Tepat
di hari ketujuh penyekapan Refi, Yeriko kembali memasuki gedung putih yang jauh
dari keramaian kota. Ia telah mempersiapkan banyak hal untuk membalas semua
perbuatan Refi dengan caranya sendiri.
“Lut,
gimana si Refi?” tanya Yeriko sambil menghampiri Lutfi yang ada di dalam
ruangan tersebut.
“Lihat,
tuh!” Lutfi menunjuk ke layar komputer yang memperlihatkan rekaman Refi sedang
berada di dalam gudang yang ada di gedung tersebut.
Gedung
putih dengan tiga lantai ini adalah gedung milik Yeriko yang sudah lama tak
terpakai. Namun, kondisi bangunannya masih sangat baik karena digunakan oleh
masyarakat untuk berlatih bela diri atau kegiatan-kegiatan lain di gedung
serbaguna tersebut.
Yeriko
mendekatkan wajahnya ke layar komputer. Ia memerhatikan gerak-gerik Refi yang
sudah ada di dalam ruangan tersebut sejak tujuh hari lalu. “Dia masih kuat
berdiri?”
Lutfi
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dia cuma minum dan masih bertahan sampai
sekarang.”
“Tempat
ini juga jauh lebih baik dari tempat Yuna disekap. Kamu masih aja berbaik hati
sama dia,” sahut Chandra yang ada di belakang Yeriko.
“Diam,
kamu!” sentak Yeriko sambil memerhatikan Refi dari layar komputer. Ia menoleh
ke arah Riyan yang duduk tak jauh darinya. “Yan, kasih dia makanan. Sedikit
aja!”
Riyan
menganggukkan kepala. Ia menyuruh pengawal yang menjaga ruangan itu untuk
memasukkan makanan.
Refi
yang mendengar suara pintu besi itu terbuka, langsung tersenyum dan menoleh.
Baru saja ia ingin berlari menghampiri pintu itu, pintu sudah tertutup kembali.
Refi
menatap makanan dan minuman yang dimasukkan ke dalam ruangan tersebut. Perutnya
yang sangat lapar, langsung meraih bungkusan nasi dan memakannya dengan sangat
lahap.
“Aku
laper banget!” tutur Refi saat ia sudah menghabiskan makanannya. Perutnya,
masih juga belum kenyang dan ia terus menjilati jari-jarinya. “Kapan sih aku
dikeluarin dari sini?” gumam Refi. Ia tidak tahu sudah berapa lama ada di
tempat itu.
Tempat
yang digunakan untuk mengurung Refi adalah tempat yang tertutup. Tak ada
jendela atau ventilasi di ruangan tersebut. Namun, ruangan itu dilengkapi Air
Conditioner dan Blower. Ia merasa tempat ini tidak buruk dan Yeriko tidak
mungkin tega menghukumnya.
Yeriko
terus memantau pergerakan Refi lewat kamera CCTV. “Lut, Satria mana?” tanyanya.
“Ada
noh di ruangan sebelah. Lagi nyekolahin preman-preman itu,” jawab Lutfi.
“Deny
gimana?” tanya Yeriko.
“Udah
aku selidiki.” Lutfi mengambil dokumen dari tas ransel yang ada di bawah
kakinya dan menyodorkan ke hadapan Yeriko.
Yeriko
membuka dokumen yang diberikan Lutfi.
“Itu
bukti-bukti kejahatan Refi. Dia yang udah fitnah rekan kerjanya sesama artis
waktu itu. Deny bukan cuma manager Refi, kemungkinan ... dia juga partner HS
karena si Deny ini, ternyata biseksual.”
“Biseksual?”
Yeriko mengernyitkan dahi.
Lutfi
mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kamu
nggak tanya dia langsung?” tanya Yeriko sambil menatap Lutfi.
“Tanya
apaan?”
“Hubungan
dia sama Refi sebenarnya sedekat apa?”
“Ciyee
... kamu kepo. Masih pengen tahu kehidupannya Refi?” goda Lutfi.
“Bangsat
kamu!” sahut Yeriko sambil mengeplak kepala Lutfi.
“Ya,
kali aja gitu,” tutur Lutfi sambil terkekeh geli. Ia memberi isyarat pada
pengawal yang ada di ruangan itu untuk membawa Deny ke hadapannya.
Beberapa
menit kemudian, Deny sudah dipaksa berlutut di hadapan Yeriko oleh dua orang
pengawal yang memeganginya.
Yeriko
memberi isyarat pada pengawal untuk melepaskan pria yang sudah berlutut di
hadapannya itu. “Kamu tahu apa yang harus kamu lakuin sekarang?” tanya Yeriko.
Deny
menggelengkan kepala. “Kamu yang udah bekerjasama sama perempuan itu untuk
mencelakai istriku?”
Deny
menggelengkan kepala.
Yeriko
langsung menarik kerah baju Deni dan menatap tajam ke arah pria itu. “Kamu
nggak mau ngaku!?”
Deny
tersenyum sinis. “Aku selalu ada di samping Refi. Cuma bantu dia buat dapetin
kamu. Tapi, aku nggak benar-benar melakukannya karena cuma dia yang bisa aku
nikmati untuk bersenang-senang secara gratis.”
Yeriko
langsung melepaskan genggaman tangannya. “Sudah berapa lama kamu berhubungan
sama Refi?”
“Sejak
dia di Paris. Dia memanfaatkan aku untuk meraih impiannya. Dia dengan sukarela
memberikan tubuhnya buat aku,” jawab Deny.
Yeriko
tersenyum sinis. Ia sama sekali tidak menyangka kalau perbuatan Refi justru
lebih buruk dari yang ia bayangkan. Sebelum bertemu dengan Yuna, hubungannya
dengan Refi masih baik-baik saja. Mereka berteman baik dan Yeriko masih
berharap Refi bisa kembali ke kehidupannya.
Namun,
kenyataan kali ini ... membuatnya tak pernah menyesali telah melepaskan Refi
seumur hidupnya. Ia justru menyesal karena pernah jatuh cinta pada gadis cantik
berhati busuk itu.
“Kalau
kamu masih mau hidup, ikuti perintahku dari sekarang!”
“Perintah
apa? Aku akan lakuin asalkan bayarannya sesuai.”
Yeriko
tersenyum sinis. “Apa aku kelihatan kekurangan uang untuk bayar kamu? Kamu
minta berapa?”
“Lima
ratus juta!”
“Oke.
Lima ratus juta. Aku akan kasih ke kamu setelah berhasil menyelesaikan misi
yang aku kasih.”
“Oke.”
Deny menganggukkan kepala.
“Amankan
dia dulu!” perintah Yeriko pada pengawal yang ada di dalam ruangan itu.
“Siap,
Pak Bos!” Pengawal itu segera membawa Deny ke ruangan lain dan dijaga ketat
oleh mereka.
“Yan,
ruangannya udah selesai disiapin?” tanya Yeriko.
“Sudah,
Pak Bos!”
“Satria
mana?”
“Sebentar,
saya panggilkan,” jawab Riyan sambil bergegas keluar dari ruangan tersebut.
“Lut,
obatnya ada?” bisik Yeriko.
“Ada,
nih. Di tasku.”
“Ayo,
sekarang!” ajak Yeriko sambil melangkah keluar.
Lutfi
dan orang-orang yang bersamanya langsung mengikuti langkah Yeriko.
Yeriko
masuk ke sebuah ruangan besar yang keempat sisinya sudah dipasangi kaca besar
yang menutupi dinding ruangan tersebut. Ruangan itu hanya dilengkapi dengan
matras di tengah-tengahnya dan dua sofa yang terlihat mewah dengan meja kecil
di tengahnya.
Yeriko
mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Juga menengadahkan kepalanya ke
langit-langit ruangan yang dihiasi gambar-gambar Ballerina. Ia sudah mengatur
ruangan ballet sedemikian rupa untuk Refi, khusus untuk perempuan yang pernah
hadir dalam kehidupannya itu.
Tak
hanya menyiapkan ruangan, Yeriko juga menyuruh orang untuk mendandani Refi
dengan kostum ballerina yang khas. Ia ingin Refi merasakan bagaimana ia pernah
mendukung semua impian Refi di masa lalu. Hingga membuat hatinya sangat luka.
Bahkan telah melukai wanita yang paling ia cintai dalam hidupnya.
“Satria
mana?” tanya Yeriko sambil menatap Lutfi.
“Tunggu
aja! Si Refi juga belum siap.”
Yeriko
menganggukkan kepalanya. “Gimana menurut kamu?” tanyanya sambil melihat design
ruangan yang sudah ia siapkan.
“Bagus,
Yer! Kamu mau bikin dia nari balet di sini? Bukannya, dia udah nggak bisa nari
lagi?”
“Ck,
kamu ini nggak paham juga! Otakmu ke mana sih?” sahut Yeriko kesal.
Lutfi
menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia masih tidak mengerti kenapa
Yeriko menyiapkan ruang balet untuk Refi. Padahal, mereka ingin memberi
pelajaran untuk Refi. Ia pikir, Yeriko akan melukai Refi seperti Refi melukai
fisik Yuna. Kali ini, Yeriko belum mengatakan detil keinginannya dan membuat
dia bertanya-tanya.
“Lut,
urus di Deny!” perintah Yeriko. Ia membisikkan rencana detilnya ke telinga
Lutfi.
“Owalah
... oke, oke. I see ...,” tutur Lutfi, ia bergegas keluar dari ruangan
tersebut.
Yeriko
duduk santai di sofa sambil menunggu Refi masuk ke dalam ruangan tersebut.


