Yuna melangkahkan kakinya perlahan keluar dari
rumah. Hari ini, tepat tanggal 12 Oktober. Ia ingin mengambil hadiah yang sudah
ia siapkan untuk Yeriko.
(You still have all of my ...
You still have all of my ... You still have all of my heart ...)
Yuna langsung menghentikan langkah dan merogoh
ponsel yang ada di dalam tasnya. Ia tersenyum saat melihat gambar suaminya
terpampang di layar ponsel.
“Halo ...!” sapa Yuna sambil meletakkan ponsel ke
telinganya.
“Halo, Sayang! Udah berangkat?” tanya Yeriko dari
ujung telepon.
“Ini baru keluar dari pintu rumah.”
“Hati-hati di jalan, ya!” pinta Yeriko.
“He-em,” sahut Yuna sambil menganggukkan kepala.
“Aku langsung ke perusahaan siang ini.”
“Iya, aku tunggu, Bye!”
“Bye-bye, love you!”
“Love you too.” Yeriko langsung mematikan
panggilan teleponnya.
Yuna tersenyum. Ia menyimpan kembali ponsel ke
dalam tas tangannya dan melangkah menghampiri Angga yang sudah menunggunya di
halaman rumah.
Angga langsung membukakan pintu begitu Yuna
menghampiri mobil yang ia bawa. “Mau ke mana, Nyonya Bos?” tanyanya.
“Ke Galeri.”
Angga mengangguk. Ia kembali menutup pintu mobil
saat Yuna sudah ada di dalamnya dan bergegas pergi ke galeri keramik milik Mbah
To yang hanya berjarak lima belas menit dari rumahnya.
“Pagi, Mbah!” sapa Yuna begitu ia masuk ke dalam
galeri keramik, tempat ia biasa belajar membuat kerajinan gerabah.
“Pagi ...! Mau ambil hadiahnya sekarang?”
Yuna menganggukkan kepala.
Mbah To memanggil salah seorang pegawainya untuk
mengambil hadiah yang dibuat oleh Yuna.
Yuna tersenyum puas melihat dua cangkir yang ada
di tangannya. Ia menatap cangkir susun berbentuk hati. Di tengahnya, ada gambar
beruang kutub yang sedang mencium aroma mawar merah.
“Makasih, Mbah!” ucap Yuna sambil tersenyum
bahagia. “Saya langsung pulang ya!” pamitnya.
Mbah To menganggukkan kepala. Ia menatap Yuna yang
perlahan keluar dari galeri miliknya. “Dia memang wanita yang istimewa. Pantas
saja suaminya melakukan banyak hal untuknya. Sampai membuat galeri ini hanya
untuk memenuhi keinginan istri tercintanya,” celetuk Mbah To sambil melangkah
masuk ke dalam ruang kelas yang ada di bagian belakang galeri itu.
Baru saja masuk ke dalam mobil, ponsel Yuna
tiba-tiba berdering. Ia langsung merogoh ponsel dan melihat panggilan yang
masuk ke teleponnya.
“Halo, Ndre ...! Ada apa?” tanya Yuna saat ia
sudah menjawab panggilan telepon dari Andre.
“Kamu di mana, Yun?” tanya Andre.
“Aku baru keluar dari galeri. Mau ke perusahaan.
Kenapa?”
“Bisa ketemu?”
“Ketemu?”
“Iya. Sebentar aja.”
“Mmh ...”
“Please, Yun! Cuma sebentar aja, kok.”
Yuna berpikir sejenak. “Ketemu di mana?”
“Di Coffee Toffee gimana?”
“Mmh ... Oke, deh. Tapi akunya nggak bisa
lama-lama.”
“Nggak papa. Aku cuma butuh waktu sebentar. Nggak
nyampe satu jam, kok.”
“He-em.” Yuna menganggukkan kepala. Ia langsung
mematikan panggilan teleponnya.
“Ngga, kita mampir ke Coffee Toffee sebentar, ya!”
pinta Yuna pada supirnya.
“Siap, Nyonya Bos!”
Angga langsung melajukan mobilnya menuju Coffee
Toffee sebelum mereka pergi ke Galaxy Office.
...
Andre menatap kotak kado yang ada di atas meja
kerjanya. Ia tersenyum sambil mengingat wajah Yuna yang begitu ceria, penuh
semangat dan baik hati.
“Yun, semoga kamu suka sama hadiah ini,” ucap
Andre sambil memasukkan kotak hadiah tersebut ke dalam paper bag.
“Kak Andre, ini berkas yang harus kamu tanda
tangani!” Nirma tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Andre tanpa mengetuk pintu.
“Besok aja! Aku ada perlu,” tutur Andre sambil
menenteng paper bag yang sudah ia siapkan.
Nirma melirik paper bag di tangan Andre yang
berisi kado. Ia sudah mengerti siapa orang yang akan ditemui Andre kali ini.
“Tapi, dokumen ini harus ditandatangani hari ini.
Soalnya, bagian Finance mau proses pembayaran besok pagi.”
“Ya udah, aku approve nanti ... kalau udah balik.”
“Kak Andre mau ke mana?” tanya Nirma memberanikan
diri.
“Apa aku harus laporan ke kamu setiap kali aku mau
pergi?” tanya Andre balik.
Nirma terdiam menanggapi pertanyaan Andre. Ia
kesal, tapi tak bisa menghadapi sikap Andre yang dingin.
“Aku pergi dulu!” pamit Andre sambil melangkah
keluar dari ruang kerjanya.
Nirma terus menatap punggung Andre yang perlahan
menjauh. “Kak Andre pikir, aku nggak tahu kalau Kak Andre mau ngasih hadiah ke
Kak Yuna?” celetuk Nirma lirih. Ia membuntuti Andre diam-diam hingga sampai ke
Coffee Toffee.
Dugaan Nirma tidak salah lagi. Andre benar-benar
bertemu dengan Yuna di dalam kafe tersebut.
Andre langsung tersenyum begitu melihat Yuna sudah
duduk di salah satu meja di Coffee Toffee. Ia langsung menghampiri Yuna dan
menyapanya dengan ramah.
“Udah lama nunggu?” tanya Andre.
“Belum, Ndre. Aku juga baru nyampe, kok.”
“Kamu cantik banget hari ini,” puji Andre.
“Oh ya? Makasih ...!” sahut Yuna sambil tersenyum.
Andre tersenyum menatap Yuna. “Kamu mau minum
apa?” tanya Andre. “Biar aku pesenin.”
“Nggak usah. Aku nggak bisa lama-lama ada di
sini.”
Andre menghela napas. Ia sudah lama tak bertemu
dengan Yuna dan membuat pertemuan mereka begitu canggung. “Yun, aku dengar ...
kamu abis mengalami penculikan? Aku ikut prihatin sama itu semua. Maaf, aku
nggak bisa bantu. Aku percaya, Yeriko pasti akan melindungi kamu dengan baik.”
Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Aku baik-baik
aja, kok.”
“Aku dengar kabar kalau si Refi sudah meninggal.
Apa bener kalau dia meninggal karena bunuh diri?”
Yuna hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan
Andre. Ia tidak ingin mengungkit soal kematian Refi di depan siapa pun. Ia juga
tidak akan memberikan keterangan soal penyebab kematian Refi. Hanya keluarga
dan orang-orang terdekat yang mengetahui kalau Refi benar-benar bunuh diri.
Sementara, media dibiarkan bertanya-tanya soal itu semua.
Andre menarik napas, ia menyadari kalau Yuna tidak
nyaman dengan pertanyaan yang ia lontarkan. “Sorry ...!”
Yuna hanya tersenyum kecut menanggapinya.
“Oh ya, aku ke sini mau ngasih ini,” tutur Andre
sambil menyodorkan paper bag ke hadapan Yuna. “Selamat ulang tahun, ya! Semoga
kamu selalu sehat, jadi istri dan ibu yang baik. Makin dewasa, makin cantik dan
makin disayang suami,” ucapnya sambil tersenyum.
“Aamiin. Makasih, Ndre! Tapi aku nggak bisa
menerima hadiah ini. Doa dari kamu aja sudah cukup, kok.”
Andre menghela napas. “Yun, kita nggak pernah
ketemu selama bertahun-tahun. Apa kamu nggak bisa menghargai pertemanan kita?”
Yuna menggigit bibirnya. “Aku sangat menghargai
pertemanan kita. Tapi kamu tahu, suamiku itu pencemburu. Aku nggak bisa nerima
hadiah dari orang lain.”
Andre tersenyum kecil. “Yun, ini cuma hadiah dari
teman sebagai hadiah ulang tahun. Sama seperti hadiah yang kamu dan Yeriko
kasih di hari ulang tahunku. Yeriko nggak melarang kamu memberikan hadiah untuk
aku. Kenapa kamu harus takut menerima hadiah ulang tahun dari teman kamu?”
Yuna berpikir sejenak. Ucapan Andre memang ada
benarnya. Namun, ia masih ragu dengan sikap suaminya jika ia menerima hadiah
dari orang lain.
“Ini cuma hadiah ulang tahun dari teman, Yun. Sama
seperti saat Jheni atau Icha ngasih hadiah ulang tahun untuk kamu. Aku berharap
banget kamu bisa menerima hadiah dari aku.”
Yuna berpikir sejenak. “Oke. Aku terima,” ucapnya
sambil menggigit bibir.
Andre tersenyum bahagia melihat Yuna yang akhirnya
mau menerima hadiah darinya.
“Hai, Kak Andre, Kak Yuna ...!” sapa Nirma yang
tiba-tiba menghampiri mereka. “Maaf, aku terlambat.”
Andre tersenyum kecut sambil menatap wajah Nirma.
Nirma meringis, ia langsung duduk di samping Andre
sambil merangkul lengan pria itu.
“Kamu ngapain ke sini?” bisik Andre di telinga
Nirma. Ia mencoba untuk tersenyum walau hatinya kesal.
“Aku mau ngucapin ulang tahun buat Kak Yuna,”
sahut Nirma lantang. “Aku mau lihat kalau Kak Yuna sudah menerima hadiah dari
kita.”
Andre terdiam. Ia sangat kesal dengan sikap
Nirma dan membuat suasana semakin canggung.
Yuna tersenyum sambil menatap Nirma. “Makasih
untuk hadiahnya!”
Nirma menganggukkan kepala. “Kak Yuna nggak
dipesenin minuman sama makanan?” tanyanya saat melihat meja yang masih kosong.
“Nggak usah, Nir! Aku nggak bisa lama-lama di
sini.”
Nirma menghela napas. “Ini hari ulang tahun Kak
Yuna. Jangan nolak traktiran dari kami, dong!” pinta Nirma.
Yuna terdiam sejenak, kemudian menganggukkan
kepala.
“Nah, gitu dong!” seru Nirma. Ia langsung memesan
makanan dan minuman untuk mereka bertiga.
Andre ikut tersenyum. Ia sangat bahagia karena
Nirma berhasil menahan Yuna di tempat itu. Membuat ia bisa menikmati wajah
cantik Yuna yang beberapa hari belakangan ini tak ia lihat. Ia sangat
merindukan Yuna. Perubahan tubuh pada Yuna saat hamil, justru membuat wanita
itu semakin cantik dan menarik.
((Bersambung ...))
Thanks udah dukung terus cerita ini sampai di
sini.
Semoga, ada banyak pelajaran hidup yang bisa
kita ambil.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi


