Ada satu zaman yang pelan-pelan kita hidupi tanpa banyak sadar, zaman ketika manusia begitu sibuk mengejar dunia, sampai lupa bahwa ia sedang dikejar waktu.
Pagi dimulai dengan notifikasi. Siang dipenuhi target. Malam dihabiskan untuk menghitung untung dan rugi. Kita berlari dari satu ambisi ke ambisi lain, seakan hidup adalah perlombaan panjang yang garis akhirnya bisa kita tentukan sendiri.
Padahal sejak awal, garis akhir itu sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa.
Di tengah hiruk-pikuk itu, sholat sering menjadi jeda yang terasa mengganggu. Azan yang dulu terdengar syahdu, kini terdengar seperti pengingat yang datang di saat “tidak tepat”. Rapat belum selesai. Pesanan belum dikirim. Pelanggan belum dibalas. Akhirnya, sholat ditunda. Lalu terlupa. Kemudian tergantikan.
Mengaji lebih sunyi lagi nasibnya. Mushaf tersimpan rapi di rak, bersih dari debu karena jarang disentuh. Huruf-huruf suci itu menunggu untuk dibaca, tetapi tangan kita lebih sibuk menggulir layar. Ironisnya, kita bisa menghabiskan berjam-jam membaca kabar dunia, namun merasa berat membuka satu halaman Al-Qur’an.
Kita sering mengira ibadah adalah perkara waktu luang. Padahal ibadah justru penopang waktu itu sendiri.
Hari ini, sholat dan mengaji menjadi sesuatu yang terasa eksklusif. Bukan karena sulit dipelajari. Bukan karena mahal secara materi. Tetapi karena hati yang tenang untuk melakukannya semakin jarang dimiliki.
Banyak orang punya uang berlimpah, rumah luas, kendaraan mewah, tetapi tidak punya kekhusyukan. Mereka bisa membeli jam tangan mahal, tetapi tidak bisa membeli ketenangan saat bersujud. Mereka bisa membayar guru terbaik untuk anaknya, tetapi tidak mampu memaksa dirinya duduk lima belas menit untuk mengaji.
Di situlah ibadah menjadi “mahal”.
Mahal bukan dalam rupiah, melainkan dalam kesiapan hati. Mahal dalam kesediaan menunda urusan dunia. Mahal dalam keberanian mengatakan, “Cukup dulu. Sekarang waktunya menghadap Allah.”
Kita hidup di era yang memuja produktivitas. Segala sesuatu diukur dari hasil. Berapa pemasukan hari ini? Berapa pertumbuhan bisnis bulan ini? Berapa capaian tahun ini? Namun jarang kita bertanya, "sudah berapa kali kita benar-benar khusyuk dalam sholat minggu ini? Sudah berapa ayat yang kita pahami maknanya bulan ini?"
Kesibukan bukanlah dosa. Bekerja bukanlah kesalahan. Bahkan dalam ajaran Islam, bekerja adalah bagian dari ibadah. Tetapi ketika pekerjaan membuat kita menunda sholat dengan sengaja, ketika lelah dunia membuat kita tak lagi punya tenaga untuk mengaji, di situlah keseimbangan mulai retak.
Sering kali kita berdalih, “Nanti kalau sudah mapan, saya akan lebih rajin ibadah.” Padahal sejarah menunjukkan, tidak semua orang yang mapan menjadi lebih taat. Banyak yang justru semakin jauh, karena merasa telah cukup dengan apa yang dimiliki. Kekayaan memberi rasa aman palsu—seakan hidup bisa dikendalikan sepenuhnya oleh usaha manusia.
Padahal satu sakit saja bisa meruntuhkan semuanya. Satu musibah bisa menghentikan seluruh rencana.
Sholat adalah pengakuan bahwa kita lemah. Mengaji adalah pengingat bahwa kita butuh petunjuk. Dan dunia tidak pernah menyukai manusia yang mengakui kelemahannya, karena dunia dibangun di atas citra kekuatan dan keberhasilan.
Maka tak heran jika menjaga sholat lima waktu terasa seperti perjuangan pribadi. Menjaga konsistensi mengaji terasa seperti mendaki bukit sunyi. Butuh disiplin. Butuh kesadaran. Butuh cinta.
Dan cinta tidak tumbuh dari kesibukan yang tak pernah jeda.
Barangkali yang perlu kita tanyakan bukanlah, “Mengapa saya tidak punya waktu untuk ibadah?” tetapi “Untuk apa sebenarnya semua kesibukan ini?” Jika seluruh lelah hanya berujung pada angka di rekening, tetapi hati terasa kosong, maka ada yang salah dengan arah perjalanan.
Kita sering takut miskin harta, tetapi jarang takut miskin pahala. Kita cemas kehilangan peluang bisnis, tetapi tenang saja ketika kehilangan waktu sholat. Padahal, yang pertama belum tentu dimintai pertanggungjawaban secara rinci; yang kedua pasti akan ditanya.
Ibadah memang sederhana. Gerakannya tidak rumit. Bacaannya tidak panjang. Tetapi konsistensinya menuntut kejujuran diri. Ia menuntut kita untuk menata ulang prioritas.
Dan mungkin di situlah harga sebenarnya.
Sholat dan mengaji menjadi mahal karena hanya orang-orang yang mampu mengalahkan egonya yang bisa menjaganya. Hanya mereka yang berani memperlambat langkah di tengah dunia yang berlari kencang. Hanya mereka yang sadar bahwa hidup bukan sekadar tentang bertahan, tetapi tentang kembali.
Dunia akan selalu menawarkan lebih banyak pekerjaan, lebih banyak target, lebih banyak ambisi. Namun waktu kita tidak pernah bertambah. Setiap detik yang berlalu adalah potongan kesempatan untuk mendekat atau justru menjauh.
Pada akhirnya, bukan seberapa sibuk kita yang akan ditanya. Bukan seberapa besar usaha kita membangun dunia. Tetapi seberapa setia kita menjaga hubungan dengan Pencipta dunia itu sendiri.
Karena ketika napas terakhir tiba, tidak ada rapat yang perlu diselesaikan. Tidak ada proyek yang harus dikirim. Yang tersisa hanyalah catatan amal.
Dan di sana, sholat yang dulu kita anggap bisa ditunda, serta ayat-ayat yang jarang kita baca, mungkin menjadi sesuatu yang paling kita rindukan.
Maka sebelum ibadah benar-benar menjadi terlalu mahal untuk kita bayar, barangkali hari ini adalah waktu terbaik untuk kembali.

0 komentar:
Post a Comment