Sunday, June 28, 2026

Alluna Wedding Party Bab 5 : Ghift Left Behind

 

“Siang, Ma!” sapa Alluna begitu masuk rumah.

“Siang. Kirain masih mau nginap tempat Austin. Biasanya pagi-pagi udah pulang,” sahut Mama Alluna.

“Aku bangun kesiangan. Daren mana, Ma?”

“Di kamar.”

“Oke.” Alluna terlihat sumringah sambil melangkahkan kaki menaiki anak tangga. Ia langsung masuk ke kamar Daren, duduk di samping sang kakak yang sedang asyik bermain game online.

“Kak...!” panggil Alluna sembari menyenggol lengan Daren.

“Hmm.”

“Berhenti dulu mainnya! Gue mau cerita.”

“Cerita aja!”

“Males. Ntar nggak didengerin!”

“Denger gue.”

“Berhenti dulu mainnya!” pinta Alluna.

“Bentar! Nanggung, nih.”

Alluna mencebik. “Gue matiin, nih, wifinya!” ancam Alluna.

“Jangan, dong! Bentar lagi, kok,” ucap Daren tanpa menoleh.

Alluna memangku wajah dengan telapak tangan sembari menunggu kakaknya selesai bermain game.

“Kenapa?” tanya Daren beberapa saat kemudian, ia letakkan ponsel di sisi tempat duduknya.

“Minggu depan ada acara, nggak?”

“Nggak ada—”

“Temenin gue kondangan ke Jaktim, ya! Ada acara senior gue. Gue nggak enak banget kalo dateng sendirian.”

“Kalo orang ngomong itu dengerin dulu! Gue belum kelar ngomong main samber aja,” celetuk Daren.

“Eh!?” Alluna langsung memasang wajah sok polos.

“Minggu depan gue udah balik kuliah ke Singapura. Makanya, cari cowok biar punya partner kondangan!”

“Awas, ya! Kalo sampe gue punya pacar. Uang jajan lo setahun buat gue.”

“Iya. Gue kasih jatah uang jajan gue setahun kalo lo bisa dapetin pacar dalam waktu seminggu. Dan saat lo ke acara kondangan, lo mesti vidcall gue dan tunjukkin pacar lo itu.”

“Oke. Siapa takut. Pacar doang mah gampang.”

“Eits, tapi ada syaratnya.”

“Pake syarat segala?”

“Iya. Pacarnya kudu pacar beneran. Bukan bo’ongan kayak waktu itu. Lo udah ambil uang jajan gue dua bulan, sekalinya cowok bayaran.”

“Biarin. Yang penting gue untung.” Alluna menjulurkan lidahnya.

“Pinter bisnis lo ya? Sampe pacar pun dibisnisin.”

“Bodo amat! Yang penting, minggu depan gue bakal dapet uang jajan lo selama setahun. Lumayan, bisa buat beli mobil baru buat gue,” Alluna tergelak.

“Seneng lo ya!? Tapi ingat, harus pacar beneran. Kalo dalam waktu dua tahun lo udah putus sama dia, artinya lo harus ngembalikan duit gue 4x lipat.”

“Lah? Tekor dong gue kalo putus sama pacar?”

“Bodo amat! Yang penting gue untung.”

“Idih, dibales gue. Yang namanya pacaran kan bisa putus kapan aja kalo udah nggak cocok.”

“Nggak usah ngeles!”

“Lah? Bukan ngeles. Lo sendiri aja gonta-ganti pacar.”

“Belum dapet yang pas aja. Lagian, gue ganteng gini. Siapa sih yang nggak mau jadi pacar gue?” Daren tersenyum bangga sambil memainkan kedua alisnya.

Alluna melipat kedua tangannya di dada. Berpikir sejenak, kemudian pergi meninggalkan Daren yang kembali fokus dengan game-nya.

Alluna masuk ke kamar mamanya, dia heran karena mamanya sedang mengemasi pakaian ke dalam koper dibantu oleh pembantunya. “Mau ke mana?” Alluna melirik isi koper milik mamanya.

“Mau nyusul papa,” jawab Mama Alluna.

“Papa nggak jadi pulang minggu ini?”

Mama Alluna menggeleng. “Katanya, kerjaan di sana masih harus diperpanjang karena ada beberapa problem. Jadi, papa minta mama ke sana supaya bisa bantu masalah usaha di sana. Biar cepet kelar.”

“Jadi, berapa hari Mama di Paris?” tanya Alluna.

“Mama belum tahu, Sayang. Kalau masalah di sana sudah selesai, Mama pasti langsung pulang.” Mama mengelus lembut rambut Alluna.

Alluna duduk di sisi ranjang sambil menghela napas kecewa.

“Kenapa? Kok, murung?” Mama Alluna meraih dagu Alluna dan menatap wajahnya dengan seksama.

“Minggu depan, ada acara nikahan senior musik aku di Jaktim. Terus, aku perginya sama siapa?”

“Sama supir, ya!?”

“Ma, supir mah cuma nganterin doang sampe depan. Masa iya aku mau gandengan sama supir? Mama tega banget, sih!?” Alluna merengek manja.

“Ya sudah, kamu minta temanin Hastri, Austin atau Rani. Nanti Mama telepon mereka buat temenin kamu, ya?” Mama Alluna tetap bersikap lembut meski Alluna selalu merengek manja bila menginginkan sesuatu.

“Aku udah tanya sama mereka. Nggak ada yang bisa satu pun. Alasannya banyak. Yang bilang jauh lah, nggak kenal lah and bla bla bla. Malah aku disuruh pergi sama Evan!” celetuk Alluna. Ia langsung menutup mulut karena keceplosan menyebut nama Evan di depan mamanya.

Mama Alluna mengernyitkan dahinya. “Evan? Siapa dia?”

Duh, kenapa gue bisa keceplosan gini sih. Gue belum siap cerita apa pun soal Evan. Kita baru aja kenal dan mama nggak akan ngebiarin gue deket sama sembarang cowok,” batin Alluna sambil menggigit bibir bawahnya.

“Siapa? Kamu kasih tahu Mama atau Mama cari tahu sendiri?” Mama Alluna mendelik, membuat Alluna menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Dia ... dia ... sepupu Austin, Ma. Kakak kelas Alluna,” ucap Alluna lirih, hampir tak terdengar di telinga mamanya.

“Oh ... sepupu Austin? Oke, kamu boleh pergi sama dia.” Mama Alluna tersenyum sambil melipat kedua tangan di dada.

Alluna mendongakkan kepalanya. “Serius, Ma? Mama nggak marah?” tanya Alluna dengan wajah sumringah.

Mama Alluna menggelengkan kepalanya. “Asal cowok itu jelas asal-usulnya dan Mama kenal, why not?”

“Mama kenal dia?”

“Evan sepupu Austin, kan? Mama kenal waktu pesta ulang tahun kamu kemarin.”

“Serius? Makasih, Ma! Mama baik banget!” Alluna memeluk tubuh mamanya erat-erat.

“Eits, tapi tetep harus ingat! Hape kamu harus selalu standby kalau mama video call. Di mana aja, kamu harus update. Oke?” Mama Alluna mengacungkan jempolnya.

“Beres, Ma!”

“Nanti Mama minta nomor WA Evan.”

“Hah!? Buat apa?”

“Buat mastiin, kalo dia bisa jaga kamu dengan baik.”

“Oh, oke. Ntar aku kirim ke Mama.”

“Ya udah, Mama siap-siap dulu, ya!”

Alluna mengangguk, keluar dari kamar dengan hati berbunga-bunga. Dia sendiri tidak menyangka kalau mamanya mengizinkan dia pergi dengan cowok yang baru saja ia kenal. Sekali lagi ia kagum pada Evan, bukan hanya berhasil merebut hatinya tapi juga hati Mama tanpa sepengetahuannya.

***

“Hai...!” sapa Evan saat Alluna dan teman-temannya di kantin. Ketiga teman Alluna langsung menepi.

“Kalian mau ke mana?” tanya Alluna, heran dengan sikap ketiga temannya.

“Mau ke toilet,” jawab Hastri.

“Gue mau ke kelas,” jawab Austin.

“Gue mau ke ruang OSIS.” Rani juga ikutan pergi.

Evan tersenyum, duduk di samping Alluna. Ia melipat kedua tangannya ke atas meja, mengacungkan jempol ke arah Austin cs. tanpa diketahui oleh Alluna.

Alluna menyeruput minumannya lebih cepat agar ada alasan untuk pergi dari kantin.

“Lun, semalam nyokap lo telepon gue,” tutur Evan menatap wajah Alluna.

“Uhuk ... uhuk ...!”

Alluna tersedak minuman yang ingin ia habiskan secepatnya.  Air minum keluar dari mulutnya, membasahi baju dan meja kantin.

Evan langsung meraih tisu. “Hati-hati kalau minum.” Ia mengelap mulut Alluna yang basah. Adegan ini menarik banyak pasang mata di kantin.

Alluna melirik ke beberapa murid yang memperhatikan mereka berdua sambil berbisik. "Bakalan ada gosip baru, nih."

 “Gue bisa sendiri.” Buru-buru ia raih tisu dan mengelap bajunya sendiri.

“Hari Minggu jadi ke Jaktim?” tanya Evan.

Alluna menganggukkan kepala.

“Oke. Mau berangkat jam berapa?”

“Pagi.”

“Jam?”

“Sembilan.”

“Oke, jam sembilan gue jemput, ya!” Evan mengelus rambut Alluna dan mengecup pelipis gadis itu. Beberapa murid perempuan yang ada di kantin sempat berteriak melihat adegan itu, sementara para cowok justru melongo. 

Evan adalah salah satu cowok yang banyak dikagumi murid cewek. Tak heran kalau mereka terkejut melihat kedekatan Evan dan Alluna. Bahkan, gosip kalau mereka jadian sudah beredar sejak seminggu yang lalu.

“Van, ini tempat umum,” bisik Alluna dengan hati berdebar. 

“Nggak papa, dikit doang. Gue ke kelas duluan, ya!” Evan mengusap ujung kepala Alluna dan berlalu pergi.

Alluna menundukkan kepala karena hampir semua murid di kantin menatapnya. It’s crazy! Kenapa mereka memandang Alluna berlebihan? Padahal, ada banyak pasangan kekasih yang beradegan mesra di kantin. Tapi, Alluna dan Evan selalu menjadi sorotan. Dua-duanya digandrungi oleh lawan jenis mereka.

“Wah, bakal ada hari patah hati se-SMA 28, nih,” celetuk salah seorang murid.

“Duh, rasanya hati gue ditusuk-tusuk.” Jono menepuk-nepuk dadanya sendiri, ia yang selama ini terkenal getol mengejar cinta Alluna.

“Sabar, Jon!” sahut salah satu temannya sambil mengelus dada Jono.

Gosip hubungan Alluna dan Evan sudah menyebar ke seluruh sekolah. Semua murid sudah tahu kalau Evan dan Alluna jadian. Terlebih, sekarang Alluna berangkat dan pulang sekolah bareng Evan. Tidak lagi diantar supir atau naik taksi. Bahkan Evan juga menemaninya ke tempat les.

***

Sehari sebelum pergi ke acara kondangan, Alluna mengajak Evan mencari gaun baru dan kado pernikahan.

“Lun, ke apartemen gue dulu, ya! Gue mandi, ganti baju terus gue antar lo ke rumah. Abis itu baru kita jalan ke mall. Gimana?” tanya Evan saat mereka sudah ada di dalam mobil sepulang sekolah.

Agree.”

Evan tersenyum, melajukan mobilnya ke arah Senopati Suite, salah satu apartemen mewah di wilayah Jakarta Selatan. Sekitar dua puluh menit, mereka sudah sampai di apartemen.

“Gue mandi dulu, ya!” Evan melempar tas ranselnya ke sofa.

Alluna mengangguk.

“Mau ikut?” tanya Evan.

“Ikut ke mana?”

“Mandi,” jawab Evan cengengesan.

“Ogah!”

“Ya udah. Lo main piano atau gitar aja. Gue mandi dulu.” Evan langsung masuk kamar.

Alluna lebih memilih bermain gitar sambil duduk di sofa. Ia menyalakan kamera video dan mulai merekam dirinya bernyanyi. Usai menyanyikan satu buah lagu, ia berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. 

Pandangannya tertuju pada pintu kamar yang setengah terbuka. Ia membuka pintu tersebut semakin lebar dan memperhatikan ruangan yang masih kosong, tidak ada furniture satu pun di sana. Ia berjalan perlahan memasuki ruangan tersebut. Berdiri di depan kaca jendela dengan view pemandangan di luar apartemen.

“Ini kamar untuk anak, tapi anaknya belum dibikin.” Tiba-tiba Evan datang sembari mengenakan sweeter berwarna abu-abu.

Alluna membalikkan tubuhnya, menatap Evan yang sudah terlihat lebih fresh dari sebelumnya. “Kenapa ruangan dibiarin kosong? Sayang banget.”

“Hahaha. Buat apa juga diisi kalo nggak dipake? Gue di sini sendirian aja. Kalo lo mau tinggal di sini, gue isiin furniture khusus buat lo.”

“Emang gue cewek apaan!?”

“Jadi, lo nggak mau tinggal sama gue?”

“Nggak.”

“After Married?” Evan menatap wajah Alluna serius.

“Apaan!? Pacaran aja belom, udah ngomongin merit,” celetuk Alluna. Ia kembali membalikkan tubuhnya menatap ke luar jendela, membelakangi Evan.

Evan tergelak. “Nggak penting pacaran atau enggak. Pacaran itu cuma label. Yang penting, gue sayang sama lo dan lo sayang sama gue. Lagian nyokap lo udah ngasih golden tiket ke gue.” Evan mendekatkan tubuhnya perlahan, memeluk Alluna perlahan dari belakang. “Be mine forever,” bisiknya.

Alluna ingin marah. Tapi bibirnya malah tersenyum, wajahnya menghangat, ia merasakan pelukan Evan semakin erat, bisikan lembut dari Evan membuatnya nyaman. Ia tak ingin beranjak, ingin tetap seperti ini. Menatap ke depan bersama seseorang yang istimewa.

Evan membalikkan tubuh Alluna, menatapnya penuh cinta. Ia mendekatkan wajahnya perlahan seiring Alluna menenggelamkan wajahnya. “Don’t afraid!” bisiknya. Ia mengangkat perlahan dagu Alluna, mengecupnya perlahan. 

Alluna langsung menarik tubuhnya menjauh dari Evan. Ia membalikkan tubuh membelakangi pria itu agar ia bisa menyembunyikan wajahnya yang merona merah. 

Alluna menyunggingkan senyum kecil di bibirnya. Ia merasakan ciuman pertama yang benar-benar menggetarkan hati. Ia merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya dan aliran darahnya berbalik. Pertama kalinya ia merasakan hal yang indah, sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Ia merasa bahagia. 

Alluna memejamkan mata, bayangan Mama terlintas di pikirannya.  Ia sadar telah melakukan kesalahan. Tidak seharusnya ia berciuman dengan laki-laki yang bukan suaminya. Bukan ini yang diajarkan mama. Mama selalu mengingatkan untuk menjaga diri. Dia bahkan sudah percaya pada Evan.

Sorry, gue—”

Alluna tidak ingin mendengar apa pun dari mulut Evan, ia berjalan keluar melewati tubuh Evan begitu saja.

“Lun...!” Evan menarik lengan Alluna agar berhenti.

“Berangkat, yuk! Lo udah siap 'kan?” Alluna tersenyum sambil menggoyangkan kepala sebagai isyarat mengajaknya pergi.

Evan tersenyum lega dan melepas genggamannya. Ia merasa lega karena Alluna tidak marah, cewek yang satu ini memang sulit ditebak. Ia mengikuti langkah Alluna dari belakang. Menikmati cara jalan gadis berseragam putih abu-abu yang begitu menggoda. 

Alluna meletakkan gelas air minum di meja dapur sebelum mengambil tasnya di sofa. Mereka bergegas menuju rumah Alluna yang berada di sekitaran Tulodong.

Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai ke rumah Alluna. Mobil Evan langsung memasuki parkiran rumah mewah bercat putih dengan luas bangunan 600 meter persegi dan luas tanah 1,4 Ha.

“Gue nunggu di luar aja, ya!” pinta Evan. Ia lebih senang menunggu di luar rumah bersama tukang kebun Alluna. Karena ada teman ngobrol sambil menunggu. Kalau menunggu di dalam, benar-benar menjenuhkan bagi Evan.

Alluna menganggukkan kepalanya. “Mang, temenin dia, ya! Awas, jangan sampe ilang!” canda Alluna pada Mang Udin yang sejak tadi sudah membukakan pintu gerbang.

“Iya, neng,” jawab Mang Udin.

Alluna langsung masuk ke rumah. Sementara Evan duduk di kursi taman sembari bercerita dengan Mang Udin. Terkadang Bibi Ira juga ikut bergabung sejenak sambil mengantar secangkir kopi untuk Evan.

“Mau jalan ya, Mas?” tanya Bi Ira sembari meletakkan secangkir kopi di meja. Evan sudah mulai akrab dan terbiasa dengan penghuni rumah Alluna.

“Iya, Bi.”

“Pantesan, Mbak Alluna tuh kalo mau jalan pasti ribet,” bisik Bi Ira.

Evan tertawa kecil menanggapi ucapan Bi Ira. “Maklum, namanya juga cewek.”

“Iya. Sebentar lagi, pasti kedengaran teriakannya Mba Alluna.”

“Bii ...!” Baru saja diucapkan Bi Ira, teriakan Alluna sudah terdengar.

“Maaf ya, Mas! Bibi bantu Mba Alluna dulu.” Bi Ira langsung berlalu pergi meninggalkan Evan dan Mang Udin.

Bi Ira tergopoh-gopoh menghampiri Alluna.

“Dari mana sih, Bi? Lama banget!”

“Ngantar kopi buat Mas Evan.”

“Tolong beresin baju aku, ya!” pintanya. Alluna sudah bersiap pergi. Seperti biasa, ia selalu mengeluarkan semua pakaian dan sepatunya setiap kali mau pergi ke luar rumah. Jadi, Bi Ira harus standby untuk membereskan dan meletakkan ke tempat semula.

Alluna langsung keluar rumah dan menghampiri Evan. Mereka bergegas pergi menuju butik milik Mama Alluna.

Sesampainya di butik, Alluna langsung menyapa semua karyawan yang ia temui dengan senyuman paling manis yang ia punya. 

Evan senang melihat perubahan dalam diri Alluna. Dia yang suka jutek dan mengomel, kini lebih banyak tersenyum dan ramah pada semua orang.

“Mbak, ada design baru, nggak?” tanya Alluna pada manager yang mengelola butik mamanya.

“Ada, Mbak. Di ruangan biasa,” jawabnya.

Alluna langsung masuk ke sebuah ruangan yang tidak asing lagi baginya. Setiap ada design baru, akan diletakkan di ruangan ini. Ia memperhatikan satu per satu gaun yang ada di dalam ruangan itu.

“Bagus semua, gue bingung pilih yang mana,” celetuk Alluna. 

“Ini bagus, nggak?” Ia meminta pendapat Evan sambil menunjukkan gaun dengan dada terbuka dan memiliki belahan di atas lutut.

Evan menggelengkan kepalanya. “Terlalu sexy.”

“Yang ini?” Alluna menunjukkan gaun berwarna biru terang dengan aksen batik warna putih di beberapa tempat.

“Hmm, boleh. Nggak terlalu terbuka banget.”

“Aku cobain dulu, ya?”

Evan menganggukkan kepalanya. Alluna langsung menyambar gaun itu dan masuk ke ruang ganti. Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan anggun sambil tersenyum pada Evan.

“Gimana?”

“Cantik,” puji Evan.

Alluna memutar tubuhnya, memperlihatkan bagian belakang gaun yang transparan sampai ke pinggang.

Evan menepuk jidatnya, ia sama sekali tidak melihat bagian belakangnya sebelum baju itu dipakai oleh Alluna.

“Aku juga suka banget!” teriak Alluna sumringah. “Bagus, kan?” tanyanya lagi meminta pendapat.

Evan mengangguk-anggukan kepalanya. Tubuh Alluna memang terlalu indah untuk dilewatkan. Tapi, kalau untuk ke acara pesta, dia tidak nyaman dengan mata pria yang memandang Alluna. 

Yah, sebenarnya ini hal biasa. Banyak cewek yang pakaiannya jauh lebih seksi saat menghadiri pesta. Tapi dia merasakan sesuatu yang berbeda saat melihat Alluna. Ia ingin menikmati kecantikan Alluna sendiri, bukan bersama orang lain. Ah, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa saat gadis itu terlihat bahagia.

Alluna tersenyum, dia tidak lama memilih karena langsung jatuh hati pada gaun yang pertama kali ia coba. Ia kembali berkeliling untuk mencari sepatu high heels warna senada, juga mencari kado pernikahan untuk seniornya. 

Setelah lelah berbelanja, main game dan makan. Evan mengantar Alluna pulang ke rumahnya.

***

Minggu, jam sembilan pagi, mobil Evan sudah terparkir di depan rumah Alluna sesuai dengan janji sebelumnya.

“Alluna mana, Bi?” tanya Evan.

“Masih tidur,” jawab Bi Ira.

“Hah!? Dia lupa kalo hari ini mau kondangan?”

“Nggak tau, Mas. Tadi sudah bibi bangunin, tapi belum bangun-bangun juga.”

“Ya udah, biar aku yang bangunin. Kamarnya di mana?” tanya Evan.

Bi Irah langsung mengantarkan Evan menuju kamar Alluna di lantai dua.

“Lun, bangun!” Evan menggoyangkan tubuh Alluna beberapa kali.

“Hmm,” sahut Alluna tanpa membuka mata. Ia pikir itu suara Daren, dia cuek saja dan melanjutkan tidurnya karena masih ngantuk berat.

Evan menghela napas dan memandang Bi Ira yang masih berdiri di pintu. “Ambilin es batu, dikit!” pinta Evan.

Bi Ira menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi dari kamar Alluna.

Begitu Bi Ira pergi, dengan cepat Evan mencium bibir Alluna dan melumatnya. Alluna yang merasakan bibirnya dicium dengan brutal langsung membuka mata.

“Evan...!” teriaknya sambil mendorong tubuh Evan.

“Lo tuh kalo tidur kayak kebo, susah amat dibangunin!” sentak Evan.

“Iya. Tapi nggak pake dicium segala kali,” celetuk Alluna.

“Kata Hastri, lo tuh kayak Sleeping Beauty. Tidurnya kayak kebo. Ya gue coba cium aja. Siapa tahu aja kayak cerita dongeng, dicium langsung bangun. Eh, ternyata beneran.”

Alluna tersenyum menatap Evan yang sudah memakai setelan jas dan terlihat tampan bak pangeran. Ah, apa iya aku seperti Sleeping Beauty? Tokoh princess favoritku? Evan emang ganteng kayak pangeran sih. Tapi, kadang sikapnya suka nyebelin. Mana ada pangeran yang nyebelin kayak Evan,” batinnya.

“Lo mau ke mana? Kok, ganteng banget?” tanya Alluna yang masih setengah mengantuk.

“Lupa? Gue mau ke Jaktim, ke nikahan senior musik gue!” jawab Evan pura-pura kesal.

“Astaga!” Alluna menepuk dahinya. “Jam berapa ini?”

“Sembilan lewat lima belas menit dua puluh tujuh detik,” jawab Evan sambil menatap arlojinya.

“Ya ampun!” Alluna melompat dari atas ranjang. “Bibi!” teriaknya panik. Tak peduli dengan Evan yang masih duduk di sisi ranjang sambil tertawa kecil melihat tingkah Alluna.

“Lo ngapain masih di sini? Gue mau mandi, mau ganti baju. Lo mau ngintip?” Alluna mendelik ke arah Evan.

Evan hanya tersenyum melihat tingkah Alluna yang tiba-tiba heboh. Ia bangkit dan keluar dari kamar Alluna. “Gue tunggu di bawah, gak pake lama!”

Alluna mendengus. “Bibi...!” teriak Alluna lagi. Bi Ira datang dengan mangkok berisi es batu. “Buat apa ini?” tanya Alluna.

“Disuruh Mas Evan, buat bangunin Mbak Alluna.”

“Aku udah bangun! Bibi tolong beresin kamar aku, ya! Jangan lupa siapin baju, sepatu sama perhiasan yang mau aku pakai. Bibi udah aku kasih tau kan semalam? Aku nanti telat, nih,” cerocos Alluna sambil berjalan ke kamar mandi.

Alluna terburu-buru saat berganti pakaian. Ia meminta bibi Ira menyiapkan alat make up ke dalam tasnya. “Aku make up di mobil aja.”

Alluna setengah berlari turun dari tangga. Rambutnya masih belum ia rapikan, sisir masih ada di kepalanya.

“Kenapa kacau gini?” tanya Evan keheranan.

“Udah, deh. Gue make up sama rapi-rapi di mobil lo aja. Weekend gini Jakarta macet, pasti lama di jalan. Gue sempat lah rapi-rapi rambut sama make up di mobil.” Alluna menenteng tas dan sepatu high heels-nya. Ia mengenakan sandal boneka yang biasa ia pakai ke kamarnya dan langsung masuk ke dalam mobil.

Evan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Alluna. “Nggak ada jaim-jaimnya nih cewek,” gumamnya.

“Udah siap?” tanya Evan memastikan saat ia sudah duduk di belakang setir. Ia menatap Alluna yang sudah duduk di sisinya.

Alluna menganggukkan kepala. Ia menatap wajahnya di depan cermin saku yang ia bawa dan mulai menyisir rambut yang sudah ia keringkan menggunakan hair dryer sebelumnya.

Evan menjalankan mobilnya perlahan keluar dari halaman rumah Alluna. Melajukan mobilnya menuju Jakarta Timur.

“Cantik nggak, sih?” Alluna meminta pendapat Evan sambil menunjukkan wajahnya.

Evan menoleh sebentar. “Lo tuh nggak dandan juga udah cantik.”

Alluna memonyongkan bibirnya. “Lo takut ngomong jujur kalo sebenernya make up gue jelek?” Alluna menatap kembali wajahnya di cermin. Memastikan make up-nya terlihat sempurna. 

“Au...!” teriak Alluna yang membuat Evan terkejut.

“Kenapa?” tanya Evan.

“Kalung gue lepas, padahal cuma kesentuh ini.” Alluna menunjukkan maskara yang baru saja ia kenakan. “Bi Ira nggak bener nih makeinnya,” gerutunya.

Evan menepikan mobilnya dan berhenti. Ia memperhatikan leher dan tubuh Alluna, mencari keberadaan kalung milik Alluna. “Kalungnya mana?” tanya Evan.

“Jatuh.”

“Coba angkat kaki lo!” pinta Evan.

“Buat apa?”

“Cari kalungnya.”

“Kalungnya jatuh di sini.” Alluna menunjukkan belahan dadanya. Kalung yang ia kenakan jatuh menyelip ke dalam dadanya.

“Haduh, Lun. Gimana gue nggak mesum kalo lo mancing gue mulu kayak gini? Makanya gue bilang juga apa, nggak usah pake gaun yang dadanya terbuka kayak gini. Ambil sendiri, deh!”

“Yee, siapa juga yang nyuruh lo ambilin!” Alluna mencebik.

Evan menghela napas dan membuang pandangannya ke luar jendela agar tidak melihat adegan Alluna mengeluarkan kalung dari belahan payudara.

“Bantu pakein, dong! Susah, nih!” pinta Alluna.

Evan menoleh ke arah Alluna. Ia melihat Alluna kesulitan memasangkan kunci kalungnya. Dengan cepat tangan Evan melingkar ke leher Alluna dan membantu memasangkan kalungnya. 

Evan menatap liontin kalung berlian milik Alluna, bukan sekedar liontin yang dilihatnya, tapi juga belahan dada milik Alluna. Ia tidak bisa menahan dirinya, terlebih aroma tubuh Alluna begitu menggoda. Evan mengendus belakang telinga Alluna.

“Van...,” Alluna menyetuh pipi Evan sambil tersenyum. “Jalan lagi, yuk!” pinta Alluna.

“Ck.” Evan menghela napas kecewa, ia kembali melajukan mobilnya.

“Astaga!” teriak Alluna saat mereka sudah memasuki wilayah Jakarta Timur.

“Kenapa lagi?”

“Kadonya ketinggalan, Van.” Alluna menepuk jidatnya.

“Kok, bisa sih?”

“Lo kan tau, tadi gue buru-buru. Kemarin kita jalan sampe malam, dah gitu lo masih telpon gue sampe jam dua belas malam. Jadi, gue kesiangan bangunnya. Jelas aja gue buru-buru. Gue takut ntar telat ke acara. Karena acaranya di gedung dan cuma sampai jam satu siang aja. Kalo telat, yang ada kita datang kayak tukang beres-beres gedung,” cerocos Alluna panjang lebar.

Evan tertawa kecil mendengar ucapan Alluna, tapi ia tetap fokus menyetir. “Jadi gimana? Balik lagi, udah jauh.”

Alluna menghela napas. “Kasih amplop aja, deh. Mampir ke toko sebentar beli amplop dulu, ya!” pinta Alluna.

“Siap, tuan puteri,” jawab Evan sambil tersenyum menatap Alluna yang tersipu.

Evan langsung menepi ke toko terdekat untuk membeli amplop. Ia menahan Alluna turun dari mobil karena dia yang akan membelikannya di toko tempat mereka berhenti. Tidak hanya membeli amplop, Evan juga membeli satu kantong makanan ringan dan minuman untuk mereka konsumsi selama perjalanan.

Sesampainya di tempat acara, Alluna diminta seniornya untuk menyanyikan sebuah lagu. Sebab, seniornya tahu kalau Alluna memiliki suara yang merdu. Alluna mengajak serta Evan untuk berduet bersamanya.

“Ini pasangan serasi, ganteng dan cantik. Suaranya keren abis. Semoga bisa cepat menyusul ke pelaminan, ya!” ucap MC acara saat Alluna dan Evan turun dari panggung.

Alluna dan Evan tersenyum sambil bergandengan tangan. “Aamiin.” Evan mengamini doa MC yang telah mendoakan mereka berdua.

“Kok, amin sih?”

“Emang lo nggak mau nikah sama gue?” bisik Evan.

“Mau.”

“Lulus sekolah gue lamar,” bisik Evan.

Alluna mengedikkan bahunya. “Enggak ah, gue nggak mau nikah muda.”

Evan tersenyum penuh arti, momen paling menyenangkan adalah melihat ekspresi wajah Alluna yang lucu ketika ia menggodanya. Kali ini, mereka mulai terbiasa tampil mesra di depan umum. Alluna tidak pernah lupa memberikan update setiap kegiatannya di story instagram agar mamanya tidak banyak bertanya tentang kesehariannya selama ia ditinggal pergi ke Paris.

Monday, June 22, 2026

Alluna Wedding Party Bab 4: First Lips Kiss

 


Evan tak banyak bertanya. Ia melajukan mobilnya menuju apartemen Austin. Namun, sesampainya di sana, Austin dan teman-temannya belum ada juga.

Alluna merogoh ponselnya dan menelepon Austin. “Hallo, gue di depan apartemen lo.”

“Alluna, sorry ... gue masih jalan sama Jacklin. Rani sama Hastri juga kayaknya masih jalan dulu, deh,” ucap Austin via telepon.

Alluna langsung mematikan teleponnya, ia menghela napas kecewa sambil menyandarkan tubuhnya di pintu apartemen.

“Kenapa?”

“Mereka masih jalan.”

“Jadi, mau langsung pulang?” tanya Evan.

Alluna tidak menjawab. Ia masih menyandarkan tubuhnya sambil memandangi kakinya yang ia mainkan sendiri.

“Ikut aku, yuk!” ajak Evan yang tak tahan melihat wajah Alluna murung.

“Ke mana?”

“Ikut aja. Daripada lo bete gitu.” Evan menarik lengan Alluna dan berjalan menyusuri koridor. Mereka naik ke lantai selanjutnya dan memasuki sebuah apartemen.

“Lo satu apartemen sama Austin?” tanya Alluna.

Evan mengangguk. “Mau minum apa?” tanya Evan sambil membuka kulkasnya.

“Terserah,” jawab Alluna sambil mengamati ke sekeliling ruangan. Terlihat sekali kalau Evan tinggal seorang diri, ruangannya terlihat berantakan. 

Alluna menghampiri piano yang ada di sudut ruangan. Duduk di sana dan memainkannya.

Evan menatap tubuh Alluna dari dapur, denting piano yang dimainkan jemari Alluna mengalun dengan indah dan ... romantis. Evan menghampiri Alluna sambil membawa dua cangkir teh hangat.

“Lo jago main piano juga?” tanya Evan kagum, ia menyodorkan secangkir teh hangat.

“Gue les musik dua kali seminggu sejak masih SMP. Jadi, lumayan bisa beberapa alat musik.” Alluna menyeruput teh hangat yang diberikan Evan.

“Oh ya? Gimana kalau kita main bareng?” Evan meletakkan cangkir teh di meja dan langsung duduk di sisi Alluna. Mereka sama-sama tenggelam dalam alunan musik yang mereka mainkan.

“Lo keren mainnya,” puji Alluna.

“Lo juga,” balas Evan. Mereka tersenyum saling pandang.

“Oh ya, Austin udah balik apa belum, ya?” tanya Alluna sambil melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

“Bentar, gue telponin.” Evan langsung merogoh ponsel dan menelepon Austin. “Di mana?” tanya Evan via telepon. Alluna tidak dapat mendengar apa yang dikatakan Austin. 

Tak banyak bicara, Evan langsung menutup teleponnya.

“Gimana? Udah pulang?”

“Lo tau kan? Anak zaman sekarang kalo lagi berkencan, artinya kita nggak boleh ganggu.”

“Maksud lo?” Alluna mengernyitkan dahinya.

“Udah lah, nggak usah dipikirin! Main lagi yuk!” ajak Evan.

Alluna tersenyum dan mulai memainkan pianonya. Evan malah asyik memandangi wajah Alluna yang cantik. Bibir mungil merah jambu itu menarik perhatiannya. Ia tak dapat menahan keinginannya untuk mengecup bibir mungil yang hanya berjarak beberapa senti dengan wajahnya. Evan perlahan mendekatkan bibirnya, nyaris menyentuh bibir Alluna yang langsung bangkit dari duduknya. Meninggalkan dentang piano di nada yang tidak seharusnya berhenti.

“Toilet di mana?” tanya Alluna gelisah.

“Itu.” Evan menunjuk pintu toilet. 

Alluna langsung melepas jas yang masih ia pakai dan bergegas memasuki toilet. 

Sementara Evan hanya memandangnya sambil menertawakan dirinya sendiri. “Bodoh!” makinya pada dirinya sendiri.

Alluna membasuh wajahnya dan menatap bayangannya di cermin. Jantungnya berdebar kencang. “Dia hampir nyium gue,” bisiknya sambil menyentuh bibir dengan jemarinya.

 “Aargh!” Alluna mengacak-acak rambutnya. “Gue nggak mau dicium sama cowok yang nggak gue cintai. Evan bukan pacar gue, bukan siapa-siapa gue. Masa iya, dia mau nyium gue tanpa status apa pun? Gila aja kali tuh cowok? Kenal juga baru dua minggu yang lalu. Deket aja belom, apalagi mau jadian. Trus, seenaknya aja dia memanfaatkan momen buat nyium gue.” Alluna berbicara dengan bayangannya sendiri di depan cermin. “Cowok apaan sih dia?” Alluna bergidik membayangkan kalau dia benar-benar dicium oleh Evan, cowok yang baru dikenalnya dua minggu lalu.

Alluna merapikan rambutnya kembali dan bersiap keluar dari toilet. Ia terkejut karena Evan sudah berdiri sambil memegangi kusen pintu toilet dengan wajah penuh nafsu. “Van, lo kenapa?” tanya Alluna dengan suara bergetar. Ia mulai ketakutan, terlebih ia hanya berdua dengan cowok itu di dalam sebuah apartemen milik Evan. Bisa saja Evan berbuat gila dengannya. Kenapa dia tidak pernah memikirkan ini sebelum dia masuk ke dalam apartemen Evan. Evan bisa saja merenggut kesuciannya, ini lebih ngeri dari sekedar ciuman. Wajah Alluna ketakutan, tapi dia tidak mau panik. Ia takut kalau Evan menjadi semakin brutal pada dirinya.

“Gue kebelet!” jawab Evan sambil meringis menahan pipis.

“Oh.” Alluna menghela napas lega, ia menggeser tubuhnya untuk memberi ruang bagi Evan memasuki pintu toilet.

Gue kirain ... dia bakal kurang ajar,” batin Alluna sambil mengelus dadanya lega. Perhatiannya teralihkan pada televisi yang sudah menyala. Dia suka sekali dengan drama korea, dan kebetulan Evan memutar film korea. Entah sengaja atau hanya kebetulan, tapi Alluna suka dengan filmnya. Ia langsung duduk di sofa dan menikmati film yang ada di depannya.

“Suka drakor?” tanya Evan yang tiba-tiba sudah ada di sisinya.

“Eh!? Nggak terlalu sih. Kebetulan aja karena nggak tau mau nonton apa,” ucap Alluna mengelak. “Lo suka drakor juga?”

Evan menggelengkan kepalanya.

“Kok, putar film ini?”

Evan mengedikkan bahunya. “Gue baru nyalain tv, trus kebelet. Mana gue tau kalo yang diputar lagi drakor.”

“Oh.”

“Mau ganti?” tanya Evan.

“Nggak usah, ini aja.”

Evan tersenyum dan mulai menikmati setiap scene film korea yang romantis. Sepertinya, cowok-cowok korea sangat tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita. Terlebih, para pemain ceweknya mirip sekali dengan Alluna yang wajahnya oriental khas Asia. Ia membayangkan kalau yang ada di dalam film itu adalah Alluna dan dirinya. Sepertinya romantis. Jantungnya berdebar lebih kencang saat melihat adegan lips kiss di film itu. Ia menoleh ke arah Alluna yang — tertidur pulas.

Evan memandangi wajah Alluna yang terlihat sangat cantik saat tertidur. Terlihat lebih imut dan bibirnya lebih menggodanya untuk memberikan lips kiss. Evan mendekatkan wajahnya perlahan, ia ingin mencium Alluna yang sedang tertidur. Namun, niatnya ia urungkan saat bibir mereka hanya berjarak dua senti.

Ia bisa merasakan napas Alluna berhembus di bibirnya. Ia menarik tubuhnya perlahan menjauhi Alluna. Masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil selimut dan menyelimuti Alluna yang sudah tertidur pulas. Evan kembali melanjutkan menonton film yang sudah terlanjur ia tonton sedari tadi. Sesekali ia menatap wajah Alluna.

Evan menghela napas. Perlahan ia angkat tubuh Alluna dan memindahkannya ke dalam kamar. Ia memandangi kembali wajah Alluna sambil mengusap rambutnya. “Gue bisa aja miliki lo malam ini. Tapi, gue laki-laki yang masih punya harga diri. Gue nggak mau lo ngelakuinnya karena terpaksa,” bisik Evan. Ia bangkit dan menatap wajah Alluna sebelum benar-benar pergi meninggalkan Alluna sendirian di dalam kamarnya.

Tak berapa lama, Austin datang ke apartemen Evan dan menanyakan keberadaan Alluna.

“Tidur,” jawab Evan santai.

“Di mana?”

“Di kamar gue, masa di kamar lo?”

“Eh!? Lo nggak apa-apain dia kan? Dia cewek baik-baik. Awas aja kalo lo berani macem-macem!” ancam Austin.

“Lo kira gue bukan cowok baik-baik? Lagian, kalo dianya mau, why not?”

Austin mendengus. “Dasar lo ya! Cari kesempatan dalam kesempitan!”

“Itu ‘kan yang enak?” balas Evan sambil tertawa.

Austin langsung masuk ke kamar Evan, namun ia tidak tega membangunkan Alluna yang sudah tertidur pulas. “Udah dari tadi tidurnya?” tanya Austin setengah berbisik.

“Lumayan, lah. Lo lama banget, sih!” Evan bersandar di pintu sambil melipat kedua tangannya.

“Gue masih main sama Jacklin,” bisik Agustin.

“Main berapa kali, sih? Lama bener!” celetuk Evan.

“Kepo aja, lo. Terus, ini gimana?”

“Biar aja dia tidur di sini! Dua cunguk itu tidur di apartemen lo juga?”

“Cunguk? Maksud lo Hastri sama Rani?”

“Iya.”

“Sembarangan aja lo bilang cunguk!?” dengus Austin. “Iya. Mereka juga baru datang.”

“Abis main juga?”

“Abis jalan mereka.”

“Ke mana? Hotel?”

Austin mengedikkan bahunya. “Kayaknya dari mall sih mereka?”

“Ada mall buka sampe jam segini?” Evan melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

“Iih, lo udah kayak wartawan aja nanyanya,” celetuk Austin kesal. “Beneran dia tidur di sini aja?”

“Terus? Mau lo bangunin?”

Austin menghela napas. “Gue nggak tega bangunin dia. Tidurnya pules gitu. Kayaknya dia capek banget deh. Soalnya sebelum ke kondangan, dia masih les musik dulu. Lo bayangin aja, abis pulang sekolah langsung les. Kita yang nggak les aja udah capek di sekolah. Apalagi dia yang kegiatannya padet banget.”

“Ya udah, biarin aja dia tidur sini. Gue bisa tidur di sofa,kok. Tadi, dia tidur di sofa hampir sejam. Gue nggak tega liat dia tidur di situ. Jadi, gue pindahin. Tidurnya kayak kebo gitu, gue angkat nggak bangun.”

“Tapi, lo janji nggak macem-macemin dia kan?”

“Iya. Gue nggak akan macem-macem, kecuali dia mau. Rejeki kan?”

Austin langsung menjitak kepala Evan sampai ia mengaduh.

“Lo gantiin baju dia, gih! Masih pake gaun tidurnya. Gue nggak berani gantiin bajunya dia,” pinta Evan.

“Yee, cemen lo!”

“Gue bukan cemen. Gue ngejaga diri aja. Takutnya, pas gue gantiin baju dia, terus ada yang bangun kan bahaya.She is a good girl, gue nggak akan macem-macem sama cewek baik-baik.”

“Bagus kalo lo nyadar!” Austin mengangkat jempolnya dan menjulurkan ke dahi Evan.

“Pake kemeja lo aja ya? Males gue mau balik ke partemen gue, terus naik lagi ke sini.” Austin langsung membuka lemari pakaian Evan. “Astaga!” Ia terkejut melihat semua pakaiannya berantakan.

“Maklum, cowok.” Evan langsung keluar kamar dan menutup pintu. Austin mengganti gaun Alluna dengan kemeja putih milik Evan. Dibiarkan saja Alluna hanya mengenakan short pants yang memang sudah ia kenakan. Ia letakkan gaun Alluna di sisi ranjang dengan hati-hati. Ia tahu, gaun-gaun Alluna mahal dan dia tidak ingin membuatnya rusak walau hanya sedikit saja.

Austin langsung keluar dari kamar begitu selesai. “Titip, ya! Jangan diapa-apain!” teriak Austin sambil berlalu pergi dari apartemen Evan.

“Ya.”

Evan mematikan semua lampu dan tidur di sofa sampai pagi hari. 

Tepat pukul lima pagi,Evan sudah  bangun dan bersiap keluar dari apartemen untuk jogging. Kebetulan ini hari Minggu, dia punya banyak waktu untuk olahraga dan tidak buru-buru berangkat ke sekolah.

Evan kembali ke apartemen saat ia rasa olahraganya sudah cukup. Ia mengambil minuman dingin di kulkas untuk melepas dahaga. Kemudian bergegas mandi. Usai mandi, ia langsung masuk ke dalam kamar dan mencari pakaian ganti. Dia bahkan lupa kalau ada cewek yang tidur di kamarnya. 

Evan menarik satu kaos dan menjatuhkan botol parfum ke lantai. “Ah, shit!”

Lamat-lamat Alluna mendengar suara barang pecah. Perlahan ia membuka matanya dan memandang ke sekeliling. Ia merasa asing dengan kamar yang ia tiduri malam ini. Bukan kamarnya, bukan kamar Austin, Hastri atau pun Rani. “Aku di mana?” batinnya. Sampai pandangannya tertuju pada cowok yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk saja.

“Aargh ...!!! Lo siapa?” teriak Alluna.

Evan terkejut mendengar teriakan Alluna. Ia baru menyadari kalau Alluna tidur di kamarnya. Kamarnya yang terbiasa berantakan, membuatnya tidak menyadari kalau ada seseorang di balik bad cover miliknya. Ia bergegas memakai kaos yang sudah ia pegang.

Sementara Alluna kembali berteriak karena mendapati dirinya sudah berganti pakaian. “Lo apain gue?” Alluna menyandarkan tubuhnya dan menutupi rapat-rapat dengan selimut.

“Gue nggak ngapa-ngapain lo.”

“Bohong!” teriak Alluna.

Evan diam saja. Ia menyadari ada hal yang lebih penting dari teriakan Alluna. Ia belum memakai CD dan celana. Ia kembali mengobrak-abrik isi lemari dan mencari dua barang yang ia cari. Cepat-cepat ia mengenakan CD dan celananya, membuat Alluna kembali berteriak dan menutup wajahnya.

“Udah kelar, nggak usah ditutupin mulu tuh muka!”

Alluna membuka jemarinya perlahan. Memastikan Evan benar-benar sudah memakai pakaiannya dengan baik. “Lo nggak malu, ganti baju di depan muka gue!?” sentak Alluna.

“Lo juga nggak malu kan tidur di kamar gue?” goda Evan.

Wajah Alluna memerah, ia tidak tahu harus berkata apa. Seharusnya, dia tidak tidur di kamar Evan. Bagaimana caranya dia tertidur di apartemen Evan. Dan yang lebih parah lagi, Evan mengganti pakaiannya. It’s crazy!!!

Alluna menangis sejadi-jadinya. Ia tidak mau kehilangan kesuciannya, apalagi yang merenggut adalah cowok yang bukan siapa-siapa baginya. Baru kenal dua minggu dan dia sudah tidur dengan cowok itu. Bagaimana bisa, ia tidak ingat sama sekali dan tidak merasakan apa-apa. Jangan-jangan, Evan sudah gila dan membiusnya sehingga ia tidak sadarkan diri. Pikirannya dipenuhi kecurigaan negatif terhadap Evan.

“Lun, kenapa nangis?” Evan bingung melihat Alluna yang tiba-tiba menangis.

“Mama ... tolong aku! Aku nggak mau kayak gini, Ma!” Alluna terus terisak. Ia memandangi Evan yang masih bingung. “Gue benci sama lo!” Alluna melempar bantal dan apa saja yang bisa ia lempar ke arah Evan. Evan berusaha menghindarinya sampai ke luar kamar. Tapi, Alluna masih saja mengejar dan terus memukuli Evan.

“Lun, lo kenapa sih?” Evan berusaha menenangkan Alluna, ia memeluk gadis itu. Tapi, tidak juga membuat Alluna tenang. Tangisnya makin menjadi dan terus memberontak.

“Lun, dengerin dulu penjelasan gue.” Kali ini Evan memeluknya sangat erat agar Alluna tidak lagi memberontak. “Dengerin gue baik-baik, dengerin gue,” bisik Evan sambil mengelus rambut Alluna.

“Lo tenangin diri lo, dan gue bakal jelasin semuanya,” pinta Evan. Ia membiarkan Alluna menangis di pelukannya sampai tangisnya benar-benar reda.

“Duduk dulu!” pinta Evan sambil memapah Alluna menuju sofa. “Dengerin gue baik-baik ya!” tutur Evan lembut sambil merapikan anak rambut Alluna.

Evan menceritakan semua kejadian yang sebenarnya secara beruntun dan pelan sesuai dengan yang terjadi semalam. “Udah paham?” tanya Evan lembut.

Alluna menganggukkan kepalanya. Ia sudah berburuk sangka pada Evan. Ia benar-benar takut kalau kesuciannya terenggut begitu saja. Pacaran saja belum pernah, bagaimana bisa ia membayangkan dirinya sudah kehilangan keperawanan.

“Gue nggak nyentuh lo sama sekali, kecuali ...,”

“Kecuali apa?” Alluna mendelik ke arah Evan.

“Ih, serem amat sih muka lo,” ucap Evan sambil menahan tawa.

“Nggak lucu!” sahut Alluna makin sewot.

“Biasa aja, nggak usah serius banget kayak gitu.”

“Ini soal harga diri. Lo kira harga diri gue buat bahan lelucon!” jawab Alluna ketus, membuat Evan terdiam. Caranya untuk membuat Alluna tertawa ternyata salah, Alluna justru semakin kesal dan memandangnya sinis.

“Sorry, gue minta maaf soal itu.”

“Antarin gue pulang, sekarang!” pinta Alluna.

“Nggak mau mandi dulu?”

Alluna menggelengkan kepalanya. “Gue mandi di rumah aja.”

Belum sampai beranjak, tiba-tiba ponsel Alluna berdering. Panggilan video dari Austin langsung ia jawab. “Hai, nyenyak tidurnya tuan puteri?” tanya Austin bersama tiga sahabatnya yang masih di dalam apartemen Austin.

“Kalian sengaja mau jerumusin gue ya?”

“Jerumusin apaan? Lo dibangunin nggak bangun-bangun. Salah sendiri tidurnya kayak kebo.”

“Sleeping beauty kali, baru bangun kalo udah dicium sama pangeran,” sahut Hastri.

“Oh, My God! Kalian udah ciuman?” teriak Rani heboh.

Alluna menggeleng-gelengkan kepalanya. “Enggak Ran, kita nggak ngapa-ngapain. Tanya langsung deh sama Evan.” Alluna mengarahkan ponselnya ke wajah Evan. Terlihat wajah Evan tersenyum di sisinya.

“Kalian serasi banget, sih? So cute ...,” ucap Hastri dengan gayanya yang sok lucu. Sontak saja celetukan Hastri membuat Alluna dan Evan saling pandang.

“Van, lo apain aja dia semalam? Kayaknya tidurnya nyenyak tuh,” teriak Rani.

Evan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Rani. Alluna menyenggol lengan Evan agar mengatakan yang sebenarnya.

“Menurut kalian, kita ngapain aja?” tanya Evan sambil tersenyum menggoda.

“Aaaargh...!” teriak Austin dan dua sahabatnya bersamaan.

Alluna mendelik ke arah Evan dan mematikan panggilan videonya. “Lo kenapa sih nggak jujur sama mereka kalo kita nggak ngapa-ngapain?”

“Lun, lo ini hidup di zaman apa sih? Logikanya, kalo cowok sama cewek semaleman bareng itu ngapain aja? Di antara 1000 cewek, paling cuma ada 1 cewek yang bisa pertahanin perawannya.”

“Gila lo ya!”

“Lun, biar aja mereka berpikir kayak gitu. Toh, sebenernya kita nggak ngapa-ngapain. Dan gue bisa jaga diri lo dari cowok-cowok yang nggak bener. Coba aja semalem lo di sini sama Jacklin. Dia nggak bakal peduli lo masih suci atau enggak. Dia bakal jadiin lo pemuas nafsu.”

“Jadi, Austin sama Jacklin itu ...,”

“Udah lah, nggak usah dipikirin. Zaman sekarang, pacaran kayak gitu udah jadi hal yang wajar.”

“Buat gue nggak wajar.”

“Itu karena lo cewek baik-baik dan selalu dikelilingi sama orang baik. Dan lo emang sama sekali belum kenal dunia begituan. Kalo udah tau rasanya, lo bakal ketagihan,” bisik Evan di telinga Alluna.

Alluna bergidik. “Nggak, gue nggak tau dan nggak pengen tau. Gue nggak mau hamil di luar nikah. Gue masih pengen ngejar cita-cita gue. Gue nggak mau ngancurin masa depan gue sendiri.”

“Bagus deh kalo lo punya pikiran sehebat itu. Laki-laki yang jadi suami lo, pasti beruntung banget bisa dapetin cewek kayak lo. Cantik, pintar, baik dan bisa menjaga harga dirinya.”

Alluna tersenyum, “Makasih.”

“Mau pulang sekarang? Ayo!”

“Bentar. Gue masih mau di sini.”

Evan menaikkan kedua alisnya, makin bingung dengan sikap Alluna yang sulit ia tebak.

“Nggak takut gue mesumin?” goda Evan.

“Nggak. Gue yakin lo cowok baik-baik.”

“Kenapa lo bisa nilai gue cowok baik-baik?”

“Karena semalem lo bisa jagain gue dan nggak nyentuh gue sama sekali,”

“Masa sih? Semalem gue cium lo berkali-kali dan lo nggak bangun,” tutur Evan berbohong.

“Hah!?” Alluna mendelik ke arah Evan. “Lo jahat banget, sih!” Alluna memukul dada Evan dan mendorong tubuhnya dengan kuat.

“Lun, kalo ciuman doang nggak bakal bikin lo hamil,” goda Evan.

“Bukan soal itu!”

“Terus?”

“Lo bukan siapa-siapa gue? Berani banget lo cium gue!” sentak Alluna.

“Emang harus jadi siapa-siapa lo dulu baru boleh cium?” tanya Evan sambil tertawa menggoda.

“Evan...!!!! Nggak lucu!” teriak Alluna, ia terus memukuli dada Evan.

Evan yang belum siap menahan pukulan, hampir terjatuh dan spontan menarik lengan Alluna untuk bertahan. Membuat tubuh Alluna jatuh mendarat di atas tubuh Evan. Yang lebih sialnya lagi, bibir mereka berciuman tanpa sengaja.

Kejadian yang super cepat ini membuat Alluna benar-benar kaget. Ia tidak menyangka kalau dia harus berciuman dengan Evan dalam keadaan terjatuh. Ia langsung bangkit dan menjauh dari tubuh Evan. Beberapa kali mngusap bagian belakang telinganya karena canggung.

Evan justru tersenyum dengan insiden lips kiss tak sengaja ini. Semalaman ia menahan diri untuk tidak mencium Alluna, tapi sepertinya cupid-cupid cinta sedang memanah mereka berdua sehingga akhirnya bisa berciuman sungguhan. “Bukan salah gue, kalo aja lo diem, gue nggak bakal jatuh dari sofa.”

“Iya. Nggak papa,” jawab Alluna tanpa memandang ke arah Evan.

“Beneran nggak papa?” Evan bangkit dan mendekatkan wajahnya ke wajah Alluna. “Boleh nambah lagi nggak?” bisiknya.

PLAK!

Bukannya mendapat ciuman tambahan, Evan justru mendapat tamparan dari Alluna. “Kok, nampar sih?” Evan memegangi pipinya, ia menahan perih karena tamparan Alluna lumayan keras.

“Nggak usah macem-macem. Lo bukan siapa-siapa gue!” sentak Alluna.

“Ya udah. Lo jadi pacar gue mau nggak?” tanya Evan.

“Gila lo ya! Kita baru kenal dua minggu.”

“Tapi, gue suka sama lo dari awal ketemu.”

Alluna menatap Evan yang masih cengengesan. Ia melihat tidak ada keseriusan dari wajah Evan. “Nggak usah kebanyakan bercanda!”

“Oke. Gue serius!” Kali ini Evan memasang tampang serius dan justru membuat Alluna tertawa lebar.

“Lo gimana sih? Gue serius, lo malah ketawa ngakak gitu?”

“Muka lo lucu banget kalo lagi serius gitu. Kayak Sinchan!” Alluna tergelak.

TING!

Pesan Whatsapp di smartphone Alluna.

Alluna membukanya dan menghela napas.

“Kenapa?” tanya Evan bingung.

“Lihat!” Alluna menunjukkan layar ponselnya. “Undangan lagi.”

Evan tersenyum. “Kondangan lagi?”

Mereka saling pandang dan tertawa.


((Bersambung...)) 

Sunday, June 21, 2026

Alluna Wedding Party Bab 3 : Makin Dekat

 


“Lo kenapa? Muka lo jelek amat?” tanya Austin. Ia tidak menyadari kalau Alluna sedang kesal dengannya.

Alluna ingin mengomel panjang lebar, tapi kehadiran Jono yang tiba-tiba membuatnya menumpahkan kekesalannya pada cowok itu.

“Apa lo liat-liat!?” sentak Alluna.

“Galak amat sih, cantik?” goda Jono dengan gayanya yang cengengesan.

Alluna menghela napas kesal, ia benar-benar kesal sampai tidak nafsu untuk marah-marah. Ia langsung duduk di sisi Austin yang menatapnya bingung, tidak biasanya Alluna diam dengan ekspresi sekesal ini.

“Pergi, Jon!” pinta Austin dengan lembut. Jono langsung keluar kelas dan bergabung dengan teman-teman yang lainnya.

“Lo kenapa sih, Lun? Dateng-dateng muka lo langsung dilipat dua belas gini? Diapain sama Evan?” tanya Austin perlahan.

“Gue nggak diapa-apain. Gue nggak suka aja kalian comblangin gue sama cowok yang udah pacar!” tutur Alluna kesal.

“Pacar?” Austin mengangkat alisnya. Yang ia tahu, sepupunya itu tidak punya pacar. Bagaimana Alluna bisa tahu kalau Evan sudah punya pacar?

“Iya. Tadi, waktu gue ngobrol sama dia. Tiba-tiba ada cewek nelpon. Terus, dia panggil sayang tuh cewek.” Alluna melipat dua tangannya. “Iya, sayang ... nanti pulang sekolah aku jemput.” Alluna menirukan gaya menelepon dengan tangannya.

Austin menahan tawa mendengar pernyataan Alluna.

Alluna menatap tajam. “Lo kenapa ketawa?” tanyanya makin sewot.

“Lun, lo kan baru kenalan sama Evan. Udah cemburu berat aja.”

Alluna melotot ke arah Austin. “Cemburu? Gue bukan cemburu, gue cuma nggak terima dicomblangin sama cowok yang udah punya pacar.”

“Emang lo udah pastiin yang dia telepon itu pacarnya?”

“Ya, gue udah tanya. Dia cuma senyum doang. Artinya bener, kan?”

Austin mengedikkan bahunya. “Evan itu sepupu gue. Yang gue tau dia nggak punya cewek.”

“Bisa aja kan dia udah punya cewek dan nggak ngasih tau lo,” sahut Alluna makin sewot.

“Ntar gue tanya dia deh.”

“Hai ... hai ... hai ...! Lagi ngomongin apaan sih? Serius banget?” Rani tiba-tiba muncul bersama Hastri.

“Ngomongin si Evan,” jawab Austin.

“Ceileh ... kayaknya ada yang langsung klik nih?” goda Rani.

“Klik apaan? Click bait?” sahut Alluna sewot.

“Hah!? Lo kenapa?” tanya Rani yang menyadari ekspresi wajah Alluna penuh kekesalan.

“Tanya aja tuh sama Austin!” celetuk Alluna sambil melirik Austin sinis.

Rani menatap Austin dan menggoyangkan alisnya sebagai isyarat pertanyaannya.

Austin malah tertawa kecil sambil memandang ekspresi Alluna yang makin bad mood. “Cemburu,” jawabnya sambil cekikikan.

“Nggak! Gue nggak cemburu,” sahut Alluna. Kedua alisnya hampir menyatu karena Austin justru membuatnya semakin kesal.

“Cemburu sama siapa?” tanya Hastri.

“Siapa lagi kalau bukan Evan.” Austin tertawa lebar, hal ini membuat Alluna semakin kesal.

“Nggak lucu!” Alluna bangkit dari tempat duduknya dan langsung keluar dari kelas.

“Mau ke mana, Lun? Bentar lagi Bu Erna dateng, loh,” teriak Rani.

“Bodo amat!”

Ketiga sahabatnya menggelengkan kepala sambil tersenyum aneh, mereka saling pandang, di otak mereka ada sesuatu yang akan direncanakan berikutnya.

***

Alluna duduk di kantin seorang diri, ia hanya memesan satu gelas jus alpukat. Ia kini tak lagi berharap Evan akan menjadi cowok spesial di hidupnya. Semua masih terasa biasa saja. Sejak kejadian di lantai tiga yang lalu, ia belum pernah bertemu lagi dengan Evan. Bisa jadi, Evan memang sudah punya pacar dan tidak begitu berminat untuk mendekati Alluna. 

Pikiran Alluna masih dipenuhi banyak hal negatif tentang Evan. Cowok yang menurutnya paling keren di sekolah karena memenuhi kriteria cowok idaman versi Alluna. Cowok yang tinggi badannya jelas lebih tinggi dari Alluna yang mencapai 175 cm. Sayangnya cowok sekeren Evan, nggak mungkin jomblo.

“Hai, sendirian aja?” sapa Evan yang baru saja selesai latihan basket. Ia menatap Alluna yang sedang melamun sambil memainkan sedotan di minumannya. 

Evan meneliti dengan seksama, sepertinya gadis itu memang sedang melamun karena ia tidak menyadari kedatangan Evan yang jelas-jelas sudah duduk di depannya. Evan melambaikan tangannya tepat di depan wajah Alluna dan Alluna masih belum menyadarinya.

“Eh, kalo ngelamun mulu ntar kesambet.” Evan mendorong hidung Alluna dan berhasil membuat Alluna tersadar dari lamunannya.

“Eh? Oh ... kok, lo ada di sini?” Alluna gelagapan karena ia melihat cowok yang ada dipikirannya tiba-tiba sudah duduk di depannya. Penampilannya makin menggoda dengan pakaian olahraga, keringat yang menetes dari ujung rambutnya tidak membuat Alluna risih. Justru memandang cowok itu sebagai cowok yang macho dan sangat menarik.

Alluna masih bengong, ia tidak menyadari kalau mulutnya menganga sambil terus memikirkan Evan. “Please, gue nggak lagi halu kan?” batin Alluna sambil mengerjapkan matanya. Ia berharap ini hanya halusinasi, karena tidak mungkin orang yang ia pikirkan tiba-tiba datang begitu saja di depannya.

Sementara Evan menahan tawa melihat tingkah Alluna yang masih saja bengong. “Lo kenapa, Lun?”

“Eh? Nggak papa.” Alluna menundukkan kepalanya. Ternyata benar, ini bukan halu atau mimpi. Evan memang benar-benar ada di depannya.

“Sendirian aja?”

“Iya. Rani lagi sibuk di ruang osis.”

“Oh, lo nggak ikutan osis juga?”

Alluna menggelengkan kepalanya.

“Hai, lagi pada ngobrolin apaan nih?” Yang sedang dibicarakan tiba-tiba muncul bersama dua temannya, Hastri dan Austin.

“Kayak jin aja lo, baru disebut namanya langsung muncul,” celetuk Alluna.

“Hah!? Seriusan? Kalian lagi ngomongin gue?”

Alluna dan Evan sama-sama tidak menjawab, mereka hanya tersenyum saling pandang.

“Lun, ini buat lo!” Rani mengulurkan sebuah kertas cantik yang dibungkus dengan plastik, di situ tertera huruf besar bertuliskan ‘UNDANGAN’.

“Siapa yang nikah?” tanya Alluna sambil meraih kartu undangan pemberian Rani.

“Kak Shella.”

“Yang baru lulus tahun kemarin itu?” tanya Alluna.

Rani mengangguk.

“Yang sering pakai kalung hitam nyekek leher itu, kan?” tanya Alluna lagi.

“Iya.”

Alluna menghela napas dan meletakkan undangan itu di meja kantin begitu saja. Ia tidak berniat membukanya.

“Dateng, ya! Jangan lupa bawa pasangan! Karena kita udah sama pasangan kita masing-masing,” goda Rani, mereka langsung berlalu pergi meninggalkan Evan dan Alluna di kantin.

“Lo kenal sama Shella juga?” tanya Evan.

Alluna menganggukkan kepalanya.

“Mau dateng ke sana?”

Alluna mengedikkan bahunya.

“Why?”

“Masih seminggu lagi. Belum tahu bisa datang atau enggak.”

Evan mengangguk-anggukan kepalanya. “Apa karena lo nggak punya partner buat kondangan?”

“Nggak juga. Gue biasa pergi ke kondangan sendirian.”

“Kalo lo mau, gue bisa nemenin lo,” ucap Evan sambil tersenyum.

“Makasih. Gue bisa sendirian, kok. Ntar pacar lo marah,” celetuk Alluna sewot.

“Lun,” Evan meraih tangan Alluna. Membuat Alluna makin salting. “Gue tau, ekspresi muka lo itu tetep nggak bisa nyembunyiin sesuatu yang ada di pikiran lo.” Evan tersenyum menatap Alluna. “Gue belum punya pacar dan nggak akan ada yang marah.”

“Lah? Terus yang kemarin lo panggil sayang lewat telepon itu siapa?” tanya Alluna kesal.

“Adik gue.”

“Adik ketemu gede?”

“Nggak. Beneran adik gue.”

“Oh.”

***

“Van, tolong ya!” desak Austin.

“Why?”

“Lo nggak lihat muka Alluna bete mulu?”

“Dia jutekin gue kemarin pas di kantin.”

“Because, she is jealous. Right?”

Evan mengedikkan bahunya. “I think so.”

Austin tertawa lebar. “Dia beneran suka sama lo.”

Evan bergeming menanggapi ucapan Austin. Tapi, hatinya tersenyum tanpa sadar. 

“Ya udah, ntar kita atur. Lo cukup siapin diri lo aja!” Austin langsung berlalu pergi.

***

“Ma, bantuin aku pilih gaun, dong!” pinta Alluna saat ia bersiap berangkat ke pesta pernikahan kakak kelasnya.

“Kamu mau pakai yang mana?” Mama Alluna menggelengkan kepala saat melihat ranjang Alluna sudah penuh dengan gaun-gaun pesta. Alluna masih sibuk memilih gaun mana yang akan ia kenakan.

“Kamu berangkat sama siapa?” tanya Mama Alluna.

“Sama Rani dan lainnya, Ma.” Alluna menempelkan satu gaun di badannya, menatapnya di cermin, kemudian meletakkan kembali gaunnya di atas ranjang.

“Nggak beli gaun baru?” Mama Alluna mendekat dan memilih dengan cermat gaun-gaun Alluna yang sudah bertebaran di ranjangnya. “Ini bagus.” Mama Alluna meraih satu gaun berwarna abu-abu dengan hiasan payet di sekitar badannya.

“Nggak terlalu terbuka, Ma?” Alluna memperhatikan gaun selutut tanpa lengan dengan dada terbuka.

“Mama rasa nggak terlalu sexy, masih biasa aja. Bisa kamu tutup pakai cardigan senada.”

“Hmm, boleh juga.” Alluna langsung meraih gaun yang ada di tangan mamanya dan mengenakannya. Ia  terlihat manis dengan gaun berwarna abu-abu dengan hiasan payet putih yang cantik.

“Ma, tolong panggilin bibi, ya! Beresin baju-baju aku. Aku mau dandan dulu. Ntar aku telat!” Alluna langsung duduk di kursi rias dan mulai menghias wajahnya dengan make up sederhana.

“Pilih baju aja berjam-jam,” celetuk Mama sembari keluar dari kamar Alluna.

Alluna hanya tersenyum menanggapi celetukan mamanya.Ia mengakui kalau ia memang paling sulit mencari pakaian mana yang akan ia gunakan daripada berdandan.

“Lun, kita tunggu di apartemen Austin, ya!” Rani berbicara via video call. Alluna juga terlihat sudah siap berangkat dari rumahnya. “Cantik, Lun!” ucap Rani yang melihat Alluna sedang bersolek.

“Kalian udah siap semua?”

“Hampir siap, nih.” Rani menunjukkan seluruh ruangan dan keseruan mereka yang sedang bersiap ke pesta.

Alluna memang jarang sekali bisa berkumpul dengan sahabatnya. Bukan karena dia tidak mau, tapi karena kegiatan Alluna di luar sekolah cukup padat. Banyak les yang harus dia ikuti sepulang sekolah, sehingga ia selalu telat kalau harus ngumpul di apartemen Austin.

“Ma, aku berangkat ya!” pamit Alluna pada mamanya yang sedang asyik menonton tv bersama Daren, kakak kandung Alluna.

“Sama siapa?” tanya Daren.

“Naik taksi.”

“Masih jomblo?” ledek Daren.

Alluna memonyongkan bibirnya dan berlalu pergi. Sesampainya di apartemen Austin, ia langsung menelepon Rani untuk membukakan pintu. Mereka bertiga sudah bersiap dan terlihat cantik.

“Ayo, kita langsung berangkat aja!” pinta Alluna.

“Yee, bentar kali. Nunggu partner kita jemput dulu,” sahut Hastri.

“Hah!? Kalian semua dijemput?”

Mereka mengangguk bersamaan. “Terus, gue sama siapa dong?”

Hastri, Rani dan Austin menggeleng bersamaan. Alluna menghela napas dalam-dalam. “Ya udah, gue berangkat duluan aja, ya?”

“Jangan!” Semua serempak mencegah Alluna. Membuat Alluna menjadi bingung.

“Kita berangkatnya tetep bareng ya, masa lo mau nyelonong masuk ke pesta sendirian aja?”

“Hmm, oke lah.” Alluna duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.

Tak berapa lama, Jacklin datang dan langsung disambut Austin dengan ciuman hangat di bibir.

“Sumpah ya, kalian mesra-mesraan di depan gue! Gak mikir kalo gue masih jomblo!?” celetuk Alluna.

“Hai, cantik!” sapa Jacklin yang langsung duduk juga di pinggiran sofa sambil menatap Alluna, sementara Austin bergelayut di tubuh Jacklin dengan manja. Mereka dengan sengaja membuat hati Alluna semakin panas. Belum lagi kalau pasangan Rani dan Hastri juga datang. Alluna bisa dibuat kesal karena mereka tak malu menunjukkan kemesraan mereka di depan Alluna.

“Nggak pengen punya pacar?” goda Jacklin.

Belum sempat Alluna menyahut, tiba-tiba dua cowok yang sudah ia kenal masuk ke dalam aparteman Austin. Satunya pacar Rani dan satu lagi Alluna belum mengenalnya. Sepertinya bukan pacar Hastri atau itu pacar Hastri yang baru. Hastri memang hobi berganti pacar. Alluna tidak heran kalau dia akan pergi ke pesta pernikahan selanjutnya dengan partner yang berbeda.

“Ayo, berangkat!” Alluna bangkit dan menenteng paper bag berisi kado pernikahan yang akan ia berikan untuk Shella.

“Bentar, kita masih nunggu satu orang lagi.” Austin berbicara tanpa menoleh, ia sibuk menatap layar ponselnya.

“Siapa lagi?” Alluna mengerutkan keningnya. Belum sempat di jawab, bel pintu apartemen Austin berbunyi.

“Nah, itu dia. Tolong bukain ya, Lun! Gue mau ambil sepatu dulu,” pinta Austin. Sementara Rani dan Hastri juga tidak beranjak dari tempatnya, asyik mengobrol dengan pasangannya masing-masing. Alluna mencebik kesal dan membukakan pintu sambil mengomel tak jelas.

“Masuk!” pinta Alluna pada cowok yang berdiri di pintu membelakanginya. Cowok dengan setelan jas dan badan tinggi. Model rambutnya mengingatkan Alluna pada seseorang.

Cowok itu membalikkan badannya dan tersenyum. “Udah siap? Gue tunggu di sini aja.”

“Evan!?” Alluna terkejut dan menutup kembali pintu apartemen Austin, nyaris mengenai wajah Evan yang berdiri tepat di depan pintu.

“Eh!? Itu, kok ada Evan di luar?” teriak Alluna.

“Kenapa nggak disuruh masuk?” tanya Rani.

“Katanya mau nunggu di depan.”

“Ya udah, ayo kita berangkat!” Rani langsung bangkit dari tempat duduk dan diikuti dengan yang lainnya, mereka bergegas keluar dari apartemen. Melewati tubuh Evan yang masih menunggu di pintu. Austin dan Rani hanya memberi isyarat menggunakan kedipan mata, Evan sudah mengerti maksud mereka.

Alluna berjalan perlahan keluar dari apartemen. Tangannya masih menenteng paper bag, menutup pintu apartemen yang terkunci otomatis.

“Sini, aku bawain!” Evan menyambar paper bag yang ada di tangan Alluna.

“Makasih.” Alluna tersenyum kecut, kemudian melangkahkan kakinya menuju parkiran.

Sepanjang perjalanan, Alluna dan Evan saling diam. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Mood Alluna sudah terlanjur rusak karena sikap Austin dan Jacklin yang dengan sengaja memanas-manasinya.

Sesampainya di tempat acara, Evan memarkirkan mobilnya dan membukakan pintu untuk Alluna. “Silakan turun, tuan puteri yang cantik!” ucap Evan sambil tersenyum.

“Apa-apaan, sih!?” Alluna tersenyum dengan wajah bersemu merah.

“Jangan ngelamun mulu, ntar kesambet!” Evan menutup kembali pintu mobilnya saat Alluna sudah berdiri di sisinya. “Ayo!” Evan meregangkan lengannya di depan Alluna, memberi isyarat untuk menggandengnya.

Alluna tersenyum dan menggandeng lengan Evan. “Kita cuma partner kondangan, bukan pacaran!” celetuk Alluna.

“Gak papa. Gue pengen bisa jadi partner yang baik buat lo.”

“Makasiih ...!” Alluna tersenyum manis. Setidaknya, partnernya kali ini bukan cowok yang lebih pendek dari dia. Tinggi badan Evan masih bisa mengimbanginya walau ia mengenakan high heels. It’s not bad.

Alluna termasuk cewek yang perfeksionis. Bisa dibilang, dia juga pilih-pilih banget soal pasangan. Terutama soal fisik dan tinggi badan pasangannya. Bukan karena dia malu punya cowok yang lebih pendek. Dia justru lebih takut kalau cowok yang lebih pendek dari dia, minder saat jalan bersamanya yang kelewat tinggi. Kalau kata teman-teman di sekolahnya, tiang listrik lagi jalan. Itu salah satu alasan kenapa Alluna tidak mau punya pacar yang tubuhnya lebih pendek.

Acara kondangan berjalan dengan baik. Bukan Alluna yang dibuat terpesona malam ini. Tapi Evan, mulai benar-benar mengagumi cewek yang satu ini. Selain cantik, dia juga pandai bernyanyi. Dia cukup percaya diri menyanyi di acara pesta pernikahan. Suaranya juga bagus, banyak mata memandangnya kagum terutama mata pria. Evan mulai tidak nyaman dengan tatapan pria lain yang sedang melihat Alluna bernyanyi di panggung. Terutama melihat pria yang sudah beristri, tapi matanya masih saja tidak lepas dari pesona Alluna.

Usai bernyanyi, Alluna menghampiri kembali meja tempat ia duduk bersama Evan dan kawan-kawannya. “Suara lo keren!” puji Jacklin.

“Baru denger, ya? Kita mah udah tahu dari dulu,” sahut Rani.

“Iya. Kalian sahabatnya, kalo nggak tau namanya bukan teman,” balas Rano, cowok yang bersama dengan Hastri. Semua tertawa menanggapi ucapan Rano.

Evan hanya tersenyum sambil melepas jasnya, ia meletakkan jas itu di punggung Alluna. “Pakai!” pintanya.

“Why?” tanya Alluna.

“Pakaian lo terbuka dan jadi pusat perhatian. Gue nggak suka aja banyak cowok yang liatin lo karena lo sexy,” bisik Evan sambil memperhatikan cowok-cowok yang masih memandang Alluna.

“Oh, I see ...” Alluna langsung mengenakan jas milik Evan. “Tuh, kan ... mama bilang nggak terlalu sexy, sedangkan Evan bilang gaun aku sexy.” Alluna ngedumel dalam hati. Alluna mulai tak nyaman dengan perubahan sikap Evan. Bukan tidak nyaman dengan Evan, tapi ia tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Ia lebih banyak diam sampai mereka keluar dari tempat acara pesta pernikahan itu.

“Lo sering pakai baju ginian?” tanya Evan saat mereka sudah di dalam mobil.

Alluna mengangguk. “Kata Mama, baju ini nggak terlalu sexy.”

“Emang nggak terlalu sexy,” sahut Evan.

“Terus, kenapa gue harus pake jas lo?”

“Karena semua cowok liatin lo, gue nggak nyaman aja ada cowok lain merhatiin lo mulu.”

“Kenapa?”

“Rumah lo di mana? Gue antar pulang ya!” Evan tak menjawab pertanyaan Alluna. Ia menyalakan mesin mobilnya dan perlahan keluar dari tempat acara.

“Ke apartemen Austin aja. Gue bisa pulang naik taksi, kok.”

“Kenapa harus naik taksi kalo bisa gue antar pulang?”

“Gue udah bilang sama nyokap kalo mau nginep di tempat Austin. Besok pagi baru gue pulang.”



((Bersambung...)) 

Tuesday, June 9, 2026

Alluna Wedding Party Bab 2 : Jomblo Sweet Seventeen

 

    



Jam istirahat telah tiba, semua siswa berhamburan keluar dari kelasnya. Tapi tidak dengan Alluna, ia masih setia dengan kursinya dan tidak ingin beranjak pergi.

Alluna sibuk memutar-mutar pena di atas meja, tangan kirinya memangku pipi. Wajahnya terlihat tidak bersemangat, seminggu lagi ia akan merayakan ulang tahunnya yang ke-17. Kata orang, sweet seventeen itu momen paling membahagiakan dan wajib untuk dirayakan. Karena di usia itulah, kita akan masuk ke dalam dunia dewasa yang diakui oleh masyarakat. Tapi tidak bagi Alluna, perasaannya masih kacau balau karena sampai hari ini ia belum juga punya pacar. Merayakan sweet seventeen dalam keadaan jomblo, kelihatan menyedihkan sekali.

“Lun, kenapa?” tanya Hastri yang duduk di sebelahnya.

“Eh!? Nggak papa.” Alluna langsung menatap wajah Hastri saat menyadari kalau Hastri sedari tadi sudah memanggilnya.

“Ke kantin, yuk!” ajak Hastri.

“Duluan aja. Gue lagi males ke kantin.”

“Kenapa sih, akhir-akhir ini lo bete mulu?” celetuk Hastri.

“Bete gue, seminggu lagi gue ultah dan sampe sekarang belum dapet pacar!” Alluna menghentakkan penanya.

“Makanya, jangan di dalam kelas mulu. Jalan-jalan, kek, ke gedung kelas 3, siapa tahu ada kakak kelas yang nyantol.”

“Apaan!? Ogah banget gue.”

“Lun, kalo lo mau punya pacar ... buang jauh-jauh sifat jutek lo itu. Cowok-cowok males deketin lo kalo lo jutek banget,” bisik Hastri.

Alluna mengernyitkan dahinya. “Emang gue jutek!?”

“Iya, kalo ketemu si Jono, serem amat muka lo.” Hastri tergelak menatap wajah Alluna yang semakin kesal.

Alluna sama sekali tidak menyukai Jono, cowok aneh yang seringkali menggodanya. Bahkan di tempat umum sering mengaku kalau dia kekasih Alluna. Pendeklarasian status hubungan sepihak itu membuat Alluna kesal dan ilfil  dengan Jono. Sebenarnya, tampang Jono tidak jelek-jelek amat. Dia lumayan tampan dibanding dengan yang lain. Tapi kelakuannya benar-benar membuat Alluna ingin muntah setiap kali ketemu Jono.

Selain sikapnya yang berlebihan, Alluna juga tidak menyukai cowok yang tinggi badannya tidak melebihi tinggi badan Alluna. Dengan tinggi badan yang mencapai 175 cm, tubuh Alluna bak model yang siap berlenggak-lenggok di atas catwalk. Memang jarang sekali cowok yang tinggi badannya melebihi tinggi badan Alluna. Untuk ukuran cewek, Alluna memang termasuk tinggi. Itu sebabnya dia tidak begitu suka dengan pria yang lebih pendek darinya.

“Hai, cantik!” Baru saja dibicarakan, Jono muncul di depan Alluna sambil memainkan kedua matanya.

“Nah, baru diomongin langsung muncul. Lo kayak jin aja,” celetuk Hastri.

“Wah, kalian ngomongin gue? Pasti ngomongin kegantengan gue yang nggak ada tandingannya di sekolah ini, kan?” Dengan pede-nya Jono menegapkan badannya agar terlihat lebih gagah, tangan kanannya mengusap-usap rambut depannya, tangan kiri memegang kerah bajunya sambil tersenyum penuh percaya diri.

Alluna melotot melihat Jono, perutnya tiba-tiba mual. “Has, ke kantin yuk!” Alluna menarik lengan Hastri dan mengajaknya keluar dari kelas. Membiarkan Jono bengong karena lagi-lagi ditinggal begitu saja oleh Alluna.

“Kenapa nggak lo manfaatin aja tuh si Jono? Mukanya nggak jelek-jelek amat. Lumayan menjual buat diajak ke pesta.” Hastri berjalan mengiringi langkah Alluna menuju kantin.

Alluna mengedikkan bahunya. “Ogah gue. Di sekolah aja dia sering bikin malu dengan ngaku-ngaku jadi pacar gue. Masa iya, mau gue ajak ke pesta? Bisa gede banget tuh kepalanya dia,” sahut Alluna kesal.

“Austin sama Rani mana?” Alluna memandang ke sekeliling kantin, ia tidak mendapati dua sahabatnya itu ada di kantin.

Hastri mengedikkan bahunya. “Nggak tau. Lo mau makan apa? Biar gue pesenin.”

“Minum aja,deh.”

Hastri langsung menuju outlet untuk memesan makanan dan minuman. Mereka menikmati hidangan sambil bercerita banyak seputar sekolah dan dunia luar sekolah yang lagi hits.

Di ruangan lain, di ruang osis, Austin dan Rani sedang menyusun rencana untuk memberi kejutan ulang tahun Alluna. Mereka tidak mau kalau Alluna sampai tahu, sahabat-sahabatnya akan memberikan kejutan spesial yang melibatkan murid-murid di sekolah. Beruntungnya, Rani adalah ketua osis. Jadi, dia bisa dengan mudah meminta tolong anggota Osis untuk memberikan kejutan yang tidak akan terlupakan oleh Alluna.

Saat bel pulang sekolah berbunyi, Alluna merogoh saku tasnya dan mengambil tumpukan kartu berukuran 8x8 cm yang sudah diikat rapi. Ia cepat-cepat berdiri di depan pintu dan memberikannya satu per satu kepada teman-teman sekelasnya. “Dateng, ya!” pintanya setiap kali memberikan kartu undangan ulang tahunnya yang ke-17. Ia juga memberikan kartu undangan untuk teman-teman kelas lain yang ia kenal dan ia jumpai saat pulang sekolah.

“Aku minta undangannya, dong!” Austin tiba-tiba mencegat langkah Alluna.

“Buat siapa?” Alluna mengernyitkan dahinya.

“Buat gue.” Austin cengengesan.

“Lo nggak gue undang!” Alluna mendelik ke arah Austin. “Lo bantuin gue di rumah, siapin acara,” tegas Alluna. “Kalian bertiga harus nginep di rumah gue!” Alluna memandang tiga sahabatnya yang dibalas dengan tawa yang tertahan.

“Iya!” sahut mereka serempak.

“Tapi, gue minta undangannya satu, dong! Gue mau ngundang sepupu gue juga,” sela Austin.

“Wah, sepupu lo pasti bule juga kayak lo ya?” tanya Hastri.

“Jelas, dong!” jawab Austin dengan nada bangga. Austin memang cewek blasteran Amrik-Batak, rambutnya blonde, kulitnya putih, bola matanya berwarna biru, tapi tinggi badannya tidak melebihi tinggi badan Alluna. Tidak heran kalau sepupu Austin juga banyak yang bule.

***

Hari Sabtu, rumah Alluna mulai sibuk dengan persiapan pesta ulang tahun Alluna. Mama Alluna sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Dia juga dibantu oleh beberapa tetangga yang mau membantunya menyiapkan makanan di dapur. Mama Alluna sengaja tidak memesan catering, ia memilih untuk mengerjakannya sendiri dengan melibatkan pihak keluarga dan tetangga terdekatnya. Sebab, di sana ada rasa kebersamaan dan gotong-royong yang jarang sekali ia temukan setiap harinya. Hanya momen seperti inilah saudara dan tetangga bisa berkumpul bersama.

Sementara Mama Alluna sibuk di dapur, Alluna dan tiga sahabatnya sibuk menghias ruang tamu yang akan dijadikan acara pesta ulang tahun Alluna. Hastri sibuk menggunting kertas untuk hiasan, Rani sibuk meniupi balon dan Austin sibuk memasang hiasan ke dinding.

“Assalamu’alaikum ...!” Suara dari pintu depan membuat keempat remaja itu memalingkan pandangannya ke arah pintu.

“Wa’alaikumussalam,” sahut mereka serempak.

Alluna langsung bangkit dan menghampiri sosok cowok yang sudah berdiri di depan pintu. Ia menyalami dan mencium punggung tangan cowok itu.

“Kenalin, ini kakak gue. Namanya Daren.” Alluna memperkenalkan Daren yang baru saja pulang karena kuliah di Singapura.

Ketiga sahabatnya melongo melihat kedatangan Daren. Mereka tidak menyangka kalau Alluna punya kakak cowok yang sangat tampan , wajah asianya sangat khas dan mirip sekali dengan Jeon Jeong Guk, salah satu anggota Bangtan Boys dari Korea Selatan.

“Hai, kak!” sapa ketiganya bersamaan. Mereka menyalami Daren dan memperkenalkan diri satu per satu.

Usai berkenalan, Daren langsung menuju dapur untuk menyapa mamanya yang sedang sibuk memasak sambil bercengkerama dengan keluarga dan tetangganya.

“Mama lagi kotor.” Mama Alluna menolak saat Daren ingin menyalami tangannya. Budaya cium tangan di keluarga Alluna memang sudah berjalan sejak dulu, sebagai rasa hormat pada keluarga juga sebagai bukti kasih sayang di dalam keluarga mereka.

“Ya, udah. Aku langsung naik, ya!” pamit Daren, tak lupa ia juga permisi pada saudara dan tetangga yang sedang membantu mamanya di dapur. Ia bergegas masuk ke kamarnya yang ada di lantai 2, tepat bersebelahan dengan kamar Alluna.

“Lun, lo nggak pernah bilang kalo lo punya kakak cowok yang ganteng banget!” celetuk Rani.

“Ganteng?” Alluna mengernyitkan dahinya. Baginya, kakaknya terlihat biasa saja. Mungkin karena mereka sudah sering bertemu sejak kecil. Tidak terlihat istimewa di mata Alluna.

“Iya, ganteng banget kayak gitu. Kalo tau lo punya kakak ganteng, mending gue gebet kakak lo aja daripada si Jacklin,” celetuk Austin.

“Bukannya si Jack ganteng juga?” goda Alluna.

“Iya, sih. Dia juga mau sama gue. Kalo kakak lo kan belum jelas, belum tentu dia demen sama gue,” sahut Austin yang disambut gelak tawa yang lainnya. Walau Austin keturunan Amerika, tapi dia lancar berbahasa Indonesia dan Batak karena memang lahir dan besar di Jakarta.

“Asal yang ganteng sukanya jangan sama yang ganteng juga ya!” sela Hastri, membuat semuanya jadi tertawa.

“LBGT dong!?” sahut Austin.

“Sst..! Ngomongnya jangan keras-keras!” Rani menempelkan jari telunjuk di bibirnya. “Jangan sarkas gitu, ntar tiba-tiba ada cctv, bahaya loh.”

“Hah!? Seriusan?”

“Iya, serius.”

“Bercanda kalee,” sahut Hastri sambil menepuk bahu Austin yang sudah serius menanggapi ucapan Rani.

Austin menghela napas lega. “Syukur, deh. Kirain serius.”

“Lah? Dia masih serius?” Rani menepuk dahinya sendiri melihat sifat Austin yang rada tulalit.

***

Pukul 19.00 WIB, Alluna dan tiga temannya sudah bersiap melangsungkan pesta ulang tahun Alluna yang ke-17. Alluna masih duduk di kursi meja rias, menatap wajahnya di depan cermin, tiga sahabatnya juga berdiri tepat di belakangnya.

“Bagus atau nggak, sih?” tanya Alluna sembari memperhatikan make-up dan gaunnya.

“Bagus banget, kamu cantik banget malam ini.” Rani mengangkat kedua jempolnya. Ia menatap kalung berlian yang tersemat di leher Alluna. Kalung itu membuat Alluna semakin manis.

Alluna bukan gadis biasa, dia anak seorang pengusaha kaya raya. Wajar saja kalau ia punya perhiasan berlian yang indah. Satu set berlian yang ia kenakan terlihat sangat cantik berpadu dengan gaun merah yang juga tak kalah cantik. Gaun merah selutut ini memang dipesan khusus oleh Mama Alluna untuk ulang tahun puteri tercintanya. Bagian bahunya terbuka dengan gaya off the shoulder neckline yang membuatnya terkesan sexy tapi tetap elegan.

“Lun, lo cantik banget!” puji Hastri.

“Beneran?” Alluna menengadahkan kepala menatap ketiga sahabatnya.

“Iya. Kalo gue cowok, udah naksir sama lo. Pantesan si Jono ngebet banget ngejar-ngejar elo,” jawab Rani.

“Si Jono lo undang juga?” tanya Hastri.

“Undang, dong. Kan, dia temen juga. Yah, walau dia lebih sering nyebelin. Tapi, kalo nggak ada dia, nggak rame.”

“Ciye ... dah mulai kangen sama si Jono ya? Hati-hati, ntar lo jatuh cinta beneran sama dia.”

Alluna tersenyum, “Ya, nggak lah. Gue biasa aja, kok. Lagian, dia terlalu pendek kalo jalan sama gue, hahaha.”

Rani, Austin dan Hastri juga ikut tertawa. “Turun, yuk! Bentar lagi acaranya mulai.”

Mereka tidak menyadari kalau mereka sudah berbicara lama sampai lupa waktu. 

Alluna dan tiga sahabatnya bersiap keluar dari kamar. 

“Kakak?” Alluna heran mendapati kakaknya sudah berdiri di depan pintu ketika ia membuka pintu tersebut.

Daren tersenyum manis, mengulurkan tangannya dan disambut langsung oleh Alluna. Tiga sahabat Alluna mulai iri melihat romantisme dua kakak beradik yang sedang berjalan menuruni anak tangga bersamaan. Mereka benar-benar terlihat serasi, tampan dan cantik. Wajah mereka juga sangat mirip. Terlebih malam ini, Daren juga memakai jas warna senada dengan gaun milik Alluna.

Semua tamu yang sudah datang terpesona dengan dua insan yang sedang menuruni tangga bersamaan. Alluna merangkul lengan Daren, mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Tetapi, mereka lebih dari itu. Mereka adalah sepasang saudara yang saling menyayangi.

“Akhirnya ... yang kita tunggu-tunggu datang juga.” Suara MC menggema di seluruh ruangan. “Mba Alluna dan Mas Daren! Beri tepuk tangannya!” pinta MC dan langsung disambut dengan tepuk tangan yang meriah.

Teman-teman sekolah Alluna banyak yang berbisik dan bertanya, siapa cowok ganteng yang sedang bersama Alluna? Kekasih Alluna?

Sama halnya dengan Jono, ia menghela napas kecewa karena pasangan Alluna terlihat sangat sempurna. Jelas saja kalau Alluna selalu menolaknya, ternyata pacar Alluna jauh lebih tampan darinya dan mereka terlihat sangat serasi.

“Jon, pacar lo udah punya pacar?” bisik salah satu teman Jono yang coba menggoda.

Jono berdecak kesal mendengar bisikan temannya sendiri. Ia akui, kalau dia memang seringkali mendeklarasikan dirinya sebagai pacar Alluna secara sepihak. Lagipula, siapa yang tidak mau dengan Alluna? Cewek cantik dan tajir. Semua cowok ingin sekali bisa dekat dengan Alluna. Hanya saja, sifat Alluna yang jutek dan galak membuat banyak cowok enggan untuk mendekat.

Saat MC memberitahukan kalau Daren adalah kakak kandung dari Alluna, hati Jono kembali berbunga-bunga. Ia merasa, Alluna memang jodohnya. Sebab, cowok tampan yang digandeng Alluna adalah kakak kandungnya sendiri. Ia mengelus dadanya dan bernapas lega.

Pesta ulang tahun pun dimulai, keseluruhan acara dipandu oleh MC. Alluna hanya tinggal mengikuti petunjuk yang diberikan oleh MC.

Usai menyanyikan lagu, Alluna meniup lilin ulang tahun dan memotong kuenya diiringi dengan riuhnya tepuk tangan dan syair ulang tahun dari teman-teman yang hadir.

“Ini dia ... momen yang paling kita tunggu-tunggu. Kira-kira, potongan kue pertama bakal dikasih ke siapa ya? Karena, potongan kue pertama harus diberikan pada orang yang paling spesial.” MC melanjutkan sesi acaranya.

Tanpa pikir panjang, Alluna memberikan potongan kue pertamanya pada Daren. Daren tersenyum menyambutnya dan mengecup dahi Alluna. “Selamat ulang tahun adikku yang cantik. Semoga, cepet dapet pacar biar nggak cemberut mulu,” goda Daren, membuat Alluna mencibirkan bibirnya.

Pesta ulang tahun Alluna berjalan dengan lancar. Semua tamu undangan menikmati hidangan yang telah disediakan. Alluna menebarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari ketiga sahabatnya yang belum juga muncul di hadapannya. Pandangannya tertuju pada cowok berkemeja putih yang sedang mengobrol dengan Austin, Rani dan Hastri.

“Kalau udah ngobrol sama cowok ganteng, lupa kalau sahabatnya ini lagi ulang tahun. Nggak ada ngucapin sama sekali,” celetuk Alluna. Ia melangkahkan kaki menghampiri Austin dan dua sahabatnya.

“Selamat ulang tahun, Alluna!” ucap mereka serempak begitu Alluna menghampiri. Mereka sengaja tidak menghampiri Alluna untuk membuatnya kesal.

“Makasiih ...!” Alluna tersenyum manis dan langsung disambut oleh pelukan ketiga sahabatnya.

“Oh, ya. Kenalin, ini sepupu gue.” Austin memperkenalkan sepupunya pada Alluna.

Alluna tersenyum menyambut uluran tangan cowok tampan yang sempat mencuri pandangannya beberapa menit yang lalu.

“Evan.” Cowok itu tersenyum sambil menyebutkan nama begitu uluran tangannya disambut oleh Alluna. Ia menatap gadis cantik yang ada di depannya, matanya langsung tertuju pada manik mata Alluna yang membawanya masuk ke dalam ruang istimewa yang membuat hatinya bergetar.

“Alluna,” sahut Alluna membalas senyum Evan. Pandangan mereka bertemu. Alluna mengagumi Evan, cowok seperti Evan yang menjadi kriteria cowoknya. Mata biru Evan berhasil menenggelamkan Alluna dalam lautan kekaguman. Wajahnya tampan, rambutnya kecokelatan dan tubuhnya atletis.

“Ehem!” Austin berdehem, membuat Alluna dan Evan tersadar dari lamunannya dan cepat-cepat melepas tangannya yang masih bertautan sejak tadi.

“Sorry!” ucap Evan.

“Iya. Nggak papa.” Alluna ingin berlalu pergi, tapi dia tidak tahu ingin menghampiri siapa. Sebab, ketiga sahabatnya sudah ada di hadapannya. Kakaknya juga sudah terlihat asyik bergabung dengan teman-teman kuliah yang ikut diundangnya. Mama, jelas ia sibuk dengan keluarga besar. Alluna semakin terlihat canggung di antara ketiga sahabatnya.

Austin menyadari perubahan sikap Alluna. Ia mengedipkan mata ke arah Rani dan Hastri. “Lun, gue ke toilet dulu ya!”

Tanpa dikomando, Rani dan Hastri juga ikut ke toilet. Meninggalkan Alluna berdua bersama Evan.

Alluna berdiri di sisi Evan tanpa berkata apa-apa. Begitu juga sebaliknya. Mereka terlarut dalam pikiran masing-masing dan rasa gugup yang menyelimuti keduanya.

Alluna merasa aneh dengan keadaan ini. Bagaimana bisa, ia tidak bisa berkata apa pun. Tiba-tiba dia bingung harus memulai pembicaraan dari kata apa. Dan ini membuatnya merasa sangat konyol.

“Satu sekolah sama Austin?” Akhirnya Evan membuka pembicaraan. Alluna langsung menatap cowok itu dan menganggukkan kepalanya.

“Lo dari luar negeri?” tanya Alluna, ia memukul kepalanya perlahan karena menganggap pertanyaannya konyol dan suaranya terdengar bergetar.

Cowok itu tertawa kecil. “Enggak. Emang gue kelihatan ada tampang bule?”

Alluna mengamati wajahnya dengan seksama. “Tampang sih ada, tapi—”

“Tapi, apa?” tanya Evan mendekatkan wajahnya. Membuat Alluna semakin gugup.

“Gaya bicara lo, Indonesia banget!”

“Ya, emang gue lahir dan gede di Jakarta. Ngokap gue dari Swedia, tapi bokap asli Indonesia kok. Sama kayak Austin.”

“Oo....” Alluna membulatkan bibirnya membentuk huruf o.

“Bulat,” sahut Evan. Membuat Alluna tertawa kecil dan berhasil mencairkan suasana. Mereka tidak lagi saling diam, justru banyak bercerita. Ternyata Evan cowok yang humoris, walau ia tampangnya terlihat cool dan cuek.

***

Hari ini Alluna bersekolah seperti biasa, ia merasa lelah usai menjalani birthday party kemarin. Untungnya Mama Alluna memilih hari Sabtu malam Minggu. Jadi, Alluna bisa menghabiskan hari Minggunya untuk tidur agar tidak kelelahan. Walau rasanya lelah, wajahnya terus menyunggingkan senyum sepanjang koridor sekolah sampai masuk ke kelas.

“Kayaknya, ada yang lagi bahagia nih.” Hastri menyenggol bahu Alluna dengan bahunya. Di belakangnya ada Rani dan Austin yang ikut menggodanya.

“Kalian udah mulai nyebelin kayak Jono, ya!?” Alluna mendelik. Hastri membalasnya dengan menjulurkan lidah. Membuat Alluna mengejarnya sampai ke kelas.

“Lun, jam istirahat kita ke lantai atas yuk!” ajak Rani.

“Hah!? Ngapain?”

“Main aja.”

“Di lantai 3 kan kelas 3 semua, Ran. Malu tahu.”

“Ngapain sih pake malu-malu segala? Ntar lo nyesel kalo nggak mau ikut kita ke sana.”

“Emang ada apaan sih?”

“Ada pemandangan keren yang lo nggak pernah tau.”

“Seriusan?”

Rani menganggukkan kepalanya. “Makanya, ikut kita ke atas, ya!”

Alluna menganggukkan kepalanya.

Saat jam istirahat tiba, Alluna dan tiga sahabatnya menaiki tangga menuju ke lantai 3 gedung sekolah. Mereka melewati ruang osis dan ruang guru yang terletak di lantai 2.

“Eh, stop!” Austin memegangi bahu Alluna sesampainya di lantai 3.

“Ada apa?” tanya Alluna heran.

“Pake ini dulu!” pinta Hastri menunjukkan kain hitam penutup mata.

“Apaan?”

“Pake aja!”

Alluna mengikuti permintaan ketiga sahabatnya. Ia digiring untuk berdiri di balkon lantai 3, tepat menghadap ke lapangan.

“Jangan dibuka dulu kalau belum ada aba-aba dari kita!” pinta Rani.

Alluna menganggukkan kepalanya.

Austin memanggil seorang cowok yang akan ia suruh membukakan penutup mata Alluna dari belakang tanpa Alluna ketahui. Karena, akan tetap menggunakan suara Austin yang berdiri di belakang cowok itu.

“Satu ... dua ... tiga ...!” Cowok itu langsung membuka kain penutup mata Alluna. Alluna melihat balon-balon yang terbang dari lapangan. Di lapangan, ada banyak murid-murid yang berkumpul sambil memegang huruf-huruf besar bertuliskan HBD ALLUNA.

Alluna spontan menutup mulutnya, terkejut sekaligus bahagia dengan apa yang dibuat oleh sahabat-sahabatnya. Ia tidak menyangka kalau akan mendapatkan kejutan di sekolah. Dia sudah cukup mendapat sebuah kejutan kecil dengan mengenalkannya dengan sosok Evan, cowok keren yang mencuri perhatiannya.

“Kalian baik banget, sih. Makasih banget buat kejutan-kejutannya. Gue nggak tahu harus ngomong ap—” Alluna semakin terkejut ketika ia membalikkan badannya. Bukan ketiga sahabatnya yang ia lihat, tapi sosok cowok yang ia kagumi. Evan sudah berdiri tepat di depannya dan tersenyum manis.

“Kok, lo bisa ada di sini?” tanya Alluna gugup.

“Iya. Kan, gue sekolah di sini,” jawab Evan sambil memperbaiki kacamatanya.

Alluna menatap Evan yang memang mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya. Di pesta kemarin, Evan tidak mengenakan kacamata. Hari ini ia mengenakan kacamata dan terlihat semakin keren. Ah, kenapa dia jadi sering mengagumi cowok? Bukankah selama ini dia cuek saja?

“Gue nggak pernah lihat lo.”

“Pernah. Cuma lo aja yang nggak nyadar kalo ada cowok ganteng di sekolah ini,” sahut Evan.

“Apa!?” Alluna mulai mual dengan cowok yang selalu mengaku-ngaku dirinya ganteng. Ia selalu membayangkan tingkah Jono yang bisa dibilang ‘gak banget!'.

“Bercanda. Serius amat sih nanggepinnya?” Evan menyolek hidung Alluna dengan ujung jemarinya. Ia mulai gemas dengan sikap Alluna yang jutek dan mudah mengomel.

Alluna tersenyum, matanya melirik ke arah tiga sahabatnya yang bersandar di dinding, tepat di belakang tubuh Evan. Ia tahu, ini semua sudah direncanakan oleh ketiga sahabatnya. Mereka siap menjadi mak comblang saat mereka tahu ada cowok yang berhasil mengambil perhatian Alluna.

“Happy Birthday!” Evan setengah berbisik, seolah tidak ingin didengar oleh tiga pasang mata yang ada di belakangnya.

“Yaelah, nggak usah bisik-bisik gitu juga kali. Kayaknya, kita ganggu nih ada di sini,” celetuk Austin.

“Iih, enggak kali.” Alluna langsung mengelak ucapan Austin.

Sementara Evan hanya tersenyum, ia justru berharap ketiganya pergi meninggalkan dirinya hanya berdua dengan Alluna.

“Aduh, gue kebelet pipis nih,” sela Hastri. “Gue ke toilet dulu ya!” pamit Hastri.

“Ikut!” teriak Rani dan Austin bersamaan. Mereka meninggalkan Alluna berdua dengan Evan. Memberikannya ruang untuk saling bercerita.

“Gue masih nggak percaya kalo lo sekolah di sini juga.” Alluna membalikkan tubuhnya, memandang ke arah lapangan, beberapa anak sedang asyik memainkan bola basket di lapangan.

“Iya, sebentar lagi gue lulus.”

“Kelas 3? Oh, My God! Gue udah hampir dua tahun sekolah di sini dan nggak kenal sama lo? Aneh!” celetuk Alluna.

“Ya, lo nggak perlu mengenal semua anak yang sekolah di sini. Tapi, semua anak yang sekolah di sini bisa mengenal lo. Cewek paling cantik di sekolah yang terkenal galak!”

“Emang gue galak?” tanya Alluna sewot.

“Nah, ini mau keluar galaknya.” Evan menanggapinya dengan tertawa, membuat Alluna akhirnya tertawa walau awalnya ingin marah.

Tiba-tiba ponsel Evan berdering. Ia langsung merogoh saku celananya dan mengangkat telepon dari seseorang di seberang sana.

“Halo ... Iya, sayang. Nanti pulang sekolah aku jemput.” Evan langsung mematikan ponselnya.

“Cewek lo?” tanya Alluna ketus.

Evan hanya menanggapinya dengan senyuman. “Lo sendiri, belum punya cowok?”

Alluna menggelengkan kepalanya. “Gue turun dulu, ya! Bentar lagi masuk kelas.” Alluna melihat arloji di lengannya yang sudah menunjukkan waktu pelajaran dimulai kembali. Baru selangkah kakinya bergerak, bel tanda masuk kelas benar-benar berbunyi.

“Lun,” panggil Evan sembari menatap punggung Alluna yang beranjak pergi.

“Apa?” Alluna membalikkan wajahnya menatap Evan.

“See you ...!”

Alluna tersenyum kecut dan berlalu pergi meninggalkan Evan. Ia menuruni anak tangga sambil memaki dirinya sendiri dan juga ketiga sahabatnya yang sudah mengenalkan dia dengan cowok yang sudah jadi pacar orang. “Kalian bener-bener gila ya! Udah punya cewek, mau dicomblangin ke gue,” umpat Alluna dalam hati.

((bersambung...))

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas