Friday, August 1, 2025

Aku dan Taman Bacaku | Api Relawan itu Masih Ada

 


Jum'at, 1 Agustus 2025

Hari ini ada pemandangan yang tak biasa di taman bacaku meski kegiatannya masih sama seperti biasa.
Setiap hari Selasa dan Jum'at selalu ada kelas Bahasa Inggris (Gratis) yang aku buka untuk umum. Siapa saja boleh belajar di sini tanpa merasa terbebani dengan tuntutan apa pun. Aku merasa tidak layak mengambil tarif karena ilmuku juga tidak begitu tinggi. Hanya bisa mengajar berdasarkan bahan ajar yang aku pelajari. Aku juga lebih menuruti keinginan anak-anak yang ingin belajar. Terkadang, mereka mengajak bermain game seru berbahasa Inggris atau kegiatan yang lainnya. Sehingga, pembelajaran mereka tidak bisa dipaksakan karena aku mau mereka belajar dengan bahagia dan tidak terbebani oleh materi Bahasa Inggris yang dianggap sangat sulit oleh beberapa orang.

Biasanya, aku sudah pusing dengan kerusuhan anak-anak yang hadir. Pasalnya, aku harus mengajar seorang diri, sementara jenjang kemampuan bahasa Inggris mereka sudah berbeda. Ada yang sudah belajar selama berbulan-bulan. Ada juga yang baru bergabung dan baru mengenal kosakata.




Tapi hari ini aku cukup santai dalam mengajar. Kenapa? Karena ada anak-anak KKN dari UINSI yang membantuku mengajar. Mereka menjadi relawan pengajar selama  pengabdian di desa kami. Kebetulan, mereka juga tinggal di dekat taman bacaan kami. Sehingga, aku sangat mengharapkan kontribusi mereka dalam menghidupkan kegiatan di taman baca. Sebab, waktu dan tenagaku sangat terbatas. Aku sangat membutuhkan orang-orang yang memiliki kepedulian sama terhadap anak-anak di Desaku.



Aku tidak bisa memaksa seseorang untuk menjadi relawan pengajar. Juga tidak banyak berharap. Karena semuanya di sini gratis. Tidak ada donatur yang memberi honor untuk para relawan pengajar. Sehingga, aku hanya mengharapkan mereka yang terketuk pintu hatinya untuk membantuku. Meski hanya sesekali, itu sangat berarti untukku.
Seringkali aku berada di titik keputusasaan dan ingin menyerah karena harus berjalan seorang diri. Tapi di saat itulah Tuhan menunjukkan banyak keajaiban kepadaku. Keajaiban untuk tidak menyerah pada keadaan begitu saja.
Ketika ada orang yang datang dan menawarkan untuk menjadi relawan, aku sangat senang. Tidak ada yang bisa kuberikan kepada mereka selain sertifikat pengabdian yang mereka lakukan di taman bacaku. Sejujurnya, aku selalu merasa tidak enak hati jika harus merepotkan orang lain. Tapi, ada orang-orang yang justru datang dengan bahagia untuk direpotkan.



Di saat aku ingin menyerah dan berhenti dari semua kegiatan ini, Tuhan datangkan orang-orang yang membuat api semangat ini terus terjaga dan tidak pernah padam. Di saat air mata ini jatuh bercucuran karena ketidaksanggupanku, Tuhan mengirimkan tangan-tangan malaikat untuk mengusap air mataku dan memberiku kekuatan baru.

Ternyata ... api relawan itu masih ada meski nyalanya sangat kecil. Terkadang, aku tidak menyadarinya karena ruang gerakku terasa masih sangat gelap. Aku harap, suatu hari nanti akan ada banyak relawan yang mau mengabdikan dirinya ke taman bacaku. Membuat taman bacaku terus bergerak dan bermanfaat bagi anak-anak desa. Sebab, aku hanya mampu mendirikan dan memberikan ruang. Ada hal-hal yang tidak mampu aku lakukan. Aku hanya manusia biasa yang memiliki begitu banyak keterbatasan. Tanpa pengabdian yang tulus dari para relawan, taman bacaku tidak akan bisa bertahan sejauh ini.

Terima kasih untuk semua relawan yang pernah mengabdikan dirinya di taman bacaku. 

Kalau suatu hari nanti kita bertemu kembali, aku ingin dengar cerita tentang kesuksesan kalian di masa depan.





Thursday, July 31, 2025

Lebih Baik Aku yang Menunggu


LEBIH BAIK AKU YANG MENUNGGU
Oleh: Rin Muna




Aku selalu percaya, bahwa sabar bukan cuma perkara menahan diri, tapi juga memilih siapa yang akan kita beri waktu. Dan hari ini, aku memilih untuk menunggu.

Siang itu panasnya khas Kecamatan Samboja—matahari yang menggantung tepat di atas kepala, menguras napas siapa pun yang nekat berjalan tanpa pelindung kepala. Tapi aku tetap melangkah keluar rumah, meninggalkan desa Beringin Agung yang teduh, menuju sebuah warung bakso di depan Eramart. Lokasinya paling nyaman untuk janjian, tapi hari ini aku tidak sedang cari kenyamanan. Aku sedang menepati janji.

Kurir TIKI itu sebelumnya sudah menghubungiku. Nada bicaranya cepat dan to the point, seperti orang yang terlalu sering dikejar waktu. “Maaf, Kak. Saya nggak bisa antar ke Beringin Agung, jauh masuk ke dalam dan paketnya cuma satu doang. Bisa kutitip  di daerah Sungai Seluang aja?”
"Jangan, Mas! Itu dokumen penting. Jangan dititip ke orang. Langsung saya ambil aja. Kita ketemuan di luar,  gimana?"
"Oke, mbak. Mungkin sekitar 1,5 jam lagi saya sampai di Sei Seluang."
"Oke."
Panggilan telepon ditutup. Aku langsung menghela napas mendengarnya. Setiap kali ada paket datang, harus berjuang mengambilnya ke luar. Padahal sudah bayar full tarif sampai depan rumah. 
Kalau aku mau egois, aku bisa bilang, "nggak mau, Mas! Saya kan sudah bayar paketnya sampai depan rumah. Harusnya diantar sampai rumah."
Tapi aku tidak seegois itu. Aku mengerti para kurir hanya sedang bekerja mencari rezeki dan aku tidak ingin menyulitkannya. Kata ulama, kalau kita mempermudah urusan orang, urusan kita juga akan dipermudah. Aamiin. 

Ini bukan kali pertama kurir menolak masuk ke desaku. Aku paham—jalan masuk ke desaku cukup jauh, sekitar 8 kilometer, jalannya banyak rusak, kadang berlubang, kadang bikin shockbreaker trauma berkepanjangan. Tapi sebagai orang yang dibesarkan di desa, aku juga tahu, mengeluh tidak akan memperpendek jarak. Jadi ya, aku jawab, “Oke, nanti saya tunggu di warung bakso depan Eramart, ya, Mas.”

Kupacu motor pelan-pelan, melewati jalanan desa yang seperti labirin kecil. Di bahuku ada tas selempang lusuh yang sudah jadi saksi banyak pengambilan paket. Di dalamnya, selain dompet dan HP, terselip secuil kesabaran yang hari itu kusiapkan khusus untuk kurir.

Sampai di warung bakso, aku duduk di kursi lapis karpet yang warnanya sudah pudar. Di hadapanku semangkuk bakso mengepul dan segelas jeruk hangat manis yang entah kenapa terasa lebih manis saat dinikmati dalam suasana menunggu. Aku menengok kanan-kiri, belum ada tanda-tanda motor TIKI mendekat.
Menunggu itu memang bukan hal yang menyenangkan. Tapi entah kenapa, aku lebih rela aku yang menunggu daripada orang lain yang menungguiku. Apalagi kurir. Mungkin bagi sebagian orang, kerjaannya cuma antar barang. Tapi bagiku, mereka ini adalah jembatan antara harapan dan kenyataan—antara dokumen penting yang ia bawa dan ketulusan di tangannya.

Satu jam berlalu. Aku mulai berpikir, mungkin masih banyak pengiriman lain yang lebih prioritas. Tapi aku tetap di situ, karena janjinya denganku belum selesai. Dan aku percaya, menepati waktu bukan soal besar-kecilnya urusan, tapi tentang menghargai siapa yang kita ajak bicara.

Akhirnya, pengendara motor berjaket biru-putih-merah khas Tiki itu berhenti di depan warung.

“Maaf ya, Kak, lama,” katanya sambil buru-buru membuka box besar di belakang motornya.

Aku tersenyum. “Nggak apa-apa, Mas. Saya juga nyantai, kok. Baru sampai juga.”
Aku tahu aku berbohong. Tapi berbohong untuk kebaikan, tidak dianggap sebagai dosa. Justru, untuk menjaga semuanya baik-baik saja. Aku tidak ingin kejujuran menjadi menyakitkan untuk orang yang sedang berjuang menyampaikan dokumen penting itu ke aku. 

Aku tahu, bakso di hadapanku sudah tinggal kuahnya. Tapi nggak masalah. Lebih baik aku yang menunggu, daripada Mas kurir yang harus keliling cari-cari aku, di tengah panasnya jalanan, di bawah tekanan target pengiriman, dengan waktu yang kadang tidak bersahabat.

Kadang, hidup bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang mau meluangkan waktu. Hari itu aku belajar lagi satu hal kecil tapi penting bahwa menjadi orang yang menunggu dengan ikhlas itu seperti jadi pohon di pinggir jalan, dia diam, tapi membuat perjalanan orang lain jadi lebih nyaman.

Dan kalau boleh memilih, aku ingin terus jadi orang yang rela menunggu. Karena dalam menunggu, ada ruang untuk merenung. Dalam diam, ada waktu untuk belajar tentang sabar. Dan dalam sabar, selalu ada kehangatan kecil yang menyembuhkan.

Menunggu juga membuat kita mengerti, siapa yang diprioritaskan. Terkadang, aku juga menjadi orang yang ditunggu karena mereka menganggap aku lebih penting dari mereka. Tapi aku juga sering menunggu karena aku menganggap orang yang aku tunggu, lebih penting dari diriku sendiri. 


Kalau kamu sendiri gimana? Lebih suka menunggu, atau ditunggu?

#catatanRinMuna
#ceritahariini
#CODanDiWarungBakso
#hidupdidesa

Tuesday, July 22, 2025

Audiensi Relima Ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara

 


Suasana Desa Rapak Lambur pagi ini lumayan syahdu. Sinar matahari tak lagi menyelinap lewat sela-sela jendela karena tertutup awan tebal. Membuatku begitu nyaman terlelap di peraduan hingga tak sadar kalau sudah pukul 06.15 WITA. 

Begitu aku membuka mata, yang terlintas di pikiranku adalah janji pertemuan dengan Sekretaris Perpustakaan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara. Sebelumnya kami sudah membuat janji, sayangnya masih belum bisa bertemu. Kebetulan aku mengikuti pelatihan dari Balai Bahasa yang diselenggarakan di SMA Negeri 2 Tenggarong dan sudah menginap selama tiga malam di rumah kakakku.

Jadi, aku kembali mencoba menghubungi pihak Perpustakaan Daerah untuk bisa bertemu terkait rencana kegiatan Relima (Relawan Literasi Masyarakat) yang dibentuk oleh Perpusnas RI. 

Jadwal pertemuan sudah terkonfirmasi sejak semalam. Kami bisa bertemu pada jam sembilan pagi. 

Aku yang baru terbangun di jam enam pagi, tentunya cukup kelabakan. Sebab, aku masih harus menyiapkan sarapan pagi. Ditambah perjalanan dari Rapak Lambur ke pusat kota Tenggarong memakan waktu sekitar 45 menit. 

Usai sarapan pagi, aku langsung berpamitan dengan kakakku karena aku tidak akan pulang ke Rapak Lambur lagi. Aku langsung pulang ke Samboja. Mengingat kami sudah menginap selama 3 malam dan anak-anak di rumah sudah merindukan kami. 

Seperti biasa, aku selalu telat dari jadwal yang tengah ditentukan. Tapi aku beruntung karena pihak Perpustakaan Daerah juga masih dalam perjalanan dan kami sampai berbarengan. 

Begitu sampai di halaman Kantor Sekretariat Perpustakaan Daerah, aku langsung disambut oleh senyuman merekah dari Pak Fatoni. Beliau memang murah senyum. Bahkan sepertinya saat marah pun, wajahnya akan selalu tersenyum. Dia menyambutku dengan ramah dan mengajakku masuk ke dalam sebuah ruangan yang telah ditentukan. 

"WAAAH ...! DI SINI RUANGANNYA?" 
Kalimat itu spontan keluar dari bibirku saat melihat ruang diskusi atau ruang podcast yang design-nya sangat khas. Aku sering melihatnya di media sosial dan beberapa kegiatan pameran OPD. 

Beberapa menit kemudian, Ibu Yuli masuk ke ruangan. Menyambutku dengan senyum merekah dan pelukan hangat. Alhamdulillah, kami bisa bertemu kembali setelah beberaa lama. Terakhir kami bertemu saat aku mengantarkan produk olahan nanas ke Himba Karakah, rumah makan milik beliau. 

Kami duduk bertiga. Karena sudah saling mengenal sebelumnya, kami tidak perlu lagi memperkenalkan diri. Hanya aku yang perlu memperkenalkan diri dengan status baruku sebagai Relima (Relawan Literasi Masyarakat) dari Perpusnas RI. 

Aku juga memaparkan tentang apa itu Relima, peran dan fungsinya dan bagaimana aku bisa mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah terkait pergerakan Relima ini. 

Bersilaturahmi dan berdiskusi dengan pihak Perpustakaan Daerah adalah bagian dari advokasi Relima agar pergerakan Relima bisa lebih mudah saat terjun ke daerah. Perpusnas RI menginginkan kami bisa berkoordinasi dan bekerjasama dengan Perpustakaan Daerah dengan baik. Apapun yang diberikan oleh pemerintah daerah pada Relima adalah bentuk dukungan yang akan menjadi catatan bagi Relima dan Perpusnas RI. 

Kami semua berharap pergerakan Relima dapat bersinergi dengan seluruh pengelola tbm dan perpustakaan desa/kelurahan. Kami juga berharap pemerintah daerah dapat mendukung sepenuhnya pergerakan Relima (Relawan Literasi Masyarakat). Dukungan dari pemerintah, tentunya menjadi support penting bagi Relima agar pergerakan kami dapat berjalan dengan baik dan bisa selesai sesuai target. 

Harapan terbesar dariku adalah peran serta dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan minat baca dan menghidupkan aktivitas di taman bacaan atau perpustakaan desa/kelurahan. Tugas Relima tidaklah mudah, tapi semuanya akan jadi mudah ketika kita bergerak bersama, saling berangkulan dan saling menguatkan agar kesejahteraan masyarakat dapat terwujud dengan baik melalui literasi. 










Saturday, July 19, 2025

Pengalaman Mengikuti Musyawarah Wilayah dan Rapat Presidium Pemilihan Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Kaltim

 


Pagi ini aku terbangun dengan tergesa-gesa karena ada banyak jadwal yang harus aku lakukan hari ini. Bersyukurnya anak perempuanku yang duduk di kelas 4 SD sudah bisa mandiri. Ia selalu mengurus keperluan sekolahnya sendiri dan berangkat ke sekolah sendiri. Yang masih sulit mandiri adalah sang adik karena memang masih duduk di bangku TK. 

Hari ini, putera kecilku tidak masuk sekolah alias libur. Tapi orang tuanya diwajibkan datang ke sekolah untuk mengikuti rapat. Seperti biasa, tahun ajaran baru selalu membutuhkan perjuangan ekstra karena banyak yang harus dibayar dan dipersiapkan. 

Undangan rapat pukul 08.00 WITA dan aku masih belum mandi. Saat ini aku merasa lebih santai dan tidak harus datang on-time karena "terlambat" sudah menjadi budaya. Aku yang sangat sibuk, tidak ingin membuang-buang waktu dengan menunggu lama. Aku sedikit terlambat, tapi acara belum dimulai, persis seperti perkiraanku.


Usai mengikuti rapat di sekolah, aku langsung pulang ke rumah dan membuka laptopku. Tidak aku lupa kalau ada jadwal zoom meeting Musyawarah Wilayah untuk semua pengurus TBM di Kalimantan Timur. Aku tidak bisa hadir langsung, jadi aku meminta izin untuk hadir secara online. Sebab, pukul 13.00 WITA masih ada kegiatan Party Book bersama komunitas-komunitas pemuda Muara Jawa dan Samboja.

Aku baru masuk zoom setelah ada konfirmasi di grup kepengurusan bahwa zoom meeting sudah dimulai. Memang telat dari jadwal dikarenakan banyak yang hadir secara offline.
Acara dibuka oleh Presidium Wilayah Kaltim dengan memaparkan arti pentingnya gerakan literasi di wilayah Kaltim dan bagaimana Forum TBM berperan menjadi wadah untuk saling berbagi dan saling menguatkan.


Musyawarah Wilayah ini dihadiri langsung oleh pengurus daerah Forum TBM dari berbagai kota dan kabupaten di Kutai Kartanegara. Beberapa pengurus daerah yang hadir secara langsung berasal dari Pengurus Daerah FTBM Samarinda, FTBM Balikpapan, FTBM Kukar, FTBM Kubar/Malinau, FTBM Kutim, FTBM PPU, FTBM Bontang, FTBM Paser, dan FTBM Berau.

Aku merasa senang sekali karena akhirnya Forum TBM di Wilayah Kalimantan Timur bisa bergerak secara serempak. Tentunya ini akan sangat berperan penting dalam gerakan literasi di daerah ini. Sudah cukup lama aku bergabung di Forum TBM dan baru kali ini merasakan pergerakan Forum TBM yang cukup aktif. Bahkan, Forum TBM Kaltim telah membentuk kepengurusan daerah di beberapa kota dan kabupaten.

Tidak ada hal yang sulit ketika Tuhan yang menggerakkan. Begitu juga dengan pergerakan literasi ini. Semuanya bergerak secara swadaya, menggunakan uang pribadi untuk bisa menjalankan program-program literasi, terutama dalam pengentasan kemiskinan dan kesenjangan sosial. Jika bukan Tuhan yang menyentuh hati kita, tentunya kita tidak akan memiliki kepedulian kepada orang lain, terlebih orang-orang yang tidak kita kenal ke depannya.

Aku berharap, Forum TBM benar-benar bisa menjadi ruang berdiskusi, berjejaring, dan saling menguatkan. Karena terkadang kita ingin menyerah saat berjalan seorang diri. Di Forum TBM, kita sama-sama bergerak dan berjuang untuk saling menguatkan agar gerakan kita tetap konsisten dan hati kita tetap istiqomah berada di jalan ini.



Kutai Kartanegara, 19 Juli 2025

Bersilaturahmi dan Bersinergi Bersama Komunitas Penggerak Literasi Kabupaten Kutai Kartanegara

 


Tak seperti hari kemarin, pagi ini langit di Rapak Lambur cukup cerah. Sinar matahari yang hangat masuk lewat celah-celah jendela, tapi aku masih enggan membuka mata. Kondisi tubuhku yang kurang sehat sejak kemarin, membuatku terpaksa mengonsumsi obat dan tertidur dalam waktu yang cukup panjang.

Pukul 07.30 WITA, aku masih memasak di dapur. Padahal, setengah jam lagi jadwal kegiatan sudah harus dimulai. Aku tidak bisa membeli sarapan karena rumah kakakku jauh dari kota dan tidak ada yang berjualan nasi saat pagi hari. Jadi, aku pilih untuk memasak atau sekedar menghangatkan sayur kemarin lebih dahulu.

Aku baru bisa berangkat dari Rapak Lambur pada jam 08.00 WITA menuju ke Aula SMA Negeri 2 Tenggarong. Meski datang terlambat, acara baru saja dibuka dan aku segera duduk di kursi yang aku tempati pada hari sebelumnya.

Kondisi tubuhku hari ini cukup fit dan bersahabat, tidak seperti hari kemarin. Entah kenapa, aku tiba-tiba berubah menjadi manusia tropis yang tidak bisa terkena hawa dingin. Hawa dingin benar-benar menyiksa hidung dan tubuhku.

Materi pertama kali ini disampaikan kembali oleh M. Arsyad dari GLK (Gerakan Literasi Kutai) yang melanjutkan materi tentang pembuatan proposal komunitas. Kemudian, materi selanjutnya diisi oleh Ibu Mimi Nuryanti dari Yayasan Lanjong Indonesia yang memberikan materi tentang penyusunan RAB (Rancangan Anggaran Biaya) dan Laporan Keuangan Komunitas.

Materi-materi yang diberikan kali ini tentunya sangat penting dan sangat bermanfaat, terutama bagi komunitas literasi. Sebab, masih banyak komunitas literasi yang belum memiliki pelaporan administrasi yang lengkap dan belum memiliki legalitas. Dengan adanya kegiatan ini, aku berharap kalau semua komunitas literasi di Kutai Kartanegara bisa saling menguatkan demi terwujudnya literasi untuk kesejahteraan masyarakat.

Tidak seperti hari kemarin, kegiatan bimtek hari ini selesai lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan. Seharusnya selesai jam lima sore, tapi jam setengah empat sore sudah selesai.

Aku cukup terkejut karena jadwal berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Sementara, aku belum mengabari suamiku yang posisinya masih berada wilayah PLTGU Tanjung Batu yang jaraknya sekitar 15km dari SMA Negeri 2 Tenggarong. Alhasil, aku harus menunggu jemputan terlebih dahulu.

Peserta dari beberapa kecamatan mulai beranjak satu per satu. Aku masih bersantai di tempat dudukku. Kebetulan, ada Asih (Anggota FLP Kukar) yang juga sedang menunggu jemputan.

Beberapa menit kemudian, ruang pertemuan ini mulai kosong. Aku juga ikut berkemas. Mengemas laptop dan segala pernak-perniknya ke dalam tas ranselku, kemudian melangkah keluar. Menunggu di luar ruangan lebih mengasyikkan dan lebih menghangatkan tubuhku.

Baru duduk beberapa menit, tiba-tiba ada pemberitahuan di dalam grup bimtek kalau ada tas yang tertinggal dan itu adalah tas milikku. Aku segera berlari masuk kembali ke dalam aula dan mengambil tasku yang disimpankan oleh panitia. Beruntungnya, aku belum keluar dari tempat tersebut dan tidak menyadari kalau tas tanganku ternyata berada di luar ransel dan berada di meja peserta lain. Jika aku membawa sepeda motor sendiri, mungkin ceritanya akan menjadi berbeda.

Aku menunggu sekitar 30 menit di teras aula SMA Negeri 2 Tenggarong. Cuaca sore cukup bersahabat dan hangat. Rasanya sangat nyaman untuk kondisi tubuhku yang sedang flu.

Pria bertubuh besar itu datang dengan senyuman yang mengembang. Ia tidak berkata banyak dan langsung menghampiriku. Menemaniku duduk bersantai di teras aula SMA Negeri 2 Tenggarong. Menemaniku mengobrol sembari menyesap sebatang rokok favorite-nya.

”Mau ke mana lagi?”

Pertanyaan itu keluar dari bibir suamiku yang sudah sangat memahami bagaimana kehidupanku. Ia tahu, aku tidak mungkin hanya bertemu dengan satu orang di kabupaten ini. Ya, aku sudah janjian bertemu dengan Ibu Listy (Dinas Pendidikan) dan Habib (Ketua Himasja & Komunitas Pixelarasi). Tapi, aku masih menunggu konfirmasi dari mereka, apakah mereka bisa bertemu atau tidak.

Setelah bersantai beberapa menit, kami segera keluar dari tempat tersebut. Aku merasa sangat senang kali ini karena bisa bertemu dengan beberapa pengelola perpustakaan desa/kelurahan dan tbm yang ada di wilayah Kutai Kartanegara. Sejauh ini bergerak di dunia literasi, aku belum pernah bertemu dan berkumpul dengan mereka.

Aku berharap, semua pengelola perpustakaan dan tbm di wilayah Kutai Kartanegara bisa saling bersinergi dan saling menguatkan untuk terus menggerakkan literasi. Mengingat lokasi geografis Kabupaten Kutai Kartanegara yang sangat luas dan jarak tempuh ke ibukota kabupaten juga sangat jauh. Momen ini menjadi momen berharga untuk bisa saling bersilaturahmi, saling sharing, dan saling menguatkan satu sama lain agar literasi di Kutai Kartanegara benar-benar bisa bergaung demi kebermanfaatan dan kesejahteraan masyarakatnya.

 

 

Kutai Kartanegara, 16 Juli 2025

 

 

 

 

 

 

Friday, July 18, 2025

Bimtek Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2025

 



Kutai Kartanegara, 16 Juli 2025. Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur menggelar kegiatan Bimbingan Teknis Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara pada tanggal 15-16 Juli 2025.

Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur terus menjaga komitmen dalam mendukung peran komunitas-komunitas literasi di wilayah Kalimantan Timur dengan memberikan Bimbingan Teknis (Bimtek). Tahun ini, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur menggelar Bimtek bagi Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15-16 Juli 2025 di Aula SMA Negeri 2 Tenggarong.

Kegiatan bimtek ini diikuti oleh komunitas-komunitas yang ada di wilayah Kutai Kartanegara. Selain dari Kukar, juga ada komunitas dari kota Samarinda yang mengikuti kegiatan ini.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Bapak Asep Juanda, S.Ag., M.Hum selaku Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur. Tidak sekedar membuka kegiatan dan memberikan sambutan, Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur juga memaparkan tentang Kebijakan Literasi di daerah.

Materi kedua diisi oleh Ahmad Qoshashih dari Yayasan Lanjong Indonesia yang memberikan materi tentang penyusunan profil dan portofolio komunitas. Materi terakhir pada hari pertama kegiatan ditutup dengan materi tentang merancang program yang inovatif di komunitas yang disampaikan oleh M. Arsyad dari GLK (Gerakan Literasi Kutai).

Hari kedua diisi dengan materi tentang penyusunan proposal kegiatan yang disampaikan oleh M. Arsyad dari GLK (Gerakan Literasi Kutai). Kemudian dilanjutkan dengan materi penyusunan Rancangan Anggaran Biaya (RAB) dan Laporan Keuangan Komunitas yang disampaikan oleh ibu Mimi Nuryanti dari Yayasan Lanjong Indonesia.

Wednesday, July 16, 2025

Berjuang Demi Literasi Bersama Rintik Hujan di Tenggarong

 


Pagi hari, langit di Rapak Lambur tampak redup. Gumpalan awan mendekap dan menyelimuti desa ini, seolah enggan untuk pergi. Rintik hujan seolah sedang menarik-narik diri untuk tetap bercengkerama dalam selimut. Dingin angin yang masuk lewat sela-sela jendela, membuat enggan untuk bangkit dari peraduan.

Keadaan berbanding terbalik dengan tanggung jawab. Rasa malas harus dikalahkan dengan tanggung jawab dan komitmen yang telah aku buat sendiri. Dengan enggan, aku mengangkat kepalaku dari atas bantal agar tidak terlena dengan nikmatnya rintik hujan di pagi hari.

Aku mengecek jam di ponsel. Waktu masih sangat pagi. Rasanya masih ingin malas-malasan di tempat tidur. Tapi kakak sepupuku sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi. Aku ingin membantu, tapi sepertinya dia tidak membutuhkan bantuan. Ia tidak membuat menu baru, hanya memanaskan makanan yang aku beli semalam, juga menu yang ia buat kemarin.

Ya, aku memang sudah sampai di rumah kakakku sejak semalam. Perjalanan dari Samboja ke Tenggarong bukanlah perjalanan yang pendek.  Sementara, aku harus mengikuti kegiatan ”Bimbingan Teknis Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara” yang dimulai sejak pukul 08.00 WITA. Tentunya tidak bisa bersantai di perjalanan ketika harus berangkat di pagi hari. Jadi, aku memilih untuk berangkat di malam hari dan menginap di rumah kakak sepupuku.

Satu-satunya tempat peraduan ketika aku ke pusat kabupaten ialah rumah ini. Aku tidak punya tempat lain lagi untuk beristirahat. Karena di sinilah rumah keluarga yang paling nyaman.

”Hatchiiim ...!”

Aku menggosok hidungku yang tiba-tiba gatal. Tenggorokanku juga terasa sangat kering dan kepala pening. Sepertinya tubuhku tidak terlalu bersahabat karena semalam terhempas oleh suhu dingin angin malam. Meski sudah mengenakan jaket tebal, perjalanan panjang dan cuaca dingin setelah hujan, membuat tubuhku yang tropis ini mulai protes.

Aku mencari obat di kotak obat milik kakakku. Aku harap bisa menemukan salah satu obat yang biasa aku konsumsi dan cocok di tubuhku. Sayang, aku tidak menemukannya.

Pukul 07.00 WITA, aku mulai resah karena rintik hujan semakin rapat. Aku segera mengunduh aplikasi transportasi online agar bisa sampai ke lokasi pelatihan menggunakan mobil, tidak menggunakan motor. Mengingat cuaca hujan dan tubuhku sedang kurang sehat.

Hampir setengah jam aku mencoba mencari taksi online. Beberapa aplikasi yang aku unduh tidak menemukan driver yang bersedia menuju ke tempat tinggal kakakku. Mungkin karena lokasinya cukup jauh dari pusat kota.

Akhirnya, aku terpaksa menggunakan sepeda motor untuk bisa sampai ke SMA Negeri 2 Tenggarong, tempat di mana aku akan menimba ilmu dan pengalaman baru.

Derasnya hujan, tak mengurungkan niatku. Usai sarapan pagi, aku segera bersiap dan keluar dari rumah. Meski tubuh menggigil kedinginan, tanganku tetap mantap mengenakan mantel dan helm. Usai berpamitan dengan kakak dan suamiku, aku perlahan mengendarai sepeda motor menuju SMA Negeri 2 Tenggarong.

Rinai hujan membuat jalanan licin. Membuatku tidak bisa melaju kencang seperti biasanya. Aku memilih mengendarai motor dengan hati-hati sembari menahan gemeletuk gigi karena kedinginan. Semakin lama di perjalanan, semakin lama juga tubuhku harus menahan dingin.

Di perjalanan aku terus berpikir ... di mana letak SMA Negeri 2 Tenggarong ini. Sebab, aku belum pernah ke sana. Meski sudah diarahkan berkali-kali, aku tetap tidak percaya diri karena aku adalah manusia yang buta arah dan kesulitan membaca peta. Meski pakai Google Maps, aku masih saja sering kesasar.

   Pukul 08.20 WITA, aku masih berada di perjalanan. Sementara kegiatan akan dimulai pada pukul 08.00 WITA apabila sesuai jadwal. Aku sangat khawatir jika terlambat terlalu lama. Rasanya pasti akan sangat canggung ketika aku datang terlambat seorang diri.

Beruntungnya, masih banyak peserta yang belum datang ketika aku sampai di aula SMA Negeri 2 Tenggarong. Jadi, kegiatannya belum dimulai.

Di depan aula, sudah ada beberapa orang. Aku langsung menyapa salah seorang di sana. Dia juga langsung mengenaliku, padahal kami belum pernah bertemu sama sekali. Biasanya hanya berkomunikasi lewat Whatsapp karena jarak tempat tinggal kami yang sangat jauh meski masih berada dalam lingkup satu kabupaten.

Beberapa menit kemudian, kami memasuki aula karena Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur juga sudah tiba di lokasi. Acara ini dibuka langsung oleh Bapak Asep Juanda, S.Ag., Hum. Bukan sekedar memberikan sambutan, Bapak Asep Juanda juga memaparkan banyak materi tentang Balai Bahasa kalimantan Timur.

Materi selanjutnya diisi oleh Ahmad Kosasih, Ketua Yayasan Lanjong Indonesia yang memiliki banyak karya dan prestasi dalam bidang seni pertunjukkan. Tentunya senang sekali bisa mendapatkan ilmu baru dari pengelola Yayasan Lanjong Indonesia. Terutama tentang bagaimana membuat portofolio yang baik bagi komunitas literasi.

Materi selanjutnya diisi oleh Muhammad Arsyad dari Yayasan Gerakan Literasi Kutai. GLK merupakan salah satu komunitas literasi yang sudah lama bergerak dan menjadi panutan bagiku. Tentunya sangat senang bisa bertemu dengan orang-orang hebat di dalam forum ini. Kami mendapatkan bimbingan langsung tentang bagaimana menyusun proposal komunitas yang baik dan benar.

Acara hari ini berjalan dengan baik. Sayangnya, tubuhku yang kurang baik. Tubuh yang diterpa dinginnya angin malam, diguyur hujan selama perjalanan, dan suhu ruang AC yang dingin, membuat tubuhku semakin protes. Sepertinya ia tidak lagi menyukai kondisi dingin. Membuat tubuhku terasa tidak nyaman karena flu menyerang untuk pertama kalinya.

Meski kondisi tubuh tak bersahabat, aku tetap mengikuti kegiatan sampai selesai. Ini adalah komitmen yang telah aku buat dengan diriku sendiri agar aku selalu bertangggung jawab atas apa yang telah aku kerjakan hingga usai.

Bukan sekedar mendengarkan, aku juga masih memiliki kekuatan untuk aktif berdiskusi di tengah kelemahan ini. Aku juga masih menyempatkan diri untuk membuat tulisan ini. Aku harus terus bergerak agar rasa sakit tak punya kesempatan untuk menggerogoti tubuhku yang mungil ini.

Tentunya aku sangat bahagia bisa berada di tempat ini karena aku bisa bertemu dengan orang-orang berhati mulia yang terus bergerak memajukan literasi hingga pelosok negeri secara swadaya. Aku merasa mendapatkan kekuatan dan semangat baru ketika bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi dan senang berbagi pengalaman. Aku senang sekali mendengarkan banyak cerita tentang suka-duka komunitas literasi yang ada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Seperti yang dimandatkan oleh pengurus pusat, literasi itu gerakan, bukan bersaing program. Oleh karenanya, kita harus terus bergerak bersama memajukan literasi di negeri ini agar bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang berdaya saing dan mampu memajukan daerahnya. Kita tidak bisa memulai dengan hal besar, tapi kita bisa memulainya dengan hal kecil. Hal kecil yang selalu bersinergi dan berkelanjutan, akan melahirkan gerakan yang besar. Dengan menjadi besar bersama, maka kita akan menjadi bangsa yang kuat dan siap bersaing.

 

 Kutai Kartanegara, 15 Juli 2025

 

 

 

 

 

Saturday, July 12, 2025

Aku dan Taman Bacaku Bab 4 : Warna yang Lahir dari Air Mata



Warna yang Lahir dari Air Mata
Oleh: Rin Muna


Hari itu, langit Kutai Kartanegara berwarna kelabu. Angin sore membawa suara tawa anak-anak yang berlarian menuju taman baca, tempat kecil yang kuimpikan menjadi rumah bagi imajinasi mereka. Di tangan-tangan mungil itu, buku-buku lusuh bergantian dibuka, tapi mata mereka justru menatap kotak krayon yang mulai kosong.

“Bu, habis ya pewarnanya?” tanya seorang bocah, menatapku dengan wajah polos yang entah kenapa terasa lebih menyentuh daripada kata-kata apa pun.

Aku hanya tersenyum. Dalam dadaku, ada kegelisahan yang tak bisa kusembunyikan. Aku tahu, kegiatan mewarnai hari itu tak akan berjalan seperti biasanya. Pewarna yang kami miliki tinggal serpihan-serpihan kecil yang tak cukup untuk mereka semua. Dan di dompetku, hanya tersisa uang lima puluh ribu rupiah. Uang yang sebenarnya sudah kusiapkan untuk uang jajan anakku besok pagi.

Aku menatap uang itu lama sekali. Di satu sisi, aku seorang ibu yang ingin anaknya bahagia, punya bekal kecil untuk membeli roti atau minum susu di sekolah. Tapi di sisi lain, aku seorang pendiri taman baca, seorang perempuan yang telah berjanji, bahwa tempat ini tidak akan padam hanya karena kekurangan.

Air mataku menetes tanpa izin. Bukan karena aku lemah, tapi karena aku sadar betapa beratnya menjadi penjaga api kecil bernama literasi di tengah keterbatasan. Aku menggenggam uang itu erat-erat, seolah memohon pengertian dari anakku yang belum tentu mengerti. Lalu tanpa berpikir lagi, aku melangkah ke warung terdekat, membeli beberapa kotak krayon murah, warna-warna sederhana yang terasa begitu berharga.

Sore itu, taman baca kembali penuh warna. Anak-anak tertawa sambil menggoreskan warna merah, biru, dan hijau di kertas bergambar. Tidak ada yang tahu bahwa warna-warna itu lahir dari air mataku, dari pengorbanan kecil seorang ibu yang memilih berbagi meski tak punya banyak.

Ketika melihat hasil gambar mereka menempel di dinding, aku tahu, tidak ada yang sia-sia. Mungkin uang jajan anakku habis hari ini, tapi ia akan tumbuh dengan melihat ibunya berjuang untuk kebaikan. Ia akan belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari apa yang kita miliki, tetapi dari apa yang kita berikan.

Dan malam itu, saat aku menutup pintu taman baca, aku menatap langit lagi. Masih kelabu, tapi entah kenapa terasa lebih hangat. Mungkin karena di bawah langit itu, ada cinta yang menjelma menjadi warna yang lahir dari tangan anak-anak, dan dari hati seorang ibu yang tak ingin menyerah.

Aku terduduk di sudut kamar. Meletakkan kepalaku serendah-rendahnya di hadapan Allah. Malam-malamku selalu aku sempatkan untuk berdialog dengan Tuhan, juga berdialog dengan diri sendiri.
"Ya Allah ... apa yang aku lakukan hari ini karena Engkau yang menyentuh hatiku untuk terus berbuat baik, meski bukan hal besar. Maka, berikanlah aku kekuatan dan kemampuan untuk menjalani semuanya. Aku percaya atas semua rancanganmu, Ya Allah. Aku hanya ingin menjalaninya dengan tulus. Maka, ajarkan aku ... bagaimana ketulusan itu tidak berbatas."

Satu minggu kemudian ...
"Kak Rin, kita mau ngamen. Nanti kita akan buka donasi untuk taman baca Kak Rin, ya," ungkap Aji, salah satu seniman dan mahasiswa Uniba, lewat pesan Whatsapp.

"Ngamen?"
Aku tertegun selama beberapa saat ketika mengingat kalimat yang kubaca. Tak terasa air mataku jatuh, mengalir menghangatkan pipi.
Aku tidak sanggup berkata-kata. Tanganku gemetaran memegang ponsel dan tidak tahu harus membalas apa. Kubiarkan cukup lama karena aku tidak memiliki kata yang tepat untuk menyampaikan rasa terima kasihku. 
Hanya air mata yang bisa kusampaikan sebagai rasa terima kasihku pada Allah. Karena Allah yang telah mengirimkan malaikatnya untukku. Lewat hati orang-orang yang telah ditentukan Allah.
Jika bukan karena Allah, mana mungkin mahasiswa-mahasiswa itu mau mengamen hanya untuk menggalang donasi. Sebab, kami tidak begitu dekat. Tapi hati mereka berhasil disentuh oleh Allah agar menjadi bagian dari apa yang telah aku upayakan.
Tak berapa lama, Abi (Ketua Fokus Balikpapan) juga menghubungiku. Membicarakan mengenai rencana pameran seni di Dahor Heritage. Beliau memintaku untuk membawa karya anak-anak taman baca sebagai bahan untuk mempromosikan kehadiran taman bacaku.
Aku masih belum mengerti apa maksudnya. Kemudian, beliau memberikan arahan untuk membuat "Panel Art" dari kardus bekas. Aku tidak banyak bertanya dan berpikir lagi, langsung aku iyakan saja.
Aku tahu, aku tidak memiliki apa pun untuk bisa membiayai kegiatan ini. Karena aku tahu kalau harga cat tidak murah, meski tidak terlalu mahal juga. 
Ketika aku memberitahu anak-anak yang biasa bermain ke taman baca, mereka sangat bersemangat untuk membuat karya. Namun, aku bingung ... dari mana aku bisa mendapatkan uang untuk membeli cat?
Aku mencoba untuk berkomunikasi dengan Kepala Desa, siapa tahu pemerintah desa atau staff-nya ada yang ingin menyumbang secara pribadi. Tapi ternyata tidak semudah yang aku pikirkan. Aku dibantu uang Rp 50.000 oleh Kepala Desa. Sisanya, aku harus mengusahakan sendiri.
Aku bertemu dengan salah seorang tokoh pendidik yang kebetulan mampir ke taman baca untuk melihat kegiatan anak-anak. Beliau mengatakan akan membantu mencari dana supaya bisa membelikan cat untuk kreasi anak-anak. Hari pameran sudah semakin dekat dan kami masih belum mendapatkan bantuan sedikitpun selain bantuan dari Kepala Desa.
Aku tidak bisa mengandalkan orang lain. Menunggu sesuatu yang tidak pasti, hanya akan membuatku kesulitan sendiri. Aku juga tidak ingin menyerah begitu saja. Terlebih ketika melihat semangat anak-anak, aku tidak ingin memadamkannya.
"Aku harus bisa menyisihkan uang," batinku sambil menatap mesin jahit yang ada di hadapanku. Karena aku tidak lagi bekerja, aku memilih untuk belajar menjahit dan memberanikan diri menerima jahitan, meski tidak banyak. Beberapa orang yang mempercayakan jahitannya, telah membantuku menghidupi keluarga kecilku, juga kegiatan di taman bacaku.
Aku sudah berusaha menyisihkan uang, tapi masih belum mencukupi. Sebab, uang yang aku dapatkan harus dibagi untuk kebutuhan sehari-hari, juga untuk uang sekolah anakku.
"Gimana caranya aku bisa dapat uang atau bantuan, ya?" gumamku. 
Tak lama kemudian, Kepala Desa mengajakku mengikuti pelatihan peningkatan SDM di mana aku diberi uang saku dan transport selama pelatihan.
"Alhamdulillah ...!" Aku merasa sangat senang. Aku mendapatkan ilmu baru, juga mendapatkan uang yang bisa aku gunakan untuk membeli cat. 
Aku berkeliling untuk membeli cat yang paling murah. Supaya bisa membeli beberapa warna agar anak-anak bisa membuat "Panel Art" sesuai dengan kreasi mereka. 
Aku tidak tahu bensinku cukup atau tidak jika aku harus berkeliling jauh mencari cat. Semoga cukup dan aku harus menyisihkan beberapa lembar uang untuk berjaga-jaga. Karena tidak semua toko menjual cat yang merk-nya murah. Motor juga tidak akan bergerak jika tidak ada bahan bakarnya.
Begitu aku mendapatkan cat murah, aku langsung pulang dengan bahagia. Anak-anak tidak begitu mementingkan apakah cat yang aku beli adalah cat murahan atau mahalan. Bagi mereka, yang penting ada warnanya.
Pembuatan karya seni "Panel Art" berhasil dan selesai dengan baik. Kemudian, kami harus membawa karya-karya itu ke lokasi pameran di kota Balikpapan.
Masalah baru muncul lagi karena aku tidak memiliki kendaraan untuk membawa Panel Art tersebut. Akhirnya, aku dibantu oleh Kepala Desa. Beliau yang mengantarkan kami sampai di lokasi pameran karena kebetulan putera beliau juga menjadi kontributor dalam pembuatan karya seni tersebut.
Di kegiatan pameran itulah, teman-teman seniman memberikan hasil donasinya kepada kami. Ada satu dus alat lukis yang diberikan kepada taman bacaku. Aku sangat senang menerimanya karena bisa digunakan untuk kegiatan mewarnai di taman bacaku selama beberapa bulan ke depan.
Ternyata, seperti inilah kalau membuka taman baca dan ingin mendedikasikan semuanya. Tidak hanya membuka saja. Aku harus rela untuk berkorban. Karena taman baca tidak akan hidup tanpa uang dan aku tidak bisa terus-menerus bersandar pada orang lain. 
Sejak aku mendirikan taman baca, aku memiliki dua dapur yang harus aku penuhi kebutuhannya, aku memiliki dua ruang tamu yang harus aku rawat kebersihannya, aku memiliki dua halaman yang harus terbuka untuk siapa saja.
Maka aku tepiskan kalimat pedih dari orang-orang yang membenciku, sebab mereka tidak tahu. Andai saja ada yang mau menggantikan posisiku, tentu aku akan menyerahkannya dengan senang hati. Agar aku tidak perlu menitikan air mata hanya untuk menjaga warna-warni yang sudah terlanjur aku tumpahkan di taman baca ini.





Aku dan Taman Bacaku Bab 3 : Perjuangan Membuka Taman Baca





Tanggal 18 Februari 2018.

Hari itu, langit Samboja tak secerah biasanya. Awan menggantung di ujung bukit, dan angin yang lewat membawa rasa gugup yang tak bisa kusembunyikan. Meski tak ada upacara atau pengguntingan pita, hatiku berdebar seperti akan menghadapi panggung besar.

Di teras rumahku yang sempit, dengan karpet lusuh dan beberapa kertas mewarnai hasil print-an sendiri, aku resmi membuka Taman Bacaan Bunga Kertas.

Nama itu kupilih bukan tanpa alasan.
Bunga kertas bukanlah bunga mahal. Ia tak butuh banyak air, tapi bisa tumbuh dan berbunga di tanah kering. Dan aku ingin taman baca ini seperti itu—sederhana, mandiri, tapi penuh warna dan disukai banyak orang. 

Anak-anak datang satu per satu, masih malu-malu.

Mereka duduk bersila di atas karpet tipis. Pensil warna kugulung dengan karet gelang, kuletakkan di tengah-tengah. Buku gambar seadanya kupotong dari kertas bekas kerjaan menjahit. Semuanya swadaya. Tidak ada sponsor, tidak ada sumbangan pemerintah.

Hanya ada aku, semangatku, dan 50 buku koleksi pribadiku yang setia menemaniku sejak belasan tahun lalu. Buku-buku yang pernah menemaniku dalam masa-masa sepi, buku-buku yang membuatku merasa tak sendiri di dunia. Dan kini, aku ingin buku-buku itu menemukan rumah barunya di tangan kecil anak-anak kampungku.

Namun, tak semua menyambut hangat.

Di sela-sela sore yang sibuk, aku sempat mendengar bisik-bisik dari balik pagar. 

“Untuk apa buka taman baca?”
“Udah susah gitu, malah repot urus anak orang.”
“Emang anak-anak mau baca buku zaman sekarang?”

Kalimat-kalimat itu terdengar lebih tajam dari jarum mesin jahitku yang sering kusalahkan kalau benangnya kusut. Tapi aku diam. Bukan karena tak bisa membalas, tapi karena aku sudah terbiasa hidup di tengah tanya-tanya yang bernada sinis.

Aku tahu, tak semua orang paham mimpi yang sedang tumbuh di kepalaku. Tak semua mata bisa melihat pentingnya sebuah taman baca di tengah desa kecil yang jauh dari pusat perhatian.

Tapi aku juga tahu, perubahan tak selalu datang dari tempat yang ramai. Kadang, ia bermula dari tikar usang dan satu rak buku di teras rumah.

Aku lalu memberanikan diri menyebar kabar di media sosial. Kupasang status di Facebook, kubuat tulisan di blog. Aku meminta bantuan pada siapa saja. Pada teman-teman kerja di perusahaaan tempatku pernah bekerja. Pada teman-teman penulis yang ada di seluruh Indonesia. Siapa tahu ada yang mau menyumbang buku. Kupikir, mungkin hanya satu dua yang peduli.

Tapi ternyata, balasannya tak terduga. Justru yang banyak membantu adalah teman-teman penulis dari seluruh Indonesia. Orang-orang yang belum pernah bertatap muka denganku, tapi sepertinya bisa membaca kegigihanku lewat kalimat-kalimat yang kutulis.

Paket demi paket datang. Ada yang dari Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Aceh, Tangerang, Pontianak, bahkan dari pelosok Sulawesi. Di dalamnya ada buku, ada pembatas halaman lucu, dan kadang surat-surat kecil yang membuat mataku berkaca:

“Semoga anak-anak di sana menyukai buku ini, ya.”
“Dari penulis kecil, untuk pembaca masa depan.”

Aku membaca semuanya sambil duduk di ruang tamu, memeluk satu kardus buku erat-erat. Rasanya seperti dipeluk balik oleh semesta. Bahwa aku tidak sendirian. Bahwa mimpi kecil ini ternyata punya banyak teman.

Kini, rak buku di taman bacaku mulai penuh. Anak-anak mulai datang lebih awal. Bahkan beberapa sudah berani meminjam buku untuk dibaca di rumah. Kadang aku melihat mereka berjalan kaki, membawa buku di dalam kantong plastik, melindunginya seolah itu harta karun.

Dan di situ aku tahu: segala sindiran kemarin tak ada artinya dibanding satu mata berbinar yang jatuh cinta pada buku pertama mereka.

Taman Bacaan Bunga Kertas tak akan sempurna. Tapi ia tumbuh. Dari halaman rumahku. Dari tekad yang kusemai pelan-pelan. Dari cinta yang tak pernah selesai kutuang.

Dan pada akhirnya, biarlah yang berkata “untuk apa” itu tetap bertanya.
Karena aku lebih memilih mendengar tawa anak-anak yang membaca dengan suara terbata.

Sore hari yang lelah, terkadang dibuat tambah lelah dengan ruang buku yang berhambur. Cukup sulit membiasakan anak-anak untuk merapikan buku setelah membaca. Apalagi merapikan pensil warna dan kertas-kertas hasil mewarnai yang sudah selesai. 

Aku menghela napas sejenak. Rasa lelahku tiba-tiba menghilang seketika ketika teringat tawa ceria anak-anak desa yang sering berkunjung ke taman baca. 

Ternyata, bahagia itu sederhana. Bisa bermanfaat untuk orang lain dan bisa melihat orang lain tertawa bahagia. 

Aku jadi lebih bersemangat menjalankan taman baca meski harus merogoh kocek pribadiku. Terkadang aku juga rela mengorbankan uang jajan anakku atau uang belanja dapur. Melihat anak-anak tersenyum bahagia dengan buku dan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan, aku sudah merasa sangat senang. 

Dengan wajah tersenyum bahagia, aku mengumpulkan buku-buku dan merapikannya kembali. Hatiku dipenuhi dengan harapan yang sangat besar terhadap anak-anak di desaku. Aku ingin mereka bisa menjadi generasi yang cerdas dan berdaya saing di masa depan. Tidak harus semua. Dari 2.600 penduduk desa, pasti ada satu anak yang bisa sukses dari hobi membaca. 

Aku tidak perlu diakui. Karena yang aku cari bukanlah pengakuan dari banyak orang, tapi kemanfaatan hidupku sendiri. Suatu hari nanti ketika Allah meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah aku lakukan di dunia, aku bisa menjawabnya dengan tenang. Aku persembahkan taman baca kecil ini sebagai amalan jariyah ilmu yang tidak akan terputus. Biarlah nanti buku-buku ini yang bercerita pada Tuhan tentang kegigihan dan ketulusanku dalam memberikan manfaat untuk orang lain. 

Aku tahu ini bukan hal besar. Ini adalah hal kecil yang kerap disepelekan banyak orang. Tapi dari langkah kecil inilah semuanya dimulai. Langkah kecil yang sepele, tapi tidak mudah untuk dilakukan, tidak mudah pula untuk dipertahankan. 

Aku berharap, taman baca ini tidak hanya berjalan dalam hitungan bulan. Tapi bisa bermanfaat sampai satu tahun ke depan, syukur-syukur bisa lebih dari satu tahun. 



AKU DAN TAMAN BACAKU || Bab 1 : Titik Balik Kehidupanku

Titik Balik Kehidupanku


Menjadi seorang wanita ternyata tidak mudah. Terlebih ketika memasuki usia dewasa. Ada titik di mana kita harus dihadapkan oleh pilihan yang sulit, antara karir dan keluarga.
Sudah satu minggu aku tidak pulang ke rumah. Bukan karena masalah keluarga, tapi karena tanggung jawab pekerjaan.
Ini bukan pertama kalinya. Setiap bulan saat tutup buku, aku harus lembur di kantor selama satu minggu penuh. Membuatku tidak bisa pulang ke rumah dan harus menginap di mess karyawan.
Beberapa tahun sebelumnya, aku menjalaninya dengan bahagia. Tidak ada beban yang bergelayut di pundak meski aku tidak pulang ke rumah dalam jangka waktu yang lama.
Tapi kali ini, aku mulai resah. Satu hari saja tidak pulang ke rumah, seperti ada beban yang begitu menyesakkan dada. Wajah mungil puteriku yang baru berusia dua tahun, membuatku tidak cukup tenang.
Sejak pindah kantor, kami harus tinggal berjauhan. Membuatku tidak bisa bertemu dengan puteriku sendiri. Padahal, ia masih butuh sosok ibu dalam kehidupannya yang baru.
Setelah berpikir panjang dengan begitu banyak pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk menyodorkan surat resign ke hadapan atasanku sendiri.
Ini bukan surat resign pertama. Ini surat resign yang ketiga kalinya. Pengajuanku untuk resign ditolak oleh bosku sebelumnya, meski keduanya adalah orang yang berbeda.
Bos pertama melarangku resign dan dia memberi nasihat “Ke depannya, kebutuhan keluargamu akan lebih banyak. Kamu yakin mau resign?”
Bukan cuma kalimat itu. Masih ada banyak kalimat yang dia berikan padaku hingga membuatku tetap bertahan bekerja di perusahaan.
Bos kedua menggantikan bos pertama yang dimutasi ke provinsi lain. Aku juga mengajukan resign dan mendapatkan penolakan. “Kalau kamu resign, kamu mau ngapain di kampung seperti ini?”
Dengan santai aku menjawab, “Mau nulis novel, Pak.”
Padahal, aku sama sekali tidak memiliki ilmu menulis. Hanya asal bicara agar surat pengunduran diriku diterima.
Bukan menandatangani surat resign, beliau malah memberi aku banyak wejangan. Akhirnya, aku mengurungkan kembali niatku untuk resign.
Bos kedua kembali di mutasi ke provinsi lain. Kemudian, datanglah bos ketiga.
Aku benar-benar memanfaatkan momen untuk bisa mengundurkan diri dari perusahaan. Bos yang baru tidak begitu paham seluk-beluk perusahaan, terutama tentang bagaimana kinerjaku selama ini. Aku tidak ingin terlalu lama membangun ikatan pekerjaan dengannya. Jadi, aku segera mengajukan surat pengunduran diri agar aku bisa segera berhenti bekerja dari perusahaan.
Bos ketiga tidak begitu banyak bertanya dan menasehatiku. Aku justru mendapat nasehat dari istri beliau supaya aku tidak harus resign. Bosku juga memberikan banyak tawaran agar aku tidak mengundurkan diri, karena akulah yang paling diandalkan di perusahaan tersebut.
Aku merasa, tidak ada yang istimewa dariku. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk perusahaan yang sudah menghidupiku. Bukan untuk cari muka, apalagi untuk bersaing dengan yang lain.
Sembari menatap langit sore yang cerah, aku berkata dalam hati. “Ilmu yang aku miliki saat ini adalah ilmu yang aku pelajari di masa lalu. Semua orang bisa mendapatkannya jika mereka mau. Akan ada orang yang jauh lebih hebat dari aku. Akan ada orang yang menggantikan posisiku, sekalipun aku berada di posisi yang penting.”
Hari itu, aku benar-benar memantapkan langkahku untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Ada wajah puteriku yang menari-nari di pelupuk mata. Meski aku kehilangan pekerjaan dan tidak tahu harus bagaimana menjalani hidup ke depannya, aku merasa sangat bahagia ketika mendapatkan Surat Pengalaman Kerja.









Satu bulan kemudian ...
Hatiku mulai resah. Uang tabunganku sudah sangat menipis. Hanya cukup untuk bertahan hidup selama beberapa hari ke depan. Sementara, aku tidak punya pekerjaan sama sekali. Aku berusaha untuk membuka usaha dengan sisa uang yang aku miliki, tapi usaha di kampung, ternyata tidaklah mudah.
“Aku harus gimana?”
Di tengah gelapnya malam aku merenung sembari menatap rembulan dari balik jendela kamar. Puteriku kecilku sudah tertidur lelap. Kakek dan nenekku juga sudah terlelap di kamarnya. Sesekali aku melihat wajah puteriku yang mungil, kemudian aku tersenyum. Entah apa yang membuatku tetap bisa tersenyum dalam kepahitan ini.
Aku melangkah perlahan mendekati kamar nenekku. Pintu kamarnya hanya ditutup menggunakan kain. Aku bisa menyibaknya dengan mudah. Nenek kakekku sudah tertidur pulas di dalam kelambu usang yang setiap hari mereka kenakan. Kalau tidak pakai kelambu, nyamuknya sangat banyak. Rumah kami masih terbuat dari kayu dan banyak lubang di sana-sini. Terlebih, lantai kamar nenek-kakekku masih tanah. Ketika hujan deras datang, kami biasa kebanjiran dan lantai di bawah dipan mereka selalu basah.
“Ya Allah, mudahkanlah rezekiku supaya bisa bikinkan kamar yang layak untuk mereka,” batinku sembari meneteskan air mata.
Aku melangkah mendekati meja dapur. Menyeduh secangkir kopi dan menyesapnya perlahan sembari menikmati kelamnya malam yang sunyi.
Malam ini tidak terlalu sunyi. Aku masih bisa mendengar suara jangkrik bercengkerama, suara katak berirama, dan suara burung hantu yang terkadang membuat bulu kuduk berdiri.
TING!
Aku langsung menoleh ke arah ponselku yang tiba-tiba menyala.
“Siapa yang chat malam-malam begini?” batinku.
Aku meraih ponsel tersebut dan membuka DM Instagram. Di sana tertera nama seorang pria yang tidak aku kenal. Siapa?
“Mbak, perkenalkan saya Abi Ramadhan, ketua Fokus (Forum Kreatif Usaha Sama-Sama). Saya lihat, Mbak sering bikin-bikin bunga dan kerajinan tangan. Kira-kira, berminat atau tidak ikut pameran bersama komunitas kami?”
Aku mengernyitkan kening sejenak. Dari mana dia tahu kalau aku sering bikin bucket dan kerajinan tangan? Padahal, kami tidak saling mengenal. Aku memang kerap membagikan kegiatanku di sosial media. Tapi tidak berpikir akan sampai sejauh ini.
Setelah berpikir cukup lama, aku menerima tawaran beliau untuk ikut pameran. Saat itu, aku membuka stand kriya di Royal Suite Hotel, tempat kami pameran untuk pertama kalinya.
Di sanalah aku bertemu dengan banyak seniman dan pengrajin. Ada banyak ilustrator, seniman lukis, juga pengrajin tas, busana, dan aksesoris.
Aku tidak tahu bagaimana caranya mempromosikan produk aku sendiri karena aku tidak punya teman di hotel tersebut. Apalagi, hotel adalah tempat yang sangat eksklusif. Tapi aku tidak akan pernah melupakan dua orang wanita yang berkunjung ke stand-ku. Mereka adalah teman-temanku saat aku bekerja di perusahaan. Asmi dan Mia.
Pameran Fokus selanjutnya berada di Dome Balikpapan yang mengusung tema “Mathilda Fest”. Di sinilah titik balik hidupku dimulai.
Dalam pameran tersebut, kami mendapatkan stand gratis untuk komunitas. Karena sektor seni dan kriya memang tidak seramai sektor kuliner. Sehingga, kami mendapatkan support dari pemerintah kota Balikpapan dengan difasilitasi stand dan tenda gratis.
Saat hari pertama pameran, perhatianku langsung terfokus pada stand buku-buku di sebelahku. Ada banyak buku yang bisa dibaca gratis. Bahkan, beberapa diberikan secara cuma-cuma kepada pengunjung yang berminat.
Tanpa ragu, aku langsung mendekati stand buku tersebut. Melihat-lihat buku, juga berkenalan dengan pemilik stand buku tersebut.
Namanya Ibu Roelyta Aminudin, beliau dikenal dengan nama tersebut. Pemilik dari PAUD An-Nisa dan TBM An-Nisa, yang juga dinobatkan menjadi Kampoeng Literasi Gajah Mada.
LITERASI – Sebuah kata yang masih asing di telingaku. Kata yang tiba-tiba memunculkan banyak tanya di kepalaku. Biasanya, aku tidak begitu peduli dengan frasa asing yang aku dengar. Tapi kali ini, seolah ada sesuatu yang memanggilku.
“Bu, literasi itu apa?” tanyaku.
Ibu Roelyta tersenyum. “Baca ini!”
Bukannya menjawab pertanyaanku, Ibu Roelyta malah memberiku sebuah flyer tentang “Gerakan Literasi Nasional”. Di dalamnya sudah ada pengertian tentang literasi, tujuan literasi, dan pola dasar literasi yang harus dimiliki oleh setiap individu.
Menarik.
Akhirnya, aku dipertemukan dengan orang yang mencintai buku. Sejak dulu, aku sangat suka dengan buku-buku. Hanya saja, aku tumbuh dan besar di lingkungan keluarga yang tidak cinta buku dan tidak membiasakan anak-anaknya membaca buku. Jadi, aku juga memiliki akses bahan bacaan yang minim. Terlebih, aku tinggal di pelosik desa yang jauh dari perkotaan dan memiliki akses informasi terbatas.
Rasa penasaranku tiba-tiba menjalar sampai ke ulu hati. Aku terus mendekati Ibu Roelyta untuk belajar. Aku selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke taman bacanya. Di sana, aku semakin terkagum-kagum dengan apa yang telah beliau lakukan.
“Bu, di Samboja itu nggak ada toko buku, nggak ada perpustakaan umum juga. Susah banget dapetin buku kalau di sana. Kalau mau bikin taman baca kayak Ibu gini, gimana caranya?” tanyaku sembari menemani Ibu Roelyta menyeduh kopi di dapurnya.
“Gampang aja. Yang penting kamu punya buku dan nama taman baca yang mau kamu buat,” jawab Ibu Roelyta.
“Cuma itu?” Keningku sedikit berkerut mendengar jawaban Ibu Roelyta. Aku masih tidak yakin, apakah bisa sesederhana itu?
Ibu Roelyta mengangguk yakin sambil tersenyum. “Mendirikan taman baca itu panggilan hati. Nggak ada uangnya. Kamu harus banyak keluar uang untuk memulainya. Kamu yakin, mau bikin taman baca juga?”
Aku terdiam sejenak, kemudian mengangguk yakin. “Aku pengen anak-anak yang suka baca buku tapi nggak punya uang, bisa tetap baca buku. Aku nggak mau mereka kayak aku, Bu. Pengen baca buku aja sulit. Harga buku mahal-mahal,” jawabku.
Ibu Roelyta tersenyum. “Kalau gitu, buka aja! Ibu akan mendukung kamu sepenuhnya. Kalau butuh apa-apa, ngomong sama Ibu!”
Aku mengangguk dan merengkuh tubuh Ibu Roelyta. “Terima kasih banyak, Bu!”
Ibu Roelyta tersenyum sambil mengelus lembut lenganku. “Ibu mau mengingatkan satu hal kalau kamu mau bikin taman baca. Kamu harus kuat! Akan ada banyak orang yang nggak suka sama kamu. Akan ada banyak orang yang nantinya minta bagian dari kamu, padahal mereka nggak ada sama sekali saat kamu berjuang.”
“Maksudnya, Bu?”
“Nanti kamu akan mengerti sendiri seiring berjalannya waktu. Yang penting kamu harus kuat, harus bisa melindungi dirimu sendiri dan taman baca yang kamu dirikan!” ucap Ibu Roelyta lagi.
Aku tersenyum sambil menyandarkan kepalaku ke pundak Ibu Roelyta. “Ya Allah, jika Kau sentuh hatiku agar melakukan sesuatu untuk orang banyak, maka aku tahu Engkau begitu dekat. Maka, permudahlah setiap langkahku. Semua kebaikan yang aku lakukan, kupersembahkan hanya untuk Engkau, Ya Allah...”



Baca Part selanjutnya di sini >>> Aku dan Taman Bacaku Part.2

Hari-Hari Berat dalam Hidupku







Aku masih ingat pagi itu—langit tampak mendung, seakan ikut merasakan apa yang hatiku simpan. Di ruang tamu yang terasa asing walau sudah kutinggali bertahun-tahun, aku dan suamiku duduk saling diam. Kata-kata akhirnya meluncur dari bibirnya, seperti pisau yang tak terlihat tapi menghujam dalam.

"Kita cukup sampai di sini."

Tidak ada teriakan. Tidak ada drama. Hanya kesunyian yang menelan segalanya. Aku tahu hubungan ini sudah lama retak, tapi tetap saja, mendengar kata-kata itu seperti dipaksa menelan kenyataan paling pahit. Kami bercerai seminggu kemudian. Saat tanda tangan terakhir kububuhkan, rasanya seperti melepas bagian dari diriku sendiri.

Tapi aku tak punya waktu lama untuk meratapi. Dua pasang mata kecil menatapku dengan harap, mereka adalah anak-anakku. Belum cukup umur untuk benar-benar mengerti, tapi cukup peka untuk merasakan bahwa rumah mereka tak lagi utuh. Mereka adalah alasanku bangun setiap pagi, bahkan ketika tubuh ini rasanya ingin menyerah.

Hari-hariku tak lagi tentang mencari kebahagiaan, tapi bertahan. Menghidupi dua anak bukan perkara mudah, apalagi ditambah nenek yang sudah renta dan orang tua yang mulai sakit-sakitan. Aku menjadi tumpuan untuk lima jiwa. Setiap lembar uang yang kudapat harus diatur sebijak mungkin. Pernah suatu malam, aku hanya makan nasi dan garam karena lauk terakhir kuberikan pada anak-anak.

Ada hari-hari ketika aku pulang larut, tubuh lelah setelah bekerja sambilan, lalu dapur bocor dan tagihan listrik datang bersamaan. Aku menangis diam-diam di kamar mandi, agar anak-anakku tak melihat air mata itu. Tapi dari situ aku belajar, bahwa air mata bukan tanda kelemahan, tapi bukti bahwa aku masih berjuang.

Terkadang aku iri melihat keluarga utuh di taman atau mendengar tawa pasangan yang saling berbagi tugas mengasuh anak. Tapi hidupku sudah berbeda. Aku tak bisa mengubah masa lalu, hanya bisa menata masa depan dengan apa yang ada.

Sekarang, meski belum sepenuhnya lepas dari perjuangan, aku bangga pada diriku sendiri. Aku bukan hanya seorang ibu tunggal. Aku adalah anak yang merawat orang tuanya, cucu yang menjaga nenek-kakeknya, dan seorang perempuan yang masih berdiri kokoh meski berkali-kali ingin roboh.

Hari-hari berat itu akan tetap ada. Tapi aku pun sudah menjadi lebih kuat dari hari kemarin. 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas