“Mbak Belli kenapa?” tanya seorang pelayan saat
membukakan pintu begitu Bellina dan Mega sampai ke rumah.
“Bukan urusan kamu!” sahut Bellina kesal sambil
melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas.
Pelayan yang lain saling berbisik dan menertawakan
penampilan Bellina yang begitu berantakan.
Bellina langsung berbalik begitu ia mendengar
suara berbisik dari beberapa pelayan di rumah tersebut.
“Heh!? Kalian nggak punya kerjaan lain selain
ngomongin majikan sendiri, hah!?” seru Bellina.
Pelayan itu langsung bergegas memisahkan diri dan
melangkah menuju ruangan belakang. “Galak amat!” celetuk mereka lirih.
“Heran, deh. Pelayan di rumah ini pada nggak
bener. Sibuk ngurusin pribadi majikannya. Kerja yang bener, kek,” gerutu
Bellina sambil masuk ke dalam kamar dan bergegas membersihkan tubuhnya.
Di lantai bawah, Mega masih terus memikirkan hal
yang terjadi padanya hari ini. Ia khawatir kalau semua ini akan mempengaruhi
kredibilitas perusahaan dan mengancam perusahaan keluarganya.
“Ergh! Kenapa punya menantu kayak gitu
kelakuannya!?” serunya kesal. “Kalau sampai berita kayak gini tersebar ke luar,
perusahaan Wijaya bisa kehilangan kepercayaan dari orang lain. Bellina nggak
mikirin nasib perusahaan suaminya sendiri? Sinting tuh anak!”
Mega mondar-mandir di ruang tamu hingga ia masuk
ke dalam kamarnya. “Aku harus memikirkan cara untuk memisahkan Lian dari
perempuan itu. Kalau begini terus, keluarga Wijaya nggak akan ada harganya di
mata orang-orang. Dia udah tega menyakiti anaknya sendiri. Sekarang, dia juga
nggak jelas anaknya siapa.”
Mega merasa kalau perbuatan Bellina semakin hari
semakin kelewat batas dan membahayakan masa depan keluarga besarnya. Ia tidak
ingin Bellina terus menempel pada putera kesayangannya dan menimbulkan masalah.
Di kamarnya, Bellina terus menerus meracau tak
jelas. Ia menganggap semua benda yang ada di dalam kamar mandi adalah Yuna dan
terus memaki sepuasnya.
“Sialan kamu, Yun! Kalau bukan karena kamu, aku
nggak akan dipermalukan kayak gini!” seru Bellina kesal. Ia tidak tahu harus
bagaimana menghadapi sepupunya tersebut. Banyak hal yang ia benci dari Yuna
karena ia tidak bisa mendapatkan kebahagiaan seperti yang didapatkan oleh Yuna.
...
Keesokan harinya ...
“Ribut banget, sih!” maki Bellina sambil menyambar
ponsel yang berdering. Ia masih menutup mata, enggan berdamai dengan mentari
pagi yang mulai menghangat.
Bellina langsung membelalakkan mata begitu melihat
pengingat agenda yang tertera di layar ponselnya. “Astaga! Hari ini tes DNA
bakal keluar. Aku harus ke rumah sakit lebih dulu,” tuturnya sambil bangun dari
tempat tidurnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Namun,
Bellina baru saja membuka mata. Sementara Wilian sudah pergi ke kantor tiga
puluh menit yang lalu.
“Huft, aku lupa banget kalau hari ini hasil tes
DNA bakal keluar. Mudahan aja, hasilnya negatif! Aku harus sampai lebih dulu ke
rumah sakit!”
Bellina buru-buru pergi ke rumah sakit untuk
mengetahui hasil tes DNA itu terlebih dahulu.
Begitu sampai di rumah sakit, Bellina langsung
menghampiri tim dokter yang mengurusi masalah tes DNA.
“Prof ...!” panggil Bellina.
Dokter itu langsung berbalik. “Siapa ya?”
“Aku Bellina, yang akan menerima tes DNA hari
ini.”
“Oh.” Dokter itu mengangguk-anggukkan kepala.
“Tunggu yang lain ya!” pinta dokter ith sambil melangkah pergi.
“Prof, apa saya bisa lihat hasil tes DNA itu lebih
dulu?” tanya Bellina sambil mengejar langkah dokter tersebut.
Dokter itu menghentikan langkahnya. “Ikutilah
semuanya sesuai prosedur!”
“Prof, sekarang atau nanti ... hasilnya akan tetap
sama. Saya hanya ingin mengetahui lebih dulu.”
“Nanti akan saya beritahukan setelah semua
keluarga berkumpul sesuai dengan permintaan Pak Tarudi.”
“Prof, saya langsung yang dites kali ini. Apa saya
nggak bisa mengetahui hasilnya lebih dulu? Kalau memang profesor tidak ingin
memperlihatkan suratnya. Setidaknya, kasih tahu saya ... siapa ayah biologis
saya?”
Profesor itu menarik napas sejenak sambil menatap
wajah Bellina. “Saya tidak bisa mengatakan sebelum semuanya berkumpul. Jadi,
tunggu saja!” jawab dokter itu dan berlalu pergi.
Bellina menarik napas dalam-dalam. Ia berbalik dan
menghampiri ruang laboratorium forensik untuk mencari hasil tes DNA miliknya.
Dari balik kaca pintu laboratorium, Bellina berusaha mengintip ke dalam ruangan
tersebut. Ada dua petugas laboratorium yang ada di dalam sana. Membuatnya tak
bisa masuk dengan leluasa.
Bellina hanya bisa menyandarkan punggung dan
kepalanya ke dinding. Ia pasrah begitu saja saat mengetahui ada dua kamera CCTV
di sudut kanan dan kiri koridor tersebut.
“Kenapa sih nggak semudah cerita sinetron? Mereka
bisa ganti hasil tes DNA dengan mudah. Di rumah sakit ini, sistem keamanannya
ketat banget. CCTV di mana-mana. Dokternya nggak bisa diajak sekongkol. Pintu
laboratorium dikunci. Aku harus gimana?” rengek Bellina sambil mengacak-acak
rambutnya sendiri.
Bellina menoleh ke dalam ruang laboratorium yang
hanya bisa ia lihat sedikit dari balik kaca pintu.
Beberapa menit kemudian, Melan dan kekasihnya
muncul dari ujung koridor dan langsung menghampiri Bellina.
“Bel, udah di sini dari tadi?” tanya Melan sambil
menatap Bellina.
Bellina melirik tajam ke arah mamanya. Hatinya
diselimuti kebencian saat melihat mamanya dan Lonan berangkulan mesra. Ia
merasakan sakit yang luar biasa, ia tidak ingin menjadi anak kandung dua orang
yang ada di hadapannya.
“Cantik ...! Jangan cemberut seperti itu!” pinta
Lonan lembut sambil mengelus rambut Bellina.
Bellina langsung menepis tangan Lonan dengan
kasar. “Nggak usah sok baik!”
Lonan tertawa bahagia melihat sikap Bellina yang
kasar dan angkuh. “Aku suka sifat kamu ini ... sangat mirip denganku. Sudah
pasti, kamu adalah anak kandungku.”
“Jangan terlalu percaya diri! Aku nggak mau punya
ayah kayak kamu!” seru Bellina.
“Hahaha. Kalau kenyatannya kamu adalah anakku.
Kamu bisa apa?”
“Hasil tes DNA belum keluar. Sekalipun hasilnya
positif kalau aku anak kamu. Aku nggak akan pernah mengakuinya!” tegas Bellina.
“Papaku cuma satu. Aku nggak mau punya papa lain!” lanjutnya dengan mata
berkaca-kaca sambil menoleh ke arah Tarudi yang muncul di belakang Lonan.
Tarudi terpaku melihat wajah Bellina yang sudah
ada di hadapannya. Harapannya kali ini hanya Bellina. Ia sangat berharap kalau
Bellina adalah puteri kandungnya.
Ia belum resmi menceraikan istrinya. Tapi,
istrinya sudah bergandengan mesra dengan pria lain dan membuat perasaannya tak
karuan. Hatinya begitu tersayat, tapi ia tidak punya hak untuk marah atau
cemburu. Sebab, hubungan mereka saat ini sudah berbeda.
“Bel, papa juga ingin menjadi papa kamu untuk
selamanya. Papa sangat menyayangi kamu. Hingga saat ini, kamulah yang tak
sanggup papa benci meski papa ingin membencimu,” batin Tarudi. Ia tidak
ingin menjalani kehidupannya seorang diri. Ia tidak akan mempertahankan rumah
tangganya tapi ia ingin memiliki seorang puteri yang bisa menemaninya
menghabiskan hari tua bersama.
((Bersambung...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat nulisnya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
.png)






.png)
.png)