Menu BacaanMu
- Perfect Hero (546)
- Puisi (122)
- My Experience (121)
- Rumah Literasi Kreatif (87)
- Novel MLB (80)
- Cerpen (72)
- Then Love (60)
- Belajar Menulis (59)
- Esai (56)
- Artikel (44)
- Puisi Akrostik (43)
- Review Buku (22)
- Relima Perpusnas RI (19)
- Review Drama (18)
- Partner Kondangan (12)
- Ekonomi & Bisnis (9)
- Aku dan Taman Bacaku (8)
- Novel The Cakra (8)
- Pendamping Nakal (8)
- Wisata (8)
- Dasawisma (6)
- Kumpulan Novel (6)
- Review Aplikasi (6)
- Opini (5)
- Daily (4)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Biografi Penulis (2)
- Donasi (1)
- Dongeng (1)
- Feature (1)
- JNE (1)
- Product (1)
Saturday, August 15, 2026
Tuesday, May 19, 2026
Pengalaman Mengikuti Bimtek Relima 2026 Hari Pertama, 19 Mei 2026
Fokus utama Relima bukan sekadar kegiatan membaca buku, tetapi juga mengadvokasi kegiatan literasi, membangun jejaring dengan pemerintah daerah, mengadakan kegiatan literasi masyarakat, pendampingan komunitas, hingga penguatan perpustakaan berbasis inklusi sosial.
Tidak hanya itu, Relima juga dituntut untuk memenuhi capaian atau target yang telah ditentukan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Relima dianggap berhasil jika capaian kinerja bisa dipenuhi 100%.
Tidak hanya itu, Relima juga memiliki banyak tugas dan kegiatan untuk menjaga nyala api literasi tetap menyala dan memiliki program yang berkelanjutan. Sehingga, ketika kontrak Relima sudah selesai, Relima tetap bisa bergerak dan berdampak di masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan.
Aku berharap, program Relima ini bisa terus berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya agar buku-buku di taman baca dan perpustakaan bisa tetap hidup dan menghidupkan.
Juknis Relima Tahun 2026 dapat dilihat dari link resmi Perpusnas RI berikut ini: https://linktr.ee/InfoRelima2026Monday, May 18, 2026
Launching Relima Perpusnas RI Tahun 2026, Selamat Bertugas, Semoga Bermanfaat!
Menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional adalah mimpi kecil yang pernah aku ukir beberapa tahun lalu. Sejak tahun 2017, aku sudah aktif menulis bersama sebuah komunitas menulis. Saat itu, banyak hal yang aku lakukan agar aku bisa terus berlatih dan belajar menulis lebih baik lagi. Sebab, aku tidak mengerti apa pun tentang dunia kepenulisan saat itu.
Setelah belajar banyak di komunitas, aku mulai melangkah ke tempat lain untuk mengasah kemampuan menulis. Menjejaki beberapa platform menulis online.
Pertama kali menulis, tidak ada yang berkenan membaca tulisanku. Mungkin, hanya aku sendiri yang membacanya setelah dirilis selama beberapa minggu atau beberapa bulan. Tapi aku tetap menulis hingga suatu hari tulisanku dilirik oleh editor sebuah platform online. Dari situ, ilmu kepenulisanku terus berkembang karena editor selalu memberikan ilmu, materi dan tantangan baru dalam dunia kepenulisan.
Ada 2 tempat yang terasa begitu sulit untuk aku masuki, salah satunya adalah Perpusnas RI. Bagiku, tidak semua penulis, tulisannya bisa diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional. Tulisan-tulisan yang diterbitkan oleh Perpusnas adalah tulisan yang berkualitas tinggi. Aku ingin tulisanku bisa diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional, tapi aku selalu merasa "tidak mungkin", sebab keinginan itu terlalu tinggi.
Ternyata istilah "tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini" benar-benar ada. Tahun 2025, aku berhasil menjadi bagian dari Perpusnas RI melalui program Relima Perpusnas RI 2025. Tentunya tidak mudah untuk bisa menjadi bagian dari Perpusnas RI. Kita wajib mengirimkan esai tulisan kita agar bisa lolos kurasi.
Di akhir pengabdian, perasaanku tak karuan. Terlebih dengan kebijakan pemerintah tentang efisiensi. Perpustakaan Nasional RI juga tak luput dari kebijakan efisiensi anggaran. Saat itu, semangatku mulai meredup. Bagaimana kita yang hanya masyarakat biasa, bisa bergerak jika stakeholder penting atau pemangku kepentingan saja tidak berdaya dan tidak mampu membuat kami menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Kemudian, 31 Maret 2025, aku mendapatkan kabar gembira tentang keberlanjutan program Relima. Admin Perpusnas RI yang baru, memintaku untuk mengirimkan esai baru sebelum tanggal 5 April 2026. Aku tidak lagi diminta persyaratan administrasi karena sudah lolos administrasi Relima 2025. Tapi aku wajib mengirimkan esai baru tentang perjalanan Relima tahun sebelumnya.
Esai berjudul "Relima Sebagai Role Model Literasi Kesejahteraan" membawaku lolos kembali menjadi Relima Tahun 2026.
Sebenarnya, aku ingin vakum sementara dari kegiatan literasi karena aku sedang hamil anak ke-3. Aku khawatir tidak bisa memaksimalkan tugasku sebagai Relima karena akan repot dengan bayi baru. Tapi kemudian, kawanku memberi semangat untuk terus berlanjut. Aku juga khawatir jika Perpusnas RI tidak akan lagi percaya padaku jika aku sendiri menjadikan "kehamilan" ini sebagai rintangan yang tidak bisa aku takhlukan.
Selain launching program Relima Tahun 2026, juga ada kegiatan pengukuhan Duta Baca Indonesia tahun 2026. Mas Gol A Gong masih dipercaya oleh Perpusnas RI untuk menjadi Duta Baca Indonesia tahun ini. Program Safari Literasi yang beliau canangkan, memiliki dampak besar bagi perkembangan literasi di Indonesia.
Thursday, October 30, 2025
Sebuah Langkah Kecil Menuju Cahaya Literasi di Kalimantan Timur
Sebuah Langkah Kecil Menuju Cahaya Literasi di Kalimantan Timur
Senin, 27 Oktober 2025 menjadi hari yang tak akan mudah kulupakan. Pagi itu, aku melangkah dari Kota Tenggarong menuju Samarinda untuk menghadiri acara Gebyar Anugerah Literasi dan Talkshow di Gedung Olah Bebaya, Pendopo Lamin Etam. Sebuah kegiatan besar yang mengusung tema “Membumikan Literasi, Menumbuhkan Generasi Emas”, dihadiri oleh berbagai tokoh penting—termasuk Gubernur Kalimantan Timur dan Bunda Literasi Kaltim.
Perjalanan yang kutempuh terasa panjang, namun setiap kilometer adalah jejak semangat. Aku datang sebagai bagian dari Relima (Relawan Literasi Masyarakat) Kutai Kartanegara, membawa harapan sederhana: ingin menjadi saksi bahwa gerakan literasi di Kalimantan Timur benar-benar hidup dan dihargai.
Setibanya di Pendopo Lamin Etam, suasana terasa hangat dan penuh semangat. Para pegiat literasi dari berbagai kabupaten hadir dengan wajah berseri. Panggung acara dihiasi dengan nuansa budaya khas Kalimantan Timur, lengkap dengan tarian selamat datang dari siswa SMP Negeri 3 Tenggarong yang menambah suasana megah dan membanggakan.
Bagian paling mengharukan dalam acara ini adalah penganugerahan penghargaan peningkatan kepustakawanan dan literasi masyarakat, yang meliputi tujuh kategori lomba—mulai dari Lomba Perpustakaan SD, SMP, SMA/SMK, Perpustakaan Desa, Lomba Resensi, Mewarnai, hingga Lomba Puisi. Satu per satu nama penerima penghargaan dipanggil, disambut tepuk tangan hangat dari seluruh hadirin. Di antara mereka ada pustakawan, siswa, guru, dan pegiat literasi yang telah berjuang dalam diam untuk menyalakan api baca di lingkungannya masing-masing.
Melihat wajah-wajah penuh haru di atas panggung membuatku teringat pada semua perjuangan kecil di daerah—di rumah baca sederhana, di taman bacaan swadaya, di desa-desa yang jauh dari hiruk pikuk kota. Ternyata, perjuangan mereka tidak sia-sia. Pemerintah Provinsi Kaltim benar-benar memberikan ruang dan apresiasi bagi setiap insan yang mencintai dunia literasi.
Momen paling berkesan adalah ketika aku berkesempatan berjabat tangan langsung dengan Bapak Gubernur Kalimantan Timur. Rasanya luar biasa—campuran antara haru, bangga, dan syukur. Dalam genggaman singkat itu, aku seperti menemukan kembali makna perjuangan kecil yang selama ini kulakukan di komunitas literasi. Bahwa sekecil apa pun upaya kita, ketika dilakukan dengan tulus, akan selalu memiliki arti di mata orang lain.
Aku juga merasa bahagia bisa menyapa Bunda Literasi Kaltim, sosok yang begitu anggun dalam balutan pakaian yang khas dan nyentrik. Ciri khas beliau memang seperti itu dan aku sangat suka melihatnya karena beliau sangat fashionable dan selalu tampil bak ratu kerajaan.
Meski harus mengorbankan acara penutupan pelatihan PKT Jospol di SMK Negeri 2 Tenggarong, aku tidak menyesal sedikit pun. Sebab hari itu aku belajar bahwa perjuangan literasi bukan hanya tentang hadir di tempat yang mudah, tapi tentang berani menempuh jarak demi menyampaikan pesan kebaikan.
Sore harinya aku kembali ke Samboja dengan rasa lelah yang indah. Di jalan, angin sore menampar lembut wajahku, seolah berbisik, “Langkahmu hari ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan panjang menuju terang.”
Dan aku tahu, perjuangan ini belum selesai—karena setiap pertemuan, setiap jabatan tangan, dan setiap cerita yang dibawa pulang… adalah bagian dari sejarah kecil gerakan literasi Kalimantan Timur.
Jejak Senja di Perpustakaan Musholla Al-Fattah, Oleh: Rin Muna
Friday, October 10, 2025
Jejak Kisah di Perpustakaan Cerdas Desa Ponoragan
Thursday, October 9, 2025
Deras Hujan Literasi di Rempanga dan Cerita Usai Read Aloud
16 September 2025.
Hari itu, udara di Desa Rempanga terasa hangat dan bersahabat ketika kami tiba untuk melakukan kegiatan Read Aloud dan sosialisasi program Relima dari Perpustakaan Nasional RI. Langit masih biru pucat, angin berhembus lembut, dan anak-anak yang duduk bersila di ruang perpustakaan tampak antusias mendengarkan cerita yang kami bacakan. Suasana begitu hidup, penuh tawa, tepuk tangan, dan mata berbinar yang membuat lelah perjalanan terasa lenyap begitu saja.
Sesi Read Aloud menjadi pembuka yang menyenangkan. Kami berbagi kisah dari buku-buku pilihan yang sarat pesan moral dan semangat literasi. Di sela kegiatan, beberapa anak ikut menirukan suara tokoh dalam cerita, ada pula yang dengan polosnya bertanya hal-hal lucu yang membuat kami semua tertawa. Momen sederhana itu terasa istimewa, mengingatkan bahwa literasi bukan sekadar membaca, tetapi tentang menghidupkan imajinasi dan menumbuhkan rasa ingin tahu.
Usai sesi membaca bersama, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi program Relima. Saya menjelaskan tujuan utama Relima — Revitalisasi Literasi Masyarakat — agar masyarakat desa memahami bahwa keberadaan perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi jantung pengetahuan yang bisa menggerakkan perubahan. Antusiasme warga begitu terasa. Ibu Kepala Desa Rempanga bahkan ikut menanggapi dengan semangat, bercerita tentang bagaimana anak-anak dan remaja di desanya mulai gemar membaca setelah kegiatan literasi sering diadakan.
Namun, begitu kegiatan selesai dan kami berkemas untuk pulang, langit tiba-tiba berubah. Awan gelap menggantung berat di atas atap balai desa, lalu hujan turun deras tanpa jeda. Jalanan desa yang tadinya berdebu seketika berubah menjadi aliran air kecil yang menari-nari di antara rerumputan. Kami semua terjebak di sana, menunggu reda sambil menyeruput teh hangat yang disuguhkan dengan ramah.
Tak lama kemudian, Ibu Kepala Desa datang menghampiri kami dengan senyum tulus. “Sudah hujan begini, jangan pulang dulu. Ayo makan siang,” ujarnya sembari membawakan beberapa bungkus nasi yang ia beli dari warung terdekat.
Ada sayur asam yang segar, ayam bakar, dan sambal terasi yang menggugah selera. Kami makan sambil berbagi cerita tentang literasi, tentang anak-anak desa, dan tentang hujan yang tak kunjung reda di luar sana.
Hujan di Rempanga sore itu meninggalkan kesan mendalam. Bukan hanya karena kami sempat terjebak cuaca, tetapi karena hangatnya sambutan dan keramahan yang kami terima. Di balik hujan deras dan sepiring nasi hangat, saya menyadari bahwa semangat literasi memang tumbuh dari hal-hal sederhana. Dari tawa anak-anak, dari dukungan pemerintah desa, dan dari kepedulian bersama untuk menyalakan api pengetahuan.
Kami pulang saat hujan mulai reda, dengan hati penuh syukur dan pikiran yang kembali segar. Rempanga memberi pelajaran bahwa literasi bukan hanya tentang buku—tetapi juga tentang hubungan antarmanusia, tentang berbagi, dan tentang kehangatan yang tumbuh dari setiap cerita yang kita bawa.
Monday, October 6, 2025
Mengejar Pagi di Antara Gotong Royong dan Gelombang Siaran Radio IDC Kota Balikpapan
Pagi itu aku bangun lebih cepat dari biasanya. Udara Samboja masih basah oleh embun, tapi di kepala sudah ramai daftar kegiatan hari ini. Sebagai ketua RT, aku harus ikut gotong-royong di lingkungan RT 3. Ibu-ibu kelompok Dasawisma Kantil mengajak untuk bergotong-royong membersihkan arena tanam karena ingin memulai kembali menanam sayuran. Di sisi lain, aku juga punya jadwal penting, yaknu mengisi siaran di Radio IDC Balikpapan, mewakili Relima Perpusnas RI lokus Kutai Kartanegara, bersama sahabat Relima Balikpapan (Budi Utomo). Aku tidak boleh terlambat karena jam tayang siaran tidak mungkin diubah.
Dua peran di hari yang sama, sebagai pemimpin lingkungan dan relawan literasi.
Aku tersenyum sendiri membayangkannya. Rasanya seperti hidup yang berlari dengan double sepatu. Satu untuk tanggung jawab sosial, satu lagi untuk panggilan jiwa.
Begitu gotong royong selesai, aku langsung bergegas berganti baju, membawa berkas kecil yang berisi catatan tentang program literasi. Suamiku sudah menunggu di depan rumah dengan kendaraan yang mesinnya berderum pelan.
“Sudah siap?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk sambil menarik napas dalam. “Siap, asalkan kamu ngebutnya jangan keterlaluan,” kataku setengah bercanda.
Dia tertawa kecil, dan dalam sekejap kami sudah melaju meninggalkan Samboja. Biasanya aku butuh satu jam tiga puluh menit untuk sampai ke Balikpapan jika membawa motor sendiri. Tapi pagi itu, berkat suamiku yang lihai di jalan, kami tiba dalam empat puluh lima menit saja. Aku merasa seperti sedang berpacu dengan waktu, tapi kali ini waktu berpihak padaku.
Pukul 10.00 WITA, siaran dimulai. Suasana studio Radio IDC Balikpapan terasa hangat, penuh antusiasme. Aku duduk di hadapan mikrofon, bersama perwakilan Relima dari Balikpapan, membahas hal yang paling aku cintai, yakni literasi dan gerakan Relima di dua wilayah yang berbeda namun sejiwa, Balikpapan dan Kutai Kartanegara.
Kami bercerita tentang bagaimana Relima hadir sebagai jembatan antara masyarakat dan perpustakaan, tentang semangat relawan yang mendirikan pojok baca di musholla, di rumah pribadi, bahkan di warung kopi. Tentang tantangan menghadirkan buku ke tempat-tempat yang jauh dari pusat kota, dan tentang rasa bahagia ketika melihat anak-anak mulai jatuh cinta pada buku pertama mereka.
Ada satu momen yang paling aku ingat ketika penyiar bertanya, “Apa yang membuat Ibu Rin terus bertahan di dunia literasi, padahal sibuk juga mengurus lingkungan?”
Aku sempat diam beberapa detik, lalu menjawab pelan tapi mantap,
“Karena aku ingin menjadi orang yang bermanfaat seperti pesan Buya Hamka. Aku tidak ingin menjadi orang yang sekedar hidup. Aku ingin punya arti melalui literasi.”
Ruang siaran terasa hening sesaat, lalu tepuk tangan kecil terdengar. Aku tahu, bukan karena kalimatku luar biasa, tapi karena semua orang di ruangan itu merasakannya juga. Kami sama-sama percaya, literasi adalah kerja hati, bukan hanya kerja tangan.
Siaran berakhir sekitar tengah hari. Aku keluar studio dengan rasa lega dan bahagia yang sulit dijelaskan. Suamiku sudah menunggu di luar dengan senyum tenangnya.
"Tadi dengerin aku siaran, nggak?" tanyaku dengan senyum manja seperti biasa.
"Nggak," jawab suamiku.
Aku mengerucutkan bibirku. Sedikit kecewa karena tidak ada komentar dari suami tercinta.
"Nggak tahu frekuensinya," ucap suamiku lagi.
Ya sudahlah. Tidak apa-apa. Ada bagusnya juga tidak mendengarkan dan tidak tahu apa yang aku lakukan. Jadi, tidak perlu memikirkan banyak komentar.
Kami sepakat untuk tidak langsung pulang, tapi beristirahat sejenak di Lapangan Merdeka Balikpapan.
Angin kota berhembus lembut, membawa aroma khas Balikpapan yang selalu kukenal sejak masih remaja. Campuran antara laut, minyak, dan kenangan masa remajaku.
Aku berjalan menyusuri para pedagang UMKM. Tidak ada yang menarik perhatianku. Sampai kemudian, aku melihat penjual gado-gado yang khas. Aku langsung mengajak suamiku untuk makan gado-gado. Kebetulan, itu makanan kesukaannya juga.
Kami duduk di bawah pohon rindang sambil menunggu racikan gado-gado datang. Kami berbincang banyak hal, termasuk hal receh yang tidak begitu penting, tapi mampu mengundang tawa bagi kami berdua.
Dari tempat itu, aku menatap sekitar. Anak-anak berlarian, beberapa keluarga duduk di tepi taman, dan di kejauhan gedung-gedung tinggi Balikpapan berdiri anggun dan penuh ketenangan. Entah kenapa, suasana itu mengembalikan ingatanku ke masa SMA, ketika aku masih bersekolah di SMA Negeri 6 Balikpapan.
Di masa itu, aku mulai jatuh cinta pada dunia tulis-menulis. Aku menulis puisi buku diary, menulis cerita pendek di belakang buku matematika, dan bermimpi suatu hari bisa punya buku sendiri.
Dan kini, bertahun-tahun kemudian, aku kembali ke kota ini, bukan lagi sebagai siswi pemimpi, tapi sebagai perempuan yang masih menjaga mimpinya tetap hidup, lewat tulisan, lewat siaran, lewat kegiatan literasi.
Dalam perjalanan pulang, aku berpikir betapa hidup ini seperti buku yang halamannya ditulis dengan berbagai warna. Ada hari-hari penuh tanggung jawab, ada hari-hari penuh mimpi, tapi semuanya tetap saling terhubung.
Menjadi ketua RT, aktif di Relima, menulis, mengisi siaran, dan lain-lain. Semua itu mungkin terdengar melelahkan. Tapi bagiku, itulah caraku menghidupkan literasi, bukan hanya lewat kata, tapi lewat tindakan kecil setiap hari.
Dan tentu, di balik semua langkah itu, ada satu sosok yang selalu setia di sampingku, suamiku. Tanpanya, aku mungkin akan selalu terlambat datang ke setiap acara penting. Tapi dia selalu ada, dengan tawa yang menenangkan dan cara mengemudi yang cepat namun penuh perhatian.
Sore itu, ketika kami meninggalkan Balikpapan, aku menatap langit yang mulai berubah jingga. Ada rasa syukur yang meluap dalam dada. Syukur karena diberi waktu, kekuatan, dan kesempatan untuk terus berbuat baik.
Literasi bukan hanya tentang membaca buku. Ia tentang menulis kehidupan dengan cara yang lebih bermakna. Tentang berbagi cerita, tentang menyalakan cahaya di tempat yang gelap, dan tentang mencintai setiap proses, sekecil apa pun itu.
Aku tersenyum sambil berbisik pada diri sendiri,
“Aku ingin suatu hari nanti punya nama besar seperti Kang Maman atau Najwa Shihab. Supaya aku punya kekuatan besar untuk menggerakkan literasi di negeri ini. Aku tidak ingin hanya menunggu dan semuanya jadi hancur karena tak ada satu pun yang bertindak.”
Dan perjalanan hari itu, dari RT 3 Beringin Agung Samboja ke Radio IDC Balikpapan, lalu ke Lapangan Merdeka, menjadi satu bab baru dalam buku panjang bernama kehidupan.
Sunday, October 5, 2025
Read Aloud di Perpustakaan Khasanah Desa Mulia Desa Rempanga
Kutai Kartanegara, 16 September 2025


Monday, September 29, 2025
Relima Lokus Kaltim Hadir Membersamai Kegiatan Kang Maman di Kota Balikpapan
Minggu, 28 September 2025
Sunday, September 21, 2025
Perpustakaan Desa Sangkuliman - Perpustakaan Mengagumkan di Hulu Sungai Kutai Kartanegara
Tuesday, September 9, 2025
Press Release : Diarpus Kukar Komitmen Mendukung Pergerakan Relima Perpusnas RI Hingga Ke Pelosok
Diarpus (Dinas Kearsian dan Perpustakaan) Kutai Kartanegara berkomitmen penuh dalam mendukung pergerakan Relima Perpusnas RI di Kabupaten Kukar.
Pada bulan Juli 2025, Relima Perpusnas RI lokus Kukar telah melaksanakan koordinasi dengan pihak Diarpus Kukar tentang pergerakan Relima (Relawan Literasi Masyarakat). Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan menyambut baik dan siap mendukung sepenuhnya pergerakan Relima Kutai Kartanegara dengan memperhatikan regulasi yang ada.
Sesuai data yang diberikan oleh Perpustakaan Nasional, Relima Kukar akan melaksanakan audiensi ke 45 Perpustakaan Desa, Perpustakaan Khusus, dan Taman Baca yang telah mendapatkan bantuan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Kendala terbesar yang dialami Relima Kukar ialah letak geografis yang sangat luas. Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki luas wilayah 54 kali lipat dari kota Balikpapan. Bahkan, 1 kecamatan di Kukar bisa lebih luas dari Kota Jakarta. Lokasi perpustakaan yang mendapat bantuan juga jaraknya sangat jauh dan Relima Kukar belum mengetahui kondisi wilayah secara geografis maupun budayanya.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Relima Kukar mengirimkan surat permohonan pendampingan kepada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kutai Kartanegara. Surat permohonan disambut dengan baik. Diarpus Kukar bersedia mendampingi pergerakan Relima hingga selesai.
Pendampingan pertama kali dilaksanakan di Kecamatan Marang Kayu pada tanggal 25-27 Agustus 2025. Relima didampingi oleh 3 orang staff Diarpus Kukar, yakni Hj. Arlina, S.Pd selaku Pustakawan Ahli Muda, Mida Israwardhini dan Sopyan Agus selaku Pustakawan Terampil. Mereka berkunjung ke 3 lokasi sesuai data penerima bantuan. Yakni, Komunitas SMP Negeri 5 Marang Kayu Desa Semangko, Perpustakaan Iqro' Smart Desa Perangat Baru, dan Perpustakaan Pustaka Terang Desa Santan Ilir.
Selanjutnya, pendampingan Relima Lokus Kukar dilaksanakan di Kecamatan Kota Bangun pada tanggal 01-02 September 2025. Relima Kukar didampingi langsung oleh Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan (Nur Azizah Abdul Bahri, S.H), Pustakawan Terampil (Triyadhy, J), dan Penata Layanan Operasional (Sri Wahyuni, S.H). Ada 5 desa yang harus dikunjungi dalam 2 hari yang jaraknya jauh-jauh. Yakni, Desa Pela, Desa Sangkuliman, Desa Liang, Desa Liang Ulu, dan Desa Kota Bangun 3.
Pendampingan masih akan terus berlanjut hingga bulan Desember nanti. Relima Perpusnas RI Lokus Kukar akan melakukan kunjungan/audiensi ke Kecamatan Sanga-Sanga, Kecamatan Loa Kulu, Kecamatan Loa Janan, Kecamatan Tenggarong, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kecamatan Muara Muntai, dan Kecamatan Muara Badak.
Wednesday, September 3, 2025
Keseruan Read Aloud di Perpustakaan Pustaka Terang Desa Santan Ilir
Tuesday, September 2, 2025
Sosialisasi Relima Kukar di Desa Santan Ilir: Menyalakan Cahaya Literasi dari Ruang Rapat Desa
Sosialisasi Relima Kukar di Desa Santan Ilir: Menyalakan Cahaya dari Ruang Rapat Desa
Langit Santan Ilir siang itu tampak cerah dan tenang. Dari lantai dua kantor desa, aku bisa melihat pemandangan desa yang tenang, pepohonan yang rimbun seolah menjadi peneduh dalam menjalankan semangat literasi yang hendak kami bawa hari itu.
Setelah kegiatan Read Aloud pagi di Perpustakaan Desa Pustaka Terang milik Desa Santan Ilir, langkahku berlanjut ke ruang rapat lantai dua Kantor Kepala Desa Santan Ilir, tempat sosialisasi Relima akan digelar.
Ruang rapat itu sederhana, namun penuh kehangatan. Di sana telah hadir Kepala Desa Santan Ilir, lembaga desa, tokoh masyarakat, akademisi, serta masyarakat yang aktif di kegiatan perpustakaan. Beberapa dari mereka masih menenteng buku bacaan anak yang tadi digunakan untuk kegiatan membaca nyaring.
Di tengah tumpukan dokumen, gelas kopi, dan kipas angin yang berputar pelan, kami membicarakan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tumpukan buku, yakni tentang masa depan literasi di desa.
Kenapa Ada Relima di Santan Ilir?
Pertanyaan itu kembali kuucapkan, seperti yang pernah kutulis di blog sebelumnya.
“Kenapa ada Relima di Kutai Kartanegara?”“Apa sebenarnya tujuan Relima datang ke desa-desa seperti Santan Ilir ini?”
Kehadiran kami di Santan Ilir bukan sekadar menjalankan program, tapi menyambung tali silaturahmi pengetahuan antara pemerintah, masyarakat, dan para penjaga kecil literasi yang bekerja diam-diam di perpustakaan desa.
Aku ingin di tempat ini buku-buku bisa hidup. Ia tidak berdiam di rak buku, tapi berdenyut di antara percakapan warga dan secangkir kopi.
Sebelum acara berakhir, Kepala Desa menyalamiku sambil tersenyum.
“Terima kasih sudah datang jauh-jauh untuk berbagi semangat,” katanya.“Kadang kami hanya butuh diingatkan bahwa membaca itu penting.”
Dalam perjalanan pulang, suara mesin motor berpadu dengan desir angin sore. Di kepalaku, terulang percakapan tadi. Tentang perpustakaan, anak-anak, dan masa depan. Dan aku tahu, perjalanan hari itu bukan hanya tentang sosialisasi, tapi tentang keyakinan.
Keyakinan bahwa literasi bisa mengubah arah hidup banyak orang, sejauh mana pun mereka dari kota.
Desa Santan Ilir hari itu bukan hanya lokasi kegiatan, tapi cermin kecil dari impian besar bangsa ini. Di ruang rapat yang hangat itu, aku belajar bahwa literasi tak akan pernah mati selama masih ada orang-orang yang mau menjaga nyalanya.
Dan hari itu, di Santan Ilir, aku melihat sendiri, cahaya kecil itu telah menyala.

.png)


.jpeg)
.png)
.png)




















