"Kita cukup sampai di sini."
Tidak ada teriakan. Tidak ada drama. Hanya kesunyian yang menelan segalanya. Aku tahu hubungan ini sudah lama retak, tapi tetap saja, mendengar kata-kata itu seperti dipaksa menelan kenyataan paling pahit. Kami bercerai seminggu kemudian. Saat tanda tangan terakhir kububuhkan, rasanya seperti melepas bagian dari diriku sendiri.
Tapi aku tak punya waktu lama untuk meratapi. Dua pasang mata kecil menatapku dengan harap, mereka adalah anak-anakku. Belum cukup umur untuk benar-benar mengerti, tapi cukup peka untuk merasakan bahwa rumah mereka tak lagi utuh. Mereka adalah alasanku bangun setiap pagi, bahkan ketika tubuh ini rasanya ingin menyerah.
Hari-hariku tak lagi tentang mencari kebahagiaan, tapi bertahan. Menghidupi dua anak bukan perkara mudah, apalagi ditambah nenek yang sudah renta dan orang tua yang mulai sakit-sakitan. Aku menjadi tumpuan untuk lima jiwa. Setiap lembar uang yang kudapat harus diatur sebijak mungkin. Pernah suatu malam, aku hanya makan nasi dan garam karena lauk terakhir kuberikan pada anak-anak.
Ada hari-hari ketika aku pulang larut, tubuh lelah setelah bekerja sambilan, lalu dapur bocor dan tagihan listrik datang bersamaan. Aku menangis diam-diam di kamar mandi, agar anak-anakku tak melihat air mata itu. Tapi dari situ aku belajar, bahwa air mata bukan tanda kelemahan, tapi bukti bahwa aku masih berjuang.
Terkadang aku iri melihat keluarga utuh di taman atau mendengar tawa pasangan yang saling berbagi tugas mengasuh anak. Tapi hidupku sudah berbeda. Aku tak bisa mengubah masa lalu, hanya bisa menata masa depan dengan apa yang ada.
Sekarang, meski belum sepenuhnya lepas dari perjuangan, aku bangga pada diriku sendiri. Aku bukan hanya seorang ibu tunggal. Aku adalah anak yang merawat orang tuanya, cucu yang menjaga nenek-kakeknya, dan seorang perempuan yang masih berdiri kokoh meski berkali-kali ingin roboh.
0 komentar:
Post a Comment