Blog ini menceritakan tentang Kehidupan yang aku jalani. Keseharian yang ada dalam hidupku. Tentang cinta, tentang perjuangan dan pengorbanan, tentang rasa sakit dan tentang orang-orang yang ada di dalam kehidupanku. Tentang Desa Kecil dan gadis kecil yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat sekitar.

Monday, March 30, 2020

Drama Covid-19 Part 1 - Murid Libur



“Anak-anak, mulai besok libur sampai 14 hari ke depan. Karena negara kita sedang ada wabah Covid-19,” tutur Bu Raya, wali kelas di kelas IX SMA Mangga.
“Hore ...!” teriak semua murid sekelas.
“Tetap belajar online dari rumah ya! Nanti Ibu akan share jadwalnya lewat WA Group!”
“Huft ...!” Murid-murid yang awalnya ceria langsung berubah tak bersemangat.
“Ingat ya! Nggak boleh keluyuran! Stay at home! Tetap belajar dari rumah. Ibu pantau lewat ini!” perintah Bu Raya sambil tersenyum menunjukkan ponselnya.
“Iya, Bu!” jawab murid serentak.
“Kalau waktunya belajar online dan ada yang absen, nggak ibu naikkan kelas!” ancam Bu Raya.
“Yah .. Bu, kalo nggak punya paket gimana?”
“Beli dong!”
“Kalo nggak punya duit buat beli Bu?”
“Pakai uang bensin kalian yang biasa kalian pakai pergi ke sekolah. Uang jajan dan uang bensin kalian bisa dipakai buat beli paket data.”
“Yah, Bu ... kalo nggak sekolah, saya nggak dikasih uang jajan dan uang bensin,” sahut Rio.
“Lah? Inyong juga Bu.” Bejo menambahkan.
“Kumaha euy?” sahut Asep yang duduk di samping Bejo.
“Kumaha-kumaha!? Lah kepriben?” sahut Bejo.
“Bu, saya kan pakai wifi di rumah. Kalau pas lagi jadwal belajar online dan mati listrik gimana, Bu?” tanya Sinta.
“Ya beli paket internet dong!?” sahut Bu Raya.
“Kalo di rumah udah pakai wifi. Nggak bakal dikasih uang buat beli paket, Bu.”
“Uang jajan dan uang bensin yang kamu pakai ke sekolah kan bisa disisihkan untuk beli paket internet,” tutur Bu Raya.
“Lah? Saya tinggalnya di kampung, di pelosok, Bu. Nggak ada sinyal di sana. Gimana dong?” tanya Febrian.
“Naik ke gunung cari sinyal!” jawab Bu Raya.
Febrian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Bu ...!” Si Gembul ikut mengacungkan tangan. “Saya nggak punya hape. Gimana, Bu?”
“Pakai hape orang tua kamu!”
“Orang tua saya nggak pake hape yang ada WA-nya, Bu.”
“Emangnya orang tua kamu hapenya merk apa?”
“Nokia 3315.”
“Suruh orang tua kamu ganti hape ya! Biar bisa belajar dari rumah!” pinta Bu Raya sambil tersenyum.
“Tapi, Bu ... orang tua saya nggak punya uang. Saya juga nggak pernah dikasih uang jajan dan uang bensin.”
“Kok, kamu bisa sampai ke sekolah?”
“Numpang sama Rio,” jawab Si Gembul lirih.
“Bener, Rio?” tanya Bu Raya sambil menatap Rio.
Rio menganggukkan kepala.
“Terus, kamu di sekolah nggak jajan?” tanya Bu Raya.
Si Gembul menggelengkan kepala.
“Betah nggak jajan?” Bu Raya mengernyitkan dahi. Ia tak percaya kalau murid bertubuh gempal itu tidak pernah pergi jajan.
Si Gembul mengannggukkan kepala. “Mamak bawakan singkong rebus dari rumah,” tutur Si Gembul lirih.
“Singkong rebus!?”
Semua murid di dalam kelas tertawa.
“Heh!? Nggak ada yang boleh ketawa!” tegur Bu Raya.
“Rumah kamu deket sama Rio?”
Si Gembul menganggukkan kepala.
“Kalo gitu, kamu belajarnya ke rumah Rio. Numpang belajar sama dia!”
Si Gembul menundukkan kepala sambil meremas jemarinya.
“Gimana Rio?”
“Siap, Bu!” jawab Rio.
“Oke. Semuanya sudah jelas ya? Sekarang, kalian semua boleh pulang. Ingat ya! Nggak boleh ngeluyur! Nggak boleh nongkrong apalagi pergi ke tempat-tempat hiburan!”
“Siap, Bu!”
Murid-murid langsung berhambur keluar kelas.
Sebagian ada yang bergembira karena tidak masuk sekolah. Sebagian lagi ada yang merasa menderita karena tidak masuk sekolah.


Kamu ... bagian yang mana?

( Bersambung ...)

Jangan lupa subscribe untuk dapetin update cerita terbarunya ya... bye ... bye...!


Follow instagram : @rin.muna
Facebook : Rin Muna

Friday, March 27, 2020

Enggan Berdamai



Ribuan langkah telah kutempuh
Sejauh langkahku tanpa berteduh


Tahukah kau ...?
Kopi kusuguh setelah kuseduh
Lamat-lamat suara sesap mulai terenyuh
Namun kopiku tak mampu berhenti berpeluh

Berpeluh tanpa keluh ...
Sakit yang tak berdarah terus kukayuh

Berjuang sendiri hingga tak terasa sakit yang teramat sakit.
Berjuang sendiri dan hanya mendapat tatapan mata, enggan mengulurkan tangan.
Berjuang sendiri hingga peluh berubah jadi darah.

Darah yang terus mengalir ...
Mengalir tanpa arah yang pasti ...
Yang pasti adalah perjuangan dan pengorbanan tak pernah bertepi.


Ingin kupergi ...
Memperbaiki diri ini...
Mungkin langkah awal telah mati ...
Aku enggan berdamai dengan hati.
Aku enggan berdamai dengan kaki.
Aku enggan berdamai dengan nuraini.

Bisik-bisik kecil yang menguatkanku ...
Senyum-senyun kecil yang menyemangatiku ...
Namun aku tetap enggan 
Tetap enggan melanjutkan jalan yang kini kulalui.
Terlalu banyak rasa sakit di hati.
Jika berdamai akan terus merasa sakit.
Aku enggan berdamai ... sebab ku ingin mencari damaiku sendiri ...



Kutai Kartanegara, 26 Maret 2020

@Rin.Muna


Thursday, March 26, 2020

Social Distancing Ngapain? Bikin Kreasi Dompet Dari Kain Flanel untuk Si Kecil


Hai temen-temen ...!

Hari ini masih Social Distancing. Beberapa hari lalu, aku nemenin si Kecil bikin kreasi masker.

Nah, kali ini aku mau ajak si kecil bikin Kreasi dompet yang mudah dan cocok buat kegiatan si kecil di rumah.

Alat dan Bahan yang diperlukan : 
1. Kain Flanel
2. Gunting
3. Benang
4. Jarum
5. Kancing baju


Langkah-langkah membuat kreasi dompet :
1. Potong kain flanel ukuran 23x12 cm

2. Lipat bagian bawah ke atas sepanjang 8 cm.

3. Jahit lipatan kain agar menyatu
4. Pasang Kancing di bagian tengah dompet
5. Buat Lubang kancing di bagian penutup dompet.
6. Dompet sudah jadi dan bisa digunakan untuk menyimpan uang atau kartu mainan si kecil.


Nah ... demikianlah dompet kreasi dari kain flanel untuk si kecil.
Kalian bisa mencobanya juga di rumah.


Selamat mencoba ...
Semoga bermanfaat dan bisa mengisi kegiatan Social Distancing karena wabah virus Covid-19 yang sedang merajalela di seluruh dunia.

Stay at Home ...

Tetap berkreasi dan selalu jaga kesehatan...


Salam manis,

@rin.muna

Saturday, March 21, 2020

Pecel Gorengan Legendaris di Beringin Agung




Hai ... hai ...!

Buat temen-temen yang tinggal di wilayah Desa Beringin Agung,   pastinya udah nggak asing dengan sosok yang satu ini. Siapa sih? Ya inilah sosok Mbah Mudin yang sudah terkenal sebagai penjual gorengan sejak aku masih kecil. Oh, No! Mungkin sejak aku belum dilahirkan.

Dari dulu sampe sekarang, rasa pecel dan gorengannya yang khas itu nggak pernah berubah. Dulu, setiap hari selalu langganan beli sama Mbah ini waktu masih sekolah. Dulu sih, belum banyak yang jualan di sekolah. Cuma Mbah ini aja. Nggak kayak sekarang yang makin banyak jajanan beragam di sekolah.

Sering kali, kita kangen sama pecel dan gorengan yang legendaris ini. Kenapa? Karena rasanya bener-bener mengingatkan pada masa-masa indah di bangku sekolah dasar.

Sampai sekarang, beliau masih berjualan di sekolahan. 
Hayo ngaku ... siapa yang makan gorengan lima biji, tapi bilangnya cuma tiga biji? wkwkwk ...
Alhamdulillah ... aku sih belum pernah ngisengin mbah ini. Mending aku bilang ngutang dulu daripada harus bohongin beliau. ( Asli, aku mah tukang ngutang gorengan sama Mbah ini )


 Beberapa waktu lalu, aku juga berbincang sama salah satu guru SMP. Yah, beliau juga bilang kalau Mbah Mudin sudah jualan pecel dan gorengan sejak dia masih kecil. 

Hmm ... kalau dihitung-hitung, beliau udah jualan pecel gorengan lebih dari 30 tahunan kali ya? Pasalnya, usiaku sekarang aja udah dua puluh delapan tahun.

Katanya, bagus tuh kalau kisah hidupnya dijadikan inspirasi dan masuk ke HITAM PUTIH-nya Trans7. Tapi, gimana caranya ya? Kayaknya harus ada pengajuan dulu buat ngajukan kisah hidup beliau yang masih konsisten jual pecel dan gorengan selama puluhan tahun. Pastinya, perlu dukungan dari orang-orang di sekitar juga.

Ah, itu cuma intermezzo dan khayalan nakal semata. Tak perlu ditanggapi serius!

Yang serius itu, pecel dan gorengannya selalu enak. Kalau jualannya di sekolah nggak habis. Biasanya, beliau akan berkeliling kampung supaya pecel dan gorengannya bisa habis.

Aku sering bertanya kalau lagi makan pecel buatan beliau.

"Mbah, sudah tua kok masih kuat jualan gorengan kayak gini? Masaknya jam berapa, Mbah?" tanyaku.
"Jam tiga subuh, Mbah sudah bangun bikin adonannya. Nanti, gorengnya di sekolahan," jawab Beliau.

"Oh ... sehat terus ya, Mbah!"

Aku tersenyum dan berharap beliau selalu diberikan kesehatan biar aku bisa sering-sering makan pecelnya. Bahkan, puteri kecilku juga pasti beli gorengannya mbah ini setiap kali Mbah Mudin lewat depan rumah. Dia nggak mau ketinggalan dan melewatkan gorengannya Mbah.

So, yang udah ngerasain pecel dan gorengan legendaris ini pastinya generasi turun-temurun. Mulai dari Mbahku, Mamaku sampe ke anak-anakku.

Kalian juga suka sama pecel dan gorengan mbah ini?

Bagi ceritanya di kolom komentar juga bisa, kok.



Salam manis,


@rin.muna



Friday, March 20, 2020

Kosa-Kata Bahasa Inggris Tempat Umum (English Vocabulary Public Place )









Jawablah Soal Dibawah ini Dengan Nama tempat Umum (Public Places) Yang tepat :

  1. We can see many animals in the_______
  2. My family will eat in a new_______
  3. I will go to______with my friends to meet my teacher
  4. My mom asks me to buy sugar in the________
  5. My father goes to______today to work
  6. I will borrow a book in_________
  7. Will you watch football in the_________
  8. I Like to saw butterfly and flowers. Let’s play in the______
  9. I will swim in the_______
  10. My grandfather is sicks, so he goes to_______
  11. Jogjakarta has many______ like a Borobudur.
  12. I will wait train in the________
  13. Moslem pray in the ______
  14. My mom always buys vegetables in the ______
  15. You can do exercise in the ______
  16. You can buy book and pencils in _______
  17. You can watch movie in____________
  18. I go to bali and sleep in_____
  19. The christians pray in the___________
  20. You can report a thief in_______



Answer Key

Wednesday, March 18, 2020

Wisata Edukasi - Mengajak Si Kecil ke Pameran Seni



Aku lagi iseng, tiba-tiba bukain folder di komputer karena mau ngehapusin file-file yang udah nggak dipake alias bersih-bersih. Saking nggak pernah dihirauin, memori komputer udah mau full dan bikin aku kesel karena ngelag terus.

Akhirnya, aku dapetin beberapa foto kenang-kenangan yang belum pernah aku ceritain ke siapa pun alias cuma disimpan doang, nggak pernah mengungkapkan cerita-cerita di baliknya.

Buat aku, asal bisa menginspirasi dan menjadi kenang-kenangan untuk generasi penerus. Nggak ada salahnya kita bercerita tentang keseharian kita sendiri. Supaya masa depan, tetap mengingat kita dalam tulisan-tulisan kita.

Hari itu, weekend ... kebetulan, Livia masih berumur 3 tahun dan belum sekolah. Mamanya juga kerjanya dari rumah, jadi bisa ngatur jadwal buat berlibur.

Seperti biasa, kalau liburan kami selalu pergi ke Kota Balikpapan untuk mengunjungi keluarga yang ada di sana. Selain mengunjungi keluarga, kami juga pengen refreshing karena kelamaan di kampung. Yang dilihat cuma pohon-pohon aja.


Setiap kali ke Balikpapan, sering banget bingung mau ke mana.
Pengen nge-mall tapi duit terbatas. Alhasil, aku ajak aja si kecil ke tempat-tempat yang nggak perlu merogoh kocek banyak. Biasanya, aku ajak main ke taman kota. Dia juga senang menikmati pemandangan tanpa minta macem-macem. Paling cuma minta jajan yang masih bisa aku penuhi keinginannya.

Di foto kenangan kali ini, aku mengajak Livia ke sebuah Pameran Seni karya teman-teman seniman di Balikpapan.
Entah, sejak dulu aku suka sekali datang ke tempat-tempat seperti ini. Sangat menginspirasi sekali.
Dulu, aku mengenal para pelukis Balikpapan ini saat aku masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Waktu itu, guru kesenian memberikan tugas untuk datang ke pameran dan mengumpulkan data sebanyak-banyak tentang dunia seni rupa.

Aku seneng banget, sampe 7 hari berturut-turut aku datang ke sana dan berkenalan dengan para pelukisnya. Alhamdulillah ... sampai saat ini, mereka tetap mengenal aku. Walau kami lebih sering berkomunikasi via media sosial saja. Tapi setiap kali ada pameran lukisan, aku selalu hadir untuk melihat karya-karya mereka yang amazing banget.

Saat itu, lagi peresmian Balikpapan Art Center. Aku langsung ngajak si kecil untuk berkunjung ke sana. Aku lebih suka mengajak dia mengunjungi pameran atau toko buku. Selama dia menikmatinya, artinya aku berhasil membawa dia masuk ke dalam dunia yang positif dan menginspirasi.

Pertama kali masuk ke Balikpapan Art Center ini, aku langsung disambut sama koleksi Balikpapan Tempo Doeloe. Kebetulan aku mengenal salah satu relawan dari Balikpapan Tempo Doeloe, yakni mba Ocha (Rosalinda Tumbelaka). Dia seorang penulis, photografer dan juga karyawan swasta yang aktif sebagai pengelola Dahor Heritage, salah satu situs sejarah di Kota Balikpapan.

Setelah melewati koleksi-koleksi sejarah kota Balikpapan, aku langsung menuju ke bagian kiri ruangan. Yakni koleksi hasil seni rupa karya perupa Kota Balikpapan. Kebetulan di sana ada Ifrian Chaha beserta istri, juga Cadio Tarompo berserta istri dan anak-anaknya.

Alhasil, kami saling menyapa dan bercerita banyak.

Terkadang, aku merasa malu setiap kali bertemu dengan mereka. Mereka tetap konsisten dengan dunia seni lukis dan lukisannya semakin lama semakin amazing. Apalagi Abi Cadio Tarompo, hasil lukisan-lukisannya sudah ke tingkat nasional dan dikenal sebagai pelukis super realis.
Kamu bisa lihat hasil lukisan beliau lewat video di bawah ini :

Exhibition Balikpapan Creative Center

Aku juga merasa sangat senang karena si kecil juga Happy diajak ke pameran lukisan.
Nggak banyak orang tua yang ngajak anaknya ke tempat-tempat seperti ini. Aku hanya ingin membiasakan si kecil pergi ke tempat di mana ia bisa menjadi sesuatu suatu hari nanti.


Aku jadi seneng ngajak dia berwisata edukasi, selain refreshing, dia juga belajar banyak hal dari tempat ini. Tinggal gimana kita mengajak si kecil berkomunikasi dan membuat dia nyaman berada di tempat-tempat yang edukatif. Jangan sampai, kita cuma diem aja dan si kecil cuma plonga-plongo karena nggak tahu tempat yang ia datangi sebenarnya seperti apa dan bagaimana.

Menjadi orang tua, memang harus lebih aktif. Apalagi anak-anak Generasi Z sudah jauh lebih pintar dari generasi sebelumnya. Tantangan bagi orang tua, tentunya jauh lebih besar lagi.


Cukup sampai di sini aja ya tulisan dari aku.


See You di tulisan-tulisan selanjutnya...


Buat Little Livia, mungkin sepuluh tahun lagi kamu bakal baca tulisan ini.
Semoga saja kamu selalu menjadi kebanggaan Mama dan selalu berada di tempat-tempat yang baik.



Salam manis,

@rin.muna

Tuesday, March 17, 2020

Lock Down Karena Covid-19. Libur 14 Hari dan 14 Kegiatan Belajar yang Bisa Dilakukan Di Rumah


Sejak semalam, sudah ada surat edaran dari Bupati Kutai Kartanegara No : B-1035/Disdikbud/DPK.1/065.11/3/2020 Tentang INFORMASI PELAKSANAAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR TERKAIT WABAH CORONA VIRUS DISEASE 2019 (COVID-19).

Dalam surat edaran tersebut dinyatakan kalau proses belajar-mengajar untuk jenjang pendidikan PAUD/RA, SD/MI, SMP/MTs dilakukan di rumah mulai tanggal 17 Maret 2020 sampai dengan 30 Maret 2020 dengan memanfaatkan sistem pembelajaran secara online.

Nah, karena surat edaran ini ... si Livia juga harus libur selama 14 hari. Akunya jadi bingung mau ngasih kegiatan apa buat Livia yang masih PAUD (Kelompok Bermain). Karena pastinya, aku harus membuat dia nyaman bermain di dalam rumah tanpa mencari teman main. Karena Livia termasuk anak yang sangat aktif dan tidak bisa bermain sendirian. Dia bakal keluar nyari temen buat main.

Sejak semalam, aku sudah memikirkan banyak hal yang bisa aku lakukan untuk si kecil supaya bisa menemaninya bermain sambil belajar.

Aku banyak berselancar di internet untuk bisa memberikan edukasi pada si kecil agar mudah menerima pembelajaran dari ibunya. Soalnya, Livia termasuk anak yang nggak mau belajar sama ibunya, dia maunya belajar sama ibu guru aja. Yah, aku juga nggak bisa terlalu memaksakan. Takutnya, dia malah nggak happy sama ibunya.



Salah seorang teman menyarankan untuk mengajak si kecil belajar membantu pekerjaan rumah. Seperti mencuci pakaian, menyapu dan sebagainya. Yah, mungkin tak banyak membantu, hanya bermain dan membuatnya happy. Akan aku coba salah satu saran dari temanku.

Karena anakku perempuan, aku punya ide buat main masak-masakan. Masakan yang bisa dimakan beneran tentunya.

Selama 14 hari ini, aku harus lebih kreatif memberikan kegiatan untuk anakku supaya dia tetap aktif bermain sambil belajar.

Ada banyak kegiatan di rumah yang bisa aku coba sebagai kegiatan untuk si kecil, seperti :

1. Membuat Cokelat
2. Menjemur Pakaian
3. Mencuci piring
4. Menyapu
5. Mengepel Lantai
6. Menanam Bunga
7. Membuat Origami
8. Membuat Hiasan Pensil
9. Membuat Tempat Pensil dari Botol Bekas
10. Membuat Tabungan dari Kaleng Bekas
11. Membuat Dompet dari Kain Flanel
12. Membuat Gelang
13. Membuat Kalung
14. Membuat Baju Boneka


Nah, aku udah punya 14 list kegiatan yang bisa aku kasih ke si kecil selama 14 hari libur ke sekolah alias belajar di rumah.

Nah, kalian juga bisa bikin list kegiatan yang beragam biar nggak jenuh saat mengisi waktu luang di rumah.


Yuk, share juga kegiatan yang bakal kamu lakuin selama 14 hari ke depan. Siapa tahu salah satu kegiatan kamu juga bisa jadi inspirasi baru buat aku. Bisa share lewat kolom komentar ya!



Salam manis,

@rin.muna

Monday, March 16, 2020

Dari Sampah Plastik Jadi Lampu Cantik

Dok. Pribadi




Di artikel sebelumnya, aku menulis kegiatan Ibu-Ibu Mamuja di Rumah Literasi Kreatif. Silakan klik link di bawah ini:



Dok. Pribadi



Dari sampah-sampah gelas air mineral yang kerap kali dibuang begitu aja bahkan berserakan. Sekarang sudah bisa dipakai untuk lampu hias atau lampion loh. Lihat aja di Rulika ada dua lampion karya ibu-ibu Mamuja. 

Selain mengurangi volume sampah, lampion gelas bekas ternyata juga bisa terlihat cantik juga.

Buat yang suka berkreasi, bisa mencoba bikin lampion ini juga di rumah. Apalagi saat ada hajatan atau konser, biasanya sampah-sampah air mineral bertebaran ke mana-mana dan bisa jadi bunga di lapangan. Bisa tuh coba dipungutin dan kita jadikan barang yang berguna. 

Terutama buat kita yang tinggal di daerah pesisir pantai. Sebisa mungkin, sampah plastik tidak terbawa arus air ketika hujan dan bermuara di lautan. Karena, kehidupan di laut akan terancam. Kita nggak pernah tahu, sudah berapa volume sampah plastik yang masuk ke lautan. Dari hal kecil ini, kita bisa menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi?

Aku yang dulunya gengsi mungutin barang bekas, sekarang dengan pede-nya jadi pemulung setiap kali ada acara. Sampe-sampe, Mamuja dikatain sebagai pemulung.

Aku sih nggak masalah. Asal itu positif dan bermanfaat. Walau jadi pemulung, aku merasa Mamuja menjadi orang yang lebih mulia. Karena saat orang lain buang sampah sembarangan, tanpa sadar merusak alam dan lingkungan. Mamuja masih peduli terhadap lingkungan dengan memungut barang-barang bekas. Walau dipandang rendah oleh orang lain, aku tetap bangga pada mereka yang memiliki jiwa sosial dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.

Saat ini, kreasi Mamuja dari barang bekas ini bisa dinikmati di Rumah Literasi Kreatif Bunga Kertas. Sebagai salah satu ikon dan wujud kepedulian Mamuja terhadap lingkunga. Sebab, tak banyak orang yang mau peduli.

Aku sering menitikan air mata jika melihat tempat ini sekarang. Dalam dua tahun, tempat ini sudah bisa berkembang dengan baik. Bahkan, di luar yang aku bayangkan. Kalau bukan karena dukungan dari masyarakat sekitar, aku tidak akan bisa membuat Rumah Literasi Kreatif menjadi rumah bagi mereka yang memiliki minat, bakat dan kreatifitas.

Dua lampu cantik ini mengingatkan diriku sendiri bahwa :

Tidak perlu menjadi lampu kristal untuk terlihat indah dan bercahaya. Tetaplah sederhana untuk bercahaya dan menerangi siapa pun yang ada di sekitarnya.

Weekend Seru di Kaltim Park Samboja - Ibu Kota Negara Baru

Dok. Pribadi

Happy weekend ...!
Kemarin weekend pada ke mana aja nih?

Aku sih, sebenarnya lumayan punya banyak kegiatan kalau weekend. Terutama kalau hari minggu. Biasanya, anak-anak latihan kaligrafi dari pagi sampe sore di Rumah Literasi Kreatif. Sorenya, masih lanjut kelas bahasa Inggris.

Tapi, karena si kecil udah ngerengek terus ngajak liburan. Alhasil, aku nurutin kemauannya kali ini.
Awalnya sih bingung mau ke mana. Dia bilang mau berenang ke pantai. Jadi, aku ajak deh ke Pantai Tanjung Harapan. Suasana di sana malah sepi, nggak seperti dulu yang kalau mau masuk ke tempat wisata itu selalu antre. Mungkin, karena sudah ada beberapa tempat wisata lain di Samboja yang sekarang jadi destinasi wisata para pelancong.

Yah, bener aja. Aku akhirnya memutuskan untuk pergi ke Kaltim Park (Wisata Pantai & Kolam Renang). Kalau mau berenang, emang harga masuknya lebih mahal daripada berenang di pantai. Tapi, kondisinya tentu lebih bersih daripada berenang di pantai.

Aku yang nggak punya banyak waktu buat keluar rumah ini. Baru pertama kalinya masuk ke Kaltim Park. Padahal, tempat ini sudah nge-hits sejak beberapa bulan yang lalu. Jadi tempat favorite buat liburan keluarga. Pasalnya, nggak cuma bisa berenang aja. Tapi juga bisa menikmati suasana pantai di Samboja.

Untuk masuk ke area wisata, kami hanya membayar Rp 15.000 di Hari Weekend ( untuk 1 unit motor dan 2 orang dewasa).

Begitu masuk, Livia langsung aja tuh lari ke pintu masuk kolam renang. Karena memang itu yang dia tuju. Mukanya yang awalnya sedih karena nggak bisa berenang di pantai (aku nggak berani ajak dia berenang di pantai karena airnya lumayan pasang) tiba-tiba langsung berubah ceria.


Kebetulan, waktu aku masuk ke kolam renang, aku langsung ketemu sama Nayla. Salah satu teman sekolahnya Livia. Aku seneng banget karena Livia punya teman buat berenang. Mereka kelihatan ceria dan seneng banget. Sampe minta foto selfie bak model profesional. Asli, Livia udah pede banget depan kamera tanpa harus dikasih intruksi buat gaya.

Foto Livia & Nayla
 Di tengah-tengah suasana berenang, di kolam anak ternyata ada kejutannya. Apa ya? Apa ya?
Ternyata, ada Party Foam yang bikin anak-anak makin ceria. Mereka berebut mandi busa. Si Livia malah nggak tertarik sama sekali. Dia tetep aja asyik belajar berenang sendiri.


Kedalaman kolam juga pas banget buat anak-anak usia di bawah lima tahun. Nah, di dekatnya lagi ada kolam yang lebih dalam. Itu kolam yang bentuknya gitar waktu di foto dari Drone. Kok tahu? Walau aku baru punya kesempatan sekali datang ke sini, aku udah lihat hasil foto drone tempat ini dari salah satu akun instagram warga kota Balikpapan.

Nah, bisa lihat sendiri kan kalau di sini juga banyak tempat seluncuran untuk anak-anak. Di sisi kolam renang juga ada gazebo-gazebo untuk beristirahat. Jadi, nggak perlu panas-panasan sambil nunggu si kecil berenang.

Usai berenang, aku berkeliling sebentar untuk melihat suasana pantai yang berada di sisi kiri kolam renang. Suasana pantai juga asyik banget buat nongkrong. Aku nggak tahu apakah tempat ini buka sampai malam atau enggak. Aku harap, ada kafe di sini yang bisa dipake buat nongkrong sambil nulis. Karena suasana asyik banget. Aku bisa ngabisin waktu dari pagi sampe sore nongkrong di kafe buat ngelarin naskah. Kalau tempatnya asyik dan tenang, ide-ide bisa mengalir dengan lancar. Hihihi ...

Selain pantai yang rindang, di tengah-tengah tempat wisata ini juga ada dua kolam yang aku masih nggak tahu sebagai tempat apa. Apakah sebagai tempat wisata air atau kolam pemancingan. Sebab, aku tidak melihat aktivitas orang memancing, juga nggak ada bebek-bebekan air yang biasa ada di kolam itu. Next time, mudahan bisa dapet info soal ini kalo balik ke sini lagi.





Selain lihat pemandangan yang asik dan asri. Ternyata ... aku juga bisa lihat kapal-kapal nelayan yang lagi bersandar. Aku ngerasa, kapal-kapal di sini bagus-bagus banget dan aku suka lihatnya. Mereka terlihat megah, bersih dan rapi. Aku jadi inget suasana kapal di drama-drama gitu. Ternyata, nggak jauh dari tempat tinggalku, ada juga tempat yang bagus kayak gini. Biasanya, aku cuma lihat kapal-kapal ini lewat jembatan Kuala dan sudut pandangnya nggak terlalu luas, jadinya kelihatan biasa aja.





Usai melihat kapal-kapal nelayan ini, aku langsung pulang karena kepikiran sama kegiatan anak-anak di Rulika ( Rumah Literasi Kreatif ).



Sebenarnya, masih banyak hal yang ingin aku tulis tentang keseruan tempat ini. Tapi, aku takut kalo kamu bosen baca tulisanku yang terlalu panjang. So, aku akhiri tulisannya cukup sampai di sini.

Sampai ketemu di tempat liburan selanjutnya ...


Salam manis,


@rin.muna



Note :
Subscribe dan dukung juga Channel Youtube aku di bawah ini ya!

Rin Muna Channel







Sunday, March 15, 2020

Kumis Kucing - Selain Cantik Juga Memiliki Banyak Manfaat


Ilustrasi : Dokumentasi Pribadi


Aku yang tinggal di kampung dan anak kampung ini, seringkali menjumpai beberapa tanaman liar di sekeliling.

Hari itu, aku berjalan-jalan bersama salah seorang teman untuk mendata warga.
Kebetulan, aku ketemu sama tanaman kumis kucing. Alhasil, langsung aku jepret aja dengan kameraku. Ternyata, kumis kucing punya penampilan yang indah juga. Selain indah, kumis kucing juga punya banyak khasiat untuk kesehatan.

Kumis kucing yang memiliki nama latin (Orthosiphon Aristatus) termasuk tanaman dari famili Lamiaceae.

Kumis kucing memiliki beberapa manfaat untuk kesehatan, di antaranya :

1. Menyembuhkan Infeksi Saluran Kemih

 Air rebusan daun kumis kucing bermanfaat menyembuhkan Infeksi Saluran Kemih (ISK) karena efektif dalam melawan infeksi.

2. Mengobati Gangguan Ginjal

Kumis kucing dipercaya dapat mengobati batu ginjal hingga berukuran 5 cm.

3. Atasi Rematik

Air rebusan daun kumis kucing ( 5 lembar + 3 gelas air ) dipercaya dapat meredakan rasa sakit saat mengalami rematik. Dosis yang dianjurkan adalah meminumnya setengah gelas, sebanyak 3 kali dalam sehari.


4. Meredakan Batuk

Air rebusan daun kumis kucing dapat meredakan batuk. Bisa diminum sebanyak 3 kali dalam sehari secara rutin.

5. Mengobati Gusi Bengkak

 
Air rebusan daun kumis kucing bisa digunakan untuk berkumur ketika gusi mengalami pembengkakan. Karena kumis kucing sangat bermanfaat sekali dalam melawan infeksi pada tubuh manusia.



6. Mengontrol Kadar Gula Darah

Kandungan kumis kucing bisa bermanfaat mengontrol gula darah di dalam tubuh.

7. Menurunkan Tekanan Darah Tinggi
 
Antioksidan yang ada dan zat anti peradangan dalam kumis kucing sangat baik untuk penderita darah tinggi.

8. Mengurangi Gatal Karena Alergi


Air rebusan daun kumis kucing bersama meniran dan sambiloto (4 gelas air + 2 jari temulawak mampu mengobati gatal akibat alergi jika diminum secara rutin sebanyak dua kali dalam sehari.

9. Membantu Proses Detoksifikasi 

Kumis kucing dapat membantu membersihkan racun dari dalam tubuh. Minuman ini akan lebih nikmat lagi jika dipadukan dengan bahan rempah lain seperti jahe, temulawak, dll.

10. Anti Jamur

Karena kumis kucing mampu melawan infeksi dengan baik. Maka penderita infeksi jamur yang sudah mengalami peradangan dapat menggunakan daun kumis kucing untuk mencegah parasit dan zat asin lainnya di dalam tubuh.

Meskipun manfaat kumis kucing untuk kesehatan sangat banyak. Akan tetapi jangan mengonsumsinya dalam jangka waktu panjang. Mengonsumsi kumis kucing dalam jangka waktu panjang dapat mengurangi kadar natrium dalam tubuh. Wanita hamil sebaiknya hindari mengonsumsi ramuan kumis kucing.



Walau punya banyak manfaat, jangan sampai mengonsumsi dalam jangka panjang ya, teman-teman!
Sebab, apapun yang berlebihan justru akan menimbulkan penyakit. Mengonsumsi daun kumis kucing dalam jangka waktu panjang dapat mengurangi natrium dalam tubuh. Karena natrium sangat penting untuk menjaga keseimbangan tubuh kita.

Wanita yang sedang hamil, sebaiknya menghindari mengonsumsi ramuan kumis kucing ini.





Sumber referensi :
- health.detik.com
- sehatq.com


Makan Puas Selera Pas di Bakso Popeye Balikpapan Baru





Beberapa waktu lalu, aku diajak salah satu tetanggaku untuk mampir di salah satu warung bakso favorite-nya. Sebagai pecinta kuliner, dia selalu merekomendasikan tempat makan yang enak menurut seleranya.
Yah, bukan hanya menurut seleranya saja. Tapi juga selera kebanyakan orang.

Setelah berkeliling belanja. Kami mampir di Bakso Popeye yang berada di kawasan Mall Fantasy Balikpapan Baru.
Di sini, aku lihat tempatnya sangat ramai dan padat. 

Yang selalu terpikirkan dalam benakku ketika masuk ke warung makan atau restoran adalah intensitas pengunjungnya. Kalau pengunjungnya ramai, artinya makanan yang disajikan sangat cocok dengan selera kebanyakan orang. Pastinya, bakal cocok juga dengan selera lidahku juga.


Hmm ... waktu disodorin menunya, aku bener-bener bingung deh. Mau pilih variant bakso yang mana. Soalnya ada banyak. Pengennya sih dicobain semua, biar tahu perbedaan rasanya tiap varian.

Tapi karena keterbatasan waktu dan dana (duh, kok jujur banget ya?) akhirnya aku memilih untuk mencoba bakso jumbo isi daging.

Awalnya, aku pikir bakalan eneg kalo pesen bakso jumbo. Soalnya, pernah nyobain bakso jumbo di tempat lain dan aku eneg dengan bau daging sapi yang begitu menyengat. Lama-lama jadi nggak selera makan. Akhirnya, nggak bida habisin.

Tapi, waktu udah nyobain bakso jumbo ala Popeye, aku nggak berhenti makan sampe tetes terakhir. Kenapa?
Jelas karena rasanya enak, nggak eneg. Isinya bener-bener full daging cincang yang masih seger dan nggak mengandung lemak yang suka nempel di langit-langit lidah.
Aku sampe nanya. "Gimana caranya masak daging bisa kayak gini ya?"
Aku yang nggak demen masak tapi demen makan ini, pasti bisa bedain makanan mana yang enak di lidah dan mana yang kurang bersahabat di lidah.

Aku seneg banget sih makan di sini. Selain pengunjungnya yang rame, penjual dan pelayannya juga sangat manis dan ramah.







Sampai suatu waktu, aku kembali lagi ke tempat ini sambil ngajak salah satu anak di taman bacaku. Aku memilih memesan bakso jontor. Yah, pengen nyobain variant yang lain lah ceritanya.
Hasilnya, aku yang pecinta makanan pedas, ternyata nggak sanggup ngabisin bakso jontor yang super pedas. Bukan karena nggak enak, tapi karena cabainya yang pedes banget. Baksonya sih habis ... bis ... bis ... sampe bersih. Tapi, kuahnya nggak sanggup aku habisin.

Itu bakso ukurannya gede, terus isinya bener-bener cabe semua. Nggak ada campurannya sama sekali. Yah, namanya juga bakso jontor. Kalo nggak bener-bener bikin bibir jontor, bukan bakso jontor namanya.

Akhirnya, tempat ini jadi salah satu tujuan kulinerku setiap kali jalan ke Balikpapan. Sesuai dengan slogan Bakso Popeye "Makan Puas, Selera Pas". Bener-bener enak, nyaman, nagih dan harganya juga terjangkau.

Kamu ... udah pernah singgah ke sini juga atau belum?
Kalo udah, bisa share pengalamannya di kolom komentar. Buat yang belum, bisa memulai pengalaman baru dengan nyobain Bakso Popeye yang satu ini.


Salam manis,

@rin.muna





Saturday, March 14, 2020

Bersama Penari dari Rumah Literasi Kreatif Bunga Kertas


Jum'at lalu, lima gadis cantik ini menarikan tarian tradisional Kalimantan di hadapan Dirjen Kementerian PKP2Trans beserta jajarannya dalam acara "Monitoring Program Pengembangan Masyarakat PT. PHSS di Areal HPL Transmigrasi Samboja" yang diadakan di Rumah Literasi Kreatif Bunga Kertas.

Lima gadis cantik ini adalah penari di Rumah Literasi Kreatif Bunga Kertas. Joice Patricia Angelica Hasibuan, siswa kelas XI SMK Duta Bangsa ini menjadi koordinator penari di taman baca bersama Margaretha Apriliana. Mereka berdua adalah anak muda yang punya semangat berkarya dan menginspirasi. Mereka juga mengajak adik-adiknya ikut serta berpartisipasi dalam melestarikan tarian daerah Kalimantan Timur. Sekalipun berdarah Batak, ia sangat bersemangat melestarikan budaya daerah Kalimantan Timur. Joice dan Margaretha mengajak serta adik kelasnya Lisda dan Selly dari SMP 5 Samboja juga Cinta dari SMA Negeri 1 Samboja.

Harapannya, anak-anak remaja yang punya kegemaran menari bisa terus menyalurkan bakatnya dan berlatih bersama di taman baca. Mereka juga punya kesempatan untuk tampil di luar, sehingga bisa terus aktif dan menginspirasi anak-anak muda lain untuk terus berkarya dan melestarikan budaya daerah.

Terus semangat berkarya dan menginspirasi buat anak-anak remaja ya!

Salam budaya,
@rin.muna

Friday, March 13, 2020

Kenapa Latar (Setting) Tempat di Indonesia Nggak Marketable?

Source : Canva.com

Aku kadang sering bertanya-tanya sendiri saat mencari latar (setting) tempat untuk penulisan novel. Kalau pakai latar lokal, katanya nggak marketable. Nggak menjual sama sekali dan nggak ada yang berminat baca tulisannya. Kenapa? Yah, mungkin karena pasar pembaca lebih suka dengan latar (setting) luar negeri yang jauh lebih 'WAH ...!' daripada latar lokal.

Hmm ... bener juga, sih. Hampir semua pembaca selalu menyukai latar tempat yang ada di luar negeri. Di sana, tempatnya lebih asyik dan membuat pembaca berimajinasi, berada di tempat yang dideskripsikan dalam cerita.

Sebagai salah satu penulis novel adaptasi dari luar negeri, kadang aku juga ngerasa bingung. Aku nggak bisa menarik pembaca karena latar tempat yang aku pakai. Sementara, secara tuntutan, aku harus menggunakan latar tempat asli Indonesia alias nggak boleh pake latar yang ada di luar negeri. Alhasil, pembacaku nggak sebanyak penulis novel yang memakai latar (setting) luar negeri.

Kalau dipikir-pikir, sayang banget kan ya? Novel adaptasi dengan project puluhan juta, tapi nggak bisa dapetin pembaca karena pemilihan latar (tempat) yang nggak bisa pakai lokasi di luar negeri.
Tapi ... karena itu merupakan syarat dari negara pemilik naskah, mau nggak mau ya harus tetap dijalani juga. Dengan tertatih-tatih, berusaha memperkenalkan tempat-tempat menarik yang ada di dalam negeri.

Kenapa sih, latar (setting) di Indonesia nggak marketable banget?
Aku sudah mencoba menganalisa selama beberapa tahun belakangan ini. Bukannya penulis tidak mau memperkenalkan dan membanggakan daerahnya sendiri. Semuanya kembali pada permintaan pasar.

Ketika pembaca mayoritas lebih menyukai latar (setting) di luar negeri, maka si penulis akan berusaha membuatkan hidangan sesuai keinginan pembacanya.
Sama halnya dengan konten mature yang memiliki pembaca jauh lebih banyak daripada novel teenlit atau novel-novel inspirasi. Semuanya, kembali pada selera pasar, pada selera pembacanya.


So, gimana caranya biar latar (setting) tempat di dalam negeri bisa diterima oleh pembaca?
Yah, dengan memberikan pengertian dan mengajak pembaca untuk cinta pada Indonesia. Pembaca harus bisa menghargai para penulis yang memilih untuk mengambil setting tempat di dalam negeri. Selain itu, penulisnya juga harus tahu diri. Wkwkwk ... (ngatain diri sendiri).

Penulis juga nggak asal nulis, artinya ... kualitas dan kuantitas tulisan juga harus diperhatikan. Biar pembaca juga nggak kecewa, walau latar tempatnya di dalam negeri, kalau ceritanya menarik, bakalan bikin pembaca setia terus menikmati tulisan-tulisan kita.

Latar tempat memang sangat penting, tapi isi cerita juga menjadi bagian terpenting. Asalkan ceritanya menarik, pembaca tidak akan mempermasalahkan di mana tempat cerita itu berasal. Yah, pandai-pandai saja menarik minat pembaca supaya latar (setting) tempat di Indonesia juga jadi marketable.


Cukup sampai di sini tulisan kecil dari aku.

Buat kamu yang punya kritik, saran dan masukan-masukan, atau yang pengen diskusi tentang ini juga, bisa komen di bawah ya! Ditunggu kripiknya!


Salam manis,
@rin.muna



Asinan Acil - Jajanan Hits Samboja

Source : Asinan Acil Libiyah

Hai ... hai ...!
Buat kamu pecinta kuliner yang ada di Samboja, udah pada cobain Asinan Acil atau belum nih?
Kalau belum, bisa loh cobain Asinan Acil dengan cara hubungi orangnya di link ini : Asinan Acil Libiyah

Buat yang udah pernah cobain, bisa sharing di kolom komentar, menurut kalian, Asinan Acil ini cocok nggak sih di lidah kalian para pecinta kuliner di Samboja.

Kalau menurut aku sih ... ini jajanan cocok banget di lidahku. Karena aku emang pecinta makanan pedas dan suka banget makan buah-buahan. Nah, apalagi dibuat asinan kayak gini. Rasanya makin nge-hits di lidah.

Dengan harga yang terjangkau, kamu udah bisa menikmati Asinan Acil dengan beraneka ragam buah yang enak banget.

Waktu aku beli, buahnya bener-bener bervariasi banget. Ada buah nanas, kedondong, salak, rambutan, mangga muda, mangga matang, apel dan pir. Duh, rasanya tuh enak banget dan bikin nagih. Apalagi kuah asinannya, bener-bener bikin lidah ketagihan. Aku makan dua pouch sekaligus aja masih kurang dan rasa enaknya tuh masih terus terasa walau sudah berhari-hari nggak makan. Ngangenin banget kan jajanan yang satu ini.

Kamu yang jalan-jalan ke Samboja atau tinggal di wilayah Samboja, wajib cobain Asinan yang satu ini. Cara dapetinnya gampang banget, kok. Kamu bisa hubungi langsung pemilik facebook yang udah aku kasih linknya di atas.

Nah, kebetulan si pemilik Asinan Acil ini juga kerja di RSUD ABADI Samboja. Kamu bisa dateng langsung ke sana atau ke rumah si empunya produk yang ada di daerah Wonotirto. Biasanya sih harus keep barang dulu biar nggak kehabisan. Saking larisnya, kalau nggak pesen sehari sebelumnya, kamu bakal nggak kebagian. Jadi, buat kamu yang pengen nyobain ini, wajib pesan dulu. Biar nggak ketinggalan nge-hits, kudu cobain Asinan Acil ini.


Biar nggak ketinggalan hits, jangan lupa tinggalin komentar juga di bawah ini ya!


Salam manis,

@rin.muna


Mempercantik Kebaya dengan Mutsin Sederhana


Hai ... hai ...!

Buat kalian yang suka fashion, pasti suka juga dong dengan hal yang manis-manis kayak gini. 
Kebetulan, aku juga suka sama fashion. Hmm ... walau penampilanku belum bisa fashionable karena memang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah daripada di luar rumah. Alhasil, baju yang paling sering aku pake ya cuma daster doang. Tapi ... aku seneng banget kalo bisa bikinkan baju yang cantik buat orang lain.

Hmm ... emang sih, selain hobi nulis dan gambar, aku juga suka menjahit. Mmh ... dibilang suka banget sih enggak juga. Tapi ... suka aja bisa bikin baju sendiri. Yah ... ujung-ujungnya ya tetep aja suka. Hahaha ...

Di sela-sela kesibukan aku sebagai ibu rumah tangga, aku juga selalu menjalankan hobiku bikin baju. Bikin baju buat siapa? 

Awalnya, aku bikin baju cuma buat si kecil dan buat aku pribadi. Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang berdatangan dan minta tolong dijahitkan bajunya. Yah, namanya orang minta tolong, nggak tega sih nolaknya. Sampai akhirnya ... ini kebaya yang ke-6 yang aku buat.

Nggak ada pelatihan khusus. Aku belajar menjahit secara otodidak. Nggak ada yang ngajarin aku buat jahit. Aku cuma suka gambar fashion. Yah, walau sekarang sketsa fashionku udah aku bakarin semua. 

Awalnya belajar jahit, karena berambisi pengen bikinin baju sendiri buat si kecil. Jadi, belajarnya cuma bikinin baju untuk si kecil aja. Belajar bikin fashion yang mudah-mudah dulu, seperti sarung bantal atau rok untuk Livia.

Seiring berjalannya waktu, banyak yang minta potong dan rombak bajunya. Dari situ aku benar-benar mempelajari dan meneliti alur dan pola jahitan serta teknik menjahit yang baik.

Malam ini, aku masih berkutat memasang manik-manik di atas brukat supaya hasilnya jadi lebih manis lagi. Memang sudah larut malam. Tapi, aku tetap semangat dan merasa bahagia melakukannya. Aku menambahkan beberapa mutiara sintetis di bagian leher supaya terlihat lebih manis dan elegan. Alhasil, kebaya brukat yang awalnya terlihat sangat sederhana akan berubah menjadi lebih elegan ketika dipadukan dengan bahan batik di bagian rok/bawahannya. Kalian juga bisa coba di rumah untuk mempercantik gaun-gaun pesta kamu dengan mutsin yang harganya sangat terjangkau. Tampil cantik nggak harus mahal, kok. Asal hatinya juga tetep cantik... 

Ada satu kekhawatiran ketika aku membuatkan baju untuk orang lain. Aku terlalu takut kalau orang yang memesan tidak menyukai hasil karyaku.

Selama ini, aku belum pernah mendapatkan kripik (Kritik) pedas dari pelanggan. Padahal, kritiknya selalu aku rindukan supaya aku bisa memberikan pelayanan yang lebih baik lagi.

Saya harap, teman-teman juga bisa mampir untuk memberikan kripik dan sarannya, hehehe ...


Sampai jumpa ...!
Cukup sampai di sini aja tulisan dari aku. semoga menginspirasi dan aku jadi rajin berbagi...


Wednesday, March 11, 2020

Ruang Bermain Anak, Pentingkah?

Source : pixabay.com

Beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan seorang ibu muda dan banyak berdiskusi tentang anak bungsunya yang memiliki keterlambatan dalam belajar dan merespon sekitarnya. Kebetulan, di taman baca ada banyak mainan edukasi dan anaknya dengan cepat merespon setiap permainan balok huruf. Anakku juga ikut aktif mengajak teman barunya bermain sambil belajar.

Di sela-sela mengawasi anak bermain, kami membicarakan hal-hal ringan terkait perkembangan anak. Ada satu hal yang terkadang membuat kita tidak pernah memikirkannya. Yakni, ruang bermain anak di rumah. Mungkin, setiap rumah memiliki ruangan gudang untuk menyimpan perkakas. Tapi, terkadang kita lupa menyiapkan satu ruang khusus untuk anak-anak bermain.

Awalnya, aku juga tidak pernah terpikir tentang ruang bermain anak ini. Namun, setelah bercerita ringan, akhirnya terpikir juga di kepalaku untuk membuatkan ruang khusus bermain anak. Yah, mungkin sebagian orang menganggap kalau ruang bermain anak tidak terlalu penting karena seiring berjalannya waktu dan bertambah dewasa, anak-anak tidak lagi memerlukan ruang bermain.

Aku tetap merasa kalau ruang bermain anak sangat penting. Di dalam ruang bermain, anak-anak bisa dengan bebas dan leluasa mengeksplore dirinya. Ruang bermain anak harus dibuat dan dirancang sedemikian rupa untuk membuat anak-anak nyaman saat bermain. Orang tua juga harus menyiapkan kegiatan yang disukai anak-anaknya. Misalnya, si anak tertarik dengan otomotif atau boneka. Maka kita harus menyediakan berbagai permainan edukasi yang dapat menarik minat dan bakat si kecil.

Terus, kalo si kecil udah besar. Ruangannya bakal jadi apa? Apa bakal jadi gudang lagi karena si anak udah nggak doyan main?

Yah ... nggak juga seperti itu. Ruang bermain anak, bisa berubah menjadi ruang berkreasi bagi anak ketika ia beranjak remaja.

Misalnya, si anak yang suka menari. Kita bisa setting ruang bermain menjadi ruang untuk berlatih menari. Ketika si anak memiliki ruang kreasi sendiri, ia akan rajin berlatih untuk menggali potensi bakatnya. Juga mengajak teman-teman sebayanya untuk berlatih bersama di dalam rumah. Seru banget kan kalau masa-masa remaja anak kita juga bisa bermanfaat karena kita sudah terbiasa memberikan fasilitas untuk minat dan bakatnya.

Yah, mungkin sebagian orang sudah punya ruang bermain untuk anaknya. Sebagian lagi, masih menganggap kalau ruang bermain untuk anak tidak terlalu penting.

Kalau menurut aku, ruang bermain anak sangat penting karena permainan yang diminati anak mampu merangsang kecerdasan otaknya. Kita juga bisa melihat minat dan bakat anak sejak dini saat melihat ruang bermain, permainan apa yang dominan dimainkan oleh anak kita.

Aku sendiri belum punya ruangan khusus untuk anak-anak bermain. Harapannya, bisa membuatkan ruang khusus untuk anak-anak bermain. Selain si anak bebas bermain di dalam ruangannya, juga untuk menghindari koleksi mainannya tercecer dan berhamburan ke mana-mana.

Menurut para Moms gimana? Apakah ruang bermain anak penting ada di rumah kita?

Silakan komen di bawah buat yang udah punya pengalaman tentang ruang bermain anak ini ya!


Salam Manis,

@rin.muna

Monday, March 9, 2020

Mamuja Bersama Dirjen Kementerian PKP2Trans (Hari Pramudiono)


Kamis, 05 Maret 2020 menjadi hal yang membahagiakan bagi Rumah Literasi Kreatif Bunga Kertas dan Mamuja. Pasalnya, rumah kami dipercaya untuk menjadi tuan rumah dalam acara penyambutan Dirjen Kementerian PKP2Trans.

Kunjungan kali ini bertujuan untuk melakukan Monitoring Program Pengembangan Masyarakat PT. Pertamina Hulu Sanga-Sanga di Area HPL Transmigrasi Samboja.

Pada kesempatan kali ini, Rumah Literasi Kreatif mendapat bantuan berupa 1 unit mesin jahit yang diberikan langsung oleh Bpk. Hari Pramudiono selaku Dirjen Kementerian PKP2Trans kepada Walrina (Pendiri Rumah Literasi Kreatif Bunga Kertas). Harapannya, bantuan ini bisa bermanfaat untuk ibu-ibu dan anak-anak remaja yang sedang belajar menjahit di rumah literasi kreatif.

Mamuja (Mama Muda Samboja) adalah salah satu klub/komunitas bagian dari rumah literasi sebagai penerapan literasi finansial. Dengan adanya komunitas ini, saya berharap bisa menggali potensi dan kreatifitas ibu-ibu di desa Beringin Agung dan sekitarnya. 

Tepat di tahun pertama, Mamuja mendapatkan sebuah keberuntungan untuk bertemu dengan menteri. Ke depannya, kami berharap kalau Mamuja terus konsisten berkarya dan bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang. Membuat banyak orang terinspirasi untuk membentuk sebuah komunitas kreatif yang memiliki tujuan untuk membangun Desa Beringin Agung bersama-sama.

Saya selaku pendiri Rumah Literasi Kreatif merasa sangat senang karena akhirnya bisa mendapat secercah harapan untuk anak-anak dan warga desa yang beraktifitas di desa Beringin Agung. Selama dua tahun berdiri, saya memfasilitasi kebutuhan rumah literasi setiap bulannya dengan dana pribadi. Dengan adanya kerjasama pihak desa dan pertamina, saya berharap bisa meringankan beban yang saya pikul dan mampu membawa rumah literasi kreatif menjadi tempat yang jauh lebih baik lagi.



Demikian tulisan kecil dari saya tentang foto ini. Semoga foto ini bisa menjadi kenangan yang terus memotivasi diri sendiri dan orang-orang yang ada di sekitar.


Salam literasi,

@rin.muna

Thursday, March 5, 2020

Buktikan Saja dengan Prestasi

Pertama kali buka taman baca, tentu ada yang nyinyir. Di zaman modern gini, masih aja nekat bikin taman baca. Nggak menghasilkan apa-apa. Malah keluar uang banyak buat beli buku, alat tulis dll.

Yah, pernah sih mau nyerah di awal2 karena aku ngerasa dapet bantuan buku sulit banget. Sampai akhirnya program kirim buku gratis dihentikan, aku nggak bisa dpet sumbangan buku dari temen2 di luar jawa krna ongkir mahal. Aku pikir, tutup aja gin taman bacaku. Apalagi aku ini pengangguran dan nggak punya penghasilan tetap.

Tapi, setiap kali ada anak yang datang ke taman baca mau pinjem buku. Aku selalu nggak tega kalau harus nutup taman baca. Mereka yang selalu bikin aku bangkit dan bangkit lagi.

Sampai akhirnya ... Hari ini taman baca bisa menjadi tempat bertemu dan berkumpulnya orang-orang hebat. I feel blue ...

Yang dulu dipandang sebelah mata, sekarang sudah bisa bikin gebrakan baru di lingkungan sekitarku. Aku bisa kayak gini juga bukan karena diriku, tapi karena orang2 yang ada di sekelilingku.

Sejak mendirikan taman baca 2018 lalu. Aku sendiri nggak nyangka kalau bakal dapet beban baru setiap tahunnya.
Jadi Juara Favorite Duta Baca Kaltim 2018.
Jadi Juara Pemuda Pelopor Tingkat Kabupaten 2019

Tahun ini, aku juga sedang ikut berkompetisi lagi. Semoga bisa menang lagi dan membawa nama baik Desa Beringin Agung. 

Tahun ini, tugasku juga makin berat. Kenapa?
Karena aku harus bisa menjadikan Rumah Literasi Kreatif sebagai tempat yang nyama untuk siapa saja dan berkegiatan apa saja seperti di rumah sendiri.

Aku selalu ingat kata mutiara bijak. 
"Tak perlu membalas cacian dengan caci maki pula, balaslah dengan prestasi. Itu sudah cukup membuktikan kalau kamu lebih baik dari orang yang mencacimu."

Wednesday, February 26, 2020

Rindu Lukisan Batu Dinding



Meski tidak pernah berkunjung secara langsung. Aku tahu kalau Batu Dinding yang terletak di Km.45 Samboja ini sangat indah.
Oleh karenanya aku berusaha mengabadikannya ke dalam lukisan.
Walau lukisanku belum sebagus lukisan seniman-seniman lain.

Apa adanya yang bisa aku buat untuk kenang-kenangan.

Sayangnya, lukisan ini sudah berganti pemilik dan aku hanya bisa mengabadikannya dalam bentuk foto sebagai kenang-kenangan.





Masjid Hidayatul Amin - 35 Tahun Berdiri, Baru Pertama Kali Dikunjungi Bupati Kutai Kartanegara



Minggu, 23 Februari 2020. Menjadi hari bersejarah bagi warga Desa Beringin Agung, khususnya bagi jamaah Masjid Hidayatul Amin. Pasalnya, Masjid yang sudah berdiri sejak awal transmigrasi (1985) belum pernah dikunjungi oleh Kepala Daerah secara langsung.

Menurut penuturan warga, ini pertama kalinya Masjid Hidayatul Amin dikunjungi oleh Bupati Kutai Kartanegara ( Edy Damansyah ). Beliau memimpin langsung Safari Subuh. Masjid Hidayatul Amin menjadi masjid ke-130 yang dikunjungi oleh Bupati Edy Damansyah beserta rombongan dalam satu tahun terakhir.


Acara Safari Subuh ini dimulai dengan sholat subuh berjamaah. Kemudian, diisi dengan sambutan dari Kepala Desa Beringin Agung (Kusnadi) dan Bupati Kukar (Edy Damansyah). Kami juga mendengarkan kuliah subuh yang disampaikan oleh Ustadz Harun Ar-Rasyid.
Bapak Edy Damansyah juga memberikan bantuan kepada takmir masjid berupa Al-Qur'an, Mukenah dll.

Setelah selesai sholat berjamaab dan mendengarkan siraman rohani sejenak, acara ditutup dengan ramah tamah. Para jamaah sudah menyiapkan kopi dan kudapan untuk dinikmati bersama.



Friday, February 21, 2020

Bukan Ditolong, Malah Diketawain

Tepat jam 08:30 WITA, akhirnya si kecil terlelap setelah seharian bermain dan tidak punya waktu untuk tidur siang.
Aku merasa sangat senang saat Livia mau bermain dengan teman-teman sebayanya. Hanya saja, aku sedikit cerewet saat pakaiannya mulai kotor. Aku paling tidak suka dia bermain kotor. Bukan karena pakaian yang kotor sulit untuk dibersihkan, tapi karena dia selalu menangis karena tubuhnya gatal-gatal usai bermain kotor. Terlebih, saat ada acara, mamanya sibuk rewang dan anaknya tidak terlalu terperhatikan. Tapi, aku selalu berusaha mengawasi Livia agar tidak bermain pasir atau tanah berlebihan. Selain tubuhnya yang gatal-gatal usai bermain. Aku juga merasa menjadi ibu yang tidak becus jika membiarkan anakku tak terurus. Sekali pun sibuk, aku sesekali mengecek kondisi anakku.

Terkadang, dia yang datang menghampiriku ketika menginginkan sesuatu. Misalnya, minta makan, minum atau ingin ke toilet.

Seharian, ia bermain dengan teman-temannya. Sementara, mamanya sibuk di dapur membantu tuan rumah yang sedang melaksanakan hajatan. Otomatis, aku tidak bisa mengawasi Livia secara instens. Asal dia tidak menangis, artinya ia masih baik-baik saja.

Siapa sangka, kalau ternyata ada cerita yang begitu menyentuh di balik permainan anak-anak itu. Aku bahkan tidak tahu jika Livia tidak bercerita saat ia minta diantar buang air kecil ke toilet.

Usai buang air kecil, Livia langsung berkata,"Ma, tadi aku jatuh di depan."
"Oh ya? Sakit nggak? Ada yang lecet atau nggak?" tanyaku pada Livia.
"Nggak lecet. Tapi tulangku sakit," jawab Livia sambil memegangi pinggangnya.
"Tapi nggak nangis kan?" tanyaku lagi.
Livia menggelengkan kepala. "Nggak. Tapi aku malah diketawain sama temen-temen," jawabnya kesal sambil berlinang air mata.
"Masa sih? Nggak ada yang nolongin?"
"Nggak ada," jawab Livia sambil menggeleng sedih.
"Duh, kasihannya anak Mama," ucapku sambil mengusap ujung kepala Livia.
Livia terlihat murung karena saat jatuh, ia justru ditertawakan oleh teman-temannya. Kemudian, aku teringat pada materi di sekolahnya tentang penerapan sikap saling tolong menolong, tentang perbuatan baik dan tidak baik. Aku langsung bertanya pada Livia.
"Di sekolah. Diajarin apa kalau ada teman jatuh? Diketawain atau ditolongin?"
"Ditolongin," jawab Livia lirih.
"Kalau gitu, teman-teman Livia anak yang baik atau nggak?"
"Nggak," jawab Livia sambil menggeleng.
"Anak yang nggak baik nggak boleh diikutin ya!" pintaku.
Livia menganggukkan kepala.
"Nanti, kalau ada teman yang jatuh, Livia harus tolongin ya! Nggak boleh diketawain. Kan katanya Livia mau jadi anak baik, kan?"
Livia menganggukkan kepala.
"Kasih tahu juga sama teman-teman yang lain. Kalau ada teman jatuh, harus diapain?" tanyaku untuk memastikan Livia mendengarkan nasehatku.
"Ditolongin."
"Iya, bener. Nggak boleh diketawain ya! Karena anak baik harus selalu menolong," pintaku sambil tersenyum.
Livia menganggukkan kepala.
"Gitu dong! Baru anaknya Mama yang baik. Cium dulu!" pintaku sambil menyodorkan pipiku ke arah Livia.
Livia langsung mencium pipiku dan kami keluar dari toilet bersama-sama.

Ada satu hal yang aku pelajari dari obrolan kecil ini. Mendidik anak menjadi baik memang tidak mudah. Tapi, sebagai orang tua kita harus berusaha menjadikan anak kita selalu berbuat kebaikan. Sekalipun lingkungan sekitar tidak mengajarkan hal yang baik. Terlebih, yang membuatnya peka terhadap keadaan sekitar adalah praktik langsung di kehidupan sehari-hari. Di sekolah, Livia diajarkan menjadi anak yang baik, bertanggung jawab, saling tolong-menolong dan berbagi.

Oleh karenanya, sebagai orang tua, aku harus selalu mengingatkan dan menerapkan pelajaran moral yang diberikan di sekolahan. Tidak hanya di-aplikasikan ketika berada di sekolah. Tapi juga bisa diterapkan di dalam kehidupan sehari-sehari agar anak terbiasa dengan kepribadian yang baik.

Aku juga tidak mengerti, sejak kapan budaya "Tertawa di saat teman jatuh" menjadi salah satu kebiasaan orang-orang di Indonesia. Tapi, sejak aku kecil pun sudah merasakan hal seperti itu. Akhirnya, muncul sikap saling bully karena kebiasaan dari kecil. Terlebih, saat masih kecil, ada anak yang sering melakukan kesalahan dan terlihat ceroboh. Karena setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Aku hanya berharap, Livia bisa melihat setiap hal dari sudut pandang yang berbeda. Tentunya adalah sudut pandang yang positif. Karena kebiasaan akan menjadi budaya yang secara tidak sadar dapat menumbuhkan moral negatif pada diri anak kita sendiri. Andai aku tidak memberikan pengertian yang baik pada Livia. Mungkin, ia terus berpikir kalau ada teman terjatuh, ia akan tertawa. Karena itu menjadi salah satu kebiasaan di lingkungan teman sepermainan dan tidak lagi dianggap sebagai hal yang buruk alias masih wajar-wajar saja. Tapi bagiku, pola pikir Livia sejak ia masih kecil, akan berpengaruh pada saat ia sudah dewasa nanti. Saat ini, yang paling penting adalah bisa membedakan perbuatan baik dan buruk. Membuatnya selalu ingin menjadi anak yang baik, bukan memilih menjadi anak yang nakal karena terlihat jauh lebih hebat. Sebab, masih ada jalan mulia yang bisa ia tempuh untuk menjadi anak yang hebat. Tidak harus menang berkelahi, tidak harus terlihat paling kuat. Yang terpenting, dia bisa bersikap baik dan terus berprestasi. Sebab, tidak semua orang bisa menanamkan rasa empati ke dalam hati anak-anaknya sejak dini.

Oke, cukup di sini aja tulisan dari aku. Semoga bisa menjadi sebuah pelajaran kecil untuk kita sebagai orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Karena waktu sudah malam dan sudah ngantuk, aku akhiri sampai di sini sebelum ceritanya makin ngelantur. Hahaha ...

Jangan lupa follow dan sibscribe blog aku ya!
Semoga bisa menginspirasi dan memberikan pelajaran berharga untuk kita semua ... aamiin ...

Tuesday, February 18, 2020

Peduli Terhadap Lingkungan, Mamuja Manfaatkan Sampah Gelas Air Mineral


Mamuja bukan hanya sebuah komunitas kreatif yang menghasilkan karya dan uang. Tapi, sebagai bagian dari penerapan Literasi Finansial di taman baca. Mamuja memiliki peranan penting terhadap lingkungan sekitar. Salah satunya ialah menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungannya.

Dalam beberapa kegiatan di taman baca dan kegiatan desa. Mamuja menjadi salah satu komunitas yang berperan aktif dalam pengembangan sumber daya manusia. Selain melatih kreatifitas di dalam komunitas, Mamuja juga memiliki kepedulian sosial terhadap lingkungan sekitar, baik di bidang pendidikan maupun di bidang lingkungan hidup.



Kami percaya, bahwa komunitas kecil seperti kami tidak menutup kemungkinan bisa melakukan hal-hal besar. Selain berada di daerah pelosok, komunitas ini juga memiliki banyak keterbatasan. Namun, keterbatasan dan kekurangan itu tidak menyurutkan semangat ibu-ibu untuk konsisten berkarya. Terbukti, sudah setahun komunitas Mamuja terbentuk dan telah menghasilkan banyak karya.

Minggu lalu, kami juga membuat sebuah karya daur ulang dari kantong plastik bekas untuk dijadikan bunga. Dari satu buah kantong plastik ukuran besar, bisa menjadi lima tangkai bunga. Pot yang kami gunakan juga menggunakan daur ulang kertas bekas.

Minggu ini, ibu-ibu kreatif berkumpul untuk membuat sebuah karya daur ulang dari barang bekas sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan sekitar.  Pertemuan minggu ini, kami membuat lampion dari sampah gelas mineral. Untuk bisa menjadikan satu buah lampion, kami membutuhkan sekitar 166 buah gelas plastik bekas. Itu setara dengan 4 dus air mineral yang berisi 40 gelas. Artinya, dari satu karya lampion, Mamuja sudah membantu mengurangi volume sampah sebanyak 4 dus. Tentunya, hal ini dapat membantu mengurangi volume sampah yang ada di masyarakat.

Pemanfaatan barang bekas ini, merupakan salah satu kegiatan sosial sekaligus membantu mengkampanyekan cinta lingkungan. Mamuja berharap, kegiatan ini bisa menginspirasi setiap ibu rumah tangga dan keluarga untuk memanfaatkan sampah di sekitarnya menjadi barang yang memiliki nilai guna. Sehingga, masyarakat bisa lebih ramah lingkungan mengingat sampah plastik merupakan sampah yang sulit terurai.

Mencintai lingkungan, bisa dimulai dari hal kecil dan dari diri kita sendiri ...



Salam literasi,




Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas