Menu BacaanMu
- Perfect Hero (546)
- Puisi (121)
- My Experience (118)
- Rumah Literasi Kreatif (87)
- Novel MLB (80)
- Cerpen (72)
- Then Love (60)
- Belajar Menulis (58)
- Esai (56)
- Artikel (44)
- Puisi Akrostik (43)
- Review Buku (22)
- Relima Perpusnas RI (18)
- Review Drama (18)
- Ekonomi & Bisnis (9)
- Novel The Cakra (8)
- Wisata (8)
- Aku dan Taman Bacaku (7)
- Dasawisma (6)
- Review Aplikasi (6)
- Kumpulan Novel (5)
- Daily (4)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Opini (4)
- Pendamping Nakal (3)
- Biografi Penulis (2)
- Donasi (1)
- Dongeng (1)
- JNE (1)
- Product (1)
Monday, June 8, 2026
Ada Hati yang Tersayat, Tapi Tak Luka
Perfect Hero Bab 546 : Masuk Perangkap
Bellina terus menangis setelah mamanya pergi
meninggalkan dirinya. Ia sangat kesal karena mama kandungnya sendiri hanya
memanfaatkannya untuk mendapatkan uang.
“Aargh ...!” Bellina menghambur semua barangnya
yang ada di atas meja. Ia menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa sambil menatap
langit-langit ruangan. “Mama ngeselin! Aku nggak mau punya mama kayak kamu!”
Bellina terus mengumpat, ia mendesah sejenak saat
ia sudah merasa lelah. Bellina mengedarkan pandangannya. Tiba-tiba, matanya
tertuju pada kartu nama yang tergeletak di lantai.
Bellina meraih kartu nama tersebut dan membaca
tulisan ‘Arjuna Club’ yang tertera di sana. Ia langsung tersenyum lebar.
“Daripada pusing sendirian di rumah. Mending main ke klub aja,” celetuk Bellina
sambil bangkit dari sofa.
Bellina membereskan barangnya yang berserakan di
lantai dan bersiap-siap pergi ke klub malam.
Satu jam kemudian, Bellina pergi ke Arjuna Club
dengan wajah full make-up. Ia kembali duduk di salah satu meja bar.
“Minum apa, Mbak?” tanya salah seorang bartender
yang sedang berdiri sambil meracik minuman untuk pelanggannya.
“Bellissimo Moscato, dua!” pinta Bellina.
Bartender itu mengangguk. Ia memerintahkan pelayan
yang berdiri di sebelahnya untuk mengambil dua botol Bellisimo Moscato yang
diinginkan Bellina.
“Bos kalian mana?” tanya Bellina.
“Bang Jun?” tanya bartender itu sambil menatap
wajah Bellina yang ada di depannya. Ia menyodorkan Stem Glass ke hadapan
Bellina. “Mau pakai es?”
Bellina menganggukkan kepala.
Bartender tersebut segera mengganti Unstem Glass
untuk Bellina. Ia langsung membuka tutup botol Bellisimo Moscato dan
mengembalikannya ke hadapan Bellina. Dengan gaya khasnya, ia masukkan beberapa
potong es batu ke dalam Unstem Glass yang ada di tangan Bellina.
Bellina menuangkan minuman yang ia pesan ke dalam
sloki yang sudah ada di hadapannya. Ia tersenyum sambil menikmati setiap
gerakan bartender yang ada di sana.
“Bang Jun belum datang jam segini. Dia datang di
atas jam sepuluh malam,” tutur bartender tersebut.
“Oh.” Bellina meneguk minumannya perlahan sambil
menikmati suasana di dalam ruangan tersebut.
“Mau aku teleponin? Biar dia ke sini lebih cepat?”
Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak cari dia,
kok.”
“Terus, ke sini cari apa?”
“Pengen buang sial,” sahut Bellina sambil
tersenyum.
“Oh. Lagi sial?”
Bellina tak menyahut. Ia kesal dengan pertanyaan
bartender tersebut.
“Tenang aja! Tempat ini banyak membawa kesenangan
dan keberuntungan.”
“Aku harap begitu,” tutur Bellina sambil memainkan
gelas di tangannya. Ia tidak menginginkan hal lain. Ia hanya ingin melampiaskan
kekesalannya di tempat ini. Ia berharap bisa mendapatkan kesenangan di tempat
ini. Tempat yang bisa membuatnya menjadi diri sendiri tanpa ada yang
memperdulikan statusnya sebagai seorang istri dari keluarga kaya.
...
“Malam, Pak Bos!” sapa Riyan begitu ia masuk ke
dalam rumah dan mendapati Yeriko sedang menikmati makan malam bersama istri
tercintanya.
“Malam, Yan! Udah datang? Duduk!” perintah Yeriko.
Riyan langsung duduk di kursi kosong yang ada di
sana.
“Makan, Yan!” perintah Yeriko. “Bi ...! Bibi ...!
Bawain piring untuk Riyan!” teriak Yeriko sambil menoleh ke arah dapur.
“Iya, Mas!” sahut Bibi War dari arah dapur. Ia
bergegas mengambil alat makan tambahan untuk Riyan.
“Dari mana, Yan?” tanya Yuna yang duduk
berseberangan dengan Riyan.
Riyan langsung menoleh ke arah Yeriko saat ia
mendengar pertanyaan dari Yuna. “Dari perusahaan.”
“Lembur?” tanya Yuna lagi.
Riyan menganggukkan kepala.
“Makan yang banyak!” pinta Yuna sambil tersenyum.
Riyan menganggukkan kepala. Ia ikut bergabung
menikmati makan malam bersama bosnya.
“Ada yang mau kamu sampaikan?” tanya Yeriko sambil
menatap Riyan.
Riyan menganggukkan kepala. “Soal Ibu Melan ...”
“Gimana?” tanya Yeriko santai.
“Beberapa hari ini, Ibu Melan sudah menghabiskan
tabungannya untuk berfoya-foya dengan pria selingkuhannya itu,” tutur Riyan.
Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Bagus!”
“Sore ini, Ibu Melan baru keluar dari rumah Mbak
Belli. Seperti yang sudah kita rencanakan, dia minta uang sama anaknya itu.”
Yeriko langsung tersenyum sinis mendengar ucapan
yang keluar dari mulut Riyan. Sementara, Yuna hanya melongo menatap dua pria
yang ada di hadapannya.
“Bellina langsung pergi ke klub malam.”
“Malam ini, dia di klub?” tanya Yeriko.
Riyan mengangguk-anggukkan kepala.
“Atur rencana selanjutnya! Oh ya, Chandra sudah
balik?”
Riyan menggelengkan kepala. “Kalau sesuai jadwal,
dia pulang sore ini.”
“Siapa yang jemput?”
“Mbak Jheni.”
“Oh, iya. Dia sekarang udah punya pacar. Nggak
perlu dijemput supir kantor.”
Riyan mengangguk-anggukkan kepala sambil menikmati
makan malam bersama Yeriko dan Yuna.
“Yan ...!” panggil Yuna berbisik.
“Ya, Nyonya Muda. Ada apa?”
“Kamu udah punya pacar atau belum?” tanya Yuna
berbisik.
Riyan menggelengkan kepala.
“Kenapa belum punya pacar?” tanya Yuna lagi sambil
berbisik. “Karena bos kamu galak?”
Riyan terkekeh sambil menggelengkan kepala.
Yeriko melirik Yuna dan Riyan bergantian. “Kenapa
tanyanya bisik-bisik?” tanya Yeriko.
Yuna meringis sambil menatap wajah Yeriko.
“Asisten kamu jomblo terus. Kapan dia dapet jodoh kalau disuruh kerja terus?”
“Dia masih muda. Masih harus banyak belajar. Belum
jadi apa-apa, udah mau nyari jodoh. Biarkan dia fokus kerja. Nggak boleh
pacaran!” sahut Yeriko.
“Galak banget!?” dengus Yuna. “Kalau dia punya
pacar, dia pasti makin semangat kerjanya. Iya ‘kan?” tanya Yuna sambil menatap
wajah Riyan.
Riyan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan
kepala. “Belum ketemu cewek yang pas.”
“Kamu mau yang gimana? Ntar, aku kenalin sama
temen-temenku!”
Yeriko langsung menutup wajah Yuna dengan telapak
tangannya. “Nggak usah ajarin Riyan yang aneh-aneh!”
“Aku nggak ngajarin apa-apa, cuma nanya doang,”
sahut Yuna sambil menyingkirkan telapak tangan Yeriko dari wajahnya.
Yeriko mengambil potongan udang goreng dan
memasukkan ke mulut Yuna. “Makan yang banyak! Biar nggak banyak bicara,”
pintanya sambil tersenyum.
Yuna mengerutkan hidung. Ia mengunyah makanan di
mulutnya dan tidak berbicara sedikit pun sampai mereka menyelesaikan makan
malam.
“Pak Bos, saya pulang dulu ya!” pamit Riyan begitu
mereka sudah selesai makan dan duduk santai di ruang tamu.
“Eh, dokumen yang aku minta ... mana?” tanya
Yeriko.
“Oh, iya. Masih di mobil. Sebentar!” pinta Riyan
sambil berlari menghampiri mobil, mengambil dokumen yang tertinggal dan kembali
menghampiri Yeriko.
“Ini, Pak Bos!” Riyan langsung menyodorkan map
berisi beberapa dokumen yang diminta oleh Yeriko. “Di dalam sini, sudah ada
agenda terbaru yang saya siapkan untuk Pak Bos.”
Yeriko mengangguk. “Thank’s, Yan!”
Riyan menganggukkan kepala. “Mmh ... saya sudah
boleh pulang ‘kan?”
Yeriko menganggukkan kepala.
Riyan tersenyum. Ia meletakkan kunci mobil di atas
meja. “Mobil udah saya masukan ke garasi. Saya pulang dulu, Pak Bos!” pamitnya.
“Hati-hati ya, Yan!”
Riyan menganggukkan kepala. Ia bergegas keluar
dari rumah Yeriko dan menghampiri taksi yang sudah ia pesan sebelumnya.
Di dalam rumah, Yuna memperhatikan Yeriko yang
duduk santai sambil membaca majalah bisnis.
“Ay ...!”
“Umh.”
“Aku mau tanya sesuatu, boleh?”
“Tanya aja!” jawab Yeriko tanpa mengalihkan
pandangannya.
“Bacanya nanti dulu!” pinta Yuna.
Yeriko langsung menutup majalah yang sedang
dibacanya dan meletakkan di atas meja. “Mau tanya apa?”
“Apa kamu yang udah bikin Oom Rudi dan Tante Mega
tahu soal skandal perselingkuhan Tante Melan?” tanya Yuna sambil menatap wajah
Yeriko.
“Soal Oom Rudi, memang aku yang menggiring dia
untuk mengetahui peselingkuhan istrinya. Tapi ... kalau soal Ibu Mega, aku
nggak tahu siapa yang melakukannya."
Yuna mengernyitkan dahi sambil menggigit bibirnya.
“Apa ada orang lain yang udah bocorin ke Tante Mega?”
Yeriko mengedikkan bahunya.
“Bellina nuduh aku terus. Padahal, aku nggak
ngasih tahu Tante Mega sama sekali. Ketemu sama dia, juga nggak. Kalau bukan
kamu yang kasih tahu ... siapa yang udah ngasih tahu Tante Mega?”
Yeriko mengedikkan bahu. “Mungkin ... musuh
Bellina yang lain.”
“Apa dia punya musuh di luar sana?”
“Bisa aja. Dia kelakuannya begitu, bisa aja banyak
orang yang dendam sama dia.”
“Kira-kira siapa ya?” tanya Yuna.
“Nggak tahu. Nggak usah dipikirin! Nanti, aku
suruh Riyan buat cari tahu.”
Yuna menggelengkan kepala. “Nggak usah, Ay!
Kasihan si Riyan, kerjaannya udah banyak. Nggak begitu penting banget, sih.
Cuma ... kasihan aja sama Belli kalau dia dimarahin terus sama mama mertuanya.”
“Kamu masih kasihan sama dia? Dia udah jahat sama
kamu selama ini?”
“Iya, juga sih. Aku nggak suka sama dia. Tapi ...
kasihan juga. Selama ini, dia selalu menyalahkan aku kalau mengalami masalah.
Kalau dia terlalu banyak menderita, aku takut ... dia makin benci sama aku.”
Yeriko menghela napas begitu melihat wajah Yuna
murung. “Semua penderitaan yang dia alami sekarang, itu balasan atas perbuatan
dia. Nggak ada hubungannya sama kamu.”
Yuna memutar bola matanya. “Iya ya?”
Yeriko menganggukkan kepala. “Kamu nggak perlu
khawatir! Semua yang terjadi sama dia, nggak ada hubungannya sama kamu.”
Yuna menganggukkan kepala. “Semoga aja dia dapet
balasan yang setimpal dan nggak ganggu hidupku lagi.”
Yeriko menganggukkan kepala. “Aku pasti melindungi
kamu.”
Yuna tersenyum sambil menatap wajah Yeriko. Ia
merasa sangat nyaman dan bahagia selama berada di sisi suaminya. Ia berharap
kalau sepupunya itu bisa berubah menjadi wanita yang baik sebelum merasakan
sakit yang lebih dalam lagi.
((Bersambung...))
Dukung terus cerita ini biar
aku makin semangat nulisnya setiap hari.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
Perfect Hero Bab 545 : Minta Uang Bellina
Bellina langsung merebahkan tubuhnya ke sofa
begitu ia sampai ke rumah. Ia baru menyadari kalau mamanya tidak pernah
menghubunginya setelah bercerai dengan papanya.
“Argh, bodo amat!” celetuk Bellina sambil
memejamkan mata. Suasana hatinya yang sedang tidak baik membuatnya acuh tak
acuh terhadap mamanya sendiri.
Ting! Tong!
Ting! Tong!
Bellina langsung menoleh ke arah pintu ketika bel
rumahnya tiba-tiba berbunyi.
“Siapa yang ke sini malam-malam gini?” gumam
Bellina sambil bangkit dari sofa. Ia melangkah tak bersemangat menuju pintu
rumahnya.
“Malam, Bel ...!” sapa Melan begitu Bellina
membukakan pintu untuknya.
“Mama!?” Bellina mengerutkan dahi begitu melihat
mamanya sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
Melan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam
rumah. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. “Kenapa? Kamu heran
lihat mama?”
“Mama nggak pernah hubungi aku semenjak bercerai
sama papa. Aku heran aja, kenapa tiba-tiba ke sini malam-malam begini?” tanya
Bellina.
Melan tersenyum sambil melangkahkan kakinya. Ia
menatap wajah Bellina dan bertanya, “mmh ... mama boleh tahu, berapa harga
rumah kamu ini?” tanya Melan.
“Kenapa?” tanya Bellina menyelidik. Ia mulai
curiga dengan sikap Melan yang tiba-tiba menanyakan harga rumah. Padahal, ia
sudah lama membeli rumah tersebut.
“Mama cuma pengen tahu aja harga rumah ini,” jawab
Melan sambil menyentuh sofa ruang tamu menggunakan ujung-ujung jarinya.
“Cuma empat Milyar,” jawab Bellina sambil menatap
wajah mamanya.
Melan langsung tersenyum dan menghampiri Bellina.
“Bel, saat ini ... mama masih tinggal di hotel. Mama pengen beli rumah baru.”
“Beli aja,” sahut Bellina sambil melangkah menuju
sofa dan duduk dengan santai.
Melan terus mendekati Bellina dan duduk di samping
puteri kesayangannya itu. “Mama butuh uang, Bel. Kamu bisa kasih sedikit uang
kamu untuk mama?”
“Uang untuk apa, Ma?” tanya Bellina balik.
“Untuk beli rumah baru, Bel. Mama nggak punya
uang.”
“Mama baru aja cerai sama papa. Papa ngasih
tunjangan perceraian ke mama ‘kan?”
Melan meringis mendapati pertanyaan Bellina. “Uang
tunjangan dari papa kamu nggak seberapa. Sudah habis untuk keperluan
sehari-hari mama.”
Bellina menarik napas dalam-dalam. “Suami baru
mama, nggak kasih uang?”
“Dia baru aja keluar dari penjara. Belum dapet
pekerjaan. Jadi, belum bisa menghidupi mama.”
“Kalau dia nggak bisa menghidupi mama, kenapa
harus pilih dia?” tanya Bellina kesal.
“Bel, semua butuh waktu. Mantan narapidana seperti
dia, sulit mendapatkan pekerjaan baru.”
“Lagian, kenapa mama lebih milih hidup sama
laki-laki kotor itu daripada sama papa? Papa Rudi itu baik, Ma. Dia udah
berjuang buat keluarga. Dia ngasih semua yang kita butuhkan. Dia bisa bikin
mama hidup layak. Tapi, mama malah tega-teganya nyakitin papa!”
“Kamu pikir, mama bahagia hidup dengan pria yang
tidak mama cintai dan tidak mencintai mama?” sahut Melan kesal.
“Oh ... ada hal lain yang bisa bikin mama lebih
bahagia dari uang?” tanya Bellina. “Ya udah, mama hidup ada dengan cinta sama
pria itu!”
“Bel, mama ke sini baik-baik. Kamu malah kayak
gini sama mama. Kamu tega lihat mama menderita di luar sana, sementara kamu
bisa tidur dengan enak dan tenang di rumah mewah kayak gini?”
Bellina terdiam. Ia juga tidak tega melihat
mamanya hidup menderita di luar sana. Hanya saja, wajah Lonan membuatnya sangat
kesal. Sampai kapan pun, ia tidak akan berdamai dengan pria asing yang telah
menghancurkan kehidupan keluarganya itu.
“Bel, mama sudah membesarkan kamu selama ini. Apa
kamu nggak ingat gimana kamu bisa hidup selama ini. Semua yang kamu mau, selalu
mama penuhi. Sekarang, mama cuma butuh sedikit uang kamu aja. Sebelumnya, mama
nggak pernah minta uang sama kamu.”
“Uang mama tinggal sedikit, Bel. Cuma bisa
bertahan sepuluh hari tinggal di hotel. Setelahnya, mama akan tinggal di mana
kalau kamu nggak mau kasih mama uang buat beli rumah baru. Kamu mau lihat mama
tidur di pinggir jalan?”
Bellina langsung menatap tajam ke arah Melan. Ia
baru saja mendengar makian dari mama mertuanya. Sekarang, mamanya sendiri juga
ikut berteriak di hadapannya. Hal ini membuat kepalanya semakin sakit.
“Kalau kamu nggak mau kasih uang mama, mama akan
tidur di pinggir jalan. Biar semua orang tahu kalau anak mama yang kaya raya
ini sudah membuang dan menyia-nyiakan mamanya sendiri!” ancam Melan.
Bellina langsung membelalakkan matanya. Ia tidak
ingin mamanya semakin berulah, membuat keluarganya dan keluarga Wijaya malu
karena perbuatan gila mamanya.
Melan tersenyum sambil menatap wajah Bellina. Ia
sangat berharap kalau Bellina mengeluarkan uang untuk dirinya.
“Mama butuh berapa?” tanya Bellina.
“Nggak banyak, kok. Cuma dua milyar,” jawab Melan
sambil tersenyum manis.
“Banyak banget!?” seru Bellina.
“Bel, mama butuh uang buat beli rumah baru. Kamu
tega lihat mama tidur di jalanan? Biar semua orang tahu kalau anak dan menantu
mama yang kaya raya ini sudah menelantarkan mamanya sendiri?”
“Aargh ...! Mama bikin kepalaku mau pecah. Ma, aku
nggak punya uang sebanyak itu!” sahut Bellina kesal.
“Dua milyar itu nggak banyak, Bel. Kamu bisa
dapetin dengan mudah dari suami atau papa kamu. Gaji kamu sebagai direktur di
perusahaan, juga nggak kecil. Tabungan kamu pasti lebih dari empat kali lipat
rumah ini ‘kan?”
Bellina menarik napas dalam-dalam. “Ma, mama pikir
... aku punya uang sebanyak itu? Seandainya ada, aku juga nggak akan pakai
uangku untuk menghidupi mama dan pria kotor itu!”
Melan sangat kesal dengan sikap Bellina. Namun, ia
tidak akan menyerah begitu saja sampai ia bisa mendapatkan uang dari Bellina.
“Oke. Kalau emang kamu nggak mau kasih mama uang.
Mama akan tinggal di jalanan dan bilang ke semua orang kalau anak dan menantu
mama sudah ...”
“Stop, Ma!” teriak Bellina sambil bangkit dari
sofa. “Mama nggak usah ngancam aku dan Lian!” pintanya sambil bergegas
melangkah ke kamarnya. “Tunggu di sini!”
Melan langsung tersenyum lebar begitu melihat
Bellina masuk ke kamarnya. Ia sangat berharap kalau puteri kesayangannya itu
segera memberikan uang yang ia butuhkan.
Beberapa menit kemudian, Bellina keluar dari kamar
dan menghampiri mamanya. Ia langsung menyodorkan kartu debit ke arah mamanya
tersebut.
Melan langsung tersenyum sambil menyambar kartu
dari tangan Bellina.
“Itu uang tabunganku. Cuma ada satu milyar.
Pin-nya hari ulang tahunku,” tutur Bellina sambil duduk kembali ke sofa.
“Bel, mama butuh dua milyar. Mama butuh beli rumah
dan untuk hidup sehari-hari.”
“Ma, itu cukup buat beli rumah. Mama beli rumah
yang murah-murah aja. Suruh suami baru mama itu buat cari nafkah. Supaya nggak
ganggu aku terus!”
“Bel, aku ini mama kamu. Apa kata orang kalau mama
beli rumah murah? Mereka bakal menilai kalau kamu bener-bener sudah
menelantarkan mamanya sendiri.”
Bellina menarik napas dalam-dalam. “Ma, itu cukup
buat beli rumah. Rumah yang harganya lima ratus juta, juga udah bagus untuk
mama. Kalau mama mau beli rumah mewah, mama usaha sendiri! Jangan morotin aku
dan suamiku, Ma!”
“Apa!? Kamu tega ngatain mama seperti ini? Aku ini
mama kandung kamu, Bel. Yang udah melahirkan dan membesarkan kamu selama ini.
Ini balasan kamu buat mama? Kamu bener-bener nggak punya hati nuraini.
Tega-teganya bikin mama kamu sendiri hidup terlantar.”
Bellina menarik napas panjang. Ia menarik tas
tangan yang tak jauh dari dirinya dan mengeluarkan dompet dari dalamnya. Ia
mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompet tersebut. “Aku cuma punya uang
segini. Kalau mau, mama ambil. Kalau nggak, silakan pergi dari rumah ini dan
cari uang sendiri!”
Melan tersenyum lebar dan menyambar uang dari
tangan Bellina. Ia sangat bahagia karena puterinya bisa memberikan banyak uang
untuknya.
“Ma, mama sudah bisa pulang, sekarang? Mama ke
sini cuma butuh uang aja ‘kan?”
Melan langsung melebarkan kelopak matanya. “Kamu
ngusir mama?”
“Aku lagi pusing, Ma. Banyak hal yang harus aku
hadapi. Mama tolong ngertiin posisiku. Jangan bikin aku makin kesulitan!” pinta
Bellina dengan mata memerah.
Melan menatap wajah Bellina. Ia bisa mengetahui
kalau anaknya sedang banyak masalah. Namun, ia masih membutuhkan banyak uang
untuk bisa bertahan hidup di luar sana.
“Ma, semua yang mama lakuin beberapa hari
belakangan ini. Sudah bikin keluarga Linandar dan Wijaya malu banget. Aku baru
aja dimaki-maki sama mamanya Lian. Tolong, Ma! Jangan bawa aku ke dalam masalah
baru lagi! Mama Mega sudah mendesak Lian terus-menerus untuk menceraikan aku.
Aku belum hamil juga sampai sekarang, status mama yang sekarang bukan
siapa-siapa lagi di keluarga Lin. Bikin Mama Mega semakin benci sama aku.
Gimana kalau aku bener-bener dibuang dari keluarga Wijaya?” tanya Bellina
dengan mata berkaca-kaca.
Melan menghela napas. Ia ingin mendapatkan banyak
uang dari Bellina, tapi ia juga tidak bisa melihat puteri kesayangannya itu
berada dalam kesulitan. Ia ingin Bellina hidup baik dan bahagia di keluarga
ini.
Bellina menutup wajahnya sambil menangis. Ia tidak
bisa lagi menahan rasa sakit bertubi-tubi yang terus menimpa dirinya. Ia hanya
ingin mendapatkan kebahagiaan. Ia ingin memiliki suami yang menyayanginya,
mertua yang menyayanginya dan keluarga yang sehat. Tapi, semua hal yang ia
inginkan justru berbanding terbalik dengan kenyataannya.
“Maafin, Mama! Mama nggak akan mendesak kamu lagi
untuk memberikan uang,” tutur Melan lirih. Ia bangkit dari sofa sambil menatap
Bellina yang masih terisak. “Mama pulang dulu!” pamitnya.
Bellina tak menyahut. Ia masih sibuk dengan
pikirannya sendiri. Ia benar-benar tak menyangka kalau ia akan dimanfaatkan
oleh mamanya sendiri.
Melan tak berani menyentuh Bellina yang suasana
hatinya sedang buruk. Ia memilih melangkahkan kakinya perlahan keluar dari
rumah tersebut. “Aku bisa minta uang ke sini lagi kalau suasana hati Bellina
sudah membaik,” batin Melan.
((Bersambung...))
Dukung terus cerita ini biar
aku makin semangat nulisnya setiap hari.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi


.png)
.png)