Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Monday, June 8, 2026

Ada Hati yang Tersayat, Tapi Tak Luka



Hari ini ada sesuatu yang menggelitik dan menyentuh hati hingga air mataku menetes perlahan. Bukan karena sedih, tapi karena terharu dan bangga dengan sikap putera kecilku yang baru saja berusia 6 tahun.
Setiap pagi, seperti biasa, anak-anakku sudah siap dengan seragam sekolahnya dan meminta uang saku. Tapi, aku sedang tidak ada uang sama sekali. Isi ATM bersih, isi dompet juga bersih. Hanya tersisa uang dua ribuan 2 lembar dan selembar uang seribuan. Sementara, ada 2 anak yang harus kuberi uang saku.
Malam harinya, puteri sulungku meminta uang untuk beli jajan dan aku memberikan semua sisa uang di dompetku tanpa memikirkan bahwa besok mereka perlu uang saku untuk sekolah. Sehingga, aku benar-benar kehabisan uang.
Sepertinya, putera kecilku mendengar ucapanku jika aku tidak punya uang. Uang 2 lembar dua ribuan dan selembar seribuan yang tersisa, aku berikan padanya. Tapi, dia malah menolak.
Dia bilang, “Nggak usah, Mak! Buat Mamak beli sayur aja!”
“Nggak papa, Nak. Ini pakai buat jajan di sekolah.”
“Nggak cukup, Mak. Nggak usah! Nggak usah!” Dengan sadar, ia menolak uang yang kuberikan dan tidak mau menerimanya lagi. Padahal, dia belum sarapan dan sudah mepet jam masuk sekolah.
Aku selalu merasa bersalah ketika tidak mampu memenuhi semua kebutuhan anak-anakku. Aku harus bekerja lebih keras lagi supaya saat mereka perlu uang jajan, tidak pernah lagi ada kata “Mama lagi nggak punya uang”.
Masih tak mampu kupahami kenapa hatiku justru terenyuh saag putera kecilku memahami ketidakmampuanku. Berbeda ketika anak-anak meminta sesuatu dengan memaksa atau tantrum. Aku justru sangat emosi menghadapinya dan tidak punya rasa kasih sedikitpun.
Ada ribuan kata terima kasih yang ingin kuucapkan. Namun, semua itu hanya tersimpan di dalam hati. Sesekali aku mengeluarkannya saat aku punya kesempatan memeluk puteraku lebih dalam.
Dia mengajarkan aku banyak hal. Dia mengajarkan aku bagaimana menjadi orang tua yang seharusnya.
Ada tanggung jawab besar yang harus aku pikul. Ada kasih sayang yang harus aku curahkan terus-menerus. Ada rasa cinta yang tak boleh tergerus oleh waktu.
Terkadang, aku merasa sudah sangat benar menjadi orang tua. Punya hak untuk mengatur anak dan masa depannya. Tapi, kenyataan hidup mengajarkan padaku bahwa menjadi orang tua adalah proses belajar kehidupan yang sesungguhnya. Kita tidak lagi dihadapkan pada teori. Kita dihadapkan langsung pada kenyataan dan pilihan hidup yang mungkin akan menentukan masa depan kita.
Setiap kali melihat sikap anakku yang begitu pengertian, hatiku sangat tersayat. Tapi tidak luka, justru sangat bahagia. Di usianya yang masih sangat kecil, ia memiliki hati welas asih yang luar biasa. Ia mengerti kapan ia harus mengalah dan kapan ia harus mementingkan dirinya sendiri.
Kata orang, semua tak lepas dari peran ibu dan lingkungan yang mengajarkannya banyak hal. Padahal, tidak ada hal apa pun yang kuajarkan pada anak-anakku. Hanya dua hal yang kuajarkan. Yakni, keberanian dan kasih sayang. Ada kalanya mereka harus memperlakukan orang lain dengan penuh kasih sayang, ada kalanya juga mereka harus menghadapi orang lain dengan penuh keberanian.
Terima kasih banyak, Nak!
Kamu mengajarkan apa itu arti hidup. Mengajarkan bagaimana seharusnya aku menjadi orang tua. Mengajarkan tentang cinta, ketulusan, dan pengorbanan.
Maafkan Mama yang belum bisa menghadirkan banyak kebahagiaan untukmu. Tapi, Mama akan terus berusaha. Mama akan terus berjuang dan bekerja keras. Agar semua kebutuhanmu bisa terpenuhi. Agar tidak ada lagi kata “Mama lagi nggak punya uang” saat kamu sekedar ingin jajan atau ingin membeli sepatu baru.

Saturday, June 6, 2026

Ramai di Luar, Tenang di Dalam


Ada masa dalam hidup ketika kita tidak lagi merasa perlu menjadi pusat perhatian. Tidak lagi sibuk menghitung siapa yang menyukai unggahan kita, siapa yang memuji pencapaian kita, atau siapa yang memperhatikan keberadaan kita. Di titik itu, ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Sebuah kenyamanan yang lahir dari penerimaan diri.

Duduk sendirian di sebuah kedai kopi, memandangi lalu-lalang manusia yang sibuk dengan urusannya masing-masing, ternyata bisa menjadi pengalaman yang begitu menenangkan. Tidak ada percakapan yang harus dipaksakan. Tidak ada senyum yang harus dibuat-buat. Tidak ada topeng yang perlu dikenakan agar terlihat baik-baik saja.

Dulu, mungkin kita merasa kesepian ketika berada di luar seorang diri. Seolah-olah keberadaan orang lain adalah syarat utama agar hidup terasa berarti. Kita mencari validasi dari tepuk tangan, pujian, dan pengakuan. Kita ingin diyakinkan bahwa kita berharga. Namun semakin bertambah usia, semakin kita memahami bahwa ketenangan tidak selalu datang dari keramaian, dan kebahagiaan tidak selalu lahir dari pengakuan orang lain.

Ada keresahan yang perlahan berubah menjadi kesadaran. Bahwa tidak semua hal harus diceritakan. Tidak semua pencapaian harus diumumkan. Tidak semua luka harus dipertontonkan. Sebab pada akhirnya, hidup adalah perjalanan yang dijalani oleh diri sendiri.

Menikmati secangkir kopi sendirian bukan berarti anti sosial. Bukan pula tanda bahwa hidup sedang tidak baik-baik saja. Kadang itu justru tanda bahwa seseorang sudah berdamai dengan dirinya sendiri. Ia tidak lagi takut pada kesunyian. Ia tidak lagi merasa kosong ketika tidak ada yang mengajaknya berbicara. Ia mampu menjadi teman bagi dirinya sendiri.

Di tengah keramaian, ia melihat banyak orang berlari mengejar sesuatu. Sebagian mengejar kekayaan, sebagian mengejar popularitas, sebagian lagi mengejar pengakuan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Namun ada saat itu hati bertanya, "Setelah semua itu didapatkan, apakah kita benar-benar merasa cukup?"

Pertanyaan itulah yang sering muncul ketika kita duduk diam di dekat jendela sebuah Coffee Shop. Melihat kendaraan berlalu, melihat orang-orang berjalan terburu-buru, lalu menyadari bahwa hidup ternyata tidak harus selalu diperlombakan.

Mungkin inilah bentuk kedewasaan yang jarang dibicarakan. Ketika seseorang tidak lagi haus menjadi yang paling terlihat. Ia cukup menjadi dirinya sendiri. Tidak sibuk membuktikan apa pun kepada dunia. Tidak gelisah ketika namanya tidak disebut. Tidak kecewa ketika keberadaannya tidak diperhatikan.

Sebab nilai diri tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang mengenal kita. Harga diri tidak lahir dari pujian. Dan ketenangan tidak bergantung pada validasi manusia.

Ada kebahagiaan yang sederhana namun sangat mahal, yakni mampu duduk sendiri di tengah keramaian tanpa merasa kesepian.

Saat itulah kita sadar bahwa rumah yang paling nyaman bukanlah tempat yang ramai oleh manusia, melainkan hati yang telah selesai berdamai dengan dirinya sendiri.

Friday, June 5, 2026

Mengapa Banyak Orang Menyembunyikan Kebahagiaannya? Ternyata Ini Alasannya




Ada sebuah nasihat lama yang sering terdengar sederhana, tetapi semakin dipikirkan justru semakin dalam maknanya: "Ceritakan susahmu saja, jangan ceritakan senangmu." Bukan karena kebahagiaan adalah sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan karena tidak semua orang mampu ikut bahagia atas kebahagiaan yang kita miliki.

Dalam hidup, kita sering mengira bahwa setiap senyum yang kita lihat adalah tanda turut berbahagia. Kita menganggap setiap ucapan selamat lahir dari hati yang tulus. Kita percaya setiap tepuk tangan adalah bentuk dukungan yang murni. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada hati yang tersenyum di depan, tetapi diam-diam membandingkan dirinya dengan hidup kita. Ada yang mengucapkan selamat, tetapi di dalam hatinya bertanya, "Mengapa bukan aku?"

Iri hati adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Ia bisa tumbuh di mana saja, bahkan di antara orang-orang yang paling dekat dengan kita. Bukan karena mereka jahat, tetapi karena manusia memiliki kelemahan untuk membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Ketika seseorang mendengar cerita tentang keberhasilan, rumah baru, usaha yang berkembang, anak yang berprestasi, atau kehidupan yang tampak bahagia, tidak semua orang mampu melihatnya sebagai inspirasi. Sebagian justru melihatnya sebagai pengingat atas kekurangan yang mereka rasakan dalam hidupnya sendiri.

Sebaliknya, ketika kita menceritakan kesulitan, kegagalan, atau perjuangan yang sedang dihadapi, banyak orang justru lebih mudah menunjukkan empati. Mereka merasa terhubung. Mereka merasa masih memiliki ruang untuk membantu. Mereka mendoakan, memberi dukungan, bahkan ikut merasakan beban yang kita pikul. Tidak ada perbandingan yang lahir dari kisah penderitaan. Yang muncul justru rasa iba dan kasih sayang.

Bukan berarti kita harus hidup dalam kepura-puraan dengan terus-menerus menampilkan kesedihan. Bukan pula berarti kebahagiaan harus dikubur rapat-rapat. Namun ada kebijaksanaan dalam memilih kepada siapa cerita itu disampaikan. Tidak semua pencapaian perlu diumumkan. Tidak semua rezeki perlu dipamerkan. Tidak semua kebahagiaan harus menjadi konsumsi banyak orang.

Kadang-kadang, kebahagiaan yang paling tenang justru lahir dari hal-hal yang tidak banyak diketahui orang lain. Seperti akar pohon yang tumbuh diam-diam di dalam tanah. Tidak terlihat, tetapi menguatkan. Tidak dipuji, tetapi menopang kehidupan. Kebahagiaan semacam ini tidak membutuhkan validasi. Ia cukup disyukuri, dijaga, dan dinikmati bersama orang-orang yang benar-benar tulus mencintai kita.

Ada pula pelajaran penting yang sering terlupakan. Ketika kita terlalu sering menceritakan kesenangan, kita tanpa sadar membuka pintu bagi berbagai penilaian. Orang mulai menghitung apa yang kita miliki. Mereka mulai mengukur pencapaian kita. Bahkan terkadang menunggu kapan kita gagal. Sebaliknya, ketika kita lebih banyak menyimpan nikmat dan memperbanyak syukur, hidup terasa lebih ringan. Kita tidak sibuk menjaga citra. Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.

Pada akhirnya, bukan soal menyembunyikan kebahagiaan, melainkan menjaga keberkahannya. Sebab tidak semua yang indah perlu diumumkan, dan tidak semua yang kita miliki harus diketahui dunia. Ada kebahagiaan yang lebih aman ketika disimpan dalam doa, lebih hangat ketika dirayakan bersama keluarga, dan lebih bermakna ketika dikembalikan sebagai rasa syukur kepada Tuhan.

Maka, jika hari ini hidup sedang memberi banyak nikmat, syukurilah dengan tenang. Jika ada kesulitan, jangan ragu mencari bahu untuk bersandar. Dan jika harus memilih antara membuat orang iri atau membuat orang mengasihi, bukankah lebih indah menjadi manusia yang dicintai karena ketulusannya daripada dikagumi karena kemewahannya? Mari belajar menjadi pribadi yang tidak sibuk memamerkan kebahagiaan, tetapi memperbanyak rasa syukur. Karena sering kali, nikmat yang paling terjaga adalah nikmat yang tidak banyak diceritakan.

Thursday, June 4, 2026

Mengapa Iwel-Iwel Selalu Hadir dalam Selamatan Bayi? Ternyata Ini Maknanya




Dalam kehidupan sosial, seringkali kita mendapati momen-momen yang luar biasa dan tidak bisa dilupakan. Salah satunya adalah momen kelahiran bayi. 

Sejak menjadi Ibu Rumah Tangga, aku kerap mendapatkan undangan selamatan bayi. Bahkan, aku juga ikut mengundang orang lain untuk datang ke acara selamatan kelahiran bayiku. 
Setiap kali acara selamatan, tidak luput dari hidangan makanan enak. Salah satunya adalah iwel-iwel. 

Iwel-iwel selalu hadir saat selamatan kelahiran bayi atau selamatan tujuh bulanan. Sempat terbersit pertanyaan dalam hati, "Kenapa selalu ada iwel-iwel saat selamatan kelahiran bayi?"
Meski pertanyaan itu sudah tertanam di kepala selama beberapa tahun terakhir. Tapi, aku tidak pernah benar-benar ingin mencari tahu tentang makna dan filosofi makanan yang satu ini. 

Akhir-akhir ini, aku mulai tertarik dengan makanan-makanan tradisional dan arti filosofis di balik makanan itu sendiri. Aku merasa hal ini sangat menarik. Makanan tradisional dibuat bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tapi juga memiliki nilai budaya dan filosofi yang luar biasa. Aku ingin sekali menuliskannya agar anak-cucu nanti bisa mengetahui tentang makna dan tradisi yang harus dijaga hingga ratusan atau ribuan tahun lagi. 

Ada makanan yang dibuat untuk mengenyangkan perut. Ada pula makanan yang dibuat untuk mengenyangkan hati. Iwel-iwel termasuk yang kedua.

Di banyak kampung Jawa, kue tradisional ini hampir selalu hadir dalam berbagai selamatan yang berkaitan dengan kelahiran dan tumbuh kembang anak. Bentuknya sederhana. Bahannya pun tidak mewah. Hanya tepung ketan, kelapa parut, gula merah, dan daun pisang. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan lapisan makna yang begitu dalam. 

Dalam Jurnal UGM berjudul "Makna Filosofis Iwel-iwel dalam Selamatan Bayi di Jawa: Kajian Linguistik Antropologis" juga mengungkapkan bahwa masyarakat Jawa sejak dahulu tidak pernah menciptakan tradisi tanpa makna. Bahkan makanan pun sering kali dijadikan media untuk menyampaikan harapan, doa, dan nasihat hidup. Iwel-iwel adalah salah satu contohnya.
Konon, salah satu asal-usul nama iwel-iwel berasal dari kata cemiwel atau kamiwel yang berarti lucu, menggemaskan, atau menyenangkan hati. Karena itulah kue ini kerap hadir dalam selamatan bayi sebagai simbol harapan agar anak yang lahir tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebahagiaan bagi keluarga dan lingkungannya.

Namun maknanya tidak berhenti di situ.
Jika diperhatikan, iwel-iwel dibuat dari bahan-bahan yang sangat dekat dengan kehidupan rakyat. Tidak ada bahan mahal. Tidak ada hiasan berlebihan. Semuanya berasal dari alam sekitar. Tepung ketan, kelapa, gula aren, dan daun pisang berpadu menjadi satu sajian yang manis, hangat, dan mengenyangkan. Dari sini orang Jawa seperti sedang mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan. Terkadang, kehidupan yang paling bermakna justru dibangun dari hal-hal sederhana yang dirawat dengan penuh ketelatenan. 

Daun pisang yang membungkus iwel-iwel juga bukan sekadar pembungkus. Ia seolah menjadi perlambang perlindungan. Sebagaimana bayi yang baru lahir dibungkus kasih sayang orang tua, iwel-iwel pun dibungkus dengan daun yang menjaga bentuk dan rasanya hingga matang. Di sana ada pesan tentang kehangatan keluarga, tentang rumah yang menjadi tempat pertama seorang anak belajar mengenal dunia.


Menariknya lagi, proses membuat iwel-iwel membutuhkan kesabaran. Kelapa harus diparut, adonan harus diolah dengan cermat, lalu dibungkus satu per satu sebelum dikukus hingga matang. Tidak ada yang instan. Semua memerlukan waktu. Filosofi ini terasa begitu relevan dengan kehidupan keluarga hari ini. Anak-anak tidak tumbuh hanya dengan fasilitas dan teknologi. Mereka tumbuh melalui proses panjang yang membutuhkan kesabaran, perhatian, dan cinta yang terus-menerus diberikan. 

Mungkin itulah sebabnya iwel-iwel mampu bertahan melintasi zaman. Ia bukan hanya makanan tradisional. Ia adalah pengingat bahwa setiap kehidupan baru layak disambut dengan syukur. Bahwa kebahagiaan terbaik sering kali lahir dari kesederhanaan. Dan bahwa kasih sayang, seperti gula merah di dalam iwel-iwel, tidak selalu tampak dari luar, tetapi selalu bisa dirasakan kehangatannya.

Di tengah gempuran makanan modern yang serba menarik dan berwarna-warni, iwel-iwel hadir dengan caranya sendiri: tenang, sederhana, dan penuh makna.
Karena bagi orang Jawa, terkadang doa tidak hanya dipanjatkan melalui kata-kata. Ia juga bisa dibungkus daun pisang, dikukus dengan kesabaran, lalu dibagikan kepada sesama dalam bentuk iwel-iwel. 



Kutai Kartanegara, 04 Juni 2026

Rin Muna
(Novel Author & Humaniora) 

Bukan Orang Ketiga, Komunikasi yang Mati Sering Jadi Penyebab Retaknya Rumah Tangga





Tidak semua rumah tangga diuji oleh badai besar. Kadang-kadang, yang menggerus kebahagiaan justru hal-hal sederhana yang terjadi setiap hari: sulitnya berbicara dari hati ke hati.

Ada suami yang ketika diajak berdiskusi memilih diam. Ada yang langsung marah. Ada yang mengalihkan pembicaraan. Bahkan ada yang ketika istrinya ingin mencari solusi, justru menambah daftar masalah baru.

Padahal, dalam sebuah rumah tangga, masalah bukanlah sesuatu yang bisa dihindari. Tagihan datang setiap bulan. Anak-anak tumbuh dengan kebutuhan yang terus berubah. Orang tua bertambah usia. Tubuh tidak selalu sehat. Hidup memang selalu menghadirkan persoalan.

Yang membedakan rumah tangga yang bertahan dan yang perlahan retak bukanlah ada atau tidak adanya masalah, melainkan bagaimana dua orang di dalamnya menghadapi masalah itu bersama.

Sayangnya, ada suami yang menganggap setiap percakapan serius sebagai serangan. Ketika istri berkata, "Kita perlu membicarakan ini," yang terdengar justru, "Aku sedang disalahkan."

Akibatnya, percakapan yang seharusnya menjadi jalan keluar berubah menjadi arena pertahanan diri. Suami sibuk mencari alasan. Istri sibuk mencari jawaban. Tidak ada yang benar-benar mendengarkan.

Masalah yang awalnya kecil akhirnya membesar karena tidak pernah benar-benar dibahas.

Ironisnya, banyak suami sebenarnya bukan tidak peduli. Mereka hanya tidak terbiasa mengelola emosi dan komunikasi. Sejak kecil, sebagian laki-laki dibesarkan dengan kalimat-kalimat seperti, "Jangan cengeng!" "Laki-laki harus kuat!" atau "Diam saja!"

Mereka belajar bekerja keras, tetapi tidak belajar mengungkapkan perasaan. Mereka diajarkan menyelesaikan tugas, tetapi tidak diajarkan menyelesaikan konflik.

Maka ketika menikah, mereka mampu memperbaiki mesin yang rusak, tetapi bingung memperbaiki hubungan yang sedang renggang.

Padahal, istri sering kali tidak membutuhkan jawaban yang sempurna. Ia hanya ingin didengar.

Ia tidak selalu meminta suaminya menyelesaikan seluruh persoalan dalam satu malam. Ia hanya ingin tahu bahwa mereka sedang berjalan ke arah yang sama.

Terkadang, istri lebih memilih untuk berdiam diri ketika menghadapi persoalan yang tak kunjung usai hanya untuk menjaga hubungan tetap hangat dan rumah tangga akan baik-baik saja. Namun, seberapa lama seorang istri bisa menahan diri dan memendam semuanya sendirian? Bisa jadi, ia akan berlari pada orang lain atau memilih jalan singkat yang sulit dimengerti orang lain. 

Sebuah masalah akan terasa lebih ringan ketika dipikul bersama. Sebaliknya, masalah sekecil apa pun akan terasa berat ketika harus ditanggung sendirian.

Komunikasi dalam rumah tangga ibarat jembatan. Ketika jembatan itu retak, kedua orang bisa saja masih tinggal di rumah yang sama, tidur di ranjang yang sama, bahkan makan di meja yang sama. Namun hati mereka berada di pulau yang berbeda.

Karena itu, kemampuan berbicara dan mendengarkan bukanlah keterampilan tambahan dalam pernikahan. Ia adalah fondasi.

Tidak harus selalu mencari solusi yang hebat. Tidak harus selalu menang dalam perdebatan. Kadang yang dibutuhkan hanya kalimat sederhana:

"Aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu."

"Mari kita pikirkan bersama!"

"Aku belum punya jawaban sekarang, tapi aku mau mendengarkan."

Kalimat-kalimat sederhana itu mungkin tidak langsung menyelesaikan masalah. Namun setidaknya tidak menambah luka.

Pada akhirnya, pernikahan bukan tentang siapa yang paling benar. Pernikahan adalah tentang dua orang yang memilih tetap berada di pihak yang sama ketika masalah datang.

Sebab rumah tangga tidak runtuh karena banyaknya persoalan. Rumah tangga sering kali runtuh ketika dua orang berhenti berbicara, berhenti mendengar, dan berhenti merasa bahwa mereka adalah satu tim.

Dan ketika itu terjadi, masalah bukan lagi berada di luar rumah. Masalah itu sudah tinggal di dalamnya.

Tuesday, June 2, 2026

Saya Baru Tahu, Ternyata Bubur Sum-Sum Setelah Hajatan Punya Makna yang Luar Biasa






Ada satu pemandangan yang selalu membuat saya tersenyum setiap kali menghadiri hajatan pernikahan di kampung-kampung Jawa. Ketika tenda mulai dibongkar, kursi-kursi dikembalikan ke tempat semula, dan para tamu terakhir berpamitan, dapur justru masih menyimpan cerita. 
Di sudut rumah, ibu-ibu yang sejak beberapa hari lalu sibuk rewang masih berkumpul sambil menikmati semangkuk bubur sum-sum hangat yang disiram kuah gula merah, mereka sering menyebutnya "juruh". 
Sederhana. Tidak mewah. Namun justru di situlah tersimpan makna yang begitu dalam.
Bubur sum-sum bukan sekadar makanan penutup setelah pesta usai. Dalam banyak tradisi masyarakat Jawa, hidangan ini memiliki filosofi yang erat dengan rasa syukur, ketulusan, dan harapan akan kehidupan baru yang lebih baik. 
Kata sum-sum sendiri sering dimaknai sebagai inti atau sari dari kehidupan. Setelah seluruh rangkaian hajatan berlangsung dengan segala tenaga, pikiran, dan biaya yang telah dicurahkan, bubur sum-sum hadir sebagai simbol kembalinya manusia pada kesederhanaan. Bahwa sebesar apa pun pesta yang digelar, pada akhirnya yang dicari adalah ketenteraman hati dan keberkahan hidup.

Saya selalu menyukai cara orang-orang tua menjelaskan makna makanan tradisional. Mereka tidak menggunakan istilah rumit atau teori filsafat yang sulit dipahami. Dari semangkuk bubur putih yang lembut, mereka mengajarkan bahwa kehidupan rumah tangga yang baru dibangun pengantin juga seharusnya seperti itu. Lembut dalam bertutur kata, tenang dalam menghadapi masalah, dan mampu menyatukan berbagai rasa dalam satu wadah kebersamaan. Kuah gula merah yang manis menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup memang tidak selalu mudah, tetapi manisnya kebahagiaan akan terasa ketika dijalani bersama.

Tradisi menyajikan bubur sum-sum setelah hajatan juga memiliki nilai sosial yang sangat kuat. Di banyak desa, bubur ini biasanya dinikmati bersama-sama oleh para tetangga dan kerabat yang ikut membantu acara. Mereka duduk lesehan, berbincang santai, saling bercanda, lalu pulang membawa rasa lega karena pekerjaan besar telah selesai. Tidak ada lagi sekat antara tuan rumah dan tamu. Semua kembali menjadi bagian dari masyarakat yang saling menguatkan. Dari sini kita belajar bahwa sebuah pernikahan tidak pernah hanya menjadi urusan dua orang. Ia adalah peristiwa sosial yang melibatkan banyak tangan dan banyak hati.

Di tengah kehidupan modern yang serba praktis, tradisi seperti ini mungkin terlihat sederhana. Bahkan ada yang menganggapnya kuno. Namun justru dalam kesederhanaan itulah kita menemukan sesuatu yang mulai jarang dimiliki zaman sekarang: kebersamaan yang tulus tanpa pamrih. Ketika ibu-ibu rewang memasak sejak dini hari, ketika bapak-bapak membantu mendirikan tenda, ketika tetangga datang membawa tenaga dan waktu tanpa meminta imbalan, sesungguhnya mereka sedang merawat modal sosial yang sangat berharga. Bubur sum-sum menjadi penutup yang manis untuk seluruh proses gotong royong tersebut.

Mungkin itulah sebabnya aroma santan hangat dan gula merah selalu membawa saya pada kenangan tentang kampung halaman. Tentang suara orang-orang yang bercakap di dapur, asap tungku yang mengepul, serta tawa yang masih terdengar meski tubuh sudah lelah bekerja seharian. Semangkuk bubur sum-sum mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam kemewahan. Kadang ia datang dalam bentuk yang sangat sederhana: semangkuk bubur hangat yang disantap bersama setelah semua pekerjaan selesai.

Dan seperti pernikahan itu sendiri, bubur sum-sum mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang pesta yang meriah, melainkan tentang bagaimana menjaga rasa syukur setelah pesta usai. Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukan seberapa megah acaranya, melainkan seberapa hangat kebersamaan yang tercipta di dalamnya. Sebagaimana bubur sum-sum yang lembut dan menenangkan, semoga setiap rumah tangga yang baru dibangun juga tumbuh dalam kelembutan, kesabaran, dan keberkahan yang tak pernah habis dibagikan.




Kutai Kartanegara, 02 Juni 2026



Rin Muna
(Novel Author & Humaniora) 

Tuesday, May 26, 2026

Buras bukan Sekadar Makanan, Ini Adalah Tradisi yang Harus Dijaga!

 

Idul Adha tahun ini, aku menemukan sebuah fenomena yang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. 

Aku lahir dan besar di wilayah transmigrasi yang mayoritas penduduknya adalah orang Jawa. Tapi, bukan berarti tidak ada penduduk suku lain. Desaku bukan hanya diisi oleh orang suku Jawa, tapi juga ada suku Sunda, Banjar, Batak, Dayak, dan Bugis.

Ada budaya yang sangat menarik ketika Idul Adha bagi orang-orang suku Bugis. Yakni, membuat Buras. Bagi mereka, buras adalah makanan wajib yang harus mereka sediakan untuk keluarga saat lebaran.

Tahun ini, bukan hanya orang Bugis yang berlomba-lomba membuat buras untuk meramaikan Hari Raya Idul Adha. Orang-orang Jawa di sekitarku juga sudah mulai menikmati tradisi yang satu ini. Saat aku berkeliling membagikan kupon kurban (kebetulan aku adalah Ketua RT), aku menemukan beberapa rumah warga disibukkan dengan membuat Buras, padahal mereka bukan berasal dari suku Bugis.

Hal ini, tentu sangat menarik. Sebab, tradisi suku Bugis berhasil memengaruhi suku lain. Hal ini tentunya akan berdampak positif pada tradisi leluhur yang akan terus terjaga.

Kita semua tahu bahwa Buras atau sering juga disebut sebagai Burasa adalah makanan khas Suku Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan. Bentuknya mirip lontong, tetapi rasanya lebih gurih karena dimasak menggunakan santan. 

Dalam suku Bugis dan Makassar, buras bukan sekadar makanan, tetapi simbol hubungan sosial, penghormatan dan kebersamaan keluarga.





Pembuatan buras biasanya tidak dilakukan sendiri. Saat menjelang Lebaran atau acara adat, para perempuan keluarga akan berkumpul untuk mencuci beras, memasak santan,

membungkus daun pisang, lalu mengikat buras bersama-sama.

Proses ini menjadi ruang silaturahmi dan mempererat hubungan keluarga. Tradisi “mabburas” di beberapa daerah bahkan dianggap bagian penting dari persiapan hari besar.

Ikatan tali yang digunakan untuk membuat buras juga tidak biasa. Ikatan itu terlihat banyak dan kuat. Ini adalah simbol persatuan. 

Buras diikat berjajar menggunakan tali rafia atau serat daun. Dalam pandangan budaya lokal, ikatan itu sering dimaknai sebagai hubungan kekeluargaan, persatuan, dan harapan agar rezeki serta hubungan antarkerabat tetap “terikat erat”.

Karena itu buras sering dibagikan ke tetangga dan keluarga sebagai tanda kasih dan penghormatan.

Berbeda dari lontong biasa, buras memakai santan yang pada masa dahulu dianggap bahan “mewah”. Karena itu buras identik dengan jamuan istimewa, penghormatan untuk tamu, dan simbol kecukupan rezeki.

Di banyak keluarga Bugis-Makassar, menyajikan buras saat hari raya dianggap bentuk penghormatan kepada tamu dan leluhur.

Buras hampir selalu hadir saat Eid al-Fitr, pesta pernikahan, aqiqah, syukuran rumah, hingga acara adat keluarga besar.

Tanpa buras, suasana Lebaran di banyak keluarga Sulawesi Selatan terasa “belum lengkap”.

Buras bukan sekedar makanan. Inj juga menyimbolkan suasana kesederhanaan yang bermakna.  Walaupun bahan dasarnya sederhana—beras, santan, dan daun pisang—buras membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan waktu lama untuk memasak.

Karena itu ia sering dimaknai sebagai pengingat bahwa sesuatu yang baik lahir dari proses yang tidak instan.

Tradisi kuliner seperti buras juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Bugis-Makassar memandang makanan bukan hanya untuk kenyang, tetapi sebagai media menjaga hubungan sosial, identitas budaya, dan penghormatan terhadap tamu maupun keluarga.


Sumber referensi:

detik.com

tabloidsinartani.

En.wikipedia.org


Jadi, gimana dengan kamu, nih?. 

Kalau kamu bukan orang bugis, apakah sudah ketularan dengan tradisi membuat makanan enak yang satu ini? 

Thursday, February 26, 2026

Tidak Ada Sopir untuk Orang Dewasa



TIDAK ADA SOPIR UNTUK ORANG DEWASA.

Kalimat itu terasa kejam, ya? Tapi justru di sanalah letak kejujurannya. Sejak kecil kita diantar. Diantar sekolah, diantar memahami mana yang baik dan buruk, bahkan diantar tidur oleh dongeng dan doa. Dunia terasa seperti kendaraan yang selalu ada pengemudinya. Kita tinggal duduk manis di belakang.

Lalu suatu hari, tanpa upacara, tanpa aba-aba, kita tersadar jika kursi depan kosong.

Tidak ada yang memegang setir.

Di situlah kedewasaan dimulai.

Filsafat Stoik sudah lama membicarakan hal ini. Epictetus mengatakan bahwa ada hal-hal yang berada dalam kendali kita dan ada yang tidak. Sering kali kita ribut pada hal-hal yang memang tidak pernah bisa kita atur. Tentang cuaca, sikap orang lain, masa lalu, bahkan nasib. Kita marah pada jalan yang berlubang, tapi lupa bahwa kaki kitalah yang memilih tetap melangkah di situ.

Marcus Aurelius, seorang kaisar yang setiap hari memegang kuasa atas ribuan orang, justru menulis bahwa manusia hanya benar-benar berkuasa atas pikirannya sendiri. Betapa ironis. Seorang penguasa dunia mengakui bahwa kekuasaan terbesar bukan pada wilayah, melainkan pada batin.

Itu sebabnya tidak ada supir untuk orang dewasa. Karena yang bisa mengendalikan respons kita hanyalah diri kita sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mencari supir bayangan. Kita menyalahkan pasangan atas emosi kita. Kita menyalahkan ekonomi atas kemalasan kita. Kita menyalahkan masa lalu atas keputusan hari ini. Padahal reaksi adalah wilayah pribadi. Sikap adalah pilihan. Dan pilihan tidak pernah diambil oleh orang lain.

Filsafat Islam bahkan lebih tegas. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa setiap jiwa akan memikul tanggung jawabnya sendiri. Tidak ada satu jiwa pun yang menanggung dosa jiwa lain. Artinya, bahkan di hadapan Tuhan, kita berdiri sendirian. Bukan sebagai korban keadaan, bukan sebagai anak dari siapa, bukan sebagai istri dari siapa. Tapi sebagai diri yang memilih.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa manusia diberi akal dan kehendak. Ikhtiar adalah kehormatan. Kalau semuanya sudah ditentukan tanpa ruang memilih, untuk apa akal diciptakan? Untuk apa hati diberi gelisah saat hendak berbuat salah?

Takdir dalam Islam bukan alasan untuk turun dari kursi kemudi. Takdir adalah rute besar. Tapi belokan kecil, kecepatan, dan cara kita mengemudi tetap ada dalam genggaman.

Misalnya begini. Kita tidak bisa memilih lahir dari keluarga mana. Tapi kita bisa memilih apakah luka masa kecil akan kita wariskan atau kita hentikan. Kita tidak bisa mengatur hujan turun saat jualan sepi. Tapi kita bisa memilih belajar strategi baru atau duduk mengutuk langit.

Tidak ada supir untuk orang dewasa, dan itu bukan kutukan. Itu kepercayaan.

Bayangkan jika hidup ini benar-benar sepenuhnya dikendalikan pihak lain. Kita hanya boneka. Tidak ada pahala, tidak ada dosa, tidak ada makna perjuangan. Justru karena kita memegang setir, setiap keputusan menjadi bernilai.

Menjadi dewasa memang melelahkan. Karena artinya kita tak bisa lagi berkata, “Ini semua salah mereka.” Kita boleh kecewa, boleh sedih, boleh marah. Tapi setelah itu, tetap kita yang harus menentukan arah.

Dalam pernikahan, misalnya. Kita tidak bisa mengontrol pasangan sepenuhnya. Tapi kita bisa mengontrol cara bicara kita. Dalam pekerjaan, kita tidak bisa memastikan atasan selalu adil. Tapi kita bisa memastikan integritas kita tidak murah. Dalam ibadah, tidak ada yang bisa menggantikan kita berdiri di hadapan Allah. Sholat tidak bisa diwakilkan. Taubat tidak bisa diwakilkan. Kedewasaan spiritual selalu personal.

Stoikisme mengajarkan ketenangan melalui penguasaan diri. Islam mengajarkan tanggung jawab melalui kesadaran bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan. Keduanya bertemu pada satu kesimpulan yang sama: berhenti menunggu diselamatkan oleh orang lain.

Kita sering ingin ada yang datang dan berkata, “Tenang, biar aku yang atur.” Tapi hidup bukan taksi online yang bisa kita pesan saat tersesat. Ia lebih seperti kendaraan yang mesinnya menyala sejak kita lahir, dan perlahan kita sadar, tangan kita sudah ada di atas setir.

Dan mungkin, justru di situlah letak kemuliaan manusia.

Bahwa Tuhan tidak menjadikan kita penumpang.
Bahwa filsafat tidak memanjakan kita sebagai korban.
Bahwa kedewasaan bukan tentang usia, tapi tentang keberanian untuk berkata, “Apa pun yang terjadi, aku bertanggung jawab atas sikapku.”

Tidak ada supir untuk orang dewasa.
Karena kita dipercaya untuk mengemudi sendiri.




Thursday, February 19, 2026

Ibadah Yang Kini Terasa Mahal





Ada satu zaman yang pelan-pelan kita hidupi tanpa banyak sadar, zaman ketika manusia begitu sibuk mengejar dunia, sampai lupa bahwa ia sedang dikejar waktu.

Pagi dimulai dengan notifikasi. Siang dipenuhi target. Malam dihabiskan untuk menghitung untung dan rugi. Kita berlari dari satu ambisi ke ambisi lain, seakan hidup adalah perlombaan panjang yang garis akhirnya bisa kita tentukan sendiri.

Padahal sejak awal, garis akhir itu sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa.
Di tengah hiruk-pikuk itu, sholat sering menjadi jeda yang terasa mengganggu. Azan yang dulu terdengar syahdu, kini terdengar seperti pengingat yang datang di saat “tidak tepat”. Rapat belum selesai. Pesanan belum dikirim. Pelanggan belum dibalas. Akhirnya, sholat ditunda. Lalu terlupa. Kemudian tergantikan.

Mengaji lebih sunyi lagi nasibnya. Mushaf tersimpan rapi di rak, bersih dari debu karena jarang disentuh. Huruf-huruf suci itu menunggu untuk dibaca, tetapi tangan kita lebih sibuk menggulir layar. Ironisnya, kita bisa menghabiskan berjam-jam membaca kabar dunia, namun merasa berat membuka satu halaman Al-Qur’an.

Kita sering mengira ibadah adalah perkara waktu luang. Padahal ibadah justru penopang waktu itu sendiri.

Hari ini, sholat dan mengaji menjadi sesuatu yang terasa eksklusif. Bukan karena sulit dipelajari. Bukan karena mahal secara materi. Tetapi karena hati yang tenang untuk melakukannya semakin jarang dimiliki. 
Banyak orang punya uang berlimpah, rumah luas, kendaraan mewah, tetapi tidak punya kekhusyukan. Mereka bisa membeli jam tangan mahal, tetapi tidak bisa membeli ketenangan saat bersujud. Mereka bisa membayar guru terbaik untuk anaknya, tetapi tidak mampu memaksa dirinya duduk lima belas menit untuk mengaji.

Di situlah ibadah menjadi “mahal”.
Mahal bukan dalam rupiah, melainkan dalam kesiapan hati. Mahal dalam kesediaan menunda urusan dunia. Mahal dalam keberanian mengatakan, “Cukup dulu. Sekarang waktunya menghadap Allah.”

Kita hidup di era yang memuja produktivitas. Segala sesuatu diukur dari hasil. Berapa pemasukan hari ini? Berapa pertumbuhan bisnis bulan ini? Berapa capaian tahun ini? Namun jarang kita bertanya, "sudah berapa kali kita benar-benar khusyuk dalam sholat minggu ini? Sudah berapa ayat yang kita pahami maknanya bulan ini?"

Kesibukan bukanlah dosa. Bekerja bukanlah kesalahan. Bahkan dalam ajaran Islam, bekerja adalah bagian dari ibadah. Tetapi ketika pekerjaan membuat kita menunda sholat dengan sengaja, ketika lelah dunia membuat kita tak lagi punya tenaga untuk mengaji, di situlah keseimbangan mulai retak.

Sering kali kita berdalih, “Nanti kalau sudah mapan, saya akan lebih rajin ibadah.” Padahal sejarah menunjukkan, tidak semua orang yang mapan menjadi lebih taat. Banyak yang justru semakin jauh, karena merasa telah cukup dengan apa yang dimiliki. Kekayaan memberi rasa aman palsu—seakan hidup bisa dikendalikan sepenuhnya oleh usaha manusia.

Padahal satu sakit saja bisa meruntuhkan semuanya. Satu musibah bisa menghentikan seluruh rencana.
Sholat adalah pengakuan bahwa kita lemah. Mengaji adalah pengingat bahwa kita butuh petunjuk. Dan dunia tidak pernah menyukai manusia yang mengakui kelemahannya, karena dunia dibangun di atas citra kekuatan dan keberhasilan.

Maka tak heran jika menjaga sholat lima waktu terasa seperti perjuangan pribadi. Menjaga konsistensi mengaji terasa seperti mendaki bukit sunyi. Butuh disiplin. Butuh kesadaran. Butuh cinta.
Dan cinta tidak tumbuh dari kesibukan yang tak pernah jeda.

Barangkali yang perlu kita tanyakan bukanlah, “Mengapa saya tidak punya waktu untuk ibadah?” tetapi “Untuk apa sebenarnya semua kesibukan ini?” Jika seluruh lelah hanya berujung pada angka di rekening, tetapi hati terasa kosong, maka ada yang salah dengan arah perjalanan.

Kita sering takut miskin harta, tetapi jarang takut miskin pahala. Kita cemas kehilangan peluang bisnis, tetapi tenang saja ketika kehilangan waktu sholat. Padahal, yang pertama belum tentu dimintai pertanggungjawaban secara rinci; yang kedua pasti akan ditanya.

Ibadah memang sederhana. Gerakannya tidak rumit. Bacaannya tidak panjang. Tetapi konsistensinya menuntut kejujuran diri. Ia menuntut kita untuk menata ulang prioritas.
Dan mungkin di situlah harga sebenarnya.

Sholat dan mengaji menjadi mahal karena hanya orang-orang yang mampu mengalahkan egonya yang bisa menjaganya. Hanya mereka yang berani memperlambat langkah di tengah dunia yang berlari kencang. Hanya mereka yang sadar bahwa hidup bukan sekadar tentang bertahan, tetapi tentang kembali.

Dunia akan selalu menawarkan lebih banyak pekerjaan, lebih banyak target, lebih banyak ambisi. Namun waktu kita tidak pernah bertambah. Setiap detik yang berlalu adalah potongan kesempatan untuk mendekat atau justru menjauh.

Pada akhirnya, bukan seberapa sibuk kita yang akan ditanya. Bukan seberapa besar usaha kita membangun dunia. Tetapi seberapa setia kita menjaga hubungan dengan Pencipta dunia itu sendiri.

Karena ketika napas terakhir tiba, tidak ada rapat yang perlu diselesaikan. Tidak ada proyek yang harus dikirim. Yang tersisa hanyalah catatan amal.
Dan di sana, sholat yang dulu kita anggap bisa ditunda, serta ayat-ayat yang jarang kita baca, mungkin menjadi sesuatu yang paling kita rindukan.
Maka sebelum ibadah benar-benar menjadi terlalu mahal untuk kita bayar, barangkali hari ini adalah waktu terbaik untuk kembali. 

Tuesday, November 18, 2025

Memory of Yupa || Memory of The World : Peradaban Nusantara yang Perlu Dijaga

 

Muara Kaman, 17 November 2025


Muara Kaman dan Museum (Situs) Lesung Batu (Lesong Batu) punya peran penting dalam sejarah kuno Kalimantan / Indonesia. Muara Kaman adalah kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Luas wilayahnya sangat besar (sekitar 3.410 km²) dengan banyak desa.

Muara Kaman dianggap sebagai pusat kerajaan Kutai Martadipura, yang merupakan salah satu kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Raja terkenal dari kerajaan ini adalah Maharaja Mulawarman. Lokasi Muara Kaman juga strategis karena berada di pertemuan sungai (Mahakam dan anak sungainya), menjadikannya jalur perdagangan penting di masa kuno.

Ada museum purbakala di Muara Kaman yang mengabadikan situs sejarah kerajaan Kutai. Museum ini menyimpan replika dari prasasti Yupa, benda pusaka purbakala, serta makam raja-raja Islam di wilayah itu. Sejak 2022, pengelolaan museum ini diambil alih oleh pemerintah kecamatan Muara Kaman, dengan rencana pembenahan dan pengembangan wisata sejarah. 

Prasasti Yupa adalah tiang batu yang ditulisi dengan aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta. Ada 7 buah yupa yang ditemukan di area Muara Kaman. I si yupa menceritakan silsilah kerajaan (misalnya Raja Kudungga, Aswawarman, Mulawarman) dan kedermawanan Raja Mulawarman — misalnya memberi ribuan sapi sebagai persembahan. Dari kajian etimologi tertentu, meskipun dikenal sebagai “Kerajaan Kutai”, ada argumen bahwa nama sebenarnya kerajaan kuno ini adalah Martapura, bukan “Kutai”. Penelitian cagar budaya menyatakan bahwa situs Muara Kaman — yang meliputi Lesong Batu / yupa, makam, dan batu Lembu Ngeram — adalah “zona inti” penting yang harus dilestarikan.


Saya tidak pernah terpikir kalau akan menjadi bagian dari saksi sejarah Yupa bagi masa depan negeri ini. Sebagai Relima Perpusnas RI, tentu saya akan dilibatkan dalam beberapa kegiatan yang digagas oleh perpustakaan daerah maupun perpustakaan provinsi. Sehingga, saya bisa menjadi bagian dari festival Memory of Yupa yang baru dilaksanakan pertama kalinya di Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara. 

Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam menyusuri jalur Sungai Mahakam, akhirnya kami sampai di Muara Kaman. Tempat di mana situs peradaban tertua di Indonesia ada dan masih dijaga kelestariannya. 

Tubuhku belum benar-benar pulih setelah berkegiatan selama 4 hari di Kota Bogor dan Jakarta. Tapi, aku tidak ingin melewatkan momen yang sangat langka ini. Jadi, aku berusaha sampai ke tujuan meski kondisiku tidak baik-baik saja. Selama masih bisa bergerak dan aku kuat untuk berdiri, maka aku tidak akan menyerah. 


Berangkat pukul 11.30 WITA, rombongan kami sampai saat menjelang magrib. Kami disambut oleh tetua adat dengan ritual 'Sawai', sebuah ritual untuk membersihkan diri dan jiwa sebelum kami memasuki tanah leluhur Muara Kaman. 
Kami dibawa ke sebuah 'Homestay' milik warga Muara Kaman. Entah rumah siapa, yang jelas bukan orang biasa karena rumahnya sangat besar dan cukup menampung sekitar 50 orang. Rumahnya juga dilengkapi dengan 3 kamar mandi. Sehingga, kami tidak terlalu lama bergantian untuk mandi. 
Usai makan mandi, makan malam dan bersiap, kami segera bergeser ke Museum Lesung Batu Kecamatan Muara Kaman. Letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap. Jadi, kami bisa berjalan kaki menuju ke sana. 
Saat sampai, acara langsung dimulai dan dibuka oleh Wakil Bupati Kutai Kartanegara (Rendi Solihin, S.M). 
Opening Ceremony Memory of Yupa berlangsung meriah. Acara diramaikan oleh band asal kota Samarinda, Valdiyandi. 
Begitu acara usai, kami bergegas kembali ke penginapan. Mengistirahatkan tubuh karena esok hari kita akan disibukkan dengan agenda kegiatan yang lebih padat lagi. 
Semoga ada banyak ilmu yang bisa kita dapatkan dan prasasti Yupa benar-benar menjadi salah satu warisan dunia versi Unesco. Aku tak sabar menunggunya... 
Semoga anak-anak Kecamatan Muara Kaman juga memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga prasasti berharga ini dan terus melestarikan kebudayaan asli Kutai. 



Sunday, November 9, 2025

Tips for Teaching English to Kids: Make It Fun and Simple

 


Tips for Teaching English to Kids

"Make It Fun and Simple"

Teaching English to children can be quite a challenge—but at Rumah Literasi Kreatif, it’s always filled with laughter, color, and creativity. The secret lies in two simple words: fun and simple.

1. Connect Lessons with Their Everyday World

Children learn faster when lessons relate to things they already know. In our classes, teachers often use “Show and Tell” with objects around the reading garden—like books, colored pencils, or dolls. Through these familiar items, kids learn new vocabulary and gain confidence to speak in front of others.

2. Sing and Move Together

Music is a magical bridge to language learning. Songs like Head, Shoulders, Knees, and Toes or If You’re Happy and You Know It are always favorites here. When kids sing and move along, they remember words more naturally. It feels more like playing than studying—and that’s exactly the point.

3. Use Visuals and Colors

In every class, teachers use colorful flashcards, word cards, and pictures. Visuals help children connect words with images and meanings. Sometimes, the kids even create their own flashcards! This creative process strengthens memory and sparks imagination.

4. Tell Stories and Act Them Out

Storytime is one of the best ways to teach English. At Rumah Literasi Kreatif, we often do short drama plays based on simple stories like The Hungry Caterpillar or Little Red Riding Hood. Role-playing helps children practice pronunciation, teamwork, and comprehension—all while having fun.

5. Give Praise and Positive Support

Children learn best when they feel appreciated. Every time a student says a new word or forms a sentence, we celebrate with claps or a little star sticker. Positive feedback builds confidence and teaches them that making mistakes is part of learning.

At Rumah Literasi Kreatif, our English class is more than just a place to learn a language—it’s a joyful space for creativity, curiosity, and growth.
Here, children discover that English isn’t something to be afraid of—it’s a bridge to explore a bigger, brighter world.

Because learning is always beautiful when it comes from a happy heart.

Thursday, November 6, 2025

Menyulam Waktu di Tengah Keceriaan Jambore PAUD Kecamatan Samboja




Menyulam Waktu di Tengah Keceriaan Jambore PAUD Kecamatan Samboja
oleh Rin Muna

Pagi itu, Kamis 6 November 2025, udara di halaman Balai Pertemuan Umum (BPU) Kecamatan Samboja terasa lebih semarak dari biasanya. Jam menunjukkan pukul 09.00 WITA ketika anak-anak kecil dengan seragam berwarna-warni mulai memasuki aula dengan wajah berseri. Ada yang membawa peralatan mewarnai, ada yang menenteng alat peraga buatan tangan, dan ada pula yang sibuk menepuk-nepuk kostum senam agar terlihat rapi di atas panggung.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Camat Samboja, Damsik, S.H., M.Si, bersama Bunda PAUD Kecamatan Samboja, Rusdiana Damsik, S.Hut, berdiri di depan panggung utama. Senyum mereka mengiringi pembukaan resmi Jambore PAUD Kecamatan Samboja Tahun 2025, yang tahun ini mengusung tema:
“Ceria, Cerdas, dan Berkarakter – Membangun Generasi Emas Sejak Dini.”

Dalam sambutannya, Camat Damsik menyampaikan bahwa pendidikan anak usia dini adalah pondasi bagi lahirnya generasi yang kuat dan berkarakter. Ia berharap kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran yang menyenangkan, penuh tawa, dan bermakna bagi semua peserta. Sementara Bunda PAUD Rusdiana menekankan pentingnya dukungan bersama antara guru, orang tua, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan belajar yang hangat dan inspiratif bagi anak-anak Samboja.

Begitu pembukaan selesai, suasana aula seketika berubah menjadi lautan warna dan tawa. Lomba mewarnai tingkat PAUD dan KB se-Kecamatan Samboja menjadi ajang pembuka. Anak-anak duduk berbaris rapi di atas tikar, menggoreskan warna-warna cerah dengan jemari mungil mereka. Ada yang menatap serius, ada pula yang sesekali tersenyum kecil saat melihat hasil goresannya tampak indah di atas kertas.

Di sudut lain ruangan, para guru PAUD memamerkan karya kreatif mereka dalam Lomba APE (Alat Peraga Edukasi). Dari bahan sederhana seperti kardus bekas, stik es krim, hingga kain perca, mereka menciptakan alat belajar yang menarik. Beberapa alat mengajarkan huruf, sebagian mengenalkan bentuk dan warna, sementara yang lain menumbuhkan rasa ingin tahu anak tentang lingkungan sekitar. Kreativitas para pendidik itu menjadi bukti bahwa semangat belajar bisa tumbuh dari hal-hal kecil yang sederhana.

Menjelang tengah hari, lantunan musik ceria menggema. Saatnya Lomba Senam Anak Indonesia Hebat. Di panggung, anak-anak berbaris dengan percaya diri. Gerakan tangan dan kaki mereka mengikuti irama lagu penuh semangat, disambut tepuk tangan para penonton. Ada yang sedikit terlambat mengikuti irama, ada pula yang menari terlalu cepat, tapi justru di situlah letak keindahannya — ketulusan dan keceriaan tanpa beban.

Sore menjelang, suasana aula menjadi lebih tenang. Kali ini giliran para Bunda PAUD tampil dalam Lomba Mendongeng. Satu per satu naik ke panggung, membawa kisah yang mereka rangkai sendiri. Ada yang bercerita tentang persahabatan, tentang pentingnya kejujuran, hingga tentang keberanian. Dengan ekspresi lembut dan suara yang penuh kasih, para bunda menyampaikan pesan moral yang menyentuh hati. Anak-anak yang duduk di barisan depan tampak terpukau, sesekali ikut menirukan tokoh-tokoh dalam cerita.

Jam dinding menunjukkan pukul 15.30 WITA ketika acara Jambore akhirnya ditutup. Di wajah setiap peserta, baik anak-anak, guru, maupun panitia, terpancar rasa lelah yang bercampur bahagia. Aula yang semula ramai kini perlahan lengang, namun gema tawa kecil dan warna-warna cerah di atas meja lomba seolah masih menempel di udara.

Jambore PAUD Kecamatan Samboja tahun ini bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara, melainkan tentang bagaimana keceriaan, kreativitas, dan semangat belajar bisa menyatu dalam satu ruang waktu. Di antara warna krayon, alat peraga sederhana, dan kisah dongeng yang hangat, tersulam harapan besar — bahwa dari sinilah, dari tawa kecil anak-anak Samboja, generasi emas masa depan sedang tumbuh dengan indah.


Wednesday, November 5, 2025

Persiapan Jambore PAUD Kecamatan Samboja Tahun 2025




Persiapan Jambore PAUD Kecamatan Samboja


Hari ini, udara sore di Samboja terasa hangat dan penuh semangat. Di Balai Pertemuan Umum (BPU) Kecamatan Samboja, panitia Jambore PAUD Kecamatan Samboja sudah berkumpul sejak pukul dua siang. Mereka datang dengan senyum dan semangat gotong-royong yang khas — menyapu ruangan, menghias panggung, menata kursi, hingga menyiapkan sound system untuk kegiatan besar: Jambore PAUD Kecamatan Samboja.

Aku tahu betul bahwa jadwal gotong-royong dimulai pukul 14.00 WITA. Namun, sebelum berangkat, ada satu tanggung jawab kecil yang harus kuselesaikan — menjahit pesanan dress yang sudah dijanjikan sejak beberapa hari lalu. Mesin jahit di sudut ruang kerja masih berputar saat jarum jam hampir menyentuh angka dua. Setiap tarikan benang seolah menjadi simbol antara dua tanggung jawab yang sama penting: profesi dan pengabdian.

Setelah benang terakhir terkunci rapi, aku segera bergegas. Dengan tangan masih berbau kain dan jarum pentul terselip di ujung jilbab, aku melangkah cepat menuju BPU. Rumahku cukup jauh dari Kantor Camat. Aku harus menempuh perjalanan setidaknya 30 menit untuk bisa sampai ke sana. 

Saat tiba, suara riuh tawa sudah terdengar dari kejauhan. Para panitia gotong-royong tampak sibuk namun bahagia. Beberapa sedang membersihkan lantai aula, sementara sekelompok ibu-ibu tengah menata meja dan mempersiapkan sound. Meskipun aku datang sedikit terlambat, kehangatan mereka membuatku tidak merasa canggung. 

Aku tersenyum, mengangguk, dan langsung ikut menata kursi. Di tengah kegiatan itu, aku menyadari bahwa gotong-royong bukan sekadar tentang bekerja bersama, tetapi tentang merangkai kebersamaan dari waktu-waktu kecil yang kita sisihkan untuk kepentingan bersama. Tidak ada yang menghitung siapa datang lebih dulu atau siapa paling banyak berbuat — semua hanya bergerak dalam satu irama: ikhlas.

Sore itu, di antara canda dan tawa, aku merasa bahwa kehadiran meskipun sedikit terlambat tetap berarti. Sebab dalam setiap upaya, yang paling penting bukan waktu kedatangan, tetapi niat yang menyertai langkah.

Menjelang magrib, kami semua menatap hasil kerja bersama — aula yang semula tampak biasa kini berubah meriah. Di sanalah besok guru-guru dan anak-anak PAUD akan berlomba dan tertawa bahagia. Dan aku, yang datang setelah menyelesaikan jahitan, merasa telah menyulam satu lagi kenangan indah: kenangan tentang kebersamaan yang dijahit dengan benang niat baik dan cinta terhadap dunia pendidikan.

Setelah memastikan semua kebutuhan acara telah siap, aku pun berpamitan pulang. Beberapa teman juga sudah berpamitan lebih dahulu karena rumah mereka juga cukup jauh. 

Terima kasih untuk Pokja PAUD Kecamatan Samboja yang telah mengukir cerita bersamaku. Meski posisiku sederhana, tapi aku sangat bahagia menjadi saksi keceriaan dan kebersamaan bunda-bunda PAUD Kecamatan Samboja. 

Tuesday, November 4, 2025

Semangat yang Tak Pernah Padam



Semangat yang Tak Pernah Padam

Karya: Rin Muna


Setiap Minggu pagi, ketika matahari belum begitu tinggi, suara sapu lidi dan cangkul mulai terdengar di sepanjang gang kecil RT 03. Ada aroma tanah basah yang berpadu dengan semangat kebersamaan, seolah setiap ayunan tangan yang mengangkat sampah adalah tanda cinta terhadap tempat kami berpijak. Gotong-royong membersihkan lingkungan bukan sekadar rutinitas; ia adalah napas kehidupan yang meneguhkan bahwa kami masih peduli, masih ingin hidup dalam ruang yang layak, bersih, dan manusiawi.

Namun, seperti daun kering yang tertinggal di sudut jalan, selalu ada yang absen dari pemandangan itu. Beberapa warga memilih menutup pintu rumah rapat-rapat, berpura-pura tidak mendengar suara sapu yang menggesek jalan atau tumpukan daun yang menunggu dikumpulkan. Barangkali mereka lelah. Barangkali mereka sibuk. Atau barangkali, mereka lupa — bahwa setiap rumah yang berdiri di tanah RT 03 membawa konsekuensi: menambah beban energi, air, dan tentu saja, sampah.

Lingkungan adalah cermin dari penghuni di dalamnya. Sampah yang berserakan bukan semata soal kebersihan, melainkan juga soal kesadaran. Di balik kantong plastik yang terbang tertiup angin, terselip pesan sunyi: bahwa sebagian dari kita masih menunda tanggung jawab bersama. Kita menunggu orang lain bergerak lebih dulu, padahal perubahan selalu dimulai dari langkah paling kecil — satu tangan yang rela menyapu, satu hati yang mau peduli.

Gotong-royong bukan tentang siapa yang datang dan siapa yang absen. Ia tentang semangat yang tak pernah padam meski jumlah tangan yang bekerja tak seimbang dengan jumlah kepala yang menghuni. Selalu ada wajah-wajah yang tersenyum di tengah peluh, ada tawa yang menutupi lelah, dan ada rasa syukur yang tumbuh setiap kali selokan bersih kembali mengalir.

Saya percaya, gotong-royong bukan sekadar warisan budaya; ia adalah bentuk perlawanan terhadap sikap individualis yang semakin kuat menggenggam masyarakat modern. Di tengah dunia yang sibuk menghitung keuntungan pribadi, warga RT 03 yang masih turun ke jalan dengan sapu di tangan adalah pahlawan kecil yang menjaga denyut sosial agar tak padam.

Barangkali suatu hari nanti, mereka yang kini bersembunyi di balik alasan dan waktu akan menyadari bahwa rumah yang bersih tidak lahir dari tangan petugas kebersihan, melainkan dari kesadaran kolektif. Karena sejatinya, setiap warga yang bermukim di sini — termasuk yang diam — turut meninggalkan jejak energi dan sampah bagi lingkungannya. Maka, tidakkah adil jika beban itu juga dibagi dalam bentuk kerja bersama?

Gotong-royong adalah cermin jiwa kita sebagai bangsa. Ia mungkin tak lagi seramai dulu, tapi di RT 03, semangat itu masih menyala. Tak sebesar nyala obor, mungkin hanya seberkas cahaya kecil di ujung gang, tapi cukup untuk mengingatkan kita bahwa kepedulian — sekecil apa pun — adalah tanda bahwa hati kita belum mati.



Aroma Kopi dan Ide yang Menyala



 Aroma Kopi dan Ide yang Menyala

Oleh: Rin Muna

Ada sesuatu yang magis setiap kali aroma kopi menyeruak dari cangkir. Seolah-olah waktu berhenti sejenak, dan ruang menjadi tempat yang lebih hangat untuk berbagi cerita. Di meja kayu sederhana Teman Diskusi Coffee — unit usaha kecil yang tumbuh dari semangat Rumah Literasi Kreatif — setiap tegukan kopi bukan hanya minuman, melainkan percikan ide yang menyala dari obrolan ringan hingga diskusi yang mendalam.

Aku sering berpikir, bahwa kopi dan literasi memiliki jiwa yang serupa. Keduanya sama-sama menuntut waktu, kesabaran, dan ketulusan untuk menghasilkan rasa yang berkesan. Tak bisa terburu-buru. Seperti membaca buku, meracik kopi pun butuh perhatian pada detail kecil — suhu air, takaran bubuk, bahkan cara menuang yang menentukan aroma terakhir di permukaannya.

Teman Diskusi Coffee lahir bukan sekadar sebagai tempat nongkrong atau menikmati kopi lokal, melainkan ruang bertemunya pikiran. Di sinilah para pegiat literasi, mahasiswa, guru, ibu rumah tangga, dan siapa pun yang mencintai percakapan datang untuk mencari makna di balik setiap kalimat dan cangkir. Kadang kita membicarakan buku, kadang tentang rencana kegiatan literasi, dan tak jarang tentang kehidupan itu sendiri.

Ada hari-hari di mana aku melihat meja penuh dengan kertas coretan ide. Ada yang menulis puisi sambil menyeruput kopi tubruk, ada yang menggambar desain kaos literasi di sudut ruangan, dan ada pula yang hanya diam, menatap uap yang naik dari cangkir sambil berpikir. Suasana seperti itu mengingatkanku pada pandangan filsafat Islam tentang tafakkur — merenung sebagai jalan menemukan makna hidup. Bahwa berpikir bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga bentuk ibadah yang mendekatkan manusia pada Sang Pencipta.

Maka, di setiap percakapan yang lahir di kedai kecil ini, selalu ada makna yang lebih besar dari sekadar kata-kata. Kadang, ide besar lahir dari hal sederhana — dari sepotong kalimat yang tak sengaja terucap, atau dari tawa ringan di antara percakapan sore. Seperti halnya api yang menyala dari percikan kecil, inspirasi pun sering datang dari momen-momen yang tak direncanakan.

Teman Diskusi Coffee mengajarkan satu hal penting: bahwa ruang untuk berbagi tak selalu harus megah. Cukup ada meja kayu, kopi hangat, dan niat baik untuk saling mendengarkan. Karena ide-ide besar tak butuh tempat mewah untuk tumbuh, tapi butuh suasana yang memberi ruang bagi kejujuran dan ketulusan.

Setiap kali aku menatap papan nama kecil bertuliskan Teman Diskusi Coffee, aku merasa sedang menyaksikan semangat literasi yang bertransformasi menjadi kehidupan nyata. Dari buku menuju gelas kopi, dari kata menuju tindakan. Ini bukan sekadar bisnis, tapi wujud nyata dari kolaborasi — antara rasa, ide, dan gerakan.


Aroma kopi selalu mengingatkanku bahwa inspirasi bisa datang dari mana saja — dari kesederhanaan, dari percakapan, bahkan dari keheningan. Di Teman Diskusi Coffee, kami belajar bahwa berbagi gagasan bukan tentang siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling tulus mendengarkan. Karena di balik setiap cangkir kopi, selalu ada cerita yang menunggu untuk diseduh, dan di balik setiap cerita, selalu ada api kecil yang siap menyala — menerangi langkah kita dalam perjalanan literasi yang panjang.




Kutai Kartanegara, 04 November 2025

Monday, November 3, 2025

Benang yang Mengikat Cerita: Desain Kebaya Pertamaku di Bulan November

 


Benang yang Mengikat Cerita: Desain Kebaya Pertamaku di Bulan November
Oleh: Rin Muna

Bulan November datang seperti benang yang perlahan menjahit ulang hidupku. Setiap helainya membawa kisah tentang waktu, tanggung jawab, dan cinta yang ditenun dengan kesabaran. Di bulan ini, aku memutuskan membuat kebaya pertamaku — bukan sekadar pakaian, tapi simbol perjalanan yang kusulam di antara tumpukan kesibukan dan kelelahan.

Siang hari, aku duduk di depan meja jahit. Jarum dan benang menari di atas kain, sementara pikiranku berkelana di antara kalimat sastra Inggris yang harus kuterjemahkan untuk tugas kuliah. Kadang, aku berhenti sejenak hanya untuk menarik napas panjang, menatap payet-payet kecil yang menunggu untuk dijahit satu per satu. Ada rasa lelah yang mengendap, tapi juga kehangatan yang tumbuh di sela kerja tangan.

Malam hari, ketika warga lain sudah mulai beristirahat, aku masih harus memastikan jadwal ronda malam berjalan. Sebagai ketua RT, aku memegang tanggung jawab untuk menjaga rasa aman di lingkungan. Dua kelompok dasawisma — Kenanga dan Kantil — pun menjadi bagian dari keseharian yang tak pernah jauh dari urusan koordinasi, data, dan kegiatan sosial. Kadang aku tertawa sendiri, betapa lucunya hidup ini: pagi membahas morfologi bahasa Inggris, sore memeriksa hasil kegiatan dasawisma, malam menjahit kebaya sambil mendengar suara tongkat ronda di kejauhan.

Namun justru di situlah letak indahnya hidup. Di antara tumpukan peran yang harus dijalani, aku menemukan keseimbangan yang halus — seperti garis jahitan yang rapi di tepi kebaya. Hidup tidak selalu tentang memilih satu peran dan meninggalkan yang lain, tapi tentang menemukan irama agar semuanya bisa berjalan berdampingan.

Setiap payet yang kutambahkan di kebaya itu seperti doa kecil. Ada yang melambangkan ketekunan, ada yang menyiratkan rasa syukur. Aku teringat pesan dalam filsafat Islam tentang ihsan — melakukan sesuatu sebaik-baiknya seolah kita melihat Allah, dan jika kita tidak mampu melihat-Nya, yakinlah bahwa Dia melihat kita. Maka setiap jahitan pun kutanam dengan niat yang tulus, agar hasilnya tidak hanya indah di mata, tapi juga membawa ketenangan di hati.

Kebaya itu akhirnya selesai di akhir pekan, di tengah hujan November yang turun perlahan. Aku menatap hasil karyaku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Bukan karena lelah, tapi karena ada rasa bangga yang lembut — bahwa dari segala kesibukan dan tanggung jawab, aku masih bisa menciptakan sesuatu yang lahir dari cinta dan ketekunan.

Kini, setiap kali melihat kebaya itu tergantung di lemari, aku tak hanya melihat hasil karya tangan. Aku melihat perjalanan — perjuangan seorang perempuan yang terus belajar menyeimbangkan hidupnya antara seni, ilmu, dan pengabdian sosial. Aku melihat benang-benang kecil yang mengikat banyak cerita: tentang waktu yang terbatas, tentang sabar yang diuji, dan tentang cinta yang tumbuh dalam kesibukan.

Hidup ini, seperti menjahit kebaya, membutuhkan kesabaran dan keberanian untuk tidak menyerah di tengah detail yang rumit. Kadang kita harus menjahit ulang, mengurai benang yang salah arah, atau menambahkan payet baru agar hasilnya sempurna. Namun yang terpenting bukan seberapa cepat kita menyelesaikannya, melainkan seberapa tulus kita menenunnya. Karena pada akhirnya, setiap benang yang kita ikat dengan cinta akan menjelma menjadi cerita — dan setiap cerita yang lahir dari ketulusan akan selalu abadi, bahkan setelah waktu berlalu.

Menemukan Damai di Tengah Sibuknya Aktivitas



Menemukan Damai di Tengah Sibuknya Aktivitas
Oleh: Rin Muna

Ada masa di mana aku merasa hidup ini berlari terlalu cepat. Seakan waktu memiliki sayap, dan aku hanya berusaha mengejar agar tak tertinggal. Setiap hari penuh dengan to-do list, agenda, rapat, target, dan tumpukan pekerjaan yang seolah tak pernah selesai. Dalam kesibukan itu, ada satu hal yang sering terlupa — keheningan yang menenangkan hati.

Aku pernah berpikir, produktivitas adalah segalanya. Bahwa sibuk berarti berguna, bahwa lelah berarti berharga. Tapi ternyata, di tengah hiruk-pikuk kesibukan, aku justru kehilangan sesuatu yang lebih dalam: kedamaian.

Suatu sore di taman baca kecilku, saat anak-anak mulai pulang dan suara mereka mereda, aku duduk sendiri sambil menatap langit yang mulai berwarna jingga. Ada desir lembut angin yang menyinggung wajah, ada aroma tanah yang baru saja disiram air. Di sanalah aku tersadar — bahwa ketenangan tidak datang dari berhentinya aktivitas, tapi dari kemampuan kita untuk tetap hening di tengah gerak yang ramai.

Dalam pandangan filsafat Islam, hati manusia adalah pusat keseimbangan. Al-Ghazali pernah berkata, “Jika hati itu baik, maka baiklah seluruh jasad.” Maka, segala kesibukan, pencapaian, dan usaha duniawi kita sebenarnya akan kehilangan makna jika hati kita terus bergejolak. Islam mengajarkan bahwa dzikir — mengingat Allah — bukan hanya aktivitas ritual, tapi juga ruang batin untuk menenangkan diri. Saat lidah berzikir, hati belajar pasrah; dan di situlah kedamaian sejati tumbuh.

Damai bukan berarti berhenti bekerja, tapi bekerja dengan niat yang lurus. Sibuk bukan berarti tersesat, asal langkah kita tetap terarah kepada tujuan yang benar. Dalam konsep ihsan, setiap aktivitas, sekecil apapun, bisa menjadi ibadah jika dilakukan dengan kesadaran bahwa Allah selalu bersama kita. Mungkin di sinilah letak rahasia ketenangan para sufi — mereka tetap bergerak, tetap berjuang, tapi hatinya tenang seperti air yang jernih.

Aku belajar, bahwa menemukan damai bukan tentang melarikan diri dari keramaian, tapi tentang menyelaraskan diri dengan irama hidup. Bahwa sesekali menatap langit, menghela napas panjang, atau hanya sekadar diam di antara tumpukan kesibukan, bukan tanda kemalasan — tapi bentuk penghormatan pada jiwa yang juga butuh istirahat.

Kini, setiap kali hari terasa padat, aku mencoba untuk berhenti sejenak. Menutup mata, mengucap Alhamdulillah, dan membiarkan hatiku berbicara. Karena sering kali, kedamaian itu sudah ada di dalam diri, hanya tertimbun oleh kebisingan dunia.

Dan pada akhirnya, aku menyadari — hidup yang sibuk tetap bisa damai, asal hati tahu ke mana ia pulang.

Mungkin kita tak bisa menghindari kesibukan, tapi kita bisa memilih bagaimana menjalaninya. Jadikan setiap langkah, setiap helaan napas, sebagai bentuk ibadah kecil yang menenangkan jiwa. Ketika hati mampu berdamai dengan waktu, dunia yang berisik pun terasa lembut. Mari belajar untuk berhenti sejenak hari ini — bukan karena kita lelah, tapi karena kita ingin kembali mengingat siapa diri kita, dan kepada siapa semua ini akan kembali.

Saturday, November 1, 2025

My Journey as an English Literature Student in a Small Village

 


My Journey as an English Literature Student in a Small Village

by Rin Muna


Dreams sometimes bloom late — just like wildflowers that wait for the right season to show their colors. My journey as an English Literature student began not in my teenage years, but at the age of thirty. It wasn't because I lacked passion or interest, but because life had a different plan for me.

Growing up in a small village, opportunities often felt far away. Education was something to be grateful for, but also something that depended on how much we could afford. For years, I carried my dream quietly — the dream of studying English, of reading Shakespeare’s words and understanding them without translation, of writing stories that could travel beyond the borders of my village.

When I finally became a student of English Literature, I felt both excitement and fear. Excitement, because it was a dream finally taking shape. Fear, because I realized how limited my environment was. I lived far from people who were fluent in English. There were no cafés filled with writers discussing novels, no clubs for English debate, and no native speakers to practice with. Most of my conversations about English happened in my own head — or sometimes, with my students.

Yes, I decided to open a small, free English class in my village. It started with only a few children, curious about the sounds of new words: apple, book, star. Their eyes would light up when they managed to say a full sentence in English. For me, it was not just about teaching — it was about keeping my own flame alive. Every lesson I gave was also a reminder for myself to never stop learning.

Sometimes, I study late at night when the village is silent. I read poetry by Emily Dickinson under a dim light, or try to translate short stories into English while sipping coffee from my own small shop, Teman Diskusi Coffee. My learning process is slow, but it is steady. Every word I understand feels like a small victory. Every essay I write reminds me that dreams do not expire with age.

My goal is simple yet big — one day, I want to publish a book written fully in English. Not because I want to prove something, but because I want to show that even from a small village, a voice can reach the world.

This journey has taught me that limitations can be powerful teachers. They push us to be creative, to find new paths where none existed before. I may not have all the resources that big-city students have, but I have determination, and that is enough to keep me going.

So, as I walk this path — as a woman, a student, a teacher, and a dreamer — I carry one belief close to my heart: it’s never too late to begin, and it’s never too small to dream big.

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas