Menu BacaanMu
- Perfect Hero (356)
- Puisi (121)
- My Experience (118)
- Rumah Literasi Kreatif (86)
- Novel MLB (80)
- Cerpen (70)
- Then Love (57)
- Belajar Menulis (52)
- Esai (47)
- Puisi Akrostik (43)
- Artikel (42)
- Review Novel (21)
- Review Drama (18)
- Relima Perpusnas RI (16)
- Ekonomi & Bisnis (9)
- Novel The Cakra (8)
- Wisata (8)
- Aku dan Taman Bacaku (6)
- Dasawisma (6)
- Review Aplikasi (6)
- Kumpulan Novel (5)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Opini (3)
- Pendamping Nakal (3)
- Biografi Penulis (2)
- Daily (2)
- Donasi (1)
- Dongeng (1)
- Komunitas (1)
- Materi Cerdas Cermat (1)
Wednesday, February 4, 2026
Perfect Hero Bab 356 : Akhir yang Bahagia
Yeriko
melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit sambil merangkul pinggang
Yuna dengan hati-hati. Hari ini, mereka sudah membuat janji untuk bertemu
dengan dokter di rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Yuna.
“Hati-hati
...!” Yeriko langsung merapatkan tubuh Yuna saat berpapasan dengan beberapa
orang yang kebetulan lalu lalang di koridor tersebut.
Yuna
menatap Yeriko sambil tersenyum kecil. “Kamu berlebihan banget. Mereka lihat
kita kayak orang aneh. Mereka bukan ancaman buat aku.”
“Ah,
kamu ini. Aku khawatir kamu ketabrak.”
“Aku
kan udah di samping kamu. Pasti baik-baik aja.” Yuna tersenyum kecil. Ia sedikit
tidak nyaman karena merasa ada seseorang yang mengikutinya sejak tadi. “Hmm,
mungkin perasaanku aja,” batin Yuna.
Yeriko
tersenyum. Ia mengajak Yuna untuk duduk di ruang tunggu. Di tangannya, ia sudah
memegang bantal duduk. Ia meletakkan bantal tersebut di atas kursi tunggu dan
mempersilakan istrinya untuk duduk.
“Makasih
...!” ucap Yuna manja.
Yuna
merasa, sikap Yeriko terlalu berlebihan. Ia melihat ibu hamil yang lain tak ada
yang diperlakukan seistimewa itu oleh suaminya. Bahkan, suaminya lebih memilih
menemani dari kejauhan. Sedangkan, Yeriko terus menempel kepadanya. Hal ini, membuat
pipi Yuna terus menghangat.
“Ay,
kita masih ngantri? Bukannya udah buat janji?” bisik Yuna.
“Bukannya
kamu sendiri yang bilang, jangan terlalu mencolok di tempat umum?”
Yuna
meringis sambil menyandarkan dagu di bahu Yeriko.
“Bellina
dirawat di rumah sakit ini,” tutur Yeriko lirih.
“Hah!?
Dia sakit apa?” tanya Yuna.
Yeriko
menceritakan keadaan Bellina yang sebenarnya setelah ia menemukan Lian.
“Aku
nggak nyangka kalau mertuanya Bellina kejam banget. Untungnya, aku nggak jadi
nikah sama Lian, hihihi. Nggak kebayang punya mamer begitu,” tutur Yuna.
“Gimana
kalau Mama Rully yang begitu?” tanya Yeriko.
Yuna
memonyongkan bibirnya. “Jangan, dong! Aku udah terlanjur jatuh cinta sama dia
pada pandangan pertama,” jawab Yuna sambil meringis.
Yeriko
langsung menoyor kening Yuna. “Jadi, kamu lebih dulu jatuh cinta sama mamaku
daripada sama aku?”
“Hehehe.
Bukannya, harus menggenggam hati mamanya dulu supaya bisa mendapatkan hati
anaknya sepenuhnya?”
“Siapa
yang ngajarin kamu begitu?” tanya Yeriko.
“Mama
Rully.”
Yeriko
memutar bola matanya. “Kalian berdua selalu sekongkol buat nindas aku.”
“Kamu
juga selalu sekongkol sama ayah.”
“Beda.
Aku sekongkol sama ayah buat menyayangi kamu.”
“Oh
ya? Co cuwiit! Mamaciih ...!” sahut Yuna menirukan gaya balita.
Yeriko
mencubit hidung Yuna gemas.
“Ibu
Fristy Ayuna ...!” Terdengar suara seorang perawat memanggil nama Yuna. Ia
langsung bangkit dari duduknya. Diikuti Yeriko yang juga mengiringi langkahnya.
“Saya
periksa dulu ya, Bu!” tutur perawat dengan ramah. “Buku pink-nya ada?”
Yuna
mengangguk. Ia langsung menyodorkan buku pemantauan ibu hamil ke arah perawat
tersebut.
“Duduk
dulu ya, Bu!” perintah perawat tersebut sambil menunjuk kursi yang ada di
hadapannya dan mengeluarkan tensimeter.
Yeriko
dengan cepat meletakkan bantal duduk ke atas kursi.
“Perhatian
banget suaminya, Bu.” Perawat tersebut tersenyum sambil mengukur tensi Yuna.
Yuna
dan Yeriko saling pandang dan tersenyum. Yuna sedikit malu karena perhatian
Yeriko yang berlebihan. Tapi, ia juga merasa sangat bahagia.
“Tensinya
normal ya, Bu. Ada keluhan?”
Yuna
menggelengkan kepala.
“Masih
mual-mual?” tanya perawat itu lagi.
Yuna
menggelengkan kepala sambil menahan senyum dan melirik Yeriko yang berdiri di
sampingnya.
“Ditunggu
sebentar ya, Bu!” pinta perawat tersebut. “Setelah pasien keluar dari ruangan
dokter, Ibu bisa langsung masuk. Hari ini, mau USG ya?”
Yuna
menganggukkan kepala.
Beberapa
menit kemudian, Yuna mendapat giliran pemeriksaan selanjutnya. Yeriko dengan
hati-hati menemani istrinya tersebut.
“Selamat
pagi, Bu! Silakan baring dulu ya!” pinta dokter tersebut dengan ramah.
Yuna
langsung berbaring di atas brankar yang ada di dalam ruangan tersebut. Salah
seorang asisten dokter membantu menyelimuti kaki Yuna dan membuka bagian perut
Yuna yang mulai berisi.
Yuna
merasakan dingin di perutnya saat asisten dokter meneteskan doppler gel di
atasnya.
Tak
lama kemudian, dokter tersebut mengelus perut Yuna menggunakan alat USG.
Yuna
terkejut saat ia bisa mendengar suara detak jantung bayinya.
“Dok,
itu beneran anak saya?” tanya Yeriko sambil menatap layar yang menunjukkan
gambar janin dalam perut Yuna.
Dokter
tersebut menganggukkan kepala. “Detak jantungnya bagus. Sangat sehat. Embrio
berkembang dengan baik.”
“Laki-laki
atau perempuan, Dok?” tanya Yeriko bersemangat.
“Belum
kelihatan. Sepertinya, si Ade masih malu-malu kucing,” jawab dokter tersebut.
“Ah,
Dokter bisa aja,” sahut Yeriko.
Yuna
tak mengucapkan sepatah kata pun. Matanya sibuk mengamati layar yang ada di
hadapannya. Ia benar-benar tak percaya kalau dirinya akan menjadi seorang ibu.
Di perutnya, kini ada sesuatu yang hidup.
Yeriko
juga tak henti menyunggingkan senyuman di bibirnya. Matanya langsung mengerjap
dan menatap dokter tersebut saat layar yang ia amati tiba-tiba mati.
“Dok,
kenapa dimatiin?”
Dokter
tersebut tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Lihat ini saja!”
tuturnya sambil menyodorkan print out yang keluar.
Yeriko
meraih foto bayinya dari tangan dokter tersebut. Ia langsung melipat dan
menyimpan ke dalam dompetnya.
“Sehat
terus, ya! Kalau ada keluhan, langsung disampaikan saat pemeriksaan!”
Yuna
menganggukkan kepala.
Asisten
dokter membantu Yuna untuk turun dari brankar.
“Ini
udah, Dok?” tanya Yeriko.
Dokter
tersebut mengangguk sambil tersenyum.
“Dok,
saya kan masih pengen lama-lama lihat anak saya!” tutur Yeriko.
“Hush!
Nggak boleh ngomong gitu, masih banyak pasien yang antri.”
Yeriko
menghela napas. “Oke.”
Yuna
tersenyum. Ia menoleh ke arah dokter dan berkata, “terima kasih, Dok. Kami
pamit pulang dulu!”
“Hati-hati
ya! Semoga sehat selalu sampai lahiran. Diberi kesehatan dan keselamatan untuk
ibu dan bayinya.”
“Aamiin
...!”
Yuna
dan Yeriko bergegas keluar dari ruang pemeriksaan. Mereka melangkah beriringan
menyusuri koridor rumah sakit.
“Yun,
itu Lian!” Yeriko menunjuk dengan dagunya ke arah taman yang ada di rumah sakit
tersebut.
“Eh,
iya. Kita samperin, yuk!” ajak Yuna.
Yeriko
menganggukkan kepala. Mereka melangkah bersamaan menghampiri Lian dan Bellina
yang sedang bersantai di taman rumah sakit.
Yuna
tersenyum menatap kebahagiaan yang terpancar dari wajah Lian dan Bellina. Ia
sudah menduga sebelumnya kalau mereka akan memiliki akhir yang bahagia seperti
yang ia inginkan.
Di
kursi taman, tubuh Bellina menegang saat melihat Yuna dan Yeriko berjalan ke
arahnya. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi keduanya. Jika
bisa ia lakukan, ia ingin berubah menjadi debu saja. Agar tak perlu menghadapi
Yuna dan suaminya yang begitu kejam terhadap dirinya.
“Bel,
itu Yuna sama Yeri!” Lian menatap kedatangan Yuna dan suaminya.
Bellina
hanya menanggapi ucapan Lian dengan senyuman. Ia benar-benar tidak punya kata
yang tepat untuk ia ungkapkan.
Lian
langsung bangkit dari kursi dan menghampiri Yuna. “Kalian di sini juga?” sapa
Lian.
Yeriko
menganggukkan kepala. “Kebetulan, periksain kandungan istriku. Gimana keadaan
istri kamu, sudah membaik?”
Lian
menganggukkan kepala. “Makasih, Yer! Kamu sudah peduli sama kami.”
“Sama
teman, nggak perlu sungkan!” pinta Yeriko sambil menepuk bahu Lian. Namun,
matanya yang tajam tertuju pada Bellina yang masih bergeming di tempatnya.
Yuna
terus tersenyum menatap Bellina. Ia ikut bahagia karena Bellina bisa
mendapatkan kebahagiaannya. Ia harap, setelah ini Bellina tidak akan mengganggu
hidupnya lagi. Semua kejadian yang terjadi saat ini, seharusnya bisa menjadi
pelajaran yang sangat berharga untuk Bellina.
Saat
mata Bellina tepat bertemu dengan mata Yuna. Ia justru menganggap senyuman Yuna
seperti sebuah penghinaan untuknya. Ia mengira kalau Yuna datang hanya untuk
menertawakan apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Jantungnya semakin
berdegup kencang saat Yeriko juga menatap tajam ke arahnya. Ia benar-benar tak
memiliki kekuatan sedikit pun untuk menghadapi keduanya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat update bab setiap hari y...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
Perfect Hero Bab 355 : Berusaha Bertahan
Bellina
membuka matanya perlahan setelah ia tertidur selama empat puluh delapan jam di
ranjang rumah sakit.
“Lian
...!” panggil Bellina lirih. Matanya belum bisa melihat wajah Lian dengan
jelas. Samar-samar, ia melihat seorang pria sedang berdiri menatapnya. Ia
harap, pria itu adalah Wilian.
“Bel,
ini aku!” seru Lian sambil menggenggam telapak tangan Bellina. “Kamu udah
sadar?”
Bellina
mengangguk perlahan sambil tersenyum. Pandangannya semakin jelas. Ia bisa
melihat wajah Lian yang sedang menatapnya. Dunianya begitu indah ketika ia
mendapati Wilian masih berada di sampingnya. Ia pikir, Lian akan meninggalkan
dirinya untuk selamanya.
Lian
menyingkap anak rambut Bellina. Ia langsung memeluk tubuh istrinya itu.
“Maafin, aku! Nggak seharusnya aku meninggalkan kamu sendirian.”
Bellina
tersenyum sambil mengelus punggung Lian dengan lembut. “Nggak papa. Aku senang
kamu masih ada di sampingku. Aku pikir, kamu bakal ninggalin aku selamanya.”
“Aku
nggak akan ninggalin kamu!” tegas Lian. Ia tidak ingin menyesal kedua kalinya.
Ia sudah menyia-nyiakan Yuna yang dulu mencintainya dengan tulus. Kali ini, ia
tidak ingin kehilangan Bellina yang selalu menyayanginya. Ia sudah berjanji
pada dirinya sendiri untuk mencintai Bellina dengan tulus. Melupakan masa
lalunya dengan Yuna dan memulai kehidupan mereka dari awal lagi.
Bellina
menatap wajah Lian dengan mata berkaca-kaca. “Maafin, aku! Aku ngelakuin itu
semua, karena takut kehilangan kamu.”
Lian
menganggukkan kepala.
“Aku
beneran nggak membunuh anak kita. Saat itu, dokter bilang kalau bayiku sudah
mati dalam kandungan dan harus dioperasi. Saat aku jatuh dari tangga, aku nggak
tahu kalau anak kita, ternyata masih hidup. Aku nggak tahu kenapa dokter
sebelumnya mendiagnosis kalau anak aku udah mati,” jelas Bellina sambil
menangis.
“Sudahlah.
Semuanya sudah berlalu. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Kita masih bisa
melahirkan anak lagi. Nggak perlu sedih!”
Bellina
menganggukkan kepala sambil menangis. “Li, aku sayang sama kamu. Apa kamu juga
sayang sama aku?”
Lian
menganggukkan kepala.
“Aku
pikir, kamu masih terus-terusan mengejar Yuna.”
Lian
menghela napas mendengar ucapan Bellina. “Maafin aku karena selama ini selalu
mengabaikan kamu dan terus-menerus memikirkan Yuna. Sekarang, aku sadar kalau
kamu adalah cinta yang aku miliki sekarang. Yuna nggak akan pernah kembali sama
aku. Dia sudah bahagia sama orang lain. Seharusnya, kita juga bisa hidup
bahagia.”
Bellina
semakin terisak mendengar ucapan Lian. Rasa bersalahnya selama ini justru
semakin besar.
“Kamu
relakan semuanya, ya!” pinta Lian. “Biarkan sepupu kamu hidup bahagia sama
Yeriko dan kita juga bisa bahagia.”
Bellina
menganggukkan kepalanya.
“Kalau
bukan karena mereka, mungkin kita nggak akan bisa ketemu lagi,” tutur Lian
lirih sambil menundukkan kepala.
“Maksud
kamu?”
Lian
menarik napas dalam-dalam. “Kamu terkurung di dalam gudang itu sangat lama.
Andai Chandra nggak dateng nyari aku. Aku nggak mungkin kembali ke rumah dan
nolongin kamu. Aku pasti masih di sana, aku sendiri masih nggak tahu, apa aku
bisa menolong diriku sendiri.”
“Maksud
kamu?”
“Selama
tiga hari, Yeriko merintahkan Chandra buat nyari aku. Aku tahu, seharusnya
Yeriko membenci aku, Bel. Tapi, dia lebih memilih menolong kita di saat kita
sama-sama terpuruk.”
Air
mata Bellina semakin mengalir deras. “Aku udah salah, Li. Aku bener-bener
ngerasa bersalah karena selama ini udah jahat ke Yuna. Kenapa dia masih mau
peduli sama aku?”
Lian
langsung memeluk erat tubuh Bellina. “Sebenarnya, dia sayang sama kamu. Nggak
mau kamu terus-terusan terjerumus dan salah paham. Mulai sekarang, kamu
bersikap baik ke dia ya! Dia nggak akan melukai kamu.”
Bellina
menganggukkan kepala. “Aku nggak nyangka, di saat aku terpuruk kayak gini. Yang
peduli banget sama aku, justru dia. Harusnya, dia biarin aja aku mati!”
Lian
mengelus pundak Bellina dengan lembut. “Kamu tenang dulu!” pintanya. “Yeriko
dan Yuna sudah berbaik hati sama kamu. Aku merasa berhutang budi sama dia.”
“Aku
nggak tahu gimana menghadapi mereka setelah ini,” tutur Bellina lirih. Ia ingin
membenci Yeriko dan Yuna karena telah sengaja menghancurkan hidupnya dengan
mengirimkan rekaman-rekaman itu ke keluarga Wijaya. Hanya saja, keduanya juga
menjadi penyelamat untuk hidup Lian dan dirinya. Hal ini, membuat Bellina
semakin tak karuan. Ia ingin membenci, tapi juga merasa berhutang budi.
“Kamu
nggak usah khawatir. Yuna pasti maafin kamu, kok. Asal kamu beneran berubah.
Jangan menyakiti orang lain lagi!”
Bellina
menganggukkan kepala.
“Aku
panggil dokter dulu!” Lian bangkit dan bergegas memanggil dokter untuk
memeriksa keadaan Bellina.
Beberapa
menit kemudian, Lian kembali ke dalam ruangan tersebut bersama dokter yang
menangani kondisi Bellina.
Dokter
tersebut memeriksa semua kondisi kesehatan Bellina selama beberapa menit.
“Gimana
kondisi istri saya, Dok?” tanya Lian.
“Semuanya
baik-baik saja. Jaga istri Anda dengan baik!” pinta dokter tersebut.
“Kemungkinan besar, trauma psikis dia masih ada. Jika terjadi keanehan dalam
dirinya, mohon segera ditangani!”
Lian
menganggukkan kepala. “Terima kasih, Dokter!”
Dokter
tersebut menganggukkan kepala. Lian mengiringi langkah dokter tersebut keluar
dari ruangannya. Ia kembali menghampiri Bellina setelah dokter tersebut pergi.
“Bel,
kamu mau makan apa?” tanya Lian.
Bellina
menggelengkan kepala. “Aku nggak nafsu makan.”
“Jangan
menyiksa diri sendiri!” pinta Lian. “Aku belikan bubur buat kamu. Harus makan
banyak! Banyak hal yang harus kita lalui bersama. Oke?”
Bellina
tersenyum menatap Lian. Ia menganggukkan kepala.
“Aku
pergi dulu! Nggak akan lama,” pamit Lian sambil mengecup kening Bellina.
Bellina
mengangguk. Ia merasa sangat bahagia melihat Lian yang begitu perhatian
dengannya. “Andai, kamu peduli sama aku seperti ini dari dulu,” bisiknya lirih.
Bellina
memejamkan mata sejenak sambil menunggu Wilian kembali menemaninya.
Tak
berapa lama, Lian sudah kembali. Membawakan bubur hangat untuk Bellina.
“Makan,
ya!” pinta Lian. Ia membantu Bellina untuk duduk. Ia juga menyuap makanan ke
mulut Bellina penuh kasih sayang.
Bellina
terus menatap Wilian. Ia merasa sangat bahagia karena suaminya mau menemaninya
di rumah sakit. Di saat seperti ini, ia rela untuk tidak sembuh selamanya.
Asalkan, bisa bersama Lian setiap hari. Merasakan kasih sayang dan kehangatan
Lian seperti saat mereka menjalin cinta untuk pertama kalinya. Hal yang tak
pernah ia dapatkan setelah ia menikah dengan pria itu.
“Li,
makasih ya! Kamu sudah memaafkan dan menerima aku lagi.”
Lian
tersenyum menatap Bellina. “Cuma kamu yang aku miliki sekarang. Aku nggak
mungkin menyia-nyiakan itu. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu
tetap teguh mencintaiku, sedang aku sibuk mengejar cinta dari wanita lain.”
Bellina
menatap Lian. “Asal kamu berhenti mengejar Yuna. Aku akan berhenti mengganggu
hidup dia.”
Lian
menganggukkan kepala. “Aku janji, mulai saat ini ... aku akan selalu ada buat
kamu. Apa pun yang akan terjadi, seberat apa pun masalah yang kamu hadapi.
Jangan menutupi dari aku!” pinta Lian.
Bellina
menganggukkan kepala. Ia benar-benar bahagia. Ia tak menyangka kalau Lian akan
kembali ke pelukannya. Menjalani hari-hari mereka penuh kebahagiaan.
Harusnya,
Bellina bisa lebih fokus membuat Lian bahagia di sisinya. Bukannya sibuk
memikirkan cara untuk menyingkirkan Yuna. Hingga ia mengabaikan Lian yang
hatinya masih terombang-ambing dan bisa saja ... jatuh ke pelukan orang lain. Mempertahankan cintanya, jauh
lebih sulit dari mendapatkannya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat update bab setiap hari y...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
Perfect Hero Bab 354 : Keluarga yang Kacau
Sudah
tiga jam Lian menunggu Bellina di rumah sakit. Namun, istrinya itu tak kunjung
tersadar dari tidurnya. Perasaannya kini semakin tak karuan, ia merasa kecewa
juga merasa bersalah.
“Bel,
bangun ...!” bisik Lian sambil mengecup punggung tangan Bellina. Air matanya
menetes tepat di punggung tangan itu. Penyesalan Lian kali ini, benar-benar
berada di puncak.
Lian
merogoh ponsel dari saku jaketnya. Ia menempelkan ponsel tersebut kw
telinganya.
“Halo,
Pak Lian ...!” sapa seseorang di ujung sana.
“Bisa
bawakan pakaianku sama Bellina ke rumah sakit? Aku di Rumah Sakit Siloam. Kamar
VIP nomor tujuh.”
“Baik,
Pak.”
Lian
langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia memilih untuk menunggu Bellina di
rumah sakit. Ia tidak ingin kembali ke rumah. Sebab, ia pasti akan bertengkar
dengan mamanya sendiri.
Dua
puluh empat jam berlalu ...
Bellina
tak kunjung sadar. Membuat lian semakin panik.
“Dokter,
kenapa istri saya belum sadar juga?” tanya Lian saat seorang dokter masuk ke
dalam ruang rawat tersebut.
“Kondisi
tubuhnya normal. Hanya saja, kesadarannya memang belum kembali. Pak Lian tidak
perlu khawatir. Dia akan tersadar dan pulih seperti biasa. Hanya saja, waktunya
tidak bisa kami perkirakan. Bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama.”
“Dokter
yakin kalau dia akan baik-baik aja?”
Dokter
menganggukkan kepala. “Anda nggak percaya sama dokter?”
“Saya
percaya, Dok. Saya hanya takut kalau dia nggak bisa sadar lagi.”
“Nggak
perlu takut. Detak jantungnya sudah normal. Semua akan baik-baik saja,” tutur
dokter tersebut sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut
setelah memastikan kondisi kesehatan pasiennya.
Lian
kembali menatap wajah Bellina yang masih terbaring di tempat tidur. Ia kembali
duduk di samping ranjang pasien. Ia berharap, Bellina bisa sadar secepatnya.
...
“Si
Lian, bener-bener menguji kesabaranku!” tutur Mega. “Dia udah nggak mau nurut
sama Mamanya lagi.” Mega masih terus mengomel di rumahnya. Terlebih saat
mengetahui putera kesayangannya itu tidak kembali ke rumah, lebih memilih
menemani Bellina di rumah sakit.
“Sudahlah,
Ma. Sebaiknya kita tidak ikut campur urusan rumah tangga mereka. Mereka sudah
dewasa.”
“Nggak
bisa. Aku tetap nggak terima sama semua yang udah dilakukan Bellina selama ini.
Aku juga nggak mau kalau dia tetap menjadi menantu di keluarga kita. Aku mau
Wilian segera menceraikan Bellina!” tegas Mega.
Abdi
terdiam. Ia tidak ingin membuat puteranya kehilangan orang yang dicintainya.
Juga tidak ingin nama baik keluarganya tercemar karena kelakuan menantunya.
“Kalau
dia nggak mau menceraikan Bellina. Biar aku yang urus semuanya.” Mega keukeuh,
ia menginginkan puteranya itu berpisah dengan Bellina.
“Ma,
mau ke mana?” tanya Abdi.
“Mau
urus perceraian mereka!” sahut Mega. Ia melangkah menaiki anak tangga menuju
kamar Lian. Ia mencari dokumen-dokumen di kamar anaknya itu untuk mengurus
perceraian.
“Ma,
sebaiknya kita pikirkan cara lain untuk menyelesaikan ini semua. Nggak harus
membuat mereka bercerai.”
“Cara
apa lagi? Mau ngasih kesempatan ke Bellina supaya bikin malu keluarga kita
lagi? Aku nggak mau punya menantu keji kayak dia. Sekarang, dia tega bunuh
anaknya sendiri. Besok, kalau dia bunuh keluarga kita, gimana?”
Abdi
terdiam. Ia tak bisa berdebat dengan istrinya sendiri.
“Orang
kayak dia, nggak perlu dikasihani!” ucap Mega kesal.
Setelah
mendapatkan semua dokumen yang ia inginkan. Ia langsung bergegas menuju kantor
pengacara perusahaannya.
“Selamat
pagi, Bu! Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang asisten begitu melihat Mega
masuk ke kantornya.
“Bos
kamu ada?”
“Ada,
Bu.”
Mega
tak bertanya lagi. Ia langsung nyelonong masuk ke dalam ruang kerja pengacara
tersebut.
“Pak,
saya minta uruskan perceraian anak saya!” pinta Mega sambil menyodorkan map ke
hadapan pengacara tersebut.
“Cerai?”
“Iya.”
“Kenapa
bercerai?”
“Nggak
perlu banyak tanya. Aku mau mereka cerai secepatnya!” perintah Mega.
“Oke.”
Pengacara tersebut menganggukkan kepala.
“Aku
tunggu surat cerai itu secepatnya. Kalau bisa, sore ini sudah jadi.”
“Baik,
Bu. Setelah semuanya selesai, saya akan kirimkan surat perceraian ke rumah
Ibu.”
“Oke.
Saya tunggu secepatnya. Saya pulang dulu!” pamit Mega. “Terima kasih sudah
membantu.”
Pengacara
tersebut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Mega
bergegas kembali ke rumah. Ia harap, Lian bisa menceraikan Bellina secepatnya.
Ia tidak memperdulikan Bellina yang terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit.
Ia juga menutupi semua keadaan yang terjadi pada Bellina dari keluarganya.
...
“Pa,
kenapa Bellina beberapa hari ini nggak bisa dihubungi ya?” tanya Melan saat
menikmati sarapan pagi bersama suaminya.
“Sudah
telepon Mega?”
“Sudah.
Katanya, ada di rumah mereka.”
“Ya
sudahlah. Dia pasti baik-baik aja di keluarga Wijaya. Mungkin, Bellina lagi
sibuk.”
“Katanya,
dia sudah mulai masuk kerja. Apa nggak ketemu sama Papa di kantor?”
“Beberapa
hari ini, Papa lebih banyak ketemu klien di luar. Belum ada ke kantor. Nanti,
coba Papa cek ke kantor group.”
Melan
menganggukkan kepala. Ia mulai khawatir dengan keadaan Bellina semenjak
puterinya itu mengatakan kalau Yeriko mulai mengancamnya. “Apa dia lagi sibuk
menyelesaikan masalahnya dengan Yeriko ya? Mungkin, aku aja yang terlalu
khawatir,” batin Melan menenangkan dirinya.
“Oh
ya, sore ini aku mau jenguk Kak Adjie di apartemen. Kamu mau ikut?”
Melan
terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. Ia teringat kejadian beberapa
hari lalu saat Yuna menyiramnya dengan air panas. Ia tidak ingin mengatakan hal
itu kepada suaminya sendiri.
“Kenapa?”
tanya Tarudi.
“Aku
sudah ada janji ketemu sama temen arisan sore ini.”
“Oh.
Oke.”
Melan
tersenyum. “Aku mau tanya, apa kakak kamu itu nggak pernah mengungkit soal
saham perusahaan?”
Tarudi
menggelengkan kepalanya. “Ingatannya belum kembali. Dia hanya mengingat Yuna
yang masih berusia tiga belas tahun. Sepertinya, dia juga tidak mengingat
penyebab kematian istrinya. Dia nggak pernah mengungkit itu di depanku.”
“Baguslah.
Artinya, kita masih bisa menguasai perusahaan itu sepenuhnya.”
Tarudi
menganggukkan kepala. “Hanya saja, Yuna benar-benar menjadi ancaman besar.”
“Hah!?
Kenapa sama anak itu?”
“Dia
memang sudah berjanji untuk tidak mengambil alih kedudukan di perusahaan. Tapi,
dia tidak menghindari persaingan. Terlebih, suaminya itu ... semua orang tahu
siapa dia.”
“Pa,
asal kita bisa mengendalikan Yuna. Kita bisa mengendalikan Yeriko dan Adjie
sekaligus.”
“Justru
dia yang sulit untuk dikendalikan.”
“Iya
juga ya? Lebih mudah mengendalikan Bellina daripada anak itu.”
“Sudahlah.
Jangan terus-terusan melibatkan anak-anak! Mereka sudah dewasa.”
“Justru
karena semakin dewasa, semakin berbahaya buat kita. Kamu nggak tahu gimana Yuna
terus mengancam kita?”
“Ah,
kamu ini. Selalu aja begitu,” celetuk Tarudi sambil bergegas pergi dari ruang
makan tersebut.
“Pa
...! Aku serius. Jangan sampai perusahaan kita jatuh lagi ke tangan Yuna!” seru
Melan sambil menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh.
Melan
menghela napas. “Kamu udah mulai ngelawan aku juga?” gumamnya kesal.
“Ini
semua gara-gara Yuna yang suka memberontak itu. Sekarang, Rudi sama Bellina
juga mulai ngelawan sama aku.”
Melan
mulai gelisah karena orang-orang di sekitarnya, mulai sulit untuk ia kendalikan
seperti dulu lagi.
Perfect Hero Bab 353 : Laporan Chandra
“Yer,
aku udah urus si Lian. Dia udah keluar dari hotel.” Chandra langsung masuk ke
dalam ruang kerja Yeriko tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Bagus.”
“Kenapa
kamu nyuruh aku bujuk dia? Bukannya dia musuh kamu?”
“Kamu
nggak perlu tahu alasannya.”
“Punya
rencana apa lagi?” tanya Chandra.
Yeriko
mengedikkan bahunya.
Sikap
Yeriko benar-benar sulit dimengerti. Semua orang ingin menghancurkan musuhnya.
Yeriko justru menyelamatkan pria yang menjadi saingannya.
“Kamu
nggak takut kalo dia ngerebut Yuna lagi?”
Yeriko
menggelengkan kepala.
“Oh
... aku ngerti. Kamu mau bikin dia ngerasa punya hutang budi sama kamu?” tanya
Chandra.
Yeriko
tersenyum sinis menanggapi pertanyaan Chandra. “Proyek yang di Papua gimana?”
tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Dipegang
langsung sama Riyan. Aku sekarang pegang proyek di Region Satu aja.”
“Tukeran
sama Riyan?”
Chandra
menganggukkan kepala.
“Kenapa?”
“Males
aku kalo harus ngecek ke Papua. Jauh banget, Yer.”
“Ke
Eropa aja mau. Kenapa cuma ke Papua ngeluh?”
“Aku
udah nyaman sama proyek di Sumatera.”
“Aha
... aku baru ingat. Orang tua Jheni di Sumatera. Makanya, kamu pilih ngerjain
proyek yang di sana. Iya kan?”
Chandra
mengerutkan dahi. “Sejak kapan kamu punya sifat kepo kayak gini?”
Yeriko
menahan tawa. “Kamu aja yang terlalu sensitif.”
“Halah,
ketularan virus kepo-nya si Yuna.”
Yeriko
tertawa kecil. Ia bangkit dari kursi kerjanya dan menghampiri Chandra yang
duduk di sofa. “Kalau kata dia, ini bukan kepo, tapi care.”
“Hahaha.
Beneran ketularan sama dia. Dia itu kayak virus ya? Virus kepo dan cerianya itu
menular ke mana-mana.”
Yeriko
tersenyum menanggapi ucapan Chandra.
“Kamu
nggak ada keinginan untuk menikah dalam waktu dekat?” tanya Yeriko.
Chandra
langsung menatap wajah Yeriko. “Aku sama Jheni baru kenal dalam hitungan bulan.
Masih banyak hal yang harus kami sesuaikan. Aku nggak mau buru-buru, Yer.
Apalagi ... hubunganku sama keluargaku juga nggak begitu baik. Aku masih takut,
keluargaku malah akan melukai Jheni.”
“Sabar
ya! Menghadapi orang ibu tiri memang nggak mudah. Aku harap, kamu bisa
memperbaiki hubungan kamu dengan ayah kamu.”
“Gimana
dengan ayah kamu sendiri?” tanya Chandra.
Yeriko
terdiam. “Aku anggap dia udah mati. Nggak perlu dibahas!” pinta Yeriko dengan
wajah pahit.
Chandra
menganggukkan kepala. Ia sangat mengerti kalau Yeriko tak pernah mau membahas
soal ayah kandungnya sendiri. “Gimana kabar kandungannya istri kamu?” tanyanya
mengalihkan pembicaraan.
“Baik
banget. Semuanya, baik.”
“Baguslah.
Untungnya, dia strong banget. Banyak yang mau mencelakai dia. Oh ya, aku dengar
dari Riyan ... kamu ngatur kerjaan untuk Refi di Sudirman sana?” tanya Chandra.
Yeriko
menganggukkan kepala.
“Kenapa
nggak dibalikin ke Paris aja, Yer?”
“Kamu
kira aku apaan!?” sahut Yeriko.
“Yah,
kan bisa lebih tenang kalau dia jauh.”
“Kamu
bantu aku, bikin dia pergi karena keinginannya sendiri. Kalo dia nggak mau ke
sana. Sekalipun aku ngabisin duit banyak buat balikin dia ke Paris. Dia bakal
balik lagi. Ngasih saran yang bagusan dikit, Chan!”
“Refi
terlalu ambisius. Kamu sabar banget ngadepin dia.”
“Aku
nggak sabar! Istriku aja yang kelewat baik. Kalau bukan karena Yuna. Aku udah
jadi manusia paling keji di dunia. Aku udah muak banget ngadepin Refi.”
“Jangan
terlalu benci gitu! Ntar kamu cinta lagi sama dia.”
“Keparat,
kamu!”
“Hahaha.”
“Oh
ya, ini udah bulan Agustus. Kita bikin perayaan apa buat memperingati Indonesia
Merdeka?” tanya Yeriko.
“Tumben
kamu nanyain?” tanya Chandra sambil menatap wajah Yeriko. “Biasanya, kamu nggak
peduli sama kegiatan tahunan perusahaan. Mau gabung sama acara karyawan?”
Yeriko
menggelengkan kepala. “Bikin acara untuk kita-kita aja. Kayak biasa.”
“Oh.
Kirain mau berbaur sama karyawan perusahaan.”
“Mmh
... kalo menurut kamu, Yuna bakal suka yang mana? Acara bareng keluarga atau
sama karyawan perusahaan?”
“Dia
nggak terlalu suka keramaian kan? Lebih baik ikut acara keluarga aja, Yer. Aku
khawatir juga sama keamanan dia di kerumunan banyak orang kayak gitu.”
Yeriko
mengangguk-anggukkan kepala. “Bener juga, sih.”
“Nanti
aku diskusi sama Lutfi. Kalo dia belum balik, biar aku sama Riyan yang urus.”
Yeriko
manggut-manggut.
“Mau
di rumah kamu atau di rumah kakek?”
“Di
rumahku aja. Kakek sama semua ajudannya pasti ngerayain kemerdekaan di Kodam.”
“Iya
juga, sih. Ya udah, ntar aku atur sama Riyan.”
“Riyan
nggak ikutan urus acara kantor ‘kan?”
Chandra
menggelengkan kepala. “Udah diurus semua sama HR Department.”
“Oke.
Oh ya, satu lagi. Bisa ke panti asuhan minggu ini?”
“Biasanya,
kamu nyuruh Riyan ke sana.”
“Aku
mau bikin pengajian di panti aja. Syukuran kandungannya Yuna.”
“Oh.
Mulai alim?”
“Nggak
usah ngolok!” dengus Yeriko.
“Aku
nggak ngolok, cuma nanya.”
“Sama
aja. Mukamu songong!”
Chandra
tertawa kecil. “Aku juga udah lama nggak lihat anak-anakmu di sana. Rencananya
mau hari apa?”
“Sabtu
sore, malam Minggu.”
“Abis
dari panti, ke Club?” goda Chandra.
Yeriko
langsung menendang kaki Chandra.
“Aw
...!” seru Chandra. “Kamu kan biasanya gitu.”
“Biar
imbang, Chan.”
Chandra
terkekeh menatap wajah Yeriko. “Malaikat sampe bingung nyatat amal kebaikan
sama dosamu, Yer. Habis mabuk, masih aja ingat sholat!”
“Daripada
nggak ingat sama sekali?”
“Hmm,
iya juga sih. Banyak juga orang yang nggak pernah mabuk, nggak ingat sholat
juga. Hahaha.”
“Aku
nggak pernah mabuk kalo bukan karena kalian yang pengaruhi.”
“Hah!?
Nggak kebalik? Kamu yang paling kuat minum!” sahut Chandra.
“Bagian
dari pertahanan diri.”
“Ngeles
aja!”
Yeriko
terkekeh.
Chandra
tersenyum menatap Yeriko. Pria yang selalu menyembunyikan kebaikannya di depan
semua orang. Semua pesaing bisnisnya menganggap Yeriko sangat berbahaya.
Membuat Yeriko terlihat seperti bos paling jahat di seluruh negeri. Tak banyak
yang melihat kalau Yeriko adalah pria yang penyayang. Sangat menyayangi
keluarga, teman-teman terdekatnya, juga orang-orang di perusahaannya.
“Makasih
ya, Yer!”
“Kenapa
tiba-tiba ngomong makasih? Kerasukan?” tanya Yeriko.
Chandra
tersenyum kecil. “Kalau bukan karena kamu. Aku nggak akan jadi seperti ini.”
Yeriko
menepuk-nepuk bahu Chandra. “Laki-laki nggak boleh mellow gini!” pintanya
sambil tersenyum.
Chandra
tersenyum kecil. Baginya, Yeriko adalah satu-satunya teman baik yang ia miliki.
Setiap ia dalam masalah, Yeriko selalu menolongnya. Bahkan saat ini ... Yeriko
diam-diam menolong musuhnya sendiri.
“Heh!?
Malah ngelamun?” Yeriko menepuk keras bahu Chandra.
Chandra
tersenyum kecil. “Ya udah, aku balik dulu!” pamit Chandra. “Masih banyak
kerjaan.” Ia bergegas keluar dari ruang kerja Yeriko.
“Oke.
Thanks ya!” seru Yeriko. Ia tersenyum menatap kepergian Chandra.
Yeriko
merasa hidupnya sangat beruntung. Ia memiliki seorang istri yang menyayanginya.
Keluarga yang begitu hangat, juga teman-teman yang peduli terhadapnya.




