Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 450 : Terpisah Jarak dan Waktu

 


“Yuna tuh ngeselin banget!” seru Refi begitu ia sudah kembali ke apartemennya. “Kenapa Yeriko bisa jatuh cinta sama cewek kayak gitu? Udah kasar, keras kepala, nggak cantik juga!” makinya sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.

 

Refi menghela napas sejenak. Ia tidak ingin memberitahu Deny kalau ia menemui Yuna untuk membuat perhitungan. “Huft, apa aku terlalu gegabah, ya?” gumamnya kemudian.

 

“Setres banget aku, kenapa sih susah banget ngadepin Yuna dan Yeriko?” Refi menatap beberapa kaleng bir yang ada di atas meja. Ia langsung meraih dan membukanya. Banyak hal yang memaksanya melakukan hal-hal di luar batas. Himpitan ekonomi yang ia hadapi, juga nasib percintaannya yang menyedihkan. Membuat ia selalu melakukan banyak hal penuh dengan emosi.

 

Refi memijat-mijat hidungnya sambil memejamkan mata. Bayangan tentang dirinya dan Deny selalu membayangi hidupnya. Ia tidak bisa terlepas dengan mudah dari tangan Deny. Andai ia bersama Yeriko, mungkin ia bisa menyingkirkan Deny dengan mudah dan hidup bahagia.

 

Refi menarik napas beberapa kali. Ia berusaha untuk tidak memikirkan kenangan kotornya bersama Deny. Tapi, tetap saja kenangan-kenangan kotor itu selalu membayangi dirinya setiap hari.

 

Satu hal yang ingin Refi lakukan adalah menyelesaikan semuanya dengan cepat. Emosinya yang tidak stabil kerap kali membuat dirinya bersikap gegabah, kemudian menyesali apa yang sudah ia lakukan sebelumnya.

 

“Gimana caranya aku nyingkirin Yuna dari kehidupan Yeriko?” tanya Refi pada dirinya sendiri. Ia sibuk sendiri memikirkan cara untuk memisahkan Yuna dari Yeriko. Ia akan melakukan apa pun asalkan bisa mendapatkan hati Yeriko kembali.

 

 

 

...

 

 

 

Surabaya - Minggu, 17 September 2017, 05:00 (GMT+7): Berlin - Sabtu, 16 September 2017 23:00 (GMT+2).

 

Indonesia dan Eropa memiliki selisih waktu enam jam. Setiap kali menyelesaikan urusannya, Yeriko tak bisa menahan diri untuk menelepon istrinya. Sudah tiga hari ia dan Chandra berkeliling ke beberapa kota di Eropa. Membuat ia merindukan istrinya. Ia ingin memiliki waktu yang panjang agar ia bisa membawa istrinya berlibur ke luar negeri setiap tahunnya.

 

Yeriko menatap layar ponselnya sambil menunggu Yuna menjawab panggilan telepon darinya.

 

“Halo ...!” Terdengar suara Yuna dari seberang telepon.

 

Yeriko langsung tersenyum sambil menatap layar ponselnya. Ia sengaja mengaktifkan loudspeaker ponselnya. Ia yang dulu menyukai ketenangan dan kesendirian, kini selalu merindukan keributan dan kebisingan yang dibuat oleh istri tercintanya itu.

 

“Halo ... Sayang! Udah bangun?” tanya Yeriko yang menyadari perbedaan waktu antara dia dan istrinya.

 

“Iya. Baru bangun. Kamu belum tidur?”

 

“Baru kelar ngurus kerjaan. Sekarang, aku di Berlin.”

 

“Abis dari situ, masih mau nambah kota lagi?” tanya Yuna. Ia sedikit kesal karena Yeriko menambah jumlah hari perjalanan dinasnya. Seharusnya, Yeriko sudah kembali di hari keenam perjalanannya. Namun, masih harus menambah satu hari lagi. Sehingga, suaminya itu baru bisa pulang di hari ketujuh.

 

“Nggak. Ini kota yang terakhir. Besok pagi banget, aku sudah terbang ke Indonesia lagi.”

 

“Aargh ...! Beneran ya!” seru Yuna.

 

Yeriko langsung tertawa kecil mendengar teriakan istrinya yang tiba-tiba. Untungnya, ia tak memasang ponsel di telinganya. Gendang telinganya bisa meronta-ronta mendengar teriakan Yuna yang begitu keras.

 

“Iya. Aku nggak tahan berlama-lama di sini tanpa kamu.”

 

“Aku juga udah kangen banget sama kamu. Untung masih ada Jheni yang nemenin aku tidur. Kalo nggak, aku nggak bisa tidur semalaman.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Kalau aku udah pulang, kamu tidur di pelukkan aku siang malam.”

 

“Huu, gaya banget! Kamu sibuk kerja terus. Emangnya ada waktu buat ngelonin istri terus-terusan?”

 

“Ada, dong.”

 

“Awas kalau sampe bohong!” seru Yuna.

 

Yeriko terkekeh mendengar ucapan Yuna.

 

“Iih ... ketawa ‘kan? Aku serius, nih!”

 

“Aku juga serius. Kamu jemput aku di Bandara ya! Aku sampai di sana jam ... mmh ... ” Yeriko membaca lembaran tiket yang sudah ada di tangannya. “Sekitar jam enam sore.”

 

“Berapa jam perjalanan?” tanya Yuna.

 

“Sekitar empat belas jam.”

 

“Kalo nyampe sore, berarti kamu berangkatnya pagi banget?” tanya Yuna.

 

“He-em. Jam empat subuh, aku sudah pergi ke Bandara.”

 

“Sekarang jam berapa di sana?”

 

“Jam sebelas malam.”

 

“Ya udah, istirahat dulu gih! Bisa-bisa, nggak jadi pulang lagi kalo ketinggalan jadwal penerbangan.”

 

Yeriko tertawa kecil mendengar ucapan Yuna. “Bisa. Nanti, bisa istirahat di pesawat.”

 

“Huft, kamu ini selalu aja menyepelekan waktu istirahat. Tidur dulu ya! Awas kalo nggak tidur! Aku matikan dulu teleponnya! Bye-bye! Muuach ...!” Yuna langsung mematikan panggilan telepon dari suaminya.

 

Yeriko tertawa kecil sambil menatap layar ponselnya. Ia sangat bahagia dengan perhatian-perhatian kecil istrinya. Pandangannya beralih pada koper yang masih terbuka di atas meja. Jika ada istrinya di kamar ini, sudah pasti istrinya yang merapikan semua pakaiannya sambil bercerita banyak hal.

 

Yeriko mulai memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Ia sudah sangat merindukan istri dan anaknya. Ia melakukan banyak hal untuk keduanya. Ia merasa sangat senang saat mengetahui kalau Yuna selalu baik-baik saja. Bisa tidur dengan nyenyak, bisa makan begitu lahap ... membuat Yeriko selalu bahagia.

 

“Yer, kamu udah siap-siap?” tanya Chandra yang  tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.

 

“Iya. Kamu sudah kabari Jheni?” tanya Yeriko balik.

 

Chandra menganggukkan kepala. “Aku udah chat dia.”

 

“Chat doang? Nggak telepon dia?”

 

“Jam segini, dia pasti masih tidur. Kalau aku telepon, ntar ganggu tidurnya dia. Dia sering tidur sampai tengah malam. Kasihan, Yer.”

 

“Oh. Dia itu pekerja keras juga ya? Aku jadi ingat waktu istriku baru masuk kerja. Dia semangat banget mempelajari banyak hal. Sampai sekarang, aku sering mergokin dia diam-diam baca majalah bisnis yang aku taruh di kamar. Dia bilang nggak suka baca itu. Tapi, diam-diam dia baca.”

 

“Penasaran kali, Yer. Dia kan suka banget penasaran. Sama kayak Jheni.”

 

“Jheni gitu juga?”

 

Chandra mengangguk-anggukkan kepala. “Mereka itu sebelas dua belas.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Kapan kamu ngelamar Jheni?”

 

“Aish ... jangan itu terus yang ditanyain!” pinta Chandra. “Jheni belum siap nikah. Aku juga baru beli tanah di kawasan Pantai Ria. Lokasinya bagus buat bikin rumah, Yer. Cocok buat Jheni cari inspirasi kalau lagi jenuh. Jadi, nggak perlu keluar jauh-jauh.”

 

Yeriko tersenyum sambil menatap Chandra. “Kamu mau bikin rumah buat kalian berdua dulu? Apartemen kamu buat apa?”

 

“Kamu juga punya apartemen. Rumah yang lokasinya bagus juga enak,Yer. Tenang dan nyaman buat Jheni yang butuh ide banyak buat buku-buku dia.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Berapa milyar harga tanah di sana?”

 

“Nggak mahal banget. Nggak melebihi harga Lamborghini kamu, kok. Lagian, cuma dua belas menit dari kantor. Enak lah buat aku dan buat dia juga.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Boleh juga persiapan kamu. Kenapa nggak lamar aja dulu si Jheni? Keburu dia dilamar orang lain.”

 

“Sembarangan kamu, Yer!” sahut Chandra. “Dia cinta mati sama aku, nggak mungkin dia nerima lamaran orang lain.”

 

“Eh, jangan salah! Yuna juga pernah cinta mati sama Lian, dia nerima lamaranku,” tutur Yeriko. Ia tersenyum sambil memainkan menggoyangkan kedua alisnya.

 

Chandra terdiam sejenak. “Iya juga ya?”

 

Yeriko menahan tawa melihat Chandra yang sedang menimbang-nimbang rencananya.

 

Chandra langsung melirik ke arah Yeriko. “Aargh, kebo kamu, Yer! Bikin rusak rencanaku aja!”

 

Yeriko terkekeh. “Ya udah, ikuti aja sesuai rencana kamu! Aku cuma ngasih saran.”

 

“Itu bukan saran, tapi racun!” sahut Chandra kesal.

 

“Sebagai teman yang baik, aku cuma bisa ngasih saran doang. Keputusannya ada di kamu. Kira-kira, perasaan Jheni masih labil atau nggak? Atau kamunya yang labil?” tanya Yeriko. Ia tertawa tanpa suara.

 

“Tau, ah! Males ngomong sama kamu!” Chandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berlalu pergi meninggalkan Yeriko.

 

“Hati-hati, Chan! Keburu ada cowok lain yang lebih keren dan lebih berinisiatif ngejar-ngejar Jheni!” seru Yeriko.

 

“Awas kalau sampai pengaruhi Jheni! Kubunuh kamu, Yer!” sahut Chandra sambil keluar dari kamar Yeriko.

 

Yeriko tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tahu, Chandra memang direktur bagian Litbang di perusahaannya. Selalu memiliki perencanaan yang matang untuk masa depannya. Termasuk, menyusun rencana rahasia untuk pasangannya. Ia harap, kisah cinta Chandra dan Jheni bisa berjalan penuh kebahagiaan.

 

 

((Bersambung...))

Dukung cerita ini terus supaya aku makin semangat nulisnya dan bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi 

 

 

Perfect Hero Bab 449 : Diusir Mr. Ye

 


“Ref, aku tuh nggak bisa berhadapan sama kamu terus. Kamu kalo ngomong nggak pake akal dan bikin nggak masuk akal. Lama-lama aku bisa gila kalo ngeladeni kamu terus. Mending kamu keluar dari rumah aku!” pinta Yuna.

 

“Aku nggak akan keluar sebelum kamu buat pimpinan perusahaan ngeluarin aku dari daftar blacklist!” jawab Refi.

 

“Astaga ... Refi!” seru Yuna menahan geram. “Kamu menguji kesabaran aku banget,” lanjutnya sambil mengepal gemas. “Aku udah bilang kalo aku nggak ada hubungannya sama sekali sama masalah ini. Aku cuma ibu rumah tangga biasa. Cuma bisa nyuci baju, nyuci piring, masak sama beres-beres rumah,” lanjutnya merendah.

 

Refi semakin menatap tajam ke arah Yuna.

 

“Aku nggak punya kekuatan buat ngelakuin itu semua,” tutur Yuna.

 

“Nggak usah pura-pura!” sahut Refi kesal. “Kamu bisa menjatuhkan dan mempermalukan aku di depan orang-orang penting waktu presentasi di Galaxy waktu itu. Aku tahu, kekuatan kamu sama dengan Yeriko karena kamu istrinya.”

 

Yuna langsung tertawa mendengar ucapan Refi. “Iya juga ya? Akhirnya ... kamu mengakui juga kalau aku ini istrinya Yeriko yang juga punya kekuatan. Kalo gitu, nggak usah banyak tingkah di depanku!” pintanya sambil menahan tawa. “Kamu keluar dari rumah ini. Hiduplah dengan damai tanpa mengganggu rumah tangga orang lain!”

 

Refi mengerutkan hidungnya. “Aku nggak akan pergi sebelum kamu penuhi permintaan aku!”

 

“Aku udah bilang berkali-kali kalau aku nggak ada hubungannya sama sekali sama masalah kamu ini. Kamu kok masih ngotot!?” sentak Yuna.

 

“Aku nggak percaya. Cuma kamu satu-satunya musuh aku di sini. Siapa lagi yang ngelakuin ini kalau bukan kamu!” teriak Refi.

 

“Kamu bikin kesabaranku habis, Ref. Aku menghargai kamu karena kamu pernah menjaga dan menyayangi suamiku sebelum aku kenal sama dia. Kamu bisa nggak lepasin suamiku? Biarin dia bahagia sama aku!” pinta Yuna kesal.

 

“Kamu jangan ngimpi! Apa yang udah kamu rebut dari aku, aku akan ambil kembali!” tegas Refi.

 

“Aku nggak ngerebut apa pun dari kamu. Aku udah bosan ngeladeni kamu kayak gini terus. Aku nggak ngerebut Yeriko. Aku nggak ngerebut dia!” tegas Yuna. “Justru kamu yang mau ngerebut dia dari aku. Ingat, Ref! Sesuatu yang memang bukan hak kamu, kamu nggak akan pernah bisa memilikinya seumur hidup!”

 

Refi semakin kesal dengan Yuna yang tidak bisa ia pengaruhi dan ia kendalikan dengan mudah.

 

“Terima kasih, kamu sudah mencampakkan dia tiga tahun yang lalu. Kalau kamu nggak ngelakuin itu, aku nggak akan kenal dan menikah sama Yeriko,” tutur Yuna sambil tersenyum.

 

“Kamu ...!?” Refi semakin geram dengan sikap Yuna yang terus-menerus membuat perasaannya semakin tak karuan.

 

“Bi, bawa dia pergi dari sini!” perintah Yuna pada Bibi War yang berdiri tak jauh darinya.

 

Bibi War tersenyum senang. Ia memberikan kode pada dua pelayan rumah itu untuk menyeret Refi keluar dari rumah tersebut.

 

“Yuna, keluarin dulu aku dari daftar blacklist! Kalau kamu nggak ngelakuin itu, aku bakal bilang ke penggemar-penggemarku supaya mereka semua tahu kelakuan busuk istrinya Tuan Ye!” seru Refi sambil berusaha melepaskan diri dari genggaman dua pelayan yang mulai menyeretnya.

 

“Aku nggak dengar!” teriak Yuna sambil menutup kedua telinganya.

 

“Yuna ...!” teriak Refi. “Aku nggak akan nyerah sampai kamu keluarin namaku dari daftar blacklist!”  lanjutnya saat ia sudah terseret sampai keluar dari pintu.

 

“Maaf, nggak boleh masuk lagi!” tutur salah seorang pelayan sambil menutup pintu rumah Yuna.

 

“Yuna ...!”Refi masih terus berteriak sambil menggedor-gedor pintu rumah Yuna.

 

“Mbak Yuna, dia masih gedor-gedor pintu,” tutur Bibi War.

 

“Biarkan aja, Bi! Nanti dia capek sendiri.”

 

“Yun, si Refi itu kayaknya punya kelainan jiwa. Jangan-jangan, dia penderita delusi kayak Ibu Ratna itu?” tanya Jheni.

 

Yuna mengedikkan bahunya. “Biar aja dia setres sendiri. Kayaknya dia emosi banget karena kehilangan kerjaannya. Jadinya hilang akal.”

 

“Iya,sih. Semoga aja dia nggak  ajak-ajak orang lain buat setres juga. Hahaha,” sahut Jheni.

 

“Bibi bersyukur banget bukan dia yang jadi istrinya Mas Yeri,” tutur Bibi War.

 

“Eh, aku penasaran. Gimana dulu waktu Yeriko pacaran sama Refi?” tanya Jheni sambil menatap Bibi War. “Dia sering ke rumah ini juga?”

 

Bibi War menggelengkan kepala. “Waktu pacaran sama Mbak Refi, Mas Yeri belum tinggal di rumah ini. Baru tinggal di sini dua tahun yang lalu.”

 

“Berarti sering ke rumah Mamanya Yeriko?”

 

Bibi War menganggukkan kepala. “Tapi Ibu nggak suka sama Mbak Refi. Beliau nggak mau anaknya nikah sama artis. Beliau maunya Mas Yeri punya istri yang mendukung bisnisnya.”

 

Jheni tersenyum sambil melirik wajah Yuna.

 

“Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Yuna.

 

“Kamu tenang banget. Udah pede ngedukung Yeriko?”

 

“Dia nggak mau aku ngurus perusahaan. Dia nyuruh aku ngurus anak-anaknya dia aja,” jawab Yuna sambil menjulurkan lidahnya.

 

“Disuruh beranak terus?” tanya Jheni sambil menahan tawa.

 

“Beranak itu enak. Eh, bikin anaknya sih yang enak,” jawab Yuna.

 

“Dasar!” dengus Jheni sambil melempar bantal sofa ke arah Yuna.

 

Yuna terkekh sambil menjulurkan lidahnya.

 

“Bi, anak mantunya Bibi nih nakal dan mesum. Nggak nyesal punya mantu kayak gini?” tanya Jheni sambil menahan tawa.

 

Bibi War hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala melihat tingkah dua sahabat yang kerap kali saling mengejek, tapi tetap saling menyayangi.

 

“Dia iri, Bi. Soalnya sampe sekarang nggak dilamar-lamar sama Chandra. Kan nggak bisa bikin anak setiap hari. Hahaha.”

 

“Idih, ngolok!” seru Jheni sambil menghampiri Yuna untuk menggelitiki perutnya.

 

Yuna langsung berlari ke belakang Bibi War sebelum Jheni berhasil meraih tubuhnya. “Help, Bi! Usir dia dari rumah ini!” seru Yuna sambil tertawa.

 

Bibi War hanya tertawa kecil. Sejak Yuna masuk ke rumah ini, suasana di dalam rumah berubah menjadi begitu hangat dan ceria.

 

“Coba usir kalo berani!” seru Jheni sambil berkacak pinggang. Matanya melirik ke arah pintu rumah yang sudah sepi. “Eh, dia udah pergi?” tanyanya sambil berlari ke arah jendela dan mengintip dari balik tirai yang ada di dekat pintu tersebut.

 

“Masih ada, nggak?” tanya Yuna penasaran.

 

“Masih,” jawab Jheni sambil berbalik menatap Yuna. “Gilanya dia yang masih. Nggak habis-habis,” lanjutnya.

 

“Aku serius nanya!” sahut Yuna kesal.

 

“Nggak ada. Udah pulang dia. Mudahan nggak datang lagi.”

 

“Bikin emosi orang aja. Ya Tuhan ... amit-amit jabang bayi. Jangan sampe anakku kelakuannya kayak Refi,” tutur Yuna sambil mengelus-elus perutnya.

 

“Jangan sampe lah, Yun. Eh, Yeriko udah telepon kamu hari ini? Kok, Chandra belum ada telepon dan chat aku, ya?”

 

“Udah. Dia selalu chat di saat yang tepat. Pagi, siang, sore, malam. Dia nyesuaikan jam dengan jam di sini pas banget. Padahal, perbedaan waktu Indonesia dan Eropa kan jauh.”

 

“Hmm ... dia sampe sedetail itu sayangnya ke kamu.”

 

“Emangnya Chandra nggak kayak gitu?”

 

Jheni menggelengkan kepala. “Dia cuma chat atau telepon kalo udah kelar meeting doang.”

 

“Dia sibuk, Jhen. Ngertiin aja!”

 

Jheni menganggukkan kepala. “Asal sibuknya nggak cari cewek bule aja di sana. Kalo sampe dia macem-macem, aku pites-pites pokoknya!”

 

Yuna terkekeh. “Chandra sabar banget ngadepin kamu yang barbar. Kalo aku jadi dia, nggak betah punya pacar emosian.”

 

Jheni memonyongkan bibirnya.

 

“Bercanda. Serius banget? Lagi PMS?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

 

Jheni kembali duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya. “Apa aku harus jadi lebih lembut?” gumamnya.

 

“Nggak usah, Jhen! Chandra cinta sama kamu apa adanya.”

 

“Tahu dari mana?”

 

“Dari suamiku, dong!”

 

“Kalian berdua suka gosipin orang juga?” tanya Jheni menyelidik.

 

Yuna terkekeh. Ia tak bisa memungkiri kalau semua hal tentang kehidupannya akan selalu menjadi topik pembahasan saat ia menghabiskan waktu berdua bersama suaminya. Baginya, apa pun bisa menjadi cerita agar tidak saling diam dalam ruang yang sama.

 

((Bersambung...))

Dukung cerita ini terus supaya aku makin semangat nulisnya dan bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 448 : Mr. Ye vs Mantan Pacar

 


“Ada apa ini? Kok rame-rame?” tanya Yuna saat melihat orang-orang berkerumun di halaman rumahnya.

 

“Maaf, Nyonya Bos! Ini perempuan tiba-tiba masuk dan bikin ulah,” jawab Satpam yang sedang menggenggam erat tangan Refi.

 

Yuna memerhatikan Refi sejenak. “Oh,” ucapnya santai sambil melangkah pergi.

 

“Tunggu, Yun!” seru Refi sambil berusaha melepaskan dirinya dari genggaman satpam.

 

Yuna menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Refi.

 

“Aku ke sini nyari kamu. Kenapa kamu sembunyi dari aku? Kamu nggak berani berhadapan langsung sama aku? Pengecut kamu, Yun! Beraninya cuma bersembunyi di balik punggung suami kamu dan orang-orangnya dia!” seru Refi.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. “Ini orang maunya apa sih?” batinnya sambil memutar tubuhnya menghadap Refi.

 

Refi masih berusaha melepaskan diri dari satpam yang memegangi dirinya sambil menatap Yuna sengit.

 

“Lepasin dia, Pak!” perintah Yuna.

 

Satpam itu langsung melepaskan tangannya perlahan.

 

Refi mendengus kesal ke arah satpam tersebut.

 

“Yun, kamu yakin mau izinin Refi masuk ke rumah ini?” bisik Jheni.

 

“Biar aja, Jhen. Daripada dia makin gila. Ada banyak orang di sini, kalau dia mau macem-macem. Dia tahu sendiri resikonya seperti apa,” jawab Yuna lirih.

 

Jheni mengangguk-anggukkan kepala. Ia terus berada di sisi Yuna untuk melindungi sahabatnya dari kemungkinan terburuk saat berhadapan dengan Refi.

 

Yuna tersenyum. Ia mengajak Refi masuk ke dalam rumah dan mempersilakan duduk di sofa. Ia memperlakukan Refi dengan baik layaknya tamu-tamu yang masuk ke dalam rumahnya.

 

“Bi, tolong bikinkan minum buat Mbak Refi ya!” pinta Yuna dengan lembut.

 

Bibi War menganggukkan kepala. Tapi matanya melirik tajam ke arah Refi yang sudah duduk di sofa.

 

Jheni ikut duduk santai di sofa, tepat di hadapan Refi.

 

Yuna bergerak memindahkan benda dari kantong belanja dan memasukkan ke dalam lemari hias yang adq di ruang tamu tersebut.

 

Refi terus memerhatikan gerak-gerik Yuna yang terlihat sudah menguasai semua barang-barang yang ada di rumah Yeriko tersebut.

 

“Seharusnya, aku yang jadi nyonya di rumah ini. Kenapa dia tiba-tiba datang dan masuk ke kehidupan Yeriko?” batin Refi sambil mengedarkan pandangannya. Ia terpesona dengan furniture mewah yang mengisi rumah tersebut. Tak terlihat banyak barang di rumah itu. Namun, semuanya terlihat mewah dan berkelas. Ia sibuk mengagumi dan menghitung-hitung kekayaan Yeriko.

 

“Ada perlu apa ke sini?” tanya Yuna begitu ia duduk di sofa.

 

“Aku ke sini mau minta penjelasan dari suami kamu. Kenapa dia menghentikan semua jadwal syuting aku?”

 

Yuna mengerutkan dahinya. “Syuting?”

 

Refi menganggukkan kepala. “Pasti kamu yang udah pengaruhi suami kamu buat balas dendam ke aku ‘kan? Kalo berani, jangan main belakang!” seru Refi.

 

“Main belakang apaan?” tanya Yuna sambil menahan tawa. Ia hanya bisa melihat wajah Refi yang begitu konyol, tak mengerti sedikit pun maksud perkataan Refi kali ini.

 

“Halah, nggak usah pura-pura nggak tahu. Pasti suami kamu yang ngatur supaya pimpinan perusahaan memberhentikan semua jadwalku. Suami kamu punya hubungan dekat sama pemilik perusahaan yang menaungi aku ‘kan?”

 

Yuna tertawa kecil. “Apa suamiku itu orang yang nggak punya kerjaan sampai ngurusi masalah kayak gini? Dia itu sibuk. Nggak mungkin punya waktu buat ngurusin hal-hal nggak penting kayak gini.”

 

“Kamu kira aku nggak tahu siapa Yeriko. Aku udah lama kenal sama dia. Jauh sebelum kamu kenal dia. Kamu nggak pernah tahu apa yang dimainkan sama dia di belakang kamu. Atau ... kamu emang pura-pura nggak tahu?” sahut Refi.

 

Yuna tersenyum kecil. “Nggak ada satu hal pun yang aku nggak tahu soal Yeriko. Bahkan, aku hafal berapa jumlah tahi lalat yang ada di badannya dia. Aku nggak butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa memahami dia dan bikin dia jatuh cinta sama aku.”

 

Refi mengerutkan hidungnya. Ia sangat kesal mendengar ucapan Yuna.

 

Yuna tersenyum manis sambil menatap Refi. Matanya mengisyaratkan agar Refi segera berhenti berharap pada Yeriko. Sebab, kebaikan yang ia lakukan hanya untuk membuat Refi sadar dengan sendirinya.

 

Refi menatap tajam ke arah Yuna. Ia juga melirik dua pelayan yang ada di belakang Yuna.

 

Mereka saling diam untuk beberapa menit sampai Bibi War meletakkan teh hangat ke hadapan mereka.

 

“Minum tehnya, Ref!” perintah Yuna. “Ini teh hitam Kayu Aro. Teh terbaik di dunia. Dikirim langsung dari Jambi. Dari salah satu perkebunan teh tertua di Indonesia yang ada di bawah kaki Gunung Kerinci. Kapan lagi bisa menikmati teh favorite Ratu Belanda ini gratis?” lanjutnya sambil menuangkan teh dari teko ke dalam cangkir dan menyuguhkan ke hadapan Refi.

 

Jheni menahan tawa melihat reaksi Refi.

 

“Cobain, Ref!” pinta Yuna. Ia mengangkat cangkirnya sambil menyeruput teh tersebut perlahan-lahan.

 

Refi menatap kesal ke arah Yuna. Namun, ia ikut menyeruput teh yang wangi dan aromanya begitu khas.

 

“Gimana? Enak?” tanya Yuna.

 

“Biasa aja,” jawab Refi ketus.

 

Jheni tertawa mendengar jawaban Refi. “Yun, dia itu biasa beli teh yang harga enam ribuan. Mana bisa bedain mana teh yang berkualitas sama yang nggak.”

 

Yuna hanya tersenyum menanggapi ucapan Jheni.

 

Refi semakin kesal melihat Yuna dan Jheni meremehkan keberadaannya. “Kalian nggak usah senang dulu!” sentaknya.

 

Jheni dan Yuna langsung menoleh ke arah Refi.

 

“Apa yang kalian pamerkan ini, seharusnya adalah milikku!” seru Refi.

 

Jheni dan Yuna saling pandang, kemudian tertawa bersamaan.

 

“Bubur ya, Ref? Halusin nasi alias halusinasi!” sahut Jheni sambil tertawa lebar.

 

“Aku sadar, Jhen!” sahut Refi. “Kalau bukan karena dia yang kegatelan, Yeriko nggak mungkin berpaling dari aku. Cuma aku perempuan yang pernah deket sama dia dan pernah jadi pacarnya.”

 

Jheni tertawa kecil. “Pernah jadi pacar, bukan berarti jadi prioritas. Yeriko dan Yuna baik sama kami, karena mereka punya hati dan berjiwa besar. Nggak kayak kamu ... udah hatinya sempit, otaknya nggak ada pula ... kimak!”

 

“Kamu jangan asal kalau ngatain orang. Kamu pikir, kamu udah bagus, hah!?” seru Refi tak mau kalah.

 

“Aku emang nggak bagus. Tapi kalo dibandingkan sama kamu. Jelas lebih bagus aku ke mana-mana,” jawab Jheni santai.

 

Refi mengerutkan hidung menatap dua wanita bersahabat itu. “Kalian berdua ini sama aja. Sama-sama deketin cowok cuma buat ngincar hartanya doang.”

 

Jheni tersenyum menatap Refi. “Harta itu bonus. Yang paling penting itu cinta. Kamu ngiri ya? Nggak dapet harta, nggak dapet cinta juga?” goda Jheni.

 

Hati Refi semakin memanas mendengar ucapan Jheni. Ia semakin iri melihat apa yang dimiliki oleh Yuna saat ini. Bukan hanya Yeriko yang tergila-gila dengan Yuna, tapi semua orang juga membela dan melindungi Yuna.

 

“Mata ko lah. Selo aja. Gak usah kek apa kali nengoknya!” tutur Jheni saat mendapati tatapan sinis dari wajah Refi.

 

“Udah, Jhen. Nggak usah diladeni. Ngomong sama orang kayak gini, nggak ada kelar-kelarnya. Udah salah, ngotot pula,” sela Yuna.

 

Jheni menahan tawa. “Dari mana datangnya orang kayak begini?” tanya Jheni. “Yeriko udah terang-terangan nolak kamu. Kenapa kamu masih kepedean aja ngejar-ngejar suami orang?”

 

“Yeriko nolak aku karena dipengaruhi sama Yuna. Kalo nggak ada Yuna, dia pasti udah balik ke pelukkan aku lagi,” jawab Refi penuh percaya diri.

 

“Apa suami aku itu orang yang bodoh sampai bisa dipengaruhi sama orang lain? Kamu yang udah kenal dia bertahun-tahun pun, nggak bisa mempengaruhi pemikiran dia. Gimana sama aku?” sahut Yuna.

 

Refi gelagapan. Ia tak tahu harus menjawab apa. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, selalu disanggah oleh Yuna dan berhasil membuatnya tak  bisa berkata-kata.

 

“Nyonya Refi yang terhormat, kalau udah nggak ada keperluan lagi. Lebih baik keluar dari rumah ini!” pinta Yuna.

 

“Aku nggak akan keluar dari rumah ini sebelum kamu balikin jadwal-jadwal kerjaan aku yang udah di-cancel sama perusahaanku!” tegas Refi keukeuh.

 

Yuna menghela napas. “Aku nggak ada hubungan sama kerjaan kamu. Kamu salah orang,” jawabnya lembut. Ia sudah lelah meladeni Refi yang terus-menerus mencari kesalahan dirinya.

 

“Bohong! Aku tahu Yeriko punya hubungan dekat sama pemilik SD Entertainment. Pasti dia yang nyuruh direktur perusahaanku buat blacklist semua kegiatanku,” sahut Refi.

 

“Ya Allah ... tabahkan hatiku!” ucap Yuna sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Kemudian, ia menatap wajah Refi.

 

“Aku nggak ngelakuin kesalahan apa pun di perusahaan. Kenapa tiba-tiba dimasukin daftar blacklist? Semua acara yang udah terjadwal, di-cancel tanpa alasan yang jelas. Siapa lagi yang bisa ngelakuin itu kalau bukan kamu dan suami kamu? Kamu iri sama aku karena aku punya banyak penggemar di media sosial?”

 

Yuna menahan tawa mendengar ucapan Refi. “Ref, aku bukan artis kayak kamu. Mana mungkin aku iri. Aku nggak pernah posting apa-apa, followers aku udah separuh dari followers kamu. Gimana kalau aku posting foto dan video di sana. Kamu harus lebih hati-hati kalau bicara! Kenapa kamu suka berasumsi sendiri tanpa dasar yang jelas?”

 

Refi terdiam. Ia tak bisa menyangkal ucapan Yuna. Tapi, ia juga tak mau menyerah begitu saja. Ia tidak bisa mendapatkan pria kaya seperti Yeriko, ia juga tidak boleh kehilangan karirnya di dunia hiburan yang baru saja membaik. Ia tak ingin jatuh miskin lagi dan semakin terhina.

 

((Bersambung ...))

 

Dukung cerita ini terus supaya aku makin semangat nulisnya dan bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas