Book Author and Ambassador Novelme. Love to imagination, telling story and making money.

Friday, May 28, 2021

Kisahku dan Dedikasinya (Selamat Jalan Pak Slamet)


“Rin, ojo tegang-tegang! Nanti cepet tua kalo keakehan mikir!” Pak Slamet langsung memijat pundakku begitu ia masuk ke kantor.

“Enaknya, Pak! Sering-sering aja pijitin!” sahutku sambil terkekeh geli.

“Malah keenakan!” dengus Pak Slamet. Ia langsung menarik salah satu kursi kosong yang tak jauh dari tempat dudukku, kemudian duduk tepat di sampingku.

“Dari afdeling, Pak?” tanyaku sambil menatap layar ponsel.

“Iya. Dari mana lagi? Masa dari warung janda?”

“Halah, biasane juga mampir warung janda,” sahut Pak Mesdi sambil terkekeh geli.

Kami semua yang ada di dalam ruangan ini, ikut tertawa lebar.

“Ohh ... Pak Met, ya ... diam-diam suka ke warung janda juga!” seru kerani yang lainnya.

“Cuma ngopi aja,” sahut Pak Slamet sambil mengeluarkan buku agendanya.

“Rin, BKM ada masalah apa nggak?” tanya Pak Slamet.

“Nggak ada sih, Pak. Tapi ini anggaran bapak sudah mau habis, loh. Over budget untuk pekerjaan piringan.”

“Kok, bisa?” tanya Pak Slamet.

“Ya nggak tahu, Pak. Kemarin pengajuan dananya gimana? Pasti copas, nih!” tuduhku ngasal sambil menahan tawa.

“Kayak nggak tahu aja, Rin. Wes mumet neng lahan, suruh bikin laporan lagi. Tambah mumet,” sahut Pak Slamet.

“Suruh kerani bapak, lah. Apa gunanya gaji kerani kalau asistennya masih repot ngurusin laporan?” sahutku.

“Kamu aja yang jadi keraniku!” sahut Pak Slamet.

“Hahaha. Lawan dulu Bos Besarnya, Pak. Kalo boleh jadi keraninya Pak Met. Aku mau aja. Kerjaannya santai dan nggak banyak. Daripada kayak gini, mumet juga aku, Pak,” sahutku.

Aku bekerja di kantor sebagai Kerani Pembukuan. Tapi, bukan hanya mengerjakan laporan pembukuan saja. Di perusahaan perkebunan yang memiliki keterbatasan anggaran. Kami sebagai kerani harus bisa semuanya. Tapi, memang tidak semua kerani. Kalau kata bosku, aku adalah joker di perusahaan. Salah satu kerani yang bisa mengerjakan semua pekerjaan di semua divisi. Mulai dari laporan harian kerani sampai penyusunan budget perusahaan.

Hampir setiap hari, asisten lapangan akan mengecek laporan yang sudah masuk ke akunku. Hanya akunku yang bisa melihat semua transaksi perusahaan melalui sistem yang sudah terintegrasi (Integrated Plantation System; iPlas), sehingga asisten kerap mengecek laporan bersamaku. Kadang, aku juga sering berantem dengan asisten karena data lapangan yang masuk ke akunku tidak sinkron. Hal biasa, tapi memang harus terjadi demi kebaikan bersama.

Pak Slamet adalah asisten yang paling aktif pergi ke kantor. Kalau istilah candaan kami, mereka rindu sama aku. Rindu karena modus. Minta baikin laporan dan sebagainya.

Setiap jam dua siang, saat karyawan lapangan sudah pulang kerja. Asisten akan pergi ke kantor untuk mengecek laporan. Terkadang, mereka juga terpaksa datang saat aku menelepon. Aku hanya menelepon ketika ada masalah dalam laporan yang masuk, sementara laporan harus segera dikunci. Supaya tidak banyak revisi yang memberatkan sistem kami.

Sebenarnya, aku tidak tega kalau harus menyuruh asisten harus bolak-balik ke kantor dan lapangan yang jaraknya tidak dekat. Tapi itulah perjuangan seorang asisten lapangan. Menjadi atasan yang dibenci karyawan karena keputusannya. Menjdi bawahan yang dimaki-maki atasan karena belum menjalankan prosedur dengan baik. Kalau kata KTU, posisi kami ini serba salah. Di atas ditojok sama bos, di bawah di dodos sama karyawan. Hahaha.

Yah, mau diapakan lagi. Sudah nasib kami yang berada di posisi tengah-tengah seperti ini.

Seperti saat ini, Pak Slamet tiba-tiba datang ke kantor untuk mengecek laporannya.

“Haduh, Rin ... pusing aku. Di lahan banyak masalah. Di kantor banyak masalah. Di rumah juga mumet. Mau mindahin sekolahnya anakku, biayanya banyak banget,” keluh Pak Slamet.

Aku menanggapi ucapannya. Kami bercerita sambil mengecek laporan yang ada di komputerku. Meski sambil mengerjakan laporan, sesekali aku sering mendengar keluhan atasan kami. Mungkin, ada beban hidup yang tak bisa mereka katakan pada orang lain, bercerita adalah salah satu cara untuk melepaskannya perlahan. Dan aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik.

Pak Slamet ... setiap ke kantor, bukan hanya curhat masalah pekerjaan dan pendidikan anak-anaknya. Tapi juga kerap memberi nasehat padaku. Aku bisa membeli sepede motor, juga berkat saran beliau. Biasanya, aku memilih jalan kaki dari rumah ke kantor atau ke mess. Saat itu, gajiku hanya 1,3 juta. Tidak berani kredit motor karena aku harus menghidupi nenek-kakek, dua orang tua dan adik-adikku. Tapi akhirnya, aku memberanikan diri mengambil cicilan motor berkat saran dari dia.

Banyak hal yang tidak bisa aku lupakan. Meski hanya sebagai rekan kerja, tapi kami sudah sepertu keluarga. Kami bukan hanya berbagi suka-duka. Kami juga saling support, sering berantem. Tapi tetap berjalan bersama-sama untuk saling support.

Saat aku tahu beliau sakit, aku merasa iba. Tubuhnya semakin kurus dan ringkih. Tatapan matanya tak lagi bercahaya. Tapi dia tetap semangat setiap hari. Bahkan, selalu menyempatkan diri datang ke kantor hanya untuk menghibur kami.

Hari ini ... rasanya masih tak percaya kalau beliau benar-benar sudah pergi untuk selamanya. Meski sudah 4 tahun aku resign dan tidak lagi menjadi bagian dari keluarga AMS/Gama Group, tapi dedikasi atasan-atasanku tak kan pernah terlupakan.

Pak Slamet, bukan hanya rekan kerja yang baik. Dia banyak memberi nasehat. Selalu menghibur meski kami tahu dia sedang lelah. Baginya, anak-anak di kantor sudah seperti anaknya sendiri. Menjadi tempat untuk menenangkan diri saat ia sudah lelah di lahan.

Hari ini ... tanggal 28 Mei 2021 adalah hari pemakaman beliau. Meski sudah 4 tahun tak lagi bekerja bersama. Tapi kami sudah menjadi rekan kerja selama 7 tahun. Bagiku, dia sudah seperti seorang ayah. Selalu memberi nasehat, menceritakan pengalamannya, mengajak diskusi, membuat kami tertawa bersama, membuat kami merasakan kehangatan sebuah keluarga di dunia kerja.

Selamat jalan, Pak Slamet ...!

Terima kasih untuk dedikasinya selama ini. Terima kasih untuk semua ilmu dan pengalamannya. Mungkin, semua ilmu yang pernah kamu berikan tak terlihat, tapi bisa dirasakan oleh orang banyak. Kamu mengajarkan aku untuk kuat menghadapi masalah, berani mengambil resiko. Hingga hari ini, mentalku yang kuat terbentuk karena peran darimu juga.

“Cintailah perusahaan tempatmu bekerja. Meski tidak membuatmu kaya, tapi memberikanmu hidup.”

Kutipan ini seringkali kudengar di tempatku bekerja. Kutipan sederhana yang membuat kami terus bekerja dengan hati, memberikan dedikasi kepada perusahaan demi keluarga dan si buah hati. Membuat kami selalu bekerja dengan sungguh-sungguh. Tak mudah pergi meski banyak orang yang ingin menjatuhkan dan menyakiti.

Selamat jalan, Pak Slamet ...!

Banyak pelajaran hidup yang telah beliau berikan. Pelajaran hidup yang tidak pernah terlupakan adalah ...

 “Tetap semangat dan jangan menyerah pada hidup. Yang hidup, akan terus menghadapi ujian kehidupan. Kalau sudah tidak diuji, maka sudah waktunya untuk pulang.”

 

 

___________________________________________ 

Tulisan kecil ini aku persembahkan untuk mendiang Pak Slamet (Asisten Afdeling PT. Alam Jaya Persada, PT. Tritunggal Sentra Buana – AMS GAMA GROUP)

 

 

 

Sunday, May 9, 2021

Secret Beloved - Vella Nine

 


“Secret Beloved”

A short story by Vella Nine


 

 

 

“Hei ...!” Rara langsung menyenggol lenganku saat aku sedang duduk di tepi lapangan.

Lapangan futsal di sekolah disulap menjadi panggung pensi usai ulangan semester. Aku salah satu siswa yang tidak pernah ketinggalan hadir di setiap harinya.

“Eh, kamu kenapa sih? Dari tadi ngelamun terus?” tanya Rara sambil duduk di sampingku. Ia menyodorkan kantong plastik berisi es teh ke hadapanku.

Aku langsung meraih es teh tersebut. Ini pertama kalinya aku melamun di tengah-tengah keramaian. Ah, entah berapa orang yang menyadari lamunanku. Kurasa, hanya Rara seorang dari sekian ratus siswa.

“Kamu nunggu Kak Ian tampil lagi?” tanya Rara sambil menatap panggung yang sedang mempersembahkan tarian daerah khas Aceh.

Aku menggelengkan kepala.

“Halah, ngaku aja! Abis ini, jadwalnya Kak Ian tampil main tingkilan loh,” tutur Rara.

Aku hanya tersenyum kecil. Entah kenapa, kali ini aku tidak begitu bersemangat melihat penampilan Kak Ian. Apa karena kejadian dua hari lalu ...???

Kak Ian termasuk cowok paling populer di sekolah. Dia tidak seganteng Li Hongyi, tapi menjadi favorite semua cewek di sekolah karena sifatnya yang humble dan banyak terlibat dalam kegiatan sekolah.

Kak Ian, pemilik nama asli Satria Satwika itu tidak hanya terampil memainkan musik tradisional tingkilan asal Kalimantan. Ia juga vokalis dan gitaris salah satu band ternama di kota ini. Selain di dunia musik, Kak Ian aktif menjadi komandan paskibraka sekolah, menjadi wakil ketua osis, juga aktif dalam kegiatan rohani di sekolah.

Siapa yang tidak mengenal Kak Ian di sekolah dengan kegiatan dan organisasinya yang seabrek itu? Bahkan, anai-anai penghuni perpustakaan yang tidak pernah keluar dari ruang perpustakaan pun mengenal Kak Ian.

 

Semua cewek di sekolah mengagumi Kak Ian walau kelakuannya slengean dan penampilannya selalu berantakan. Tidak pernah memasukkan baju ke dalam celananya, bahkan memakai topi pun asal nempel di atas kepalanya. Kalau soal kerapian pakaian, sudah pasti nilanya di bawah angka lima puluh.

 

Aku juga tidak mengerti kenapa aku menjadi deretan cewek yang ikut mengagumi Kak Ian. Yah, sekedar kagum saja. Bukan karena menyukai sosok cowok berkulit sawo matang yang memiliki tinggi badan seratus tujuh puluh dua sentimeter itu.

 

 

Dari mana aku tahu tinggi badan Kak Ian seakurat itu? Ah, sepertinya rasa kagumku ini bukan hanya karena kegiatan organisasi dan prestasi-prestasi yang sudah ia ukir. Tapi, mulai memerhatikan kehidupan pribadinya. Aku sangat mengetahui ukuran nomor sepatu, ukuran kemeja dan celananya, makanan favoritnya juga tempat dia biasa nongkrong bersama teman-temannya.

 

“Woy ... masih aja ngelamun!” Rara berteriak tepat di telingaku.

 

“Sialan kamu!” makiku sambil menutup kuping. “Kupingku sampe ‘peng-peng-peng’ kayak gini. Kalo gendang telingaku pecah gimana?”

 

“Hahaha. Abisnya ngelamun terus,” tutur Rara. “Eh, itu Kak Ian. Cakep banget!” seru Rara sambil menunjuk ke arah panggung.

 

Aku hanya tersenyum kecil. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi Kak Ian. Sejak pertama masuk sekolah hingga aku duduk di kelas sebelas, aku sudah mengagumi Kak Ian seperti yang dilakukan oleh semua cewek di sekolah. Satu setengah tahun, cukup untuk mengetahui banyak hal tentang Kak Ian.

 

Dua hari lalu, aku dihadapkan dengan keadaan yang membuatku menjadi canggung, malu dan tidak punya nyali menghadapi Kak Ian. Aku terus membayangkan bagaimana seluruh cewek di sekolah menyerangku karena mereka mengetahui apa yang telah terjadi antara aku dan Kak Ian.

 

“Rin ...! Maurin!” Rara kembali menyadarkan lamunanku. Aku langsung menoleh Rara yang duduk di sampingku.

 

Rara menunjuk-nunjuk seseorang dengan bola matanya. Aku langsung menatap sepasang kaki yang sudah ada di hadapanku. Aku menengadahkan kepala menatap sosok pria pemilik kaki tersebut.

 

Oh ... Tuhan! Berapa lama aku melamun tentang Kak Ian? Kenapa aku terlarut dalam lamunan yang begitu lama hingga aku tidak menyadari penampilan Kak Ian kali ini. Lebih parahnya lagi, aku tidak menyadari kalau Kak Ian sudah berdiri di hadapanku.

 

Kak Ian melambaikan tangannya tepat di depan wajahku.

Aku langsung gelagapan begitu menyadari kehadirannya. Oh, tidak! Aku tidak tahu bagaimana ekspresiku saat ini. Otakku terasa sangat kacau. Sepertinya, aku telah melakukan hal yang memalukan.

“Ayo!” Kak Ian tertawa kecil sambil mengulurkan tangannya ke arahku.

“Eh!? Ke mana?” tanyaku bingung.

“Pulang.”

Rara membelalakkan mata begitu mendengar ucapan Kak Ian. “Rin, kamu diajak pulang sama Kak Ian. Ini kesempatan langka, buruan!” bisiknya di telingaku.

“Mmh ... aku belum mau pulang. Tunggu pensi kelar,” jawabku sambil tersenyum ke arah Kak Ian.

“Tapi kita sudah janji sama mama kamu kalau ...”

Aku langsung bangkit dan membungkam mulut Kak Ian. “Jangan bilang apa pun tentang hubungan kita di sini!” pintaku berbisik.

“Kenapa?” tanya Kak Ian sambil menggenggam pergelangan tanganku.

Aku mengedarkan pandanganku. Semua mata tertuju pada kami berdua. Aku tidak sanggup menjadi pusat perhatian banyak orang. Terlebih, Kak Ian punya banyak penggemar. Aku tidak ingin semua orang tahu kalau ... kalau ... kalau aku dan Kak Ian punya hubungan lain di luar sekolah.

“Eh!?” Aku terkejut saat tangan Kak Ian menarik kuat pergelangan tanganku dan membawaku keluar dari kerumunan banyak orang.

“Kak, lepasin!” pintaku saat kami tiba di lorong yang sepi. Aku berusaha melepas pegangan tangan Kak Ian yang begitu erat.

Kak ian melepas tanganku dan berbalik menatap wajahku. “Kenapa?”

“Aku malu diperhatikan banyak orang.”

“Kamu malu punya pacar kayak aku?”

“Kita nggak pacaran,” sahutku cepat.

“Rin, aku nggak ngerti sama kamu. Semua cewek di sekolah ini pengen jadi pacarku. Kenapa kamu malah nggak mau sama aku?”

Aku menggelengkan kepala. “Kak, hubungan kita karena perjodohan orang tua. Bukan karena kita saling mencintai. Aku tahu, Kakak seperti ini karena aku nggak enak sama orang tuaku. Aku bakal mengatasi mereka supaya perjodohan kita dibatalkan.”

“Kenapa kamu pengen perjodohan ini batal?” tanya Kak Ian.

“Karena aku nggak mau punya hubungan sama seseorang yang nggak sayang sama aku. Lagipula, aku masih kelas dua SMA. Perjalanan kita masih panjang. Bisa aja suatu saat nanti, kita bertemu sama orang yang benar-benar kita cintai.”

“Apa aku pernah bilang kalau aku nggak sayang sama kamu?”

Aku menggelengkan kepala. “Kamu juga nggak pernah bilang kalau kamu sayang sama aku,” jawabku sambil tersenyum.

Kak Ian merogoh saku celana dan mengeluarkan kain merah dari sakunya. “Ini punya kamu kan?” tanya Kak Ian sambil menunjukkan syal paskibra di tangannya.

Aku menggelengkan kepala. “Banyak yang punya syal kayak gitu.”

“Di sini, ada bordiran nama Maurin,” tutur Kak Ian sambil mendekatkan tubuhnya.

Aku melebarkan kelopak mataku. Ia hampir lupa kalau syal paskibra miliknya memang pernah ia pinjamkan kepada Kak Ian setahun lalu. Pantas saja, aku terus mencari dan tidak bisa menemukan syalku.

Aku meringis ke arah Kak Ian. “Kakak ambil aja! Aku bisa beli lagi, kok.”

“Rin, aku nggak ngembalikan syal kamu bukan karena aku nggak mampu beli syal lagi atau nggak punya syal lain. Setiap aku paskibra, aku selalu pakai syal ini sambil melihat kamu dari jauh.”

Aku terdiam. Masih tidak mengerti maksud dari ucapan Kak Ian.

“Sejak kamu ngasih pinjam syal ini, aku udah suka sama kamu. Aku cuma nggak tahu gimana caranya bisa deketin kamu di sekolah. Bahkan aku nggak punya keberanian buat nyapa kamu, Rin. Aku bahagia banget saat tahu orang tua kita bersahabat dan mempertemukan kita.”

Aku langsung menatap wajah Kak Ian. “Benarkah dia menyukaiku sejak setahun lalu?”

“Aku nggak mau perjodohan kita batal. Aku mau kamu dari dulu. Aku nunggu lama banget buat dapetin kesempatan ini. Kesempatan buat deket sama kamu. Bisa nggak kalau kita ... pacaran bukan karena perjodohan itu?”

“Maksud Kak Ian?”

“Aku sayang sama kamu, jauh sebelum kita dijodohkan. Aku nggak bisa terus-terusan memerhatikan kamu dari kejauhan. Aku pengen jadi orang yang paling dekat sama kamu.” Kak Ian menyentuh lenganku. “Seperti ini ...” Ia menempelkan dahinya ke dahiku.

Oh ... My God! Aku tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhku. Apa jantungku sudah lepas dari tempatnya? Apa jantungku masih berdetak? Kenapa aku tidak bisa mengatakan apa pun saat menatap wajahku yang tergambar jelas di dalam manik matanya.

Perasaanku tak karuan, telapak tanganku gemetaran, berusaha mencari sesuatu untuk bisa menopang tubuhku agar tidak terjatuh. Tanpa sadar, aku langsung memeluk punggung Kak Ian saat bibirnya berhasil membuat seluruh tubuhku membeku.  Oh ... God! Ciuman pertamaku ...

 

 

(( Selesai ... ))

 

Terima kasih sudah membaca. Ini adalah cerpenku yang ke ...? Ah, entahlah. Aku tak pernah menghitungnya. Kalau suka sama ceritanya, silakan komen di bawah biar author makin semangat nulisnya!

 

 

Much Love,

-Vella Nine-

 

 

 

 

 

 

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas