Sunday, June 7, 2026

Ciri-Ciri Kalimat Efektif: Agar Tulisan Lebih Jelas dan Mudah Dipahami



Ciri-Ciri Kalimat Efektif: Agar Tulisan Lebih Jelas dan Mudah Dipahami

Oleh Rin Muna

Pernahkah kamu membaca sebuah kalimat berulang kali tetapi tetap bingung memahami maksudnya?

Atau mungkin saat mengirim pesan kepada teman, ternyata pesan yang kamu tulis justru menimbulkan salah paham?

Masalahnya sering kali bukan pada isi pesan, melainkan pada cara menyusunnya. Di sinilah pentingnya memahami kalimat efektif.

Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu menyampaikan gagasan secara tepat sehingga mudah dipahami oleh pembaca atau pendengar. Kalimat yang efektif tidak bertele-tele, tidak membingungkan, dan tidak menimbulkan makna ganda.

Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan membuat kalimat efektif sangat penting. Baik saat menulis tugas sekolah, membuat laporan, menulis artikel, maupun sekadar mengirim pesan di grup WhatsApp.

Lalu, apa saja ciri-ciri kalimat efektif?

1. Jelas dan Mudah Dipahami

Kalimat efektif harus memiliki makna yang jelas sehingga pembaca langsung memahami maksudnya.

Contoh tidak efektif:

"Karena hujan deras yang turun sejak pagi sehingga acara ditunda."

Kalimat tersebut terasa janggal karena menggunakan dua kata penghubung yang fungsinya hampir sama.

Contoh efektif:

"Karena hujan deras sejak pagi, acara ditunda."

Atau:

"Acara ditunda karena hujan deras sejak pagi."

Maknanya langsung dapat dipahami tanpa perlu ditebak.


2. Hemat Kata

Kalimat efektif tidak menggunakan kata-kata yang sebenarnya tidak diperlukan.

Contoh tidak efektif:

"Para siswa-siswa mengikuti kegiatan kerja bakti."

Kata para dan pengulangan siswa-siswa memiliki fungsi yang sama, yaitu menunjukkan jumlah lebih dari satu.

Contoh efektif:

"Para siswa mengikuti kegiatan kerja bakti."

atau

"Siswa-siswa mengikuti kegiatan kerja bakti."

Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering menemukan contoh seperti ini:

Tidak efektif:

"Saya naik ke atas."

Karena kata naik sudah menunjukkan arah ke atas.

Efektif:

"Saya naik tangga."


3. Memiliki Kesatuan Gagasan

Setiap kalimat sebaiknya hanya menyampaikan satu gagasan utama yang jelas.

Contoh tidak efektif:

"Perpustakaan itu memiliki banyak koleksi buku dan saya sering membaca novel di sana karena suasananya nyaman."

Kalimat tersebut memuat beberapa ide sekaligus sehingga terasa panjang.

Contoh efektif:

"Perpustakaan itu memiliki banyak koleksi buku."

"Saya sering membaca novel di sana karena suasananya nyaman."

Dengan memisahkan ide, informasi menjadi lebih mudah dipahami.


4. Logis

Kalimat efektif harus masuk akal dan sesuai dengan logika.

Contoh tidak efektif:

"Waktu dan tempat kami persilakan."

Kalimat ini sering terdengar dalam berbagai acara, tetapi secara logika tidak tepat. Waktu dan tempat tidak mungkin dipersilakan.

Contoh efektif:

"Kepada Bapak Ahmad, kami persilakan untuk memberikan sambutan."

Contoh lain:

Tidak efektif:

"Adik memakan buku pelajaran."

Secara tata bahasa mungkin benar, tetapi secara logika tentu tidak masuk akal, kecuali memang sedang bercerita tentang sesuatu yang unik atau fantasi.


5. Menggunakan Struktur yang Tepat

Kalimat efektif memiliki susunan subjek, predikat, objek, dan keterangan yang jelas.

Contoh tidak efektif:

"Di taman bermain banyak anak-anak."

Kalimat ini tidak memiliki subjek yang jelas.

Contoh efektif:

"Banyak anak bermain di taman."

Struktur kalimat menjadi lebih teratur dan mudah dipahami.


6. Tidak Menimbulkan Makna Ganda

Kalimat efektif harus menghindari penafsiran yang berbeda-beda.

Contoh tidak efektif:

"Rina melihat guru membawa tas merah."

Kalimat ini dapat menimbulkan pertanyaan. Tas merah itu milik siapa? Guru atau Rina?

Contoh efektif:

"Rina melihat guru yang membawa tas merah."

Atau:

"Rina melihat guru sambil membawa tas merah."

Maknanya menjadi lebih jelas.


Contoh Kalimat Efektif dalam Kehidupan Sehari-Hari

Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh yang sering kita temui.

Tidak EfektifEfektif
Saya pribadi sangat setuju dengan pendapat                 tersebut.Saya sangat setuju dengan pendapat tersebut.
Mohon agar supaya hadir tepat waktu.Mohon hadir tepat waktu.
Dia masuk ke dalam rumah.Dia masuk rumah.
Kami semua bersama-sama membersihkan         halaman.Kami bersama-sama membersihkan halaman.
Buku itu saya baca kemarin malam hari.Buku itu saya baca tadi malam.


Mengapa Kalimat Efektif Penting?

Kalimat efektif membuat komunikasi menjadi lebih lancar. Pesan yang disampaikan dapat diterima dengan tepat tanpa menimbulkan kebingungan.

Bagi pelajar dan mahasiswa, kalimat efektif membantu menghasilkan tugas yang lebih baik. Bagi penulis, kalimat efektif membuat tulisan lebih enak dibaca. Bagi pelaku usaha, kalimat efektif membantu menyampaikan promosi atau informasi kepada pelanggan dengan lebih jelas.

Bahkan dalam percakapan sehari-hari, penggunaan kalimat efektif dapat mengurangi kesalahpahaman.

Bayangkan jika seseorang mengirim pesan:

"Nanti jangan lupa yang kemarin itu ya."

Tentu kita akan bertanya-tanya, "Yang mana?"

Bandingkan dengan:

"Nanti jangan lupa membawa buku perpustakaan yang dipinjam kemarin."

Pesannya langsung jelas.


Penutup

Kalimat efektif bukan berarti kalimat yang panjang dan terdengar pintar. Justru sebaliknya, kalimat efektif adalah kalimat yang sederhana, jelas, hemat kata, logis, dan mudah dipahami.

Semakin sering kita berlatih menulis dan berbicara dengan kalimat efektif, semakin mudah pula orang lain memahami apa yang ingin kita sampaikan.

Karena pada akhirnya, tujuan komunikasi bukanlah membuat orang kagum pada kata-kata yang kita gunakan, melainkan memastikan pesan yang kita sampaikan benar-benar sampai kepada mereka.

Jadi, setelah membaca artikel ini, coba perhatikan kembali pesan WhatsApp, status media sosial, atau tulisan yang kamu buat. Apakah kalimat-kalimatnya sudah efektif?

Siapa tahu, hanya dengan mengubah beberapa kata, tulisanmu bisa menjadi jauh lebih jelas dan nyaman dibaca. ✍️

Bukan Sekadar Suka Membaca: Kenali 3 Jenis Pecinta Buku yang Mungkin Salah Satunya Adalah Kamu



Bukan Sekadar Suka Membaca: Kenali 3 Jenis Pecinta Buku yang Mungkin Salah Satunya Adalah Kamu

Oleh Rin Muna

Ada orang yang membeli buku karena ingin membacanya. Ada yang membeli buku karena jatuh cinta pada sampulnya. Ada pula yang merasa bahagia hanya dengan mencium aroma kertas yang baru keluar dari percetakan.

Dunia para pecinta buku memang unik. Kecintaan terhadap buku tidak selalu ditunjukkan dengan cara yang sama. Sebagian orang mengoleksi, sebagian menumpuk, dan sebagian lagi menikmati setiap detail buku, bahkan dari aromanya.

Jika kamu termasuk orang yang sulit melewati toko buku tanpa mampir, atau selalu menyisihkan uang untuk membeli buku baru, mungkin kamu termasuk salah satu dari tiga kategori pecinta buku berikut ini.


1. Bibliofil: Pecinta Buku Sejati

Kata bibliofil berasal dari bahasa Yunani, yaitu biblion yang berarti buku dan philos yang berarti cinta atau sahabat. Secara sederhana, bibliofil adalah orang yang memiliki kecintaan mendalam terhadap buku.

Namun jangan salah, menjadi bibliofil bukan berarti harus memiliki ribuan koleksi buku. Yang membedakan seorang bibliofil adalah hubungan emosionalnya dengan buku. Mereka menikmati proses membaca, merawat koleksi, bahkan merasa bahagia ketika menemukan buku yang sudah lama dicari.

Bagi seorang bibliofil, buku bukan sekadar tumpukan kertas berisi tulisan. Buku adalah jendela yang membuka dunia baru, teman perjalanan saat sepi, dan guru yang selalu sabar memberikan pelajaran.

Biasanya, seorang bibliofil:

  • Senang mengunjungi toko buku atau perpustakaan.
  • Merawat buku dengan baik.
  • Memiliki koleksi buku favorit yang disimpan khusus.
  • Sulit menolak godaan membeli buku baru.

Kalau kamu pernah memeluk buku baru sebelum membacanya, kemungkinan besar ada jiwa bibliofil di dalam dirimu.


2. Tsundoku: Membeli Banyak Buku, Membacanya Nanti

Istilah ini berasal dari Jepang. Tsundoku menggambarkan kebiasaan membeli buku, lalu membiarkannya menumpuk tanpa segera dibaca.

Terdengar familiar?

Banyak pecinta buku yang tersenyum malu ketika mendengar istilah ini. Mereka memiliki rak yang penuh dengan buku-buku yang masih terbungkus plastik atau hanya dibaca beberapa halaman.

Namun sebenarnya, tsundoku bukanlah sesuatu yang buruk.

Sering kali kita membeli buku karena takut kehabisan, karena sedang diskon, atau karena merasa buku itu akan berguna suatu hari nanti. Akibatnya, jumlah buku yang dibeli jauh lebih banyak daripada waktu yang tersedia untuk membacanya.

Saya sendiri pernah mengalami fase ini.

Masuk ke toko buku hanya ingin melihat-lihat, lalu pulang membawa tiga atau empat buku baru. Sesampainya di rumah, buku-buku itu bergabung dengan tumpukan buku lain yang masih menunggu giliran untuk dibaca.

Ironis memang. Tetapi bagi pecinta buku, melihat tumpukan buku yang belum dibaca justru memberikan rasa nyaman. Seolah-olah ada banyak petualangan yang menunggu untuk dijelajahi.

Ciri-ciri tsundoku antara lain:

  • Sering membeli buku lebih cepat daripada membacanya.
  • Memiliki daftar bacaan yang sangat panjang.
  • Rak buku selalu penuh.
  • Selalu punya alasan untuk membeli buku baru.

Kalau rak bukumu penuh tetapi daftar buku yang sudah selesai dibaca masih sedikit, mungkin kamu seorang tsundoku.


3. Bibliosmia: Menikmati Aroma Buku

Pernahkah kamu membuka buku baru, lalu tanpa sadar menghirup aromanya?

Jika iya, selamat. Kamu mungkin mengalami bibliosmia.

Bibliosmia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kecintaan terhadap aroma buku. Baik aroma buku baru maupun buku lama yang telah menguning karena usia.

Bagi sebagian orang, aroma buku menghadirkan sensasi yang sulit dijelaskan. Ada rasa tenang, nyaman, bahkan nostalgia.

Aroma buku baru biasanya berasal dari campuran tinta, lem, dan kertas yang masih segar. Sementara aroma buku lama muncul akibat proses alami pemecahan senyawa kimia pada kertas seiring berjalannya waktu.

Mungkin terdengar aneh bagi orang yang bukan pecinta buku. Namun bagi bibliosma, aroma buku bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan seperti menikmati aroma kopi di pagi hari atau wangi tanah setelah hujan.

Ciri-ciri bibliosma:

  • Selalu mencium buku baru sebelum membacanya.
  • Menyukai aroma perpustakaan atau toko buku.
  • Merasa nyaman berada di antara rak-rak buku.
  • Menganggap aroma buku sebagai bagian dari pengalaman membaca.

Jujur saja, banyak bibliofil yang juga seorang bibliosma. Karena cinta terhadap buku sering kali melibatkan semua indera, bukan hanya mata.


Kamu Termasuk yang Mana?

Menariknya, ketiga kategori ini tidak selalu berdiri sendiri. Seseorang bisa menjadi bibliofil sekaligus tsundoku. Bahkan bisa juga menjadi bibliosma dalam waktu yang bersamaan.

Membeli buku, mengoleksinya, membacanya, hingga menikmati aromanya adalah bentuk-bentuk cinta yang berbeda terhadap dunia literasi.

Jadi, jika hari ini kamu melihat rak bukumu penuh dengan buku yang belum sempat dibaca, jangan terlalu merasa bersalah. Bisa jadi kamu hanya sedang menjadi seorang tsundoku yang juga bibliofil.

Dan jika sebelum membaca artikel ini kamu sempat mencium aroma buku di dekatmu, mungkin ada sedikit jiwa bibliosma yang sedang tersenyum.

Karena pada akhirnya, setiap pecinta buku memiliki caranya sendiri untuk jatuh cinta.

Dan selama cinta itu membuat kita terus belajar, terus membaca, dan terus bertumbuh, bukankah itu hal yang indah?



Nah, kalau kamu termasuk yang mana? Bibliofil, Tsundoku, Bibliosma, atau justru ketiganya sekaligus? Tulis ceritamu di kolom komentar ya! 

Saturday, June 6, 2026

Ramai di Luar, Tenang di Dalam


Ada masa dalam hidup ketika kita tidak lagi merasa perlu menjadi pusat perhatian. Tidak lagi sibuk menghitung siapa yang menyukai unggahan kita, siapa yang memuji pencapaian kita, atau siapa yang memperhatikan keberadaan kita. Di titik itu, ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Sebuah kenyamanan yang lahir dari penerimaan diri.

Duduk sendirian di sebuah kedai kopi, memandangi lalu-lalang manusia yang sibuk dengan urusannya masing-masing, ternyata bisa menjadi pengalaman yang begitu menenangkan. Tidak ada percakapan yang harus dipaksakan. Tidak ada senyum yang harus dibuat-buat. Tidak ada topeng yang perlu dikenakan agar terlihat baik-baik saja.

Dulu, mungkin kita merasa kesepian ketika berada di luar seorang diri. Seolah-olah keberadaan orang lain adalah syarat utama agar hidup terasa berarti. Kita mencari validasi dari tepuk tangan, pujian, dan pengakuan. Kita ingin diyakinkan bahwa kita berharga. Namun semakin bertambah usia, semakin kita memahami bahwa ketenangan tidak selalu datang dari keramaian, dan kebahagiaan tidak selalu lahir dari pengakuan orang lain.

Ada keresahan yang perlahan berubah menjadi kesadaran. Bahwa tidak semua hal harus diceritakan. Tidak semua pencapaian harus diumumkan. Tidak semua luka harus dipertontonkan. Sebab pada akhirnya, hidup adalah perjalanan yang dijalani oleh diri sendiri.

Menikmati secangkir kopi sendirian bukan berarti anti sosial. Bukan pula tanda bahwa hidup sedang tidak baik-baik saja. Kadang itu justru tanda bahwa seseorang sudah berdamai dengan dirinya sendiri. Ia tidak lagi takut pada kesunyian. Ia tidak lagi merasa kosong ketika tidak ada yang mengajaknya berbicara. Ia mampu menjadi teman bagi dirinya sendiri.

Di tengah keramaian, ia melihat banyak orang berlari mengejar sesuatu. Sebagian mengejar kekayaan, sebagian mengejar popularitas, sebagian lagi mengejar pengakuan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Namun ada saat itu hati bertanya, "Setelah semua itu didapatkan, apakah kita benar-benar merasa cukup?"

Pertanyaan itulah yang sering muncul ketika kita duduk diam di dekat jendela sebuah Coffee Shop. Melihat kendaraan berlalu, melihat orang-orang berjalan terburu-buru, lalu menyadari bahwa hidup ternyata tidak harus selalu diperlombakan.

Mungkin inilah bentuk kedewasaan yang jarang dibicarakan. Ketika seseorang tidak lagi haus menjadi yang paling terlihat. Ia cukup menjadi dirinya sendiri. Tidak sibuk membuktikan apa pun kepada dunia. Tidak gelisah ketika namanya tidak disebut. Tidak kecewa ketika keberadaannya tidak diperhatikan.

Sebab nilai diri tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang mengenal kita. Harga diri tidak lahir dari pujian. Dan ketenangan tidak bergantung pada validasi manusia.

Ada kebahagiaan yang sederhana namun sangat mahal, yakni mampu duduk sendiri di tengah keramaian tanpa merasa kesepian.

Saat itulah kita sadar bahwa rumah yang paling nyaman bukanlah tempat yang ramai oleh manusia, melainkan hati yang telah selesai berdamai dengan dirinya sendiri.

Friday, June 5, 2026

Perfect Hero Bab 538 : Menunggu Hasil Tes DNA

 


“Mbak Belli kenapa?” tanya seorang pelayan saat membukakan pintu begitu Bellina dan Mega sampai ke rumah.

 

“Bukan urusan kamu!” sahut Bellina kesal sambil melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas.

 

Pelayan yang lain saling berbisik dan menertawakan penampilan Bellina yang begitu berantakan.

 

Bellina langsung berbalik begitu ia mendengar suara berbisik dari beberapa pelayan di rumah tersebut.

 

“Heh!? Kalian nggak punya kerjaan lain selain ngomongin majikan sendiri, hah!?” seru Bellina.

 

Pelayan itu langsung bergegas memisahkan diri dan melangkah menuju ruangan belakang. “Galak amat!” celetuk mereka lirih.

 

“Heran, deh. Pelayan di rumah ini pada nggak bener. Sibuk ngurusin pribadi majikannya. Kerja yang bener, kek,” gerutu Bellina sambil masuk ke dalam kamar dan bergegas membersihkan tubuhnya.

 

Di lantai bawah, Mega masih terus memikirkan hal yang terjadi padanya hari ini. Ia khawatir kalau semua ini akan mempengaruhi kredibilitas perusahaan dan mengancam perusahaan keluarganya.

 

“Ergh! Kenapa punya menantu kayak gitu kelakuannya!?” serunya kesal. “Kalau sampai berita kayak gini tersebar ke luar, perusahaan Wijaya bisa kehilangan kepercayaan dari orang lain. Bellina nggak mikirin nasib perusahaan suaminya sendiri? Sinting tuh anak!”

 

Mega mondar-mandir di ruang tamu hingga ia masuk ke dalam kamarnya. “Aku harus memikirkan cara untuk memisahkan Lian dari perempuan itu. Kalau begini terus, keluarga Wijaya nggak akan ada harganya di mata orang-orang. Dia udah tega menyakiti anaknya sendiri. Sekarang, dia juga nggak jelas anaknya siapa.”

 

Mega merasa kalau perbuatan Bellina semakin hari semakin kelewat batas dan membahayakan masa depan keluarga besarnya. Ia tidak ingin Bellina terus menempel pada putera kesayangannya dan menimbulkan masalah.

 

Di kamarnya, Bellina terus menerus meracau tak jelas. Ia menganggap semua benda yang ada di dalam kamar mandi adalah Yuna dan terus memaki sepuasnya.

 

“Sialan kamu, Yun! Kalau bukan karena kamu, aku nggak akan dipermalukan kayak gini!” seru Bellina kesal. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi sepupunya tersebut. Banyak hal yang ia benci dari Yuna karena ia tidak bisa mendapatkan kebahagiaan seperti yang didapatkan oleh Yuna.

 

 

 

...

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

“Ribut banget, sih!” maki Bellina sambil menyambar ponsel yang berdering. Ia masih menutup mata, enggan berdamai dengan mentari pagi yang mulai menghangat.

 

Bellina langsung membelalakkan mata begitu melihat pengingat agenda yang tertera di layar ponselnya. “Astaga! Hari ini tes DNA bakal keluar. Aku harus ke rumah sakit lebih dulu,” tuturnya sambil bangun dari tempat tidurnya.

 

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Namun, Bellina baru saja membuka mata. Sementara Wilian sudah pergi ke kantor tiga puluh menit yang lalu.

 

“Huft, aku lupa banget kalau hari ini hasil tes DNA bakal keluar. Mudahan aja, hasilnya negatif! Aku harus sampai lebih dulu ke rumah sakit!”

 

Bellina buru-buru pergi ke rumah sakit untuk mengetahui hasil tes DNA itu terlebih dahulu.

 

Begitu sampai di rumah sakit, Bellina langsung menghampiri tim dokter yang mengurusi masalah tes DNA.

 

“Prof ...!” panggil Bellina.

 

Dokter itu langsung berbalik. “Siapa ya?”

 

“Aku Bellina, yang akan menerima tes DNA hari ini.”

 

“Oh.” Dokter itu mengangguk-anggukkan kepala. “Tunggu yang lain ya!” pinta dokter ith sambil melangkah pergi.

 

“Prof, apa saya bisa lihat hasil tes DNA itu lebih dulu?” tanya Bellina sambil mengejar langkah dokter tersebut.

 

Dokter itu menghentikan langkahnya. “Ikutilah semuanya sesuai prosedur!”

 

“Prof, sekarang atau nanti ... hasilnya akan tetap sama. Saya hanya ingin mengetahui lebih dulu.”

 

“Nanti akan saya beritahukan setelah semua keluarga berkumpul sesuai dengan permintaan Pak Tarudi.”

 

“Prof, saya langsung yang dites kali ini. Apa saya nggak bisa mengetahui hasilnya lebih dulu? Kalau memang profesor tidak ingin memperlihatkan suratnya. Setidaknya, kasih tahu saya ... siapa ayah biologis saya?”

 

Profesor itu menarik napas sejenak sambil menatap wajah Bellina. “Saya tidak bisa mengatakan sebelum semuanya berkumpul. Jadi, tunggu saja!” jawab dokter itu dan berlalu pergi.

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. Ia berbalik dan menghampiri ruang laboratorium forensik untuk mencari hasil tes DNA miliknya. Dari balik kaca pintu laboratorium, Bellina berusaha mengintip ke dalam ruangan tersebut. Ada dua petugas laboratorium yang ada di dalam sana. Membuatnya tak bisa masuk dengan leluasa.

 

Bellina hanya bisa menyandarkan punggung dan kepalanya ke dinding. Ia pasrah begitu saja saat mengetahui ada dua kamera CCTV di sudut kanan dan kiri koridor tersebut.

 

“Kenapa sih nggak semudah cerita sinetron? Mereka bisa ganti hasil tes DNA dengan mudah. Di rumah sakit ini, sistem keamanannya ketat banget. CCTV di mana-mana. Dokternya nggak bisa diajak sekongkol. Pintu laboratorium dikunci. Aku harus gimana?” rengek Bellina sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

 

Bellina menoleh ke dalam ruang laboratorium yang hanya bisa ia lihat sedikit dari balik kaca pintu.

 

Beberapa menit kemudian, Melan dan kekasihnya muncul dari ujung koridor dan langsung menghampiri Bellina.

 

“Bel, udah di sini dari tadi?” tanya Melan sambil menatap Bellina.

 

Bellina melirik tajam ke arah mamanya. Hatinya diselimuti kebencian saat melihat mamanya dan Lonan berangkulan mesra. Ia merasakan sakit yang luar biasa, ia tidak ingin menjadi anak kandung dua orang yang ada di hadapannya.

 

“Cantik ...! Jangan cemberut seperti itu!” pinta Lonan lembut sambil mengelus rambut Bellina.

 

Bellina langsung menepis tangan Lonan dengan kasar. “Nggak usah sok baik!”

 

Lonan tertawa bahagia melihat sikap Bellina yang kasar dan angkuh. “Aku suka sifat kamu ini ... sangat mirip denganku. Sudah pasti, kamu adalah anak kandungku.”

 

“Jangan terlalu percaya diri! Aku nggak mau punya ayah kayak kamu!” seru Bellina.

 

“Hahaha. Kalau kenyatannya kamu adalah anakku. Kamu bisa apa?”

 

“Hasil tes DNA belum keluar. Sekalipun hasilnya positif kalau aku anak kamu. Aku nggak akan pernah mengakuinya!” tegas Bellina. “Papaku cuma satu. Aku nggak mau punya papa lain!” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca sambil menoleh ke arah Tarudi yang muncul di belakang Lonan.

 

Tarudi terpaku melihat wajah Bellina yang sudah ada di hadapannya. Harapannya kali ini hanya Bellina. Ia sangat berharap kalau Bellina adalah puteri kandungnya.

 

Ia belum resmi menceraikan istrinya. Tapi, istrinya sudah bergandengan mesra dengan pria lain dan membuat perasaannya tak karuan. Hatinya begitu tersayat, tapi ia tidak punya hak untuk marah atau cemburu. Sebab, hubungan mereka saat ini sudah berbeda.

 

“Bel, papa juga ingin menjadi papa kamu untuk selamanya. Papa sangat menyayangi kamu. Hingga saat ini, kamulah yang tak sanggup papa benci meski papa ingin membencimu,” batin Tarudi.  Ia tidak ingin menjalani kehidupannya seorang diri. Ia tidak akan mempertahankan rumah tangganya tapi ia ingin memiliki seorang puteri yang bisa menemaninya menghabiskan hari tua bersama.

 

((Bersambung...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulisnya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Mengapa Banyak Orang Menyembunyikan Kebahagiaannya? Ternyata Ini Alasannya




Ada sebuah nasihat lama yang sering terdengar sederhana, tetapi semakin dipikirkan justru semakin dalam maknanya: "Ceritakan susahmu saja, jangan ceritakan senangmu." Bukan karena kebahagiaan adalah sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan karena tidak semua orang mampu ikut bahagia atas kebahagiaan yang kita miliki.

Dalam hidup, kita sering mengira bahwa setiap senyum yang kita lihat adalah tanda turut berbahagia. Kita menganggap setiap ucapan selamat lahir dari hati yang tulus. Kita percaya setiap tepuk tangan adalah bentuk dukungan yang murni. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada hati yang tersenyum di depan, tetapi diam-diam membandingkan dirinya dengan hidup kita. Ada yang mengucapkan selamat, tetapi di dalam hatinya bertanya, "Mengapa bukan aku?"

Iri hati adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Ia bisa tumbuh di mana saja, bahkan di antara orang-orang yang paling dekat dengan kita. Bukan karena mereka jahat, tetapi karena manusia memiliki kelemahan untuk membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Ketika seseorang mendengar cerita tentang keberhasilan, rumah baru, usaha yang berkembang, anak yang berprestasi, atau kehidupan yang tampak bahagia, tidak semua orang mampu melihatnya sebagai inspirasi. Sebagian justru melihatnya sebagai pengingat atas kekurangan yang mereka rasakan dalam hidupnya sendiri.

Sebaliknya, ketika kita menceritakan kesulitan, kegagalan, atau perjuangan yang sedang dihadapi, banyak orang justru lebih mudah menunjukkan empati. Mereka merasa terhubung. Mereka merasa masih memiliki ruang untuk membantu. Mereka mendoakan, memberi dukungan, bahkan ikut merasakan beban yang kita pikul. Tidak ada perbandingan yang lahir dari kisah penderitaan. Yang muncul justru rasa iba dan kasih sayang.

Bukan berarti kita harus hidup dalam kepura-puraan dengan terus-menerus menampilkan kesedihan. Bukan pula berarti kebahagiaan harus dikubur rapat-rapat. Namun ada kebijaksanaan dalam memilih kepada siapa cerita itu disampaikan. Tidak semua pencapaian perlu diumumkan. Tidak semua rezeki perlu dipamerkan. Tidak semua kebahagiaan harus menjadi konsumsi banyak orang.

Kadang-kadang, kebahagiaan yang paling tenang justru lahir dari hal-hal yang tidak banyak diketahui orang lain. Seperti akar pohon yang tumbuh diam-diam di dalam tanah. Tidak terlihat, tetapi menguatkan. Tidak dipuji, tetapi menopang kehidupan. Kebahagiaan semacam ini tidak membutuhkan validasi. Ia cukup disyukuri, dijaga, dan dinikmati bersama orang-orang yang benar-benar tulus mencintai kita.

Ada pula pelajaran penting yang sering terlupakan. Ketika kita terlalu sering menceritakan kesenangan, kita tanpa sadar membuka pintu bagi berbagai penilaian. Orang mulai menghitung apa yang kita miliki. Mereka mulai mengukur pencapaian kita. Bahkan terkadang menunggu kapan kita gagal. Sebaliknya, ketika kita lebih banyak menyimpan nikmat dan memperbanyak syukur, hidup terasa lebih ringan. Kita tidak sibuk menjaga citra. Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.

Pada akhirnya, bukan soal menyembunyikan kebahagiaan, melainkan menjaga keberkahannya. Sebab tidak semua yang indah perlu diumumkan, dan tidak semua yang kita miliki harus diketahui dunia. Ada kebahagiaan yang lebih aman ketika disimpan dalam doa, lebih hangat ketika dirayakan bersama keluarga, dan lebih bermakna ketika dikembalikan sebagai rasa syukur kepada Tuhan.

Maka, jika hari ini hidup sedang memberi banyak nikmat, syukurilah dengan tenang. Jika ada kesulitan, jangan ragu mencari bahu untuk bersandar. Dan jika harus memilih antara membuat orang iri atau membuat orang mengasihi, bukankah lebih indah menjadi manusia yang dicintai karena ketulusannya daripada dikagumi karena kemewahannya? Mari belajar menjadi pribadi yang tidak sibuk memamerkan kebahagiaan, tetapi memperbanyak rasa syukur. Karena sering kali, nikmat yang paling terjaga adalah nikmat yang tidak banyak diceritakan.

Thursday, June 4, 2026

Penjadwalan Pramusrenbang Desa Beringin Agung Tahun Anggaran 2027




Dalam rangka mempersiapkan penyusunan rencana pembangunan desa yang partisipatif dan berbasis kebutuhan masyarakat, Pemerintah Desa Beringin Agung bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) menggelar rapat koordinasi penjadwalan Pra Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Pramusrenbang) pada Kamis, 4 Juni 2026, bertempat di Ruang BPU Desa Beringin Agung.

Kegiatan tersebut dipandu langsung oleh Ketua BPD Desa Beringin Agung, Kuat Sholeh, bersama Kepala Desa Kusnadi dan Pendamping Desa, Sukardin. Rapat dihadiri oleh para Ketua RT, perwakilan lembaga desa, serta unsur masyarakat yang akan terlibat dalam tahapan perencanaan pembangunan desa tahun anggaran 2027.

Dalam arahannya, Ketua BPD, Kuat Sholeh, menegaskan pentingnya Pramusrenbang sebagai wadah penjaringan aspirasi masyarakat di tingkat RT sebelum dibahas lebih lanjut dalam Musrenbang Desa. Melalui forum ini, setiap RT diharapkan dapat mengidentifikasi kebutuhan dan usulan prioritas pembangunan yang benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan warganya.

Sementara itu, Kepala Desa Kusnadi mengajak seluruh peserta untuk aktif berpartisipasi dan memastikan setiap usulan yang diajukan memiliki manfaat yang luas bagi masyarakat. Menurutnya, pembangunan desa yang baik harus diawali dengan proses perencanaan yang matang, terbuka, dan melibatkan seluruh unsur masyarakat.

Pada kesempatan tersebut disepakati bahwa pelaksanaan Pramusrenbang akan dilaksanakan secara bertahap di seluruh wilayah RT, mulai dari RT 1 hingga RT 11, setelah rangkaian kegiatan Tasyakuran Hari Ulang Tahun Desa Beringin Agung yang akan dilaksanakan pada 6 Juni 2026. 
Penjadwalan ini dilakukan agar seluruh tahapan dapat berjalan dengan tertib serta memberikan kesempatan yang cukup bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan usulan pembangunan.
Melalui pelaksanaan Pramusrenbang ini, diharapkan seluruh usulan prioritas masyarakat dapat terakomodasi secara optimal sebagai bahan penyusunan program pembangunan Desa Beringin Agung Tahun Anggaran 2027, sehingga pembangunan desa ke depan semakin tepat sasaran, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh warga.


#PramusrenbangDesa 
#DesaBeringinAgung 
#MusrenbangDesa 
#PerencanaanPembangunan 
#PartisipasiMasyarakat 
#BPDDesa 
#PembangunanDesa2027



Mengapa Iwel-Iwel Selalu Hadir dalam Selamatan Bayi? Ternyata Ini Maknanya




Dalam kehidupan sosial, seringkali kita mendapati momen-momen yang luar biasa dan tidak bisa dilupakan. Salah satunya adalah momen kelahiran bayi. 

Sejak menjadi Ibu Rumah Tangga, aku kerap mendapatkan undangan selamatan bayi. Bahkan, aku juga ikut mengundang orang lain untuk datang ke acara selamatan kelahiran bayiku. 
Setiap kali acara selamatan, tidak luput dari hidangan makanan enak. Salah satunya adalah iwel-iwel. 

Iwel-iwel selalu hadir saat selamatan kelahiran bayi atau selamatan tujuh bulanan. Sempat terbersit pertanyaan dalam hati, "Kenapa selalu ada iwel-iwel saat selamatan kelahiran bayi?"
Meski pertanyaan itu sudah tertanam di kepala selama beberapa tahun terakhir. Tapi, aku tidak pernah benar-benar ingin mencari tahu tentang makna dan filosofi makanan yang satu ini. 

Akhir-akhir ini, aku mulai tertarik dengan makanan-makanan tradisional dan arti filosofis di balik makanan itu sendiri. Aku merasa hal ini sangat menarik. Makanan tradisional dibuat bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tapi juga memiliki nilai budaya dan filosofi yang luar biasa. Aku ingin sekali menuliskannya agar anak-cucu nanti bisa mengetahui tentang makna dan tradisi yang harus dijaga hingga ratusan atau ribuan tahun lagi. 

Ada makanan yang dibuat untuk mengenyangkan perut. Ada pula makanan yang dibuat untuk mengenyangkan hati. Iwel-iwel termasuk yang kedua.

Di banyak kampung Jawa, kue tradisional ini hampir selalu hadir dalam berbagai selamatan yang berkaitan dengan kelahiran dan tumbuh kembang anak. Bentuknya sederhana. Bahannya pun tidak mewah. Hanya tepung ketan, kelapa parut, gula merah, dan daun pisang. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan lapisan makna yang begitu dalam. 

Dalam Jurnal UGM berjudul "Makna Filosofis Iwel-iwel dalam Selamatan Bayi di Jawa: Kajian Linguistik Antropologis" juga mengungkapkan bahwa masyarakat Jawa sejak dahulu tidak pernah menciptakan tradisi tanpa makna. Bahkan makanan pun sering kali dijadikan media untuk menyampaikan harapan, doa, dan nasihat hidup. Iwel-iwel adalah salah satu contohnya.
Konon, salah satu asal-usul nama iwel-iwel berasal dari kata cemiwel atau kamiwel yang berarti lucu, menggemaskan, atau menyenangkan hati. Karena itulah kue ini kerap hadir dalam selamatan bayi sebagai simbol harapan agar anak yang lahir tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebahagiaan bagi keluarga dan lingkungannya.

Namun maknanya tidak berhenti di situ.
Jika diperhatikan, iwel-iwel dibuat dari bahan-bahan yang sangat dekat dengan kehidupan rakyat. Tidak ada bahan mahal. Tidak ada hiasan berlebihan. Semuanya berasal dari alam sekitar. Tepung ketan, kelapa, gula aren, dan daun pisang berpadu menjadi satu sajian yang manis, hangat, dan mengenyangkan. Dari sini orang Jawa seperti sedang mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan. Terkadang, kehidupan yang paling bermakna justru dibangun dari hal-hal sederhana yang dirawat dengan penuh ketelatenan. 

Daun pisang yang membungkus iwel-iwel juga bukan sekadar pembungkus. Ia seolah menjadi perlambang perlindungan. Sebagaimana bayi yang baru lahir dibungkus kasih sayang orang tua, iwel-iwel pun dibungkus dengan daun yang menjaga bentuk dan rasanya hingga matang. Di sana ada pesan tentang kehangatan keluarga, tentang rumah yang menjadi tempat pertama seorang anak belajar mengenal dunia.


Menariknya lagi, proses membuat iwel-iwel membutuhkan kesabaran. Kelapa harus diparut, adonan harus diolah dengan cermat, lalu dibungkus satu per satu sebelum dikukus hingga matang. Tidak ada yang instan. Semua memerlukan waktu. Filosofi ini terasa begitu relevan dengan kehidupan keluarga hari ini. Anak-anak tidak tumbuh hanya dengan fasilitas dan teknologi. Mereka tumbuh melalui proses panjang yang membutuhkan kesabaran, perhatian, dan cinta yang terus-menerus diberikan. 

Mungkin itulah sebabnya iwel-iwel mampu bertahan melintasi zaman. Ia bukan hanya makanan tradisional. Ia adalah pengingat bahwa setiap kehidupan baru layak disambut dengan syukur. Bahwa kebahagiaan terbaik sering kali lahir dari kesederhanaan. Dan bahwa kasih sayang, seperti gula merah di dalam iwel-iwel, tidak selalu tampak dari luar, tetapi selalu bisa dirasakan kehangatannya.

Di tengah gempuran makanan modern yang serba menarik dan berwarna-warni, iwel-iwel hadir dengan caranya sendiri: tenang, sederhana, dan penuh makna.
Karena bagi orang Jawa, terkadang doa tidak hanya dipanjatkan melalui kata-kata. Ia juga bisa dibungkus daun pisang, dikukus dengan kesabaran, lalu dibagikan kepada sesama dalam bentuk iwel-iwel. 



Kutai Kartanegara, 04 Juni 2026

Rin Muna
(Novel Author & Humaniora) 

Bukan Orang Ketiga, Komunikasi yang Mati Sering Jadi Penyebab Retaknya Rumah Tangga





Tidak semua rumah tangga diuji oleh badai besar. Kadang-kadang, yang menggerus kebahagiaan justru hal-hal sederhana yang terjadi setiap hari: sulitnya berbicara dari hati ke hati.

Ada suami yang ketika diajak berdiskusi memilih diam. Ada yang langsung marah. Ada yang mengalihkan pembicaraan. Bahkan ada yang ketika istrinya ingin mencari solusi, justru menambah daftar masalah baru.

Padahal, dalam sebuah rumah tangga, masalah bukanlah sesuatu yang bisa dihindari. Tagihan datang setiap bulan. Anak-anak tumbuh dengan kebutuhan yang terus berubah. Orang tua bertambah usia. Tubuh tidak selalu sehat. Hidup memang selalu menghadirkan persoalan.

Yang membedakan rumah tangga yang bertahan dan yang perlahan retak bukanlah ada atau tidak adanya masalah, melainkan bagaimana dua orang di dalamnya menghadapi masalah itu bersama.

Sayangnya, ada suami yang menganggap setiap percakapan serius sebagai serangan. Ketika istri berkata, "Kita perlu membicarakan ini," yang terdengar justru, "Aku sedang disalahkan."

Akibatnya, percakapan yang seharusnya menjadi jalan keluar berubah menjadi arena pertahanan diri. Suami sibuk mencari alasan. Istri sibuk mencari jawaban. Tidak ada yang benar-benar mendengarkan.

Masalah yang awalnya kecil akhirnya membesar karena tidak pernah benar-benar dibahas.

Ironisnya, banyak suami sebenarnya bukan tidak peduli. Mereka hanya tidak terbiasa mengelola emosi dan komunikasi. Sejak kecil, sebagian laki-laki dibesarkan dengan kalimat-kalimat seperti, "Jangan cengeng!" "Laki-laki harus kuat!" atau "Diam saja!"

Mereka belajar bekerja keras, tetapi tidak belajar mengungkapkan perasaan. Mereka diajarkan menyelesaikan tugas, tetapi tidak diajarkan menyelesaikan konflik.

Maka ketika menikah, mereka mampu memperbaiki mesin yang rusak, tetapi bingung memperbaiki hubungan yang sedang renggang.

Padahal, istri sering kali tidak membutuhkan jawaban yang sempurna. Ia hanya ingin didengar.

Ia tidak selalu meminta suaminya menyelesaikan seluruh persoalan dalam satu malam. Ia hanya ingin tahu bahwa mereka sedang berjalan ke arah yang sama.

Terkadang, istri lebih memilih untuk berdiam diri ketika menghadapi persoalan yang tak kunjung usai hanya untuk menjaga hubungan tetap hangat dan rumah tangga akan baik-baik saja. Namun, seberapa lama seorang istri bisa menahan diri dan memendam semuanya sendirian? Bisa jadi, ia akan berlari pada orang lain atau memilih jalan singkat yang sulit dimengerti orang lain. 

Sebuah masalah akan terasa lebih ringan ketika dipikul bersama. Sebaliknya, masalah sekecil apa pun akan terasa berat ketika harus ditanggung sendirian.

Komunikasi dalam rumah tangga ibarat jembatan. Ketika jembatan itu retak, kedua orang bisa saja masih tinggal di rumah yang sama, tidur di ranjang yang sama, bahkan makan di meja yang sama. Namun hati mereka berada di pulau yang berbeda.

Karena itu, kemampuan berbicara dan mendengarkan bukanlah keterampilan tambahan dalam pernikahan. Ia adalah fondasi.

Tidak harus selalu mencari solusi yang hebat. Tidak harus selalu menang dalam perdebatan. Kadang yang dibutuhkan hanya kalimat sederhana:

"Aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu."

"Mari kita pikirkan bersama!"

"Aku belum punya jawaban sekarang, tapi aku mau mendengarkan."

Kalimat-kalimat sederhana itu mungkin tidak langsung menyelesaikan masalah. Namun setidaknya tidak menambah luka.

Pada akhirnya, pernikahan bukan tentang siapa yang paling benar. Pernikahan adalah tentang dua orang yang memilih tetap berada di pihak yang sama ketika masalah datang.

Sebab rumah tangga tidak runtuh karena banyaknya persoalan. Rumah tangga sering kali runtuh ketika dua orang berhenti berbicara, berhenti mendengar, dan berhenti merasa bahwa mereka adalah satu tim.

Dan ketika itu terjadi, masalah bukan lagi berada di luar rumah. Masalah itu sudah tinggal di dalamnya.

Tuesday, June 2, 2026

Saya Baru Tahu, Ternyata Bubur Sum-Sum Setelah Hajatan Punya Makna yang Luar Biasa






Ada satu pemandangan yang selalu membuat saya tersenyum setiap kali menghadiri hajatan pernikahan di kampung-kampung Jawa. Ketika tenda mulai dibongkar, kursi-kursi dikembalikan ke tempat semula, dan para tamu terakhir berpamitan, dapur justru masih menyimpan cerita. 
Di sudut rumah, ibu-ibu yang sejak beberapa hari lalu sibuk rewang masih berkumpul sambil menikmati semangkuk bubur sum-sum hangat yang disiram kuah gula merah, mereka sering menyebutnya "juruh". 
Sederhana. Tidak mewah. Namun justru di situlah tersimpan makna yang begitu dalam.
Bubur sum-sum bukan sekadar makanan penutup setelah pesta usai. Dalam banyak tradisi masyarakat Jawa, hidangan ini memiliki filosofi yang erat dengan rasa syukur, ketulusan, dan harapan akan kehidupan baru yang lebih baik. 
Kata sum-sum sendiri sering dimaknai sebagai inti atau sari dari kehidupan. Setelah seluruh rangkaian hajatan berlangsung dengan segala tenaga, pikiran, dan biaya yang telah dicurahkan, bubur sum-sum hadir sebagai simbol kembalinya manusia pada kesederhanaan. Bahwa sebesar apa pun pesta yang digelar, pada akhirnya yang dicari adalah ketenteraman hati dan keberkahan hidup.

Saya selalu menyukai cara orang-orang tua menjelaskan makna makanan tradisional. Mereka tidak menggunakan istilah rumit atau teori filsafat yang sulit dipahami. Dari semangkuk bubur putih yang lembut, mereka mengajarkan bahwa kehidupan rumah tangga yang baru dibangun pengantin juga seharusnya seperti itu. Lembut dalam bertutur kata, tenang dalam menghadapi masalah, dan mampu menyatukan berbagai rasa dalam satu wadah kebersamaan. Kuah gula merah yang manis menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup memang tidak selalu mudah, tetapi manisnya kebahagiaan akan terasa ketika dijalani bersama.

Tradisi menyajikan bubur sum-sum setelah hajatan juga memiliki nilai sosial yang sangat kuat. Di banyak desa, bubur ini biasanya dinikmati bersama-sama oleh para tetangga dan kerabat yang ikut membantu acara. Mereka duduk lesehan, berbincang santai, saling bercanda, lalu pulang membawa rasa lega karena pekerjaan besar telah selesai. Tidak ada lagi sekat antara tuan rumah dan tamu. Semua kembali menjadi bagian dari masyarakat yang saling menguatkan. Dari sini kita belajar bahwa sebuah pernikahan tidak pernah hanya menjadi urusan dua orang. Ia adalah peristiwa sosial yang melibatkan banyak tangan dan banyak hati.

Di tengah kehidupan modern yang serba praktis, tradisi seperti ini mungkin terlihat sederhana. Bahkan ada yang menganggapnya kuno. Namun justru dalam kesederhanaan itulah kita menemukan sesuatu yang mulai jarang dimiliki zaman sekarang: kebersamaan yang tulus tanpa pamrih. Ketika ibu-ibu rewang memasak sejak dini hari, ketika bapak-bapak membantu mendirikan tenda, ketika tetangga datang membawa tenaga dan waktu tanpa meminta imbalan, sesungguhnya mereka sedang merawat modal sosial yang sangat berharga. Bubur sum-sum menjadi penutup yang manis untuk seluruh proses gotong royong tersebut.

Mungkin itulah sebabnya aroma santan hangat dan gula merah selalu membawa saya pada kenangan tentang kampung halaman. Tentang suara orang-orang yang bercakap di dapur, asap tungku yang mengepul, serta tawa yang masih terdengar meski tubuh sudah lelah bekerja seharian. Semangkuk bubur sum-sum mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam kemewahan. Kadang ia datang dalam bentuk yang sangat sederhana: semangkuk bubur hangat yang disantap bersama setelah semua pekerjaan selesai.

Dan seperti pernikahan itu sendiri, bubur sum-sum mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang pesta yang meriah, melainkan tentang bagaimana menjaga rasa syukur setelah pesta usai. Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukan seberapa megah acaranya, melainkan seberapa hangat kebersamaan yang tercipta di dalamnya. Sebagaimana bubur sum-sum yang lembut dan menenangkan, semoga setiap rumah tangga yang baru dibangun juga tumbuh dalam kelembutan, kesabaran, dan keberkahan yang tak pernah habis dibagikan.




Kutai Kartanegara, 02 Juni 2026



Rin Muna
(Novel Author & Humaniora) 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas