Wednesday, December 11, 2019

[Teen Story] Masa-Masa Ulangan yang Paling Indah

Sumber Ilustrasi : https://id.nic45.biz.id


Aku menyusuri koridor sekolah dengan perasaan gembira. Hari ini mulai ujian tengah semester dan akan menjadi hari paling menyenangkan buat aku. Kenapa? Karena aku bisa pulang sekolah lebih cepat dan punya banyak waktu untuk bermain. Selain itu, aku juga terbebas dari tugas sekolah. Rasanya sangat menyenangkan!
Aku tidak terlalu suka belajar. Aku belajar hanya jika ada tugas dari guru. Sisanya, aku akan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan dan bermalas-malasan. Salah satu momen yang paling tepat adalah saat ulangan di sekolah. Aku bisa menggunakan alasan belajar sebagai alat untuk bermalas-malasan. Terlalu naif kalau aku bilang, aku belajar dari jam pulang sekolah sampai malam. Ah, itu dusta besar yang orang tuaku saja tidak akan mempercayainya sekalipun aku mengurung diri di dalam kamar dengan alasan fokus belajar.
“Rin, hari ini ulangan Matematika. Kamu udah belajar?” tanya Rika, teman sebangkuku.
“Eh!? Udah,” jawabku santai. Aku hanya belajar satu jam dalam sehari. Sejak selesai sholat subuh sampai jam enam pagi. Sebelum sarapan pagi dan berangkat ke sekolah.
“Aku deg-degan banget. Takut soalnya susah-susah.”
“Biasa aja. Hitung kancing aja kalo susah.”
Rika mengernyitkan dahi menatapku. “Kamu sih enak, nggak belajar juga udah pinter. Aku heran deh sama kamu, nggak pernah belajar tapi nilai kamu bagus terus.”
“Yee ... siapa bilang aku nggak pernah belajar?”
“Aku. Aku tahu kamu lebih suka keluyuran, main game online atau tidur seharian. Emangnya, kapan waktu kamu belajar?”
“Waktu di sekolah,” jawabku santai.
“Tapi, kan ...”
“Rika ... kamu pernah ngitung nggak berapa jam kamu di sekolah?”
“Tujuh jam,” jawab Rika sambil menghitung jarinya.
“Bener! Tujuh jam di sekolah. Tujuh jam kita belajar, belum lagi kalo ada tugas sekolah. Apa tujuh jam itu waktu yang kurang buat belajar?”
Rika menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Aku tertawa kecil menatap Rika. “Makanya, kalo di sekolah ... belajarnya yang bener. Jadi, nggak perlu tambahan belajar lagi di rumah.”
“Tapi ... aku udah belajar di sekolah, di rumah ... nggak pinter-pinter juga.”
“Itu sih derita loe!” sahutku sambil tertawa. “Kalo kamu belajar dua belas jam sehari dan belum ngerti juga. Artinya, kamu harus belajar dua puluh empat jam. Nggak usah tidur, nggak usah makan, nggak usah jalan-jalan, nggak usah pacaran!”
“Jahat banget sih!”
Aku tertawa menatap wajah Rika yang terlihat sangat payah. Hanya karena ulangan Matematika, wajahnya sudah terlihat pucat dan tidak bersemangat. Padahal, soal ulangan semuanya pilihan ganda. Tinggal jawab sesukanya aja. Kalau nilainya bagus, artinya sedang mendapat keberuntungan. Semoga, keberuntungan selalu menyertai. Kalau tidak, yah ... tinggal mengandalkan remedial saja. Toh, mau sejelek apa pun nilai ulangannya ... masih ada remedial yang ngasih kesempatan untuk memperbaiki nilai.
Aku bahkan pernah mengikuti lima kali remedial Fisika karena aku nggak bisa mendapat nilai sesuai standar. Padahal, aku memang tidak suka dengan mata pelajaran itu. Mau dipaksa seperti apa pun, nilaiku tidak akan pernah bagus. Tapi, sekolah memaksaku harus mendapat nilai sesuai standar dan aku tidak tahu bagaimana cara mereka membuat nilaiku mencapai standar. Karena aku sendiri, tahu sampai di mana kemampuanku.
Sepanjang ulangan, aku mengerjakan soal sebisaku saja. Karena soal Matematika pilihan ganda, aku bisa menjawab sisanya sesukaku. Benar atau salah, itu urusan belakangan. Toh, nanti bakal ada remedial juga. Yah ... walau aku hampir tidak pernah ikut remedial kecuali mata pelajaran Fisika.
Buatku, soal multiple choice seperti ini benar-benar memuakkan. Entah kenapa aku tidak terlalu suka dengan soal seperti ini. Ini terlalu mudah. Ah, bukan-bukan! Ini terlalu bikin malas. Aku nggak usah capek-capek mikir atau nulis banyak, bisa menjawab lima puluh soal dalam waktu satu atau dua jam. Benar-benar dimanjakan dan mulai membuatku jenuh. Terkadang, aku sering tertidur setiap kali dihadapkan oleh soal seperti ini.
Jam sepuluh pagi, aku sudah keluar dari kelas. Soal ulangan Matematika lumayan berat, tapi tidak membuatku khawatir. Untungnya, itu soal pilihan Ganda. Aku bisa mengandalkan Dewi Fortuna untuk mendapat keberuntungan.
Aku langsung bergegas pulang ke rumah dan masuk kamar. Alasannya, aku ingin belajar. Padahal, aku hanya berbaring di atas kasur sambil bermain game online. Rasanya ... lebih menyenangkan karena tidak perlu mengerjakan tugas dari sekolah.
Saat sedang ulangan, biasanya orang tua tidak ingin mengganggu dengan hal-hal lain. Aku juga terbebas dari mencuci piring, mencuci baju dan membereskan rumah. Benar-benar waktu yang menyenangkan. Aku bisa menghabiskan banyak waktu di dalam kamar sambil bermain. Bahkan, Mama sampai mengantarkan makanan dan minuman ke dalam kamar karena menyangka kalau aku benar-benar belajar.
Aku selalu menyelipkan ponselku di antara buku setiap kali Mama masuk ke dalam kamar. Aku juga terkadang memilih untuk bermain ke rumah teman dengan alasan ingin belajar bersama.
Ah, masa-masa remaja memang masa yang indah dan penuh dengan kebohongan. Semoga saja, saat aku menjadi orang tua ... aku tidak akan dibohongi oleh anak-anakku.
Hmm ... aku rasa, aku akan tahu kalau anak sedang membohongi orang tuanya karena pengalamanku yang pandai berbohong saat remaja. Kalau pada akhirnya, anakku juga pandai berbohong, artinya dia benar-benar anakku yang akan mewarisi gen berbohongku.
So, buat kamu yang pengen masa mudanya tetep asyik. Jangan suka bohongin orang tua kayak aku ya! Mungkin, aku bakal jujur ke orang tua setelah aku selesai ulangan. Karena, aku masih ingin menikmati waktu bersantai yang sulit sekali aku dapatkan ketika sekolah seperti biasanya.


Tuesday, December 10, 2019

Cinderella Fashion Kids

www.rinmuna.com

Ini adalah salah satu gaun dengan tema Cinderella yang aku buat khusus untuk anakku.
Ada cerita menggelitik di baliknya.
Aku ... sebenarnya sudah lama ingin membuat gaun Princess Cinderella. Tapi, kalau harus mirip sekali dengan aslinya ... aku tidak mungkin bisa melakukannya. Alasannya ... bahan yang kumiliki tak sebagus kualitas bahan pakaian asli juga aku bisa saja melanggar hak cipta karya seseorang atau dianggap menjiplak. Hehehe ...

Aku juga tidak tahu bagaimana memulainya.

Akhirnya ... Aku membuat gaun ini secara spontan karena anakku mendapat undangan acara ulang Tahun dan dia tidak punya gaun untuk pergi ke pesta. Alhasil, setelah pulang sekolah, aku langsung membuatkan gaun untuknya agar bisa dipakai untuk menghadiri acara ulang tahun salah satu teman sekolahnya.


Terkadang, inspirasi dan motivasi itu justru muncul di saat sudah mendesak dan terpaksa melakukannya dengan cepat.

Terima kasih untuk kamu yang selalu menginspirasi.

Monday, December 9, 2019

Anak - Sumber Inspirasi Fashionku (Fashion Design #1)

www.rinmuna.com

Anak adalah harta yang paling berharga, membuat kita mengerti arti cinta yang sesungguhnya. Bagiku, kehadiran seorang anak benar-benar memberikan inspirasi yang tak terhingga untuk kehidupanku.
Foto yang aku posting, adalah design yang pertama kali aku wujudkan jadi nyata.
Aku punya hobby menggambar busana sejak masih duduk di bangku SMA. Tapi, saat itu tak pernah terpikirkan bahwa gambar yang aku buat bisa dibuat menjadi nyata, mengingat banyak kekurangan yang aku miliki. Aku besar di panti asuhan, aku sadar dengan siapa aku dan aku membunuh cita-citaku satu per satu. Semua hal rasanya menjadi tidak mungkin. Sebab, aku tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang lebih.
Semua gambar busana yang pernah aku buat, aku posting di media sosial kemudian aku buang begitu saja. Beberapa tahun lalu, bahkan aku sudah menghapusnya dari media sosialku. Alasannya ... ada yang berkomentar kalau designku bisa ditiru orang kalau aku mempostingnya ke media sosial. Jadi, aku memang sudah nggak punya hasil designku yang lalu. Tapi, aku masih ingat semua model yang  pernah aku buat. Aku selalu membuat sebuah gaun dengan motif batik Kalimantan.

Cukup lama aku berhenti menggambar busana. Aku tidak punya begitu banyak semangat untuk mengumpulkan karya-karyaku. Karena, menurut aku sendiri ... hasil gambarku sangat buruk jika harus dibandingkan dengan karya orang lain. Hasil gambar mereka jauh lebih bagus dari yang aku buat dan aku merasa tidak percaya diri.

Sampai suatu hari ... aku berniat membuat baju untuk anakku yang baru berusia dua tahun. Harusnya, baju itu lebih mirip dengan model princess Cinderella. Tapi, karena aku hanya memesan di tukang jahit. Alhasil, jadinya malah seperti seragam sekolah. Rasanya kecewa, kesal dan aku ngerasa ... kok, kayak gini sih? Tapi, aku nggak berani untuk komplain untuk tetap menjaga hubungan baik.

Akhirnya ... dengan susah payah aku menyisihkan uang gajiku sedikit demi sedikit untuk membeli mesin jahit. Mesin jahit yang aku beli, merupakan salah satu mesin jahit bekas yang ada di panti asuhan tempat aku tinggal. Selama di sana, aku biasanya membantu pengurus untuk menjahit. Tapi, aku tidak benar-benar bisa menjahit. Aku hanya membantunya merapikan kain atau memasang kancing. Aku nggak punya keberanian sama sekali buat pakai mesin jahit.

Terus ... kenapa nekat beli mesin jahit kalo nggak bisa jahit?
Iya juga ya?
Akhirnya ... mesin jahitnya juga nggak terpakai karena aku bener-bener nggak paham gimana cara makainya.
Sampai suatu hari, adik aku pulang dari Balikpapan dan mengajariku cara memintal benang. Sejak saat itu, aku mulai memakai mesin jahit untuk menjahit pakaian yang sobek di rumah.
Aku tinggal di kampung. Akses informasi tentunya sulit aku dapatkan. Aku juga tidak tahu bagaimana caranya menjahit yang benar dan memahami bagaimana cara kerja mesin jahit. Setelah aku membuka taman baca, tak berapa lama wifi masuk desa hadir. Aku langsung memasang wifi, patungan dengan adikku untuk membayarnya. Sejak itu, aku bisa mengakses internet dan mendapat banyak informasi.

Dari internet, aku belajar cara menjahit yang baik dan bagaimana mengatasi masalah pada mesin jahit. Sehingga, aku bisa belajar memperbaiki mesin jahitku sendiri saat ada masalah.

Aku mulai belajar perlahan, bagaimana membuat pola dan akhirnya aku membuat baju untuk anakku. Aku design sendiri, buat pola sendiri dan membuatnya sendiri saja. Yah, walau hasil gambar dengan kenyataannya masih jauh berbeda. Aku masih melakukan kesalahan dan itu membuat aku terus belajar dan belajar.

Aku sengaja memilih motif yang mencolok untuk anakku. Alasannya, karena dia masih kecil dan aku mudah untuk mendapatkannya ketika aku ajak dia di keramaian. Benar saja, aku sempat membawanya masuk ke mall dan dia lari ke sana - ke mari. Aku sempat bingung dan bertanya pada beberapa orang karena aku nggak bisa menemukan anakku yang asyik bermain di antara pakaian. Dia bilang, itu labirin dan dia senang berlari dari satu stand ke stand lain. Akhirnya, aku bisa dengan mudah menemukannya karena pakaiannya yang mencolok dan berbeda dengan kebanyakan orang yang ada di sana. Dari kejauhan, aku sudah bisa menemukan tubuh mungil itu.


Baju ini adalah design pertama yang aku buat menjadi nyata. Semua itu karena aku sangat mencintai anakku dan aku ingin dia memakai sesuatu yang aku buat dengan cinta untuknya. Bisa saja aku membelinya di toko. Lebih praktis dan nggak perlu repot bikin. Tapi, rasanya ada kepuasan tersendiri saat aku bisa membuatkan baju untuk anakku. Terlebih lagi saat dia sangat senang memakai baju yang aku buatkan.

Anak -- Dialah sumber inspirasiku dalam berkarya. Jika tidak ada dia, mungkin selamanya aku akan mengubur dalam-dalam keinginanku untuk membuat sebuah fashion dari karya aku sendiri.



Nak, terima kasih sudah menjadi sumber inspirasi untuk Mama...

I Love you ...

Aku tinggalkan tulisan ini ... untuk kamu ... 15 Tahun ke depan ...
 




Tuesday, November 5, 2019

Race in Love


www.rinmuna.com


Hari ini, aku kembali duduk di bangku penonton untuk menyaksikan balapan sepeda motor. Sebenarnya, aku tidak suka berada di tempat ini karena aku harus menyaksikan kalau pacarku sedang dalam bahaya. Bahaya? Ya, bahaya yang bisa saja terjadi di sirkuit. Aku tidak ingin melihatnya terluka sedikit saja.

Setiap kali Rendra cedera, aku selalu menangis semalaman. Aku tidak bisa melihatnya terluka. Tapi, dia selalu bilang kalau dia baik-baik saja. Ia sangat mencintai dunia balap. Sekalipun aku terus memohon padanya untuk berhenti, ia tidak akan melakukannya. 
 
"Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Aku mencintai dunia balap. Aku tidak ingin mengecewakan orang-orang yang telah memberikan kepercayaan kepadaku," tutur Rendra tiga tahun silam saat ia lolos seleksi tingkat nasional. 

Aku ingin mengakhiri semuanya. Beberapa kali hubungan harus putus karena aku egois. Aku terus menginginkannya berhenti balapan. Sementara Rendra, selalu kembali ke pelukanku setiap kali ia mengakhiri musim balapannya. Kami saling mencintai, itulah alasan kenapa aku tidak bisa melihatnya di arena balap.

Waktu terus bergulir, Rendra tak menyerah memberikan aku pengertian sampai akhirnya aku terus berada di sisinya dalam keadaan apa pun. Kini, Rendra berhasil menjuarai beberapa kejuaraan internasional di beberapa negara Asia. Walau banyak prestasi yang sudah ia raih. Aku tetap saja mengkhawatirkan dirinya.

Aku langsung menghampiri Rendra begitu ia selesai balapan. Aku selalu berlari ke arahnya dan memeluknya begitu erat. Aku berharap, Rendra akan terus memelukku sampai kami menua bersama.

"Kenapa masih nangis?" tanya Rendra sambil mengusap air mataku.

Aku tersenyum. "Karena aku takut kehilangan kamu."
"Kamu nggak akan pernah kehilangan aku. Aku ada di sini," tutur Rendra sambil menunjuk dadaku.

Ya, dia tahu kalau aku selalu menyimpan hatinya di dalam hatiku. Dia tahu kalau aku sangat mencintainya.

Rendra memelukku dengan erat. "Kamu jangan pernah pergi lagi! Jangan pernah bilang kata putus lagi. Aku sayang sama kamu. Sama seperti aku mencintai dunia balap. Jangan minta aku memilih antara kamu dan dunia balap. Aku mencintai keduanya."

Rendra selalu menenangkan perasaanku. Ia mengerti kekhawatiran yang menghantuiku. Itulah sebabnya, ia selalu mengajakku makan malam romantis setiap kali ia usai balapan.

Waktu begitu cepat bergulir. Rendra akan kembali ke sirkuit seminggu lagi. Entah kenapa, perasaanku begitu gelisah. Tak seperti biasanya. Rendra selalu menginginkan aku ada di kursi penonton setiap kali ia balapan. Tapi, kali ini Rendra justru memintaku untuk berdiam di dalam rumah. Dia bilang, "tidak perlu menyusul aku ke sini. Aku bakal baik-baik aja. Aku pasti pulang. Jangan lupa bikinin aku cream soup! Aku rindu cream soup buatan kamu."

Sikap Rendra benar-benar tak biasa. Hal ini justru membuat aku gelisah dan khawatir. Kami sudah tidak bertemu selama beberapa bulan karena Rendra sibuk latihan dan aku sibuk dengan tugas kuliahku.

Tak ingin terus dihantui rasa khawatir. Aku langsung mengemasi pakaianku ke dalam koper dan memesan tiket menuju Malaysia. Di sana, Rendra akan mengikuti balapan yang ke sekian kalinya. Aku tetap ingin melihatnya sebab aku sangat merindukannya.

Aku baru memberi kabar pada Rendra ketika aku sudah sampai di Malaysia. Rendra sangat terkejut karena aku selalu rela terbang ke negara tempat ia mengikuti kompetisi balap.
 
Malam hari sebelum balapan, Rendra memaksakan diri menemuiku di apartemen tempat aku menginap. Ia langsung memeluk erat tubuhku begitu aku membukakan pintu untuknya.

"Kamu boleh keluar?" tanyaku heran.

"Sebentar saja, mereka nggak akan tahu. Aku kangen sama kamu," jawab Rendra sambil memelukku begitu erat. Ia bahkan menciumku berkali-kali. 

"Oh ya, aku bikinin cream soup buat kamu. Mau makan?" tanyaku sambil menatap wajah Rendra.

"Serius?" Rendra terlihat senang dan langsung menghampiri meja makan. Ia tersenyum senang dan langsung menikmati cream soup buatanku dengan lahap.

"Mmh ... aku kangen banget sama cream soup buatan kamu. Nggak nyangka kalo kamu bikinin sekarang. Padahal, aku kan minta bikinin kalo udah pulang ke Indonesia."

Aku tertawa bahagia melihat wajahnya. "Kamu sudah telepon Mama kamu?" tanyaku.

"Sudah. Besok pagi aku telepon lagi sebelum mulai balapan," jawab Rendra.

Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala.

"Besok kamu nggak usah ke sirkuit ya!" pinta Rendra.

"Hah!? Kenapa?"

"Nggak papa. Aku janji bakal langsung nemuin kamu begitu selesai balapan. Kita pulang ke Indonesia bareng," tutur Rendra sambil tersenyum. 

"Tumben buru-buru pulang?"

Rendra tersenyum. "Nggak boleh?"

"Boleh banget," sahutku.

Kami terdiam selama beberapa saat.

"Ren, aku khawatir sama kamu. Aku takut kehilangan kamu," tuturku perlahan sambil bergelayut di pundak Rendra.

"Anggi sayang ... kamu nggak perlu khawatir! Kamu cukup doain aku biar aku menang," pinta Rendra.

Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum.

"Buat seorang pembalap, mati di sirkuit itu sebuah kehormatan," tutur Rendra sambil tersenyum.

"Iih ... apaan sih!? Nggak usah ngomong soal mati, deh!" Aku menepuk bahu Rendra.

Rendra tertawa kecil. "Semua orang bakal mati dan aku bakal bahagia banget kalau aku mati dalam kompetisi. Itu kehormatan buat aku."

Hatiku nyeri mendengar ucapan Rendra. Aku tidak bisa menahan kesedihan dan air mataku menetes begitu saja. Aku paling benci ketika Rendra membahas soal kematian. Apa dia tidak tahu kalau perkerjaannya penuh dengan resiko dan dia justru menakut-nakuti dengan kematian.

Rendra tertawa kecil dan langsung merengkuh tubuhku. "Jangan pernah nangisin aku, karena aku bahagia sama dunia ini. Kamu harus tersenyum!" pinta Rendra sambil mengusap air mataku.

"Gimana aku bisa senyum kalo kamu ngomongnya kayak gitu? Kamu tahu nggak sih kalo aku khawatir banget sama kamu. Rasanya, aku pengen iket kamu sekarang di sini biar kamu nggak pergi ke sirkuit!" tuturku kesal.

Rendra tertawa kecil. "Jangan marah, dong! Jelek tahu."

Aku bergeming. Rendra benar-benar tak mengerti perasaanku. Apa dia tidak bisa merasakan kalau aku begitu mengkhawatirkannya?

Rendra tertawa kecil. Ia mengangkat tubuhku dan menarik ke pangkuannya. "Aku cuma bercanda. Makasih ya udah peduli dan selalu khawatir sama aku," tutur Rendra sambil tersenyum menatapku. Ia menyentuh pipiku dengan lembut, menyibakkan anak rambut yang berantakan menutupi wajahku. Kemudian ia menciumku penuh cinta.

"Aku sayang sama kamu," tutur Rendra terus menciumiku. 

Mungkin ia sangat merindukanku sehingga ia sampai menciumku berkali-kali. Tak seperti biasanya.

"Kita menikah setelah kamu wisuda ya!" pinta Rendra.

Aku menganggukkan kepala. Aku masih harus menyelesaikan empat semester lagi untuk bisa mendapatkan gelar sarjana. Kami sudah bertunangan sejak setahun yang lalu. Rendra tidak ingin aku terus mengajaknya putus hanya karena balapan dan dia benar-benar membuktika keseriusannya untuk menjadikan aku satu-satunya wanita yang ada dalam hatinya.

"Aku balik dulu!" pamit Rendra. "Besok nggak usah dateng ke sirkuit. Aku yang bakal datengin kamu. Kita sama-sama pulang ke Indonesia." Rendra mencium keningku dan bergegas pergi.

Keesokan harinya, aku menuruti permintaan Rendra untuk tidak hadir di sirkuit. Aku hanya menontonnya lewat siaran live di televisi. Aku menonton sambil sibuk membuatkan cream soup untuk Rendra. Dia akan senang sekali jika aku menyiapkan makanan kesukaaannya saat ia datang.

Aku langsung menatap layar televisi begitu mendengar nama Rendra disebut oleh komentator. Aku melangkah perlahan mendekat ke televisi sambil membawa mangkuk berisi cream soup hangat yang baru saja aku masak.

PRANG!

Aku membiarkan mangkuk itu terjatuh di lantai. Tangan dan tubuhku tiba-tiba lemas saat melihat Rendra terjatuh dari motornya saat balapan hampir usai. Ini bukan pertama kalinya Rendra terjatuh dari motor. Ia pernah cedera beberapa kali dan aku berharap Rendra hanya mengalami luka ringan. Aku langsung melangkahkan kaki keluar dari apartemen. Aku tidak ingin menunggu kabar dari televisi tentang keadaan Rendra. Aku langsung memesan taksi dan berangkat menuju lokasi sirkuit.

"Rendra mana?" tanyaku pada salah satu tim Rendra. Hampir semuat tim Rendra mengenaliku karena Rendra sering mengajakku pergi bersama mereka.

"Udah di bawa ke rumah sakit," jawab tim yang aku tanya.

"Rumah sakit? Emangnya petugas medis di sini nggak bisa nanganin?" tanyaku.

Cowok itu menggelengkan kepala dengan wajah murung.

"Rendra baik-baik aja, kan?" tanyaku dengan mata berkaca-kaca.

"Kami nggak tahu."

"Dia di bawa ke rumah sakit mana?" tanyaku.

Cowok itu menyebutkan nama rumah sakit yang ada di Kuala Lumpur. Aku langsung bergegas kembali menaiki taksi menuju rumah sakit. Perasaanku makin tak karuan saat tahu kalau Rendra dilarikan ke rumah sakit. Aku tak bisa menahan tangis selama perjalanan. 

Saat Rendra mengalami cedera ringan saja, aku menangis semalaman di sampingnya. Bagaimana aku harus menghadapi kenyataan yang lebih dari itu? Rasanya, hatiku begitu sakit.

Sesampainya di rumah sakit, aku langsung berlari mencari Rendra. Tidak begitu sulit untuk mendapatkan informasi. Aku langsung menuju ke ruang Emergency. Di luar ruangan, ada beberapa tim yang sedang duduk sambil menangis. Manager Rendra langsung berdiri menatapku begitu aku datang. Dari raut wajahnya, aku bisa mengerti kalau Rendra tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Kakiku terasa begitu berat untuk melangkah. Aku menyeret kakiku untuk mendekati Manager Rendra. Aku tidak bisa mengatakan apa pun, aku hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Manager itu menatapku penuh kesedihan, ia menahan tangisnya dan tidak bisa berkata apa pun.

"Mister, dia baik-baik aja kan?" tanyaku perlahan saat melihat matanya berlinang. Aku berusaha untuk tersenyum walau hatiku begitu sakit.

"He's died." Tangis Manager itu akhirnya pecah.

DUAR!!

Aku merasa seperti tersambar petir ribuan voltase. Dunia dan isinya serasa runtuh. Aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Aku menatap pintu ruang emergency. Di dalam sana ada Rendra yang ingin ia peluk erat. Aku ingin menagih janjinya untuk pulang sama-sama ke Indonesia. Aku tidak ingin pulang bersama dalam keadaan seperti ini. Tidak adakah hal yang bisa lebih membahagiakan, Rendra?

Kakiku terasa lemas, aku menjatuhkan lututku ke lantai dan membiarkan derai air mataku membasahi lantai. Hari ini, Rendra melarangku pergi ke sirkuit karena tidak ingin melihatnya merasakan sakit seorang diri. Ini jelas lebih menyakitkan dari apa pun. Aku tidak ada di saat dia berjuang sendirian. Kenapa dia biarkan aku seperti orang bodoh? Kenapa aku tidak pergi saja ke sirkuit dan memberikan semangat untuknya? Bukankah dia berjanji kalau dia tidak akan pernah membiarkan aku merasa kehilangan?

"Nggak mungkin. Nggak mungkin kamu ninggalin aku," ucapku sambil menggelengkan kepala. "Baru semalam kamu bilang kalo kamu nggak akan ninggalin aku. Kamu janji bakal datang dan kita sama-sama pulang ke Indonesia. Kamu bakal menuhin janji kamu kan?" tanyaku sambil terisak.

Beberapa saat kemudian, pintu ruang emergency terbuka. Aku langsung berlari dan menerobos masuk. Beberapa teman Rendra mencoba menahanku dan aku tetap tidak bisa mengendalikan diriku untuk menemui Rendra yang sudah terbaring kaku di atas ranjang pasien. Aku langsung memeluk erat tubuhnya.

"RENDRA, BANGUN!" teriakku sejadi-jadinya. "BANGUN, REN! BANGUN!" Aku memeluk tubuh Rendra dengan erat. Membiarkan air mataku jatuh ke pipinya. Aku terpaku menatap Rendra yang tersenyum dalam beku. 

Aku langsung menciumi bibirnya yang dingin. "Please ... balik buat aku, Ren!" bisikku bersama derai air mata. Aku terus menangis sambil memeluk erat tubuh Rendra sampai aku tidak bisa merasakan apa pun selain tubuh Rendra yang dingin seperti es. Aku harap ini cuma mimpi. Aku memejamkan mata dan berharap, Rendra masih tersenyum sambil memelukku erat saat aku membuka mata.

Aku berharap semuanya hanyalah mimpi. Tapi, Tuhan tidak berpihak padaku. Ia benar-benar mengambil Rendra untuk selamanya. Aku begitu terluka saat pulang ke Indonesia bersama Rendra yang tak lagi bisa kuajak bicara. Rendra selalu membuatku tertawa dengan candaan-candaan yang keluar dari mulutnya. Kini, ia hanya diam dan tak bicara apa pun.

Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau aku harus berpisah untuk selama-lamanya. Saat melihat tubuh Rendra dimasukkan ke dalam liang lahat. Aku benar-benar yakin kalau Rendra tidak akan pernah kembali lagi untukku. Aku terjatuh beberapa kali, aku merasa tubuhku benar-benar lemas dan tak bertenaga. Aku belum bisa menerima kenyataan kalau Rendra benar-benar meninggalkanku.

"Ikhlaskan ... Biarkan Rendra bahagia di surga!" Sebuah bisikan terdengar di telingaku. Entah bisikan dari siapa di saat kesadaranku tidak begitu baik.  Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ya, Rendra pasti bahagia di sana dan aku tidak bisa menahannya seperti ini. Aku harus belajar mengikhlaskan kepergiannya walau rasanya begitu sulit.

"Mati di sirkuit itu sebuah kehormatan." Kalimat itu terus terngiang di telingaku. Aku melihat wajah Rendra tersenyum bahagia saat mengatakan kalimat itu.

"Ren, apa kamu bahagia ninggalin aku dan dunia balap yang sama-sama kamu cintai?" bisikku dalam hati.

Aku sama sekali tidak menyangka kalau Rendra begitu cepat pergi meninggalkanku. Setiap hari dalam doaku, aku berharap Tuhan akan mempersatukan kembali aku bersama Rendra dengan cara-Nya. Sebab, tak ada hal lain yang lebih membahagiakan selain menjalani hari bersamanya.

"Ren, terima kasih karena kamu telah memberikan kenangan indah dalam hidupku. Sungguh, aku tidak ingin menjadikannya kenangan. Tapi takdir Tuhan membawa kisah kita menjadi sebuah kenangan, bukan harapan masa depan. Kamu cintai aku sampai menutup mata, aku janji akan selalu tersenyum seperti yang kamu inginkan. Kamu juga harus bahagia di sana, di tempat yang abadi... "

"Tunggu aku, sampai surga menjadi milik kita!"





Ditulis oleh Rin Muna dalam isak tangis.


Samboja, 05 November 2019.
_______________________________________________________________

Cerita ini hanyalah fiktif belaka.

Aku persembahkan cerita ini untuk Alm. Afridza Syach Munandar. Salah satu anak muda yang berprestasi dan berhasil mengharumkan nama Indonesia. Semoga tenang dan bahagia di Surga Allah. Prestasi-prestasimu akan dikenang selalu ...

_______________________________________________________________





























Friday, November 1, 2019

Yang Bikin Aku Makin Sayang sama Kompasiana


Source: pixabay.com




Hai ... hai ... temen-temen!
Apa kabar semuanya?
Masih rajin nulis? Pasti nggak bakal baca tulisanku karena sibuk nulis ya...
Yang masih rajin baca, baca terus postingan aku karena ada banyak cerita menarik yang bakal aku bagiin buat kalian.

Kali ini, aku mau cerita tentang salah satu platform menulis aku yakni Kompasiana.
Kenapa Kompasiana dan sejak kapan sih aku nulis di Kompasiana?
Mmh ... kalo ditanya kenapa, jelas aja aku bakal jawab karena Kompasiana itu nyaman banget. Aku belum pernah berdebat sama penulis lain dan belum pernah dapet kripik pedas dari senior. Mmh ... sebenarnya aku kangen sih sama kripik pedasnya. Karena itu salah satu alasan yang bikin aku terus semangat belajar menulis.

Aku bergabung di Kompasiana tanggal 29 Mei 2018, tapi aku baru mulai nulis pada bulan September 2018. Ada waktu empat bulan yang bikin aku terus berpikir dan belajar supaya tulisanku layak bertengger di Kompasiana.

Pertama kali, aku nulis artikel Melestarikan Budaya Jawa di Pulau Kalimantan dan langsung kegirangan karena jadi artikel Pilihan Editor. Kebayang nggak sih gimana senengnya aku waktu pertama kali nulis dan langsung dapet sambutan baik dari tim editor Kompasiana. Aku langsung semangat nulis dan ngajak temen-temen penulis di platform sebelah buat nulis juga di Kompasiana. Alhamdulullah, sampai saat ini mereka aktif nulis di Kompasiana. Walau akunya sekarang yang jarang nulis. Soalnya aku lagi ngerjain kontrak nulis yang cukup menyita waktuku.

Satu bulan setelah aku nulis di Kompasiana. Aku dihubungi sama Mimin buat hadir di acara Kopiwriting yang diadakan oleh JNE dan Kompasiana. Saat itu, aku seneng banget dan langsung pergi ke kota Balikpapan buat dateng ke acara itu. Tentunya, sebagai blogger kami punya tanggung jawab untuk menyampaikan pesan yang baik. Kamu bisa baca Kisah Perjalananku ke Event Kopiwriting JNE Balikpapan dan Menyikapi Konsumen Era Milenial, JNE Terus Berinovasi.
Dari kegiatan Kopiwriting itu, aku mulai tahu bagaimana menghasilkan uang dari menulis. Biasanya, aku nulis cuma hobi aja. Dapet royalti dari buku dan di platform lain juga sempat mencairkan uangku yang buat dapetinnya aja susah banget. Bisa berbulan-bulan buat dapetin 200rb rupiah.
Nah, di Kompasiana aku ngerasa benar-benar dihargai sebagai penulis. Satu artikelku bisa dapet honor antara 100-300 ribu rupiah.

Siapa sih yang nggak seneng kalo bisa dapet duit dari rumah. Nggak pernah ke mana-mana tapi uang jajannya ada terus. Mmh ... bener juga kata Mimin Kompasiana. Makanya, aku seneng banget sama Platform #BeyondBlogging yang satu ini. Karena di sini, bukan cuma menghasilkan uang. Tapi juga meningkatkan kualitas tulisan yang digemari oleh banyak orang.
Yah, mungkin yang sulit buat aku adalah menulis dengan kalimat baku. Mmh ... dibilang sulit juga nggak sih. Mungkin karena aku emang orangnya santai dan suka sama tulisan yang berbau santai. Jadi, aku selalu pengen ngajak pembaca ngobrol aja kayak biasanya. Biar nggak ada rasa canggung.

Di #11TahunKompasiana ini, aku berharap bisa terus berkontribusi buat ngisi tulisan di sana. Walau saat ini aku mulai sibuk ngerjain kontrak nulis webnovel adaptasi dari luar negeri. Aku selalu nyempatin waktu buat nulis di Kompasiana. Rasanya, selalu rindu sama platform yang udah membawa aku sampai sejauh ini. Mulai dari penulis yang tulisannya sama sekali nggak ada harganya, sampai saat ini bisa dapet kontrak nulis dengan nilai puluhan juta. Itu semua karena Kompasiana yang bikin aku semangat buat belajar menulis dan menulis.

Buat aku, Kompasiana satu-satunya platform yang nggak pernah bikin aku down karena aku ngerasa tulisanku nggak layak. Di Kompasiana juga ada banyak tulisan-tulisan yang berkualitas dan beragam sehingga aku bisa belajar banyak hal. Belajar membuat artikel yang baik, belajar menulis puisi yang bagus, belajar menulis cerpen yang menarik sampai akhirnya aku bisa menulis webnovel yang memiliki ratusan episode.

Aku berharap, Kompasiana makin bergembang dan makin ramah dengan penulis. Ada banyak kompetisi yang diselenggarakan oleh Kompasiana dan tentunya menjadi salah satu sumber semangat untuk menulis.

Selamat Ulang Tahun yang ke-11 Kompasiana ...!
Selamat menuju kedewasaan. Semoga bisa terus melahirkan penulis-penulis berkualitas dan menjadi rumah paling nyaman untuk banyak penulis di Indonesia.


Salam manis,



Rin Muna

01 November 2019




Baca:

1 Lomba Terakhir yang Bisa Kamu Ikuti dalam Rangka #11TahunKompasiana

Saturday, October 26, 2019

Ikrar Damai Calon Kades Desa Beringin Agung | Pilkades 2019

Senin, 30 September 2019

Desa Beringin Agung telah melaksanakan Ikrar/ Deklarasi Kampanye Damai Pilkades 2019.
Dalam kesempatan ini, hadir 3 calon kades sesuai nomor urut, yakni:
1. Suyono
2. Juhardin
3. Kusnadi

Acara diawali dengan Ikrar/ Deklarasi Damai dari ketiga calon kades dan penandatanganan ikrar yang disaksikan oleh Kepala Desa, Ketua BPD, Komandan Koramil Samboja, Kepala Kepolisian Sektor Samboja, Staff Desa, Seluruh Ketua RT dan Tokoh Masyarakat.


FGD Inisiasi Kampung Literasi Beringin Agung


Sabtu, 19 Oktober 2019 menjadi hari bersejarah dalam hidupku. Karena, pada hari itu Yayasan Teman Kita dan Pertamina Hulu Sanga-Sanga bekerjasama untuk membentuk Kampung Literasi di Desa Beringin Agung.
Syarat berdirinya sebuah kampung literasi adalah adanya taman baca atau pojok baca yang sudah berjalan. Kebetulan, taman baca saya berdiri pada bulan Februari 2018 lalu. Baru sekitar satu setengah tahun dan mendapat sambutan baik dari masyarakan Desa Beringin Agung.
Malam itu, kami mangadakan urun rembug Kampung Literasi untuk membahas beberapa perencanaan pendirian Kampung Literasi. Karena, dari enam pola literasi dasar, hanya ada dua literasi yang akan difokuskan di Kampung Literasi Desa Beringin Agung.
Sesuai dengan kearifan lokal Desa Beringin Agung yang mayoritas adalah petani, pekebun dan peternak. Maka, kami sepakat untuk memilih Literasi Sains dan Literasi Finansial untuk difokuskan di Kampung Literasi agar tidak lari dari kedua konsep tersebut.
Literasi sains dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang teknologi pertanian, teknologi pangan dan sebagainya agar masyarakat Desa Beringin Agung bisa meningkatkan kesejahteraan dari sektor pertanian dan peternakan.
Literasi Finansial sendiri akan langsung bersinergi dengan petani dan peternak. Belajar tentang bagaimana mengelola bahan pangan dan menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi di masyarakat.

Tentunya, semua ini akan berhasil ketika seluruh masyarakat ikut berpartisipasi dalam membangun dan menciptakan Kampung Literasi di Samboja.
Saya sangat terbuka kepada seluruh masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan Kampung Literasi. Dapat berperan aktif, memberikan saran dan kritik untuk kemajuan kegiatan di Desa Beringin Agung.
Saya juga mengharapkan dukungan masyarakat, tak hanya sebagai dukungan dalam bentuk lisan atau tulisan tapi juga bisa mendukung dan berpartisipasi secara nyata dalam kegiatan-kegiatan pengembangan Sumber Daya Manusia di Kampung Literasi Desa Beringin Agung.
Selain Focus Group Discussion, Pertamina Hulu Sanga-Sanga juga memberikan bantuan berupa buku, printer dan permainan edukasi untuk Taman Bacaan Bunga Kertas. Semoga bisa bermanfaat untuk anak-anak di Taman Baca ke depannya.




Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Desa Beringin Agung dan pihak-pihak yang telah banyak membantu Taman Bacaan Bunga Kertas untuk terus berkembang dan memberikan manfaat untuk masyarakat sekitar.


Sekian dan terima kasih ...

Salam manis selalu,


Rin Muna
Founder Taman Bacaan Bunga Kertas


Baca juga : 
Yayasan Teman Kita ft Pertamina Hulu Sanga-Sanga 

Tuesday, October 8, 2019

Menyerah ...



Kamu ada ...
Tapi kamu tak pernah tahu berapa banyak penderitaan yang aku rasa.
Kamu tak pernah tahu berapa dalam luka yang kupunya.
Kamu tak pernah tahu berapa luasnya air mata yang aku tampung

Kamu tak pernah sembuhkan luka
Kamu tak pernah keluarkanku dari derita
Kamu tahu aku luka
Kamu beri aku luka
Kamu tambah aku luka
Kamu seolah lupa
Bahwa lukaku terus kau lukai

Lalu tuk apa kau berdiri di sisi?
Jika janji mengajak bahagia kau ingkari?
Lalu tuk apa kau ada di hati?
Jika kau sembuhkan luka dengan melukai?

Kamu saksikan air mataku berderai dalam tiap-tiap malamku ...
Kamu saksikan kakiku berjalan merangkak penuh luka-luka ...
Kamu saksikan tanganku berdarah menggapai cita kita.

Tapi kamu tetap diam membisu
Mendorongku ke lubang penderitaan yang lebih dalam...
Hingga akhirnya aku memilih
MENYERAH ...




Ditulis oleh Rin Muna
Dalam lautan air mata ...

8 Oktober 2019


Monday, September 23, 2019

Court of Love



Ini ketiga kalinya aku menjalani sidang di ruang Kepala Sekolah karena kasus yang sama, berkelahi dengan Gatara. Entah kenapa, semenjak kejadian di kantin tahun lalu dia sangat membenciku. Padahal aku tidak sengaja menumpahkan sambal ke tubuhnya, saat itu kakiku tersandung, terjatuh tepat di depannya.
Semua sekolah sudah tahu bagaimana setiap hari Gatara terhadapku. Dia selalu tertawa terbahak-bahak setiap kali aku kesusahan dan marah-marah. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam otaknya? Sepertinya saraf otaknya sudah geser, atau bahkan keluar dari tempurung kepalanya sendiri. Dia tidak pernah puas mengerjaiku setiap hari.
Dikerjai seperti itu sudah menjadi hal biasa. Ada hal yang lebih tak biasa sampai aku dan Gatara harus menjalani sidang di ruang Kepala Sekolah.
Kasus pertama, Gatara berhasil membuatku masuk ruang ICU karena dia meneteskan larutan tetrahydrozline HCL (obat tetes mata) ke dalam botol air mineral yang sering aku letakkan di meja belajarku.
Kasus kedua, Gatara berhasil membuatku kembali di rawat karena dia sengaja meletakkan paku payung saat aku melintas, paku itu menusuk telapak kakiku hingga kedalaman 2,5 cm.
Kasus yang ketiga ini, Gatara berhasil membuatku jatuh dari tangga sekolah, tepat disaksikan oleh Kepala Sekolah yang kebetulan sedang melintas.Gatara dengan sengaja mendorongku dengan bahunya, kejadian itu juga terekam CCTV sekolah.
“Gatara! Apa yang kamu lakukan pada Riris sudah keterlaluan!” ucap Kepala Sekolah geram, kami berkumpul di ruangannya.
“Maafkan anak kami Pak, anak kami suka iseng,” kata Papa Gatara.
“Ini bukan lagi keisengan Pak, tapi sudah masuk dalam tindakan kriminal. Dia sudah tiga kali mencoba menghilangkan nyawa Riris!” kata Kepala Sekolah.
“Pak, saya nggak bermaksud untuk membunuh. Saya mau ngerjain dia doang Pak!” kata Gatara panik karena ketakutan. Dia takut juga kalau kasus ini dibawa ke polisi.
Gatara menggeleng.
Aku hanya menyimak dengan baik saat Gatara dihakimi oleh Kepala Sekolah, Guru dan kedua orangtuanya.
Kedua orangtuaku tidak hadir karena mereka sudah meninggal sejak satu tahun yang lalu. Aku hanya tinggal bersama nenek dan kedua adikku. Aku sudah menjelaskan kepada pihak sekolah bahwa nenekku tidak bisa hadir karena usianya yang sudah renta.
Bu Ratih menjelaskan secara detil beberapa kejadian yang menimpaku dan juga menjelaskan latar belakang keluargaku.
Sidang ketiga itu masih tak membuat Gatara jera. Saat aku berjalan sendiri di tepi jalan, dengan sengaja motor Gatara menyerempet tubuhku hingga aku terjerembab ke selokan. Dia tertawa sangat bahagia melihatku terjatuh, hingga ia tak menyadari kalau motor yang ia naiki kehilangan kendali.
“Braaaaakk....!!!” tabrakan itu terjadi tepat di depan mataku. Aku terkesiap, tubuhku gemetar. Sangat cepat dan membuat jantungku berhenti beberapa saat.
Aku langsung berlari menghampiri Gatara yang sudah berlumuran darah, motor yang ia kemudikan menyebrang ke jalur berlawanan, saat itu juga ada mobil melintas. Tubuh Gatara terpental jauh keluar dari badan jalan.
Aku berteriak histeris meminta pertolongan sambil berusaha mengangkat tubuh Gatara yang sangat berat. Secepatnya aku membawa Gatara ke Rumah Sakit dengan bantuan warga sekitar. Untunglah orang yang menabraknya juga mau bertanggung jawab walau yang salah adalah Gatara.
Sesampainya di rumah sakit, Gatara langsung ditangani oleh dokter dan harus menjalani serangkaian operasi karena tangan dan punggungnya mengalami patah tulang. Aku mencoba menghubungi teman-teman dekat Gatara agar memberi kabar kepada kedua orangtuanya.
Sepuluh hari aku menemani Gatara di rumah sakit bergantian dengan pembantunya yang sesekali datang untuk mengantarkan pakaian ganti. Selama itu juga Gatara banyak berubah sikap terhadapku, tak lagi sewot dan marah-marah setiap kali melihatku. Aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri. Sejahat apapun Gatara terhadapku, aku tidak pernah berpikir untuk membalasnya atau membencinya.
Sepuluh hari itu belum berakhir, aku masih harus menemani dan merawat Gatara di rumahnya, kondisi punggung dan tangannya yang belum bisa kembali normal, ia harus menjalani rawat jalan.
“Ris, kenapa kamu mau ngerawat aku?” tanya Gata.
Aku tidak mengerti kenapa dia baru bertanya setelah satu bulan aku menemani dan merawatnya?
Apa dia tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku? Bagaimana aku harus membesarkan hatiku merawat orang yang selama ini membenciku dan selalu mencelakaiku? Aku tidak mengerti apa yang selama ini membuat Gatara begitu membenciku? “Maafkan aku Ris, tidak seharusnya aku begitu membencimu hanya karena kejadian di kantin setahun lalu. Aku selalu melukaimu tapi kamu tidak pernah menangis, kenapa sekarang kamu justru menangis saat aku tidak bisa menjaili dan melukaimu lagi?” tanya Gatara.
Aku tidak sadar kalau air mataku keluar begitu deras hanya karena satu pertanyaan dari Gatara. “Jika dengan merawatmu bisa membuatmu berhenti membenciku, aku ikhlas melakukannya seumur hidupku.” Aku mengusap air mataku.
“Aku yang seharusnya minta maaf Ris. Aku yang melukaimu, aku yang selalu menyulitkan hidupmu. Seharusnya kamu biarkan saja aku mati, kamu biarkan saja aku sendirian. Aku tidak pantas mendapatkan kebaikan hatimu Ris. Aku... aku... aku sudah...” Gatara terisak.
“Bukankah aku sudah memaafkannya sejak dulu? Jika tidak, kamu pasti sudah ada di penjara sekarang.”
“Lalu apa yang membuatmu menangis? Kenapa kamu justru menangis saat aku tidak melukaimu?” tanya Gatara.
“Karena ada yang hal lebih menyakitkan. Hatiku sangat sakit saat kamu begitu membenciku tanpa ku tahu apa sebabnya,” ucapku lirih.
Gatara bergeming.
“Andai bisa kuulang semuanya, aku sangat ingin satu tahun yang lalu adalah saat hatiku mencintaimu, bukan membencimu.”
Deg....!
Saat itu aku merasa jantungku berhenti berdetak. Aku tidak tahu kalau Gatara bisa berbicara selembut dan seindah ini? Apakah saraf otaknya benar-benar sudah baik karena kecelakaan itu?
“Oh ya, seminggu lagi pengumuman kelulusan sekolah ya? Aku sudah tidak sabar menunggunya. Kedua orangtuaku menginginkan aku melanjutkan pendidikan ke New York. Menurutmu bagaimana Ris?” tanya Gatara.
“Eh... Bagus! Bukankah semua orang menginginkan hal seperti itu?” kataku sebal. “Tenang saja, aku tidak akan pergi jika tidak bersamamu,” kata Gatara sambil tersenyum seperti bisa membaca pikiranku.
Aku tertawa dan sejak hari itu hidupku jauh lebih baik. Setidaknya tidak ada lagi orang yang akan menyerempetku hingga terjatuh saat aku berjalan sendirian, karena orang itu sekarang selalu melangkah bersamaku dan menggenggam tanganku untuk tidak pernah terjatuh.



______________________________
🅒 Copyright.
Karya ini dilindungi undang-undang.
Dilarang menyalin atau menyebarluaskan tanpa mencantumkan nama penulis.

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas