Evan tak banyak bertanya. Ia melajukan mobilnya menuju apartemen Austin. Namun, sesampainya di sana, Austin dan teman-temannya belum ada juga.
Alluna merogoh ponselnya dan menelepon Austin. “Hallo, gue di depan apartemen lo.”
“Alluna, sorry ... gue masih jalan sama Jacklin. Rani sama Hastri juga kayaknya masih jalan dulu, deh,” ucap Austin via telepon.
Alluna langsung mematikan teleponnya, ia menghela napas kecewa sambil menyandarkan tubuhnya di pintu apartemen.
“Kenapa?”
“Mereka masih jalan.”
“Jadi, mau langsung pulang?” tanya Evan.
Alluna tidak menjawab. Ia masih menyandarkan tubuhnya sambil memandangi kakinya yang ia mainkan sendiri.
“Ikut aku, yuk!” ajak Evan yang tak tahan melihat wajah Alluna murung.
“Ke mana?”
“Ikut aja. Daripada lo bete gitu.” Evan menarik lengan Alluna dan berjalan menyusuri koridor. Mereka naik ke lantai selanjutnya dan memasuki sebuah apartemen.
“Lo satu apartemen sama Austin?” tanya Alluna.
Evan mengangguk. “Mau minum apa?” tanya Evan sambil membuka kulkasnya.
“Terserah,” jawab Alluna sambil mengamati ke sekeliling ruangan. Terlihat sekali kalau Evan tinggal seorang diri, ruangannya terlihat berantakan.
Alluna menghampiri piano yang ada di sudut ruangan. Duduk di sana dan memainkannya.
Evan menatap tubuh Alluna dari dapur, denting piano yang dimainkan jemari Alluna mengalun dengan indah dan ... romantis. Evan menghampiri Alluna sambil membawa dua cangkir teh hangat.
“Lo jago main piano juga?” tanya Evan kagum, ia menyodorkan secangkir teh hangat.
“Gue les musik dua kali seminggu sejak masih SMP. Jadi, lumayan bisa beberapa alat musik.” Alluna menyeruput teh hangat yang diberikan Evan.
“Oh ya? Gimana kalau kita main bareng?” Evan meletakkan cangkir teh di meja dan langsung duduk di sisi Alluna. Mereka sama-sama tenggelam dalam alunan musik yang mereka mainkan.
“Lo keren mainnya,” puji Alluna.
“Lo juga,” balas Evan. Mereka tersenyum saling pandang.
“Oh ya, Austin udah balik apa belum, ya?” tanya Alluna sambil melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
“Bentar, gue telponin.” Evan langsung merogoh ponsel dan menelepon Austin. “Di mana?” tanya Evan via telepon. Alluna tidak dapat mendengar apa yang dikatakan Austin.
Tak banyak bicara, Evan langsung menutup teleponnya.
“Gimana? Udah pulang?”
“Lo tau kan? Anak zaman sekarang kalo lagi berkencan, artinya kita nggak boleh ganggu.”
“Maksud lo?” Alluna mengernyitkan dahinya.
“Udah lah, nggak usah dipikirin! Main lagi yuk!” ajak Evan.
Alluna tersenyum dan mulai memainkan pianonya. Evan malah asyik memandangi wajah Alluna yang cantik. Bibir mungil merah jambu itu menarik perhatiannya. Ia tak dapat menahan keinginannya untuk mengecup bibir mungil yang hanya berjarak beberapa senti dengan wajahnya. Evan perlahan mendekatkan bibirnya, nyaris menyentuh bibir Alluna yang langsung bangkit dari duduknya. Meninggalkan dentang piano di nada yang tidak seharusnya berhenti.
“Toilet di mana?” tanya Alluna gelisah.
“Itu.” Evan menunjuk pintu toilet.
Alluna langsung melepas jas yang masih ia pakai dan bergegas memasuki toilet.
Sementara Evan hanya memandangnya sambil menertawakan dirinya sendiri. “Bodoh!” makinya pada dirinya sendiri.
Alluna membasuh wajahnya dan menatap bayangannya di cermin. Jantungnya berdebar kencang. “Dia hampir nyium gue,” bisiknya sambil menyentuh bibir dengan jemarinya.
“Aargh!” Alluna mengacak-acak rambutnya. “Gue nggak mau dicium sama cowok yang nggak gue cintai. Evan bukan pacar gue, bukan siapa-siapa gue. Masa iya, dia mau nyium gue tanpa status apa pun? Gila aja kali tuh cowok? Kenal juga baru dua minggu yang lalu. Deket aja belom, apalagi mau jadian. Trus, seenaknya aja dia memanfaatkan momen buat nyium gue.” Alluna berbicara dengan bayangannya sendiri di depan cermin. “Cowok apaan sih dia?” Alluna bergidik membayangkan kalau dia benar-benar dicium oleh Evan, cowok yang baru dikenalnya dua minggu lalu.
Alluna merapikan rambutnya kembali dan bersiap keluar dari toilet. Ia terkejut karena Evan sudah berdiri sambil memegangi kusen pintu toilet dengan wajah penuh nafsu. “Van, lo kenapa?” tanya Alluna dengan suara bergetar. Ia mulai ketakutan, terlebih ia hanya berdua dengan cowok itu di dalam sebuah apartemen milik Evan. Bisa saja Evan berbuat gila dengannya. Kenapa dia tidak pernah memikirkan ini sebelum dia masuk ke dalam apartemen Evan. Evan bisa saja merenggut kesuciannya, ini lebih ngeri dari sekedar ciuman. Wajah Alluna ketakutan, tapi dia tidak mau panik. Ia takut kalau Evan menjadi semakin brutal pada dirinya.
“Gue kebelet!” jawab Evan sambil meringis menahan pipis.
“Oh.” Alluna menghela napas lega, ia menggeser tubuhnya untuk memberi ruang bagi Evan memasuki pintu toilet.
“Gue kirain ... dia bakal kurang ajar,” batin Alluna sambil mengelus dadanya lega. Perhatiannya teralihkan pada televisi yang sudah menyala. Dia suka sekali dengan drama korea, dan kebetulan Evan memutar film korea. Entah sengaja atau hanya kebetulan, tapi Alluna suka dengan filmnya. Ia langsung duduk di sofa dan menikmati film yang ada di depannya.
“Suka drakor?” tanya Evan yang tiba-tiba sudah ada di sisinya.
“Eh!? Nggak terlalu sih. Kebetulan aja karena nggak tau mau nonton apa,” ucap Alluna mengelak. “Lo suka drakor juga?”
Evan menggelengkan kepalanya.
“Kok, putar film ini?”
Evan mengedikkan bahunya. “Gue baru nyalain tv, trus kebelet. Mana gue tau kalo yang diputar lagi drakor.”
“Oh.”
“Mau ganti?” tanya Evan.
“Nggak usah, ini aja.”
Evan tersenyum dan mulai menikmati setiap scene film korea yang romantis. Sepertinya, cowok-cowok korea sangat tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita. Terlebih, para pemain ceweknya mirip sekali dengan Alluna yang wajahnya oriental khas Asia. Ia membayangkan kalau yang ada di dalam film itu adalah Alluna dan dirinya. Sepertinya romantis. Jantungnya berdebar lebih kencang saat melihat adegan lips kiss di film itu. Ia menoleh ke arah Alluna yang — tertidur pulas.
Evan memandangi wajah Alluna yang terlihat sangat cantik saat tertidur. Terlihat lebih imut dan bibirnya lebih menggodanya untuk memberikan lips kiss. Evan mendekatkan wajahnya perlahan, ia ingin mencium Alluna yang sedang tertidur. Namun, niatnya ia urungkan saat bibir mereka hanya berjarak dua senti.
Ia bisa merasakan napas Alluna berhembus di bibirnya. Ia menarik tubuhnya perlahan menjauhi Alluna. Masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil selimut dan menyelimuti Alluna yang sudah tertidur pulas. Evan kembali melanjutkan menonton film yang sudah terlanjur ia tonton sedari tadi. Sesekali ia menatap wajah Alluna.
Evan menghela napas. Perlahan ia angkat tubuh Alluna dan memindahkannya ke dalam kamar. Ia memandangi kembali wajah Alluna sambil mengusap rambutnya. “Gue bisa aja miliki lo malam ini. Tapi, gue laki-laki yang masih punya harga diri. Gue nggak mau lo ngelakuinnya karena terpaksa,” bisik Evan. Ia bangkit dan menatap wajah Alluna sebelum benar-benar pergi meninggalkan Alluna sendirian di dalam kamarnya.
Tak berapa lama, Austin datang ke apartemen Evan dan menanyakan keberadaan Alluna.
“Tidur,” jawab Evan santai.
“Di mana?”
“Di kamar gue, masa di kamar lo?”
“Eh!? Lo nggak apa-apain dia kan? Dia cewek baik-baik. Awas aja kalo lo berani macem-macem!” ancam Austin.
“Lo kira gue bukan cowok baik-baik? Lagian, kalo dianya mau, why not?”
Austin mendengus. “Dasar lo ya! Cari kesempatan dalam kesempitan!”
“Itu ‘kan yang enak?” balas Evan sambil tertawa.
Austin langsung masuk ke kamar Evan, namun ia tidak tega membangunkan Alluna yang sudah tertidur pulas. “Udah dari tadi tidurnya?” tanya Austin setengah berbisik.
“Lumayan, lah. Lo lama banget, sih!” Evan bersandar di pintu sambil melipat kedua tangannya.
“Gue masih main sama Jacklin,” bisik Agustin.
“Main berapa kali, sih? Lama bener!” celetuk Evan.
“Kepo aja, lo. Terus, ini gimana?”
“Biar aja dia tidur di sini! Dua cunguk itu tidur di apartemen lo juga?”
“Cunguk? Maksud lo Hastri sama Rani?”
“Iya.”
“Sembarangan aja lo bilang cunguk!?” dengus Austin. “Iya. Mereka juga baru datang.”
“Abis main juga?”
“Abis jalan mereka.”
“Ke mana? Hotel?”
Austin mengedikkan bahunya. “Kayaknya dari mall sih mereka?”
“Ada mall buka sampe jam segini?” Evan melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
“Iih, lo udah kayak wartawan aja nanyanya,” celetuk Austin kesal. “Beneran dia tidur di sini aja?”
“Terus? Mau lo bangunin?”
Austin menghela napas. “Gue nggak tega bangunin dia. Tidurnya pules gitu. Kayaknya dia capek banget deh. Soalnya sebelum ke kondangan, dia masih les musik dulu. Lo bayangin aja, abis pulang sekolah langsung les. Kita yang nggak les aja udah capek di sekolah. Apalagi dia yang kegiatannya padet banget.”
“Ya udah, biarin aja dia tidur sini. Gue bisa tidur di sofa,kok. Tadi, dia tidur di sofa hampir sejam. Gue nggak tega liat dia tidur di situ. Jadi, gue pindahin. Tidurnya kayak kebo gitu, gue angkat nggak bangun.”
“Tapi, lo janji nggak macem-macemin dia kan?”
“Iya. Gue nggak akan macem-macem, kecuali dia mau. Rejeki kan?”
Austin langsung menjitak kepala Evan sampai ia mengaduh.
“Lo gantiin baju dia, gih! Masih pake gaun tidurnya. Gue nggak berani gantiin bajunya dia,” pinta Evan.
“Yee, cemen lo!”
“Gue bukan cemen. Gue ngejaga diri aja. Takutnya, pas gue gantiin baju dia, terus ada yang bangun kan bahaya.She is a good girl, gue nggak akan macem-macem sama cewek baik-baik.”
“Bagus kalo lo nyadar!” Austin mengangkat jempolnya dan menjulurkan ke dahi Evan.
“Pake kemeja lo aja ya? Males gue mau balik ke partemen gue, terus naik lagi ke sini.” Austin langsung membuka lemari pakaian Evan. “Astaga!” Ia terkejut melihat semua pakaiannya berantakan.
“Maklum, cowok.” Evan langsung keluar kamar dan menutup pintu. Austin mengganti gaun Alluna dengan kemeja putih milik Evan. Dibiarkan saja Alluna hanya mengenakan short pants yang memang sudah ia kenakan. Ia letakkan gaun Alluna di sisi ranjang dengan hati-hati. Ia tahu, gaun-gaun Alluna mahal dan dia tidak ingin membuatnya rusak walau hanya sedikit saja.
Austin langsung keluar dari kamar begitu selesai. “Titip, ya! Jangan diapa-apain!” teriak Austin sambil berlalu pergi dari apartemen Evan.
“Ya.”
Evan mematikan semua lampu dan tidur di sofa sampai pagi hari.
Tepat pukul lima pagi,Evan sudah bangun dan bersiap keluar dari apartemen untuk jogging. Kebetulan ini hari Minggu, dia punya banyak waktu untuk olahraga dan tidak buru-buru berangkat ke sekolah.
Evan kembali ke apartemen saat ia rasa olahraganya sudah cukup. Ia mengambil minuman dingin di kulkas untuk melepas dahaga. Kemudian bergegas mandi. Usai mandi, ia langsung masuk ke dalam kamar dan mencari pakaian ganti. Dia bahkan lupa kalau ada cewek yang tidur di kamarnya.
Evan menarik satu kaos dan menjatuhkan botol parfum ke lantai. “Ah, shit!”
Lamat-lamat Alluna mendengar suara barang pecah. Perlahan ia membuka matanya dan memandang ke sekeliling. Ia merasa asing dengan kamar yang ia tiduri malam ini. Bukan kamarnya, bukan kamar Austin, Hastri atau pun Rani. “Aku di mana?” batinnya. Sampai pandangannya tertuju pada cowok yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk saja.
“Aargh ...!!! Lo siapa?” teriak Alluna.
Evan terkejut mendengar teriakan Alluna. Ia baru menyadari kalau Alluna tidur di kamarnya. Kamarnya yang terbiasa berantakan, membuatnya tidak menyadari kalau ada seseorang di balik bad cover miliknya. Ia bergegas memakai kaos yang sudah ia pegang.
Sementara Alluna kembali berteriak karena mendapati dirinya sudah berganti pakaian. “Lo apain gue?” Alluna menyandarkan tubuhnya dan menutupi rapat-rapat dengan selimut.
“Gue nggak ngapa-ngapain lo.”
“Bohong!” teriak Alluna.
Evan diam saja. Ia menyadari ada hal yang lebih penting dari teriakan Alluna. Ia belum memakai CD dan celana. Ia kembali mengobrak-abrik isi lemari dan mencari dua barang yang ia cari. Cepat-cepat ia mengenakan CD dan celananya, membuat Alluna kembali berteriak dan menutup wajahnya.
“Udah kelar, nggak usah ditutupin mulu tuh muka!”
Alluna membuka jemarinya perlahan. Memastikan Evan benar-benar sudah memakai pakaiannya dengan baik. “Lo nggak malu, ganti baju di depan muka gue!?” sentak Alluna.
“Lo juga nggak malu kan tidur di kamar gue?” goda Evan.
Wajah Alluna memerah, ia tidak tahu harus berkata apa. Seharusnya, dia tidak tidur di kamar Evan. Bagaimana caranya dia tertidur di apartemen Evan. Dan yang lebih parah lagi, Evan mengganti pakaiannya. It’s crazy!!!
Alluna menangis sejadi-jadinya. Ia tidak mau kehilangan kesuciannya, apalagi yang merenggut adalah cowok yang bukan siapa-siapa baginya. Baru kenal dua minggu dan dia sudah tidur dengan cowok itu. Bagaimana bisa, ia tidak ingat sama sekali dan tidak merasakan apa-apa. Jangan-jangan, Evan sudah gila dan membiusnya sehingga ia tidak sadarkan diri. Pikirannya dipenuhi kecurigaan negatif terhadap Evan.
“Lun, kenapa nangis?” Evan bingung melihat Alluna yang tiba-tiba menangis.
“Mama ... tolong aku! Aku nggak mau kayak gini, Ma!” Alluna terus terisak. Ia memandangi Evan yang masih bingung. “Gue benci sama lo!” Alluna melempar bantal dan apa saja yang bisa ia lempar ke arah Evan. Evan berusaha menghindarinya sampai ke luar kamar. Tapi, Alluna masih saja mengejar dan terus memukuli Evan.
“Lun, lo kenapa sih?” Evan berusaha menenangkan Alluna, ia memeluk gadis itu. Tapi, tidak juga membuat Alluna tenang. Tangisnya makin menjadi dan terus memberontak.
“Lun, dengerin dulu penjelasan gue.” Kali ini Evan memeluknya sangat erat agar Alluna tidak lagi memberontak. “Dengerin gue baik-baik, dengerin gue,” bisik Evan sambil mengelus rambut Alluna.
“Lo tenangin diri lo, dan gue bakal jelasin semuanya,” pinta Evan. Ia membiarkan Alluna menangis di pelukannya sampai tangisnya benar-benar reda.
“Duduk dulu!” pinta Evan sambil memapah Alluna menuju sofa. “Dengerin gue baik-baik ya!” tutur Evan lembut sambil merapikan anak rambut Alluna.
Evan menceritakan semua kejadian yang sebenarnya secara beruntun dan pelan sesuai dengan yang terjadi semalam. “Udah paham?” tanya Evan lembut.
Alluna menganggukkan kepalanya. Ia sudah berburuk sangka pada Evan. Ia benar-benar takut kalau kesuciannya terenggut begitu saja. Pacaran saja belum pernah, bagaimana bisa ia membayangkan dirinya sudah kehilangan keperawanan.
“Gue nggak nyentuh lo sama sekali, kecuali ...,”
“Kecuali apa?” Alluna mendelik ke arah Evan.
“Ih, serem amat sih muka lo,” ucap Evan sambil menahan tawa.
“Nggak lucu!” sahut Alluna makin sewot.
“Biasa aja, nggak usah serius banget kayak gitu.”
“Ini soal harga diri. Lo kira harga diri gue buat bahan lelucon!” jawab Alluna ketus, membuat Evan terdiam. Caranya untuk membuat Alluna tertawa ternyata salah, Alluna justru semakin kesal dan memandangnya sinis.
“Sorry, gue minta maaf soal itu.”
“Antarin gue pulang, sekarang!” pinta Alluna.
“Nggak mau mandi dulu?”
Alluna menggelengkan kepalanya. “Gue mandi di rumah aja.”
Belum sampai beranjak, tiba-tiba ponsel Alluna berdering. Panggilan video dari Austin langsung ia jawab. “Hai, nyenyak tidurnya tuan puteri?” tanya Austin bersama tiga sahabatnya yang masih di dalam apartemen Austin.
“Kalian sengaja mau jerumusin gue ya?”
“Jerumusin apaan? Lo dibangunin nggak bangun-bangun. Salah sendiri tidurnya kayak kebo.”
“Sleeping beauty kali, baru bangun kalo udah dicium sama pangeran,” sahut Hastri.
“Oh, My God! Kalian udah ciuman?” teriak Rani heboh.
Alluna menggeleng-gelengkan kepalanya. “Enggak Ran, kita nggak ngapa-ngapain. Tanya langsung deh sama Evan.” Alluna mengarahkan ponselnya ke wajah Evan. Terlihat wajah Evan tersenyum di sisinya.
“Kalian serasi banget, sih? So cute ...,” ucap Hastri dengan gayanya yang sok lucu. Sontak saja celetukan Hastri membuat Alluna dan Evan saling pandang.
“Van, lo apain aja dia semalam? Kayaknya tidurnya nyenyak tuh,” teriak Rani.
Evan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Rani. Alluna menyenggol lengan Evan agar mengatakan yang sebenarnya.
“Menurut kalian, kita ngapain aja?” tanya Evan sambil tersenyum menggoda.
“Aaaargh...!” teriak Austin dan dua sahabatnya bersamaan.
Alluna mendelik ke arah Evan dan mematikan panggilan videonya. “Lo kenapa sih nggak jujur sama mereka kalo kita nggak ngapa-ngapain?”
“Lun, lo ini hidup di zaman apa sih? Logikanya, kalo cowok sama cewek semaleman bareng itu ngapain aja? Di antara 1000 cewek, paling cuma ada 1 cewek yang bisa pertahanin perawannya.”
“Gila lo ya!”
“Lun, biar aja mereka berpikir kayak gitu. Toh, sebenernya kita nggak ngapa-ngapain. Dan gue bisa jaga diri lo dari cowok-cowok yang nggak bener. Coba aja semalem lo di sini sama Jacklin. Dia nggak bakal peduli lo masih suci atau enggak. Dia bakal jadiin lo pemuas nafsu.”
“Jadi, Austin sama Jacklin itu ...,”
“Udah lah, nggak usah dipikirin. Zaman sekarang, pacaran kayak gitu udah jadi hal yang wajar.”
“Buat gue nggak wajar.”
“Itu karena lo cewek baik-baik dan selalu dikelilingi sama orang baik. Dan lo emang sama sekali belum kenal dunia begituan. Kalo udah tau rasanya, lo bakal ketagihan,” bisik Evan di telinga Alluna.
Alluna bergidik. “Nggak, gue nggak tau dan nggak pengen tau. Gue nggak mau hamil di luar nikah. Gue masih pengen ngejar cita-cita gue. Gue nggak mau ngancurin masa depan gue sendiri.”
“Bagus deh kalo lo punya pikiran sehebat itu. Laki-laki yang jadi suami lo, pasti beruntung banget bisa dapetin cewek kayak lo. Cantik, pintar, baik dan bisa menjaga harga dirinya.”
Alluna tersenyum, “Makasih.”
“Mau pulang sekarang? Ayo!”
“Bentar. Gue masih mau di sini.”
Evan menaikkan kedua alisnya, makin bingung dengan sikap Alluna yang sulit ia tebak.
“Nggak takut gue mesumin?” goda Evan.
“Nggak. Gue yakin lo cowok baik-baik.”
“Kenapa lo bisa nilai gue cowok baik-baik?”
“Karena semalem lo bisa jagain gue dan nggak nyentuh gue sama sekali,”
“Masa sih? Semalem gue cium lo berkali-kali dan lo nggak bangun,” tutur Evan berbohong.
“Hah!?” Alluna mendelik ke arah Evan. “Lo jahat banget, sih!” Alluna memukul dada Evan dan mendorong tubuhnya dengan kuat.
“Lun, kalo ciuman doang nggak bakal bikin lo hamil,” goda Evan.
“Bukan soal itu!”
“Terus?”
“Lo bukan siapa-siapa gue? Berani banget lo cium gue!” sentak Alluna.
“Emang harus jadi siapa-siapa lo dulu baru boleh cium?” tanya Evan sambil tertawa menggoda.
“Evan...!!!! Nggak lucu!” teriak Alluna, ia terus memukuli dada Evan.
Evan yang belum siap menahan pukulan, hampir terjatuh dan spontan menarik lengan Alluna untuk bertahan. Membuat tubuh Alluna jatuh mendarat di atas tubuh Evan. Yang lebih sialnya lagi, bibir mereka berciuman tanpa sengaja.
Kejadian yang super cepat ini membuat Alluna benar-benar kaget. Ia tidak menyangka kalau dia harus berciuman dengan Evan dalam keadaan terjatuh. Ia langsung bangkit dan menjauh dari tubuh Evan. Beberapa kali mngusap bagian belakang telinganya karena canggung.
Evan justru tersenyum dengan insiden lips kiss tak sengaja ini. Semalaman ia menahan diri untuk tidak mencium Alluna, tapi sepertinya cupid-cupid cinta sedang memanah mereka berdua sehingga akhirnya bisa berciuman sungguhan. “Bukan salah gue, kalo aja lo diem, gue nggak bakal jatuh dari sofa.”
“Iya. Nggak papa,” jawab Alluna tanpa memandang ke arah Evan.
“Beneran nggak papa?” Evan bangkit dan mendekatkan wajahnya ke wajah Alluna. “Boleh nambah lagi nggak?” bisiknya.
PLAK!
Bukannya mendapat ciuman tambahan, Evan justru mendapat tamparan dari Alluna. “Kok, nampar sih?” Evan memegangi pipinya, ia menahan perih karena tamparan Alluna lumayan keras.
“Nggak usah macem-macem. Lo bukan siapa-siapa gue!” sentak Alluna.
“Ya udah. Lo jadi pacar gue mau nggak?” tanya Evan.
“Gila lo ya! Kita baru kenal dua minggu.”
“Tapi, gue suka sama lo dari awal ketemu.”
Alluna menatap Evan yang masih cengengesan. Ia melihat tidak ada keseriusan dari wajah Evan. “Nggak usah kebanyakan bercanda!”
“Oke. Gue serius!” Kali ini Evan memasang tampang serius dan justru membuat Alluna tertawa lebar.
“Lo gimana sih? Gue serius, lo malah ketawa ngakak gitu?”
“Muka lo lucu banget kalo lagi serius gitu. Kayak Sinchan!” Alluna tergelak.
TING!
Pesan Whatsapp di smartphone Alluna.
Alluna membukanya dan menghela napas.
“Kenapa?” tanya Evan bingung.
“Lihat!” Alluna menunjukkan layar ponselnya. “Undangan lagi.”
Evan tersenyum. “Kondangan lagi?”
Mereka saling pandang dan tertawa.
((Bersambung...))




