TIDAK ADA SOPIR UNTUK ORANG DEWASA.
Kalimat itu terasa kejam, ya? Tapi justru di sanalah letak kejujurannya. Sejak kecil kita diantar. Diantar sekolah, diantar memahami mana yang baik dan buruk, bahkan diantar tidur oleh dongeng dan doa. Dunia terasa seperti kendaraan yang selalu ada pengemudinya. Kita tinggal duduk manis di belakang.
Lalu suatu hari, tanpa upacara, tanpa aba-aba, kita tersadar jika kursi depan kosong.
Tidak ada yang memegang setir.
Di situlah kedewasaan dimulai.
Filsafat Stoik sudah lama membicarakan hal ini. Epictetus mengatakan bahwa ada hal-hal yang berada dalam kendali kita dan ada yang tidak. Sering kali kita ribut pada hal-hal yang memang tidak pernah bisa kita atur. Tentang cuaca, sikap orang lain, masa lalu, bahkan nasib. Kita marah pada jalan yang berlubang, tapi lupa bahwa kaki kitalah yang memilih tetap melangkah di situ.
Marcus Aurelius, seorang kaisar yang setiap hari memegang kuasa atas ribuan orang, justru menulis bahwa manusia hanya benar-benar berkuasa atas pikirannya sendiri. Betapa ironis. Seorang penguasa dunia mengakui bahwa kekuasaan terbesar bukan pada wilayah, melainkan pada batin.
Itu sebabnya tidak ada supir untuk orang dewasa. Karena yang bisa mengendalikan respons kita hanyalah diri kita sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mencari supir bayangan. Kita menyalahkan pasangan atas emosi kita. Kita menyalahkan ekonomi atas kemalasan kita. Kita menyalahkan masa lalu atas keputusan hari ini. Padahal reaksi adalah wilayah pribadi. Sikap adalah pilihan. Dan pilihan tidak pernah diambil oleh orang lain.
Filsafat Islam bahkan lebih tegas. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa setiap jiwa akan memikul tanggung jawabnya sendiri. Tidak ada satu jiwa pun yang menanggung dosa jiwa lain. Artinya, bahkan di hadapan Tuhan, kita berdiri sendirian. Bukan sebagai korban keadaan, bukan sebagai anak dari siapa, bukan sebagai istri dari siapa. Tapi sebagai diri yang memilih.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa manusia diberi akal dan kehendak. Ikhtiar adalah kehormatan. Kalau semuanya sudah ditentukan tanpa ruang memilih, untuk apa akal diciptakan? Untuk apa hati diberi gelisah saat hendak berbuat salah?
Takdir dalam Islam bukan alasan untuk turun dari kursi kemudi. Takdir adalah rute besar. Tapi belokan kecil, kecepatan, dan cara kita mengemudi tetap ada dalam genggaman.
Misalnya begini. Kita tidak bisa memilih lahir dari keluarga mana. Tapi kita bisa memilih apakah luka masa kecil akan kita wariskan atau kita hentikan. Kita tidak bisa mengatur hujan turun saat jualan sepi. Tapi kita bisa memilih belajar strategi baru atau duduk mengutuk langit.
Tidak ada supir untuk orang dewasa, dan itu bukan kutukan. Itu kepercayaan.
Bayangkan jika hidup ini benar-benar sepenuhnya dikendalikan pihak lain. Kita hanya boneka. Tidak ada pahala, tidak ada dosa, tidak ada makna perjuangan. Justru karena kita memegang setir, setiap keputusan menjadi bernilai.
Menjadi dewasa memang melelahkan. Karena artinya kita tak bisa lagi berkata, “Ini semua salah mereka.” Kita boleh kecewa, boleh sedih, boleh marah. Tapi setelah itu, tetap kita yang harus menentukan arah.
Dalam pernikahan, misalnya. Kita tidak bisa mengontrol pasangan sepenuhnya. Tapi kita bisa mengontrol cara bicara kita. Dalam pekerjaan, kita tidak bisa memastikan atasan selalu adil. Tapi kita bisa memastikan integritas kita tidak murah. Dalam ibadah, tidak ada yang bisa menggantikan kita berdiri di hadapan Allah. Sholat tidak bisa diwakilkan. Taubat tidak bisa diwakilkan. Kedewasaan spiritual selalu personal.
Stoikisme mengajarkan ketenangan melalui penguasaan diri. Islam mengajarkan tanggung jawab melalui kesadaran bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan. Keduanya bertemu pada satu kesimpulan yang sama: berhenti menunggu diselamatkan oleh orang lain.
Kita sering ingin ada yang datang dan berkata, “Tenang, biar aku yang atur.” Tapi hidup bukan taksi online yang bisa kita pesan saat tersesat. Ia lebih seperti kendaraan yang mesinnya menyala sejak kita lahir, dan perlahan kita sadar, tangan kita sudah ada di atas setir.
Dan mungkin, justru di situlah letak kemuliaan manusia.
.png)








.png)
.png)



.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

%20yang%20.jpg)