Menu BacaanMu
- Perfect Hero (546)
- Puisi (121)
- My Experience (118)
- Rumah Literasi Kreatif (87)
- Novel MLB (80)
- Cerpen (72)
- Then Love (60)
- Belajar Menulis (58)
- Esai (56)
- Artikel (44)
- Puisi Akrostik (43)
- Review Buku (22)
- Relima Perpusnas RI (18)
- Review Drama (18)
- Ekonomi & Bisnis (9)
- Novel The Cakra (8)
- Wisata (8)
- Aku dan Taman Bacaku (7)
- Dasawisma (6)
- Review Aplikasi (6)
- Kumpulan Novel (5)
- Daily (4)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Opini (4)
- Pendamping Nakal (3)
- Alluna Wedding Party (2)
- Biografi Penulis (2)
- Donasi (1)
- Dongeng (1)
- JNE (1)
- Product (1)
Monday, June 8, 2026
Saturday, June 6, 2026
Ramai di Luar, Tenang di Dalam
Friday, June 5, 2026
Mengapa Banyak Orang Menyembunyikan Kebahagiaannya? Ternyata Ini Alasannya
Thursday, June 4, 2026
Mengapa Iwel-Iwel Selalu Hadir dalam Selamatan Bayi? Ternyata Ini Maknanya
Bukan Orang Ketiga, Komunikasi yang Mati Sering Jadi Penyebab Retaknya Rumah Tangga
Tuesday, June 2, 2026
Saya Baru Tahu, Ternyata Bubur Sum-Sum Setelah Hajatan Punya Makna yang Luar Biasa
Tuesday, May 26, 2026
Buras bukan Sekadar Makanan, Ini Adalah Tradisi yang Harus Dijaga!
Idul Adha tahun ini, aku menemukan sebuah fenomena yang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Aku lahir dan besar di wilayah transmigrasi yang mayoritas penduduknya adalah orang Jawa. Tapi, bukan berarti tidak ada penduduk suku lain. Desaku bukan hanya diisi oleh orang suku Jawa, tapi juga ada suku Sunda, Banjar, Batak, Dayak, dan Bugis.
Ada budaya yang sangat menarik ketika Idul Adha bagi orang-orang suku Bugis. Yakni, membuat Buras. Bagi mereka, buras adalah makanan wajib yang harus mereka sediakan untuk keluarga saat lebaran.
Tahun ini, bukan hanya orang Bugis yang berlomba-lomba membuat buras untuk meramaikan Hari Raya Idul Adha. Orang-orang Jawa di sekitarku juga sudah mulai menikmati tradisi yang satu ini. Saat aku berkeliling membagikan kupon kurban (kebetulan aku adalah Ketua RT), aku menemukan beberapa rumah warga disibukkan dengan membuat Buras, padahal mereka bukan berasal dari suku Bugis.
Hal ini, tentu sangat menarik. Sebab, tradisi suku Bugis berhasil memengaruhi suku lain. Hal ini tentunya akan berdampak positif pada tradisi leluhur yang akan terus terjaga.
Kita semua tahu bahwa Buras atau sering juga disebut sebagai Burasa adalah makanan khas Suku Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan. Bentuknya mirip lontong, tetapi rasanya lebih gurih karena dimasak menggunakan santan.
Dalam suku Bugis dan Makassar, buras bukan sekadar makanan, tetapi simbol hubungan sosial, penghormatan dan kebersamaan keluarga.
Pembuatan buras biasanya tidak dilakukan sendiri. Saat menjelang Lebaran atau acara adat, para perempuan keluarga akan berkumpul untuk mencuci beras, memasak santan,
membungkus daun pisang, lalu mengikat buras bersama-sama.
Proses ini menjadi ruang silaturahmi dan mempererat hubungan keluarga. Tradisi “mabburas” di beberapa daerah bahkan dianggap bagian penting dari persiapan hari besar.
Ikatan tali yang digunakan untuk membuat buras juga tidak biasa. Ikatan itu terlihat banyak dan kuat. Ini adalah simbol persatuan.
Buras diikat berjajar menggunakan tali rafia atau serat daun. Dalam pandangan budaya lokal, ikatan itu sering dimaknai sebagai hubungan kekeluargaan, persatuan, dan harapan agar rezeki serta hubungan antarkerabat tetap “terikat erat”.
Karena itu buras sering dibagikan ke tetangga dan keluarga sebagai tanda kasih dan penghormatan.
Berbeda dari lontong biasa, buras memakai santan yang pada masa dahulu dianggap bahan “mewah”. Karena itu buras identik dengan jamuan istimewa, penghormatan untuk tamu, dan simbol kecukupan rezeki.
Di banyak keluarga Bugis-Makassar, menyajikan buras saat hari raya dianggap bentuk penghormatan kepada tamu dan leluhur.
Buras hampir selalu hadir saat Eid al-Fitr, pesta pernikahan, aqiqah, syukuran rumah, hingga acara adat keluarga besar.
Tanpa buras, suasana Lebaran di banyak keluarga Sulawesi Selatan terasa “belum lengkap”.
Buras bukan sekedar makanan. Inj juga menyimbolkan suasana kesederhanaan yang bermakna. Walaupun bahan dasarnya sederhana—beras, santan, dan daun pisang—buras membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan waktu lama untuk memasak.
Karena itu ia sering dimaknai sebagai pengingat bahwa sesuatu yang baik lahir dari proses yang tidak instan.
Tradisi kuliner seperti buras juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Bugis-Makassar memandang makanan bukan hanya untuk kenyang, tetapi sebagai media menjaga hubungan sosial, identitas budaya, dan penghormatan terhadap tamu maupun keluarga.
Sumber referensi:
detik.com
tabloidsinartani.
En.wikipedia.org
Jadi, gimana dengan kamu, nih?.
Kalau kamu bukan orang bugis, apakah sudah ketularan dengan tradisi membuat makanan enak yang satu ini?
Thursday, February 26, 2026
Tidak Ada Sopir untuk Orang Dewasa
TIDAK ADA SOPIR UNTUK ORANG DEWASA.
Kalimat itu terasa kejam, ya? Tapi justru di sanalah letak kejujurannya. Sejak kecil kita diantar. Diantar sekolah, diantar memahami mana yang baik dan buruk, bahkan diantar tidur oleh dongeng dan doa. Dunia terasa seperti kendaraan yang selalu ada pengemudinya. Kita tinggal duduk manis di belakang.
Lalu suatu hari, tanpa upacara, tanpa aba-aba, kita tersadar jika kursi depan kosong.
Tidak ada yang memegang setir.
Di situlah kedewasaan dimulai.
Filsafat Stoik sudah lama membicarakan hal ini. Epictetus mengatakan bahwa ada hal-hal yang berada dalam kendali kita dan ada yang tidak. Sering kali kita ribut pada hal-hal yang memang tidak pernah bisa kita atur. Tentang cuaca, sikap orang lain, masa lalu, bahkan nasib. Kita marah pada jalan yang berlubang, tapi lupa bahwa kaki kitalah yang memilih tetap melangkah di situ.
Marcus Aurelius, seorang kaisar yang setiap hari memegang kuasa atas ribuan orang, justru menulis bahwa manusia hanya benar-benar berkuasa atas pikirannya sendiri. Betapa ironis. Seorang penguasa dunia mengakui bahwa kekuasaan terbesar bukan pada wilayah, melainkan pada batin.
Itu sebabnya tidak ada supir untuk orang dewasa. Karena yang bisa mengendalikan respons kita hanyalah diri kita sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mencari supir bayangan. Kita menyalahkan pasangan atas emosi kita. Kita menyalahkan ekonomi atas kemalasan kita. Kita menyalahkan masa lalu atas keputusan hari ini. Padahal reaksi adalah wilayah pribadi. Sikap adalah pilihan. Dan pilihan tidak pernah diambil oleh orang lain.
Filsafat Islam bahkan lebih tegas. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa setiap jiwa akan memikul tanggung jawabnya sendiri. Tidak ada satu jiwa pun yang menanggung dosa jiwa lain. Artinya, bahkan di hadapan Tuhan, kita berdiri sendirian. Bukan sebagai korban keadaan, bukan sebagai anak dari siapa, bukan sebagai istri dari siapa. Tapi sebagai diri yang memilih.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa manusia diberi akal dan kehendak. Ikhtiar adalah kehormatan. Kalau semuanya sudah ditentukan tanpa ruang memilih, untuk apa akal diciptakan? Untuk apa hati diberi gelisah saat hendak berbuat salah?
Takdir dalam Islam bukan alasan untuk turun dari kursi kemudi. Takdir adalah rute besar. Tapi belokan kecil, kecepatan, dan cara kita mengemudi tetap ada dalam genggaman.
Misalnya begini. Kita tidak bisa memilih lahir dari keluarga mana. Tapi kita bisa memilih apakah luka masa kecil akan kita wariskan atau kita hentikan. Kita tidak bisa mengatur hujan turun saat jualan sepi. Tapi kita bisa memilih belajar strategi baru atau duduk mengutuk langit.
Tidak ada supir untuk orang dewasa, dan itu bukan kutukan. Itu kepercayaan.
Bayangkan jika hidup ini benar-benar sepenuhnya dikendalikan pihak lain. Kita hanya boneka. Tidak ada pahala, tidak ada dosa, tidak ada makna perjuangan. Justru karena kita memegang setir, setiap keputusan menjadi bernilai.
Menjadi dewasa memang melelahkan. Karena artinya kita tak bisa lagi berkata, “Ini semua salah mereka.” Kita boleh kecewa, boleh sedih, boleh marah. Tapi setelah itu, tetap kita yang harus menentukan arah.
Dalam pernikahan, misalnya. Kita tidak bisa mengontrol pasangan sepenuhnya. Tapi kita bisa mengontrol cara bicara kita. Dalam pekerjaan, kita tidak bisa memastikan atasan selalu adil. Tapi kita bisa memastikan integritas kita tidak murah. Dalam ibadah, tidak ada yang bisa menggantikan kita berdiri di hadapan Allah. Sholat tidak bisa diwakilkan. Taubat tidak bisa diwakilkan. Kedewasaan spiritual selalu personal.
Stoikisme mengajarkan ketenangan melalui penguasaan diri. Islam mengajarkan tanggung jawab melalui kesadaran bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan. Keduanya bertemu pada satu kesimpulan yang sama: berhenti menunggu diselamatkan oleh orang lain.
Kita sering ingin ada yang datang dan berkata, “Tenang, biar aku yang atur.” Tapi hidup bukan taksi online yang bisa kita pesan saat tersesat. Ia lebih seperti kendaraan yang mesinnya menyala sejak kita lahir, dan perlahan kita sadar, tangan kita sudah ada di atas setir.
Dan mungkin, justru di situlah letak kemuliaan manusia.
Thursday, February 19, 2026
Ibadah Yang Kini Terasa Mahal
Tuesday, November 18, 2025
Memory of Yupa || Memory of The World : Peradaban Nusantara yang Perlu Dijaga
Muara Kaman, 17 November 2025
Muara Kaman dan Museum (Situs) Lesung Batu (Lesong Batu) punya peran penting dalam sejarah kuno Kalimantan / Indonesia. Muara Kaman adalah kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Luas wilayahnya sangat besar (sekitar 3.410 km²) dengan banyak desa.
Muara Kaman dianggap sebagai pusat kerajaan Kutai Martadipura, yang merupakan salah satu kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Raja terkenal dari kerajaan ini adalah Maharaja Mulawarman. Lokasi Muara Kaman juga strategis karena berada di pertemuan sungai (Mahakam dan anak sungainya), menjadikannya jalur perdagangan penting di masa kuno.
Ada museum purbakala di Muara Kaman yang mengabadikan situs sejarah kerajaan Kutai. Museum ini menyimpan replika dari prasasti Yupa, benda pusaka purbakala, serta makam raja-raja Islam di wilayah itu. Sejak 2022, pengelolaan museum ini diambil alih oleh pemerintah kecamatan Muara Kaman, dengan rencana pembenahan dan pengembangan wisata sejarah.
Prasasti Yupa adalah tiang batu yang ditulisi dengan aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta. Ada 7 buah yupa yang ditemukan di area Muara Kaman. I si yupa menceritakan silsilah kerajaan (misalnya Raja Kudungga, Aswawarman, Mulawarman) dan kedermawanan Raja Mulawarman — misalnya memberi ribuan sapi sebagai persembahan. Dari kajian etimologi tertentu, meskipun dikenal sebagai “Kerajaan Kutai”, ada argumen bahwa nama sebenarnya kerajaan kuno ini adalah Martapura, bukan “Kutai”. Penelitian cagar budaya menyatakan bahwa situs Muara Kaman — yang meliputi Lesong Batu / yupa, makam, dan batu Lembu Ngeram — adalah “zona inti” penting yang harus dilestarikan.
Saya tidak pernah terpikir kalau akan menjadi bagian dari saksi sejarah Yupa bagi masa depan negeri ini. Sebagai Relima Perpusnas RI, tentu saya akan dilibatkan dalam beberapa kegiatan yang digagas oleh perpustakaan daerah maupun perpustakaan provinsi. Sehingga, saya bisa menjadi bagian dari festival Memory of Yupa yang baru dilaksanakan pertama kalinya di Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam menyusuri jalur Sungai Mahakam, akhirnya kami sampai di Muara Kaman. Tempat di mana situs peradaban tertua di Indonesia ada dan masih dijaga kelestariannya.
Tubuhku belum benar-benar pulih setelah berkegiatan selama 4 hari di Kota Bogor dan Jakarta. Tapi, aku tidak ingin melewatkan momen yang sangat langka ini. Jadi, aku berusaha sampai ke tujuan meski kondisiku tidak baik-baik saja. Selama masih bisa bergerak dan aku kuat untuk berdiri, maka aku tidak akan menyerah.
Sunday, November 9, 2025
Tips for Teaching English to Kids: Make It Fun and Simple
Tips for Teaching English to Kids
"Make It Fun and Simple"
Teaching English to children can be quite a challenge—but at Rumah Literasi Kreatif, it’s always filled with laughter, color, and creativity. The secret lies in two simple words: fun and simple.
1. Connect Lessons with Their Everyday World
Children learn faster when lessons relate to things they already know. In our classes, teachers often use “Show and Tell” with objects around the reading garden—like books, colored pencils, or dolls. Through these familiar items, kids learn new vocabulary and gain confidence to speak in front of others.
2. Sing and Move Together
Music is a magical bridge to language learning. Songs like Head, Shoulders, Knees, and Toes or If You’re Happy and You Know It are always favorites here. When kids sing and move along, they remember words more naturally. It feels more like playing than studying—and that’s exactly the point.
3. Use Visuals and Colors
In every class, teachers use colorful flashcards, word cards, and pictures. Visuals help children connect words with images and meanings. Sometimes, the kids even create their own flashcards! This creative process strengthens memory and sparks imagination.
4. Tell Stories and Act Them Out
Storytime is one of the best ways to teach English. At Rumah Literasi Kreatif, we often do short drama plays based on simple stories like The Hungry Caterpillar or Little Red Riding Hood. Role-playing helps children practice pronunciation, teamwork, and comprehension—all while having fun.
5. Give Praise and Positive Support
Children learn best when they feel appreciated. Every time a student says a new word or forms a sentence, we celebrate with claps or a little star sticker. Positive feedback builds confidence and teaches them that making mistakes is part of learning.
At Rumah Literasi Kreatif, our English class is more than just a place to learn a language—it’s a joyful space for creativity, curiosity, and growth.
Here, children discover that English isn’t something to be afraid of—it’s a bridge to explore a bigger, brighter world.
Because learning is always beautiful when it comes from a happy heart.
Thursday, November 6, 2025
Menyulam Waktu di Tengah Keceriaan Jambore PAUD Kecamatan Samboja
Wednesday, November 5, 2025
Persiapan Jambore PAUD Kecamatan Samboja Tahun 2025
Tuesday, November 4, 2025
Semangat yang Tak Pernah Padam
Aroma Kopi dan Ide yang Menyala
Aroma Kopi dan Ide yang Menyala
Oleh: Rin Muna
Ada sesuatu yang magis setiap kali aroma kopi menyeruak dari cangkir. Seolah-olah waktu berhenti sejenak, dan ruang menjadi tempat yang lebih hangat untuk berbagi cerita. Di meja kayu sederhana Teman Diskusi Coffee — unit usaha kecil yang tumbuh dari semangat Rumah Literasi Kreatif — setiap tegukan kopi bukan hanya minuman, melainkan percikan ide yang menyala dari obrolan ringan hingga diskusi yang mendalam.
Aku sering berpikir, bahwa kopi dan literasi memiliki jiwa yang serupa. Keduanya sama-sama menuntut waktu, kesabaran, dan ketulusan untuk menghasilkan rasa yang berkesan. Tak bisa terburu-buru. Seperti membaca buku, meracik kopi pun butuh perhatian pada detail kecil — suhu air, takaran bubuk, bahkan cara menuang yang menentukan aroma terakhir di permukaannya.
Teman Diskusi Coffee lahir bukan sekadar sebagai tempat nongkrong atau menikmati kopi lokal, melainkan ruang bertemunya pikiran. Di sinilah para pegiat literasi, mahasiswa, guru, ibu rumah tangga, dan siapa pun yang mencintai percakapan datang untuk mencari makna di balik setiap kalimat dan cangkir. Kadang kita membicarakan buku, kadang tentang rencana kegiatan literasi, dan tak jarang tentang kehidupan itu sendiri.
Ada hari-hari di mana aku melihat meja penuh dengan kertas coretan ide. Ada yang menulis puisi sambil menyeruput kopi tubruk, ada yang menggambar desain kaos literasi di sudut ruangan, dan ada pula yang hanya diam, menatap uap yang naik dari cangkir sambil berpikir. Suasana seperti itu mengingatkanku pada pandangan filsafat Islam tentang tafakkur — merenung sebagai jalan menemukan makna hidup. Bahwa berpikir bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga bentuk ibadah yang mendekatkan manusia pada Sang Pencipta.
Maka, di setiap percakapan yang lahir di kedai kecil ini, selalu ada makna yang lebih besar dari sekadar kata-kata. Kadang, ide besar lahir dari hal sederhana — dari sepotong kalimat yang tak sengaja terucap, atau dari tawa ringan di antara percakapan sore. Seperti halnya api yang menyala dari percikan kecil, inspirasi pun sering datang dari momen-momen yang tak direncanakan.
Teman Diskusi Coffee mengajarkan satu hal penting: bahwa ruang untuk berbagi tak selalu harus megah. Cukup ada meja kayu, kopi hangat, dan niat baik untuk saling mendengarkan. Karena ide-ide besar tak butuh tempat mewah untuk tumbuh, tapi butuh suasana yang memberi ruang bagi kejujuran dan ketulusan.
Setiap kali aku menatap papan nama kecil bertuliskan Teman Diskusi Coffee, aku merasa sedang menyaksikan semangat literasi yang bertransformasi menjadi kehidupan nyata. Dari buku menuju gelas kopi, dari kata menuju tindakan. Ini bukan sekadar bisnis, tapi wujud nyata dari kolaborasi — antara rasa, ide, dan gerakan.
Monday, November 3, 2025
Benang yang Mengikat Cerita: Desain Kebaya Pertamaku di Bulan November
Bulan November datang seperti benang yang perlahan menjahit ulang hidupku. Setiap helainya membawa kisah tentang waktu, tanggung jawab, dan cinta yang ditenun dengan kesabaran. Di bulan ini, aku memutuskan membuat kebaya pertamaku — bukan sekadar pakaian, tapi simbol perjalanan yang kusulam di antara tumpukan kesibukan dan kelelahan.
Siang hari, aku duduk di depan meja jahit. Jarum dan benang menari di atas kain, sementara pikiranku berkelana di antara kalimat sastra Inggris yang harus kuterjemahkan untuk tugas kuliah. Kadang, aku berhenti sejenak hanya untuk menarik napas panjang, menatap payet-payet kecil yang menunggu untuk dijahit satu per satu. Ada rasa lelah yang mengendap, tapi juga kehangatan yang tumbuh di sela kerja tangan.
Malam hari, ketika warga lain sudah mulai beristirahat, aku masih harus memastikan jadwal ronda malam berjalan. Sebagai ketua RT, aku memegang tanggung jawab untuk menjaga rasa aman di lingkungan. Dua kelompok dasawisma — Kenanga dan Kantil — pun menjadi bagian dari keseharian yang tak pernah jauh dari urusan koordinasi, data, dan kegiatan sosial. Kadang aku tertawa sendiri, betapa lucunya hidup ini: pagi membahas morfologi bahasa Inggris, sore memeriksa hasil kegiatan dasawisma, malam menjahit kebaya sambil mendengar suara tongkat ronda di kejauhan.
Namun justru di situlah letak indahnya hidup. Di antara tumpukan peran yang harus dijalani, aku menemukan keseimbangan yang halus — seperti garis jahitan yang rapi di tepi kebaya. Hidup tidak selalu tentang memilih satu peran dan meninggalkan yang lain, tapi tentang menemukan irama agar semuanya bisa berjalan berdampingan.
Setiap payet yang kutambahkan di kebaya itu seperti doa kecil. Ada yang melambangkan ketekunan, ada yang menyiratkan rasa syukur. Aku teringat pesan dalam filsafat Islam tentang ihsan — melakukan sesuatu sebaik-baiknya seolah kita melihat Allah, dan jika kita tidak mampu melihat-Nya, yakinlah bahwa Dia melihat kita. Maka setiap jahitan pun kutanam dengan niat yang tulus, agar hasilnya tidak hanya indah di mata, tapi juga membawa ketenangan di hati.
Kebaya itu akhirnya selesai di akhir pekan, di tengah hujan November yang turun perlahan. Aku menatap hasil karyaku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Bukan karena lelah, tapi karena ada rasa bangga yang lembut — bahwa dari segala kesibukan dan tanggung jawab, aku masih bisa menciptakan sesuatu yang lahir dari cinta dan ketekunan.
Kini, setiap kali melihat kebaya itu tergantung di lemari, aku tak hanya melihat hasil karya tangan. Aku melihat perjalanan — perjuangan seorang perempuan yang terus belajar menyeimbangkan hidupnya antara seni, ilmu, dan pengabdian sosial. Aku melihat benang-benang kecil yang mengikat banyak cerita: tentang waktu yang terbatas, tentang sabar yang diuji, dan tentang cinta yang tumbuh dalam kesibukan.
Menemukan Damai di Tengah Sibuknya Aktivitas
Ada masa di mana aku merasa hidup ini berlari terlalu cepat. Seakan waktu memiliki sayap, dan aku hanya berusaha mengejar agar tak tertinggal. Setiap hari penuh dengan to-do list, agenda, rapat, target, dan tumpukan pekerjaan yang seolah tak pernah selesai. Dalam kesibukan itu, ada satu hal yang sering terlupa — keheningan yang menenangkan hati.
Aku pernah berpikir, produktivitas adalah segalanya. Bahwa sibuk berarti berguna, bahwa lelah berarti berharga. Tapi ternyata, di tengah hiruk-pikuk kesibukan, aku justru kehilangan sesuatu yang lebih dalam: kedamaian.
Suatu sore di taman baca kecilku, saat anak-anak mulai pulang dan suara mereka mereda, aku duduk sendiri sambil menatap langit yang mulai berwarna jingga. Ada desir lembut angin yang menyinggung wajah, ada aroma tanah yang baru saja disiram air. Di sanalah aku tersadar — bahwa ketenangan tidak datang dari berhentinya aktivitas, tapi dari kemampuan kita untuk tetap hening di tengah gerak yang ramai.
Dalam pandangan filsafat Islam, hati manusia adalah pusat keseimbangan. Al-Ghazali pernah berkata, “Jika hati itu baik, maka baiklah seluruh jasad.” Maka, segala kesibukan, pencapaian, dan usaha duniawi kita sebenarnya akan kehilangan makna jika hati kita terus bergejolak. Islam mengajarkan bahwa dzikir — mengingat Allah — bukan hanya aktivitas ritual, tapi juga ruang batin untuk menenangkan diri. Saat lidah berzikir, hati belajar pasrah; dan di situlah kedamaian sejati tumbuh.
Damai bukan berarti berhenti bekerja, tapi bekerja dengan niat yang lurus. Sibuk bukan berarti tersesat, asal langkah kita tetap terarah kepada tujuan yang benar. Dalam konsep ihsan, setiap aktivitas, sekecil apapun, bisa menjadi ibadah jika dilakukan dengan kesadaran bahwa Allah selalu bersama kita. Mungkin di sinilah letak rahasia ketenangan para sufi — mereka tetap bergerak, tetap berjuang, tapi hatinya tenang seperti air yang jernih.
Aku belajar, bahwa menemukan damai bukan tentang melarikan diri dari keramaian, tapi tentang menyelaraskan diri dengan irama hidup. Bahwa sesekali menatap langit, menghela napas panjang, atau hanya sekadar diam di antara tumpukan kesibukan, bukan tanda kemalasan — tapi bentuk penghormatan pada jiwa yang juga butuh istirahat.
Kini, setiap kali hari terasa padat, aku mencoba untuk berhenti sejenak. Menutup mata, mengucap Alhamdulillah, dan membiarkan hatiku berbicara. Karena sering kali, kedamaian itu sudah ada di dalam diri, hanya tertimbun oleh kebisingan dunia.
Dan pada akhirnya, aku menyadari — hidup yang sibuk tetap bisa damai, asal hati tahu ke mana ia pulang.
Mungkin kita tak bisa menghindari kesibukan, tapi kita bisa memilih bagaimana menjalaninya. Jadikan setiap langkah, setiap helaan napas, sebagai bentuk ibadah kecil yang menenangkan jiwa. Ketika hati mampu berdamai dengan waktu, dunia yang berisik pun terasa lembut. Mari belajar untuk berhenti sejenak hari ini — bukan karena kita lelah, tapi karena kita ingin kembali mengingat siapa diri kita, dan kepada siapa semua ini akan kembali.
Saturday, November 1, 2025
My Journey as an English Literature Student in a Small Village
My Journey as an English Literature Student in a Small Village
by Rin Muna
Dreams sometimes bloom late — just like wildflowers that wait for the right season to show their colors. My journey as an English Literature student began not in my teenage years, but at the age of thirty. It wasn't because I lacked passion or interest, but because life had a different plan for me.
Growing up in a small village, opportunities often felt far away. Education was something to be grateful for, but also something that depended on how much we could afford. For years, I carried my dream quietly — the dream of studying English, of reading Shakespeare’s words and understanding them without translation, of writing stories that could travel beyond the borders of my village.
When I finally became a student of English Literature, I felt both excitement and fear. Excitement, because it was a dream finally taking shape. Fear, because I realized how limited my environment was. I lived far from people who were fluent in English. There were no cafés filled with writers discussing novels, no clubs for English debate, and no native speakers to practice with. Most of my conversations about English happened in my own head — or sometimes, with my students.
Yes, I decided to open a small, free English class in my village. It started with only a few children, curious about the sounds of new words: apple, book, star. Their eyes would light up when they managed to say a full sentence in English. For me, it was not just about teaching — it was about keeping my own flame alive. Every lesson I gave was also a reminder for myself to never stop learning.
Sometimes, I study late at night when the village is silent. I read poetry by Emily Dickinson under a dim light, or try to translate short stories into English while sipping coffee from my own small shop, Teman Diskusi Coffee. My learning process is slow, but it is steady. Every word I understand feels like a small victory. Every essay I write reminds me that dreams do not expire with age.
My goal is simple yet big — one day, I want to publish a book written fully in English. Not because I want to prove something, but because I want to show that even from a small village, a voice can reach the world.
This journey has taught me that limitations can be powerful teachers. They push us to be creative, to find new paths where none existed before. I may not have all the resources that big-city students have, but I have determination, and that is enough to keep me going.
So, as I walk this path — as a woman, a student, a teacher, and a dreamer — I carry one belief close to my heart: it’s never too late to begin, and it’s never too small to dream big.







.png)








.png)