Showing posts with label Materi Nulis. Show all posts
Showing posts with label Materi Nulis. Show all posts

Wednesday, April 7, 2021

Penulis Itu Berproses, Bukan Berprotes!

 





Hai ... hai ...!

Apa kabra!

Eh!? 

Apa kabar?


Kali ini, aku mau cerita sedikit tentang beberapa hal yang aku temui beberapa hari ini. Eh, aku nulisnya udah pakai kalimat efektif atau belum, ya? Ah, sudahlah. Yang penting, kalian ngerti bahasaku walau tata bahasanya sedikit berantakan.


Akhir-akhir ini ... karena aku sebagai salah satu ambassador dan penulis best seller di Novelme, banyak penulis yang sering mengeluh. Mmh ... ngeluhnya nggak sama aku, sih. Tapi sama yang lain. Maybe, lebih sering mengeluh sama Tuhan dalam sujudnya.

Kalau denger keluhan itu, rasanya ikut pusing. Karena kita juga ngerasain gimana lelahnya berjuang, gimana sakitnya tidak dihargai, tapi kita sendiri nggak tahu mau ngeluh ke mana. Karena malu kalau mau ngeluh terus, tapi tidak meningkatkan diri.


Daripada sibuk mengeluh, kita akan merasa beban kita semakin berat. Lebih baik, perbanyak karya saja. Makin banyak karya, akan semakin bagus. Karena,suatu hari nanti ... satu dari puluhan tulisanmu itu akan menemukan pembacanya sendiri. Kalau ditanya, sudah berapa karyaku? Sudah ratusan sebenarnya. Tapi ... aku tidak serta merta mempublikasikan karyaku begitu saja. Aku terus belajar menulis tanpa menunggu orang lain menghargai karyaku lebih dulu. Aku lebih fokus berlatih menulis untuk meningkatkan kualitas tulisanku lebih dahulu agar bisa dikatakan layak untuk pembaca.

Positif thinking aja, sih. Kalau mau dihargai lebih, kita harus berpikir apakah tulisan kita itu sudah pantas dihargai oleh orang lain atau belum. Kalau kira-kira belum , ya tingkatkan lagi kualitas tulisannya. Nggak usah mengeluh! Mengeluh hanya akan menghambat dirimu untuk terus menghasilkan karya.


Ada lagi, nih ... beberapa waktu lalu, sempat ribut di Novelme karena ada penulis senior yang baru berkecimpung di platform baca karena dia sudah lebih dahulu menulis buku cetak dan memang peminat buku cetaknya lumayan banyak. Saat masuk di platform, ia merasa kalau karyanya tidak dihargai pembaca dan menyalahkan platform. Platform dianggap salah karena lebih banyak tulisan yang dibilang "HOT" daripada tulisan yang menginspirasi.

Eits, bukan hanya menyalahkan platform. Tapi juga menyalahkan selera pembaca yang bisa dibilang lebih suka cerita "esek-esek" ketimbang cerita yang menginspirasi. Padahal, tidak semua penulis menulis cerita dewasa. Akhirnya, paltform dianggap sebagai ajang untuk merusak moral pembaca dan penulis-penulis yang bermoral itu jadi anti platform. 

Menurutku, penulis-penulis itu harusnya justru semangat masuk ke platform agar koleksi literature di platform bisa semakin baik. Alangkah baiknya jika mereka justru berbondong-bondong mengisi platform dengan cerita yang inspiratif agar menenggelamkan cerita yang katanya "esek-esek" itu. Sayangnya, mereka tidak pernah mau melakukannya karena dianggap tulisan mereka tidak diminati oleh pembaca.

Sebenarnya, diminati atau tidak, itu semua tergantung bagaimana penulisnya dalam berkarya dan menemukan pembaca-pembaca mereka.

Banyak penulis yang bilang kalau "Karya aku mah apa, sepi banget pembacanya."

Eits, jangan salah!

Penulis profesional dan terkenal juga berawal dari pemula, loh. So, kamu jangan pesimis kalau pembacamu baru 1 orang. Harus bisa kamu evaluasi dengan jumlah karya yang sudah kamu hasilkan. Tetap semangat karena kamu hanya butuh waktu untuk bertemu dengan pembacamu.

Aku yang saat ini sudah menjadi penulis best seller webnovel di Novelme, juga pernah ada di area "The Dip", area yang menukik tajam di bawah dan tenggelam dengan karya-karya yang sudah lebih dahulu terbit. Aku berada di area "DIP" itu sejak tahun 2012 hingga tahun 2018. Artinya, selama 6 tahun aku menulis, karyaku tidak terlihat oleh siapa-siapa. Tapi tidak membuatku berhenti untuk berkarya.

Aku justru semakin tertantang untuk memperbaiki diri. Menjadi idealis yang bisa mengikuti pasar. Aku belajar banyak hal. Mulai dari menulis puisi, cerpen, esai, novela hingga ke webnovel. Kalau ditanya, sudah berapa banyak tulisanku. Aku nggak pernah menghitungnya. Sengaja, sih. Supaya aku bisa fokus terus menghasilkan karya tanpa tahu berapa banyak karya yang aku hasilkan. Kadang kalau dihitung, sudah banyak juga, hihihi.


Aku sudah menerbitkan 23 Antologi buku bersama dengan penulis-penulis yang lainnya. Tapi, aku masih merasa belum menjadi apa-apa. Masih banyak penulis lain yang membanggakan karyanya karena memiliki banyak penggemar dan pembaca. Sedangkan aku ... bahkan sampai tulisanku menjadi best seller, aku masih sering merasa belum pantas untuk mendapatkan begitu banyak penghargaan.


Semuanya butuh proses, sampai saat ini juga aku masih berproses. Apa pun yang terjadi di depan, aku jadikan tantangan tanpa banyak berprotes. Banyak yang sering mengeluh karena aturan platform yang berubah-ubah dan memberatkan penulis. Tapi menurutku, selama feedback-nya sesuai, nggak masalah. Apalagi, aku juga sudah menjalani kehidupan penulis yang bukan amatiran lagi. 

Tulisan yang sudah ada nilainya, adalah tulisan profesional (agak berat nulisnya karena sesungguhnya aku belum siap). Berapa pun nilainya, asal itu karya kita sendiri, belajarlah untuk menghargainya. Bukan protes ke sana ke mari karena kita merasa karya kita belum dihargai.

Ada banyak literature di dunia ini selama ratusan tahun. Ada banyak penulis dan ide yang bertebaran. Supaya tulisanmu dikenal orang, bagaimana caranya? Kalau kamu cuma simpan tulisanmu di dalam laci. Jangan pernah berharap akan ada banyak orang yang membacanya. Tapi kalau kamu bisa menunjukkan karyamu ke orang lain, dari 100 orang, akan ada 1 orang yang menghargai tulisanmu. So, tetap semangat menulis tanpa mengeluh atau protes sana-sini. 

Temukan tempat yang tepat untuk berproses! Karena setiap orang memiliki kenyamanan yang berbeda-beda. Aku suka pantai, kamu belum tentu menyukainya. Kamu suka gunung, aku belum tentu menyukainya. 

Jika jalan yang kamu tempuh itu terjal dan berliku, jalani saja! Karena itu akan membuat kakimu terlatih untuk lebih kuat mendaki tempat yang lebih tinggi lagi. Jangan pernah bermimpi berdiri di tempat yang tinggi, jika kamu tidak punya kaki yang kuat untuk melangkah! Jika kamu hanya bisa mengeluh dan berhenti saat mendapati kesulitan dalam perjalananmu!


Tak ada manusia hebat yang tidak berproses. Mereka menjadi hebat karena tidak banyak protes! Sukses atau tidaknya kamu di masa yang akan datang, itu ditentukan oleh langkah yang sedang kamu tempuh hari ini. Mungkin terjal, berliku, berduri dan melelahkan. Tapi itu akan membuatmu kuat mendaki tempat yang lebih tinggi dari orang lain yang memilih untuk berhenti berjuang atau memilih untuk tidak mencoba berjuang sama sekali.



Terima kasih sudah membaca tulisan ini!

Semoga membuat kalian semakin semangat berkarya tanpa mengeluhkan apa pun.



Much Love,

Vella Nine



Tuesday, December 22, 2020

6 Hal Penting yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memilih Menulis Di Platform

 


 Hai ... hai ...!

Apa kabar semuanya? Sudah lama banget aku nggak kasih tips menulis untuk kalian karena ada banyak banget bab novel yang harus aku update setiap harinya. Karena menjadi penulis novel platform yang masih on going, pastinya sibuk banget dengan tulisan-tulisanku.


Nah, kali ini ... aku bakal berbagi tips buat kalian semua tentang hal-hal yang harus diperhatikan sebelum masuk ke platform penulisan. Simak tipsnya di bawah ini ya!

Jangan lupa follow, subscribe dan komentar di akun instagram aku. Yang pengen dibuatin tips versi video ... mmh, aku pikirin deh buat upload di Youtube biar kalian lebih mudah memahaminya.

Sementara, aku kasih tips di sini dulu ya!


Apa aja sih yang harus diperhatikan sebelum kita masuk ke dunia literasi digital atau sebagai penulis novel di platform digital?


1. Memahami kemampuan diri

     Sebelum masuk ke dunia penulisan digital masa kini, kamu harus bisa memahami kemampuan diri kamu sendiri. Seberapa bisa kamu mennguasai teknik kepenulisan dan memenuhi keinginan pembaca. Karena di platform online, tuntutan pembaca itu bener-bener tinggi. Selain harus bisa update banyak bab setiap harinya, kita juga harus bisa memahami keinginan pembaca. Tentunya, tetap menghadirkan bahan bacaan yang menarik, menghibur dan berkualitas.

    Menjadi penulis novel Best Seller di aplikasi Novelme tentunya tidak mudah. Butuh kerja keras, kemauan untuk belajar dan tidak mudah menyerah. Terlebih, konsep novel series zaman sekarang seperti manga Jepang yang ceritanya bisa ratusan bahkan ribuan bab. Bayangin aja, update sehari 5 bab ... masih kurang aja di mata pembaca. Padahal, mereka harus bayar untuk bisa baca dan nggak pernah keberatan. Asalkan, kita bisa menyuguhkan cerita yang berkualitas dan menarik untuk pembaca.

    Penulis platform dituntut untuk publish setiap hari. Kalau ada kesalahan di bab sebelumnya, nggak bisa main revisi seenaknya aja kayak nulis buku fisik yang masih bisa direvisi saat nulisnya udah kelar. Di platform, nggak akan bisa semudah itu ngerevisi. Bayangin aja, kalo udah dibaca sama 2 ribu orang dan bab itu salah. Auto mikir alur selanjutnya dong, hahaha.

2. Mempersiapkan Mental

     Jadi penulis platform harus kuat mental. Kenapa? Karena setiap publish bab baru. Kita akan berhadapan langsung dengan pembaca kita. Kalau mereka nggak suka sama ceritanya, bakal dapet komentar pedas. Untungnya, Perfect Hero belum pernah dapet komentar pedas walau sudah ada ratusan bab. Mereka tetap setia membaca, kadang terbawa emosi dan maki-maki kalau tokoh antagonisnya muncul. Pokoknya, komentar pembaca itu bener-bener pedes. Kalau kamu belum siap mental dengan komentar buruk. Jangan coba-coba masuk ke platform deh! Mending nulis di buku diary aja.

 

3. Mengatur Waktu & Managemen Bab

     Kalau kamu masih punya kesibukan lain seperti bekerja, harus bisa mengatur waktu kamu supaya bisa tetap update setiap harinya. Kalau aku sih, harus punya tabungan beberapa bab untuk cadangan saat aku lagi sibuk. Secara, author juga manusia biasa yang butuh makan, butuh piknik dan butuh istirahat. Jadi, mengatur waktu menulis dan mengatur bab yang akan ditayangkan sangatlah penting.

4. Selalu Belajar

     Sebagai penulis, kita nggak boleh berhenti belajar. Sampai hembusan napas terakhir pun, kita masih akan terus belajar. Jadi, pelajarilah banyak hal dari orang-orang yang telah sukses terlebih dahulu. Jangan pernah menganggap ilmu kita sudah cukup. Belajar bisa dari siapa saja, bahkan dari bayi yang baru lahir sekalipun.

5. Tidak Plagiat / Menjiplak Karya Orang Lain

  Plagiat adalah hal yang harus kamu hindari saat baru memulai menjadi penulis. Dalam karya apa pun, plagiat adalah hal yang paling hina. Sekali pun berusaha menutupinya, pasti akan ketahuan juga karena ketemunya dengan pembaca yang itu-itu juga dan sudah membaca banyak cerita. Penulis yang melakukan plagiat, mmh ... tidak bisa disebut sebagai penulis. Selamanya, namanya akan dikenang sebagai plagiator.


6. Etika Penulis

   Kok, ada etika?

Ya, etika penulis merupkan bagian yang juga penting di sini. Karena ada banyak sekali penulis yang tidak beretika dan asal-asalan ingin jadi penulis, alasannya hanya karena cuan. Aku paling kesel kalau ada penulis baru yang tiba-tiba komen di kolom komentar pembaca dan isinya promo buku mereka. Aku nggak larang sih, tapi kalau terlalu banyak jadinya spam. Seorang penulis adalah pembaca yang baik. Mengerti tata bahasa dan tata krama. Promo dengan cata spam, itu sangat mengganggu dan tidak menarik di mata pembaca.

Selain itu, menjadi seorang penulis juga harus memahami seluk beluk dan peraturan platform. Tidak seenaknya sendiri, bahkan bersikap tidak sopan kepada editor. Di platform sekelas Novelme, ada editor yang bisa diajak konsultasi. Tapi kita juga harus sabar. Dari 20 ribu lebih penulis yang ada ei sana, kita harus bisa bersikap baik dan tetap membuat karya yang terbaik. Suatu hari, pasti akan dilirik oleh editor dan pembaca ketika karya-karyamu sudah melambung tinggi.



Ini dulu tips dan saran dari aku sebelum menjadi penulis webnovel atau penulis platform digital.

Kalau kamu punya tambahan lagi, bisa diskusikan bareng di kolom komentar.



Sekian dan terima kasih,



Much Love,


Rin Muna


______________________________________________
đź…’Copyright. 

Dilarang mengutip atau menyebarluaskan konten blog ini tanpa mencantumkan link atau kredit penulis.


 

Tuesday, October 13, 2020

7 Cara Meningkatkan Reviewer Novel dalam Aplikasi Novelme / Novelaku

 

 


Hai, temen-temen semua. Apa kabarnya nih? Maaf banget karena kesibukan aku menulis novel dan beberapa kegiatan sosial, bikin rumahku yang satu ini selalu kosong.


Nah, kali ini aku nongol sejenak buat ngasih tips ke kalian semua.

Tips apa ya? Emang aku ini siapa? Kok, ngasih tips segala? Hahaha ...

Biarlah, aku penulis sampah ini akan sangat bahagia kalau kamu bisa baca tulisanku ini sampai akhir. Eeeaaaak!


Karena aku adalah salah satu penulis Best Seller dan Ambassador di Novelme. Aku ditugasin buat membimbing bayi-bayi di Novelme biar bisa jadi penulis yang baik dan benar. Kalau ada yang nggak baik, maafkan kegagalanku ini. (Ambil yang baik, buang yang jauh)


Kali ini aku mau  bahas soal pembaca dan reviewer novel kita yang ada di aplikasi Novelma. Mmh, sebenarnya semua aplikasi hampir sama saja sih. Tapi, menurutku aplikasi Novelme adalah tempat di mana para pembaca menghargai karya penulisnya.


Reviewer di aplikasi itu sangatlah penting walau subscriber/follower buku kita cuma sedikit. Review dari pembaca bisa menjadi salahs atu daya tarik pembaca lain untuk membaca karya kita. 


Supaya novel kita dibaca dan di-review oleh pengguna Novelme, aku punya beberapa cara yang bisa kalian coba juga, loh. Aku sudah mencobanya dan berhasil membawa Perfect Hero ke Top Best Seller.

Apa aja sih caranya?

Simak di bawah ini ya!


1. Buat Cover Menarik

Cover novel itu ... udah kayak kemasan produk UMKM. Tampilannya harus menarik dulu. Supaya, orang pensaran untuk lihat-lihat, kemudian membelinya. Buat cover semenarik mungkin untuk mendapatkan viewers dan star vote. Karena cover adalah kesan pertama untuk buku kamu. Buatlah orang lain jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat cover novel kamu. Ilustrasi yang sesuai dan pemilihan font yang baik akan berpengaruh pada cover novel kamu. Meski ada quotes legendaris “Don’t judge book by its cover!”, jangan lantas membuat cover asal-asalan.

 

2. Judul yang Menjual dan Deskripsi yang Menarik

Judul novel itu ...  kayak nama produk yang akan kita jual. Harus enak dilihat (eye catching), unik, bikin penasaran dan beda dari yang lain. Meski sulit, tapi masih bisa mengusahakan untuk membuat judul novel kita semenarik mungkin. Begitu juga deskripsi novel kita. Harus bisa membuatnya menarik dan membuat penasaran orang yang membacanya.

(baca; THEN LOVE & PERFECT HERO)


3. Rajin Membaca dan Mengapresiasi Karya Author Lain

Rajin membaca dan berkomentar di karya author lain termasuk salah satu cara untuk mem-branding nama kita di Novelme. Kalau kita rajin berkomentar, tentunya author lain akan mengenal kita. Begitu juga dengan pembaca, pembaca akan mudah mengingat nama kita karena kita sering memberikan review pada novel orang lain. Usahakan, tetap harus membaca minimal 1 bab supaya komentar kita tidak melenceng dari apa yang ditulis oleh penulis tersebut. 


4. Sapa Mereka (Para Pembaca) yang Telah Memberikan Review

Nah, kalau kita mendapatkan komentar dari pembaca, kita harus bisa menyapa balik pembaca itu. Aktif aja menyapa. Karena mereka itu senang kalau disapa sama authornya dan akan menjadi pembaca setia novel-novel kita. Enak 'kan kalau udah punya pembaca setia. Setiap mau bikin karya baru. Sudaha ada yang menunggu karya-karya kita.


5. Rutin Update Cerita

Cara yang satu ini sangat ampuh untuk meningkatkan jumlah pembaca di Novel kita. Kalau kita rutin update cerita, pembaca akan menunggu setiap harinya. Kalau tidak rutin update cerita, pembaca lama akan lari dan sulit untuk menemukan pembaca baru.


6. Gabung di Komunitas


Ada banyak banget komunitas-komunitas NovelMe di sosial media, seperti yang di WhatsApp. Bergabunglah di komunitas yang menurut kamu cocok. Tapi jangan sekedar gabung. Sesekali kamu harus aktif berdiskusi di dalam komunitas itu. Jangan cuma sekedar promosi-promosi cerita sendiri.

 

Biasanya di dalam group juga ada pengguna NovelMe yang berbaik hati menawarkan jasa merekomendasi cerita. Jangan sia-siakan kesempatan itu, coba tawarkan karya kamu.


 

 7. Share ke Media Sosial

Cara paling mudah meraup banyak pembaca adalah dengan membagikan setiap bagian cerita ke jejaring sosial dan surat elektronik. Jika mengakses melalui website di desktop (komputer/laptop), Dan biar sharingnya efektif, lakukan di waktu-waktu pengguna media sosial sedang banyak yang online. Tapi sebaiknya bagikan sewajarnya saja. Kalau terlalu sering bisa-bisa kita malah dianggap nyepam dan dihapus dari daftar pertemanan.

 

Inilah 7 Cara Meningkatkan Reviewer Novel yang bisa kamu coba. 

Semoga bermanfaat.

 

Salam kreatif, salam menuulis.

 

Much Love,

 

Vella Nine a.k.a Rin Muna

 

______________________________________________
đź…’Copyright. 

Dilarang mengutip atau menyebarluaskan konten blog ini tanpa mencantumkan link atau kredit penulis.

 

Tuesday, October 6, 2020

Penulis Sampah dan Tulisan-Tulisan Sampahnya


 

 


 

Hari ini aku dibuat kecewa, bahkan lebih kecewa dan sakit hati karena seorang penulis senior mengatakan aku adalah penulis sampah hanya karena aku memilih menaruh tulisan-tulisanku dalam bentuk digital, bukan melalui buku cetak lagi.

Aku bahkan baru tahu kalau ada kasta senior-junior di dunia literasi yang jaraknya begitu jauh. Bahasaku yang teramat santai di media sosial, dianggap tidak sopan dan tidak menghormati penulis senior. Kenapa? Karena aku sudah mengikuti semua postingannya selama berhari-hari yang terus-menerus menyerang penulis platform dalam dalih diskusi. Kemudian, aku dianggap membela platform tempatku bernaung karena aku adalah salah satu Ambassador di platform tersebut.

Penulis senior itu mengatakan kalau beliau tidak hanya membahas satu platform saja. Namun, dari sebutan “Ambassador” saja, semua penulis platform sudah tahu kalau hanya ada satu platfom menulis yang memiliki Ambassador.

Banyak tulisan di sana yang memancing emosiku sebagai penulis sampah. Sebagai penulis senior, mereka tidak segan mengatakan saya penulis sampah, karya-karya sampah, saya bodoh karena terlalu menggebu-gebu membela platform. Sebenarnya, yang membuat saya terpancing bukanlah masalah platform-nya. Tapi ada kata “Ambassador” di sana yang akhirnya membuat jari ini gatal untuk berkomentar. Yang pada akhirnya, kami sebagai penulis platform dijuluki sebagai penulis sampah yang hanya menulis tentang esek-esek. Tidak ada faedah dan manfaatnya sama sekali.

 

Dulu, saya pernah ada dalam posisi yang sama. Menganggap penulis yang menuliskan konten 21+ adalah orang yang seharusnya disingkirkan. Tapi, lama-kelamaan ... saya masuk ke dalamnya karena saya mendapatkan pesan yang ingin disampaikan oleh seorang penulis. Ada orang yang dianggap kotor di masyarakat, dikucilkan, dihina ... kemudian dia menjadi sosok yang berbeda.

 

Aku bukan tidak menghormati senior. Aku sangat menghormati mereka. Bahkan, banyak tulisan-tulisan mereka yang aku baca. Tulisan-tulisan berkualitas yang aku gunakan sebagai role-model dan belajar. Membacanya, memahami maknanya dan mengaguminya. Tapi, kekagumanku itu seketika sirna, berubah menjadi kekecewaan yang mendalam bahkan sakit hati yang entah sampai kapan bersarang dalam diriku. Membuatku merasa, bahwa dunia literasi itu sangat kejam. Mereka akan menganggap orang yang masih berproses adalah sampah. Sampah yang seharusnya dilenyapkan dari muka bumi ini.

 

Aku tahu ... tidak semua penulis di platform memiliki kualitas yang baik. Banyak mereka yang sedang belajar, berusaha mencintai baca-tulis dan semangatnya patut untuk diapresiasi. Seburuk apa pun tulisannya, orang itu pasti sedang berusaha. Seperti beberapa tahun lalu saat aku bertemu seorang penulis difable. Dia begitu bersemangat menulis, tulisan yang masih berproses itu ... kini ia menjadi penulis yang kualitas tulisannya sudah meningkat. Ketika membaca tulisannya yang berantakan, aku menangis. Bukan karena tulisannya yang tidak berkualitas, tapi karena kegigihan dan semangatnya untuk belajar padahal dia seorang tuna netra. Aku tidak tahu bagaimana proses dia menulis di sana, menggunakan braile dalam bentuk digital atau bagaimana. Aku tak pernah menanyakan itu karena takut melukai perasaannya.

Dari kejadian kecil itu ... aku belajar menghargai tulisan orang lain seburuk apa pun. Mungkin, mereka sedang belajar. Mungkin ... mereka sedang berusaha di belakang sana untuk melahirkan tulisan yang lebih baik lagi.

Aku pikir, kasta senior-junior dalam dunia literasi tak separah ini. Dan sasaran empuknya adalah penulis platform karena tulisan-tulisan mereka (yang masih berproses) dapat diakses oleh siapa saja dan dari mana saja.

Kalau dalam kasta kehidupan, penulis platfom digital sepertiku dianggap sampah. Mungkin setara dengan pengemis, pemulung dan preman-preman di jalanan yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Tidak ada manfaatnya dan tidak menghasilkan manfaat sama sekali. Kami dianggap semak belukar, pohon yang berduri dan bergetah yang seharusnya dibasmi.

Jujur, aku menangis membaca tulisan-tulisan itu ... merasa bagaimana kehadiranku sebagai penulis era digital yang dianggap sampah dan bodoh. Karena kebodohanku, aku tidak bisa menghasilkan tulisan lain selain tulisan sampah. Tapi, aku masih bisa menggunakan hatiku untuk memungut sampah-sampah yang berceceran walau dengan air mata.

Kini, aku tak bisa menyebut diriku sebagai penulis yang dulu begitu bangga nama itu tersemat dalam diriku. Aku tidak bisa menghasilkan tulisan yang berkualitas, hanya sampah-sampah yang berserakan di mana-mana. Sebutlah saja aku ini tukang sampah atau pemulung kata-kata. Karena kata-kata yang aku dapat dari memulung adalah sampah, maka jadilah aku sempurna sebagai pemungut sampah saja. Aku kini menyadari kalau aku tak layak disebut penulis, sama halnya dengan aku yang tak layak disebut manusia dalam kehidupan bermanusia.

Aku menulis ini bukan karena aku membela platform yang menaungiku dan telah memberikan begitu banyak hal berharga untukku. Aku menulis ini sebagai seorang manusia biasa yang sedang belajar. Gelar “Ambassador” yang tersemat di namaku juga bukan semata-mata aku yang menginginkannya. Ini semua aku lakukan karena aku ingin membalas kebaikan platform, orang-orang di dalamnya yang mau menerimaku yang masih berproses.

Aku ini cuma gelandangan, yang berjalan ke sana ke mari tak tentu arah. Berkelana tanpa tahu ke mana tujuanku. Saat aku bertemu dengan platform yang memberikan aku pakaian, memberiku makan dan memberikan ilmu untukku. Alangkah tak tahu dirinya aku jika tak mengabdi pada sosok yang telah menganggapku seperti anaknya sendiri.

Aku hanya ingin merangkul para penulis baru, mereka yang pernah jadi gelandangan sepertiku. Yang beli satu bungkus nasi dimakan orang sepuluh. Yang hanya bisa beli satu gelas teh hangat untuk dinikmati beramai-ramai. Bahkan tak jarang minum air hujan hanya untuk bertahan hidup.

Kini, aku mulai ragu dengan diriku sendiri yang dulunya disebut penulis. Sebutan “Penulis Sampah” itu terus terngiang di kepalaku. Mungkin, seumur hidupku aku hanya bisa menghasilkan sampah yang berserakan. Tidak memberikan manfaat sama sekali. Atau, sebagai tumbuhan liar yang seharusnya dibasmi oleh orang-orang Yang Mulia itu.

Tiba-tiba aku menangis pada mawar-mawar yang berduri, pada kaktus-kaktus yang berduri, apakah mereka bisa memilih terlahir tidak berduri? Agar bisa dianggap layak untuk hidup?

Tiba-tiba aku menangis pada pohon nangka yang bergetah, pohon pepaya yang bergetah, apakah mereka bisa memilih terlahir tanpa getah? Agar bisa dianggap layak untuk ada?

Tiba-tiba aku menangis pada semak-semak yang tumbuh liar, pada puteri malu yang entah untuk apa diciptakan. Dia merayap di tanah, berduri, menjadi semak yang tak akan dianggap layak untuk hidup.

Aku memang penulis sampah, karya-karyaku adalah sampah. Sampah-sampah yang akan terus menggunung, memenuhi jalanan, memenuhi selokan, memenuhi sungai, memenuhi lautan, memenuhi tempat-tempat yang bau dan kotor.

Aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi penulis bermanfaat. Aku tidak tahu bagaimana cara menghasilkan tulisan yang bermanfaat. Maka biarlah aku menjadi penulis sampah yang akan menghasilkan sampah-sampah setinggi gunung Semeru.

 

Terima kasih untuk pelajaran berharga dari para senior yang telah mengatai aku sebagai penulis ‘sampah’ dan ‘bodoh’.

Dari dua kata itu aku belajar banyak hal. Belajar bagaimana menghargai mereka yang terlahir dari jalanan, menghargai mereka yang tinggal di kolong jembatan. Sebab ... mereka tak bisa memiliki pilihan lain untuk berdiri sejajar dengan orang-orang Yang Mulia itu.

 

Terima kasih telah berkenan membaca tulisan sampahku ini.

 

My Quote :

"Jika suatu hari namamu terbang setinggi langit. Ingatlah, bahwa kakimu selalu berpijak di bumi."

 

 

Salam Manis,

 

Vella Nine a.k.a Rin Muna

 

 _____________________________________________________________

©Copyright.

Dilarang copy paste, screenshoot atau membagikan postingan ini tanpa mencantumkan nama penulis.

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas