Saturday, February 28, 2026

Perfect Hero Bab 485 : Hadiah Kecil untuk Yeriko

 


Yuna melangkahkan kakinya perlahan keluar dari rumah. Hari ini, tepat tanggal 12 Oktober. Ia ingin mengambil hadiah yang sudah ia siapkan untuk Yeriko.

 

(You still have all of my ... You still have all of my ... You still have all of my heart ...)

 

Yuna langsung menghentikan langkah dan merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya. Ia tersenyum saat melihat gambar suaminya terpampang di layar ponsel.

 

“Halo ...!” sapa Yuna sambil meletakkan ponsel ke telinganya.

 

“Halo, Sayang! Udah berangkat?” tanya Yeriko dari ujung telepon.

 

“Ini baru keluar dari pintu rumah.”

 

“Hati-hati di jalan, ya!” pinta Yeriko.

 

“He-em,” sahut Yuna sambil menganggukkan kepala. “Aku langsung ke perusahaan siang ini.”

 

“Iya, aku tunggu, Bye!”

 

“Bye-bye, love you!”

 

“Love you too.” Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Yuna tersenyum. Ia menyimpan kembali ponsel ke dalam tas tangannya dan melangkah menghampiri Angga yang sudah menunggunya di halaman rumah.

 

Angga langsung membukakan pintu begitu Yuna menghampiri mobil yang ia bawa. “Mau ke mana, Nyonya Bos?” tanyanya.

 

“Ke Galeri.”

 

Angga mengangguk. Ia kembali menutup pintu mobil saat Yuna sudah ada di dalamnya dan bergegas pergi ke galeri keramik milik Mbah To yang hanya berjarak lima belas menit dari rumahnya.

 

“Pagi, Mbah!” sapa Yuna begitu ia masuk ke dalam galeri keramik, tempat ia biasa belajar membuat kerajinan gerabah.

 

“Pagi ...! Mau ambil hadiahnya sekarang?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Mbah To memanggil salah seorang pegawainya untuk mengambil hadiah yang dibuat oleh Yuna.

 

Yuna tersenyum puas melihat dua cangkir yang ada di tangannya. Ia menatap cangkir susun berbentuk hati. Di tengahnya, ada gambar beruang kutub yang sedang mencium aroma mawar merah.

 

“Makasih, Mbah!” ucap Yuna sambil tersenyum bahagia. “Saya langsung pulang ya!” pamitnya.

 

Mbah To menganggukkan kepala. Ia menatap Yuna yang perlahan keluar dari galeri miliknya. “Dia memang wanita yang istimewa. Pantas saja suaminya melakukan banyak hal untuknya. Sampai membuat galeri ini hanya untuk memenuhi keinginan istri tercintanya,” celetuk Mbah To sambil melangkah masuk ke dalam ruang kelas yang ada di bagian belakang galeri itu.

 

Baru saja masuk ke dalam mobil, ponsel Yuna tiba-tiba berdering. Ia langsung merogoh ponsel dan melihat panggilan yang masuk ke teleponnya.

 

“Halo, Ndre ...! Ada apa?” tanya Yuna saat ia sudah menjawab panggilan telepon dari Andre.

 

“Kamu di mana, Yun?” tanya Andre.

 

“Aku baru keluar dari galeri. Mau ke perusahaan. Kenapa?”

 

“Bisa ketemu?”

 

“Ketemu?”

 

“Iya. Sebentar aja.”

 

“Mmh ...”

 

“Please, Yun! Cuma sebentar aja, kok.”

 

Yuna berpikir sejenak. “Ketemu di mana?”

 

“Di Coffee Toffee gimana?”

 

“Mmh ... Oke, deh. Tapi akunya nggak bisa lama-lama.”

 

“Nggak papa. Aku cuma butuh waktu sebentar. Nggak nyampe satu jam, kok.”

 

“He-em.” Yuna menganggukkan kepala. Ia langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

“Ngga, kita mampir ke Coffee Toffee sebentar, ya!” pinta Yuna pada supirnya.

 

“Siap, Nyonya Bos!”

 

Angga langsung melajukan mobilnya menuju Coffee Toffee sebelum mereka pergi ke Galaxy Office.

 

 

 

...

 

 

 

Andre menatap kotak kado yang ada di atas meja kerjanya. Ia tersenyum sambil mengingat wajah Yuna yang begitu ceria, penuh semangat dan baik hati.

 

“Yun, semoga kamu suka sama hadiah ini,” ucap Andre sambil memasukkan kotak hadiah tersebut ke dalam paper bag.

 

“Kak Andre, ini berkas yang harus kamu tanda tangani!” Nirma tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Andre tanpa mengetuk pintu.

 

“Besok aja! Aku ada perlu,” tutur Andre sambil menenteng paper bag yang sudah ia siapkan.

 

Nirma melirik paper bag di tangan Andre yang berisi kado. Ia sudah mengerti siapa orang yang akan ditemui Andre kali ini.

 

“Tapi, dokumen ini harus ditandatangani hari ini. Soalnya, bagian Finance mau proses pembayaran besok pagi.”

 

“Ya udah, aku approve nanti ... kalau udah balik.”

 

“Kak Andre mau ke mana?” tanya Nirma memberanikan diri.

 

“Apa aku harus laporan ke kamu setiap kali aku mau pergi?” tanya Andre balik.

 

Nirma terdiam menanggapi pertanyaan Andre. Ia kesal, tapi tak bisa menghadapi sikap Andre yang dingin.

 

“Aku pergi dulu!” pamit Andre sambil melangkah keluar dari ruang kerjanya.

 

Nirma terus menatap punggung Andre yang perlahan menjauh. “Kak Andre pikir, aku nggak tahu kalau Kak Andre mau ngasih hadiah ke Kak Yuna?” celetuk Nirma lirih. Ia membuntuti Andre diam-diam hingga sampai ke Coffee Toffee.

 

Dugaan Nirma tidak salah lagi. Andre benar-benar bertemu dengan Yuna di dalam kafe tersebut.

 

Andre langsung tersenyum begitu melihat Yuna sudah duduk di salah satu meja di Coffee Toffee. Ia langsung menghampiri Yuna dan menyapanya dengan ramah.

 

“Udah lama nunggu?” tanya Andre.

 

“Belum, Ndre. Aku juga baru nyampe, kok.”

 

“Kamu cantik banget hari ini,” puji Andre.

 

“Oh ya? Makasih ...!” sahut Yuna sambil tersenyum.

 

Andre tersenyum menatap Yuna. “Kamu mau minum apa?” tanya Andre. “Biar aku pesenin.”

 

“Nggak usah. Aku nggak bisa lama-lama ada di sini.”

 

Andre menghela napas. Ia sudah lama tak bertemu dengan Yuna dan membuat pertemuan mereka begitu canggung. “Yun, aku dengar ... kamu abis mengalami penculikan? Aku ikut prihatin sama itu semua. Maaf, aku nggak bisa bantu. Aku percaya, Yeriko pasti akan melindungi kamu dengan baik.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Aku baik-baik aja, kok.”

 

“Aku dengar kabar kalau si Refi sudah meninggal. Apa bener kalau dia meninggal karena bunuh diri?”

 

Yuna hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan Andre. Ia tidak ingin mengungkit soal kematian Refi di depan siapa pun. Ia juga tidak akan memberikan keterangan soal penyebab kematian Refi. Hanya keluarga dan orang-orang terdekat yang mengetahui kalau Refi benar-benar bunuh diri. Sementara, media dibiarkan bertanya-tanya soal itu semua.

 

Andre menarik napas, ia menyadari kalau Yuna tidak nyaman dengan pertanyaan yang ia lontarkan. “Sorry ...!”

 

Yuna hanya tersenyum kecut menanggapinya.

 

“Oh ya, aku ke sini mau ngasih ini,” tutur Andre sambil menyodorkan paper bag ke hadapan Yuna. “Selamat ulang tahun, ya! Semoga kamu selalu sehat, jadi istri dan ibu yang baik. Makin dewasa, makin cantik dan makin disayang suami,” ucapnya sambil tersenyum.

 

“Aamiin. Makasih, Ndre! Tapi aku nggak bisa menerima hadiah ini. Doa dari kamu aja sudah cukup, kok.”

 

Andre menghela napas. “Yun, kita nggak pernah ketemu selama bertahun-tahun. Apa kamu nggak bisa menghargai pertemanan kita?”

 

Yuna menggigit bibirnya. “Aku sangat menghargai pertemanan kita. Tapi kamu tahu, suamiku itu pencemburu. Aku nggak bisa nerima hadiah dari orang lain.”

 

Andre tersenyum kecil. “Yun, ini cuma hadiah dari teman sebagai hadiah ulang tahun. Sama seperti hadiah yang kamu dan Yeriko kasih di hari ulang tahunku. Yeriko nggak melarang kamu memberikan hadiah untuk aku. Kenapa kamu harus takut menerima hadiah ulang tahun dari teman kamu?”

 

Yuna berpikir sejenak. Ucapan Andre memang ada benarnya. Namun, ia masih ragu dengan sikap suaminya jika ia menerima hadiah dari orang lain.

 

“Ini cuma hadiah ulang tahun dari teman, Yun. Sama seperti saat Jheni atau Icha ngasih hadiah ulang tahun untuk kamu. Aku berharap banget kamu bisa menerima hadiah dari aku.”

 

Yuna berpikir sejenak. “Oke. Aku terima,” ucapnya sambil menggigit bibir.

 

Andre tersenyum bahagia melihat Yuna yang akhirnya mau menerima hadiah darinya.

 

“Hai, Kak Andre, Kak Yuna ...!” sapa Nirma yang tiba-tiba menghampiri mereka. “Maaf, aku terlambat.”

 

Andre tersenyum kecut sambil menatap wajah Nirma.

 

Nirma meringis, ia langsung duduk di samping Andre sambil merangkul lengan pria itu.

 

“Kamu ngapain ke sini?” bisik Andre di telinga Nirma. Ia mencoba untuk tersenyum walau hatinya kesal.

 

“Aku mau ngucapin ulang tahun buat Kak Yuna,” sahut Nirma lantang. “Aku mau lihat kalau Kak Yuna sudah menerima hadiah dari kita.”

 

Andre terdiam.  Ia sangat kesal dengan sikap Nirma dan membuat suasana semakin canggung.

 

Yuna tersenyum sambil menatap Nirma. “Makasih untuk hadiahnya!”

 

Nirma menganggukkan kepala. “Kak Yuna nggak dipesenin minuman sama makanan?” tanyanya saat melihat meja yang masih kosong.

 

“Nggak usah, Nir! Aku nggak bisa lama-lama di sini.”

 

Nirma menghela napas. “Ini hari ulang tahun Kak Yuna. Jangan nolak traktiran dari kami, dong!” pinta Nirma.

 

Yuna terdiam sejenak, kemudian menganggukkan kepala.

 

“Nah, gitu dong!” seru Nirma. Ia langsung memesan makanan dan minuman untuk mereka bertiga.

 

Andre ikut tersenyum. Ia sangat bahagia karena Nirma berhasil menahan Yuna di tempat itu. Membuat ia bisa menikmati wajah cantik Yuna yang beberapa hari belakangan ini tak ia lihat. Ia sangat merindukan Yuna. Perubahan tubuh pada Yuna saat hamil, justru membuat wanita itu semakin cantik dan menarik.

 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah dukung terus cerita ini sampai di sini.

Semoga, ada banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 484 : Rest in Peace for Refi Tata

 


Yuna mondar-mandir di dalam kamar sambil memikirkan hal yang sudah terjadi pada Refi. Ia masih tidak percaya kalau Refi lebih memilih mengakhiri hidup daripada menghadapi dirinya. Ia teringat bagaimana Refi selalu semangat dan penuh keberanian berhadapan dengannya.

 

“Kenapa dia bisa bunuh diri? Apa sih yang terjadi sama dia sebenarnya?” gumam Yuna. “Bukannya kasus video itu akan berlalu begitu saja seiring berjalannya waktu. Kenapa harus bunuh diri?”

 

Yeriko yang baru saja masuk ke kamar, melihat istrinya masih berdiri di depan jendela kamar. Ia langsung menghampiri istrinya dan memeluk dari belakang. “Udah malam, kenapa belum tidur?” bisiknya.

 

“Eh!? Nggak papa. Belum ngantuk aja,” jawab Yuna. Ia mencoba menyembunyikan kegelisahannya. Walau bagaimana pun, ini semua adalah pilihan Refi sendiri. Tidak seharusnya ia terlalu memikirkan apa yang telah terjadi pada Refi hari ini.

 

“Nunggu aku?” bisik Yeriko sambil mengendus telinga Yuna.

 

Yuna tersenyum, ia memutar tubuhnya menghadap ke dada Yeriko. “Udah selesai kerjaannya?”

 

Yeriko mengangguk. “Kamu lagi mikirin sesuatu?”

 

Yuna menggeleng. Ia melangkah dan menaiki tempat tidurnya.

 

“Hari ini, kamu ke mana aja?” tanya Yeriko sambil duduk di samping Yuna.

 

“Ke Galeri, seperti biasa.”

 

“Lagi belajar bikin apa? Wajah kamu lelah banget?”

 

Yuna melebarkan kelopak mata sambil menyentuh pipinya sendiri. “Masa, sih?”

 

Yeriko mengangguk, ia menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Kamu lagi nyiapin kado ulang tahun buat aku?”

 

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko. “Kok, kamu tahu?”

 

Yeriko tertawa kecil. “Apa yang bisa kamu sembunyiin dari aku?” tanya Yeriko balik.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Nggak seru banget. Masa, kamu udah tahu duluan kado yang aku siapin buat kamu?”

 

Yeriko tertawa kecil. “Mmh ... aku tahu, kamu lagi nyiapin hadiah buat aku. Tapi, aku belum lihat, kok.”

 

“Walau belum lihat, tetep aja udah tahu kalau aku bikin di Galeri Mbah To. Kalo gitu, kamu harus kasih tahu aku ... hadiah apa yang kamu siapin buat aku?”

 

Yeriko mengangkat kedua alis sambil menatap wajah Yuna. “Mmh ... masih rahasia.”

 

“Kado dari aku, kamu udah tahu. Masa kamu nggak kasih tahu apa yang kamu siapin buat aku?”

 

“Kamu maunya apa?” tanya Yeriko.

 

“Mmh ... aku mau hadiah yang kamu buat dengan tangan kamu sendiri!” pinta Yuna.

 

“Mie instan?” tanya Yeriko.

 

Yuna memonyongkan bibir sambil mencubit perut Yeriko.

 

“Aw ...!” Yeriko merintih sambil memegangi perutnya.

 

“Masa, aku dikasih hadiah mie instan!?” dengus Yuna.

 

“Yang penting aku buat dengan tanganku sendiri ‘kan?”

 

“Iya, emang. Tapi nggak begitu juga!” sahut Yuna kesal.

 

Yeriko terkekeh menatap wajah Yuna.

 

“Mmh ... aku nggak bisa bikin apa-apa selain bikin kamu jatuh cinta sama aku,” tutur Yeriko sambil tertawa kecil.

 

Yuna tersenyum bahagia sambil menggigit bibirnya. “Kamu sekarang kuat ngegombal.”

 

“Harus kuat, supaya kamu selalu bahagia.”

 

Yuna tersenyum. Ia langsung memeluk erat tubuh Yeriko penuh kehangatan. “Aku sudah bahagia ada di dekat kamu setiap hari.”

 

“Mmh ... kalau gitu, aku nggak perlu bikin apa-apa untuk hadiah ulang tahun kamu. Cukup aku aja ‘kan?”

 

Yuna memainkan bibirnya. Ia tidak begitu menginginkan hadiah, tapi juga ingin menuntut suaminya itu memberikan hadiah pertama untuk ulang tahunnya. Sebab, tahun-tahun sebelumnya mereka belum saling mengenal.

 

Yeriko tertawa kecil sambil mengamati wajah Yuna. “Jelek banget mukanya kalau kayak gitu? Aku pasti kasih kamu hadiah, kok. Masih aku pikirin hadiahnya.”

 

Yuna mengerutkan dahi sambil menatap wajah Yeriko. “Tiga hari lagi ulang tahun kita. Hadiahnya masih mikir?”

 

Yeriko tertawa kecil. “Nanti aku suruh Riyan carikan hadiah yang cocok buat kamu.”

 

“Kok, Riyan?”

 

“Kalo diibaratkan cerita Rama-Shinta, Riyan itu Hanoman,” tutur Yeriko sambil menahan tawa.

 

“Idih, jahat banget!”

 

“Apanya yang jahat? Hanoman adalah contoh orang hebat.”

 

“Tapi kan dia monyet.”

 

Yeriko tertawa kecil sambil mengetuk dahi Yuna. “Monyet itu hanya penjelmaan. Walau monyet, dia punya sifat yang mulia. Don’t judge people by the cover!”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. “I see. So, apa hadiah yang mau kamu siapin buat aku?” tanyanya lagi.

 

Yeriko tertawa kecil. “Masih tanya lagi?”

 

“Aku nggak akan berhenti bertanya sampai dapet jawabannya.”

 

“Hmm ... masih aku pikirin.”

 

“Gimana buatnya kalau sekarang masih dipikirin?”

 

Yeriko tersenyum sambil mengeratkan pelukkannya. “Andai bisa kubuat dunia. Aku ingin menciptakan dunia untuk kamu. Supaya kamu selalu bahagia,” bisiknya.

 

“Kamu sudah menciptakan dunia untukku sejak pertama kali aku masuk ke rumah ini,” tutur Yuna sambil memainkan ujung jemarinya di dada Yeriko.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam, ia langsung menarik tengkuk Yuna dan mencium bibir istrinya itu penuh kehangatan. Ia terus memainkan bibirnya di wajah Yuna, hingga seluruh tubuh yang membuatnya selalu bahagia. Menikmati waktu-waktunya bersama wanita yang kini menjadi satu-satunya tempat untuk menciptakan dunia baru dalam hidupnya.

 

 

 

....

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di tempat lain ...

 

“Chan, si Refi beneran bunuh diri?” tanya Jheni sambil asyik menggoreskan styllus pen ke atas layar tab-nya.

 

“Iya.”

 

“Kamu ikut ke pemakaman Refi?”

 

Chandra menggelengkan kepala. “Dia mau dimakamkan di Jakarta. Riyan udah urus semuanya.”

 

“Huft, kenapa dia sampai bunuh diri, ya?”

 

Chandra mengedikkan bahunya. Ia duduk tepat di hadapan Jheni. “Kamu udah makan?”

 

Jheni mengangguk-anggukkan kepala tanpa mengalihkan pandangannya. “Kamu udah makan?”

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

“Kenapa? Pulang semalam ini, nggak makan di kantor?”

 

Chandra menggelengkan kepala. “Sibuk banget. Aku lupa makan.”

 

Jheni menghela napas. “Sesibuk apa pun, harus tetap makan!” pintanya sambil menyodorkan snack yang ada di tangannya.

 

Chandra menggelengkan kepala. “Kamu makan aja! Aku mau mandi dulu.”

 

Jheni mengangguk. “Aku masakin mie instan buat kamu, ya!?”

 

Chandra mengangguk sambil melangkah menuju kamar mandi.

 

Baru saja akan bangkit, ponsel Jheni tiba-tiba berdering. Ia langsung menjawab panggilan dari Icha. “Halo, Cha! Kenapa?”

 

“Kamu udah baca cerita soal Refi?”

 

“Udah.”

 

“Itu beneran?”

 

“Iya, beneran. Aku udah tanya ke Chandra,” jawab Jheni sambil melangkah ke dapur.

 

“Kamu lagi apa sih malam-malam gini.”

 

“Masak mie instan. Si Chandra baru aja pulang kerja.”

 

“Rajin amat pacarmu, Jhen.”

 

“Harus rajin, dong. Biar tambah kaya.”

 

“Lutfi yang malas aja udah kaya. Gimana kalau dia jadi rajin juga? Hahaha.”

 

“Huu ... sombong, lu! Eh, aku masak dulu ya!”

 

“Masak mie doang, Jhen. Kasihan Chandra, kenapa kamu kasih makan mie instan?”

 

“Udah malam gini, adanya cuma mie instan sama telur. Iih, kamu nih bawel banget sih? Aku masak dulu, Bye!” tutur Jheni. “Lanjut chat aja, Cha!” seru Jheni sambil mematikan panggilan teleponnya.

 

Jheni dan Icha terus membicarakan soal kejadian bunuh diri yang menimpa Refi. Walau mereka mengutuk perbuatan Refi saat masih hidup, mereka juga iba dengan keadaan Refi yang harus mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

 

Banyak juga fans Refi Tata yang ikut berbela sungkawa dan mengumpulkan karya-karya tarian Refi sebagai persembahan terakhir untuk dunia hiburan, membuat semua orang terharu dengan akhir hidup Refi yang menyedihkan ... tapi masih membawa kenangan-kenangan prestasi yang pernah ia ukir di masa lalunya.

 

 Author’s Note:

Thanks udah baca terus sampai di sini. Semoga kita bisa mengambil banyak pelajaran hidup dari cerita-cerita yang aku tulis.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 483 : White Sawn in Black Sawn Dance

 


Beberapa jam sebelum kematian Refina ...

 

“Suster, aku di mana?” tanya Refi saat ia membuka mata. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang bernuansa putih. Hanya ada ranjang tidurnya, tak ada perabotan lain di tempat itu.

 

“Di kamar kamu, seperti biasa,” jawab perawat yang sedang mengantarkan makanan untuk Refi. “Makan dulu, ya!”

 

Refi tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia langsung mengambil makanan dengan tangannya, tak menggunakan sendok. Makan asal-asalan layaknya pengemis yang berkelana di jalanan. Kesadarannya kali ini sulit untuk dikendalikan. Ia kesulitan membedakan mana dunia nyata dan halusinasi yang menghantui pikirannya.

 

Terkadang, Refi terlihat seperti manusia normal. Ia menyisir rambutnya, mengenakan pakaian yang ia inginkan. Seperti hari ini, ia tiba-tiba ingin mengenakan Black Swan Costume.

 

“Suster, aku minta satu set pakaian balet!” pinta Refi. “Yang warna hitam, ya!”

 

Perawat yang ada di ruangan itu tak menjawab permintaan Refi.

 

“Suster ...!” sentak Refi. “Dengar, nggak sih!?”

 

Perawat tersebut menghela napas dan mengangguk. “Iya, saya carikan pakaian balet untuk kamu.”

 

Refi tersenyum. “Cepet ya, Sus! Aku ingin menari untuk terakhir kalinya.”

 

Perawat itu tersenyum. “Iya. Makan dulu ya! Setelah makanannya habis, saya carikan kostum balet untuk kamu.”

 

Refi tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sangat bahagia dan ingin menghabiskan makanannya lebih cepat.

 

“Suster, cepat ya!” pinta Refi. “Aku mau cantik hari ini. Suster harus lihat aku nari!”

 

Perawat itu menganggukkan kepala dan bergegas pergi.

 

Setelah dua jam berlalu, perawat yang diminta menyediakan kostum balet tak kunjung datang. Hal ini benar-benar memancing amarah Refi yang kondisi kejiwaannya memang sudah tidak stabil.

 

“Suster ...! Mana kostum aku!” teriak Refi sekencang-kencangnya. Ia terus berusaha memanggil perawat dan keluar dari ruang tidurnya.

 

“Dia kenapa?” tanya salah seorang perawat saat melihat Refi keluar dari ruangan itu sambil berteriak.

 

“Suster ...! Mana gaun yang aku minta!” seru Refi kesal. Ia sengaja memukul kaca jendela, tak peduli melukai tangannya sendiri.

 

“Sus, tolong! Pasien ini ngamuk lagi,” seru salah seorang perawat sambil berlari menghampiri Refi untuk menenangkan wanita itu.

 

“Mana gaun yang aku minta!?” sentak Refi.

 

“Sabar ya, Mbak! Suster lagi carikan gaun untuk Mbak Refi.”

 

“Cepetan! Saya mau nari. Penonton udah nunggu. Ini pertunjukkan terakhir saya!” teriak Refi.

 

Perawat yang ada di sana saling pandang dan menggelengkan kepala. Mereka bergegas mengajak Refi kembali ke ruangannya.

 

“Aku mau nunggu di sini. Aku nunggu gaunku datang. Di sana, penonton sudah nunggu aku. Aku harus cantik, harus bisa mengambil perhatian dari semua penonton. Di sana juga ada juri dari New York yang akan menilai penampilanku. Aku nggak boleh ngecewain mereka,” gerutu Refi sambil duduk di lantai. Ia meringkuk sambil memeluk kakinya sendiri.

 

“Suster, siapa yang tugas jaga dia hari ini? Apa gaun yang dia minta beneran dicarikan?”

 

“Ini gaunnya, Suster!” Perawat yang diminta menyediakan gaun untuk Refi langsung datang.

 

“Dia cuma mau nari, kasih gaunnya supaya dia tenang!” pinta perawat yang lainnya.

 

Refi menengadahkan kepalanya melihat suster yang sudah memegang kostum lengkap Black Swan yang ia inginkan. Tangan Refi mengambil pecahan kaca jendela yang masih berserak di lantai, menyimpan ke saku bajunya. Ia bangkit dan merebut kostum dari tangan perawat dan berlari masuk ke ruang tidurnya.

 

Refi buru-buru mengganti pakaiannya. Tapi ia tak bisa melihat wajahnya sendiri saat ini karena tak ada cermin di dalam ruangan itu. Ia mengambil pecahan kaca yang tadi ia pungut dari lantai dan menempelkan ke dinding. Ia bisa melihat wajahnya yang tersenyum di balik pecahan kaca mungil itu.

 

“Kamu cantik!” tutur Refi sambil tertawa bahagia. Ia mengelipkan pecahan kaca tersebut ke bawah tempat tidurnya agar ia bisa bercermin.

 

Dengan kaki yang tak lagi kokoh seperti dulu, Refi terus menggerakkan tubuhnya perlahan. Menggerakkan kakinya agar bisa menciptakan tarian yang indah. Ia tak peduli beberapa kali ia terjatuh, ia tetap bangkit dan berusaha.

 

Refi terus menari sepanjang hari. Perawat yang berjaga pun hanya menggelengkan kepala memerhatikan Refi dari balik pintu ruangan yang terbuka.

 

Sampai tengah malam, Refi masih terus menampilkan tariannya. Di dalam setiap gerakan tangan dan kakinya. Ia bisa melihat semua masa lalunya tergambar jelas di dalam langit malam yang gelap. Sedikit cahaya yang ada di luar sana, membuat bayangan masa lalunya terus terukir silih berganti bersama langit yang penuh bintang.

 

Refi tersenyum. Ia menarik napas dalam-dalam, ia ingin memerankan dirinya sebagai White Sawn dan Black Sawn yang sempurna.

 

“Yeriko ...! Aku tetap cinta sama kamu sampai langit runtuh. Semoga kamu bahagia. Aku ingin terbang ke kehidupan yang baru. Meninggalkan penderitaan yang setiap hari menghantuiku.”

 

Refi mengambil pecahan kaca yang ada di bawah bantal. Ia kembali menari sambil menggenggam pecahan kaca yang ada di tangannya. Ia ingin semuanya berakhir. Ia tak ingin lagi mengejar cinta Yeriko. Ia tak ingin lagi kembali ke kehidupan nyatanya bersama Deny. Ia tak ingin seumur hidupnya mengingat delapan pria yang telah menikmati tubuhnya bersamaan.

 

Refi menarik napas dalam-dalam. Ia menyayat urat nadinya dan melanjutkan tariannya penuh gairah. Ia ingin mengakhiri hidupnya tanpa penyesalan. Ia ingin menjalani semuanya tanpa rasa sakit.

 

“Ma ... Pa ... maafin Refi!” bisik Refi sambil menatap wajah kedua orang tuanya yang tersenyum ke arahnya.

 

Refi mengakhiri tarian sensual Black Swan dengan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ia menengadah ke langit-langit, sementara darah masih mengucur dari nadi yang ada di pergelangan tangannya. Ia tersenyum menatap langit-langit ruangan. Perlahan, menjatuhkan tubuhnya ke lantai sambil memejamkan mata.

 

Angin malam yang sepi menjadi saksi jiwa yang menepi. Membawa jiwanya melayang pergi ke langit yang tinggi. Ia menikmati kesendiriannya di ruang-ruang yang sepi.

 

Di detik terakhir hidupnya ... Refi masih berharap bisa kembali ke kehidupan kedua yang bahagia. Menjadi wanita yang terhormat seperti dongeng-dongeng dalam sejarah. Sayangnya, ia memilih kematian sebagai jalan keabadiannya. Ia ingin menjadi White Swan dalam balutan Black Swan. Menari bersama para angsa seperti dulu. Terlihat cantik, dikagumi, penuh keberanian dan sensualitas.

 

Refi, memilih jalan kematian dengan caranya. Ia tak pernah menyesali jalan kematian yang ia pilih. Sebab dengan cara inilah ia bisa merelakan orang-orang yang ia cintai hidup bahagia tanpa rasa sakit.

 

“Aaargh ...!” Suara perawat yang masuk ke dalam kamar tidur Refi mengundang perhatian semua orang. Dokter dan perawat yang bertugas langsung berlarian ke sumber suara.

 

Dokter yang bertugas langsung memeriksa kondisi Refi. “Dia masih hidup. Siapkan peralatan!”

 

Perawat yang bertugas langsung berlarian untuk melakukan pertolongan pertama.  Usai mendapatkan pertolongan pertama, Refi langsung dirujuk ke rumah sakit sebelumnya. Sayangnya, nyawa Refi tetap tak bisa tertolong meski dokter sudah mengupayakan banyak hal.

 

 ((Bersambung ...))

Untuk menjadi White Sawn (Lembut & Rapuh) dan Black Sawn (Kuat & Binal), seorang Ballerina akan berhadapan dengan kondisi psikologis yang bertentangan demi penjiwaan yang sempurna...

 

 

Follow IG : @vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas