Friday, August 7, 2026

Pendamping Nakal Bab 8 : Pertanyaan yang Tertahan

 


“Ran, gimana kegiatanmu minggu ini? Lancar, kan?” tanya Tia sembari mengeluarkan beberapa buku baru dari dalam kardus untuk ia katalogisasi.

“Lancar. Cuma . .. perjalanan pulang kami yang agak terhambat. Jadinya, lumayan malam sampai di rumah.”

“Kenapa? Jalannya jelek?” tanya Tia. Matanya tertuju pada sebuah buki baru meski ia sibuk bicara dengan Rania.

“That’s first. Yang parahnya tuh, kita dihadang sama empat preman di tengah hutan. Mana lagi senja. Horor banget!” jawab Rania.

“Begal, Ran!?”

“Kayaknya mereka orang suruhan bos tambang batubara, deh.”

“Kamu tahu dari mana?” tanya Tia.

“Bang Radit seharian keliling wawancarain warga yang menolak tambang. Aku nemenin dia dan denger beberapa kali ucapan warga di sana yang kemungkinan pro sama tambang,” jawab Rania.

“Oh. Terus ... terus ...!”

“Ternyata, konflik di dunia usaha itu rumit banget, ya? Manusia udah kayak monster. Saling serang, saling makan memakan,” ucap Rania.

“Maksudnya?” Kening Tia mengernyit.

Rania menghela napas. “Terkadang kita bingung harus berpihak ke mana. Di satu sisi ada masyarakat yang membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Di sisi lain ada petani yang terancam kehidupan dan masa depan keluarganya. Nggak ada solusi baik untuk hal seperti ini, Ti. Semuanya berusaha untuk bertahan hidup,” ucap Rania.

“Kamu sendiri berpihak ke mana?” tanya Tia.

Rania mengedikkan bahunya. “Aku nggak berpihak ke mana-mana. Netral aja.”

“Oh, ya? Kalau seandainya kehidupanmu dan keluargamu yang terancam. Gimana?”

“Aku pasti bela diri mati-matian, lah. Masa diam aja!?” sahut Rania.

Tia manggut-manggut. Ia kembali sibuk memilah buku-buku yang baru saja ia dapatkan. Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah buku berwarna hitam dengan ilustrasi misteri yang khas. Judulnya cukup menarik baginya. Begitu juga dengan beberapa buku lain tentang metafisika.

“Ran, tumben Bu Sinta dapet koleksi buku beginian? Ini beli baru atau donasi, ya?” tanya Tia.

“Di laporan itu ada sumber bukunya, kan?”

Tia langsung memeriksa laporan yang ia ambil dari Bu Sinta, Kepala Perpustakaan tersebut. “Donasi,” ucapnya. “Pasti mantan dukun yang ngasih donasi ini.”

Rania terkekeh mendengar ucapan Tia. “Dukun apaan di zaman sekarang?” tanyanya dengan kedua mata fokus menatap layar laptop.

 Ia mulai melatih tangannya untuk mengetik kembali setelah melewati operasi dan masa pemulihan.

“Aww ...!” seru Rania tiba-tiba.

“Kenapa, Ran?”

“Tanganku masih nyeri dipake ngetik. Padahal udah dua bulan pasca operasi,” ucap Rania.

“Pakai voice note aja kayak biasanya. Nggak usah paksain diri, Ran! Kamu belum benar-benar pulih.”

“Kata dokter, aku  harus latih tanganku untuk bergerak seperti biasanya. Supaya nggak kaku dan bisa cepet sembuh, Ti. Bisa, kok. Pelan-pelan, nih,” ucap Rania sambil menggerakkan jemarinya perlahan di atas keyboard.

“Hmm ... ya udah, deh. Yang penting kamu nyaman dan bisa cepet sehat kayak biasanya. By the way ... kenapa kamu selalu jadi sasaran orang jahat, sih? Kriminal banget kalo sampe bikin kamu masuk rumah sakit.”

“Kamu mau jadi sasaran juga?” tanya Rania menggoda.

“Idih ... amit-amit jabang bayik! Jangan sampe, Ran!” sambar Tia sembari mengetuk-ngetuk kepala dan meja bergantian. “Jauhkan bala!”

Rania kembali fokus menulis artikel, sementara Tia sibuk dengan buku-buku yang baru saja menjadi bagian dari koleksi perpustakaan sekolah.

 

TING!

Rania melirik ke arah ponsel yang ada  di samping laptopnya. Pop up notifikasi membuat ia langsung mengetahui jika yang mengirim pesan adalah Radit.

TING!

TING!

Pesan berantai dari Radit, membuat Rania kehilangan konsentrasi. Ia menarik napas dalam-dalam dan membuka pesan yang masuk.

“Ran, empat orang warga yang menghadang kita kemarin udah mati semua,” tulis Radit dalam pesan Whatsapp.

Rania menaikkan sebelah alisnya. Ia tidak langsung membalas chat dari Radit, tapi mengamati satu per satu foto-foto yang dikirim untuknya. Wajah para warga itu terlihat sangat jelas.

“Kenapa mereka bisa mati berbarengan?” gumam Rania. “Kita nggak akan dikejar polisi buat minta keterangan, kan?” batinnya.

Tak ingin terus berdialog dengan dirinya sendiri, Rania segera menekan menu call ke nomor Radit.

“Halo ...!”

“Bang, kita aman, kan?” tanya Rania dengan perasaan tak karuan.

“Kenapa kamu tiba-tiba panik gini?” tanya Radit. Meski dari kejauhan, terdengar jelas jika pria itu sedang menahan tawa.

“Kita yang terakhir ketemu sama mereka semalam,” ucap Rania. “Aku takut kalau polisi curiga sama kita.”

“Nggaklah. Semuanya aman, Ran. Mereka meninggal karena kecelakaan. Dua orang itu nyemplung sungai, satu orang jatuh di jurang dan satunya lagi kesetrum listrik di rumahnya,” jelas Radit.

Rania menghela napas lega. “Syukurlah kalau gitu.”

“Iya. Aman aja, kok. Ini kamu masih di sekolah?” tanya Radit.

“Iya, Bang.”

“Bisa telepon?”

“Ini jam istirahat. Aku lagi nulis artikel buat majalah sekolah minggu ini,” jawab Rania.

“Oke. Dilanjut! Aku juga mau berangkat liputan, nih. Katanya mau ada Presiden datang ke IKN. Jadi, aku mau otewe ke sana.”

“Oh, ya? Seru banget ke IKN! Coba aja nggak hari sekolah, aku pengen ikut!” ucap Rania.

“Kamu sekolah aja yang bener!  Nanti akan ada waktunya kamu jadi jurnalis beneran. Bisa turun ke lapangan sambil plesir,” ucap Radit.

“Iya juga, sih. Sekarang harus sabar dan banyak latihan supaya tulisanku bisa diterima di media nasional dan internasional.”

“Beuuh ... targetmu tinggi juga. Aku  yang udah lama jadi jurnalis aja nggak bisa tembus media internasional. Soalnya aku nggak bisa bahasa Inggris, hahaha.”

Rania ikut tertawa kecil. “Ya udah, Bang. Aku lanjut kelarin artikelku dulu. Aku tutup teleponnya, ya!”

“Oke. Bye!”

“Bye!” Rania segera menutup panggilan teleponnya. Ia menghela napas dan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.

“Kenapa, Ran?” tanya Tia yang duduk tak jauh dari Rania dan bisa mendengar cuplikan pembicaraan sahabatnya itu.

“Orang yang baru aja kita bicarain tadi, tiba-tiba pada meninggal semua.”

“Hah!? Siapa?”

“Empat preman yang cegat aku sama Bang Radit kemarin sore,” jawab Rania.

“Oh, ya?”

Rania mengangguk. Ia kembali fokus dengan tulisannya.

Sementara, Tia bergeming sambil berpikir. Ia merasa ada yang aneh dengan hidup Rania akhir-akhir ini. Semua orang yang berhubungan dengan Rania, tiba-tiba meninggal dalam keadaan mengenaskan.

Tia memperhatikan salah satu buku metafisika berjudul “Khodam Pendamping” yang membuat pikirannya melayang jauh tentang Rania dan sosok yang tidak terlihat. Mungkinkah semua hanya kebetulan atau ada sisi gelap dalam diri Rania yang tidak ia ketahui?

“Ran ...!” panggil Tia. Ia ingin bertanya langsung pada Rania, tapi ia juga ragu. Ia khawatir kalau Rania justru akan marah kepadanya.

“Hmm.”

“Masih lama nulis artikelnya? Lima menit lagi masuk kelas,” ucap Tia. Ia menahan napas dan memilih mengalihkan pertanyaannya.

“Iya, Ti. Bentar lagi, ini.”

Tia  tersenyum ke arah Rania. “Sepertinya aku harus banyak belajar tentang ilmu ini,” batinnya sambil memerhatikan buku di tangannya.

 

 

Sunday, July 12, 2026

Pendamping Nakal Bab 7 : Bertindak Tanpa Perintah

“Ran, minggu ini kamu ada waktu luang?” tanya seseorang dari ujung telepon saat Rania sedang menikmati makan siang di kantin sekolah. 
“Ada, Bang. Minggu ini nggak ada kegiatan di sekolah. Ada kegiatan?”
“Temani aku ke Kukar, ya! Mau cari beberapa fakta di lapangan soal tambang ilegal.”
“Oke.”
Tanpa berpikir panjang, Rania langsung mengiyakan tawaran dari seniornya tersebut. Kebetulan, ia juga baru membaca artikel berita tentang tambang-tambang ilegal yang merenggut kehidupan masyarakat lokal. 
Minggu pagi, Rania memarkirkan sepeda motornya di depan gedung kantor berita “Suara Kaltim”. Meski masih duduk di bangku SMA, Rania telah terdaftar sebagai jurnalis muda di tempat tersebut. Tentunya tidak lepas dari peran sang ayah yang merupakan jurnalis senior. Ayahnya sudah melalang buana ke banyak daerah di Indonesia, bahkan di luar negeri. 
“Masuk, Ran!” sapa seorang pria dengan tinggi sekitar 175 cm. Rambutnya ikal panjang dan selalu dikuncir. 
Rania tersenyum lebar dan melangkah masuk ke dalam gedung tersebut.
“Bang Radit, perjalanan ke Samboja berapa jam?” tanya Rania sembari melangkahkan kakinya ke dalam ruang kerja para jurnalis. 
“Hai, Cantik ...! Apa kabar?” sapa seorang jurnalis senior yang bertubuh gempal. 
“Baik, Oom,” jawab Rania. 
“Ayahmu lagi tugas di mana? Lama Oom nggak ketemu sama dia.”
“Masih di Papua, Oom,” jawab Rania. 
Pria paruh baya itu geleng-geleng kepala. “Ayahmu memang hebat! Tulisan dia banyak nyerempet jurang, tapi tetap aman sampai sekarang.”
Rania hanya tersenyum kecil mendengar ucapan pria tersebut. Ia segera melangkah ke meja kerja Radit. Mengemas beberapa barang yang mereka butuhkan selama berada di lokasi. 
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, Rania dan Radit sampai di rumah salah satu penduduk desa yang sangat dekat dengan area tambang batu bara. 
Rania menatap jauh ke arah lubang galian tambang batubara yang menyisakan kubangan besar. Warga tak lagi bisa bertani seperti biasa. Flora dan fauna tak lagi punya rumah untuk hidup dan bertumbuh. Semuanya gersang. Hanya menyisakan aroma mineral yang tak sedap dan suhu udara yang lebih panas. 
Rania tak banyak bicara. Hanya mengikuti Radit yang melakukan wawancara. Ia mengabadikan foto dan video lewat kamera yang ia bawa. 
Ada banyak alasan mengapa warga memilih untuk tetap bertahan meski tanah mereka telah porak-poranda. Beberapa warga ada yang berjuang melawan kehadiran tambang batubara dan semuanya berakhir di penjara. Tidak ada satu pun warga yang bisa menang ketika berhadapan dengan perusahaan. 
“Ran, aku masih harus ke beberapa rumah warga untuk cari fakta lain. Kalau pulang malam, nggak papa?” tanya Radit.
“Nggak papa, Bang.” 
Pukul 18.00 WITA, Rania dan Radit baru keluar dari desa terakhir tempat mereka melakukan wawancara.
Suasana terasa mencekam meski waktu belum larut malam. Jalan tanah yang sepi dan pepohonan yang rimbun, membuat hari lebih gelap dari yang seharusnya. Jam segini kalau di kota, mereka justru melihat keindahan lampu-lampu kota yang mulai menyala. 
Ciiit ...!
Mobil yang dikendarai Radit tiba-tiba berhenti saat ada empat sepeda motor yang menghadangnya. 
“Si-siapa mereka, Bang?” tanya Rania dengan perasaan tak karuan. 
Radit menggeleng. “Nggak tahu.”
“Hei ...! Keluar!” sentak seorang pria bertubuh kekar sambil memukul bagian depan mobil Radit menggunakan balok berukuran 7x10 cm. 
“Anjing ...! Bangsat orang ini! Mobilku rusak!” maki Radit. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha meredakan emosinya sejenak dan keluar dari dalam mobil. 
“Assalamualaikum...!” sapa Radit sambil tersenyum ke arah pria yang baru saja menghantam mobilnya. 
“Wa’alaikumussalam ...!” sahut semua orang yang ada di sana. 
Radit langsung tersenyum mendengar balasan salam dari orang-orang tersebut. Artinya, emosi mereka masih bisa diredam dengan cara yang baik. 
“Ada masalah apa, Bang?” tanya Radit. 
“Kamu wartawan yang sering nulis berita tentang tambang sini, kan?” tanya pria itu. 
Radit hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan pria tersebut. “Kita bisa bicara baik-baik, Bang.” 
“Nggak ada bicara baik-baik! Kamu harus hapus semua berita yang sudah kamu sebarkan!” sahut pria itu. 
Radit tertawa kecil. “Abang-abang ini bukan asli warga sini?”
“Kami asli warga sini.”
“Kenapa berpihak pada perusahaan?” tanya Radit lagi. 
“Karena kami butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarga kami.”
“Oh.” Radit manggut-manggut. Ia tidak mungkin berdebat dengan orang yang sedang lapar soal keberlangsungan lingkungan hidup dan petani yang ada di sana. 
“Kita ketemu 10 tahun lagi ya, Bang! Aku mau lihat, apakah Abang masih belain perusahaan yang sekarang ngasih makan Abang,” ucap Radit sambil menatap wajah pria di hadapannya itu. 
“Kamu!?” Pria yang memegang balok itu menunjuk wajah Radit dengan wajah penuh amarah.
“Sampaikan saja ke bos kalian! Kalau mau aku turunkan beritanya, siapkan uang sepuluh juta untuk satu berita!” pinta Radit sambil memainkan alisnya. 
“Malah mau meras, hah!? Lebih baik kami habisi kamu aja!” seru pria itu sambil melayangkan balok ke tubuh Radit. 
Radit segera menangkis balok kayu tersebut dan terjadi pergulatan di antara mereka. 
BUG! 
BUG! 
BUG! 
Rania mulai panik melihat kejadian tersebut. Ia ingin keluar, tapi tak punya banyak keberanian. Setelah melihat Radit terus diserang, Rania nekat keluar dari dalam mobil. 
“STOP ...!” teriak Rania sekuat tenaga. 
Semua orang menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah Rania. 
Mata Rania menatap tajam arah empat pria yang sedang berkelahi dengan Radit. 
“Kalau sampai temanku terluka, kalian semua nggak akan aku biarkan hidup!” seru Rania dengan tangan mengepal erat. 
“Hahaha. Memangnya kamu siapa? Kamu yang nggak bakal keluar dari sini dalam keadaan hidup!” sahut salah seorang pria yang ada di sana. 
Namun, hanya dalam hitungan detik, suasana berubah mencekam. 
Keempat pria itu memandang Rania dengan tubuh gemetar. Tanpa aba-aba, mereka semua berlari ke motor masing-masing dan pergi dengan tergesa-gesa.
“Bang Radit nggak papa?” tanya Rania sambil menghampiri Radit. 
“Nggak papa,” jawab Radit sambil menahan perih di wajah dan lengannya. 
“Kenapa mereka tiba-tiba lari ketakutan?” tanya Radit. 
Rania mengedikkan bahunya. 
Radit mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka. Di belakang mobil mereka ada sebuah pohon beringin besar, juga pohon-pohon lain yang tak kalah besar. Rimbunnya pepohonan di tepi jalan tersebut, membuat udara semakin dingin dan bulu kuduk Radit ikut berdiri.
“Buruan pulang, yuk! Suasananya mulai nggak enak,” ajak Radit. 
Mereka segera masuk ke dalam mobil dan bergerak keluar dari desa tersebut. 

***
Empat pria yang menghadang Radit dan Rania menghentikan sepeda motornya saat mereka tiba di salah satu pos ronda milik warga. 
“Mas, sampean lihat juga?” tanya salah seorang pria bertubuh jangkung. 
Pria yang ditanya mengangguk. Tapi, ia tidak berani bicara. 
Dua pria lagi memilih diam dengan tubuh yang masih bergetar.
Gggrrr ...! 
Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara. 
“Ha-ha-harimau putih itu ngikutin kita!” seru salah seorang dari mereka dengan terbata-bata. 
Pria yang lain tak berani berkata-kata. Ada yang kembali menyalakan mesin motornya, ada yang memilih untuk berlari meninggalkan tempat tersebut. 
“Ini Kalimantan. Harusnya nggak ada macan. Apalagi macan putih sebesar ini,” ucap salah seorang pria yang masih bertahan di sana. Sebab, ia mengengkol sepeda motornya berkali-kali, tapi tak mau menyala.
 Perasaannya semakin tak karuan saat ia mencoba memejamkan mata dan membukanya kembali. Ia pikir, makhluk aneh itu akan segera pergi. Tapi hasilnya tidak seperti yang dia inginkan. Harimau putih yang ukurannya lebih besar dari bangunan pos ronda itu masih berdiri di sana. 
“Aargh ...!” pria itu memilih untuk berlari secepat mungkin. Ia menyadari jika makhluk ghaib itu mengejar dirinya. Membuatnya sangat ketakutan dan kehilangan kendali. Teriakannya berakhir saat tubuhnya melompat ke sungai dan ditelan oleh derasnya arus sungai tersebut. 

((Bersambung...)) 




Friday, July 10, 2026

Pendamping Nakal Bab 6 : Kematian Galang

Bab 6 
Kematian Galang

“Ran, sudah dua kali kamu terluka seperti ini. Mama akan buat laporan ke polisi,” ucap Mama Rania setelah ia selesai memasangkan perban di tangan Rania. 
Rania mengangguk. Sebenarnya, ia juga sempat ingin melaporkan Sarah ke kantor polisi saat wanita itu melukai jemari tangannya. Tapi, Sarah sudah meninggal lebih dahulu. 
“Mama juga akan ke sekolahmu. Sekolahmu nggak lagi aman. Ini bukan cuma kasus bullying, tapi sudah masuk kriminal,” ucap Mama Rania lagi. 
Rania terdiam mendengar ucapan mamanya. 
“Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu? Kenapa kamu punya banyak musuh?” tanya Mama Rania penasaran. 
“Aku cuma menulis berita dengan jujur,” jawab Rania lirih. 
Mama Rania menghela napas pelan. “Papa kamu juga jurnalis. Dia bahkan jarang pulang karena harus keliling Indonesia mencari berita. Tapi, dia tidak pernah mengalami kekerasan seperti kamu.”
“Mama yakin kalau Papa nggak pernah dapet intimidasi atau kekerasan?” tanya Rania. 
Mama Rania terdiam. Suaminya lebih sering berada di luar kota daripada di rumah. Jadi, ia tidak tahu persis apa yang terjadi di luar sana saat suaminya sedang bertugas. 
Rania segera bangkit dan masuk ke dalam kamar. Ada banyak buku, majalah dan tulisan-tulisan sang ayah yang tidak berhenti ditulis.


***

Keesokan harinya, Rania melangkahkan kaki menuju kantor polisi terdekat untuk melaporkan perbuatan Galang, termasuk isi chat di ponsel Sarah. 
Belum sampai masuk ke kantor polisi, matanya tertuju pada sepeda motor CBR warna hitam-merah yang tidak asing lagi baginya. Sepeda motor itu sangat mirip dengan sepeda motor milik Galang. Tapi kondisinya tidak baik-baik saja, terlihat ringsek di beberapa bagian. 
Rania menepis prasangka buruk dalam hatinya dan segera masuk ke kantor polisi untuk membuat laporan.
30 menit kemudian... 
“Mohon maaf, laporan Anda tidak bisa kami proses karena pihak terlspor sudah meninggal dunia,” ucap seorang polisi wanita sambil menghampiri Rania kembali. 
“Meninggal? Nggak mungkin! Dia baru saja menusuk tanganku malam tadi,” ucap Rania. 
“Anda melaporkan kejadiannya sekitar pukul 19.30 WITA. Dia mengalami kecelakaan pukul 22.00 WITA dan langsung meninggal di tempat,” ucap polisi wanita tersebut. 
“Ibu yakin? Nggak salah orang?” tanya Rania lagi. Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi pada Galang. 
Polisi wanita itu mengangguk. “Foto yang kamu kirimkan, sama persis dengan foto korban. Ciri-ciri kendaraan dan nomor polisinya juga sama persis. Kamu bisa cek di luar. Kendaraan korban masih ada di halaman kantor kami.”
Rania tak banyak bertanya lagi. Ia segera melangkah keluar dan menghampiri sepeda motor yang dimaksud oleh polisi wanita tersebut. “Beneran motor punya Galang,” gumamnya. 
TING! 
Tiba-tiba notifikasi grup Mading masuk ke ponsel Rania.
Tia : Udah lihat kabar terbaru yang lagi heboh? 
Nanda : Apaan? 
Tia : Galang meninggal kecelakaan. [Send; Link berita]
Rania langsung membuka beberapa link berita yang dikirim oleh Tia. Di sana, ia bisa melihat dengan jelas kalau Galang mengalami kecelakaan dan terlindas oleh mobil Fuso bermuatan. 
Tia : Infonya, badannya hancur. Tangan kanannya terpisah dari tubuhnya. 
Nanda : Serius? Mengenaskan banget? 
Tia : Iya. Kasihan juga, sih. 
Nanda : Kamu nggak ada foto-foto korban? 
Tia : Belum dapet, Nan. 
Rido : [Sending 15 photo]
Rania menutup mulut saat membuka foto-foto yang dikirimkan oleh Rido. Entah bagaimana cara Rido mendapatkannya. Tapi dia selalu punya bukti-bukti foto korban kecelakaan. 
Tia : Kami dapet foto-foto ini dari mana, Do?
Rido : Abangku dokter forensik. Kebetulan, dia yang nangani kasus ini. Aku retas hape dia. Jangan disebarkan fotonya! Kalau ketahuan, aku bisa dibunuh sama Abangku.
Tia : Aman. 
Nanda : Aman, Do. Kita tahu batasan privasi orang lain. 
Rania hanya sibuk membaca chat di grup. Ia tidak merespon sama sekali pembicaraan teman-temannya. 
Tia : Rania read doang. Lagi sibuk, Ran? 
Rania menghela napas. Akhirnya, Tia menyenggol namanya karena ia tidak ikut bergabung dalam pembicaraan. 
Rania memotret lengannya yang sudah terbungkus perban dan mengirimkan ke grup Mading.
Rania : Sebelum kecelakaan, Galang nusuk tanganku. Aku emosi banget n sumpahin dia mati. Eh, mati beneran. 
Hening. 
Tidak ada satu pun anggota grup yang membalas chat Rania meski semua sudah membaca chat tersebut. 
Rania menghela napas. Ia segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di parkiran dan segera meninggalkan kantor polisi tersebut. 

***

Tia, Rido dan Nanda berkumpul di ruang mading usai jam pulang sekolah. Sedangkan Rania masih istirahat di rumah untuk memulihkan tangannya yang terluka.
“Do, kamu ngerasa ada yang aneh sama kematian Sarah dan Galang?” tanya Tia sambil memilah-milah foto yang akan digunakan sebagai artikel mading minggu ini. 
“Iya, aneh. Mereka sama-sama mati dengan cara mengenaskan,” jawab Rido santai sambil menatap layar laptopnya. 
“Dan semuanya berhubungan sama Rania,” sahut Tia. 
Rido dan Nanda saling pandang mendengar ucapan terakhir Tia. 
“Maksud kamu ... Rania yang bunuh mereka?” tanya Nanda. 
“Nggak mungkin. Mereka meninggal kecelakaan,” jawab Rido. 
“Terus, apa maksud Tia? Apa hubungannya sama Rania?” tanya Nanda lagi. “Nggak ada, kan?”
Tia menghela napas sambil menatap wajah Nanda. “Kalian pernah dengar atau baca artikel tentang seseorang yang dijuluki ‘Si Pahit Lidah’?”
Rido dan Nanda menggeleng bersamaan. 
Tia menghela napas kembali. “Sudahlah. Mungkin aku yang berpikir berlebihan. Mungkin ... cuma kebetulan aja.”
“Kamu kebanyakan nonton film horor, Ti. Mana mungkin Rania yang bunuh mereka,” ucap Nanda. 
Tia mengangguk. 
“Tapi ... ada banyak probability yang bisa terjadi. Bisa juga si Rania dendam karena dilukai. Dia bayar orang buat celakai Sarah dan Galang,” ucap Rido. 
“Ini lagi ... kebanyakan nonton sinetron!” sambar Nanda. 
Tia bergeming sambil menggigit bibir bawahnya. Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Rania bisa jadi pelaku dan juga tidak. Pikirannya mulai liar karena kematian Sarah dan Galang hampir mirip. Mereka sama-sama mati mengenaskan setelah melukai Rania. 
Rido terkekeh. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan agar topik tentang Rania tidak menjadi bola liar yang lari ke mana-mana. Tapi tak bisa dipungkiri jika pikirannya sudah bergerak liar. Ia juga sangat khawatir jika Rania terlibat dalam kematian Sarah dan Galang. Mungkinkah selama ini Rania menyembunyikan sesuatu dari mereka? 
Nanda juga memiliki pemikiran yang sama. Meski ia selalu berusaha menepisnya. Ia percaya kalau Rania adalah gadis baik. Tidak mungkin Rania terlibat dalam kasus pembunuhan. Apalagi semuanya sudah jelas kalau Sarah dan Galang meninggal karena kecelakaan, bukan karena pembunuhan. 

***

Di saat bersamaan... 
Rania menatap layar laptopnya. Ia memperhatikan foto-foto kematian Sarah dan Galang yang tersimpan di sana. Keduanya meninggal dalam keadaan yang mengenaskan. 
“Kenapa mereka meninggal setelah berantem sama aku?” tanya Rania pada dirinya sendiri. 
Rania terus memikirkan kematian Sarah dan Galang yang terjadi secara kebetulan. Ia merasa keinginannya bisa terkabulkan. Di satu sisi ia merasa senang karena orang-orang yang mencelakainya bisa pergi dari dunia ini untuk selamanya. Tapi di sisi lain, ia merasa iba karena keduanya harus meninggal di usia yang masih sangat muda dan nasib akhirnya begitu mengenaskan. 







Pendamping Nakal Bab 5 : Bukti yang Tersisa

Bab 5 – Bukti yang Tersisa

Jarum jam di dinding ruang mading menunjukkan pukul empat sore tepat ketika Rania membuka pintu.
Rido, Tia, dan Nanda yang sudah menunggu langsung berdiri.
"Ada apa, Ran? Mukamu pucat banget," tanya Tia.
Rania tidak menjawab. Ia hanya menyingkap sedikit kerah bajunya.
Bekas jari berwarna kemerahan masih membekas jelas di lehernya.
"Astaga...!" Tia spontan menutup mulutnya.
"Galang?" tanya Nanda. 
Rania mengangguk pelan.
"Dia tahu aku ngambil sesuatu dari tasnya."
Suasana ruang mading mendadak sunyi.
Perlahan Rania mengeluarkan sebuah ponsel putih dari dalam tas.
Gantungan bunga matahari itu masih tergantung di sudut casing.
Nanda langsung mengenalinya.
"Itu... HP Sarah, kan?"
"Iya."
Rania meletakkannya di atas meja.
"Galang rela membunuhku demi HP ini. Aku rasa, ada rahasia besar di dalamnya. Tapi aku nggak bisa buka hape ini karena pakai sandi,” ucap Rania. 
Rido langsung mengerti maksud Rania, ia menarik laptop dari dalam tasnya.
"Biar aku coba!"
“Hati-hati, Do! Jangan sampai datanya hilang," pesan Rania.
Rido mengangguk. "Aku bukan hacker hebat, tapi aku coba semampuku."
Rido mengeluarkan kabel data dan mulai menyambungkan ponsel Sarah ke laptopnya.
Beberapa menit berlalu.
Sesekali Rido menggeleng.
"PIN-nya nggak bisa ditembus."
"Tuh, kan..." gumam Nanda kecewa.
"Tapi..." Jari Rido berhenti mengetik.
"Laptopku mendeteksi kalau HP ini pernah melakukan sinkronisasi otomatis."
"Maksudnya?" tanya Tia.
"Kalau aku beruntung..."
Beberapa detik kemudian...
Layar laptop berkedip.
Sebuah folder muncul.
Backup WhatsApp – Sarah
"Nah!"
Semua spontan mendekat.
"Isinya masih ada?" tanya Rania.
Rido membuka folder itu. Ratusan percakapan bermunculan. Sebagian besar biasa saja. Obrolan dengan teman kelas. Grup sekolah. Keluarga.
Namun satu nama langsung menarik perhatian. Galang.
Ruangan mendadak hening.
Rania menelan ludah. "Buka!"
Rido mengklik percakapan itu.
Pesan-pesan terakhir muncul di layar.
Sarah: Aku nggak kuat terus-terusan nyembunyiin kehamilan ini.
Tak seorang pun bersuara.
Rido menggulir layar perlahan.
Galang: Diam. Jangan cerita ke siapa pun! 
Pesan berikutnya.
Sarah: Rania mulai curiga.
Lalu balasan Galang. “Kalau dia terus ikut campur, bikin aja semua orang nganggep dia gila. Biar nggak ada yang percaya sama tulisan ataupun omongannya!”
Tangan Rania mulai gemetar.
Masih ada pesan lain.
Sarah: Aku takut.
Galang: Aku yang urus. Setelah Rania selesai, tinggal kita berdua yang tahu semuanya.
Nanda mundur selangkah.
"Itu... maksudnya apa?"
Tak ada yang menjawab. Mereka terus membaca.
Pesan terakhir dikirim sehari sebelum Sarah meninggal.
Sarah: Aku kesel sama Rania karena dia sering banget posting berita sesukanya. Dia pikir, dia itu hebat? Bisa nggak, kamu musnahin aja cewek satu itu biar nggak ngeribetin hidupku? Aku pengen dia cepet-cepet mati!
Rania, Rido, Nanda dan Tia saling pandang. 
“Ran, Sarah bukan cuma melukai kamu. Tapi dia juga pengen kamu mati,” ucap Tia. 
Rania duduk terdiam sambil menggigiti ujung kuku tangannya. Sepertinya, Galang memang sudah mengincar nyawanya sejak Sarah masih hidup. 
“Apa kita semua bakal tetep aman? Mereka pengen kita bungkam,” tanya Nanda. “Kita nulis berita yang aman-aman aja, deh!”
Rania menggeleng. “Nggak bisa, Nan! Nggak boleh! Kita menulis berita harus jujur dan apa adanya. Nggak boleh menyembunyikan apa pun. Bukan tugas kita menyembunyikan aib orang lain. Itu tugas mereka sendiri! Baik dan buruknya seseorang, kita tulis apa adanya.”
“Bener, Ran!” sahut Rido menambahkan. “Kita harus berpegang teguh pada kejujuran dan integritas. Meski kita masih muda dan sering diremehkan, ini waktu yang tepat buat kita belajar lebih dari yang lain. Termasuk mempelajari tentang kehidupan.”
“Terus, apa yang harus kita lakuin setelah ini?” tanya Nanda.
“Kita makan-makan...!” seru Tia ceria. 
“Selesaikan dulu artikel untuk majalah sekolah minggu ini!” pinta Rania. “Nanti aku traktir kalian.”
Tia, Rido dan Nanda saling pandang sambil menyunggingkan senyuman. 
“Fokus dulu ke kasus Sarah dan Galang!” pinta Rania. 
“Sebenarnya, kita nggak perlu banyak ikut campur soal kematian Sarah. Udah ditangani sama polisi, Ran. Kita main aman aja, deh!” ucap Nanda lagi. 
“Memangnya ada polisi yang bisa dipercaya buat nyelidiki kasus?” tanya Rania. “Kalau buat ngehilangin kasus, baru ada.”
Rido tertawa kecil menanggapi ucapan Rania. 
Kini mereka mengerti mengapa Galang begitu panik kehilangan ponsel itu.
"Kita harus simpan semua bukti ini,” pinta Rania. 
Rido mengangguk. Ia menyalin seluruh isi percakapan ke dalam laptop dan sebuah flashdisk.
"Kalau HP ini hilang lagi, kita masih punya cadangan."
Tanpa terasa, langit di luar mulai gelap. Jam menunjukkan pukul tujuh malam.
"Ayo, kita pulang!” ajak Rania sambil memasukkan ponsel Sarah kembali ke dalam tas.
Tia, Rido, dan Nanda mengangguk bersamaan. Mereka segera merapikan meja kerja masing-masing dan bersiap untuk pulang ke rumah. 
Rania mengendarai sepeda motornya seperti biasa bersama ketiga temannya. Begitu keluar dari gang masuk sekolah, mereka semua berpisah karena arah rumah mereka berbeda-beda. 
Rania sempat berhenti di SPBU untuk mengisi bensin. Ia tidak ingin berangkat ke sekolah terburu-buru dan masih harus mencari bensin di pagi hari. 
Rania tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sedang mengawasinya dari kejauhan. 
Rania melajukan kembali sepeda motornya menuju kawasan perumahan elit di Balikpapan Regency. 
Jalanan tampak lengang. Dikawasan itu, tak pernah ramai kendaraan. Sehingga tidak pernah ada kata macet. 
Tiin.. Tiin ...! 
Suara klakson mengalihkan perhatian Rania. Ia langsung menoleh ke arah sumber suara. Dari jenis dan warna sepeda motor yang digunakan, ia langsung tahu kalau cowok yang kini sudah berada di sampingnya itu adalah Galang. 
“Berhenti atau kutendang motormu!” teriak Galang sambil berusaha menjejak sepeda motor Rania dengan kakinya. 
Rania langsung menepikan sepeda motornya perlahan. “Kamu mau apa?” tanyanya. 
Galang tersenyum sinis sambil menghampiri Rania begitu ia turun dari sepeda motornya. Ia langsung mengeluarkan sebilah pisau yang ia simpan dari balik jaketnya dan menghunuskan ke arah Rania. 
Rania spontan melangkah mundur saat melihat kilau cahaya dari benda tajam yang digenggam Galang.
“Serahin hape itu ke aku!” pinta Galang lembut dengan senyum penuh kebencian. 
Rania menggeleng. “Aku nggak tahu apa yang kamu maksud,” ucapnya. 
“Kamu kira aku bodoh, hah!?” sentak Galang sambil menghunuskan ujung pisaunya ke leher Rania. “Aku punya banyak mata-mata di kota ini. Kamu nggak akan bisa ngelawan aku!”
Rania terdiam. Ia berusaha menelan saliva dengan susah payah saat ujung pisau itu tepat menempel di lehernya.
Galang langsung merebut tas yang ada di tubuh Rania. Ia langsung membalikkan tas tersebut dan semua isinya berserakan di lantai jalanan. Matanya langsung tertuju pada ponsel Sarah yang tergeletak di sana. 
Galang tersenyun miring. “Ini yang kamu bilang nggak tahu?” tanyanya. Ia segera meraih ponsel tersebut dan memasukkan ke dalam saku jasnya. 
Rania bergeming. 
“Aku sudah peringatkan kamu berkali-kali. Jangan campuri urusanku kalau masih sayang sama nyawamu!” ucap Galang menahan amarah di dalam dadanya. 
Galang langsung menarik lengan kiri Rania dan menekankan ujung pisau ke lengan gadis itu hingga cairan merah segar mengucur dari lengan Rania. 
“Aargh ...!” teriak Rania menahan sakit. 
“Ini baru peringatan buat kamu. Kalau sampai kamu masih ikut campur urusanku, kamu nggak akan selamat!”
“Brengsek kamu!” umpat Rania sambil menggenggam lengan kirinya agar darah tidak mengucur semakin deras. “Kami sama Sarah itu sama aja. Sama-sama nggak punya hati!”
Galang tertawa mendengar ucapan Rania. “Aku memang nggak punya hati. Makanya, kamu harus hati-hati!”
Rania menatap tajam ke arah Galang sambil menahan rasa sakit. “Aku nggak ikhlas kamu lukai seperti ini. Kusumpahin hidupmu sial terus!”
“Hahaha.” Galang tergelak mendengar ucapan Rania. “Makan aja sumpahmu yang nggak berguna itu!” ucapnya. Ia langsung berbalik, menaiki motor dan pergi meninggalkan Rania begitu saja. 
“Aaargh...!” Rania menahan amarah yang sudah membakar dadanya. Bagi seorang penulis dan jurnalis, tangan adalah bagian paling penting. Sarah dan Galang benar-benar berniat membuatnya berhenti menulis.
“MATI AJA KAMU!” teriak Rania yang tak lagi mampu mengendalikan emosinya. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di lantai. Ia segera menghubungi orang rumah agar menjemputnya. Sebab, ia tidak bisa lagi mengendarai sepeda motor dengan kondisi lengannya yang terluka. 


(Bersambung...)

Pendamping Nakal Bab 4 : Rahasia yang Tak Ikut Terkubur

Bab 4 – Rahasia yang Tak Ikut Terkubur

Malam itu, langit Balikpapan masih menggantungkan awan gelap. Jalanan yang mengarah ke kawasan Kilometer 24 tampak lengang. Hanya suara jangkrik dan embusan angin yang sesekali menggoyangkan daun-daun kelapa sawit.

Di dalam mobil, Rania memandang ke arah jalan yang mulai ditinggalkan Galang.

"Lanjut, Pak. Tapi jangan terlalu dekat!" pintanya kepada sopir.

"Siap, Neng!"

Mobil kembali bergerak perlahan.

Rania mengepalkan jemarinya. Ia tahu, kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang dua kali.

***

Galang menghentikan motornya di depan sebuah minimarket. Ia masuk beberapa menit untuk membeli air mineral.

Begitu Galang menghilang di balik pintu kaca, Rania segera membuka pintu mobil.

"Aku cuma sebentar."

Ia berlari kecil menuju motor Galang yang masih terparkir di depan minimarket.

Ransel hitam itu masih menggantung di jok belakang.

Rania menarik resletingnya perlahan.

Kotak kecil yang tadi dilihatnya melalui lalat pengintai masih berada di dalam.

"Ketemu..."

Tangannya sedikit gemetar.

Ia membuka kotak itu.

Sebuah ponsel berwarna putih dengan sudut yang retak terlihat di dalamnya.

Rania langsung mengenali gantungan kecil berbentuk bunga matahari yang masih menempel di casing.

"Ini... ponselnya Sarah."

Ia pernah melihat gantungan itu berkali-kali saat Sarah sibuk bermain ponsel di sekolah.

Tanpa berpikir panjang, Rania memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya.

Lalu ia mengambil sebuah batu seukuran ponsel, membungkusnya dengan kain bekas, kemudian memasukkannya kembali ke dalam kotak.

Kotak itu ditutup rapat dan dikembalikan ke posisi semula.

Tidak ada yang tampak berubah.

Rania buru-buru kembali masuk ke mobil.

"Tolong jalan, Pak!"

Mobil melaju meninggalkan minimarket tepat ketika Galang keluar sambil membawa sebotol air mineral.

***

Malam semakin larut.

Sesampainya di rumah, Rania langsung mengunci pintu kamar.

Ia mengeluarkan ponsel milik Sarah.

Layar ponsel itu mati total.

"Apa baterainya habis?"

Rania mencari kabel pengisi daya yang kebetulan cocok.

Beberapa detik kemudian...

Logo ponsel menyala.

"Syukurlah..."

Namun sebelum layar utama muncul, permintaan PIN langsung memenuhi layar.

Rania mengembuskan napas panjang.

"Masih dikunci..."

Ia mencoba tanggal lahir Sarah.

Salah.

Nama sekolah.

Salah.

Tanggal kematian.

Salah.

Ponsel itu menampilkan tulisan:

Kesempatan tersisa: 7 kali.

Rania mengurungkan niatnya.

"Jangan gegaba!" Ia mematikan kembali layar ponsel. "Kalau sampai terkunci permanen, malah kacau. Tapi, ada Rido yang jago teknologi. Sepertinya, mudah buat dia buka ponsel ini. Besok aja, deh." Ia memasukkan ponsel itu ke dalam laci meja belajarnya.

***

Keesokan harinya.

Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Rania berjalan sendirian menuju parkiran. Belum sempat ia mengambil helm, sebuah tangan menahan stang motornya.

Galang.

Tatapan matanya jauh lebih dingin dibanding pertemuan mereka sebelumnya.

"Aku mau ngobrol!"

"Aku lagi buru-buru."

"Aku nggak tanya!"

Rania menatap lurus ke arah Galang.

"Ada apa?"

Galang melangkah mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa puluh sentimeter.

"Kamu ngikutin aku kemarin."

Rania terdiam. "Ngikutin?" tanyanya santai.

"Jangan pura-pura!"

"Aku nggak ngerti maksudmu."

Galang tersenyum tipis. "Mobil hitam itu udah dua kali aku lihat di kaca spion. Mobilmu, kan?"

Jantung Rania berdetak lebih cepat. Namun wajahnya tetap tenang. "Mungkin cuma kebetulan aja jalan kita searah."

"Kebetulan?" Galang tertawa pelan. "Kebetulan kamu berhenti waktu aku berhenti. Kebetulan kamu ada di Kilometer Dua Empat?"

"Aku ke Kilometer Dua Empat karena mau ke rumah saudaraku. Emang kamu ke sana juga? Aku nggak lihat!" sahut Rania. 

"Oh, ya? Kebetulan juga setelah itu ada orang yang buka tasku."

Rania mengedikkan bahu dengan santai. "Apa hubungannya orang itu sama aku?"

Galang kini menatap geram ke arah Rania. Ia sangat kesal dengan wajah Rania yang begitu santai dan tidak merasa bersalah sama sekali. Ia yakin, gadis yang membuka ranselnya di parkiran adalah Rania. Meski gadis itu memakai masker dan topi, tapi postur tubuh Rania bisa ia kenali. Terlebih, ransel yang dipakai Rania sama persis dengan ransel milik gadis itu. 

"Jangan pernah ikut campur urusanku!" Suara Galang berubah pelan. Justru karena pelan, ancamannya terdengar lebih mengerikan.

"Kalau rahasiaku sampai terbongkar..." Ia mencondongkan wajahnya. "Aku bakal bunuh kamu!"

Hening.

Suara burung di halaman sekolah seperti ikut menghilang.

Rania menatap balik tanpa mundur sedikit pun.

"Kamu lagi ngancam aku?"

"Bukan." Galang tersenyum tipis. "Aku cuma ngasih tahu apa yang bakal terjadi." Ia menepuk pelan pundak Rania.

"Kamu nggak bisa main tuduh tanpa bukti. Kalau kamu nggak bisa buktikan itu aku, maka jangan ganggu!"  pinta Rania. 
"Kamu pikir aku nggak punya bukti? Di sana ada CCTV. Kamu lupa?" sahut Galang sambil tersenyum sinis. 

Rania terdiam. Kali ini ia tidak memiliki alibi untuk membantah ucapan Galang. 

"Mana hape yang kamu ambil?" tanyanya. 

Rania mengedikkan bahu. "Aku nggak tahu."

Galang langsung menyambar leher Rania dan mencengkeramnya dengan erat. 

"Kalau hape itu nggak kembali ke tanganku dalam waktu 24 jam, aku ambil nyawamu!" ancamnya. 

Rania terdiam. Ia hanya menahan rasa sakit di lehernya karena cengkeraman Galang semakin kuat. "Lepasin!" pintanya lirih sambil berusaha menepis tangan Galang yang kokoh. 

"Hei ...! Jangan kasar sama cewek!" seru Rido sambil mendorong tubuh Galang agar berhenti mencekik Rania. 

Galang tersenyum sinis. "Anak Mading sialan!" umpatnya sambil meludah ke tanah.

"Kalau sampai ada berita tentang aku, kalian semua nggak akan selamat! "

Rania menarik napas dalam-dalam sambil memegangi lehernya yang terasa nyeri. Cengkeraman tangan Galang membekas jelas di kulit Rania yang putih. 

Galang melangkah pergi dengan perasaan tak karuan. Ia sangat kesal karena Rania tak mau mengakui perbuatannya. Sementara, ia sangat membutuhkan ponsel Sarah. Jika sampai ada orang yang bisa membuka ponsel itu, seluruh hidupnya akan habis. Ia tahu, Sarah pasti belum menghapus isi chat-nya sebelum dia meninggal. 

"Galang brengsek!" umpat Rania yang masih menahanbrasa sesak. 
"Sabar, Ran! Lagian dia berani banget giniin kamu di sekolah saat lagi rame kayak gini. Gimana kalau dinluar sekolah?" ucap Rido. 
"Kalau dia sampai sepanik ini, artinya ada rahasia besar yang dia sembunyikan," ucap Rania pelan. 
"Emangnya ada masalah apa antara kamu sama Galang?" tanya Rido. 
"Nanti aku ceritain! Ajak anak-anak ngumpul di ruang mading jam empat sore! Aku pulang dulu. Ada hal penting yang mau aku tunjukkan ke kalian. Jangan lupa bawa perlengkapan IT kamu! Aku perlu bantuanmu," ucap Rania. 
Rido mengangguk sambil menahan senyum di bibirnya. Ia merasa sangat bahagia ketika kemampuannya dibutuhkan oleh Rania. Dia bisa sembari belajar dan mengasah kemampuannya sebagai hacker. 


((Bersambung...))

Tuesday, June 30, 2026

Partner Kondangan Bab 12 : Be Wife (TAMAT)

 



Alluna menatap cincin yang melingkar di jemari manisnya sambil tersenyum. Akhirnya, ia resmi menjadi tunangan Evan Noah. Cowok yang sudah lama mendampingi hari-harinya. Bukan hanya tentang bagaimana mencintai dalam suka dan duka. Tapi, mereka juga merasakan jatuh bangunnya membangun sebuah usaha untuk masa depan mereka dan anak-anak mereka kelak.

“Permisi, Bu ...,” sapa salah satu karyawan Alluna sembari membuka pintu ruang kerja Alluna.

“Ya. Masuk!”

“Ini desain terbaru yang ibu minta,” ucapnya sambil membawa box transparan yang berisi beberapa desain sepatu terbaru.

“Oke. Taruh di meja, ya!” pinta Alluna. Ia langsung meraih ponsel yang tiba-tiba berbunyi. “Hallo... Kak Daren apa kabar?” tanya Alluna dengan wajah sumringah.

“Baik, kamu di mana?” tanya Daren dari ujung telepon.

“Di Galleri, Kak. Kakak kapan pulang?”

“Masih banyak kerjaan di sini. Minggu depan bisa ke sini?”

“Hah!? Ke Singapura? Ngapain?”

“Ada, deh. Pokoknya lo harus dateng bareng Evan!” tegas Daren.

“Evan? Dia lagi sibuk banget sekarang. Besok dia berangkat ke Papua.”

“Ngapain dia ke Papua?”

“Buka cabang perusahaan baru di sana.”

“Yaelah, dia kan bos. Ntar gue telpon dia, deh. Dia bisa aja ninggalin kerjaannya sehari dua hari doang. Anak buahnya kan banyak.”

“Yah, ntar gue coba ngomong sama dia. Penting banget emang?” tanya Alluna.

“Penting! Ini tentang masa depan kalian,” tegas Daren.

Alluna menghela napas. “Sejak kapan lo mikirin masa depan kita?”

“Udah, deh. Nggak usah ngajak berantem! Pokoknya, tanggal 17 lo udah harus di sini. Sore ini, Mama sama Papa sampe ke Singapura.”

“Ada apa, sih? Kok, lo sampe nyuruh Mama sama Papa ke sana? Lo nggak sakit keras, kan?”

“GUE LAGI SAKIT KERAS! Dan lo nggak peduli, hah?”

“Kak ... serius, deh. Ada apa?”

“Pokoknya lo harus ke sini. Kalo enggak, lo bakal nyesal seumur hidup!” tegas Daren langsung memutuskan sambungan telepon.

“Kak ...!” Alluna memandang layar ponselnya yang menunjukkan kalau panggilannya sudah berakhir.

Alluna menarik sweeter yang tergantung di kursi kerjanya. Ia bergegas keluar untuk menemui Evan secepat mungkin.

“Eh, Van? Kebetulan banget kamu ke sini,” ucap Alluna yang melihat Evan datang saat ia akan keluar dari Galleri.

“Kenapa?” tanya Evan bingung.

“Daren barusan nelpon gue. Katanya, kita disuruh ke tempat dia minggu depan. Aku bener-bener khawatir, nih. Soalnya, Mama sama Papa juga disuruh ke sana sama dia. Aku takut dia kenapa-kenapa. Gimana kalau kita nyusul Mama dan Papa aku juga sore ini ke Singapura?” cerocos Alluna.

Evan tertawa kecil melihat sikap Alluna yang terlihat panik.

“Kok, ketawa?” dengus Alluna kesal.

“Aku udah tahu. Kita ke sana kalo aku udah balik dari Papua,” jawab Evan sambil tersenyum, tangannya menyentuh pundak Alluna agar cewek kesayangannya itu bisa menjadi lebih tenang.

“Di Papua berapa hari?” tanya Alluna.

“Lima hari.”

“Lama banget.”

“Kenapa? Kamu nggak tahan kangen?”

“Kamu sendiri?”

“Nggak tahan, sih. Gimana kalau kamu ikut aja ke Papua?”

“Ngapain di sana? Kamu kerja.”

“Aku kerja, kamu bisa jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Papua.”

“Nggak, ah. Masa kamu kerja, aku jalan-jalan sendirian. Nggak asyik banget!”

“Hehehe ... jadi, nggak mau?”

Alluna menggeleng.

“Tapi ... kalo aku ajak makan siang, mau?” tanya Evan sembari menyodorkan wajahnya.

Alluna tersenyum kecil sembari menganggukkan kepalanya. Evan langsung menggandengnya keluar dari Galleri, menuju restoran favorite mereka.

***

Alluna tidak menyangka kalau ia akan mendapat kejutan istimewa dari kakaknya di Singapura. Diam-diam, Daren memboyong kedua orang tua dan keluarga kecilnya untuk melakukan sebuah prosesi lamaran di Singapura. Alluna bahkan tidak pernah tahu siapa pacar kakaknya. Tiba-tiba saja, Daren langsung meminta kedua orang tuanya untuk melamar gadis pujaan hatinya. Gadis asal Indonesia yang tinggal menetap di Singapura.

“Kenalin, dia Selena. Calon kakak ipar kamu,” tutur Daren usai melangsungkan prosesi lamaran yang hanya dihadiri oleh keluarga saja.

Selena mengulurkan tangannya sembari tersenyum dan langsung dibalas oleh Alluna. “Alluna,” ucap Alluna menyebutkan namanya.

“Nama yang cantik, sama seperti orangnya,” puji Selena.

“Ini tunangan Alluna.” Daren menunjuk Evan yang berdiri di samping Alluna.

“Oh ya? Jadi, mereka udah lebih dulu tunangan?” tanya Selena.

“Iya, pacaran dari SMA sampe sekarang. Tapi, mereka nggak akan menikah sebelum kita menikah,” bisik Daren.

“Oh, ya? Why?”

Alluna dan Evan saling pandang sambil tersenyum kecut.

“Kita nikah tiga tahun lagi. Nggak sabar gue,” celetuk Daren.

Alluna membelalakkan matanya begitu mendengar ucapan Daren. “What!? Tiga tahun?” batinnya dalam hati.

“Sayang, kamu nggak boleh gitu sama adik kamu sendiri.” Selena melirik tajam ke arah Daren. “Yang bener, tiga bulan lagi,” bisik Selena sembari menyondongkan wajahnya ke wajah Alluna.

Mata Alluna berbinar mendengar ucapan Selena. Ia menatap Evan yang juga tersenyum bahagia. Evan merengkuh bahu Alluna dengan lembut sembari tersenyum menatap Daren. “Kasih tahu gue WO yang recomended banget menurut kalian!”

“Asyiaap!”

Pada akhirnya, semua orang pasti akan menikah. Hanya waktu saja yang membuat mereka berada di tempat dan cara yang berbeda.

Sebagian orang takut dengan pertanyaan “Kapan nikah?” karena berpikir dirinya adalah bagian dari orang yang tidak laku, tepatnya belum laku-laku. Tapi, sebagian lagi merasa bangga dengan pertanyaan tersebut karena mereka punya waktu menata masa depan mereka dengan baik. Sebab cinta adalah tentang bagaimana berjuang bersama, bukan membuat dia berjuang sendiri untuk kita.

Alluna memilih tetap bertahan dengan komitmennya untuk tidak menikah muda. Bukan karena dia tidak siap menjadi seorang ibu di usia muda. Dia hanya tidak siap jika tidak bisa memberikan masa depan yang baik untuk anak-anaknya kelak. 

Sebab menikah bukan hanya soal aku cinta kamu dan kamu cinta aku. Menikah bukan soal bagaimana kita bisa hidup bersama selamanya. Ada hal lain yang akan kita perjuangkan, yakni masa depan anak-anak ... masa depan buah cintanya.

Alluna bukan hanya mencintai Evan, bukan hanya menerima kekurangan Evan saja. Dia juga harus mencintai keluarganya, menerima kelebihan dan kekurangan keluarganya. Begitu juga sebaliknya.

Menikah ... bukan hanya menyatukan dua insan yang berbeda, bukan hanya menyatukan dua hati yang saling mencintai. Menikah ... menyatukan dua keluarga yang berbeda untuk saling menyayangi dan melengkapi.

Alluna bahagia karena ia bisa mengenakan gaun pengantin bersama Evan, bukan sebagai model bayaran. Tapi, ia sungguhan memulai kehidupan barunya sebagai seorang istri. Istri dari seorang pria yang menyayangi dan mencintai dia apa adanya. Istri dari seorang pria yang tidak akan membiarkan dirinya terluka. Istri dari seorang pria yang telah berjuang memberikan masa depan yang baik untuk anak-anak mereka kelak.

“Terima kasih sudah menjadi wanita yang mencintai aku apa adanya. Yang menemani aku dalam suka dan duka. Yang selalu memberi maaf saat aku khilaf dan lupa. Yang selalu memberi aku semangat saat aku jatuh. Jadilah ibu terbaik untuk anak-anak kita!” ucap Evan lirih kemudian mengecup kening Alluna penuh kelembutan.

SELESAI ...

Terima kasih untuk kalian yang sudah berkenan membaca tulisanku ini. Semoga aku makin semangat menulis cerita-cerita terbaru.



Partner Kondangan Bab 11 : My Bestie Wedding Party


Usai liburan di Paris. Alluna menjalani aktivitas seperti biasa. Setiap hari pergi kuliah bersama Evan. Ia tidak pernah diizinkan pergi sendiri karena Evan takut kalau Joni akan kembali mendatangi Alluna saat ia masih lengah. 

Joni memang sempat ditahan pihak kepolisian, tapi dia tidak dipenjara. Namun, sejak kejadian itu ia tidak pernah lagi muncul di kampus atau pun di hadapan Evan.  Sama seperti Stella yang terlihat tak pernah mendekati Evan lagi. Tiba-tiba saja dia berubah, bahkan ia sekarang sudah menggandeng cowok lain. Jelas saja hal ini membuat hubungan Alluna dan Evan bisa semakin harmonis.

“Selamat siang ...!” sapa seorang cowok berjas hitam saat Alluna sedang menunggu Evan di salah satu restoran cepat saji.

“Siang,” jawab Alluna.

“Alluna, ya?”

“Iya, bener. Kok, tahu?”

“Kenalin, aku Andre,” jawab cowok itu sembari mengulurkan tangannya.

Alluna membalas uluran tangannya tanpa menyebutkan nama.

“Kemarin aku lihat kamu nyanyi di acara tunangan Rani dan Jono. Suara kamu bagus,” puji cowok itu sembari duduk di kursi yang ada di hadapan Alluna.

“Makasih.”

“Aku mau nawarin kamu jadi penyanyi untuk WO aku.”

Alluna menatap cowok yang ada di hadapannya. Ia masih belum tahu harus berbuat apa. Ia cuma berharap cowok ini segera pergi sebelum Evan datang dan melihatnya bersama cowok asing. Cowok ini lumayan tampan, sangat berpotensi membuat Evan cemburu buta.

“Oh ... ini kartu nama aku. Kalau kamu berminat, bisa hubungi aku.” Andre menyodorkan kartu nama dan meletakkannya di meja.

“Oke, aku pikirin dulu. Sekarang bisa pergi?” tanya Alluna sambil tersenyum.

“Oh, ya. I see ... lagi nunggu seseorang ya?”

Alluna mengangguk.

Andre bangkit dari tempat duduk. Ia mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Alluna. “Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik,” bisiknya sembari mengedipkan mata. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Alluna.

Alluna bernapas lega karena cowok itu segera pergi dari hadapannya.

“Siapa dia?” tanya Evan yang sudah berdiri di samping Alluna.

“Eh!? Kamu kok udah di sini? Udah dari tadi?” tanya Alluna balik.

“Baru aja. Dia siapa?” tanya Evan lagi.

“Duduk dulu. Mau aku pesenin apa?” tanya Alluna.

“Dia siapa?!”

“Nanti aku kasih tahu. Duduk dulu!” pinta Alluna sambil meraih lengan Evan agar duduk di hadapannya.

“Kamu nggak coba buat cari cowok lagi, kan?”

“Iih, kamu curigaan mulu. Nih!” Alluna menyodorkan kartu nama yang sedari tadi di mejanya.

Evan membaca kartu nama tersebut. “Oh, kamu ngomongnya nggak mau nikah tapi diam-diam nyiapain pernikahan buat kita?” tanya Evan sambil tertawa kecil.

“Idih, pede amat! Bukan, bukan aku yang mau nikah.”

“Trus? Sodara?”

“Bukan.”

“Jadi?”

“Dia nawarin aku buat jadi penyanyi di WO dia itu.”

“Oo ... terus?”

“Aku nggak tau mau nerima tawaran dia atau enggak,” jawab Alluna lesu.

Evan tertawa kecil melihat Alluna yang memasang wajah murung di hadapannya. “Kenapa bingung? Bukannya nyanyi jadi salah satu hobi yang paling kamu suka?”

“Iya, sih. Tapi, apa kamu suka aku jadi penyanyi?”

Evan tergelak. “Kamu kenapa sih? Pertanyaan kamu aneh, deh. Kita udah sering nyanyi bareng. Kenapa mesti nanya begitu?”

“Beda kalo nyanyi di rumah sama di tempat umum. Kamu nggak takut kalo nanti ada cowok lain yang godain aku, kayak si Joni?”

Evan menahan tawa mendengar ucapan Alluna. “Kayaknya, aku udah mulai kebal sama kayak gitu.”

“Jadi, aku boleh ambil tawaran nyanyi?” tanya Alluna.

Evan mengangguk.

“Makasih...!” ucap Alluna sumringah sembari menggenggam kedua tangan Evan.

“Yang penting, tetap utamain keluarga dan pacar kamu!” pinta Evan sambil tersenyum.

Alluna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Mmh ... terus rencana aku bikin usaha sepatu gimana?”

Evan menaikkan kedua alisnya. “Nanti aku bantu. Jangan ambil job nyanyi terlalu banyak!”

Alluna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

***

Alluna mulai sibuk dengan job menyanyi sekaligus menjalani kesibukan barunya memulai usaha sepatu.

“Lun, kenapa lo nggak bikin channel youtube kayak Evan? Lo kan tetep bisa nyanyi tanpa harus manggung sana-sini?” tanya Rani saat mereka sedang berkumpul di apartemen Austin.

“Iya, Lun. Lo kan bisa duet tuh sama Evan. Suara kalian bagus.”

“Mmh ... gue pikir-pikir dulu, deh.”

“Yaelah ... pake dipikir-pikir segala? Langsung eksekusi aja!” sahut Rani.

“Nggak semudah itu, Ran. Lagian konten di youtube itu lebih banyak peminatnya kalo kita bikin sensasi, ngerjain orang, pamer harta, pamer punya pacar kaya raya ...,”

“Ya udah, lo bikin kayak gitu aja. Lo kaya, Evan juga pengusaha. Lo bisa pamer barang-barang branded lo atau pamer naik jet pribadinya Evan,” celetuk Hastri.

PLETAK!

Alluna menjitak kepala Hastri. “Nggak sampe punya jet pribadi juga kali dia.”

“Yee, mana tau rezeki. Bisa aja perusahaan Evan makin besar dan dia makin kaya raya,” sahut Austin.

“Aamiin.”

“Lihat ini deh!” Austin melempar majalah bisnis ke pangkuan Alluna.

“Cowok lo jadi headline di majalah bisnis. Kayaknya dia bener-bener kerja keras akhir-akhir ini sampe bisa bikin dua anak perusahaan sekaligus,” tutur Austin.

Alluna langsung membuka majalah dan membaca berita tentang Evan Noah yang membuka dua anak perusahaan di Singapura dan Thailand. “Ah ... pacar gue emang keren!” ucap Alluna dengan mata berbunga-bunga.

“Tapi, kenapa dia belum ngelamar lo sampe sekarang? Dia udah punya semuanya. Emang nunggu apa lagi?” tanya Rani.

“Nunggu gue kelar kuliah.”

“Emang yakin kuliah lo bakal kelar?” tanya Hastri.

Alluna langsung menepuk kepala Hastri menggunakan majalah yang dipegangnya. “Enak aja lo ngomong. Ya, bakal kelar, lah,” jawab Alluna yang diiringi gelak tawa ketiga sahabatnya.

“Eh, gue punya gosip terbaru. Mau denger, nggak?” tutur Hastri.

“Gosip apaan?” tanya Rani.

“Tentang siapa?” tanya Alluna.

“Tentang gue, dong!” jawab Hastri sumringah.

Alluna dan Rani saling pandang sambil mencebik. Sementara Austin hanya tersenyum melihat tingkah mereka.

“Idih, serius ini gue!”

“Iya, deh. Apa?” tanya Rani dan Alluna bersamaan.

“Bulan depan, gue mau lamaran!” ucap Hastri sambil berjingkrak kegirangan.

Alluna, Rani dan Hastri saling pandang. “SERIUS?!”

Hastri mengangguk sambil tersenyum.

“Selamat ya!” ucap ketiga sahabat Hastri dan langsung berpelukan erat layaknya teletubbies.

“Berarti tinggal kalian berdua nih yang belum ada kabar kapan mau nikah?” tanya Hastri menunjuk Alluna dan Austin.

“Gue, nunggu dia dulu. Nggak etis kalo adik nikah duluan, kan?” jawab Austin.

“Hahaha. Doain aja, semoga Evan cepet ngelamar gue! Aamiin.” ucap Alluna sambil menengadahkan kedua tangannya dan mengusapkan di wajahnya.

“Iya. Jangan kondangan mulu, dikondangin juga, dong!” canda Rani.

“Artis kondang?”

“Artis kondangan!”

“Hahaha.”

***

Seiring berjalannya waktu, hubungan Evan dan Alluna selalu menuai pertanyaan, “Kapan kalian nikah?” atau “Kapan kalian nyusul?” setiap kali menghadiri acara pernikahan teman atau keluarga.

“Van, kenapa ya setiap kali kita ke pesta atau ngumpul sama temen atau keluarga. Mereka selalu nanyain kapan kita nikah?” tanya Alluna saat ia berada di apartemen Evan.

“Kenapa? Kamu mulai nggak nyaman sama pertanyaan itu?”

Alluna hanya diam sembari menatap layar televisi yang ada di depannya. Mulutnya yang sibuk menggigit jari menunjukkan kegelisahan dalam hatinya.

“Besok, aku bakal ngomong sama orang tuaku. Supaya kita bisa menikah secepatnya.”

“Jangan, Van!”

“Terus, mau kamu gimana?”

“Aku belum pengen nikah muda.”

Evan menghela napas. “Kenapa kamu terganggu sama pertanyaan orang-orang itu?”

“Nggak.”

“Aku lihatnya begitu.”

“Enggak, Evan. Aku baik-baik aja.”

“Aku juga nggak mau orang-orang menilai kalau aku tuh nggak pernah serius sama kamu.”

“Aku tahu kamu serius.”

“Tapi kenapa kamu nggak mau aku lamar?” tanya Evan.

“Aku belum siap, Van.”

“Mau sampe kapan kamu siapnya? Sampe ada cowok lain yang datang ke kamu, bikin kamu jatuh cinta dan kamu ninggalin aku?”

“Van, kamu kok ngomongnya gitu, sih?” Alluna menatap wajah Evan yang terlihat menahan kecewa.

“Lun, aku tuh dari dulu udah ngajak kamu nikah. Bahkan dari saat aku lulus SMA. Sampai sekarang, kuliah kamu tinggal 4 semester lagi. Aku masih di sini. Masih ngajak kamu nikah dan kamu selalu nolak. Kenapa?” Suara Evan mulai meninggi.

“Aku belum siap, lagipula Daren belum nikah,” jawab Alluna.

“Soal Daren itu bukan perkara sulit, Lun. Yang sulit itu ini!” Evan menoyor dada Alluna dengan jari telunjuknya.

DEG!

Jantung Alluna terasa berhenti berdetak. Ia bergeming menatap bayangan dirinya sendiri. “Apa iya karena hatinya sendiri? Kenapa hatinya masih menolak permintaan Evan untuk menyatukan cinta mereka dalam ruang yang sejati. Sejatinya, cinta tidak akan pernah menolak apa pun. Sekalipun itu rasa sakit, cinta akan selalu menerimanya.”

“Aku belum siap,” ucap Alluna lirih.

“Ya udah, aku juga nggak maksa. Kamu juga jangan terlalu mikirin pertanyaan orang soal pernikahan. Kita senyumin aja kayak biasanya,” tutur Evan sambil tersenyum.

Alluna membalas senyuman Evan. Evan mengusap ujung kepalanya. “Satu jam lagi aku mau ketemu sama klien. Mau ikut?” tanya Evan.

“Nggak, ah. Aku capek. Mau istirahat aja,” jawab Alluna.

“Oke. Jangan ke mana-mana sampai aku pulang!” Evan masuk kamar dan keluar dalam keadaan sudah rapi.

“Aku berangkat dulu, ya!” pamit Evan sembari mengecup bibir Alluna.

“Hati-hati ya!”

Evan mengangguk, ia melangkahkan kakinya menuju pintu. Bukannya segera keluar, ia malah membalikkan tubuhnya menatap Alluna yang masih duduk di sofa. Ia berjalan menghampiri Alluna dan mengecup keningya dengan lembut.

Alluna tersenyum, bangkit dari duduknya dan menemani Evan sampai ke luar pintu apartemennya.

“Beneran nggak mau ikut?” tanya Evan lagi.

“Iya. Aku mau istirahat.”

“Ya udah. Mau dibeliin makan apa?”

Alluna menggeleng.

“Kenapa?”

“Nggak laper. Lagian, abis kamu selesaikan kerjaan, kita mau ke rumah Rani. Bantu persiapan pernikahannya besok. Makan di sana aja, deh. Aku juga kangen masakan mamanya Rani.”

“Astaga!” Evan menepuk jidatnya. “Iya. Aku lupa.” Evan meraih jemari tangan Alluna. “Aku usahain pulang lebih cepat.”

Alluna mengangguk. Evan berlalu pergi meninggalkan apartemen. Sementara Alluna memilih untuk tidur di apartemen Evan.

***

Pernikahan Rani berlangsung di Pulau Dewata, Bali. Hal ini membuat Evan dan Alluna juga akhirnya pergi ke Bali untuk menghadiri acara pernikahan Rani.

“Kenapa mereka pilih Bali?” tanya Evan saat mereka tiba di Inaya Putri Bali Resort.

“Banyak artis memilih menikah di Bali. Alasannya, karena Bali tempat yang indah dan romantis,” jawab Alluna sembari merebahkan tubuhnya ke atas kasur.

“Gila aja, mereka booking kamar buat kita. Emangnya mau diajak honeymoon sekalian, ya?” Evan membuka gorden dan langsung mendapati pemandangan kolam renang di teras kamar mereka. “Berenang, yuk!” ajaknya.

“Gak, ah. Capek. Mau tidur,” sahut Alluna sembari menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal.

Evan melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Alluna. Ia berjalan perlahan mendekati ranjang Alluna, kemudian mencondongkan tubuhnya tepat di atas Alluna yang sedang berbaring. “Berenang atau gue tidurin?”

“Dua-duanya asyik,” sahut Alluna sambil tersenyum nakal.

“Udah mulai nakal, ya....” Evan langsung memeluk tubuh Alluna dan menggelitik pinggangnya sampai Alluna kelelahan tertawa.

“Udah, Van. Aku capek ketawa. Lihat ini jam berapa? Tiga jam lagi acara pemberkatan Rani dan Jono. Aku mandi.” Alluna langsung turun dari ranjang, membuka isi koper untuk mengambil peralatan mandi miliknya dan bergegas masuk ke kamar mandi.

“Kamu berenang aja dulu!” teriak Alluna.

“Oke.”

***

Acara pemberkatan pernikahan Rani dan Jono dilaksanakan di tepi pantai. Suasana yang sungguh indah dan romantis. Hanya dihadiri oleh keluarga dan sahabat-sahabat, menjadikan momen pernikahan ini terasa begitu sakral. Evan dan Alluna duduk berdampingan saat acara pemberkatan Rani dan Jono alias Jonathan Obey berlangsung.

Alluna sangat gugup, ia sempat menatap Hastri dan Austin yang juga duduk di deretan kursi yang sama. Alluna meraih tangan Evan dengan gemetar. Evan yang mengetahui hal itu, langsung memasukkan jemari tangannya ke sela-sela jemari tangan Alluna. Tangan satunya mengusap punggung tangan Alluna dengan lembut. Entah kenapa, Alluna benar-benar gugup ketika harus menyaksikan acara pernikahan yang benar-benar sakral.

Alluna menitikan air mata, tangan satunya menyentuh paha Hastri yang langsung direspon oleh sahabatnya itu. Bagi Alluna, ini adalah momen paling membahagiakan, paling mengharukan sekaligus momen di mana ia akan kehilangan banyak waktu bersama sahabatnya.

Alluna membayangkan hari-hari saat ia masih bersama dengan Rani. Sejak masa SMA, mereka menghabiskan waktu bersama. Makan bareng, bolos bareng, jalan bareng, sampai mandi bareng dalam satu kamar mandi. Itu momen yang tidak akan pernah terjadi lagi dalam hari-harinya yang akan datang. Sahabatnya telah memilih laki-laki yang akan mendampinginya dalam suka dan duka.

“Semoga kalian bahagia.” Alluna tersenyum sembari mengusap air matanya saat pemberkatan telah usai.

Tiba saat yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Acara pelemparan bouquet bunga dari sang pengantin. Kata orang, siapa yang mendapat bouquet bunga itu akan segera menyusul menjadi pengantin. Semua orang yang belum punya pasangan berkumpul dan menanti bouquet bunga itu jatuh ke tangan mereka.

Evan dan Alluna memilih tidak berkerumun, mereka hanya menyaksikan dari belakang sembari tersenyum melihat momen tersebut. Bagi Alluna, ia tidak perlu menerima bouquet bunga itu karena dia belum berkeinginan untuk menikah sebelum kakak kandungnya menikah.

“Satu ... Dua ... Tiga ...!” Rani membelakangi para tamu, ia melemparkan bouquet bunga ke arah belakang dengan kuat. Semua berteriak dan berusaha mengambil bouquet tersebut. Tak disangka kalau bouquet tersebut melayang tinggi dan jatuh tepat di genggaman Evan.

Alluna langsung menoleh ke arah Evan yang tersenyum saat mendapat bouquet bunga di tangannya. “Kita sudah coba menghindari, tapi Tuhan menakdirkan bunga ini jatuh di tanganmu. Lucu banget, sih.”

“Semoga kita benar-benar berjodoh.” Evan merangkul pundak Alluna dan mengecup pelipis kanannya. “Woii....! Doain kita cepetan nyusul!” teriak Evan penuh bahagia. Ia menarik tangan Alluna dan mengajaknya ke tepi pantai.

Rani dan Jono tersenyum bahagia menyaksikan dua sejoli yang terlihat begitu romantis bercanda tawa sembari memainkan air laut.

“Kebahagiaan hari ini bukan cuma milik pengantin, tapi milik kita semua,” ucap Hastri yang sudah berada di belakang Rani bersama Austin dan pasangan mereka.

Rani langsung merangkul dua sahabatnya penuh bahagia. Mereka berdiri menyaksikan Alluna dan Evan yang berlari-larian di bibir pantai sambil tertawa bahagia.

“Lun, pada akhirnya kita harus bahagia.” Evan meraih jemari tangan Alluna dan menggenggamnya dengan erat.

“Seperti mereka ...,” ucap Alluna sembari menyandarkan kepalanya di pundak Evan. Mereka sama-sama menatap air laut yang berkilauan terpapar sinar mentari.



((Bersambung...)) 



Partner Kondangan Bab 10 : A Little Ghift in Versailes Palace

 

Butuh waktu lebih dari 16 jam untuk bisa sampai ke Paris. Evan, Alluna dan Daren duduk berdampingan di atas pesawat Qatar Airways QR-957 Boeing 787. Sedangkan Mama Alluna terpisah, ia berada di kursi sebelah Daren.

Evan menatap wajah Alluna yang sudah tertidur pulas.

“Dia tidur?” tanya Daren.

Evan mengangguk.

“Tukang tidur memang. Kalo dibiarin, dia nggak bangun-bangun tuh sampe kita balik ke Indonesia lagi,” celetuk Daren.

Evan hanya tertawa kecil sembari merapatkan jaketnya.

“Van, lo serius sama adik gue?” tanya Daren tanpa menatap Evan.

“Serius,” jawab Evan datar.

“Kalian pacaran udah lama. Nggak pengen ke tahap yang lebih serius?”

Evan menoleh ke arah Daren. “Maksudnya ... tunangan gitu?”

Daren menganggukkan kepalanya. “Engaged or married?

Evan tertawa tanpa mengeluarkan suara. “Gue pengen, tapi dianya belum mau.”

“Bukannya dia pengen banget dilamar sama lo?”

Evan menatap Daren serius. “Serius, Bang?” tanya Evan balik. “Selama ini kalau gue bahas soal nikah, dia ngeles mulu.”

“Yaelah, namanya juga cewek. Sok jual mahal aja tuh dia. Waktu itu dia vidcall gue, katanya lo ngajak merit tapi muka lo nggak ada serius-seriusnya. Dia ngarep banget tuh sebenarnya,” bisik Daren sambil mengintip Alluna yang masih terlelap. Ia takut ketahuan kalau dia membocorkan rahasia adiknya.

Evan tertawa kecil, membayangkan saat dirinya iseng mengajak Alluna menikah dan gadis itu selalu menolaknya.

“Apalagi pas kemarin dia bilang si Rani lamaran. Dia kirim ini.” Daren menunjukkan foto acara pertunangan Rani dan Jono yang dikirim Alluna.

“Rani udah tunangan malam ini. Pacaran belum sebulan udah dilamar. Gue pacaran hampir 4 tahun, nggak dilamar-lamar sama Evan.” 

Evan membaca pesan yang dikirim setelah Alluna mengirim foto pertunangan Rani ke kakaknya.

“Trus gue harus gimana?” tanya Evan.

Daren meletakkan punggung tangannya di dahi Evan. “Lo sehat, kan?”

“Ck, gue takut ditolak.”

Daren tergelak mendengar ucapan Evan. “Astaga! Kalo dia mau nolak, udah lama kalian putus. Lagian, apa sih yang diharepin seorang cewek dari hubungan yang sudah berjalan lama? Married, kan?”

Evan tersenyum membayangkan dirinya akan menikah dengan gadis yang ia cintai. “Emangnya lo nggak keberatan kalo kita merit duluan?” tanya Evan.

“Keberatan lah,” jawab Daren spontan.

Evan membelalakkan matanya. “Gimana sih? Katanya suruh ngelamar, tapi nggak boleh nikah duluan?” batin Evan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kalian boleh tunangan, tapi nggak boleh nikah duluan dari gue. Enak aja! Mau ditaruh mana muka ganteng gue ini kalo sampe adik gue yang nikah duluan?” celetuk Daren.

“Lo udah punya calon?”

“Ya ... belum, lah,” jawab Daren.

“Lama, dong?”

“Ya, ntar gue langsung nikah aja. Nggak usah pacaran lama-lama,” sahut Daren.

“Yang udah pacaran aja nikahnya lama. Apalagi yang enggak?”

Daren menggaruk kepalanya. “Jangan desak gue buat cepet nikah supaya kalian bisa cepet nikah juga!”

“Enggak, lah.” Evan tersenyum penuh arti. “Asalkan lo bolehin gue nikahin Alluna duluan.”

Daren melirik tajam ke arah Evan. “Nikah aja duluan kalo kalian tega!” celetuknya kemudian.

Evan tergelak melihat sikap Daren yang mirip sekali seperti Alluna saat ia sedang kesal. “Transit di Doha, temenin gue ke suatu tempat!” pinta Evan.

“Ke mana?”

“Ada, lah. Ntar juga tahu.”

“Jangan lama-lama! Kita transit cuma dua jam.”

“Bentar doang,” sahut Evan.

Daren mengacungkan jempolnya.

“Alluna sering cerita sama lo soal gue?” tanya Evan.

“Ya. Gue kakaknya dan gue berhak tahu dia lagi sama siapa dan bahagia atau enggak,” jawab Daren sambil tersenyum, senyum yang sama persis dengan adiknya.

“Kakak yang baik.” Evan menyandarkan kepalanya sembari memejamkan mata.

Daren menoleh ke arah Evan yang sudah memejamkan matanya. Alluna juga sudah tertidur pulas. Ia memalingkan wajahnya ke mamanya yang terlihat sibuk dengan ponsel pintarnya. Ia mendesah, ikut menyandarkan tubuh sembari menutup mata. Tak ada yang bisa ia ajak bicara selama perjalanan. Tidur adalah pilihan terbaik.

***

“Papa...!” teriak Alluna langsung memeluk papanya begitu sampai di terminal kedatangan Charles De Gaulle Internasional Airport.

“Akhirnya, bisa ketemu sama anak kesayangan Papa yang paling cantik di dunia,” puji Papa Alluna sembari memeluk putrinya dengan erat.

“Alluna kangen. Papa lama banget di sininya.” Alluna merengek manja.

“Namanya juga banyak kerjaan.”

Daren dan Evan langsung mencium tangan Papa Alluna.

“Ini yang namanya Evan?” tanya Papa Alluna menatap Evan.

“Iya, Oom,” jawab Evan canggung.

“Nggak usah canggung gitu! Anggap aja Papa kamu sendiri. Alluna cerita banyak soal kamu.”

Evan hanya tersenyum menanggapi ucapan Papa Alluna. 

“Iih, Papa. Jangan bilang-bilang!” sambar Alluna.

Papa Alluna tersenyum kemudian memeluk istrinya, mereka melanjutkan pembicaraan di dalam mobil.

“Pa, ini keren banget! Aku bisa lihat menara Eiffel dari sini!” teriak Alluna sambil melompat bahagia ketika bisa melihat Eiffel Tower dari Jendela ruang tamu.

“Kamu suka? Nggak pengen pindah ke Paris?” tanya Papa Alluna.

Alluna menatap Evan. “Nggak. Bahasa orang sini terlalu rumit buat aku pelajari.”

Papa Alluna terkekeh. “Kalian istirahatlah. Pasti lelah karena harus menempuh perjalanan panjang.”

“Siap! Alluna ke kamar dulu,” pamit Alluna.

“Aku juga. Kayaknya harus kumpulin banyak energi buat jalan-jalan besok,” ucap Daren sambil menarik koper masuk ke kamar.

Papa Alluna menatap Evan yang masih bergeming. “Kamar kamu yang diujung sana,” Papa Alluna menunjuk ke arah pintu yang berada di sudut ruangan.

“Baik, Om!” Evan menundukkan kepalanya dan memasuki kamar.

“Nggak terasa kalau anak kita ternyata sudah dewasa. Sepertinya, sebentar lagi bakal punya cucu,” celetuk Papa Alluna.

“Iya, Pa. Mama jadi kangen sama anak-anak waktu mereka masih kecil. Sepertinya rumah bakal ramai terus kalau kita punya cucu,” tutur Mama Alluna.

“Kamu mulai merasa kesepian?”

“Hmm ... sepertinya begitu. Soalnya, sekarang anak-anak udah besar. Mereka lebih banyak di luar rumah.”

“Papa juga ngerasa seperti itu. Kita istirahat dulu. Besok kita punya banyak kerjaan.” Papa Alluna menggandeng istrinya masuk ke kamar.

***

Alluna merebahkan tubuh di atas kasur. Ia tidak mengantuk karena lebih banyak tidur selama di perjalanan. Alluna menoleh ke arah jendela. Ia bangkit perlahan dan membuka tirai jendela.

“Papa bener-bener nggak asyik!” Alluna mendesah kecewa saat ia tidak bisa melihat indahnya menara Eiffel dari jendela kamarnya.

Ia menyalakan ponsel dan menelepon Austin. “Hei, lagi apa?” tanya Alluna sambil keluar dari kamar.

“Kita lagi ngumpul nih sambil ngerumpi, tadi abis dari acara pesta pernikahan Resti.”

“Resti yang dulu anak kelas 3 B yang atlet volly itu?” tanya Alluna.

 “Iya. Emang siapa lagi?”

“Wah ... udah sold out juga ya cewek tomboy kayak dia. Kirain nggak bakal nikah. Kok, gue nggak diundang, ya?” Alluna melangkahkan kakinya mendekati jendela ruang tamu. Ia bisa melihat jelas Menara Eiffel yang sangat indah di depannya.

“Diundang keles. Lo aja yang sibuk mau ke Paris. Kita kan udah bahas 2 minggu yang lalu.”

“Hah!? Masa sih?”

“Iya.”

Alluna mencoba mengingat-ingat. “Oh... iya, aku ingat. Dia ngasih undangan 2 minggu yang lalu. Rada kelamaan undangannya sampe lupa kalo hari ini acara nikahannya dia.”

“Tega lo ya sampe lupa. Kalo sampe lupa sama hari pernikahan gue, gue bakal bikin perhitungan sama lo,” sambar Rani.

“Nggak lah. Khusus buat kalian, gue nggak akan pernah lupa.”

“Bener, ya? Btw, lo lagi di mana?” tanya Austin dan Rani.

“Di rumah. Nggak tanya lagi ngapain?”

“Lagi ngapain emangnya?”

“Gue lagi menatap Menara Eiffel dari jendela ruang tamu. Indah bangeeet!”

So sweet ... pasti lagi bareng Evan ya?”

“Enggak.” Alluna menatap pintu kamar yang berada sekitar 3 meter dari sisinya. “Dia sudah tidur.”

“Uh, dasar Evan! Nggak romantis banget!” celetuk Hastri.

“Kita baru nyampe. Wajar kali kalo dia capek.”

“Lo sendiri nggak capek?”

“Nggak. Gue udah tidur berjam-jam di pesawat,” sahut Alluna sambil cengengesan. Setelah mereka mengobrol hampir satu jam, Alluna mematikan teleponnya karena waktu di Jakarta 5 jam lebih cepat dari Paris. Artinya, dia mengajak teman-temannya mengobrol via telepon saat tengah malam.

***

“Pagi...!” sapa Alluna begitu sampai di meja makan. Semua sudah menunggunya untuk sarapan.

“Pagi, gimana tidurnya? Nyenyak?” tanya Papa Alluna.

Alluna mengangguk, ia menjatuhkan dirinya di kursi dan langsung bergabung menikmati sarapan.

 “Dua jam lagi kalian siap-siap ke studio! Karyawan Papa sudah nunggu.” Papa Alluna melihat arloji di tangannya.”Papa berangkat duluan.”

“What!?” Alluna dan Evan saling pandang. “Papa suruh ke sini untuk liburan, kan? Bukan pemotretan.”

“Sekalian, lah. Mumpung kalian di sini sepuluh hari. Daripada entar Papa harus cari model. Bayarnya mahal!” bisik Papa di telinga Alluna.

“Maksudnya? Papa nggak mau bayar kita?”

“Udah dibayar pake tiket liburan ke Paris.” Papa Alluna tersenyum penuh arti.

“PAPA!!!”

Papa Alluna tersenyum sembari melangkahkan kakinya menuju pintu. “Kalian punya waktu 7 hari untuk beberapa sesi pemotretan. Setelah itu, kalian boleh liburan ke mana aja yang kalian mau.”

“Pa ... Papa sama sekali belum bilang ke Alluna kalo—”

“Papa harus minta persetujuan? Ini sudah mendesak. Kalian bertiga harus siap-siap sekarang. Papa nggak akan kasih tiket pulang ke Indonesia kalau sampai pemotretan untuk katalog baru nggak berjalan dengan baik.”

“Bertiga!?” 

Daren hampir tersedak makanan yang sudah masuk di mulutnya.

“Ya,” jawab Papa Alluna, ia keluar dari pintu dan tidak terlihat lagi.

“Ma, kenapa Daren ikutan jadi model juga?” tanya Daren.

Mama Alluna menghela napas. “Kita lagi banyak masalah. Usaha papa kamu nyaris bangkrut. Tapi, dia tetap ingin mempertahankan usaha ini. Jalan satu-satunya adalah meminta kalian menjadi model untuk fashion-fashion baru yang akan kita pamerkan di Fashion Week sebulan lagi. Kami harus menghemat keuangan. Cuma kalian harapan kami untuk bisa membuat usaha kami di sini tetap bertahan.”

Alluna menutup mulutnya yang menganga karena terkejut. “Ma ... Mama serius?” tanya Alluna dengan mata berkaca-kaca.

Mama Alluna mengangguk. “Kami nggak tahu harus gimana lagi. Maafin Mama dan Papa karena sudah memanfaatkan kalian,” tutur Mama Alluna terisak.

“Tante nggak perlu minta maaf. Kami sama sekali nggak keberatan. Justru kami senang bisa bantu,” ucap Evan menenangkan.

Alluna dan Daren saling pandang. Mereka tersenyum, menganggukkan kepalanya dengan pasti. Secepatnya mereka bersiap ke studio foto yang ada di galeri fashion milik orang tuanya.

***

Sesampainya di studio, Alluna langsung bersiap. Ia tidak mau membuang-buang waktu. Baginya, lebih cepat lebih baik. Dia bisa segera beristirahat atau pergi jalan-jalan menikmati indahnya kota Paris.

“Ada 5 dress yang harus Mbak Alluna pakai hari ini,” tutur salah satu make up artist yang kebetulan juga orang Indonesia.

Evan dan Daren sudah siap lebih dahulu dengan kemeja dan jas  warna senada dengan gaun yang dikenakan Alluna. Mereka terlihat sangat tampan. Mama tidak salah memilih mereka menjadi model. Mereka punya postur tubuh yang tinggi dan proporsional. 

Di mata Alluna, Evan tetap yang paling keren dibanding Daren. Evan itu Swedish Man, cowok keturunan Swedia yang lahir dan besar di Indonesia. Bahasa Indonesianya jelas lebih baik, tapi wajahnya tetap saja memperlihatkan kalau dia bukan orang Asia.

Alluna menghela napas. “Lama atau nggak?” tanya Alluna pada periasnya.

“Sampai malam.”

What!?”

“Karena setiap ganti baju, kita harus ganti make up. Pemotretan pertama di studio, abis itu kita akan ambil gambar di Eiffel Tower.”

“Wah, berarti kita bakal ke Menara Eiffel?” tanya Alluna.

“Iya,” jawab si make up artist. “Sempurna. Mbak Alluna memang cantik banget!” Ia menatap wajah Alluna di cermin saat ia sudah menyelesaikan riasannya.

Mereka langsung bersiap melakukan pemotretan.

“Aku mau secepatnya bisa selesai,” bisik Alluna sembari menyandarkan pundaknya di kursi, Evan duduk di belakangnya sembari memegangi bahu Alluna. Beberapa kamera langsung membidik setiap kali mereka berganti pose.

 “Udah pake gaun pengantin, tinggal ke KUA nih,” goda Evan saat mereka harus berpose mesra.

“Apaan sih!?” sahut Alluna.

“Kenapa sih kamu nggak mau nikah sama aku?”

“Karena dia belum nikah,” jawab Alluna sambil menatap Daren yang sedang berdiri di samping photografer.

“Sebenarnya dia udah punya cewek atau belum?” bisik Evan.

“Nggak tau.”

Evan mengedipkan matanya. “Semoga aja dia cepet ketemu jodohnya.”

“Daren come in!” pinta seseorang yang mengarahkan mereka selama pemotretan.

Daren melangkahkan kakinya mendekat ke sofa yang diduduki Alluna. Bersiap untuk ikut melakukan sesi pemotretan sesuai dengan yang diperintahkan. Satu gadis cantik dengan dua pria ganteng di sisinya. Ini terlihat seperti pemotretan untuk cover sebuah buku atau film romance.

***

“Bener kata orang, paris emang tempat yang romantis ya?” tutur Alluna usai melakukan pemotretan di Eiffel Tower. Mereka menyempatkan diri untuk naik ke menara dan melihat seisi kota Paris dari ketinggian.

“Sebenarnya, semua tempat sama aja. Yang bikin romantis atau enggak itu orang yang bareng kita.” Evan menatap lurus ke depan, ia tidak menoleh ke arah Alluna yang sedang menatapnya sambil tersenyum.

Alluna menyandarkan kepalanya ke pundak Evan.

“Besok kita ke sana, yuk!” ajak Evan sambil menunjuk titik yang begitu jauh di antara bintang-bintang. Semuanya sama di mata Alluna, hanya cahaya lampu yang bertebaran.

“Ke mana?”

“Ntar juga tahu.”

“Besok bukannya masih ada pemotretan?”

“Hmm, iya sih. Abis pemotretan kelar, kita ke sana ya!” pinta Evan.

Alluna menganggukkan kepalanya.

Evan mengecup kepala Alluna dengan lembut. Mereka sama-sama menikmati keindahan kota Paris dari atas menara Eiffel.

Keesokan harinya, mereka masih harus menjalani pemotretan di beberapa tempat yang memang terkenal hits seperti Louvre Museum, Arch de Triomphe dan beberapa taman di Paris.

***

Setelah 7 hari di Paris, Alluna bisa bernapas lega karena pemotretan sudah selesai.

Pagi ini, Evan mengajaknya pergi ke suatu tempat. Belum tahu di mana tempatnya, karena Evan tidak mengatakan apa pun dan langsung melajukan mobilnya ke arah barat kota Paris.

“Ini kita di mana?” tanya Alluna begitu sampai di depan pintu gerbang emas sebuah bangunan megah.

“Versailles.”

“Baru denger.”

“Ke Perancis tahunya Eiffel doang?”

Alluna meringis.

“Van, ini tempatnya bagus banget!” ucap Alluna sambil berjingkrak kegirangan begitu memasuki halaman Istana King Louis.

“Suka?”

“Suka banget!” Alluna tersenyum bahagia. 

Evan menggandeng tangan Alluna untuk berkeliling di sekitar Versailles Palace sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam untuk menikmati keindahan dan kemewahan Istana King Louis.

Berkeliling seharian di Versailles, rasanya belum cukup untuk Alluna. Ia sangat menikmati setiap detail dan sudut bangunan megah itu. Juga taman-tamannya yang indah.

Matahari mulai tenggelam, Evan dan Alluna berada di atas bangunan Istana dan melihat pemandangan taman Istana yang begitu luas, indah, bersih dan rapi.

“Van, makasih ya udah ajak aku ke sini,” ucap Alluna. “Menurut kamu, lebih romantis mana Paris sama Versailles?” tanya Alluna.

“Nggak ada yang romantis.”

“Ih, kamu kok gitu? Semua orang bilang kalo Paris itu kota yang romantis,” sahut Alluna.

“Romantis kalo ada pasangannya, kalo nggak ada?”

“Mmh ... iya, juga sih.” Alluna menatap lembayung senja yang terpancar indah di hadapannya.

Evan menatap Alluna, ia memperbaiki posisi tubuhnya menghadap Alluna. “Semua tempat akan jadi romantis, kalau kamu yang ada di depan aku,” ucapnya lirih sembari memegang kedua bahu Alluna.

Alluna menatap lekat mata Evan. “Serius?”

“Iya, seindah apa pun tempatnya. Kalau kita nggak sama-sama melihatnya, nggak akan menjadi indah.”

“Kamu tumben ngomongnya romantis gini?” tanya Alluna sembari menahan tawa.

Evan melepas genggamannya. “Tuh, kan? Romantis salah, nggak romantis juga salah. Kamu maunya gimana?!”

“Mmh ... aku maunya yang romantis. Tapi, masih ngerasa aneh aja gitu kalo kita tiba-tiba ngomongnya serius dan puitis banget. Rasanya, masih geli dengernya.”

Evan tertawa kecil. Ia menyadari kalau dia dan Alluna sama-sama bukan tipe orang romantis yang berkata menggunakan bahasa puitis. Evan menarik napasnya berkali-kali di depan Alluna untuk mengendalikan dirinya dari perasaan nervous. “Lun, aku punya sesuatu buat kamu,” ucapnya sembari menghela napas.

“Apa?”

Evan menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya lagi.

“Kamu kenapa? Tiba-tiba jadi gugup gitu?” tanya Alluna sembari menatap Evan yang berdiri di sisinya.

“Nggak papa. Tutup mata kamu!” jawab Evan masih gugup. Ia menyembunyikan kedua tangan di dalam saku celana agar terlihat lebih rileks.

Alluna menutup matanya perlahan.

“Ada yang bisa kamu lihat?” tanya Evan.

Alluna menggelengkan kepalanya. “Gelap.”

Evan tertawa kecil. “Seperti itulah hidupku tanpa kamu, Alluna,” bisik Evan.

Alluna langsung membuka mata. 

“Eh!? Kok, melek?” Evan hampir saja mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

“Aku nggak mau nutup mata.”

Evan menaikkan kedua alisnya. “Kenapa?”

“Aku takut.” Alluna menitikan air mata. “Aku takut ... saat aku buka mata, kamu pergi ninggalin aku. Aku takut gelap, aku takut kamu pergi, aku takut kita pisah.”

Evan tersenyum kecil menatap Alluna. “Aku nggak akan pergi ke mana-mana.” Evan mengusap air mata Alluna. “Tutup mata, ya! Aku punya hadiah buat kamu.”

Alluna mengangguk. Ia memejamkan matanya perlahan.

Evan menatap pacarnya selama beberapa menit tanpa bersuara sampai ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya.

“Van, kamu masih di sini?” tanya Alluna karena ia tidak mendengar ucapan atau pun sentuhan dari Evan.

“Ya.”

“Jangan ngerjain aku!”

“Nggak.” Evan membuka kotak kecil itu dan menjulurkannya tepat di depan dada Alluna. “Sekarang, boleh buka mata kamu.”

Alluna membuka matanya perlahan. Ia terkejut melihat hadiah kecil pemberian Evan. Sebuah kalung dengan liontin berhiaskan berlian yang begitu indah. “Buat aku?” tanya Alluna masih tidak percaya.

Evan mengangguk. Ia memasangkannya di leher Alluna. “Jangan sampai hilang, ya!” bisik Evan.

Alluna tersenyum sembari menyentuh liontin yang menempel di dadanya. “Ini lamaran?”

Evan menggelengkan kepalanya. “Hadiah ulang tahun kamu. Karena kemarin waktu kamu ulang tahun, kamu masih koma. Aku belum ngasih hadiah,” bisik Evan sambil tersenyum.

Evan mengunci kalung tersebut, memastikan tidak akan terlepas dari leher Alluna. Jemarinya berjalan menyusuri rantai kalung hingga menyentuh liontin yang kini terlihat begitu manis di dada Alluna. Ia menatap Alluna, mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan manis di bibir Alluna. “Be my queen, Alluna!” bisiknya lembut.

Alluna tersipu dengan sikap Evan yang berusaha romantis untuk dirinya. Walau selalu berakhir dengan kata garing, tapi itulah yang membuat Alluna selalu merindukannya.

Alluna tidak menjawab, ia memeluk erat tubuh Evan.

SYUT!!!

DAR! DAR! DAR!

Evan dan Alluna memalingkan pandangannya ke arah kembang api yang sedang menari indah di langit, tepat di hadapan mereka.

Alluna terpesona dengan pertunjukkan cahaya yang begitu indah dan Evan menggenggam jemarinya.

“Ada perayaan apa?” tanya Alluna.

Evan mengedikkan bahunya. “Kebetulan aja kita ke sini pas ada perayaan.”

Alluna tersenyum sembari menghela napasnya. “Aku pikir, kamu bakal ngelamar aku malam ini,” gumam Alluna.

“Apa?”

“Nggak papa.”

“Kamu barusan ngomong apa?”

“Nggak ngomong apa-apa?”

“Aku dengar.”

“Baguslah.”

“Kamu udah siap?” tanya Evan.

“Siap apa?”

“Menikah.”

Alluna hanya tersenyum menanggapi ucapan Evan. Ia ingin sekali bisa menikah dengan pria yang ia cintai. Tapi ia juga harus mengejar impiannya sendiri dan menyelesaikan kuliahnya. 

“Sebenarnya, aku yang belum siap menikah sama kamu.”

Alluna menoleh ke arah Evan penuh tanya.

“Aku belum punya apa-apa sekarang. Aku takut nggak bisa bahagiain kamu. Menikah bukan cuma soal cinta. Tapi juga soal masa depan kita dan anak-anak kita. Sekarang, aku memang punya perusahaan. Tapi, itu perusahaan papa dan aku masih harus kerja keras sampai aku bisa punya perusahaan sendiri.”

“Aku nggak mungkin nikahin kamu sekarang.”

Alluna tersenyum menatap Evan. “Kamu juga tahu kalau aku belum mau menikah. Aku masih mau selesaikan kuliah dan pengen punya usaha sepatu.”

“Sepatu?”

Alluna menganggukkan kepalanya. “Kemarin, waktu pemotretan ... aku kepikiran buat bikin usaha sepatu. Kayaknya keren kalo aku bisa pake sepatu hasil rancangan aku sendiri.”

Evan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ide bagus.”

Alluna tersenyum. “Kita turun yuk! Kayaknya di bawah ada perayaan,” ajak Alluna.

Evan menganggukkan kepala. “Kita masih punya banyak waktu sampai kita benar-benar dewasa dan siap untuk menjadi orang tua,” ucapnya sembari melangkahkan kaki menuju halaman Versailles.

“Aku belum bisa membayangkan saat aku menjadi seorang ibu.”

“Setidaknya kamu tahu caranya menyusui anak kita.”

Alluna tertawa kecil, ia mengeratkan genggaman tangan Evan.


((Bersambung...))

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas