Menu BacaanMu
- Perfect Hero (534)
- Puisi (121)
- My Experience (118)
- Rumah Literasi Kreatif (87)
- Novel MLB (80)
- Cerpen (72)
- Then Love (60)
- Belajar Menulis (56)
- Esai (49)
- Artikel (43)
- Puisi Akrostik (43)
- Review Buku (22)
- Relima Perpusnas RI (18)
- Review Drama (18)
- Ekonomi & Bisnis (9)
- Novel The Cakra (8)
- Wisata (8)
- Aku dan Taman Bacaku (7)
- Dasawisma (6)
- Review Aplikasi (6)
- Kumpulan Novel (5)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Opini (4)
- Daily (3)
- Pendamping Nakal (3)
- Biografi Penulis (2)
- Donasi (1)
- Dongeng (1)
- JNE (1)
- Product (1)
Saturday, May 23, 2026
Tuesday, May 19, 2026
Pengalaman Mengikuti Bimtek Relima 2026 Hari Pertama, 19 Mei 2026
Fokus utama Relima bukan sekadar kegiatan membaca buku, tetapi juga mengadvokasi kegiatan literasi, membangun jejaring dengan pemerintah daerah, mengadakan kegiatan literasi masyarakat, pendampingan komunitas, hingga penguatan perpustakaan berbasis inklusi sosial.
Tidak hanya itu, Relima juga dituntut untuk memenuhi capaian atau target yang telah ditentukan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Relima dianggap berhasil jika capaian kinerja bisa dipenuhi 100%.
Tidak hanya itu, Relima juga memiliki banyak tugas dan kegiatan untuk menjaga nyala api literasi tetap menyala dan memiliki program yang berkelanjutan. Sehingga, ketika kontrak Relima sudah selesai, Relima tetap bisa bergerak dan berdampak di masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan.
Aku berharap, program Relima ini bisa terus berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya agar buku-buku di taman baca dan perpustakaan bisa tetap hidup dan menghidupkan.
Juknis Relima Tahun 2026 dapat dilihat dari link resmi Perpusnas RI berikut ini: https://linktr.ee/InfoRelima2026Monday, May 18, 2026
Launching Relima Perpusnas RI Tahun 2026, Selamat Bertugas, Semoga Bermanfaat!
Menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional adalah mimpi kecil yang pernah aku ukir beberapa tahun lalu. Sejak tahun 2017, aku sudah aktif menulis bersama sebuah komunitas menulis. Saat itu, banyak hal yang aku lakukan agar aku bisa terus berlatih dan belajar menulis lebih baik lagi. Sebab, aku tidak mengerti apa pun tentang dunia kepenulisan saat itu.
Setelah belajar banyak di komunitas, aku mulai melangkah ke tempat lain untuk mengasah kemampuan menulis. Menjejaki beberapa platform menulis online.
Pertama kali menulis, tidak ada yang berkenan membaca tulisanku. Mungkin, hanya aku sendiri yang membacanya setelah dirilis selama beberapa minggu atau beberapa bulan. Tapi aku tetap menulis hingga suatu hari tulisanku dilirik oleh editor sebuah platform online. Dari situ, ilmu kepenulisanku terus berkembang karena editor selalu memberikan ilmu, materi dan tantangan baru dalam dunia kepenulisan.
Ada 2 tempat yang terasa begitu sulit untuk aku masuki, salah satunya adalah Perpusnas RI. Bagiku, tidak semua penulis, tulisannya bisa diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional. Tulisan-tulisan yang diterbitkan oleh Perpusnas adalah tulisan yang berkualitas tinggi. Aku ingin tulisanku bisa diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional, tapi aku selalu merasa "tidak mungkin", sebab keinginan itu terlalu tinggi.
Ternyata istilah "tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini" benar-benar ada. Tahun 2025, aku berhasil menjadi bagian dari Perpusnas RI melalui program Relima Perpusnas RI 2025. Tentunya tidak mudah untuk bisa menjadi bagian dari Perpusnas RI. Kita wajib mengirimkan esai tulisan kita agar bisa lolos kurasi.
Di akhir pengabdian, perasaanku tak karuan. Terlebih dengan kebijakan pemerintah tentang efisiensi. Perpustakaan Nasional RI juga tak luput dari kebijakan efisiensi anggaran. Saat itu, semangatku mulai meredup. Bagaimana kita yang hanya masyarakat biasa, bisa bergerak jika stakeholder penting atau pemangku kepentingan saja tidak berdaya dan tidak mampu membuat kami menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Kemudian, 31 Maret 2025, aku mendapatkan kabar gembira tentang keberlanjutan program Relima. Admin Perpusnas RI yang baru, memintaku untuk mengirimkan esai baru sebelum tanggal 5 April 2026. Aku tidak lagi diminta persyaratan administrasi karena sudah lolos administrasi Relima 2025. Tapi aku wajib mengirimkan esai baru tentang perjalanan Relima tahun sebelumnya.
Esai berjudul "Relima Sebagai Role Model Literasi Kesejahteraan" membawaku lolos kembali menjadi Relima Tahun 2026.
Sebenarnya, aku ingin vakum sementara dari kegiatan literasi karena aku sedang hamil anak ke-3. Aku khawatir tidak bisa memaksimalkan tugasku sebagai Relima karena akan repot dengan bayi baru. Tapi kemudian, kawanku memberi semangat untuk terus berlanjut. Aku juga khawatir jika Perpusnas RI tidak akan lagi percaya padaku jika aku sendiri menjadikan "kehamilan" ini sebagai rintangan yang tidak bisa aku takhlukan.
Selain launching program Relima Tahun 2026, juga ada kegiatan pengukuhan Duta Baca Indonesia tahun 2026. Mas Gol A Gong masih dipercaya oleh Perpusnas RI untuk menjadi Duta Baca Indonesia tahun ini. Program Safari Literasi yang beliau canangkan, memiliki dampak besar bagi perkembangan literasi di Indonesia.
Tuesday, May 12, 2026
Perfect Hero Bab 534 : Undangan Pesta Balas Dendam
“Yan, besok kamu sibuk, nggak?” tanya Rullyta yang
tiba-tiba sudah duduk di samping Yana saat wanita itu sedang bersantai di
halaman belakang rumahnya.
“Lagi nggak ada agenda.
Kenapa?” tanya Yana.
“Aku kesel banget sama
sepupunya Yuna itu. Mau ngasih pelajaran secepatnya ke dia. Kamu tahu, anak
menantuku dibikin bengkak wajahnya gara-gara tamparan dari dia. Aku heran sama
Yuna, dia itu masih aja baik sama keluarganya yang jahat itu,” tutur Rullyta
dengan nada berapi-api.
“Kalau ada ikatan saudara,
memang seperti itu. Walau sering berantem, ntar baik lagi. Anak-anakku juga
sering begitu.”
“Ini bukan berantem biasa,
Yan. Yuna sampai bengkak begitu mukanya. Tega banget. Aku harus balas perlakuan
mereka ke anak menantuku. Dia pikir, kami mau diam aja diperlakukan seperti
ini?”
“Apa rencana kamu?” tanya
Yana.
“Aku mau balas dendam ke anak
itu. Dia harus tahu, dia lagi berhadapan dengan siapa saat ini. Aku mau buat
pesta teh.”
“Boleh juga.”
“Kamu undang si Mega itu.
Harus bawa anak menantunya ke pesta kali ini!”
“Gampang. Aku juga bakal
undang istri orang-orang penting di kota ini. Aku yakin, akan lebih
menyenangkan kalau mereka semua menjadi saksi.”
Rullyta mengangguk-anggukkan
kepala. “Mereka berdua harus tahu sedang berhadapan dengan siapa. Dia pikir,
aku bakal diam aja lihat anak menantuku disiksa sama saudaranya sendiri?”
Yana tersenyum sambil menatap
Rullyta. Mereka mulai membicarakan persiapan dan rencana yang akan mereka buat
pada pesta teh kali ini.
...
Keesokan harinya ...
“Permisi, Nyonya ...!” sapa
seorang pelayan sambil menghampiri Mega yang sedang bersantai di balkon
rumahnya.
“Ya, ada apa?”
“Ada yang ngantar undangan,”
jawab pelayan tersebut sambil menyodorkan kertas undangan ke arah Mega.
“Makasih, ya!” ucap Mega
sambil meraih kertas undangan tersebut. Ia langsung membuka undangan itu dan
membacanya.
“Cuma orang-orang penting
yang datang ke perjamuan istri walikota, aku harus datang dengan penampilan
yang paling baik. Di sana, pasti banyak istri pejabat dan pengusaha besar di
kota ini,” tutur Mega sambil tersenyum bahagia.
Mega menghela napas sambil
bangkit dari tempat duduknya. Baru saja ingin melangkah masuk, ponselnya
tiba-tiba berdering.
Senyuman di bibir Mega
mengembang begitu ia melihat nama istri walikota terpampang di layar ponselnya.
“Halo ...!” sapa Mega begitu
ia menjawab panggilan telepon dari Yana.
“Halo, apa kabar?” sapa Yana.
“Baik, Yan. Gimana kabar
kamu?”
“Alhamdulillah, baik.
Undangan dari aku, sudah sampai?”
“Sudah, Yan. Baru aja sampai
ke tanganku.”
“Bisa datang?”
“Bisa, dong.”
“Bawa menantu kamu ya!”
“Menantu?”
“Iya.”
“Mmh ... oke. Aku bakal bawa
dia.”
“Iya. Harus dibawa dong,
menantu kamu yang cantik itu.”
“Siap, siap!”
“Oke. Aku tutup teleponnya
ya! Masih mau telepon tamu undangan yang lain.”
“Iya.”
Mega tersenyum bahagia begitu
Yana menutup panggilan teleponnya. Namun, senyumnya hilang begitu ia mengingat
wajah Bellina. Ia enggan membawa Bellina pergi ke pesta itu.
“Huft, kenapa harus bawa anak
itu?” celetuknya. Tapi, ia tetap menekan nomor ponsel Bellina dan mengajaknya
pergi ke perjamuan teh kali ini.
Mega sangat menyukai teh, ia
dan wanita-wanita sosialitanya, seringkali menikmati aneka teh segar dari
beberapa jenis daun teh yang ada di dunia. Di perjamuan teh kali ini, istri
walikota akan menyajikan aneka jenis daun teh dari berbagai negara. Ini bukan
pertama kalinya ia pergi ke jamuan teh, sehingga ia sangat antusias untuk hadir
di antara ibu-ibu penikmat teh terbaik di dunia.
...
“Satria ...!” teriak Yana
sambil menengadahkan kepalanya ke lantai atas.
“Iya, Ma. Kenapa?” sahut
Satria.
“Tolongin Mama sebentar!”
Satria bergegas keluar dari
kamar dan menuruni anak tangga. Ia menghampiri mamanya yang sudah berdiri di
bawah anak tangga. “Ada apa?”
“Mama mau undang temen-temen
mama menikmati perjamuan teh hari ini.”
“Terus? Aku disuruh beli teh
lagi?” tanya Satria sambil mengenakan kaos lorengnya.
“Bukan. Mama mau, kamu jemput
Yuna ya!”
“Yuna? Siapa lagi? Oh ...
Mama bikin pesta kayak gini, mau nyariin aku jodoh? Aku nggak mau!” sahut
Satria sambil berbalik dan menaiki anak tangga kembali ke kamarnya.
“Hei, mama belum selesai
ngomong. Kamu main pergi aja!”
Satria menghentikan
langkahnya. “Ma, Satria nggak mau dijodohin! Aku bisa cari istri sendiri.
Ganteng gini, pakai acara jodoh-jodohan segala!”
“Kamu itu, dengerin mama
dulu! Jangan nyerocos terus! Mama nyuruh kamu jemput si Yuna, istrinya Yeri.
Bukan mau jodohin kamu.”
“Astaga! Istrinya Yeri? Kakak
Ipar Kecil yang cantik dan baik hati itu?” tanya Satria sambil menatap Yana. Ia
bergegas menuruni anak tangga kembali.
“Iya. Yeri lagi sibuk, nggak
bisa antar. Jadi, kamu jemput dia! Mama sudah telepon si Yeri. Dia minta tolong
kamu jemputin.”
“Yes! Bisa berduaan sama
Kakak Ipar Kecil,” tutur Satria sambil mencolek dagu mamanya.
Yana mengernyitkan dahi
sambil menatap Satria. “Eh, ingat! Dia istrinya sahabat kamu sendiri. Mau
digodain!?”
“Hahaha. Bercanda, Ma. Yeriko
itu cemburunya ngalah-ngalahin erupsi Merapi. Aku bisa panas-panasin dia. Aku
ajak Kakak Ipar Kecil foto selfie bareng di mobil. Biar jenggotnya dia kebakar!
Eh, dia nggak punya jenggot. Rambutnya aja deh yang kebakar. Biar otaknya
mateng! Hahaha.”
“Kamu ini ... senang banget
ngerjain temen sendiri,” tutur Yana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Siapa suruh cemburuan banget
jadi laki-laki. Lagian, si Yuna juga cantiknya kebangetan. Kalau ketemu sama
aku duluan, aku yang nikahin dia!” ucap Satria sambil mencomot roti bakar yang
ada di atas meja makan dan melahapnya.
“Sat, jangan dibiasakan makan
sambil jalan!” tegur Yana. “Kayak sapi aja.”
Satria menahan tawa sambil
menatap wajah mamanya. “Ma, manusia itu paling pintar kalau bertingkah seperti
binatang,” sahutnya dengan mulut penuh roti.
“Sama kayak kamu, pintar
berdalih kalau dikasih tahu sama orang tua,” tutur Yana sambil menatap wajah
puteranya.
Satria terkekeh. “Ini ‘kan
hasil didikan mama,” celetuknya.
Yana melebarkan kelopak
matanya.
Satria meringis menanggapi
raut wajah mamanya yang menyimpan kemarahan. “Jangan marah-marah, Ma! Ntar
cantiknya ilang. Aku jemput Kakak Ipar, sekarang. Pakai mobil yang mana?”
“Terserah mau pakai mobil
mana!”
“Mobilnya kakak aku pakai
ya!”
“Kenapa nggak pakai mobil
kamu sendiri?”
“Kurang nyaman. Bagusan mobil
kakak. Kuncinya mana, Ma?”
“Cari di sana!” jawab Yana
sambil menunjuk sudut ruangan, tempat menggantung kunci kendaraan dan
kunci-kunci rumahnya. “Panasin dulu! Kakakmu sudah lama nggak pakai mobilnya.”
“Keenakan di luar negeri,
nggak ingat pulang,” celetuk Satria sambil meraih kunci mobil yang tergantung
di tempatnya dan bergegas melangkah menuju garasi.
Yana tersenyum sambil
menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah puteranya. Meski disegani di luar
sana, Satria tetaplah menjadi anak yang sederhana dan sangat berisik baginya.
((Bersambung
...))
Monday, May 4, 2026
Perfect Hero Bab 533 : Kesayangan Mertua
“Yun, kamu lagi sibuk nggak?” tanya Bellina.
“Nggak terlalu. Kenapa?” tanya Yuna.
“Aku pengen ngajak kamu keluar, cari angin sambil cerita-cerita. Aku butuh
temen curhat, Yun. Please ...!”
Yuna menggigit bibirnya. “Aku nggak bisa jalan keluar, Bel. Cerita di sini
aja!” pintanya.
Bellina menghela napas. “Sekali aja, Yun. Nggak jauh, kok. Di sekitaran
sini aja. Di deket rumah kamu ini ada danau kecil ‘kan? Ada hal yang mau aku
bicarakan, berdua aja.”
Yuna menggelengkan kepala. “Bicarakan di sini aja, Bel!”
Bellina menatap kesal ke arah Yuna. “Kenapa? Kamu nggak berani ngadepin aku
sendirian!?”
Yuna langsung menatap wajah Bellina. Ia mulai menyadari kalau kedatangan
Bellina kali ini bukan bermaksud baik.
Bellina tersenyum sinis. Penolakan dari Yuna berhasil menyulut amarahnya
kali ini. “Yun, kalau emang kamu punya nyali, nggak perlu bersembunyi di balik
suami kamu dan orang-orangnya!”
“Bel, banyak hal yang sudah terjadi sama kamu. Tapi, kamu masih aja nggak
mau berubah. Kenapa masih aja seperti ini?”
“Karena kamu yang bikin aku kayak gini, Yun!” seru Bellina sambil menatap
kesal ke arah Yuna.
“Aku nggak ngelakuin apa-apa. Kamunya aja yang lebih suka menumpahkan
kekesalanmu ke aku. Kenapa? Nggak punya tempat pelampiasan yang lain?”
Braak ...!
Bellina langsung memukul meja begitu mendengar kalimat pertanyaan yang
keluar dari mulut Yuna. “Kamu nggak usah naif, Yun! Nggak usah pura-pura baik
di depan semua orang. Aku tahu banget kelakuan busuk kamu ini. Kamu cuma
pura-pura baik buat menarik simpati semua orang.”
Yuna menarik napas dalam-dalam. “Kumat lagi ini orang,” batinnya tanpa
menatap wajah Bellina.
“Kamu kan yang ngadu ke Mama Mega soal hubungan mamaku dengan laki-laki
lain? Kamu yang bocorin semuanya ‘kan?”
Yuna mengerutkan kening sambil menggelengkan kepala. “Aku nggak ada ketemu
sama Tante Mega. Gimana aku bisa ngomong sama dia?”
“Nggak usah membela diri terus, Yun! Aku tahu banget kelakuan busuk kamu
ini. Cuma kamu dan Yeriko yang ada di sana tadi pagi. Nggak mungkin ada orang
lain bisa tahu masalah ini kalau bukan mulut lemes kamu ini!”
“Aku nggak ada ngomong ke siapa-siapa.”
PLAK ...!
Bellina langsung menampar wajah Yuna sekuatnya. “BOHONG!”
Yuna langsung memegangi pipinya yang terasa sangat perih. “Kamu ...!?
Dateng ke sini cuma mau ngajak aku berantem!?”
Bibi War langsung keluar dari dalam rumah begitu mendengar Yuna dan Bellina
saling berteriak. “Ada apa ini?”
Yuna langsung bangkit dari tempat duduknya. “Usir dia dari sini, Bi!”
perintahnya sambil bergegas pergi.
Bellina tak gentar menghadapi Yuna. Amarahnya semakin tersulut dan berlari
menghampiri Yuna untuk menyerangnya.
“Kamu mau apa?” tanya Bibi War sambil menahan tubuh Bellina.
“Bibi nggak usah ikut campur urusan kami!” sentak Bellina sambil mendorong
tubuh Bibi War hingga tersungkur ke lantai.
PLAK ...!
Yuna dengan cepat berbalik dan langsung menampar Bellina. Tangan satunya,
berusaha melindungi anak yang ada di dalam perutnya.
“Gila kamu, Bel!” seru Yuna.Ia menyandarkan punggungnya ke dinding dan
mendorong tubuh Bellina hingga tersungkur ke lantai.
“Kamu yang gila, Yun!” seru Bellina. “Kalau bukan karena kamu, hidupku
nggak akan menderita kayak gini!”
“Aku nggak ngelakuin apa-apa ke kamu. Semua yang terjadi sama kamu, itu
balasan yang setimpal buat semua kejahatan kamu selama ini,” sahut Yuna tak mau
kalah.
Bibi War berusaha melindungi Yuna kembali dari serangan Bellina yang sudah
bangkit dari lantai.
“Kamu lupa sama semua yang udah kamu buat ke aku, hah!? Kamu udah bunuh
anak aku! Kamu udah ngerebut perhatian suami aku! Sekarang, kamu mau bikin aku
terusir dari keluarga Wijaya, hah!?”
“Apa yang terjadi sama kamu dan keluarga Wijaya. Itu bukan urusanku!” sahut
Yuna.
“Halah ... nggak usah pura-pura nggak tahu. Kamu yang ngomong ke mamanya
Lian soal kejadian hari ini ‘kan? Supaya aku diusir dari keluarga Wijaya. Kamu
masih nggak puas lihat hidup aku menderita!?” seru Bellina sambil mendorong
pundak Yuna.
Bibi War langsung menahan Bellina agar tidak mendekati majikannya itu.
“Bel, kalau kamu sekarang menderita. Itu karena ulah kamu sendiri. Nggak
ada hubungannya sama aku!” sahut Yuna kesal.
“Kamu yang udah ngadu ke Mama Mega soal mamaku. Masih nggak mau ngaku!?”
sentak Bellina. Ia menatap perut Yuna penuh kebencian.
“Pak Satpam ...!” seru Bibi War.
“Aku nggak ada ngomong apa pun ke Tante Mega. Kenapa kamu masih aja
ngotot!?” balas Yuna.
“Halah, aku nggak percaya!” seru Bellina. Ia berusaha menyerang Yuna
kembali. Namun, gerakan tubuhnya sudah ditahan oleh satpam yang sudah ada di
belakangnya.
“Awas kamu, Yun! Kalau sampai aku dikeluarkan dari keluarga Wijaya. Kamu
adalah orang paling pertama yang aku mintai pertanggungjawaban!” teriak Bellina
sambil berusaha melepaskan diri dari tangan satpam yang menyeretnya.
Yuna menarik napas dalam-dalam sambil memegangi perutnya. Ia tidak ingin
siapa pun melukai anaknya, terutama Bellina.
“Mbak Yuna, nggak papa?” tanya Bibi War. Ia merasa bersalah karena tidak
mendampingi Yuna sejak awal.
“Nggak papa, Bi.”
“Duduk dulu!” pinta Bibi War sambil memapah Yuna kembali ke kursi. “Bibi
ambilkan air hangat dulu.”
Yuna mengangguk dan langsung duduk di kursinya. Pandangannya beralih pada
mobil Rullyta yang kembali masuk ke pelataran, diikuti Lamborghini biru di
belakangnya.
“Mama? Kenapa balik lagi?” gumam Yuna sambil menutupi pipinya yang terasa
sakit karena tamparan keras yang ia terima dari Bellina.
Rullyta dan Yeriko sama-sama keluar dari mobil dan melangkah menghampiri
Yuna.
“Mama? Kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan?” tanya Yuna sambil menopang
pipinya. Ia tersenyum semanis mungkin agar mama mertua dan suaminya tidak
melihat luka di pipinya.
“Iya, mama mau ambil ...” Ucapan Rullyta terhenti saat melihat Bibi War
keluar sambil membawa gelas dan baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil
di tangannya.
“Ada apa ini?” tanya Rullyta.
Bibi War menoleh
ke arah Yuna.
Yeriko langsung menghampiri Yuna begitu ia menyadari sebelah mata Yuna
membengkak. “Kamu kenapa?” tanyanya sambil menangkap lengan Yuna.
“Nggak papa,” jawab Yuna sambil meringis.
“Buka tangannya!” perintah Yeriko sambil menarik lengan Yuna.
Yuna berusaha mempertahankan tangannya. Ia tidak ingin membuat suami dan
mama mertuanya menjadi cemas karena hal ini.
“BUKA!” seru Yeriko kesal.
Yuna tersenyum kecut. Ia menurunkan tangannya perlahan. Pipinya yang merah
dan membengkak tanpa ia sadari, membuat Yeriko panik.
“Kenapa bisa kayak gini?” tanya Yeriko. “Bi, cepet bawa sini airnya!”
Bibi War mengangguk. Ia segera memberikan baskom berisi air hangat itu ke
tangan Yeriko, beserta handuk kecil yang dibawanya. “Ini ... diminum dulu,
Mbak!” tutur Bibi War sambil menyodorkan air hangat ke arah Yuna.
Yuna menganggukkan kepala. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha
menstabilkan perasaannya sambil menyesap air hangat yang dibawakan Bibi War.
“Mana si Bellina? Ini pasti perbuatan dia ‘kan?” tanya Rullyta sambil
menatap Yuna dan Bibi War.
Bibi War menganggukkan kepala. “Iya, Bu. Awalnya, mereka terlihat baik-baik
aja. Mbak Belli tiba-tiba menyerang Mbak Yuna.”
Yuna tersenyum kecut. Ia terdiam sambil menatap wajah Yeriko yang sedang
mengompres pipinya dengan air hangat.
“Yer, lihat kelakuan Bellina itu! Makin hari makin parah. Dia nggak bisa
hidup tenang di luar sana? Kalau Yuna kenapa-kenapa, gimana? Mama nggak akan
ngelepasin dia gitu aja!”
Yeriko menghela napas. “Aku akan pikirin cara membalas dia, Ma.”
“Masih mau mikir? Kamu bisa nggak bergerak cepat? Kebanyakan mikir aja!”
sahut Rullyta kesal.
“Ma, aku masih banyak urusan di perusahaan. Aku pasti balas apa yang sudah
dia lakuin ke istriku.”
“Perusahaan jadi alasan!” sahut Rullyta kesal. “Mama tahu, dari dulu kamu
gila bisnis. Setiap hari sibuk ngurus perusahaan. Tapi, sekarang kamu udah
punya keluarga. Mama udah bilang berapa kali, hah!? Istri kamu sering terluka
karena kamu nggak becus ngurus keluarga.”
Yeriko memejamkan mata sambil menghela napas. “Ma, aku udah berusaha
melindungi dia. Di sini ada banyak orang, istriku masih terluka. Mama jangan
bikin aku makin sakit kepala! Keluarga
dan perusahaan sama pentingnya. Aku nggak bisa ada di samping Yuna selama dua
puluh empat jam. Ini di luar kendaliku.”
“Ya udah, kamu usaha buat ada di samping Yuna selama dua puluh empat jam!”
“Perusahaan gimana?” tanya Yeriko sambil menatap tajam ke arah Rullyta.
“Mama mau aku ninggalin perusahaan? Biar nggak bisa kasih makan untuk anak dan
istriku?”
Rullyta terdiam mendengar pertanyaan Yeriko.
“Aku kerja keras demi keluarga. Supaya mereka bisa bahagia, hidup layak dan
dihargai semua orang. Mama bisanya cuma ngomel aja!” tutur Yeriko sambil
memeras handuk hangat yang ada di hadapannya dan menempelkan kembali di pipi
Yuna.
“Ay, nggak usah marah-marah!” pinta Yuna lembut.
“Aku nggak marah,” sahut Yeriko ketus.
Rullyta menghela napas. “Biar mama yang selesaikan ini semua!” tegasnya. Ia
melangkah masuk ke dalam rumah untuk mengambil barangnya yang tertinggal dan
bergegas keluar dari rumah Yeriko.
“Ay, jangan sering marah-marah sama Mama Rully!” pinta Yuna.
“Dia sering bikin aku kesel.”
“Dia ‘kan mama kamu juga. Aku sedih kalau lihat kalian berantem karena
aku.”
Yeriko menghela napas. Ia tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Nggak usah
sedih! Mamaku juga sayang sama kamu seperti anaknya sendiri. Dia bahkan lebih
sayang sama kamu daripada aku. Harusnya kamu bahagia mendapatkan ini semua,”
tuturnya sambil mengusap lembut pipi Yuna.
Yuna tersenyum sambil menatap wajah Yeriko. Ia merasa sangat beruntung
memiliki keluarga baru yang sangat menyayanginya. Sejak menikah dengan Yeriko,
ia mendapatkan begitu banyak perhatian dan kasih sayang dari orang-orang di
sekitarnya. Membuat dia berpikir kalau Bellina menginginkan kebahagiaan yang ia
miliki saat ini. Sebab, keluarga
Lian memperlakukan Bellina tidak begitu baik.
Yuna berharap
kalau Bellina bisa berubah dan hidup dengan baik di luar sana. Banyak hal yang
dimiliki Bellina, tidak dimiliki oleh orang lain. Menerima apa yang sudah
dimiliki, tentunya akan lebih baik daripada harus mencari-cari kebahagiaan semu
yang tidak bisa dimilikinya.
.png)
.png)

