BRAAK
...!
BRAAK
...!
Orang-orang
yang ada di dalam ruangan itu langsung menoleh ke arah pintu besi yang didobrak
paksa dari luar.
“Siapa,
Bos?” tanya salah seorang pria yang ada di sana.
Si
Bos menggelengkan kepala. “Nggak tahu.”
“Ada
anggota kita yang datang lagi?” tanya yang lainnya lagi.
“Seharusnya
nggak ada.”
“Jangan-jangan,
polisi!”
Semua
orang langsung bersiap-siap, wajah mereka tegang saat melihat pintu yang sedang
didobrak paksa itu akhirnya terbuka.
Chandra
dan tiga orang yang bersamanya langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Kalian
siapa?” tanya si Bos sambil mengamati wajah Chandra yang tertimpa cahaya lampu
remang-remang.
“Kalian
sembunyikan di mana perempuan itu?” tanya Chandra.
“Perempuan?
Nggak ada perempuan di sini.”
Chandra
langsung menoleh ke arah tiang yang sama persis dengan tiang dalam video yang
dikirim Refi. Ia langsung berlari ke arah tiang dan meraih tali yang sudah
berserakan di lantai.
Chandra
memutar kepalanya menatap pria-pria yang ada di sana. “Aku tanya sekali lagi,
di mana perempuan yang udah kalian culik!” seru Chandra.
Tak
ada satu pun pria yang berani menjawab pertanyaan dari Chandra.
Chandra
menggenggam erat tali yang ada di tangannya. “Aargh ...!” Ia bangkit dan
langsung menyerang preman-preman itu bersama dengan pasukan yang dibawanya.
BUG!
BUG!
BUG!
Preman-preman
yang menculik Yuna terus melakukan perlawanan.
BRAAK
...!
Satria
dan pasukan berseragam loreng ikut masuk ke dalam ruangan tersebut. Mereka
langsung melumpuhkan sebelas pria yang ada di sana dengan mudah. Satria
langsung mengikat tangan pria-pria itu satu per satu dan menelungkupkan tubuh
mereka ke tanah.
“Jangan
dilepasin!” perintah Satria pada semua anak buahnya. Ia menggilas salah satu
leher pria yang ada di bawahnya.
Di
saat yang bersamaan, Yeriko masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia merasa sangat
puas karena semua orang yang menculik istrinya sudah dilumpuhkan oleh Satria
dan pasukannya.
“Mana
istriku?” tanya Yeriko sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia
menghampiri tiang yang ada di dalam video tersebut.
“Chan,
mana istriku!?” seru Yeriko sambil menatap Chandra.
Chandra
menggelengkan kepala.
Yeriko
langsung menghampiri salah seorang preman yang masih menelungkup di lantai. Ia
langsung meraih kerah baju pria itu dan mengangkat tubuhnya. “Mana istriku?”
tanya Yeriko dengan tatapan yang menghunus tajam ke arah pria tersebut.
Pria
itu gemetaran menghadapi tatapan mata Yeriko. Ia merasakan di kakinya ada air
hangat yang mengalir perlahan membasahi seluruh celananya.
“Aih
... badan aja gede! Ngompol pula!” seru Satria sambil menutupi hidungnya.
Chandra
tertawa melihat preman bertubuh kekar tersebut ketakutan menghadapi Yeriko.
“Di
mana istriku!?” tanya Yeriko sekali lagi.
Pria
itu gemetaran. Ia langsung menoleh ke arah lubang kecil yang ada di ruangan
tersebut. “Di-di ... di dalam sana,” jawabnya dengan terbata-bata.
Yeriko
langsung melepaskan kerah baju pria tersebut. Ia berlari ke arah lubang kecil
yang ada di ruangan tersebut. Berjongkok dan mengintip lubang yang bau dan
gelap itu. Ia bisa melihat ujung kaki Yuna ada di dalam ruangan tersebut.
Yeriko berusaha meraih tangan Yuna yang memeluk kakinya.
“Aargh
...!” teriak Yuna sambil menendang tangan yang kembali masuk ke dalam lubang
tersebut. “Jangan deketin aku!”
“Aw
...!” Yeriko merintih saat Yuna menendang tangannya yang terluka.
“Hiks
... hiks ...!” Yuna masih terisak di dalam ruangan tersebut.
“Yun,
gimana caranya kamu bisa masuk ke lubang sekecil ini?” gumam Yeriko.
“Yuna,
ini aku! Suami kamu,” tutur Yeriko sambil memasukkan kepalanya ke lubang
tersebut.
Yuna
langsung menghapus air matanya, ia menatap wajah pria yang ada di luar lubang
tersebut. Ia langsung tersenyum begitu melihat wajah Yeriko. “Kamu beneran
datang?”
Yeriko
mengangguk sambil tersenyum. “Aku pasti datang. Kamu baik-baik aja di sana?”
Yuna
mengangguk. “Aku baik-baik aja,” jawabnya lirih.
“Keluarlah!”
pinta Yeriko sambil mengulurkan tangannya.
Yuna
menundukkan kepalanya, ia merangkak keluar dari lubang tersebut.
Yeriko
langsung menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya begitu wanita itu keluar.
“Kenapa
baru datang? Aku takut!” ucap Yuna lirih.
“Maafin
aku! Maafin aku! Maafin aku!” balas Yeriko sambil mengeratkan pelukannya.
Yeriko
melepas pelukannya. Ia membuka jaket yang ia kenakan dan menyampirkan ke tubuh
Yuna. Ia sangat terluka melihat wajah Yuna yang pucat pasi, kotor, bau dan
tubuhnya yang terluka.
Yuna
menatap wajah Yeriko sambil tersenyum. “Aku tahu, kamu pasti datang. Aku kangen
sama kamu.”
Yeriko
menangkup wajah Yuna yang dingin. “Aku juga kangen sama kamu. Maafin aku yang
terlambat datang.”
Yuna
tersenyum sambil mengangguk kecil. Ia melihat wajah Yeriko yang semakin lama
terlihat buram. “Tuhan ... ini bukan mimpi ‘kan?” batin Yuna saat ia tak bisa
lagi melihat wajah Yeriko. Hanya kegelapan yang ada di hadapannya dan suara
Yeriko yang tak sanggup untuk ia balas.
“Yuna
...!” teriak Yeriko saat tubuh Yuna tiba-tiba merosot. Ia langsung menangkap
tubuh Yuna dan menggendongnya.
Yeriko
menggendong tubuh Yuna yang dingin dan tak sadarkan diri. Air matanya menetes
melihat keadaan istrinya. Ia merasa dunianya runtuh saat melihat Yuna lemah dan
terluka. Ia kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi istrinya
dengan baik.
“Yun,
kamu kuat kan? Kamu pasti baik-baik aja!” tutur Yeriko sambil menangis. Ia
terus melangkahkan kakinya keluar dari bangunan pabrik yang sudah tidak
digunakan selama bertahun-tahun itu.
“Chan,
kamu supirin Yeriko!” perintah Satria. “Aku khawatir kalau dia bawa mobil
sendiri.”
Chandra
menganggukkan kepala. Ia merogoh saku dan melemparkan kunci mobilnya ke arah
Satria. “Aku titip mobilku!”
Satria
menangkap kunci mobil yang melayang di hadapannya. Ia mengangguk dan meminta
semua anak buahnya membantu mengurus para penculik itu.
Chandra
langsung berlari menyusul langkah Yeriko. “Yer, biar aku yang bawa mobil kamu.”
Yeriko
menganggukkan kepala. “Kuncinya masih di mobil, Chan.”
Chandra
mengangguk. Ia bergegas berlari ke arah mobil Yeriko.
Yeriko
menggendong Yuna sampai masuk ke dalam mobil. Ia terus memeluk erat tubuh Yuna
yang dingin. “Cepet, Chan! Kasihan istriku,” pinta Yeriko lirih.
Chandra
menganggukkan kepala. Ia bergegas menyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas
dan membawa mobil Yeriko melaju membelah jalanan malam yang sepi. Chandra
langsung membawa Yuna dan Yeriko ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan
pertolongan secepatnya.
“Suster,
tolongin!” teriak Chandra begitu ia menghentikan mobilnya di depan pintu masuk
IGD General Hospital Wijaya setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh
menit dari lokasi kejadian.
Suster
yang berjaga di ruang IGD tersebut secepatnya menarik brankar begitu melihat
Yeriko menggendong Yuna dari dalam mobil. Mereka langsung bergerak cepat untuk
menangani Yuna yang sudah tidak sadarkan diri.
“Tolongin
istri saya, Suster!” pinta Yeriko.
Suster
itu mengangguk. “Percayakan semuanya sama kami!” Ia langsung menutup pintu
ruang IGD untuk memberikan pertolongan pada Yuna.
Yeriko
menarik napas dalam-dalam. Ia begitu cemas menunggu Yuna di dalam ruangan yang
bertuliskan IGD tersebut. Ia harap, keadaan istri dan anak yang sedang
dikandungnya dalam keadaan baik-baik saja.
“Chan,
kalian semua sudah bekerja keras untuk menolong istriku. Sebaiknya, kamu pulang
dan istirahat. Biar aku yang jaga Yuna,” tutur Yeriko sambil menatap Chandra
yang masih berdiri di sampingnya.
Chandra
menganggukkan kepala. “Besok pagi, aku ke sini lagi.”
Yeriko
menganggukkan kepala. Ia ingin mengurus Yuna seorang diri untuk menebus
kesalahannya sendiri karena tak mampu menjaga dan melindungi istrinya dengan
baik.
((Bersambung ...))
Huft, udah lega...
Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi


