3F - Fict Feat Fact

Tuesday, October 8, 2019

Menyerah ...



Kamu ada ...
Tapi kamu tak pernah tahu berapa banyak penderitaan yang aku rasa.
Kamu tak pernah tahu berapa dalam luka yang kupunya.
Kamu tak pernah tahu berapa luasnya air mata yang aku tampung

Kamu tak pernah sembuhkan luka
Kamu tak pernah keluarkanku dari derita
Kamu tahu aku luka
Kamu beri aku luka
Kamu tambah aku luka
Kamu seolah lupa
Bahwa lukaku terus kau lukai

Lalu tuk apa kau berdiri di sisi?
Jika janji mengajak bahagia kau ingkari?
Lalu tuk apa kau ada di hati?
Jika kau sembuhkan luka dengan melukai?

Kamu saksikan air mataku berderai dalam tiap-tiap malamku ...
Kamu saksikan kakiku berjalan merangkak penuh luka-luka ...
Kamu saksikan tanganku berdarah menggapai cita kita.

Tapi kamu tetap diam membisu
Mendorongku ke lubang penderitaan yang lebih dalam...
Hingga akhirnya aku memilih
MENYERAH ...




Ditulis oleh Rin Muna
Dalam lautan air mata ...

8 Oktober 2019


Monday, September 23, 2019

Court of Love



Ini ketiga kalinya aku menjalani sidang di ruang Kepala Sekolah karena kasus yang sama, berkelahi dengan Gatara. Entah kenapa, semenjak kejadian di kantin tahun lalu dia sangat membenciku. Padahal aku tidak sengaja menumpahkan sambal ke tubuhnya, saat itu kakiku tersandung, terjatuh tepat di depannya.
Semua sekolah sudah tahu bagaimana setiap hari Gatara terhadapku. Dia selalu tertawa terbahak-bahak setiap kali aku kesusahan dan marah-marah. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam otaknya? Sepertinya saraf otaknya sudah geser, atau bahkan keluar dari tempurung kepalanya sendiri. Dia tidak pernah puas mengerjaiku setiap hari.
Dikerjai seperti itu sudah menjadi hal biasa. Ada hal yang lebih tak biasa sampai aku dan Gatara harus menjalani sidang di ruang Kepala Sekolah.
Kasus pertama, Gatara berhasil membuatku masuk ruang ICU karena dia meneteskan larutan tetrahydrozline HCL (obat tetes mata) ke dalam botol air mineral yang sering aku letakkan di meja belajarku.
Kasus kedua, Gatara berhasil membuatku kembali di rawat karena dia sengaja meletakkan paku payung saat aku melintas, paku itu menusuk telapak kakiku hingga kedalaman 2,5 cm.
Kasus yang ketiga ini, Gatara berhasil membuatku jatuh dari tangga sekolah, tepat disaksikan oleh Kepala Sekolah yang kebetulan sedang melintas.Gatara dengan sengaja mendorongku dengan bahunya, kejadian itu juga terekam CCTV sekolah.
“Gatara! Apa yang kamu lakukan pada Riris sudah keterlaluan!” ucap Kepala Sekolah geram, kami berkumpul di ruangannya.
“Maafkan anak kami Pak, anak kami suka iseng,” kata Papa Gatara.
“Ini bukan lagi keisengan Pak, tapi sudah masuk dalam tindakan kriminal. Dia sudah tiga kali mencoba menghilangkan nyawa Riris!” kata Kepala Sekolah.
“Pak, saya nggak bermaksud untuk membunuh. Saya mau ngerjain dia doang Pak!” kata Gatara panik karena ketakutan. Dia takut juga kalau kasus ini dibawa ke polisi.
Gatara menggeleng.
Aku hanya menyimak dengan baik saat Gatara dihakimi oleh Kepala Sekolah, Guru dan kedua orangtuanya.
Kedua orangtuaku tidak hadir karena mereka sudah meninggal sejak satu tahun yang lalu. Aku hanya tinggal bersama nenek dan kedua adikku. Aku sudah menjelaskan kepada pihak sekolah bahwa nenekku tidak bisa hadir karena usianya yang sudah renta.
Bu Ratih menjelaskan secara detil beberapa kejadian yang menimpaku dan juga menjelaskan latar belakang keluargaku.
Sidang ketiga itu masih tak membuat Gatara jera. Saat aku berjalan sendiri di tepi jalan, dengan sengaja motor Gatara menyerempet tubuhku hingga aku terjerembab ke selokan. Dia tertawa sangat bahagia melihatku terjatuh, hingga ia tak menyadari kalau motor yang ia naiki kehilangan kendali.
“Braaaaakk....!!!” tabrakan itu terjadi tepat di depan mataku. Aku terkesiap, tubuhku gemetar. Sangat cepat dan membuat jantungku berhenti beberapa saat.
Aku langsung berlari menghampiri Gatara yang sudah berlumuran darah, motor yang ia kemudikan menyebrang ke jalur berlawanan, saat itu juga ada mobil melintas. Tubuh Gatara terpental jauh keluar dari badan jalan.
Aku berteriak histeris meminta pertolongan sambil berusaha mengangkat tubuh Gatara yang sangat berat. Secepatnya aku membawa Gatara ke Rumah Sakit dengan bantuan warga sekitar. Untunglah orang yang menabraknya juga mau bertanggung jawab walau yang salah adalah Gatara.
Sesampainya di rumah sakit, Gatara langsung ditangani oleh dokter dan harus menjalani serangkaian operasi karena tangan dan punggungnya mengalami patah tulang. Aku mencoba menghubungi teman-teman dekat Gatara agar memberi kabar kepada kedua orangtuanya.
Sepuluh hari aku menemani Gatara di rumah sakit bergantian dengan pembantunya yang sesekali datang untuk mengantarkan pakaian ganti. Selama itu juga Gatara banyak berubah sikap terhadapku, tak lagi sewot dan marah-marah setiap kali melihatku. Aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri. Sejahat apapun Gatara terhadapku, aku tidak pernah berpikir untuk membalasnya atau membencinya.
Sepuluh hari itu belum berakhir, aku masih harus menemani dan merawat Gatara di rumahnya, kondisi punggung dan tangannya yang belum bisa kembali normal, ia harus menjalani rawat jalan.
“Ris, kenapa kamu mau ngerawat aku?” tanya Gata.
Aku tidak mengerti kenapa dia baru bertanya setelah satu bulan aku menemani dan merawatnya?
Apa dia tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku? Bagaimana aku harus membesarkan hatiku merawat orang yang selama ini membenciku dan selalu mencelakaiku? Aku tidak mengerti apa yang selama ini membuat Gatara begitu membenciku? “Maafkan aku Ris, tidak seharusnya aku begitu membencimu hanya karena kejadian di kantin setahun lalu. Aku selalu melukaimu tapi kamu tidak pernah menangis, kenapa sekarang kamu justru menangis saat aku tidak bisa menjaili dan melukaimu lagi?” tanya Gatara.
Aku tidak sadar kalau air mataku keluar begitu deras hanya karena satu pertanyaan dari Gatara. “Jika dengan merawatmu bisa membuatmu berhenti membenciku, aku ikhlas melakukannya seumur hidupku.” Aku mengusap air mataku.
“Aku yang seharusnya minta maaf Ris. Aku yang melukaimu, aku yang selalu menyulitkan hidupmu. Seharusnya kamu biarkan saja aku mati, kamu biarkan saja aku sendirian. Aku tidak pantas mendapatkan kebaikan hatimu Ris. Aku... aku... aku sudah...” Gatara terisak.
“Bukankah aku sudah memaafkannya sejak dulu? Jika tidak, kamu pasti sudah ada di penjara sekarang.”
“Lalu apa yang membuatmu menangis? Kenapa kamu justru menangis saat aku tidak melukaimu?” tanya Gatara.
“Karena ada yang hal lebih menyakitkan. Hatiku sangat sakit saat kamu begitu membenciku tanpa ku tahu apa sebabnya,” ucapku lirih.
Gatara bergeming.
“Andai bisa kuulang semuanya, aku sangat ingin satu tahun yang lalu adalah saat hatiku mencintaimu, bukan membencimu.”
Deg....!
Saat itu aku merasa jantungku berhenti berdetak. Aku tidak tahu kalau Gatara bisa berbicara selembut dan seindah ini? Apakah saraf otaknya benar-benar sudah baik karena kecelakaan itu?
“Oh ya, seminggu lagi pengumuman kelulusan sekolah ya? Aku sudah tidak sabar menunggunya. Kedua orangtuaku menginginkan aku melanjutkan pendidikan ke New York. Menurutmu bagaimana Ris?” tanya Gatara.
“Eh... Bagus! Bukankah semua orang menginginkan hal seperti itu?” kataku sebal. “Tenang saja, aku tidak akan pergi jika tidak bersamamu,” kata Gatara sambil tersenyum seperti bisa membaca pikiranku.
Aku tertawa dan sejak hari itu hidupku jauh lebih baik. Setidaknya tidak ada lagi orang yang akan menyerempetku hingga terjatuh saat aku berjalan sendirian, karena orang itu sekarang selalu melangkah bersamaku dan menggenggam tanganku untuk tidak pernah terjatuh.

Friday, September 20, 2019

Rahasia Sang Perindu



Adifa menatap tubuhnya di depan cermin besar yang berdiri kokoh di dinding kamarnya. Senyumnya mengembang menatap wajahnya yang sempurna dengan polesan make up natural. Tubuhnya yang tinggi dan kulit putih bersih. Tubuh indahnya dibalut pakaian muslim yang memadukan warna cream dan hitam.
      Drrt.... Drrt... Drrt...
      Getaran ponsel di atas meja rias membuyarkan lamunannya.
      "Hallo... " Suara lelaki di seberang telpon terdengar merdu di telinga Adifa.
      "Iya Mas. Aku sudah siap." Adifa bergegas meraih tas dan keluar dari kamarnya.
      "Iya. Mas tunggu di depan." Komunikasi via telepon itu terhenti. Adifa memasukkan ponsel ke dalam tasnya. Berjalan ke halaman rumah, tempat Mas Ardi memarkirkan mobilnya.
      Seketika mobil itu melaju menuju sebuah Masjid. Kedua kakak beradik itu akan menghadiri acara Tabligh Akbar yang di selenggarakan di salah satu Masjid kota itu.
      Adifa melangkahkan kakinya menuju shaf para wanita berkumpul. Sedangkan Ardi berada di shaf laki-laki.
      Dua jam berselang, mereka keluar dari Masjid. Adifa merasa hatinya lebih tenang, lebih damai dan indah dengan siraman rohani yang sering ia dengarkan bersama kakaknya.
      "Dif, ini ada titipan untukmu." Ardi mengulurkan sebuah amplop dari sakunya.
      "Dari siapa, Mas?" tanya Adifa penasaran.
      "Dari Maulana."
      "Wah... Kak Maulana baik ya Mas? Udah kasih THR duluan. Mas Ardi aja belum kasih THR buat aku." Adifa menatap amplop itu, membolak-balik, menerawang isinya lewat cahaya yang masuk di jendela mobil.
      "Ngapain diterawang segala. Langsung dibuka aja!" celetuk Ardi sambil mengendalikan setir mobilnya.
      Adifa tersenyum. "Benar juga kata Mas Ardi," batinnya sembari membuka amplop yang diberikan Maulana.
      Adifa membelalakkan matanya, karena amplop itu bukan berisi uang. Melainkan sebuah surat yang tidak tahu apa isinya. Cepat-cepat ia memasukkan amplop itu ke dalam tasnya sebelum kakaknya melihat.
      "Kenapa dimasukkan?" tanya Ardi penasaran.
      "Nggak papa. Nanti aku buka di rumah aja Mas." Adifa membuang pandangannya ke arah jendela. Menikmati pemandangan tepi jalan untuk mengalihkan pembicaraan dengan kakaknya.
      Sesampainya di rumah, Adifa langsung masuk kamar. Mengunci pintu kamar rapat-rapat. Perlahan ia mengeluarkan surat dari dalam tasnya. "Kenapa Kak Maulana berkirim surat? Bukankah bisa menelepon atau datang langsung ke rumah untuk berbicara?" batin Adifa. Adifa begitu mengagumi sosok pria seperti Maulana. Lelaki tampan yang baik hati, soleh dan santun. Namun, Adifa selalu merasa Maulana tak menyukainya, Maulana selalu menghindar tiap kali bertemu dengannya. Sebab Maulana begitu menjaga pandangannya terhadap perempuan.

      Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
        Adifa... bersama dengan surat ini, aku ingin menyampaikan perihal penting untukmu.
      Aku sudah melakukan perjalanan selama puluhan hari untuk mencari ridho Illahi.
      Aku sudah melakukan perjalanan selama puluhan hari untuk sekedar tahu isi hatimu.
      Aku bertanya pada semua yang telah bersamamu sepanjang hidupmu, Abah, Umma dan Masmu.
      Aku sudah mantap bahwa kamu adalah wanita terbaik dari pilihan yang baik.

      Telah lama aku buang khayalanku agar tak merindukanmu, namun aku gagal.
      Aku hanya lelaki biasa yang Tuhan ciptakan dengan hati untuk mengagumimu.
      Aku tak ingin terus-menerus merahasiakan rasa rinduku.
      Aku ingin mengungkapkan semua rasa dihadapan Allah.
      Jika berkenan, ijinkan aku meminangmu dengan ijab kabul.

      Tak perlu membalas surat ini. Cukup beritahukan kepada Ardi jika kamu menerimanya.
        Aku akan membawa serta keluargaku menemui Abah dan Umma.
        Wassalamu'alaikum warohmatullahi Wabarokatuh.


      Adifa berlari keluar kamar sembari berteriak memanggil nama kakaknya.
      "Ada apa sih teriak-teriak?" tanya Ardi.
      "Mas, amplop dari Kak Maulana itu bukan THR. Tapi lebih mahal dari THR." Adifa sangat seumringah mengungkapkannya.
      "Oh ya? Apa dong?" tanya Ardi.
      "Baca!" pinta Adifa sambil menyodorkan surat dari Maulana.
      Ardi tersenyum setelah membaca surat dari Maulana. "Alhamdulillah... Akhirnya cinta adikku terbalaskan."
      "Apaan sih Mas!?" Adifa tersipu, pipinya terlihat memerah.
      Ardi tersenyum menggoda. "Nanti akan Mas bicarakan dengan Umma dan Abah saat mereka pulang. Maulana itu pria yang baik. Sebentar lagi dia akan jadi ustadz muda yang ganteng dan pastinya digandrungi banyak perempuan."
      "Lalu?"
      "Lalu kamu akan patah hati jika tidak segera menerima pinangannya. Dia pasti akan bertemu dengan wanita yang lebih baik yang mampu merebut hatinya," sergah Ardi.
      "Aku mau kok Mas," tutur Adifa penuh semangat.
      "Bagus. Akhirya Sang Perindu itu tak lagi merahasiakan dirinya," ucap Ardi sambil berlalu pergi.
      "Maksudnya, Mas?" tanya Adifa penasaran.
      "Sudah lama Maulana menyimpan rasa cintanya untukmu. Hanya saja karena belum muhrim, ia tak ingin dekat denganmu. Saat aku bilang jika kamu begitu mengagumi dia, dia langsung membuat keputusan yang sangat indah." Ardi mengerdipkan salah satu matanya.
      Adifa tersenyum bahagia. Ia tak menyangka jika rahasia hati antara dia dan Maulana bisa terungkap. Sepandai apapun manusia menutupi rahasia hatinya, Allah akan tahu. Dan beginilah cara Allah menyatukan dua insan yang saling mencintai karena Allah.

Rasi Bintang Risa




 Iwan adalah salah satu aktivis pecinta alam. Kali ini, Iwan dan teman-temannya memilih menginap di daerah batu dinding demi bisa menikmati indahnya sunrise dari ketinggian.
      Tenda-tenda kemah telah mereka persiapkan di kaki bukit batu dinding.
      "Wan... cari air dulu ya!" salah satu temannya menyodorkan dua buah jerigen lima liter. Mereka harus mencari air untuk memasak malam ini.
      "Bentar. Sama siapa?" Iwan sibuk menyiapkan kamera DSLR -nya, bersiap membidik setiap moment yang ada di depan matanya.
      "Sendiri. Yang lain belum kelar bikin tenda."
      "Ah, nggak mau kalau sendiri!" Iwan menolak tanpa basa-basi.
      "Nggak masak kita ini. Nggak ada air Wan!"
      "Ogah bawa-bawa air jerigen beratnya gitu. Suruh yang lain aja!" Iwan ngeloyor pergi meninggalkan teman-temannya yang sedang sibuk mempersiapkan tenda.
      Iwan melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak, membidik setiap objek yang menarik perhatiannya.
      Waktu terus bergulir, sore berganti malam.
      "Wan... mau minum?" Risa menyodorkan segelas kopi hangat.
      "Makasih." Iwan meraih gelas yang diberikan Risa tanpa menoleh sedikitpun.
      "Belum ngantuk?" tanya Iwan.
      Risa menggeleng. "Terlalu berharga saat ini untuk di lewati. Semakin malam, tempat ini semakin indah." Risa berdiri di tepi batu dinding. Dengan ketinggian kurang lebih 500 meter, ia bisa melihat dengan jelas taburan bintang-bintang yang menghiasi angkasa. Sungguh pemandangan yang langka. Yang tak pernah ia saksikan di perkotaan.
      Risa menarik napas panjang. Memejamkan matanya, merasakan desir angin yang menggelayut manja menyentuh rambutnya.
      "Suka bintang?" Iwan tiba-tiba sudah berdiri di sisinya.
      "Iya. Aku suka banget sama bintang. Terutama rasi bintang scorpio."
      "Kamu tahu mana rasi bintang scorpio itu?" Iwan mengangkat satu alisnya menatap wajah Risa.
      "Tahu. Itu!" Risa menunjuk kumpulan bintang yang membentuk rasi bintang scorpio.
      "Alasan kamu suka rasi scorpio apa?" tanya Iwan.
      "Ya, karena aku lahir di bulan november dan zodiak aku scorpio."
      "Oh ya? Kalau rasi bintang Aries yang mana?"
      "Hmm..." Risa menatap langit dengan seksama. Matanya memburu rasi bintang aries. "Nah... itu dia! Sangat simple."
      Iwan mengangguk-anggukan kepalanya.
      "Bintangmu Aries?" tanya Risa.
      Iwan mengangguk.
      "Hmm... memang sangat cocok denganmu."
      Mereka bergeming selama beberapa menit. Membiarkan angin yang menyapa dan mengajak mereka bercanda. Tak ada kata satupun yang keluar dari mulutnya.
      Risa asyik menikmati jutaan bintang yang bertaburan di atas kepalanya. Ia merasa sedang menari dengan jutaan bintang-bintang. Melayang bersama kebahagiaan. Ia ingin malam ini tak berakhir. Tak peduli dengan Iwan yang diam-diam membidiknya dengan kamera. Ia lebih memilih menikmati waktu bersama bintang-bintang. Melupakan sejenak rasa cinta yang ia pendam. Iwan tak pernah menerima perhatian yang Risa berikan. Itu sudah cukup membuat hati Risa mantap melupakan Iwan. Melupakan semua perasaannya, melupakan semua harapan-harapan tentangnya.

* * *

        Tiga Tahun kemudian...
      Risa melangkahkan kakinya menyusuri gedung pameran photography. Satu per satu menikmati indahnya hasil jepretan kamera profesional para photographer.
      Matanya tertuju pada sebuah foto berukuran 200x200. Foto yang indah... seorang gadis berambut panjang di bawah taburan bintang-bintang. Ia terlalu familiar dengan gambar itu. Ya, itu potret diri Risa tiga tahun lalu di atas batu dinding.
      Risa membaca sebuah note yang tertera di bawah foto. Judul "Rasi Bintang Risa". Karya : "WanRis"
      Lama Risa berdiri mematung di depan potret dirinya sendiri. Bergeming. Bibirnya beku. Air mata menetes mengingat masa di mana ia begitu mencintai Iwan. Jauh di dalam lubuk hati, ia masih sangat mencintai Iwan. Satu-satunya pria yang mempu merebut perhatiannya. Gayanya yang dingin membuat Risa semakin ingin mendekatinya. Namun, Iwan terlalu dingin untuknya, hatinya terlalu beku. Risa tak berhasil mencairkan hati Iwan.
      Tapi, hari ini waktu berkata lain. Jika Iwan tak menganggapnya. Kenapa ada foto ini? Kenapa namanya berubah menjadi WanRis? Apakah itu singkatan Iwan dan Risa?
      "Ris... maafkan aku!" Suara Iwan mengejutkan Risa. Risa membalikkan tubuhnya, menatap tubuh Iwan yang telah jauh berubah. Rambutnya gondrong dengan kumis yang menghiasi wajahnya. Moment di atas batu dinding itu adalah saat perpisahan mereka. Sejak itu, mereka tak pernah bertemu selama tiga tahun.
      "Iwan..." Mata Risa berkaca-kaca menatap tubuh Iwan yang tegap. Ingin rasanya memeluk pria itu dan mengatakan kalau Ia mencintainya.
      "Aku terlalu naif untuk menunjukkan perasaanku sendiri."
      "Lupakan saja! Waktu tidak pernah bisa kembali lagi. Aku telah memutuskan melupakanmu. Aku telah memutuskan untuk berhenti mencintaimu. Kini aku telah termiliki, kuharap kamu mengerti. Biarkan kisah kita jadi kenangan!" Risa meninggalkan Iwan yang mematung.
      Ada rasa sesal dalam hati Iwan. Andai saja ia bisa membalas perhatian Risa tiga tahun lalu. Mungkin saat ini hatinya tak selalu gelisah merindukan gadis cantik yang berhasil mengganggu hatinya.


Puisi Akrostik | Rahma Nur Syifa Solehah | Rembulan di Atas Rembulan


 
pixabay.com

Judul Puisi "Rembulan Di Atas Rembulan"


Rembulan bersinar terang
Aku menikmatinya di ruang kelam
Hatiku merekah terterkam cahayanya
Mataku memantulkan cahaya keindahan
Anganku terbang melayang jauh ke angkasa

Niatku untuk mengulum cahaya
Ukirkan keindahan seluas angkasa
Rangkai berjuta cahaya penuh warna

Saat aku termenung menyapa diriku sendiri
Yang hanya meninggalkan jejak-jejak kesendirian
Indahnya dunia tak seindah kesendirianku
Fitrahku mengagumi cahaya di atas cahaya
Asaku ku ukir indah bersamanya

Saat itu, kesendirian jadi penenang tidurku
Obat yang mujarab bagi kegelisahan
Lukisan cahaya rembulan di atas rembulan
Elok tak terkira
Hanya aku yang ada di sini
Aku ingin ada di antara kalian
Harapan yang tak putus tergantung di atas rembulan


ditulis oleh Rin Muna
Samboja, 22 Juli 2018

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas