“Yan, besok kamu sibuk, nggak?” tanya Rullyta yang
tiba-tiba sudah duduk di samping Yana saat wanita itu sedang bersantai di
halaman belakang rumahnya.
“Lagi nggak ada agenda.
Kenapa?” tanya Yana.
“Aku kesel banget sama
sepupunya Yuna itu. Mau ngasih pelajaran secepatnya ke dia. Kamu tahu, anak
menantuku dibikin bengkak wajahnya gara-gara tamparan dari dia. Aku heran sama
Yuna, dia itu masih aja baik sama keluarganya yang jahat itu,” tutur Rullyta
dengan nada berapi-api.
“Kalau ada ikatan saudara,
memang seperti itu. Walau sering berantem, ntar baik lagi. Anak-anakku juga
sering begitu.”
“Ini bukan berantem biasa,
Yan. Yuna sampai bengkak begitu mukanya. Tega banget. Aku harus balas perlakuan
mereka ke anak menantuku. Dia pikir, kami mau diam aja diperlakukan seperti
ini?”
“Apa rencana kamu?” tanya
Yana.
“Aku mau balas dendam ke anak
itu. Dia harus tahu, dia lagi berhadapan dengan siapa saat ini. Aku mau buat
pesta teh.”
“Boleh juga.”
“Kamu undang si Mega itu.
Harus bawa anak menantunya ke pesta kali ini!”
“Gampang. Aku juga bakal
undang istri orang-orang penting di kota ini. Aku yakin, akan lebih
menyenangkan kalau mereka semua menjadi saksi.”
Rullyta mengangguk-anggukkan
kepala. “Mereka berdua harus tahu sedang berhadapan dengan siapa. Dia pikir,
aku bakal diam aja lihat anak menantuku disiksa sama saudaranya sendiri?”
Yana tersenyum sambil menatap
Rullyta. Mereka mulai membicarakan persiapan dan rencana yang akan mereka buat
pada pesta teh kali ini.
...
Keesokan harinya ...
“Permisi, Nyonya ...!” sapa
seorang pelayan sambil menghampiri Mega yang sedang bersantai di balkon
rumahnya.
“Ya, ada apa?”
“Ada yang ngantar undangan,”
jawab pelayan tersebut sambil menyodorkan kertas undangan ke arah Mega.
“Makasih, ya!” ucap Mega
sambil meraih kertas undangan tersebut. Ia langsung membuka undangan itu dan
membacanya.
“Cuma orang-orang penting
yang datang ke perjamuan istri walikota, aku harus datang dengan penampilan
yang paling baik. Di sana, pasti banyak istri pejabat dan pengusaha besar di
kota ini,” tutur Mega sambil tersenyum bahagia.
Mega menghela napas sambil
bangkit dari tempat duduknya. Baru saja ingin melangkah masuk, ponselnya
tiba-tiba berdering.
Senyuman di bibir Mega
mengembang begitu ia melihat nama istri walikota terpampang di layar ponselnya.
“Halo ...!” sapa Mega begitu
ia menjawab panggilan telepon dari Yana.
“Halo, apa kabar?” sapa Yana.
“Baik, Yan. Gimana kabar
kamu?”
“Alhamdulillah, baik.
Undangan dari aku, sudah sampai?”
“Sudah, Yan. Baru aja sampai
ke tanganku.”
“Bisa datang?”
“Bisa, dong.”
“Bawa menantu kamu ya!”
“Menantu?”
“Iya.”
“Mmh ... oke. Aku bakal bawa
dia.”
“Iya. Harus dibawa dong,
menantu kamu yang cantik itu.”
“Siap, siap!”
“Oke. Aku tutup teleponnya
ya! Masih mau telepon tamu undangan yang lain.”
“Iya.”
Mega tersenyum bahagia begitu
Yana menutup panggilan teleponnya. Namun, senyumnya hilang begitu ia mengingat
wajah Bellina. Ia enggan membawa Bellina pergi ke pesta itu.
“Huft, kenapa harus bawa anak
itu?” celetuknya. Tapi, ia tetap menekan nomor ponsel Bellina dan mengajaknya
pergi ke perjamuan teh kali ini.
Mega sangat menyukai teh, ia
dan wanita-wanita sosialitanya, seringkali menikmati aneka teh segar dari
beberapa jenis daun teh yang ada di dunia. Di perjamuan teh kali ini, istri
walikota akan menyajikan aneka jenis daun teh dari berbagai negara. Ini bukan
pertama kalinya ia pergi ke jamuan teh, sehingga ia sangat antusias untuk hadir
di antara ibu-ibu penikmat teh terbaik di dunia.
...
“Satria ...!” teriak Yana
sambil menengadahkan kepalanya ke lantai atas.
“Iya, Ma. Kenapa?” sahut
Satria.
“Tolongin Mama sebentar!”
Satria bergegas keluar dari
kamar dan menuruni anak tangga. Ia menghampiri mamanya yang sudah berdiri di
bawah anak tangga. “Ada apa?”
“Mama mau undang temen-temen
mama menikmati perjamuan teh hari ini.”
“Terus? Aku disuruh beli teh
lagi?” tanya Satria sambil mengenakan kaos lorengnya.
“Bukan. Mama mau, kamu jemput
Yuna ya!”
“Yuna? Siapa lagi? Oh ...
Mama bikin pesta kayak gini, mau nyariin aku jodoh? Aku nggak mau!” sahut
Satria sambil berbalik dan menaiki anak tangga kembali ke kamarnya.
“Hei, mama belum selesai
ngomong. Kamu main pergi aja!”
Satria menghentikan
langkahnya. “Ma, Satria nggak mau dijodohin! Aku bisa cari istri sendiri.
Ganteng gini, pakai acara jodoh-jodohan segala!”
“Kamu itu, dengerin mama
dulu! Jangan nyerocos terus! Mama nyuruh kamu jemput si Yuna, istrinya Yeri.
Bukan mau jodohin kamu.”
“Astaga! Istrinya Yeri? Kakak
Ipar Kecil yang cantik dan baik hati itu?” tanya Satria sambil menatap Yana. Ia
bergegas menuruni anak tangga kembali.
“Iya. Yeri lagi sibuk, nggak
bisa antar. Jadi, kamu jemput dia! Mama sudah telepon si Yeri. Dia minta tolong
kamu jemputin.”
“Yes! Bisa berduaan sama
Kakak Ipar Kecil,” tutur Satria sambil mencolek dagu mamanya.
Yana mengernyitkan dahi
sambil menatap Satria. “Eh, ingat! Dia istrinya sahabat kamu sendiri. Mau
digodain!?”
“Hahaha. Bercanda, Ma. Yeriko
itu cemburunya ngalah-ngalahin erupsi Merapi. Aku bisa panas-panasin dia. Aku
ajak Kakak Ipar Kecil foto selfie bareng di mobil. Biar jenggotnya dia kebakar!
Eh, dia nggak punya jenggot. Rambutnya aja deh yang kebakar. Biar otaknya
mateng! Hahaha.”
“Kamu ini ... senang banget
ngerjain temen sendiri,” tutur Yana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Siapa suruh cemburuan banget
jadi laki-laki. Lagian, si Yuna juga cantiknya kebangetan. Kalau ketemu sama
aku duluan, aku yang nikahin dia!” ucap Satria sambil mencomot roti bakar yang
ada di atas meja makan dan melahapnya.
“Sat, jangan dibiasakan makan
sambil jalan!” tegur Yana. “Kayak sapi aja.”
Satria menahan tawa sambil
menatap wajah mamanya. “Ma, manusia itu paling pintar kalau bertingkah seperti
binatang,” sahutnya dengan mulut penuh roti.
“Sama kayak kamu, pintar
berdalih kalau dikasih tahu sama orang tua,” tutur Yana sambil menatap wajah
puteranya.
Satria terkekeh. “Ini ‘kan
hasil didikan mama,” celetuknya.
Yana melebarkan kelopak
matanya.
Satria meringis menanggapi
raut wajah mamanya yang menyimpan kemarahan. “Jangan marah-marah, Ma! Ntar
cantiknya ilang. Aku jemput Kakak Ipar, sekarang. Pakai mobil yang mana?”
“Terserah mau pakai mobil
mana!”
“Mobilnya kakak aku pakai
ya!”
“Kenapa nggak pakai mobil
kamu sendiri?”
“Kurang nyaman. Bagusan mobil
kakak. Kuncinya mana, Ma?”
“Cari di sana!” jawab Yana
sambil menunjuk sudut ruangan, tempat menggantung kunci kendaraan dan
kunci-kunci rumahnya. “Panasin dulu! Kakakmu sudah lama nggak pakai mobilnya.”
“Keenakan di luar negeri,
nggak ingat pulang,” celetuk Satria sambil meraih kunci mobil yang tergantung
di tempatnya dan bergegas melangkah menuju garasi.
Yana tersenyum sambil
menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah puteranya. Meski disegani di luar
sana, Satria tetaplah menjadi anak yang sederhana dan sangat berisik baginya.
((Bersambung
...))


