Blog ini menceritakan tentang Kehidupan yang aku jalani. Keseharian yang ada dalam hidupku. Tentang cinta, tentang perjuangan dan pengorbanan, tentang rasa sakit dan tentang orang-orang yang ada di dalam kehidupanku. Tentang Desa Kecil dan gadis kecil yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat sekitar.

Monday, December 9, 2019

Anak - Sumber Inspirasi Fashionku (Fashion Design #1)

www.rinmuna.com

Anak adalah harta yang paling berharga, membuat kita mengerti arti cinta yang sesungguhnya. Bagiku, kehadiran seorang anak benar-benar memberikan inspirasi yang tak terhingga untuk kehidupanku.
Foto yang aku posting, adalah design yang pertama kali aku wujudkan jadi nyata.
Aku punya hobby menggambar busana sejak masih duduk di bangku SMA. Tapi, saat itu tak pernah terpikirkan bahwa gambar yang aku buat bisa dibuat menjadi nyata, mengingat banyak kekurangan yang aku miliki. Aku besar di panti asuhan, aku sadar dengan siapa aku dan aku membunuh cita-citaku satu per satu. Semua hal rasanya menjadi tidak mungkin. Sebab, aku tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang lebih.
Semua gambar busana yang pernah aku buat, aku posting di media sosial kemudian aku buang begitu saja. Beberapa tahun lalu, bahkan aku sudah menghapusnya dari media sosialku. Alasannya ... ada yang berkomentar kalau designku bisa ditiru orang kalau aku mempostingnya ke media sosial. Jadi, aku memang sudah nggak punya hasil designku yang lalu. Tapi, aku masih ingat semua model yang  pernah aku buat. Aku selalu membuat sebuah gaun dengan motif batik Kalimantan.

Cukup lama aku berhenti menggambar busana. Aku tidak punya begitu banyak semangat untuk mengumpulkan karya-karyaku. Karena, menurut aku sendiri ... hasil gambarku sangat buruk jika harus dibandingkan dengan karya orang lain. Hasil gambar mereka jauh lebih bagus dari yang aku buat dan aku merasa tidak percaya diri.

Sampai suatu hari ... aku berniat membuat baju untuk anakku yang baru berusia dua tahun. Harusnya, baju itu lebih mirip dengan model princess Cinderella. Tapi, karena aku hanya memesan di tukang jahit. Alhasil, jadinya malah seperti seragam sekolah. Rasanya kecewa, kesal dan aku ngerasa ... kok, kayak gini sih? Tapi, aku nggak berani untuk komplain untuk tetap menjaga hubungan baik.

Akhirnya ... dengan susah payah aku menyisihkan uang gajiku sedikit demi sedikit untuk membeli mesin jahit. Mesin jahit yang aku beli, merupakan salah satu mesin jahit bekas yang ada di panti asuhan tempat aku tinggal. Selama di sana, aku biasanya membantu pengurus untuk menjahit. Tapi, aku tidak benar-benar bisa menjahit. Aku hanya membantunya merapikan kain atau memasang kancing. Aku nggak punya keberanian sama sekali buat pakai mesin jahit.

Terus ... kenapa nekat beli mesin jahit kalo nggak bisa jahit?
Iya juga ya?
Akhirnya ... mesin jahitnya juga nggak terpakai karena aku bener-bener nggak paham gimana cara makainya.
Sampai suatu hari, adik aku pulang dari Balikpapan dan mengajariku cara memintal benang. Sejak saat itu, aku mulai memakai mesin jahit untuk menjahit pakaian yang sobek di rumah.
Aku tinggal di kampung. Akses informasi tentunya sulit aku dapatkan. Aku juga tidak tahu bagaimana caranya menjahit yang benar dan memahami bagaimana cara kerja mesin jahit. Setelah aku membuka taman baca, tak berapa lama wifi masuk desa hadir. Aku langsung memasang wifi, patungan dengan adikku untuk membayarnya. Sejak itu, aku bisa mengakses internet dan mendapat banyak informasi.

Dari internet, aku belajar cara menjahit yang baik dan bagaimana mengatasi masalah pada mesin jahit. Sehingga, aku bisa belajar memperbaiki mesin jahitku sendiri saat ada masalah.

Aku mulai belajar perlahan, bagaimana membuat pola dan akhirnya aku membuat baju untuk anakku. Aku design sendiri, buat pola sendiri dan membuatnya sendiri saja. Yah, walau hasil gambar dengan kenyataannya masih jauh berbeda. Aku masih melakukan kesalahan dan itu membuat aku terus belajar dan belajar.

Aku sengaja memilih motif yang mencolok untuk anakku. Alasannya, karena dia masih kecil dan aku mudah untuk mendapatkannya ketika aku ajak dia di keramaian. Benar saja, aku sempat membawanya masuk ke mall dan dia lari ke sana - ke mari. Aku sempat bingung dan bertanya pada beberapa orang karena aku nggak bisa menemukan anakku yang asyik bermain di antara pakaian. Dia bilang, itu labirin dan dia senang berlari dari satu stand ke stand lain. Akhirnya, aku bisa dengan mudah menemukannya karena pakaiannya yang mencolok dan berbeda dengan kebanyakan orang yang ada di sana. Dari kejauhan, aku sudah bisa menemukan tubuh mungil itu.


Baju ini adalah design pertama yang aku buat menjadi nyata. Semua itu karena aku sangat mencintai anakku dan aku ingin dia memakai sesuatu yang aku buat dengan cinta untuknya. Bisa saja aku membelinya di toko. Lebih praktis dan nggak perlu repot bikin. Tapi, rasanya ada kepuasan tersendiri saat aku bisa membuatkan baju untuk anakku. Terlebih lagi saat dia sangat senang memakai baju yang aku buatkan.

Anak -- Dialah sumber inspirasiku dalam berkarya. Jika tidak ada dia, mungkin selamanya aku akan mengubur dalam-dalam keinginanku untuk membuat sebuah fashion dari karya aku sendiri.



Nak, terima kasih sudah menjadi sumber inspirasi untuk Mama...

I Love you ...

Aku tinggalkan tulisan ini ... untuk kamu ... 15 Tahun ke depan ...
 




0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas