Thursday, July 22, 2021

Jangan Kembalikan Suamiku!


“Mas, tagihan air bulan ini seratus enam puluh lima ribu. Ini hari terakhir pembayaran. Aku nggak punya uang sama sekali karena sudah dua bulan nggak kerja,” tuturku pagi itu.

 

Ya, itulah kalimat terakhir yang aku ucapkan sebelum suamiku tiba-tiba pergi lagi dari rumah. Ini bukan pertama kalinya, sudah berkali-kali dia seperti itu.

Saat aku tidak punya uang dan pekerjaan untuk menghidupi dia dan anak-anak, dia akan pergi begitu saja. Dia bilang, mau pergi ngojek ke kota sebelah. Kota tempat tinggal orang tuanya. Berharap bisa pulang dengan membawa uang. Tapi ... tetap saja, yang terjadi adalah itu-itu saja. Dia tidak pernah pulang dengan membawa uang, apalagi memberi nafkah untuk istri dan anak-anaknya. Bahkan, untuk membelikan satu buah es krim saja, dia lebih memilih membiarkan anak-anaknya menangis.

 

Kejadian hari ini, persis dengan yang terjadi dua tahun lalu. Saat itu, aku juga benar-benar tak punya uang. Hanya punya uang dua puluh ribu rupiah saja. Aku sendiri tidak tahu, selembar uang hijau itu akan bertahan berapa lama untuk jajan puteriku. Saat itu juga, suamiku minta uang untuk beli rokok dan bensin. Aku tidak bisa memberinya karena uang yang aku punya hanya cukup untuk jajan anak besok.

Sementara, aku tidak punya pekerjaan tetap. Suamiku juga tidak pernah bekerja. Setiap hari hanya berdiam diri di rumah, bermain game hingga larut malam, baru bangun tidur di siang hari.

Hari itu, dia marah besar karena aku tak bisa memberinya uang. Tanpa berkata apa-apa, dia tiba-tiba pergi dari rumah. Meninggalkan aku dan puteriku begitu saja selama setahun. Tanpa memberi nafkah bulanan. Dia hanya pulang jika ingat pada puterinya. Meninggalkan uang seratus ribu rupiah untuk waktu yang tidak bisa diperkirakan. Bisa untuk sebulan, dua bulan bahkan setahun.

Bagaimana aku bisa menghidupi puteriku hanya dengan uang seratus ribu itu? Sementara, aku tidak punya pekerjaan tetap. Aku terpaksa berhenti bekerja karena ingin mengurus anak. Berharap jika suamiku bisa menggantikan posisiku sebagai pencari nafkah untuk keluarga. Sayangnya, dia malah memilih untuk melepas tanggung jawabnya. Membuatku terpaksa masih harus memenuhi kebutuhan keluargaku seorang diri.

 

Hal yang lebih menyakitkan lagi, aku hamil saat suamiku tak pernah pulang ke rumah selama hampir satu tahun. Saat lima bulan kepergian suamiku, aku juga baru mengetahui kalau aku sudah hamil lima bulan juga. Rasanya seperti dicambuk ribuan kali. Sangat sakit karena aku harus dibebani oleh anak lagi, sementara satu anak dan empat orang tua yang aku hidupi, belum tahu bagaimana masa depannya.

Awalnya, aku ingin memilih bercerai. Menghidupi dua anakku sendiri saja tanpa harus terbebani oleh suami yang tidak mau memberi nafkah, tidak juga mau membantu mengurus rumah dan anak-anak. Aku ingin fokus bekerja dan menghidupi anak-anakku. Sayangnya, keinginanku untuk bercerai tidak bisa terpenuhi. Semua buku nikah dan surat-surat penting dibawa pergi suamiku. Membuatku kesulitan untuk melayangkan gugatan perceraian.

Saat itu juga, keluarga memintaku menyuruh suamiku pulang. Dengan berat hati, aku menghubungi suamiku. Memberitahu kehamilanku dan membuat keluarga kami utuh lagi. Meski harus mengorbankan seluruh perasaanku. Aku rela melakukannya demi anak dan keluarga. Demi menutupi bahwa keluarga kami dalam keadaan baik-baik saja.

Hingga anak keduaku terlahir. Suamiku masih tidak memberi uang sepeser pun. Biaya lahiran, semuanya harus kutanggung sendiri. Terpaksa meminjam uang pada teman atau tetangga yang bersedia membantu. Aku hanya menjadi penjahit kecil sejak berhenti bekerja dari perusahaan. Pendapatanku tak tentu. Tidak setiap hari ada yang datang untuk menjahitkan pakaiannya.

Meski aku kesulitan, aku tidak ingin terlihat sulit di depan keluarga dan orang-orang terdekatku. Aku ingin, tetap terlihat baik-baik saja sampai hari ini. Sampai aku benar-benar tak mampu lagi menahannya.

 

Ya, hari ini ... aku putuskan untuk bercerita. Sebab, aku tak mampu lagi menahan rasa sakit yang begitu dalam. Aku takut, aku justru mengakhiri hidupku sendiri karena tak punya tempat untuk bersandar dan berbagi.

Masih ada dua anakku, nenek-kakek yang harus aku hidupi dan kedua orang tuaku yang sudah tak bekerja lagi. Aku masih ingin membahagiakan mereka. Masih ingin hidup lebih lama dan mencurahkan semua rasa sakitku dengan bercerita.

 

Jika hari ini aku memutuskan untuk menuliskan kisah pelik ini. Itu semua karena aku ingin semua orang bisa mengambil pelajaran hidup dari apa yang aku alami.

Menikah dengan orang yang belum benar-benar kita kenal, memang sangat berisiko. Karena, kita tidak pernah tahu bagaimana dia akan memperlakukan kita.

Aku menikah tanpa pacaran dan menjadi bagian dari wanita yang tidak beruntung di dunia. Bukan karena aku tidak bersyukur, tapi karena memang hidup ini telah banyak menyesatkanku. Dia bukan hanya tidak memberi nafkah ekonomi, tapi juga tidak memberi nafkah pendidikan, moral dan spiritual untuk keluarga kami.

Kata orang, jodoh adalah cermin. Membuatku terus berpikir dan putus asa. Betapa buruknya aku hingga aku mendapatkan jodoh yang begitu tidak bertanggung jawab.

Hari ini ... kejadian itu terulang kembali. Dia kembali pergi saat aku sudah tidak punya uang, sudah tidak bekerja menghasilkan uang lagi dan sakit-sakitan.

Saat ini, aku sedang berada di titik “Hidup segan, mati tak mau”.

Aku tak punya semangat untuk hidup, apalagi menghidupi anak-anakku.

Setiap hari yang aku pikirkan adalah ... bagaimana aku bisa bercerai dengan suamiku sendiri. Aku ingin bisa tenang menghidupi anak-anak dan keluargaku tanpa terhalang status pernikahan. Sementara, semua tanggung jawabnya sebagai seorang ayah tak pernah terpenuhi.

Aku bahkan terus-menerus membayat tagihan bpjs atas nama suamiku dan mengorbankan satu anakku karena aku tahu, aku tidak akan mampu membayar lebih jika ditambah satu anggota keluarga lagi.

Rasanya sakit sekali ketika aku memohon agar dia mau mengeluarkan uang untuk membayar bpjs keluarga. Tapi dari mulutnya malah keluar kalimat “Nggak perlu bayarin punyaku! Bayar aja punya kamu dan anak-anak!”

Itu adalah kalimat menyakitkan ke sekian kali dari mulutnya. Membuatku sangat sakit. Bahkan, untuk membayar bpjs dirinya sendiri saja, dia tidak mau. Bagaimana dengan nasibku dan anak-anak saat aku sudah tidak bisa bekerja lagi?

Saat aku sudah sakit-sakitan. Dia terus mengabaikanku. Bahkan, aku dan anak-anakku dibiarkan kelaparan karena dia tidak bisa masak dan tidak bisa cari uang untuk kami. Jika tidak tinggal dengan orang tuaku, mungkin aku dan anak-anakku akan dibiarkan mati begitu saja agar tidak jadi beban hidup suami.

Sialnya lagi, orang tuaku membiarkan semua ini terjadi. Meski suami sampai mencekik aku di depan nenekku sendiri, mereka semua bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa denganku. Kata mereka, pria ini adalah pria pilihanku. Aku tidak boleh menyesalinya.

Sungguh, aku sudah menyesalinya sejak setahun pernikahan kami. Aku menyesal karena memaksakan diri menerima lamaran karena desakan dari nenekku yang sudah tua. Setiap hari, dia selalu bilang ... ingin melihatku menikah dan punya anak sebelum dia meninggal. Aku tidak memedulikan diriku sendiri. Terlalu gegabah menerima pinangan dari pria yang – aku sendiri sudah meragukannya sejak awal.

Menikah tanpa pacaran, mungkin memang baik. Tapi sebaiknya kita lebih mengenal lebih jauh orang yang akan menjadi masa depan kita. Sebab, akan berlaku selamanya. Menyesal pun, tidak akan mengubah jalan hidup kita.

Saat ini, aku sedang berada di titik putus asa. Aku selalu berserah diri pada Tuhan dan meminta semua baik-baik saja. Tapi rasa sakit ini tidak bisa dipungkiri. Di kepalaku, seolah ada seseorang yang memerintahkan aku untuk mengakhiri hidup. Aku benci keadaan ini. Aku benci melawan ketidakmampuanku sendiri.

 

Saat suamiku pergi begitu saja tanpa pesan untukku, hanya berpesan pada anak bahwa dia akan mencari uang. Meski aku tahu, seminggu, sebulan atau setahun lagi ... dia tidak akan pernah memberikan aku uang untuk hidup. Aku tetap harus bertahan hidup dan membuat anak-anakku tetap hidup.

 

“Ya Tuhan ... jangan kembalikan suamiku!”

 

Doa terburuk yang pernah aku panjatkan seumur hidup. Setelah selama tujuh tahun aku berdoa agar suamiku diberi hidayah dan menjadi suami yang bertanggung jawab. Aku tidak berniat untuk mencari pengganti dia dalam hidupku. Rasanya sudah sangat sakit. Jika Tuhan mengabulkan doa terakhirku, aku hanya ingin hidup tenang dan damai bersama dua anakku. Meski berjuang seorang diri, setidaknya beban terbesar dalam hidupku bisa lepas. Karena masih ada tangan-tangan kecil yang menggantungkan jemarinya di tanganku. Jika dia bijak dan ingin membahagiakan anak-anak, dia pasti akan dengan ikhlas melepasku menjalani kehidupanku sendiri.

Kuingin ... bahagiaku tanpa dia. Kuingin ... dia tidak pernah kembali dalam hidupku dan anak-anakku. Kuingin  bisa memberikan kehidupan untuk anak-anakku. Sedangkan dia, masih bisa mencari kehidupannya sendiri. Aku hanya ingin melepas ikatan yang sudah terlalu erat hingga menyakitiku tanpa jeda.

 

 

 

 ............

Ambillah pelajaran dari tulisan ini ...!

Karena banyak hal yang tidak bisa kita pilih di dunia ini. Banyak hal yang membuat kita menyesal, tapi hidup tetap harus berjalan...


......


Story by Rin Muna



0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas