Wednesday, February 11, 2026

HAKI dan Kontrak Digital: Tentang Karya, Kesadaran, dan Keberanian Penulis Menjaga Haknya

 



Menulis itu sering lahir dari hal-hal yang sederhana. Dari keresahan, dari luka kecil yang tak sempat diceritakan, dari kegembiraan yang ingin dibagi. Tapi begitu tulisan itu bertemu platform digital dan kontrak publisher, ceritanya berubah. Tidak lagi sekadar soal rasa, tapi juga soal hak.

Di titik inilah banyak penulis mulai gamang. Antara ingin dibaca banyak orang dan takut kehilangan kendali atas karyanya sendiri. Saya juga ikut merasakannya. Ketika kita tak punya lagi hak atas karya dan ketidakjujuran publisher dalam mengadaptasi naskah-naskah kita dalam bentuk karya lain. Publisher/platform bisa menjual karya kita secara komersil tanpa sepengetahuan dari penulis dan itu sangat merugikan penulisnya.

Saya sering melihat penulis—terutama penulis digital—berada di persimpangan yang sunyi: menerima tawaran kontrak dengan perasaan campur aduk, antara bangga, takut, dan bingung. Bangga karena karyanya dilirik. Takut karena belum benar-benar paham isi kontraknya. Bingung karena istilah hukum terasa jauh dari dunia imajinasi yang biasa mereka tinggali.

Padahal, di situlah HAKI bekerja.


HAKI: Hak yang Diam-Diam Menentukan Masa Depan Karya

HAKI—Hak Atas Kekayaan Intelektual—sering terdengar kaku dan legalistik. Seolah hanya urusan pengacara dan pejabat. Padahal bagi penulis, HAKI adalah rumah tempat karya itu pulang.

Dalam hukum Indonesia, hak cipta atas sebuah karya lahir secara otomatis sejak karya tersebut diwujudkan dalam bentuk nyata. Artinya, begitu tulisan ditulis dan dipublikasikan, penulis secara hukum adalah pemilik sahnya. Tidak perlu menunggu didaftarkan lebih dulu.

Masalahnya bukan pada kepemilikan awal, melainkan pada apa yang terjadi setelah kontrak ditandatangani.

Banyak penulis tidak benar-benar kehilangan karyanya karena dijiplak, tapi karena secara sadar menyerahkannya lewat perjanjian yang tidak dipahami sepenuhnya.


Ketika Kontrak Dibaca dengan Terburu-buru

Dunia platform digital bergerak cepat. Tawaran datang dengan tenggat waktu. Kadang disertai janji: promosi, pembaca besar, peluang cetak, bahkan adaptasi.

Di titik ini, penulis sering lupa satu hal penting:
kontrak bukan sekadar formalitas, melainkan peta kekuasaan atas karya.

Ada kontrak yang secara halus memindahkan hak cipta, hak ekonomi, hingga hak turunan (adaptasi, cetak, film, audio).

Kalimatnya sering rapi, dingin, dan tampak “standar”. Tapi di situlah letak bahayanya. Karena standar bagi publisher belum tentu adil bagi penulis.


Menyikapi Tawaran Kontrak: Tidak Melawan, Tapi Sadar Posisi

Menyikapi kontrak bukan berarti harus curiga berlebihan. Tapi juga bukan berarti pasrah.

Kesadaran paling mendasar yang perlu dimiliki penulis adalah ini:
publisher adalah mitra distribusi, bukan pemilik ide.

Kontrak yang sehat seharusnya:

  • mengakui hak cipta tetap milik penulis,

  • memberi lisensi yang jelas dan terbatas pada publisher,

  • mencantumkan durasi kerja sama,

  • serta menjelaskan pembagian hak jika karya dikembangkan ke bentuk lain.

Menanyakan hal-hal ini bukan tanda penulis sulit diajak kerja sama. Justru sebaliknya, itu tanda bahwa penulis memahami nilai karyanya sendiri.


Antara Idealisme dan Realitas

Saya paham, tidak semua penulis berada pada posisi yang ideal. Ada yang menulis sambil bekerja, sambil menjahit, sambil mengurus rumah, sambil bertahan hidup. Tidak semua punya kemewahan untuk menolak kontrak.

Tapi setidaknya, penulis bisa memilih untuk tidak buta. Membaca perlahan. Mencatat poin yang tidak dipahami  dan bertanya.

Dan jika perlu, menunda.

Karena karya bisa ditulis ulang. Tapi hak yang terlepas sering kali tidak pernah kembali.


Menulis dengan Hati, Menandatangani dengan Kesadaran

Dunia kepenulisan digital akan terus berkembang. Platform akan datang dan pergi. Tapi satu hal yang seharusnya tetap ialah posisi penulis sebagai pemilik karya.

HAKI bukan tentang keserakahan. Ia tentang keberlanjutan. Tentang memastikan bahwa suara penulis tidak hanya ramai hari ini, tapi juga berdaulat di masa depan.

Menulis memang soal hati. Namun, menjaga hak atas tulisan adalah soal kesadaran diri sebagai kreator. Dan keduanya tidak pernah saling bertentangan.

Maka, pilihlah tempat menulis di mana tulisan dan kerja kerasmu benar-benar dihargai dan kamu memiliki hak penuh atas karyamu sendiri.


Sumber Referensi:

  1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta
    (Sebagai dasar hukum utama perlindungan karya tulis di Indonesia)

  2. Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kemenkumham RI
    https://www.dgip.go.id
    (Informasi resmi tentang hak cipta dan HAKI)

  3. World Intellectual Property Organization (WIPO)
    https://www.wipo.int
    (Panduan internasional tentang hak kekayaan intelektual bagi kreator)

  4. Lindsey, T. et al. (2018). Hak Kekayaan Intelektual: Suatu Pengantar.
    Jakarta: PT Alumni.

Perfect Hero Bab 394 : Salah Paham

 


Ratna tersenyum sambil menatap tubuhnya di depan cermin. “Bajunya cantik banget!” pujinya pada diri sendiri. “Hmm ... Mas Surya beliin khusus buat aku. Pasti, karena dia sebenarnya suka sama aku.”

 

Surya selalu memperlakukan semua pekerja dan pelayan di rumahnya dengan baik. Hal ini, membuat Ratna merasa kalau Surya mencintai dirinya. Semakin hari, membuat Ratna semakin terobsesi pada tuan muda di rumah itu.

 

“Bi, biar aku yang antar kopi untuk Mas Surya!” pinta Ratna sambil terus tersenyum.

 

“Nggak usah, biar Bibi aja!”

 

“Kenapa?”

 

“Ratna, kamu harus sadar sama apa yang sudah kamu lakukan. Mas Surya, sebentar lagi akan menikah. Kamu jangan terus-menerus mendekati dia!”

 

Ratna menyeringai. “Bi, Mas Surya itu sayang sama Ratna!” tegasnya.

 

“Itu cuma perasaan kamu aja!”

 

“Nggak. Selama ini, dia selalu memperlakukan aku dengan baik. Dia juga perhatian sama aku.”

 

“Mas Surya perhatian sama semua orang. Tapi, dia cuma mau menikahi Mbak Nada. Kamu jangan ngimpi!” Bibi tersebut langsung bergegas pergi meninggalkan Ratna.

 

Ratna mengerutkan wajah sambil menghentakkan kakinya ke lantai. “Pembantu nyebelin!” umpatnya. “Awas aja kalo aku beneran nikah sama Mas Surya. Kamu langsung aku pecat!”

 

Ratna terus berusaha selalu ada di dekat Surya. Ia tetap saja merasa kalau Surya mencintainya walau ia mengetahui kalau bosnya itu akan segera menikah dengan wanita lain.

 

 

 

Surya, selalu bekerja keras mengembangkan perusahaannya. Hampir setiap hari ia menghabiskan waktunya di tempat kerja. Seperti biasa, jam sebelas malam, Surya baru pulang kerja karena harus lembur. Ratna selalu menunggu dan menyambutnya dengan ceria.

 

“Sini, Mas. Biar aku bawain tasnya!” pinta Ratna.

 

“Makasih ...!” ucap Surya sambil tersenyum ke arah Ratna. Ia senang melihat pelayan yang bekerja dengan gigih dan penuh inisiatif untuk melayani dirinya.

 

Ratna terus tersenyum sambil melangkah mengikuti Surya sampai ke kamarnya.

 

“Taruh di situ aja!” perintah Surya sambil menunjuk meja yang ada di kamarnya.

 

Ratna mengangguk sambil tersenyum. Ia terus tersenyum sambil menatap Surya yang sedang melepas jas dan dasinya.

 

“Ngapain masih di sini?” tanya Surya.

 

“Eh!? Nggak papa, Mas. Saya permisi dulu!”

 

Surya tersenyum. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur. “Tutup pintu!” perintahnya.

 

Ratna melangkahkan kakinya keluar kamar sambil tersenyum. Ia menutup pintu kamar Surya perlahan dan melangkah menuruni anak tangga.

 

Surya menoleh ke arah pintu kamarnya yang sudah tertutup. Ia menghela napas dan memejamkan matanya perlahan.

 

Di bawah tangga, Nyonya Besar pemilik rumah itu berdiri menatap Ratna yang baru saja turun dari kamar anaknya.

 

“Nyonya ...!?” Ratna langsung menghentikan langkahnya.

 

“Kamu ngapain ke kamar anak saya malam-malam gini?” tanya Lela, mama Surya.

 

“Sa ... Saya ... anu, Nyonya. Saya abis melayani Mas Surya.”

 

“Apa!?” Lela langsung naik pitam begitu mendengar pernyataan Ratna. “Kamu sadar nggak sama apa yang sudah kamu lakukan, hah!? Surya itu sudah mau nikah sama Nada. Bisa-bisanya kamu godain anak saya!”

 

“Nyonya, ampuni saya!” pinta Ratna sambil berlutut di hadapan Lela. “Saya benar-benar mencintai Mas Surya. Mas Surya juga sangat menyayangi saya.”

 

“Nggak mungkin!” seru Lela. “Gimana bisa Surya suka sama pembantu kayak kamu!? Pasti kamu yang sudah godain anak saya, kan?”

 

“Nyonya, kami beneran saling mencintai.”

 

“Surya sudah mau menikahi Nada. Gimana bisa mencintai kamu?”

 

“Nyonya, Mbak Nada itu seorang Vixen. Mas Surya cuma pura-pura sayang sama dia. Perempuan yang sebenarnya dia cintai adalah saya,” jawab Ratna.

 

Lela menekan dadanya yang terasa sesak. Ia masih tidak percaya kalau putera kesayangannya telah mempermainkan hubungannya dengan wanita.

 

Di kamarnya, Surya yang baru saja menutup mata, langsung terganggu dengan suara keributan yang terdengar dari bawah.

 

“Ada apa sih ribut-ribut malam-malam gini?” gumam Surya sambil bangkit dari tempat tidur. Ia melempar dasinya ke atas tempat tidur dan membiarkan semua kancing kemejanya terbuka. Ia bergegas keluar dari kamar dan melangkah menuruni anak tangga.

 

“Ada apa ini?” tanya Surya sambil menatap Ratna yang berlutut di depan mamanya.

 

Lela langsung membungkam mulutnya saat melihat dada Surya yang telanjang. “Kamu ...!? Beneran ada main sama pembantu ini?”

 

“Hah!?” Surya menatap tubuhnya sendiri. Ia buru-buru mengancing kemejanya dan bergegas menghampiri mamanya. “Ma, ini cuma salah paham.”

 

“Dia udah mengakui apa yang sudah kalian lakukan. Sebentar lagi, kamu mau menikah. Kelakuan kamu malah kayak gini!” seru Lela kesal.

 

“Ma, aku nggak ngapa-ngapain sama dia,” sahut Surya. Ia menoleh ke arah Ratna. “Jelasin ke mamaku kalo kita nggak ngapa-ngapain!” pinta Surya.

 

Ratna malah terisak sambil menundukkan kepalanya. “Mas Surya, saya sudah melayani Mas Surya dengan baik. Sampai kapan harus menyembunyikan ini semua? Ratna juga punya hati. Mas Surya kenapa tega meniduri Ratna kalau ingin menikah dengan wanita lain?”

 

Surya membelalakkan matanya. “Heh, kamu jangan ngada-ngada. Kapan aku nidurin kamu!?”

 

Ratna semakin terisak mendengar pertanyaan Surya.

 

Lela semakin sesak melihat Ratna yang terisak di depannya. Tubuhnya sempoyongan, lututnya tak lagi punya kekuatan untuk berdiri tegak.

 

“Ma ...!” Surya langsung memapah Ratna untuk duduk di sofa.

 

“Surya, kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu sendiri. Gimana bisa kamu mencintai dua wanita sekaligus?” tanya Lela sambil memijat keningnya yang berdenyut.

 

“Ma, aku nggak ada hubungan apa-apa sama Ratna. Aku cuma cinta sama Nada. Cuma dia yang bakal jadi istriku,” tutur Surya.”

 

“Gimana sama dia?” tanya Lela sambil menatap Ratna yang masih terduduk di lantai sambil terisak.

 

Surya menghela napas. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kebaikannya selama ini, justru disalah artikan oleh Ratna dan membuat wanita itu semakin terobsesi pada dirinya hingga berani mengatakan kebohongan di depan semua orang.

 

“Ratna, selama ini aku selalu baik sama kamu. Apa ini caramu membalas kebaikanku?” tanya Surya sambil menatap Ratna.

 

Ratna tetap tak menghentikan tangisnya. “Mas, saya sangat mencintai Mas Surya. Saya rela melakukan apa pun untuk Mas Surya. Kenapa malah membuang saya setelah saya menyerahkan semuanya untuk Mas Surya?”

 

“Kamu ...!?” Surya geram melihat sikap Ratna yang sengaja memfitnah dirinya. Selama ini, ia bersikap baik pada pelayan-pelayan di rumahnya karena memiliki latar belakang kehidupan yang tidak mampu. Ia tidak ingin menjadi orang yang menindas orang yang lemah.

 

“Surya, Mama tidak akan menghalangi hubungan kalian kalau memang kalian saling mencintai. Tidak perlu harus bersikap seperti ini. Pilihlah salah satu! Ratna atau Nada?”

 

“Ma, jangan kasih aku pilihan!” pinta Surya.

 

“Kenapa? Kamu nggak bisa memilih siapa yang seharusnya bersanding dengan kamu? Kamu mau nikahi dua-duanya?”

 

Surya menggelengkan kepala. “Mama nggak perlu membuatkan pilihan. Sampai mati pun, aku tetap mencintai Nada!” tegasnya.

 

Surya menoleh ke arah Ratna. “Ratna, kamu jangan terus-menerus bikin fitnah. Aku nggak pernah nyentuh kamu sedikit pun. Kamu kebanyakan nonton drama, makanya jadi halu! Kalo kamu masih bikin kebohongan terus, aku bakal usir kamu dari rumah ini!” seru Surya kesal.

 

Ratna menggelengkan kepalanya sambil terisak. “Jangan usir saya, Mas! Saya mau tinggal di mana?”

 

“Terserah, mau tinggal di kolong jembatan, kek. Terserah kamu! Asal nggak tinggal di rumah ini!”

 

Ratna menundukkan kepalanya ke lantai. “Jangan usir saya, Mas! Saya mau ngelakuin apa pun, asal jangan usir saya dari sini!”

 

Surya terdiam selama beberapa saat. Ia merasa iba melihat Ratna yang terus berlutut di hadapannya. “Sudahlah. Jangan nangis lagi!” pintanya. “Masuk ke kamar kamu dan jangan bikin ulah lagi!”

 

Ratna mengangguk. Ia tersenyum kecil sambil melirik Surya dan mamanya. Ia bergegas bangkit dari lantai dan melangkah pergi. Ia terus tersenyum sambil mengusap air matanya. Melihat kemarahan Surya, ia justru merasa sangat diperhatikan. Hal ini membuatnya tak ingin berhenti mendapatkan kasih sayang dari majikannya itu.

 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah support cerita ini terus. Doain author cepet sehat biar bisa nulis banyak bab setiap harinya supaya tetap bertahan di Top Rank.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 393 : Salah Mengartikan

 


“Sudah berapa hari kamu sakit?” tanya Nenek Lutfi.

 

“Satu Minggu,” jawab Lutfi lirih.

 

“Sakit apa?” tanya Nenek Lutfi.

 

Semua orang terdiam. Tak ada satu pun yang berani mengatakan penyebab Lutfi masuk rumah sakit.

 

“Nenek, ini semua salahku ...” Ucapan Icha terhenti saat Lutfi tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya.

 

“Nek, aku nggak papa. Cuma luka sedikit, abis berantem sama anak geng yang ada di pinggiran kota,” jawab Lutfi berbohong.

 

“Berantem? Penyakit berantem kamu ini belum sembuh juga? Kalo sudah tahu akhirnya bakal masuk rumah sakit, nggak usah sok jagoan!” seru Nenek Lutfi.

 

Lutfi meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

Nenek Lutfi mengedarkan pandangannya. Ia menatap Jheni dan Yuna yang masih asing di matanya.

 

“Nenek, apa kabar?” sapa Yeriko yang menyadari tatapan Nenek Lutfi.

 

“Baik,” jawab Nenek Lutfi sambil menatap tangan Yuna yang melingkar di lengan Yeriko. “Dia siapa? Pacar kamu?”

 

“Oh, kenalin ... ini istri aku, Nek.”

 

Yuna langsung tersenyum. Ia mengulurkan tangannya ke arah Nenek Lutfi. “Salam kenal, Nek. Namaku Yuna.”

 

Nenek Lutfi tersenyum sambil menyambut uluran tangan Lutfi. “Cantik banget! Kamu pintar cari istri,” pujinya sambil menatap Yeriko.

 

Yeriko hanya tersenyum menanggapi pujian dari Nenek Lutfi.

 

“Panggil saja Nenek Lutfi!” pinta Nenek Lutfi tanpa memberitahukan nama aslinya.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kamu nikah, nggak undang Nenek, hah!?” tanya Nenek Lutfi sambil menatap Yeriko.

 

“Maaf, Nek! Jakarta jauh, kami nggak mau bikin Nenek kecapekan.”

 

“Kenapa nggak bikin pesta pernikahan di Jakarta aja?” tanya Nenek Lutfi lagi.

 

“Ada banyak hal yang kami pertimbangkan.”

 

“Oh, oke-oke. Yang ini ... siapa?” tanya Nenek Lutfi sambil menatap Jheni.

 

“Saya Jheni, Nek. Sahabatnya Yuna,” jawab Jheni sambil mengulurkan tangan, memperkenalkan dirinya di hadapan Nenek Lutfi.

 

“Cantik juga. Jadi cucu saya aja!” pinta Nenek Lutfi.

 

Lutfi dan Chandra saling pandang, kemudian menoleh ke arah Nenek Lutfi bersamaan. “Nggak bisa!” sahut mereka bersamaan.

 

“Kenapa nggak bisa? Yeriko sudah nikah. Nenek mau, kamu juga menikah secepatnya!” pinta Nenek Lutfi. “Kamu nggak bisa menikahi adik kamu sendiri. Sama dia juga boleh.”

 

“Nek, Jheni ini pacarnya Chandra,” sahut Lutfi.

 

“Oh ya? Pacar kamu?” tanya Nenek Lutfi sambil menatap Chandra.

 

Chandra menganggukkan kepala sambil tersenyum.

 

“Oh ... maaf, Nenek nggak tahu kalau dia pacar kamu. Dulu ... tunangan kamu bukan ini.”

 

Chandra tersenyum kecut. “Aku sudah putus sama Amara. Dia sudah menikah sama pria lain.”

 

“Nggak papa. Nggak usah sedih! Malah dapet yang lebih cantik lagi,” tutur Nenek Lutfi.

 

Chandra tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

Jheni ikut tersenyum. Hatinya berbunga-bunga mendapat pujian dari Nenek Lutfi. “Aku beneran cantik?” tanyanya sambil mengerdip-ngerdipkan mata.

 

Chandra menahan tawa sambil menutup wajah Jheni dengan telapak tangannya.

 

“Iih ... susah banget sih cuma ngomong cantik doang?” dengus Jheni sambil melepaskan tangan Chandra dari wajahnya.

 

“Iya, cantik.” Chandra tersenyum sambil meletakkan lengannya ke pundak Jheni. Ia berdiri di belakang sofa sambil menyandarkan dadanya.

 

Lutfi mengambil dokumen dari laci nakas dan memberikannya pada neneknya. “Nek, ini hasil tes DNA aku dan Icha. Kami nggak ada hubungan darah sama sekali. Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Kenapa harus mempengaruhi hubungan kami?” tanya Lutfi.

 

 “Nek, hari ini mama dirawat di rumah sakit karena percobaan bunuh diri. Aku nggak bisa menolong dia karena golongan darah kami berbeda. Aku bukan anak kandung Pak Surya, bukan juga anak kandung Ibu Ratna. Aku nggak tahu ... siapa keluargaku sekarang,” tutur Icha.

 

Nenek Lutfi menghela napas sejenak. Ia menoleh ke arah Icha yang duduk di hadapannya.

 

“Oke. Nenek akan menceritakan semuanya ...”

 

 

 

Dua puluh delapan tahun yang lalu ...

 

 

 

“Surya, di rumah kamu ada berapa pelayan?” tanya Nada saat Surya menjemputnya dari lokasi syuting.

 

“Banyak, kenapa?” tanya Surya balik.

 

“Aku mau beliin hadiah buat pelayan-pelayan di rumahku. Sekalian aja, sama buat pelayan di rumah kamu.”

 

“Hadiah!?” Surya mengernyitkan dahinya. “Dalam rangka apa?”

 

“Dalam rangka kebaikan hatiku, hehehe. Ini udah dekat hari raya, aku mau belikan beberapa pakaian untuk mereka.”

 

“Oh ya?” Surya mengangguk-anggukkan kepala. “Ide bagus.”

 

Nada tersenyum sambil menatap Surya. “Kalau gitu, sekarang antar aku belanja!”

 

“Sekarang?”

 

Nada menganggukkan kepala.

 

Surya tersenyum. Ia bergegas mengantarkan kekasihnya pergi berbelanja. Mereka sengaja membelikan hadiah untuk pelayan-pelayan di rumah mereka.

 

“Kamu tahu ukuran mereka semua?” tanya Surya.

 

Nada menganggukkan kepala. “Aku udah sering belanja. Lihat badan mereka aja, aku udah bisa perkirakan ukurannya.

 

Surya mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah berbelanja, Surya langsung mengantar Nada pulang ke rumahnya.

 

“Sur, yang ini khusus buat Ratna ya!”

 

“Kenapa dikhususkan?”

 

“Karena si Ratna pelayan paling muda di rumah kamu. Seleranya pasti berbeda dengan yang lain.”

 

“Oh gitu? Kamu sampai perhatikan sedetail ini.”

 

Nada mengangguk sambil tersenyum. “Aku pulang dulu!” pamitnya sambil mengecup pipi Surya dan bergegas keluar dari mobil.

 

Surya tersenyum sambil menatap Nada yang mulai melangkah masuk ke rumahnya. Ia bergegas kembali ke rumahnya sendiri.

 

“Bibi ...!” seru Surya sambil menenteng beberapa paper bag di tangannya.

 

“Biar saya bantu, Mas!” Salah seorang pria yang juga supir keluarga langsung menghampiri Surya.

 

“Mana Bibi?” tanya Surya sambil duduk di sofa.

 

Orang yang dipanggil Surya langsung muncul. “Ada apa, Mas?” tanya pembantu tersebut.

 

“Panggil semua pekerja yang ada di rumah ini. Aku punya hadiah buat kalian!”

 

Wanita setengah baya itu mengangguk dan mengumpulkan para pelayan yang bekerja di rumah tersebut.

 

Surya tersenyum sambil menatap tiga wanita dan dua pria yang bekerja di rumahnya.

 

“Ini buat kalian.” Surya memeriksa paper bag tersebut satu per satu dan memberikannya pada pekerja di rumahnya.

 

“Terima kasih banyak, Mas!” Mereka mengucapkan terima kasih bergantian.

 

“Ini khusus buat kamu,” tutur Surya sambil menyodorkan paper bag ke arah Ratna.

 

“Terima kasih, Mas ...!” ucap Ratna sambil tersenyum. Ia terus menatap wajah Surya. Ia sangat bahagia karena Surya selalu memperlakukan dirinya dengan baik. Membuatnya semakin merasa kalau Surya menyayangi dirinya lebih dari seorang pelayan di rumah itu.

 

“Oke. Aku ke kamar dulu!” tutur Surya. “Buatkan jus, antar ke kamar ya!” perintahnya sambil melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.

 

Surya merogoh ponsel sambil menaiki anak tangga. Ia menekan nomor telepon Nada dan meletakkan ponsel di telinganya.

 

“Halo ...! Sayang, aku udah sampe rumah. Hadiah dari kamu, udah aku kasih semua ke mereka,” tutur Surya sambil tersenyum.

 

“Gimana? Mereka suka sama hadiahnya?”

 

“Kelihatannya suka banget,” jawab Surya.

 

“Bagus, deh.”

 

Surya tersenyum sambil membuka pintu kamarnya. “Mereka pasti senang kalau punya Nyonya baik hati seperti kamu.”

 

“Aku harus belajar menyesuaikan diri dengan mereka. Hari pernikahan kita nggak lama lagi. Aku akan jadi bagian dari rumah itu. Kalau mereka nggak suka sama aku, bisa-bisa aku diusir dari sana,” tutur Nada sambil tertawa kecil.

 

“Nggak ada yang bisa usir kamu dari rumahku. Aku yang akan usir mereka kalau berani macam-macam sama kamu,” jawab Surya.

 

“Mereka sudah lama kerja di keluarga kamu. Kamu nggak sayang sama mereka?” tanya Nada.

 

“Sayang, tapi lebih sayang sama kamu,” jawab Surya sambil merebahkan tubuhnya ke kasur.

 

“Capek ya! Istirahat, gih! Aku juga mau mandi.”

 

“Oke. Bye ...” Surya langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia terus tersenyum sambil menatap langit-langit kamarnya. Sejak Nada masuk ke dalam kehidupannya, ia merasa sangat bahagia. Terlebih, Nada sangat baik terhadap orang-orang di sekelilingnya. Membuat Surya semakin nyaman berada di samping wanita itu.

 

Surya adalah pemilik SD Entertainment. Sementara Nada, salah satu penyanyi yang berada di bawah naungan perusahaannya. Mereka saling mengenal karena pekerjaan. Surya jatuh cinta pada Nada sejak pandangan pertama dan hubungan mereka terus berlanjut.  

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai sini ... Kita flashback ke masa muda ortu Lutfi ya ... Hmm, apa yang terjadi sebenarnya sama keluarga Icha dan Lutfi di masa lalu? Simak terus ya...

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 392 : Masa Lalu Penuh Tanya

 


“Dokter, gimana keadaan mama saya?” tanya Icha saat dokter yang merawat mamanya keluar dari ruang IGD.

“Pasien sudah melewati masa kritisnya. Akan kami pindahkan ke ruang perawatan. Semoga pasien bisa sadar secepatnya.”

“Terima kasih, Dokter!” ucap Icha.

Dokter tersebut mengangguk dan bergegas pergi.

“Lutfi ...!?” Jheni terkejut saat melihat Lutfi melangkah ke arahnya.

Icha langsung menoleh ke arah Lutfi. “Kenapa ikut ke sini? Kamu masih sakit,” tuturnya sambil menghampiri Lutfi.

“Aku khawatir sama kamu,” ucap Lutfi sambil tersenyum.

“Duduk ...!” pinta Icha sambil membantu Lutfi untuk duduk di kursi tunggu.

Lutfi langsung duduk sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia memegangi perutnya yang masih terasa nyeri.

“Gimana keadaan Ibu Ratna?” tanya Lutfi lirih.

“Baik-baik aja. Sudah ditangani,” jawab Yeriko.

“Chandra ...!?” Jheni menoleh ke arah Chandra yang berjalan menghampiri mereka.

Chandra tersenyum, ia langsung duduk di samping Lutfi.

“Kamu kenapa?” tanya Lutfi sambil menoleh ke arah Chandra. Ia melihat lengan Chandra yang mengenakan perban.

“Abis donor darah buat Ibu Ratna,” jawab Chandra. Ia menatap Jheni yang masih berdiri di hadapannya. “Ini, buat kamu.” Ia menyodorkan sekotak susu dan beberapa snack yang ia bawa.

“Kamu yang donor, kenapa dikasih ke aku? Ntar lemes,” sahut Jheni.

Chandra menatap Jheni sambil tersenyum. “Aku masih kenyang banget.”

Jheni tersenyum, ia berjongkok di depan Chandra sambil memegang kedua pinggang pria itu.

“Jangan jongkok di lantai!” pinta Chandra.

“Nggak papa. Dari tadi udah duduk di kursi ini.” Jheni meletakkan satu pipinya ke paha Chandra.

Chandra tersenyum kecil sambil mengusap pipi Jheni. Gadis yang selalu meluapkan perasaan cintanya dengan kemarahan. Tapi selalu menemani dan memberikannya banyak kehangatan.

“Duduk sini, Jhen!” pinta Yeriko sambil bangkit dari kursi.

Jheni langsung mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Yeriko.

“Sini, Jhen ...! Kamu pakai high heels gitu. Ntar kaki kamu lecet,” pinta Yuna sambil menepuk-nepuk kursi yang ada di sisinya.

Jheni tersenyum, ia bangkit dan duduk di sebelah Yuna.

Lutfi masih berusaha mencerna pembicaraan teman-temannya, hingga beberapa menit, ia masih saja tidak mengerti. “Chan, kenapa kamu yang donor darah buat Icha?”

“Darahnya Icha nggak cocok sama mamanya,” jawab Chandra santai.

“Chan, darah kamu AB. Darahku O. Kemarin, Icha bisa donorin darahnya ke aku. Kenapa dia nggak bisa donor darah ke mamanya?”

“Karena golongan darah mereka beda, Lut,” jawab Chandra.

“Bukan gitu ... aih, maksudku, kenapa darahnya Icha nggak cocok sama mamanya?”

Chandra mengedikkan bahunya.

Lutfi mengedarkan pandangannya. Menatap wajah semua orang satu per satu. “Aku tahu, orang yang memiliki golongan darah AB, nggak mungkin melahirkan seorang anak bergolongan darah O,” gumam Lutfi.

Icha langsung menoleh ke arah Lutfi. “Maksud kamu? Aku bukan anaknya mama!?” seru Icha.

Lutfi menatap wajah Icha penuh kepedihan. Ia manggut-manggut kecil. “Bisa jadi ... dia bukan mama kamu.”

“Nggak mungkin, Lut. Semua orang bilang kalau aku ini anak kandungnya mama. Apa keluargaku memang menyembunyikan ini semua dari aku? Aku harus minta penjelasan dari abahku!”

Lutfi mengangguk sambil merengkuh kepala Icha ke pelukannya. “Cha, cuma mama kamu yang bisa menjelaskan ini semua. Kita tunggu dia bangun, baru tanyain apa yang sebenarnya terjadi,” tutur Lutfi lembut.

“Cha, jangan-jangan mama kamu itu emang sengaja membohongi kamu selama ini?” tanya Jheni.

“Aku nggak tahu, Jhen,” jawab Icha  sambil meneteskan air mata. “Kalau aku bukan anak mama, aku ini siapa?”

Lutfi mengelus-elus pundak Icha. “Aku nggak peduli siapa kamu sebenarnya. Aku akan tetap ada di samping kamu,” tuturnya sambil mengecup ujung kepala Icha.

“Cha, kamu bawa Lutfi ke ruangannya!” perintah Yeriko.

“Tapi ...”

“Mama kamu udah mau dipindahkan ke ruang rawat. Lagi diurus sama Riyan supaya bisa dekat sama ruangan Lutfi. Kasihan Lutfi, dia masih butuh banyak istirahat.”

Icha menganggukkan kepala. Ia bangkit dari tempat duduk dan membawa Lutfi kembali ke ruang rawatnya.

Jheni dan yang lainnya saling pandang.

“Kenapa masalah Icha malah makin rumit kayak gini?” tanya Jheni.

Yuna menghela napas. “Aku juga nggak ngerti, Jhen. Masalah dia sama keluarganya Lutfi aja belum beres. Sekarang, dia harus berhadapan sama masalah internal keluarganya. Aku nggak tega lihat dia kayak gini,” jawab Yuna sambil memijat pergelangan kakinya yang tiba-tiba terasa keram.

“Kaki kamu kenapa?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Kesemutan.”

Yeriko langsung berjongkok di depan Yuna dan menarik kaki istrinya itu perlahan.

“Nggak usah! Nggak enak dilihatin banyak orang,” tutur Yuna sambil menarik kakinya. “Nggak papa, kok. Cuma kesemutan.”

Yeriko tak memperdulikan ucapan Yuna. Ia tetap meraih kaki Yuna. Melepas sepatu Yuna dan memijatnya perlahan.

Yuna memerhatikan wajah suaminya dengan perasaan berbunga-bunga.

“Udah enakan?” tanya Yeriko.

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.

Yeriko kembali memakaikan sepatu Yuna dan bangkit dari lantai. “Kita ke ruangan Lutfi aja!” ajaknya.

“Ayo, Jhen ...!” ajak Yuna.

Jheni mengangguk. Mereka bergegas menuju ke ruang rawat Lutfi.

“Kalian ngapain pada ikut ke sini?” tanya Lutfi begitu Yeriko dan yang lainnya masuk ke dalam ruang rawatnya.

“Mau gangguin kamu!” dengus Jheni sambil merebahkan tubuhnya ke sofa.

“Astaga ...! Kalian ini tega banget. Nggak tahu apa kalo aku lagi mau berduaan sama Icha,” tutur Lutfi sambil menahan tawa.

“Apaan sih!?” dengus Icha sambil mencubit pinggang Lutfi.

“Aw ...! Sakit, Cha.” Lutfi memegang pinggang yang dicubit Icha.

“Ini rumah sakit, bukan tempat pacaran!” seru Yuna sambil menatap Lutfi.

“Paling enak pacaran di rumah sakit. Mandi aja dimandiin,” sahut Lutfi sambil menahan tawa.

“Aku nggak pernah mandiin kamu,” sahut Icha.

“Aku nggak bilang kalau kamu mandiin aku,” tutur Lutfi sambil menatap wajah Icha.

“Tapi, kamu ngomong kayak gitu ... mereka bisa mikir kalau selama ini aku mandiin kamu.”

“Masa, sih? Iya, Jhen?” tanya Lutfi sambil menatap Jheni.

Jheni menganggukkan kepala.

Lutfi tersenyum. Ia menoleh ke arah Icha sambil mendekatkan wajahnya. “Gimana kalau pemikiran mereka itu ... kita buat jadi kenyataan?” bisiknya.

“Piktor banget!” sahut Icha sambil beranjak pergi dan menghampiri Yuna yang duduk di sofa bersama yang lainnya.

“Tega bener ngatain pacar sendiri piktor?” celetuk Lutfi. “Harusnya, kamu yang mandiin aku biar bersih sampe ke pikiranku juga. Jadi, pikiranku nggak kotor lagi,” lanjutnya.

“Kita denger loh,” sahut Jheni tanpa menoleh ke arah Lutfi.

“Biar aja. Pacar nggak punya perasaan,” tutur Lutfi sambil membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.

Icha menghela napas. “Kumat manjanya,” celetuknya kesal.

“Lut, kamu itu udah bisa bikin anak. Jangan bertingkah kayak anak-anak!” seru Yeriko.

“Kamu yang udah berhasil bikin anak, juga masih bertingkah kayak anak-anak,” sahut Lutfi tak mau kalah.

Yeriko langsung menoleh ke arah Lutfi. “Kapan aku bertingkah kayak anak-anak?”

“Tunggu aku ciumin Kakak Ipar ya!?” ancam Lutfi sambil bangkit dari tempat tidur.

“Coba kalo berani!”

“Siapa yang takut?” Lutfi langsung turun dari tempat tidur. Ia melangkah mendekati Yeriko dan lainnya yang sedang duduk santai di sofa. Namun, langkahnya terhenti saat pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

Lutfi terpaku menatap sosok yang datang dari balik pintu tersebut.

“Kenapa nggak kasih kabar kalau kamu sakit? Kamu udah nggak anggap saya?”

Lutfi meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku nggak papa. Udah sehat. Sebentar lagi bisa keluar dari rumah sakit ini.”

“Kalau asisten kamu nggak bilang ke saya. Sampai kapan kamu mau menyembunyikan ini dari saya?”

“Aiih ... Nenek, jangan marah-marah dulu!” pinta Lutfi sambil menghampiri neneknya. “Aku nggak papa, Nek. Nenek duduk dulu!” pinta Lutfi dengan ramah.

“Awas, Chan!” Lutfi menendang kaki Chandra agar memberikan tempat duduk untuk neneknya.

Chandra mengangguk sopan ke arah nenek Lutfi dan bangkit dari duduknya. “Silakan duduk, Nek!”

Nenek Lutfi tersenyum, ia langsung duduk di sofa tersebut.

“Nenek ke sini sama siapa?” tanya Lutfi.

“Kamu lihat sama siapa?” tanya Nenek Lutfi balik.

Lutfi langsung melirik asistennya yang berdiri di dekat pintu. “Heh, aku udah bilang, jangan kasih tahu nenek. Kamu tahu nenek sudah tua, kamu kira Jakarta-Surabaya dekat?” seru Lutfi.

“Deket, Mas. Cuma satu jam setengah,” sahut asisten tersebut.

“Kamu ...!? Udah berani jawab, hah!?” sentak Lutfi.

Asisten tersebut menundukkan kepala. “Kan Mas Lutfi yang ajarin,” celetuknya.

“Kamu ...!?” Lutfi mendelik ke arah asistennya tersebut dan bersiap melemparkan gelas yang ada di atas meja.

“Lut, jangan emosi gini!” pinta Icha sambil menahan tubuh Lutfi.

“Awas kamu ya! Kalo bukan gajimu yang aku sunat, kamu yang kusunat lagi!” seru Lutfi.

“Ehem ...! Kamu nggak menghargai keberadaan saya? Asisten kamu ini, masih ada di bawah perintah Nenek. Kalau sampai kamu potong gaji dia, burungmu yang Nenek potong!”

Lutfi langsung memegangi alat vitalnya. “Astaga! Nenek tega banget sama cucu sendiri. Ngerasain kawin aja belum pernah, main potong aja.”

“Hahaha.” Chandra tergelak. Diiringi dengan tawa yang lainnya.

“Kalian semua senang lihat aku tertindas kayak gini?” seru Lutfi.

“Pemandangan langka, Lut,” sahut Yuna sambil menahan tawa.

“KAKAK IPAR ...!?”

Semua orang justru tertawa melihat tingkah Lutfi. Walau Lutfi berpura-pura menderita, tapi wajah cerianya sudah mulai kembali. Tidak murung seperti beberapa hari belakangan karena harus menghadapi kenyataan kalau wanita yang ia cintai adalah adiknya sendiri. Kini, ia bisa tersenyum lega karena Icha bukanlah adiknya. Hanya saja, banyak pertanyaan yang harus ia utarakan di hadapan neneknya. 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini. Dukung terus ya biar tetep bertahan di Rank dan aku makin semangat nulis ceritanya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas