Showing posts with label Pendamping Nakal. Show all posts
Showing posts with label Pendamping Nakal. Show all posts

Sunday, July 12, 2026

Pendamping Nakal Bab 7 : Bertindak Tanpa Perintah

“Ran, minggu ini kamu ada waktu luang?” tanya seseorang dari ujung telepon saat Rania sedang menikmati makan siang di kantin sekolah. 
“Ada, Bang. Minggu ini nggak ada kegiatan di sekolah. Ada kegiatan?”
“Temani aku ke Kukar, ya! Mau cari beberapa fakta di lapangan soal tambang ilegal.”
“Oke.”
Tanpa berpikir panjang, Rania langsung mengiyakan tawaran dari seniornya tersebut. Kebetulan, ia juga baru membaca artikel berita tentang tambang-tambang ilegal yang merenggut kehidupan masyarakat lokal. 
Minggu pagi, Rania memarkirkan sepeda motornya di depan gedung kantor berita “Suara Kaltim”. Meski masih duduk di bangku SMA, Rania telah terdaftar sebagai jurnalis muda di tempat tersebut. Tentunya tidak lepas dari peran sang ayah yang merupakan jurnalis senior. Ayahnya sudah melalang buana ke banyak daerah di Indonesia, bahkan di luar negeri. 
“Masuk, Ran!” sapa seorang pria dengan tinggi sekitar 175 cm. Rambutnya ikal panjang dan selalu dikuncir. 
Rania tersenyum lebar dan melangkah masuk ke dalam gedung tersebut.
“Bang Radit, perjalanan ke Samboja berapa jam?” tanya Rania sembari melangkahkan kakinya ke dalam ruang kerja para jurnalis. 
“Hai, Cantik ...! Apa kabar?” sapa seorang jurnalis senior yang bertubuh gempal. 
“Baik, Oom,” jawab Rania. 
“Ayahmu lagi tugas di mana? Lama Oom nggak ketemu sama dia.”
“Masih di Papua, Oom,” jawab Rania. 
Pria paruh baya itu geleng-geleng kepala. “Ayahmu memang hebat! Tulisan dia banyak nyerempet jurang, tapi tetap aman sampai sekarang.”
Rania hanya tersenyum kecil mendengar ucapan pria tersebut. Ia segera melangkah ke meja kerja Radit. Mengemas beberapa barang yang mereka butuhkan selama berada di lokasi. 
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, Rania dan Radit sampai di rumah salah satu penduduk desa yang sangat dekat dengan area tambang batu bara. 
Rania menatap jauh ke arah lubang galian tambang batubara yang menyisakan kubangan besar. Warga tak lagi bisa bertani seperti biasa. Flora dan fauna tak lagi punya rumah untuk hidup dan bertumbuh. Semuanya gersang. Hanya menyisakan aroma mineral yang tak sedap dan suhu udara yang lebih panas. 
Rania tak banyak bicara. Hanya mengikuti Radit yang melakukan wawancara. Ia mengabadikan foto dan video lewat kamera yang ia bawa. 
Ada banyak alasan mengapa warga memilih untuk tetap bertahan meski tanah mereka telah porak-poranda. Beberapa warga ada yang berjuang melawan kehadiran tambang batubara dan semuanya berakhir di penjara. Tidak ada satu pun warga yang bisa menang ketika berhadapan dengan perusahaan. 
“Ran, aku masih harus ke beberapa rumah warga untuk cari fakta lain. Kalau pulang malam, nggak papa?” tanya Radit.
“Nggak papa, Bang.” 
Pukul 18.00 WITA, Rania dan Radit baru keluar dari desa terakhir tempat mereka melakukan wawancara.
Suasana terasa mencekam meski waktu belum larut malam. Jalan tanah yang sepi dan pepohonan yang rimbun, membuat hari lebih gelap dari yang seharusnya. Jam segini kalau di kota, mereka justru melihat keindahan lampu-lampu kota yang mulai menyala. 
Ciiit ...!
Mobil yang dikendarai Radit tiba-tiba berhenti saat ada empat sepeda motor yang menghadangnya. 
“Si-siapa mereka, Bang?” tanya Rania dengan perasaan tak karuan. 
Radit menggeleng. “Nggak tahu.”
“Hei ...! Keluar!” sentak seorang pria bertubuh kekar sambil memukul bagian depan mobil Radit menggunakan balok berukuran 7x10 cm. 
“Anjing ...! Bangsat orang ini! Mobilku rusak!” maki Radit. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha meredakan emosinya sejenak dan keluar dari dalam mobil. 
“Assalamualaikum...!” sapa Radit sambil tersenyum ke arah pria yang baru saja menghantam mobilnya. 
“Wa’alaikumussalam ...!” sahut semua orang yang ada di sana. 
Radit langsung tersenyum mendengar balasan salam dari orang-orang tersebut. Artinya, emosi mereka masih bisa diredam dengan cara yang baik. 
“Ada masalah apa, Bang?” tanya Radit. 
“Kamu wartawan yang sering nulis berita tentang tambang sini, kan?” tanya pria itu. 
Radit hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan pria tersebut. “Kita bisa bicara baik-baik, Bang.” 
“Nggak ada bicara baik-baik! Kamu harus hapus semua berita yang sudah kamu sebarkan!” sahut pria itu. 
Radit tertawa kecil. “Abang-abang ini bukan asli warga sini?”
“Kami asli warga sini.”
“Kenapa berpihak pada perusahaan?” tanya Radit lagi. 
“Karena kami butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarga kami.”
“Oh.” Radit manggut-manggut. Ia tidak mungkin berdebat dengan orang yang sedang lapar soal keberlangsungan lingkungan hidup dan petani yang ada di sana. 
“Kita ketemu 10 tahun lagi ya, Bang! Aku mau lihat, apakah Abang masih belain perusahaan yang sekarang ngasih makan Abang,” ucap Radit sambil menatap wajah pria di hadapannya itu. 
“Kamu!?” Pria yang memegang balok itu menunjuk wajah Radit dengan wajah penuh amarah.
“Sampaikan saja ke bos kalian! Kalau mau aku turunkan beritanya, siapkan uang sepuluh juta untuk satu berita!” pinta Radit sambil memainkan alisnya. 
“Malah mau meras, hah!? Lebih baik kami habisi kamu aja!” seru pria itu sambil melayangkan balok ke tubuh Radit. 
Radit segera menangkis balok kayu tersebut dan terjadi pergulatan di antara mereka. 
BUG! 
BUG! 
BUG! 
Rania mulai panik melihat kejadian tersebut. Ia ingin keluar, tapi tak punya banyak keberanian. Setelah melihat Radit terus diserang, Rania nekat keluar dari dalam mobil. 
“STOP ...!” teriak Rania sekuat tenaga. 
Semua orang menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah Rania. 
Mata Rania menatap tajam arah empat pria yang sedang berkelahi dengan Radit. 
“Kalau sampai temanku terluka, kalian semua nggak akan aku biarkan hidup!” seru Rania dengan tangan mengepal erat. 
“Hahaha. Memangnya kamu siapa? Kamu yang nggak bakal keluar dari sini dalam keadaan hidup!” sahut salah seorang pria yang ada di sana. 
Namun, hanya dalam hitungan detik, suasana berubah mencekam. 
Keempat pria itu memandang Rania dengan tubuh gemetar. Tanpa aba-aba, mereka semua berlari ke motor masing-masing dan pergi dengan tergesa-gesa.
“Bang Radit nggak papa?” tanya Rania sambil menghampiri Radit. 
“Nggak papa,” jawab Radit sambil menahan perih di wajah dan lengannya. 
“Kenapa mereka tiba-tiba lari ketakutan?” tanya Radit. 
Rania mengedikkan bahunya. 
Radit mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka. Di belakang mobil mereka ada sebuah pohon beringin besar, juga pohon-pohon lain yang tak kalah besar. Rimbunnya pepohonan di tepi jalan tersebut, membuat udara semakin dingin dan bulu kuduk Radit ikut berdiri.
“Buruan pulang, yuk! Suasananya mulai nggak enak,” ajak Radit. 
Mereka segera masuk ke dalam mobil dan bergerak keluar dari desa tersebut. 

***
Empat pria yang menghadang Radit dan Rania menghentikan sepeda motornya saat mereka tiba di salah satu pos ronda milik warga. 
“Mas, sampean lihat juga?” tanya salah seorang pria bertubuh jangkung. 
Pria yang ditanya mengangguk. Tapi, ia tidak berani bicara. 
Dua pria lagi memilih diam dengan tubuh yang masih bergetar.
Gggrrr ...! 
Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara. 
“Ha-ha-harimau putih itu ngikutin kita!” seru salah seorang dari mereka dengan terbata-bata. 
Pria yang lain tak berani berkata-kata. Ada yang kembali menyalakan mesin motornya, ada yang memilih untuk berlari meninggalkan tempat tersebut. 
“Ini Kalimantan. Harusnya nggak ada macan. Apalagi macan putih sebesar ini,” ucap salah seorang pria yang masih bertahan di sana. Sebab, ia mengengkol sepeda motornya berkali-kali, tapi tak mau menyala.
 Perasaannya semakin tak karuan saat ia mencoba memejamkan mata dan membukanya kembali. Ia pikir, makhluk aneh itu akan segera pergi. Tapi hasilnya tidak seperti yang dia inginkan. Harimau putih yang ukurannya lebih besar dari bangunan pos ronda itu masih berdiri di sana. 
“Aargh ...!” pria itu memilih untuk berlari secepat mungkin. Ia menyadari jika makhluk ghaib itu mengejar dirinya. Membuatnya sangat ketakutan dan kehilangan kendali. Teriakannya berakhir saat tubuhnya melompat ke sungai dan ditelan oleh derasnya arus sungai tersebut. 

((Bersambung...)) 




Friday, July 10, 2026

Pendamping Nakal Bab 6 : Kematian Galang

Bab 6 
Kematian Galang

“Ran, sudah dua kali kamu terluka seperti ini. Mama akan buat laporan ke polisi,” ucap Mama Rania setelah ia selesai memasangkan perban di tangan Rania. 
Rania mengangguk. Sebenarnya, ia juga sempat ingin melaporkan Sarah ke kantor polisi saat wanita itu melukai jemari tangannya. Tapi, Sarah sudah meninggal lebih dahulu. 
“Mama juga akan ke sekolahmu. Sekolahmu nggak lagi aman. Ini bukan cuma kasus bullying, tapi sudah masuk kriminal,” ucap Mama Rania lagi. 
Rania terdiam mendengar ucapan mamanya. 
“Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu? Kenapa kamu punya banyak musuh?” tanya Mama Rania penasaran. 
“Aku cuma menulis berita dengan jujur,” jawab Rania lirih. 
Mama Rania menghela napas pelan. “Papa kamu juga jurnalis. Dia bahkan jarang pulang karena harus keliling Indonesia mencari berita. Tapi, dia tidak pernah mengalami kekerasan seperti kamu.”
“Mama yakin kalau Papa nggak pernah dapet intimidasi atau kekerasan?” tanya Rania. 
Mama Rania terdiam. Suaminya lebih sering berada di luar kota daripada di rumah. Jadi, ia tidak tahu persis apa yang terjadi di luar sana saat suaminya sedang bertugas. 
Rania segera bangkit dan masuk ke dalam kamar. Ada banyak buku, majalah dan tulisan-tulisan sang ayah yang tidak berhenti ditulis.


***

Keesokan harinya, Rania melangkahkan kaki menuju kantor polisi terdekat untuk melaporkan perbuatan Galang, termasuk isi chat di ponsel Sarah. 
Belum sampai masuk ke kantor polisi, matanya tertuju pada sepeda motor CBR warna hitam-merah yang tidak asing lagi baginya. Sepeda motor itu sangat mirip dengan sepeda motor milik Galang. Tapi kondisinya tidak baik-baik saja, terlihat ringsek di beberapa bagian. 
Rania menepis prasangka buruk dalam hatinya dan segera masuk ke kantor polisi untuk membuat laporan.
30 menit kemudian... 
“Mohon maaf, laporan Anda tidak bisa kami proses karena pihak terlspor sudah meninggal dunia,” ucap seorang polisi wanita sambil menghampiri Rania kembali. 
“Meninggal? Nggak mungkin! Dia baru saja menusuk tanganku malam tadi,” ucap Rania. 
“Anda melaporkan kejadiannya sekitar pukul 19.30 WITA. Dia mengalami kecelakaan pukul 22.00 WITA dan langsung meninggal di tempat,” ucap polisi wanita tersebut. 
“Ibu yakin? Nggak salah orang?” tanya Rania lagi. Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi pada Galang. 
Polisi wanita itu mengangguk. “Foto yang kamu kirimkan, sama persis dengan foto korban. Ciri-ciri kendaraan dan nomor polisinya juga sama persis. Kamu bisa cek di luar. Kendaraan korban masih ada di halaman kantor kami.”
Rania tak banyak bertanya lagi. Ia segera melangkah keluar dan menghampiri sepeda motor yang dimaksud oleh polisi wanita tersebut. “Beneran motor punya Galang,” gumamnya. 
TING! 
Tiba-tiba notifikasi grup Mading masuk ke ponsel Rania.
Tia : Udah lihat kabar terbaru yang lagi heboh? 
Nanda : Apaan? 
Tia : Galang meninggal kecelakaan. [Send; Link berita]
Rania langsung membuka beberapa link berita yang dikirim oleh Tia. Di sana, ia bisa melihat dengan jelas kalau Galang mengalami kecelakaan dan terlindas oleh mobil Fuso bermuatan. 
Tia : Infonya, badannya hancur. Tangan kanannya terpisah dari tubuhnya. 
Nanda : Serius? Mengenaskan banget? 
Tia : Iya. Kasihan juga, sih. 
Nanda : Kamu nggak ada foto-foto korban? 
Tia : Belum dapet, Nan. 
Rido : [Sending 15 photo]
Rania menutup mulut saat membuka foto-foto yang dikirimkan oleh Rido. Entah bagaimana cara Rido mendapatkannya. Tapi dia selalu punya bukti-bukti foto korban kecelakaan. 
Tia : Kami dapet foto-foto ini dari mana, Do?
Rido : Abangku dokter forensik. Kebetulan, dia yang nangani kasus ini. Aku retas hape dia. Jangan disebarkan fotonya! Kalau ketahuan, aku bisa dibunuh sama Abangku.
Tia : Aman. 
Nanda : Aman, Do. Kita tahu batasan privasi orang lain. 
Rania hanya sibuk membaca chat di grup. Ia tidak merespon sama sekali pembicaraan teman-temannya. 
Tia : Rania read doang. Lagi sibuk, Ran? 
Rania menghela napas. Akhirnya, Tia menyenggol namanya karena ia tidak ikut bergabung dalam pembicaraan. 
Rania memotret lengannya yang sudah terbungkus perban dan mengirimkan ke grup Mading.
Rania : Sebelum kecelakaan, Galang nusuk tanganku. Aku emosi banget n sumpahin dia mati. Eh, mati beneran. 
Hening. 
Tidak ada satu pun anggota grup yang membalas chat Rania meski semua sudah membaca chat tersebut. 
Rania menghela napas. Ia segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di parkiran dan segera meninggalkan kantor polisi tersebut. 

***

Tia, Rido dan Nanda berkumpul di ruang mading usai jam pulang sekolah. Sedangkan Rania masih istirahat di rumah untuk memulihkan tangannya yang terluka.
“Do, kamu ngerasa ada yang aneh sama kematian Sarah dan Galang?” tanya Tia sambil memilah-milah foto yang akan digunakan sebagai artikel mading minggu ini. 
“Iya, aneh. Mereka sama-sama mati dengan cara mengenaskan,” jawab Rido santai sambil menatap layar laptopnya. 
“Dan semuanya berhubungan sama Rania,” sahut Tia. 
Rido dan Nanda saling pandang mendengar ucapan terakhir Tia. 
“Maksud kamu ... Rania yang bunuh mereka?” tanya Nanda. 
“Nggak mungkin. Mereka meninggal kecelakaan,” jawab Rido. 
“Terus, apa maksud Tia? Apa hubungannya sama Rania?” tanya Nanda lagi. “Nggak ada, kan?”
Tia menghela napas sambil menatap wajah Nanda. “Kalian pernah dengar atau baca artikel tentang seseorang yang dijuluki ‘Si Pahit Lidah’?”
Rido dan Nanda menggeleng bersamaan. 
Tia menghela napas kembali. “Sudahlah. Mungkin aku yang berpikir berlebihan. Mungkin ... cuma kebetulan aja.”
“Kamu kebanyakan nonton film horor, Ti. Mana mungkin Rania yang bunuh mereka,” ucap Nanda. 
Tia mengangguk. 
“Tapi ... ada banyak probability yang bisa terjadi. Bisa juga si Rania dendam karena dilukai. Dia bayar orang buat celakai Sarah dan Galang,” ucap Rido. 
“Ini lagi ... kebanyakan nonton sinetron!” sambar Nanda. 
Tia bergeming sambil menggigit bibir bawahnya. Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Rania bisa jadi pelaku dan juga tidak. Pikirannya mulai liar karena kematian Sarah dan Galang hampir mirip. Mereka sama-sama mati mengenaskan setelah melukai Rania. 
Rido terkekeh. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan agar topik tentang Rania tidak menjadi bola liar yang lari ke mana-mana. Tapi tak bisa dipungkiri jika pikirannya sudah bergerak liar. Ia juga sangat khawatir jika Rania terlibat dalam kematian Sarah dan Galang. Mungkinkah selama ini Rania menyembunyikan sesuatu dari mereka? 
Nanda juga memiliki pemikiran yang sama. Meski ia selalu berusaha menepisnya. Ia percaya kalau Rania adalah gadis baik. Tidak mungkin Rania terlibat dalam kasus pembunuhan. Apalagi semuanya sudah jelas kalau Sarah dan Galang meninggal karena kecelakaan, bukan karena pembunuhan. 

***

Di saat bersamaan... 
Rania menatap layar laptopnya. Ia memperhatikan foto-foto kematian Sarah dan Galang yang tersimpan di sana. Keduanya meninggal dalam keadaan yang mengenaskan. 
“Kenapa mereka meninggal setelah berantem sama aku?” tanya Rania pada dirinya sendiri. 
Rania terus memikirkan kematian Sarah dan Galang yang terjadi secara kebetulan. Ia merasa keinginannya bisa terkabulkan. Di satu sisi ia merasa senang karena orang-orang yang mencelakainya bisa pergi dari dunia ini untuk selamanya. Tapi di sisi lain, ia merasa iba karena keduanya harus meninggal di usia yang masih sangat muda dan nasib akhirnya begitu mengenaskan. 







Pendamping Nakal Bab 5 : Bukti yang Tersisa

Bab 5 – Bukti yang Tersisa

Jarum jam di dinding ruang mading menunjukkan pukul empat sore tepat ketika Rania membuka pintu.
Rido, Tia, dan Nanda yang sudah menunggu langsung berdiri.
"Ada apa, Ran? Mukamu pucat banget," tanya Tia.
Rania tidak menjawab. Ia hanya menyingkap sedikit kerah bajunya.
Bekas jari berwarna kemerahan masih membekas jelas di lehernya.
"Astaga...!" Tia spontan menutup mulutnya.
"Galang?" tanya Nanda. 
Rania mengangguk pelan.
"Dia tahu aku ngambil sesuatu dari tasnya."
Suasana ruang mading mendadak sunyi.
Perlahan Rania mengeluarkan sebuah ponsel putih dari dalam tas.
Gantungan bunga matahari itu masih tergantung di sudut casing.
Nanda langsung mengenalinya.
"Itu... HP Sarah, kan?"
"Iya."
Rania meletakkannya di atas meja.
"Galang rela membunuhku demi HP ini. Aku rasa, ada rahasia besar di dalamnya. Tapi aku nggak bisa buka hape ini karena pakai sandi,” ucap Rania. 
Rido langsung mengerti maksud Rania, ia menarik laptop dari dalam tasnya.
"Biar aku coba!"
“Hati-hati, Do! Jangan sampai datanya hilang," pesan Rania.
Rido mengangguk. "Aku bukan hacker hebat, tapi aku coba semampuku."
Rido mengeluarkan kabel data dan mulai menyambungkan ponsel Sarah ke laptopnya.
Beberapa menit berlalu.
Sesekali Rido menggeleng.
"PIN-nya nggak bisa ditembus."
"Tuh, kan..." gumam Nanda kecewa.
"Tapi..." Jari Rido berhenti mengetik.
"Laptopku mendeteksi kalau HP ini pernah melakukan sinkronisasi otomatis."
"Maksudnya?" tanya Tia.
"Kalau aku beruntung..."
Beberapa detik kemudian...
Layar laptop berkedip.
Sebuah folder muncul.
Backup WhatsApp – Sarah
"Nah!"
Semua spontan mendekat.
"Isinya masih ada?" tanya Rania.
Rido membuka folder itu. Ratusan percakapan bermunculan. Sebagian besar biasa saja. Obrolan dengan teman kelas. Grup sekolah. Keluarga.
Namun satu nama langsung menarik perhatian. Galang.
Ruangan mendadak hening.
Rania menelan ludah. "Buka!"
Rido mengklik percakapan itu.
Pesan-pesan terakhir muncul di layar.
Sarah: Aku nggak kuat terus-terusan nyembunyiin kehamilan ini.
Tak seorang pun bersuara.
Rido menggulir layar perlahan.
Galang: Diam. Jangan cerita ke siapa pun! 
Pesan berikutnya.
Sarah: Rania mulai curiga.
Lalu balasan Galang. “Kalau dia terus ikut campur, bikin aja semua orang nganggep dia gila. Biar nggak ada yang percaya sama tulisan ataupun omongannya!”
Tangan Rania mulai gemetar.
Masih ada pesan lain.
Sarah: Aku takut.
Galang: Aku yang urus. Setelah Rania selesai, tinggal kita berdua yang tahu semuanya.
Nanda mundur selangkah.
"Itu... maksudnya apa?"
Tak ada yang menjawab. Mereka terus membaca.
Pesan terakhir dikirim sehari sebelum Sarah meninggal.
Sarah: Aku kesel sama Rania karena dia sering banget posting berita sesukanya. Dia pikir, dia itu hebat? Bisa nggak, kamu musnahin aja cewek satu itu biar nggak ngeribetin hidupku? Aku pengen dia cepet-cepet mati!
Rania, Rido, Nanda dan Tia saling pandang. 
“Ran, Sarah bukan cuma melukai kamu. Tapi dia juga pengen kamu mati,” ucap Tia. 
Rania duduk terdiam sambil menggigiti ujung kuku tangannya. Sepertinya, Galang memang sudah mengincar nyawanya sejak Sarah masih hidup. 
“Apa kita semua bakal tetep aman? Mereka pengen kita bungkam,” tanya Nanda. “Kita nulis berita yang aman-aman aja, deh!”
Rania menggeleng. “Nggak bisa, Nan! Nggak boleh! Kita menulis berita harus jujur dan apa adanya. Nggak boleh menyembunyikan apa pun. Bukan tugas kita menyembunyikan aib orang lain. Itu tugas mereka sendiri! Baik dan buruknya seseorang, kita tulis apa adanya.”
“Bener, Ran!” sahut Rido menambahkan. “Kita harus berpegang teguh pada kejujuran dan integritas. Meski kita masih muda dan sering diremehkan, ini waktu yang tepat buat kita belajar lebih dari yang lain. Termasuk mempelajari tentang kehidupan.”
“Terus, apa yang harus kita lakuin setelah ini?” tanya Nanda.
“Kita makan-makan...!” seru Tia ceria. 
“Selesaikan dulu artikel untuk majalah sekolah minggu ini!” pinta Rania. “Nanti aku traktir kalian.”
Tia, Rido dan Nanda saling pandang sambil menyunggingkan senyuman. 
“Fokus dulu ke kasus Sarah dan Galang!” pinta Rania. 
“Sebenarnya, kita nggak perlu banyak ikut campur soal kematian Sarah. Udah ditangani sama polisi, Ran. Kita main aman aja, deh!” ucap Nanda lagi. 
“Memangnya ada polisi yang bisa dipercaya buat nyelidiki kasus?” tanya Rania. “Kalau buat ngehilangin kasus, baru ada.”
Rido tertawa kecil menanggapi ucapan Rania. 
Kini mereka mengerti mengapa Galang begitu panik kehilangan ponsel itu.
"Kita harus simpan semua bukti ini,” pinta Rania. 
Rido mengangguk. Ia menyalin seluruh isi percakapan ke dalam laptop dan sebuah flashdisk.
"Kalau HP ini hilang lagi, kita masih punya cadangan."
Tanpa terasa, langit di luar mulai gelap. Jam menunjukkan pukul tujuh malam.
"Ayo, kita pulang!” ajak Rania sambil memasukkan ponsel Sarah kembali ke dalam tas.
Tia, Rido, dan Nanda mengangguk bersamaan. Mereka segera merapikan meja kerja masing-masing dan bersiap untuk pulang ke rumah. 
Rania mengendarai sepeda motornya seperti biasa bersama ketiga temannya. Begitu keluar dari gang masuk sekolah, mereka semua berpisah karena arah rumah mereka berbeda-beda. 
Rania sempat berhenti di SPBU untuk mengisi bensin. Ia tidak ingin berangkat ke sekolah terburu-buru dan masih harus mencari bensin di pagi hari. 
Rania tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sedang mengawasinya dari kejauhan. 
Rania melajukan kembali sepeda motornya menuju kawasan perumahan elit di Balikpapan Regency. 
Jalanan tampak lengang. Dikawasan itu, tak pernah ramai kendaraan. Sehingga tidak pernah ada kata macet. 
Tiin.. Tiin ...! 
Suara klakson mengalihkan perhatian Rania. Ia langsung menoleh ke arah sumber suara. Dari jenis dan warna sepeda motor yang digunakan, ia langsung tahu kalau cowok yang kini sudah berada di sampingnya itu adalah Galang. 
“Berhenti atau kutendang motormu!” teriak Galang sambil berusaha menjejak sepeda motor Rania dengan kakinya. 
Rania langsung menepikan sepeda motornya perlahan. “Kamu mau apa?” tanyanya. 
Galang tersenyum sinis sambil menghampiri Rania begitu ia turun dari sepeda motornya. Ia langsung mengeluarkan sebilah pisau yang ia simpan dari balik jaketnya dan menghunuskan ke arah Rania. 
Rania spontan melangkah mundur saat melihat kilau cahaya dari benda tajam yang digenggam Galang.
“Serahin hape itu ke aku!” pinta Galang lembut dengan senyum penuh kebencian. 
Rania menggeleng. “Aku nggak tahu apa yang kamu maksud,” ucapnya. 
“Kamu kira aku bodoh, hah!?” sentak Galang sambil menghunuskan ujung pisaunya ke leher Rania. “Aku punya banyak mata-mata di kota ini. Kamu nggak akan bisa ngelawan aku!”
Rania terdiam. Ia berusaha menelan saliva dengan susah payah saat ujung pisau itu tepat menempel di lehernya.
Galang langsung merebut tas yang ada di tubuh Rania. Ia langsung membalikkan tas tersebut dan semua isinya berserakan di lantai jalanan. Matanya langsung tertuju pada ponsel Sarah yang tergeletak di sana. 
Galang tersenyun miring. “Ini yang kamu bilang nggak tahu?” tanyanya. Ia segera meraih ponsel tersebut dan memasukkan ke dalam saku jasnya. 
Rania bergeming. 
“Aku sudah peringatkan kamu berkali-kali. Jangan campuri urusanku kalau masih sayang sama nyawamu!” ucap Galang menahan amarah di dalam dadanya. 
Galang langsung menarik lengan kiri Rania dan menekankan ujung pisau ke lengan gadis itu hingga cairan merah segar mengucur dari lengan Rania. 
“Aargh ...!” teriak Rania menahan sakit. 
“Ini baru peringatan buat kamu. Kalau sampai kamu masih ikut campur urusanku, kamu nggak akan selamat!”
“Brengsek kamu!” umpat Rania sambil menggenggam lengan kirinya agar darah tidak mengucur semakin deras. “Kami sama Sarah itu sama aja. Sama-sama nggak punya hati!”
Galang tertawa mendengar ucapan Rania. “Aku memang nggak punya hati. Makanya, kamu harus hati-hati!”
Rania menatap tajam ke arah Galang sambil menahan rasa sakit. “Aku nggak ikhlas kamu lukai seperti ini. Kusumpahin hidupmu sial terus!”
“Hahaha.” Galang tergelak mendengar ucapan Rania. “Makan aja sumpahmu yang nggak berguna itu!” ucapnya. Ia langsung berbalik, menaiki motor dan pergi meninggalkan Rania begitu saja. 
“Aaargh...!” Rania menahan amarah yang sudah membakar dadanya. Bagi seorang penulis dan jurnalis, tangan adalah bagian paling penting. Sarah dan Galang benar-benar berniat membuatnya berhenti menulis.
“MATI AJA KAMU!” teriak Rania yang tak lagi mampu mengendalikan emosinya. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di lantai. Ia segera menghubungi orang rumah agar menjemputnya. Sebab, ia tidak bisa lagi mengendarai sepeda motor dengan kondisi lengannya yang terluka. 


(Bersambung...)

Pendamping Nakal Bab 4 : Rahasia yang Tak Ikut Terkubur

Bab 4 – Rahasia yang Tak Ikut Terkubur

Malam itu, langit Balikpapan masih menggantungkan awan gelap. Jalanan yang mengarah ke kawasan Kilometer 24 tampak lengang. Hanya suara jangkrik dan embusan angin yang sesekali menggoyangkan daun-daun kelapa sawit.

Di dalam mobil, Rania memandang ke arah jalan yang mulai ditinggalkan Galang.

"Lanjut, Pak. Tapi jangan terlalu dekat!" pintanya kepada sopir.

"Siap, Neng!"

Mobil kembali bergerak perlahan.

Rania mengepalkan jemarinya. Ia tahu, kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang dua kali.

***

Galang menghentikan motornya di depan sebuah minimarket. Ia masuk beberapa menit untuk membeli air mineral.

Begitu Galang menghilang di balik pintu kaca, Rania segera membuka pintu mobil.

"Aku cuma sebentar."

Ia berlari kecil menuju motor Galang yang masih terparkir di depan minimarket.

Ransel hitam itu masih menggantung di jok belakang.

Rania menarik resletingnya perlahan.

Kotak kecil yang tadi dilihatnya melalui lalat pengintai masih berada di dalam.

"Ketemu..."

Tangannya sedikit gemetar.

Ia membuka kotak itu.

Sebuah ponsel berwarna putih dengan sudut yang retak terlihat di dalamnya.

Rania langsung mengenali gantungan kecil berbentuk bunga matahari yang masih menempel di casing.

"Ini... ponselnya Sarah."

Ia pernah melihat gantungan itu berkali-kali saat Sarah sibuk bermain ponsel di sekolah.

Tanpa berpikir panjang, Rania memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya.

Lalu ia mengambil sebuah batu seukuran ponsel, membungkusnya dengan kain bekas, kemudian memasukkannya kembali ke dalam kotak.

Kotak itu ditutup rapat dan dikembalikan ke posisi semula.

Tidak ada yang tampak berubah.

Rania buru-buru kembali masuk ke mobil.

"Tolong jalan, Pak!"

Mobil melaju meninggalkan minimarket tepat ketika Galang keluar sambil membawa sebotol air mineral.

***

Malam semakin larut.

Sesampainya di rumah, Rania langsung mengunci pintu kamar.

Ia mengeluarkan ponsel milik Sarah.

Layar ponsel itu mati total.

"Apa baterainya habis?"

Rania mencari kabel pengisi daya yang kebetulan cocok.

Beberapa detik kemudian...

Logo ponsel menyala.

"Syukurlah..."

Namun sebelum layar utama muncul, permintaan PIN langsung memenuhi layar.

Rania mengembuskan napas panjang.

"Masih dikunci..."

Ia mencoba tanggal lahir Sarah.

Salah.

Nama sekolah.

Salah.

Tanggal kematian.

Salah.

Ponsel itu menampilkan tulisan:

Kesempatan tersisa: 7 kali.

Rania mengurungkan niatnya.

"Jangan gegaba!" Ia mematikan kembali layar ponsel. "Kalau sampai terkunci permanen, malah kacau. Tapi, ada Rido yang jago teknologi. Sepertinya, mudah buat dia buka ponsel ini. Besok aja, deh." Ia memasukkan ponsel itu ke dalam laci meja belajarnya.

***

Keesokan harinya.

Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Rania berjalan sendirian menuju parkiran. Belum sempat ia mengambil helm, sebuah tangan menahan stang motornya.

Galang.

Tatapan matanya jauh lebih dingin dibanding pertemuan mereka sebelumnya.

"Aku mau ngobrol!"

"Aku lagi buru-buru."

"Aku nggak tanya!"

Rania menatap lurus ke arah Galang.

"Ada apa?"

Galang melangkah mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa puluh sentimeter.

"Kamu ngikutin aku kemarin."

Rania terdiam. "Ngikutin?" tanyanya santai.

"Jangan pura-pura!"

"Aku nggak ngerti maksudmu."

Galang tersenyum tipis. "Mobil hitam itu udah dua kali aku lihat di kaca spion. Mobilmu, kan?"

Jantung Rania berdetak lebih cepat. Namun wajahnya tetap tenang. "Mungkin cuma kebetulan aja jalan kita searah."

"Kebetulan?" Galang tertawa pelan. "Kebetulan kamu berhenti waktu aku berhenti. Kebetulan kamu ada di Kilometer Dua Empat?"

"Aku ke Kilometer Dua Empat karena mau ke rumah saudaraku. Emang kamu ke sana juga? Aku nggak lihat!" sahut Rania. 

"Oh, ya? Kebetulan juga setelah itu ada orang yang buka tasku."

Rania mengedikkan bahu dengan santai. "Apa hubungannya orang itu sama aku?"

Galang kini menatap geram ke arah Rania. Ia sangat kesal dengan wajah Rania yang begitu santai dan tidak merasa bersalah sama sekali. Ia yakin, gadis yang membuka ranselnya di parkiran adalah Rania. Meski gadis itu memakai masker dan topi, tapi postur tubuh Rania bisa ia kenali. Terlebih, ransel yang dipakai Rania sama persis dengan ransel milik gadis itu. 

"Jangan pernah ikut campur urusanku!" Suara Galang berubah pelan. Justru karena pelan, ancamannya terdengar lebih mengerikan.

"Kalau rahasiaku sampai terbongkar..." Ia mencondongkan wajahnya. "Aku bakal bunuh kamu!"

Hening.

Suara burung di halaman sekolah seperti ikut menghilang.

Rania menatap balik tanpa mundur sedikit pun.

"Kamu lagi ngancam aku?"

"Bukan." Galang tersenyum tipis. "Aku cuma ngasih tahu apa yang bakal terjadi." Ia menepuk pelan pundak Rania.

"Kamu nggak bisa main tuduh tanpa bukti. Kalau kamu nggak bisa buktikan itu aku, maka jangan ganggu!"  pinta Rania. 
"Kamu pikir aku nggak punya bukti? Di sana ada CCTV. Kamu lupa?" sahut Galang sambil tersenyum sinis. 

Rania terdiam. Kali ini ia tidak memiliki alibi untuk membantah ucapan Galang. 

"Mana hape yang kamu ambil?" tanyanya. 

Rania mengedikkan bahu. "Aku nggak tahu."

Galang langsung menyambar leher Rania dan mencengkeramnya dengan erat. 

"Kalau hape itu nggak kembali ke tanganku dalam waktu 24 jam, aku ambil nyawamu!" ancamnya. 

Rania terdiam. Ia hanya menahan rasa sakit di lehernya karena cengkeraman Galang semakin kuat. "Lepasin!" pintanya lirih sambil berusaha menepis tangan Galang yang kokoh. 

"Hei ...! Jangan kasar sama cewek!" seru Rido sambil mendorong tubuh Galang agar berhenti mencekik Rania. 

Galang tersenyum sinis. "Anak Mading sialan!" umpatnya sambil meludah ke tanah.

"Kalau sampai ada berita tentang aku, kalian semua nggak akan selamat! "

Rania menarik napas dalam-dalam sambil memegangi lehernya yang terasa nyeri. Cengkeraman tangan Galang membekas jelas di kulit Rania yang putih. 

Galang melangkah pergi dengan perasaan tak karuan. Ia sangat kesal karena Rania tak mau mengakui perbuatannya. Sementara, ia sangat membutuhkan ponsel Sarah. Jika sampai ada orang yang bisa membuka ponsel itu, seluruh hidupnya akan habis. Ia tahu, Sarah pasti belum menghapus isi chat-nya sebelum dia meninggal. 

"Galang brengsek!" umpat Rania yang masih menahanbrasa sesak. 
"Sabar, Ran! Lagian dia berani banget giniin kamu di sekolah saat lagi rame kayak gini. Gimana kalau dinluar sekolah?" ucap Rido. 
"Kalau dia sampai sepanik ini, artinya ada rahasia besar yang dia sembunyikan," ucap Rania pelan. 
"Emangnya ada masalah apa antara kamu sama Galang?" tanya Rido. 
"Nanti aku ceritain! Ajak anak-anak ngumpul di ruang mading jam empat sore! Aku pulang dulu. Ada hal penting yang mau aku tunjukkan ke kalian. Jangan lupa bawa perlengkapan IT kamu! Aku perlu bantuanmu," ucap Rania. 
Rido mengangguk sambil menahan senyum di bibirnya. Ia merasa sangat bahagia ketika kemampuannya dibutuhkan oleh Rania. Dia bisa sembari belajar dan mengasah kemampuannya sebagai hacker. 


((Bersambung...))

Thursday, October 23, 2025

Pendamping Nakal Bab 3 : Senja yang Menyimpan Rahasia

 


Bab 3 – Senja yang Menyimpan Rahasia

Langit Balikpapan sore itu tampak seperti kanvas yang diusap dengan warna oranye lembut dan semburat ungu yang samar. Suara jangkrik mulai menggantikan tawa para siswa yang berangsur pulang. Di antara lalu lalang langkah kaki dan deru motor yang menyalakan mesin, Rania Handara Arthadipura menenteng tasnya dan berjalan menuju gerbang sekolah.

Sudah hampir dua minggu sejak ia keluar dari rumah sakit. Balutan di jarinya kini tinggal perban tipis. Luka fisik itu memang hampir sembuh, tapi di dalam dadanya masih ada sesuatu yang belum pulih sepenuhnya—rasa bersalah yang diam-diam menggigit di dasar pikirannya.

Berita tentang kematian Sarah perlahan hilang dari linimasa sekolah. Orang-orang sudah kembali tertawa di kantin, membicarakan hal-hal sepele seperti lomba 17-an dan rencana study tour. Hanya sesekali, ketika nama Sarah disebut, ada bisikan samar yang lewat, tapi cepat hilang ditelan kesibukan remaja yang mudah lupa.

Rania belajar tersenyum lagi. Ia berusaha terlihat seperti dulu. Tapi setiap kali melihat foto-foto kegiatan OSIS di papan mading, matanya sering berhenti di satu wajah—Sarah Rahmadina—dengan senyum yang kini tak mungkin ditemuinya lagi.

***

Sore itu, Rania kembali ke perpustakaan bersama tim mading. Ruangan itu kini tak lagi sesepi dulu. Lampu-lampu yang sempat redup sudah diganti, dan aroma kertas tua masih sama seperti kenangan yang enggan pergi.

Tia sedang mengetik naskah berita baru tentang lomba debat, Nanda merapikan kamera di atas meja, sementara Rido sibuk menyortir foto kegiatan. Rania sendiri duduk di pojok ruangan, mengetik pelan berita utama untuk edisi bulan depan: “Menulis dari Luka: Ketika Suara Kebenaran Tak Bisa Dibungkam.”

“Aduh, Ran,” ujar Tia sambil menatap layar laptop Rania. “Judulnya dalem banget. Kayak bukan majalah sekolah, tapi kayak tulisan buat koran nasional.”

Rania tersenyum kecil. “Justru itu yang mau aku buat. Sekolah kita harus punya standar tinggi.”

“Wah, kalau kayak gini bisa-bisa kamu direkrut jadi jurnalis beneran,” sahut Rido. “Eh, tapi kamu nggak trauma, kan, balik ke sini?”

“Trauma?” Rania menatap jari-jarinya sendiri yang sudah hampir pulih. “Kalau aku berhenti datang ke sini, berarti kejahatan dan kebohongan akan menang.”

Hening sejenak. Suara kipas angin di pojok ruangan menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar.

Senja hadir perlahan. Cahaya jingga menyusup lewat jendela besar dan mengguratkan bayangan panjang di dinding rak buku. Rania membereskan berkas-berkas terakhir dan mematikan komputer sekolah. Teman-temannya sudah lebih dulu pulang karena hujan gerimis mulai turun.

“Ran, kamu yakin nggak mau aku anter?” tawar Rido sambil menenteng tas.

“Nggak usah. Rumahku deket, kok. Kamu langsung aja, nanti kehujanan,” jawab Rania.

“Ya udah. Hati-hati, ya!” pesan Rido sebelum melangkah pergi.

Rania tersenyum, lalu menunggu beberapa saat sampai suara langkah teman-temannya benar-benar hilang. Barulah ia keluar dari gedung perpustakaan. Di langit barat, matahari mulai tenggelam sempurna, menyisakan warna darah yang lembut di cakrawala.

Ia menyalakan motor bebek tuanya dan melaju perlahan keluar gerbang sekolah.

***

Hujan reda, tapi jalanan masih licin. Angin sore menampar lembut wajah Rania yang sedikit pucat. Ia mengendarai motornya hati-hati, melintasi gang kecil menuju jalan utama. Sesekali, genangan air memantulkan bayangan langit yang sudah berubah kelam.

Tikungan di depan kantor kelurahan tampak sepi. Saat Rania memutar gas sedikit lebih dalam, tiba-tiba seseorang menyeberang begitu saja dari balik mobil yang parkir di tepi jalan.

“ASTAGA!”

Rania menarik rem mendadak.

BRAK!

Suara benturan keras menggema. Motornya terguling, tubuh Rania terpental ke pinggir jalan beraspal. Suara logam bergesek dengan batu kerikil, disusul dengan ringisan seorang pemuda yang ikut terjatuh ke tanah.

“Aduh... gila kamu, ya!?” teriak pemuda itu sambil bangkit. Ia berseragam SMA dari sekolah lain, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya keras dan penuh emosi. “Nabrak orang sembarangan, nggak pake liat jalan! Matamu taro di mana!?”

Rania menahan perih di lututnya yang tergores. “Maaf... aku nggak sengaja, tadi kamu tiba-tiba—”

“NGGAK SENGAJA!? Kamu kira motorku ini murah, hah!?” bentak cowok itu. Ia menendang bodi motornya sendiri yang kini tergores. Honda CBR 150 Facelift berwarna merah-hitam itu terlihat lecet sedikit di sisi kirinya. “Nih liat! Lecet semua! Ganti!”

Rania terdiam. Ia memejamkan mata sembari menarik napas perlahan, berusaha menenangkan dirinya. “Aku minta maaf. Aku ganti. Tapi tolong jangan marah di jalan kayak gini. Orang-orang ngeliatin.”

Cowok itu mendengus. “Ngapain malu? Emang kamu yang salah! Bayar sekarang!”

Rania membuka dompet kecilnya. Hanya ada selembar uang seratus ribuan dan beberapa lembar dua puluh ribu yang sudah lecek. Ia menyerahkan uang itu dengan tangan gemetar. “Cuma ini yang aku punya.” Ia terpaksa menyerahkan seluruh uang yang ia miliki meski ia tahu kalau itu adalah uang jajan untuk seminggu ke depan.

Cowok itu menatap uang di tangan Rania dengan sinis. “Seratus ribu buat lecet segini? Kamu  pikir ada bengkel dewa yang bisa benerin pakai doa?”

Rania menarik napas panjang, mencoba menahan amarah. “Aku udah minta maaf, aku udah ganti. Kalau kamu nggak puas, laporin aja aku ke polisi.”

Cowok itu tersenyum miring. “Berani juga kamu ngomong gitu.”

Rania berusaha menguatkan hatinya untuk menghadapi cowok yang ada di hadapannya itu. Matanya tertuju pada nama yang tertera di bajunya, Galang Wirasena.

Galang mendekat, menatap Rania dari dekat dengan senyum sinis. “Cantik-cantik, mulutmu tajem juga, ya?”

Rania menatapnya tanpa gentar. “Aku cuma nggak mau perpanjang masalah ini. Aku buru-buru harus pulang.”

"Kamu pikir bisa pulang seenaknya? Uang segini buat beli bensin motorku aja nggak cukup, apalagi buat baikin motor ini." Galang memperhatikan seragam sekolah Rania yang khas. Ia langsung tahu kalau Rania bersekolah di Smarihexa. Salah satu sekolah elite di kota ini.

"Rania H.A," ucap Galang sambil membaca nama yang tertera di baju Rania. "Besok aku bakal cari kamu buat ambil kekurangan ganti rugi. Kalau sampai kamu nggak kasih uangnya, aku bakal onar di sekolahmu."

Rania menghela napas kembali. "Nggak perlu datang ke sekolahku. Ini urusan pribadi antara kita berdua, nggak ada hubungannya dengan siapa pun, apalagi dengan pihak sekolah. Kamu mau aku ganti rugi berapa? Aku antarkan nanti malam. Aku pulang dan mandi dulu," ucapnya. Ia mencoba untuk bernegosiasi.

"Satu juta," jawab Galang.

"Kamu mau minta ganti rugi atau mau malak?" sahut Rania.

"Kamu mau ganti rugi atau semua orang di deketmu ikut nanggung?" sahut Galang.

"Terserah. Aku kasih kamu lima ratus ribu. Kalau nggak mau, kamu laporin aja aku ke polisi!" tegas Rania.

"Oke. Aku tunggu di Rumah Kopi Mantan jam delapan malam. Kalau sampai kamu nggak datang, aku pastikan pihak sekolah atau orang tuamu yang aku datangi buat tanggung jawab," ucap Galang.

Rania mengangguk. Ia membiarkan Galang pergi. Ia segera menyalakan mesin motornya dan pulang ke rumah. Di dalam dadanya, ada getaran aneh yang sulit dijelaskan. Kata-kata Galang tadi menggantung di udara, dingin, seperti kabut yang belum sepenuhnya pergi.

***

Rania terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi begitu ia sampai rumah. Ia segera membersihkan diri, membalut luka di lututnya dan segera keluar kembali menuju Kedai Kopi Mantan untuk mengantarkan sisa uang ganti rugi yang harus ia bayarkan. Untungnya, ia masih memiliki uang tabungan karena ia selalu menyisihkan uang jajan hariannya.

Rania bukan takut terhadap ancaman Galang. Ia hanya tidak ingin terjadi keributan hanya karena masalah sepele, terlebih sampai melibatkan orang lain. Ia akan berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa merepotkan orang lain, bahkan orang tuanya sendiri. Baginya, ini bukan masalah besar yang harus dicampuri oleh tangan orang tua, apalagi pihak sekolah.

Pukul 20.15 WITA, Rania baru sampai di kedai kopi tempat ia dan Galang janjian bertemu. 

"Sorry, aku telat!" ucap Rania sambil menghampiri Galang begitu ia sudah menemukan pria itu.

Galang tersenyum sinis. "Aku pikir, kamu bakal bohongi aku. Aku udah siap-siap mau nyerang sekolahmu."

"Nggak perlu. Aku pasti penuhi janjiku," sahut Rania. Ia segera meletakkan amplop berisi uang ke atas meja, tepat di hadapan Galang. Ia langsung berbalik dan melangkah pergi, sebab ia tidak memiliki kepentingan lain selain memberikan uang itu pada Galang.

"Tunggu!" seru Galang.

Rania menghentikan langkah kakinya.

"Nggak mau minum es kopi dulu?" tanya Galang sambil menatap punggung Rania.

"Nggak perlu. Makasih," sahut Rania.

"Cantik-cantik jangan ketus gitu, dong!" ucap Galang. Ia bangkit sambil melangkah menghampiri Rania. "Gimana kalau kita santai dulu sambil ngobrol?" tanyanya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Rania dengan senyum miring. "Ketua Mading Smarihexa," lanjutnya.

"Kamu dapet info dari mana?" tanya Rania sambil menatap serius ke arah Galang.

Galang tertawa kecil. "Nggak usah terlalu serius begitu! Apa yang aku nggak tahu? Dapetin informasi tentang kamu itu hal mudah."

Rania tak menggubris. Ia berusaha menerobos tubuh Galang agar ia bisa segera pergi. Ia sama sekali tidak berminat berinteraksi lama-lama dengan cowok itu.

"Bangsat nih, cewek!" batin Galang kesal karena Rania menolak ajakannya. Ia kembali menghadang tubuh Rania yang sudah menerobos tubuhnya.

"Mau kamu apa, sih!?" sentak Rania.

"Seumur hidupku, aku nggak pernah ditolak sama cewek. Kamu ini siapa, hah!? Berani-beraninya kamu nolak ajakanku?"

"Nggak penting aku siapa. Aku bukan cewek yang selama ini ketemu sama kamu. Jadi, jangan samakan aku sama mereka," sahut Rania ketus.

Galang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia melirik beberapa temannya yang juga berada di kedai kopi tersebut. Kalau sampai ia tidak berhasil mengajak Rania makan bersama, ia akan ditertawakan oleh seisi sekolah dan jadi bahan lelucon.

"Kalau kamu nggak mau nemenin aku ngopi, aku bakal ajak satu sekolah nyerang sekolahmu," ancam Galang.

"Kamu ...!?" Rania menatap geram ke arah Galang sembari menahan api amarah di dadanya. "Mimpi apa aku sampai ketemu cowok kayak gini," batinnya. Ia tidak lupa jika Galang mengenakan seragam SMK yang terkenal sebagai sekolah preman karena sering terlibat tawuran antar sekolah setiap minggunya.

Rania tidak akan membiarkan Galang and the Gank menyentuh sekolahnya sedikitpun. Baginya, Smarihexa bukan sekedar tempat bersekolah, tapi juga martabat yang harus dijaga. Smarihexa dikenal sebagai sekolah yang berprestasi dan jauh dari pemberitaan buruk, apalagi tawuran yang kerap dilakukan oleh siswa antar sekolah di kota itu.

Rania tak bisa menolak lagi. Ia langsung melangkahkan kakinya kembali ke meja tempat Galang tadi duduk santai.

Galang memainkan mata ke arah teman-temannya yang duduk di meja berbeda dengannya. Ia tersenyum penuh kemenangan karena bisa membuktikan dirinya sebagai penakhluk wanita nomor satu di kota tersebut.

"Mau pesan apa?" tanya Galang.

"Cafe Latte," jawab Rania santai.

Galang langsung melangkah menuju meja barista dan memesan secangkir Cafe Latte, juga beberapa cemilan.

TING!

Pandangan mata Rania tertuju pada ponsel Galang yang tiba-tiba menyala. Matanya terbelalak lebar saat melihat foto Sarah dan Galang menjadi wallpaper handphone tersebut.

"Sarah sudah meninggal dua bulan lalu. Kenapa dia masih pajang foto Sarah di ponselnya? Apa hubungan Galang dan Sarah?" batin Rania penuh tanya. 

Rania ingin sekali mengetahui siapa Galang sebenarnya. Tapi ia tidak memiliki keberanian menyentuh ponsel pria itu. Ia memilih untuk mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke grup Mading Smarihexa.

Rania : "Kalian sudah dapet informasi tentang pacar Sarah?"

Tia : " Iih ... apaan, sih? Kenapa dibahas lagi orang yang sudah meninggal?"

Rania : "Aku baru aja nemuin sesuatu."

Rido : "Apa itu?"

Rania : "Posisi kalian di mana? Jangan jauh-jauh dari Kedai Kopi Mantan! Aku lagi di sini sama cowok yang nggak sengaja aku tabrak sore tadi. Sepertinya dia punya hubungan spesial sama Sarah."

Nanda : "Pentingnya kita tahu pacar Sarah itu apa? Toh, Sarah juga sudah meninggal."

Tia : "Penting dong, Nan. Soalnya sampai sekarang masih belum diketahui siapa pacar Sarah. Emang kamu nggak penasaran?"

Rania : "Sepertinya ada misteri di balik meninggalnya Sarah. Ponsel dia nggak ketemu sampai sekarang. Nggak mungkin menghilang begitu aja saat di TKP. Aku akan selidiki cowok ini, kalian jagain aku dari jauh. Karena cowok ini ketua geng dan aku yakin dia nggak mungkin sendirian di tempat seperti ini."

Rido : "OK."

Nanda : "OK"

Tia : "Aku nggak bisa keluar malam. Aku tunggu kabar dari kalian aja, ya! Hehehe."


"Kamu sudah punya pacar?" tanya Galang to the point. Ia cukup tertarik dengan wajah cantik Rania, juga sikapnya yang membuatnya penasaran.

"Belum," jawab Rania sambil menatap Galang.

"Kenapa nggak punya pacar?"

"Bukan urusan kamu."

"Nggak usah ketus gitu, dong!" pinta Galang. Ia tertegun sejenak saat layar ponselnya menyala karena ada notifikasi masuk. Ia lupa mengganti wallpaper ponselnya sehingga masih terpajang foto Sarah dan dirinya di sana. Ia buru-buru mengganti wallpaper tersebut. Ia tahu jika Rania adalah jurnalis sekolah dan pasti mengetahui berita viral yang beredar dua bulan lalu.

"Kamu kenal sama Sarah?" tanya Rania tanpa basa-basi.

Wajah Galang berubah ketika mendengar pertanyaan Rania. "Temen," jawabnya. Sebab, ia tahu jika keberadaannya sempat diincar oleh polisi. Ia adalah pria yang menghamili Sarah dan juga berusaha untuk menggugurkan bayi itu. Ia belum siap menjadi seorang ayah karena ia masih duduk di bangku SMK.

"Kalau kamu nggak bisa ngasih jawaban, waktu yang akan ngasih jawaban. Mungkin, jawabannya akan lebih pahit dari kenyataan yang sudah berlalu," ucap Rania.

Galang tetap bungkam. Ia berusaha mengalihkan perhatian agar Rania tidak membahas soal Sarah. Ia tidak ingin mengingatnya. Ia sangat mencintai Sarah, tapi ia tidak bisa bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi. Ia tidak ingin ada satu orang pun yang mengetahui hal itu dan akan ia tutup rapat-rapat sampai akhir hidupnya.


***

Rania tak menyerah begitu saja. Urusannya masih belum selesai. Ia masih belum tenang jika belum bisa mengetahui dengan pasti apa hubungan Sarah dan Galang di masa lalu. Mungkinkah Galang yang menghamili Sarah? 

Hingga suatu hari, Rania tak sengaja melihat Galang masuk ke dalam sebuah perkebunan sawit yang berada di kawasan kilometer 24. Saat itu Rania baru saja pulang dari rumah saudaranya karena ada acara keluarga. 

Rania meminta supir yang mengantarnya untuk berhenti sejenak. Ia segera mengeluarkan lalat pengintai yang ia miliki dan mengendalikannya mengikuti langkah Galang. 

Galang terlihat sedang menggali tanah yang ada di sana dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sana. 

"Syukurlah hape Sarah masih aman di sini. Aku harus musnahin hape ini sebelum ada orang lain yang nemuin," ucap Galang. Ia segera memasukkan kotak tersebut ke dalam ranselnya. 

Rania buru-buru menarik lalat pengintai kembali ke dalam mobil dan memerintahkan supir untuk bergegas pergi. Ia juga meminta teman-temannya untuk mencari cara mengambil ransel yang dibawa Galang saat ini karena ada rahasia besar di dalamnya tentang masa lalu Sarah. 



((Bersambung...))


Sunday, October 19, 2025

Pendamping Nakal Bab 2 : Doa yang Menyeret Nyawa

 


Bab 2 – Doa yang Menyeret Nyawa

 

Hujan mengguyur Balikpapan sejak sore. Airnya menetes pelan dari atap rumah sakit, menimbulkan bunyi ritmis yang mengiringi detak jam di dinding.
Rania terbaring di ranjang dengan tangan kanan terbalut perban tebal. Setiap denyut di jarinya seperti gema dari peristiwa kemarin.  Samar ... tapi perihnya menolak pergi.

Di sisi ranjang, ponselnya bergetar pelan. Sekali, dua kali, lalu terus menerus.
Ie meraih ponsel menggunakan tangan kirinya dan membuka pesan grup Whatsapp ”Mading Smarihexa”.

 

Rido: “Ran, kamu udah lihat berita?”
Tia: “Sarah... ketabrak mobil waktu pulang sekolah
😭😭😭
Nanda: “Gila, parah banget... badannya sebagian hancur.”

Rido : ”Motornya ringsek. Kebayang ’kan kondisinya gimana?”

Tia : ”Aku ngeri banget lihatnya. Perlu kita naikkan ke mading sekolah kita atau nggak, sih?”

Nanda : ”Naikkan aja nggak papa. Toh, udah viral juga di berita kota Balikpapan. Masa sekolah kita malah nggak angkat beritanya?”

Rido : ”Tapi ini berita duka. Kita buat beritanya, tapi jangan ditampilkan korban kecelakaannya. Cukup jadi arsip kita aja.”

Tia : ”Sementara kita buat postingan ’Rest in Peace’ aja dulu, deh. Sampai ada keputusan dari Rania mau dinaikkan beritanya atau nggak ke majalah sekolah.”

Rido : ”Nggak usah naif, deh! Sarah itu abis ngelukain Rania sampai jari tangannya Rania hancur kayak gitu. Masih aja jaga perasaannya. Keluarin aja kali, bikin dia malu.”

Tia : ”Orangnya udah meninggal. Nggak usah nambahin beban dosa orang, Do.”

Rido : ”Tangan Rania itu penting. Dia yang menuliskan semua kebenaran yang ada di sekolah kita. Kita ini kalau nggak ada tangan, nggak bisa nulis.”

Tia : ”Bisa pakai voice to text, ya. Nggak usah ngomporin Rania, deh!”

 

Rania membaca percakapan grup yang tiba-tiba ramai.  Ia membuka galeri dan melihat foto-foto yang dikirim oleh Tia. Ada beberapa potong gambar: jalanan kota yang basah, tubuh berlumur darah yang menetes di aspal, sepeda motor yang ringsek dan ada potongan tubuh yang tertinggal di sana, pita kuning polisi mengelilingi TKP, tepat di simpang empat Rapak yang basah hujan.

Rania meringis ngeri. Wajahnya memucat dan tangannya gemetaran. Isi perutnya bergejolak menemani perasaan hatinya yang tak karuan.
Samar-samar ia mendengar suaranya sendiri, suara yang dulu ia ucapkan di perpustakaan bergema kembali di kepalanya.

“Aku sumpahin kamu mati ketabrak mobil!”

Seketika, udara di ruang itu menipis. Rania terduduk lemah, napasnya memburu. Dadanya terasa berat, seperti ditindih oleh kata-katanya  sendiri.

Di luar jendela, kilat membelah langit. Suaranya seperti tamparan yang sedang mengingatkan bahwa sesuatu telah terjadi, dan mungkin ia bagian dari penyebabnya.

***

Keesokan paginya, aroma kopi dan suara televisi dari ruang tunggu rumah sakit memecah kesunyian.
Rania mendengar dengan samar suara pembawa berita dari TV kecil di pojok ruangan.

“Kecelakaan tragis menimpa siswi SMA ternama di Balikpapan. Korban meninggal di tempat dengan luka parah di bagian kepala, tangan dan dadanya.”

Kalimat berikutnya membuat tangan Rania berhenti bergerak.

“Hasil otopsi sementara menunjukkan bahwa korban tengah berbadan dua.”

Suara televisi seolah menjauh, berganti dengan dengung panjang di telinganya.
Bayangan wajah Sarah muncul. Senyum sinis, mata menyala, lalu darah yang mengalir di lantai perpustakaan.

Rania menggenggam selimut erat-erat. Tubuhnya gemetar. Ia masih tidak percaya jika hidup Sarah harus berakhir tragis seperti apa yang dia ucapkan. Ia tidak sungguh-sungguh ingin melukai Sarah. Ia hanya emosi sesaat dan tidak bisa mengendalikan emosinya saat itu.

Bagaimana bisa semuanya terasa kebetulan? Ia ingin percaya semua itu hanya kebetulan. Tapi di benaknya, kalimat doa itu terus menari seperti mantra yang menuntut balasan.

“Doa bukan hanya tentang harapan… kadang ia juga jadi pedang.”

***

Siang itu, tim mading datang menjenguk. Rido, Nanda, dan Tia berdiri di sisi ranjang membawa bucket bunga asoka yang mereka ambil dari taman sekolah. Maklum, mereka masih anak sekolah dan harus menghemat pengeluaran. Terlebih, Rania tidak senang jika mereka menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak terlalu penting.

“Ran,” ucap Rido pelan. ”Polisi udah datang ke sekolah. Mereka ambil rekaman CCTV. Katanya... terakhir kali Sarah keliatan, dia keluar dari gedung perpustakaan.”

Rania mengangkat kepala perlahan. Pandangan mereka saling bertaut, dan dalam tatapan itu, Rido menunduk, seolah kalimat barusan terlalu berat untuk diucapkan.

”Memang apa hubungannya sama Rania?” tanya Tia.

”Pasti ada hubungannya, dong. Pasti Rania dimintai keterangan buat jadi saksi apa yang dilakukan Sarah terakhir kalinya.”

”Trus, Rania bisa dipenjara, gitu?” tanya Nanda polos.

Rania menahan tawa mendengar pertanyaan Nanda. ”Emangnya aku yang nabrak Sarah.”

”Bukan, sih,” sahut Nanda pelan.

”Justru dia yang bikin tanganku hancur. Dia seharusnya jadi tersangka,” ucap Rania. ”Tadinya aku mau masukin laporan ke polisi supaya dia nggak semena-mena terus sama kita. Tapi karena ada berita dia meninggal, aku nggak jadi laporin.”

”Bener juga.” Nanda manggut-manggut.

”Terus, kenapa polisi nyariin siapa yang terakhir interaksi sama Sarah?” tanya Rido.

”Mungkin karena kehamilannya,” jawab Rania.

Rido, Nanda, dan Tia saling pandang.

”Bener juga, Ran. Kira-kira, siapa yang hamilin Sarah? Dia itu ketua OSIS yang harusnya jadi panutan, kan? Apa mungkin kalau keluarga Sarah nyari cowok yang hamilin dia? Bisa jadi, Sarah bawa motor dengan pikiran kacau karena dia MBA (Marriage Baby Accident),” cerocos Tia.

”Kita belum tahu sampai nanti kita temukan faktanya. Sementara, kita simpan dulu pertanyaan-pertanyaan itu. Karena aku tahu, isi kepala kita hari ini sama,” ucap Sarah.

Mereka semua mengangguk dan mulai membahas beberapa berita dan artikel yang akan mereka terbitkan dalam minggu ini.

***

 

Malamnya, hujan turun lagi.
Rania tak bisa tidur. Ia duduk menatap jendela, mendengarkan suara air yang jatuh ke genting.
Di luar sana, kota Balikpapan berkilau dalam cahaya lampu yang beku.

Pikirannya melayang-layang pada wajah Sarah, bunyi tulang retak, sirene ambulans, dan kata-kata yang tak bisa ditarik kembali.
Ia menarik selimut sampai ke dada, berusaha menenangkan diri. Namun sebelum matanya terpejam, terdengar ketukan pelan di pintu kamar.

Tok. Tok. Tok.
Tiga kali.
Pelan, tapi pasti.

Rania menoleh. Suara hujan seperti berhenti mendadak.

Pintu kamar itu terbuka sedikit. Dua pria berseragam coklat berdiri di ambang pintu, basah kuyup, topi mereka meneteskan air ke lantai putih rumah sakit.

“Permisi,” sapa salah satu dengan nada tenang namun tegas. “Rania Handara Arthadipura, ya?” tanya seorang pria muda berwajah tampan sembari menghampiri Rania.

Rania hanya bisa mengangguk. Suaranya tercekat di tenggorokan.

“Kami dari Polresta Balikpapan,” lanjutnya sambil menunjukkan kartu identitas.
“Ada beberapa hal yang perlu kami tanyakan... soal Sarah Rahmadina. Kamu tercatat sebagai orang terakhir yang berinteraksi dengannya sebelum kejadian.”

Rania mengangguk. “Ada apa, Pak?” tanyanya.

”Dari haril otopsi, korban diketahui sedang hamil. Sehingga pihak keluarga meminta kami untuk mencari tahu siapa yang telah menghamili korban.”

”Hamil?” Rania mengangkat sebelah alisnya.

Polisi itu mengangguk. ”Diperkirakan usia kandungannya sudah 3 bulan. Apa kamu tahu siapa cowok yang sedang dekat dengan korban?”

Rania menggeleng.

”Kamu jangan berbohong! Ini sangat penting untuk penyelidikan kami,” pinta polisi tersebut.

”Apa karena aku yang terakhir berinteraksi dengan Sarah, bikin aku tahu semua tentang dia?” tanya Rania.

Dua polisi itu saling pandang mendengar pertanyaan Rania. Rania tidak terlihat seperti anak SMA di mata mereka. Cara bicaranya seperti mahasiswa karena ucapannya runut dan pilihan diksinya cukup baik.

”Sarah menemuiku di perpustakaan hanya untuk menghancurkan jari tanganku,” ucap Rania sambil menunjukkan telapak tangan kanannya yang masih terbalut perban. ”Dia marah karena aku posting artikel tentang kesurupan yang ada foto dia. Interaksi kami cuma sebatas itu. Kami tidak begitu mengenal, apalagi sampai tahu urusan pribasi,” jelas Rania.

Dua polisi itu kembali saling pandang, kemudian menganggukkan kepala.

”Baiklah. Terima kasih atas keterangannya! Mohon maaf, kami sudah menganggu Mba Rania,” ucap salah seorang polisi. Kemudian, mereka pamit pergi.

Petir menyambar di luar jendela, menerangi ruangan sesaat dan di pantulan kaca jendela, Rania melihat dirinya sendiri tangan kanan yang masih dibalut perban.

Maafkan aku, Sarah! Semoga kamu bisa tidur dengan tenang. Aku tidak bermaksud melukaimu sedikitpun. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi di kehidupan selanjutnya,” batin Rania.

((Bersambung...))

 


Thursday, October 9, 2025

Pendamping Nakal Bab 1 : Pertarungan Pena Rania

BRAK ...!

“Rania ...!”

Suara lantang Sarah menggelegar di seluruh ruang perpustakaan ketika gadis itu datang dan langsung menggebrak meja di hadapan Rania.

Rania terdiam menatap Sarah yang berdiri di depannya.

“Kamu ketua mading dan jurnalis sekolah, kan? Apa maksudnya kamu bikin berita kayak gini di majalah sekolah, hah!?” seru Sarah sambil menunjukkan lembar majalah yang ia maksud.

Rania melihat majalah itu sekilas dan langsung mengerti. Itu adalah artikel yang ditulis oleh timnya tentang fenomena kesurupan yang sering terjadi di sekolah akhir-akhir ini. Kebetulan Sarah juga sering kesurupan dan timnya mendapati foto Sarah yang paling bagus untuk dijadikan gambar pendukung artikel.

Rania dan timnya mempertimbangkan wajah Sarah yang cantik sebagai hal yang menarik. Selain itu, Sarah juga Ketua Osis yang cukup populer. Walau bagaimana pun, ia juga harus memikirkan strategi pasar dan bagaimana artikel-artikelnya bisa menarik lebih banyak pembaca.

“Bikin malu, aja. Tim ekskul kalian nggak punya bahan lain buat dijadikan berita? Ini berita kesurupan segala ditulis di sini. Kamu sengaja mau buka aib orang, hah!?” cerocos Sarah.

“Bukan begitu maksudnya, Kak. Berita ini dibuat berdasarkan fakta. Tanpa kami tulis pun, semua murid di sekolah ini tahu kalau Kak Sarah sering kesurupan,” sahut Rania.

“Terus, kalo semua orang sudah tahu ... kamu tulis di majalah? Biar apa? Biar kelihatan keren, gitu? Biar orang yang nggak tahu, jadi tahu semua? Senang kamu nyebarin aib orang, hah!?”

“Kak, kesurupan itu bukan aib. Aib itu kalau aku bikin berita tentang Kak Sarah hamil di luar nikah.”

PLAK ...!

Telapak tangan Sarah mendarat kencang di pipi Rania.

Rania langsung memegangi pipinya yang memanas. Air matanya otomatis menggenang menahan rasa sakit. Di sudut bibirnya, terlihat bercak darah yang keluar.

“Mau nangis!? Nangis aja!” sentak Sarah. “Hari ini aku cuma tampar kamu, ya! Kalau berani nyebarin rumor macem-macem lagi, aku nggak akan segan-segan bunuh kamu!” lanjutnya.

“Aku nggak akan nangis untuk sesuatu yang nggak salah!” sahut Rania.

“Kamu masih nggak sadar kalo salah, hah!? Kamu itu sudah melanggar privasi orang lain. Aku bisa tuntut kamu, ya!”

Rania tersenyum miring sambil menatap wajah Sarah. “Kamu paham atau nggak privasi itu apa? Semua hal yang sudah diketahui publik, itu namanya bukan privasi lagi. Privasi yang harus dijaga itu data diri kamu seperti kk, ktp, dan akun email. Karena bisa dipergunakan oleh oknum untuk mengambil keuntungan. Kalau Cuma kesurupan, itu bukan privasi. Kalau kamu nggak mau dilihat orang karena alasan privasi, kamu nggak perlu keluar rumah, nggak perlu ketemu manusia lain!”

“Kamu ...!?” Sarah makin geram melihat Rania yang melawannya. Ia langsung menarik rambut Rania hingga wajah gadis itu mendongak ke arahnya.

“Hari ini kamu masih punya kemampuan buat ngelawan aku, hah!? Aku pastikan posisimu sebagai ketua jurnalis sekolah cuma sampai hari ini aja!” ancam Sarah.

Rania tersenyum kecil. “Kamu pikir, bisa dengan mudah melengserkan posisiku? Kamu nggak takut kalau aku bikin berita tentang apa yang kamu lakuin ke aku hari ini?”

“Kamu ngancam aku!?”

“Siapa yang lebih dulu ngancam?” sambar Rania. “Aku berada di jalan kebenaran. Aku nggak akan gentar selama apa yang aku lakukan benar. Aku juga nggak akan ngebiarin orang seperti kamu mengendalikan aku. Kamu pikir, kamu siapa?”

“Aku ketua osis di sini. Ayahku juga donatur utama di sekolah ini. Aku bisa dengan mudah bikin kamu keluar dari sekolah ini!” jawab Sarah. Ia makin geram dengan Rania. Yang ia tahu, Rania adalah anak kutu buku yang jarang berbicara. Ia tidak menyangka jika Rania begitu berpendirian dan berani melawannya.

Rania tersenyum kecil. “Semua orang tahu itu. Tapi bukan berarti kamu bisa menindas orang seenaknya. Meskipun menyakitkan, kebenaran tetaplah kebenaran.”

“Nggak usah banyak bacot, ya! Kamu itu udah nyebar aib orang! Nggak usah mengalihkan pembicaraan!” sambar Sarah makin geram.

“Aku sudah bilang kalau itu bukan aib. Ada berapa banyak orang yang kesurupan di luar sana dan jadi bahan tontonan? Apa itu yang namanya aib? Kamu jangan membuat standar hidup sendiri! Hal biasa kamu anggap aib, sedangkan aib kamu anggap sebagai hal biasa,” ucap Rania yang tetap teguh pada pendiriannya.

“Kamu nggak boleh nulis apa pun tentang aku tanpa izin!” sentak Sarah makin geram. Ia semakin menarik keras rambut Rania hingga gadis itu tersungkur di lantai.

“Kita hidup di negara demokrasi. Semua orang bebas berbicara dan aku tahu sampai di mana batasannya. Kamu bukan siapa-siapa yang bisa membungkam mulutku dan menghentikan penaku begitu saja.”

Sarah langsung menginjak punggung tangan Rania yang berada di lantai dan menggilasnya. “Kamu masih nggak mau nyerah, hah!?” batinnya geram.

“Karena kamu menuduhku membuka aibmu ... bagaimana kalau aku sebarkan berita tentang kamu yang sering berada di kamar hotel bersama pria tua itu?” tanya Rania sambil menahan rasa sakit di punggung tangannya. “Supaya tuduhanmu itu bisa jadi kenyataan yang benar.”

Sarah makin menghentakkan kakinya. “Kamu jangam ngarang, ya! Aku ini anak orang paling kaya di sekolah ini. Mana mungkin aku jadi wanita simpanan, hah!?”

“Itu yang akan jadi berita paling besar, kan? Anak orang paling kaya di sekolah, yang setiap hari diantar pakai mobil mewah dengan semua barang-barang ber-merk, ternyata gadis simpanan oom-oom.”

Sarah kembali menjambak rambut Rania. “Kalau kamu berani fitnah aku, aku bakal kasih kamu pelajaran yang lebih sakit dari ini.”

“Fitnah? Kamu pikir, jurnalis sepertiku nggak punya bukti untuk membuktikan kebenarannya?” tanya Rania sambil menahan sakit di tangan dan kepalanya.

Sarah terdiam sejenak mendengar ucapan Rania. Jangan-iangan gadis culun ini sudah menguntitnya diam-diam? Gimana Rania bisa punya bukti kalau ia sering berada di hotel bersama Sugar Daddy yang selama ini memeliharanya?

Sarah tak peduli. Ia makin menjambak keras rambut Rania. Ia tahu tidak akan ada orang yang masuk ke perpustakaan tersebut. Sebab, tidak ada petugas khusus perpustakaan. Perpustakaan sekolah lebih banyak dikelola oleh tim mading sekolah dan menjadi markas bagi mereka. Satu-satunya orang yang sering berada di ruangan itu hanya Rania.

“Lepasin ...!” pinta Rania sambil memegangi rambut dengan salah satu tangannya.

“Aku bakal lepasin kamu kalau kamu berlutut minta maaf dan hapus semua konten tentang aku yang kesurupan!” pinta Sarah.

“Aku nggak punya alasan untuk menurunkan berita yang sudah timku rilis ke publik,” ucap Rania bersikukuh. “Apa kamu mau kalau aku menuliskan berita tentang kamu yang mengancamku?”

“Kalau kamu berani nulis berita jelek lagi tentang aku, aku nggak akan segan-segan buat bunuh kamu!” ancam Sarah. Ia langsung menghentakkan kakinya dengan keras di atas punggung tangan Rania dan menggilasnya.

“AARGH ...!” Suara Rania menggema di seluruh ruang perpustakaan yang sepi.

Sarah tak memperdulikan. Ia malah menikmati suara teriakan Rania. Ia tahu suara teriakan Rania tidak akan mudah didengar oleh orang di luar sana karena gedung perpustakaan terpisah jauh dengan kelas. Bahkan, masih harus melewati musholla sekolah tersebut. Sehingga gedung perpustakaan itu memang sangat sepi.

Meski banyak yang mendengar teriakan Rania, Sarah tetap tidak gentar untuk melukai gadis itu. Sebab, orang tuanya adalah donatur utama di sekolah tersebut. Tak ada satu pun yang berani melawan Sarah, sekalipun itu kepala sekolah.

Air mata Rania menetes deras sembari menahan rasa sakit di tangannya. Ia menatap tubuh Sarah yang perlahan menjauh darinya. Tepat di depan wajahnya, ia bisa melihat jemari-jemari tangannya tak lagi mulus seperti biasa. Kulit-kulitnya mengelupas. Dari sela-sela daging jemarinya, mengalir zat berwarna merah yang khas hingga menggenang di lantai keramik yang putih.

“Sialan kamu, Sarah. Cuma karena hal sekecil ini, kamu sampai menghancurkan jari-jari tanganku. Aku sumpahin kamu mati ketabrak mobil!” teriak Rania di sisa-sisa tenaganya yang hampir habis.

Rania merasa kepalanya sangat pening. Pandangannya memudar. Buku-buku yang berjejar rapi di rak, seolah terus bergerak hingga semuanya menghilang. Gelap!

 

 ((Bersambung...)) 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas