Book Author and Ambassador Novelme. Love to imagination, telling story and making money.

Wednesday, April 7, 2021

Penulis Itu Berproses, Bukan Berprotes!

 





Hai ... hai ...!

Apa kabra!

Eh!? 

Apa kabar?


Kali ini, aku mau cerita sedikit tentang beberapa hal yang aku temui beberapa hari ini. Eh, aku nulisnya udah pakai kalimat efektif atau belum, ya? Ah, sudahlah. Yang penting, kalian ngerti bahasaku walau tata bahasanya sedikit berantakan.


Akhir-akhir ini ... karena aku sebagai salah satu ambassador dan penulis best seller di Novelme, banyak penulis yang sering mengeluh. Mmh ... ngeluhnya nggak sama aku, sih. Tapi sama yang lain. Maybe, lebih sering mengeluh sama Tuhan dalam sujudnya.

Kalau denger keluhan itu, rasanya ikut pusing. Karena kita juga ngerasain gimana lelahnya berjuang, gimana sakitnya tidak dihargai, tapi kita sendiri nggak tahu mau ngeluh ke mana. Karena malu kalau mau ngeluh terus, tapi tidak meningkatkan diri.


Daripada sibuk mengeluh, kita akan merasa beban kita semakin berat. Lebih baik, perbanyak karya saja. Makin banyak karya, akan semakin bagus. Karena,suatu hari nanti ... satu dari puluhan tulisanmu itu akan menemukan pembacanya sendiri. Kalau ditanya, sudah berapa karyaku? Sudah ratusan sebenarnya. Tapi ... aku tidak serta merta mempublikasikan karyaku begitu saja. Aku terus belajar menulis tanpa menunggu orang lain menghargai karyaku lebih dulu. Aku lebih fokus berlatih menulis untuk meningkatkan kualitas tulisanku lebih dahulu agar bisa dikatakan layak untuk pembaca.

Positif thinking aja, sih. Kalau mau dihargai lebih, kita harus berpikir apakah tulisan kita itu sudah pantas dihargai oleh orang lain atau belum. Kalau kira-kira belum , ya tingkatkan lagi kualitas tulisannya. Nggak usah mengeluh! Mengeluh hanya akan menghambat dirimu untuk terus menghasilkan karya.


Ada lagi, nih ... beberapa waktu lalu, sempat ribut di Novelme karena ada penulis senior yang baru berkecimpung di platform baca karena dia sudah lebih dahulu menulis buku cetak dan memang peminat buku cetaknya lumayan banyak. Saat masuk di platform, ia merasa kalau karyanya tidak dihargai pembaca dan menyalahkan platform. Platform dianggap salah karena lebih banyak tulisan yang dibilang "HOT" daripada tulisan yang menginspirasi.

Eits, bukan hanya menyalahkan platform. Tapi juga menyalahkan selera pembaca yang bisa dibilang lebih suka cerita "esek-esek" ketimbang cerita yang menginspirasi. Padahal, tidak semua penulis menulis cerita dewasa. Akhirnya, paltform dianggap sebagai ajang untuk merusak moral pembaca dan penulis-penulis yang bermoral itu jadi anti platform. 

Menurutku, penulis-penulis itu harusnya justru semangat masuk ke platform agar koleksi literature di platform bisa semakin baik. Alangkah baiknya jika mereka justru berbondong-bondong mengisi platform dengan cerita yang inspiratif agar menenggelamkan cerita yang katanya "esek-esek" itu. Sayangnya, mereka tidak pernah mau melakukannya karena dianggap tulisan mereka tidak diminati oleh pembaca.

Sebenarnya, diminati atau tidak, itu semua tergantung bagaimana penulisnya dalam berkarya dan menemukan pembaca-pembaca mereka.

Banyak penulis yang bilang kalau "Karya aku mah apa, sepi banget pembacanya."

Eits, jangan salah!

Penulis profesional dan terkenal juga berawal dari pemula, loh. So, kamu jangan pesimis kalau pembacamu baru 1 orang. Harus bisa kamu evaluasi dengan jumlah karya yang sudah kamu hasilkan. Tetap semangat karena kamu hanya butuh waktu untuk bertemu dengan pembacamu.

Aku yang saat ini sudah menjadi penulis best seller webnovel di Novelme, juga pernah ada di area "The Dip", area yang menukik tajam di bawah dan tenggelam dengan karya-karya yang sudah lebih dahulu terbit. Aku berada di area "DIP" itu sejak tahun 2012 hingga tahun 2018. Artinya, selama 6 tahun aku menulis, karyaku tidak terlihat oleh siapa-siapa. Tapi tidak membuatku berhenti untuk berkarya.

Aku justru semakin tertantang untuk memperbaiki diri. Menjadi idealis yang bisa mengikuti pasar. Aku belajar banyak hal. Mulai dari menulis puisi, cerpen, esai, novela hingga ke webnovel. Kalau ditanya, sudah berapa banyak tulisanku. Aku nggak pernah menghitungnya. Sengaja, sih. Supaya aku bisa fokus terus menghasilkan karya tanpa tahu berapa banyak karya yang aku hasilkan. Kadang kalau dihitung, sudah banyak juga, hihihi.


Aku sudah menerbitkan 23 Antologi buku bersama dengan penulis-penulis yang lainnya. Tapi, aku masih merasa belum menjadi apa-apa. Masih banyak penulis lain yang membanggakan karyanya karena memiliki banyak penggemar dan pembaca. Sedangkan aku ... bahkan sampai tulisanku menjadi best seller, aku masih sering merasa belum pantas untuk mendapatkan begitu banyak penghargaan.


Semuanya butuh proses, sampai saat ini juga aku masih berproses. Apa pun yang terjadi di depan, aku jadikan tantangan tanpa banyak berprotes. Banyak yang sering mengeluh karena aturan platform yang berubah-ubah dan memberatkan penulis. Tapi menurutku, selama feedback-nya sesuai, nggak masalah. Apalagi, aku juga sudah menjalani kehidupan penulis yang bukan amatiran lagi. 

Tulisan yang sudah ada nilainya, adalah tulisan profesional (agak berat nulisnya karena sesungguhnya aku belum siap). Berapa pun nilainya, asal itu karya kita sendiri, belajarlah untuk menghargainya. Bukan protes ke sana ke mari karena kita merasa karya kita belum dihargai.

Ada banyak literature di dunia ini selama ratusan tahun. Ada banyak penulis dan ide yang bertebaran. Supaya tulisanmu dikenal orang, bagaimana caranya? Kalau kamu cuma simpan tulisanmu di dalam laci. Jangan pernah berharap akan ada banyak orang yang membacanya. Tapi kalau kamu bisa menunjukkan karyamu ke orang lain, dari 100 orang, akan ada 1 orang yang menghargai tulisanmu. So, tetap semangat menulis tanpa mengeluh atau protes sana-sini. 

Temukan tempat yang tepat untuk berproses! Karena setiap orang memiliki kenyamanan yang berbeda-beda. Aku suka pantai, kamu belum tentu menyukainya. Kamu suka gunung, aku belum tentu menyukainya. 

Jika jalan yang kamu tempuh itu terjal dan berliku, jalani saja! Karena itu akan membuat kakimu terlatih untuk lebih kuat mendaki tempat yang lebih tinggi lagi. Jangan pernah bermimpi berdiri di tempat yang tinggi, jika kamu tidak punya kaki yang kuat untuk melangkah! Jika kamu hanya bisa mengeluh dan berhenti saat mendapati kesulitan dalam perjalananmu!


Tak ada manusia hebat yang tidak berproses. Mereka menjadi hebat karena tidak banyak protes! Sukses atau tidaknya kamu di masa yang akan datang, itu ditentukan oleh langkah yang sedang kamu tempuh hari ini. Mungkin terjal, berliku, berduri dan melelahkan. Tapi itu akan membuatmu kuat mendaki tempat yang lebih tinggi dari orang lain yang memilih untuk berhenti berjuang atau memilih untuk tidak mencoba berjuang sama sekali.



Terima kasih sudah membaca tulisan ini!

Semoga membuat kalian semakin semangat berkarya tanpa mengeluhkan apa pun.



Much Love,

Vella Nine



3 Cara Mudah Membuat Deskripsi Novel yang Menarik



Hai ... hai ...!
Apa kabar nih?

Pernah ke toko buku?

Kalau cari buku, apa sih yang pertama kali kalian lihat?

Yang pertama, pasti lihat judul dan covernya. Selanjutnya, kita akan melihat sinopsis, blurb atau deskripsi tentang novel tersebut. Ini adalah salah satu persoalan besar yang terlihat sepele. Karena deskripsi novel akan menentukan pembaca akan memilih membeli novelmu atau tidak. 

Jujur, kalau pergi ke toko buku, aku juga selalu membaca deskripsinya terlebih dahulu. Setelahnya, barulah akan memutuskan untuk membacanya atau tidak. So, dari ribuan atau jutaan buku yang ada ... kita harus bisa bikin deskripsi novel yang menarik.


Kali ini, aku mau ngasih tips tentang deskripsi novel supaya menarik perhatian pembaca.

Gimana sih caranya biar deskripsi novel kita itu bisa menarik?

Simak tips yang ada di bawah ini ya!


1. To the Point

Buatlah deskripsi kamu itu langsung ke intinya. Nggak usah bertele-tele. Buat kalimat semenarik mungkin untuk membuat pembaca penasaran dan ingin membaca karya kamu. Kamu bisa lihat contoh deskripsi novel "Perfect Hero" karya Vella Nine.




2. Bangun Citra Novelmu

    Dengan membangun citra novelmu di deskripsi novel, akan menarik minat pembaca untuk membaca cerita dalam novel tersebut. Kamu bisa memberikan gambaran secara keseluruhan dalam novel kamu dan tetap membuat penasaran pembaca. Kamu bisa lihat contoh deskripsi novel "Travelling ke Hatimu" karya Jun Akhena.




3. Tambahkan Kutipan dari Novelmu

     Kutipan novel yang diletakkan di deskripsi novel akan membuat pembaca tertarik saat membacanya dan ingin membuka bab-bab novel yang kamu tulis. Kamu bisa lihat contoh novel "My Mysterious Husband" karya Nawila ini:




 Nah, itu dia 3 tips bikin deskripsi novel yang menarik!

Semoga bermanfaat!



Much Love,

Rin Muna


Wednesday, March 31, 2021

Program Desa Ramah Anak di Desa Beringin Agung


Minggu, 15 November 2020

Yayasan Teman Kita bersama dengan pemerintah Desa Beringin Agung mengadakan pelatihan "Kader Ramah Anak".

Pelatihan ini merupakan pelatihan pertama kalinya untuk mewujudkan program "Desa Ramah Anak" yang ada di Desa Beringin Agung.

Desa Ramah Anak adalah program desa yang bertujuan untuk menjadikan desa ini sebagai desa yang ramah bagi anak. Anak-anak di desa bisa terbebas dari kekerasan seksual, pelecehan seksual dan bullying yang kerap terjadi di sekolah dan lingkungan masyarakat.

Program Desa Ramah Anak ini akan melibatkan seluruh stakeholder yang ada di desa ini. Sebab, semuanya tidak akan terwujud tanpa adanya pertisipasi dan dukungan dari masyarakat desa.

Saya sebagai warga Desa Beringin Agung, merasa sangat senang dengan adanya program Desa Ramah Anak ini. Harapannya, desa ini bisa benar-benar menjadi desa yang aman, nyaman dan ramah untuk anak-anak.

Karena, anak-anak adalah masa di mana karakter dan mentalnya akan terbentuk hingga dewasa. Bagaimana karakter anak saat dewasa nanti, adalah hasil dari penanaman karakter sejak dini. Jika menunggu sampai besar baru dilakukan penanaman karakter, tentunya akan terlambat.
Menanamkan karakter pada anak itu seperti menanam bonsai. Jika masih muda, kita bisa membentuk batang dan pertumbuhan daunnya seperti apa. Hingga ia bisa tumbuh dengan baik dan berkualitas. Jika kita terlambat merawatnya. Maka karakter itu akan tumbuh secara liar. Bahkan, batangnya yang sudah mengeras akan sulit untuk diatur. Jika dipaksakan, hanya akan patah, rusak dan rapuh.

Oleh karenanya, Desa Ramah Anak ini adalah program yang sangat penting karena berkaitan dengan masa depan anak-anak kita. Jika karakter anak-anak terbentuk dengan baik. Maka, masa depan dan kemajuan desa kita juga akan terbentuk dengan baik.

Saya sangat berharap jika semua masyarakat bisa berperan aktif dalam mendukung pengembangan program "Desa Ramah Anak" ini. Kita bisa mengukur indikator keberhasilan program ini setiap tahunnya.
Akan sangat membanggakan jika seluruh warganya bisa saling membantu, berpartisipasi aktif dalam mewujudkan Desa Beringin Agung sebagai Desa Ramah Anak.

Cukup sampai di sini dulu tulisan kecil dari aku...
Semoga, saat aku bikin tulisan lagi di tahun depan ... sudah ada perkembangan yang baik dari program ini. Mari kita sama-sama membangun desa untuk kepentingan dan kemajuan bersama!



Salam hangat,
@rin.muna

Friday, March 26, 2021

Penyesalan Masa Tua



Hari ini ... aku ingin berbagi kisah.

Bukan untuk mengharapkan rasa iba atau kasihan dari kalian. Tapi ... karena aku ingin tulisanku ini bisa menjadikan pelajaran hidup bagi kita.

Siapa sih sosok yang ada di foto ini?

Sosok ini bukanlah orang lain bagiku. Dia adalah seorang kakek yang begitu baik. Tidak pernah marah, tidak pernah menghakimi cucu-cucunya saat bersalah.

Aku ingin ... kisah dia abadi. Kelak, mungkin anak-anakku akan membaca tulisan ini.

 

Dia adalah sosok yang baik. Sayangnya, ia bernasib malang. Tidak sebaik seperti yang lainnya. Di usianya yang senja, dia hidup dalam sebuah penyesalan besar. Sebuah penyesalan di masa lalu karena dia tidak pernah bersekolah. Sehingga, ia kerap dimanfaatkan oleh orang lain. Semua harta yang ia miliki sudah habis karena ia tidak memiliki ilmu pengetahuan untuk menjaganya.

Penyesalan terbesarnya bukan karena kehilangan harta. Tapi karena dia tidak pernah merasakan apa itu “Belajar”. Saat masih kecil, kedua orang tuanya sudah tiada. Sementara, adiknya pun masih kecil. Demi merawat dan menjaga adiknya, dia memutuskan untuk berhenti sekolah.

Ada banyak pilihan dalam hidup, tapi juga ada orang yang tidak memiliki pilihan. Harus tetap menjalani kesulitan tanpa harus dihadapkan pada pilihan. Sebab itu, bersyukurlah jika kalian masih memiliki pilihan dalam hidup kalian. Sebab, sebagian orang tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih. Hanya dihadapkan pada satu hal yang harus mereka terima meski itu sangat pahit.

 

Sejak tahun 2004, kakekku sudah mengalami gangguan psikis karena penyesalan yang ia alami. Hingga saat ini, fisiknya masih sehat. Hanya saja, pemikirannya tidak lagi sehat. Dia setres dan kondisi telinganya sudah tunarungu karena usianya memang sudah tua.

 

Setiap hari ... dia selalu merasa sedih karena penyesalan dalam hidupnya. Setiap hari dia akan mengomel karena keadaan keluarganya yang tidak layak seperti lainnya.

Terkadang, menjadi pendengarnya setiap hari cukup setres. Kenapa? Karena aku juga tidak bisa melakukan sesuatu. Aku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tidak bisa mengubah hidupku dengan mudah.

Penyesalan di masa tuanya ... menusuk hatiku dan memberikan aku pelajaran berharga. Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan ilmu, sementara aku hanya tinggal di pelosok desa. Minim pendidikan, minim akses transportasi dan informasi.

Mungkin, yang membuat kakekku menyesal adalah ... dia melihat dengan nyata bagaimana zaman itu berubah. Sementara, dia tidak pernah bisa berubah. Menyakitkan ketika orang lain bisa mendapatkan sesuatu yang lebih. Sementara ia hanya duduk saja. Tak memiliki kemampuan apa pun. Ingin belajar pun, sudah terlambat.

 

Salah satu alasanku membuka rumah baca adalah ini ... aku tidak ingin, generasi muda merasakan hidup dalam penyesalan. Penyesalan bukan karena tidak memiliki harta, tapi karena tidak memiliki ilmu yang bermanfaat.

Aku khawatir, ini akan terjadi pada anak-anakku di masa yang akan datang. Oleh sebab itu, aku ingin mengabadikan kisah ini. Supaya bisa dijadikan pelajaran bahwa usia muda seharusnya digunakan untuk belajar. Belajar apa pun itu. Bisa dimulai dari buku. Buku apa pun itu.

Sebab, semua buku adalah ilmu.

Ilmu bisa kita dapatkan dari mana saja dan di mana saja. Jika tidak bisa mendapatkan pendidikan yang tinggi. Cukup hanya bisa bergelar SM (Sarjana Masyarakat), maka kita harus banyak belajar dari buku. Ada milyaran buku di dunia ini. Ada bilyunan tulisan di dunia ini. Jika kamu tidak bisa memanfaatkan waktumu dengan baik. Maka, kamu akan merasakan bagaimana dunia begitu kejam terhadapmu. Tidak ada kompromi, tidak ada toleransi. Hukum alam akan menyeleksi manusia-manusia yang bisa bertahan hidup dengan baik atau tidak.

 

Siapa yang tidak ingin hidup dengan baik? Semua orang ingin merasakan hidup layak. Punya pekerjaan yang baik. Punya masa depan yang baik. Hidup bahagia dengan keluarga, bisa menikmati liburan.

 

Semua orang ingin hidupnya lebih baik. Sama denganku. Aku juga ingin merasakan itu semua.

Aku tidak minta banyak. Aku hanya tidak ingin kakek-nenek dan kedua orang tuaku tidak merasakan bekerja di usia senjanya. Aku bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Walau sampai saat ini, aku belum bisa membuat orang tuaku benar-benar bersantai. Mereka masih pergi ke sawah setiap hari.

 

Itulah sebabnya, aku ingin sekali bisa bekerja keras agar kedua orang tua dan kakekku bisa bersantai.

Aku ingin memberikan yang terbaik untuk kakekku. Membuktikan bahwa aku bisa membawa keluarga dari kemiskinan. Membuatnya bangga dan menghilangkan rasa penyesalan dalam hidupnya.

 

Tapi sampai saat ini, dia masih tidak bisa menghapus rasa penyesalan dalam hatinya meski aku sudah berusaha keras membuatkan sebuah rumah yang layak dari hasil menulis novel.

Meski sudah berusaha keras untuk melegakan hatinya agar tidak hidup dalam penyesalan, pad akhirnya, tetap menyisakan penyesalan dalam hatinya.

 

Oleh sebab itu ...

Perbanyaklah belajar di usia mudamu. Agar usia tuamu tidak diselimuti rasa penyesalan. Nasehat yang pernah ada di buku sekolah, itu sungguh ada di dunia nyata. Penyesalan di msa tua, benar-benar akhir hidup yang menyakitkan. Sebab, kamu akan menyaksikan bagaimana zaman berubah. Kamu akan merasakan bagaimana waktumu begitu singkat dan tidak ada satu hal pun yang kamu bis tinggalkan untuk anak cucumu di masa depan.

 

Semoga tulisan ini ... membuat kita belajar, belajar dan belajar.

 

 

Salam hangat,

@rin.muna

 

 

 

 

 

 

 

Thursday, March 25, 2021

My Hope

 


Hai hai...!

 

Apa kabarnya nih teman-teman? Semoga semuanya baik-baik aja ya. Hari ini aku ingin bercerita tentang perjalanan aku bersama dengan sosok Mungil yang ada di foto ini. Dia adalah gadis kecil yang hadir dalam hidupku. Dia selalu jadi semangat dalam hidupku.

Di tengah kesibukan ku, aku mengajak dia pergi ke salah satu pantai karena kebetulan di sana ada kegiatan Camp yang diselenggarakan oleh Yayasan teman kita untuk pelatihan anak-anak remaja di desa beringin Agung.

Aku selalu bahagia mengajak dia pergi ke tempat-tempat wisata yang edukatif. Karena di sana, anakku tidak hanya bahagia menikmati wisata saja. Dia juga bisa belajar banyak hal tentang kehidupan sehari-hari dan tentang kehidupan masa depan yang akan dihadapi nanti.

Bagiku dia adalah sebuah harapan. Harapan tentang masa depan dan cita-cita yang tidak pernah terwujud selama hidupku. Ada harapan besar yang aku inginkan untuk dia. Tidak sulit, Tidak harus menjadi pengusaha sukses atau menjadi pegawai negeri yang punya gaji tetap. Aku hanya ingin anakku bisa menghadapi masa depan kelak dengan baik. Mampu bersaing dengan zaman yang semakin canggih dan dituntut serba cepat.

10 atau 20 tahun lagi, Mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Zaman akan berubah, pola pikir manusia akan berubah, cara bekerja pun akan berubah banyak. Yang harus aku lakukan adalah mempersiapkan Dia sedini mungkin. Mempersiapkan mentalnya sejak kecil supaya dia menjadi anak yang tangguh meski diterpa badai, meski harus menjalani banyak ujian dan tantangan dalam hidupnya.

Aku selalu ingin anak-anakku bisa keluar melihat dunia. Dunia yang begitu luas, dunia yang tidak pernah dilihat oleh ibunya sebelumnya. Supaya dia tahu tahu bagaimana menjadi manusia yang sesungguhnya. Supaya dia tahu bagaimana membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Supaya dia tahu jalan mana yang akan dipilih untuk masa depannya.

Terkadang kita sebagai orang tua selalu memiliki rasa ingin menguasai anak-anak kita. Tidak perlu mendengarkan apa yang mereka inginkan, yang kita mau anak-anak kita selalu menuruti apa yang kita inginkan. Padahal belum tentu mana kita bahagia dengan pilihan orang tuanya.

Oleh karenanya bagi anak-anak adalah harapan. They are my Hope. Mereka adalah harapan-harapan ku. Harapanku yang aku inginkan untuk mereka, bukan untukku. Karena merekalah yang akan menghadapi masa depan, bukan aku lagi.

Sebab ada rasa takut yang begitu besar menyelimutiku. Aku takut mereka tidak bisa menghadapi masa depan. Masa sekarang saja rasanya sudah sangat sulit. Bersaing dengan begitu banyak orang, bukan jutaan lagi tapi miliaran.

 

Zaman sekarang, kita sulit membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. 20 tahun lagi, Mungkin dunia akan lebih kejam dari ini. Itulah mengapa harapan terbesarku adalah membuat anak-anak Mengerti bagaimana dunia di luar sana. Membuat mereka tangguh yang tetap kuat menghadapi masalah hidup sebesar apapun.

 

 


Saturday, March 20, 2021

Rela Menempuh Jarak Jauh dalam Keadaan Hamil Demi Menjadi Relawan Pengajar di Rulika

 


Hai ... hai ...!

Kali ini aku mau cerita tentang hari bersejarah dalam hidupku. Hari di mana aku mengenal sosok wanita yang begitu istimewa. Aku mengenal Miss Fida yang merupakan guru aktif di sekolah menengah atas yang ada di Kecamatan Samboja dari salah satu keluargaku.

Hari itu ... Miss Fida datang berkunjung ke Rumah Literasi Kreatif. Kami berdiskusi banyak hal hingga akhirnya aku mengetahui kalau beliau adalah seorang guru Bahasa Inggris di salah satu sekolah swasta.

Selain mengajar, beliau juga sangat senang berkegiatan sosial. Sama seperti yang kerap aku lakukan di Rumah Literasi Kreatif. Ada banyak kegiatan sosial yang aku lakukan di desa. Meski tidak menghasilkan uang, tapi membuat hidup kami diselimuti banyak keberkahan dari Tuhan.

 

Karena jiwa sosial dan kepedulian beliau. Beliau rela menjadi relawan guru Bahasa Inggris di Rumah Literasi Kreatif. Aku sangat bahagia dan terkesan dengan perjuangan beliau. Beliau rela menempuh jarak yang cukup jauh untuk bisa mengajar secara sukarela di Rulika (Rumah Literasi Kreatif).

Ada banyak guru di desa ini, tapi tidak ada satu pun yang berminat menjadi tenaga pengajar sukarelawan. Aku sedikit kesulitan mencari tenaga sukarela yang mau mengajar di Rulika. Kenapa? Karena Rumah Literasi Kreatif murni bergerak di bidang sosial pendidikan. Kami tidak memungut biaya dari peserta bimbingan atau pelatihan. Sehingga, aku tidak bisa menjanjikan apa pun pada relawan pengajar yang mengajar di Rulika. Kalau nggak dibayar, siapa sih yang mau meluangkan waktunya berlelah-lelah? Nggak semua orang bisa melakukannya.

 

Oleh karenanya, aku meminta bantuan dari beliau. Beruntungnya, Miss Fida justru sudah menawarkan diri untuk menjadi relawan pengajar sebelum aku memintanya untuk membantu mengajar di Rulika. Aku tidak bisa mengajar semuanya, hanya menjadi fasilitator saja. Sebab, ada 6 pola literasi dasar yang aku terapkan di Rulika. Jadi, banyak kegiatan yang harus aku urus di samping pekerjaan utamaku. Aku juga tidak bisa mengabaikan pekerjaanku begitu saja, hehehe.

 

Aku membutuhkan relawan-relawan yang mau membantu mengajar di Rulika. Namun, aku juga tidak bisa mengintervensi atau menuntut mereka untuk selalu aktif mengajar karena aku tidak bisa menjanjikan apa pun. Hanya mengharapkan mereka yang dengan sukarela memberikan tenaga dan pikirannya untuk menjadi bagian dari perubahan masa depan.

 

Kami sudah sama-sama tua. Tidak mungkin bisa terus bergerak seperti anak-anak muda. Oleh karenanya, kami juga hadir dalam acara Youth Camp untuk melihat bagaimana anak-anak muda bersemangat dalam memajukan desanya. Sebab, apa yang aku lakukan saat ini ... aku tetap membutuhkan regenerasi. Orang yang sejalan dengan visi-misi, peduli dengan pendidikan dan lingkungan sekitarnya tanpa menuntut apa-apa.

 

Terima kasih untuk Miss Fida yang begitu menginspirasi. Meski dalam keadaan hamil, dia tetap semangat untuk belajar hal baru. Belajar bersama anak-anak muda yang kelak akan membawa perubahan untuk masa depan.

 

 

Sampai di sini tulisan kecil dari aku ...

Semoga bisa menginspirasi dan menjadikan hidup kita bermanfaat!

 

 

 

Much Love,

@rin.muna 

Tuesday, March 16, 2021

7 Permainan Tradisional Indonesia yang Hampir Punah

 

Permainan Tradisional Indonesia yang Hampir Punah

 

Hai ... hai ...! Kali ini aku mau bahas tentang permainan tradisional asli Indonesia yang hampir punah. Mungkin,buat anak era 4.0 ... permainan kayak gini adalah sesuatu yang asing. Bahkan, mungkin belum pernah merasakan sensasi permainan ini secara langsung. Secara, hampir semua permainan sudah ada di gawai dan dimainkan hanya dengan mengusap jari. Tidak akan merasakan bagaimana sensasi memukul sungguhan atau jatuh sungguhan. Hihihi ... pokoknya, permainan tradisional itu seru banget. Nyesel, deh kalo kamu nggak pernah ikut permainan ini.

Yuk, simak di bawah ini!

Ada 7 permainan tradisional yang hampir punah dan wajib kamu tahu. 

Apa aja sih?

 

1.       Perang Bantal


gpswisataindonesia.info


Permainan Perang Bantal dulu pernah populer dan sering dimainkan  masyarakat Indonesia . Aturan mainnya, dua pemain duduk di atas sebuah batang pohon yang diletakkan di atas air. Permainan ini biasanya dilakukan di atas sungai atau kolam. Pemain tersebut duduk berhadapan dengan senjata dua buah bantal yang digunakan untuk saling memukul.

Permainan ini tidak dibatasi waktu. Pemenangnya ditentukan dari siapa yang bisa menjatuhkan ke dalam air terlebih dahulu.

 

 

2.       Patok Lele

https://mainantradisionalindonesia.wordpress.com/




Patok lele adalah permainan dengan menggunakan dua bilah kayu, satu berukuran 10 cm dan yang lain berukuran 40 cm. biasanya permainan dilakukan dua peserta atau dua grup, dengan membuat lubang untuk meletakkan satu bilah yang pendek. Bilah yang panjang digunakan untuk memukul bilah yang di atas lubang agar melenting jauh. Yang lebih jauh yang menang. Patok lele merupakan permainan masyarakat yang bisa dilakukan oleh semua umur, dari anak-anak, remaja, hingga dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.

 

3.       Ingkling

https://www.dictio.id


Ingkling adalah permainan lompat-lompat katak yang dilakukan dengan satu kaki dan berhenti dengan dua kaki pada kotak-kotak tertentu. Permainan ingkling umumnya dimainkan oleh anak perempuan. Permainan ini paling sedikit dimainkan oleh dua orang. Alat yang digunakan adalah kapur dan gacuh (pecahan genting berbentuk bulat atau persegi, kadang juga batu) untuk menentukan posisi main.

Saat mulai bermain ingkling, harus menentukan siapa pemain pertama. Setelah itu semua gacuh disimpan di kotak pertama. Pemain pertama menuju kotak berikutnya dengan sebelah kaki. Lalu pada bagian setengah lingkaran, kedua kaki boleh menginjak tanah. Kemudian pemain menginjak kotak-kotak berikutnya dengan sebelah kaki. Setelah berhasil melewati satu putaran, diteruskan ke kotak berikutnya sampai habis. Setiap ada gacuh, tidak boleh diinjak dan harus dilangkahi.

 

4.        Sabung Ayam

https://radarlampung.co.id


Sabung ayam pada awalnya adalah permainan yang populer di masyarakat. Namun karena aroma perjudian yang kental dalam permainan ini, sabung ayam kemudian dilarang. Selain itu permainan ini juga dianggap tidak manusiawi, karena melakukan penyiksaan binatang sampai luka parah atau mati.

Cara main sabung ayam adalah menyiapkan dua ayam dalam satu arena, biasanya ayam jantan atau ayam jago. Permainan ini tidak terbatas waktu. Aturannya hanya salah satu ayam kabur atau mati. Ayam jago yang bertahan, itulah pemenangnya.

 

5.       Permainan Bahempas

@tawakborneo


Permainan ini asli dari Kalimantan Timur, tepatnya di Kutai Kartanegara. Permainan ini dilakukan oleh dua orang pemuda yang sama besar dan kuat fisiknya. Alat yang digunakan adalah tongkat dan tameng anyaman yang terbuat dari rotan untuk masing-masing pemainnya.

Permainan dimulai dengan dua pemain berhadapan lengkap dengan atributnya. Permainan ini biasanya dilakukan dalam 2-3 menit. Setelah permainan dimulai, pemain akan saling memukul lawan dengan mengayunkan dan menangkis pukulan dengan alat mereka. Pemenangnya adalah siapa yang menjatuhkan lawan dengan cepat.

 

6.       Bola Bekel

https://www.ibudanbalita.com


Permainan ini populer di kalangan anak-anak perempuan. Cara bermain bola bekel adalah dengan menggenggam seluruh biji bekel dan menebarkan seluruh biji itu ke lantai sambil melempar bola ke atas dan menangkapnya. Biji diambil satu persatu sampai habis. Ulangi lagi sampai pada peraturan berikutnya hingga permainan berakhir.

Bila pemain tidak bisa melakukan aturan permainan yaitu secara bersamaan dengan saat melempar dan menangkap bola, berarti ia kalah dan permainan diganti oleh lawan main. Lama permainan tidak terbatas dan sesuai kesepakatan.

 

7.       Egrang

https://indonesia.go.id


Permainan egrang sudah sulit ditemukan, baik di desa maupun di kota. Selain karena permainan ini cukup sulit, juga diperlukan alat-alat yang tidak mudah lagi ditemukan. Egrang adalah permainan dengan berjalan menggunakan alat dari bambu, kayu, atau batok kelapa. Tentu saja untuk memainkan alat ini diperlukan keterampilan dan keseimbangan tubuh yang baik.

Selain butuh keterampilan, permainan ini juga membutuhkan keberanian. Permainan egrang umumnya muncul secara sporadis di Indonesia untuk perlombaan hari kemerdekaan. Selain itu, jarang sekali orang melakukan permainan ini.


__________________________


Ditulis oleh : Avalynn Seanjaya

Sumber : Kisah 1001 Game/Permainan Paling Seru di Dunia


Monday, March 15, 2021

5 Manfaat Menjadi Penulis




Banyak orang yang menganggap bahwa menulis adalah sesuatu yang membosankan. Sehingga, tidak banyak orang yang berkecimpung di dunia kepenulisan. Padahal, menulis adalah bagian dari hidup kita. Kita tidak bisa terlepas dari tulisan atau teks dalam kehidupan sehari-hari.

Buat kamu yang selalu bertanya, apa sih manfaatnya jadi penulis? Hanya buang-buang waktu dan tidak mendapatkan apa-apa.

Eits ...! Menulis itu hobi. Buatku saat ini, menulis bukan sekadar hobi saja, tapi juga habbit dan passion. Karena banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dengan menjadi penulis.

Apa aja sih manfaatnya jadi penulis?

Yuk, simak tulisan di bawah ini!

  • Wawasan Luas

 Orang yang suka menulis, pastinya akan mencari banyak referensi atau bahan bacaan yang akan dijadikan tulisan. Semakin banyak menulis, orang itu pasti akan semakin banyak membaca. Dengan banyak membaca, wawasan yang dimiliki seorang penulis akan menjadi semakin luas. Terlebih ketika kalian menjadi penulis novel sepertiku. Kalian harus bisa mencipatakan karakter/tokoh  dengan berbagai profesi. Untuk membuat tokoh itu hidup, penulis harus bisa menjadi seorang pengusaha, dokter, tentara, ibu rumah tangga, anak-anak dll. dengan sudut pandang dan pemikiran mereka masing-masing. Oleh karenanya, menjadi penulis bisa menambah wawasan kalian semua untuk terus berkarya.

 

  • Bisa Menjadi Influencer dalam Kebaikan

Penulis bisa menjadi seorang influencer juga, loh. Kenapa? Karena penulis bisa membuat tulisan persuasi. Mengajak para pembacanya untuk melakukan sesuatu. Terutama dalam mengajak ke dalam kebaikan. Ada banyak sekali situs penulis yang mengajak dan mempengaruhi orang-orang untuk ikut serta dalam melakukan aksi kemanusiaan lewat tulisan. Terlebih, saat tulisan-tulisan sudah dikenal banyak orang. Tentunya, kita akan lebih baik dan lebih mudah dalam menebarkan kebaikan.

 

  • Menambah Income

 Banyak orang yang menganggap bahwa menulis tidak menghasilkan apa-apa. Tidak akan bisa ngasih kita makan. Itulah yang aku rasakan saat aku memutuskan terjun di dunia kepenulisan. Tidak ada hasilnya. Aku justru sering merogoh kocek dari kantong sendiri untuk mencetak buku-buku karyaku secara indie. Kalau tidak ada yang beli bukunya, otomatis aku tidak akan mendapatkan uang. 
Tapi, tidak menyerah begitu saja. Aku tetap terus menulis, memperbanyak tulisan agar terbiasa dengan banyak kosakata. Sampai akhirnya, tulisan-tulisanku bisa menghasilkan uang. Entah itu dari adsense atau dari penjualan bab berbayar. Semuanya bisa menghasilkan uang dari menulis asalkan tekun dan ingin terus belajar. Eh, jadi influencer juga bisa dapat uang, loh. Aku juga biasa mendapatkan uang dengan membuat artikel persuasif, loh. Beberapa perusahaan akan mencari penulis yang tulisannya bagus dan kekinian untuk membuat tulisan yang bisa mempengaruhi banyak orang, terutama kebutuhan pasar yang terus berkembang.
 
  • Melatih Skill Berkomunikasi

 Selain untuk menambah wawasan dan menambah income. Menulis juga bisa melatih skill berkomunikasi. Kenapa? Karena kita bisa memiliki banyak kosa kata saat kita bertemu dengan orang baru. Komunikasi dua arah yang baik adalah ketika kita tidak pernah kehabisan bahan untuk dibicarakan. Karena, kita memiliki pengetahuan dan nyambung ketika bertemu dengan orang baru, meski memiliki dunia yang berbeda. Rasanya keki banget saat kita berada dalam satu ruangan, tapi kita nggak bisa bicara banyak karena keterbatasan pengetahuan yang kita miliki. Iya, nggak?

  • Memperluas Relasi / Jaringan Pertemanan

 Kalau kata Kak Andrei Aksana, penulis bukanlah orang yang introvert. Penulis yang sesungguhnya adalah orang-orang ekstrovert yang suka dengan hal-hal baru dan keramaian. Dia akan menjadi introvert ketika sudah mendapatkan inspirasi di luar sana dan berhadapan dengan laptop atau komputer untuk menyusun sebuah naskah.
So, menjadi penulis akan memperluas relasi/jaringan pertemanan. Karena kita bisa bergabung dengan beberapa komunitas penulis yang begitu luas.
Dengan begitu, jaringan pertemanan kita juga akan semakin luas. Tidak hanya dikenal karena karya-karyanya, tapi juga pribadinya.
 
 
Nah, itu dia 5 manfaat menjadi seorang penulis.
Menurut kamu, masih ada lagi nggak manfaatnya jadi seorang penulis?
Kalau ada, silakan komentar di bawah ya!
 
 
Siap jadi penulis? 
Harus siap, dong!
 
 
Much Love,
@rin.muna

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas