Menu BacaanMu
- Perfect Hero (531)
- Puisi (121)
- My Experience (118)
- Rumah Literasi Kreatif (87)
- Novel MLB (80)
- Cerpen (71)
- Then Love (60)
- Belajar Menulis (56)
- Esai (49)
- Artikel (43)
- Puisi Akrostik (43)
- Review Buku (22)
- Review Drama (18)
- Relima Perpusnas RI (16)
- Ekonomi & Bisnis (9)
- Novel The Cakra (8)
- Wisata (8)
- Aku dan Taman Bacaku (7)
- Dasawisma (6)
- Review Aplikasi (6)
- Kumpulan Novel (5)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Opini (4)
- Pendamping Nakal (3)
- Biografi Penulis (2)
- Daily (2)
- Donasi (1)
- Dongeng (1)
- JNE (1)
- Product (1)
Tuesday, April 28, 2026
Perfect Hero Bab 531 : Mertua Kejam
“Ma, masuk dulu!” pinta Lian sambil mengajak
mamanya masuk ke dalam rumah.
“Nggak perlu!” sahut Mega ketus. Matanya
tertuju pada Bellina yang bergeming di tempatnya.
Bellina menelan ludah begitu mendapati
tatapan mata Mega yang menghunus ke arahnya.
“Kenapa? Kamu nggak mau mengakui kesalahan
mama kamu itu?” tanya Mega tanpa basa-basi.
“Ma, ini nggak ada hubungannya sama Bellina,”
jawab Lian.
“Apa!? Kamu bilang nggak ada!? Lihat! Dia
anaknya perempuan itu. Bahkan, sekarang dia sendiri nggak tahu siapa bapak
kandungnya!”
Lian menatap Bellina sejenak. Lalu, menoleh
kembali ke arah Mega. Ia tidak menyangka kalau berita tentang keluarga Bellina
begitu cepat sampai ke telinga mamanya.
“Ma, Mama jangan mudah percaya sama rumor
yang beredar di luar sana. Ini cuma salah paham,” tutur Lian.
Mega tersenyum sinis. “Salah paham? Mama
sudah cek ke rumah sakit. Tarudi beneran dirawat di sana. Parahnya lagi, mama
lihat dengan mata kepala mama sendiri kalau si Melan itu makan bareng laki-laki
lain di restoran. Kamu pikir, mama kamu ini buta, hah!?”
Lian terdiam. Ia hanya melirik Bellina yang
juga tidak bisa mengelak ucapan Mega.
“Kenapa kalian diam? Kalian nggak mau ngomong
yang sebenarnya? Mau menutupi semuanya dari mama? Supaya apa? Supaya mama nggak
tahu kalau menantu dan besan mama itu nggak becus!?”
“Ma, jangan marah-marah dulu! Semua bisa
dibicarakan baik-baik!”
“Mama nggak akan membiarkan dia dan
keluarganya merusak kehormatan keluarga kita. Lian, kamu harus ingat posisimu
saat ini! Kalau semua orang tahu, kita punya besan menjijikkan kayak gini. Apa
kata dunia!?”
“Ma, apa yang terjadi pada Tante Melan, nggak
ada hubungannya sama Bellina. Dia hanya harus menanggung perbuatan orang tua di
masa lalunya.”
Mega tersenyum sinis. “Kamu bilang nggak ada
hubungannya? Bellina ini siapa? Anaknya ‘kan? Anak yang bakal ngikutin jejak
orang tuanya. Mama mau, kamu ceraikan Bellina sekarang juga!”
“Ma, aku nggak bisa ceraikan Bellina gitu
aja. Dia istri yang harus aku sayangi dan lindungi. Apalagi, ini semua bukan
kesalahan dia.”
“Oh, oke.” Mega mengangguk-anggukkan
kepalanya. “Kamu mau nunggu istri kamu ini ketahuan selingkuh dulu, baru kamu
mau ceraikan!?”
Lian menarik napas dalam-dalam. Ia melirik
Bellina yang berdiri di hadapannya.
“Kenapa diam? Apa yang bakal kamu lakuin
kalau Bellina juga selingkuh di belakang kamu?” tanya Mega. “Kamu masih mau
belain istri kamu yang liar ini? Setiap hari, suaminya kerja keras nyari uang.
Dia kelayapan ke mana-mana pakai baju seksi. Apa yang dia cari kalau bukan
laki-laki lain? Udah jadi istri orang, masih aja gatal!” sahut Mega sambil
menatap wajah Bellina.
Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak
kayak gitu, Ma. Aku cuma ...”
“Cuma apa? Cuma nggak bisa nahan gatal kalau
berdiam diri di rumah?”
“Ma, Bellina pergi ke mana pun, aku selalu
tahu. Nggak ada yang dia tutupi dari aku.”
Mega tersenyum sinis. “Kamu bisa jamin kalau
istri kamu ini jujur, hah!?”
Lian terdiam, ia menghela napas sejenak.
Tidak tahu bagaimana harus menghadapi mamanya sendiri. Saat masih bersama Yuna,
mamanya juga menentang hubungannya dengan wanita itu.
“Kalau tahu kelakuan aslinya kayak gini, mama
nggak akan mengizinkan kamu menikahi Bellina. Dia yang setiap hari menghasut
mama dan mengatakan kalau Yuna itu bukan wanita baik-baik. Kenyataannya, dia
wanita yang baik dan pintar mengurus keluarga. Nggak liar kayak Bellina. Kalau
tahu kayak gini, lebih baik kamu nikah sama perempuan itu aja!”
“Ma, nggak perlu bahas masa lalu! Aku sudah
menikahi Bellina, baik dan buruknya akan aku terima.”
“Termasuk, kalau dia main gila sama laki-laki
lain di belakang kamu? Kamu mau terima?”
Lian melirik sejenak ke arah Bellina. Lalu,
ia menggelengkan kepalanya.
Mega tersenyum sinis sambil menatap Bellina.
“Kamu tahu, keluarga Wijaya adalah keluarga baik-baik dan terhormat. Saya nggak
mau keluarga kami jadi kotor karena kelakuan kotor kamu dan keluarga kamu itu.
Sebagai seorang ibu, saya nggak akan membiarkan siapa pun mempermainkan anak
saya!”
Bellina menatap Mega dengan mata
berkaca-kaca. Ia berpikir kalau Mega diam-diam sudah mengetahui kalau ia sering
pergi ke klub dan pernah tidur dengan pria lain.
“Mama tetap ingin, kamu menceraikan perempuan
ini!” tegas Mega sambil menunjuk Bellina dengan dagunya.
Bellina menggelengkan kepala. Ia langsung
menghampiri Mega dan berlutut di bawahnya. “Ma, jangan pisahin aku sama Lian!”
pintanya sambil menangis pilu.
PLAK ...!
Mega langsung menampar pipi Bellina yang ada
di hadapannya. “Sampai kapan pun, saya nggak akan membiarkan kamu mencoreng
nama baik keluarga kami!”
Bellina memegangi pipinya yang terasa perih.
“Ma, aku nggak ngelakuin apa pun. Aku mohon, jangan pisahkan kami!”
“Kamu lupa sama kesalahan-kesalahan yang udah
kamu buat kemarin-kemarin?” tanya Mega. “Aku sudah muak sama mulut manis kamu
yang penuh kebohongan ini!”
“Ma, aku nggak bohong! Aku bener-bener sayang
sama Lian. Tolong, Ma! Jangan paksa kami untuk bercerai!”
Mega tak menyahut, ia tetap mengangkat
dagunya, menunjukkan keangkuhannya sebagai keluarga terhormat.
“Hiks ... hiks ....hiks ...! Aku nggak mau
pisah sama Lian, Ma. Aku beneran sayang sama dia. Kami saling mencintai. Jangan
pisahkan kami! Aku minta maaf soal kelakuan mamaku. Semua ini di luar kuasaku.
Aku juga nggak mau hal ini terjadi di keluargaku.”
Mega tersenyum sinis. “Buat apa kamu minta
maaf atas nama mama kamu? Kamu sendiri, bisa setia sama Lian?”
Bellina menganggukkan kepala. “Aku akan setia
sama Lian. Nggak akan nyakiti dia, Ma.”
“Kalau memang kamu setia sama Lian, kenapa
kamu nggak mau ngasih kami keturunan? Apa artinya menantu buat kami kalau nggak
bisa memberikan keturunan untuk keluarga Wijaya?”
Bibir Bellina gemetaran saat mendengar
pertanyaan mama mertuanya. Ia tidak tahu harus bagaimana menyikapi pertanyaan
kali ini. Kalau ia mengatakan dirinya tidak bisa hamil, keluarga Wijaya
benar-benar akan menendangnya keluar begitu saja.
“Kenapa diam!?” sentak Mega.
“Ma, kami sudah berusaha. Soal kehamilan, itu
bermacam-macam. Bisa lebih cepat atau lambat. Bellina baru
saja keguguran beberapa bulan lalu. Kondisi rahimnya masih dalam pemulihan.”
Mega tersenyum sinis. “Alasan aja! Mama tetap
nggak mau percaya sama perempuan ini. Udah banyak kebohongan yang dia buat
selama ini. Kamu tinggal menunggu perempuan ini selingkuh di belakang kamu,
baru kamu akan merasakan rasanya menyesal!”
Bellina masih tertunduk sambil menangis.
Membuat Lian tidak tega melihatnya dan merengkuh tubuh Bellina agar bangkit
dari lantai.
“Ma, ini urusan rumah tanggaku. Bagaimana ke
depannya, akulah yang memutuskan, bukan mama!” tegas Lian.
Mega melebarkan kelopak matanya begitu
mendengar pembelaan dari Lian. “Kamu lebih memilih perempuan ini dibanding mama
kamu sendiri, hah!?”
“Ma, aku nggak milih siapa pun. Mama tanggung
jawabku, begitu juga dengan Bellina. Apa mama nggak bisa biarkan kami tenang
terlebih dahulu. Kami akan berusaha menyelesaikannya.”
“Kamu ...!?” Mega mendelik ke arah Lian. Ia
semakin membenci Bellina yang telah berhasil mengendalikan putera
kesayangannya.
“Ma, kejadian ini terlalu tiba-tiba untuk
Bellina. Mama kasih kesempatan untuk kami berpikir lebih dulu. Jangan membuat
suasana semakin keruh dengan opini-opini baru yang mama ciptakan!”
Mega langsung menatap tajam ke arah Lian. Ia
langsung bergegas pergi meninggalkan rumah anaknya tersebut.
Lian memeluk tubuh Bellina dan membawanya
masuk ke rumah. Ia mencoba menenangkan Bellina agar ke depannya bisa bersikap
lebih baik lagi.
((Bersambung ...))
Perfect Hero Bab 530 : Takut Ketahuan Mertua
“Li, itu si Yuna sama Yeriko!” seru Bellina
saat mereka memarkirkan mobil di depan salah satu restoran.
Lian langsung menoleh ke arah yang ditunjuk
Bellina.
“Li, bilangin ke Yuna untuk ngerahasiain apa
yang terjadi sama hari ini dari Mama Mega. Aku malu banget mau ketemu dia,”
pinta Bellina.
Lian mengangguk. Ia melepas safety belt dan
bergegas keluar dari mobil. Lian langsung melangkahkan kakinya menghampiri Yuna
yang baru saja ingin masuk ke dalam mobil suaminya.
“Ayuna ...!” panggil Lian sambil menatap
tubuh Yuna yang baru saja meraih handle pintu mobil.
Yuna langsung memutar kepalanya ke arah
sumber suara yang memanggil namanya.
Yeriko langsung menatap Lian sambil
menyandarkan satu siku tangannya ke atas mobil.
“Yer, aku bisa ngomong sama Yuna? Sebentar
aja!” pinta Lian.
“Ngomong aja, Li!” pinta Yuna sambil
tersenyum.
Lian menatap Yeriko yang memperhatikan
dirinya saat ia menatap Yuna. Tatapan suami Yuna membuat Lian kesulitan untuk
mengutarakan keinginannya.
Yeriko mengangkat kedua alis sambil menatap
Lian. “Cepet, Li! Mau ngomong apa? Kami nggak punya banyak waktu.”
Lian tersenyum kecil. Ia melangkah mendekati
Yuna. Saat Lian hanya berjarak dua meter dari tubuh Yuna, Yeriko langsung
berlari menghampiri dan merangkul istrinya.
“Jaga jarak!” pinta Yeriko sambil menatap
tajam ke arah Lian.
Lian menghela napas dan menghentikan
langkahnya. Ia menatap wajah Yuna yang sedang tertawa tanpa suara sambil
menyembunyikan wajah di ketiak Yeriko. “Yun, seharusnya aku yang ada di sana,”
batinnya.
Lian langsung mengerjapkan mata untuk
mengembalikan kesadarannya. Ia tidak ingin terus terlarut dengan khayalannya
bersama Yuna. Ia menarik napas beberapa kali untuk menata perasaannya.
“Yer, apa yang terjadi hari ini di keluarga
Bellina. Aku minta tolong untuk merahasiakannya dari siapa pun!” pinta Lian.
Yeriko hanya tersenyum sinis menanggapi
permintaan Lian.
“Terutama dari mamaku,” lanjut Lian. “Aku
nggak mau menambah kesedihan dan masalah untuk Bellina.”
Yuna menganggukkan kepala. “Aku nggak akan
ngomong ke siapa pun, Li. Kamu tenang aja!”
“Makasih, Yun ...!” ucap Lian sambil
tersenyum manis.
“Oh ... jadi ini sikap kamu ke Yuna beberapa
tahun lalu? Kamu nggak sanggup bikin pacar kamu sendiri bahagia, malah mikirin
perasaan selingkuhan kamu. Sekarang, selingkuhan kamu udah jadi istri kamu,
kamu malah merhatiin mantan pacar yang udah jadi istri orang lain?” tanya
Yeriko sambil menatap sinis ke arah Lian.
“Ay, nggak usah bahas masa lalu!” pinta Yuna
berbisik.
Yeriko tersenyum sinis. Ia tetap tidak
menyukai keberadaan Wilian yang masih memperhatikan istrinya diam-diam.
“Yer, kamu salah paham. Aku memang masih
sayang sama Yuna. Tapi, aku lebih bahagia melihat dia bahagia bersama orang
yang mencintai dia dengan tulus. Aku sadar, aku bukan pria yang pantas di sisi
Yuna.”
“Baguslah kalau kamu sadar,” sahut Yeriko.
Lian tersenyum kecut sambil menatap Yuna dan
Yeriko. “Aku tahu, kalian masih menaruh dendam sama kami karena masa lalu. Apa
yang terjadi sama Bellina hari ini, sudah setimpal dengan apa yang dia lakukan
terhadap Yuna. Aku harap, kalian bisa melepaskan Bellina dan tidak memperkeruh
masalah ini.”
Yeriko tersenyum sinis. “Hukuman yang
diterima Bellina saat ini, belum setimpal dengan kejahatan-kejahatan yang dia
perbuat selama ini.”
“Ay, udahlah. Nggak usah memperpanjang
masalah ini!” pinta Yuna berbisik. Ia tidak ingin suaminya kembali bertengkar
dengan Lian hanya karena masa lalunya. Sebab, apa yang ia jalani di masa lalu
... tidak ada hubungannya dengan Yeriko. Ia tidak ingin menjadi beban dan
masalah dalam kehidupan suaminya itu.
“Yer, aku tahu ... kamu sangat mencintai Yuna
dan tidak ingin melihat orang yang kamu cintai disakiti. Itu juga yang aku
lakukan pada istriku. Aku harap, kamu bisa dengan bijak memutuskan semuanya!”
ucap Lian sambil berbalik dan pergi meninggalkan Yuna dan Yeriko.
Yuna hanya tersenyum kecil sambil menatap
tubuh Lian yang berlalu pergi meninggalkan mereka.
“Kenapa senyum-senyum? Jatuh cinta lagi sama
dia?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.
Yuna langsung menoleh ke wajah Yeriko.
“Nggaklah. Aku seneng aja karena Lian bisa lebih peduli sama Bellina. Semoga,
dia bisa bikin Bellina jadi wanita yang baik.”
“Bukan karena masih cinta sama dia?” tanya
Yeriko menyelidik.
“Bukan, Sayangku!” jawab Yuna sambil
menangkup kedua pipi Yeriko. “Cuma kamu yang paling aku cinta di dunia ini.
Nggak ada yang lain.”
Yeriko memutar bola mata sambil tersenyum
sinis. “Kamu pasti pernah ngomong kayak gini sama mantan pacar kamu ‘kan?”
Yuna menggelengkan kepala.
“Serius!?”
“Tanya aja ke dia! Kalau kamu masih nggak
percaya.”
Yeriko tersenyum kecil. “Aku selalu percaya
sama kamu, kok. Jangan nakal ya!” pintanya sambil meletakkan telapak tangan ke
atas kepala Yuna.
Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Mereka segera masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi meninggalkan pelataran
restoran yang baru saja mereka singgahi.
Di sisi lain, Lian langsung menghampiri
Bellina yang masih duduk di dalam mobilnya.
“Gimana? Yuna udah kamu bilangin?” tanya
Bellina.
Lian menganggukkan kepala. “Udah, dia pasti
bisa menjaga rahasia, kok.”
Bellina tersenyum. Ia menggigit bibir sambil
meremas safety belt yang masih melingkar di tubuhnya. Pikirannya masih tertuju
pada mama mertuanya yang selalu menginginkan Wilian bercerai dengannya. “Kalau
aku ketahuan jalan sama cowok lain, Lian bakal ceraikan aku juga?” batinnya.
Lian memperhatikan wajah Bellina yang masih
melamun. “Bel, nggak mau turun dari mobil?”
Bellina tak menyahut. Ia masih sibuk dengan
pikirannya sendiri.
“Bel ...!” panggil Lian sambil menyentuh
lengan Bellina.
“Eh!?” Lamunan Bellina langsung buyar begitu
tangannya disentuh oleh Lian.
“Mau makan atau nggak?” tanya Lian.
Bellina menggeleng, wajahnya terlihat tak
bersemangat seperti biasanya. Banyak kekhawatiran yang menyelimuti hatinya dan
membuat ia tidak merasa lapar.
“Kenapa?”
“Kita makan di rumah aja!” pinta Bellina.
“Aku belikan makanannya dulu, ya!” tutur Lian
sambil keluar dari mobil. Ia segera memesan makanan untuk ia makan di rumah
bersama istrinya.
Beberapa menit kemudian, Bellina dan Melan
sudah kembali ke rumah mereka. Belum sampai masuk ke dalam rumah, mereka
dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita separuh baya yang mengenakan jas
putih dan rok warna putih.
Meski membelakangi keduanya, Bellina bisa
mengetahui kalau wanita itu adalah mama mertuanya. “Mama ...!?”
Mega langsung membalikkan tubuhnya menatap
Lian dan Bellina. Ia tersenyum ke arah putera dan menantunya itu. “Kalian dari
mana?” tanyanya ketus.
“Mmh ....kami dari rumah sakit, Ma,” jawab
Lian sambil menatap mamanya.
“Jengukin Si Rudi?”
Lian menganggukkan kepala. “Dia sakit apa?”
tanya Mega pura-pura tidak tahu.
“Cuma kecapean, Ma.” Bellina menimpali.
Mega tersenyum sinis. “Kamu pikir, saya nggak
tahu apa yang terjadi sama keluarga kamu?”
Bellina dan Lian saling pandang. Mereka tidak
berani mengatakan apa pun di depan Mega. Mereka khawatir akan membuat
suasana semakin buruk karena kehadiran mama Lian yang tiba-tiba dan kerap
berapi-api.
((Bersambung ...))
Perfect Hero Bab 529 : Kepedihan Hati Bellina
Bellina terduduk lemas di lantai sambil menopang dagu ke atas
lututnya. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang telah dilakukan mamanya
sendiri.
“Ma, kenapa mama tega kayak gini?” tanyanya lirih. Ia masih tidak
bisa menerima kenyataan kalau ada pria lain yang ada dalam hidup mamanya.
“Bel, maafin mama!” pinta Melan sambil menghampiri Bellina.
Bellina langsung menepis tangan Melan sebelum wanita itu berhasil
menyentuhnya. “Jangan deketin aku, Ma!”
Melan menarik tubuhnya menjauhi Bellina. Ia tahu, apa pun yang
dikatakannya saat ini, tidak akan didengarkan oleh puterinya. Ia menoleh ke
arah Lian yang berdiri di sebelah Bellina sambil termenung.
“Nak Lian ...!” panggil Melan lirih.
Lian langsung menoleh ke arah Melan. Ia juga belum bisa menerima
kenyataan kalau istrinya bukan dari keluarga Linandar. Terlebih, kenyataan masa
lalu Melan juga akan mencoreng nama baik keluarga besar mereka.
Melan menatap pilu ke arah Lian. Ia berharap kalau keluarga
Linandar akan mengampuni perbuatannya kali ini. “Li, tolong hibur Bellina!”
pinta Melan dalam hati sambil menatap wajah Lian.
Lian mengangguk kecil. Ia mengerti permintaan Melan kali ini
karena ia adalah orang terdekat Bellina saat ini.
Lonan dan Tarudi sama-sama menatap Bellina yang terduduk di
lantai. Mereka sama-sama tak berdaya sebagai seorang ayah.
“Li, bawa Bellina pulang terlebih dulu!” pinta Tarudi sambil
menatap Lian.
Lian menganggukkan kepala. Ia meraih pundak Bellina sambil
berusaha mengajaknya berdiri. “Bel, kita pulang dulu!”
Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak mau pulang sebelum tes
DNA.”
Semua orang langsung saling pandang. Mereka melihat bagaimana
Bellina sangat terpukul dengan kenyataan yang terjadi saat ini.
Tarudi menarik napas sejenak dan turun dari tempat tidurnya. Ia
tetap saja tidak tega melihat Bellina yang begitu bersedih. “Li, bantu saya
untuk mengurus tes DNA!”
Lian menganggukkan kepala. Ia bermaksud memapah Tarudi yang ingin
keluar dari kamar rawatnya.
Bellina yang melihat papanya sudah berjalan seorang diri, memilih
untuk bangkit dan menghampiri papanya itu. Mereka semua segera pergi untuk
melakukan tes DNA.
“Pa, aku sayang sama papa. Aku nggak mau jadi anak orang lain,”
batin Bellina sambil menatap Tarudi saat mereka sudah duduk di ruang tunggu.
Usai melakukan pengambilan sampel tes DNA, mereka kembali ke kamar
rawat Tarudi.
Bellina terus memapah papanya hingga naik ke atas brankar.
Sementara, Melan dan Lonan tidak kembali ke ruang rawat tersebut karena sikap
dingin Tarudi yang tidak menginginkan keduanya menampakkan diri di hadapannya.
“Hati- hati, Pa!” pinta Bellina sambil membantu papanya naik ke
atas brankar.
“Papa bisa sendiri,” tutur Tarudi sambil menepis tangan Bellina.
“Pergilah!”
Bellina menatap wajah Tarudi. “Pa, aku sayang sama papa. Aku nggak
mau jadi anak orang lain. Aku mau di samping papa terus. Aku nggak mau
ninggalin papa sendirian. Di dunia ini, papaku cuma satu ... papa Tarudi.”
Tarudi menarik napas dalam-dalam sambil membalas tatapan Bellina.
Ia tidak berani mengakui kalau Bellina adalah puteri kandungnya. Jauh dalam
lubuk hatinya, ia sangat menyayangi puterinya lebih dari apa pun. Semua hal
yang dilakukannya selama ini hanya untuk anak kesayangannya.
“Pa, aku mohon ...! Jangan benci aku karena mama. Aku juga nggak
mau ini semua terjadi,” pinta Bellina dengan mata berkaca-kaca.
Lian menatap Bellina yang begitu bersedih karena sikap Tarudi.
“Bellina benar, Pa. Dia tidak tahu apa-apa soal masa lalu mamanya. Papa tidak
seharusnya membenci Bellina. Ini bukan kesalahan dia.”
Tarudi menghela napas. “Baiklah. Hasil tes DNA juga belum keluar.
Selama belum ada kejelasan, papa tidak bisa menentukan apa pun. Sebaiknya,
kalian pulang ke rumah dan tunggu hasilnya saja. Papa mau istirahat!”
Bellina dan Lian saling pandang.
“Ayo, kita pulang dulu!” ajak Lian. “Papa harus istirahat.”
Bellina menganggukkan kepala. “Nanti sore, aku bakal ke sini lagi.
Papa mau dimasakin apa?”
Tarudi menggelengkan kepala. “Nggak perlu masakin apa pun buat
saya.”
Bellina menghela napas. Ia melirik termos sup pemberian Yuna yang
ada di atas nakas. Melihat termos itu, membuatnya merasa cemburu dengan
perhatian Yuna yang diterima begitu saja oleh papanya.
Tarudi menghela napas sambil memejamkan mata. Membuat Lian dan
Bellina akhirnya keluar dari ruangan tersebut agar ayahnya bisa beristirahat.
Bellina enggan melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat
papanya. Matanya tak lepas memandang papanya yang terbaring di atas tempat
tidur.
“Kasih waktu buat papa kamu!” bisik Lian sambil merangkul pundak
Bellina.
Bellina menganggukkan kepala. Ia menatap Lian yang tersenyum ke
arahnya. Ia sedikit tenang karena Lian tidak terpengaruh dengan kejadian hari
ini dan tetap berada di sisinya.
“Li ...!” panggil Bellina sambil menghentikan langkahnya.
“Ya.”
“Apa kamu tetap mau menerima aku kalau aku bukan anak Papa Rudi?”
tanya Bellina.
Lian hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Bellina. “Kamu
nggak ada hubungannya sama masa lalu mama kamu. Aku nggak punya alasan untuk
menolak kehadiranmu.”
Bellina tersenyum. Ia langsung memeluk tubuh Lian. “Makasih, Li
...!”
Lian menganggukkan kepala. Hatinya memang memiliki keraguan
terhadap Bellina. Namun, ia tidak akan tega menambah luka dalam hati istrinya.
Ia hanya ingin membuat Bellina terhibur, juga ingin menerima Bellina dengan
status baru yang mungkin saja akan ditentang oleh keluarga besarnya.
“Li, aku boleh minta tolong ...!”
Lian menganggukkan kepala.
“Jangan bilang ke Mama Mega soal ini! Aku takut ...”
Lian tersenyum sambil menatap wajah Bellina. “Aku nggak akan
bilang ke mama soal ini. Semua akan baik-baik aja.
“Gimana dengan Yuna?” tanya Bellina sambil menatap wajah Lian.
“Gimana kalau dia bocorin ini ke Mama Mega?”
Lian tersenyum sambil memeluk pundak Bellina. “Kamu nggak usah
khawatir! Aku akan bicara dengan Yuna untuk merahasiakan ini semua.”
Bellina tersenyum sambil menatap wajah Lian. “Makasih, Li ...! Aku
nggak tahu gimana caranya ngadepin mama kamu kalau tahu soal ini semua.”
“Aku akan berusaha melindungi kamu dari mama. Asal kamu berada di
jalan benar. Aku nggak mau, kamu seperti mama kamu juga.”
Bellina menggelengkan kepalanya. Jantungnya berdebar sangat
kencang saat teringat hubungan gelapnya dengan Arjuna. Pria muda yang tiba-tiba
masuk ke dalam kehidupannya.
“Kita pulang, sekarang!” ajak Lian.
Bellina mengangguk, ia bergegas melangkah beriringan dengan Lian,
keluar dari rumah sakit tersebut.
Di balik pintu bangsal lain, Nirma memperhatikan tubuh Bellina dan
Lian yang perlahan menjauh. Ia melangkahkan kakinya perlahan dengan mata
tertuju pada Bellina.
Braaak ...!
Nirma rak sengaja menabrak perawat yang baru saja keluar dari
kamar rawat Tarudi.
“Maaf, Suster! Saya nggak sengaja,” tutur Nirma sambil membantu
membereskan peralatan medis yang jatuh ke lantai.
“Nggak papa, Mbak,” sahut perawat itu dengan lembut.
“Oh ya, ini ruang rawat Oom Tarudi ya?” tanya Nirma.
Perawat itu menganggukkan kepala.
“Aku dari tadi dengar suara keributan di ruangan ini. Ada apa
sebenarnya?”
“Mbaknya siapa?”
“Saya keponakan Oom Rudi.”
“Oh. Mbaknya telat datang ya? Ribut masalah keluarga.”
“Masalah apa, Suster?”
“Kurang tahu, Mbak. Yang saya tangkap, istrinya pasien
berselingkuh dan anaknya sekarang jadi rebutan suami dan selingkuhannya itu.”
“Ooh ...” Nirma mengangguk-anggukkan kepala.
“Kalau mau tahu lebih jelas, langsung ditanyakan aja sama Oom-nya
Mbak!” tutur perawat tersebut sambil bergegas pergi.
Nirma tersenyum penuh kemenangan. Ia mengintip Tarudi yang sedang
tertidur dari balik kaca pintu.
“Na
... na ... na ... na ....” Nirma melangkahkan kakinya sambil bersenandung
riang. Ia menyusuri koridor rumah sakit dan berlari keluar sambil menari-nari
dengan riang gembira layaknya seorang puteri yang baru saja mendapatkan hadiah
besar di kerajaannya.
((Bersambung ...))



.png)