-macam dialog tag, kamu bisa membacanya di tulisan MACAM-MACAM DIALOG TAG


Demikian pelajaran tentang dialog tag yang aku dapat hari ini. Semoga bermanfaat!
Buat kamu yang ingin menambahkan atau mengoreksi materinya, silakan komen di bawah ya!

MACAM-MACAM DIALOG TAG

Source: Pixabay.com, edit by me

Hai teman-teman, kali ini aku mau bagiin beberapa macam dialog tag yang bisa kamu gunakan untuk menulis cerita supaya beragam tidak terkesan membosankan. Yuk, cek dialog tag yang asyik kamu gunakan dalam menulis cerita!

1. Netral

- ujar
- salam
- celetuk
- ucap
- desak
- kata
- pamit
- harap
- pesan
- cetus
- tutur
- papar
- ungkap
- tandas
- tanya
- tegur
- sapa
- ajak
- panggil
- pungkas
- tegas
- ajak
- pinta
- tunjuk
- beber
- seloroh
- cakap
- lontar
- akunya

2. Netral sebagai respon

- sahut
- lanjut
- jawab
- tawar
- tolak
- sambut
- sanggah
- imbuh
- terang
- balas
- tangkas
- tambah
- sambung
- jelas
- sela
- sosor
- tukas
- potong
- kilah
- usul
- putus
- protes
- urai
- saran
- berondong
- timpal
- kekeh
- kelit
- deham

3. Ada Emosi

- sindir
- hina
- gerutu
- sungut
- rengek
- tekad
- resah
- cemooh
- ejek
- kelakar
- canda
- cela
- ledek
- gerundel
- puji
- keluh
- adu
- perintah
- cibir
- tuntut
- decit
- cicit



4. Emosi Bernada Rendah

- bisik
- gumam
- decak
- desah
- rintih
- desis
- sesal
- ulang
- lirih
- racau
- batin
- ringis
- hembus
- goda
- rajuk

5. Emosi Bernada Tinggi

- jerit
- geram
- usir
- bentak
- berang
- hardik
- teriak
- tuduh
- tampik
- tantang
- pekik
- tekan
- sembur
- seru
- erang
- serang
- cecar
- raung
- sergah
- murka
- dengus
- ketus
- marah


Sumber referensi :
Materi Kepenulisan Andros Luvena by Rosi Simamora

Wednesday, February 20, 2019

Apa itu POV Dalam Cerita Fiksi?

Penakata.com


Hai ... Goodwriters ...!
Eh!? Gini ya caranya menyapa kawan-kawan Penakata?
Om Igot!!! Di sini pasti para penulis hebat dan aku nggak tahu harus mulai dari mana buat nulis di sini.
Aku cuma mau cerita tentang POV. POV itu apa sih?
Aku juga bingung waktu pertama kali denger kata POV. Apaan sih itu? Aku nggak paham artinya apaan.
Setelah searching di internet, ternyata POV itu singkatan dari Point Of View yang artinya Sudut Pandang. Ya salam ...! Bisanya aku baru tahu istilah itu. Secara, aku belajar bahasa indonesia cuma di sekolah dan aku mengenalnya sebagai sudut pandang. Baru-baru ini aku dibuat bingung dengan istilah POV. Itu artinya ... bahasa inggris aku sangat buruk. Bisa dibilang, aku nggak ngerti bahasa inggris karena selama ini cuma belajar bahasa indonesia yang biasa-biasa saja. Belum menggunakan istilah bahasa indonesia yang baik dan benar.

Oke, pertama-tama aku mau jelasin soal Sudut Pandang (Point Of View) dalam menulis sebuah cerita.
Wait ...! Tulisan ini aku buat karena permintaan seseorang dan tidak bermaksud menggurui siapa pun atau sok pintar atau apalah. Aku juga masih belajar dan berharap tulisan ini bisa menjadi pengingat buat diriku sendiri.

Yang aku tahu sudut pandang adalah posisi penulis dalam sebuah cerita atau cara penulis memandang dan menceritakan kisahnya. Aku sendiri lebih paham ketika aku memaknai sudut pandang (POV) sebagai posisi penulis dalam sebuah cerita.
Pertama kali aku mengenal sudut pandang yakni kelas 3 SD. Karena saat itu aku diminta kepala sekolah untuk mengikuti lomba kepenulisan. Mau tak mau, suka tak suka, aku kudu belajar. Walau sebenarnya aku nggak paham. Aku baru benar-benar paham ketika aku duduk di bangku SMP.
Ada 3 jenis sudut pandang penulis:
  1. Sudut Pandang Orang Pertama, Pelaku Utama.
  2. Sudut Pandang Orang Pertama, Pelaku Sampingan.
  3. Sudut Pandang Orang Ketiga (Serba tahu).
Nah, ketiga sudut pandang ini yang kemudian disebut sebagai POV (Point Of View) dalam istilah zaman now atau zaman sekarang ini. Maklum lah ya, aku ini termasuk anak zaman now 15 tahun yang lalu. Jadi, aku nggak paham istilah-istilah gaul anak sekarang. Lagipula, aku lebih suka menyebutnya dengan bahasa indonesia ketimbang diinggris-inggriskan. Itu lebih mudah buat aku yang emang nggak paham bahasa inggris, hahaha ...

Apa perlu dijelasin satu-satu soal POV ini?
Oke, aku coba jelasin aja walau sebenarnya nggak perlu-perlu banget. Aku rasa, ketiga sudut pandang itu sudah dipahami banyak orang.
  1. Sudut Pandang Orang Pertama Pelaku Utama (POV 1)
Sudut pandang orang pertama, maksudnya adalah penulis memposisikan dirinya sebagai orang pertama yang bercerita. Pelaku utama adalah penulis menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut. Biasanya, sudut pandang ini menggunakan kata "Aku" sebagai pencerita. Artinya si penulis memposisikan dirinya sebagai tokoh utama dalam sudut pandang "Aku".
Kalau penulis memposisikan dirinya sebagai "Aku" dalam sebuah cerita, artinya penulis tidak akan bisa mengetahui bagaimana cerita kehidupan dari tokoh lain yang tidak berhubungan langsung dengan tokoh utama atau pun mengetahui isi hati dari tokoh lainnya.

Contoh cerita yang menggunakan POV 1 :
Aku berjalan menyusuri bukit yang dipenuhi padang ilalang. Perlahan-lahan kulangkahkan kaki di jalan setapak yang kiri dan kanannya dikelilingi ilalang yang sedang berbunga. Sesampainya di atas bukit, aku mendapati seseorang sedang duduk di atas batang kayu yang telah mati. Cowok berkaos biru itu langsung menyadari kedatanganku. Ia melempar senyum manis yang membuatku jadi salah tingkah. Ia bahkan tak henti menatapku dengan senyuman yang tak mampu aku artikan. Andai bisa kubaca hatinya, mungkin aku akan tahu bagaimana isi hatinya saat ini.
Kalimat yang harus dihindari dalam POV 1 adalah :
Aku berjalan menyusuri bukit yang dipenuhi padang ilalang. Perlahan-lahan kulangkahkan kaki di jalan setapak yang kiri dan kanannya dikelilingi ilalang yang sedang berbunga. Sesampainya di atas bukit, aku mendapati seseorang sedang duduk di atas batang kayu yang telah mati. Cowok berkaos biru itu langsung menyadari kedatanganku. Ia melempar senyum manis yang membuatku jadi salah tingkah. Ia tak henti menatapku sambil berkata dalam hati, "Kamu cantik sekali, setiap melihatmu ... aku merasa bahagia."

Kalimat yang aku tebalkan adalah kalimat yang harus kamu hindari ketika menggunakan POV 1 atau Sudut Pandang Orang Pertama Pelaku Utama. Karena, tidak seharusnya kamu mengetahui isi hati tokoh lain atau adegan apa pun yang tidak tertangkap oleh "Aku" sebagai tokoh utama.

2. Sudut Pandang Orang Pertama Pelaku Sampingan (POV 2)
Sudut pandang orang pertama, maksudnya adalah penulis memposisikan dirinya sebagai orang pertama yang bercerita. Pelaku sampingan adalah penulis menjadi tokoh sampingan dalam cerita tersebut. Biasanya, sudut pandang ini menggunakan kata "Kau" atau "Kamu" sebagai tokoh utama dan penulis sebagai pencerita. Artinya si penulis memposisikan dirinya sebagai sampingan (pencerita) kehidupan tokoh "Kamu" yang ada di dalam sebuah cerita.
Sudut pandang ini jarang digunakan oleh penulis karena sulit mendapatkan atau menggambarkan karakter dari tokoh tersebut.

Contoh cerita yang menggunakan POV 2:

Kamu duduk di sudut meja kafe sambil memandangi rintik hujan yang tak juga reda. Beberapa kali kamu melirik arloji di pergelangan tanganmu. Menunggu seseorang yang seharusnya sudah datang satu jam yang lalu. Kamu juga terlihat mengetuk-ngetuk meja untuk menetralisir rasa kesal yang hampir meluap dari dadamu. Seorang pelayan menghampirimu ketiga kalinya karena kamu belum juga memesan segelas kopi atau makanan lainnya.

Kalimat yang harus dihindari dalam POV 2 adalah penggunaan kata "aku". Karena penulis sedang menceritakan orang lain yang disebut "kamu". Jangan sampai penulis tiba-tiba masuk ke dalam cerita dengan penggunaan kata "Aku" karena kata tersebut digunakan pada sudut pandang orang pertama pelaku utama (POV 1).

3. Sudut Pandang Orang Ketiga (POV 3)
Sudut pandang orang ketiga ( ini bukan pelakor lho ya!) atau sudut pandang serba tahu adalah sudut pandang lazim digunakan penulis untuk menceritakan dengan detil setiap adegan dan kejadian yang ada dalam cerita. Dalam sudut pandang ini, kita bisa menceritakan kehidupan beberapa tokoh sekaligus. Dalam sudut pandang ini, penulis berada dalam posisi sebagai pencerita yang serba tahu dan bukan sebagai tokoh utama maupun tokoh sampingan.

Contoh cerita yang menggunakan POV 3:
Anisa duduk di taman sekolah sambil membaca buku. Di telinganya terpasang earphone yang mengeluarkan musik-musik melow dari ponselnya. Sementara Hadi memandang Anisa dari kejauhan. Ia mengendap-ngendap mendekati Anisa yang tak menyadari kehadirannya karena sibuk dengan buku dan musiknya. Ketika tangan Hadi menyentuh bahu Anisa, Anisa terlonjak kaget dan mendengus kesal ke arah Hadi. Bukannya pergi menjauh, Hadi malah tertarik untuk menggoda Anisa. Akhirnya mereka saling kejar-kejaran seperti anak kecil, tak peduli dengan banyak pasang mata yang memandang ke arah mereka.

Dalam POV 3 atau sudut pandang orang ketiga yang serba tahu, penulis bisa menceritakan atau menggambarkan isi hati dari masing-masing tokoh. Hal ini tidak bisa kita gunakan dalam POV 1 atau POV 2.

Kayaknya cukup sampai di sini aja deh penjelasan dari aku soal POV (Point of View) atau sudut pandang dalam menulis sebuah cerita.
Intinya adalah ... posisi penulis dalam cerita tersebut sebagai apa. Sebagai tokoh utama yang bercerita secara langsung tentang kehidupannya (POV 1), Sebagai orang sampingan yang menceritakan kehidupan tokoh utama (POV 2) atau sebagai pencerita yang serba tahu segalanya (POV 3).

Semoga tulisan ini mudah dimengerti buat kamu yang lagi belajar menulis atau sedang mencoba untuk belajar menulis cerita fiksi.

POV (Point of View) menjadi salah satu point penting dalam sebuah cerita setelah kita mendapatkan ide menulis cerita. Karena penggunaan POV yang tidak tepat bisa membuat cerita yang kita tulis menjadi rancu dan pastinya membingungkan pembaca.

Cerita yang menarik adalah cerita yang mudah dimengerti dan asyik untuk dibaca. Tidak hanya terpaku pada penggunaan kata baku dan tidak baku. Yang lebih penting adalah isi dari cerita dan pesan yang ditulis bisa sampai dan dimengerti dengan mudah oleh pembaca.
Demikian sedikit tulisan tentang POV (Point Of View) dari saya. Semoga bermanfaat ...!


Ditulis oleh Rin Muna
Untuk diri sendiri dan kamu yang bersedia membaca
East Borneo, 15 Februari 2019

Wednesday, January 23, 2019

Pentingnya Menulis Untuk Anak Dan Bagaimana Memulainya?

gln.kemdikbud.go.id
Tidak hanya membaca, menulis juga penting. Karena, menulis mampu mengasah kemampuan anak dalam memahami setiap teks yang ia baca dalam bacaan sehari-hari maupun kejadian yang terjadi di sekitarnya.
Menulis bisa tentang apa saja, misalnya:

  • Menceritakan hari pertama masuk sekolah
  • Kejadian paling memalukan yang pernah dialami.
  • Apa yang akan dilakukan saat liburan nanti?
  • Apa yang akan dilakukan ketika melihat teman bersedih?
  • Mengapa pelangi muncul setelah hujan?
  • Kalau bisa keliling dunia, tempat manakah yang akan dikunjungi?
  • Siapakah tokoh terkenal yang ingin ditemui? Mengapa?
Beberapa contoh di atas adalah contoh sederhana supaya anak-anak bisa memulai bagaimana ia menulis. Menceritakan kehidupan sehari-hari adalah salah satu cara mengajarkan anak-anak mengasah kemampuan menulisnya. Membiasakan anak menulis juga bukan hanya tugas seorang guru di sekolah. Orang tua memiliki peranan sangat penting dalam membiasakan anak-anaknya untuk mencintai literasi baca tulis. Sebagai wujud kasih sayang dan perhatian orang tua terhadap anaknya. Anak bukan hanya merasa bahagia bisa menulis cerita, namun juga bahagia karena ada orang tua yang mau mendengarkan setiap cerita yang ingin mereka ceritakan. Ada banyak hal menarik yang bisa saja ingin diceritakan oleh anak. Namun, terkadang orang tua sudah sibuk dengan kegiatannya dan jarang sekali menjadi pendengar bagi anak apalagi membimbing anak untuk belajar menulis cerita. Memberikan buku diary pada anak, dapat membuat anak senang bercerita dalam diary-nya. Ini juga merupakan salah satu cara mengasah kemampuan menulis anak-anak. 

Menulis, bisa dimulai dari mana saja dan kapan saja. Cara paling mudah dan paling dekat adalah menulis diary. Menceritakan kejadian yang terjadi di sekitar kita dalam susunan kata-kata. Ini bisa merangsang anak dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan potensi dirinya.





Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas