Minggu, 28 September 2025
Siapa yang menyangka kalau anak desa sepertiku bisa bertemu dengan penulis nasional sekelas Kang Maman?
Menjadi Relima Perpustakaan Nasional, membuatku memiliki privilege yang luar biasa. Salah satunya adalah mengenal sosok Kang Maman yang begitu bersahaja bagiku.
Pertama kali bertemu beliau di acara Badan Bahasa tahun 2024 saat Festival Literasi Nasional. Bukan hanya bertemu beliau, tapi juha bertemu banyak penulis terkenal seperti Helvi Tiana Rosa, Okky Madasari, dan lain-lain.
Saat aku mengikuti Festival Literasi, aku bertemu dengan banyak penulis yang karyanya diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional. Dalam hati kecilku berkata, "Kapan ya aku bisa menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional?"
Buatku, menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional adalah hal yang sangat istimewa. Kenapa? Karena untuk masuk ke Perpusnas bukanlah hal yang mudah. Satu esai saja bisa diterbitkan oleh Perpusnas, itu adalah hal yang istimewa. Sistem kurasi naskah di Perpustakaan Nasional tidak main-main. Sulit sekali untuk bisa menembus benteng editor karena standar naskah Perpusnas sangatlah tinggi.
Alhamdulillah, Allah menjawab pertanyaanku dengan memberikan kesempatan menulis esai tentang praktik baik pemanfaatan bantuan 1000 buku di taman bacaku yang difasilitasi oleh Forum TBM. Esai itu langsung diterbitkan oleh Perpusnas dan menjadi buku antologi karya pertamaku yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional.
Kemudian, Allah juga memberikan sebuah kesempatan besar di tahun ini di mana aku bisa menjadi bagian dari keluarga besar Perpusnas RI melalui program Relima (Relawan Literasi Masyarakat).
Program Relima ini membuatku mengenal lebih jauh tentang sosok Kang Maman. Karena beliau juga yang mewawancaraiku saat seleksi Relima Perpusnas RI. Beliau juga menjadi bagian dari Satgas Relima dan memberikan pendampingan intens selama perjalanan Relima. Membuatku begitu bahagia bisa mengenal lebih dekat penulis nasional yang satu ini.
Beberapa hari yang lalu, Kang Maman memberi kabar kalau beliau akan ke Kaltim pada tanggal 28 September 2025. Awalnya, kami tidak tahu beliau datang dalam acara apa. Ternyata, acara bedah buku yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia.
Saya dan teman-teman Relima lokus Kaltim berusaha untuk mendaftar. Ternyata, pendaftaran sudah ditutup karena sudah penuh. Kami menghela napas kecewa, tapi tidak berhenti berusaha.
Kebetulan, aku dan Pak Budi Utomo tergabung dalam komunitas BWF (Balikpapan Writer Festival). Ada beberapa peserta yang mengundurkan diri karena berbagai hal, sehingga kami bertiga bisa masuk untuk memenuhi kuota dan bisa menjadi peserta dalam acara Talkshow dan Bedah Buku Mahligai Nusantara 2025 yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia Balikpapan.
Jadwal acaranya pukul 11.00 WITA. Sementara, pagi hari aku masih harus gotong-royong bersama ibu-ibu dasawisma RT 3 karena kebetulan aku juga Ketua RT. Jadi, aku punya tanggung jawab untuk mengikuti kegiatan gotong-royong terlebih dahulu.
Pukul 09.30 pagi, aku mohon izin untuk pulang lebih dahulu karena harus ke Balikpapan. Awalnya, aku ingin berangkat sore. Tapi, sayang juga kalau sampai melewatkan acara di Bank Indonesia karena Pak Budi Utomo sudah mengusahakan mendapatkan tiket masuk untuk kami.
Meski terlambat, aku masih bisa mengikuti acara dan melihat Kang Maman dari kejauhan. Aku sengaja tidak mendekat karena beliau sudah sangat sibuk dikerubungi oleh banyak orang. Aku pikir, aku juga akan punya sesi khusus dengan beliau di balik layar tanpa harus berebut dengan yang lain. Jadi, aku tidak perlu ikut berebut dan membuat Kang Maman kelelahan nantinya.
Usai acara BI, aku mengajak teman-teman Relima untuk beristirahat sejenak sambil ngopi. Aku pilih Batavia Coffee sebagai tempat untuk kami bersantai. Karena tempat ini termasuk tempat yang familier bagiku. Sebelumnya, aku pernah diajak ngopi ke tempat ini bersama Ketua Forum KIM Kukar dan GM BSB. Jadi, tempat ini tidak asing bagiku meski jarang aku kunjungi. Tidak banyak yang berubah. Batavia Coffee tetap menjadi tempat favorite untuk nongkrong karena pemandangan lautnya yang indah, juga design taman yang aesthetic.
Usai sholat Ashar, kami langsung bergeser ke Gramedia MT Haryono. Di sana, kami ikut kegiatan Kang Maman lagi tentang dunia kepenulisan.
Usai acara, kami menunggu Kang Maman berfoto bersama panitia. Aku dan teman-teman tidak mau mengganggu sesi panitia. Karena, itu sudah menjadi jatah mereka. Panitia memang selalu memiliki keistimewaan dengan narasumber. Setelah sesi foto bersama panitia selesai, aku dan teman-temannya Relima menghampiri Kang Maman untuk memastikan sesi selanjutnya bisa bersama kami.
Kang Maman langsung tersenyum sumringah menyambut kedatangan kami. Beliau bahkan membelikan buku gratis untuk kami yang beliau bayar dengan uang pribadinya. Alhamdulillah, aku tidak mengeluarkan uang untuk membayar karena ada Kang Maman. Kemudian, kami berfoto bersama sebagai kenang-kenangan.
Acara dengan Gramedia MT Haryono Balikpapan selesai pukul 19.00 WITA. Ternyata, panitia dari Gramedia masih ada kegiatan bersama Kang Maman. Yakni, mengajak untuk makan malam bersama terlebih dahulu.
Aku hampir hopeless karena tidak ada sesi khusus lagi bersama Kang Maman jika menunggu usai makan malam.
Tapi Kang Maman dengan cepat berdiskusi dengan panitia Gramedia untuk mengajak kami bertiga bersamanya. Jadi, kami juga ikut serta makan malam bersama dan mengobrol banyak hal. Aku juga mendapatkan kesempatan untuk berkolaborasi dengan Gramedia dalam pergerakan literasi di daerah. Semoga, bisa terwujud dengan cepat dan bermanfaat untuk masyarakat luas, terutama untuk anak-anak daerah yang kesulitan mengakses bahan bacaan karena toko buku Gramedia sangat jauh dari tempat kami.
Terima kasih untuk Bank Indonesia Balikpapan dan Gramedia MT Haryono yang telah mengundang Kang Maman sehingga kami bisa bertemu dan berkeluh kesah tentang perjalanan Relima, terutama Relima Kukar yang letak geografisnya sangat menguji kesabaran.


0 komentar:
Post a Comment