Menu BacaanMu
- Perfect Hero (546)
- Puisi (121)
- My Experience (118)
- Rumah Literasi Kreatif (87)
- Novel MLB (80)
- Cerpen (72)
- Then Love (60)
- Belajar Menulis (58)
- Esai (56)
- Artikel (44)
- Puisi Akrostik (43)
- Review Buku (22)
- Relima Perpusnas RI (18)
- Review Drama (18)
- Partner Kondangan (12)
- Ekonomi & Bisnis (9)
- Novel The Cakra (8)
- Wisata (8)
- Aku dan Taman Bacaku (7)
- Dasawisma (6)
- Kumpulan Novel (6)
- Review Aplikasi (6)
- Daily (4)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Opini (4)
- Pendamping Nakal (3)
- Biografi Penulis (2)
- Donasi (1)
- Dongeng (1)
- JNE (1)
- Product (1)
Tuesday, December 9, 2025
Wednesday, December 3, 2025
Ketentuan dan Keuntungan Menjadi Anggota Perpustakaan Rumah Literasi Kreatif
KETENTUAN MENJADI ANGGOTA PERPUSTAKAAN
RUMAH LITERASI KREATIF
1. Pendaftaran Anggota
- Mengisi
formulir pendaftaran (online atau offline).
- Menyerahkan 1 lembar foto diri.
- Menyertakan
kontak aktif (WA).
- Membayar
biaya administrasi Rp. 5000 (berlaku seumur hidup)
- Mendapat kartu anggota setelah data
terverifikasi.
2. Hak dan
Kewajiban Anggota
Hak Anggota
- Meminjam koleksi buku sesuai
ketentuan.
- Mengikuti program Rulika: kelas
literasi, kelas bahasa Inggris, workshop/pelatihan, mendongeng, Read
Aloud, pelatihan menulis, dll.
- Mengakses fasilitas taman baca (ruang
baca, permainan edukasi, kegiatan kreatif).
- Mengajukan permintaan judul buku yang
ingin ditambahkan ke koleksi.
Kewajiban Anggota
- Menjaga buku agar tetap bersih dan
tidak rusak.
- Mengembalikan
buku tepat waktu.
- Menjaga ketertiban dan kebersihan
perpustakaan.
- Menggunakan kartu anggota secara
pribadi, tidak boleh dipinjamkan.
- Melaporkan jika kartu anggota hilang.
3. Ketentuan Peminjaman Buku
- Lama peminjaman: 7–14 hari per
buku.
- Maksimal peminjaman: 2–3 buku
dalam satu waktu.
- Perpanjangan peminjaman bisa
dilakukan maksimal 1× selama buku tidak sedang dipesan anggota lain.
- Buku yang hilang atau rusak diganti
sesuai nilai buku atau dengan buku baru yang setara.
- Buku yang boleh dipinjamkan hanya buku
bacaan/sastra. Buku keterampilan (resep masakan, menjahit, kerajinan
tangan, dsb.) hanya boleh baca di tempat atau tidak diperkenankan dibawa
keluar dari gedung perpustakaan.
4. Ketentuan Pengembalian
- Pengembalian dilakukan pada jam
layanan Rulika.
- Keterlambatan pengembalian dikenai
sanksi ringan berupa:
- Tugas
sosial literasi, atau
- Denda untuk perawatan buku Rp
500,-/hari.
5. Penertiban
& Sanksi
Anggota dapat
dikenai pembatasan peminjaman apabila:
- Tercatat terlambat lebih dari 3 kali.
- Merusak
atau menghilangkan buku.
- Tidak mengikuti aturan ruang baca.
KEUNTUNGAN MENJADI ANGGOTA
PERPUSTAKAAN RUMAH LITERASI KREATIF
1. Akses Buku yang Beragam
- Koleksi fiksi, nonfiksi, cerita anak,
edukasi, motivasi, hingga buku lokal Kalimantan.
- Koleksi selalu bertambah dari donasi
penulis seluruh Indonesia, Dinas Perpustakaan daerah, dan Perpustakaan
Nasional RI.
2. Prioritas Mengikuti Kegiatan Rulika
- Kelas
menulis & kelas membaca
- Kelas
Bahasa Inggris
- Dongeng
/ Read Aloud mingguan
- Workshop kreatif (mewarnai,
kerajinan, literasi digital, dll.)
- Pelatihan
kecil seperti public speaking, jurnalistik anak, dll.
3. Mendapat Kartu Anggota Eksklusif
- Bisa dipakai sebagai identitas
komunitas literasi.
- Akses program khusus anggota seperti:
- “Anggota
Teraktif Bulanan”
- “Tukang
Baca Minggu Ini”
- Tantangan
membaca (Reading Challenge)
4. Mendukung Gerakan Literasi Daerah
- Dengan menjadi anggota, kamu ikut
menjaga taman baca Bunga Kertas / Rulika tetap hidup.
- Anggota turut berkontribusi
meningkatkan minat baca anak-anak di Kutai Kartanegara.
5. Ruang Belajar Aman & Nyaman
- Tempat
membaca yang ramah anak.
- Fasilitas mewarnai, permainan
edukatif, dan suasana komunitas yang hangat.
- Cocok untuk keluarga, pelajar,
mahasiswa, dan warga umum.
6. Kesempatan Menjadi Relawan Literasi
- Anggota bisa bergabung sebagai
relawan kegiatan, pendamping anak baca, atau tim kreatif Rulika.
- Mendapat pengalaman berharga
sekaligus jejaring sesama pegiat literasi.
- Mendapatkan rekomendasi langsung dari
Yayasan Rumah Literasi Kreatif sebagai relawan/pegiat literasi daerah.
Tuesday, November 18, 2025
Memory of Yupa || Memory of The World : Peradaban Nusantara yang Perlu Dijaga
Muara Kaman, 17 November 2025
Muara Kaman dan Museum (Situs) Lesung Batu (Lesong Batu) punya peran penting dalam sejarah kuno Kalimantan / Indonesia. Muara Kaman adalah kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Luas wilayahnya sangat besar (sekitar 3.410 km²) dengan banyak desa.
Muara Kaman dianggap sebagai pusat kerajaan Kutai Martadipura, yang merupakan salah satu kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Raja terkenal dari kerajaan ini adalah Maharaja Mulawarman. Lokasi Muara Kaman juga strategis karena berada di pertemuan sungai (Mahakam dan anak sungainya), menjadikannya jalur perdagangan penting di masa kuno.
Ada museum purbakala di Muara Kaman yang mengabadikan situs sejarah kerajaan Kutai. Museum ini menyimpan replika dari prasasti Yupa, benda pusaka purbakala, serta makam raja-raja Islam di wilayah itu. Sejak 2022, pengelolaan museum ini diambil alih oleh pemerintah kecamatan Muara Kaman, dengan rencana pembenahan dan pengembangan wisata sejarah.
Prasasti Yupa adalah tiang batu yang ditulisi dengan aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta. Ada 7 buah yupa yang ditemukan di area Muara Kaman. I si yupa menceritakan silsilah kerajaan (misalnya Raja Kudungga, Aswawarman, Mulawarman) dan kedermawanan Raja Mulawarman — misalnya memberi ribuan sapi sebagai persembahan. Dari kajian etimologi tertentu, meskipun dikenal sebagai “Kerajaan Kutai”, ada argumen bahwa nama sebenarnya kerajaan kuno ini adalah Martapura, bukan “Kutai”. Penelitian cagar budaya menyatakan bahwa situs Muara Kaman — yang meliputi Lesong Batu / yupa, makam, dan batu Lembu Ngeram — adalah “zona inti” penting yang harus dilestarikan.
Saya tidak pernah terpikir kalau akan menjadi bagian dari saksi sejarah Yupa bagi masa depan negeri ini. Sebagai Relima Perpusnas RI, tentu saya akan dilibatkan dalam beberapa kegiatan yang digagas oleh perpustakaan daerah maupun perpustakaan provinsi. Sehingga, saya bisa menjadi bagian dari festival Memory of Yupa yang baru dilaksanakan pertama kalinya di Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam menyusuri jalur Sungai Mahakam, akhirnya kami sampai di Muara Kaman. Tempat di mana situs peradaban tertua di Indonesia ada dan masih dijaga kelestariannya.
Tubuhku belum benar-benar pulih setelah berkegiatan selama 4 hari di Kota Bogor dan Jakarta. Tapi, aku tidak ingin melewatkan momen yang sangat langka ini. Jadi, aku berusaha sampai ke tujuan meski kondisiku tidak baik-baik saja. Selama masih bisa bergerak dan aku kuat untuk berdiri, maka aku tidak akan menyerah.
Sunday, November 9, 2025
Tips for Teaching English to Kids: Make It Fun and Simple
Tips for Teaching English to Kids
"Make It Fun and Simple"
Teaching English to children can be quite a challenge—but at Rumah Literasi Kreatif, it’s always filled with laughter, color, and creativity. The secret lies in two simple words: fun and simple.
1. Connect Lessons with Their Everyday World
Children learn faster when lessons relate to things they already know. In our classes, teachers often use “Show and Tell” with objects around the reading garden—like books, colored pencils, or dolls. Through these familiar items, kids learn new vocabulary and gain confidence to speak in front of others.
2. Sing and Move Together
Music is a magical bridge to language learning. Songs like Head, Shoulders, Knees, and Toes or If You’re Happy and You Know It are always favorites here. When kids sing and move along, they remember words more naturally. It feels more like playing than studying—and that’s exactly the point.
3. Use Visuals and Colors
In every class, teachers use colorful flashcards, word cards, and pictures. Visuals help children connect words with images and meanings. Sometimes, the kids even create their own flashcards! This creative process strengthens memory and sparks imagination.
4. Tell Stories and Act Them Out
Storytime is one of the best ways to teach English. At Rumah Literasi Kreatif, we often do short drama plays based on simple stories like The Hungry Caterpillar or Little Red Riding Hood. Role-playing helps children practice pronunciation, teamwork, and comprehension—all while having fun.
5. Give Praise and Positive Support
Children learn best when they feel appreciated. Every time a student says a new word or forms a sentence, we celebrate with claps or a little star sticker. Positive feedback builds confidence and teaches them that making mistakes is part of learning.
At Rumah Literasi Kreatif, our English class is more than just a place to learn a language—it’s a joyful space for creativity, curiosity, and growth.
Here, children discover that English isn’t something to be afraid of—it’s a bridge to explore a bigger, brighter world.
Because learning is always beautiful when it comes from a happy heart.
Thursday, November 6, 2025
Menyulam Waktu di Tengah Keceriaan Jambore PAUD Kecamatan Samboja
Wednesday, November 5, 2025
Persiapan Jambore PAUD Kecamatan Samboja Tahun 2025
Tuesday, November 4, 2025
Aku dan Taman Bacaku | Cerita dari Sudut Taman Baca
Semangat yang Tak Pernah Padam
Aku dan Taman Bacaku | Saat Hujan Menyapa Kelas Bahasa Inggris
Saat Hujan Menyapa Kelas Bahasa Inggris
Karya: Rin Muna
Hujan deras turun sejak siang, membasahi halaman kecil Rumah Literasi Kreatif di Beringin Agung. Biasanya, pada pukul dua siang aku sudah duduk di antara meja-meja kecil berisi tumpukan buku dan alat tulis warna-warni, menyambut anak-anak yang datang dengan semangat untuk belajar Bahasa Inggris. Namun hari itu, 4 November 2025, langkahku tertahan oleh urusan dunia nyata yang tak bisa ditunda — mengurus beasiswa puteriku di bank sejak pagi hingga menjelang sore.
Kelas yang biasanya dimulai pukul 14.00 WITA terpaksa bergeser. Aku sempat merasa bersalah — seolah menunda tawa dan semangat kecil mereka yang sudah menunggu hari Selasa, hari di mana ruang baca sederhana itu berubah menjadi kelas Bahasa Inggris penuh keceriaan. Tapi, hidup memang sering kali berjalan di antara jeda dan tanggung jawab, bukan?
Ketika akhirnya aku tiba di Rumah Literasi Kreatif menjelang sore, langit masih menitikkan sisa hujan. Lantai semen di teras lembap, tapi suara anak-anak sudah terdengar dari dalam ruangan.
“Ayo, Miss! Hari ini belajar apa?” tanya Florence, sambil menepuk-nepuk tas yang ia bawa.
Aku tersenyum. “Hari ini kita belajar percakapan tentang Introducing My Sibling — memperkenalkan saudara kandungku dalam Bahasa Inggris.”
Beberapa anak langsung membuka buku catatannya. Namun, sebagian kursi tampak kosong. Seperti biasa, beberapa teman mereka harus pergi ke sekolah ngaji atau sekolah sore yang dimulai pukul empat sore. Ada rasa kehilangan kecil ketika melihat kursi-kursi kosong itu, tapi aku tahu setiap anak sedang menunaikan kewajibannya di tempat lain — dan itu juga bagian dari belajar, bukan hanya dari buku, tapi dari kehidupan.
Kami pun memulai pelajaran dengan sederhana. Aku menulis di papan tulis kecil:
Anak-anak menirukan dengan suara lantang, lalu tertawa ketika satu sama lain salah menyebut kata brother. Ada yang berani maju memperkenalkan saudaranya dengan percaya diri, ada pula yang masih malu-malu, menggenggam pensil erat-erat. Namun, di tengah derasnya hujan di luar, aku merasakan kehangatan yang tumbuh di dalam ruangan itu — sebuah kehangatan yang lahir dari keberanian kecil untuk mencoba.
Kegiatan hari itu mungkin sederhana. Tidak ada proyektor, tidak ada papan tulis besar, tidak ada fasilitas modern. Tapi ada semangat yang menular. Ada tawa yang menjadi cahaya di antara rintik hujan. Dan aku menyadari, bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan juga membagi harapan — bahwa setiap kata baru yang mereka ucapkan adalah jembatan menuju dunia yang lebih luas.
Aku menjawab pelan, “Kita lihat nanti, ya! Kalian hafalin dulu percakapan yang ini dan percakapan sebelumnya. Nanti Miss tes percakapan kalian."
Mereka tertawa, sebagian ada yang menghela napas karena menganggap belajar Bahasa Inggris masih sulit. Mereka menutup buku, lalu bersiap menjawab pertanyaan yang selalu aku ajukan sebelum mereka pulang.
Kemudian, mereka berlarian pulang di bawah gerimis yang mulai reda. Aku menatap mereka satu per satu dan merasa bersyukur. Meski jadwal bergeser, meski kursi tidak penuh, semangat mereka tidak pernah absen.
Rumah Literasi Kreatif, sekali lagi, menjadi saksi bahwa belajar bisa tumbuh di mana saja — bahkan di bawah atap yang bocor sedikit dan di antara waktu yang sempit. Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya tentang waktu dan tempat, tapi tentang hati yang mau memberi dan jiwa yang terus haus akan ilmu.
Referensi:
-
Dokumentasi kegiatan Kelas Bahasa Inggris Rumah Literasi Kreatif, Beringin Agung, 4 November 2025.
-
Materi pembelajaran: Daily Conversation – Introducing My Sibling, disusun oleh Rin Muna, Rumah Literasi Kreatif.
-
Catatan reflektif pribadi penulis, Rumah Literasi Kreatif Kutai Kartanegara (2025).
Aroma Kopi dan Ide yang Menyala
Aroma Kopi dan Ide yang Menyala
Oleh: Rin Muna
Ada sesuatu yang magis setiap kali aroma kopi menyeruak dari cangkir. Seolah-olah waktu berhenti sejenak, dan ruang menjadi tempat yang lebih hangat untuk berbagi cerita. Di meja kayu sederhana Teman Diskusi Coffee — unit usaha kecil yang tumbuh dari semangat Rumah Literasi Kreatif — setiap tegukan kopi bukan hanya minuman, melainkan percikan ide yang menyala dari obrolan ringan hingga diskusi yang mendalam.
Aku sering berpikir, bahwa kopi dan literasi memiliki jiwa yang serupa. Keduanya sama-sama menuntut waktu, kesabaran, dan ketulusan untuk menghasilkan rasa yang berkesan. Tak bisa terburu-buru. Seperti membaca buku, meracik kopi pun butuh perhatian pada detail kecil — suhu air, takaran bubuk, bahkan cara menuang yang menentukan aroma terakhir di permukaannya.
Teman Diskusi Coffee lahir bukan sekadar sebagai tempat nongkrong atau menikmati kopi lokal, melainkan ruang bertemunya pikiran. Di sinilah para pegiat literasi, mahasiswa, guru, ibu rumah tangga, dan siapa pun yang mencintai percakapan datang untuk mencari makna di balik setiap kalimat dan cangkir. Kadang kita membicarakan buku, kadang tentang rencana kegiatan literasi, dan tak jarang tentang kehidupan itu sendiri.
Ada hari-hari di mana aku melihat meja penuh dengan kertas coretan ide. Ada yang menulis puisi sambil menyeruput kopi tubruk, ada yang menggambar desain kaos literasi di sudut ruangan, dan ada pula yang hanya diam, menatap uap yang naik dari cangkir sambil berpikir. Suasana seperti itu mengingatkanku pada pandangan filsafat Islam tentang tafakkur — merenung sebagai jalan menemukan makna hidup. Bahwa berpikir bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga bentuk ibadah yang mendekatkan manusia pada Sang Pencipta.
Maka, di setiap percakapan yang lahir di kedai kecil ini, selalu ada makna yang lebih besar dari sekadar kata-kata. Kadang, ide besar lahir dari hal sederhana — dari sepotong kalimat yang tak sengaja terucap, atau dari tawa ringan di antara percakapan sore. Seperti halnya api yang menyala dari percikan kecil, inspirasi pun sering datang dari momen-momen yang tak direncanakan.
Teman Diskusi Coffee mengajarkan satu hal penting: bahwa ruang untuk berbagi tak selalu harus megah. Cukup ada meja kayu, kopi hangat, dan niat baik untuk saling mendengarkan. Karena ide-ide besar tak butuh tempat mewah untuk tumbuh, tapi butuh suasana yang memberi ruang bagi kejujuran dan ketulusan.
Setiap kali aku menatap papan nama kecil bertuliskan Teman Diskusi Coffee, aku merasa sedang menyaksikan semangat literasi yang bertransformasi menjadi kehidupan nyata. Dari buku menuju gelas kopi, dari kata menuju tindakan. Ini bukan sekadar bisnis, tapi wujud nyata dari kolaborasi — antara rasa, ide, dan gerakan.











