“Pagi,
Ma ...!” sapa Bellina sambil masuk ke dalam rumahnya.
“Belli?”
Melan yang sedang duduk di ruang tamu langsung bangkit dan menatap wajah puteri
kesayangannya itu. “Kalian mau nginap di sini?” tanyanya lagi saat melihat
koper yang dibawa Lian.
Lian
mengangguk sambil tersenyum.
“Mama
seneng banget!” seru Melan. Ia langsung memeluk tubuh puterinya itu.
Bellina
tersenyum, ia merasa sangat senang mendapat sambutan hangat dari mamanya.
“Bawa
ke kamar kopernya!” perintah Melan pada Lian.
Lian
mengangguk. Ia segera menaiki anak tangga menuju ke kamar Bellina. Langkahnya
terhenti sejenak saat ia melewati kamar Yuna yang ukurannya jauh lebih kecil
dari kamar Bellina. Ia melebarkan pintu yang sedikit terbuka.
Lian
mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya kemudian tertuju pada
potret-potret masa SMA Yuna yang terpajang di dinding. Lian langsung melangkah
masuk ke dalam kamar tersebut.
“Yun,
kamu nggak pernah membuang kenangan kita?” batin Lian sambil menyentuh frame
yang berisi potret Yuna, Lian dan Bellina mengenakan seragam putih abu-abu.
Lian
menghela napas sejenak. “Aku salah. Yuna nggak membuang kenangan yang ada di
ruangan ini karena dia memang nggak pernah masuk ke sini lagi setelah dia pergi
ke Melbourne. Dia memang tidak membuangnya, tapi sudah melupakan semuanya.”
Lian
melangkah keluar dari kamar tersebut dan menutup pintu dengan rapat. Ia
melangkah perlahan menuju kamar Bellina dan meletakkan koper ke dalam kamar
tersebut. Ia merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar.
KREEK
...!
Pintu
kamar tiba-tiba terbuka. Lian langsung menoleh ke arah pintu.
Bellina
tersenyum sambil menghampiri Lian. “Mama ngajak makan bareng. Turun, yuk!”
ajaknya.
Lian
menganggukkan kepala. Ia bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar
bersama Bellina. Mereka berdua menikmati sarapan bersama keluarga.
Usai
sarapan, Lian langsung bersiap pergi ke perusahaannya.
“Loh?
Kamu mau kerja?” tanya Melan saat melihat Lian turun dari kamar dengan setelan
jas rapi.
Lian
menganggukkan kepalanya.
“Hati-hati
ya! Aku hari ini belum bisa masuk kantor. Besok baru ke sana. Nggak papa kan?”
tutur Bellina sambil melepas kepergian suaminya.
Lian
mengangguk dan bergegas keluar dari rumah.
“Bel,
kenapa kalian tiba-tiba tinggal di rumah ini? Kamu berantem lagi sama mama
mertua kamu itu?” tanya Melan saat Lian sudah pergi meninggalkan rumahnya.
Bellina
menganggukkan kepala.
Melan
menghela napas. “Keluarga Wijaya memperlakukan kamu dengan tidak adil seperti
ini. Kalau mereka bukan keluarga kaya, Mama pasti akan mengeluarkan kamu dari
keluarga itu.”
“Aku
bertahan karena Lian, bukan karena uang,” sahut Bellina.
Melan
mengerutkan dahinya. “Hei, kalau bukan karena uang. Hidup kamu nggak akan
seenak sekarang.”
Bellina
terdiam. Ia baru saja bertengkar dengan mama mertuanya, ia tidak ingin
bertengkar lagi dengan mamanya sendiri.
“Kamu
harusnya bersyukur punya mama kayak gini. Bisa bikin kamu hidup enak. Banyak
perempuan lain yang pengen masuk ke keluarga Wijaya. Untungnya, Mama pinter
menyingkirkan mereka termasuk sepupu kamu itu.”
Bellina
terdiam sejenak, lalu menatap wajah mamanya. “Ma, kalau aku dikeluarkan dari
keluarga Wijaya, gimana?” tanyanya kemudian.
“Jangan
sampai kamu keluar dari keluarga Wijaya!” pinta Melan.
Bellina
terdiam sejenak sambil menggigit bibirnya. “Yeriko udah tahu semuanya.”
“Maksud
kamu?” Melan menatap wajah Bellina sambil melebarkan kelopak matanya.
“Dia
punya semua rekaman soal anak aku itu, Ma. Dia punya rekaman pembicaraan aku
sama Yuna. Semua yang udah aku lakuin ke dokter Heru. Dia punya semuanya.
Sekarang, dia ngancam aku terus!” tutur Bellina mulai histeris.
“Ngancam
gimana?”
“Dia
mau ngasih rekaman itu ke keluarga Lian. Setiap hari, aku harus meriksa setiap
paketan yang dikirim ke kantor Lian dan ke rumah keluarga Wijaya. Kalau Lian
tahu, aku yang bunuh anak itu ... aku pasti dibuang dari keluarga Wijaya. Aku
harus gimana, Ma?” Bellina mulai menangis di hadapan mamanya.
Melan
membuka mulutnya lebar-lebar mendengar penjelasan Bellina. Ia ingin memaki,
tapi tak ada satu kata pun yang berhasil keluar dari mulutnya. Ia malah
menggigit jemari tangannya sambil mondar-mandir di hadapan Bellina.
“Ma,
Mama mondar-mandir kayak gini malah bikin aku tambah pusing!” seru Bellina.
“Mama
lagi mikirin cara buat ngelawan Yeriko!” sahut Melan tak kalah kerasnya.
“Mama
punya cara apa? Mau bungkam mulut dia pakai duit? Duitnya dia jauh lebih banyak
dari yang kita punya. Pendukung dan pelindung dia juga banyak.”
“Kamu
tahu dari mana kalau pendukung dia banyak?”
“Mama
lihat sendiri. Dia deket sama keluarga walikota. Dia juga dapet dukungan dari
temen-temennya di militer. Kakeknya Yeriko itu pensiunan jenderal, Ma. Ke
mana-mana selalu dijagain sama ajudannya.”
Melan
terdiam sejenak. “Dia pasti punya kelemahan. Nggak mungkin dia sekuat itu. Dia
bukan dewa, Bel.”
“Dia
emang bukan dewa, Ma. Tapi kita yang salah. Kita yang nggak punya banyak
kekuatan buat ngelawan dia sementara dia punya banyak dukungan.”
“Huft,
kenapa dia bisa dapet banyak dukungan. Padahal, musuh bisnis dia juga banyak.
Harusnya, orang seperti dia itu punya banyak musuh yang bisa kita manfaatkan.”
“Siapa?
Si Lukman pengecut itu? Bahkan perusahaannya dia udah diambil alih sama Yeriko.
Perusahaan keluarga Amara, Duta Group itu juga sudah ada di bawah kekuasaan
Yeriko.”
“Kamu
nggak usah takut! Mama akan pikirkan caranya.”
“Cara
apa lagi, Ma? Asal Mama tahu. Yeriko udah nyekap aku berjam-jam. Dia ngancam
terus, mau ngasih video itu ke keluarganya Lian kalo aku masih ganggu Yuna.”
“Ya
udah, kamu nggak usah ganggu dia dulu! Bisa kan?”
Bellina
menganggukkan kepala. “Aku udah nggak ganggu dia. Tapi, aku tetap nggak tenang
selama rekaman-rekaman itu masih ada di tangan Yeriko.”
“Mmh,
gini aja. Mama akan ke rumah dia buat minta maaf. Supaya Yeriko ngelepasin
kamu.”
“Mama
yakin?”
Melan
menganggukkan kepala. “Kamu nggak usah khawatir!”
“Aku
nggak yakin kalau Yeriko bakal ngelepasin aku.”
“Kenapa?”
“Huft,
entahlah. Semakin ke sini, aku semakin takut kehilangan Lian dan semua yang aku
punya sekarang. Yeriko terus-terusan bikin aku ketakutan. Kayaknya, dia emang
nggak main-main sama ucapannya.”
“Emang
kamu ngomong apa ke dia?”
“Aku
nantangin dia.”
“Apa!?
Kamu udah gila ya!?” seru Melan.
“Ma,
aku udah terdesak. Nggak tahu harus gimana lagi. Kalo hari itu aku beneran mati
di tangan Yeriko. Aku bakal mati dalam kekonyolan karena nggak sanggup ngelawan
dia.”
“Kamu
benar-benar pengen bunuh diri kamu sendiri, hah!?”
“Ma,
jangan bikin aku tambah pusing! Aku udah pusing banget ngadepin Yeriko dan
antek-anteknya itu!”
Melan
menghela napas sejenak. Ia mulai memikirkan cara agar Bellina tetap aman dan
mendapatkan banyak kasih sayang dari keluarga Wijaya.
“Bel,
Mama nggak akan ngebiarin kamu kehilangan semuanya. Mama akan bantu kamu. Mama
akan minta maaf ke Yeriko dan Yuna. Setelahnya, kamu bisa deketin Yuna dan
ambil semua rekaman itu diam-diam.”
“Maksud
Mama? Cuma mau pura-pura minta maaf buat ngambil simpatinya Yuna?”
Melan
mengangguk sambil tersenyum. “Gimana?”
“Mama
yakin kalo Yuna bakal maafin kita?”
“Bel,
Yuna itu anaknya baik dan penurut. Walau kadang-kadang emang sikapnya nggak
sopan. Dia udah terbiasa hidup bebas di luar negeri. Jadi, emang sedikit liar.
Tapi ... dia itu mudah untuk dipengaruhi. Mama yakin, dia pasti mau maafin
kita.”
Bellina
mengangguk. Ia bisa tersenyum lega karena mamanya bersedia membantu dirinya.
“Huft,
sayangnya kita udah nggak punya senjata untuk mengancam Yuna. Kalau aja si
Adjie masih koma di rumah sakit. Kita bisa gunain dia buat ngancam Yuna.”
“Nggak
ada gunanya kalo masih ada Yeriko di belakang Yuna.”
“Maksud
kamu?”
“Yeriko
itu udah kayak dewa buat Yuna. Aku heran, dia bisa ngelakuin banyak hal dan
sayang banget sama Yuna. Apa coba yang udah dikasih Yuna ke Yeriko sampe laki-laki itu bisa takhluk sepenuhnya ke dia?” tutur Bellina kesal.
Melan
tidak bisa membantah ucapan Bellina.
“Lian
yang udah lama jadi pacarku aja nggak sampe segitunya. Mau-maunya itu si Yeriko
jadi budak cintanya si Yuna!” dengus Bellina. Ia benar-benar tidak suka melihat
Yuna mendapatkan banyak kebahagiaan.
Melan
tersenyum ke arah puterinya. “Kamu harus bisa bikin Lian kayak gitu juga, dong!
Bukannya kamu udah berhasil ngerebut Lian dari tangan Yuna. Kenapa nggak bisa
mempertahankan Lian? Kamu pasti bisa bikin Lian tergila-gila sama kamu lagi.
Dengan begitu, kamu nggak akan terusir dari keluarga Wijaya.”
Bellina
menatap lekat wajah mamanya. Mamanya benar, seharusnya ia berusaha untuk
mendapatkan perhatian dan cinta Lian kembali. Kini, sikap Lian terhadap dirinya
mulai membaik. Ia harap, ini awal yang baik juga untuk memperbaiki hubungan
mereka.
(( Bersambung ...))
Terima kasih
sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat
bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much love,
@vellanine.tjahjadi



