Monday, May 4, 2026

Perfect Hero Bab 533 : Kesayangan Mertua




“Yun, kamu lagi sibuk nggak?” tanya Bellina.

“Nggak terlalu. Kenapa?” tanya Yuna.

“Aku pengen ngajak kamu keluar, cari angin sambil cerita-cerita. Aku butuh temen curhat, Yun. Please ...!”

Yuna menggigit bibirnya. “Aku nggak bisa jalan keluar, Bel. Cerita di sini aja!” pintanya.

Bellina menghela napas. “Sekali aja, Yun. Nggak jauh, kok. Di sekitaran sini aja. Di deket rumah kamu ini ada danau kecil ‘kan? Ada hal yang mau aku bicarakan, berdua aja.”

Yuna menggelengkan kepala. “Bicarakan di sini aja, Bel!”

Bellina menatap kesal ke arah Yuna. “Kenapa? Kamu nggak berani ngadepin aku sendirian!?”

Yuna langsung menatap wajah Bellina. Ia mulai menyadari kalau kedatangan Bellina kali ini bukan bermaksud baik.

Bellina tersenyum sinis. Penolakan dari Yuna berhasil menyulut amarahnya kali ini. “Yun, kalau emang kamu punya nyali, nggak perlu bersembunyi di balik suami kamu dan orang-orangnya!”

“Bel, banyak hal yang sudah terjadi sama kamu. Tapi, kamu masih aja nggak mau berubah. Kenapa masih aja seperti ini?”

“Karena kamu yang bikin aku kayak gini, Yun!” seru Bellina sambil menatap kesal ke arah Yuna.

“Aku nggak ngelakuin apa-apa. Kamunya aja yang lebih suka menumpahkan kekesalanmu ke aku. Kenapa? Nggak punya tempat pelampiasan yang lain?”

Braak ...!

Bellina langsung memukul meja begitu mendengar kalimat pertanyaan yang keluar dari mulut Yuna. “Kamu nggak usah naif, Yun! Nggak usah pura-pura baik di depan semua orang. Aku tahu banget kelakuan busuk kamu ini. Kamu cuma pura-pura baik buat menarik simpati semua orang.”

Yuna menarik napas dalam-dalam. “Kumat lagi ini orang,” batinnya tanpa menatap wajah Bellina.

“Kamu kan yang ngadu ke Mama Mega soal hubungan mamaku dengan laki-laki lain? Kamu yang bocorin semuanya ‘kan?”

Yuna mengerutkan kening sambil menggelengkan kepala. “Aku nggak ada ketemu sama Tante Mega. Gimana aku bisa ngomong sama dia?”

“Nggak usah membela diri terus, Yun! Aku tahu banget kelakuan busuk kamu ini. Cuma kamu dan Yeriko yang ada di sana tadi pagi. Nggak mungkin ada orang lain bisa tahu masalah ini kalau bukan mulut lemes kamu ini!”

“Aku nggak ada ngomong ke siapa-siapa.”

PLAK ...!

Bellina langsung menampar wajah Yuna sekuatnya. “BOHONG!”

Yuna langsung memegangi pipinya yang terasa sangat perih. “Kamu ...!? Dateng ke sini cuma mau ngajak aku berantem!?”

Bibi War langsung keluar dari dalam rumah begitu mendengar Yuna dan Bellina saling berteriak. “Ada apa ini?”

Yuna langsung bangkit dari tempat duduknya. “Usir dia dari sini, Bi!” perintahnya sambil bergegas pergi.

Bellina tak gentar menghadapi Yuna. Amarahnya semakin tersulut dan berlari menghampiri Yuna untuk menyerangnya.

“Kamu mau apa?” tanya Bibi War sambil menahan tubuh Bellina.

“Bibi nggak usah ikut campur urusan kami!” sentak Bellina sambil mendorong tubuh Bibi War hingga tersungkur ke lantai.

PLAK ...!

Yuna dengan cepat berbalik dan langsung menampar Bellina. Tangan satunya, berusaha melindungi anak yang ada di dalam perutnya.

“Gila kamu, Bel!” seru Yuna.Ia menyandarkan punggungnya ke dinding dan mendorong tubuh Bellina hingga tersungkur ke lantai.

“Kamu yang gila, Yun!” seru Bellina. “Kalau bukan karena kamu, hidupku nggak akan menderita kayak gini!”

“Aku nggak ngelakuin apa-apa ke kamu. Semua yang terjadi sama kamu, itu balasan yang setimpal buat semua kejahatan kamu selama ini,” sahut Yuna tak mau kalah.

Bibi War berusaha melindungi Yuna kembali dari serangan Bellina yang sudah bangkit dari lantai.

“Kamu lupa sama semua yang udah kamu buat ke aku, hah!? Kamu udah bunuh anak aku! Kamu udah ngerebut perhatian suami aku! Sekarang, kamu mau bikin aku terusir dari keluarga Wijaya, hah!?”

“Apa yang terjadi sama kamu dan keluarga Wijaya. Itu bukan urusanku!” sahut Yuna.

“Halah ... nggak usah pura-pura nggak tahu. Kamu yang ngomong ke mamanya Lian soal kejadian hari ini ‘kan? Supaya aku diusir dari keluarga Wijaya. Kamu masih nggak puas lihat hidup aku menderita!?” seru Bellina sambil mendorong pundak Yuna.

Bibi War langsung menahan Bellina agar tidak mendekati majikannya itu.

“Bel, kalau kamu sekarang menderita. Itu karena ulah kamu sendiri. Nggak ada hubungannya sama aku!” sahut Yuna kesal.

“Kamu yang udah ngadu ke Mama Mega soal mamaku. Masih nggak mau ngaku!?” sentak Bellina. Ia menatap perut Yuna penuh kebencian.

“Pak Satpam ...!” seru Bibi War.

“Aku nggak ada ngomong apa pun ke Tante Mega. Kenapa kamu masih aja ngotot!?” balas Yuna.

“Halah, aku nggak percaya!” seru Bellina. Ia berusaha menyerang Yuna kembali. Namun, gerakan tubuhnya sudah ditahan oleh satpam yang sudah ada di belakangnya.

“Awas kamu, Yun! Kalau sampai aku dikeluarkan dari keluarga Wijaya. Kamu adalah orang paling pertama yang aku mintai pertanggungjawaban!” teriak Bellina sambil berusaha melepaskan diri dari tangan satpam yang menyeretnya.

Yuna menarik napas dalam-dalam sambil memegangi perutnya. Ia tidak ingin siapa pun melukai anaknya, terutama Bellina.

“Mbak Yuna, nggak papa?” tanya Bibi War. Ia merasa bersalah karena tidak mendampingi Yuna sejak awal.

“Nggak papa, Bi.”

“Duduk dulu!” pinta Bibi War sambil memapah Yuna kembali ke kursi. “Bibi ambilkan air hangat dulu.”

Yuna mengangguk dan langsung duduk di kursinya. Pandangannya beralih pada mobil Rullyta yang kembali masuk ke pelataran, diikuti Lamborghini biru di belakangnya.

“Mama? Kenapa balik lagi?” gumam Yuna sambil menutupi pipinya yang terasa sakit karena tamparan keras yang ia terima dari Bellina.

Rullyta dan Yeriko sama-sama keluar dari mobil dan melangkah menghampiri Yuna.

“Mama? Kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan?” tanya Yuna sambil menopang pipinya. Ia tersenyum semanis mungkin agar mama mertua dan suaminya tidak melihat luka di pipinya.

“Iya, mama mau ambil ...” Ucapan Rullyta terhenti saat melihat Bibi War keluar sambil membawa gelas dan baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil di tangannya.

“Ada apa ini?” tanya Rullyta.

Bibi War menoleh ke arah Yuna.

Yeriko langsung menghampiri Yuna begitu ia menyadari sebelah mata Yuna membengkak. “Kamu kenapa?” tanyanya sambil menangkap lengan Yuna.

“Nggak papa,” jawab Yuna sambil meringis.

“Buka tangannya!” perintah Yeriko sambil menarik lengan Yuna.

Yuna berusaha mempertahankan tangannya. Ia tidak ingin membuat suami dan mama mertuanya menjadi cemas karena hal ini.

“BUKA!” seru Yeriko kesal.

Yuna tersenyum kecut. Ia menurunkan tangannya perlahan. Pipinya yang merah dan membengkak tanpa ia sadari, membuat Yeriko panik.

“Kenapa bisa kayak gini?” tanya Yeriko. “Bi, cepet bawa sini airnya!”

Bibi War mengangguk. Ia segera memberikan baskom berisi air hangat itu ke tangan Yeriko, beserta handuk kecil yang dibawanya. “Ini ... diminum dulu, Mbak!” tutur Bibi War sambil menyodorkan air hangat ke arah Yuna.

Yuna menganggukkan kepala. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menstabilkan perasaannya sambil menyesap air hangat yang dibawakan Bibi War.

“Mana si Bellina? Ini pasti perbuatan dia ‘kan?” tanya Rullyta sambil menatap Yuna dan Bibi War.

Bibi War menganggukkan kepala. “Iya, Bu. Awalnya, mereka terlihat baik-baik aja. Mbak Belli tiba-tiba menyerang Mbak Yuna.”

Yuna tersenyum kecut. Ia terdiam sambil menatap wajah Yeriko yang sedang mengompres pipinya dengan air hangat.

“Yer, lihat kelakuan Bellina itu! Makin hari makin parah. Dia nggak bisa hidup tenang di luar sana? Kalau Yuna kenapa-kenapa, gimana? Mama nggak akan ngelepasin dia gitu aja!”

Yeriko menghela napas. “Aku akan pikirin cara membalas dia, Ma.”

“Masih mau mikir? Kamu bisa nggak bergerak cepat? Kebanyakan mikir aja!” sahut Rullyta kesal.

“Ma, aku masih banyak urusan di perusahaan. Aku pasti balas apa yang sudah dia lakuin ke istriku.”

“Perusahaan jadi alasan!” sahut Rullyta kesal. “Mama tahu, dari dulu kamu gila bisnis. Setiap hari sibuk ngurus perusahaan. Tapi, sekarang kamu udah punya keluarga. Mama udah bilang berapa kali, hah!? Istri kamu sering terluka karena kamu nggak becus ngurus keluarga.”

Yeriko memejamkan mata sambil menghela napas. “Ma, aku udah berusaha melindungi dia. Di sini ada banyak orang, istriku masih terluka. Mama jangan bikin aku makin sakit kepala! Keluarga dan perusahaan sama pentingnya. Aku nggak bisa ada di samping Yuna selama dua puluh empat jam. Ini di luar kendaliku.”

“Ya udah, kamu usaha buat ada di samping Yuna selama dua puluh empat jam!”

“Perusahaan gimana?” tanya Yeriko sambil menatap tajam ke arah Rullyta. “Mama mau aku ninggalin perusahaan? Biar nggak bisa kasih makan untuk anak dan istriku?”

Rullyta terdiam mendengar pertanyaan Yeriko.

“Aku kerja keras demi keluarga. Supaya mereka bisa bahagia, hidup layak dan dihargai semua orang. Mama bisanya cuma ngomel aja!” tutur Yeriko sambil memeras handuk hangat yang ada di hadapannya dan menempelkan kembali di pipi Yuna.

“Ay, nggak usah marah-marah!” pinta Yuna lembut.

“Aku nggak marah,” sahut Yeriko ketus.

Rullyta menghela napas. “Biar mama yang selesaikan ini semua!” tegasnya. Ia melangkah masuk ke dalam rumah untuk mengambil barangnya yang tertinggal dan bergegas keluar dari rumah Yeriko.

“Ay, jangan sering marah-marah sama Mama Rully!” pinta Yuna.

“Dia sering bikin aku kesel.”

“Dia ‘kan mama kamu juga. Aku sedih kalau lihat kalian berantem karena aku.”

Yeriko menghela napas. Ia tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Nggak usah sedih! Mamaku juga sayang sama kamu seperti anaknya sendiri. Dia bahkan lebih sayang sama kamu daripada aku. Harusnya kamu bahagia mendapatkan ini semua,” tuturnya sambil mengusap lembut pipi Yuna.

Yuna tersenyum sambil menatap wajah Yeriko. Ia merasa sangat beruntung memiliki keluarga baru yang sangat menyayanginya. Sejak menikah dengan Yeriko, ia mendapatkan begitu banyak perhatian dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Membuat dia berpikir kalau Bellina menginginkan kebahagiaan yang ia miliki saat ini. Sebab, keluarga Lian memperlakukan Bellina tidak begitu baik.

Yuna berharap kalau Bellina bisa berubah dan hidup dengan baik di luar sana. Banyak hal yang dimiliki Bellina, tidak dimiliki oleh orang lain. Menerima apa yang sudah dimiliki, tentunya akan lebih baik daripada harus mencari-cari kebahagiaan semu yang tidak bisa dimilikinya.

 

 

 

 

  

Perfect Hero Bab 532 : Kehabisan Uang

 


Bellina menatap wajahnya di cermin. Telapak tangan mama mertuanya membekas di pipinya. Ia sangat sedih karena selalu mendapatkan perlakuan kasar dari mama mertuanya. Sangat berbeda dengan perlakuannya saat ia belum menikah dengan Lian.

 

“Siapa yang udah bocorin berita ini ke Mama Mega kalau bukan Yuna sialan itu!?” seru Bellina sambil menatap wajahnya di depan cermin.

 

“Yun, aku bakal bikin perhitungan sama kamu. Aku nggak akan ngebiarin kamu tertawa bahagia di atas penderitaanku! Harusnya, kamu yang menerima perlakuan seperti ini, bukan aku!”

 

Bellina membersihkan wajahnya. Ia menutupi ruam di pipi menggunakan make up. Usai merias tubuhnya, ia bergegas keluar dari kamarnya.

 

“Mau ke mana?” tanya Lian yang baru saja akan masuk ke dalam kamar.

 

“Mau ke rumah sakit lagi. Kamu udah mau berangkat ke kantor?”

 

Lian menganggukkan kepala. “Mau aku antar?”

 

“Nggak usah, Li. Aku bisa bawa mobil sendiri.”

 

Lian menganggukkan kepala. “Hati-hati ya!”

 

Bellina mengangguk sambil tersenyum. Ia mengecup bibir Lian dan berlalu pergi meninggalkan Lian yang juga akan berangkat ke perusahaannya.

 

Bellina menjalankan mobilnya menuju jalan Keputih. Ia tidak langsung pergi ke rumah sakit, tapi pergi ke rumah Yuna terlebih dahulu.

 

“Yuna ada di rumah?” tanya Bellina pada salah seorang satpam yang menjaga di pintu gerbang rumah Yuna.

 

“Ada, Mbak,” jawab satpam tersebut sambil membukakan pintu gerbang untuk Bellina. Ia sudah mengenal Bellina sebagai adik majikannya, sehingga tidak lagi mempertanyakan maksud kedatangan Bellina.

 

Bellina kembali menjalankan mobilnya perlahan memasuki pelataran rumah Yuna. Matanya langsung tertuju pada Yuna dan Rullyta yang sedang bercengkerama penuh kehangatan.

 

Yuna dan Rullyta mengalihkan pandangannya pada mobil yang masuk ke pelataran rumah.

 

“Itu mobil Bellina ‘kan?” tanya Rullyta.

 

“Iya. Ada apa dia ke sini?” tanya Yuna balik. Ia dan Rullyta sama-sama memperhatikan mobil Bellina karena wanita itu tak kunjung keluar dari mobil.

 

“Mau cari masalah lagi?” Rullyta menebak-nebak.

 

Yuna tertawa kecil. “Apalagi, Ma? Dia kan kangen kalo udah lama nggak ngajak aku berantem.”

 

Rullyta terkekeh. “Kamu ini, ada-ada aja. Mama pasti selalu dukung kamu,” bisiknya tanpa mengalihkan pandangan dari mobil Bellina.

 

Beberapa detik kemudian, Bellina keluar dan langsung menghampiri Yuna dan Rullyta.

 

“Sore, Tante ...! Sore, Yun ...!” sapa Bellina dengan ramah.

 

Yuna hanya tersenyum kecut menanggapi sapaan ramah Bellina. Ia selalu khawatir setiap kali Bellina bersikap baik kepadanya. Sebab, Bellina selalu membahayakan dirinya setiap kali sepupunya itu pura-pura baik.

 

“Tumben main ke sini?” tanya Melan.

 

Bellina tersenyum sambil menatap Rullyta. “Aku kangen aja sama Yuna. Walau sering bertengkar, dia juga masih sepupuku, Tante.”

 

Yuna mengernyitkan dahi sambil menatap wajah Bellina. Mereka saling bertatapan selama beberapa menit tanpa berkata-kata.

 

Rullyta menatap Yuna dan Bellina bergantian. Semuanya terasa canggung karena dua orang yang ada di hadapannya tak kunjung membuka pembicaraan.

 

“Huft, kalian ngobrol aja! Mama mau masuk dulu!” pamit Rullyta sambil bangkit dari tempat duduk. Ia bergegas masuk ke dalam rumah.

 

Bellina langsung duduk di hadapan Yuna begitu Rullyta pergi dari hadapan mereka.

 

“Ada apa?” tanya Yuna sambil menatap wajah Bellina.

 

“Sekarang, kamu boleh ngetawain aku!” sahut Bellina ketus.

 

Yuna tersenyum kecil. “Bel, masalah yang kamu hadapi sekarang, nggak ada hubungannya sama aku.”

 

Bellina menatap wajah Yuna dengan mata berkaca-kaca. “Yun, aku nggak nyangka kalau mamaku seperti itu. Sekarang, dia lebih memilih bareng laki-laki mantan narapidana itu daripada sama papaku. Aku harus gimana?”

 

“Aku nggak tahu, Bel. Lebih baik, kamu kembali ke keluarga asli kamu aja. Toh, mama kamu juga sudah memilih laki-laki itu.”

 

“Aku nggak mau, Yun. Aku nggak mau! Aku nggak mau jadi anak laki-laki itu. Aku mau jadi anak Papa Rudi. Nggak mau yang lain!” rengek Bellina.

 

“Bel, manusia nggak bisa memilih dilahirkan dari rahim siapa dan keluarga yang bagaimana. Tapi, manusia bisa memilih jalan hidupnya masing-masing. Jangan menanam keburukan kalau kamu menginginkan buah kebaikan!” tutur Yuna lembut.

 

Bellina menatap wajah Yuna. Hatinya terasa sangat sakit mendapati kenyataan pahit tentang keluarganya sendiri saat ini. Ia hanya bisa menitikkan air mata, tak tahu apa yang seharusnya ia lakukan.

 

“Apa yang terjadi sama Tante Melan hari ini, itulah hasil perbuatan yang dia tanam dua puluh lima tahun yang lalu. Bahkan, kamu yang nggak tahu apa-apa pun menjadi korban. Sekarang, aku bahkan nggak tahu harus melihat kamu sebagai apa. Kalau hasil tes DNA menyatakan kamu adalah anak pria itu. Kita nggak punya hubungan keluarga, Bel.”

 

Bellina menatap pilu ke arah Yuna. Ia benci dengan kelakuan mamanya sendiri. Tapi, ia lebih membenci Yuna yang memojokkannya karena kesalahan mamanya di masa lalu.

 

“Bel, sekalipun kamu bukan lagi menjadi bagian dari keluarga Linandar ... aku akan tetap menganggap kamu sebagai saudara, asalkan kamu mau memilih jalan yang benar dan berhenti melakukan hal-hal buruk!” pinta Yuna lembut.

 

Bellina tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Kamu memang paling suci, Yun. Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup bahagia, sementara aku selalu menderita kayak gini,” batin Bellina penuh kebencian.

 

Yuna tersenyum kecut membalas senyuman Bellina yang tidak bisa ia artikan. Ia berharap kalau Bellina bisa menjadi wanita yang baik setelah kejadian ini. Meski begitu, Yuna tetap waspada dengan senyuman Bellina yang masih menyiratkan kebencian.

 

“Yun, makasih ya! Kamu udah mau dengerin aku dan ngasih saran yang baik buat aku,” tutur Bellina.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Aku tahu, kamu wanita yang baik. Hanya saja, kamu berada di tempat yang salah. Kalau kamu selalu berbuat baik, suami kamu pasti makin sayang.”

 

Bellina tersenyum kecil. “Aku harap begitu.”

 

Yuna tersenyum. Pandangannya beralih pada pelayan yang menyuguhkan teh hangat ke atas meja yang ada di hadapannya. “Makasih, Mbak!”

 

Pelayan itu mengangguk dan bergegas masuk kembali ke dalam rumah.

 

“Minum, Bel ...!” pinta Yuna sambil menyodorkan secangkir teh ke hadapan Bellina.

 

Bellina mengangguk sambil tersenyum. Ia meraih cangkir teh tersebut dan menyesapnya perlahan.

 

“Yuna Sayang ...! Kue buatan mama sudah jadi!” seru Rullyta sambil menghampiri Yuna dan Bellina. Di tangannya ada sebuah piring berisi kue hasil olahannya sendiri.

 

“Wah ...! Buatan Mama Rully, pasti enak banget!”

 

Rullyta tersenyum menanggapi ucapan Yuna. “Harus bilang enak! Kalau nggak, dapur kamu mama bakar!” tuturnya sambil tertawa.

 

“Iih ... mama mah main bakar-bakar aja. Ntar Yuna nggak bisa masak buat suami tercintaah ...!”

 

Rullyta tertawa sambil mencubit pipi Yuna. Pandangannya beralih pada Bellina. “Bel, cobain!” pintanya sambil menyodorkan piring tersebut ke hadapan Bellina.

 

Bellina mengangguk sambil tersenyum. Ia segera mencomot kue salju buatan Rullyta dan memasukkan ke mulutnya perlahan.

 

“Gimana? Enak?” tanya Rullyta sambil menatap Bellina.

 

Bellina menganggukkan kepala. “Enak, Tante.”

 

Rullyta tersenyum puas melihat hasil olahannya kali ini karena mendapat pujian dari dua orang yang ada di hadapannya. Sebab, ia tidak begitu mahir membuat kue. Mendapatkan pujian, tentu menjadi hal yang menyenangkan baginya.

 

“Ma, sekarang lagi nge-trend kue kering yang bentuknya ulat sutra. Mama mau cobain? Ntar Yuna bikinin.”

 

Rullyta langsung mengernyitkan dahi. Ia mengedikkan bahu sambil membayangkan ulat sutra yang bergerak-gerak di atas piring. “Argh, kamu ada-ada aja! Bayanginnya aja mama udah geli. Kenapa nggak bikin kue kering bentuk belatung sekalian!?”

 

“Hahaha. Nanti aku bikinin!” sahut Yuna sambil tertawa.

 

“Iih ... mama buang sebelum masuk ke dalam rumah mama,” sahut Rullyta.

 

“Idih, mama nggak menghargai kerja keras anaknya. Bikinnya itu susah, Ma. Harus detil dan teliti banget. Mama harus menghargai karya tangan anak kesayangan mama ini, dong!” pinta Yuna manja.

 

“Minta dihargai berapa, hah!?” sahut Melan sambil menatap wajah Yuna dengan gaya mengejek.

 

Yuna memutar bola matanya. “Berapa ya?”

 

“Seribu?”

 

“Boleh. Kurs dollar ya?” sahut Yuna sambil menahan tawa.

 

“Kamu mulai mata duitan, hah!?” tanya Rullyta sambil mencolek pinggang Yuna.

 

Yuna tertawa sambil menahan geli di pinggangnya.

 

Bellina memperhatikan keakraban antara Yuna dan mama mertuanya. Semenjak menikah, Yuna mendapatkan begitu banyak kebahagiaan dan kasih sayang dari orang-orang yang ada di sekitarnya.

 

Bellina mulai membandingkan sosok Mega dan Rullyta sebagai seorang mama mertua, ia juga kerap membandingkan Lian dan Yeriko sebagai sosok suami dalam kehidupan.

 

“Eh, udah makin sore. Mama pulang dulu ya!” pamit Rullyta sambil melihat arloji di tangannya.

 

“Buru-buru banget?” tanya Yuna sambil menatap wajah Rullyta.

 

“Iya. Udah waktunya ngasih makan ayam,” jawab Rullyta sekenanya.

 

“Ayam apaan?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

 

“Ayam yang bisa menghasilkan telur emas,” jawab Rullyta sambil memainkan alisnya. Ia melongo ke bagian dalam rumah Yeriko.

 

“Ngga, Angga ...!” panggil Rullyta. “Ayo, kita pulang!”

 

“Iya, Nyonya ...!” sahut Angga dari dalam rumahnya.

 

“Sari, tolong bawakan tas saya sekalian ya!”

 

“Baik, Nyonya.”

 

Melan tersenyum. Ia berpamitan dengan Yuna sambil bersalaman pipi.

 

“Hati-hati ya, Ma!” seru Yuna sambil menatap tubuh Rullyta yang didampingi oleh supir dan beberapa pelayan yang bekerja di rumah keluarga besar Hadikusuma.

 

Rullyta mengangguk sambil tersenyum.  Ia bergegas pergi meninggalkan Yuna yang masih berbincang hangat dengan Bellina. Ia harap, kehadiran Bellina tidak akan membahayakan Yuna dan janinnya. Ia sudah menyuruh orang-orang di rumah itu untuk selalu waspada dengan kehadiran Bellina.

 

 ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sosialisai Perizinan dan Pendataan UMKM Deliniasi IKN Sektor Hotel, Restoran dan Pariwisata

 


Samboja, 04 Mei 2025


Hai, guys ...!

Seperti biasa, aku bakal share tentang kegiatan dan pengalaman aku sehari-hari. Supaya bisa jadi catatan sejarah untuk diriku sendiri, juga menjadi sumber informasi untuk kalian yang membutuhkan. Kalau nggak butuh, langsung skip aja, deh! Karena aku malas berdebat dengan orang yang nggak sejalan.


Jadi, hari ini aku diundang untuk mengikuti sosialisasi Perizinan dan Pendataan Usaha di Deliniasi IKN untuk sektor hotel, restoran dan pariwisata. Sebenarnya, aku masih belum ngeh banget kenapa aku diundang ke acara ini. Karena usaha kafeku "Teman Diskusi Coffee" adalah usaha yang baru mulai dan sering banget libur jualan, hehehe. 

Maklum, jualan di pelosok nggak seramai jualan di wilayah perkotaan. Kadang rame, tapi lebih sering sepi.

Karena udah masuk pendataan dan mendapatkan undangan dari Otorita IKN, kita ikuti saja apa yang sudah difasilitasi oleh pemerintah. Aku pikir, pasti ada ilmu yang bisa aku ambil meski aku sendiri tidak tahu bisa menerapkannya atau tidak. Sebab, usahaku bukanlah usaha besar yang pantas bersanding dengan usaha-usaha lain. Asli, aku nggak pede banget kalau disuruh ngumpul sama orang-orang hebat. Tapi ... semoga nanti Allah juga bisa menghebatkan aku seperti mereka.


Acara ini dibuka langsung oleh Bapak Muhsin Palinrungi selaku Direktur Parekraf Otorita IKN. 

Acara selanjutnya diisi oleh Bapak Mirwansyah Prawiranegara (Direktur Bidang Perencanaan Mikro) yang membawakan materi tentang Perizinan dan tata ruang di wilayah OIKN.





Narasumber selanjutnya ialah Bapak Agung Syahputra selaku Direktur Pengendalian Penyelenggaraan Pemerintahan dan Perizinan Pembangunan.








Setelah menyimak zoom ini sampai selesai, akhirnya aku bisa mengetahui  kalau semua izin usaha harus melalui otorita IKN. Sebab, kami semua sudah masuk ke wilayah Ibukota Nusantara. 

Aku sendiri, tidak ada yang perlu diubah karena aku sudah memiliki izin usaha dan terdaftar di OSS (https://oss.go.id).

Yang membuat banyak warga Samboja resah adalah kawasan hutan lindung yang tidak diperbolehkan melakukan usaha apa pun. Sebab, sebagian besar Samboja dan Samboja Barat berada di kawasan hutan lindung Tahura (Taman Hutan Raya) Bukit Soeharto. 

Untuk mengecek apakah lokasi usaha kita berada di dalam kawasan hutan lindung atau tidak, bisa diakses melalui website https://gistaru.atrbpn.go.id/ 

Pastikan lokasi usaha kita aman  dan tidak berada di dalam kawasan hutan lindung supaya tidak kena gusur oleh pihak pemerinta Otorita IKN.

Semoga, usaha kita tetap lancar dan semakin sukses, yak!



Sampai di sini dulu tulisanku kali ini. Nanti, aku share lagi pengalaman dan kegiatanku untuk jadi bahan informasi dan inspirasi buat kalian semua.



Much Love,


@rin.muna

Tuesday, April 28, 2026

Cerpen "Rumah Ini"




Tidak ada yang benar-benar peduli pada rumah ini selain kamu yang bekerja keras untuk membuatnya 'ADA'.
Hari ini aku merasa sangat lelah. Lelah yang tertumpuk selama berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Menjadi seorang ibu rumah tangga sekaligus pencari nafkah, bukanlah hal yang mudah. Saat lelah dan perlu sandaran, kita masih harus memaksakan diri menjadi tempat bersandar.
Di satu sisi, aku harus memastikan rumah terjaga dan terawat dengan baik. Di sisi lain, aku juga harus memastikan kalau nafkah keluarga tetap bisa kupenuhi. Anak-anak tidak kelaparan, bisa bersekolah setiap hari, mengenakan pakaian yang layak dan bisa beli jajan seperti anak-anak yang lain.
Betapa sulitnya harus menjaga dua peran sekaligus. Peran sebagai penjaga rumah, juga peran sebagai penjaga nafkah. Aku harus memaksakan diri agar bisa memiliki semua yang aku butuhkan untuk keluargaku. Mengorbankan semua waktu istirahat dan waktu untuk menyenangkan diri sendiri.
Sampai-sampai jatah tidurku hanya 2 jam setiap harinya. Tidak bisa lebih dari itu. Setiap kali mata ini ingin terpejam, ada rasa takut yang luar biasa. Ketakutan jika esok anak-anak kelaparan. Ketakutan tidak bisq membayar biaya sekolah. Ketakutan jika anak-anak tidak bisa mengenakan pakaian yang layak.
Di zaman yang serba mahal, kita tidak bisa duduk bersantai lebih dari lima belas menit. Sebab, pada menit ke enam belas, akan muncul rasa takut menghadapi kenyataan hidup yang tidak mudah. Kita dipaksa untuk kuat dan bisa dalam keterbatasan.
Hal yang lebih melelahkan lagi, ketika kita punya tempat bersandar, tapi tidak mampu untuk bersandar di tempat itu.
Hari ini ... rasa lelah yang sudah tertumpuk itu sangat ingin aku lepaskan. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku harus mengorbankan yang saat ini aku miliki untuk melepaskan semuanya.
Di sudut ruangan, sambil memegang sapu yang sudah usang, aku bercerita. Bercerita pada diri sendiri, bercerita pada sapu yang setiap hari menemani, bercerita pada dinding rumah yang selalu bisu.
Sebelum adzan Subuh, mata ini sudah terbuka. Tangan dan kaki sudah bergerak membersihkan rumah, memasak, mencuci piring, dan mencuci pakaian. Sampai terdengar kumandang adzan dzuhur, pekerjaanku di rumah belum usai. Padahal, aku tidak berhenti bergerak sedikitpun.
"Bagaimana aku bisa menghasilkan uang untuk jajan anak-anak besok? Kalau jam segini saja aku masih sibuk merawat rumah?" tanyaku pada sapu yang membisu.
Aku kembali bergerak. Memastikan anak-anakku bisa makan siang dengan baik. Juga melanjutkan sekolah agama agar mereka bisa menjadi anak yang berbakti dan bermoral.
Tubuhku rasanya sudah lelah, tapi aku tak punya waktu istirahat lama. Sampai Sore hari, aku masih sibuk di dapur. Memastikan makan malam untuk keluarga tersedia. Merapikan teras belakang rumah. Memilah pakaian yang sudah kering untuk aku lipat dan setrika. Begitulah setiap hari kesibukanku sebagai ibu rumah tangga. Tidak ada waktu untuk bekerja atau menghasilkan uang. Lalu, bagaimana dengan biaya hidup sehari-hari? Keluarga mau makan apa?
Aku mulai berpikir untuk bekerja. Menghasilkan uang untuk jajan anak-anak. Sebab, itu biaya yang tidak bisa aku tunda.
Pagi-pagi sekali aku sudah siap pergi bekerja dan pulang di sore hari. Tidak ada waktu untuk merawat rumah. Satu hari, dua hari, tiga hari, dan seterusnya ... aku sibuk mencari nafkah. Tidak ada waktu untuk memasak, mencuci pakaian atau mencuci piring. Sebab, tubuh yang tak lagi muda ini merasa sangat lelah saat pulang kerja.
Rumah kotor dan berantakan. Aku hampir gila dibuatnya. Sampai rumah, aku ingin istirahat dengan tenang tanpa gangguan. Tapi kenyataannya ... aku justru harus bekerja ekstra di ujung lelahku. Memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan rumah hingga mengorbankan waktuku untuk sekadar beristirahat. Tidak ada yang bisa kuandalkan selain diriku sendiri.
Aku punya pasangan, tapi tidak bisa kuandalkan. Dia sudah lelah bekerja seharian di luar sana. Tidak mau membantu pekerjaan rumah. Dia bilang, "Malam itu waktunya istirahat". Lalu, bagaimana denganku yang tidak punya waktu istirahat sama sekali. Sementara, penghasilannya pas-pasan dan tidak menentu. Hanya cukup untuk membayar tagihan bulanan dan utang yang tidak sedikit. Aku masih harus bekerja keras untuk memastikan kebutuhan sehari-hari bisa tercukupi. Sebab, penghasilan suami belum mampu mencukupi segalanya.
Pada akhirnya, wanita memang harus lebih banyak berkorban. Tidak tega melihat suami kelelahan. Bibir ini tak sampai berucap 'minta tolong' dan memilih untuk menyelesaikan semuanya sendiri.
Di ujung beban yang terus bertambah setiap harinya, membuatku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri. Rumah ini ... rumah kita bersama atau hanya rumahku seorang? Kenapa hanya aku yang peduli untuk menjaga dan merawatnya? Sementara yang lain hanya sekedar tinggal. Seolah tak punya rasa memiliki, tak ada keinginan untuk menjaga dan merawatnya bersama.
Terkadang, aku juga ingin berpikir seperti itu. Tapi tidak pernah aku lupa bagaimana pengorbanan dan rasa sakit yang sudah aku terima karena ingin punya 'rumah yang layak'. Rumah yang atapnya tidak bocor saat hujan deras. Rumah yang tidak sering dimasuki ular karena dinding dan lantainya bolong-bolong.
Perjuangan yang tidak mudah untuk membuat rumah ini 'ADA'. Lalu, apa aku harus menyia-nyiakannya begitu saja? Rasanya, aku menjadi manusia tidak bersyukur atas apa yang telah Allah berikan.
Haruskah aku tega membiarkan rumah ini usang dan hancur secara perlahan hanya karena aku tidak ingin lebih lelah dari yang lain?
Terkadang, kita ingin menjaganya bersama-sama. Tapi, tak semua memiliki kepedulian tanpa diminta. Tak semua memiliki rasa tanggung jawab pada hal yang telah ada. Sama seperti isi bumi ini. Hanya ada satu dari satu juta orang yang peduli pada keberlangsungan bumi. Sembilan ratus ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang memilih untuk sekedar tinggal dan menunggu kematian. Tidak peduli bahwa bumi masih bisa jadi tempat tinggal untuk anak-cucunya. Bagi mereka, mereka sudah puas menyelamatkan diri mereka sendiri. Seperti apa nasib generasi mereka, mereka tidak akan peduli.
Mungkin ... rumah ini juga sama. Tidak akan ada cerita di masa depan. Sebab, ia sudah usang dan hancur lebih dahulu dari waktu yang pernah aku impikan.

Perfect Hero Bab 531 : Mertua Kejam



“Ma, masuk dulu!” pinta Lian sambil mengajak mamanya masuk ke dalam rumah.

 

“Nggak perlu!” sahut Mega ketus. Matanya tertuju pada Bellina yang bergeming di tempatnya.

 

Bellina menelan ludah begitu mendapati tatapan mata Mega yang menghunus ke arahnya.

 

“Kenapa? Kamu nggak mau mengakui kesalahan mama kamu itu?” tanya Mega tanpa basa-basi.

 

“Ma, ini nggak ada hubungannya sama Bellina,” jawab Lian.

 

“Apa!? Kamu bilang nggak ada!? Lihat! Dia anaknya perempuan itu. Bahkan, sekarang dia sendiri nggak tahu siapa bapak kandungnya!”

 

Lian menatap Bellina sejenak. Lalu, menoleh kembali ke arah Mega. Ia tidak menyangka kalau berita tentang keluarga Bellina begitu cepat sampai ke telinga mamanya.

 

“Ma, Mama jangan mudah percaya sama rumor yang beredar di luar sana. Ini cuma salah paham,” tutur Lian.

 

Mega tersenyum sinis. “Salah paham? Mama sudah cek ke rumah sakit. Tarudi beneran dirawat di sana. Parahnya lagi, mama lihat dengan mata kepala mama sendiri kalau si Melan itu makan bareng laki-laki lain di restoran. Kamu pikir, mama kamu ini buta, hah!?”

 

Lian terdiam. Ia hanya melirik Bellina yang juga tidak bisa mengelak ucapan Mega.

 

“Kenapa kalian diam? Kalian nggak mau ngomong yang sebenarnya? Mau menutupi semuanya dari mama? Supaya apa? Supaya mama nggak tahu kalau menantu dan besan mama itu nggak becus!?”

 

“Ma, jangan marah-marah dulu! Semua bisa dibicarakan baik-baik!”

 

“Mama nggak akan membiarkan dia dan keluarganya merusak kehormatan keluarga kita. Lian, kamu harus ingat posisimu saat ini! Kalau semua orang tahu, kita punya besan menjijikkan kayak gini. Apa kata dunia!?”

 

“Ma, apa yang terjadi pada Tante Melan, nggak ada hubungannya sama Bellina. Dia hanya harus menanggung perbuatan orang tua di masa lalunya.”

 

Mega tersenyum sinis. “Kamu bilang nggak ada hubungannya? Bellina ini siapa? Anaknya ‘kan? Anak yang bakal ngikutin jejak orang tuanya. Mama mau, kamu ceraikan Bellina sekarang juga!”

 

“Ma, aku nggak bisa ceraikan Bellina gitu aja. Dia istri yang harus aku sayangi dan lindungi. Apalagi, ini semua bukan kesalahan dia.”

 

“Oh, oke.” Mega mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kamu mau nunggu istri kamu ini ketahuan selingkuh dulu, baru kamu mau ceraikan!?”

 

Lian menarik napas dalam-dalam. Ia melirik Bellina yang berdiri di hadapannya.

 

“Kenapa diam? Apa yang bakal kamu lakuin kalau Bellina juga selingkuh di belakang kamu?” tanya Mega. “Kamu masih mau belain istri kamu yang liar ini? Setiap hari, suaminya kerja keras nyari uang. Dia kelayapan ke mana-mana pakai baju seksi. Apa yang dia cari kalau bukan laki-laki lain? Udah jadi istri orang, masih aja gatal!” sahut Mega sambil menatap wajah Bellina.

 

Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak kayak gitu, Ma. Aku cuma ...”

 

“Cuma apa? Cuma nggak bisa nahan gatal kalau berdiam diri di rumah?”

 

“Ma, Bellina pergi ke mana pun, aku selalu tahu. Nggak ada yang dia tutupi dari aku.”

 

Mega tersenyum sinis. “Kamu bisa jamin kalau istri kamu ini jujur, hah!?”

 

Lian terdiam, ia menghela napas sejenak. Tidak tahu bagaimana harus menghadapi mamanya sendiri. Saat masih bersama Yuna, mamanya juga menentang hubungannya dengan wanita itu.

 

“Kalau tahu kelakuan aslinya kayak gini, mama nggak akan mengizinkan kamu menikahi Bellina. Dia yang setiap hari menghasut mama dan mengatakan kalau Yuna itu bukan wanita baik-baik. Kenyataannya, dia wanita yang baik dan pintar mengurus keluarga. Nggak liar kayak Bellina. Kalau tahu kayak gini, lebih baik kamu nikah sama perempuan itu aja!”

 

“Ma, nggak perlu bahas masa lalu! Aku sudah menikahi Bellina, baik dan buruknya akan aku terima.”

 

“Termasuk, kalau dia main gila sama laki-laki lain di belakang kamu? Kamu mau terima?”

 

Lian melirik sejenak ke arah Bellina. Lalu, ia menggelengkan kepalanya.

 

Mega tersenyum sinis sambil menatap Bellina. “Kamu tahu, keluarga Wijaya adalah keluarga baik-baik dan terhormat. Saya nggak mau keluarga kami jadi kotor karena kelakuan kotor kamu dan keluarga kamu itu. Sebagai seorang ibu, saya nggak akan membiarkan siapa pun mempermainkan anak saya!”

 

Bellina menatap Mega dengan mata berkaca-kaca. Ia berpikir kalau Mega diam-diam sudah mengetahui kalau ia sering pergi ke klub dan pernah tidur dengan pria lain.

 

“Mama tetap ingin, kamu menceraikan perempuan ini!” tegas Mega sambil menunjuk Bellina dengan dagunya.

 

Bellina menggelengkan kepala. Ia langsung menghampiri Mega dan berlutut di bawahnya. “Ma, jangan pisahin aku sama Lian!” pintanya sambil menangis pilu.

 

PLAK ...!

 

Mega langsung menampar pipi Bellina yang ada di hadapannya. “Sampai kapan pun, saya nggak akan membiarkan kamu mencoreng nama baik keluarga kami!”

 

Bellina memegangi pipinya yang terasa perih. “Ma, aku nggak ngelakuin apa pun. Aku mohon, jangan pisahkan kami!”

 

“Kamu lupa sama kesalahan-kesalahan yang udah kamu buat kemarin-kemarin?” tanya Mega. “Aku sudah muak sama mulut manis kamu yang penuh kebohongan ini!”

 

“Ma, aku nggak bohong! Aku bener-bener sayang sama Lian. Tolong, Ma! Jangan paksa kami untuk bercerai!”

 

Mega tak menyahut, ia tetap mengangkat dagunya, menunjukkan keangkuhannya sebagai keluarga terhormat.

 

“Hiks ... hiks ....hiks ...! Aku nggak mau pisah sama Lian, Ma. Aku beneran sayang sama dia. Kami saling mencintai. Jangan pisahkan kami! Aku minta maaf soal kelakuan mamaku. Semua ini di luar kuasaku. Aku juga nggak mau hal ini terjadi di keluargaku.”

 

Mega tersenyum sinis. “Buat apa kamu minta maaf atas nama mama kamu? Kamu sendiri, bisa setia sama Lian?”

 

Bellina menganggukkan kepala. “Aku akan setia sama Lian. Nggak akan nyakiti dia, Ma.”

 

“Kalau memang kamu setia sama Lian, kenapa kamu nggak mau ngasih kami keturunan? Apa artinya menantu buat kami kalau nggak bisa memberikan keturunan untuk keluarga Wijaya?”

 

Bibir Bellina gemetaran saat mendengar pertanyaan mama mertuanya. Ia tidak tahu harus bagaimana menyikapi pertanyaan kali ini. Kalau ia mengatakan dirinya tidak bisa hamil, keluarga Wijaya benar-benar akan menendangnya keluar begitu saja.

 

“Kenapa diam!?” sentak Mega.

 

“Ma, kami sudah berusaha. Soal kehamilan, itu bermacam-macam. Bisa lebih cepat atau lambat. Bellina baru saja keguguran beberapa bulan lalu. Kondisi rahimnya masih dalam pemulihan.”

 

Mega tersenyum sinis. “Alasan aja! Mama tetap nggak mau percaya sama perempuan ini. Udah banyak kebohongan yang dia buat selama ini. Kamu tinggal menunggu perempuan ini selingkuh di belakang kamu, baru kamu akan merasakan rasanya menyesal!”

 

Bellina masih tertunduk sambil menangis. Membuat Lian tidak tega melihatnya dan merengkuh tubuh Bellina agar bangkit dari lantai.

 

“Ma, ini urusan rumah tanggaku. Bagaimana ke depannya, akulah yang memutuskan, bukan mama!” tegas Lian.

 

Mega melebarkan kelopak matanya begitu mendengar pembelaan dari Lian. “Kamu lebih memilih perempuan ini dibanding mama kamu sendiri, hah!?”

 

“Ma, aku nggak milih siapa pun. Mama tanggung jawabku, begitu juga dengan Bellina. Apa mama nggak bisa biarkan kami tenang terlebih dahulu. Kami akan berusaha menyelesaikannya.”

 

“Kamu ...!?” Mega mendelik ke arah Lian. Ia semakin membenci Bellina yang telah berhasil mengendalikan putera kesayangannya.

 

“Ma, kejadian ini terlalu tiba-tiba untuk Bellina. Mama kasih kesempatan untuk kami berpikir lebih dulu. Jangan membuat suasana semakin keruh dengan opini-opini baru yang mama ciptakan!”

 

Mega langsung menatap tajam ke arah Lian. Ia langsung bergegas pergi meninggalkan rumah anaknya tersebut.

 

Lian memeluk tubuh Bellina dan membawanya masuk ke rumah. Ia mencoba menenangkan Bellina agar ke depannya bisa bersikap lebih baik lagi.

 

 ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas