Showing posts with label Ranting Ranti. Show all posts
Showing posts with label Ranting Ranti. Show all posts

Friday, March 15, 2019

Ranting Ranti [Bab 4 - Ranting Ranti]


Bab 4
-Ranting Ranti-

                Ranti menggiring bebek-bebek dengan ranting karamunting di tangannya. Ia menggembala bebek-bebek milik Pak Yogi menuju kali yang tak jauh dari rumah. Kini ia sudah tak pernah lagi mengenakan seragam sekolah. Namun, ia selalu meminjam buku di perpustakaan dan membawanya saat menggembala bebek.
                Ranti menyandarkan tubuhnya di akar pohon beringin. Mengamati bebek-bebek yang sedang asyik berenang di kali. Ranting karamunting tak lepas dari tangan kanannya, sedang tangan kirinya memegang buku kesehatan yang sedang ia baca. Hari mulai sore, Ranti kembali menggiring bebek-bebek itu masuk ke kandangnya.
                Pak Yogi sedang mengarungi kotoran bebek. Kotoran bebek ini biasa dimanfaatkan untuk pupuk organik. Beberapa warga yang bercocok tanam akan membeli kotoran bebek di sini. Tanpa dikomando, Ranti membantu Pak Yogi mengarungi kotoran-kotoran bebek. Mengikatnya dan menyusun di sudut pekarangan kandang bebek yang luas. Pak Yogi memberikan kebebasan Ranti mengambil kotoran bebek untuk dijadikan pupuk tanaman sayurnya. Setiap pagi dan sore sebelum menggembala bebek, Ranti selalu menyempatkan diri merawat tanaman di kebun belakang rumahnya.
                Selama bertahun-tahun Ranti bekerja dengan keluarga Pak Yogi. Apa saja ia kerjakan, bukan hanya menggembala bebek-bebek saja. Ia sering membantu Bu Yogi memasak juga, sebab Bu Yogi memiliki warung makan dan sering sibuk di dapur sendirian. Ia tak lagi sungkan menerima pemberian Bu Yogi. Pak Yogi sering memberikan upah lebih untuk Ranti. Bahkan Pak Yogi memberikan seekor bebek yang kini telah menjadi sepuluh ekor bebek, Andi sangat senang merawat bebek-bebek itu.
                “Ran, ini bawa pulang untuk adik-adikmu!” Bu Yogi menyodorkan satu renteng rantang berisi makanan.
                Ranti menerima pemberian Bu Yogi. “Makasih Bu.” Ia bergegas pulang ke rumah.
                “Assalamu’alaikum.”
                “Wa’alaikumussalam....” Andi membukakan pintu rumah.
                Ranti langsung menuju dapur untuk meletakkan makanan yang diberikan Bu Yogi. Menggantinya ke wadah miliknya.
                “Masak apa?” tanya Ranti yang melihat Sinta sedang memasak. Sinta bukan lagi anak kecil berusia empat tahun. Kini, ia sudah bisa membantu Ranti membereskan rumah juga memasak.
                “Goreng telur, Mbak. Mbak Ranti bawa makanan?” Sinta memperhatikan Ranti yang sedang mengganti wadah makanan.
                “Iya. Dikasih Bu Yogi. Tadi Mbak bantu di warungnya karena warung lagi ramai.”
                “Bu Yogi selalu baik dengan kita. Apa Sinta juga boleh kerja seperti Mbak Ranti?” Sinta mengangkat telur dari penggorengan, meletakkanya di atas meja.
                “Kak! Telurnya sudah matang!” teriak Sinta memanggil Andi yang sedang membaca buku di ruang tamu.
                “Boleh. Tapi, Sinta kerjanya kalau sudah lulus sarjana. Dan tidak boleh kerja angon bebek seperti Mbak Ranti.” Ranti tersenyum, melangkahkan kakinya ke tempat mencuci piring untuk membersihkan rantang milik Bu Yogi. Kini, mereka tak lagi harus ke sumur untuk mencuci atau mandi. Sudah ada kamar mandi di rumah mereka, hadiah dari Pak Yogi karena Ranti rajin bekerja.
                “Memang kenapa kalau angon bebek, Mbak? Kata Mbak Ranti itu pekerjaan halal?”
                Ranti membalikkan tubuhnya menatap Sinta yang sudah tumbuh besar. “Iya, memang pekerjaan halal. Tapi, ada pekerjaan yang lebih baik untuk Sinta. Sinta harus bisa jadi orang sukses.”
                “Sukses itu seperti apa Mbak?”
                “Sukses itu kalau Sinta bisa mewujudkan cita-cita Sinta.”
                “Sinta tidak punya cita-cita.” Sinta menundukkan kepalanya.
                “Kenapa? Setiap anak harus punya cita-cita.” Ranti menghampiri Sinta, membelai rambutnya yang hitam dan ikal.
                “Cita-cita Mbak Ranti apa?” Sinta menatap wajah Ranti.
                Ranti tersenyum. Menghela napasnya. “Dulu, waktu Bapak dan Emak masih hidup, Mbak Ranti ingin sekali jadi dokter. Tapi, sekarang cita-cita Mbak Ranti adalah mewujudkan cita-cita kalian berdua.” Ranti memeluk Sinta. Andi juga ikut menghambur ke pelukan Ranti.
                “Kak Andi pengen jadi apa?” Sinta menatap Andi sambil memeluk tubuh Ranti.
                “Hmm....” Andi memutar kedua bola matanya. “Ada deh. Rahasia!”
                “Iih... Kak Andi main rahasia-rahasiaan sama Sinta!” gerutu Sinta.
                Andi malah tertawa melihat wajah lucu Sinta.
***
                Pagi ini, udara terasa begitu dingin. Ranti menggenggam secangkir teh sembari memandangi kebun sayur mungil miliknya. Dia berencana untuk menanami kebun warisan Bapaknya. Jika ia bisa menanam satu hektar cabai, ia pasti bisa memiliki banyak uang untuk biaya kuliah kedua adiknya.
                “Mbak...!” Suara Andi membuyarkan lamunan Ranti. Ranti membalikkan tubuhnya, menatap Andi yang sedang berdiri di pintu dapur. Ranti tersenyum menatap Andi yang semakin dewasa. Kini, Andi telah menggunakan seragam putih abu-abu. Air mata Ranti hampir jatuh melihat Andi yang semakin gagah. Tinggi badannya kini telah melebihi tinggi badan Ranti.
                “Mbak Ranti masih ingin angon bebek Pak Yogi?” Andi memperbaiki kancing seragamnya.
                Ranti mengangguk. “Pak Yogi sudah semakin tua. Mbak Ranti akan tetap membantunya. Mbak tidak akan pernah lupa kebaikan keluarga Pak Yogi pada kita. Andi saja sekarang sudah melebihi tinggi Mbak Ranti.” Ranti mengangkat tangannya ke atas kepala.
                “Bebek pemberian Pak Yogi sekarang sudah menjadi banyak. Hampir menyamai jumlah bebek Pak Yogi. Bagaimana kalau Mbak Ranti ajak serta bebek-bebek kita jalan-jalan seperti bebek-bebek Pak Yogi?” Andi menatap Ranti. “Jika tidak merepotkan Mbak Ranti.”
                Ranti tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. “Nanti Mbak ajak serta mereka. Tidak akan merepotkan. Sarapan dulu! Mana Sinta?”
                “Hadir Mbak!” Baru disebut namanya, Sinta langsung muncul dengan seragam putih biru. Sinta kini tumbuh menjadi remaja yang cantik.
                “Sarapan dulu!” ajak Ranti. Mereka duduk bersama menikmati sarapan.
                “An, usai SMA mau lanjut ke mana?” tanya Ranti.
                “Sesuai jurusan yang Andi mau. Masih cari-cari informasi Mbak.” Andi menyuap kembali makanan ke mulutnya.
                Ranti mengangguk-anggukan kepalanya. Ia berniat ke pasar, mencari majalah atau buku yang berisi informasi Universitas Terbaik jurusan Geologi. Andi bercita-cita menjadi seorang Geolog, dan Ranti harus membantu Andi mencari referensi Universitas yang baik.
                Usai sarapan, Andi dan Sinta bergegas ke sekolah. Sementara Ranti sibuk membereskan rumah, lalu pergi ke pasar.
                Sepulang dari pasar. Ranti menuju kandang bebek milik Pak Yogi. Bebek-bebek itu sudah menjadi sahabat Ranti. Mereka selalu menyambut Ranti dengan senang hati. Sama halnya dengan Ranti, begitu cekatan memberi makan dan merawat bebek-bebek milik Pak Yogi. Ranti membuka pintu kandang, Bebek bergantian keluar dari kandangnya. Ranti mengambil ranting kayu untuk menggiring bebek-bebek ke sungai. Tak lupa ia membawa serta bebek-bebek milik Andi. Ketekunan Andi dalam beternak membuat bebek-bebek miliknya berkembang cepat. Bahkan, uang hasil penjualan bebek bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keperluan sekolah Andi dan Sinta.
                Dari kejauhan, sepasang mata sedang memperhatikan Ranti yang duduk di tanggul. Merendamkan ujung kakinya. Tertawa melihat bebek-bebek yang sedang asyik berenang di sungai. Ranting karamunting dikibas-kibaskan di atas air dan membuat bebek-bebek itu saling berenang bertabrakan. Hal ini selalu menimbulkan gelak tawa bagi Ranti.
                “Bahagia banget!” Sepasang mata yang memandang Ranti dari kejauhan, kini duduk di sisi Ranti.
                “Eh! Mas Gung?” Ranti terkejut dengan kehadiran Mas Gung. Mas Gung adalah salah satu sahabat Ranti sejak kecil. Ia sering kali menemani Ranti, atau sekedar menyapa saat Ranti melintas di persawahan miliknya saat menggembala bebek.
                “Ran, aku dengar dari Pak Yogi. Kamu mau menggarap lahan Bapakmu yang ada di bukit itu?” tanya Mas Gung.
                “Rencananya begitu Mas. Tapi, aku belum punya waktu untuk merintisnya. Lahan itu sudah terlalu lama tak digarap. Pohonnya sudah tinggi-tinggi dan aku belum punya kekuatan untuk menghancurkannya.” Ranti tersenyum.
                “Beri upah saja ke orang lain.”
                “Siapa yang mau Mas?” Ranti menopang dagunya. Pandangannya melompat ke sana kemari, berusaha mengingat orang-orang yang mau kerja serabutan.
                “Coba ke rumah Pak Mul. Dia sering merintis lahan orang. Biar saja dia yang mencari kawan untuk membantunya. Lahanmu itu cukup luas. Jika hanya satu orang, pastilah tidak akan cepat selesai. Jadi, kamu harus mengupahi tiga sampai empat orang.”
                Ranti manggut-manggut. “Kira-kira berapa ya upahnya Mas?”
                “Umumnya seratus sampai seratus lima puluh ribu sehari.”
                Ranti mengangguk-anggukan kepalanya sembari berpikir jumlah uang yang akan dia perlukan untuk membuka lahan kebunnya.
                “Rencananya mau kamu tanami apa?”
                “Cabai.”
                “Wah, itu bagus. Harga cabai sekarang sangat bagus di pasaran. Aku yakin kamu pasti berhasil,” ucap Mas Gung.
                “Kenapa Mas Gung seyakin itu? Aku sendiri tidak yakin,” guman Ranti.
                “Karena kamu selalu melakukan hal dengan sungguh-sungguh. Buktinya, sekarang kamu sudah berhasil menyekolahkan kedua adikmu dengan usahamu sendiri. Kamu perempuan yang hebat!” puji Mas Gung.
                “Ah, Mas Gung bisa aja.” Ranti tersipu. Ranti sadar, dia bukan anak gadis berusia 10 tahun. Kini, ia sudah dewasa. Kedua adiknya sudah tumbuh menjadi anak remaja yang cerdas. Ada perasaan bangga dalam benaknya. Bangga karena bisa melewati banyak hal sulit dalam kehidupan.
                Ranti memandang ranting karamunting yang sedari tadi ia kibaskan. “Terima kasih ranting kecil. Kamu adalah awal dari kehidupanku saat ini. Jadilah penunjuk jalan kesuksesanku mewujudkan impian kedua adikku.”

Thursday, March 14, 2019

Ranting Ranti [Bab 3 - Survive]


Bab 3
-Survive-
               
“Andi... bangun! Sebentar lagi azan subuh.” Ranti melirik jam dinding sembari menggoyangkan tubuh Andi.
                Andi mengangkat tubuhnya sembari mengucek kedua matanya yang masih mengantuk.
                “Cepat mandi! Surau sudah menunggumu!” Ranti mengikat rambutnya dan bergegas ke dapur untuk menjerang air panas.
                Andi bergegas ke sumur dengan menggunakan senter untuk menerangi jalannya. Secepatnya ia mandi, tubuhnya yang kecil menggigil setiap tersentuh air sumur di subuh hari. Namun, ia tak pernah menyerah. Pada siraman ketiga, ia akan terbiasa dan menikmatinya.
                Pagi buta mereka sudah sibuk, melakukan aktivitas yang biasa dilakukan kedua orang tuanya. Ranti berperan sebagai ibu untuk Sinta dan Andi. Andi yang masih berusia tujuh tahun, cukup mengerti keadaan yang mereka jalani saat ini. Berbeda dengan Sinta yang masih terus menanyakan keberadaan kedua orang tuanya.
                 Ranti menghela napas saat menakar beras yang akan ia masak. Hanya tersisa segenggam beras untuk mereka makan esok.
                Ranti mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Melihat kebun kecil mereka yang terisi aneka tanaman. Ranti memang sangat senang berkebun bersama Emak. Itulah sebabnya di pekarangan belakang rumahnya ditumbuhi aneka tanaman sayur dan buah.
                “Jika beras habis, aku masih bisa menggantinya dengan singkong,” gumam Ranti sembari tersenyum menghibur dirinya sendiri. Ia tak ingin menyerah dengan keadaan. Ia tak ingin mengharap belas kasih dari orang lain. Namun, ia tetap tak pernah bisa menolak ketika Bu Yogi memberi aneka sembako untuknya.
                Ini rejeki untuk adik-adikmu. Jangan menolaknya! Ibu hanya perantara.” Kalimat itu terus terngiang di telinga Ranti, membuatnya tak bisa menolak pemberian Bu Yogi.
                “Mbak, kaos kaki aku di mana?” teriakan Andi membuyarkan lamunan Ranti.
                “Cari saja di lemari!” Suara Ranti tak kalah kerasnya.
                “Nggak ada Mbak.” Andi masih berteriak dari dalam kamarnya.
                Ranti bergegas masuk ke dalam kamar. Mencari kaos kaki yang dicari Andi. Akhirnya ia menemukannya di bawah ranjang tidur mereka. “Lain kali jangan taruh sembarangan!”
                “Maaf Mbak.” Andi meraih kaos kaki dari tangan Ranti.
                “Mbak masih buat sarapan. Bangunkan Sinta dan ajak dia mandi dulu!” pinta Ranti bergegas kembali ke dapur.
                Beberapa menit kemudian mereka sudah duduk di meja makan dengan seragam sekolahnya. Sinta belum bersekolah, namun Ranti selalu membawanya serta ke sekolah. Sebab tak ada yang menjaganya di rumah. Ia tak mungkin terus-menerus merepotkan tetangga. Hanya sesekali ia mengiyakan tawaran Bu Yogi untuk meninggalkan Sinta bersamanya. Kini, Ranti sudah di penghujung kelulusan SD. Ia masih tidak tahu akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi atau memilih berhenti mengejar cita-cita demi kedua adiknya.
***
                Sepulang sekolah, Ranti langsung berganti pakaian. Bergegas menuju kebun untuk mengambil singkong dan beberapa sayuran. Ia tak pernah meninggalkan Sinta, selalu ia bawa kemana saja bahkan ke kebun sekalipun.
                Karena hanya memiliki segenggam beras, Ranti harus pandai membuat hidangan untuk kedua adiknya.
                “Sinta, kamu jangan ke mana-mana ya! Mbak mau masak dulu.” Ranti meletakkan keranjang sayuran di atas meja. Memastikan Sinta duduk manis di kursi.
                Sinta mengangguk, asyik mengajak boneka kesayangannya bercerita.
                Ranti tersenyum melihat Sinta yang sudah asyik bermain. Ia sudah jarang menanyakan keberadaan kedua orang tuanya. Lama-lama, Sinta akan melupakannya.
                Ranti memotong-motong kangkung, jagung dan singkong untuk ia masak bersama segenggam beras yang masih tersisa.  Mungkin ini akan terasa aneh. Tapi, setidaknya cukup untuk mereka makan bertiga.
                “Ini makanan apa Mbak?” tanya Andi ketika Ranti menghidangkan makanan yang baru saja selesai ia masak. Ia mengamati makanan yang terhidang di depannya. Seperti sayuran, tapi ada bubur nasinya. “Ini sayur atau bubur?”
                “Makan saja!” suara Ranti parau, tak kuasa menahan kesedihan. Seandainya Bapak dan Emak masih ada. Pastilah kebutuhan gizi kedua adiknya akan selalu terpenuhi.
                Andi tak banyak bicara. Ia melahap habis makanan yang dihidangkan Ranti. Sama dengan Sinta. Ia hanya menurut saja apa kata Mbak Ranti.
                Keesokan harinya, Ranti hanya bisa menghidangkan singkong.
                Andi menyadari kesulitan Mbak Ranti. Namun, ia tak ingin banyak bertanya. Itu akan membuat Mbak Ranti semakin marah.
                Andi berjalan perlahan menuju kandang ayam. Ia membawa sekaleng biji jagung untuk pakan ayam-ayamnya.
                Andi memperhatikan satu per satu ayam-ayam miliknya. Sebenarnya ini ayam-ayam milik Bapak. Bapak senang sekali memelihara ayam. Dan selalu mengajak Andi untuk memberi pakan ayam-ayamnya.
                Dua ekor induk ayam baru saja turun dari kandangnya. Ia mengintip dari celah-celah kandang. Sudah ada empat telur di sana. Andi tersenyum senang. “Akan ada penghuni baru di kandang ini,” batin Andi.
                Andi menangkap seekor ayam yang lumayan gemuk. Membawanya ke pasar untuk ia jual. Lumayan, hasil penjualan ayam ini bisa ia berikan ke Mbak Ranti untuk membeli beras.
                “Mbak, ini ada sedikit uang untuk membeli beras.” Andi mengulurkan beberapa lembar uang untuk Ranti.
                “Kamu punya uang dari mana? Tidak mencuri, kan?” Ranti mendelik.
                Andi menggeleng.
                “Lalu dapat dari mana? Mengemis?”
                Andi menggeleng lagi.
                “Bilang sama Mbak. Kamu dapat uang ini dari mana!?” Ranti meninggikan nada suaranya.
                “Tadi aku menjual satu ekor ayamku ke pasar. Ini uang hasil jual ayam Mbak. Aku tidak mencuri dan tidak mengemis.” Andi menyodorkan kembali uang itu di wajah Ranti.
                “Kamu jual ayam Bapak?”
                “Aku merawatnya bersama Bapak. Aku juga berhak atas ayam itu Mbak. Lagipula, dua ekor betinaku sedang bertelur. Aku berniat untuk menekuni hobiku beternak. Kalau dijual ke pasar, hasilnya lumayan Mbak.” Andi mengerdipkan matanya.
                “Tapi An...”
                “Andi masih kecil?”
                Ranti tersenyum memandang tubuh Andi yang tak lagi semungil dulu.
                “Andi laki-laki. Tidak harus menjadi dewasa dulu untuk menjaga Mbak Ranti dan Sinta.”
                “Oke. Kalau gitu, gimana kalau Mbak Ranti menjual sayuran-sayuran itu ke pasar?” Ranti tersenyum melipat kedua tangannya di dada. Memandang kebun kecil yang penuh aneka sayuran yang ia tanam.
                Andi mengangguk gembira. “Ide bagus Mbak. Jadi, Andi jual ayam kampung dan Mbak Ranti jual sayuran.” Andi tertawa sumringah.
                “Yes! Kita tidak perlu makan singkong setiap hari.” Ranti berjingkat memeluk adiknya.
                “Assalamu’alaikum...!” Suara Bu Yogi terdengar dari kejauhan.
                Ranti dan Andi saling memandang. “Bu Yogi!” ucap mereka bersamaan. Mereka bergegas membukakan pintu rumah.
                “Wa’alaikumussalam.” Andi dan Ranti menjawab salam sembari membukakan pintu lebar-lebar.
                Bu Yogi datang dengan dua kantong plastik berisi sembako. “Ini ada sedikit rejeki untuk kalian.”
                Andi dan Ranti saling pandang. “Tapi Bu, Ibu suda terlalu sering memberi kami makanan. Kami tidak bisa terus menerus menerimanya,” ucap Ranti.
                “Tidak baik menolak rejeki.” Bu Yogi berjalan masuk ke dapur tanpa dikomando.
                “Bu, apa ada yang bisa kami lakukan untuk membalas kebaikan Ibu?” Ranti mengikuti langkah Bu Yogi yang sedang melihat-lihat isi dapur. Sesekali ia membelalak karena tidak ada makanan atau bahan makanan sedikitpun. Hanya ada dua potong singkong rebus di atas piring.
                “Tidak ada. Ibu tidak meminta balasan apapun.”
                “Bu, apa aku boleh angon bebek-bebek Ibu?” Andi sumringah menyela pembicaraan.
                Bu Yogi tersenyum menatap Andi. “Mau?”
                Andi mengangguk penuh semangat.
                “Lebih baik Mbak Ranti saja yang menggembala bebek-bebek itu. Sebentar lagi Mbak Ranti sudah lulus sekolah. Kamu masih harus sekolah.” Sahut Ranti.
                “Tapi, Mbak...” Andi merengut.
                “Kamu tidak lanjut sekolah?” Bu Yogi menatap Ranti.
                Ranti menggelengkan kepalanya. “Biaya masuk SMP tidak sedikit Bu. Lagipula, Sinta sudah harus masuk sekolah. Ranti mau kerja saja.”
                “Kamu tidak perlu khawatir soal biaya. Ibu akan biayai sekolah kalian.”
                Ranti menggeleng. “Ranti tidak ingin sekolah, Bu.”
                “Bukankah kamu ingin jadi dokter?”
                “Itu dulu, saat Bapak masih hidup. Sekarang beda Bu. Aku tidak akan pernah menjadi dokter.”
                “Ranti yang Ibu kenal tidak seperti ini. Ranti yang ibu kenal selalu punya semangat untuk maju.”
                Ranti menundukkan kepalanya, meremas jari jemarinya. Jauh dalam lubuk hati, ia ingin sekali mengejar mimpi-mimpinya. Ia sangat memimpikan gelar sarjana, seperti harapan kedua orang tuanya. Namun, ia tidak ingin mengorbankan kedua adiknya. Ia harus berjuang demi Andi dan Sinta. Ia ingin melihat Andi dan Sinta sukses menjadi sarjana. Dan ia harus berjuang mewujudkan mimpinya. Jika ia tak bisa mewujudkan mimpinya memakai toga, maka ia harus bisa melihat Andi dan Sinta memakai toga.


Ranting Ranti [Bab 2 - Gubuk Kecil]



BAB 2
-Gubuk Kecil-
Ranti menatap pusara kedua orang tuanya yang baru saja di pasang di atas gundukan tanah yang masih basah. Tangannya perlahan menaburkan bunga-bunga ke atasnya. Matanya sembab, namun air matanya tak lagi bisa mengalir. Air matanya telah habis, ia hanya sesenggukan tanpa air mata yang membanjiri tubuhnya. 
Tatapan Ranti menerawang jauh pada beberapa tahun silam saat masih bersama dengan kedua orang tuanya. Kenangan itu membuat air matanya kembali menetes sedikit demi sedikit. Namun, segera ia usap dengan kerudungnya. Ia tak ingin tangisnya semakin memberatkan kepergian Bapak dan Emak. Dia harus ikhlas dengan semua ini.Dia harus kuat menjalani hidup demi kedua adiknya yang masih kecil.
"Ran, ayo pulang!" Bu Yogi membuyarkan lamunan Ranti.
"Ranti masih mau di sini, Bu."
"Kamu sudah terlalu lama di sini. Lihatlah hari sudah beranjak senja. Ayo kita pulang!Kita persiapkan tahlilan untuk kedua orang tuamu." Bu Yogi mengusap pipi Ranti yang basah.
Ranti mengangguk. Dengan berat hati ia meninggalkan pusara kedua orang tuanya. Kembali ke rumah. Rumah yang penuh kenangan bersama kedua orang tuanya.
"Bapak sama Emak mana Mbak? Katanya mau belikan Sinta sepeda. Kok nggak pulang-pulang?" Sinta mencecar pertanyaan saat Ranti baru sampai di rumahnya. Pertanyaan yang sangat menyesakkan di dada Ranti.
"Mbak Ranti mandi dulu ya!" Ranti mengusap pipi Sinta. Bergegas menuju sumur yang ada di belakang rumahnya. Ia harus bergegas mandi sebelum gelap menutupi pandangannya untuk kembali ke rumah.
Sementara Andi menarik lengan adiknya untuk masuk ke dalam kamar. Ia mengajak adiknya bermain di kamar agar tidak menganggu ibu-ibu tetangga yang sedang membantu memasak di dapur mereka untuk tahlilan arwah kedua orang tua mereka.
"Kak, kenapa orang ramai-ramai di rumah kita?" tanya Sinta. Ia mendengar riuh suara ibu-ibu yang sedang sibuk berjibaku di dapur kecil milik mereka.
"Mereka sedang membantu Mbak Ranti memasak." Andi menatap wajah Sinta yang masih polos.
"Bukannya Mbak Ranti sudah bisa masak sendiri? Kenapa harus dibantu? Mbak Ranti sakit?" tanya Sinta lagi.
"Karena hari ini Mbak Ranti mau masak yang banyak untuk kita." Andi kembali mengajak adiknya bermain, agar Sinta tak lagi bertanya perihal keramaian di dalam rumahnya. Andi tidak tahu bagaimana menjelaskan pada Sinta. Bahkan dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya. Ia hanya rindu, sangat rindu pada Emak dan Bapak. Biasanya, jam segini Bapak sudah mengajak Andi bersiap pergi ke Surau. Bapak biasa menjadi muazin untuk memanggil orang-orang datang ke Surau. Andi bahkan sudah bisa menjadi muazin seperti Bapaknya. Namun, ia belum memiliki keberanian untuk mengeluarkan suaranya di depan pengeras suara Surau.
Tanpa disadari, air mata Andi jatuh bulir demi bulir. Merindukan sosok Bapak yang selama ini menjadi panutan. 
"Kenapa nangis?" Suara Sinta membuyarkan lamunan Andi.
"Nggak papa. Kakak cuma kelilipan matanya." Andi mengusap matanya yang basah.
"Bapak sama emak mana ya? Katanya mau belikan sepeda baru buat Sinta. Kok nggak pulang-pulang?" Sinta menatap jendela kamar.
Hari mulai gelap, satu per satu warga berdatangan untuk menghadiri tahlilan kedua orang tua Ranti. Acara tahlilan berlangsung dengan khusyuk dan khidmat. 
Lagi-lagi air mata Ranti kembali berderai saat malam mulai larut dan warga telah kembali ke rumahnya masing-masing. Menutup pintu rumah rapat-rapat dan semua lampu sudah padam.
"Mbak...!" Andi menghampiri Ranti yang masih duduk terisak di dapur.
"Eh... Andi? Belum tidur?" Ranti mengusap air matanya.
Andi menggeleng. "Aku tidak bisa tidur. Aku kangen sama Emak, sama Bapak." 
"Mbak juga kangen sama mereka. Tapi, mereka sudah bahagia di surga. Tugas kita mengirimkan do'a-do'a untuk mereka." Ranti mengusap rambut Andi. "Sinta mana? Sudah tidur?"
Andi mengangguk. Mereka bergeming untuk beberapa saat.
"Mbak...!" Andi menatap Ranti yang masih bergeming.
"Ya."
"Apa besok kita masih bisa sekolah?"
"Kenapa tanya seperti itu?" Ranti balas menatap Andi.
"Karena kita sudah tidak punya orang tua. Seperti Wawan, dia tidak bersekolah karena tidak punya orang tua." Andi menundukkan kepalanya, meremas jari jemarinya.
Ranti menghela napas. "Kita akan tetap sekolah. Walau Emak dan Bapak sudah tidak ada. Kita harus sekolah. Kamu ingat kan pesan Emak dan Bapak?"
"Anak-anak emak harus jadi sarjana. Walau hanya tinggal di gubuk, tapi isinya gubuknya gunung emas. Harus jadi anak yang cerdas supaya bisa membuat gunung emas di dalam gubuk kita!"
"Nah, bener. Jadi, Andi harus tetap sekolah. Mbak Ranti sekolahnya pakai beasiswa. Emak dan Bapak tidak pernah pusing mikir biaya sekolah Mbak Ranti. Andi juga harus jadi anak yang cerdas! Supaya bisa jadi sarjana!" Ranti tersenyum, mengacak rambut Andi.
Andi tersenyum sembari mengusap rambutnya. "Apa seragam sarjana itu bikin Andi lebih gagah dari pakai seragam SD Mbak?"
"Pasti." Ranti mengerdipkan salah satu matanya.
"Jadi, besok Andi tetap sekolah?" tanya Andi lagi.
Ranti mengangguk.
"Yang nyiapin seragam sekolah Andi siapa Mbak? Kan Emak nggak ada."
"Mbak Ranti yang akan nyiapin seragam sekolah Andi. Tapi, Andi harus belajar untuk menyiapkan keperluan sekolah sendiri ya!"
Andi mengangguk.
"Ya sudah. Ayo tidur! Ini sudah malam, besok mau sekolah kan?" Ranti beranjak meninggalkan dapur.
Andi mengikuti langkah Ranti. Tak perlu waktu lama untuk terlelap. Hanya dalam hitungan menit, Andi sudah mendengkur di sisi Sinta.
Ranti memandang wajah polos kedua adiknya. Mulai hari ini ia berniat untuk mandiri. Ia tak bisa lagi merengek pada Emak atau Bapak. Kini, ia akan jadi tempat rengekan kedua adiknya. Sungguh, dalam hati ia tak yakin bisa merawat dan membesarkan kedua adiknya. Tapi, ia akan berusaha sungguh-sungguh agar kedua adiknya bisa bersekolah hingga perguruan tinggi.
***
Beberapa warga berkumpul di Balai Desa untuk bermusyawarah mengenai hak asuh ketiga anak Pak Dillah. Bagaimanapun, mereka masih sangat kecil dan harus memiliki orang tua angkat. Oleh karenanya, Pak Ratno sebagai Kepala Desa mengumpulkan warga desa di Balai Pertemuan.
Ranti dan kedua adiknya juga diundang untuk menghadiri pertemuan. Ini juga  untuk menentukan siapa yang berhak menjadi orang tua angkat untuk Ranti dan kedua adiknya.
"Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Saya mengundang Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu ke sini untuk bermusyawarah mengenai hak asuh dari anak-anak Pak Dillah. Mengingat dan menimbang usia mereka sangat kecil, maka kami memberikan kesempatan pada seluruh warga, siapa saja yang berkenan untuk mengasuh ketiga anak Pak Dillah." Suara Pak Ratno menggema di dalam ruangan.
Warga yang berkumpul di Balai pertemuan saling menoleh dan berbisik.
"Biarkan kami yang mengasuh anak-anak Pak Dillah." Bu Yogi berdiri dari kursinya.
"Saya mau mengasuh Andi." Pak Bagiyo, salah seorang warga yang belum memiliki anak dan sangat menginginkan memiliki anak laki-laki.
"Tidak bisa Pak. Andi harus ikut dengan saya. Bersama Ranti dan adiknya!" Bu Yogi menyergah.
"Ya tidak bisa begitu, Bu. Anak Pak Dillah kan ada tiga. Harus kita bagi-bagi mengasuhnya. Jangan mentang-mentang orang kaya, Ibu mau mengasuh ketiganya!" Pak Bagiyo meninggikan suaranya.
"Kalau Pak Bagiyo ingin mengasuh Andi, Ranti dan Sinta juga harus ikut dengan Bapak. Kita tidak boleh memisahkan mereka!" Bu Yogi keukeuh
"Saya tidak mampu jika harus merawat ketiganya. Saya hanya mampu merawat satu saja. Saya bukan orang kaya seperti Bu Yogi," ujar Pak Bagiyo.
"Ya sudah kalau Pak Bagiyo tidak sanggup membiayai mereka, tidak usah mengasuh salah satunya!"
Perdebatan mereka semakin sengit. Ditambah lagi beberapa warga yang lain juga berebut ingin mengasuh salah satu anak Pak Dillah.
"Berhenti..!" teriak Pak Ratno menyaksikan kegaduhan di Balai Pertemuan.
"Biar Ranti yang memutuskan akan bersama dengan siapa!" Pak Ratno menambahkan. "Silahkan Ranti, kamu harus memutuskan dengan siapa kamu dan kedua adikmu akan tinggal."
Ranti bangkit dari tempat duduknya. "Kami tidak akan tinggal dengan siapapun. Kami tidak akan pernah meninggalkan rumah kami."
Seketika semua hening.
"Tapi, kalian masih kecil." Pak Ratno berbisik di telinga Ranti.
Ranti membusungkan dadanya dan menjawab dengan mantap. "Aku bisa merawat kedua adikku. Kami tidak akan meninggalkan rumah kami."
"Tapi, Ran..." Bu Yogi menatap Ranti kecewa.
"Kami akan baik-baik saja tanpa orang tua. Kami akan tetap tinggal di rumah kami. Kami tidak akan ikut siapapun!" Ranti menjawab dengan mantap.
Ranti tetap keukeuh dengan keputusannya. Akhirnya warga pulang ke rumah dengan rasa kecewa. Juga Bu Yogi yang sangat menyayangi ketiganya.
Pak Bagiyo melangkahkan kakinya keluar dari Balai pertemuan sembari mengutuk karena gagal menjadikan Andi sebagai anaknya.
Anak-anak Pak Dillah dikenal sebagai anak yang baik dan berprestasi. Sehingga banyak warga yang simpati dan menginginkan mereka menjadi anak angkatnya.
                Ranti menghela napas, kembali ke rumah dengan perasaan lega. Ia tak habis pikir dengan ide Pak Ratno yang membuat warga berebut ingin mengasuhnya. Ia lebih memilih di rumah ini. Rumah yang penuh kenangan bersama orang tuanya. Ia yakin, ia bisa merawat kedua adiknya dengan baik. Karena bagaimanapun, ia sangat menyayangi keduanya dan tak ingin berpisah.
                Ya Allah... berilah aku kekuatan untuk menjalani hari esok. Berilah aku kemudahan,” rintih Ranti dalam salatnya.

Cerita Selanjutnya ...

Ranting Ranti [Bab 1 - Tanpamu]



BAB 1 

-Tanpamu-


“Ran, Bapak sama Emak berangkat dulu ya! Jaga adik-adik di rumah dengan baik.” Pamit Mak Yati pada ketiga anaknya. Mereka berencana ke kota untuk memenuhi undangan.
“Iya Mak. Bapak sama Emak hati-hati ya!” Ranti mencium bahu tangan kedua orang tuanya. Diikuti oleh kedua adiknya yang masih kecil.
“Nanti Sinta dibelikan sepeda ya Pak!” pinta Sinta yang baru menginjak usia empat tahun.
“Iya Sayang. Nanti Emak belikan sepeda buat Sinta. Sinta di rumah yang pinter ya! Jangan nakal, jangan bikin repot Mbak Ranti. Juga jangan cengeng!” pesan Mak Yati sambil mencium kening Sinta.
“Andi, jaga adik kamu baik-baik ya! Jangan kelahi! Andi kan laki-laki sendiri. Harus bisa jagain Adek Sinta dan Mbak Ranti ya!” Pak Dillah menambahkan.
Andi mengangguk tanda mengerti.
Pak Dillah dan Mak Yati bergegas pergi dengan sepeda motor bututnya. Meninggalkan ketiga anaknya yang masih memandangi tubuh kedua orang tuanya di depan pintu rumah hingga mereka tak dapat terlihat lagi.
Ranti bergegas masuk ke dalam rumah, mengajak kedua adiknya bermain di dalam rumah. Menutup pintu rapat-rapat agar Sinta tidak keluar rumah sendirian.
“Kak, nanti Sinta mau dibelikan sepeda."  Sinta pamer pada kakak keduanya.
“Iya, pasti sepedanya bagus ya?” Andi tersenyum, menyenangkan hati adiknya.
“Iya dong. Nanti Kak Andi boleh pinjam kok. Nanti gantian pakainya.” Sinta tersenyum sembari menyisir rambut boneka kesayangannya.
“Kak Andi kan sudah punya sepeda. Nanti sepedanya Sinta pakai sendiri saja,” balas Andi.
“Tapi, sepedanya Kak Andi kan sudah jelek,” gumam Sinta.
“Nggak Papa. Kan masih bisa dipakai.” Andi sambil menatap sepeda miliknya dari balik jendela. Sepeda itu ia sandarkan di bawah pohon kelapa, tepat di samping rumah. Sepeda itu warisan dari Mbak Ranti. Sehingga keadaannya sudah tidak bagus lagi. Standartnya sudah putus hingga tidak bisa menopang tubuh sepeda saat tak dipakai. Remnya juga sudah rusak, Andi memasang potongan sandal di atas bannya, potongan sandal itulah yang ia gunakan untuk menahan bannya berputar saat mau berhenti. Warnanya juga sudah usang dan berkarat. Tapi, Andi masih memakainya karena cuma itu yang ia punya. Ia tidak mau merepotkan kedua orangtuanya dengan merengek meminta sepeda baru.
Ranti mendengarkan percakapan mereka dari bilik dapur. Sesekali ia memperbaikai dan meniup kayu bakar yang terkadang mati jika ditinggalkan. Tangannya sibuk memotong sayur kangkung yang ia petik dari belakang rumah. Satu jam kemudian, nasi, sayur kangkung dan ikan asin goreng sudah siap di atas meja dapur. Ia mengajak kedua adiknya untuk makan bersama.
“Sinta mau teh!” Sinta merengek, menepis tangan Ranti saat memberikan air putih.
“Sebentar ya Mbak buatkan.” Ranti bergegas menuju termos yang berisi air panas. Menuangkan satu setengah sendok gula dan teh ke dalam gelas. Kemudian menuangkan air panas ke dalam gelas.
Tarrrr....!
Tiba-tiba gelas yang diisi air panas pecah diiringi teriakan kecil Ranti, sebab kakinya terkena percikan air panas.
“Kenapa Mbak?” Andi bergegas menghampiri Ranti.
“Nggak Papa. Sepertinya gelas ini memang sudah rapuh.” Ranti gelisah. Tiba-tiba jantungnya berdetak hebat. Tubuhnya  gemetar, wajahnya memucat. Hatinya di serang perasaan gelisah. Bayangan kedua orang tuanya bergelayut di pikirannya. "Semoga Bapak dan Emak baik-baik saja," batin Ranti sembari mengaduk teh hangat yang untuk Sinta.
Usai makan, Sinta dan Andi kembali bermain bersama. Sinta asyik berlari-larian hingga terjerembab di teras rumah. Lutut kirinya lecet dan itu membuatnya tidak berhenti menangis. Ranti semakin bingung. Karena Sinta sulit sekali untuk dihibur, bahkan lukanya tidak boleh tersentuh sedikit saja apalagi diberi obat.
“Bapak sama Emak lama ya Ndi? Ini sudah hampir senja. Biasanya selepas Ashar mereka sudah kembali. Sinta juga nggak berhenti-berhenti nangisnya.” Ranti mulai gelisah. Ia terus menggendong Sinta yang masih menangis.
“Ia Mbak, kok belum pulang juga ya? Biasanya kalau ke kota itu jam segini sudah pulang. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Bapak dan Emak.” Andi tak kalah gelisah.
"Hush..! Jangan bicara seperti itu. Mereka pasti baik-baik saja. Mungkin mereka terlambat pulang karena masih mencari sepeda yang bagus untuk Sinta." Ranti menatap lembayung senja dari teras rumahnya. Sungguh, hatinya sangat gelisah. Namun ia tak ingin menunjukkan kepada kedua adiknya.
“Ranti...!” Pak Yogi , ketua RT datang dengan tergopoh-gopoh. Diikuti beberapa warga dibelakangnya.
Ranti menatap mereka penuh tanya. Tidak biasanya warga datang beramai-ramai ke rumahnya, kecuali di hari raya. Lagi pula kedua orang tua mereka sedang tidak di rumah.
“Ada apa Pak? Emak sama Bapak sedang tidak di rumah.” Ranti menatap wajah Pak Yogi yang gelisah.
“Ayo masuk dulu ke rumah! Bapak mau bicara denganmu.” Pak Yogi  masuk ke dalam rumah Ranti dan duduk bersama.
Pak Yogi mengerutkan kening dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal setiap kali menatap ketiga wajah polos yang ada di hadapannya.
"Kamu saja yang sampaikan, Man! Saya bingung." Pak Yogi menyenggol lengan salah seorang warga.
"Bapak saja. Bapak ketua RT." Yang ditunjuk malah menunjuk balik. Bahkan mereka saling tunjuk dan berbisik.
Hal ini membuat Ranti curiga. Ranti menatap wajah Pak Yogi dan beberapa warga satu per satu. Semuanya terlihat bingung. Sama bingungnya dengan Ranti.
"Mmm... begini Nak Ranti." Pak Yogi berdehem untuk memulai pembicaraannya.
"Ya, Pak?" Ranti menatap Pak Yogi penuh tanya.
Pak Yogi kembali menggaruk kepalanya. Menoleh ke beberapa warga yang memberikan semangat untuk melanjutkan kalimatnya.
“Ran... baru saja Bapak dapat telpon dari rumah sakit." Suara Pak Yogi tercekat. "Bapak dan Emak kamu kecelakaan, nyawanya tidak dapat tertolong.” Pak Yogi menahan napas di dadanya. Menyaksikan ketegangan di wajah Ranti.
Deg... jantung Ranti terasa berhenti berdetak. Kalimat yang keluar dari Pak Yogi bagai sambaran petir yang menyerang tubuhnya jutaan kali. Air matanya tumpah begitu saja. Teriakkannya histeris memanggil nama kedua orang tuanya. Nama yang tak akan pernah lagi mendengar panggilannya apalagi menyahut. Ia terus menangis histeris. Beberapa warga mencoba menenangkannya.
"Sabar Ranti.. ini sudah takdir Allah. Kamu harus kuat!" Bu Yogi memeluk tubuh Ranti yang masih memangku adik bungsunya. Adik bungsunya masih menangis kesakitan karena jatuh, ia belum mengerti apa itu kematian.
Ranti terus terisak dalam pelukan Bu Yogi. "Ranti gimana kalo Bapak sama Emak nggak ada, Bu? Andi dan Sinta masih kecil-kecil."
Bu Yogi menelan ludah mendengar ucapan Ranti. Ia hanya bisa mengelus-elus bahu Ranti. Tak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya. Hanya air mata yang membasahi pipinya. Menyaksikan tiga anak kecil yang tiba-tiba ditinggalkan kedua orang tuanya. Mereka masih terlalu kecil untuk merawat diri mereka sendiri. Bagaimana nasib mereka tanpa orang tua?
Sementara Andi meringkuk di sudut ruangan. Ia tak kuasa menahan air matanya berderai. Membenamkan wajahnya dalam-dalam di lipatan tangan dan kakinya. Ia masih tak percaya jika Bapak pergi meninggalkan mereka. Pergi meninggalkan Andi yang baru saja mendapatkan kebahagiaan karena akhirnya bisa mengenakan seragam merah putih. "Baru kemarin Bapak bilang Andi gagah dengan seragam sekolah yang baru. Kenapa sekarang Bapak malah pergi? Andi baru punya satu seragam. Bapak belum lihat Andi pakai seragam putih abu-abu. Bukannya Bapak pengen lihat Andi bisa sekolah tinggi?" batin Andi dalam tangisnya.


Cerita Selanjutnya ...

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas