Tuesday, October 7, 2025

THEN LOVE BAB 27 : TERASA ASING

 


Usai liburan semester, semua siswa dari luar kota kembali ke asrama. Delana, langsung pergi ke asrama begitu mendengar Belvina sudah tiba di sana.

“Bel, liburan kemarin ke mana aja?” tanya Delana sambil berbaring di salah satu ranjang yang ada di kamar Belvina.

“Di kampung aja, sih. Ngumpul-ngumpul bareng keluarga,” jawab Belvina.

“Asyik, ya?” tanya Delana.

“Asyik, lah. Secara, aku kan jarang banget bisa ketemu sama keluarga dan saudara. Nggak kayak kamu yang bisa ketemu setiap hari,” tutur Belvina sambil sibuk melipat pakaiannya.

“Eh, si Ivo jadi liburan ke Singapura?” tanya Belvina.

“Jadi. Aku lihat postingannya di instagram, bikin ngiri aja, deh.”

Belvina tertawa kecil. “Iya, sih. Aku sering dm dia.”

“Lah? Itu tahu. Kenapa masih tanya Ivo jadi ke Singapura atau enggak?” dengus Delana.

“Ngetes kamu aja. Seberapa peduli sih kamu sahabat kamu sendiri,” jawab Belvina sambil tertawa.

“Kapan sih aku nggak peduli sama kalian?” tutur Delana sambil memainkan bibirnya.

“Kapan ya?” Belvina menatap langit-langit kamarnya. “Kayaknya ... kalo pas kamu lagi sama Chilton deh.”

“Iih ... itu kan beda. Masa kamu nggak dukung aku sama dia sih? Aku 'kan lagi usaha.”

Belvina meringis. “Hehehe. Iya, kita paham, kok. Lihat kamu bahagia aja udah senang. Yang penting, jangan lupa sama sahabat kalo udah punya pacar!”

“Ahsiiaap!”

Belvina tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Delana meraih ponsel dan membuka aplikasi media sosialnya. Ia sengaja mencari berita terbaru dari hashtag seputar kampusnya.

“Bel, kamu kenal sama Ratu Sheeva?” tanya Delana.

“Yang suka jadi MC sama nari-nari itu?” tanya Belvina balik.

Delana menganggukkan kepala.

“Kenal. Dia loh tinggal di asrama sini juga.”

“Hah!? Serius?”

“Iya. Kenapa emangnya?” tanya Belvina.

“Hmm ... nggak papa, sih. Suka aja lihat dia cantik banget,” jawab Delana.

“Cantik mana sama Ivo?” tanya Belvina.

“Dua-duanya cantik.”

“Aku bilang sih cantik Ivo. Si Ratu itu angkuh banget anaknya.”

“Oh ya? Dia anak orang kaya, ya?” tanya Delana.

Belvina menganggukkan kepala. “Katanya sih gitu. Tapi, buktinya dia nggak punya apa-apa juga. Tinggalnya di asrama dan nggak bawa kendaraan. Kalo dia anak orang kaya, pasti dia bawa mobil.”

“Yah, bisa aja kan dia nggak mau pamer sama hartanya,” sahut Delana.

“Ah, ngomong sama kamu mah bikin aku kesel. Kamu tuh terlalu baik sama orang. Ntar juga kamu bakal tahu dia itu kayak gimana kalo kamu sudah kenal sama dia.”

Delana hanya meringis. Ia merasa tidak punya hak sama sekali untuk menilai Ratu adalah cewek yang angkuh atau sombong. Sebab ia belum benar-benar mengenalnya.

“Del, kenapa kamu nggak tinggal di asrama aja?” tanya Belvina.

“Rumah deket. Buat apa tinggal di asrama? Tinggal loncat gin aku udah sampe rumah,” jawab Delana.

“Hmm ... iya, juga sih. Tapi, aku ngebayangin kalo kita tuh tinggal sekamar di sini. Pasti asyik banget,” tutur Belvina.

“Aku punya adik di rumah. Yang ngurus keperluan Bryan siapa?”

“Pembantu kamu 'kan ada.”

“Dia kan cuma sebentar aja di rumah. Kerjanya cuma nyuci, gosok sama beres-beres rumah doang.”

“Kenapa nggak cari pembantu yang full time?”

“Sebagian masih bisa aku kerjain sendiri. Jadi aku belum begitu butuh. Lagian, Ayah sama Bryan nggak suka makan masakan pembantu,” jawab Delana.

“Oh, iya juga sih.” Belvina mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tiba-tiba terdengar suara keributan dari luar kamar. Delana dan Belvina saling pandang. “Ada apa?” tanya mereka penasaran. Mereka langsung berlari keluar dari kamar.

“Bu, aku tetep mau pindah. Kamar aku itu nggak nyaman banget!” seru Ratu yang sudah dikerubungi beberapa teman-teman asramanya.

“Mau pindah ke mana?” tanya Bu Wanda selaku pengawas asrama puteri.

“Aku mau di lantai ini. Di bawah itu pengap, Bu. Udah gitu AC-nya error terus karena udah lama. Yang di lantai dua semuanya masih baru-baru dan furniturenya masih bagus.”

“Semua kamar sudah terisi.”

“Kamar Belvina ada empat ranjang. Dia tinggal sendirian aja 'kan?”

“Ada Ivona dan Delana yang tinggal sama Belvi kalau siang.”

“Itu kan siang doang kalo jam istirahat. Lagian, Delana juga kalo di sini tuh cuma main doang. Orang rumahnya deket aja di depan kampus, ngapain coba tinggal di asrama segala?” cerocos Ratu.

Delana dan Belvina saling menatap. Mereka tidak menyangka kalau menjadi sasaran kekesalan Ratu hanya karena Ratu menempati kamar asrama lama yang memang fasilitasnya juga sudah tak sebaik asrama yang ada di lantai atas.

“Belvi, Ratu bisa pindah ke kamar kamu?” tanya Bu Wanda.

Belvi tidak bisa menjawab pertanyaan Bu Wanda karena siang hari ada Delana dan Ivona yang sering istirahat di dalam kamarnya.

“Kasur di kamar kamu 'kan ada empat. Masih ada satu lagi yang kosong 'kan? Toh, mereka juga jarang banget ada di asrama.”

“Mmh ...”

“Bu, aku tetep mau tukeran kamar sama mereka!” tegas Ratu.

“Hah!? Tukeran? Enak aja!” sahut Delana.

“Eh, kamu kan jarang juga ada di asrama ini? Di sini cuma sebentar-sebentar aja tapi maunya dapet fasilitas yang enak,” celetuk Ratu.

“Yee ... terserah aku dong! Aku yang duluan ada di kamar ini, kok.”

“Iya, Bu. Dela kan sudah lama di sini. Kita nggak mau kalo dia pindah ke bawah,” sahut beberapa cewek yang menjadi teman asrama Delana.

“Iya, Del. Nggak asyik kalo nggak ada kamu,” bisik salah satu teman asrama di telinga Delana.

“Udah, jangan berantem!” seru Belvina. “Ratu boleh tinggal sekamar sama kita. Asalkan beresin sendiri ranjangnya. Soalnya ranjang yang satu itu kita pake buat naruh barang-barang.”

Ratu menghela napas. “Oke.”

“Bel, kamu serius?” bisik Delana.

Belvina mengedikkan bahunya. “Udahlah, daripada ribut.”

“Ya sudah kalau begitu. Semua sudah clear. Kamu bisa pindah ke kamar Belvina!” perintah Bu Wanda pada Ratu. “Ingat, ya! Ibu nggak mau ada ribut-ribut kayak gini lagi apalagi cuma soal kamar. Sekarang bubar!”

“Ibu yang ngajak ribut!” seru Ratu.

“Eh, kamu masih mau cari masalah sama Ibu?”

“Hehehe ... nggak, Bu.” Ratu langsung bergegas pergi meninggalkan Bu Wanda.

“Delana ...!” panggil Bu Wanda.

“Ya, Bu.”

“Kamu kan jarang tinggal di asrama. Gimana kalo kamu pindah ke bawah? Tukeran sama Ratu?” tanya Bu Wanda.

“Nggak mau, Bu!” sahut Delana kesal.

“Iya, Bu. Dela tetep di atas aja!” seru penghuni asrama yang lainnya.

“Kalian itu, ya!” ucap Bu Wanda kesal. Ia menghentakkan kakinya dan berlalu pergi.

“Bu Wanda marah, Del.” Belvina menatap kepergian Bu Wanda yang mulai menghilang saat menuruni tangga.

Delana mengedikkan bahunya. “Biarin aja!”

“Del, aku bawa buah nanas sama mangga dari kampung,” ucap salah satu penghuni asrama yang berdiri di dekat Delana.

“Serius? Pencokan lagi yuk!” ajak Delana.

“Ayuk!” jawab yang lainnya serempak.

“Aku tunggu di kamar Belvina, ya!” seru Delana sambil melangkahkan kaki menuju ke kamarnya.

“Siap!”

Delana menghentikan langkahnya, ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah beberapa teman asramanya. “Emang bahannya udah lengkap?” tanya Delana.

“Aku ada cabai,” sahut salah satunya.

“Gula merah?” tanya Delana.

Semua terdiam, tidak ada yang memberikan jawaban. Delana langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribuan.

“Beli sana! Beli gula merah sama buah-buahan yang lain!” perintah Delana sambil menyodorkan uang ke arah teman-temannya.

“Buah apa aja?” tanya salah satu teman sambil meraih uang yang diberikan Delana.

“Apa aja yang enak buat dipencok,” jawab Delana sambil berlalu pergi memasuki kamar Belvina.

Belvina sengaja membuka pintu kamarnya lebar-lebar karena beberapa teman asrama akan ke kamarnya dan pesta buah seperti biasanya.

“Bel, ada bir?” tanya Delana.

“Habis. Kamu mau minum bir?” tanya Belvina.

“Mau kalo ada. Kalo nggak ada ya nggak usah,” jawab Delana.

“Aku pesenin dulu, ya!” Belvina meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja riasnya.

“Nggak usah, deh!”

“Tapi kayaknya lebih nikmat kalo makanan itu ada minumannya,” tutur Belvina.

“Ya sudahlah kalo kamu maksa,” sahut Delana sambil menahan tawa.

“Huu ... dasar! Bilang aja mau!” celetuk Belvina.

Delana meringis menatap Belvina yang terlihat kesal.

 

***

Ratu Sheeva adalah salah satu bidadari kampus, cantik dan berbakat. Semua mahasiswa mengenal Ratu karena dia adalah pembawa acara di acara-acara kampus. Selain di kampus, Ratu juga kerap kali mengisi acara di beberapa tempat.

Delana menghentikan langkahnya saat melewati panggung seni yang ada di halaman kampusnya. Di atas panggung, terdengar suara Ratu yang begitu fasih membawakan acara. Sesekali ia melempar candaan yang membuat para penonton tertawa.

“Del, kamu ngapain di sini?”

“Eh!?” Delana memutar kepala menghadap ke sumber suara. “Chilton?”

Chilton tersenyum ke arah Delana. “Kamu suka pertunjukan seni kayak gini?” tanya Chilton sambil menatap panggung. Beberapa penari muncul dari balik panggung dan melenggak-lenggokkan tubuhnya.

Delana tersenyum. “Suka,” jawabnya singkat.

“Liburan ke mana aja?” tanya Chilton.

“Nyusulin ayah ke Berau.”

“Ayah kamu masih tugas kerja di sana?” tanya Chilton.

Delana menganggukkan kepala. “Kamu sendiri liburan ke mana?” tanya Delana.

“Nggak ke mana-mana. Cuma di rumah Mama aja.”

“Oh ya? Salam buat mama kamu, ya!” tutur Delana.

Chilton tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Aku pergi dulu, ya!”

“Mau ke mana?” tanya Delana.

“Ada janji sama temen,” jawab Chilton sambil melihat arlojinya. “Bye!” Ia melambaikan tangan dan bergegas pergi meninggalkan Delana.

Delana menatap kepergian Chilton. Ia rindu pada cowok itu, tapi Chilton memang sedikit terlihat berbeda. Ia menyapa hanya sekedarnya saja. Tak seperti biasanya. Delana sendiri tidak mengerti kenapa cowok yang selama ini dekat dengannya mulai menjaga jarak.

Delana menghela napas dan mencoba berpikir positif. Bisa saja Chilton memang punya banyak kesibukan dan tidak seharusnya ia mengganggu. Setelah pertunjukkan seni selesai, ia melangkahkan kaki menuju asrama kampus.

“Kamu kenapa? Lemes banget?” tanya Belvina yang sudah ada di dalam kamar.

“Nggak papa.” Delana langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap salah satu ranjang yang penuh dengan tumpukan barang. “Ratu belum pindah ke sini?” tanya Delana.

Belvina mengedikkan bahunya. “Belum. Katanya sih dia masih sibuk banget karena latihan nari terus. Mungkin belum ada waktu buat pindahan ke sini.”

“Bagus, lah.”

“Kamu kenapa sih kayak sentimen gitu sama dia?”

“Nggak, kok. Biasa aja. Aku cuma males aja kalo ada orang lain di sini. Nggak asyik banget mau cerita-cerita.”

“Astaga ... cuma karena itu?” tanya Belvina.

“Halah, kamu aja nggak seneng kan sama dia?”

Belvina meringis. “Kalo itu kayaknya semua pada nggak suka.”

“Emangnya kenapa sih sama dia? Kenapa banyak yang nggak suka?” tanya Delana.

“Rada belagu anaknya,” jawab Belvina.

“Kalo nanti dia belagu, kita kerjain bareng-bareng aja,” celetuk Delana.

“Ide bagus juga, tuh.”

Delana tersenyum. “Semoga dia nggak seperti yang kalian kira, ya!”

“Dia mah emang kayak gitu dari dulu,” sahut Belvina.

“Kita lihat nanti,” tutur Delana. “Eh, tadi aku ketemu Chilton.”

“Oh ya? Terus?”

“Dia cuma nyapa sebentar doang terus pergi,” jawab Delana.

“Nggak ngajak makan siang atau nge-date gitu?” tanya Belvina.

Delana menggeleng dengan wajah lesu. “Dia kenapa ya, Bel?”

“Jangan-jangan dia sudah ada cewek lain, Del?”

Delana langsung menatap Belvina. Ia merasa begitu sedih saat Belvina mengatakan ada cewek lain yang sedang dekat dengan Chilton. Tanpa ia sadari, matanya berkaca-kaca.

“Jangan sedih! Aku cuma bercanda, kok.” Belvina langsung memeluk Delana.

“Andai itu beneran gimana?” tanya Delana dengan suara parau.

“Nggak. Aku percaya kalo Chilton nggak kayak gitu. Dia itu sayang sama kamu,” tutur Belvina sambil mengelus pundak Delana.

Tiba-tiba terdengar lagi suara keributan dari luar kamar. Belvina menghela napas panjang. “Kayaknya dia lagi deh,” tuturnya. Ia melepas pelukan Delana dan langsung berjalan menuju pintu.

“Ada apa lagi sih?” tanya Belvina kesal begitu ia membukakan pintu kamar asramanya.

“Aku mau pindah ke sini sekarang,” tutur Ratu sambil berpegangan dengan salah satu temannya.

Belvina menatap Ratu yang terlihat kesakitan. “Ya pindah aja!”

“Aku nggak bisa beresin ranjang kamu yang penuh barang-barang itu. Soalnya kaki aku masih cidera habis latihan nari kemarin.”

“Tunggu aja kakimu sembuh baru pindah ke sini. Siapa yang mau beresin ranjang itu?”

“Aku minta tolong, dong!” pinta Ratu.

“Idih, ogah banget! Kamu yang mau pindah, kenapa aku yang repot?”

“Bel, aku ini lagi sakit!” teriak Ratu. “Kamu tega banget sih sama temen!”

“Kapan kita temenan?” tanya Belvina. Delana tiba-tiba sudah muncul di belakang Belvina.

“Kamu kenapa?” tanya Delana pada Ratu yang dipapah oleh salah satu temannya.

“Del, tolongin aku, dong!”

“Apa?” tanya Delana. Belvina langsung menyikut Delana, memberi isyarat untuk tidak memberikan bantuan pada Ratu.

“Aku lagi sakit, Del. Aku butuh tempat yang nyaman buat istirahat. Minta tolong bantuin beresin ranjang yang ada di kamar kamu, dong! Aku pengen pindah sekarang juga,” jelas Ratu.

Delana menatap Belvina yang memberikan isyarat untuk tidak melakukannya. Delana ingin bilang tidak, tapi ia tidak tega melihat Ratu yang kelihatan kesakitan dan sepertinya memang butuh tempat yang nyaman untuk beristirahat.

“Please ...!” ucap Ratu memohon.

“Oke, deh,” jawab Delana ragu-ragu. “Tapi, aku nggak bisa beresin sendirian. Kalo ada yang mau bantu, aku kerjain. Kalo nggak ada, aku nggak mau ngerjain,” tutur Delana.

Ratu tersenyum. “Ada mereka yang mau bantuin, kok.” Ratu menunjuk dua orang yang ada di sampingnya.

“Oke,” jawab Delana sambil masuk ke dalam kamar.

“Aku boleh masuk sekarang 'kan?” tanya Ratu pada Belvina.

Belvina terpaksa menyunggingkan senyum dan membiarkan Ratu masuk ke dalam kamarnya.

Delana mulai memindahkan barang-barang Belvina satu per satu.

“Nyaman banget di sini,” tutur ratu sambil merebahkan tubuhnya ke atas kasur.

Delana langsung menoleh ke arah Ratu sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia heran dengan sikap ratu yang keukeuh ingin pindah kamar.

“Barang-barang kamu siapa yang bawain naik?” tanya Delana pada Ratu.

“Mereka aja sekalian!” Ratu menunjuk dua temannya yang sedang membantu Delana.

“Capek banget tau kalo ngangkatin barang naik turun!” celetuk salah satu temannya.

“Dicicil aja!” pinta Delana. “Yang mau dipake dulu yang dibawa ke sini. Yang lain biar dibawa Ratu kalo dia udah sembuh.”

“Iya, deh. Apa aja yang mau diambil duluan?” tanya salah satu teman Ratu.

“Seprai sama selimut aja dulu!” sahut Delana. “Biar dia bisa istirahat.”

“Oke,” Satu teman Ratu keluar dari kamar untuk mengambil barang Ratu. Satunya lagi tetap membantu Delana membereskan barang-barang Belvina.

“Bawain baju aku sekalian, ya!” pinta Ratu. “Udah aku siapin di koper!” teriaknya pada teman asrama yang membantunya mengambil barang di lantai bawah.

“Iya!” sahut temannya sambil berteriak dan langsung berlari turun agar tidak semakin banyak permintaan Ratu.

“Aku ngantuk banget,” tutur Ratu sambil memperbaiki posisi tidurnya sambil menatap Delana yang masih sibuk membereskan ranjang yang akan ia tempati. Ratu tersenyum sambil memejamkan matanya perlahan.

“Jangan tidur!” seru Belvina. “Beliin makanan sama minuman kek buat mereka. Nggak pengertian banget!” celetuknya.

“Oh, iya. Kalian mau makan apa?” tanya Ratu sambil membuka ponsel untuk memesan makanan via online.

“Sembarang aja yang penting enak,” sahut salah satu temannya.

“Kamu biasa pesen makan di mana?” tanya Ratu pada Delana.

“Di Ocean’s,” sahut Belvina.

“Ocean’s?” Ratu mengangkat kedua alisnya. Ia berpikir kembali untuk membelikan makanan di restoran yang terbilang mahal itu. “Nggak pengen yang lain? Makan mie ayam kayaknya enak, deh,” tuturnya.

“Hmm ... terserah kamu aja, deh!” sahut Delana.

“Huu ... bilang aja nggak punya modal buat beliin makan di Ocean’s,” celetuk Belvina.

“Bukan nggak modal. Aku emang belum dikirimin uang sama orang tuaku. Lagi cekat banget, nih.”

“Sama aja!” sahut Belvina.

Ratu meringis. “Aku pesenin mie ayam aja, ya?”

“Iya,” jawab Delana.

Ratu langsung memesan mie ayam lewat salah satu aplikasi ojek online.

Beberapa menit kemudian, Delana sudah selesai membereskan ranjang dan siap untuk dijadikan tempat istirahat Ratu.

“Udah kelar,” ucap Delana.

Tiba-tiba ponsel Delana berdering. Ia merogoh ponsel yang ia letakkan di dalam tas. Melihat nama yang tertera di layar ponsel itu.

“Halo ... Bryan. Kenapa?” tanya Delana.

“....”

“Oh gitu? Oke, kakak lagi di asrama kak Belvi. Sebentar Kakak pulang,” ucap Delana. Ia langsung mematikan panggilan telepon dari Bryan.

“Aku pulang dulu, ya!” pamit Delana sambil memakai tasnya.

“Loh? Udah dipesenin makan. Nggak makan dulu?” tanya Ratu.

“Nggak usah, deh. Kalian makan aja! Bryan lagi butuh aku banget.”

“Bryan? Siapa? Pacar kamu?” tanya Ratu.

“Adik aku,” jawab Delana. “Aku pergi dulu ya! Bye!” Delana melambaikan tangan dan langsung bergegas pergi.

“Bel, si Dela itu tajir banget, ya?” tanya Ratu.

“Menurut kamu?”

“Penampilannya sih biasa aja,” tutur Ratu. “Tapi, aku lihat tas yang dia pake kayaknya tas mahal, ya?”

Belvina mengedikkan bahunya.

“Dia juga sering makan di Ocean’s? Itu kan restoran elite,” tutur Ratu.

“Hmm ... dia emang begitu. Dia suka masak dan jarang makan makanan di luar. Kalo makan di luar, dia pilih-pilih banget.”

“Cuma mau makan makanan dari restoran mahal aja, ya?” tanya Ratu.

“Enggak juga, sih. Kadang dia makan di warung bakso biasa juga. Dia suka tempat makan yang enak. Biarpun tukang sate pinggir jalan, kalo enak ya dia beli,” jelas Belvina.

“Oh.” Ratu mengangguk-anggukkan kepala.

“Kaki kamu berapa hari sembuhnya?” tanya Belvina pada Ratu.

“Nggak tahu.”

“Biasanya lama atau enggak?” tanya Belvina.

“Tergantung sih. Bisa cepet, bisa lama.”

Belvina menganggukkan kepala tanda mengerti.

Beberapa menit kemudian, makanan yang dipesan oleh Ratu sudah tiba di kamar Belvina. Mereka langsung melahap mie ayam dari salah satu warung mie ayam yang ada di Balikpapan.

“Ini mie ayam Kolor Ijo ya?” tanya Belvina.

“Kamu kok tahu?” tanya Ratu.

“Iya. Sering makan di sana.”

“Sama Delana juga?” tanya Ratu.

“Kadang-kadang sama Delana, kadang sama yang lain.”

“Oh. Kalian udah lama kenal?”

“Kenal dari SMA.”

“Dan jadi sahabat baik?”

Belvina menganggukkan kepala.”Dia anaknya baik banget. Banyak yang sayang suka sama dia.”

“Berarti banyak pacarnya, dong?”

“Nggak juga. Dia malah nggak pernah pacaran.”

“Katanya banyak yang suka?”

“Banyak yang suka bukan berarti banyak pacarnya 'kan?” dengus Belvina ke arah Ratu.

“Yaelah, kalo banyak yang suka itu berarti banyak pacarnya. Kalo nggak punya pacar mah namanya nggak ada yang suka,” sahut Ratu.

“Kalo yang suka cewek-cewek? Apa harus dijadiin pacar juga?”

Ratu terkekeh mendengar ucapan Belvina. “Seriusan dia nggak punya pacar?”

“Emang penting banget buat kamu tahu Delana sudah punya pacar atau belum?”

“Penting, lah.”

“Kurang kerjaan!” gerutu Belvina.

“Yah, kita kan sekarang udah jadi temen sekamar. Aku harus peduli dong sama kalian.”

“Nggak perlu begitu. Kamu cuma butuh tempat istirahat 'kan? Bukan butuh temen?”

Ratu menghela napasnya. Ia tersenyum ke arah Belvina. “Nyebelin banget nih anak,” batinnya kesal.

“Kamu sendiri udah punya pacar?” tanya Belvina.

“Aku?” Ratu tertawa. “Aku mah gampang buat dapetin pacar. Cowok mana sih yang nggak mau sama cewek kayak aku,” tutur Ratu bangga.

Belvina bergumam dalam hati. Ia merasa kesombongan Ratu sudah muncul dengan sendirinya. Ratu memang ratunya kampus yang terkenal dekat dengan banyak laki-laki. Bisa jadi mereka pacaran atau hanya sekedar teman baik saja. Belvina tidak ingin terlalu banyak ikut campur urusan pribadi Ratu.

“Kamu sendiri, sudah punya pacar?” tanya Ratu.

Belvina menggelengkan kepala.

Ratu memerhatikan penampilan Belvina dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Gimana mau punya pacar kalo penampilan kamu aja kayak gini,” tutur Ratu.

“Ada masalah sama penampilan aku?” tanya Belvina.

“Nggak ada, sih. Tapi, cowok-cowok itu suka sama cewek yang peduli sama dirinya sendiri. Mau ngerawat dirinya dengan baik. Yah, setidaknya kamu bisa tampil lebih modis dan kekinian.”

“Oh, ya?” Belvina mengerutkan keningnya.

“Jangan kayak Bu Wanda! Udah gemuk, kucel, pemarah pula,” sahut teman Ratu yang masih bersama mereka.

Mereka tergelak. Membayangkan bagaimana ekspresi wajah Bu Wanda seringkali marah karena sikap penghuni asrama yang bermacam-macam.


((Bersambung))

 

 




Monday, October 6, 2025

Kenangan Bersama Ketua Yayasan Sebelum Lanjut Studi Ke Jogja

 


Samboja, 19 Juli 2025



Sore itu cuaca cerah dan ceria, langit teduh dan sejuk di tepian danau Lakeview. Memberi kehangatan pada kami untuk mengantarkan perpisahan kecil bersama Rifkal Artha Yuda, ketua Yayasan Rumah Literasi Kreatif.
Acara Book Party baru saja usai, tawa anak-anak literasi masih bersisa di udara, bercampur dengan aroma senja dan kopi hitam yang menghangatkan lengan. Kami duduk melingkar, menatap air danau yang tenang, seolah menyimpan semua kisah yang baru saja kami lalui bersama.

Hari itu adalah momen terakhir kami bersama ketua yayasan Rumah Literasi Kreatif, sebelum ia berangkat melanjutkan studi S2 Keperawatan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sebuah langkah besar yang kami sambut dengan bangga, tapi diam-diam juga dengan hati yang berat.

Kami tahu, perjalanan ini bukan sekadar tentang menimba ilmu, tapi juga tentang melanjutkan misi kemanusiaan dan literasi yang ia tanam di Kutai Kartanegara. Ia sering berkata, “Ilmu itu harus pulang membawa manfaat. Kalau aku belajar lebih tinggi, artinya aku sedang menyiapkan ladang manfaat yang lebih luas.”

“Rulika tetap hidup, ya,” katanya lembut.
“Literasi jangan padam hanya karena aku pergi. Kalian adalah calon ketua selanjutnya."

Kami hanya tersenyum. Kami tahu, kami belum bisa melakukan hal sebesar yang dilakukan oleh Rifkal. Kami tak memiliki keberanian menjadi seorang pemimpin yang tanggung jawabnya sangat besar. 

Kami berdiri lama di tepi Lakeview, menatap langit malam yang mulai menyingkap bintang-bintangnya. Ada rasa kehilangan, tapi juga kebanggaan yang hangat. Karena kami tahu, ketua kami bukan sekadar pergi, melainkan sedang menjemput masa depan yang lebih luas untuk kami semua.

Kini, setiap kali kami berkegiatan di Rumah Literasi Kreatif, bayangan sore di Lakeview itu selalu kembali. Tawa, obrolan, dan pesan-pesannya masih terasa hidup di antara rak buku dan langkah-langkah kecil anak-anak pembaca.

Ia mungkin sedang menulis bab baru di Yogyakarta, tapi halaman Rulika akan selalu menyebut namanya sebagai sosok yang menanam cinta pada buku, ilmu, dan kemanusiaan, jauh sebelum berangkat menjemput cita-cita.

Selamat menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Kembalilah untuk sesuatu yang lebih besar lagi. Bermanfaat lebih luas lagi lewat Rulika. Rumah sederhana yang akan selalu menjadi sumber cahay literasi untuk negeri ini. 



Mengejar Pagi di Antara Gotong Royong dan Gelombang Siaran Radio IDC Kota Balikpapan

 


Balikpapan, 20 September 2025


Pagi itu aku bangun lebih cepat dari biasanya. Udara Samboja masih basah oleh embun, tapi di kepala sudah ramai daftar kegiatan hari ini. Sebagai ketua RT, aku harus ikut gotong-royong di lingkungan RT 3. Ibu-ibu kelompok Dasawisma Kantil mengajak untuk bergotong-royong membersihkan arena tanam karena ingin memulai kembali menanam sayuran. Di sisi lain, aku juga punya jadwal penting, yaknu mengisi siaran di Radio IDC Balikpapan, mewakili Relima Perpusnas RI lokus Kutai Kartanegara, bersama sahabat Relima Balikpapan (Budi Utomo). Aku tidak boleh terlambat karena jam tayang siaran tidak mungkin diubah. 

Dua peran di hari yang sama, sebagai pemimpin lingkungan dan relawan literasi. 

Aku tersenyum sendiri membayangkannya. Rasanya seperti hidup yang berlari dengan double sepatu. Satu untuk tanggung jawab sosial, satu lagi untuk panggilan jiwa.

Begitu gotong royong selesai, aku langsung bergegas berganti baju, membawa berkas kecil yang berisi catatan tentang program literasi. Suamiku sudah menunggu di depan rumah dengan kendaraan yang mesinnya berderum pelan.
“Sudah siap?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk sambil menarik napas dalam. “Siap, asalkan kamu ngebutnya jangan keterlaluan,” kataku setengah bercanda.

Dia tertawa kecil, dan dalam sekejap kami sudah melaju meninggalkan Samboja. Biasanya aku butuh satu jam tiga puluh menit untuk sampai ke Balikpapan jika membawa motor sendiri. Tapi pagi itu, berkat suamiku yang lihai di jalan, kami tiba dalam empat puluh lima menit saja. Aku merasa seperti sedang berpacu dengan waktu, tapi kali ini waktu berpihak padaku.


Pukul 10.00 WITA, siaran dimulai. Suasana studio Radio IDC Balikpapan terasa hangat, penuh antusiasme. Aku duduk di hadapan mikrofon, bersama perwakilan Relima dari Balikpapan, membahas hal yang paling aku cintai, yakni literasi dan gerakan Relima di dua wilayah yang berbeda namun sejiwa, Balikpapan dan Kutai Kartanegara.

Kami bercerita tentang bagaimana Relima hadir sebagai jembatan antara masyarakat dan perpustakaan, tentang semangat relawan yang mendirikan pojok baca di musholla, di rumah pribadi, bahkan di warung kopi. Tentang tantangan menghadirkan buku ke tempat-tempat yang jauh dari pusat kota, dan tentang rasa bahagia ketika melihat anak-anak mulai jatuh cinta pada buku pertama mereka.

Ada satu momen yang paling aku ingat ketika penyiar bertanya, “Apa yang membuat Ibu Rin terus bertahan di dunia literasi, padahal sibuk juga mengurus lingkungan?”
Aku sempat diam beberapa detik, lalu menjawab pelan tapi mantap,
“Karena aku ingin menjadi orang yang bermanfaat seperti pesan Buya Hamka. Aku tidak ingin menjadi orang yang sekedar hidup. Aku ingin punya arti melalui literasi.”

Ruang siaran terasa hening sesaat, lalu tepuk tangan kecil terdengar. Aku tahu, bukan karena kalimatku luar biasa, tapi karena semua orang di ruangan itu merasakannya juga. Kami sama-sama percaya, literasi adalah kerja hati, bukan hanya kerja tangan.




Siaran berakhir sekitar tengah hari. Aku keluar studio dengan rasa lega dan bahagia yang sulit dijelaskan. Suamiku sudah menunggu di luar dengan senyum tenangnya. 

"Tadi dengerin aku siaran, nggak?" tanyaku dengan senyum manja seperti biasa. 

"Nggak," jawab suamiku. 

Aku mengerucutkan bibirku. Sedikit kecewa karena tidak ada komentar dari suami tercinta. 

"Nggak tahu frekuensinya," ucap suamiku lagi. 

Ya sudahlah. Tidak apa-apa. Ada bagusnya juga tidak mendengarkan dan tidak tahu apa yang aku lakukan. Jadi, tidak perlu memikirkan banyak komentar. 

Kami sepakat untuk tidak langsung pulang, tapi beristirahat sejenak di Lapangan Merdeka Balikpapan.

Angin kota berhembus lembut, membawa aroma khas Balikpapan yang selalu kukenal sejak masih remaja. Campuran antara laut, minyak, dan kenangan masa remajaku. 

Aku berjalan menyusuri para pedagang UMKM. Tidak ada yang menarik perhatianku. Sampai kemudian, aku melihat penjual gado-gado yang khas. Aku langsung mengajak suamiku untuk makan gado-gado. Kebetulan, itu makanan kesukaannya juga. 

Kami duduk di bawah pohon rindang sambil menunggu racikan gado-gado datang. Kami berbincang banyak hal, termasuk hal receh yang tidak begitu penting, tapi mampu mengundang tawa bagi kami berdua. 

Dari tempat itu, aku menatap sekitar. Anak-anak berlarian, beberapa keluarga duduk di tepi taman, dan di kejauhan gedung-gedung tinggi Balikpapan berdiri anggun dan penuh ketenangan. Entah kenapa, suasana itu mengembalikan ingatanku ke masa SMA, ketika aku masih bersekolah di SMA Negeri 6 Balikpapan.

Di masa itu, aku mulai jatuh cinta pada dunia tulis-menulis. Aku menulis puisi buku diary, menulis cerita pendek di belakang buku matematika, dan bermimpi suatu hari bisa punya buku sendiri.
Dan kini, bertahun-tahun kemudian, aku kembali ke kota ini, bukan lagi sebagai siswi pemimpi, tapi sebagai perempuan yang masih menjaga mimpinya tetap hidup, lewat tulisan, lewat siaran, lewat kegiatan literasi.

 

Dalam perjalanan pulang, aku berpikir betapa hidup ini seperti buku yang halamannya ditulis dengan berbagai warna. Ada hari-hari penuh tanggung jawab, ada hari-hari penuh mimpi, tapi semuanya tetap saling terhubung.

Menjadi ketua RT, aktif di Relima, menulis, mengisi siaran, dan lain-lain. Semua itu mungkin terdengar melelahkan. Tapi bagiku, itulah caraku menghidupkan literasi, bukan hanya lewat kata, tapi lewat tindakan kecil setiap hari.

Dan tentu, di balik semua langkah itu, ada satu sosok yang selalu setia di sampingku, suamiku. Tanpanya, aku mungkin akan selalu terlambat datang ke setiap acara penting. Tapi dia selalu ada, dengan tawa yang menenangkan dan cara mengemudi yang cepat namun penuh perhatian.


Sore itu, ketika kami meninggalkan Balikpapan, aku menatap langit yang mulai berubah jingga. Ada rasa syukur yang meluap dalam dada. Syukur karena diberi waktu, kekuatan, dan kesempatan untuk terus berbuat baik.

Literasi bukan hanya tentang membaca buku. Ia tentang menulis kehidupan dengan cara yang lebih bermakna. Tentang berbagi cerita, tentang menyalakan cahaya di tempat yang gelap, dan tentang mencintai setiap proses, sekecil apa pun itu.

Aku tersenyum sambil berbisik pada diri sendiri,
“Aku ingin suatu hari nanti punya nama besar seperti Kang Maman atau Najwa Shihab. Supaya aku punya kekuatan besar untuk 
menggerakkan literasi di negeri ini. Aku tidak ingin hanya menunggu dan semuanya jadi hancur karena tak ada satu pun yang bertindak.”

Dan perjalanan hari itu, dari RT 3 Beringin Agung Samboja ke Radio IDC Balikpapan, lalu ke Lapangan Merdeka, menjadi satu bab baru dalam buku panjang bernama kehidupan.

Secangkir Wedang Jahe Jadi Penjaga Kehangatan Kita







Seharian ini hujan seperti enggan pergi dari langit. Ia turun tanpa henti sejak pagi, membasahi halaman, menepuk-nepuk genting rumah dengan manja, seolah ingin mengingatkan bahwa hari tak selalu harus ramai. Kadang, cukup diam saja sambil menikmati bunyi rintiknya yang menenangkan.

Menjelang malam, udara mulai terasa menusuk. Dingin menyelinap lewat celah jendela, membuat ruang tamu kami seperti memanggil kehangatan.
Sembari duduk bersandar di teras belakang rumah, suamiku bersuara pelan, “Buatkan wedang jahe, Buk!"
Permintaan sederhana, tapi selalu mengandung makna. Wedang jahe adalah minuman favoritnya yang selalu jadi penutup hari ketika hujan datang.

Aku memanaskan air di atas kompor, menumbuk jahe, dan menambahkan gula merah ke dalamnya. Setelah mendidih selama lima belas menit, aku memindahkannya ke cangkir khas milik kami. Satu cangkir adalah souvenir novelku sendiri dan satu lagi cangkir souvenir dari Diskominfo. Cangkir ini adalah bukti bahwa aku pernah berkarya bersama Diskominfo Kukar, meski itu bukan karya yang besar. 

Uap panas mengepul dari cangkir, membawa aroma khas yang pedas sekaligus menenangkan. Di saat seperti ini, aku sering berpikir ... mungkin begitulah cinta rumah tangga, kadang hangat, kadang menyengat, tapi selalu bisa menenangkan ketika dinikmati dengan hati.

Saat wedang jahe itu tersaji, suamiku tersenyum seperti biasa. "Terima kasih banyak, Sayangku ...," ucapnya. Kalimat sederhana, tapi kalimat itu selalu keluar dari bibirnya setiap kali aku menyuguhkan makanan atau minuman yang dia inginkan. 

Kami duduk berdampingan, mendengar hujan yang sedang melukis puisi di kaca jendela.

Di malam yang basah ini, aku kembali sadar, bahwa kebahagiaan tak selalu tentang hal besar. Kadang, cukup secangkir wedang jahe, percakapan yang sederhana, dan kehadiran seseorang yang selalu pulang ke rumah yang sama.

Wedang jahe bukan sekadar minuman. Ia adalah penjaga kehangatan, pengikat cerita cinta kami yang tumbuh di antara hujan dan waktu. Semoga, hubungan kami tetap hangat. Jika ia dingin, aku akan selalu berusaha menghangatkannya. Aku tidak ingin gagal lagi dalam menciptakan kehangatan keluarga.

Dari Samboja ke Tenggarong, Menjemput Ilmu di Bimtek Perpustakaan Khusus


 Tenggarong, 22 September 2025


Dari Samboja ke Tenggarong, Menjemput Ilmu di Bimtek Perpustakaan Khusus

Perjalanan kali ini terasa sedikit berbeda. Biasanya, aku dan suami hanya menempuh rute Samboja–Balikpapan atau ke Samarinda untuk urusan literasi dan kegiatan komunitas. Tapi kali ini, arah kami menuju Tenggarong, kota yang menjadi jantung budaya dan administrasi Kutai Kartanegara. Tujuannya? Menghadiri Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Perpustakaan Khusus yang diadakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kutai Kartanegara pada 22–23 September 2025.

Dari Samboja ke Tenggarong, jaraknya memang tidak bisa dibilang dekat. Sekitar tiga jam perjalanan darat, melewati jalanan yang sebagian berliku dan berbukit. Karena acara dimulai pagi sekali, aku dan suami memutuskan menginap dulu di Rapak Lambur, sebuah keputusan bijak agar perjalanan tidak terlalu melelahkan dan kami bisa sampai di lokasi acara dengan segar.

Malam itu di Rapak Lambur terasa tenang. Angin malam menyusup lembut dari sela jendela, sementara aroma kopi buatan kakak sepupuku menenangkan pikiran. Kami sempat berbincang ringan tentang pentingnya kegiatan seperti ini, tentang bagaimana perpustakaan, tak hanya milik sekolah atau instansi besar, kini juga bisa tumbuh di tempat-tempat khusus seperti musholla, komunitas, hingga lembaga kecil yang punya semangat berbagi ilmu. Aku tersenyum, pikiranku melayang pada Taman Baca Bunga Kertas yang menjadi awal langkahku menapaki dunia literasi.

Pagi di Aula Perpustakaan Daerah Tenggarong

Pagi itu, udara Tenggarong terasa segar dan bersahabat. Seperti biasa, gedung perpustakaan daerah yang penuh warna selalu menarik perhatian. Aku langsung melangkah masuk ke dalam gedung perpustakaan begitu suami berhasil memarkirkan sepeda motor. Sedang ia menungguku di taman yang berada di area perpustakaan tersebut. Taman yang asri, nyaman dan penuh pengetahuan. 

Aula Perpustakaan Daerah berada di lantai dua. Meski aku datang terlambat, tapi acara masih belum dimulai. Aku bisa tersenyum lega. Di lantai atas, ada senyum sumringah dari Ibu Yuni yang menyambutku. Senyumannya selalu hangat kepada siapa saja.

Acara ini dihadiri oleh peserta  dari berbagai lembaga dan komunitas. Ada yang dari sekolah, dari instansi, bahkan ada beberapa pustakawan komunitas seperti aku.

Acara dibuka dengan lagu Indonesia Raya yang selalu membuat dada bergetar setiap kali dinyanyikan bersama-sama. Setelah doa dan sambutan dari oerwakilan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kukar, kegiatan resmi pun dimulai.

Materi pertama disampaikan oleh Plt. Kepala Dinas, membahas tentang penyelenggaraan perpustakaan khusus. Rasanya seperti membuka jendela baru. Ternyata ada begitu banyak regulasi, sistem, dan inovasi yang bisa diterapkan agar perpustakaan kecil di komunitas juga bisa diakui secara formal.

Sesi kedua tak kalah menarik, narasumber dari Perpustakaan Khusus Musholla Al-Fattaah berbagi kisah inspiratif tentang bagaimana rumah ibadah bisa menjadi pusat belajar dan membaca bagi masyarakat sekitar. Aku mencatat banyak hal hari itu. Tentang promosi, inovasi, dan cara membangun program yang berkelanjutan. Terlebih perpustakaan khusus ini adalah satu-satunya perpustakaan khusus yang telah ter-Akreditasi A di wilayah Kalimantan Timur.

Hari Kedua: Menemukan Irama Baru dalam Dunia Perpustakaan

Hari kedua diisi dengan materi dari Pandu Perdana Adhi Putra, S.Sos, seorang pustakawan ahli dari Provinsi Kalimantan Timur. Topiknya tentang pengelolaan perpustakaan khusus yang lebih teknis, tapi sangat membuka wawasan. Aku jadi sadar, mengelola taman baca tak cukup hanya dengan niat baik dan rak buku seadanya. Dibutuhkan sistem, dokumentasi, bahkan promosi yang konsisten agar perpustakaan bisa terus hidup dan berkembang.

Suasana di aula terasa hangat. Para peserta saling bertukar cerita, pengalaman, bahkan menukar nomor WhatsApp untuk kolaborasi di masa depan. Aku merasa berada di tengah orang-orang yang satu frekuensi, yakni para pejuang literasi yang mungkin jarang disorot, tapi terus bekerja dengan cinta.


Pulang dengan Hati Penuh Semangat

Selesai acara penutupan, aku dan suami duduk sejenak di gazebo baca perpustakaan. Matahari sore jatuh perlahan di langit Tenggarong, sementara angin membawa aroma khas kota yang dikelilingi sungai Mahakam.

Aku menatap jauh ke depan, membayangkan bagaimana ilmu yang kudapat akan kubawa pulang ke Rumah Literasi Kreatif yang dahulu bernama Taman Baca Bunga Kertas. Bukan sekadar pengetahuan baru, tapi semangat untuk memperkuat ekosistem literasi di akar rumput.

Perjalanan tiga jam terasa ringan ketika yang kita bawa pulang bukan hanya lelah, tapi juga inspirasi.
Dan seperti biasa, suamiku tersenyum kecil di belakang kemudi, berkata pelan, “Capek ya? Tapi kamu kelihatan bahagia.”
Aku tertawa kecil sambil menatap ke luar jendela kamarku,
“Bahagia, karena setiap perjalanan selalu membawaku pulang ke mimpi yang sama, yakni rumah yang menumbuhkan cinta pada membaca.”



Salam literasi dari hati untuk masa depan bangsa.


Sunday, October 5, 2025

Book Party Rulika x Gen Z IKN, Ketika Membaca Jadi Sebegitu Serunya!

 

Book Party di Lakeview Samboja — Ketika Membaca Jadi Sebegitu Serunya!
Oleh: Rin Muna


Sabtu siang, 19 Juli 2025, matahari Samboja bersinar hangat, tidak terlalu terik, seolah tahu akan ada sesuatu yang istimewa di lokasi wisata Lakeview hari itu. Sekitar pukul 1 siang, satu per satu anak muda berdatangan, membawa buku-buku favorit mereka. 

Pengelola tempat wisata ini memberikan keringangan kepada kami untuk membayar Rp 10.000 saja dan bisa di-cover menggunakan uang kas untuk 50 peserta. Kami diberi tempat yang sangat luas. Yakni di area ayunan raksasa. Tentu kami tidak bisa menaiki ayunan tersebut karena harus membayar lebih, hehehe. Kami hanya bisa menggunakan aula atau ruang terbuka yang disediakan di sana.

Aku datang lebih dahulu bersama puteri kecilku, Alifia Shaumi. Aku sering mengajaknya ke majelis ilmu seperti ini agar ia terbiasa berada di dalam ekosistem kehidupan yang baik. Tak lama kemudian, panitia dari Gen Z IKN dan peserta lain mulai berdatangan.

Hari itu, Lakeview Samboja bukan sekadar tempat piknik biasa. Ia berubah menjadi ruang belajar terbuka — tempat tawa, buku, dan semangat muda berpadu dalam satu kegiatan yang disebut “Book Party”.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Gen Z IKN bersama Rumah Literasi Kreatif, Kemah (Keluarga Mahasiswa Handil), Komunitas Baca Bookish Latte SMA 1 Muara Jawa, Youth IKN, serta hadir juga dua kelompok mahasiswa KKN Unikarta Beringin Agung dan KKN Unmul Beringin Agung. Kolaborasi yang manis antara anak-anak muda dari berbagai komunitas yang percaya bahwa literasi tak harus selalu kaku, serius, dan membosankan.

Bayangkan suasananya! Rerumputan hijau di tepi danau yang biru, semilir angin yang mengajak bercanda pada halaman buku, dan tawa ringan yang menyelingi keheningan membaca. Para peserta duduk berkelompok, membaca buku pilihan masing-masing. Tak ada paksaan, tak ada suasana formal — hanya mereka, buku, dan suasana yang menenangkan.

Setelah sesi membaca usai, suasana berubah menjadi lebih hidup. Panitia mulai mengajak peserta untuk ikut bermain game seru bertema literasi. Ada kuis cepat, tebak judul buku, dan tantangan imajinasi yang membuat semua ikut terlibat. Siapa sangka, kegiatan yang berawal dari membaca bisa berujung pada tawa dan sorakan yang menggema di seluruh tepi danau.

Yang membuat acara ini terasa istimewa adalah kenyataan bahwa Book Party ini adalah yang pertama kali diadakan di Samboja. Sebuah langkah kecil, tapi penuh makna. Anak-anak muda di wilayah ini membuktikan bahwa literasi bisa tampil dengan wajah baru yang lebih segar, lebih santai, tapi tetap bermakna.

Kegiatan yang berlangsung hingga sore hari itu meninggalkan kesan mendalam. Ada rasa bahagia melihat bagaimana buku bisa mempertemukan banyak orang. Ada semangat baru bahwa membaca tak melulu soal menambah ilmu, tapi juga tentang menemukan diri sendiri di antara baris-baris kalimat.

Book Party di Lakeview Samboja menjadi cermin bahwa generasi muda Kutai Kartanegara dan sekitar IKN punya cara sendiri untuk mencintai literasi. Mereka tidak menunggu ruang besar atau panggung megah. Mereka justru menciptakannya sendiri di alam, di tepi danau, dengan tawa, dan dengan kesederhanaan yang hangat.

Saat matahari mulai condong ke barat, warna langit berubah lembut, dan peserta menutup halaman terakhir buku mereka. Di wajah-wajah itu, ada kepuasan yang sulit dijelaskan. Rasa yang hanya muncul ketika seseorang menemukan kebahagiaan sederhana dalam hal-hal kecil.

Book Party ini bukan akhir, tapi awal. Awal dari gerakan literasi yang lebih hidup, lebih inklusif, dan tentu saja, lebih menyenangkan.

Karena membaca seharusnya bukan kewajiban. Membaca adalah pesta kecil bagi hati dan pikiran. Dan hari itu, di Lakeview Samboja, kami merayakannya bersama. 






















Read Aloud di Perpustakaan Khasanah Desa Mulia Desa Rempanga

 

Kutai Kartanegara, 16 September 2025

Satu hal yang tidak terpikirkan dalam benakku, aku bisa berkeliling ke banyak perpustakaan dan membacakan buku untuk anak-anak di sana. Biasanya, aku hanya membaca buku untuk anak-anak di taman bacaku saja. Tidak sampai keluar dari desa. 

Pagi ini, aku bersemangat sekali untuk berkunjung ke Desa Rempanga. Desa Rempanga terletak di Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara. Salah satu desa yang memiliki perpustakaan dan mendapatkan bantuan buku dari Perpustakaan Nasional. Oleh karenanya, aku harus mengunjungi perpustakaan ini sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai Relima (Relawan Literasi Masyarakat) dari Perpustakaan Nasional. 

Aku sudah bersiap pagi-pagi sekali. Perjalanan dari Samboja ke Loa Kulu tidak sebentar, tapi masih bisa ditempuh dalam waktu sehari. Apalagi kalau ada suami yang mengantarku. Aku bisa sampai lebih cepat daripada aku mengendarai sepeda motor sendiri. 

Cuaca cukup bersahabat. Mendung, tapi tak hujan sepanjang perjalanan dari Samboja sampai ke Loa Kulu. 
Sesuai jadwal, aku tiba di Desa Rempanga pada jam 10 pagi. Aku langsung disambut oleh Rina, petugas perpustakaan Khasanah Desa Mandiri milik Desa Rempanga. Di saat yang bersamaan juga, Pak Triyadi dari perpustakaan daerah Kabupaten Kutai Kartanegara juga tiba di lokasi dengan sepeda motornya. 
Loa Kulu, letaknya tidak jauh dari Kota Tenggarong. Sehingga Pak Triyadi bisa mendampingiku hanya dengan mengendarai sepeda motor. Jelas jauh berbeda dengan lokasi di wilayah hulu yang sulit ditempuh dengan sepeda motor karena jaraknya sangat jauh dan pastinya melelahkan. 
Perpustakaan desa berada tepat di sampung gedung kantor desa. Aku terpesona dengan kondisi perpustakaan ini. Di luar gedung perpustakaan terdapat beberapa gazebo dan literasi tentang tanaman toga yang menjadi program unggulan PKK. 


Saat aku masuk ke dalam ruang perpustakaan, sudah ada beberapa anak dan orang tuanya yang hadir di dalam perpustakaan tersebut. Pengelola perpustakaan sudah memberikan kabar bahwa akan ada kegiatan Read Aloud atau Membaca Nyaring yang akan aku isi. 
Aku segera menyapa anak-anak dengan ceria dan membacakan buku untuk mereka sembari berinteraksi.
Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak yang belum bisa membaca, sehingga saat antusias dalam mendengarkan cerita. Sampai tidak mau berhenti dibacakan cerita dan minta nambah lagi. Sayangnya, waktuku terbatas. Aku tidak bisa berlama-lama karena sudah ada jadwal kegiatan berikutnya yang menanti. 
Meski aku sudah selesai membacakan buku, tapi kegiatan belum selesai. Karena ada Ibu Kepala Desa yang juga ikut membacakan buku. 
Wah, aku tidak menyangka kalau ternyata Ibu Kepala Desa langsung yang berkontribusi dalam kegiatan Read Aloud ini. Beliau juga sangat antusias dalam membacakan buku. 
Setelah Ibu Kepala Desa membaca nyaring untuk anak-anak, semua bisa langsung pulang untuk beristirahat. Karena aku tahu, para ibu juga punya banyak pekerjaan rumah dan tanggung jawab di rumah yang harus ditunaikan. Jadi, aku tidak akan meminta waktu terlalu lama. 
Sebelum berpindah ke kegiatan berikutnya, aku berbincang bersama Ibu Kepala Desa. Di sana juga ada beberapa siswa SMA yang sedang magang dan membantu aktivitas di perpustakaan. Jadi, kegiatan di perpustakaan bisa lebih teratur dan tertata jika dibantu oleh anak magang. Sebab, ada yang membantu pengelola perpustakaan. 
Perpustakaan akan berjalan dengan baik jika pengelolanya diberi honor. Pengelola perpustakaan di desa ini diperlakukan sama seperti staff desa atau menjadi bagian dari staff desa. Sehingga operasional perpustakaan bisa berjalan dengan baik. 



Walau bagaimanapun, manusia butuh makan. Sejatinya perpustakaan bukan hanya menjadi sumber ilmu, tapi juga sumber kehidupan. 


Terima kasih banyak sudah membaca tulisan kecil ini. Semoga, kita bertemu dalam keadaan baik dan penuh berkah dari Allah. 


Salam literasi Relima Perpusnas RI lokus Kabupaten Kutai Kartanegara. 

Dari hati untuk masa depan bangsa. 



Thursday, October 2, 2025

Pengajian Rasa Diskotek, Musholla Rasa Kasino



Pengajian Rasa Diskotek, Musholla Rasa Kasino


Jangan keburu emosi saat baca judul tulisanku yang satu ini. Kalau kamu emosi, artinya kamu pernah mengalaminya atau bahkan kamulah pelakunya. Tulisan ini untuk belajar dan berpikir tentang apa yang telah terjadi di dunia ini. Jadi, bijaklah ketika membaca.


Fenomena sosial keagamaan di masyarakat kerap menghadirkan wajah yang kontradiktif. Di satu sisi, agama dijadikan identitas dan kebanggaan, namun di sisi lain, praktiknya sering jauh dari nilai-nilai luhur Islam. Saya sendiri pernah menyaksikan bagaimana sebuah musholla yang seharusnya menjadi tempat bersujud, berzikir, dan mencari ketenangan batin, berubah menjadi arena bermain kartu remi. Bahkan, sebuah acara pengajian yang mestinya menumbuhkan khusyuk, justru dihiasi dentuman musik disko dengan volume keras, hingga suasana lebih mirip klub malam ketimbang majelis ilmu.

Fenomena inilah yang menginspirasi tulisan ini dengan judul “Pengajian Rasa Diskotek, Musholla Rasa Kasino.”


Musholla adalah rumah Allah yang berubah menjadi arena permainan. Sungguh mengejutkan ketika aku melihat orang-orang bisa dengan bebas bermain kartu remi di teras musholla. Menunggu waktu, harusnya diisi denga mengaji atau berdzikir. Sehingga, rumah Allah benar-benar menjadi rumah yang suci dan penuh ilmu. 

Dalam pandangan Islam, musholla maupun masjid adalah rumah Allah yang harus dimuliakan. Allah berfirman:

"Di rumah-rumah (masjid) yang Allah telah memerintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang."
(QS. An-Nur: 36)

Namun realitas yang saya lihat sungguh ironis: tikar yang biasa menjadi alas sujud justru dipenuhi kartu remi, tawa dan candaan lebih mendominasi daripada doa. Musholla seakan kehilangan sakralitasnya. Padahal Rasulullah SAW bersabda:

“Akan datang pada umatku suatu masa, orang-orang berkumpul di masjid, mereka hanya berbicara tentang dunia. Maka janganlah kalian duduk bersama mereka, karena Allah tidak butuh pada mereka.”
(HR. Al-Baihaqi)

Hadis ini jelas menggambarkan betapa menyedihkannya ketika rumah Allah dipakai bukan untuk ibadah, melainkan hiburan duniawi.


Pengajian Rasa Diskotek: Hilangnya Ruh Spiritual

Pengajian mestinya menghadirkan suasana tenang, penuh tadabbur, dan mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, ketika musik disko dengan dentuman bass menguasai ruang pengajian, ruh spiritual pengajian berubah menjadi pesta hiburan.

Memang, Islam tidak menutup ruang seni dan budaya. Musik, selama tidak mengandung maksiat dan berlebihan, bisa menjadi sarana hiburan yang mubah. Tetapi jika pengajian yang identik dengan dzikir, doa, dan ilmu diwarnai dentuman keras ala diskotek, maka nilai esensialnya hilang.

Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadis:

“Akan ada suatu kaum dari umatku yang menghalalkan zina, sutra (untuk laki-laki), khamr, dan alat musik.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini menjadi peringatan agar kita tidak menjadikan musik sebagai penguasa hati hingga menggeser zikir kepada Allah. Ketika pengajian terasa seperti konser, kita perlu bertanya: apakah kita hadir untuk Allah, atau sekadar untuk hiburan?


Islam Kaffah: Mengembalikan Fungsi Sakral

Islam kaffah berarti menjalankan Islam secara utuh, bukan parsial. Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al-Baqarah: 208)

Dari ayat ini, jelas bahwa Islam kaffah menuntut keseimbangan: musholla tetap dijaga kesuciannya, pengajian tetap dijalankan dalam nuansa ilmu dan ketenangan.

Mengubah musholla menjadi arena judi kecil-kecilan, atau menjadikan pengajian sebagai ruang pesta musik, berarti kita sedang bermain-main dengan agama. Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah SAW ketika bersabda:

“Sesungguhnya yang pertama kali akan hilang dari umatku adalah kekhusyukan, dan yang terakhir kali akan hilang adalah shalat. Bisa jadi seseorang masih shalat, tetapi tidak ada kebaikan di dalamnya.”
(HR. Abu Nu’aim)




Apa yang saya saksikan adalah potret krisis ruhani. Musholla kehilangan sakralitas, pengajian kehilangan kekhusyukan. Jika dibiarkan, generasi muda akan terbiasa melihat agama sekadar formalitas. Tempat ibadah jadi arena santai, acara keagamaan jadi pesta hiburan.

Padahal, Islam kaffah mengajarkan adab terhadap ruang ibadah dan pengajian. Musholla semestinya dimuliakan, dan pengajian harus menjadi ladang ilmu yang membekas di hati, bukan sekadar keramaian duniawi. 

“Pengajian rasa diskotek, musholla rasa kasino” bukan sekadar ungkapan hiperbolis, tapi realitas yang mengkhawatirkan. Kita perlu kembali kepada ajaran Islam yang kaffah, menempatkan musholla dan pengajian pada tempatnya. Agama bukan sekadar label, melainkan jalan hidup.

Jika musholla dipenuhi kartu, dan pengajian dipenuhi musik disko, kita patut bertanya pada diri sendiri: di mana Allah dalam semua itu?


Referensi

  1. Al-Qur’an Surah An-Nur: 36
  2. Al-Qur’an Surah Al-Baqarah: 208
  3. HR. Al-Baihaqi – tentang masjid yang dipenuhi obrolan dunia
  4. HR. Bukhari – tentang penghalalan musik
  5. HR. Abu Nu’aim – tentang hilangnya kekhusyukan. 

Monday, September 29, 2025

Relima Lokus Kaltim Hadir Membersamai Kegiatan Kang Maman di Kota Balikpapan

 

Minggu, 28 September 2025


Siapa yang menyangka kalau anak desa sepertiku bisa bertemu dengan penulis nasional sekelas Kang Maman? 

Menjadi Relima Perpustakaan Nasional, membuatku memiliki privilege yang luar biasa. Salah satunya adalah mengenal sosok Kang Maman yang begitu bersahaja bagiku. 

Pertama kali bertemu beliau di acara Badan Bahasa tahun 2024 saat Festival Literasi Nasional. Bukan hanya bertemu beliau, tapi juha bertemu banyak penulis terkenal seperti Helvi Tiana Rosa, Okky Madasari, dan lain-lain. 
Saat aku mengikuti Festival Literasi, aku bertemu dengan banyak penulis yang karyanya diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional. Dalam hati kecilku berkata, "Kapan ya aku bisa menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional?" 

Buatku, menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional adalah hal yang sangat istimewa. Kenapa? Karena untuk masuk ke Perpusnas bukanlah hal yang mudah. Satu esai saja bisa diterbitkan oleh Perpusnas, itu adalah hal yang istimewa. Sistem kurasi naskah di Perpustakaan Nasional tidak main-main. Sulit sekali untuk bisa menembus benteng editor karena standar naskah Perpusnas sangatlah tinggi. 
Alhamdulillah, Allah menjawab pertanyaanku dengan memberikan kesempatan menulis esai tentang praktik baik pemanfaatan bantuan 1000 buku di taman bacaku yang difasilitasi oleh Forum TBM. Esai itu langsung diterbitkan oleh Perpusnas dan menjadi buku antologi karya pertamaku yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional. 
Kemudian, Allah juga memberikan sebuah kesempatan besar di tahun ini di mana aku bisa menjadi bagian dari keluarga besar Perpusnas RI melalui program Relima (Relawan Literasi Masyarakat). 
Program Relima ini membuatku mengenal lebih jauh tentang sosok Kang Maman. Karena beliau juga yang mewawancaraiku saat seleksi Relima Perpusnas RI. Beliau juga menjadi bagian dari Satgas Relima dan memberikan pendampingan intens selama perjalanan Relima. Membuatku begitu bahagia bisa mengenal lebih dekat penulis nasional yang satu ini. 

Beberapa hari yang lalu, Kang Maman memberi kabar kalau beliau akan ke Kaltim pada tanggal 28 September 2025. Awalnya, kami tidak tahu beliau datang dalam acara apa. Ternyata, acara bedah buku yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. 
Saya dan teman-teman Relima lokus Kaltim berusaha untuk mendaftar. Ternyata, pendaftaran sudah ditutup karena sudah penuh. Kami menghela napas kecewa, tapi tidak berhenti berusaha. 

Kebetulan, aku dan Pak Budi Utomo tergabung dalam komunitas BWF (Balikpapan Writer Festival). Ada beberapa peserta yang mengundurkan diri karena berbagai hal, sehingga kami bertiga bisa masuk untuk memenuhi kuota dan bisa menjadi peserta dalam acara Talkshow dan Bedah Buku Mahligai Nusantara 2025 yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia Balikpapan. 
Jadwal acaranya pukul 11.00 WITA. Sementara, pagi hari aku masih harus gotong-royong bersama ibu-ibu dasawisma RT 3 karena kebetulan aku juga Ketua RT. Jadi, aku punya tanggung jawab untuk mengikuti kegiatan gotong-royong terlebih dahulu. 
Pukul 09.30 pagi, aku mohon izin untuk pulang lebih dahulu karena harus ke Balikpapan. Awalnya, aku ingin berangkat sore. Tapi, sayang juga kalau sampai melewatkan acara di Bank Indonesia karena Pak Budi Utomo sudah mengusahakan mendapatkan tiket masuk untuk kami. 

Meski terlambat, aku masih bisa mengikuti acara dan melihat Kang Maman dari kejauhan. Aku sengaja tidak mendekat karena beliau sudah sangat sibuk dikerubungi oleh banyak orang. Aku pikir, aku juga akan punya sesi khusus dengan beliau di balik layar tanpa harus berebut dengan yang lain. Jadi, aku tidak perlu ikut berebut dan membuat Kang Maman kelelahan nantinya. 

Usai acara BI, aku mengajak teman-teman Relima untuk beristirahat sejenak sambil ngopi. Aku pilih Batavia Coffee sebagai tempat untuk kami bersantai. Karena tempat ini termasuk tempat yang familier bagiku. Sebelumnya, aku pernah diajak ngopi ke tempat ini bersama Ketua Forum KIM Kukar dan GM BSB. Jadi, tempat ini tidak asing bagiku meski jarang aku kunjungi. Tidak banyak yang berubah. Batavia Coffee tetap menjadi tempat favorite untuk nongkrong karena pemandangan lautnya yang indah, juga design taman yang aesthetic. 

Usai sholat Ashar, kami langsung bergeser ke Gramedia MT Haryono. Di sana, kami ikut kegiatan Kang Maman lagi tentang dunia kepenulisan. 
Usai acara, kami menunggu Kang Maman berfoto bersama panitia. Aku dan teman-teman tidak mau mengganggu sesi panitia. Karena, itu sudah menjadi jatah mereka. Panitia memang selalu memiliki keistimewaan dengan narasumber. Setelah sesi foto bersama panitia selesai, aku dan teman-temannya Relima menghampiri Kang Maman untuk memastikan sesi selanjutnya bisa bersama kami.
Kang Maman langsung tersenyum sumringah menyambut kedatangan kami. Beliau bahkan membelikan buku gratis untuk kami yang beliau bayar dengan uang pribadinya. Alhamdulillah, aku tidak mengeluarkan uang untuk membayar karena ada Kang Maman. Kemudian, kami berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. 

Acara dengan Gramedia MT Haryono Balikpapan selesai pukul 19.00 WITA. Ternyata, panitia dari Gramedia masih ada kegiatan bersama Kang Maman. Yakni, mengajak untuk makan malam bersama terlebih dahulu. 
Aku hampir hopeless karena tidak ada sesi khusus lagi bersama Kang Maman jika menunggu usai makan malam. 
Tapi Kang Maman dengan cepat berdiskusi dengan panitia Gramedia untuk mengajak kami bertiga bersamanya. Jadi, kami juga ikut serta makan malam bersama dan mengobrol banyak hal. Aku juga mendapatkan kesempatan untuk berkolaborasi dengan Gramedia dalam pergerakan literasi di daerah. Semoga, bisa terwujud dengan cepat dan bermanfaat untuk masyarakat luas, terutama untuk anak-anak daerah yang kesulitan mengakses bahan bacaan karena toko buku Gramedia sangat jauh dari tempat kami. 



Terima kasih untuk Bank Indonesia Balikpapan dan Gramedia MT Haryono yang telah mengundang Kang Maman sehingga kami bisa bertemu dan berkeluh kesah tentang perjalanan Relima, terutama Relima Kukar yang letak geografisnya sangat menguji kesabaran. 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas