Wednesday, February 25, 2026

Perfect Hero Bab 469 : Always Save You

 


BRAAK ...!

 

BRAAK ...!

 

Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu langsung menoleh ke arah pintu besi yang didobrak paksa dari luar.

 

“Siapa, Bos?” tanya salah seorang pria yang ada di sana.

 

Si Bos menggelengkan kepala. “Nggak tahu.”

 

“Ada anggota kita yang datang lagi?” tanya yang lainnya lagi.

 

“Seharusnya nggak ada.”

 

“Jangan-jangan, polisi!”

 

Semua orang langsung bersiap-siap, wajah mereka tegang saat melihat pintu yang sedang didobrak paksa itu akhirnya terbuka.

 

Chandra dan tiga orang yang bersamanya langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

“Kalian siapa?” tanya si Bos sambil mengamati wajah Chandra yang tertimpa cahaya lampu remang-remang.

 

“Kalian sembunyikan di mana perempuan itu?” tanya Chandra.

 

“Perempuan? Nggak ada perempuan di sini.”

 

Chandra langsung menoleh ke arah tiang yang sama persis dengan tiang dalam video yang dikirim Refi. Ia langsung berlari ke arah tiang dan meraih tali yang sudah berserakan di lantai.

 

Chandra memutar kepalanya menatap pria-pria yang ada di sana. “Aku tanya sekali lagi, di mana perempuan yang udah kalian culik!” seru Chandra.

 

Tak ada satu pun pria yang berani menjawab pertanyaan dari Chandra.

 

Chandra menggenggam erat tali yang ada di tangannya. “Aargh ...!” Ia bangkit dan langsung menyerang preman-preman itu bersama dengan pasukan yang dibawanya.

 

BUG!

 

BUG!

 

BUG!

 

Preman-preman yang menculik Yuna terus melakukan perlawanan.

 

 

 

BRAAK ...!

 

Satria dan pasukan berseragam loreng ikut masuk ke dalam ruangan tersebut. Mereka langsung melumpuhkan sebelas pria yang ada di sana dengan mudah. Satria langsung mengikat tangan pria-pria itu satu per satu dan menelungkupkan tubuh mereka ke tanah.

 

“Jangan dilepasin!” perintah Satria pada semua anak buahnya. Ia menggilas salah satu leher pria yang ada di bawahnya.

 

Di saat yang bersamaan, Yeriko masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia merasa sangat puas karena semua orang yang menculik istrinya sudah dilumpuhkan oleh Satria dan pasukannya.

 

“Mana istriku?” tanya Yeriko sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia menghampiri tiang yang ada di dalam video tersebut.

 

“Chan, mana istriku!?” seru Yeriko sambil menatap Chandra.

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

Yeriko langsung menghampiri salah seorang preman yang masih menelungkup di lantai. Ia langsung meraih kerah baju pria itu dan mengangkat tubuhnya. “Mana istriku?” tanya Yeriko dengan tatapan yang menghunus tajam ke arah pria tersebut.

 

Pria itu gemetaran menghadapi tatapan mata Yeriko. Ia merasakan di kakinya ada air hangat yang mengalir perlahan membasahi seluruh celananya.

 

“Aih ... badan aja gede! Ngompol pula!” seru Satria sambil menutupi hidungnya.

 

Chandra tertawa melihat preman bertubuh kekar tersebut ketakutan menghadapi Yeriko.

 

“Di mana istriku!?” tanya Yeriko sekali lagi.

 

Pria itu gemetaran. Ia langsung menoleh ke arah lubang kecil yang ada di ruangan tersebut. “Di-di ... di dalam sana,” jawabnya dengan terbata-bata.

 

Yeriko langsung melepaskan kerah baju pria tersebut. Ia berlari ke arah lubang kecil yang ada di ruangan tersebut. Berjongkok dan mengintip lubang yang bau dan gelap itu. Ia bisa melihat ujung kaki Yuna ada di dalam ruangan tersebut. Yeriko berusaha meraih tangan Yuna yang memeluk kakinya.

 

“Aargh ...!” teriak Yuna sambil menendang tangan yang kembali masuk ke dalam lubang tersebut. “Jangan deketin aku!”

 

“Aw ...!” Yeriko merintih saat Yuna menendang tangannya yang terluka.

 

“Hiks ... hiks ...!” Yuna masih terisak di dalam ruangan tersebut.

 

“Yun, gimana caranya kamu bisa masuk ke lubang sekecil ini?” gumam Yeriko.

 

“Yuna, ini aku! Suami kamu,” tutur Yeriko sambil memasukkan kepalanya ke lubang tersebut.

 

Yuna langsung menghapus air matanya, ia menatap wajah pria yang ada di luar lubang tersebut. Ia langsung tersenyum begitu melihat wajah Yeriko. “Kamu beneran datang?”

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Aku pasti datang. Kamu baik-baik aja di sana?”

 

Yuna mengangguk. “Aku baik-baik aja,” jawabnya lirih.

 

“Keluarlah!” pinta Yeriko sambil mengulurkan tangannya.

 

Yuna menundukkan kepalanya, ia merangkak keluar dari lubang tersebut.

 

Yeriko langsung menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya begitu wanita itu keluar.

 

“Kenapa baru datang? Aku takut!” ucap Yuna lirih.

 

“Maafin aku! Maafin aku! Maafin aku!” balas Yeriko sambil mengeratkan pelukannya.

 

Yeriko melepas pelukannya. Ia membuka jaket yang ia kenakan dan menyampirkan ke tubuh Yuna. Ia sangat terluka melihat wajah Yuna yang pucat pasi, kotor, bau dan tubuhnya yang terluka.

 

Yuna menatap wajah Yeriko sambil tersenyum. “Aku tahu, kamu pasti datang. Aku kangen sama kamu.”

 

Yeriko menangkup wajah Yuna yang dingin. “Aku juga kangen sama kamu. Maafin aku yang terlambat datang.”

 

Yuna tersenyum sambil mengangguk kecil. Ia melihat wajah Yeriko yang semakin lama terlihat buram. “Tuhan ... ini bukan mimpi ‘kan?” batin Yuna saat ia tak bisa lagi melihat wajah Yeriko. Hanya kegelapan yang ada di hadapannya dan suara Yeriko yang tak sanggup untuk ia balas.

 

“Yuna ...!” teriak Yeriko saat tubuh Yuna tiba-tiba merosot. Ia langsung menangkap tubuh Yuna dan menggendongnya.

 

Yeriko menggendong tubuh Yuna yang dingin dan tak sadarkan diri. Air matanya menetes melihat keadaan istrinya. Ia merasa dunianya runtuh saat melihat Yuna lemah dan terluka. Ia kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi istrinya dengan baik.

 

“Yun, kamu kuat kan? Kamu pasti baik-baik aja!” tutur Yeriko sambil menangis. Ia terus melangkahkan kakinya keluar dari bangunan pabrik yang sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun itu.

 

“Chan, kamu supirin Yeriko!” perintah Satria. “Aku khawatir kalau dia bawa mobil sendiri.”

 

Chandra menganggukkan kepala. Ia merogoh saku dan melemparkan kunci mobilnya ke arah Satria. “Aku titip mobilku!”

 

Satria menangkap kunci mobil yang melayang di hadapannya. Ia mengangguk dan meminta semua anak buahnya membantu mengurus para penculik itu.

 

Chandra langsung berlari menyusul langkah Yeriko. “Yer, biar aku yang bawa mobil kamu.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kuncinya masih di mobil, Chan.”

 

Chandra mengangguk. Ia bergegas berlari ke arah mobil Yeriko.

 

Yeriko menggendong Yuna sampai masuk ke dalam mobil. Ia terus memeluk erat tubuh Yuna yang dingin.  “Cepet, Chan! Kasihan istriku,” pinta Yeriko lirih.

 

Chandra menganggukkan kepala. Ia bergegas menyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas dan membawa mobil Yeriko melaju membelah jalanan malam yang sepi. Chandra langsung membawa Yuna dan Yeriko ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan secepatnya.

 

“Suster, tolongin!” teriak Chandra begitu ia menghentikan mobilnya di depan pintu masuk IGD General Hospital Wijaya setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit dari lokasi kejadian.

 

Suster yang berjaga di ruang IGD tersebut secepatnya menarik brankar begitu melihat Yeriko menggendong Yuna dari dalam mobil. Mereka langsung bergerak cepat untuk menangani Yuna yang sudah tidak sadarkan diri.

 

“Tolongin istri saya, Suster!” pinta Yeriko.

 

Suster itu mengangguk. “Percayakan semuanya sama kami!” Ia langsung menutup pintu ruang IGD untuk memberikan pertolongan pada Yuna.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia begitu cemas menunggu Yuna di dalam ruangan yang bertuliskan IGD tersebut. Ia harap, keadaan istri dan anak yang sedang dikandungnya dalam keadaan baik-baik saja.

 

“Chan, kalian semua sudah bekerja keras untuk menolong istriku. Sebaiknya, kamu pulang dan istirahat. Biar aku yang jaga Yuna,” tutur Yeriko sambil menatap Chandra yang masih berdiri di sampingnya.

 

Chandra menganggukkan kepala. “Besok pagi, aku ke sini lagi.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia ingin mengurus Yuna seorang diri untuk menebus kesalahannya sendiri karena tak mampu menjaga dan melindungi istrinya dengan baik.

 

 

((Bersambung ...))

Huft, udah lega...

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 468 : Survive

 


Saat Yuna baru saja bangkit dari lantai, tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka. Ada banyak preman yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut. Si Gundul dan Si Keriting langsung menoleh ke arah preman-preman bertubuh kekar tersebut.

 

“Hei, kalian udah datang?” tanya pria bertato yang sudah setengah mabuk itu. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk memulihkan kesadarannya.

 

“Iya, Bos! Kami sudah nggak sabar untuk melakukan eksekusi malam ini.”

 

Pria bertato itu tersenyum. “Semuanya sudah disiapkan. Wanita itu ...” Ia menghentikan ucapannya saat melihat Yuna tak ada lagi di tempatnya. “Mana perempuan yang di sini?” tanyanya sambil menunjuk tiang yang dipakai untuk mengikat Yuna.

 

Si Gundul dan si Keriting saling merapatkan tubuhnya. Mereka menyembunyikan tubuh Yuna di belakang tubuh mereka.

 

“Kalian berdua berkhianat, hah!?” sentak pria bertato sambil menatap si Keriting dan si Gundul.

 

“Bos, kami nggak mau ada yang terbunuh di sini,” jawab si Gundul dengan bibir bergetar.

 

“Siapa yang mau membunuh? Mereka ke sini cuma mau bersenang-senang sama perempuan ini!” seru pria bertato itu. “Kalian jangan menghalang-halangi!”

 

“Wanita itu nggak akan mati kalau hanya melayani kami semua satu malam ini,” tutur pria berbadan kekar yang baru saja datang bersama tujuh pria lain.

 

Si Gundul dan si Keriting menggelengkan kepala. Mereka berusaha untuk melindungi Yuna dari serangan teman-teman penculik lainnya.

 

“Mbak, kabur, Mbak!” perintah si Keriting pada Yuna yang bersembunyi di belakangnya.

 

Yuna langsung melangkah mundur perlahan. Ia berbalik dan berusaha pergi dari ruangan itu. Namun, terlalu banyak pria yang harus ia hadapi. Membuat Yuna tidak tahu lagi harus melakukan apa saat tiga pria bertubuh kekar menghadangnya.

 

Sementara, si Keriting dan si Gundul yang berusaha melindungi Yuna, ditaklukan dengan mudahnya oleh pria-pria bertubuh kekar tersebut.

 

Yuna tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia menghunuskan pisau buah yang ada di tangannya ke arah pria-pria yang mengelilinginya.

 

“Dia dapat pisau dari mana?” tanya salah seorang di antara mereka.

 

“Nggak tahu,” jawab pria yang lainnya.

 

“Mbak, tenang dulu!” pinta seorang pria sambil berusaha mendekati Yuna.

 

“Jangan mendekat!” seru Yuna sambil menghunuskan pisau di tangannya.

 

“Kita di sini dibayar bukan untuk membunuh orang. Jangan sampai ada yang mati! Bisa habis masa depan kita,” tutur si Bos.

 

Yuna tersenyum sinis menatap pria yang ada di hadapannya itu. “Kamu masih mikir masa depan kamu juga?” tanya Yuna.

 

“Mbak, kami ini cuma penculik. Bukan pembunuh. Kami cuma dibayar karena butuh uang.”

 

Yuna menggeleng-gelengkan kepala. Ia terus berputar untuk memastikan kalau pria-pria yang mengelilinginya tidak membahayakan dirinya. Ia menoleh ke arah si Keriting dan si Gundul yang sudah tersungkur ke lantai karena melawan bosnya sendiri.

 

“Kalian beraninya main keroyokan? Kalau berani, hadapi aku satu per satu!” pinta Yuna penuh keberanian. Dalam hatinya, ia berdoa agar Yeriko segera datang menyelamatkan dirinya.

 

Yuna mengedarkan pandangannya. Mencari celah untuk bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Ia terus bergerak hingga tubuhnya bersandar ke dinding.

 

“Cepet ambil pisaunya!” perintah si Bos. “Masa kalah sama perempuan kecil kayak gini!” serunya lagi.

 

“Jangan mendekat!” seru Yuna. “Kalian nggak tahu aku ini siapa, hah!?”

 

Semua orang saling pandang, kemudian tertawa lebar. “Kami nggak peduli kamu siapa. Kami cuma mau bersenang-senang. Sebaiknya, kamu serahkan tubuh kamu secara sukarela. Jangan memaksa kami melakukan kekerasan!”

 

Yuna menggelengkan kepalanya. “Lebih baik aku mati daripada harus melayani kalian!”

 

“Keras kepala ini cewek. Udah kayak gini, masih aja nggak mau nyerah!”

 

“Aku nggak akan nyerah. Suamiku pasti datang buat ngabisin kalian semua!” sahut Yuna.

 

“Hahaha. Suami kamu mana? Emangnya dia siapa? Nggak akan bisa ngelawan kami semua.”

 

“Suamiku pemilik Galaxy Group. Kalau kalian pernah dengar, kalian pasti tahu siapa dia!”

 

“Siapa?” Pria-pria itu saling pandang dan saling tanya.

 

Salah seorang di antara mereka terlihat sangat ketakutan mendengar nama Galaxy. “Bos, Galaxy itu penguasa di kota ini. Bosnya pengusaha besar dan dari keluarga militer. Juga punya hubungan baik dengan pejabat-pejabat kota. Apa kita nggak salah nyulik orang?”

 

“Hah!? Serius?”

 

“Iya, Bos.” Pria itu membuka ponsel dan menunjukkan potret wajah Yuna di internet. “Ini orangnya, dia beneran Nyonya Besar.”

 

“Apa yang akan terjadi sama kita kalau bikin masalah sama pengusaha ini.”

 

Pria itu berbisik ke telinga pria lainnya. Membuat mereka mulai gentar untuk melanjutkan kejahatan mereka terhadap Yuna.’

 

Yuna tersenyum menatap preman-preman itu. “Kalian udah tahu aku siapa? Aku bisa bayar kalian dua kali lipat kalau kalian mau ngelepasin aku!”

 

Semua orang saling pandang. Mereka mulai gentar, terlebih tawaran dari Yuna lumayan menggiurkan untuk mereka yang menginginkan uang dengan cepat.

 

“Halah ... nggak usah terpengaruh sama berita kayak gitu. Kalau dia beneran istri bos besar, bukannya malah bagus. Kita semua bisa icip tubuhnya secara gratis,” tutur salah seorang pria.

 

“Bener juga, Bos.” Pria yang lain mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Udah, jangan mengulur waktu terus! Selesaikan secepatnya!” perintah si Bos.

 

Tiga orang pria yang ada di sana langsung merebut pisau dari tangan Yuna. Yuna berusaha mempertahankan pisau yang ada di tangannya. Namun, ia justru gagal dan pisau itu sudah berpindah ke tangan penculik.

 

“Aargh ...!” teriak Yuna sambil menendang dua pria yang ada di hadapannya. Ia berusaha berlari dari tempat itu. Namun, lagi-lagi ia dihadang oleh pria lain.

 

Yuna memundurkan langkahnya perlahan. Ia menoleh ke arah benda di dekat kakinya yang sedikit bersinar diterpa cahaya bulan yang masuk lewat lubang-lubang cahaya di tempat itu.

 

Yuna langsung mengambil pecahan kaca yang ada di dekatnya dan menempelkan ke lehernya sendiri, ia melakukan itu semua penuh keberanian.

 

“Lebih baik aku mati daripada harus melayani pria hidung belang seperti kalian!” tegas Yuna sambil mengangkat dagu, sejajar dengan pandangan matanya.

 

“Nggak ada yang boleh mati di sini!” seru si Bos. Ia berusaha merebut pecahan kaca dari tangan Yuna.

 

Yuna masih tak mau menyerah. Ia melihat lubang kecil yang jaraknya hanya beberapa meter dari tubuhnya. Yuna melangkah perlahan mendekati lubang tersebut.

 

“Kamu sudah gila, ya! Aku nggak akan ngebiarin kamu mati di sini!” seru salah seorang pria sambil merebut pecahan kaca dari tangan Yuna.

 

Yuna berusaha mempertahankan pecahan kaca itu dari tangannya. Hingga membuat si Bos yang berusaha merebutnya terluka.

 

“Aargh ...! Perempuan jalang!” sentak si Bos yang tangannya terluka karena pecahan kaca. Ia langsung menampar wajah Yuna begitu ia berhasil merebut pecahan kaca dari tangan Yuna.

 

“Selesaikan perempuan ini!” perintah si Bos sambil menahan sakit di telapak tangannya, ia sangat kesal melihat darah yang mengucur dari sana.

 

Yuna berusaha melawan pria yang terus mengejarnya. Ia masuk ke dalam sebuah lubang kecil yang tak jauh dari dirinya. Tubuhnya yang mungil, bisa dengan mudahnya masuk ke dalam lubang yang tak lebih dari lima puluh sentimeter itu.

 

“Heh, keluar kamu!” seru seorang pria sambil berusaha menarik lengan Yuna.

 

“Nggak mau!” teriak Yuna. Ia langsung menggigit tangan pria itu kuat-kuat.

 

“Aargh ...!” teriak pria itu saat punggung tangannya digigit oleh Yuna. “Perempuan sialan!”

 

Yuna meringkuk sambil memundurkan tubuhnya agar pria-pria yang ada di sana tidak ada yang bisa meraih tubuhnya. Ia mengepalkan tangan, tubuhnya gemetaran karena ketakutan. Ia tidak tahu lagi harus pergi ke mana dan bertahan berapa lama dari serangan preman-preman ganas itu.

 

“Yeriko, kamu di mana?” Ia mulai menangis sambil mempertahankan diri agar pria yang berusaha menarik tubuhnya itu tidak berhasil mengeluarkan dirinya. “Aku takut!” rintih Yuna sambil memeluk kakinya. Ia terus meringkuk di dalam lubang kecil yang sangat bau dan berdebu.

 

“Keluar kamu!” perintah pria-pria yang ada di luar sana sambil berusaha meraih tubuh Yuna.

 

“Aargh ...! Nggak mau!” teriak Yuna sambil memundurkan tubuhnya lagi hingga pria-ptia itu kesulitan menjangkau tubuhnya.

 

“Dia udah nggak bisa ke mana-mana lagi. Kita tunggu aja sampai dia keluar dari lubang itu!” tutur si Bos yang sudah kesal dengan apa yang dilakukan Yuna.

 

“Kalau dia nggak mau keluar dan mati di dalam sana gimana?” tanya pria yang lainnya.

 

“Biar aja mati!” sahut si Bos yang sudah kesal.

 

“Bos, dia bukan orang sembarangan. Kita bisa habis kalau sampai ketahuan nyulik istrinya Bos Besar. Apalagi sampai mati di dalam sana,” tutur seorang pria yang dari awal sudah ketakutan karena mendengar nama Galaxy Group.

 

Yuna bisa mendengar dengan jelas pembicaraan orang yang di luar sana. Ia tetap tidak ingin keluar. Ia masih berharap kalau suaminya akan menyelamatkan dirinya.

 

“Ay, kamu pasti datang ‘kan?” tutur Yuna sambil terisak. Ia berusaha meyakinkan diri sendiri kalau suaminya pasti sedang berusaha mencari keberadaannya. Ia tidak akan menyerah begitu saja karena ia tahu ... di luar sana, Yeriko pasti sedang berjuang menemukan dirinya.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Kasih support untuk Yuna supaya dia selalu kuat ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tuesday, February 24, 2026

Perfect Hero Bab 467 : Always Be Hero

 


 Chandra, Lutfi, Satria dan Riyan menyebar ke beberapa titik untuk melakukan pencarian. Riyan bersama tim keamanan kantornya, bergegas menyusuri pabrik yang telah ditunjukkan oleh Satria. Chandra bersama tiga orang anak buah Satria menyusuri lokasi yang telah ditentukan. Lutfi dan Satria juga melakukan hal yang sama. Mereka mendatangi tempat-tempat yang kemungkinan memiliki ciri-ciri seperti yang dimaksud oleh Yuna dalam rekaman video.

 

“Sat, aku sudah ketemu sama anak buah kamu. Kami langsung bergerak!” tutur Chandra sambil mengendarai mobilnya. Mereka berempat sudah saling tersambung lewat panggilan grup.

 

“Bagus, Chan. Lutfi gimana?” tanya Satria.

 

“Siap, Komandan! Sudah bergerak!” sahut Lutfi.

 

“Bagus! Jangan sampai komunikasi kita terputus!” pinta Satria.

 

“Siap!” sahut semuanya lewat panggilan telepon. Mobil mereka terus bergerak ke arah yang berbeda.

 

“Yeriko, gimana?”

 

“Baru sampai lokasi,” jawab Yeriko sambil memarkirkan mobilnya di parkiran Sheraton Hotel. “Aku matikan dulu sambungan teleponnya.” Yeriko langsung mematikan sambungan telepon dan bergegas keluar dari mobil.

 

Yeriko menghampiri mobil Innova yang ada di belakangnya.

 

“Gimana, Mas?” tanya seorang pria sambil membuka kaca jendela mobilnya.

 

Yeriko memasukkan kepalanya ke dalam mobil. “Kalian pantau pergerakan perempuan yang aku temui.  Aku di kamar tiga kosong lima, lima menit setelah aku masuk, kalian berjaga di depan pintu kamar itu. Kalau dalam lima belas menit aku belum keluar, kalian harus masuk ke dalam kamar itu, gimana pun caranya!” perintah Yeriko sambil menatap lima ajudan kakeknya yang ada di dalam mobil tersebut.

 

“Siap, Mas!”

 

Yeriko mengangguk sambil mengacungkan jempol. Ia bergegas melangkahkan kakinya menuju kamar hotel yang sudah disiapkan oleh Refi. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya sambil menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha setenang mungkin menghadapi keinginan gila Refi. Ia tidak ingin Refi membahayakan istri dan anaknya.

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko sudah berdiri di depan pintu kamar yang dipesan Refi. Ia mengetuk pintu beberapa kali.

 

Tak perlu menunggu lama, pintu kamar tersebut langsung terbuka. Refi tersenyum bahagia melihat kedatangan Yeriko. Akhirnya, saat-saat yang ia impikan datang juga.

 

“Hai, Yer! Aku tahu, kamu pasti datang ke sini,” sapa Refi sambil menyentuh dada Yeriko. Ia merasa sangat bahagia dan berpikir kalau semua sudah ada di bawah kendalinya.

 

Yeriko menurunkan telapak tangan Refi dari dadanya. Ia langsung masuk ke kamar tersebut tanpa mengatakan apa pun. Ia duduk di salah satu sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.

 

Refi tersenyum manis. Gestur tubuhnya begitu menggoda dengan pakaian seksi yang sengaja ia siapkan untuk bertemu dengan Yeriko. Ia melangkah perlahan menuju meja, menuangkan wine ke dalam gelas dan menyodorkan gelas tersebut ke hadapan Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil meraih wine dari tangan Refi. Ia tak berniat untuk meminumnya, sehingga ia letakkan begitu saja di atas meja.

 

“Kamu tenang aja! Aku nggak kasih obat apa pun ke dalam minuman ini,” tutur Refi sambil menuangkan wine ke dalam gelas lain dan meminumnya perlahan.

 

Yeriko masih bergeming. Ia tak berbicara sedikit pun, sikap tenangnya ini membuat Refi merasa tidak puas.

 

“Kenapa dia masih tenang banget?” batin Refi sambil menatap Yeriko. Ia menggoyang-goyangkan gelas wine yang ada di tangannya sambil menunggu Yeriko bereaksi.

 

Yeriko berusaha menyembunyikan kekesalan dalam hatinya. Tubuh seksi Refi yang duduk di meja, tepat di depannya, sama sekali tidak membuatnya tertarik.

 

“Yer, kamu ingat kalau dulu kita pernah sama-sama. Kamu begitu sayang dan perhatian sama aku. Kenapa kamu tiba-tiba berubah kayak gini? Aku yakin, masih ada perasaan cinta di dalam hati kamu buat aku. Nggak bener-bener ngelupain aku,” tutur Refi.

 

“Kalau kamu khawatir melukai Yuna. Kita bisa menjalin hubungan diam-diam di belakang dia. Aku masih cinta sama kamu. Aku rela jika harus jadi selingkuhan kamu. Aku cuma mau selalu ada di dekat kamu seperti dulu.”

 

Yeriko tak menanggapi ucapan Refi. Raut wajahnya begitu datar sehingga membuat Refi kesulitan untuk menebak isi hati Yeriko.

 

Refi sangat kesal melihat Yeriko yang masih tak menghiraukan ucapannya. Ia terpaksa tersenyum untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia ingin mendapatkan sesuatu yang gagal ia dapatkan saat hari ulang tahunnya.

 

Refi meletakkan gelas wine yang ada di tangannya ke atas meja, kemudian melangkahkan kakinya ke belakang Yeriko. Perlahan, kedua tangan Refi bertengger di bahu Yeriko. Sampai detik ini, Yeriko masih tak bereaksi.

 

“Yer, aku bakal ngasih tahu keberadaan Yuna ... asal kamu mau bercinta sama aku malam ini,” bisik Refi  sambil menjalankan telapak tangannya ke dada Yeriko.

 

Yeriko langsung menghentikan tangan Refi saat wanita itu mengendus telinganya. “Kamu jangan ngimpi, Ref! Satu detik ada di dekat kamu aja, aku udah jijik. Apalagi kamu ngancam aku atas nama Yuna. Aku nggak akan nuruti kemauan gila kamu ini!” tegasnya.

 

Refi langsung bangkit sambil mengerutkan wajahnya. “Kamu tahu, apa yang bisa aku lakuin ke Yuna kalau kamu nggak mau nuruti semua keinginanku, hah!?” seru Refi tak mau kalah.

 

Yeriko tertawa kecil. “Kamu pikir, kamu sudah hebat sampai aku nggak bisa menemukan keberadaan istriku?” tanyanya.

 

“Maksud kamu?” tanya Refi sambil mengerutkan dahinya.

 

Yeriko langsung memutar kepalanya menatap Refi. “Aku sudah tahu keberadaan Yuna dari awal. Aku sengaja mengulur waktu untuk melihat apa yang mau kamu lakukan. Apa kamu nggak pernah melihat diri kamu sendiri? Kamu itu perempuan paling menjijikkan di dunia!”

 

Refi membelalakkan matanya. “Kamu pernah sayang sama aku, Yer. Sekarang, kamu bisa ngatain aku sekejam ini. Kamu nggak ingat apa yang pernah kamu lakukan ke aku?”

 

“Pernah tertarik sama kamu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku terlalu bodoh sampai tertipu dengan sikap lembut kamu itu. Sekarang, aku semakin tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu nggak pantas ada di dekatku, bahkan ada di dekat orang-orangku!”

 

“Kamu yang lagi ditipu sama Yuna. Dia yang sudah nipu kamu, Yer. Dia deketin kamu karena harta yang kamu punya!”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, dia memang cinta sama aku karena harta yang aku punya. Apa yang aku punya saat ini adalah bukti cintaku ke dia. Aku nggak pernah menyesal memberikan seluruh harta dan kehidupanku untuk dia!”

 

“Kamu udah bener-bener buta, Yer!” seru Refi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia masih tak mempercayai apa yang ia dengar dari mulut Yeriko. “Kamu cinta sama dia? Kenapa masih belum bisa nemuin dia sampai sekarang? Pasti, kamu cuma ngarang cerita doang. Kamu nggak takut kalau aku bunuh dia?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Sebelum kamu bunuh dia, aku pastikan kalau kamu yang akan mati duluan!”

 

Refi tergelak mendengar ucapan Yeriko. Ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang sudah ia lakukan selama ini. Kebenciannya semakin memuncak karena Yuna dan Yeriko tak bisa ia pengaruhi. Ia sangat membenci hubungan cinta yang tidak terpisahkan itu.

 

Yeriko menatap Refi tanpa berkata-kata.

 

Refi langsung meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. “Aku tinggal bilang sama orang suruhanku untuk menghabisi Yuna sekarang juga!” ancam Refi.

 

Yeriko langsung menyambar ponsel dari tangan Refi.

 

Refi terkejut dengan Yeriko yang begitu cepat mengambil alih ponsel dari tangannya.

 

Yeriko langsung membanting ponsel tersebut ke lantai hingga setiap part ponsel Refi berserakan tak karuan.

 

“Yer, kamu ...!?” Refi menatap kesal ke arah Yeriko. Ia mulai gentar menghadapi tatapan mata Yeriko yang penuh amarah. Ia memberanikan diri untuk tersenyum sambil menatap Yeriko. “Kamu nggak akan pernah menemukan istri kamu sampai kapan pun!” serunya.

 

Yeriko tersenyum sinis. “Aku bukan orang bodoh, Ref. Aku udah pasang GPS di liontin Yuna. Kamu pikir, aku nggak tahu kalau kamu sembunyikan istriku di gudang yang ada di pelabuhan utara?”

 

Refi langsung tertawa mendengar ucapan Yeriko. “Ketahuan banget kalau kamu sebenarnya nggak tahu di mana istri kamu. Jelas-jelas aku bawa dia ke bekas Pabrik Karet yang ada di daerah Warugunung, jauh banget sama pelabuhan Utara. GPS kamu eror?” tuturnya sambil tertawa. Ia merasa sangat bahagia karena sebenarnya Yeriko tak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan istrinya.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Thanks, Ref!” ucapnya sambil melangkah keluar dari kamar hotel tersebut.

 

Refi membelalakkan matanya. Ia baru menyadari kalau ia keceplosan bicara tentang keberadaan Yuna. Ia langsung berlari menghadang Yeriko agar tidak keluar dari kamar tersebut.

 

Yeriko langsung menyingkirkan tubuh Refi dengan mudah. Ia tidak ingin bernegosiasi soal perasaannya. Apalagi bermain-main dengan wanita yang menjijikkan seperti Refi.

 

Refi tertawa terbahak-bahak sebelum Yeriko benar-benar pergi meninggalkan kamar tersebut. “Percuma kalau kamu pergi ke sana sekarang. Aku udah siapin banyak orang untuk memenuhi kebutuhan biologis istri kamu. Dia nggak akan merasa kekurangan sedikit pun. Dia akan tetap merasa bahagia dan terpuaskan di tempat itu.”

 

PLAK ...!

 

PLAK ...!

 

Yeriko langsung menampar wajah Refi beberapa kali. “Bangsat, kamu! Kalau sampai istriku kenapa-kenapa, aku bakal bikin perhitungan sama kamu seumur hidup!” sentak Yeriko. Ia langsung menarik gagang pintu dan keluar dari kamar tersebut.

 

Refi memegangi pipinya yang memerah sambil menatap Yeriko yang mulai melangkah keluar dari kamarnya. Air matanya mengalir karena ia masih tidak bisa mendapatkan Yeriko walau ia sudah melakukan hal yang paling berbahaya dalam hidupnya.

 

“Beresin dia!” perintah Yeriko pada lima ajudan yang menunggu di luar pintu.

 

Ajudan-ajudan itu mengangguk. Mereka bergegas menerobos ke kamar Refi. Membuat Refi terkejut bukan main. “Kalian siapa?” tanya Refi.

 

Semua orang yang masuk ke ruangannya itu tidak menjawab. Salah seorang memukul tengkuk Refi hingga membuat wanita itu pingsan.

 

Yeriko melangkahkan kakinya menyusuri koridor hotel sambil menempelkan ponsel di telinganya.

 

“Halo ...! Yuna disekap di bekas Pabrik Karet daerah Warugunung. Semua bergerak ke sana!” perintah Yeriko.

 

“Siap, Yer!” sahut Chandra.

 

 “Semua langsung meluncur ke sana!” Satria tak mau kalah.

 

“Lutfi sama Riyan, tolong urus si Refi!” perintah Yeriko.

 

“Siap, Bos!” sahut Lutfi.

 

Yeriko menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku. Ia mempercepat langkah kakinya keluar dari hotel tersebut dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju Warugunung.  

 

“Yun, tunggu aku!” pinta Yeriko sambil melajukan mobilnya membelah jalanan. Ia ingin bisa sampai lebih cepat untuk menyelamatkan istrinya. 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Kasih support untuk Mr. And Ms. Ye ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas