TING!
Yeriko
langsung membuka pesan yang dikirim oleh Refi. Pesan itu berupa file video. Ia
langsung membuka pesan tersebut.
DEG!
Jantung
Yeriko serasa berhenti untuk sesaat. Ia melihat jelas bayangan Yuna terikat dan
dalam keadaan yang tidak baik.
“Yer,
kalau kamu mau istri kamu selamat. Temui aku di Sheraton Hotel malam ini!”
Suara
Refi terdengar jelas dalam video itu. Chandra, Lutfi dan Satria langsung
menghampiri Yeriko untuk melihat video yang dikirimkan oleh Refi.
“Istriku,
kenapa bisa kayak gitu?” tanya Yeriko lirih. Matanya memerah menahan amarah dan
kepedihan.
“Sabar,
Yer. Kita akan teliti video ini supaya bisa tahu di mana keberadaan Yuna
sekarang,” tutur Chandra sambil mengelus-elus bahu Yeriko.
Satria
langsung mengambil alih ponsel Yeriko. Ia dan Lutfi berusaha meneliti gudang
kumuh dan gelap yang menjadi tempat Yuna disekap.
Yeriko
bangkit dari sofa, ia berjalan mondar-mandir sambil memikirkan cara menghadapi
dan membalas apa yang sudah dilakukan oleh Refi.
“AARGH
...!” teriak Yeriko histeris. Ia mengepal tangannya erat-erat dan langsung
menghujamkan pukulan tangannya ke dinding. Ia tak lagi merasakan sakit saat
darah segar mengucur dari punggung tangan hingga kulit metakarpalnya terbuka.
“Refi
bangsat! Anjing!” teriak Yeriko sambil menendang lemari nakas yang tak jauh
dari dirinya.
BRAK
...!
PRANG
...!
Nakas
yang ditendang Yeriko terbalik, beberapa vas bunga dan guci yang ada di atasnya
langsung pecah, berserakan ke lantai ruangan tersebut.
Jheni,
Icha dan Bibi War yang ada di lantai bawah langsung berlari begitu mendengar
teriakan Yeriko disertai barang-barang yang berjatuhan.
“Yer,
sabar! Tenang dulu!” pinta Chandra sambil berusaha menghentikan amukan Yeriko.
Lutfi
juga membantu Chandra agar Yeriko berhenti menyakiti dirinya sendiri. “Yer,
berhenti, Yer!” pintanya sambil memeluk tubuh Yeriko dari belakang.
“Sadar,
Yer! Kendalikan emosi kamu! Yuna nggak akan suka lihat kamu nyiksa diri sendiri
kayak gini.”
“Gimana
aku bisa tenang? Istri sama anakku dalam bahaya, Chan,” tutur Yeriko sambil
meneteskan air mata. Wajah Yuna yang bengkak dan terluka membuat hatinya ngilu.
“Kalo
kamu marah-marah kayak gini, nggak akan bisa nemuin Yuna!” seru Chandra.
Yeriko
menarik napas dalam-dalam. Ia memejamkan mata sambil menyandarkan punggungnya
ke dinding. “Aku laki-laki yang nggak berguna. Aku nggak bisa melindungi istri
dan anakku sendiri,” ucapnya sambil merosot ke lantai.
“Ada
apa ini?” tanya Jheni begitu ia masuk ke dalam ruangan tersebut.
Satria
menoleh ke arah Jheni sambil menggelengkan kepala. Memberi isyarat agar tidak
mengajukan pertanyaan pada Yeriko yang sedang diselimuti amarah dan kesedihan.
Ia memanggil Jheni dan Icha untuk mendekat ke mejanya hanya menggunakan isyarat
tangan.
Jheni
dan Icha langsung menghampiri Satria. Satria menunjukkan rekaman video yang
dikirim oleh Refi.
“Astaga!
Yuna!?” Jheni dan Icha langsung menutup mulut mereka yang terbuka lebar.
“Jhen,
kenapa Yuna bisa sampai kayak gitu? Dia orang baik, kenapa selalu dijahatin?”
tutur Icha sambil terisak. Ia tidak tahan melihat tubuh Yuna yang begitu kotor
dan terluka.
Jheni
juga ikut menangis melihat keadaan Yuna. “Refi jahat banget!” ucapnya lirih.
“Aku nggak akan ngelepasin dia gitu aja!” lanjutnya sambil mengusap air mata.
Icha
terus terisak. Ia mengingat masa-masa saat ia dan Yuna sering bersama. Yuna
adalah wanita yang ceria, apa adanya, baik hati dan selalu peduli dengan
orang-orang di sekelilingnya.
“Cha,
jangan nangis terus!” pinta Jheni saat menyadari video rekaman Yuna di menit
terakhir. “Yuna nggak akan selemah ini. Kita juga harus kuat!”
Semua
orang langsung menoleh ke arah Jheni. Mereka tahu, hanya Jheni yang mengerti
bagaimana sifat Yuna. Yuna adalah gadis kecil pemberani. Ia tidak akan lari
dari masalah, selalu menghadapi semua masalahnya dengan hati yang tegar dan
kuat.
Jheni
menghela napas. Ia memutar kembali video yang sudah dipindahkan ke laptop
Satria. Jheni langsung menekan spasi pada keyboard untuk menghentikan video
tersebut. “Lihat! Walau Yuna terluka, dia masih tersenyum di video ini. Dia mau
ngasih tahu ke kita semua kalau dia baik-baik aja. Dia pasti lagi nunggu kita.
Kita harus bergerak lebih cepat!”
Semua
orang saling pandang. Mereka mengangguk dan bergerak cepat mencari keberadaan
Yuna.
Yeriko
bangkit dari lantai. Ia tidak ingin terus-menerus menjadi pria yang payah
karena tidak bisa menolong istri dan anaknya. Ia memutar video itu
berkali-kali.
“Earphone
mana?” tanya Yeriko. “Carikan earphone!” perintahnya saat menyadari kalau Yuna
mengucapkan sesuatu dalam video itu.
Jheni
dan Riyan buru-buru mencarikan earphone untuk Yeriko. Riyan dengan cekatan
mengambil earphone dari laci meja kerja Yeriko dan memberikan pada bosnya itu.
Yeriko
langsung memasang earphone ke telinganya. Ia mencoba menangkap suara lirih yang
keluar dari mulut Yuna. “Sat, si Yuna ngasih petunjuk buat kita. Dia ngomong
apa di menit-menit terakhir itu?”
Satria
langsung membesarkan suara laptopnya. Namun, suara Yuna memang sangat kecil.
Hampir tak tertangkap dalam video itu. Satria mencoba membaca gerakan bibir
Yuna. “Yer, dia bilang tempat ini bau lem dan karet.”
“Iya.
Aku juga nangkapnya begitu,” sahut Yeriko. “Kira-kira, tempat apa yang bau lem
atau karet.”
“Bangunan
ini kelihatannya bangunan tua,” tutur Lutfi.
“Kemungkinan
bekas pabrik.” Chandra ikut menambahkan.
“Pabrik?”
Yeriko langsung menoleh ke arah Chandra.
Chandra
menganggukkan kepala.
“Kira-kira
pabrik apa yang bau lem atau karet?” tanya Yeriko.
Chandra
langsung menoleh ke arah Satria. “Sat, kamu yang punya akses data perusahaan
atau pabrik di kota ini. Bisa dicek?” tanyanya.
Satria
mengangguk. “Wait!” pintanya sambil berusaha meminta akses ke pihak-pihak
terkait untuk mendapatkan data yang mereka inginkan.
Semua
orang juga mencoba mengakses informasi lewat internet.
“Yer,
obatin luka kamu dulu!” tutur Icha sambil menyodorkan First Aid Box ke arah
Yeriko.
“Thanks,
Cha!” Yeriko langsung meraih kotak obat tersebut. Ia dengan cekatan
membersihkan dan membalut luka di tangannya sendiri. Semua orang sudah memahami
bagaimana sifat Yeriko. Ia tidak akan pernah mau disentuh oleh wanita lain
selain istrinya dan Bibi War – Wanita yang sudah merawatnya sejak kecil.
“Yer,
ketemu. Ada enam pabrik karet dan tiga pabrik lem di kota ini. Semuanya
tersebar di beberapa tempat. Aku suruh anak buahku menyebar secepatnya,” tutur
Satria sambil menatap layar laptopnya. Ia mengirimkan pesan ke anak buahnya
untuk menyebar ke beberapa titik.
“Yer,
kamu siap-siap datengin si Refi. Jangan sampai dia lepas! Soal Yuna, kamu
percayakan semuanya sama kami.”
Yeriko
mengangguk. Ia menarik napas dalam-dalam. Berusaha setenang mungkin menghadapi
kekalutan dan ketakutan yang menyelimuti perasaannya.
“Chan,
kamu pergi ke arah timur. Ada anak buahku yang sudah bergerak ke sana. Lutfi,
kamu ke utara, ketemu sama anggotaku di sana. Aku langsung ke Selatan.”
Chandra
dan Lutfi menganggukkan kepala. Mereka bergegas berangkat menuju lokasi yang
dimaksud oleh Satria.
“Yan,
kamu sama anggotamu langsung ke sebelah Barat!” perintah Satria. Ia bergegas
mematikan laptopnya dan memasukkan ke dalam tas.
“Jheni,
Icha, kalian standby di rumah!” pinta Yeriko sambil bangkit dari tempat duduk.
Ia bersiap untuk menemui Refi. Ia memilih pakaian yang berkelas dan merapikan
penampilannya. Ia tidak ingin Refi melihat kekacauan dirinya dan merasa kalau
bisa menghadapi Yeriko dengan mudah.
Jheni
dan Icha menganggukkan kepala. Mereka saling berpelukan saat pria-pria yang ada
di ruangan tersebut pergi satu per satu.
“Jhen,
semoga Yuna baik-baik aja. Aku nggak tega lihat dia dijahatin kayak gini,”
tutur Icha.
Jheni
mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu tenang aja! Yuna itu kuat. Dia juga wanita
yang baik dan cerdas. Tuhan pasti melindungi dia!” ucapnya. Ia berusaha
menenangkan diri sendiri walau hatinya diselimuti kekhawatiran yang besar.
Dalam hatinya, ia terus berdoa agar sahabatnya itu bisa pulang dengan selamat.
((Bersambung ...))
Apa yang akan dilakukan Tuan Ye untuk membalas
perbuatan Refi? Tunggu kelanjutan ceritanya besok lagi ya...
Dukung terus biar aku makin semangat bikin
cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi


