Monday, June 29, 2026

Alluna Wedding Party Bab 7 : Confession of Sin

 

Joni dan Evan terkenal sebagai musuh bebuyutan sejak kelas tiga SMP. Sialnya, Evan harus satu sekolah lagi dengan Joni saat masuk ke sekolah menengah atas di wilayah Jakarta Pusat.

Demi apa pun, Joni tidak pernah rela kalau Evan lebih unggul darinya dalam hal apa pun. Tak heran kalau mereka sering berkelahi walau masalahnya sepele.

“Rev, lo mau nggak jadi pacar gue?” Joni menyatakan perasaannya pada Reva di lapangan basket saat jam istirahat.

“Sorry, Jo. Gue nggak bisa. Gue udah suka sama cowok lain.” Reva menatap cowok berpostur tinggi dengan seragam basket yang berdiri jauh di belakang Joni. Reva menyingkirkan bucket bunga yang disodorkan Joni, lalu pergi meninggalkannya. Ia menghampiri Evan dan menggandengnya pergi.

Joni menatap Reva dan Evan dengan tangan mengepal, giginya mengerat hingga terlihat tulang rahangnya. Ia sangat membenci hari itu. Hari di mana ia ditolak oleh Reva karena cewek itu lebih memilih Evan, saingannya.

Seminggu kemudian, gosip Reva dan Evan jadian sudah menyebar ke seluruh sekolah. Tak terkecuali ke telinga Joni yang semakin murka dibuatnya.

Reva dan Evan juga tak malu memamerkan kemesraan mereka di depan umum.

“Eh, kalo mau mesum jangan di sekolah!” Joni menggebrak meja saat melihat Reva dan Evan sedang bercumbu mesra di dalam kelas di jam istirahat.

Yang ditegur, tidak peduli sama sekali. Justru semakin menjadi dan membuat Joni semakin geram.

Enam bulan kemudian, sekolah dibuat heboh dengan berita kematian Reva. Reva bunuh diri di dalam kamarnya dalam keadaan hamil 3 bulan.

Ini menjadi pukulan keras bagi Evan. Ia tidak menyangka kalau Reva hamil dan justru melakukan hal bodoh. Dia bukan laki-laki yang tidak bertanggung jawab. 

“Bodoh! Kenapa lo milih bunuh diri? Gue pasti tanggung jawab asal lo jujur sama gue kalo lo hamil anak gue! Aargh...!” teriak Evan di dalam kamarnya. Ia mengepal tinju dan cermin hingga pecah berkeping-keping, darah segar mengucur dari tangannya.

Evan bukan cowok yang tidak bertanggung jawab. Ia sangat menyayangi Reva dan seharusnya Reva tidak melakukan hal bodoh. Dia bahkan harus bolak-balik ke kepolisian untuk memberikan keterangan perihal kematian Reva. 

Namun, ia tetap berusaha menutupi kasus ini dari kedua orang tuanya. Ia harus memastikan kalau kedua orang tuanya tidak mengakses berita di media mana pun sampai kasus ini benar-benar selesai. Dia bahkan rela membayar mahal pihak kepolisian untuk menutupi identitasnya dari media.

“Masih berani lo masuk sekolah ini?” Joni langsung menghadang Evan yang baru saja masuk ke halaman sekolah.

Evan tersenyum sinis. “Gue mesti takut sama siapa? Sama lo?”

“Dasar bajingan! Lo sama sekali nggak ngerasa bersalah sama perbuatan lo, hah!?” Joni menarik kerah baju Evan. “Reva mati gara-gara lo!” Joni menatap tajam ke arah Evan yang masih bergeming. “Kalo aja dia nggak pacaran sama cowok P.K kayak lo. Sekarang dia masih di sini!” Ia melepas kerah baju Evan dan mendorongnya kasar.

Evan bergeming. Ia tidak bisa membela dirinya sendiri. Bahkan semua murid dan guru di sekolah sudah tahu seperti apa dirinya sekarang. 

Kematian Reva, membuka semua fakta yang orang lain tidak tahu tentang hubungannya dengan Reva yang tidak sehat. Dia tidak akan pernah bisa membersihkan namanya dengan cara apa pun. Kecuali, dia pergi mencari kehidupan yang baru. Ia memutuskan pindah sekolah dan meninggalkan kenangan pahit di sekolah lamanya.

***

Sudah seminggu Alluna terlihat tak bersemangat, padahal sebentar lagi dia akan menghadapi ujian. Ia terlalu serius memikirkan ucapan Joni di pesta pernikahan keluarga Evan. Nama Reva mengganggu pikirannya. 

Ia sengaja tidak membalas chat dan telepon dari Evan, bahkan ponselnya sengaja ia nonaktifkan. Evan juga tidak datang ke rumah untuk menemuinya. Ia semakin yakin, kalau Evan sengaja menyembunyikan sesuatu darinya.

“Dulu, lo bilang kalo kita harus terbuka, harus jujur satu sama lain apa pun masalahnya. Kenapa sekarang lo yang nggak mau jujur tentang masa lalu lo?” Air mata Alluna menetes perlahan. Ia merasa benar-benar tidak berguna saat Evan tidak memberinya kepercayaan.

“Alluna ...!” terdengar suara yang sudah tidak asing lagi memanggil namanya. Alluna menghapus air mata dan berjalan membukakan pintu kamar.

“Lo baik-baik aja 'kan?” tanya Rani begitu melihat Alluna yang begitu menyedihkan.

Alluna mengangguk.

“Kenapa sih Lun? Lo berantem lagi sama Evan?” tanya Hastri.

Alluna duduk di sisi ranjangnya. “Nggak tau kenapa, saat gue mau ujian sekolah. Ujian hubungan gue sama Evan juga dateng.”

Rani menghampiri Alluna dan memeluknya. “Sabar ya! Lo cerita deh sama kita, sebenarnya ada apa? Biar kita bisa bantu.”

Alluna menatap Austin yang masih berdiri di depannya. “Lo kenal sama yang namanya Reva?”

“Reva? Anak sekolah kita?” tanya Austin.

Alluna menggelengkan kepalanya. “Sekolah Evan yang lama.”

Austin menggelengkan kepala. “Gue nggak tau. Gue nggak pernah tau apa pun soal Evan di sekolah lamanya. Yang gue tau, dia tiba-tiba pindah sekolah ke sini.”

“Beneran lo nggak tau?” Alluna menatap tajam ke arah Austin.

“Beneran. Lo ngeliatin gue jangan kayak liat maling gitu, deh. Serem gue liatnya,” jawab Austin.

“Sebenernya ada apa, sih? Evan selingkuh?” Rani langsung menerka begitu mendengar nama cewek lain ada di hubungan mereka.

Alluna mendesah kecewa. “Gue nggak tahu pasti soal itu. Yang jelas, gue ngerasa ada sesuatu yang disembunyiin dari Evan. Pertama, gue tiba-tiba nemuin lipstik di dalam mobilnya. Dia bilang, itu cuma lipstik salah satu temannya yang kebetulan jatuh.”

Rani dan kedua teman Alluna langsung membuka mulutnya lebar-lebar karena terkejut.

“Logikanya, nggak mungkin ada lipstik di dalam mobil kalau dia nggak bawa cewek masuk ke dalam mobilnya.” Alluna melanjutkan.

“Kedua, waktu gue kondangan ke keluarga besar lo.” Alluna mendelik ke arah Austin. “Gue bukan cuma ketemu sama keluarga lo. Gue ketemu sama tiga orang cowok yang kelihatannya punya hubungan kurang baik sama Evan. Gue denger mereka menyebut soal skandal Evan sama cewek yang namanya Reva. Dan saat gue tanya ke dia, Evan sama sekali nggak mau cerita sampai sekarang.”

“Oh, My God!” Mulut ketiga sahabatnya semakin menganga lebar. “Kenapa lo baru cerita sekarang sama kita?”

“Karena kalian nggak nanya.”

Hastri menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. “Iya, sih. Sebentar lagi ujian. Kita banyak tugas dan banyak les sampai jarang ngumpul. Dan kita nggak tau sama sekali kalo lo lagi ada masalah sama Evan.”

Alluna tersenyum. “Nggak papa kali. Biasa aja. Toh, yang namanya hubungan selalu ada ujiannya 'kan? Lo aja gonta-ganti cowok mulu, nggak masalah 'kan?”

“Yee, gue mah kasusnya beda. Gue gonta-ganti cowok karena gue sendiri. Lah? Lo kan jadian sama Evan karena kita yang nyomblangin. Kalo dia nyakitin lo, kita nggak akan diam gitu aja.”

Alluna menghela napasnya. “Entahlah, mungkin Evan emang nggak beneran sayang sama gue. Kalo dia sayang, dia bakal jujur cerita ke gue,” ucapnya Lesu.

“Evan juga nggak ada ngomong apa pun. Biasanya, dia selalu cerita banyak soal lo.” Austin menimpali.

“Sebenarnya ada apa sama masa lalu dia?” tanya Alluna mulai menitikan air mata.

“Lun, kita semua tahu Evan itu seperti apa. Kalo dia belum mau cerita, kemungkinan masa lalunya adalah sesuatu yang berat banget. Dan lo seharusnya bisa bikin dia lebih kuat dan nyaman sama lo sekarang,” tutur Rani.

Alluna mengusap air matanya dan menatap Rani. “Gue nggak kepikiran sampe ke situ.”

Mereka saling bertatapan.

“Kita ke apartemen Evan sekarang!”

***

Austin memarkirkan mobilnya tepat di sisi mobil Evan.

Alluna memperhatikan mobil Evan dengan seksama. Ia tak memperdulikan tiga sahabatnya yang sudah melangkahkan kaki meninggalkan parkiran.

“Kenapa, Lun?” tanya Rani kembali menghampiri Alluna yang masih terpaku menatap mobilnya.

“Mobil dia nggak pernah berdebu kayak gini.” Alluna mencolek debu yang lumayan tebal menempel di mobil Evan.

Mereka langsung saling pandang. “Artinya, Evan nggak keluar sama sekali selama seminggu ini. Ayo cepat!” Rani langsung berjalan dengan cepat memasuki apartemen. Mereka mulai panik dengan sikap diam Evan. Mereka jelas takut terjadi apa-apa dengan Evan yang hanya tinggal di apartemen seorang diri.

“Lun, lo tau pasword-nya kan?” tanya Rani saat sudah sampai di depan pintu apartemen Evan.

Austin, Rani dan Hastri menunggu dengan perasaan cemas di belakang Alluna.

Alluna menghela napas dan mulai menekan tombol. Ia membuka pintu perlahan, menoleh ke arah tiga sahabatnya.

“Kita tunggu di sini. Kalo ada apa-apa, lo bisa teriak.” Rani memberikan isyarat menggunakan dagunya agar Alluna segera masuk.

Alluna melangkahkan kaki perlahan. Ia terkejut melihat keadaan apartemen Evan yang berantakan, seperti telah terjadi perampokan atau perkelahian. Piano yang biasa ia mainkan sudah terbalik, sofa tak lagi dalam posisi yang bisa diduduki dengan nyaman. Tepat di bawah kakinya, gitar yang biasa mereka mainkan patah menjadi dua bagian. Wajah Alluna panik seketika.

“Evan...! Van...!” panggil Alluna, namun ia tidak mendapat jawaban. Ia langsung masuk ke dalam kamar Evan, menyalakan lampu karena lampu kamar sengaja dimatikan.

Kamar Evan juga tak kalah berantakan. Ia mencoba mencari tubuh Evan. “Van...!” Alluna berjalan perlahan menghampiri tempat tidur. Di sana, ia melihat Evan tertidur dengan wajah pucat pasi di dalam selimut dan tertumpuk beberapa pakaian yang sudah keluar dari lemarinya.

“Van...!” Alluna meneteskan air mata melihat wajah Evan yang begitu pucat. Ia menyentuh dahi Evan. PANAS!!!

“Van, kamu kenapa?” Alluna langsung memegangi wajah Evan dengan kedua tangannya. “Kamu sakit?”

Evan membuka matanya, samar-samar ia menyadari kehadiran Alluna. “Lun, aku sayang sama kamu,” ucapnya lirih.

“Iya. Aku tahu.” Alluna buru-buru menyingkirkan semua pakaian yang menutupi tubuh Evan dan membuka selimutnya. Ia langsung berlari keluar dari apartemen menemui tiga sahabatnya yang masih menunggu di depan pintu.

“Kenapa, Lun?” tanya Rani yang menyadari ekspresi kepanikan Alluna.

“Telepon ambulance! Cepat!” teriak Alluna panik.

Alhasil membuat ketiga sahabatnya juga panik. Mereka langsung menerobos masuk ke apartemen Evan, melihat apa yang terjadi dengan Evan. Rani langsung menelepon ambulance saat itu juga.

“Austin, lo bisa telepon petugas apartemen buat bantu kita bawa Evan turun?” tanya Rani. Austin menganggukkan kepalanya.

“Van, maafin aku.” Alluna menangis sembari memeluk Evan dengan erat. Ia tidak dapat menahan kesedihannya melihat cowok yang ia sayangi dalam keadaan seburuk ini.

Beberapa saat kemudian, dua orang petugas apartemen muncul dan membantu Evan untuk turun ke bawah menunggu ambulance yang langsung datang beberapa menit kemudian.

***

Kata dokter, Evan kekurangan cairan tubuh karena selama seminggu ia tidak makan dan minum. Alluna sangat terpukul mendengar ucapan dokter. Ia tak henti menyalahkan dirinya sendiri yang selalu egois.

“Van, maafin aku...!” Alluna menggenggam tangan Evan yang sudah dipasangi selang infus.

“Kamu nggak salah. Aku yang salah karena aku nggak bisa bikin kamu bahagia.”

“Van, kamu udah bikin aku bahagia dari pertama kali kita ketemu.” Alluna meneteskan air matanya. 

Hastri, Rani dan Austin ikut terharu menyaksikan adegan itu. Mereka memilih keluar dari ruang rawat, memberikan kesempatan untuk Evan dan Alluna.

“Jangan nangis lagi!” Evan mengusap air mata Alluna dengan satu tangannya. “Aku nggak bisa maafin diri aku sendiri setiap kali lihat kamu nangis dan penyebabnya adalah aku.”

Alluna menciumi tangan Evan dan masih terisak. “Aku sayang sama kamu.”

“Aku juga sayang sama kamu. Senyum dong!” pinta Evan sambil tersenyum.

Alluna mengusap air matanya dan tersenyum menatap Evan.

***

Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, keadaan Evan sudah membaik dan diperbolehkan pulang ke rumah.

“Ma, Mama masih di Paris?” tanya Alluna via video call.

“Iya, sayang. Gimana Evan? Udah sehat?”

“Alhamdulillah, udah, Ma. Ini baru nyampe di apartemen. Tapi, dia masih butuh banyak istirahat.” Alluna mengarahkan ponselnya ke wajah Evan.

“Hai, Tante ...!” sapa Evan sambil melambaikan tangannya.

“Gimana? Udah baikan?”

Evan mengangguk.

“Muka kamu masih kelihatan pucat gitu. Istirahat yang banyak ya!”

“Iya. Makasih, Tante.” Evan tersenyum.

“Ma, aku di sini dulu rawat si Evan sampe dia bener-bener pulih, ya? Aku nggak tega ninggalin dia sendirian. Nanti, aku suruh Bi Ira ke sini juga,” tutur Alluna.

“Kalo sama Bi Ira, boleh deh. Tapi, kalau cuma berduaan. Mama kurang¬—”

“Tante nggak percaya sama Evan?” sahut Evan.

Mama Alluna tersenyum. “Iya. Tante percaya. Evan pasti bisa jaga Alluna dengan baik.”

“Tapi, sekarang Alluna yang lagi jaga Evan loh, Ma,” sambar Alluna.

Mereka tertawa.

“Ya sudah. Istirahat dulu ya! Mama masih banyak kerjaan, nih.”

Alluna menautkan jari telunjuk dan jempolnya, tiga jari yang lain ia naikkan sebagai tanda setuju. Panggilan video pun berakhir.

“Kamu istirahat dulu, ya! Aku bikinin kamu bubur, mau?” tanya Alluna sambil merebahkan tubuh Evan ke atas kasur dan menyelimutinya.

“Lun...” Evan menahan tangan Alluna untuk pergi dari sisinya.

“Kenapa?” Alluna menoleh.

“Duduk dulu di sini!” Evan menepuk tepi ranjang, tepat di sisinya.

Alluna menuruti permintaan Evan.

Evan meraih tangan Alluna dan menggenggam di dadanya. “Aku bahagia banget bisa kenal bidadari seperti kamu. Sekalipun hari ini aku mati, aku akan tetap bahagia karena pernah mengenal kamu.”

“Kamu apaan sih? Aku nggak suka kamu ngomongin soal kematian.”

Evan tersenyum menatap Alluna. “Kamu baik. Dan aku nggak sebaik yang kamu pikirkan.”

Alluna bergeming. Ia menatap Evan yang masih menundukkan pandangannya.

“Soal Reva, aku bakal ceritain semuanya. Mungkin kamu bakal benci, jijik dan menjauh dari aku setelah ini.”

“Aku nggak akan pergi ... tanpa kamu.”

“Reva, pacar pertamaku ....” Evan mulai menceritakan masa lalunya.

Alluna menyimak dengan seksama kata demi kata yang diucapkan Evan.

“Aku terpukul banget saat hubungan kami baru genap 6 bulan, dia meninggal.” Napas Evan tersengal saat mulai bercerita tentang kematian Reva.

Alluna terkejut, menutup mulutnya yang menganga dengan tangannya. “Why? Kalian terlihat bahagia saat itu.”

Evan mengangguk. “Ya, hubungan kami sedang bahagia saat itu. Kami tidak pernah bertengkar. Aku bener-bener kehilangan orang yang aku sayang untuk pertama kalinya. Dan aku cuma bisa nyalahin diriku sendiri.”

Alluna masih menyimak.

“Dia ditemukan bunuh diri di dalam kamarnya dalam keadaan hamil tiga bulan.”

“What!?” Alluna terkejut mendengar pernyataan Evan. Kali ini ia masih tidak percaya kalau Evan sudah melakukan itu, bahkan sudah punya janin dari pacar pertamanya.

Evan tidak peduli denga ekspresi Alluna, ia tetap melanjutkan ceritanya. “Aku adalah orang yang paling bodoh sedunia karena aku sama sekali nggak tau kalau dia hamil. Dia ngadepin semuanya sendirian. Aku tahu, dia pasti malu kalau semua orang tahu dia hamil di luar nikah. Terlebih lagi saat itu kami masih kelas dua SMA.”

“Andai dia jujur, aku pasti bertanggung jawab.” Evan tersenyum kecil. “Dan saat ini, anakku pasti sedang lucu-lucunya.” Evan tersenyum membayangkan seorang anak kecil sedang berlari-lari dan bermain bersamanya di dalam kamar.

Alluna ikut tersenyum saat Evan bercerita tentang anaknya.

“Kamu nggak marah?” tanya Evan yang melihat Alluna ikut tersenyum.

“Marah kenapa?”

“Karena aku bukan cowok baik-baik.”

“Aku marah bukan karena kamu seorang badboy. Yang bikin aku marah ...” Alluna berbisik dan mendekatkan wajahnya. “Karena kamu nggak mau jujur sama aku.”

Evan tersenyum. “Konyol!” celetuknya.

“Kenapa?”

“Selama seminggu ini aku sudah menghukum diriku sendiri. Aku pikir kamu akan marah besar saat tau kalau aku sudah pernah menghamili perempuan lain. Aku pikir kamu bakal pergi ninggalin aku. Aku pikir kamu nggak akan sayang sama aku lagi. Aku pikir kamu bakal ngejauh dari aku ....” Air mata Evan berlinang. Ia tidak ingin menangis. Tapi, melihat wajah Alluna yang tersenyum di hadapannya. Dia justru ingin menangis karena perbuatan biadab dan dosanya di masa lalu. Ia malu.

Alluna tidak berkata sedikitpun. Ia membungkam mulut Evan dengan bibirnya.

Evan terkejut dengan apa yang dilakukan Alluna. Ia masih tak percaya, Alluna menciumnya tanpa ia minta. Alluna melumat bibirnya dan ia tak bisa menahan diri untuk membalas.

Alluna mengangkat wajahnya. Ia meletakkan jemari telunjuknya di bibir Evan. “Jangan pernah hancurkan masa depanmu dan masa depan orang yang kamu sayangi!” bisik Alluna.

Evan tersenyum kecil. Ia merasa konyol setiap kali hanya berduaan dengan Alluna. Kalau bukan Alluna yang di depannya saat ini, mungkin sudah sedari tadi ia telanjangi dan mencumbunya penuh nafsu. Alluna memang perempuan yang bijak. Dia punya nafsu, sama seperti perempuan lain pada umumnya. Tapi, dia pandai mengendalikan diri. Inilah satu-satunya alasan yang membuat Evan bangga memilikinya.

Evan menarik tengkuk Alluna dan memeluknya dengan erat. “Tetap seperti ini, jangan pergi!” bisiknya.

***

“Mama minta aku lanjutin kuliah ke Paris.” Usai memainkan piano, Alluna duduk di sofa, tepat di sisi Evan yang sedang asyik bermain game online.

“Trus? Kamu setuju?” Evan langsung menoleh ke arah Alluna.

Alluna mengedikkan bahunya. “Belum tahu. Kalau dikasih uang jajan 3x lipat dari Daren. Mungkin aku mau kuliah di sana.”

Evan membelalakkan matanya. “Tega kamu ya. Kemarin waktu aku mau kuliah ke London. Kamu yang ngerengek supaya aku tetep stay di Indonesia. Sekarang malah kamu yang mau ke Paris!” celetuk Evan sambil melempar ponselnya ke atas sofa.

“Eh, mati loh. Lagi main FF kan?” Alluna mengambil ponsel Evan dan melanjutkan game Free Fire yang sedang dimainkan Evan.

“Biarin aja, cuma game doang. Kamu beneran mau lanjut kuliah ke Paris?” Evan menatap tajam ke arah Alluna.

Alluna melirik nakal sambil tersenyum. “Menurut lo?”

“Janganlah. Kuliahku nanggung kalo mau pindah juga.”

“Bukannya kamu suka yang nanggung-nanggung? Rok nanggung, baju nanggung ...,” goda Alluna.

“Apaan sih lo? Mulai nakal ya sekarang?” Evan mencubit gemas pipi Alluna.

TING TONG!

Bel rumah berbunyi. Bi Ira langsung buru-buru keluar untuk membukakan pintu. Tak lama kemudian, Bi Ira kembali dengan membawa sebuah kartu, ia menyodorkannya pada Alluna.

“Siapa, Bi?” tanya Alluna.

“Nggak tau.”

Alluna meraih kartu undangan dari tangan Bi Ira. 

Bi Ira langsung pergi menuju dapur.

“Siapa yang nikah?” tanya Evan sambil mencondongkan badannya.

“Temen sekelas.”

“Yang mana anaknya?”

“Kamu nggak tau. Anaknya pendiem banget.”

“Oh ... keren ya!”

“Apanya?”

“Abis dapet ijazah, langsung ijab sah!”

“Hahaha. Kirain pendiemnya yang keren.”

“Kalo kamu jadi pendiem, baru aku bilang keren.”

Alluna mencebik.

“Jadi, kondangan lagi nih?” tanya Evan.

Alluna mengangguk.

“Kondangan mulu, kapan giliran kita ngundang, ya?” ucap Evan sambil menatap langit-langit rumah.

“Kamu maunya kapan? Tinggal bikin aja undangan terus disebarin, beres!” sahut Alluna.

“Serius? Aku sih maunya minggu depan kita udah nikah.”

Alluna memutar bola matanya. “Aku nggak mau nikah muda.”

“Kenapa?”

“Masih mau kuliah dulu.”

“Bisa kuliah setelah menikah.”

“Nggak! Pokoknya kuliah dulu baru nikah!” sahut Alluna keukeuh.

“Nikah dulu!”

“Kuliah dulu!”

“Nikah!”

“Kuliah!”

“Nikah!”

“Kuliah!”

“Kuliah!”

“Nikah!” Alluna langsung menutup mulutnya karena ikut menyebut kata nikah.

“Nah, kan?” Evan tersenyum licik. “Yes! Nikah dulu!” Ia mengepalkan tangannya ke bawah.

“Apa-apaan? Culas!”

“Bodo amat, yang penting kamu udah bilang ‘nikah’.” Evan menjulurkan lidahnya.

“Nggak mau!” sahut Alluna ketus sembari melipat kedua lengannya di dada.

“Jadi, kamu beneran nggak mau nikah sama aku?” tanya Evan dengan wajah memelas.

Alluna langsung menatap Evan yang tiba-tiba serius menanggapi candaannya. “Mau, Van. Tapi nggak sekarang. Aku nggak mau nikah muda. Masih mau ngejar cita-cita aku.”

“Aku ngejar kamu, kamu ngejar cita-cita, terus Cita Citata ngejar siapa dong? Ngejar aku?”

“Cita-cita. Bukan Cita Citata. Itu artis.”

“Ya kali aku dikejar-kejar sama artis. Ganteng gini.” Evan menelentangkan tangannya di sandaran sofa sambil mengangkat satu kakinya. Gayanya yang sok cool membuat Alluna mendelik ke arahnya.

“Kenapa? Cemburu?” Evan melirik Alluna sambil menahan tawa. “Makanya, kalo punya pacar ganteng itu jangan disia-siain. Ntar diambil sama yang lain baru tau rasa.”

“Iih, kamu tuh nyebelin banget, sih!” Alluna memukul dada Evan.

 “Jadi, mau nikah sama aku nggak?” tanya Evan lagi.

“Mau. Tapi ...,”

“Kalo mau tuh nggak pake tapi.”

“Nah, gitu dong!” Evan melingkarkan tangannya di pinggang Alluna. “Aku udah nggak sabar pengen bikin anak sama kamu,” bisiknya sambil meniup tengkuk Alluna dan berhasil membuat gadis itu merinding.

Alluna mendesah pelan.

“Kamu sebenernya pengen juga kan?” ledek Evan sambil mengacungkan telunjuknya di depan hidung Alluna.

“Apaan sih?” Alluna menyingkirkan tangan Evan dari wajahnya. Ia tersipu, pipinya bersemu merah.

“Setidaknya aku tahu kalo kamu punya nafsu,” bisik Evan. Ia menarik tubuh Alluna duduk di pangkuannya dan menciumnya penuh cinta.



((Bersambung...)) 

Novel "Partner Kondangan" Full Version


 

Alluna Alexandria tidak pernah kesulitan mendapatkan perhatian.

Yang sulit adalah... jatuh cinta.

Di saat teman-teman sebayanya sibuk memamerkan pasangan, Alluna justru selalu datang ke setiap kondangan seorang diri. Bukan karena tak ada yang mendekat, melainkan tak ada yang berhasil membuatnya ingin bertahan.

Sampai sahabat-sahabatnya mengambil alih urusan hatinya.

Mereka mempertemukannya dengan Evan Noah.

Awalnya, Evan hanyalah partner kondangan. Seseorang yang cukup hadir agar Alluna berhenti menjawab pertanyaan, "Kapan menyusul?"

Namun, semakin sering bersama, semakin sulit membedakan mana yang sekadar berpura-pura... dan mana yang benar-benar jatuh cinta.

Karena terkadang, seseorang yang datang untuk menemani satu pesta... justru menjadi alasan untuk menetap selamanya.


BAB 1 : 


Partner Kondangan Bab 6 : Pernikahan Keluarga

 



Paris.

“Pa, lihat, deh!” Mama Alluna menunjukkan sebuah foto yang terpampang di layar ponselnya.

“Siapa? Model baru Mama?”

“Bukan, tapi akan,” jawab Mama Alluna sambil tersenyum. “Kayaknya mereka cocok buat kita jadiin model katalog kita yang baru.”

Papa Alluna meraih ponsel milik sang istri dan memperhatikan foto seorang gadis yang duduk di kursi berwarna putih emas. Gadis itu memakai gaun warna biru terang dengan motif batik berwarna putih di beberapa bagian. Terlihat sangat anggun dan elegan. Kakinya yang jenjang ditumpuk, memperlihatkan kakinya yang indah dengan sepatu high heels warna biru emas. Di sampingnya berdiri seorang pria tampan berjas hitam cokelat. Satu tangannya bersandar di ujung sandaran kursi. Sangat serasi, layaknya pangeran dan puteri kerajaan. Ia memperhatikan kembali gadis itu dengan seksama karena wajahnya sangat familier.

“Ini Alluna?” tanya Darwis, Papa Alluna.

“Iya, Pa. Masa sama anak sendiri pangling?”

Darwis, Papa Alluna tersenyum menatap layar ponsel. “Nggak terasa dia sudah besar dan jadi gadis yang cantik.”

“Ya iya, dong. Siapa dulu mamanya?” puji Mama Alluna pada dirinya sendiri.

Darwis tersenyum menatap Lena, istrinya. Mereka merasa sangat bahagia karena telah melihat anak-anak mereka tumbuh dewasa. Kerja keras mereka selama ini terbayarkan. Memberikan kebahagiaan untuk kedua anaknya, juga mendidiknya dengan baik. Mereka bersyukur punya keluarga yang baik, punya dua orang anak yang baik dan berprestasi.

 

***

Waktu berlalu begitu cepat. Sepertinya, baru kemarin Alluna memakai seragam putih abu-abu. Sekarang, dia sudah di penghujung kelas tiga. Itu artinya, dia akan lulus SMA dalam hitungan minggu.

Banyak hal yang telah ia lalui. Tentang persahabatannya dengan Austin, Hastri dan Rani. Tentang kisah cintanya dengan Evan yang kini sudah kuliah. Awalnya, Evan ingin kuliah di luar negeri. Tapi, karena Alluna yang manja dan terus merengek agar Evan tetap tinggal. Evan mengurungkan niatnya dan tetap kuliah di Jakarta. Sehingga mereka masih bisa sering bertemu.

Beberapa minggu belakangan, Alluna menjaga jarak hubungannya dengan Evan karena ingin fokus dengan ujian sekolah. Terkadang, Evan memang sering mengganggu pikirannya. Ia bersyukur karena Evan mau mengerti. Ia jarang menelepon Alluna apalagi datang ke rumah.

 

***

“Hai, Van!” sapa Stella, gadis cantik terpopuler di kampus tempat Evan kuliah. Tanpa segan ia langsung merangkul lengan Evan.

“Apaan, sih lo!” Evan menepis tangan Stella.

“Galak amat, sih!? Gue suka deh cowok galak dan macho kayak lo,” goda Stella.

Evan tidak menghiraukan Stella. Ia tetap melangkahkan kaki menuju mobilnya.

Stella tak patah semangat, ia terus mengikuti Evan dan masuk ke mobil pria itu.

“Lo ngapain sih ikut masuk mobil gue? Keluar!” sentak Evan.

“Van, gue pengen sekali-sekali naik mobil lo. Ajak gue jalan ke mana gitu.”

“Gak nafsu gue jalan sama lo. Lo cari cowok yang lain aja! Keluar dari mobil gue sekarang!”

“Galak amat, sih!” celetuk Stella, ia keluar dari mobil Evan dan membanting pintu dengan keras.

Evan menggelengkan kepalanya. “Cewek gila!” umpatnya. Ia menyalakan mesin mobil dan keluar dari parkiran kampus menuju SMA 28, tempat Alluna bersekolah.

Di sana, gadis cantik berseragam putih abu-abu sudah menunggunya. “Udah lama nunggunya?” tanya Evan membukakan pintu mobil untuk Alluna.

“Nggak. Gue baru aja keluar kelas, kok.” Alluna langsung masuk ke dalam mobil. Evan menutup pintu dan berjalan menuju pintu sebelahnya. Duduk di belakang setir dan mulai melajukan mobilnya.

“Gimana pelajaran hari ini?” tanya Evan.

“Hmm, lumayan bikin pusing.”

“Dibawa santai aja. Jangan sampai setres karena mikirin ujian. Lo pasti lulus, kok.”

Alluna tersenyum menatap Evan. “Dulu, waktu lo mau ujian. Emang nggak kepikiran?”

Evan mengedikkan bahunya. “Enggak. Buktinya gue santai aja. Masih jalan sama lo waktu mau ujian.”

“Hmm, iya sih. Gue kok nggak bisa kayak lo, ya?” gumam Alluna.

Evan tertawa kecil sambil mengusap ujung kepala Alluna. Ia kembali fokus menyetir. “Oh ya, minggu depan temenin gue ke acara nikahan kakak sepupu gue, ya!” pinta Evan.

“Oke. Di mana?” tanya Alluna.

“Di Jakpus.”

Alluna mengangguk. Ia mengambil ponsel di tas yang ia pangku dan membalas chat grup tiga sahabatnya.

Evan menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah Alluna.

“Udah sampai?” tanya Alluna, ia tahu pertanyaannya itu tidak penting untuk ditanyakan.

“Main hape mulu.”

Alluna cengengesan. Cepat-cepat ia memasukkan ponsel ke dalam tas, tapi ponselnya malah terjatuh.

Evan menggelengkan kepalanya, ia sudah terbiasa dengan sifat Alluna yang ceroboh.

Alluna menundukkan badannya untuk mengambil ponsel yang terjatuh di bawah kakinya. Ia meraba dan menemukan sebuah benda kecil yang langsung membuatnya melirik tajam ke arah Evan.

“Kenapa?” tanya Evan melihat wajah Alluna menahan amarah.

“Ini punya siapa?” tanya Alluna menyodorkan sebuah lipstik berwarna emas tepat di depan wajah Evan.

Evan mengernyitkan dahinya. “Bukan punya lo?”

“Gue nggak pernah pake lipstik merk ini. Ini lipstik siapa, Van!?” sentak Alluna, ia menahan air matanya yang sudah berlinang. Evan selingkuh sama cewek lain, itu yang terlintas di pikirannya.

“Gue nggak tau.” Wajah Evan memerah karena dia tidak tahu harus berkata apa. Ia sendiri tidak tahu kenapa ada lipstik di dalam mobilnya.

“Lo selingkuh?”

“Enggak.”

“Bohong!”

“Gue nggak tau kenapa lipstik itu ada di mobil gue.”

“Lo kira gue bodoh? Mana ada lipstik jalan sendiri masuk ke dalam mobil kalo lo nggak baca cewek masuk ke dalam mobil lo!” Alluna membuka pintu mobil dan membantingnya dengan kasar.

“Lun ...!” panggil Evan, ia langsung mengejar Alluna yang berlari masuk ke dalam rumah.

“Ada apa?” tanya Mama Alluna. Ia terkejut melihat anaknya pulang dalam keadaan menangis.

Alluna tidak menjawab, ia berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.

“Ada apa, Van?” tanya Mama Alluna yang melihat Evan menyusul.

“Salah paham, Tante.”

Mama Alluna mengernyitkan dahinya. Ia menangkap kepanikan di wajah Evan. “Duduk dulu, cerita sama tante! Alluna kalau lagi ngambek, susah dirayu. Biarkan saja dulu dia nangis.”

Evan mengacak rambutnya. “Tapi, Tante.”

“Udah, cerita dulu. Kenapa?”

“Tiba-tiba ada lipstik di mobil aku. Dia marah banget.”

“Kok, bisa?”

“Evan nggak tau, Tante. Nggak ngerti kenapa ada lipstik di dalam mobil aku. Aku nggak pernah jalan sama cewek lain selain dia.”

“Mobil kamu pernah dipinjam teman?”

Evan menggelengkan kepalanya.

“Yang terakhir masuk mobil kamu siapa?”

Evan mencoba mengingat-ingat. “Ah, shit!” maki Evan. “Stella tadi tiba-tiba nyelonong masuk mobil aku waktu aku mau jemput Alluna.”

“Siapa dia?”

“Teman kuliah. Dia ngejar-ngejar Evan mulu.” Evan bangkit dari duduknya. “Aku naik dulu ya, Tante.” Evan menunjuk ke arah kamar Alluna.

Mama Alluna menganggukkan kepala. “Good luck!” ucapnya sambil tersenyum.

Evan tersenyum sambil mengangkat jempolnya. “Asyik memang kalo punya mama rasa temen gini. Dia ngerti banget masalah anak muda,” batin Evan sembari melangkahkan kakinya menaiki tangga.

“Lun...!” panggil Evan sambil mengetuk pintu. “Ini gue. Buka pintunya, dong!” pinta Evan dengan lembut.

Alluna masih menangis di dalam kamar. Ia tidak ingin menjawab panggilan Evan. Ia justru menutup telinganya dengan bantal.

“Lun, dengerin dulu penjelasan gue! Ini nggak kayak yang lo pikirin.” Evan masih berteriak dari luar. Tidak ada jawaban sama sekali dari Alluna.

Evan mendesah. Ia memutar otaknya agar Alluna mau membukakan pintu atau setidaknya mau membalas ucapannya.

“Lun, lo kan tau gue ganteng. Wajar aja kalo banyak cewek yang suka sama gue. Tapi, gue cuma cinta sama lo doang. Kalo lo udah nggak mau sama gue, gue jalan sama cewek lain aja!” teriak Evan dari luar kamar.

“Bodo amat!” sahut Alluna dari dalam kamarnya.

Evan tersenyum mendengar jawaban Alluna. Ia merasa lega karena Alluna masih mau menyahut. Baginya, lebih baik Alluna marah panjang lebar kali tinggi daripada harus didiamkan seperti ini.

“Lun, gue pulang dulu, ya! Kalo udah nggak marah, telpon gue, ya! Jangan lama-lama marahnya, gue nggak suka. Ntar gue cari cewek lain kalo lo marahnya kelamaan,” teriak Evan.

“Nyebelin banget sih, lo. Bukannya minta maaf, malah mau cari cewek lain. Bodo amat!” maki Alluna pelan sambil menatap pintu kamarnya.

Alluna diam beberapa menit, tak terdengar lagi suara Evan dari luar. “Syukur deh kalo dia pulang.” Alluna turun dari ranjang, berjalan perlahan menuju pintu. Ia menempelkan telinga ke pintu kamarnya untuk memastikan apakah Evan sudah pulang atau belum.

Perlahan ia memutar kunci pintunya, kemudian menarik gagang pintu pelan-pelan. Sudah tidak ada siapa-siapa di depan pintunya.

“Syukur, deh. Nyebelin banget sih tuh cowok!” Alluna menghela napas lega sambil mengelus dadanya. Ia membalikkan tubuh dan tidur tengkurap di tempat tidurnya.

Alluna meraih boneka kelinci miliknya yang ia beri nama Evan. “Van, lo nyebelin banget sih!? Kenapa sih lo selingkuh di belakang gue? Katanya, lo cuma sayang sama gue. Sekalinya, di belakang gue lo jalan sama cewek lain. Lo nggak ngerti perasaan gue?” Alluna mencakar-cakar boneka kelincinya. “Dasar Playboy!” ia membanting boneka itu.

Alluna diam sesaat sambil menatap boneka kelinci merah muda yang ada di depannya. “Harusnya, lo nggak usah jadi kelinci biar nggak playboy! Kenapa lo yang ada di sini sih?!” maki Alluna makin kesal. Air matanya kembali menetes. Ia terluka karena sikap Evan yang tidak merasa bersalah sama sekali. Terlebih, dia akan memilih cewek lain yang jauh lebih baik darinya.

“Jahat lo, Van! Kenapa sih lo tega banget sama gue! Gue sayang sama lo!” Alluna terisak sambil memukul-mukul bantal.

“Gue juga sayang sama lo,” bisik Evan di telinga Alluna, ia tiba-tiba sudah ada di dalam kamar.

Alluna terkejut mendengar suara Evan. Ia membalikkan tubuhnya, “Kok, lo bisa masuk ke sini?” tanya Alluna sembari mengusap air matanya.

“Pintu kamar nggak lo kunci lagi.” Evan tersenyum menatap Alluna.

“Bukannya lo udah pulang?” tanya Alluna, ia menatap Evan yang kini membungkuk tepat di atas kepalanya.

“Gue nggak akan pulang, sebelum semuanya beres.”

“Nggak ada yang perlu diberesin,” celetuk Alluna memalingkan wajahnya, sementara Evan masih menatapnya tanpa berkedip.

“Lo cemburu?” goda Evan menahan tawa.

“Nggak. Buat apa cemburu? Jalan aja sono sama cewek lain! Gue nggak peduli!”

“Kalo lo nggak peduli, kenapa semarah ini?”

“Evan Noah ...! Lo tuh nyebelin banget, sih!” Alluna memukul dada Evan. “Gue tuh sayang sama lo, jelas aja gue cemburu. Udah kayak gini, masih ditanya cemburu atau enggak.” Air mata Alluna kembali berlinang.

“Gue nggak selingkuh, gue sayang sama lo. Gue juga bakal ngelakuin hal yang sama kalo lo jalan sama cowok lain. Gue juga bakal cemburu,” bisik Evan sambil menempelkan dahinya ke dahi Alluna.

“Terus itu lipstik siapa? Kenapa bisa ada di mobil lo?” tanya Alluna dengan nada berat.

Evan mengangkat tubuhnya dan duduk di sisi ranjang Alluna. “Gue nggak tahu itu lipstik punya siapa. Nggak ada cewek yang masuk ke mobil gue selain lo. Tapi, tadi waktu gue mau keluar dari kampus dan jemputin lo. Stella tiba-tiba aja ngeloyor masuk ke mobil gue. Bisa jadi, lipstiknya dia yang jatuh. Dan gue sama sekali nggak tau karena gue langsung usir dia saat itu juga ....” Evan menjelaskan panjang lebar.

“Stella siapa?”

“Cewek di kampus. Dia ngejar-ngejar gue mulu, tapi gue sama sekali nggak minat sama dia.” Evan melirik ke arah Alluna yang masih menatapnya.

“Beneran lo nggak selingkuh?”

“Nggak, lah. Gue tuh udah punya cewek yang cantik, baik hati, pinter dan manja banget kayak gini. Masa iya gue masih mau selingkuh?” Evan mencubit kedua pipi Alluna dengan gemas.

“Awas ya, kalo sampe slingkuh, gue bakal mau liat muka lo lagi!” ancam Alluna.

“Iya.” Evan mengusap ujung kepala Alluna. “Jangan marah-marah lagi, ya!”

“Iya. Gue minta maaf karena langsung marah-marah tanpa mau denger penjelasan dari lo,” jawab Alluna pelan sambil menundukkan wajahnya.

“Udah, nggak papa, kok.” Evan menarik kepala Alluna dan memeluknya. “Yang namanya hubungan pasti ada ujian dan cobaannya. Kita harus bisa hadapi bareng. Harus selalu terbuka, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.” Evan mengelus bahu Alluna.

Alluna menyandarkan kepalanya di pundak Evan. That’s right! Kalau mereka mementingkan ego masing-masing dan tidak ada yang mau mengalah. Hubungan mereka hanya akan berjalan sebentar saja. Kenyataannya, mereka sudah melewati satu tahun masa pacaran. Tidak mungkin hubungan mereka selalu baik-baik saja. Alluna yang selalu bersikap ceroboh, emosional dan tidak mau mengalah memang cocok dengan Evan yang lebih bersikap sabar, tenang, dewasa dan humoris. Evan lebih banyak mengalah di saat-saat seperti ini.

 

***

“Ma, besok aku mau kondangan ke nikahan sepupu Evan. Ada dress baru, nggak?” tanya Alluna pada mamanya yang sedang asyik menonton televisi.

“Kemarin ada dikirim sama manager butik. Coba aja lihat ke sana!”

“Aku ambil satu lagi, ya!”

“Tumben ngomong sama mama? Biasanya main ambil-ambil aja ke sana.”

“Hehehe.”

“Udah baikan sama Evan?” tanya Mama Alluna.

“Udah.” Alluna duduk di samping mamanya dan menyambar cemilan yang berada di tangan mamanya.

“Eh, bentar lagi kan lulus ujian. Kamu jadi model buat katalog Mama ya, please!” pinta Mama Alluna.

“Ma, Luna nggak mau jadi model. Model mama kan banyak, tuh.”

“Mama pengen yang baru aja biar fresh gitu. Ntar, Mama pakai untuk butik yang di Paris. Gimana?”

“Paris?” Alluna menatap langit-langit, terlihat berpikir keras hanya untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya sudah ia tahu.

“Ayolah!”

Alluna mengetuk-ngetuk bibirnya. “Alluna mau jadi model, tapi ada syaratnya!”

“Apa itu?”

“Alluna maunya pasangan sama Evan, hehehe ...”

Mama Alluna mengernyitkan dahinya sambil tersenyum. “Cuma itu?”

Alluna mengangguk sambil mengangkat kedua alisnya.

“Oke. Deal!” Mama Alluna mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Alluna. “DEAL!”

 

***

 

Minggu siang, Alluna sudah mengenakan mini dress warna kuning cerah dengan motif bakau di bagian ujungnya. Ia menatap wajahnya di cermin beberapa kali untuk memastikan riasan yang ia pakai cocok dengan dress yang ia gunakan.

“Aku udah di depan.” Alluna membaca pesan Whatsapp dari Evan sambil mengerutkan keningnya. Sejak kapan pakai kata ‘aku’?

Alluna menyimpan ponsel di tasnya yang berwarna senada dengan gaunnya. Ia mengenakan high heels warna hitam dengan hiasan pita kuning. Ia bergegas turun dari kamarnya dan langsung menemui Evan yang sudah menunggu di teras rumah.

“Udah siap?” tanya Evan.

Alluna mengangguk pasti.

Evan langsung bangkit dari kursi, menghampiri Alluna dan langsung merangkul pinggangnya. Ia mengantarkan Alluna sampai benar-benar memasuki mobilnya.

“Van, Mama minta gue jadi model di butiknya.” Alluna memulai pembicaraan saat Evan sudah melajukan mobilnya ke arah Jakarta Pusat.

“Oh ya? Bagus, dong! Kamu suka banget 'kan pake baju-bajunya?” sahut Evan tetap fokus menyetir.

“Iya, sih. Tapi gue nggak tertarik jadi model.”

“Kenapa?”

“Gue pake baju seksi dikit aja lo nggak suka. Gimana kalo nanti gue jadi model? Pasti akan ada saat gue pake pakaian yang seksi banget.”

“Yah, kalo cuma di butik mama aja mah nggak papa. Kamu bisa bilang sama Mama buat pake baju yang nggak terlalu seksi.”

“Kalo gue udah jadi model buat katalog Mama, itu artinya gue bakal jadi model di tempat lain juga. Gue pengen jadi penyanyi, bukan jadi model.”

“Banyak kok penyanyi yang merangkap jadi model. Lagian, kalo cuma buat bantu orang tua, nggak papa kan?”

“Hmm... iya sih. Tapi, gue maunya jadi model kalo sama lo.”

“Aku?”

Alluna mengernyitkan dahinya. “Sejak kapan si kita ngomongnya pake ‘aku kamu’? Gue jadi canggung sama lo.”

“Sejak hari ini. Aku ngerasa, panggilan kayak gini lebih baik dan lebih menghargai hubungan kita.”

“Jadi selama ini lo anggep gue nggak menghargai lo?”

“Bukan gitu, Lun. Aku mau hubungan kita bisa lebih baik lagi. Aku bukan anak SMA lagi. Aku udah mulai ngelola bisnis Papa. Aku udah mulai punya relasi dan aku harus bisa menjaga sikap. Kedengarannya nggak enak kalau pas ketemu sama mereka dan kita masih pake ‘gue elo’,” jelas Evan.

“Oh, I see. Jadi, mulai sekarang pake aku-akuan, nih?” goda Alluna.

“Yah, terserah kamu aja, sih. Yang penting bisa dikondisikan.”

“Siap Pak Bos Evan!”

Evan langsung menatap tajam ke arah Alluna. “Kenapa panggilannya begitu?”

“Terus? Maunya dipanggil apa?”

“Panggil sayang kek, cinta kek, atau apa gitu yang enak!” celetuk Evan.

“Hmm,” Alluna mengetuk-ngetuk dagunya. “Panggil apa ya?”

“Panggil Evan aja, deh! Gitu aja mikir!” sahut Evan ketus.

“Yee, gitu doang marah? Serius amat, Pak?” goda Alluna.

“Kamu tuh sadar nggak sih kalau terkadang kamu lebih nyebelin dari aku!?”

“Ini hasil belajar sama kamu selama setahun,” bisik Alluna.

“Pinter!” Evan mengacak ujung kepala Alluna. Alluna mencebik, membuat Evan tertawa.

 

***

“Van, sepupu lo artis?” tanya Alluna begitu masuk ke Ballroom tempat pesta pernikahan berlangsung.

“Bukan. Istrinya yang artis,” jawab Evan sambil menggandeng Alluna dengan mesra.

“Hai, Van!” sapa seorang cowok yang kebetulan berpapasan. “Apa kabar?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.

“Baik.”

“Cewek lo cantik juga,” seru cowok itu sambil memainkan matanya ke arah Alluna.

“Oh, kenalin. Ini Alluna.” Evan memperkenalkan Alluna pada temannya.

“Joni.” Cowok itu mengulurkan tangan sambil memperkenalkan dirinya.

“Alluna.” Alluna membalas uluran tangannya dan menarik secepatnya.

“Bukan Luna Maya kan?”

Alluna menggelengkan kepala, ia mulai tak nyaman dengan tatapan mata Joni.

“Kita ke depan dulu, ya!” pamit Evan sambil menggandeng Alluna untuk menjauh dari Joni.

“Itu temen lo? Eh!? Kamu?” bisik Alluna yang belum terbiasa dengan bahasa ‘aku kamu’.

Evan mengedikkan bahunya. “Nggak penting juga dia temen atau bukan.”

“Kelihatannya agresif banget kayak si Jono? Namanya juga mirip.”

“Oh ya? Dia masih sering godain kamu?” tanya Evan.

Alluna menggelengkan kepala. “Nggak pernah lagi sejak dia jadian sama adik kelas. Udah gitu ceweknya over protektif banget, mana berani dia goda-godain aku,” jawab Alluna sambil tertawa kecil.

“Bagus, deh.” Evan mengambil dua gelas minuman dari tangan waitress yang kebetulan melintas membawa nampan yang berisi gelas-gelas minuman. Ia memberikannya satu gelas pada Alluna.

“Kamu tunggu sini ya! Aku mau ke sana sebentar,” pinta Evan sambil menunjuk ke arah panggung live music.

“Mau ngapain?”

“Biasa.” Evan mengedipkan matanya. “Pegang ini!” Evan menyodorkan gelas minumnya pada Alluna dan berlalu pergi.

“Hai, cantik!” sapa Joni yang tiba-tiba sudah ada di sisi Alluna.

“Hai,” balas Alluna tersenyum kecut melihat Joni  yang tiba-tiba ada di depannya.

“Siapa, Jon?” tanya dua cowok yang ada di belakang Joni.

“Ceweknya Evan?”

“Evan? Evan yang mana?”

“Yang pindah ke Jaksel waktu dia kelas dua,” jawab Joni sambil tersenyum sinis.

“Oh, yang pindah gara-gara skandal sama Reva?” tanya teman satunya.

Mereka bertiga memperhatikan Alluna dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dan sebaliknya. “Dari Jazz ganti ke Porsche kayaknya, Bro. Boleh juga nih cewek. High Class,” tutur salah satu cowok yang diiringi gelak tawa lainnya.

Alluna mulai tidak nyaman dengan tiga cowok yang terus menggodanya. Ia berharap Evan segera datang dan menyelamatkannya dari godaan cowok-cowok aneh itu. Tak berapa lama, ia sudah melihat Evan muncul dari balik kerumunan tamu undangan.

“Ngapain kalian di sini?” tanya Evan ketus pada tiga cowok yang ada di depan Alluna.

“Cuma mau kenalan sama cewek lo aja. Punya cewek baru, dikenalin lah ke kita-kita,” jawab salah satu teman Joni.

Evan menatap sinis ke arah mereka bertiga. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia menarik Alluna menjauh dari tiga orang cowok yang pernah menjadi masa lalunya.

“Ortuku udah dateng, aku kenalin sama mereka, ya?” Evan menggenggam tangan Alluna sambil terus melangkahkan kaki.

Alluna menghentikan langkahnya. 

“Kenapa?”

“Takut.”

“Takut?” Evan mengernyitkan dahinya menatap Alluna.

“Takut ortumu nggak suka sama aku.”

Evan tertawa kecil. “Mereka pasti suka.” Ia menggenggam erat tangan Alluna. Ia bisa merasakan tangan Alluna lebih dingin dari biasanya. “Kamu beneran nervous?” bisik Evan.

Alluna mengangguk, terlebih ia sudah semakin dekat dengan keluarga besar Evan yang sedang berkumpul. Mereka langsung mengalihkan pandangannya pada Evan dan Alluna yang baru saja muncul.

Evan langsung menyalami perempuan setengah baya yang wajahnya sangat mirip dengannya. “Bun, kenalin. Dia Alluna.”

Alluna tersenyum menganggukkan kepalanya. “Alluna,” ucap Alluna sambil mengulurkan tangannya.

“Wah, cantik sekali!” Bunda Evan menyapanya dengan wajah sumringah. “Lebih cantik dari yang di foto,” bisik bundanya di telinga Evan.

“Ah, Tante bisa aja.” Alluna tersipu mendengar pujian dari Bunda Evan.

“Jangan panggil Tante, panggil Bunda aja!” pinta Bunda Evan sambil mengelus rambut Alluna.

“Boleh panggil Bunda?”

“Boleh banget!”

Malam itu menjadi malam di mana Alluna mengakrabkan diri dengan Evan dan keluarganya. Alluna mendapat banyak kejutan, bukan hanya perkenalan dengan keluarganya. Tapi, ia juga berduet di atas panggung bersama Evan dan disaksikan beberapa artis ibukota yang juga hadir di acara tersebut.

Kejutan terakhir adalah ketika Evan mengajaknya berdansa. It’s first time, bahkan Alluna belum pernah berdansa sebelumnya.

Masih ada kejutan lain yang tidak akan pernah terlupakan oleh Alluna begitu saja. Bukan tentang romantisme dan kemewahan di acara pesta pernikahan. Tapi, ketika mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah.

“Van, gue boleh nanya sesuatu?” tanya Alluna datar.

“Boleh, tanya apa?”

“Tapi janji kalo lo bakal jujur dan nggak akan ngebohongin gue sedikitpun!” pinta Alluna.

“Kamu kenapa sih tiba-tiba nanya kayak gini? Ngomongnya udah balik pake ‘gue elo’?” Evan menatap Alluna sejenak dan kembali fokus menyetir.

Alluna bergeming, wajahnya datar. Tidak seperti biasanya.

Evan menyadari perubahan Alluna yang terlihat tidak seperti biasanya. Ia menepikan mobilnya. “Mau tanya apa?” tanya Evan lembut.

“Reva siapa lo?” tanya Alluna ketus.

Evan menundukkan kepalanya, mendesah kesal dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Alluna menatap wajah Evan, berharap mendapatkan jawaban jujur dari mulut cowok yang sudah setahun menjalin hubungan dengannya.

“Mereka ngomong apa aja sama kamu?” tanya Evan tanpa menoleh sedikitpun. Ia memandang lurus ke jalanan, tangannya memegang setir erat-erat menahan emosi.

“Nggak ngomong apa-apa. Gue cuma denger mereka cerita soal skandal lo sama Reva.”

“Itu masa lalu aku. Nggak usah dibahas, ya!” pinta Evan.

Why? Telling me!

“Nggak sekarang.” Evan menggelengkan kepalanya.

Why?

“Aku bakalan cerita, tapi nggak sekarang.” Evan masih bersikap lembut.

“Kenapa sih lo masih nggak mau jujur sama gue? Gue selalu cerita apa pun tentang hidup gue. Nggak ada yang gue tutupin satu pun.”

“Kalau waktunya udah tepat, aku bakal cerita sama kamu. Nggak sekarang. Please, ngertiin aku!”

Alluna bergeming. Ia tak banyak bertanya lagi, memilih untuk berdiam diri sepanjang perjalanan pulang. Laki-laki selalu punya rahasia dalam hidupnya, yang bahkan pasangannya sendiri pun tidak boleh tahu.


((Bersambung...))

Sunday, June 28, 2026

Partner Kondangan Bab 5 : Ghift Left Behind

 



“Siang, Ma!” sapa Alluna begitu masuk rumah.

“Siang. Kirain masih mau nginap tempat Austin. Biasanya pagi-pagi udah pulang,” sahut Mama Alluna.

“Aku bangun kesiangan. Daren mana, Ma?”

“Di kamar.”

“Oke.” Alluna terlihat sumringah sambil melangkahkan kaki menaiki anak tangga. Ia langsung masuk ke kamar Daren, duduk di samping sang kakak yang sedang asyik bermain game online.

“Kak...!” panggil Alluna sembari menyenggol lengan Daren.

“Hmm.”

“Berhenti dulu mainnya! Gue mau cerita.”

“Cerita aja!”

“Males. Ntar nggak didengerin!”

“Denger gue.”

“Berhenti dulu mainnya!” pinta Alluna.

“Bentar! Nanggung, nih.”

Alluna mencebik. “Gue matiin, nih, wifinya!” ancam Alluna.

“Jangan, dong! Bentar lagi, kok,” ucap Daren tanpa menoleh.

Alluna memangku wajah dengan telapak tangan sembari menunggu kakaknya selesai bermain game.

“Kenapa?” tanya Daren beberapa saat kemudian, ia letakkan ponsel di sisi tempat duduknya.

“Minggu depan ada acara, nggak?”

“Nggak ada—”

“Temenin gue kondangan ke Jaktim, ya! Ada acara senior gue. Gue nggak enak banget kalo dateng sendirian.”

“Kalo orang ngomong itu dengerin dulu! Gue belum kelar ngomong main samber aja,” celetuk Daren.

“Eh!?” Alluna langsung memasang wajah sok polos.

“Minggu depan gue udah balik kuliah ke Singapura. Makanya, cari cowok biar punya partner kondangan!”

“Awas, ya! Kalo sampe gue punya pacar. Uang jajan lo setahun buat gue.”

“Iya. Gue kasih jatah uang jajan gue setahun kalo lo bisa dapetin pacar dalam waktu seminggu. Dan saat lo ke acara kondangan, lo mesti vidcall gue dan tunjukkin pacar lo itu.”

“Oke. Siapa takut. Pacar doang mah gampang.”

“Eits, tapi ada syaratnya.”

“Pake syarat segala?”

“Iya. Pacarnya kudu pacar beneran. Bukan bo’ongan kayak waktu itu. Lo udah ambil uang jajan gue dua bulan, sekalinya cowok bayaran.”

“Biarin. Yang penting gue untung.” Alluna menjulurkan lidahnya.

“Pinter bisnis lo ya? Sampe pacar pun dibisnisin.”

“Bodo amat! Yang penting, minggu depan gue bakal dapet uang jajan lo selama setahun. Lumayan, bisa buat beli mobil baru buat gue,” Alluna tergelak.

“Seneng lo ya!? Tapi ingat, harus pacar beneran. Kalo dalam waktu dua tahun lo udah putus sama dia, artinya lo harus ngembalikan duit gue 4x lipat.”

“Lah? Tekor dong gue kalo putus sama pacar?”

“Bodo amat! Yang penting gue untung.”

“Idih, dibales gue. Yang namanya pacaran kan bisa putus kapan aja kalo udah nggak cocok.”

“Nggak usah ngeles!”

“Lah? Bukan ngeles. Lo sendiri aja gonta-ganti pacar.”

“Belum dapet yang pas aja. Lagian, gue ganteng gini. Siapa sih yang nggak mau jadi pacar gue?” Daren tersenyum bangga sambil memainkan kedua alisnya.

Alluna melipat kedua tangannya di dada. Berpikir sejenak, kemudian pergi meninggalkan Daren yang kembali fokus dengan game-nya.

Alluna masuk ke kamar mamanya, dia heran karena mamanya sedang mengemasi pakaian ke dalam koper dibantu oleh pembantunya. “Mau ke mana?” Alluna melirik isi koper milik mamanya.

“Mau nyusul papa,” jawab Mama Alluna.

“Papa nggak jadi pulang minggu ini?”

Mama Alluna menggeleng. “Katanya, kerjaan di sana masih harus diperpanjang karena ada beberapa problem. Jadi, papa minta mama ke sana supaya bisa bantu masalah usaha di sana. Biar cepet kelar.”

“Jadi, berapa hari Mama di Paris?” tanya Alluna.

“Mama belum tahu, Sayang. Kalau masalah di sana sudah selesai, Mama pasti langsung pulang.” Mama mengelus lembut rambut Alluna.

Alluna duduk di sisi ranjang sambil menghela napas kecewa.

“Kenapa? Kok, murung?” Mama Alluna meraih dagu Alluna dan menatap wajahnya dengan seksama.

“Minggu depan, ada acara nikahan senior musik aku di Jaktim. Terus, aku perginya sama siapa?”

“Sama supir, ya!?”

“Ma, supir mah cuma nganterin doang sampe depan. Masa iya aku mau gandengan sama supir? Mama tega banget, sih!?” Alluna merengek manja.

“Ya sudah, kamu minta temanin Hastri, Austin atau Rani. Nanti Mama telepon mereka buat temenin kamu, ya?” Mama Alluna tetap bersikap lembut meski Alluna selalu merengek manja bila menginginkan sesuatu.

“Aku udah tanya sama mereka. Nggak ada yang bisa satu pun. Alasannya banyak. Yang bilang jauh lah, nggak kenal lah and bla bla bla. Malah aku disuruh pergi sama Evan!” celetuk Alluna. Ia langsung menutup mulut karena keceplosan menyebut nama Evan di depan mamanya.

Mama Alluna mengernyitkan dahinya. “Evan? Siapa dia?”

Duh, kenapa gue bisa keceplosan gini sih. Gue belum siap cerita apa pun soal Evan. Kita baru aja kenal dan mama nggak akan ngebiarin gue deket sama sembarang cowok,” batin Alluna sambil menggigit bibir bawahnya.

“Siapa? Kamu kasih tahu Mama atau Mama cari tahu sendiri?” Mama Alluna mendelik, membuat Alluna menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Dia ... dia ... sepupu Austin, Ma. Kakak kelas Alluna,” ucap Alluna lirih, hampir tak terdengar di telinga mamanya.

“Oh ... sepupu Austin? Oke, kamu boleh pergi sama dia.” Mama Alluna tersenyum sambil melipat kedua tangan di dada.

Alluna mendongakkan kepalanya. “Serius, Ma? Mama nggak marah?” tanya Alluna dengan wajah sumringah.

Mama Alluna menggelengkan kepalanya. “Asal cowok itu jelas asal-usulnya dan Mama kenal, why not?”

“Mama kenal dia?”

“Evan sepupu Austin, kan? Mama kenal waktu pesta ulang tahun kamu kemarin.”

“Serius? Makasih, Ma! Mama baik banget!” Alluna memeluk tubuh mamanya erat-erat.

“Eits, tapi tetep harus ingat! Hape kamu harus selalu standby kalau mama video call. Di mana aja, kamu harus update. Oke?” Mama Alluna mengacungkan jempolnya.

“Beres, Ma!”

“Nanti Mama minta nomor WA Evan.”

“Hah!? Buat apa?”

“Buat mastiin, kalo dia bisa jaga kamu dengan baik.”

“Oh, oke. Ntar aku kirim ke Mama.”

“Ya udah, Mama siap-siap dulu, ya!”

Alluna mengangguk, keluar dari kamar dengan hati berbunga-bunga. Dia sendiri tidak menyangka kalau mamanya mengizinkan dia pergi dengan cowok yang baru saja ia kenal. Sekali lagi ia kagum pada Evan, bukan hanya berhasil merebut hatinya tapi juga hati Mama tanpa sepengetahuannya.

***

“Hai...!” sapa Evan saat Alluna dan teman-temannya di kantin. Ketiga teman Alluna langsung menepi.

“Kalian mau ke mana?” tanya Alluna, heran dengan sikap ketiga temannya.

“Mau ke toilet,” jawab Hastri.

“Gue mau ke kelas,” jawab Austin.

“Gue mau ke ruang OSIS.” Rani juga ikutan pergi.

Evan tersenyum, duduk di samping Alluna. Ia melipat kedua tangannya ke atas meja, mengacungkan jempol ke arah Austin cs. tanpa diketahui oleh Alluna.

Alluna menyeruput minumannya lebih cepat agar ada alasan untuk pergi dari kantin.

“Lun, semalam nyokap lo telepon gue,” tutur Evan menatap wajah Alluna.

“Uhuk ... uhuk ...!”

Alluna tersedak minuman yang ingin ia habiskan secepatnya.  Air minum keluar dari mulutnya, membasahi baju dan meja kantin.

Evan langsung meraih tisu. “Hati-hati kalau minum.” Ia mengelap mulut Alluna yang basah. Adegan ini menarik banyak pasang mata di kantin.

Alluna melirik ke beberapa murid yang memperhatikan mereka berdua sambil berbisik. "Bakalan ada gosip baru, nih."

 “Gue bisa sendiri.” Buru-buru ia raih tisu dan mengelap bajunya sendiri.

“Hari Minggu jadi ke Jaktim?” tanya Evan.

Alluna menganggukkan kepala.

“Oke. Mau berangkat jam berapa?”

“Pagi.”

“Jam?”

“Sembilan.”

“Oke, jam sembilan gue jemput, ya!” Evan mengelus rambut Alluna dan mengecup pelipis gadis itu. Beberapa murid perempuan yang ada di kantin sempat berteriak melihat adegan itu, sementara para cowok justru melongo. 

Evan adalah salah satu cowok yang banyak dikagumi murid cewek. Tak heran kalau mereka terkejut melihat kedekatan Evan dan Alluna. Bahkan, gosip kalau mereka jadian sudah beredar sejak seminggu yang lalu.

“Van, ini tempat umum,” bisik Alluna dengan hati berdebar. 

“Nggak papa, dikit doang. Gue ke kelas duluan, ya!” Evan mengusap ujung kepala Alluna dan berlalu pergi.

Alluna menundukkan kepala karena hampir semua murid di kantin menatapnya. It’s crazy! Kenapa mereka memandang Alluna berlebihan? Padahal, ada banyak pasangan kekasih yang beradegan mesra di kantin. Tapi, Alluna dan Evan selalu menjadi sorotan. Dua-duanya digandrungi oleh lawan jenis mereka.

“Wah, bakal ada hari patah hati se-SMA 28, nih,” celetuk salah seorang murid.

“Duh, rasanya hati gue ditusuk-tusuk.” Jono menepuk-nepuk dadanya sendiri, ia yang selama ini terkenal getol mengejar cinta Alluna.

“Sabar, Jon!” sahut salah satu temannya sambil mengelus dada Jono.

Gosip hubungan Alluna dan Evan sudah menyebar ke seluruh sekolah. Semua murid sudah tahu kalau Evan dan Alluna jadian. Terlebih, sekarang Alluna berangkat dan pulang sekolah bareng Evan. Tidak lagi diantar supir atau naik taksi. Bahkan Evan juga menemaninya ke tempat les.

***

Sehari sebelum pergi ke acara kondangan, Alluna mengajak Evan mencari gaun baru dan kado pernikahan.

“Lun, ke apartemen gue dulu, ya! Gue mandi, ganti baju terus gue antar lo ke rumah. Abis itu baru kita jalan ke mall. Gimana?” tanya Evan saat mereka sudah ada di dalam mobil sepulang sekolah.

Agree.”

Evan tersenyum, melajukan mobilnya ke arah Senopati Suite, salah satu apartemen mewah di wilayah Jakarta Selatan. Sekitar dua puluh menit, mereka sudah sampai di apartemen.

“Gue mandi dulu, ya!” Evan melempar tas ranselnya ke sofa.

Alluna mengangguk.

“Mau ikut?” tanya Evan.

“Ikut ke mana?”

“Mandi,” jawab Evan cengengesan.

“Ogah!”

“Ya udah. Lo main piano atau gitar aja. Gue mandi dulu.” Evan langsung masuk kamar.

Alluna lebih memilih bermain gitar sambil duduk di sofa. Ia menyalakan kamera video dan mulai merekam dirinya bernyanyi. Usai menyanyikan satu buah lagu, ia berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. 

Pandangannya tertuju pada pintu kamar yang setengah terbuka. Ia membuka pintu tersebut semakin lebar dan memperhatikan ruangan yang masih kosong, tidak ada furniture satu pun di sana. Ia berjalan perlahan memasuki ruangan tersebut. Berdiri di depan kaca jendela dengan view pemandangan di luar apartemen.

“Ini kamar untuk anak, tapi anaknya belum dibikin.” Tiba-tiba Evan datang sembari mengenakan sweeter berwarna abu-abu.

Alluna membalikkan tubuhnya, menatap Evan yang sudah terlihat lebih fresh dari sebelumnya. “Kenapa ruangan dibiarin kosong? Sayang banget.”

“Hahaha. Buat apa juga diisi kalo nggak dipake? Gue di sini sendirian aja. Kalo lo mau tinggal di sini, gue isiin furniture khusus buat lo.”

“Emang gue cewek apaan!?”

“Jadi, lo nggak mau tinggal sama gue?”

“Nggak.”

“After Married?” Evan menatap wajah Alluna serius.

“Apaan!? Pacaran aja belom, udah ngomongin merit,” celetuk Alluna. Ia kembali membalikkan tubuhnya menatap ke luar jendela, membelakangi Evan.

Evan tergelak. “Nggak penting pacaran atau enggak. Pacaran itu cuma label. Yang penting, gue sayang sama lo dan lo sayang sama gue. Lagian nyokap lo udah ngasih golden tiket ke gue.” Evan mendekatkan tubuhnya perlahan, memeluk Alluna perlahan dari belakang. “Be mine forever,” bisiknya.

Alluna ingin marah. Tapi bibirnya malah tersenyum, wajahnya menghangat, ia merasakan pelukan Evan semakin erat, bisikan lembut dari Evan membuatnya nyaman. Ia tak ingin beranjak, ingin tetap seperti ini. Menatap ke depan bersama seseorang yang istimewa.

Evan membalikkan tubuh Alluna, menatapnya penuh cinta. Ia mendekatkan wajahnya perlahan seiring Alluna menenggelamkan wajahnya. “Don’t afraid!” bisiknya. Ia mengangkat perlahan dagu Alluna, mengecupnya perlahan. 

Alluna langsung menarik tubuhnya menjauh dari Evan. Ia membalikkan tubuh membelakangi pria itu agar ia bisa menyembunyikan wajahnya yang merona merah. 

Alluna menyunggingkan senyum kecil di bibirnya. Ia merasakan ciuman pertama yang benar-benar menggetarkan hati. Ia merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya dan aliran darahnya berbalik. Pertama kalinya ia merasakan hal yang indah, sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Ia merasa bahagia. 

Alluna memejamkan mata, bayangan Mama terlintas di pikirannya.  Ia sadar telah melakukan kesalahan. Tidak seharusnya ia berciuman dengan laki-laki yang bukan suaminya. Bukan ini yang diajarkan mama. Mama selalu mengingatkan untuk menjaga diri. Dia bahkan sudah percaya pada Evan.

Sorry, gue—”

Alluna tidak ingin mendengar apa pun dari mulut Evan, ia berjalan keluar melewati tubuh Evan begitu saja.

“Lun...!” Evan menarik lengan Alluna agar berhenti.

“Berangkat, yuk! Lo udah siap 'kan?” Alluna tersenyum sambil menggoyangkan kepala sebagai isyarat mengajaknya pergi.

Evan tersenyum lega dan melepas genggamannya. Ia merasa lega karena Alluna tidak marah, cewek yang satu ini memang sulit ditebak. Ia mengikuti langkah Alluna dari belakang. Menikmati cara jalan gadis berseragam putih abu-abu yang begitu menggoda. 

Alluna meletakkan gelas air minum di meja dapur sebelum mengambil tasnya di sofa. Mereka bergegas menuju rumah Alluna yang berada di sekitaran Tulodong.

Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai ke rumah Alluna. Mobil Evan langsung memasuki parkiran rumah mewah bercat putih dengan luas bangunan 600 meter persegi dan luas tanah 1,4 Ha.

“Gue nunggu di luar aja, ya!” pinta Evan. Ia lebih senang menunggu di luar rumah bersama tukang kebun Alluna. Karena ada teman ngobrol sambil menunggu. Kalau menunggu di dalam, benar-benar menjenuhkan bagi Evan.

Alluna menganggukkan kepalanya. “Mang, temenin dia, ya! Awas, jangan sampe ilang!” canda Alluna pada Mang Udin yang sejak tadi sudah membukakan pintu gerbang.

“Iya, neng,” jawab Mang Udin.

Alluna langsung masuk ke rumah. Sementara Evan duduk di kursi taman sembari bercerita dengan Mang Udin. Terkadang Bibi Ira juga ikut bergabung sejenak sambil mengantar secangkir kopi untuk Evan.

“Mau jalan ya, Mas?” tanya Bi Ira sembari meletakkan secangkir kopi di meja. Evan sudah mulai akrab dan terbiasa dengan penghuni rumah Alluna.

“Iya, Bi.”

“Pantesan, Mbak Alluna tuh kalo mau jalan pasti ribet,” bisik Bi Ira.

Evan tertawa kecil menanggapi ucapan Bi Ira. “Maklum, namanya juga cewek.”

“Iya. Sebentar lagi, pasti kedengaran teriakannya Mba Alluna.”

“Bii ...!” Baru saja diucapkan Bi Ira, teriakan Alluna sudah terdengar.

“Maaf ya, Mas! Bibi bantu Mba Alluna dulu.” Bi Ira langsung berlalu pergi meninggalkan Evan dan Mang Udin.

Bi Ira tergopoh-gopoh menghampiri Alluna.

“Dari mana sih, Bi? Lama banget!”

“Ngantar kopi buat Mas Evan.”

“Tolong beresin baju aku, ya!” pintanya. Alluna sudah bersiap pergi. Seperti biasa, ia selalu mengeluarkan semua pakaian dan sepatunya setiap kali mau pergi ke luar rumah. Jadi, Bi Ira harus standby untuk membereskan dan meletakkan ke tempat semula.

Alluna langsung keluar rumah dan menghampiri Evan. Mereka bergegas pergi menuju butik milik Mama Alluna.

Sesampainya di butik, Alluna langsung menyapa semua karyawan yang ia temui dengan senyuman paling manis yang ia punya. 

Evan senang melihat perubahan dalam diri Alluna. Dia yang suka jutek dan mengomel, kini lebih banyak tersenyum dan ramah pada semua orang.

“Mbak, ada design baru, nggak?” tanya Alluna pada manager yang mengelola butik mamanya.

“Ada, Mbak. Di ruangan biasa,” jawabnya.

Alluna langsung masuk ke sebuah ruangan yang tidak asing lagi baginya. Setiap ada design baru, akan diletakkan di ruangan ini. Ia memperhatikan satu per satu gaun yang ada di dalam ruangan itu.

“Bagus semua, gue bingung pilih yang mana,” celetuk Alluna. 

“Ini bagus, nggak?” Ia meminta pendapat Evan sambil menunjukkan gaun dengan dada terbuka dan memiliki belahan di atas lutut.

Evan menggelengkan kepalanya. “Terlalu sexy.”

“Yang ini?” Alluna menunjukkan gaun berwarna biru terang dengan aksen batik warna putih di beberapa tempat.

“Hmm, boleh. Nggak terlalu terbuka banget.”

“Aku cobain dulu, ya?”

Evan menganggukkan kepalanya. Alluna langsung menyambar gaun itu dan masuk ke ruang ganti. Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan anggun sambil tersenyum pada Evan.

“Gimana?”

“Cantik,” puji Evan.

Alluna memutar tubuhnya, memperlihatkan bagian belakang gaun yang transparan sampai ke pinggang.

Evan menepuk jidatnya, ia sama sekali tidak melihat bagian belakangnya sebelum baju itu dipakai oleh Alluna.

“Aku juga suka banget!” teriak Alluna sumringah. “Bagus, kan?” tanyanya lagi meminta pendapat.

Evan mengangguk-anggukan kepalanya. Tubuh Alluna memang terlalu indah untuk dilewatkan. Tapi, kalau untuk ke acara pesta, dia tidak nyaman dengan mata pria yang memandang Alluna. 

Yah, sebenarnya ini hal biasa. Banyak cewek yang pakaiannya jauh lebih seksi saat menghadiri pesta. Tapi dia merasakan sesuatu yang berbeda saat melihat Alluna. Ia ingin menikmati kecantikan Alluna sendiri, bukan bersama orang lain. Ah, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa saat gadis itu terlihat bahagia.

Alluna tersenyum, dia tidak lama memilih karena langsung jatuh hati pada gaun yang pertama kali ia coba. Ia kembali berkeliling untuk mencari sepatu high heels warna senada, juga mencari kado pernikahan untuk seniornya. 

Setelah lelah berbelanja, main game dan makan. Evan mengantar Alluna pulang ke rumahnya.

***

Minggu, jam sembilan pagi, mobil Evan sudah terparkir di depan rumah Alluna sesuai dengan janji sebelumnya.

“Alluna mana, Bi?” tanya Evan.

“Masih tidur,” jawab Bi Ira.

“Hah!? Dia lupa kalo hari ini mau kondangan?”

“Nggak tau, Mas. Tadi sudah bibi bangunin, tapi belum bangun-bangun juga.”

“Ya udah, biar aku yang bangunin. Kamarnya di mana?” tanya Evan.

Bi Irah langsung mengantarkan Evan menuju kamar Alluna di lantai dua.

“Lun, bangun!” Evan menggoyangkan tubuh Alluna beberapa kali.

“Hmm,” sahut Alluna tanpa membuka mata. Ia pikir itu suara Daren, dia cuek saja dan melanjutkan tidurnya karena masih ngantuk berat.

Evan menghela napas dan memandang Bi Ira yang masih berdiri di pintu. “Ambilin es batu, dikit!” pinta Evan.

Bi Ira menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi dari kamar Alluna.

Begitu Bi Ira pergi, dengan cepat Evan mencium bibir Alluna dan melumatnya. Alluna yang merasakan bibirnya dicium dengan brutal langsung membuka mata.

“Evan...!” teriaknya sambil mendorong tubuh Evan.

“Lo tuh kalo tidur kayak kebo, susah amat dibangunin!” sentak Evan.

“Iya. Tapi nggak pake dicium segala kali,” celetuk Alluna.

“Kata Hastri, lo tuh kayak Sleeping Beauty. Tidurnya kayak kebo. Ya gue coba cium aja. Siapa tahu aja kayak cerita dongeng, dicium langsung bangun. Eh, ternyata beneran.”

Alluna tersenyum menatap Evan yang sudah memakai setelan jas dan terlihat tampan bak pangeran. Ah, apa iya aku seperti Sleeping Beauty? Tokoh princess favoritku? Evan emang ganteng kayak pangeran sih. Tapi, kadang sikapnya suka nyebelin. Mana ada pangeran yang nyebelin kayak Evan,” batinnya.

“Lo mau ke mana? Kok, ganteng banget?” tanya Alluna yang masih setengah mengantuk.

“Lupa? Gue mau ke Jaktim, ke nikahan senior musik gue!” jawab Evan pura-pura kesal.

“Astaga!” Alluna menepuk dahinya. “Jam berapa ini?”

“Sembilan lewat lima belas menit dua puluh tujuh detik,” jawab Evan sambil menatap arlojinya.

“Ya ampun!” Alluna melompat dari atas ranjang. “Bibi!” teriaknya panik. Tak peduli dengan Evan yang masih duduk di sisi ranjang sambil tertawa kecil melihat tingkah Alluna.

“Lo ngapain masih di sini? Gue mau mandi, mau ganti baju. Lo mau ngintip?” Alluna mendelik ke arah Evan.

Evan hanya tersenyum melihat tingkah Alluna yang tiba-tiba heboh. Ia bangkit dan keluar dari kamar Alluna. “Gue tunggu di bawah, gak pake lama!”

Alluna mendengus. “Bibi...!” teriak Alluna lagi. Bi Ira datang dengan mangkok berisi es batu. “Buat apa ini?” tanya Alluna.

“Disuruh Mas Evan, buat bangunin Mbak Alluna.”

“Aku udah bangun! Bibi tolong beresin kamar aku, ya! Jangan lupa siapin baju, sepatu sama perhiasan yang mau aku pakai. Bibi udah aku kasih tau kan semalam? Aku nanti telat, nih,” cerocos Alluna sambil berjalan ke kamar mandi.

Alluna terburu-buru saat berganti pakaian. Ia meminta bibi Ira menyiapkan alat make up ke dalam tasnya. “Aku make up di mobil aja.”

Alluna setengah berlari turun dari tangga. Rambutnya masih belum ia rapikan, sisir masih ada di kepalanya.

“Kenapa kacau gini?” tanya Evan keheranan.

“Udah, deh. Gue make up sama rapi-rapi di mobil lo aja. Weekend gini Jakarta macet, pasti lama di jalan. Gue sempat lah rapi-rapi rambut sama make up di mobil.” Alluna menenteng tas dan sepatu high heels-nya. Ia mengenakan sandal boneka yang biasa ia pakai ke kamarnya dan langsung masuk ke dalam mobil.

Evan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Alluna. “Nggak ada jaim-jaimnya nih cewek,” gumamnya.

“Udah siap?” tanya Evan memastikan saat ia sudah duduk di belakang setir. Ia menatap Alluna yang sudah duduk di sisinya.

Alluna menganggukkan kepala. Ia menatap wajahnya di depan cermin saku yang ia bawa dan mulai menyisir rambut yang sudah ia keringkan menggunakan hair dryer sebelumnya.

Evan menjalankan mobilnya perlahan keluar dari halaman rumah Alluna. Melajukan mobilnya menuju Jakarta Timur.

“Cantik nggak, sih?” Alluna meminta pendapat Evan sambil menunjukkan wajahnya.

Evan menoleh sebentar. “Lo tuh nggak dandan juga udah cantik.”

Alluna memonyongkan bibirnya. “Lo takut ngomong jujur kalo sebenernya make up gue jelek?” Alluna menatap kembali wajahnya di cermin. Memastikan make up-nya terlihat sempurna. 

“Au...!” teriak Alluna yang membuat Evan terkejut.

“Kenapa?” tanya Evan.

“Kalung gue lepas, padahal cuma kesentuh ini.” Alluna menunjukkan maskara yang baru saja ia kenakan. “Bi Ira nggak bener nih makeinnya,” gerutunya.

Evan menepikan mobilnya dan berhenti. Ia memperhatikan leher dan tubuh Alluna, mencari keberadaan kalung milik Alluna. “Kalungnya mana?” tanya Evan.

“Jatuh.”

“Coba angkat kaki lo!” pinta Evan.

“Buat apa?”

“Cari kalungnya.”

“Kalungnya jatuh di sini.” Alluna menunjukkan belahan dadanya. Kalung yang ia kenakan jatuh menyelip ke dalam dadanya.

“Haduh, Lun. Gimana gue nggak mesum kalo lo mancing gue mulu kayak gini? Makanya gue bilang juga apa, nggak usah pake gaun yang dadanya terbuka kayak gini. Ambil sendiri, deh!”

“Yee, siapa juga yang nyuruh lo ambilin!” Alluna mencebik.

Evan menghela napas dan membuang pandangannya ke luar jendela agar tidak melihat adegan Alluna mengeluarkan kalung dari belahan payudara.

“Bantu pakein, dong! Susah, nih!” pinta Alluna.

Evan menoleh ke arah Alluna. Ia melihat Alluna kesulitan memasangkan kunci kalungnya. Dengan cepat tangan Evan melingkar ke leher Alluna dan membantu memasangkan kalungnya. 

Evan menatap liontin kalung berlian milik Alluna, bukan sekedar liontin yang dilihatnya, tapi juga belahan dada milik Alluna. Ia tidak bisa menahan dirinya, terlebih aroma tubuh Alluna begitu menggoda. Evan mengendus belakang telinga Alluna.

“Van...,” Alluna menyetuh pipi Evan sambil tersenyum. “Jalan lagi, yuk!” pinta Alluna.

“Ck.” Evan menghela napas kecewa, ia kembali melajukan mobilnya.

“Astaga!” teriak Alluna saat mereka sudah memasuki wilayah Jakarta Timur.

“Kenapa lagi?”

“Kadonya ketinggalan, Van.” Alluna menepuk jidatnya.

“Kok, bisa sih?”

“Lo kan tau, tadi gue buru-buru. Kemarin kita jalan sampe malam, dah gitu lo masih telpon gue sampe jam dua belas malam. Jadi, gue kesiangan bangunnya. Jelas aja gue buru-buru. Gue takut ntar telat ke acara. Karena acaranya di gedung dan cuma sampai jam satu siang aja. Kalo telat, yang ada kita datang kayak tukang beres-beres gedung,” cerocos Alluna panjang lebar.

Evan tertawa kecil mendengar ucapan Alluna, tapi ia tetap fokus menyetir. “Jadi gimana? Balik lagi, udah jauh.”

Alluna menghela napas. “Kasih amplop aja, deh. Mampir ke toko sebentar beli amplop dulu, ya!” pinta Alluna.

“Siap, tuan puteri,” jawab Evan sambil tersenyum menatap Alluna yang tersipu.

Evan langsung menepi ke toko terdekat untuk membeli amplop. Ia menahan Alluna turun dari mobil karena dia yang akan membelikannya di toko tempat mereka berhenti. Tidak hanya membeli amplop, Evan juga membeli satu kantong makanan ringan dan minuman untuk mereka konsumsi selama perjalanan.

Sesampainya di tempat acara, Alluna diminta seniornya untuk menyanyikan sebuah lagu. Sebab, seniornya tahu kalau Alluna memiliki suara yang merdu. Alluna mengajak serta Evan untuk berduet bersamanya.

“Ini pasangan serasi, ganteng dan cantik. Suaranya keren abis. Semoga bisa cepat menyusul ke pelaminan, ya!” ucap MC acara saat Alluna dan Evan turun dari panggung.

Alluna dan Evan tersenyum sambil bergandengan tangan. “Aamiin.” Evan mengamini doa MC yang telah mendoakan mereka berdua.

“Kok, amin sih?”

“Emang lo nggak mau nikah sama gue?” bisik Evan.

“Mau.”

“Lulus sekolah gue lamar,” bisik Evan.

Alluna mengedikkan bahunya. “Enggak ah, gue nggak mau nikah muda.”

Evan tersenyum penuh arti, momen paling menyenangkan adalah melihat ekspresi wajah Alluna yang lucu ketika ia menggodanya. Kali ini, mereka mulai terbiasa tampil mesra di depan umum. Alluna tidak pernah lupa memberikan update setiap kegiatannya di story instagram agar mamanya tidak banyak bertanya tentang kesehariannya selama ia ditinggal pergi ke Paris.

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas