Tuesday, April 28, 2026

Cerpen "Rumah Ini"




Tidak ada yang benar-benar peduli pada rumah ini selain kamu yang bekerja keras untuk membuatnya 'ADA'.
Hari ini aku merasa sangat lelah. Lelah yang tertumpuk selama berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Menjadi seorang ibu rumah tangga sekaligus pencari nafkah, bukanlah hal yang mudah. Saat lelah dan perlu sandaran, kita masih harus memaksakan diri menjadi tempat bersandar.
Di satu sisi, aku harus memastikan rumah terjaga dan terawat dengan baik. Di sisi lain, aku juga harus memastikan kalau nafkah keluarga tetap bisa kupenuhi. Anak-anak tidak kelaparan, bisa bersekolah setiap hari, mengenakan pakaian yang layak dan bisa beli jajan seperti anak-anak yang lain.
Betapa sulitnya harus menjaga dua peran sekaligus. Peran sebagai penjaga rumah, juga peran sebagai penjaga nafkah. Aku harus memaksakan diri agar bisa memiliki semua yang aku butuhkan untuk keluargaku. Mengorbankan semua waktu istirahat dan waktu untuk menyenangkan diri sendiri.
Sampai-sampai jatah tidurku hanya 2 jam setiap harinya. Tidak bisa lebih dari itu. Setiap kali mata ini ingin terpejam, ada rasa takut yang luar biasa. Ketakutan jika esok anak-anak kelaparan. Ketakutan tidak bisq membayar biaya sekolah. Ketakutan jika anak-anak tidak bisa mengenakan pakaian yang layak.
Di zaman yang serba mahal, kita tidak bisa duduk bersantai lebih dari lima belas menit. Sebab, pada menit ke enam belas, akan muncul rasa takut menghadapi kenyataan hidup yang tidak mudah. Kita dipaksa untuk kuat dan bisa dalam keterbatasan.
Hal yang lebih melelahkan lagi, ketika kita punya tempat bersandar, tapi tidak mampu untuk bersandar di tempat itu.
Hari ini ... rasa lelah yang sudah tertumpuk itu sangat ingin aku lepaskan. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku harus mengorbankan yang saat ini aku miliki untuk melepaskan semuanya.
Di sudut ruangan, sambil memegang sapu yang sudah usang, aku bercerita. Bercerita pada diri sendiri, bercerita pada sapu yang setiap hari menemani, bercerita pada dinding rumah yang selalu bisu.
Sebelum adzan Subuh, mata ini sudah terbuka. Tangan dan kaki sudah bergerak membersihkan rumah, memasak, mencuci piring, dan mencuci pakaian. Sampai terdengar kumandang adzan dzuhur, pekerjaanku di rumah belum usai. Padahal, aku tidak berhenti bergerak sedikitpun.
"Bagaimana aku bisa menghasilkan uang untuk jajan anak-anak besok? Kalau jam segini saja aku masih sibuk merawat rumah?" tanyaku pada sapu yang membisu.
Aku kembali bergerak. Memastikan anak-anakku bisa makan siang dengan baik. Juga melanjutkan sekolah agama agar mereka bisa menjadi anak yang berbakti dan bermoral.
Tubuhku rasanya sudah lelah, tapi aku tak punya waktu istirahat lama. Sampai Sore hari, aku masih sibuk di dapur. Memastikan makan malam untuk keluarga tersedia. Merapikan teras belakang rumah. Memilah pakaian yang sudah kering untuk aku lipat dan setrika. Begitulah setiap hari kesibukanku sebagai ibu rumah tangga. Tidak ada waktu untuk bekerja atau menghasilkan uang. Lalu, bagaimana dengan biaya hidup sehari-hari? Keluarga mau makan apa?
Aku mulai berpikir untuk bekerja. Menghasilkan uang untuk jajan anak-anak. Sebab, itu biaya yang tidak bisa aku tunda.
Pagi-pagi sekali aku sudah siap pergi bekerja dan pulang di sore hari. Tidak ada waktu untuk merawat rumah. Satu hari, dua hari, tiga hari, dan seterusnya ... aku sibuk mencari nafkah. Tidak ada waktu untuk memasak, mencuci pakaian atau mencuci piring. Sebab, tubuh yang tak lagi muda ini merasa sangat lelah saat pulang kerja.
Rumah kotor dan berantakan. Aku hampir gila dibuatnya. Sampai rumah, aku ingin istirahat dengan tenang tanpa gangguan. Tapi kenyataannya ... aku justru harus bekerja ekstra di ujung lelahku. Memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan rumah hingga mengorbankan waktuku untuk sekadar beristirahat. Tidak ada yang bisa kuandalkan selain diriku sendiri.
Aku punya pasangan, tapi tidak bisa kuandalkan. Dia sudah lelah bekerja seharian di luar sana. Tidak mau membantu pekerjaan rumah. Dia bilang, "Malam itu waktunya istirahat". Lalu, bagaimana denganku yang tidak punya waktu istirahat sama sekali. Sementara, penghasilannya pas-pasan dan tidak menentu. Hanya cukup untuk membayar tagihan bulanan dan utang yang tidak sedikit. Aku masih harus bekerja keras untuk memastikan kebutuhan sehari-hari bisa tercukupi. Sebab, penghasilan suami belum mampu mencukupi segalanya.
Pada akhirnya, wanita memang harus lebih banyak berkorban. Tidak tega melihat suami kelelahan. Bibir ini tak sampai berucap 'minta tolong' dan memilih untuk menyelesaikan semuanya sendiri.
Di ujung beban yang terus bertambah setiap harinya, membuatku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri. Rumah ini ... rumah kita bersama atau hanya rumahku seorang? Kenapa hanya aku yang peduli untuk menjaga dan merawatnya? Sementara yang lain hanya sekedar tinggal. Seolah tak punya rasa memiliki, tak ada keinginan untuk menjaga dan merawatnya bersama.
Terkadang, aku juga ingin berpikir seperti itu. Tapi tidak pernah aku lupa bagaimana pengorbanan dan rasa sakit yang sudah aku terima karena ingin punya 'rumah yang layak'. Rumah yang atapnya tidak bocor saat hujan deras. Rumah yang tidak sering dimasuki ular karena dinding dan lantainya bolong-bolong.
Perjuangan yang tidak mudah untuk membuat rumah ini 'ADA'. Lalu, apa aku harus menyia-nyiakannya begitu saja? Rasanya, aku menjadi manusia tidak bersyukur atas apa yang telah Allah berikan.
Haruskah aku tega membiarkan rumah ini usang dan hancur secara perlahan hanya karena aku tidak ingin lebih lelah dari yang lain?
Terkadang, kita ingin menjaganya bersama-sama. Tapi, tak semua memiliki kepedulian tanpa diminta. Tak semua memiliki rasa tanggung jawab pada hal yang telah ada. Sama seperti isi bumi ini. Hanya ada satu dari satu juta orang yang peduli pada keberlangsungan bumi. Sembilan ratus ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang memilih untuk sekedar tinggal dan menunggu kematian. Tidak peduli bahwa bumi masih bisa jadi tempat tinggal untuk anak-cucunya. Bagi mereka, mereka sudah puas menyelamatkan diri mereka sendiri. Seperti apa nasib generasi mereka, mereka tidak akan peduli.
Mungkin ... rumah ini juga sama. Tidak akan ada cerita di masa depan. Sebab, ia sudah usang dan hancur lebih dahulu dari waktu yang pernah aku impikan.

Perfect Hero Bab 531 : Mertua Kejam



“Ma, masuk dulu!” pinta Lian sambil mengajak mamanya masuk ke dalam rumah.

 

“Nggak perlu!” sahut Mega ketus. Matanya tertuju pada Bellina yang bergeming di tempatnya.

 

Bellina menelan ludah begitu mendapati tatapan mata Mega yang menghunus ke arahnya.

 

“Kenapa? Kamu nggak mau mengakui kesalahan mama kamu itu?” tanya Mega tanpa basa-basi.

 

“Ma, ini nggak ada hubungannya sama Bellina,” jawab Lian.

 

“Apa!? Kamu bilang nggak ada!? Lihat! Dia anaknya perempuan itu. Bahkan, sekarang dia sendiri nggak tahu siapa bapak kandungnya!”

 

Lian menatap Bellina sejenak. Lalu, menoleh kembali ke arah Mega. Ia tidak menyangka kalau berita tentang keluarga Bellina begitu cepat sampai ke telinga mamanya.

 

“Ma, Mama jangan mudah percaya sama rumor yang beredar di luar sana. Ini cuma salah paham,” tutur Lian.

 

Mega tersenyum sinis. “Salah paham? Mama sudah cek ke rumah sakit. Tarudi beneran dirawat di sana. Parahnya lagi, mama lihat dengan mata kepala mama sendiri kalau si Melan itu makan bareng laki-laki lain di restoran. Kamu pikir, mama kamu ini buta, hah!?”

 

Lian terdiam. Ia hanya melirik Bellina yang juga tidak bisa mengelak ucapan Mega.

 

“Kenapa kalian diam? Kalian nggak mau ngomong yang sebenarnya? Mau menutupi semuanya dari mama? Supaya apa? Supaya mama nggak tahu kalau menantu dan besan mama itu nggak becus!?”

 

“Ma, jangan marah-marah dulu! Semua bisa dibicarakan baik-baik!”

 

“Mama nggak akan membiarkan dia dan keluarganya merusak kehormatan keluarga kita. Lian, kamu harus ingat posisimu saat ini! Kalau semua orang tahu, kita punya besan menjijikkan kayak gini. Apa kata dunia!?”

 

“Ma, apa yang terjadi pada Tante Melan, nggak ada hubungannya sama Bellina. Dia hanya harus menanggung perbuatan orang tua di masa lalunya.”

 

Mega tersenyum sinis. “Kamu bilang nggak ada hubungannya? Bellina ini siapa? Anaknya ‘kan? Anak yang bakal ngikutin jejak orang tuanya. Mama mau, kamu ceraikan Bellina sekarang juga!”

 

“Ma, aku nggak bisa ceraikan Bellina gitu aja. Dia istri yang harus aku sayangi dan lindungi. Apalagi, ini semua bukan kesalahan dia.”

 

“Oh, oke.” Mega mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kamu mau nunggu istri kamu ini ketahuan selingkuh dulu, baru kamu mau ceraikan!?”

 

Lian menarik napas dalam-dalam. Ia melirik Bellina yang berdiri di hadapannya.

 

“Kenapa diam? Apa yang bakal kamu lakuin kalau Bellina juga selingkuh di belakang kamu?” tanya Mega. “Kamu masih mau belain istri kamu yang liar ini? Setiap hari, suaminya kerja keras nyari uang. Dia kelayapan ke mana-mana pakai baju seksi. Apa yang dia cari kalau bukan laki-laki lain? Udah jadi istri orang, masih aja gatal!” sahut Mega sambil menatap wajah Bellina.

 

Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak kayak gitu, Ma. Aku cuma ...”

 

“Cuma apa? Cuma nggak bisa nahan gatal kalau berdiam diri di rumah?”

 

“Ma, Bellina pergi ke mana pun, aku selalu tahu. Nggak ada yang dia tutupi dari aku.”

 

Mega tersenyum sinis. “Kamu bisa jamin kalau istri kamu ini jujur, hah!?”

 

Lian terdiam, ia menghela napas sejenak. Tidak tahu bagaimana harus menghadapi mamanya sendiri. Saat masih bersama Yuna, mamanya juga menentang hubungannya dengan wanita itu.

 

“Kalau tahu kelakuan aslinya kayak gini, mama nggak akan mengizinkan kamu menikahi Bellina. Dia yang setiap hari menghasut mama dan mengatakan kalau Yuna itu bukan wanita baik-baik. Kenyataannya, dia wanita yang baik dan pintar mengurus keluarga. Nggak liar kayak Bellina. Kalau tahu kayak gini, lebih baik kamu nikah sama perempuan itu aja!”

 

“Ma, nggak perlu bahas masa lalu! Aku sudah menikahi Bellina, baik dan buruknya akan aku terima.”

 

“Termasuk, kalau dia main gila sama laki-laki lain di belakang kamu? Kamu mau terima?”

 

Lian melirik sejenak ke arah Bellina. Lalu, ia menggelengkan kepalanya.

 

Mega tersenyum sinis sambil menatap Bellina. “Kamu tahu, keluarga Wijaya adalah keluarga baik-baik dan terhormat. Saya nggak mau keluarga kami jadi kotor karena kelakuan kotor kamu dan keluarga kamu itu. Sebagai seorang ibu, saya nggak akan membiarkan siapa pun mempermainkan anak saya!”

 

Bellina menatap Mega dengan mata berkaca-kaca. Ia berpikir kalau Mega diam-diam sudah mengetahui kalau ia sering pergi ke klub dan pernah tidur dengan pria lain.

 

“Mama tetap ingin, kamu menceraikan perempuan ini!” tegas Mega sambil menunjuk Bellina dengan dagunya.

 

Bellina menggelengkan kepala. Ia langsung menghampiri Mega dan berlutut di bawahnya. “Ma, jangan pisahin aku sama Lian!” pintanya sambil menangis pilu.

 

PLAK ...!

 

Mega langsung menampar pipi Bellina yang ada di hadapannya. “Sampai kapan pun, saya nggak akan membiarkan kamu mencoreng nama baik keluarga kami!”

 

Bellina memegangi pipinya yang terasa perih. “Ma, aku nggak ngelakuin apa pun. Aku mohon, jangan pisahkan kami!”

 

“Kamu lupa sama kesalahan-kesalahan yang udah kamu buat kemarin-kemarin?” tanya Mega. “Aku sudah muak sama mulut manis kamu yang penuh kebohongan ini!”

 

“Ma, aku nggak bohong! Aku bener-bener sayang sama Lian. Tolong, Ma! Jangan paksa kami untuk bercerai!”

 

Mega tak menyahut, ia tetap mengangkat dagunya, menunjukkan keangkuhannya sebagai keluarga terhormat.

 

“Hiks ... hiks ....hiks ...! Aku nggak mau pisah sama Lian, Ma. Aku beneran sayang sama dia. Kami saling mencintai. Jangan pisahkan kami! Aku minta maaf soal kelakuan mamaku. Semua ini di luar kuasaku. Aku juga nggak mau hal ini terjadi di keluargaku.”

 

Mega tersenyum sinis. “Buat apa kamu minta maaf atas nama mama kamu? Kamu sendiri, bisa setia sama Lian?”

 

Bellina menganggukkan kepala. “Aku akan setia sama Lian. Nggak akan nyakiti dia, Ma.”

 

“Kalau memang kamu setia sama Lian, kenapa kamu nggak mau ngasih kami keturunan? Apa artinya menantu buat kami kalau nggak bisa memberikan keturunan untuk keluarga Wijaya?”

 

Bibir Bellina gemetaran saat mendengar pertanyaan mama mertuanya. Ia tidak tahu harus bagaimana menyikapi pertanyaan kali ini. Kalau ia mengatakan dirinya tidak bisa hamil, keluarga Wijaya benar-benar akan menendangnya keluar begitu saja.

 

“Kenapa diam!?” sentak Mega.

 

“Ma, kami sudah berusaha. Soal kehamilan, itu bermacam-macam. Bisa lebih cepat atau lambat. Bellina baru saja keguguran beberapa bulan lalu. Kondisi rahimnya masih dalam pemulihan.”

 

Mega tersenyum sinis. “Alasan aja! Mama tetap nggak mau percaya sama perempuan ini. Udah banyak kebohongan yang dia buat selama ini. Kamu tinggal menunggu perempuan ini selingkuh di belakang kamu, baru kamu akan merasakan rasanya menyesal!”

 

Bellina masih tertunduk sambil menangis. Membuat Lian tidak tega melihatnya dan merengkuh tubuh Bellina agar bangkit dari lantai.

 

“Ma, ini urusan rumah tanggaku. Bagaimana ke depannya, akulah yang memutuskan, bukan mama!” tegas Lian.

 

Mega melebarkan kelopak matanya begitu mendengar pembelaan dari Lian. “Kamu lebih memilih perempuan ini dibanding mama kamu sendiri, hah!?”

 

“Ma, aku nggak milih siapa pun. Mama tanggung jawabku, begitu juga dengan Bellina. Apa mama nggak bisa biarkan kami tenang terlebih dahulu. Kami akan berusaha menyelesaikannya.”

 

“Kamu ...!?” Mega mendelik ke arah Lian. Ia semakin membenci Bellina yang telah berhasil mengendalikan putera kesayangannya.

 

“Ma, kejadian ini terlalu tiba-tiba untuk Bellina. Mama kasih kesempatan untuk kami berpikir lebih dulu. Jangan membuat suasana semakin keruh dengan opini-opini baru yang mama ciptakan!”

 

Mega langsung menatap tajam ke arah Lian. Ia langsung bergegas pergi meninggalkan rumah anaknya tersebut.

 

Lian memeluk tubuh Bellina dan membawanya masuk ke rumah. Ia mencoba menenangkan Bellina agar ke depannya bisa bersikap lebih baik lagi.

 

 ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

Perfect Hero Bab 530 : Takut Ketahuan Mertua

 



“Li, itu si Yuna sama Yeriko!” seru Bellina saat mereka memarkirkan mobil di depan salah satu restoran.

 

Lian langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Bellina.

 

“Li, bilangin ke Yuna untuk ngerahasiain apa yang terjadi sama hari ini dari Mama Mega. Aku malu banget mau ketemu dia,” pinta Bellina.

 

Lian mengangguk. Ia melepas safety belt dan bergegas keluar dari mobil. Lian langsung melangkahkan kakinya menghampiri Yuna yang baru saja ingin masuk ke dalam mobil suaminya.

 

“Ayuna ...!” panggil Lian sambil menatap tubuh Yuna yang baru saja meraih handle pintu mobil.

 

Yuna langsung memutar kepalanya ke arah sumber suara yang memanggil namanya.

 

Yeriko langsung menatap Lian sambil menyandarkan satu siku tangannya ke atas mobil.

 

“Yer, aku bisa ngomong sama Yuna? Sebentar aja!” pinta Lian.

 

“Ngomong aja, Li!” pinta Yuna sambil tersenyum.

 

Lian menatap Yeriko yang memperhatikan dirinya saat ia menatap Yuna. Tatapan suami Yuna membuat Lian kesulitan untuk mengutarakan keinginannya.

 

Yeriko mengangkat kedua alis sambil menatap Lian. “Cepet, Li! Mau ngomong apa? Kami nggak punya banyak waktu.”

 

Lian tersenyum kecil. Ia melangkah mendekati Yuna. Saat Lian hanya berjarak dua meter dari tubuh Yuna, Yeriko langsung berlari menghampiri dan merangkul istrinya.

 

“Jaga jarak!” pinta Yeriko sambil menatap tajam ke arah Lian.

 

Lian menghela napas dan menghentikan langkahnya. Ia menatap wajah Yuna yang sedang tertawa tanpa suara sambil menyembunyikan wajah di ketiak Yeriko. “Yun, seharusnya aku yang ada di sana,” batinnya.

 

Lian langsung mengerjapkan mata untuk mengembalikan kesadarannya. Ia tidak ingin terus terlarut dengan khayalannya bersama Yuna. Ia menarik napas beberapa kali untuk menata perasaannya.

 

“Yer, apa yang terjadi hari ini di keluarga Bellina. Aku minta tolong untuk merahasiakannya dari siapa pun!” pinta Lian.

 

Yeriko hanya tersenyum sinis menanggapi permintaan Lian.

 

“Terutama dari mamaku,” lanjut Lian. “Aku nggak mau menambah kesedihan dan masalah untuk Bellina.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku nggak akan ngomong ke siapa pun, Li. Kamu tenang aja!”

 

“Makasih, Yun ...!” ucap Lian sambil tersenyum manis.

 

“Oh ... jadi ini sikap kamu ke Yuna beberapa tahun lalu? Kamu nggak sanggup bikin pacar kamu sendiri bahagia, malah mikirin perasaan selingkuhan kamu. Sekarang, selingkuhan kamu udah jadi istri kamu, kamu malah merhatiin mantan pacar yang udah jadi istri orang lain?” tanya Yeriko sambil menatap sinis ke arah Lian.

 

“Ay, nggak usah bahas masa lalu!” pinta Yuna berbisik.

 

Yeriko tersenyum sinis. Ia tetap tidak menyukai keberadaan Wilian yang masih memperhatikan istrinya diam-diam.

 

“Yer, kamu salah paham. Aku memang masih sayang sama Yuna. Tapi, aku lebih bahagia melihat dia bahagia bersama orang yang mencintai dia dengan tulus. Aku sadar, aku bukan pria yang pantas di sisi Yuna.”

 

“Baguslah kalau kamu sadar,” sahut Yeriko.

 

Lian tersenyum kecut sambil menatap Yuna dan Yeriko. “Aku tahu, kalian masih menaruh dendam sama kami karena masa lalu. Apa yang terjadi sama Bellina hari ini, sudah setimpal dengan apa yang dia lakukan terhadap Yuna. Aku harap, kalian bisa melepaskan Bellina dan tidak memperkeruh masalah ini.”

 

Yeriko tersenyum sinis. “Hukuman yang diterima Bellina saat ini, belum setimpal dengan kejahatan-kejahatan yang dia perbuat selama ini.”

 

“Ay, udahlah. Nggak usah memperpanjang masalah ini!” pinta Yuna berbisik. Ia tidak ingin suaminya kembali bertengkar dengan Lian hanya karena masa lalunya. Sebab, apa yang ia jalani di masa lalu ... tidak ada hubungannya dengan Yeriko. Ia tidak ingin menjadi beban dan masalah dalam kehidupan suaminya itu.

 

“Yer, aku tahu ... kamu sangat mencintai Yuna dan tidak ingin melihat orang yang kamu cintai disakiti. Itu juga yang aku lakukan pada istriku. Aku harap, kamu bisa dengan bijak memutuskan semuanya!” ucap Lian sambil berbalik dan pergi meninggalkan Yuna dan Yeriko.

 

Yuna hanya tersenyum kecil sambil menatap tubuh Lian yang berlalu pergi meninggalkan mereka.

 

“Kenapa senyum-senyum? Jatuh cinta lagi sama dia?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna langsung menoleh ke wajah Yeriko. “Nggaklah. Aku seneng aja karena Lian bisa lebih peduli sama Bellina. Semoga, dia bisa bikin Bellina jadi wanita yang baik.”

 

“Bukan karena masih cinta sama dia?” tanya Yeriko menyelidik.

 

“Bukan, Sayangku!” jawab Yuna sambil menangkup kedua pipi Yeriko. “Cuma kamu yang paling aku cinta di dunia ini. Nggak ada yang lain.”

 

Yeriko memutar bola mata sambil tersenyum sinis. “Kamu pasti pernah ngomong kayak gini sama mantan pacar kamu ‘kan?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Serius!?”

 

“Tanya aja ke dia! Kalau kamu masih nggak percaya.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Aku selalu percaya sama kamu, kok. Jangan nakal ya!” pintanya sambil meletakkan telapak tangan ke atas kepala Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum. Mereka segera masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi meninggalkan pelataran restoran yang baru saja mereka singgahi.

 

Di sisi lain, Lian langsung menghampiri Bellina yang masih duduk di dalam mobilnya.

 

“Gimana? Yuna udah kamu bilangin?” tanya Bellina.

 

Lian menganggukkan kepala. “Udah, dia pasti bisa menjaga rahasia, kok.”

 

Bellina tersenyum. Ia menggigit bibir sambil meremas safety belt yang masih melingkar di tubuhnya. Pikirannya masih tertuju pada mama mertuanya yang selalu menginginkan Wilian bercerai dengannya. “Kalau aku ketahuan jalan sama cowok lain, Lian bakal ceraikan aku juga?” batinnya.

 

Lian memperhatikan wajah Bellina yang masih melamun. “Bel, nggak mau turun dari mobil?”

 

Bellina tak menyahut. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

 

“Bel ...!” panggil Lian sambil menyentuh lengan Bellina.

 

“Eh!?” Lamunan Bellina langsung buyar begitu tangannya disentuh oleh Lian.

 

“Mau makan atau nggak?” tanya Lian.

 

Bellina menggeleng, wajahnya terlihat tak bersemangat seperti biasanya. Banyak kekhawatiran yang menyelimuti hatinya dan membuat ia tidak merasa lapar.

 

“Kenapa?”

 

“Kita makan di rumah aja!” pinta Bellina.

 

“Aku belikan makanannya dulu, ya!” tutur Lian sambil keluar dari mobil. Ia segera memesan makanan untuk ia makan di rumah bersama istrinya.

 

Beberapa menit kemudian, Bellina dan Melan sudah kembali ke rumah mereka. Belum sampai masuk ke dalam rumah, mereka dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita separuh baya yang mengenakan jas putih dan rok warna putih.

 

Meski membelakangi keduanya, Bellina bisa mengetahui kalau wanita itu adalah mama mertuanya. “Mama ...!?”

 

Mega langsung membalikkan tubuhnya menatap Lian dan Bellina. Ia tersenyum ke arah putera dan menantunya itu. “Kalian dari mana?” tanyanya ketus.

 

“Mmh ....kami dari rumah sakit, Ma,” jawab Lian sambil menatap mamanya.

 

“Jengukin Si Rudi?”

 

Lian menganggukkan kepala. “Dia sakit apa?” tanya Mega pura-pura tidak tahu.

 

“Cuma kecapean, Ma.” Bellina menimpali.

 

Mega tersenyum sinis. “Kamu pikir, saya nggak tahu apa yang terjadi sama keluarga kamu?”

 

Bellina dan Lian saling pandang. Mereka tidak berani mengatakan apa pun di depan Mega. Mereka khawatir  akan membuat suasana semakin buruk karena kehadiran mama Lian yang tiba-tiba dan kerap berapi-api.

 

 

((Bersambung ...))

 

 

 

 

 


Perfect Hero Bab 529 : Kepedihan Hati Bellina

 



Bellina terduduk lemas di lantai sambil menopang dagu ke atas lututnya. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang telah dilakukan mamanya sendiri.

 

“Ma, kenapa mama tega kayak gini?” tanyanya lirih. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan kalau ada pria lain yang ada dalam hidup mamanya.

 

“Bel, maafin mama!” pinta Melan sambil menghampiri Bellina.

 

Bellina langsung menepis tangan Melan sebelum wanita itu berhasil menyentuhnya. “Jangan deketin aku, Ma!”

 

Melan menarik tubuhnya menjauhi Bellina. Ia tahu, apa pun yang dikatakannya saat ini, tidak akan didengarkan oleh puterinya. Ia menoleh ke arah Lian yang berdiri di sebelah Bellina sambil termenung.

 

“Nak Lian ...!” panggil Melan lirih.

 

Lian langsung menoleh ke arah Melan. Ia juga belum bisa menerima kenyataan kalau istrinya bukan dari keluarga Linandar. Terlebih, kenyataan masa lalu Melan juga akan mencoreng nama baik keluarga besar mereka.

 

Melan menatap pilu ke arah Lian. Ia berharap kalau keluarga Linandar akan mengampuni perbuatannya kali ini. “Li, tolong hibur Bellina!” pinta Melan dalam hati sambil menatap wajah Lian.

 

Lian mengangguk kecil. Ia mengerti permintaan Melan kali ini karena ia adalah orang terdekat Bellina saat ini.

 

Lonan dan Tarudi sama-sama menatap Bellina yang terduduk di lantai. Mereka sama-sama tak berdaya sebagai seorang ayah.

 

“Li, bawa Bellina pulang terlebih dulu!” pinta Tarudi sambil menatap Lian.

 

Lian menganggukkan kepala. Ia meraih pundak Bellina sambil berusaha mengajaknya berdiri. “Bel, kita pulang dulu!”

 

Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak mau pulang sebelum tes DNA.”

 

Semua orang langsung saling pandang. Mereka melihat bagaimana Bellina sangat terpukul dengan kenyataan yang terjadi saat ini.

 

Tarudi menarik napas sejenak dan turun dari tempat tidurnya. Ia tetap saja tidak tega melihat Bellina yang begitu bersedih. “Li, bantu saya untuk mengurus tes DNA!”

 

Lian menganggukkan kepala. Ia bermaksud memapah Tarudi yang ingin keluar dari kamar rawatnya.

 

Bellina yang melihat papanya sudah berjalan seorang diri, memilih untuk bangkit dan menghampiri papanya itu. Mereka semua segera pergi untuk melakukan tes DNA.

 

“Pa, aku sayang sama papa. Aku nggak mau jadi anak orang lain,” batin Bellina sambil menatap Tarudi saat mereka sudah duduk di ruang tunggu.

 

Usai melakukan pengambilan sampel tes DNA, mereka kembali ke kamar rawat Tarudi.

 

Bellina terus memapah papanya hingga naik ke atas brankar. Sementara, Melan dan Lonan tidak kembali ke ruang rawat tersebut karena sikap dingin Tarudi yang tidak menginginkan keduanya menampakkan diri di hadapannya.

 

“Hati- hati, Pa!” pinta Bellina sambil membantu papanya naik ke atas brankar.

 

“Papa bisa sendiri,” tutur Tarudi sambil menepis tangan Bellina. “Pergilah!”

 

Bellina menatap wajah Tarudi. “Pa, aku sayang sama papa. Aku nggak mau jadi anak orang lain. Aku mau di samping papa terus. Aku nggak mau ninggalin papa sendirian. Di dunia ini, papaku cuma satu ... papa Tarudi.”

 

Tarudi menarik napas dalam-dalam sambil membalas tatapan Bellina. Ia tidak berani mengakui kalau Bellina adalah puteri kandungnya. Jauh dalam lubuk hatinya, ia sangat menyayangi puterinya lebih dari apa pun. Semua hal yang dilakukannya selama ini hanya untuk anak kesayangannya.

 

“Pa, aku mohon ...! Jangan benci aku karena mama. Aku juga nggak mau ini semua terjadi,” pinta Bellina dengan mata berkaca-kaca.

 

Lian menatap Bellina yang begitu bersedih karena sikap Tarudi. “Bellina benar, Pa. Dia tidak tahu apa-apa soal masa lalu mamanya. Papa tidak seharusnya membenci Bellina. Ini bukan kesalahan dia.”

 

Tarudi menghela napas. “Baiklah. Hasil tes DNA juga belum keluar. Selama belum ada kejelasan, papa tidak bisa menentukan apa pun. Sebaiknya, kalian pulang ke rumah dan tunggu hasilnya saja. Papa mau istirahat!”

 

Bellina dan Lian saling pandang.

 

“Ayo, kita pulang dulu!” ajak Lian. “Papa harus istirahat.”

 

Bellina menganggukkan kepala. “Nanti sore, aku bakal ke sini lagi. Papa mau dimasakin apa?”

 

Tarudi menggelengkan kepala. “Nggak perlu masakin apa pun buat saya.”

 

Bellina menghela napas. Ia melirik termos sup pemberian Yuna yang ada di atas nakas. Melihat termos itu, membuatnya merasa cemburu dengan perhatian Yuna yang diterima begitu saja oleh papanya.

 

Tarudi menghela napas sambil memejamkan mata. Membuat Lian dan Bellina akhirnya keluar dari ruangan tersebut agar ayahnya bisa beristirahat.

 

Bellina enggan melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat papanya. Matanya tak lepas memandang papanya yang terbaring di atas tempat tidur.

 

“Kasih waktu buat papa kamu!” bisik Lian sambil merangkul pundak Bellina.

 

Bellina menganggukkan kepala. Ia menatap Lian yang tersenyum ke arahnya. Ia sedikit tenang karena Lian tidak terpengaruh dengan kejadian hari ini dan tetap berada di sisinya.

 

“Li ...!” panggil Bellina sambil menghentikan langkahnya.

 

“Ya.”

 

“Apa kamu tetap mau menerima aku kalau aku bukan anak Papa Rudi?” tanya Bellina.

 

Lian hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Bellina. “Kamu nggak ada hubungannya sama masa lalu mama kamu. Aku nggak punya alasan untuk menolak kehadiranmu.”

 

Bellina tersenyum. Ia langsung memeluk tubuh Lian. “Makasih, Li ...!”

 

Lian menganggukkan kepala. Hatinya memang memiliki keraguan terhadap Bellina. Namun, ia tidak akan tega menambah luka dalam hati istrinya. Ia hanya ingin membuat Bellina terhibur, juga ingin menerima Bellina dengan status baru yang mungkin saja akan ditentang oleh keluarga besarnya.

 

“Li, aku boleh minta tolong ...!”

 

Lian menganggukkan kepala.

 

“Jangan bilang ke Mama Mega soal ini! Aku takut ...”

 

Lian tersenyum sambil menatap wajah Bellina. “Aku nggak akan bilang ke mama soal ini. Semua akan baik-baik aja.

 

“Gimana dengan Yuna?” tanya Bellina sambil menatap wajah Lian. “Gimana kalau dia bocorin ini ke Mama Mega?”

 

Lian tersenyum sambil memeluk pundak Bellina. “Kamu nggak usah khawatir! Aku akan bicara dengan Yuna untuk merahasiakan ini semua.”

 

Bellina tersenyum sambil menatap wajah Lian. “Makasih, Li ...! Aku nggak tahu gimana caranya ngadepin mama kamu kalau tahu soal ini semua.”

 

“Aku akan berusaha melindungi kamu dari mama. Asal kamu berada di jalan benar. Aku nggak mau, kamu seperti mama kamu juga.”

 

Bellina menggelengkan kepalanya. Jantungnya berdebar sangat kencang saat teringat hubungan gelapnya dengan Arjuna. Pria muda yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya.

 

“Kita pulang, sekarang!” ajak Lian.

 

Bellina mengangguk, ia bergegas melangkah beriringan dengan Lian, keluar dari rumah sakit tersebut.

 

Di balik pintu bangsal lain, Nirma memperhatikan tubuh Bellina dan Lian yang perlahan menjauh. Ia melangkahkan kakinya perlahan dengan mata tertuju pada Bellina.

 

Braaak ...!

 

Nirma rak sengaja menabrak perawat yang baru saja keluar dari kamar rawat Tarudi.

 

“Maaf, Suster! Saya nggak sengaja,” tutur Nirma sambil membantu membereskan peralatan medis yang jatuh ke lantai.

 

“Nggak papa, Mbak,” sahut perawat itu dengan lembut.

 

“Oh ya, ini ruang rawat Oom Tarudi ya?” tanya Nirma.

 

Perawat itu menganggukkan kepala.

 

“Aku dari tadi dengar suara keributan di ruangan ini. Ada apa sebenarnya?”

 

“Mbaknya siapa?”

 

“Saya keponakan Oom Rudi.”

 

“Oh. Mbaknya telat datang ya? Ribut masalah keluarga.”

 

“Masalah apa, Suster?”

 

“Kurang tahu, Mbak. Yang  saya tangkap, istrinya pasien berselingkuh dan anaknya sekarang jadi rebutan suami dan selingkuhannya itu.”

 

“Ooh ...” Nirma mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Kalau mau tahu lebih jelas, langsung ditanyakan aja sama Oom-nya Mbak!” tutur perawat tersebut sambil bergegas pergi.

 

Nirma tersenyum penuh kemenangan. Ia mengintip Tarudi yang sedang tertidur dari balik kaca pintu.

 

“Na ... na ... na ... na ....” Nirma melangkahkan kakinya sambil bersenandung riang. Ia menyusuri koridor rumah sakit dan berlari keluar sambil menari-nari dengan riang gembira layaknya seorang puteri yang baru saja mendapatkan hadiah besar di kerajaannya.

 

 

((Bersambung ...))

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas