Saturday, January 26, 2019

Cerita Somplak : Menemui Pangeran Textra di Pulau Pengasingan

Pixabay.com

"Rin ... kamu tengokin Pangeran Textra di Pulau Pengasingan!" perintah Mbak Daya.
"Nggak mau!" Aku mengangkat kedua pundakku sambil memonyongkan bibir sepanjang-panjangnya.
"Loh!? Kamu harus tahu bagaimana kondisinya di sana."
"Males, Mbak. Di sana nggak ada apa-apa. Nggak ada rumah, nggak ada manusia. Biar aja Pangeran Textra jadi Tarzan di sana."
"Muza masih mencari keberadaan Pangeran Radh. Kalau ada dia, dia pasti semangat menemui Pangeran Textra."
"Hmmm ..." Aku asyik saja mengunyah ciplukan yang dihidangkan di tengah santapan makan siang istana negeri somplak.
"Kamu beneran nggak mau?" tanya Mbak Daya sekali lagi.
"Nggak mau."
"Oke. Kalau gitu, kuda putihmu Mbak pakai untuk menemui Pangeran Textra."
"Eh!? Enak aja! Nggak boleh! Aku aja yang ke sana." Aku beringsut pergi ke kandang kuda sebelum mbak Daya mengambil kuda putih kesayanganku.
"Rin, kamu nggak pernah ganti baju? Dari tahun lalu, pakai gaun putih itu terus," celetuk dayang Vera yang tiba-tiba muncul. Ia datang untuk memberi makan kuda pink milik Pangeran Textra. Di kandang kuda istana, kudanya full color. Punya mbak Daya, kudanya warna ungu. Punya Muza, kudanya warna kuning. Tapi sedang tidak ada di kandangnya karena Muza asyik mencari keberadaan Pangeran Radh. Sedangkan kuda yang berwarna cokelat, semua milik para prajurit. Ada 2.500 kuda cokelat yang ada di istana ini. Mereka kuda yang terlatih untuk berperang bersama para prajurit.
"Emangnya mau perang sama siapa?" batinku dalam hati. Bukannya negeri ini adem ayem aman tentram sak lawase. Eh!?
"Enak aja! Ganti lah. Aku punya 1.500 gaun putih yang modelnya sama. Sehari ganti 5 kali." Aku merengut membalas celetukan dayang Vera.
"Ooh ... sama semua ya?"
"Iya."
"Emange nggak bosen?" tanya dayang Vera lagi.
"Nggak. Kamu sendiri, nggak bosen pakai baju itu-itu terus?" Aku balik bertanya sambil memandangi pakaian dayang milik Vera.
"Ini 'kan seragam dayang."
"Oh ... ya sudahlah. Nggak perlu bahas baju. Ntar gak kelar-kelar. Aku mau ke Pulau Pengasingan." Aku menaiki kuda setelah memastikan semua perlengkapan kuda terpasang dengan baik.
"Mau ketemu Pangeran Textra ya?" tanya dayang Vera.
"Iya. Kenapa? Mau nitip sesuatu?" Aku memandang dayang Vera yang berdiri di sisi kuda putih milikku, sementara aku sudah nangkring di atas punggung kuda.
Vera menganggukkan kepalanya. "Tunggu sebentar ya!" pintanya kemudian berlari memasuki lorong istana.
Tak berapa lama, dayang Vera kembali dengan membawa bungkusan kain yang lumayan besar.
"Apa ini?" tanyaku keheranan.
"Berikan saja pada Pangeran!"
"Gede amat! Isinya apa?" tanyaku heran. Dayang Vera langsung mengikatkan bungkusan itu pada besi yang berada di bagian belakang tempat dudukku.
"Eh!? Jangan diikat di situ. Taruh depan sini aja!" pintaku. " Bisa oleng kudaku, berat sebelah."
"Oke." dayang Vera melemparkan bungkusan itu ke tanganku.
"Ya ampun! Berat banget! Isinya apa ini?" tanyaku penasaran.
"Kasih aja ke Pangeran Textra."
"Seberat ini dan kamu nggak mau ngasih tahu aku? Mending aku tinggal aja deh." Aku bersiap melemparkan kembali bungkusan itu ke lantai.
"Jangan! Itu isinya pakaian dan makanan untuk Pangeran Textra."
"Sebanyak ini?"
Dayang Vera mengangguk.
"Awas, ya! Kalo ketahuan Mbak Daya, kamu ngirim pakaian dan makanan sebanyak ini untuk Pangeran Textra. Kamu bakalan Kreeek." Aku meletakkan telapak tanganku tepat di leher untuk menakuti dayang Vera.
"Jangan sampai Ratu Daya tahu. Saya mohon!" Dayang Vera merapatkan kedua telapaknya untuk memohon.
"Hmm." Aku langsung memacu kudaku menuju Pulau Pengasingan.
Sesampainya di sana, aku mengitari pulau sampai tujuh kali untuk mencari keberadaan Pangeran Textra. Belum juga aku temukan. Sampai hari beranjak sore, Pangeran Textra masih belum terlihat batang hidungnya.
"Duh, jangan-jangan Pangeran di makan binatang buas?" celetukku ngasal. Tapi, setauku tidak ada binatang buas di sini. Aku pernah diasingkan di sini beberapa waktu lalu karena merobohkan menara istana. Semuanya baik-baik saja.
Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Bisa saja Pangeran Textra kabur dari tempat ini. Atau dimakan buaya sungai yang kebetulah lewat? Ah, rasanya nggak mungkin kalau buaya makan buaya.
"Pangeran!!!" Akhirnya aku berteriak agar Pangeran Textra menyadari kedatanganku.
"Pangeran ... aku bawain makanan enak loh. Kalau nggak mau muncul, terpaksa deh makanannya aku bawa balik ke istana." Aku masih berputar-putar dengan kudaku sambil berteriak.
"Jangan!" Tiba-tiba aku mendengar suara Pangeran Textra. Aku memandang ke sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Hanya pepohonan yang rimbun dan beberapa pohon besar.
"Kok, nggak ada orangnya? Jangan-jangan pangeran udah jadi hantu?" Aku mengusap tengkuk yang mulai merinding.
"Siluman takut sama hantu? Hahahaha ...." Akhirnya aku dapati Pangeran Textra yang sedang tertawa terbahak-bahak di atas pohon kelapa.
"Pangeran!? Ngapain di situ?" teriakku.
"Ambil kelapa muda. Kamu mau?"
"Boleh."
Pangeran Textra langsung melempari aku dengan buah kelapa muda. Aku sampai kebingungan menghindarinya. Satu buah kelapa tepat menancap di ujung pedangku. Kemudian, Pangeran Textra turun dengan cepat.
"Kamu bawa makanan apa?" tanya Pangeran Textra saat sudah dekat denganku.
"Nih!" Aku melemparkan bungkusan yang diberikan dayang Vera.
"Berat banget!" celetuk Pangeran Textra yang sampai terhuyung-huyung menerima bungkusan kain itu.
"Berarti banyak makanannya."
"Kok, tumben banget kamu ke sini bawakan makanan sebanyak ini?"
"Itu titipan dayang Vera. Aku mah ogah bawain makanan buat Pangeran. Bukannya Pangeran udah survive banget di tempat ini?"
"Tega amat sih? Katanya, kamu cinta sama aku?"
"Itu dulu. Sekarang ... aku mau coba jatuh cinta sama Pangeran Radh. Mudahan Muza cepat nemuin Pangeran Radh." Aku turun dari kuda.
"Apa? Jatuh cinta kok coba-coba?"
"Yah, siapa tahu aja Pangeran Radh membalas cintaku juga."
"Bukannya aku juga sudah membalas cintamu?"
"Kapan?"
"Kapan ya?" Pangeran Textra nyengir sembari menggaruk kepalanya yang memang sudah gatal-gatal karena tidak mandi.
"Lagian, aku mah ogah kalau harus bersaing sama kuda, sama tikus, sama kucing buat ngerebutin cinta seorang Pangeran Textra. Jelas aja Pangeran milihnya aku kalau saingannya binatang semua." Aku membuka satu buah kelapa yang sudah menancap di ujung pedangku. Meminum airnya dan merasakan kesegaran di kerongkonganku. Sementara Pangeran Textra juga sibuk membuka bungkusan dari dayang Vera.
"Wah ... ini makanan kesukaan aku!" Pangeran Textra langsung melahap 3 bungkus nasi padang kesukaannya.
Aku mengerutkan keningku, heran melihat Pangeran yang makan dengan lahapnya.
"Laper banget ya?"
Pangeran menganggukkan kepalanya dengan mulut penuh makanan.
"Ya udah. Pemberian dayang Vera sepertinya cukup untuk sebulan ke depan. Aku pamit pulang." Aku beranjak dari tempat dudukku. Melihat matahari yang mulai tenggelam di bawah air laut. Warnanya indah, berkilauan seperti emas.
"Kok, pergi?" tanya Pangeran.
"Tugasku hanya memastikan kondisi Pangeran baik-baik saja."
"Aku nggak baik-baik saja."
"Maksudnya."
"Aku kesepian. Temani aku dulu!" pinta Pangeran Textra dengan mulut yang masih mengunyah makanan.
"Pangeran ... bukankah pangeran dikirim ke sini memang untuk sendirian? Supaya tidak membuat gaduh negeri."
"Kamu yang punya akses ke tempat ini. Tidakkah kamu kasihan melihat aku yang sekarang kurus kering seperti ini?" Pangeran Textra bangkit dan berdiri di hadapanku.
Aku memandangi tubuh Pangeran dari ujung kaki sampai ujung rambut. Aku mengernyitkan dahiku. Kurus keringkah tubuhnya? Aku tidak yakin. Sepertinya berat badannya justru naik. Badannya terlihat lebih gempal daripada masih mengurus kerajaan. Aku menahan tawa melihat tingkah Pangeran Textra. Sepertinya ... dia bukan tubuhnya yang kurus. Tapi, hatinya yang kurus karena tak terurus. Biasa ditemani dengan banyak dayang dan wanita-wanita cantik. Sekarang harus sendirian di Pulau Pengasingan tanpa bisa keluar. Hihihi...
"Oke. Aku temani sampai matahari benar-benar tenggelam." Aku tersenyum.
"Nah, gitu dong!" Pangeran Textra tiba-tiba merangkulku.
"Udah berapa hari nggak mandi?" Aku nyengir karena mencium bau badannya yang sangat menyengat. Entah bau apa yang melekat di tubuhnya. Bikin aku mual dan mau muntah.
"Loh? Kenapa mual-mual gitu? Aku belum ngapa-ngapain kamu, kok sudah hamil?" goda Pangeran Textra.
"Nggak usah bercanda! Nggak lucu! Mandiiiiiiiii.....!!!! Bau banget....!!! Uweeek....!"
"Aku setiap hari mandi. Tapi nggak ada baju ganti. Untungnya dayang Vera si dayangku tercinta pengertian banget bawain aku pakaian." Pangeran Textra menatap genit sembari menggigit bibirnya.
"Ya sudah. Aku mandi dulu. Jangan ngintip ya!" Pangeran Textra menarik beberapa lembar kain dan berlari menuju sungai.
Sementara aku duduk kembali di salah satu kayu mati sambil memandangi pantai. Kebetulan sekali pulau ini berada di tengah-tengah laut. Pangeran Textra tidak bisa berenang dan tidak memiliki akses untuk keluar masuk. Berbeda denganku yang bisa keluar masuk dengan kapal kerajaan. Pulau ini juga sebenarnya di jaga oleh prajurit di pintu masuk.
Matahari mulai tenggelam. Aku mengumpulkan ranting kayu dan menyalakan api dengan batu sembari menunggu Pangeran Textra kembali.
Sudah 3 kali aku mengganti ranting kayu yang terbakar, Pangeran Textra belum juga kembali. Matahari sudah berganti dengan rembulan yang sudah meninggi dan berada tepat di atas kepala. Aku merebahkan tubuhku di atas kain yang sudah aku gelar. Menunggu Pangeran datang sambil menghitung bintang yang bertebaran di langit. Iseng amat sih aku? Ngitungin bintang? Hadeeeh ....
Aku putuskan untuk mengambil satu bintang, menggenggamnya dengan tangan kananku dan aku mengeluarkan bola-bola cahaya yang beterbangan di atas kepalaku.
"Gimana? Udah nggak bau kan?" Tiba-tiba Pengeran Textra sudah duduk di sampingku.
Emang sih ... nggak bau sebusuk tadi, tapi bau amis malah tercium dari tubuhnya. "Bau amis!" celetukku.
"Oh ... iya. Aku dapet ikaaan!" Pangeran Textra mengangkat ranting pohon yang dipakai untuk menyusun ikan-ikan, diangkat tepat di atas wajahku.
"Apaan sih!?" Aku langsung bangkit. "Bau tau!"
"Bukannya kamu juga biasa makan ikan kayak gini? Ingat nggak waktu pertama kali kita ketemu? Kamu lagi makan ikan dari kolam kerajaan? Ikan-ikan kesayanganku itu."
"Iyaa..."
"Ya udah. Bakar gih! Aku laper!" perintah Pangeran Textra.
"Baru aja ngabisin 3 bungkus nasi padang. Udah laper lagi?"
Pangeran Textra hanya meringis.
"Pantesan gendut!!" umpatku.
"Cepet! Bakarin ikannya!" perintahnya lagi.
"Ogah, ah!"
"Kamu mau membantah titah Pangeran!? Hah!?"
"Apaan sih!?" Aku menyambar ikan yang ada di tangan Pangeran Textra. Berjalan mendekati perapian dan membakarnya.
"Hmm ... malam ini indah banget ya?" Pangeran Textra merebahkan diri di atas kain yang tadinya aku pakai untuk berbaring. Ia memandangi langit luas yang bertaburan dengan bintang-bintang. Bola-bola cahaya milikku melingkar mengelilingi kami.
"Ini bola cahayamu?" tanya Pangeran Textra.
Aku tak menghiraukan ucapannya, fokus pada ikan yang aku bakar. Untungnya Pangeran membawa ikan yang sudah dibersihkan. Tinggal bakar doang. Kalau masih disuruh bersihin ikan, kutaruh memang pedangku di lehernya.
"Kamu sengaja bikin suasana romantis untuk kita berdua ya? Supaya aku jatuh cinta sama kamu?" tanya Pangeran tanpa menoleh ke arahku, ia masih terus memandangi langit sambil sesekali melemparkan pandangannya pada bola-bola cahaya milikku.
"Nggak!" Aku bangkit dan menyambar satu bola cahaya milikku, memasukkannya ke dalam ikat pinggang dan seketika semuanya menghilang.
"Loh? Kenapa? Kan jadi gelap?" Pangeran Textra mengangkat tubuhnya sembari memandangiku.
"Ada api. Ada cahaya bulan. Gelap dari mananya?" celetukku sambil melemparkan ikan yang sudah matang.
"Tidak bisakah kamu memberikannya dengan baik? Seperti para dayang melayaniku?" Pangeran menangkap ikan itu agar tidak jatuh ke pasir.
"Aku bukan dayang!"
"Oh... iya... kamu mau jadi selirku ya? Atau permaisuriku?" goda Pangeran Textra.
Aku hanya diam.
"Hmm ... ternyata gelap kayak gini juga lebih romantis ya? Kamu suka yang gelap-gelap ya?" Pangeran Textra menghampiriku.
"Udah mateng semua. Aku pulang!" Aku bergegas melangkahkan kaki menuju kuda yang aku ikat tidak jauh dari tempat kami bercengkerama.
"Pangeran!!" teriakku saat aku tidak bisa melangkahkan kakiku. Ia menginjak salah satu sampur dan membuat langkahku tertahan.
"Kamu tau nggak, apa yang akan terjadi kalau hanya ada satu laki-laki dan perempuan di satu tempat yang sama dalam kegelapan seperti ini?" Pangeran menarik sampur dengan tangannya.
"Nggak tau." Aku menarik sampur yang ia pegang dengan kasar dan membuat Pangeran tersungkur karena tidak kuat menahannya.
"Aduh...!"
Aku menahan tawa melihat ia mengaduh. "Kapok!"
Dengan cepat aku menaiki kuda dan memacunya dengan cepat, menerobos kegelapan malam untuk kembali ke istana kerajaan Negeri Somplak.




Ditulis oleh Rin Muna
Hanya untuk hiburan
Samboja, 26 Januari 2019


Friday, January 25, 2019

Sampah dan Kesadaran Masyarakat, Pesan Penting Dari Film AQUAMAN




Rabu, 02 Januari 2019 aku menyematkan diri untuk mengunjungi salah satu tempat wisata pantai yang berada di Samboja, Kalimantan Timur. Ketika aku masuk, aku disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Yakni, sampah-sampah yang berserakan di mana-mana. Tentunya, ini cukup mengganggu pemandangan di sekitar pantai.
Otakku terus bekerja dan menganalisa. Bagaimana pantai yang sudah ada sejak aku masih kecil ini pengelolaannya tidak begitu rapi. Beberapa kali aku ke sini, cukup bersih dan rapi. Lalu, akan berantakan lagi, kotor lagi. Begitu seterusnya.
Artinya, kesadaran masyarakatnya masih sangat rendah. Terutama kepada para wisatawan yang menghabiskan waktunya berlibur di tempat ini. Mereka datang membawa kebahagian, canda tawa bersama hidangan lezat yang mereka nikmati bersama. Namun, kemudian pergi meninggalkan sampah sebagai kenang-kenangan. Kenapa tidak meninggalkan karya atau souvenir yang indah di tempat ini? Bukankah itu lebih baik dan seharusnya bisa menghargai kalau tempat ini pernah menjadi saksi berbagi canda tawa bersama teman, sahabat dan keluarga?

Video di bawah ini adalah sedikit cuplikan yang aku ambil. Memang sebenarnya aku ingin membuat video untuk menunjukkan indahnya tempat ini. Dan benar saja, tempat ini indah dengan sampah. Semoga ke depannya tempat ini menjadi jauh lebih bersih. Sebab kebersihan bukan hanya tanggung jawab penjaga pantai, tapi juga menjadi tanggung jawab kita semua.



Kemudian, aku teringat pada sebuah film yang aku tonton beberapa waktu lalu yakni film "AQUAMAN" yang menceritakan tentang kehidupan laut Atlantis. Kerajaan laut memerangi daratan karena dianggap manusia hanya merusak kehidupan laut dengan mengirimkan sampah-sampah ke laut. Raja Orm menganggap manusia adalah makhluk jahat yang membuang sampah ke laut sehingga merusak semua makhluk laut. Bukan hanya membunuh makhluk laut dengan sampah, manusia juga membunuh makhluk laut dengan senjata.

Dari film tersebut, sebenarnya ada pesan yang tersurat dan tersirat tentang bagaimana manusia ini menjaga kelestarian lingkungan, bukan hanya di daratan saja, tetapi juga di lautan.
Bisa jadi, tampilan daratan lingkungan kita bersih, indah dan bebas dari sampah. Tapi, ada hal yang tidak kita sadari kalau jutaan ton sampah itu berpindah ke lautan. Ini jelas mengganggu keseimbangan alam dan kehidupan di bawah air.
Sikap ketidakpedulian manusia lah yang akhirnya akan menghancurkan kehidupan menjadi lebih cepat dari yang diperkirakan.
Sampah selalu menjadi masalah di mana-mana. Hampir semua daerah kini telah menyadari tentang bagaimana pengelolaan sampah (recycle) untuk mengurangi sampah yang ada di dunia.
Penggunaan plastik juga sudah diatur sedemikian rupa untuk menekan angka penggunaannya.
Dengan membawa botol minum sendiri ketika pergi berwisata, juga bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan sampah botol plastik. Jadi, kita tidak perlu membeli air kemasan yang hampir semua kemasannya berbahan plastik.
Ada banyak alternatif yang bisa kita lakukan agar kita tidak menghasilkan banyak sampah ketika bepergian ke tempat-tempat wisata terutama pantai. Sebab, di pantai kondisi anginnya cukup kencang dan menyebabkan sampah plastik mudah terbang ke mana-mana. Kalau sudah terbawa angin dan masuk ke air, terkadang kita sudah tidak memerdulikannya lagi. Ah, cuma sebiji aja nggak papa. Itulah yang ada dalam benak kita. Padahal sebiji itu baru dari satu orang. Bayangkan kalau ada 1000 pengunjung dalam sehari yang membuang sampah miniman 1 biji. 1000 dikalikan 30 hari sudah jadi 30.000 dalam sebulan. Bagaimana jika itu terjadi selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Tidak heran kalau kemudian laut menjadi tempat menumpuknya sampah-sampah yang digunakan oleh masyarakat.
Supaya bisa mengurangi sampah, kita bisa membawa bekal sendiri dari rumah menggunakan tempat makan yang bisa dicuci dan digunakan lagi. Hal ini tentunya bisa membantu mengurangi penggunaan sampah yang ada di sekitar kita.
Satu lagi, kalau pergi ke tempat wisata ... nikmatilah tempatnya, dan bawalah pulang sampahmu.

Terima kasih ...
Semoga kita semua bisa sama-sama menjaga lingkungan kita dari sampah.

Salam Lestari...!

Wednesday, January 23, 2019

Laut Membawa Pergi Cintaku

Dok. Pribadi
Pada senja aku serahkan setiap doa dan harapanku. Menikmati kerinduan sembari memandang lembayung senja. Berharap dia akan kembali, setelah ribuan hari tak pernah lagi kulihat senyumnya.

Di sini, aku mengenang cerita kita yang tak tahu akan berakhir seperti apa. Kau pergi bersama laut, tanpa pesan ...
Aku masih di sini, berharap kamu akan kembali mewarnai setiap langkahku, langkah kita...

Kini ... aku sendiri. Berdiri dengan satu kaki tanpamu lagi. Dua pasang kaki penuh bahagia pernah berada di sini, mengukir kisah di atas pasir-pasir yang berkilauan ditempa sang mentari. Dua pasang mata penuh cinta pernah bersama di sini, menatap senja penuh harapan akan cinta dan kasih yang akan menyatu.

Hari itu ... saat kamu melempar senyum di antara sinar lampu dan rembulan. Berucap manis dan tak jarang menghadirkan tawa. Saat tawa indah di tepi pantai itu baru saja terukir, laut menyapunya dan aku tak pernah melihatmu lagi, tak pernah mendengar suaramu lagi.

Aku terbangun dari gelap, menatap semua keindahan yang tiba-tiba hancur. Bahkan aku tak mampu berdiri. Tubuhku lemas, kakiku terjepit reruntuhan bangunan saat aku ditemukan. Peristiwa yang merenggut puluhan nyawa dan merenggut kaki kananku. Juga merenggut laki-laki yang paling aku cintai. Entah di mana ... sampai kini tak kutemui peristirahatan terakhirnya. Masih adakah dia di sini? Kenapa tidak segera menemuiku? Aku rindu...
Aku rindu pada jemari yang selalu mengusap lembut pipi dan rambutku.
Tak bisakah kamu kembali untukku?
Kenapa engkau begitu setia pada laut hingga tak pernah lagi kembali?
Apa laut telah membuatmu jatuh cinta? Hingga lupa kalau kamu pernah mencintaiku?
Aku masih di sini ... menunggumu entah sampai kapan ... Aku akan tetap menunggu sampai kamu bilang "Aku datang untukmu." atau kamu bilang, "Berhentilah menunggu!"
Kembalilah...!
Aku butuh kepastian.

Aku masih di sini... ribuan hari kulalui, berdiri dengan satu kaki dan berharap kau akan datang menghampiri.
Tak peduli teriakan orang yang mengatakan aku gila. Menunggumu yang tak akan pernah lagi kembali. Mereka bilang kamu sudah mati, bagiku tidak. Kamu masih hidup dan akan tetap hidup, dalam hati ini.

"Rin ... ayo pulang!" Seseorang membuyarkan lamunanku.
"Sebentar."
"Mau sampai kapan di sini?"
"Sampai matahari benar-benar tenggelam." Aku menjawab tanpa menoleh sedikitpun.
Dia hanya menarik napas perlahan dan menghembuskannya tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
"Rin, sudah setahun yang lalu dan Tirta tak pernah kembali. Tidak bisakah kamu menerima kenyataan kalau dia sudah meninggal?" Pria itu kembali mengajakku bicara.
Aku menatapnya sejenak dengan ekor mataku. Aku terdiam, menunggu matahari benar-benar tenggelam.
"Kamu tahu, Tirta selalu berpesan agar aku menjagamu ketika dia pergi jauh. Aku masih di sini, karena dia sahabatku dan aku akan menjaga amanah yang dia percayakan untukku."
Aku menghela napas dan memejamkan mataku sejenak. Tak memerdulikan kalimat yang terus keluar dari bibir Arya.
"Airin ... percayalah! Dia pasti akan bahagia melihatmu bisa hidup bahagia. Kembalilah jadi Airin yang dulu. Airin yang ceria, yang tak pernah mengeluh bahkan menangis. Tirta pasti akan sangat terluka jika melihatmu seperti ini."
Aku tak menjawab. Kali ini matahari sudah tenggelam sempurna. Aku membalikkan tubuhku, berjalan perlahan dengan tongkat kaki yang menopang tubuhku. Aku bisa mendengar langkah kaki Arya mengikutiku dari belakang.
Sejak kejadian tsunami setahun lalu, keluarga dan teman-temanku tak ada yang selamat kecuali Arya. Dan dia yang setiap hari menemani langkahku. Arya, sahabat dekat Tirta. Banyak hal yang sudah kita lalui bersama. Aku tidak bisa membuka hatiku untuk Arya.
Bagiku, Arya selalu mengingatkanku pada masa lalu, mengingatkanku pada Tirta. Aku ingin pergi jauh darinya. Supaya aku bisa lupakan semuanya.

Maafkan aku, Arya...!
Ada kisah yang lebih indah menunggu kita di luar sana. Kita hanya perlu memilih jalan masing-masing...




Ditulis oleh Rin Muna
Samboja, 23 Januari 2018


#fiksi
#cerpen

Apa Yang Bisa Dilakukan Keluarga Di Rumah Untuk Dunia Literasi?

gln.kemdikbud.go.id
Keluarga di rumah sangat berperan penting dalam meningkatkan minat baca. Banyak hal yang bisa dilakukan orang tua di rumah agar si anak menjadi gemar membaca dan mencintai buku, seperti:

  • Membacakan buku kepada anak sejak dini
  • Membuat jadwal membaca bersama
  • Melakukan permainan edukatif.
  • Menulis surat kepada teman atau keluarga
  • Menuliskan kejadian menarik yang dialami keluarga
  • Membuat perpustakaan keluarga dengan berbagai koleksi bacaan.
  • Menceritakan sejarah atau memori keluarga
  • Tamasya baca keluarga ke perpustakaan, taman bacaan atau pameran buku
  • Memberikan buku sebagai hadiah
  • Dan lain-lain.
Beberapa hal di atas bisa dilakukan dalam lingkungan rumah. Anak-anak yang terbiasa dikenalkan dengan buku sejak dini akan lebih banyak mencintai buku. Orang tua juga memberikan contoh untuk meluangkan waktu membaca buku bersama. Mengajak anak-anaknya bermain dan bercerita. Juga memilih tempat-tempat liburan edukatif agar libuan si anak lebih berisi dengan ilmu yang bermanfaat. Anak-anak juga akan lebih paham dan merasa lebih baik ketika didampingi kedua orang tuanya dalam mengembangkan potensi dan rasa percaya diri.
Ada saatnya orang tua juga meninggalkan gawainya sejenak untuk mengajari anak-anak bersosialisasi dalam lingkungan keluarga. Juga menemani anak ketika belajar sembari diajak bercerita. Sebab, semua kebiasaan baik itu dimulai dari rumah dan keluarga. Memberikan perhatian dan pendidikan yang baik juga tugas kedua orang tua.


Semoga banyak orang tua yang menyadari bahwa membaca buku adalah bagian terpenting dari kemajuan pendidikan anak-anaknya. Sebab, kebiasaan membaca membuat anak-anak selalu ingin tahu hal baru dan wawasannya akan semakin kaya.


Pentingnya Menulis Untuk Anak Dan Bagaimana Memulainya?

gln.kemdikbud.go.id
Tidak hanya membaca, menulis juga penting. Karena, menulis mampu mengasah kemampuan anak dalam memahami setiap teks yang ia baca dalam bacaan sehari-hari maupun kejadian yang terjadi di sekitarnya.
Menulis bisa tentang apa saja, misalnya:

  • Menceritakan hari pertama masuk sekolah
  • Kejadian paling memalukan yang pernah dialami.
  • Apa yang akan dilakukan saat liburan nanti?
  • Apa yang akan dilakukan ketika melihat teman bersedih?
  • Mengapa pelangi muncul setelah hujan?
  • Kalau bisa keliling dunia, tempat manakah yang akan dikunjungi?
  • Siapakah tokoh terkenal yang ingin ditemui? Mengapa?
Beberapa contoh di atas adalah contoh sederhana supaya anak-anak bisa memulai bagaimana ia menulis. Menceritakan kehidupan sehari-hari adalah salah satu cara mengajarkan anak-anak mengasah kemampuan menulisnya. Membiasakan anak menulis juga bukan hanya tugas seorang guru di sekolah. Orang tua memiliki peranan sangat penting dalam membiasakan anak-anaknya untuk mencintai literasi baca tulis. Sebagai wujud kasih sayang dan perhatian orang tua terhadap anaknya. Anak bukan hanya merasa bahagia bisa menulis cerita, namun juga bahagia karena ada orang tua yang mau mendengarkan setiap cerita yang ingin mereka ceritakan. Ada banyak hal menarik yang bisa saja ingin diceritakan oleh anak. Namun, terkadang orang tua sudah sibuk dengan kegiatannya dan jarang sekali menjadi pendengar bagi anak apalagi membimbing anak untuk belajar menulis cerita. Memberikan buku diary pada anak, dapat membuat anak senang bercerita dalam diary-nya. Ini juga merupakan salah satu cara mengasah kemampuan menulis anak-anak. 

Menulis, bisa dimulai dari mana saja dan kapan saja. Cara paling mudah dan paling dekat adalah menulis diary. Menceritakan kejadian yang terjadi di sekitar kita dalam susunan kata-kata. Ini bisa merangsang anak dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan potensi dirinya.





Literasi Baca-Tulis

www.gln.kemdikbud.go.id
Apa itu Literasi Baca Tulis?

Literasi Baca  adalah kemampuan seseorang untuk memahami isi teks tertulis baik tersirat maupun tersurat dan menggunakannya untuk mengembangkan potensi diri dan ilmu pengetahuan.
Literasi Tulis adalah kemampuan menuangkan gagasan atau ide ke dalam tulisan dengan susunan yang baik untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosial.

Dari kedua pengertian di atas, bisa disimpulkan bahwa Literasi Baca Tulis adalah kemampuan untuk memahami isi teks dan menuangkan gagasan atau ide ke dalam sebuah tulisan sebagai hasil dari kemampuan memahami teks itu sendiri.

Saat ini, pengertian teks sudah sangat luas. Bukan terpaku pada selembar kertas berupa tulisan. Namun, teks juga merupakan kejadian atau peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Kemampuan untuk memahami kejadian atau peristiwa yang ada di sekitar kita juga bisa disebut sebagai literasi.

Kenapa membaca dan menulis itu penting?

Membaca dan menulis ini sangat penting karena ini adalah modal utama untuk bisa mengembangkan diri menuju literasi selanjutnya. Membaca dan menulis menjadi akar pokok dalam dunia literasi. Kita tidak akan bisa mengembangkan diri pada literasi selanjutnya apabila literasi baca tulis ini belum kita praktikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada 8 alasan kenapa literasi membaca dan menulis itu penting seperti berikut:
1. Sebagai kunci mempelajari ilmu pengetahuan.
2. Meningkatkan kemampuan berbahasa dan memperkaya kosakata.
3. Meningkatkan kreativitas dan imajinasi.
4. Meningkatkan empati.
5. Meningkatkan konsentrasi dan fokus
6. Mengurangi stres.
7. Mengembangkan minat pada hal-hal baru.
8. Sebagai hiburan.


Proses berliterasi:
Dalam menggiatkan literasi baca tulis, tentunya ada proses yang harus dijalani secara bertahap. Tidak terjadi secara otomatis. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui yakni:
a. Membaca dan menulis bersuara
b. Membaca dan menulis terpandu
c. Membaca dan menulis bersama
d. Membaca dan menulis mandiri.
Empat tahapan ini harus dilalui untuk menjadikan anak kita bisa membaca dan menulis secara mandiri.

Ada beberapa cara untuk menggiatkan literasi di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Di sekolah, murid-murid dibiasakan untuk membaca sejumlah buku pada waktu tertentu.Menuliskan hal-hal menarik dari buku yang dibaca.Membuat kelompok diskusi buku. Membuat perpustakaan di kelas.Mengundang orang tua, sastrawan atau pegiat literasi untuk membacakan buku di sekolah. Mengadakan konferensi penulis muda. Mengundang sastrawan atau penulis untuk bercerita tentang proses mereka, dan lain-lain.

Di Masyarakat, literasi baca tulis bisa dilakukan dengan membuat berbagai acara dan event literasi seperti mendongeng di taman kota, mengadakan festival literasi, membentuk kampung literasi, menyediakan pojok baca di tempat umum dan lain-lain.

Berbicara soal literasi baca tulis, sasaran utamanya adalah anak-anak usia dini. Membiasakan anak-anak untuk bisa membaca memang baik, namun akan lebih baik lagi jika kita membuat anak-anak mencintai buku. Jika sudah cinta pada buku, mereka akan senang membaca buku dan menikmatinya. Ini bisa menjadi sebuah kebiasaan yang tertanam sejak kecil hingga dewasa.

Untuk bisa mencapai literasi yang lain, maka literasi baca tulis harus menjadi prioritas utama sebagai dasar untuk menghadapi kehidupan sosial masyarakat di masa yang akan datang.





Sumber : gln.kemdikbud.go.id



Tuesday, January 22, 2019

Membuat Hiasan Dinding dari Stick Ice Cream

Dok. Pribadi My Facebook
Hari ini, aku kedatangan beberapa remaja yang sering nongkrong si taman baca. Sebenarnya, sejak siang hari mereka sudah bergantian ada di sini. Ada yang membaca buku, ada yang ke sini sekedar untuk bermain dan sebagainya.

Sore hari, Gugun baru saja datang. Ia bersekolah di SMA Negeri 1 Samboja, sekolahnya lumayan jauh sehingga sampai rumah sudah agak sore. Hari sebelumnya, ia dan beberapa anak sudah berlatih membuat lukisan dengan media cat minyak dan stick ice cream. Jadi, ketika ia datang, dia langsung bertanya. "Bikin lagi kah, Mbak?" Langsung saja aku jawab, "Buatlah." karena saat ia datang, aku sedang sibuk membuat bross.

Akhirnya, Aisyah, Evi dan Budi kembali melukis di atas stick ice cream menggunakan cat minyak. Sebenarnya, lebih mudah menggunakan cat akrilik, lebih mudah dibersihkan dan cepat kering. Namun, karena aku hanya punya stock cat minyak, itulah yang aku pakai. Daripada beli baru, duitnya juga nggak ada. Akhirnya pakai bahan seadanya saja. Yang penting kreatif dan mereka nggak protes dengan alat dan bahan yang seadanya.

Aku bahagia mereka bisa berkunjung ke sini walau hanya mengisi waktu luang dengan menggambar. Mereka juga tak lepas dari akses informasi digital sesuai dengan zamannya. Sekarang sudah zamannya semua serba instan. Bahkan, dalam dunia digital kita bisa memperoleh akses informasi dengan mudah.
Seiring dengan program pemerintah yang akhirnya bisa memberikan kemudahan akses untuk desa dengan memasang jaringan wifi. Hanya wifi inilah satu-satunya jalan akses untuk mendapatkan informasi seluas-luasnya. Karena kalau jaringan seluler biasa, sulit sekali mendapatkan signal. Terlebih mau mengakses internet.
Dengan adanya akses internet, anak-anak aku ajari mencari sumber referensi seni yang menarik kemudian mengaplikasikannya dalam kegiatan sehari-hari.
Tak jarang aku mendengar mereka mengeluh. "Bikin apa ya? Nggak bisa mikir nah mau bikin apa," celetuknya ketika baru memulai.
Namun, ketika diarahkan, anak-anak mampu bereksplorasi dengan sendirinya dan menghasilkan sebuah karya.
Ada yang takut gambarnya jelek sehingga tidak mau melatih dirinya untuk menggambar karena malu dengan teman lain yang sudah lebih baik. Namun, aku selalu mengatakan kalau tidak ada karya yang jelek. Semua karya itu bagus. Tinggal bagaimana cara menikmatinya saja. Itu bagian dari menyemangati agar anak-anak tak patah semangatnya.
Tidak melulu mengatakan hal yang baik-baik. Terkadang aku juga bercanda sambil bilang "Jelek." ketika melihat karya mereka. Bukan dengan maksud untuk menjatuhkan mental yang sedang belajar, tapi untuk menguatkan mentalnya agar bisa menjadi lebih baik lagi. Kalimat yang dibubuhi dengan candaan biasanya lebih santai, tidak membuat jiwa anak-anak down karena komentar yang belum baik. Memberi pengertian pada mereka menjadi salah satu solusi untuk membuat mereka bisa lebih bersemangat lagi dalam belajar dan berlatih.
Di taman baca, aku tidak mengharuskan anak-anak belajar secara formal. Mereka lebih banyak belajar bersosialisasi, belajar mengenal lingkungan dan belajar membaca setiap fenomena atau peristiwa yang ada di sekitar mereka.
Sebab literasi tidak hanya bergelut pada baca tulis, walau dasarnya memang baca tulis dan difokuskan pada anak-anak. Kalau di taman baca yang mayoritasnya anak remaja. Tentunya menjad sebuah tantangan tersendiri. Membuat mereka mampu membaca kejadian-kejadian di sekitarnya, menganalisa dengan baik dan mengaplikasikannyad alam kehidupan sehari-hari merupakan salah satu bentuk literasi.
Demikian sedikit cerita yang bisa aku bagi hari ini.
Karena aku sudah ngantuk berat dan harus tidur.
Sampai bertemu esok lagi.
Semoga ada cerita-cerita indah yang bisa aku bagikan untuk para pembaca dan kalian para pejuang literasi.


Video Membuat Hiasan Dinding dari Stick Ice Cream
Samboja, 22 Januari 2019

Jadi Juri Lomba Menulis dalam Education Expo 2019

Dok. Pribadi
Hari Minggu, 20 Oktober 2018 aku kembali dipercaya oleh pihak Heart and Soul Publishing untuk menjadi juri lomba menulis kategori A (Usia 8-14 tahun). Sedikit keki sih sebenernya karena harus bersanding dengan Mbak Luluk Lee (Penulis Novel) dan Afiani Gobel. Terlebih aku ini bukan penulis profesional, hanya senang dengan dunia kepenulisan dan memang doyan nulis sih, hehehe...
Hari sebelumnya aku memang sudah datang ke kota Balikpapan tercinta ini. Kota kecil yang penuh dengan kenangan-kenangan masa remajaku. Aku datang ke Plaza Balikpapan pukul 13.00 WITA sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan oleh pihak penyelenggara acara.
Di sini, aku menjadi juri untuk lomba. Kalau tahun lalu, acara pertama Annual Fashion Book 1.0 yang diselenggarakan Januari 2018, aku ikut memamerkan salah satu karya buku antologiku. Sampai saat ini, aku masih bergelut dalam penulisan buku antologi. Karena ada banyak alasan untuk menerbitkan buku indie, salah satunya aku nggak punya duit.
Sampai saat ini juga aku masih ikutan nulis buku antologi, ada 19 buku antologi yang sudah terbit hingga hari ini. 1 buku terbitan Kantor Bahasa Kalimantan Timur, 3 buku terbitan Hazerain dan 15 buku terbitan FAM Publishing.
Aku bahagia bisa ada di sini, bangga dengan diriku sendiri. Jiiiaaah... kepedean amat yak!? Yah ... mau siapa lagi yang banggain kalau bukan diriku sendiri. Setidaknya, itu bisa menjadikan aku lebih semangat lagi untuk menulis. Karena terkadang kita kesulitan mencari semangat dan inspirasi, semua itu harus datang dari diri sendiri.
Sekitar pukul 17.00 WITA, aku pamit untuk pulang ke Samboja. Sedih sih karena nggak bisa ikutin acaranya sampai selesai. karena ketika aku pulang, sedang berlangsung Talkshow yang menghadirkan Ibu Norhayati Wahab (Ambis), Ibu Rulyta (Kampoeng Literasi), Mas Suyitna ( Ketua Mata Pena Enggang) dan Mbak Indah (Heart & Soul).
Acara Annual Fashion Book 2.0 kali ini berlangsung dari siang hingga malam hari. Dimeriahkan dengan berbagai acara literasi dalam Education Expo.
Aku pastinya agak sedih karena nggak bisa mengikuti acaranya sampai selesai. Aku lihat ada teman seniman yang ikut meramaikan acaranya, sayangnya tidak bisa bertemu karena sekitar jam 19:30 WITA aku sudah ada di rumah Samboja.
Malam ini, ketika aku membuka salah satu media sosial Facebook, aku mendapati Pak Herry Trunajaya mendapatkan penghargaan dari Heart & Soul Publishing dalam acara Annual Fashion Book 2.0. Semoga terus menginspirasi dan menjadikan generasi  muda lebih semangat lagi dalam berkarya.
Dok. Pribadi ( Annual Fashion Book 2.0 Balikpapan, 20 Januari 2019)

Meet & Greet Red Riding Book Part.3 | Pasar Buku Sehari

Dok. Pribadi 13 Oktober 2018
13 Oktober 2018 saya diminta oleh pihak Heart & Soul Publishing House Balikpapan untuk mengisi salah satu acara di Plaza Kebun Sayur. Saya diajak untuk Meet & Greet dengan kawan-kawan literasi. Duh, kok berasa punya fans ya pakai acara Meet & Greet segala? wkwkwk...
Kebetulan hari itu aku diberi kepercayaan untuk meramaikan acara tersebut, menjadi salah satu perwakilan Duta Baca Kaltim 2018 dan juga Founder Taman Bacaan Bunga Kertas.

Di sini saya bertemu dengan dua penulis hebat asal Balikpapan. Yakni, Mba Ayu Emil ( Penulis buku IN PLAZA) dan Mbak Kaka HY (Penulis Gagas Media). Dari mereka aku belajar banyak tentang bagaimana menjadi penulis yang baik. Bagaimana caranya mendapatkan ide cerita dan karya kita original dengan mengangkat tema di sekitar lingkungan kita. Inspirasi bisa datang kapan saja dan di mana saja. Bahkan memang sering muncul ketika kita sedang berada didalam kesibukan dan kesulitan untuk mengeksekusi ide tersebut, akhirnya nanti lupa.

Kalau Mbak Ayu Emil dan Mbak Kaka HY berbagi pengalaman tentang dunia kepenulisan. Hari itu saya berbagi pengalaman menjadi seorang Juara Favorite Duta Baca Kaltim 2018 sekaligus pengalaman saya dalam membuat sebuah Taman Bacaan. Taman Bacaan yang saya berdirikan secara mandiri dan harapan saya bisa membuka taman baca di daerah-daerah lain terutama daerah yang minim akses transportasi dan informasi.

Dari apa yang saya lakukan, saya mendapatkan kebahagiaan tersendiri. Dan saya tahu bahwa saya tidak sendiri. Ada banyak orang yang bisa mengisi hari-hari saya terutama anak-anak yang sering berkunjung ke taman baca. Mereka bukan hanya sekedar datang, duduk diam untuk membaca. Tapi, mereka juga bisa bermain bersama, saling berbagi cerita dan bersosialisasi. Mereka juga sering belajar bareng di taman baca. Atau mengerjakan tugas-tugas sekolahnya di sini. Aku menjadi salah satu pendengar dan sahabat mereka. Tak ingin ada jarak yang terlampau jauh, jangan heran kalau semua anak-anak taman baca memanggilku "Mbak", bukannya dipanggil "Ibu". Bagiku, anak-anak adalah sahabat, mereka akan tumbuh menjadi remaja dan dewasa.

Itulah sedikit cerita yang aku bagi di acara Red Ridding Book yang diselenggarakan oleh Heart & Soul Publishing House, NBC ( Nulis Buku Club) dan beberapa komunitas yang ikut berpartisipasi di dalamnya.
Di sini, aku juga sempatkan untuk membeli buku-buku yang dipamerkan dan dijual di acara tersebut.
Oh ya, kebetulan dalama acara ini juga ada penampilan dari Atap Jerami dan pelelangan karya lukisan untuk korban gempa dan tsunami di Palu.

Semoga acara seperti ini menjadi ajang untuk mencapai Indonesia menjadi bangsa yang literat.


Salam Literasi untuk Negeri ...!

Sunday, January 20, 2019

Minta Sumbangan Warga Untuk Taman Baca


Beberapa waktu lalu, salah seorang anak remaja yang sering ke taman baca mengeluhkan beberapa hal. Seperti, stok alat tulis dan alat lukis yang sudah menipis bahkan hanya sisa-sisa yang sudah tidak bisa digunakan lagi.
Ada inisiatif yang muncul dari benak mereka ketika mereka mau menggambar dan aku sudab tidak punya uang untuk membeli cat warna.
"Mbak, gimana kalau kita keliling minta sumbangan ke warga?" tanya Gugun beberapa waktu lalu.
Pertanyaannya tidak perlu membuatku berpikir panjang untuk menjawab. Aku langsung bilang "Jangan!"
Aku tahu, sebuah taman baca yang aku buka secara mandiri, dengan biaya sendiri tentunya akan terasa sangat berat terlebih aku memang tidak punya penghasilan yang tetap. Tapi, setiap bulannya aku harus berusaha mendapatkan donasi buku, atau membeli buku baru dengan uang pribadi.
Sebuah tantangan yang berat ketika ingin memfasilitasi anak-anak namun kemampuan yang aku miliki terbatas.
Kenapa aku tidak mau meminta sumbangan ke rumah-rumah warga sekitar seperti yang dilakukan panitia HUT RI atau HUT Desa ketika akan menyelenggarakan sebuah acara? Bukannya sah-sah saja?
Warga juga tidak akan keberatan jika dimintai sumbangan untuk membelikan alat tulis maupun alat lukis. Tapi, aku hanya tidak ingin jika ada warga yang memang sebenarnya keberatan. Maka, aku ingin masyarakat sekitar bisa sadar dan membantu aktivitas di taman baca. Sebab, aku belum mampu memberikan yang terbaik untuk warga. Aku mau mereka yang datang ke taman baca dengan hati ikhlad jika memang ingin menyumbang atau berdonasi untuk taman baca.
Aku lebih memilih donasi berupa barang daripada dalam bentuk uang. Misalnya, berdonasi buku, rak, meja, kursi dan lain-lain.
Aku tidak mau meminta sumbangan karena banyak alasan yang sudah aku pertimbangkan sejak awal aku mendirikan taman baca. Walau anak-anak bisa belajar secara gratis, berkreatifitas sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Menggunakan alat tulis maupun alat lukis tanpa membayar. Alat-alat itu aku dapatkan dari donasi teman-teman seniman di Balikpapan yang telah menggalang dana untuk taman bacaku.
Alhamdulillah, walau belum ada warga yang ikut peduli dengan taman bacaan yang aku buat. Ada beberapa teman penulis yang peduli dan mengirimkan donasi buku ke taman baca. Rata-rata semua donasi buku aku terima dari pulau Jawa. Selebihnya aku beli sendiri.
Hingga saat ini baru ada sekitar 800 buku di taman baca. Masih sangat jauh dari jumlah yang seharusnya yakni 5000 buku. Semoga saja taman bacaku bisa semakin berkembang dan koleksi bukunya semakin banyak.
Dan sampai hari ini, hampir setahun taman baca yang aku dirikan sudah mendapat bantuan dari beberapa rekan penulis, teman-teman pelaku seni dan perusahaan terdekat.
Silahkan follow instagram @tbm.bungakertas lihat di video ini untuk melihat aktivitas di taman baca:


Saya berharap, taman baca ini bisa menjadi pusat belajar dan berkreasi untuk anak-anak, remaja dan pemuda-pemudi desa Beringin Agung. Saya juga sedang mencoba membuat tempat untuk berjualan di sebelahnya, supaya saya bisa menghasilkan uang sendiri untuk taman baca dan menambah koleksi buku tanpa harus mengandalkan donasi yang tidak bisa dipastikan ada setiap minggu atau setiap bulannya.
Ukuran bangunannya memang masih sangat kecil dan kadang sampai harus masuk ke ruangan pribadi rumah saya. Tapi, itu tidak menjadi masalah bagi saya, yang penting mereka mau berkumpul di sini dan saya bisa melihat apa yang mereka lakukan tidak melanggar norma dan etika di masyarakat.
Mereka wajib membaca buku terlebih dahulu sebelum bermain bersama.
Terima kasih untuk semua pihak yang telah mendukung adanya taman baca ini. Semoga bisa bermanfaat untuk masyarakat desa Beringin Agung pada khususnya dan seluruh warga Indonesia di mana pun anda berada.

Salam literasi...!

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas