Friday, August 1, 2025

Aku dan Taman Bacaku | Api Relawan itu Masih Ada

 


Jum'at, 1 Agustus 2025

Hari ini ada pemandangan yang tak biasa di taman bacaku meski kegiatannya masih sama seperti biasa.
Setiap hari Selasa dan Jum'at selalu ada kelas Bahasa Inggris (Gratis) yang aku buka untuk umum. Siapa saja boleh belajar di sini tanpa merasa terbebani dengan tuntutan apa pun. Aku merasa tidak layak mengambil tarif karena ilmuku juga tidak begitu tinggi. Hanya bisa mengajar berdasarkan bahan ajar yang aku pelajari. Aku juga lebih menuruti keinginan anak-anak yang ingin belajar. Terkadang, mereka mengajak bermain game seru berbahasa Inggris atau kegiatan yang lainnya. Sehingga, pembelajaran mereka tidak bisa dipaksakan karena aku mau mereka belajar dengan bahagia dan tidak terbebani oleh materi Bahasa Inggris yang dianggap sangat sulit oleh beberapa orang.

Biasanya, aku sudah pusing dengan kerusuhan anak-anak yang hadir. Pasalnya, aku harus mengajar seorang diri, sementara jenjang kemampuan bahasa Inggris mereka sudah berbeda. Ada yang sudah belajar selama berbulan-bulan. Ada juga yang baru bergabung dan baru mengenal kosakata.




Tapi hari ini aku cukup santai dalam mengajar. Kenapa? Karena ada anak-anak KKN dari UINSI yang membantuku mengajar. Mereka menjadi relawan pengajar selama  pengabdian di desa kami. Kebetulan, mereka juga tinggal di dekat taman bacaan kami. Sehingga, aku sangat mengharapkan kontribusi mereka dalam menghidupkan kegiatan di taman baca. Sebab, waktu dan tenagaku sangat terbatas. Aku sangat membutuhkan orang-orang yang memiliki kepedulian sama terhadap anak-anak di Desaku.



Aku tidak bisa memaksa seseorang untuk menjadi relawan pengajar. Juga tidak banyak berharap. Karena semuanya di sini gratis. Tidak ada donatur yang memberi honor untuk para relawan pengajar. Sehingga, aku hanya mengharapkan mereka yang terketuk pintu hatinya untuk membantuku. Meski hanya sesekali, itu sangat berarti untukku.
Seringkali aku berada di titik keputusasaan dan ingin menyerah karena harus berjalan seorang diri. Tapi di saat itulah Tuhan menunjukkan banyak keajaiban kepadaku. Keajaiban untuk tidak menyerah pada keadaan begitu saja.
Ketika ada orang yang datang dan menawarkan untuk menjadi relawan, aku sangat senang. Tidak ada yang bisa kuberikan kepada mereka selain sertifikat pengabdian yang mereka lakukan di taman bacaku. Sejujurnya, aku selalu merasa tidak enak hati jika harus merepotkan orang lain. Tapi, ada orang-orang yang justru datang dengan bahagia untuk direpotkan.



Di saat aku ingin menyerah dan berhenti dari semua kegiatan ini, Tuhan datangkan orang-orang yang membuat api semangat ini terus terjaga dan tidak pernah padam. Di saat air mata ini jatuh bercucuran karena ketidaksanggupanku, Tuhan mengirimkan tangan-tangan malaikat untuk mengusap air mataku dan memberiku kekuatan baru.

Ternyata ... api relawan itu masih ada meski nyalanya sangat kecil. Terkadang, aku tidak menyadarinya karena ruang gerakku terasa masih sangat gelap. Aku harap, suatu hari nanti akan ada banyak relawan yang mau mengabdikan dirinya ke taman bacaku. Membuat taman bacaku terus bergerak dan bermanfaat bagi anak-anak desa. Sebab, aku hanya mampu mendirikan dan memberikan ruang. Ada hal-hal yang tidak mampu aku lakukan. Aku hanya manusia biasa yang memiliki begitu banyak keterbatasan. Tanpa pengabdian yang tulus dari para relawan, taman bacaku tidak akan bisa bertahan sejauh ini.

Terima kasih untuk semua relawan yang pernah mengabdikan dirinya di taman bacaku. 

Kalau suatu hari nanti kita bertemu kembali, aku ingin dengar cerita tentang kesuksesan kalian di masa depan.





0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas