Menu BacaanMu
- Perfect Hero (546)
- Puisi (121)
- My Experience (119)
- Rumah Literasi Kreatif (87)
- Novel MLB (80)
- Cerpen (72)
- Then Love (60)
- Belajar Menulis (59)
- Esai (56)
- Artikel (44)
- Puisi Akrostik (43)
- Review Buku (22)
- Relima Perpusnas RI (18)
- Review Drama (18)
- Partner Kondangan (12)
- Ekonomi & Bisnis (9)
- Novel The Cakra (8)
- Pendamping Nakal (8)
- Wisata (8)
- Aku dan Taman Bacaku (7)
- Dasawisma (6)
- Kumpulan Novel (6)
- Review Aplikasi (6)
- Daily (4)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Opini (4)
- Biografi Penulis (2)
- Donasi (1)
- Dongeng (1)
- JNE (1)
- Product (1)
Sunday, August 9, 2026
Tipe Pecinta Buku Akut
Tipe Pecinta Buku Akut: Kamu Bibliotaph, Biblioarti, atau Bibliognos?
Bagi sebagian orang, buku hanyalah benda yang dibaca lalu disimpan di rak. Namun bagi pecinta buku sejati, buku adalah teman, harta karun, bahkan bagian dari identitas diri. Tidak heran jika dunia literasi mengenal banyak istilah unik untuk menggambarkan kebiasaan para pencinta buku.
Apakah kamu salah satunya? Yuk, kenali tiga tipe pecinta buku yang mungkin terdengar ekstrem, tetapi justru sangat dekat dengan kehidupan para book lover.
1. Bibliotaph: Si Penjaga Buku yang Enggan Meminjamkan
Pernah bertemu seseorang yang rak bukunya rapi, koleksinya lengkap, tetapi hampir mustahil meminjam satu buku pun darinya?
Kemungkinan ia adalah seorang Bibliotaph.
Bibliotaph adalah sebutan bagi orang yang cenderung menyimpan dan "menyembunyikan" koleksi bukunya. Mereka tidak suka bukunya dipinjam karena khawatir akan rusak, hilang, atau tidak kembali.
Bagi Bibliotaph, setiap buku memiliki cerita. Ada yang dibeli dari hasil menabung, ada yang diburu bertahun-tahun, bahkan ada yang memiliki nilai sentimental karena merupakan hadiah dari orang terdekat.
Ciri-ciri Bibliotaph:
Rak buku selalu tertata rapi.
Tidak suka meminjamkan buku.
Sangat menjaga kondisi buku agar tetap seperti baru.
Ingat persis di mana setiap buku diletakkan.
Mereka bukan pelit, melainkan sangat menghargai koleksi yang telah mereka bangun.
2. Biblioarti: Mencintai Buku Sepenuh Hati
Jika Bibliotaph fokus menjaga koleksi, maka Biblioarti lebih menggambarkan rasa kagum yang mendalam terhadap buku.
Orang dengan karakter ini memandang buku sebagai sesuatu yang layak dihormati dan dirawat. Mereka akan merasa tidak nyaman melihat halaman buku dilipat, sampul tertekuk, atau buku diletakkan sembarangan.
Bahkan, mereka rela membeli sampul pelindung, bookmark khusus, hingga kotak penyimpanan agar buku tetap awet.
Kebiasaan Biblioarti:
Membersihkan rak buku secara rutin.
Menggunakan pembatas buku, bukan melipat halaman.
Menyampul buku agar tetap bersih.
Merasa sedih jika melihat buku rusak.
Bagi mereka, merawat buku sama pentingnya dengan membaca isi bukunya.
3. Bibliognos: Pecinta Detail yang Tak Pernah Puas
Berbeda dengan dua tipe sebelumnya, Bibliognos tidak hanya membaca isi buku.
Mereka ingin mengetahui segala hal tentang sebuah buku, mulai dari:
siapa penulisnya,
latar belakang penulis,
tahun terbit,
edisi pertama,
penerbit,
ilustrator,
daftar pustaka,
hingga fakta-fakta kecil yang tersembunyi di setiap halaman.
Mereka senang membandingkan edisi lama dan baru, mencari kesalahan cetak, atau memahami alasan sebuah bab disusun dengan urutan tertentu.
Bagi Bibliognos, membaca bukan sekadar menikmati cerita, tetapi juga memahami "kehidupan" sebuah buku secara menyeluruh.
Tipe Mana yang Paling Dekat denganmu?
Menariknya, seseorang bisa memiliki lebih dari satu karakter sekaligus.
Misalnya:
Seorang Bibliotaph yang juga Biblioarti akan sangat menjaga bukunya dan hampir tidak pernah meminjamkannya.
Seorang Bibliognos juga bisa menjadi Bibliotaph karena memahami betapa berharganya sebuah edisi langka.
Tidak ada yang salah dengan ketiga tipe tersebut. Semuanya menunjukkan kecintaan terhadap buku, hanya saja dengan cara yang berbeda.
Pada Akhirnya...
Setiap pecinta buku memiliki kebiasaan unik. Ada yang senang berbagi buku kepada teman, ada yang lebih memilih menjaganya tetap utuh di rak, dan ada pula yang menikmati setiap detail kecil dari sebuah buku.
Apa pun tipemu, satu hal yang sama adalah rasa cinta terhadap dunia literasi. Karena bagi seorang pecinta buku, membuka sebuah halaman baru selalu berarti membuka jendela menuju pengetahuan dan petualangan yang baru.
Kalau kamu sendiri termasuk tipe yang mana? Bibliotaph, Biblioarti, Bibliognos, atau justru gabungan dari semuanya? Tulis pendapatmu di kolom komentar!
Friday, August 7, 2026
Pendamping Nakal Bab 8 : Pertanyaan yang Tertahan
“Ran, gimana kegiatanmu minggu ini? Lancar, kan?” tanya
Tia sembari mengeluarkan beberapa buku baru dari dalam kardus untuk ia
katalogisasi.
“Lancar. Cuma . .. perjalanan pulang kami yang agak
terhambat. Jadinya, lumayan malam sampai di rumah.”
“Kenapa? Jalannya jelek?” tanya Tia. Matanya tertuju
pada sebuah buki baru meski ia sibuk bicara dengan Rania.
“That’s first. Yang parahnya tuh, kita dihadang sama
empat preman di tengah hutan. Mana lagi senja. Horor banget!” jawab Rania.
“Begal, Ran!?”
“Kayaknya mereka orang suruhan bos tambang batubara,
deh.”
“Kamu tahu dari mana?” tanya Tia.
“Bang Radit seharian keliling wawancarain warga yang
menolak tambang. Aku nemenin dia dan denger beberapa kali ucapan warga di sana
yang kemungkinan pro sama tambang,” jawab Rania.
“Oh. Terus ... terus ...!”
“Ternyata, konflik di dunia usaha itu rumit banget, ya?
Manusia udah kayak monster. Saling serang, saling makan memakan,” ucap Rania.
“Maksudnya?” Kening Tia mengernyit.
Rania menghela napas. “Terkadang kita bingung harus
berpihak ke mana. Di satu sisi ada masyarakat yang membutuhkan pekerjaan untuk
menghidupi keluarganya. Di sisi lain ada petani yang terancam kehidupan dan
masa depan keluarganya. Nggak ada solusi baik untuk hal seperti ini, Ti. Semuanya
berusaha untuk bertahan hidup,” ucap Rania.
“Kamu sendiri berpihak ke mana?” tanya Tia.
Rania mengedikkan bahunya. “Aku nggak berpihak ke
mana-mana. Netral aja.”
“Oh, ya? Kalau seandainya kehidupanmu dan keluargamu
yang terancam. Gimana?”
“Aku pasti bela diri mati-matian, lah. Masa diam aja!?”
sahut Rania.
Tia manggut-manggut. Ia kembali sibuk memilah buku-buku
yang baru saja ia dapatkan. Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah buku berwarna
hitam dengan ilustrasi misteri yang khas. Judulnya cukup menarik baginya.
Begitu juga dengan beberapa buku lain tentang metafisika.
“Ran, tumben Bu Sinta dapet koleksi buku beginian? Ini
beli baru atau donasi, ya?” tanya Tia.
“Di laporan itu ada sumber bukunya, kan?”
Tia langsung memeriksa laporan yang ia ambil dari Bu
Sinta, Kepala Perpustakaan tersebut. “Donasi,” ucapnya. “Pasti mantan dukun
yang ngasih donasi ini.”
Rania terkekeh mendengar ucapan Tia. “Dukun apaan di
zaman sekarang?” tanyanya dengan kedua mata fokus menatap layar laptop.
Ia mulai melatih
tangannya untuk mengetik kembali setelah melewati operasi dan masa pemulihan.
“Aww ...!” seru Rania tiba-tiba.
“Kenapa, Ran?”
“Tanganku masih nyeri dipake ngetik.
Padahal udah dua bulan pasca operasi,” ucap Rania.
“Pakai voice note aja kayak biasanya.
Nggak usah paksain diri, Ran! Kamu belum benar-benar pulih.”
“Kata dokter, aku harus latih tanganku untuk bergerak seperti
biasanya. Supaya nggak kaku dan bisa cepet sembuh, Ti. Bisa, kok. Pelan-pelan,
nih,” ucap Rania sambil menggerakkan jemarinya perlahan di atas keyboard.
“Hmm ... ya udah, deh. Yang penting
kamu nyaman dan bisa cepet sehat kayak biasanya. By the way ... kenapa kamu
selalu jadi sasaran orang jahat, sih? Kriminal banget kalo sampe bikin kamu
masuk rumah sakit.”
“Kamu mau jadi sasaran juga?” tanya
Rania menggoda.
“Idih ... amit-amit jabang bayik!
Jangan sampe, Ran!” sambar Tia sembari mengetuk-ngetuk kepala dan meja
bergantian. “Jauhkan bala!”
Rania kembali fokus menulis artikel,
sementara Tia sibuk dengan buku-buku yang baru saja menjadi bagian dari koleksi
perpustakaan sekolah.
TING!
Rania melirik ke arah ponsel yang
ada di samping laptopnya. Pop up
notifikasi membuat ia langsung mengetahui jika yang mengirim pesan adalah
Radit.
TING!
TING!
Pesan berantai dari Radit, membuat
Rania kehilangan konsentrasi. Ia menarik napas dalam-dalam dan membuka pesan
yang masuk.
“Ran, empat orang warga yang
menghadang kita kemarin udah mati semua,” tulis Radit dalam pesan Whatsapp.
Rania menaikkan sebelah alisnya. Ia
tidak langsung membalas chat dari Radit, tapi mengamati satu per satu foto-foto
yang dikirim untuknya. Wajah para warga itu terlihat sangat jelas.
“Kenapa mereka bisa mati
berbarengan?” gumam Rania. “Kita nggak akan dikejar polisi buat minta
keterangan, kan?” batinnya.
Tak ingin terus berdialog dengan
dirinya sendiri, Rania segera menekan menu call ke nomor Radit.
“Halo ...!”
“Bang, kita aman, kan?” tanya Rania
dengan perasaan tak karuan.
“Kenapa kamu tiba-tiba panik gini?”
tanya Radit. Meski dari kejauhan, terdengar jelas jika pria itu sedang menahan
tawa.
“Kita yang terakhir ketemu sama
mereka semalam,” ucap Rania. “Aku takut kalau polisi curiga sama kita.”
“Nggaklah. Semuanya aman, Ran. Mereka
meninggal karena kecelakaan. Dua orang itu nyemplung sungai, satu orang jatuh
di jurang dan satunya lagi kesetrum listrik di rumahnya,” jelas Radit.
Rania menghela napas lega. “Syukurlah
kalau gitu.”
“Iya. Aman aja, kok. Ini kamu masih
di sekolah?” tanya Radit.
“Iya, Bang.”
“Bisa telepon?”
“Ini jam istirahat. Aku lagi nulis
artikel buat majalah sekolah minggu ini,” jawab Rania.
“Oke. Dilanjut! Aku juga mau
berangkat liputan, nih. Katanya mau ada Presiden datang ke IKN. Jadi, aku mau
otewe ke sana.”
“Oh, ya? Seru banget ke IKN! Coba aja
nggak hari sekolah, aku pengen ikut!” ucap Rania.
“Kamu sekolah aja yang bener! Nanti akan ada waktunya kamu jadi jurnalis
beneran. Bisa turun ke lapangan sambil plesir,” ucap Radit.
“Iya juga, sih. Sekarang harus sabar
dan banyak latihan supaya tulisanku bisa diterima di media nasional dan
internasional.”
“Beuuh ... targetmu tinggi juga.
Aku yang udah lama jadi jurnalis aja
nggak bisa tembus media internasional. Soalnya aku nggak bisa bahasa Inggris,
hahaha.”
Rania ikut tertawa kecil. “Ya udah,
Bang. Aku lanjut kelarin artikelku dulu. Aku tutup teleponnya, ya!”
“Oke. Bye!”
“Bye!” Rania segera menutup panggilan
teleponnya. Ia menghela napas dan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.
“Kenapa, Ran?” tanya Tia yang duduk
tak jauh dari Rania dan bisa mendengar cuplikan pembicaraan sahabatnya itu.
“Orang yang baru aja kita bicarain
tadi, tiba-tiba pada meninggal semua.”
“Hah!? Siapa?”
“Empat preman yang cegat aku sama
Bang Radit kemarin sore,” jawab Rania.
“Oh, ya?”
Rania mengangguk. Ia kembali fokus
dengan tulisannya.
Sementara, Tia bergeming sambil
berpikir. Ia merasa ada yang aneh dengan hidup Rania akhir-akhir ini. Semua
orang yang berhubungan dengan Rania, tiba-tiba meninggal dalam keadaan
mengenaskan.
Tia memperhatikan salah satu buku
metafisika berjudul “Khodam Pendamping” yang membuat pikirannya melayang jauh
tentang Rania dan sosok yang tidak terlihat. Mungkinkah semua hanya kebetulan
atau ada sisi gelap dalam diri Rania yang tidak ia ketahui?
“Ran ...!” panggil Tia. Ia ingin
bertanya langsung pada Rania, tapi ia juga ragu. Ia khawatir kalau Rania justru
akan marah kepadanya.
“Hmm.”
“Masih lama nulis artikelnya? Lima
menit lagi masuk kelas,” ucap Tia. Ia menahan napas dan memilih mengalihkan
pertanyaannya.
“Iya, Ti. Bentar lagi, ini.”
Tia
tersenyum ke arah Rania. “Sepertinya aku harus banyak belajar tentang
ilmu ini,” batinnya sambil memerhatikan buku di tangannya.
Sunday, July 12, 2026
Pendamping Nakal Bab 7 : Bertindak Tanpa Perintah
Friday, July 10, 2026
Pendamping Nakal Bab 6 : Kematian Galang
Pendamping Nakal Bab 5 : Bukti yang Tersisa
Pendamping Nakal Bab 4 : Rahasia yang Tak Ikut Terkubur
Tuesday, June 30, 2026
Partner Kondangan Bab 12 : Be Wife (TAMAT)
Alluna menatap cincin yang melingkar di jemari manisnya sambil tersenyum. Akhirnya, ia resmi menjadi tunangan Evan Noah. Cowok yang sudah lama mendampingi hari-harinya. Bukan hanya tentang bagaimana mencintai dalam suka dan duka. Tapi, mereka juga merasakan jatuh bangunnya membangun sebuah usaha untuk masa depan mereka dan anak-anak mereka kelak.
“Permisi, Bu ...,” sapa salah satu karyawan Alluna sembari membuka pintu ruang kerja Alluna.
“Ya. Masuk!”
“Ini desain terbaru yang ibu minta,” ucapnya sambil membawa box transparan yang berisi beberapa desain sepatu terbaru.
“Oke. Taruh di meja, ya!” pinta Alluna. Ia langsung meraih ponsel yang tiba-tiba berbunyi. “Hallo... Kak Daren apa kabar?” tanya Alluna dengan wajah sumringah.
“Baik, kamu di mana?” tanya Daren dari ujung telepon.
“Di Galleri, Kak. Kakak kapan pulang?”
“Masih banyak kerjaan di sini. Minggu depan bisa ke sini?”
“Hah!? Ke Singapura? Ngapain?”
“Ada, deh. Pokoknya lo harus dateng bareng Evan!” tegas Daren.
“Evan? Dia lagi sibuk banget sekarang. Besok dia berangkat ke Papua.”
“Ngapain dia ke Papua?”
“Buka cabang perusahaan baru di sana.”
“Yaelah, dia kan bos. Ntar gue telpon dia, deh. Dia bisa aja ninggalin kerjaannya sehari dua hari doang. Anak buahnya kan banyak.”
“Yah, ntar gue coba ngomong sama dia. Penting banget emang?” tanya Alluna.
“Penting! Ini tentang masa depan kalian,” tegas Daren.
Alluna menghela napas. “Sejak kapan lo mikirin masa depan kita?”
“Udah, deh. Nggak usah ngajak berantem! Pokoknya, tanggal 17 lo udah harus di sini. Sore ini, Mama sama Papa sampe ke Singapura.”
“Ada apa, sih? Kok, lo sampe nyuruh Mama sama Papa ke sana? Lo nggak sakit keras, kan?”
“GUE LAGI SAKIT KERAS! Dan lo nggak peduli, hah?”
“Kak ... serius, deh. Ada apa?”
“Pokoknya lo harus ke sini. Kalo enggak, lo bakal nyesal seumur hidup!” tegas Daren langsung memutuskan sambungan telepon.
“Kak ...!” Alluna memandang layar ponselnya yang menunjukkan kalau panggilannya sudah berakhir.
Alluna menarik sweeter yang tergantung di kursi kerjanya. Ia bergegas keluar untuk menemui Evan secepat mungkin.
“Eh, Van? Kebetulan banget kamu ke sini,” ucap Alluna yang melihat Evan datang saat ia akan keluar dari Galleri.
“Kenapa?” tanya Evan bingung.
“Daren barusan nelpon gue. Katanya, kita disuruh ke tempat dia minggu depan. Aku bener-bener khawatir, nih. Soalnya, Mama sama Papa juga disuruh ke sana sama dia. Aku takut dia kenapa-kenapa. Gimana kalau kita nyusul Mama dan Papa aku juga sore ini ke Singapura?” cerocos Alluna.
Evan tertawa kecil melihat sikap Alluna yang terlihat panik.
“Kok, ketawa?” dengus Alluna kesal.
“Aku udah tahu. Kita ke sana kalo aku udah balik dari Papua,” jawab Evan sambil tersenyum, tangannya menyentuh pundak Alluna agar cewek kesayangannya itu bisa menjadi lebih tenang.
“Di Papua berapa hari?” tanya Alluna.
“Lima hari.”
“Lama banget.”
“Kenapa? Kamu nggak tahan kangen?”
“Kamu sendiri?”
“Nggak tahan, sih. Gimana kalau kamu ikut aja ke Papua?”
“Ngapain di sana? Kamu kerja.”
“Aku kerja, kamu bisa jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Papua.”
“Nggak, ah. Masa kamu kerja, aku jalan-jalan sendirian. Nggak asyik banget!”
“Hehehe ... jadi, nggak mau?”
Alluna menggeleng.
“Tapi ... kalo aku ajak makan siang, mau?” tanya Evan sembari menyodorkan wajahnya.
Alluna tersenyum kecil sembari menganggukkan kepalanya. Evan langsung menggandengnya keluar dari Galleri, menuju restoran favorite mereka.
***
Alluna tidak menyangka kalau ia akan mendapat kejutan istimewa dari kakaknya di Singapura. Diam-diam, Daren memboyong kedua orang tua dan keluarga kecilnya untuk melakukan sebuah prosesi lamaran di Singapura. Alluna bahkan tidak pernah tahu siapa pacar kakaknya. Tiba-tiba saja, Daren langsung meminta kedua orang tuanya untuk melamar gadis pujaan hatinya. Gadis asal Indonesia yang tinggal menetap di Singapura.
“Kenalin, dia Selena. Calon kakak ipar kamu,” tutur Daren usai melangsungkan prosesi lamaran yang hanya dihadiri oleh keluarga saja.
Selena mengulurkan tangannya sembari tersenyum dan langsung dibalas oleh Alluna. “Alluna,” ucap Alluna menyebutkan namanya.
“Nama yang cantik, sama seperti orangnya,” puji Selena.
“Ini tunangan Alluna.” Daren menunjuk Evan yang berdiri di samping Alluna.
“Oh ya? Jadi, mereka udah lebih dulu tunangan?” tanya Selena.
“Iya, pacaran dari SMA sampe sekarang. Tapi, mereka nggak akan menikah sebelum kita menikah,” bisik Daren.
“Oh, ya? Why?”
Alluna dan Evan saling pandang sambil tersenyum kecut.
“Kita nikah tiga tahun lagi. Nggak sabar gue,” celetuk Daren.
Alluna membelalakkan matanya begitu mendengar ucapan Daren. “What!? Tiga tahun?” batinnya dalam hati.
“Sayang, kamu nggak boleh gitu sama adik kamu sendiri.” Selena melirik tajam ke arah Daren. “Yang bener, tiga bulan lagi,” bisik Selena sembari menyondongkan wajahnya ke wajah Alluna.
Mata Alluna berbinar mendengar ucapan Selena. Ia menatap Evan yang juga tersenyum bahagia. Evan merengkuh bahu Alluna dengan lembut sembari tersenyum menatap Daren. “Kasih tahu gue WO yang recomended banget menurut kalian!”
“Asyiaap!”
Pada akhirnya, semua orang pasti akan menikah. Hanya waktu saja yang membuat mereka berada di tempat dan cara yang berbeda.
Sebagian orang takut dengan pertanyaan “Kapan nikah?” karena berpikir dirinya adalah bagian dari orang yang tidak laku, tepatnya belum laku-laku. Tapi, sebagian lagi merasa bangga dengan pertanyaan tersebut karena mereka punya waktu menata masa depan mereka dengan baik. Sebab cinta adalah tentang bagaimana berjuang bersama, bukan membuat dia berjuang sendiri untuk kita.
Alluna memilih tetap bertahan dengan komitmennya untuk tidak menikah muda. Bukan karena dia tidak siap menjadi seorang ibu di usia muda. Dia hanya tidak siap jika tidak bisa memberikan masa depan yang baik untuk anak-anaknya kelak.
Sebab menikah bukan hanya soal aku cinta kamu dan kamu cinta aku. Menikah bukan soal bagaimana kita bisa hidup bersama selamanya. Ada hal lain yang akan kita perjuangkan, yakni masa depan anak-anak ... masa depan buah cintanya.
Alluna bukan hanya mencintai Evan, bukan hanya menerima kekurangan Evan saja. Dia juga harus mencintai keluarganya, menerima kelebihan dan kekurangan keluarganya. Begitu juga sebaliknya.
Menikah ... bukan hanya menyatukan dua insan yang berbeda, bukan hanya menyatukan dua hati yang saling mencintai. Menikah ... menyatukan dua keluarga yang berbeda untuk saling menyayangi dan melengkapi.
Alluna bahagia karena ia bisa mengenakan gaun pengantin bersama Evan, bukan sebagai model bayaran. Tapi, ia sungguhan memulai kehidupan barunya sebagai seorang istri. Istri dari seorang pria yang menyayangi dan mencintai dia apa adanya. Istri dari seorang pria yang tidak akan membiarkan dirinya terluka. Istri dari seorang pria yang telah berjuang memberikan masa depan yang baik untuk anak-anak mereka kelak.
“Terima kasih sudah menjadi wanita yang mencintai aku apa adanya. Yang menemani aku dalam suka dan duka. Yang selalu memberi maaf saat aku khilaf dan lupa. Yang selalu memberi aku semangat saat aku jatuh. Jadilah ibu terbaik untuk anak-anak kita!” ucap Evan lirih kemudian mengecup kening Alluna penuh kelembutan.
SELESAI ...
Terima kasih untuk kalian yang sudah berkenan membaca tulisanku ini. Semoga aku makin semangat menulis cerita-cerita terbaru.
Partner Kondangan Bab 11 : My Bestie Wedding Party
Usai liburan di Paris. Alluna menjalani aktivitas seperti biasa. Setiap hari pergi kuliah bersama Evan. Ia tidak pernah diizinkan pergi sendiri karena Evan takut kalau Joni akan kembali mendatangi Alluna saat ia masih lengah.
Joni memang sempat ditahan pihak kepolisian, tapi dia tidak dipenjara. Namun, sejak kejadian itu ia tidak pernah lagi muncul di kampus atau pun di hadapan Evan. Sama seperti Stella yang terlihat tak pernah mendekati Evan lagi. Tiba-tiba saja dia berubah, bahkan ia sekarang sudah menggandeng cowok lain. Jelas saja hal ini membuat hubungan Alluna dan Evan bisa semakin harmonis.
“Selamat siang ...!” sapa seorang cowok berjas hitam saat Alluna sedang menunggu Evan di salah satu restoran cepat saji.
“Siang,” jawab Alluna.
“Alluna, ya?”
“Iya, bener. Kok, tahu?”
“Kenalin, aku Andre,” jawab cowok itu sembari mengulurkan tangannya.
Alluna membalas uluran tangannya tanpa menyebutkan nama.
“Kemarin aku lihat kamu nyanyi di acara tunangan Rani dan Jono. Suara kamu bagus,” puji cowok itu sembari duduk di kursi yang ada di hadapan Alluna.
“Makasih.”
“Aku mau nawarin kamu jadi penyanyi untuk WO aku.”
Alluna menatap cowok yang ada di hadapannya. Ia masih belum tahu harus berbuat apa. Ia cuma berharap cowok ini segera pergi sebelum Evan datang dan melihatnya bersama cowok asing. Cowok ini lumayan tampan, sangat berpotensi membuat Evan cemburu buta.
“Oh ... ini kartu nama aku. Kalau kamu berminat, bisa hubungi aku.” Andre menyodorkan kartu nama dan meletakkannya di meja.
“Oke, aku pikirin dulu. Sekarang bisa pergi?” tanya Alluna sambil tersenyum.
“Oh, ya. I see ... lagi nunggu seseorang ya?”
Alluna mengangguk.
Andre bangkit dari tempat duduk. Ia mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Alluna. “Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik,” bisiknya sembari mengedipkan mata. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Alluna.
Alluna bernapas lega karena cowok itu segera pergi dari hadapannya.
“Siapa dia?” tanya Evan yang sudah berdiri di samping Alluna.
“Eh!? Kamu kok udah di sini? Udah dari tadi?” tanya Alluna balik.
“Baru aja. Dia siapa?” tanya Evan lagi.
“Duduk dulu. Mau aku pesenin apa?” tanya Alluna.
“Dia siapa?!”
“Nanti aku kasih tahu. Duduk dulu!” pinta Alluna sambil meraih lengan Evan agar duduk di hadapannya.
“Kamu nggak coba buat cari cowok lagi, kan?”
“Iih, kamu curigaan mulu. Nih!” Alluna menyodorkan kartu nama yang sedari tadi di mejanya.
Evan membaca kartu nama tersebut. “Oh, kamu ngomongnya nggak mau nikah tapi diam-diam nyiapain pernikahan buat kita?” tanya Evan sambil tertawa kecil.
“Idih, pede amat! Bukan, bukan aku yang mau nikah.”
“Trus? Sodara?”
“Bukan.”
“Jadi?”
“Dia nawarin aku buat jadi penyanyi di WO dia itu.”
“Oo ... terus?”
“Aku nggak tau mau nerima tawaran dia atau enggak,” jawab Alluna lesu.
Evan tertawa kecil melihat Alluna yang memasang wajah murung di hadapannya. “Kenapa bingung? Bukannya nyanyi jadi salah satu hobi yang paling kamu suka?”
“Iya, sih. Tapi, apa kamu suka aku jadi penyanyi?”
Evan tergelak. “Kamu kenapa sih? Pertanyaan kamu aneh, deh. Kita udah sering nyanyi bareng. Kenapa mesti nanya begitu?”
“Beda kalo nyanyi di rumah sama di tempat umum. Kamu nggak takut kalo nanti ada cowok lain yang godain aku, kayak si Joni?”
Evan menahan tawa mendengar ucapan Alluna. “Kayaknya, aku udah mulai kebal sama kayak gitu.”
“Jadi, aku boleh ambil tawaran nyanyi?” tanya Alluna.
Evan mengangguk.
“Makasih...!” ucap Alluna sumringah sembari menggenggam kedua tangan Evan.
“Yang penting, tetap utamain keluarga dan pacar kamu!” pinta Evan sambil tersenyum.
Alluna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Mmh ... terus rencana aku bikin usaha sepatu gimana?”
Evan menaikkan kedua alisnya. “Nanti aku bantu. Jangan ambil job nyanyi terlalu banyak!”
Alluna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
***
Alluna mulai sibuk dengan job menyanyi sekaligus menjalani kesibukan barunya memulai usaha sepatu.
“Lun, kenapa lo nggak bikin channel youtube kayak Evan? Lo kan tetep bisa nyanyi tanpa harus manggung sana-sini?” tanya Rani saat mereka sedang berkumpul di apartemen Austin.
“Iya, Lun. Lo kan bisa duet tuh sama Evan. Suara kalian bagus.”
“Mmh ... gue pikir-pikir dulu, deh.”
“Yaelah ... pake dipikir-pikir segala? Langsung eksekusi aja!” sahut Rani.
“Nggak semudah itu, Ran. Lagian konten di youtube itu lebih banyak peminatnya kalo kita bikin sensasi, ngerjain orang, pamer harta, pamer punya pacar kaya raya ...,”
“Ya udah, lo bikin kayak gitu aja. Lo kaya, Evan juga pengusaha. Lo bisa pamer barang-barang branded lo atau pamer naik jet pribadinya Evan,” celetuk Hastri.
PLETAK!
Alluna menjitak kepala Hastri. “Nggak sampe punya jet pribadi juga kali dia.”
“Yee, mana tau rezeki. Bisa aja perusahaan Evan makin besar dan dia makin kaya raya,” sahut Austin.
“Aamiin.”
“Lihat ini deh!” Austin melempar majalah bisnis ke pangkuan Alluna.
“Cowok lo jadi headline di majalah bisnis. Kayaknya dia bener-bener kerja keras akhir-akhir ini sampe bisa bikin dua anak perusahaan sekaligus,” tutur Austin.
Alluna langsung membuka majalah dan membaca berita tentang Evan Noah yang membuka dua anak perusahaan di Singapura dan Thailand. “Ah ... pacar gue emang keren!” ucap Alluna dengan mata berbunga-bunga.
“Tapi, kenapa dia belum ngelamar lo sampe sekarang? Dia udah punya semuanya. Emang nunggu apa lagi?” tanya Rani.
“Nunggu gue kelar kuliah.”
“Emang yakin kuliah lo bakal kelar?” tanya Hastri.
Alluna langsung menepuk kepala Hastri menggunakan majalah yang dipegangnya. “Enak aja lo ngomong. Ya, bakal kelar, lah,” jawab Alluna yang diiringi gelak tawa ketiga sahabatnya.
“Eh, gue punya gosip terbaru. Mau denger, nggak?” tutur Hastri.
“Gosip apaan?” tanya Rani.
“Tentang siapa?” tanya Alluna.
“Tentang gue, dong!” jawab Hastri sumringah.
Alluna dan Rani saling pandang sambil mencebik. Sementara Austin hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
“Idih, serius ini gue!”
“Iya, deh. Apa?” tanya Rani dan Alluna bersamaan.
“Bulan depan, gue mau lamaran!” ucap Hastri sambil berjingkrak kegirangan.
Alluna, Rani dan Hastri saling pandang. “SERIUS?!”
Hastri mengangguk sambil tersenyum.
“Selamat ya!” ucap ketiga sahabat Hastri dan langsung berpelukan erat layaknya teletubbies.
“Berarti tinggal kalian berdua nih yang belum ada kabar kapan mau nikah?” tanya Hastri menunjuk Alluna dan Austin.
“Gue, nunggu dia dulu. Nggak etis kalo adik nikah duluan, kan?” jawab Austin.
“Hahaha. Doain aja, semoga Evan cepet ngelamar gue! Aamiin.” ucap Alluna sambil menengadahkan kedua tangannya dan mengusapkan di wajahnya.
“Iya. Jangan kondangan mulu, dikondangin juga, dong!” canda Rani.
“Artis kondang?”
“Artis kondangan!”
“Hahaha.”
***
Seiring berjalannya waktu, hubungan Evan dan Alluna selalu menuai pertanyaan, “Kapan kalian nikah?” atau “Kapan kalian nyusul?” setiap kali menghadiri acara pernikahan teman atau keluarga.
“Van, kenapa ya setiap kali kita ke pesta atau ngumpul sama temen atau keluarga. Mereka selalu nanyain kapan kita nikah?” tanya Alluna saat ia berada di apartemen Evan.
“Kenapa? Kamu mulai nggak nyaman sama pertanyaan itu?”
Alluna hanya diam sembari menatap layar televisi yang ada di depannya. Mulutnya yang sibuk menggigit jari menunjukkan kegelisahan dalam hatinya.
“Besok, aku bakal ngomong sama orang tuaku. Supaya kita bisa menikah secepatnya.”
“Jangan, Van!”
“Terus, mau kamu gimana?”
“Aku belum pengen nikah muda.”
Evan menghela napas. “Kenapa kamu terganggu sama pertanyaan orang-orang itu?”
“Nggak.”
“Aku lihatnya begitu.”
“Enggak, Evan. Aku baik-baik aja.”
“Aku juga nggak mau orang-orang menilai kalau aku tuh nggak pernah serius sama kamu.”
“Aku tahu kamu serius.”
“Tapi kenapa kamu nggak mau aku lamar?” tanya Evan.
“Aku belum siap, Van.”
“Mau sampe kapan kamu siapnya? Sampe ada cowok lain yang datang ke kamu, bikin kamu jatuh cinta dan kamu ninggalin aku?”
“Van, kamu kok ngomongnya gitu, sih?” Alluna menatap wajah Evan yang terlihat menahan kecewa.
“Lun, aku tuh dari dulu udah ngajak kamu nikah. Bahkan dari saat aku lulus SMA. Sampai sekarang, kuliah kamu tinggal 4 semester lagi. Aku masih di sini. Masih ngajak kamu nikah dan kamu selalu nolak. Kenapa?” Suara Evan mulai meninggi.
“Aku belum siap, lagipula Daren belum nikah,” jawab Alluna.
“Soal Daren itu bukan perkara sulit, Lun. Yang sulit itu ini!” Evan menoyor dada Alluna dengan jari telunjuknya.
DEG!
Jantung Alluna terasa berhenti berdetak. Ia bergeming menatap bayangan dirinya sendiri. “Apa iya karena hatinya sendiri? Kenapa hatinya masih menolak permintaan Evan untuk menyatukan cinta mereka dalam ruang yang sejati. Sejatinya, cinta tidak akan pernah menolak apa pun. Sekalipun itu rasa sakit, cinta akan selalu menerimanya.”
“Aku belum siap,” ucap Alluna lirih.
“Ya udah, aku juga nggak maksa. Kamu juga jangan terlalu mikirin pertanyaan orang soal pernikahan. Kita senyumin aja kayak biasanya,” tutur Evan sambil tersenyum.
Alluna membalas senyuman Evan. Evan mengusap ujung kepalanya. “Satu jam lagi aku mau ketemu sama klien. Mau ikut?” tanya Evan.
“Nggak, ah. Aku capek. Mau istirahat aja,” jawab Alluna.
“Oke. Jangan ke mana-mana sampai aku pulang!” Evan masuk kamar dan keluar dalam keadaan sudah rapi.
“Aku berangkat dulu, ya!” pamit Evan sembari mengecup bibir Alluna.
“Hati-hati ya!”
Evan mengangguk, ia melangkahkan kakinya menuju pintu. Bukannya segera keluar, ia malah membalikkan tubuhnya menatap Alluna yang masih duduk di sofa. Ia berjalan menghampiri Alluna dan mengecup keningya dengan lembut.
Alluna tersenyum, bangkit dari duduknya dan menemani Evan sampai ke luar pintu apartemennya.
“Beneran nggak mau ikut?” tanya Evan lagi.
“Iya. Aku mau istirahat.”
“Ya udah. Mau dibeliin makan apa?”
Alluna menggeleng.
“Kenapa?”
“Nggak laper. Lagian, abis kamu selesaikan kerjaan, kita mau ke rumah Rani. Bantu persiapan pernikahannya besok. Makan di sana aja, deh. Aku juga kangen masakan mamanya Rani.”
“Astaga!” Evan menepuk jidatnya. “Iya. Aku lupa.” Evan meraih jemari tangan Alluna. “Aku usahain pulang lebih cepat.”
Alluna mengangguk. Evan berlalu pergi meninggalkan apartemen. Sementara Alluna memilih untuk tidur di apartemen Evan.
***
Pernikahan Rani berlangsung di Pulau Dewata, Bali. Hal ini membuat Evan dan Alluna juga akhirnya pergi ke Bali untuk menghadiri acara pernikahan Rani.
“Kenapa mereka pilih Bali?” tanya Evan saat mereka tiba di Inaya Putri Bali Resort.
“Banyak artis memilih menikah di Bali. Alasannya, karena Bali tempat yang indah dan romantis,” jawab Alluna sembari merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
“Gila aja, mereka booking kamar buat kita. Emangnya mau diajak honeymoon sekalian, ya?” Evan membuka gorden dan langsung mendapati pemandangan kolam renang di teras kamar mereka. “Berenang, yuk!” ajaknya.
“Gak, ah. Capek. Mau tidur,” sahut Alluna sembari menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal.
Evan melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Alluna. Ia berjalan perlahan mendekati ranjang Alluna, kemudian mencondongkan tubuhnya tepat di atas Alluna yang sedang berbaring. “Berenang atau gue tidurin?”
“Dua-duanya asyik,” sahut Alluna sambil tersenyum nakal.
“Udah mulai nakal, ya....” Evan langsung memeluk tubuh Alluna dan menggelitik pinggangnya sampai Alluna kelelahan tertawa.
“Udah, Van. Aku capek ketawa. Lihat ini jam berapa? Tiga jam lagi acara pemberkatan Rani dan Jono. Aku mandi.” Alluna langsung turun dari ranjang, membuka isi koper untuk mengambil peralatan mandi miliknya dan bergegas masuk ke kamar mandi.
“Kamu berenang aja dulu!” teriak Alluna.
“Oke.”
***
Acara pemberkatan pernikahan Rani dan Jono dilaksanakan di tepi pantai. Suasana yang sungguh indah dan romantis. Hanya dihadiri oleh keluarga dan sahabat-sahabat, menjadikan momen pernikahan ini terasa begitu sakral. Evan dan Alluna duduk berdampingan saat acara pemberkatan Rani dan Jono alias Jonathan Obey berlangsung.
Alluna sangat gugup, ia sempat menatap Hastri dan Austin yang juga duduk di deretan kursi yang sama. Alluna meraih tangan Evan dengan gemetar. Evan yang mengetahui hal itu, langsung memasukkan jemari tangannya ke sela-sela jemari tangan Alluna. Tangan satunya mengusap punggung tangan Alluna dengan lembut. Entah kenapa, Alluna benar-benar gugup ketika harus menyaksikan acara pernikahan yang benar-benar sakral.
Alluna menitikan air mata, tangan satunya menyentuh paha Hastri yang langsung direspon oleh sahabatnya itu. Bagi Alluna, ini adalah momen paling membahagiakan, paling mengharukan sekaligus momen di mana ia akan kehilangan banyak waktu bersama sahabatnya.
Alluna membayangkan hari-hari saat ia masih bersama dengan Rani. Sejak masa SMA, mereka menghabiskan waktu bersama. Makan bareng, bolos bareng, jalan bareng, sampai mandi bareng dalam satu kamar mandi. Itu momen yang tidak akan pernah terjadi lagi dalam hari-harinya yang akan datang. Sahabatnya telah memilih laki-laki yang akan mendampinginya dalam suka dan duka.
“Semoga kalian bahagia.” Alluna tersenyum sembari mengusap air matanya saat pemberkatan telah usai.
Tiba saat yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Acara pelemparan bouquet bunga dari sang pengantin. Kata orang, siapa yang mendapat bouquet bunga itu akan segera menyusul menjadi pengantin. Semua orang yang belum punya pasangan berkumpul dan menanti bouquet bunga itu jatuh ke tangan mereka.
Evan dan Alluna memilih tidak berkerumun, mereka hanya menyaksikan dari belakang sembari tersenyum melihat momen tersebut. Bagi Alluna, ia tidak perlu menerima bouquet bunga itu karena dia belum berkeinginan untuk menikah sebelum kakak kandungnya menikah.
“Satu ... Dua ... Tiga ...!” Rani membelakangi para tamu, ia melemparkan bouquet bunga ke arah belakang dengan kuat. Semua berteriak dan berusaha mengambil bouquet tersebut. Tak disangka kalau bouquet tersebut melayang tinggi dan jatuh tepat di genggaman Evan.
Alluna langsung menoleh ke arah Evan yang tersenyum saat mendapat bouquet bunga di tangannya. “Kita sudah coba menghindari, tapi Tuhan menakdirkan bunga ini jatuh di tanganmu. Lucu banget, sih.”
“Semoga kita benar-benar berjodoh.” Evan merangkul pundak Alluna dan mengecup pelipis kanannya. “Woii....! Doain kita cepetan nyusul!” teriak Evan penuh bahagia. Ia menarik tangan Alluna dan mengajaknya ke tepi pantai.
Rani dan Jono tersenyum bahagia menyaksikan dua sejoli yang terlihat begitu romantis bercanda tawa sembari memainkan air laut.
“Kebahagiaan hari ini bukan cuma milik pengantin, tapi milik kita semua,” ucap Hastri yang sudah berada di belakang Rani bersama Austin dan pasangan mereka.
Rani langsung merangkul dua sahabatnya penuh bahagia. Mereka berdiri menyaksikan Alluna dan Evan yang berlari-larian di bibir pantai sambil tertawa bahagia.
“Lun, pada akhirnya kita harus bahagia.” Evan meraih jemari tangan Alluna dan menggenggamnya dengan erat.
“Seperti mereka ...,” ucap Alluna sembari menyandarkan kepalanya di pundak Evan. Mereka sama-sama menatap air laut yang berkilauan terpapar sinar mentari.
((Bersambung...))
.png)

.jpeg)