Joni dan Evan terkenal sebagai musuh bebuyutan sejak kelas tiga SMP. Sialnya, Evan harus satu sekolah lagi dengan Joni saat masuk ke sekolah menengah atas di wilayah Jakarta Pusat.
Demi apa pun, Joni tidak pernah rela kalau Evan lebih unggul darinya dalam hal apa pun. Tak heran kalau mereka sering berkelahi walau masalahnya sepele.
“Rev, lo mau nggak jadi pacar gue?” Joni menyatakan perasaannya pada Reva di lapangan basket saat jam istirahat.
“Sorry, Jo. Gue nggak bisa. Gue udah suka sama cowok lain.” Reva menatap cowok berpostur tinggi dengan seragam basket yang berdiri jauh di belakang Joni. Reva menyingkirkan bucket bunga yang disodorkan Joni, lalu pergi meninggalkannya. Ia menghampiri Evan dan menggandengnya pergi.
Joni menatap Reva dan Evan dengan tangan mengepal, giginya mengerat hingga terlihat tulang rahangnya. Ia sangat membenci hari itu. Hari di mana ia ditolak oleh Reva karena cewek itu lebih memilih Evan, saingannya.
Seminggu kemudian, gosip Reva dan Evan jadian sudah menyebar ke seluruh sekolah. Tak terkecuali ke telinga Joni yang semakin murka dibuatnya.
Reva dan Evan juga tak malu memamerkan kemesraan mereka di depan umum.
“Eh, kalo mau mesum jangan di sekolah!” Joni menggebrak meja saat melihat Reva dan Evan sedang bercumbu mesra di dalam kelas di jam istirahat.
Yang ditegur, tidak peduli sama sekali. Justru semakin menjadi dan membuat Joni semakin geram.
Enam bulan kemudian, sekolah dibuat heboh dengan berita kematian Reva. Reva bunuh diri di dalam kamarnya dalam keadaan hamil 3 bulan.
Ini menjadi pukulan keras bagi Evan. Ia tidak menyangka kalau Reva hamil dan justru melakukan hal bodoh. Dia bukan laki-laki yang tidak bertanggung jawab.
“Bodoh! Kenapa lo milih bunuh diri? Gue pasti tanggung jawab asal lo jujur sama gue kalo lo hamil anak gue! Aargh...!” teriak Evan di dalam kamarnya. Ia mengepal tinju dan cermin hingga pecah berkeping-keping, darah segar mengucur dari tangannya.
Evan bukan cowok yang tidak bertanggung jawab. Ia sangat menyayangi Reva dan seharusnya Reva tidak melakukan hal bodoh. Dia bahkan harus bolak-balik ke kepolisian untuk memberikan keterangan perihal kematian Reva.
Namun, ia tetap berusaha menutupi kasus ini dari kedua orang tuanya. Ia harus memastikan kalau kedua orang tuanya tidak mengakses berita di media mana pun sampai kasus ini benar-benar selesai. Dia bahkan rela membayar mahal pihak kepolisian untuk menutupi identitasnya dari media.
“Masih berani lo masuk sekolah ini?” Joni langsung menghadang Evan yang baru saja masuk ke halaman sekolah.
Evan tersenyum sinis. “Gue mesti takut sama siapa? Sama lo?”
“Dasar bajingan! Lo sama sekali nggak ngerasa bersalah sama perbuatan lo, hah!?” Joni menarik kerah baju Evan. “Reva mati gara-gara lo!” Joni menatap tajam ke arah Evan yang masih bergeming. “Kalo aja dia nggak pacaran sama cowok P.K kayak lo. Sekarang dia masih di sini!” Ia melepas kerah baju Evan dan mendorongnya kasar.
Evan bergeming. Ia tidak bisa membela dirinya sendiri. Bahkan semua murid dan guru di sekolah sudah tahu seperti apa dirinya sekarang.
Kematian Reva, membuka semua fakta yang orang lain tidak tahu tentang hubungannya dengan Reva yang tidak sehat. Dia tidak akan pernah bisa membersihkan namanya dengan cara apa pun. Kecuali, dia pergi mencari kehidupan yang baru. Ia memutuskan pindah sekolah dan meninggalkan kenangan pahit di sekolah lamanya.
***
Sudah seminggu Alluna terlihat tak bersemangat, padahal sebentar lagi dia akan menghadapi ujian. Ia terlalu serius memikirkan ucapan Joni di pesta pernikahan keluarga Evan. Nama Reva mengganggu pikirannya.
Ia sengaja tidak membalas chat dan telepon dari Evan, bahkan ponselnya sengaja ia nonaktifkan. Evan juga tidak datang ke rumah untuk menemuinya. Ia semakin yakin, kalau Evan sengaja menyembunyikan sesuatu darinya.
“Dulu, lo bilang kalo kita harus terbuka, harus jujur satu sama lain apa pun masalahnya. Kenapa sekarang lo yang nggak mau jujur tentang masa lalu lo?” Air mata Alluna menetes perlahan. Ia merasa benar-benar tidak berguna saat Evan tidak memberinya kepercayaan.
“Alluna ...!” terdengar suara yang sudah tidak asing lagi memanggil namanya. Alluna menghapus air mata dan berjalan membukakan pintu kamar.
“Lo baik-baik aja 'kan?” tanya Rani begitu melihat Alluna yang begitu menyedihkan.
Alluna mengangguk.
“Kenapa sih Lun? Lo berantem lagi sama Evan?” tanya Hastri.
Alluna duduk di sisi ranjangnya. “Nggak tau kenapa, saat gue mau ujian sekolah. Ujian hubungan gue sama Evan juga dateng.”
Rani menghampiri Alluna dan memeluknya. “Sabar ya! Lo cerita deh sama kita, sebenarnya ada apa? Biar kita bisa bantu.”
Alluna menatap Austin yang masih berdiri di depannya. “Lo kenal sama yang namanya Reva?”
“Reva? Anak sekolah kita?” tanya Austin.
Alluna menggelengkan kepalanya. “Sekolah Evan yang lama.”
Austin menggelengkan kepala. “Gue nggak tau. Gue nggak pernah tau apa pun soal Evan di sekolah lamanya. Yang gue tau, dia tiba-tiba pindah sekolah ke sini.”
“Beneran lo nggak tau?” Alluna menatap tajam ke arah Austin.
“Beneran. Lo ngeliatin gue jangan kayak liat maling gitu, deh. Serem gue liatnya,” jawab Austin.
“Sebenernya ada apa, sih? Evan selingkuh?” Rani langsung menerka begitu mendengar nama cewek lain ada di hubungan mereka.
Alluna mendesah kecewa. “Gue nggak tahu pasti soal itu. Yang jelas, gue ngerasa ada sesuatu yang disembunyiin dari Evan. Pertama, gue tiba-tiba nemuin lipstik di dalam mobilnya. Dia bilang, itu cuma lipstik salah satu temannya yang kebetulan jatuh.”
Rani dan kedua teman Alluna langsung membuka mulutnya lebar-lebar karena terkejut.
“Logikanya, nggak mungkin ada lipstik di dalam mobil kalau dia nggak bawa cewek masuk ke dalam mobilnya.” Alluna melanjutkan.
“Kedua, waktu gue kondangan ke keluarga besar lo.” Alluna mendelik ke arah Austin. “Gue bukan cuma ketemu sama keluarga lo. Gue ketemu sama tiga orang cowok yang kelihatannya punya hubungan kurang baik sama Evan. Gue denger mereka menyebut soal skandal Evan sama cewek yang namanya Reva. Dan saat gue tanya ke dia, Evan sama sekali nggak mau cerita sampai sekarang.”
“Oh, My God!” Mulut ketiga sahabatnya semakin menganga lebar. “Kenapa lo baru cerita sekarang sama kita?”
“Karena kalian nggak nanya.”
Hastri menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. “Iya, sih. Sebentar lagi ujian. Kita banyak tugas dan banyak les sampai jarang ngumpul. Dan kita nggak tau sama sekali kalo lo lagi ada masalah sama Evan.”
Alluna tersenyum. “Nggak papa kali. Biasa aja. Toh, yang namanya hubungan selalu ada ujiannya 'kan? Lo aja gonta-ganti cowok mulu, nggak masalah 'kan?”
“Yee, gue mah kasusnya beda. Gue gonta-ganti cowok karena gue sendiri. Lah? Lo kan jadian sama Evan karena kita yang nyomblangin. Kalo dia nyakitin lo, kita nggak akan diam gitu aja.”
Alluna menghela napasnya. “Entahlah, mungkin Evan emang nggak beneran sayang sama gue. Kalo dia sayang, dia bakal jujur cerita ke gue,” ucapnya Lesu.
“Evan juga nggak ada ngomong apa pun. Biasanya, dia selalu cerita banyak soal lo.” Austin menimpali.
“Sebenarnya ada apa sama masa lalu dia?” tanya Alluna mulai menitikan air mata.
“Lun, kita semua tahu Evan itu seperti apa. Kalo dia belum mau cerita, kemungkinan masa lalunya adalah sesuatu yang berat banget. Dan lo seharusnya bisa bikin dia lebih kuat dan nyaman sama lo sekarang,” tutur Rani.
Alluna mengusap air matanya dan menatap Rani. “Gue nggak kepikiran sampe ke situ.”
Mereka saling bertatapan.
“Kita ke apartemen Evan sekarang!”
***
Austin memarkirkan mobilnya tepat di sisi mobil Evan.
Alluna memperhatikan mobil Evan dengan seksama. Ia tak memperdulikan tiga sahabatnya yang sudah melangkahkan kaki meninggalkan parkiran.
“Kenapa, Lun?” tanya Rani kembali menghampiri Alluna yang masih terpaku menatap mobilnya.
“Mobil dia nggak pernah berdebu kayak gini.” Alluna mencolek debu yang lumayan tebal menempel di mobil Evan.
Mereka langsung saling pandang. “Artinya, Evan nggak keluar sama sekali selama seminggu ini. Ayo cepat!” Rani langsung berjalan dengan cepat memasuki apartemen. Mereka mulai panik dengan sikap diam Evan. Mereka jelas takut terjadi apa-apa dengan Evan yang hanya tinggal di apartemen seorang diri.
“Lun, lo tau pasword-nya kan?” tanya Rani saat sudah sampai di depan pintu apartemen Evan.
Austin, Rani dan Hastri menunggu dengan perasaan cemas di belakang Alluna.
Alluna menghela napas dan mulai menekan tombol. Ia membuka pintu perlahan, menoleh ke arah tiga sahabatnya.
“Kita tunggu di sini. Kalo ada apa-apa, lo bisa teriak.” Rani memberikan isyarat menggunakan dagunya agar Alluna segera masuk.
Alluna melangkahkan kaki perlahan. Ia terkejut melihat keadaan apartemen Evan yang berantakan, seperti telah terjadi perampokan atau perkelahian. Piano yang biasa ia mainkan sudah terbalik, sofa tak lagi dalam posisi yang bisa diduduki dengan nyaman. Tepat di bawah kakinya, gitar yang biasa mereka mainkan patah menjadi dua bagian. Wajah Alluna panik seketika.
“Evan...! Van...!” panggil Alluna, namun ia tidak mendapat jawaban. Ia langsung masuk ke dalam kamar Evan, menyalakan lampu karena lampu kamar sengaja dimatikan.
Kamar Evan juga tak kalah berantakan. Ia mencoba mencari tubuh Evan. “Van...!” Alluna berjalan perlahan menghampiri tempat tidur. Di sana, ia melihat Evan tertidur dengan wajah pucat pasi di dalam selimut dan tertumpuk beberapa pakaian yang sudah keluar dari lemarinya.
“Van...!” Alluna meneteskan air mata melihat wajah Evan yang begitu pucat. Ia menyentuh dahi Evan. PANAS!!!
“Van, kamu kenapa?” Alluna langsung memegangi wajah Evan dengan kedua tangannya. “Kamu sakit?”
Evan membuka matanya, samar-samar ia menyadari kehadiran Alluna. “Lun, aku sayang sama kamu,” ucapnya lirih.
“Iya. Aku tahu.” Alluna buru-buru menyingkirkan semua pakaian yang menutupi tubuh Evan dan membuka selimutnya. Ia langsung berlari keluar dari apartemen menemui tiga sahabatnya yang masih menunggu di depan pintu.
“Kenapa, Lun?” tanya Rani yang menyadari ekspresi kepanikan Alluna.
“Telepon ambulance! Cepat!” teriak Alluna panik.
Alhasil membuat ketiga sahabatnya juga panik. Mereka langsung menerobos masuk ke apartemen Evan, melihat apa yang terjadi dengan Evan. Rani langsung menelepon ambulance saat itu juga.
“Austin, lo bisa telepon petugas apartemen buat bantu kita bawa Evan turun?” tanya Rani. Austin menganggukkan kepalanya.
“Van, maafin aku.” Alluna menangis sembari memeluk Evan dengan erat. Ia tidak dapat menahan kesedihannya melihat cowok yang ia sayangi dalam keadaan seburuk ini.
Beberapa saat kemudian, dua orang petugas apartemen muncul dan membantu Evan untuk turun ke bawah menunggu ambulance yang langsung datang beberapa menit kemudian.
***
Kata dokter, Evan kekurangan cairan tubuh karena selama seminggu ia tidak makan dan minum. Alluna sangat terpukul mendengar ucapan dokter. Ia tak henti menyalahkan dirinya sendiri yang selalu egois.
“Van, maafin aku...!” Alluna menggenggam tangan Evan yang sudah dipasangi selang infus.
“Kamu nggak salah. Aku yang salah karena aku nggak bisa bikin kamu bahagia.”
“Van, kamu udah bikin aku bahagia dari pertama kali kita ketemu.” Alluna meneteskan air matanya.
Hastri, Rani dan Austin ikut terharu menyaksikan adegan itu. Mereka memilih keluar dari ruang rawat, memberikan kesempatan untuk Evan dan Alluna.
“Jangan nangis lagi!” Evan mengusap air mata Alluna dengan satu tangannya. “Aku nggak bisa maafin diri aku sendiri setiap kali lihat kamu nangis dan penyebabnya adalah aku.”
Alluna menciumi tangan Evan dan masih terisak. “Aku sayang sama kamu.”
“Aku juga sayang sama kamu. Senyum dong!” pinta Evan sambil tersenyum.
Alluna mengusap air matanya dan tersenyum menatap Evan.
***
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, keadaan Evan sudah membaik dan diperbolehkan pulang ke rumah.
“Ma, Mama masih di Paris?” tanya Alluna via video call.
“Iya, sayang. Gimana Evan? Udah sehat?”
“Alhamdulillah, udah, Ma. Ini baru nyampe di apartemen. Tapi, dia masih butuh banyak istirahat.” Alluna mengarahkan ponselnya ke wajah Evan.
“Hai, Tante ...!” sapa Evan sambil melambaikan tangannya.
“Gimana? Udah baikan?”
Evan mengangguk.
“Muka kamu masih kelihatan pucat gitu. Istirahat yang banyak ya!”
“Iya. Makasih, Tante.” Evan tersenyum.
“Ma, aku di sini dulu rawat si Evan sampe dia bener-bener pulih, ya? Aku nggak tega ninggalin dia sendirian. Nanti, aku suruh Bi Ira ke sini juga,” tutur Alluna.
“Kalo sama Bi Ira, boleh deh. Tapi, kalau cuma berduaan. Mama kurang¬—”
“Tante nggak percaya sama Evan?” sahut Evan.
Mama Alluna tersenyum. “Iya. Tante percaya. Evan pasti bisa jaga Alluna dengan baik.”
“Tapi, sekarang Alluna yang lagi jaga Evan loh, Ma,” sambar Alluna.
Mereka tertawa.
“Ya sudah. Istirahat dulu ya! Mama masih banyak kerjaan, nih.”
Alluna menautkan jari telunjuk dan jempolnya, tiga jari yang lain ia naikkan sebagai tanda setuju. Panggilan video pun berakhir.
“Kamu istirahat dulu, ya! Aku bikinin kamu bubur, mau?” tanya Alluna sambil merebahkan tubuh Evan ke atas kasur dan menyelimutinya.
“Lun...” Evan menahan tangan Alluna untuk pergi dari sisinya.
“Kenapa?” Alluna menoleh.
“Duduk dulu di sini!” Evan menepuk tepi ranjang, tepat di sisinya.
Alluna menuruti permintaan Evan.
Evan meraih tangan Alluna dan menggenggam di dadanya. “Aku bahagia banget bisa kenal bidadari seperti kamu. Sekalipun hari ini aku mati, aku akan tetap bahagia karena pernah mengenal kamu.”
“Kamu apaan sih? Aku nggak suka kamu ngomongin soal kematian.”
Evan tersenyum menatap Alluna. “Kamu baik. Dan aku nggak sebaik yang kamu pikirkan.”
Alluna bergeming. Ia menatap Evan yang masih menundukkan pandangannya.
“Soal Reva, aku bakal ceritain semuanya. Mungkin kamu bakal benci, jijik dan menjauh dari aku setelah ini.”
“Aku nggak akan pergi ... tanpa kamu.”
“Reva, pacar pertamaku ....” Evan mulai menceritakan masa lalunya.
Alluna menyimak dengan seksama kata demi kata yang diucapkan Evan.
“Aku terpukul banget saat hubungan kami baru genap 6 bulan, dia meninggal.” Napas Evan tersengal saat mulai bercerita tentang kematian Reva.
Alluna terkejut, menutup mulutnya yang menganga dengan tangannya. “Why? Kalian terlihat bahagia saat itu.”
Evan mengangguk. “Ya, hubungan kami sedang bahagia saat itu. Kami tidak pernah bertengkar. Aku bener-bener kehilangan orang yang aku sayang untuk pertama kalinya. Dan aku cuma bisa nyalahin diriku sendiri.”
Alluna masih menyimak.
“Dia ditemukan bunuh diri di dalam kamarnya dalam keadaan hamil tiga bulan.”
“What!?” Alluna terkejut mendengar pernyataan Evan. Kali ini ia masih tidak percaya kalau Evan sudah melakukan itu, bahkan sudah punya janin dari pacar pertamanya.
Evan tidak peduli denga ekspresi Alluna, ia tetap melanjutkan ceritanya. “Aku adalah orang yang paling bodoh sedunia karena aku sama sekali nggak tau kalau dia hamil. Dia ngadepin semuanya sendirian. Aku tahu, dia pasti malu kalau semua orang tahu dia hamil di luar nikah. Terlebih lagi saat itu kami masih kelas dua SMA.”
“Andai dia jujur, aku pasti bertanggung jawab.” Evan tersenyum kecil. “Dan saat ini, anakku pasti sedang lucu-lucunya.” Evan tersenyum membayangkan seorang anak kecil sedang berlari-lari dan bermain bersamanya di dalam kamar.
Alluna ikut tersenyum saat Evan bercerita tentang anaknya.
“Kamu nggak marah?” tanya Evan yang melihat Alluna ikut tersenyum.
“Marah kenapa?”
“Karena aku bukan cowok baik-baik.”
“Aku marah bukan karena kamu seorang badboy. Yang bikin aku marah ...” Alluna berbisik dan mendekatkan wajahnya. “Karena kamu nggak mau jujur sama aku.”
Evan tersenyum. “Konyol!” celetuknya.
“Kenapa?”
“Selama seminggu ini aku sudah menghukum diriku sendiri. Aku pikir kamu akan marah besar saat tau kalau aku sudah pernah menghamili perempuan lain. Aku pikir kamu bakal pergi ninggalin aku. Aku pikir kamu nggak akan sayang sama aku lagi. Aku pikir kamu bakal ngejauh dari aku ....” Air mata Evan berlinang. Ia tidak ingin menangis. Tapi, melihat wajah Alluna yang tersenyum di hadapannya. Dia justru ingin menangis karena perbuatan biadab dan dosanya di masa lalu. Ia malu.
Alluna tidak berkata sedikitpun. Ia membungkam mulut Evan dengan bibirnya.
Evan terkejut dengan apa yang dilakukan Alluna. Ia masih tak percaya, Alluna menciumnya tanpa ia minta. Alluna melumat bibirnya dan ia tak bisa menahan diri untuk membalas.
Alluna mengangkat wajahnya. Ia meletakkan jemari telunjuknya di bibir Evan. “Jangan pernah hancurkan masa depanmu dan masa depan orang yang kamu sayangi!” bisik Alluna.
Evan tersenyum kecil. Ia merasa konyol setiap kali hanya berduaan dengan Alluna. Kalau bukan Alluna yang di depannya saat ini, mungkin sudah sedari tadi ia telanjangi dan mencumbunya penuh nafsu. Alluna memang perempuan yang bijak. Dia punya nafsu, sama seperti perempuan lain pada umumnya. Tapi, dia pandai mengendalikan diri. Inilah satu-satunya alasan yang membuat Evan bangga memilikinya.
Evan menarik tengkuk Alluna dan memeluknya dengan erat. “Tetap seperti ini, jangan pergi!” bisiknya.
***
“Mama minta aku lanjutin kuliah ke Paris.” Usai memainkan piano, Alluna duduk di sofa, tepat di sisi Evan yang sedang asyik bermain game online.
“Trus? Kamu setuju?” Evan langsung menoleh ke arah Alluna.
Alluna mengedikkan bahunya. “Belum tahu. Kalau dikasih uang jajan 3x lipat dari Daren. Mungkin aku mau kuliah di sana.”
Evan membelalakkan matanya. “Tega kamu ya. Kemarin waktu aku mau kuliah ke London. Kamu yang ngerengek supaya aku tetep stay di Indonesia. Sekarang malah kamu yang mau ke Paris!” celetuk Evan sambil melempar ponselnya ke atas sofa.
“Eh, mati loh. Lagi main FF kan?” Alluna mengambil ponsel Evan dan melanjutkan game Free Fire yang sedang dimainkan Evan.
“Biarin aja, cuma game doang. Kamu beneran mau lanjut kuliah ke Paris?” Evan menatap tajam ke arah Alluna.
Alluna melirik nakal sambil tersenyum. “Menurut lo?”
“Janganlah. Kuliahku nanggung kalo mau pindah juga.”
“Bukannya kamu suka yang nanggung-nanggung? Rok nanggung, baju nanggung ...,” goda Alluna.
“Apaan sih lo? Mulai nakal ya sekarang?” Evan mencubit gemas pipi Alluna.
TING TONG!
Bel rumah berbunyi. Bi Ira langsung buru-buru keluar untuk membukakan pintu. Tak lama kemudian, Bi Ira kembali dengan membawa sebuah kartu, ia menyodorkannya pada Alluna.
“Siapa, Bi?” tanya Alluna.
“Nggak tau.”
Alluna meraih kartu undangan dari tangan Bi Ira.
Bi Ira langsung pergi menuju dapur.
“Siapa yang nikah?” tanya Evan sambil mencondongkan badannya.
“Temen sekelas.”
“Yang mana anaknya?”
“Kamu nggak tau. Anaknya pendiem banget.”
“Oh ... keren ya!”
“Apanya?”
“Abis dapet ijazah, langsung ijab sah!”
“Hahaha. Kirain pendiemnya yang keren.”
“Kalo kamu jadi pendiem, baru aku bilang keren.”
Alluna mencebik.
“Jadi, kondangan lagi nih?” tanya Evan.
Alluna mengangguk.
“Kondangan mulu, kapan giliran kita ngundang, ya?” ucap Evan sambil menatap langit-langit rumah.
“Kamu maunya kapan? Tinggal bikin aja undangan terus disebarin, beres!” sahut Alluna.
“Serius? Aku sih maunya minggu depan kita udah nikah.”
Alluna memutar bola matanya. “Aku nggak mau nikah muda.”
“Kenapa?”
“Masih mau kuliah dulu.”
“Bisa kuliah setelah menikah.”
“Nggak! Pokoknya kuliah dulu baru nikah!” sahut Alluna keukeuh.
“Nikah dulu!”
“Kuliah dulu!”
“Nikah!”
“Kuliah!”
“Nikah!”
“Kuliah!”
“Kuliah!”
“Nikah!” Alluna langsung menutup mulutnya karena ikut menyebut kata nikah.
“Nah, kan?” Evan tersenyum licik. “Yes! Nikah dulu!” Ia mengepalkan tangannya ke bawah.
“Apa-apaan? Culas!”
“Bodo amat, yang penting kamu udah bilang ‘nikah’.” Evan menjulurkan lidahnya.
“Nggak mau!” sahut Alluna ketus sembari melipat kedua lengannya di dada.
“Jadi, kamu beneran nggak mau nikah sama aku?” tanya Evan dengan wajah memelas.
Alluna langsung menatap Evan yang tiba-tiba serius menanggapi candaannya. “Mau, Van. Tapi nggak sekarang. Aku nggak mau nikah muda. Masih mau ngejar cita-cita aku.”
“Aku ngejar kamu, kamu ngejar cita-cita, terus Cita Citata ngejar siapa dong? Ngejar aku?”
“Cita-cita. Bukan Cita Citata. Itu artis.”
“Ya kali aku dikejar-kejar sama artis. Ganteng gini.” Evan menelentangkan tangannya di sandaran sofa sambil mengangkat satu kakinya. Gayanya yang sok cool membuat Alluna mendelik ke arahnya.
“Kenapa? Cemburu?” Evan melirik Alluna sambil menahan tawa. “Makanya, kalo punya pacar ganteng itu jangan disia-siain. Ntar diambil sama yang lain baru tau rasa.”
“Iih, kamu tuh nyebelin banget, sih!” Alluna memukul dada Evan.
“Jadi, mau nikah sama aku nggak?” tanya Evan lagi.
“Mau. Tapi ...,”
“Kalo mau tuh nggak pake tapi.”
“Nah, gitu dong!” Evan melingkarkan tangannya di pinggang Alluna. “Aku udah nggak sabar pengen bikin anak sama kamu,” bisiknya sambil meniup tengkuk Alluna dan berhasil membuat gadis itu merinding.
Alluna mendesah pelan.
“Kamu sebenernya pengen juga kan?” ledek Evan sambil mengacungkan telunjuknya di depan hidung Alluna.
“Apaan sih?” Alluna menyingkirkan tangan Evan dari wajahnya. Ia tersipu, pipinya bersemu merah.
“Setidaknya aku tahu kalo kamu punya nafsu,” bisik Evan. Ia menarik tubuh Alluna duduk di pangkuannya dan menciumnya penuh cinta.
((Bersambung...))


