Book Author and Ambassador Novelme. Love to imagination, telling story and making money.

Thursday, December 24, 2020

Bolehkah Ibu Egois, Nak?


Menjadi seorang wanita adalah hal yang paling istimewa. Sangat istimewa karena bisa melahirkan wanita lain dalam hidupnya. Bukan hanya wanita, tapi juga melahirkan laki-laki.

Kesempurnaan seorang wanita adalah menjadi ibu. Ya, aku merasa sempurna saat dua malaikat Tuhan dikirim untuk menemani hari-hariku. Hari-hariku yang sepi, penuh liku dan luka.

Tak terasa, di tahun 2020 ini ... putri kecilku sudah berusia 5 tahun. 10 tahun lagi, dia akan tumbuh menjadi gadis remaja. Sepuluh tahun itu bukan waktu yang lama. Akan terasa sangat singkat bagiku di dunia ini. Sebab itu, aku sudah merasa sangat takut akan kehilangan dia dalam hidupku.

Mungkin, sepuluh atau lima belas tahun lagi ... dia akan merasakan apa itu jatuh cinta. Dia akan bisa membaca tulisan-tulisan ibunya. Dia akan mengenal pria yang mungkin akan membawanya pergi dari pelukanku. 

Kamu tahu, aku menuliskan ini dengan derai air mata ... ada rasa takut yang begitu besar saat melihat wajahnya yang terus tumbuh dengan baik. Ada rasa bahagia yang begitu besar karena telah membuatnya tersenyum bahagia. Tapi juga ada ketakutan di belakangnya.

Suatu hari nanti, mungkin kamu akan membaca tulisan-tulisan ibu ini. Entah, aku masih hidup atau sudah mati. Aku ingin kamu tahu, bahwa cinta ibu tidak akan pernah berhenti begitu saja. Selamanya ... ingin melihatmu bahagia.

Nak, Ibu takut kamu jatuh cinta pada orang lain selain Ibu.
Ibu takut kamu memeluk orang lain selain ibu.
Ibu takut kamu pergi meninggalkan Ibu saat kamu menemukan pria yang mencintai kamu.

Nak, bolehkah Ibu egois?
Ibu tidak ingin melihatmu jatuh cinta dan meninggalkan Ibu.
Ibu tidak ingin kamu pergi bersama pria lain dan melupakan pelukan Ibu.

Ibu takut, Nak!
Ibu takut ...!
Ibu takut, kamu jatuh pada pria yang salah.
Ibu takut, kamu akan hidup dengan orang yang membuatmu menitikan air mata, walau hanya setetes.
Ibu takut, kamu tidak bahagia berada di rumah yang lain.
Ibu takut, apa yang Ibu alami saat ini ... kamu juga ikut mengalaminya.

Ibu tidak ingin melihatmu menderita. 
Ibu yang melahirkan kamu ke dunia dengan susah payah.
Ibu yang memberimu ciuman pertama.
Ibu juga yang pertama kali mendekapmu penuh cinta.
Ibu juga yang membesarkan dan merawatmu dengan peluh dan air mata.

Nak, bolehkah Ibu egois?
Ibu tidak akan menyerahkan kamu pada pria yang salah.
Ibu tidak akan menyerahkan kamu pada pria yang akan membuatmu menangis.
Ibu tidak akan menyerahkan kamu pada pria yang akan membuatmu terluka.

Nak, apa pun yang kamu mau ... ibu selalu berusaha memberikannya.
Jajan, sepatu baru, tas baru, baju baru, mainan baru dan semuanya ... ibu berusaha memberikannya tanpa mengeluh.
Bisakah orang lain memberikan yang lebih dari apa yang telah ibu berikan untuk kamu?
Bisakah orang lain membuatmu bahagia tanpa mengeluh?

Nak, semua rasa sakit yang Ibu rasakan sekarang ... Ibu tidak ingin kamu merasakannya.
Hidup dengan pria yang salah, akan membuat hidupmu tak bahagia seumur hidup. Menemukan pria yang benar, juga sulit untuk dilakukan.
Terkadang, kita harus bertemu pria yang salah untuk melihat siapa yang tepat untuk kita. Tapi saat sudah membuat keputusan dan tak bisa membuatmu kembali. Kamu akan hidup dalam lautan air mata selama hidupmu.

Nak, mungkin Ibu hanya bisa menemanimu sampai lima belas tahun ke depan. Setelahnya, Ibu harus menyerahkan kamu kepada orang lain. Bahkan Ibu tidak sampai mendapatkan setengah usiamu untuk menemanimu setiap hari. Ibu tidak akan rela, tapi tetap harus Ibu lakukan.

Nak, jika suatu hari kamu jatuh hati ... jatuhkanlah hatimu pada orang yang tepat. Jatuhkanlah hatimu pada orang yang akan menemani dan membuatmu bahagia seumur hidup. Jatuhkanlah hatimu pada pria penakut! Pria yang takut menciptakan air mata di pipimu, pria yang takut melukai hati dan fisikmu, pria yang takut tak membuatmu bahagia, pria yang takut mencintai orang lain selain kamu.

Sebab, Ibu tak bisa menemanimu hingga ujung usiamu. Ibu tidak akan selamanya membelikan baju baru untukmu, membelikan sepatu baru, mengajakmu berlibur, membawamu melihat indahnya dunia luar.


Ini surat kecil untuk puteriku tercinta. Hari ini, mungkin dia tidak akan membacanya. Tapi, suatu hari saat ia beranjak remaja. Ia pasti akan membaca tulisan ini. Entah aku masih hidup atau sudah tiada. Aku ingin dia tahu, bahwa cintaku padanya begitu besar dan aku tidak ingin dia jatuh ke tangan orang yang salah.

Sebab, Ibu ingin melihatmu hidup dengan baik dan bahagia meski memandangnya dari langit yang tinggi. Di bumi atau di langit ... keinginan ibu tetap ingin melihatmu bahagia meski tak ada ibu lagi di sisimu. Ibu akan selalu ada di hatimu.



Catatan kecil untuk puteri kecil.


Hari Ibu, 22 Desember 2020


______________________________________________
đź…’Copyright. 
Dilarang mengutip atau menyebarluaskan konten blog ini tanpa mencantumkan link atau kredit penulis.







0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas