Showing posts with label Perfect Hero. Show all posts
Showing posts with label Perfect Hero. Show all posts

Thursday, March 5, 2026

Perfect Hero Bab 501 : Kuingin yang Kau Miliki

 


“Oom, Tante Melan mana?” tanya Yuna yang sejak datang belum melihat Melan bergabung di meja makan.

 

“Oh, masih di kamar. Sepertinya masih ganti pakaian.”

 

“Oh.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Oom panggil tante kamu dulu!” pamit Tarudi sambil bangkit dari kursinya dan bergegas pergi.

 

“Kenapa tanyain tante kamu? Kangen sama dia?” bisik Yeriko di telinga Yuna.

 

Yuna mengerutkan hidung sambil mencubit perut Yeriko.

 

“Aw ...!” seru Yeriko diiringi desahan dari mulutnya. “Enak. Lagi dong!”

 

Yuna memonyongkan bibirnya ke arah Yeriko. Ia bisa melihat wajah kesal Lian dan Bellina dari sudut matanya. Ia merasa sangat puas bisa melepaskan masa lalunya dengan Lian penuh kebahagiaan. Ia ingin menunjukkan bahwa hidupnya jauh lebih bahagia saat ia sudah tidak bersama Lian lagi.

 

Sementara itu, Melan sibuk mencari obat di dalam kamarnya. “Adjie harus aku kembalikan dalam tidur panjangnya. Supaya nggak ngambil alih perusahaan lagi,” ucapnya sambil menggenggam obat yang baru di dapatnya.

 

Kreek ...!

 

Suara pintu kamar yang terbuka, membuat Melan buru-buru menyembunyikan obat ke belakang tubuhnya.

 

“Ma, Kak Adjie dan Yuna sudah datang dari tadi. Kenapa Mama lama banget?” tanya Tarudi sambil menatap Melan.

 

“Eh ... oh ... eh, bentar, Pa. Mama baru selesai ganti baju. Mama sisir rambut dulu!”

 

Tarudi menganggukkan kepala. Ia menatap wajah Melan yang terlihat gelisah. “Mama kenapa?” tanyanya sambil menghampiri Melan.

 

“Eh!? Nggak papa,” jawab Melan sambil duduk di kursi rias, ia meletakkan obat di bawah pantatnya. Ia mengambil sisir dan mulai menyisir rambutnya.

 

“Ma, jangan bikin ulah lagi sama Kak Adjie!” tegas Tarudi.

 

Melan menggelengkan kepala sambil tersenyum manis. “Papa tenang aja! Semua akan baik-baik aja.”

 

“Ya sudah. Papa tunggu secepatnya!”

 

Melan mengangguk-anggukkan kepala.

 

Tarudi bergegas keluar dari kamarnya dan kembali ke meja makan.

 

“Selamat malam semua ...!” sapa Melan dengan ramah dan tersenyum manis. Ia menyapa semua orang yang ada di ruangan tersebut.

 

Yuna memaksa bibirnya untuk tersenyum saat melihat sikap manis Melan. “Sumpah, ini Maleficent mau apa lagi? Dia cuma nyamar jadi malaikat kalau ada maunya doang,” batinnya.

 

“Kak Adjie, malam ini aku masakin banyak makanan spesial untuk kalian,” tutur Melan sambil mengamati makanan yang sudah terhidang di atas meja.

 

“Sebentar, ada menu yang ketinggalan. Aku ambil dulu!” tutur Melan sambil bergegas masuk ke dapur.

 

Tarudi merasa ada keanehan yang terjadi pada istrinya. Ia langsung bangkit dari tempat duduk dan mengikuti langkah Melan menuju dapur.

 

“Apa ini?” tanya Tarudi sambil menyambar kantong obat dari tangan Melan.

 

Melan membelalakkan matanya sambil menatap Tarudi yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya.

 

“Ma, aku udah bilang ... jangan macam-macam!” tegas Tarudi sambil membuang obat itu ke tempat sampah.

 

“Pa, kita harus bisa bikin si Adjie itu tertidur lagi. Dia akan mengancam posisi Papa di perusahaan.”

 

“Papa punya cara sendiri. Kak Adjie tidak akan melukai Papa atau merebut kekuasaan di perusahaan. Asal Mama jangan macam-macam!”

 

“Pa, kita nggak pernah tahu gimana berbahayanya Adjie buat kita?”

 

Tarudi menghela napas. “Papa tetap nggak setuju dengan cara Mama. Jangan lukai Kak Adjie lagi! Aku memang menginginkan kekuasaan di perusahaan, tapi tidak dengan cara melukai dia. Kita ini sudah semakin tua. Apa yang kita buat sebelas tahun lalu, sudah cukup. Papa ingin hidup tenang. Kita akhiri semua ini dengan cara baik-baik!” pinta Tarudi.

 

Melan mendengus kesal. Tapi ia tak bisa melawan Tarudi yang menatap tajam ke arahnya.

 

“Bawa keluar makanannya dan jangan buat masalah lagi!” perintah Tarudi.

 

Melan langsung mengambil makanan yang belum ia keluarkan dari dapur dan melangkah ke meja makan.

 

Yeriko terus memerhatikan gerak-gerik Melan dan Tarudi sejak masuk ke dapur. Dari balik kaca dapur, ia bisa melihat perdebatan yang terjadi antara Melan dan suaminya.

 

“Maaf, jadi lama,” tutur Melan sambil duduk di kursinya. “Ayo, kita makan!” ajaknya sambil melirik Tarudi yang sudah duduk di kursinya.

 

Tarudi tersenyum. “Ayo, makan! Jarang sekali kita bisa berkumpul di meja makan seperti ini.”

 

Semua orang menganggukkan kepala.

 

Tarudi dan Adjie menikmati makan malam sambil berbincang akrab layaknya kakak beradik.

 

Sementara, Yeriko sibuk memberikan perhatian pada istrinya, bahkan menyuapkan makanan yang ada di tangannya ke mulut Yuna.

 

“Ay, kamu makan sendiri! Kalau disuap ke aku terus, kapan kamu kenyang?”

 

“Asal kamu kenyang, aku juga kenyang,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

“Aku udah buncit,nih,” sahut Yuna sambil tertawa kecil.

 

“Makanya, si Dedek juga harus dikasih makan yang banyak. Biar sehat terus!” tutur Yeriko sambil mengelus perut Yuna.

 

“Tenang aja, dia nggak kekurangan makanan dan nutrisi karena ayahnya selalu perhatikan dia dengan baik,” tutur Yuna sambil tersenyum bahagia menatap Yeriko.

 

Melan dan Tarudi ikut tersenyum mendengar pembicaraan Yuna dan Yeriko.

 

“Kalian ini memang pasangan yang romantis. Semoga, bisa bertahan sampai kakek-nenek,” tutur Melan sambil tersenyum.

 

Yuna hanya tersenyum menanggapi ucapan tantenya. Ia tidak yakin kalau ucapan yang keluar dari mulut Melan adalah perkataan yang jujur.

 

“Awas kamu, Yun! Aku pasti bikin perhitungan sama kamu dan bakal bikin kamu menderita seumur hidup!” batin Bellina sambil menekan garpu yang ada di tangannya ke atas potongan daging. Kebenciannya pada Yuna belum benar-benar hilang, terlebih saat melihat Yuna begitu bahagia mendapatkan suami yang tampan, kaya dan penyayang.

 

“Yer, Oom dengar ... kamu lagi mau bikin proyek apartemen?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Iya, Oom,” jawabnya. Tangannya tetap saja melingkar di pinggang Yuna.

 

Tarudi mengangguk-anggukkan kepala. “Di Jakarta atau di sini?”

 

“Dua-duanya, Oom.”

 

“Kenapa kamu nggak tinggal di Jakarta? Bukannya lebih mudah kalau kantor pusat ada di sana?”

 

“Sekarang zaman sudah canggih. Kantor pusat di mana pun nggak akan berpengaruh besar. Bisnis yang di Jakarta juga sudah ditangani langsung sama kakek. Aku fokus mengembangkan bisnis yang ada di kota ini dulu.”

 

“Ada rencana untuk mengembangkan bisnis ke kota-kota lain?” tanya Tarudi lagi.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Bisnis keluarga saya sudah tersebar ke seluruh kota di Indonesia sejak saya masih kecil. Kami sedang mencoba memasuki pasar Eropa-Amerika.”

 

Tarudi mengangguk-anggukkan kepala sambil menoleh ke arah Adjie. “Menantu Kak Adjie sangat hebat. Masih muda, sudah punya bisnis yang sangat besar.”

 

Adjie hanya tersenyum menanggapi pujian dari Tarudi. Ia melirik ke arah Lian yang mungkin saja tersinggung dengan sikap Tarudi.

 

“Biasa aja, Oom. Ini semua karena warisan dari keluarga. Saya hanya meneruskan dan mengembangkan bisnis ini,” tutur Yeriko.

 

Tarudi mengangguk-anggukkan tanda mengerti. Di sebelahnya, wajah Melan terlihat sangat tidak bersahabat.

 

Bellina terus mencuri pandang ke arah Yeriko. Ia selalu menginginkan apa pun yang dimiliki Yuna dan berusaha merebutnya. Kali ini, Yuna mendapatkan begitu banyak kebahagiaan setelah ia berhasil merebut Lian dari pelukkan Yuna. Ia tidak pernah berpikir kalau Yuna justru mendapatkan hidup yang jauh lebih baik dari dirinya.

 

 

((Bersambung ...))

Misteri apa yang belum terpecahkan di Perfect Hero?

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 500 : Jamuan Keluarga Linandar

 


“Ma, siapin makan malam spesial untuk malam ini!” perintah Tarudi pada hari keempat setelah malam pergantian tahun baru.

 

“Papa jadi ngundang mereka makan malam di rumah kita?” tanya Melan.

 

Tarudi menganggukkan kepala.

 

“Apa sih yang Papa rencanakan? Gimana kalau mereka diam-diam malah ngambil alih perusahaan kita?”

 

“Sudahlah. Jangan terus-menerus membahas soal perusahaan! Ini semua Papa lakukan untuk menjaga nama baik keluarga besar kita. Ini murni acara keluarga. Jangan bikin ulah!” sahut Tarudi.

 

Melan menarik napas dalam-dalam. Ia langsung berbalik dan pergi ke dapur. Memerintahkan pelayannya untuk menyiapkan banyak makanan enak. Karena malam ini, mereka akan menjamu Adjie dan keluarganya. Ia sangat berharap kalau hubungan baik yang akan mereka jalin bisa membuat Adjie mempercayakan perusahaan pada suaminya saja.

 

Tarudi mondar-mandir di teras rumahnya. Ia khawatir kalau Yuna tidak memenuhi janjinya untuk makan malam bersama di rumahnya. Ia meraih ponsel yang diletakkan di atas meja dan langsung menelepon Yuna.

 

“Halo ...!” sapa Yuna begitu panggilan telepon dari Tarudi tersambung.

 

“Halo, Yuna. Ingat ‘kan kalau malam ini makan malam di rumah Oom?”

 

“Ingat, Oom. Kami berangkat dari rumah jam tujuh ya.”

 

“Oke, Oom tunggu!” sahut Tarudi.

 

“Iya, Oom.”

 

Tarudi langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

 

 

...

 

 

 

Di saat yang sama ...

 

Bellina mendesah kesal karena panggilan teleponnya tak kunjung dijawab oleh mamanya.

 

“Mama lagi apa sih?” gumam Bellina sambil menempelkan ponsel ke telinganya.

 

“Halo ...!” Suara Melan akhirnya terdengar pada panggilan kedelapan.

 

“Halo, Ma ...! Mama lagi apa? Lama banget angkat teleponnya?”

 

“Mama lagi masak, nih. Soalnya si Adjie sama anaknya  yang sok cantik itu bakal makan malam di sini.”

 

“Mereka mau makan malam di sana? Kok, Mama nggak kasih tahu aku?”

 

“Papa kamu yang minta. Karena malam tahun baru, mereka nggak bisa ngumpul sama keluarga kita. Jadi, papa kamu mengundang mereka makan malam ini.”

 

“Oh. Gitu? Aku sama Lian ke sana juga.”

 

“Mau ke sini juga?”

 

“Iya, dong. Ada sepupuku yang paling kaya raya bakal makan di rumah Mama. Masa aku nggak datang? Aku nggak mau melewatkan momen seru yang akan terjadi nanti.”

 

“Bell, Papa kamu udah pesan supaya nggak bikin ulah. Kita nggak pernah tahu apa yang sedang mereka rencanakan. Jadi, kita harus baik-baik sama mereka supaya mereka bisa mengurungkan niatnya untuk mengambil alih perusahaan.”

 

“Tenang, Ma! Aku bakal bersikap semanis mungkin. Mama nggak perlu khawatir!” pinta Bellina.

 

“Oke. Mama tunggu! Ajak Lian sekalian!”

 

“Pasti, dong! Ya udah, aku siap-siap dulu, Ma.”

 

“Oke. Bye!” Melan langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Bellina tersenyum begitu mendengar kalau keluarganya akan menjamu Yuna. “Pasti ada Yeriko di sana,” gumamnya sambil tersenyum. Ia memerhatikan tubuhnya di depan cermin. “Aku harus tampil lebih cantik dari Yuna!”

 

Bellina segera bersiap dan menelepon suaminya.

 

“Halo ...!” sapa Lian begitu panggilan telepon dari Bellina tersambung.

 

“Halo, kamu pulang jam berapa?” tanya Bellina.

 

“Belum tahu. Kenapa?”

 

“Malam ini papaku ngundang Yuna makan malam di rumah. Jadi, aku mau ke sana juga. Kamu mau ikutan atau nggak?”

 

“Jam berapa?”

 

“Jam tujuh.”

 

“Oke. Aku pulang dua jam lagi.”

 

“Oke. Aku tunggu di rumah. I love you ...”

 

“I love you too,” sahut Lian.

 

Bellina langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia segera memilih pakaian terbaik untuk makan malam. Ia tidak ingin terlihat payah di depan Yuna atau pun Yeriko.

 

 

 

 

 

Beberapa jam kemudian ...

 

Yuna menarik napas beberapa kali saat mobil Yeriko berhenti di halaman rumah keluarga Linandar.

 

Yeriko melirik Adjie yang sudah keluar dari mobil terlebih dahulu.

 

“Udah siap?” tanya Yeriko sambil menggenggam tangan Yuna.

 

Yuna menatap pilu ke arah Yeriko. “Yakin, nggak papa?”

 

“Nggak papa. Ada aku sama Ayah Adjie. Kamu nggak percaya sama kami?”

 

Yuna menggigit bibir. Ia melepas safety belt yang melingkar di pinggangnya.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia segera keluar dari mobil. Mereka menghampiri Adjie yang sudah lebih dahulu berada di luar mobil.

 

“Yah ...!” panggil Yuna sambil merangkul lengan Adjie.

 

Adjie tersenyum sambil mengelus tangan Yuna. “Jangan kayak gini! Kamu sudah dewasa,” bisiknya.

 

Yuna langsung melepas lengan Adjie. Ia menggigit bibir sambil  mengikuti langkah Adjie menghampiri pintu rumah itu.

 

Adjie menarik napas dalam-dalam. Ia menekan bel, kemudian menunggu selama beberapa detik.

 

“Kak Adjie ...? Sudah datang. Ayo, masuk!” sapa Tarudi begitu ia membuka pintu.

 

Adjie menganggukkan kepala. Ia, Yuna dan Yeriko langsung melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.

 

Tarudi langsung mengajak mereka ke meja makan. Di sana, sudah ada Bellina dan Lian.

 

“Malam ...!” sapa Yuna sambil tersenyum manis.

 

“Malam, Yun! Udah lama nggak ketemu. Apa kabar?” balas Bellina. Ia bangkit dari tempat duduk dan ingin memeluk tubuh Yuna.

 

Yuna langsung melangkah mundur, menghindari Bellina agar tidak menyentuh tubuhnya. Ia hanya tersenyum menatap wajah Bellina.

 

Wajah Bellina berubah masam saat Yuna menolak niat baiknya.

 

Yeriko langsung merangkul tubuh Yuna. Ia tersenyum ke arah Bellina, kemudian mengajak Yuna untuk duduk di kursi, tepat di hadapan Lian dan Bellina.

 

Lian bangkit dari tempat duduk. “Apa kabar, Yer?” sapa Lian sambil mengulurkan tangan ke arah Yeriko.

 

“Baik,” jawab Yeriko sambil membalas uluran  tangan Lian. Ia tersenyum sambil menekan tangan Lian saat Lian berusaha mencuri pandang ke arah istrinya.

 

Lian tertawa kecil. Ia menoleh ke arah Adjie. “Apa kabar, Oom?” sapanya sambil mengulurkan tangan ke arah Adjie.

 

“Baik. Kamu suaminya Bellina ya?” balas Adjie sambil membalas uluran tangan Lian.

 

Lian menganggukkan kepala sambil tersenyum sopan. Ia tidak berani mengatakan hubungan masa lalunya dengan Yuna. Ia hanya melirik Yuna yang duduk di sebelah Yeriko.

 

“Apa kabar, Yun?” tanya Lian sambil menatap Yuna yang sedang memainkan ponselnya.

 

Yuna langsung menengadahkan kepala menatap Lian. “Baik, Li. Jauh lebih baik dari setahun lalu,” jawab Yuna sambil tersenyum.

 

Yeriko ikut tersenyum sambil menggenggam tangan Yuna. Ia sangat mengerti bagaimana hati istrinya sangat terluka setahun lalu. Saat Lian dengan mudah mencampakkan Yuna dan memilih menikahi selingkuhannya. Ia ingin, Lian terus hidup dalam penyesalan karena sudah melukai istrinya di masa lalu.

 

Lian terlihat sangat canggung. Terlebih Bellina, ia terus menatap Yuna dan Yeriko yang begitu mesra.

 

“Kamu sibuk ngapain sih?” tanya Yeriko sambil mengintip layar ponsel Yuna.

 

Yuna berbisik sambil memperlihatkan video lucu yang ada di ponselnya.

 

Yeriko tertawa tanpa suara. Ia mengelus-elus kepala Yuna sambil mengecup pelipis Yuna. “Kamu nih, ada-ada aja.”

 

Yuna tertawa kecil. Ia melirik ayah dan pamannya yang sedang berbincang soal pekerjaan. Sementara, ia dan Yeriko sibuk melihat gambar dan video bayi-bayi lucu yang ada di internet.

 

Bellina menatap Yuna yang diperlakukan begitu lembut dan mesra oleh suaminya. Ia menyentuh tangan Lian yang duduk di sampingnya. “Li ...!” panggilnya lirih.

 

Lian langsung mengelus lengan Bellina. Melihat Yuna dan Yeriko yang bermesraan di depannya, membuat ia juga terpancing untuk memperlakukan Bellina dengan mesra.

 

Yuna terus tertawa kecil sambil menyandarkan kepalanya di bahu Yeriko. Ia tak terpengaruh sedikit pun dengan Lian dan Bellina yang juga terlihat mesra. Baginya, Lian hanya bagian dari masa lalu yang membawanya masuk ke dalam pelukan Yeriko.

 

 ((Bersambung ...))

Misteri apa yang belum terpecahkan di Perfect Hero?

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 499 : Suka Cita Malam Tahun Baru

 


Tepat saat malam pergantian tahun, Yuna dan Yeriko ikut menikmati suasana di rumah keluarga Hadikusuma. Bukan hanya keluarga Linandar, tapi juga ada banyak sanak saudara yang berdatangan ke rumah keluarga besar Hadikusuma.

 

“Mau jagung bakar?” tanya Yeriko sambil menyodorkan jagung bakar ke hadapan Yuna.

 

Yuna mengangguk, ia langsung menyambar jagung bakar dari tangan Yeriko. Namun, Yeriko malah menjauhkan tangannya.

 

Yuna mengerutkan dahinya. “Kok, gitu?”

 

“Kamu lagi hamil. Nggak boleh makan sembarangan. Ini nggak higienis. Jadi, buat aku aja!” sahut Yeriko sambil menggigit jagung bakar yang ada di tangannya.

 

“Iih ... culas!” sahut Yuna sambil menarik lengan Yeriko, ia berusaha merebut jagung bakar dari tangan suaminya.

 

Yeriko tertawa melihat tingkah Yuna. Ia malah menyembunyikan jagung bakar di belakang punggungnya.

 

“Biar aja, ntar anak kamu ileran!” dengus Yuna.

 

“Eh, jangan!” sahut Yeriko. Ia langsung menyodorkan jagung bakar ke hadapan Yuna. “Sedikit aja!” perintahnya.

 

Yuna langsung meraih jagung bakar itu dan menggigitnya.

 

“Oom, ini buat Oom sama Tante!” seru salah seorang anak remaja yang masih menjadi keluarga besar Hadikusuma. Ia menyodorkan piring berisi potongan daging bakar.

 

“Mmh ... harum banget!” seru Yuna sambil mengendus wangi daging bakar yang ada di piring tersebut. “Kamu yang bakar?” tanyanya.

 

Pria remaja itu menganggukkan kepala.

 

“Makasih, ya! Kamu rajin banget!” puji Yuna sambil meraih piring dari tangan keponakan Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia mengambil garpu dan menusuk potongan daging yang ada di piring tersebut. “Makanlah!” pintanya sambil menyodorkan ke mulut Yuna.

 

Yuna langsung melahap potongan daging yang ada di tangan Yeriko. “Mmh ... enak!”

 

“Suka?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Habisin! Nanti aku minta si Ardi bakarin lagi buat kamu.”

 

“Kasihan dia dari tadi udah sibuk bakarin ikan, ayam, daging dan jagung buat kita semua. Aku mau, kamu yang bakarin buat aku.”

 

“Oke. Kita bakar bareng-bareng! Eh, aku aja. Kamu lagi hamil, nggak boleh terlalu dekat sama asap.”

 

“Oke. Aku tunggu di sini!”

 

Yeriko mengangguk. Ia melangkahkan kakinya menghampiri keponakan kecilnya yang sedang membakar beberapa potong daging di sudut halaman rumah itu.

 

Yuna duduk di salah satu kursi sambil menatap Yeriko dari kejauhan. Ia merasa sangat bahagia karena bisa melewati malam tahun baru bersama keluarga besar Hadikusuma. Biasanya, dia hanya akan melihat pesta kembang api dari jendela kamarnya seorang diri.

 

(You still have all of my ... You still have all of my ... You still have all of my heart ...)

 

Yuna langsung menoleh ke arah ponsel yang ia letakkan di atas meja, tepat di sebelahnya. Ia meraih ponsel tersebut, membaca nama kontak yang tertera di layar tersebut.

 

“Halo ...!” sapa Yuna begitu ia menjawab panggilan telepon dari pamannya.

 

“Halo ...! Selamat tahun baru, ya!” ucap Tarudi dari seberang telepon.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia tidak begitu suka dengan ucapan selamat dari pamannya. Tapi, ia juga tidak punya alasan untuk menolak pamannya yang kini bersikap baik kepadanya.

 

“Selamat tahun baru juga, Oom!” balas Yuna.

 

“Apa kamu lagi sama ayah kamu?” tanya Tarudi.

 

“Iya.”

 

“Oom telepon ayah kamu. Tapi tidak diangkat-angkat.”

 

“Ayah lagi ngobrol sama Kakek Ali.”

 

“Oh. Kamu lagi di rumah keluarga besar Hadikusuma?”

 

“He-em.” Yuna menganggukkan kepala.

 

Tarudi terdengar menghela napas. “Yun, kita sudah menyambut tahun yang baru. Oom harap, kamu bisa memaafkan apa yang sudah terjadi dalam setahun belakangan ini. Oom tidak ingin terus-menerus ada dendam dalam keluarga kita.”

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia menggigit bibir, terus-menerus menyimpan kecurigaan memang tidak terlalu baik untuk hatinya. Mungkin, melepaskan semuanya akan membuat hari-harinya jauh lebih tenang. Ia juga sudah terbiasa dengan sikap Melan dan Bellina yang selalu menyulitkan hidupnya.

 

“Yuna ...!” panggil Tarudi karena ia tak kunjung mendapatkan jawaban dari Yuna.

 

Yuna tersenyum kecil. “Iya, Oom.”

 

“Mmh ... kalau gitu, kamu bujuk ayah kamu untuk makan malam bersama kami. Gimana?” tanya Tarudi.

 

Yuna menggigit bibirnya. Ia teringat saat terakhir makan malam di rumah keluarga Lin dan ia harus mendapat fitnah akibat ulah Bellina.

 

“Kamu nggak usah khawatir! Ini murni makan malam untuk merayakan tahun baru. Seperti apa pun, kita masih bersaudara. Jadi, jangan sampai di luar sana ada desas-desus kalau keluarga Linandar tidak akur. Kita ini keluarga terhormat, harus bisa saling menjaga hubungan.”

 

Yuna mengerutkan hidung. Ia sangat kesal mendengar ucapan pamannya yang terkesan menganggap Yuna sebagai sumber masalah dalam keluarga besar Linandar.

 

“Yun, ini cuma makan malam biasa. Nggak ada salahnya kita berkumpul. Sudah lama, keluarga kita tidak menikmati kebersamaan.”

 

Yuna menghela napas. “Oke, Oom. Aku bicarakan sama ayah dulu. Nanti, aku kasih kabar ke Oom lagi.”

 

“Oke. Oom tunggu kabar baiknya. Oom harap, kalian bisa berbesar hati melupakan semua yang sudah terjadi setahun belakangan ini dan menjalani tahun ke depan dengan hal yang lebih baik lagi.”

 

“Iya, Oom.”

 

“Selamat tahun baru. Salam untuk ayah kamu. Oom tunggu kabar baiknya, ya!”

 

“Iya, Oom.”

 

“Oom tutup teleponnya!”

 

“Umh.” Yuna menganggukkan kepala. Ia bergegas mematikan panggilan teleponnya.

 

Yuna memeluk ponsel di dada sambil mengedarkan pandangannya. Ia mencari sosok Yeriko yang sudah tidak ada di sudut halaman bersama dengan pembakarannya.

 

“Suamiku ke mana ya?” tanya Yuna. Ia memutar tubuhnya untuk mencari keberadaan Yeriko.

 

“Cari aku?” tanya Yeriko sambil membungkukkan tubuhnya menatap Yuna.

 

Yuna meringis ke arah Yeriko. “Kok, tahu?”

 

Yeriko mengecup kening Yuna. Ia langsung duduk di sebelah istrinya sambil membawa piring yang sudah berisi daging bakar. “Makan!” pintanya.

 

“Kamu nggak makan?”

 

“Udah kenyang,” jawab Yeriko santai.

 

Yuna tertawa kecil. Ia langsung melahap potongan daging bakar yang sudah dibuat oleh Yeriko.

 

“Siapa yang telepon?” tanya Yeriko.

 

“Oom Rudi,” jawab Yuna dengan mulut penuh makanan.

 

“Ada apa?” tanya Yeriko.

 

“Dia ngundang ayah untuk makan malam.”

 

Yeriko langsung mengerutkan dahi. “Makan malam?”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Menurut kamu, gimana?”

 

“Mmh ... biar bagaimanapun, dia tetap Oom kamu. Walau istri dan anaknya itu selalu berulah ... aku lihat, Oom kamu itu nggak terlalu buruk. Dia hampir sama seperti ayah kamu. Bedanya ...”

 

“Apa?” tanya Yuna penasaran.

 

“Oom kamu takut jatuh miskin,” jawab Yeriko berbisik.

 

Yuna terkekeh mendengar ucapan Yeriko. “Jadi, aku harus bujuk ayah supaya ikut makan makam di rumah keluarga Linandar? Aku takut, Bellina bikin ulah lagi. Mereka bisa saja mencelakai ayah lagi.”

 

“Aku akan menjaga kalian,” sahut Yeriko sambil tersenyum.

 

Yuna langsung menatap mata Yeriko penuh cinta. Ia merasa sangat tenang kalau ada Yeriko di sisinya. Ke mana pun ia pergi, ia tak akan merasa ragu dan resah.

 

“Itu ayah, ngomong gih!” perintah Yeriko.

 

Yuna mengangguk. Ia meletakkan piring di atas meja dan bangkit dari tempat duduk. Ia menghampiri ayahnya yang sedang berbincang dengan salah satu sanak saudara dari keluarga Hadikusuma.

 

“Yah ...!” panggil Yuna.

 

Adjie langsung menoleh ke arah Yuna yang sudah berdiri di sampingnya. “Ada apa?”

 

“Mmh ... ada yang mau aku bicarain.”

 

Adjie mengangguk. “Saya permisi dulu!” pamitnya pada orang yang sedang berbicara dengannya. Ia mengajak puteri kesayangannya itu menepi dari kerumunan orang-orang yang ada di sana.

 

“Ada apa?” tanya Adjie.

 

“Oom Rudi ngundang ayah makan malam di rumahnya untuk merayakan tahun baru bersama keluarga Lin. Menurut ayah, gimana?”

 

Adjie tak menyahut. Ia terlihat berpikir sejenak. “Ayah akan ke sana di hari keempat.”

 

“Hari keempat?” tanya Yuna.

 

Adjie mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Ayah nggak khawatir kalau mereka akan mencelakai kita?”

 

Adjie menghela napas. “Rudi itu adik kandung Ayah. Dia tidak akan tega berbuat macam-macam.”

 

Yuna mengerutkan dahinya. “Dia udah ambil semuanya dari keluarga kita. Ayah masih aja baik sama Oom Rudi.”

 

“Dia adik Ayah, Yun. Dia juga mengurus perusahaan dengan baik. Tidak usah berpikir terlalu jauh. Ayah akan penuhi undangan makan malamnya di hari keempat.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Oke.” Ia menghela napas lega. Ia merasa, dirinya hanya berpikir berlebihan. Sebab, Yeriko dan ayahnya bisa melepaskan dan mengikhlaskan yang telah terjadi. Ia juga harus bisa melepaskan semuanya.   

 

((Bersambung ...))

Udah masuk tahun baru, nih. Akan ada cerita baru di kehidupan Mr. Ye and Mrs. Ye. Dukung terus, biar author makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas