Sunday, August 31, 2025

Workshop Jurnalistik, Teknik dan Tips Menulis Press Release

 


Kamis pagi, 28 Agustus 2025, aku masih berada di Desa Perangat Selatan, Marang Kayu. Sudah 4 malam aku menginap di rumah orang tua temanku, Linda. 

Pukul 08.00 WITA, aku harus mengikuti acara Workshop Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim di Kota Samarinda. 

Untuk bisa sampai ke Samarinda, aku harus menempuh perjalanan sekitar 2 jam. Jadi, aku harus bangun lebih pagi karena harus berkemas lebih dahulu. 
Usai mandi dan  sholat subuh, aku langsung cepat-cepat mengemasi barang-barangku. Kebetulan, tugas kerjaku di Marang Kayu sudah selesai. Jadi, aku sekalian pulang ke Samboja setelah mengikuti acara di DPK (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan) Samarinda. 

Aku tidak langsung nyelonong pulang begitu saja. Sebenarnya, aku menunggu Linda datang karena rumahnya berbeda dengan rumah orang tuanya. Tapi, Linda tak kunjung datang hingga pukul 06.30 WITA. Sementara aku tidak bisa menunggu lebih lama karena aku juga harus datang tepat waktu di kantor Dinas Perpustakaan Provinsi Kaltim. 

Tepat pukul 06.30 WITA, aku berpamitan dengan keluarga Linda dan berangkat ke kota Samarinda. Aku sampai di DPK Kaltim tepat pukul 08.10 WITA. 

Begitu memarkirkan motor, aku langsung menghubungi Bunda Yeni. Salah satu staff DPK Kaltim yang aku kenal dan bertugas di ruang majalah. 

Aku melangkah memasuki pintu gedung DPK Provinsi Kaltim, menyusuri lorong dengan santai menuju ruang majalah yang ada di gedung ini. 

"Assalamualaikum ...!" sapaku sembari menarik pintu kaca ruang majalah. Ruangan itu terlihat sepi, tapi dapat kulihat kepala berbalut kain warna pink itu menyembul di antata tumpukan buku yang tersusun tinggi di atas meja. 
"Waalaikumussalam ...!" Bunda Yeni menyahut. Ia langsung bangkit dari kursi dan menyambutku dengan hangat. Kami berpelukan sejenak untuk saling melepas kerinduan. 
"Sama siapa ke sini?" tanya Bunda Yeni. 
"Sendirian," jawabku. 
"Pakai motor?"
"Iya."
"Memang wanita tangguh," ucap Bunda Yeni. 
Aku hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Buna Yeni. 
Kami berbincang selama beberapa saat. Kemudian, aku mohon izin untuk bergeser ke ruang rapat Oemar Dachlan yang bersebelahan dengam ruang majalah. 
Di depan pintu ruang rapat, sudah ada petugas registrasi yang menanti. Aku langsung mencari namaku dan menandatangani kehadiran. Kemudian, aku pergi ke toilet sebelum memasuki ruang rapat. Kebetulan, acara belum dimulai. Jadi, aku tidak tergesa-gesa untuk masuk ke ruangan. 

Tak lama kemudian, acara dimulai. Acara dibuka dengan sambutan dari Plt. Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Kaltim, Endang Effendi. 

Kegiatan ini dimoderatori oleh Bapak Dr. Sudarman, M. Pd. yang merupakan akademisi dari Universitas Mulawarman. 

Materi pertama disampaikan oleh Bapak Syafruddin Pernyata, M. Hum (Ketua GPMB Kaltim). Pemateri yang satu ini menjadi favorite-ku karena beliau begitu ramah dan asyik dalam menyampaikan materi. Terkadang jokes yang beliau lempar membuat peserta tertawa.. Hal itulah yang membuatku rindu untuk bertemu dan mendengarkan cerita-cerita dari beliau. 
Sepanjang materi, aku menyimak dengan baik pemaparan tentang Teknik dan Tips Menulis Press Release. Beliau menyampaikan tentang perbedaan menulis berita di Website dan Media Sosial. Berita di Media Sosial lebih cepat dan singkat, sehingga banyak diminati. Namun, pemberitaan di media sosial yang tidak lengkap juga memiliki sisi negatif, yakni hoax. Sementara, berita pada website lebih tersusun rapi, terstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Materi berikutnya disampaikan oleh Muhammad Fachri Ramadhani, S.I.Kom (Editor Online Tribun Kaltim) yang memberikan materi tentang "Kesalahan pada Press Release". Ternyata, kesalahan yang terjadi saat press release akan memberikan dampak negatif pada organisasi/kelompok/perorangan yang menjadi pokok utama dalam berita tersebut. Press Release yang baik akan menghasilkan berita yang baik pula dan bisa sampai ke masyarakat dengan baik.

Kegiatan yang direncanakan selesai pada pukul 15.00 WITA, ternyata bisa selesai lebih awal. Kami keluar dari ruangan saat adzan dzuhur, tapi masih ada satu kegiatan lagi yang harus dilaksanakan, sehingga kami tidak diizinkan pulang oleh panitia.

Aku langsung melangkah keluar dari ruang rapat dan masuk ke ruang majalah. Aku meminta izin pada Bu Yeni untuk mengisi daya ponselku dan sholat dzuhur di ruangan tersebut terlebih dahulu. Awalnya, Babe Syafruddin Pernyata mengajakku untuk sholat berjamaah di musholla. Tapi aku memilih untuk sholat di ruang majalah karena ruangan tersebut memiliki bilik kecil yang biasa dipergunakan untuk sholat.

Usai sholat dzuhur, aku bergabung dengan teman-teman untuk makan siang terlebih dahulu sebelum kembali ke ruangan. Begitu panitia mengintruksikan untuk kembali ke ruang rapat, maka kami semua bergegas melangkah masuk kembali ke ruangan tersebut.

Aku pikir, masih akan ada materi tambahan. Ternyata tidak. Kami hanya diminta untuk berfoto bersama karena memang belum ada sesi foto bersama semua peserta dan narasumber.

Aku yang terlambat masuk ruangan, langsung berlari untuk bergabung dengan teman-teman yang lainnya. Di tengah sesi foto, tiba-tiba terdengar musik Jamrud yang begitu khas, yakni lagu Selamat Ulang Tahun.

Semua peserta bersuka cita menyanyikan lagu "Selamat Ulang Tahun" yang ditujukan kepada Babe Syafruddin pernyata yang kebetulan sedang berulang tahun hari ini, tepat pada tanggal 28 Agustus 2025.

Panitia memberikan kejutan kecil kepada Babe Syafruddin Pernyata dan kami pun ikut terlarut dalam suasana pelatihan yang begitu hangat.

Setelah selesai berfoto-foto ria, semua peserta membubarkan diri karena acara sudah usai. Aku melangkah keluar ruangan, sama seperti yang lain. Ada harapan kecil yang tersemat di genggaman tanganku. Semoga, aku bisa membawa literasi yang lebih baik di daerahku.
Aku tahu, workshop jurnalistik seperti ini bukanlah hal baru untukku. Aku sudah sering mengikuti pelatihan/workshop tentang jurnalistik. Tapi aku masih punya keinginan besar untuk belajar sesuatu yang baru. Motivasi terbesarku selain belajar hal-hal baru adalah bisa bertemu dengan orang-orang yang sejalan dengan dunia literasi, yakni orang-orang yang mencintai buku.
Bisa bertemu dengan Bunda Yeni, Babe Syafruddin Pernyata, dll. adalah momen yang sangat mahal bagiku. Aku tidak hanya harus mengeluarkan uang bensin untuk bisa bertemu dengan mereka. Aku juga sudah mengerahkan seluruh waktu dan tenagaku untuk bisa sampai di tempat ini. Begitu sulitnya bertemu dengan orang-orang hebat ini. Terkadang, kita tidak bertemu lagi sampai 1 atau 2 tahun ke depan.
Semoga Allah berikan kesehatan dan kemudahan rezeki untukku agar aku bisa memberikan dedikasi yang baik untuk negeriku, juga bisa lebih sering bersilaturahmu kepada senior-seniorku. Aamiin.

Saturday, August 30, 2025

Read Aloud di Desa Perangat Baru

 

Selasa pagi, 26 Agustus 2025, langit pagi di Desa Perangat Selatan sangat cerah. Tapi, aku tidak buru-buru pergi mandi. Aku ingin sedikit bersantai sebelum aku pergi menuju Desa Perangat Baru.
Sebelumnya, aku harus bersiap-siap sebelum jam 7 pagi karena harus menempuh perjalanan jauh. Kali ini aku lebih santai karena Desa Perangat Baru dapat ditempuh dalam waktu 10 menit dari tempatku menginap. 
Tepat pada jam 10.00 WITA, aku sampai di Kantor Desa Perangat Baru. Staff di sana sudah menungguku. Bahkan, beberapa warga sudah menunggu di ruang BPU desa tersebut. 
Aku langsung masuk ke ruang kantor tersebut dan melakukan inventarisasi aset-aset yang dimiliki oleh perpustakaan desa tersebut. 
Tak lama kemudian, kami bergeser ke ruang BPU untuk melakukan sosialisasi Relima kepada masyarakat Desa Perangat Baru. 
Saya merasa sangat senang karena mendapat sambutan baik dari masyarakat desa tersebut. 
Sosialisasi Relima selesai tepat pada pukul 12.00 WITA. Kepala Desa Perangat Baru langsung mempersilakan kami untuk makan siang usai sholat dzuhur. 
Tak cukup sampai di situ. Pihak pemerintah desa Perangat Baru juga telah menyiapkan kegiatan berikutnya, yakni Read Aloud. 
Perpustakaan desa di sini telah memiliki bangunan sendiri. Design bangunan juga memiliki gaya arsitektur yang unik. Hanya perlu beberapa langkah dari kantor desa untuk bisa sampai ke gedung perpustakaan. 
Saat memasuki gedung Perpustakaan Iqro' Smart, aku langsung disambut dengan tumpukan buku-buku yang sedang dipilah oleh pengelola perpustakaan. 
Ada sekitar 2.000 buah buku di perpustakaan ini. 1000 buku bantuan dari Perpusnas sudah tersusun rapi di rak. Sementara sisanya masih diletakkan di dalam kardus karena belum memiliki rak buku. 
Bangunan perpustakaan ini berlantai kayu ulin yang khas. Namun, terhubung dengan ruangan yang dibangun permanen. Di dalam ruangan itulah anak-anak TK/PAUD Kusuma Bangsa telah berkumpul untuk membaca buku bersamaku. 
Wajah-wajah mungil murid TK itu sangat antusias dan ceria. Membuatku  begitu bersemangat untuk membaca nyaring. Sayangnya, aku tidak sempat menyiapkan hadiah kecil untuk mereka, sehingga ada beberapa anak yang asyik main sendiri dan tidak memperhatikan apa yang sedang kubaca. Tapi tak apa, hal normal bagi anak-anak jenjang TK/PAUD.
Usai Read Aloud, aku langsung pamit pulang. Namun, ada hal yang menarik perhatian sebelum pulang. Ternyata, buku-buku di sana belum dikatalogisasi. Sehingga, aku memberikan saran dan masukan untuk segera dikatalogisasi agar mudah dalam mencari buku bacaan. 
Setelah semua selesai, aku kembali berpamitan untuk pulang. Kali ini benar-benar pulang. 
Aku mengendarai sepeda motor menuju Perangat Selatan. Sesampaiya di rumah, aku langsung beristirahat. Aku harus re-charge energi untuk esok hari. Sebab, esok harinya aku masih harus giat ke Desa Santan Ilir yang jaraknya sekitar 2 jam dari Desa Perangat Selatan. 
"Sehat-sehat, ya, badan! Masih banyak amanah dari Tuhan yang harus kita jalankan!" 💪💪💪




Thursday, August 28, 2025

Perjuangan Relawan Literasi di Ujung Perbatasan Kukar | Audiensi Relima Ke SMP Negeri 5 Marang Kayu Desa Semangko

 


25 Agustus 2025.

Pagi-pagi aku sudah disibukkan dengan banyak hal, padahal aku sedang menginap di rumah orang. Karena aku bangun kesiangan, jadi semuanya terkesan terburu-buru. 
Perjalanan semalam cukup melelahkan. Aku harus menempuh perjalanan sekitar 5 jam dari Samboja untuk bisa sampai ke sini. Jadi, tubuhku cukup lelah sehingga baru bangun di jam enam pagi. 
Aku langsung bergegas mengurus suamiku. Sebab, ia harus segera pulang ke Samboja untuk bekerja. Dia hanya mengantarku ke tempat ini karena aku tidak berani mengendarai motor seorang diri di malam hari. 
Menurut informasi, bus jurusan Bontang-Balikpapan akan tiba pada pukul 07.30 WITA. Jadi, kami harus bergegas agar tidak ketinggalan bus. 
Kami bergegas menuju salah satu rumah makan, tempat biasanya bus ngetem di sana. 
Begitu suamiku berangkat ke Samboja dengan menggunakan bus, aku langsung kembali ke rumah. Menunggu staff Pusda Kukar yang mendampingik datang. 
Awalnya, aku ingin pergi ke Desa Semangko menggunakan sepeda motor, tapi Staff Pusda melarangku dan memintaku untuk ikut serta dalam mobil mereka. 

Sekitar jam sembilan pagi, kami mulai bergerak menuju SMP Negeri 5 Marang Kayu yang terletak di Desa Semangko, Kecamatan Marang Kayu. 

Begitu sampai di SMP Negeri 5 Marang Kayu, kami disambut dengan baik dan ramah oleh Kepala Sekolah (Bapak Parmaiyanto, S.Pd, M.Pd). 

Kami berbincang sejenak di ruang kepala sekolah. Kemudian, aku memilih untuk berdiskusi dengan murid-murid tentang literasi dan bagaimana menjadikan perpustakaan sekolah sebagai pusat belajar, bukan sekedar ruang tempat menyimpan buku yang tak pernah dilirik, apalagi dijadikan tempat yang nyaman untuk berkegiatan. 

Dalam kegiatan diskusi dengan murid-murid, aku bisa menangkap bahwa pemikiran mereka tentang literasi hanya sebatas membaca. Padahal, literasi jauh lebih luas dari membaca di mana goals dari literasi adalah untuk kesejahteraan. 

Dalam diskusi, aku juga menyampaikan kepada pengelola perpustakaan dan kepala sekolah untuk memiliki akun instagram dan website yang bisa memublikasikan kegiatan-kegiatan sekolah dan juga prestasi sekolah. Sebab, SMP Negeri 5 Marang Kayu termasuk sekolah yang sangat aktif dan memiliki banyak prestasi, tetapi tidak terpublikasikan dengan baik. 

Usai berdiskusi dengan murid-murid, aku bergeser ke ruang perpustakaan untuk melakukan inventarisasi. Namun, ada hal tak terduga ketika aku mempertanyakan keberadaan buku bantuan dari Perpusnas RI. 
Pihak sekolah menyatakan tidak pernah menerima bantuan buku dari Perpusnas RI. Hal ini tentu mengejutkanku dan mencoba untuk menelusuri keberadaan buku bantuan tersebut. 


Aku segera menghubungi Kepala Desa Semangko. Mungkin saja buku bantuan dari Perpusnas RI masih nyangkut di kantor desa. Tetapi, kepala Desa juga mengatakan tidak menerima bantuan dan tidak ada BAST buku bantuan dari Perpusnas RI yang disalurkan ke SMP Negeri 5 Marang Kayu. 

Setelah berdiskusi selama beberapa saat, aku berpamitan untuk pulang. Maka, aku punya PR baru untuk menelusuri keberadaan bantuan buku tersebut bersama Satgas Relima Perpusnas RI di kantor pusat Jakarta. 

Perjalananku tak selesai sampai di sini. Aku dan tim Pusda Kukar masih harus pergi ke Desa Santan Ilir untuk mengambil visum perjalanan Staff Pusda karena mereka hanya bisa mendampingiku selama 2 hari, sementara kegiatanku akan dilakukan selama 3 hari. Alhasil, kami harus bergerak ke Desa Santan Ilir terlebih dahulu meski nantinya aku akan kembali ke desa tersebut pada tanggal 27 Agustus 2025 sesuai jadwal. 

Ternyata, Desa Santan Ilir berada di ujung perbatasan antara Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Bontang. Jalan menuju ke desa tersebut juga rusak dan sulit dilalui mobil karena sedang ada proyek pembangunan jalan. Hal ini, menjadi bahan pertimbangan kami untuk pulang melalui jalan lain, yakni lewat Bontang. 

Jarak tempuh pulang ke rumah tentunya lebih lama dan melelahkan agar mobil tetap aman (tidak nyangkut). Untungnya, kami menggunakan mobil. Jadi, aku bisa tidur sebentar di perjalanan. 

Aku baru sampai di Perangat Selatan menjelang magrib. Awalnya, aku pikir akan pulang saat tengah hari sehingga aku bisa ikut nonton pertandingan volly di Perangat Selatan. Tapi, perjalanan panjang membuatku tak bisa menonton pertandingan volly. Aku memilih untuk berbaring di kamar, mengistirahatkan tubuh dan pikiran yang sudah lelah beraktifitas seharian. 

Ada jiwa yang harus aku re-charge secepatnya karena esok harinya masih ada giat Relima di Desa Perangat Baru. 



[Cerita Relima Kukar] Semangatku Dimulai dari Marang Kayu

 



Embun pagi di Desa Perangat Selatan begitu menyejukkan. Langit terlihat cerah meski matahari belum terbit. Cuaca pagi di desa ini cukup dingin, tapi juga ada sedikit kehangatan. 
Aku menyusuri jalan aspal tanpa alas kaki. Katanya, ini baik untuk melancarkan peredaran darah. Sekaligus aku bisa menikmati pemandangan pagi yang indah.
 
Sudah satu malam aku menginap di rumah orang tua temanku yang berada tepat di kilometer 79 jalan poros Samarinda-Bontang. 

Awalnya aku bingung harus menginap di mana. Terlebih aku tidak pernah pergi ke Marang Kayu dan tidak punya kenalan di tempat ini. Tapi kemudian, Allah memberikanku sebuah kesempatan yang baik. 
Ternyata, aku punya kenalan bernama Linda. Dia tinggal di Perangat Selatan. Aku rasa, Perangat Selatan berada di Kecamatan Marang Kayu. Kami berkenalan saat mengikuti pelatihan konstruksi di Smart Academy sekitar tahun 2018.

Ah, ternyata sudah 7 tahun berlalu dan kami tidak pernah bertemu. Tapi Linda masih menyimpan nomorku, begitu juga sebaliknya. Sehingga kami kerap saling tahu lewat psan Whatsapp. Terkadang kami menyapa sesekali. 

Satu hari sebelum keberangkatan, aku mengirimkan pesan pribadi pada Linda. Dia langsung menyambutku dengan ramah. Bisa kupastikan kalau Linda berada di wilayah Marang Kayu. 

Sebelum bertanya soal penginapan, Linda memberikan tawaran lebih dahulu untuk menginap di rumahnya saja. 

"Wah ...! Serius!?" Mataku langsung berbinar. Baru saja aku ingin meminta izin untuk bisa menginap di rumahnya. Tapi Linda memberikan tawaran lebih dulu. 

Tentunya aku sambut dengan sangat bahagia. Sebab, ini bisa mengurangi biaya penginapanku. Sebab, Relima tidak ditanggung biaya perjalanan dan penginapannya oleh Perpusnas RI. 

Aku merasa lega setelah aku bisa mendapatkan tempat untuk menginap. Setidaknya, aku tidak harus menginap di musholla/masjid untuk menghemat pengeluaran. 

Aku langsung bersiap-siap pergi ke Desa Perangat Selatan, Kecamatan Marang Kayu. Awalnya aku ingin berangkat pagi hari, tapi tidak bisa kulakukan karena aku masih harus mengisi kegiatan di daerahku. 

Pagi hari di tanggal 24 Agustus, cuaca hujan. Hingga tengah hari, hujan tak kunjung reda. 

"Ya Allah, gimana mau berangkat ke Marang Kayu kalau hujan terus kayak gini? Apa nggak kemalaman sampai sana?" batinku sembari menatap langit yang sedang mendung dari balik jendela kamarku. 

Aku berbaring di dalam kamar sembari menunggu cuaca bagus. Selain hujan yang mengguyur, listrik di kampung kami juga padam. Setiap listrik padam, jaringan seluler juga ikut menghilang entah ke mana. Membuatku tak bisa melakukan apa pun selain berdiam diri di dalam kamar. Aku menunggu waktu menunjukkan pukul 12.00 WITA karena asa jadwal menjadi juri lomba pada jam 12.30 WITA. 

Sementara itu, suamiku masih sibuk berkutat si teras belakang rumah. Ada beberapa pekerjaan rumah yang harus ia rapikan dan aku tidak berani mengganggunya. 

Tepat di jam 3 sore, suamiku menyelesaikan pekerjaannya. Kami pun segera bersiap-siap untuk pergi ke Perangat Selatan menggunakan sepeda motor. Kami pun masih harus memenuhi undangan khitanan dari salah satu guru Arga di sekolah. 

Tepat di jam 17.30 WITA, kami baru keluar dari jalan polewali kilometer 48. Dengan cepat, suamiku melaju kencang menuju ke Kecamatan Marang Kayu. 
Setelah melewati banyak drama, akhirnya kami sampai di Perangat Selatan pada jam 22.30 WITA. 

Aku kira rumah kayu bercat biru itu adalah rumah Linda. Ternyata bukan. Ini adalah rumah orang tua Linda. Rumah Linda masih jauh dari tempat ini dan berada di tempat yang sepi. Itulah mengapa orang tua Linda meminta agar aku menginap di sini saja agar aku tidak kesepian. 

Karena hari sudah malam, suamiku ikut menginap semalam. Ia baru pulang pagi harinya menggunakan bus rute Bontang-Balikpapan karena dia harus bekerja. 

Rumah mungil milik orang tua Linda ini sangat hangat dan ramah. Semua menyambutku dengan begitu baik, terutama Linda. 
Aku bisa menginap di rumah ini tanpa harus mengeluarkan biaya penginapan. Bahkan, setiap pagi sudah tersedia sarapan untukku. Sungguh, ini adalah berkah yang luar biasa dari Allah. 
Aku bersyukur, Allah selalu pertemukan aku dengan orang-orang baik. Aku merasa sangat terbantu ketika aku diberi tempat menginap yang sehangat ini. 
Meski bangunannya sederhana, tapi isi di dalamnya sangat mewah bagiku. Aku merasa begitu nyaman sampai aku sering bangun kesiangan setiap paginya. Untungnya, semua kegiatan Relima dijadwalkan pada jam 10 pagi. Jadi, aku tidak terlalu terburu-buru. 

Pagi ini, aku siap memulai perjalanan Relima Kukar dari Perangat Selatan. Aku akan berkegiatan selama 3 hari karena 3 desa ya g ada di sini berjauhan. Hari pertama aku harus ke Semangko, jarak tempuhnya sekitar 1,5 jam dari Perangat Selatan. Hari Kedua aku bergiat di Desa Perangat Baru. Desa ini cukup dekat, hanya 10 menit saja dari rumah Linda. Hari Ketiga aku harus ke Desa Santan Ilir yang jarak tempuhnya sekitar 2 jam dari Perangat Selatan. 

Kunjungan-kunjungan ini harus menggunakan dana pribadi karena tidak di-cover oleh Perpusnas RI. Sehingga, aku harus menghemat biaya perjalanan dan penginapan agar pengeluaranku tidak membengkak. 

Sebagai relawan, aku dituntut untuk selalu ikhlas menjalani segalanya. Bahkan, aku merasa kalau aku bukan hanya sebagai relawan literasi untuk Perpusnas RI, tapi juha sebagai donatur untuk kegiatan ini. 

Apa diriku sudah kaya sampai harus jadi donatur? Semoga saja segera diberi banyak kekayaan. Supaya kalau aku bergiat sebagai relawan, aku tidak perlu mikir dua kali untuk mengeluarkan uang pribadiku. Aku yakin, Allah pasti akan menolongku. Ia tidak akan membiarkan aku berjalan seorang diri selama itu berada di jalan kebenaran. 

Jika kamu membaca tulisan ini, maka bacalah tulisan-tulisanku yang lain. Bantu aku untuk menghasilkan uang yang bisa aku sedekahkan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa lewat literasi dan juga membantu anak-anak Palestina. 
Terima kasih.. 🙏

Tuesday, August 26, 2025

Audensi Relima Kaltim ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim

 



Selasa, 22 Juli 2025


Sudah 21 hari aku dilantik sebagai Relima Lokus Kukar. Tapi masih belum tahu apa yang harus aku lakukan sampai atribut Relima benar-benar datang. Terkadang aku juga ragu, mungkinkah Perpusnas RI benar-benar menjadikanku sebagai Relima (Relawan Literasi Masyarakat) dengan segala kekurangan yang ada. 

Aku tidak sendiri. Ada dua orang teman yang berasal dari Kaltim. Yakni Pak Budi Utomo (Lokus Balikpapan) dan Dodi Wahyudi (Lokus Paser). Kami bertiga resmi dilantik sebagai Relima (Relawan Literasi Masyarakat) karena dianggap memiliki pergerakan dan kontribusi yang baik di bidang literasi dan pendidikan masyarakat. 

Setelah SK dari Perpusnas RI keluar, kepalaku langsung cenut-cenut karena ada sekitar 45 Perpustakaan Desa dan taman baca yang harus kami datangi. Tantangan terbesar di wilayah Kutai Kartanegara adalah letak geografisnya. 

Kutai Kartanegara memiliki luas wilayah sebanyak 27.263,10 km2. Sangat jauh berbeda dengan kota Balikpapan yang memiliki wilayah 503,3 km2 dan kota Samarinda yang memiliki luas wilayah sekitar 718 km2. Bisa dibilang wilayah Kutai Kartanegara 54 kali lebih luas dari kota Balikpapan dan 38 kali luas kota Samarinda. 

Letak geografis Kutai Kartanegara ini menjadi tantangan yang sangat besar bagiku. Pasalnya, Perpusnas RI tidak memberikan uang transport atau uang makan untuk menjangkau ke daerah-daerah tersebut. Sebagai Relawan, aku harus menggunakan uang pribadi yang nilainya tidak sedikit. Uang honor yang hanya 2juta per bulan, tidak cukup untuk menjangkau satu desa yang jaraknya hampir 200 kilometer dan harus menyebrang menggunakan kapal. Biaya satu kali perjalanan, aku harus menghabiskan dana sekitar 3 jutaan.

Lalu, bagaimana aku mensiasatinya? Uang honor yang bisa aku gunakan untuk mendukung kegiatan literasi, sepertinya sudah habis untuk biaya perjalanan, bahkan harus nombok. 

Cukup lama aku dan Relima Kaltim lain berdiskusi. Kami sama-sama tidak punya solusi selain meminta bantuan pada pihak-pihak terkait. Salah satunya adalah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim. Meski kami tidak berharap banyak, tapi kami berharap itu bisa memudahkan dan meringankan langkah kami. 

Setelah berusaha menghubungi beberapa teman di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim, akhirnya kami sepakat untuk berkunjung ke DPK Kaltim pada tanggal 22 Juli 2025.

"Berangkatnya gimana? Sendiri-sendiri atau bareng? Uang Transport bagaimana?" Pak Budi, koordinator Relima Kaltim mencoba mengingatkan. 

"Kita iuran saja, Pak," ucapku via pesan Whatsapp. 

"Ya, sudah. Saya yang sewa mobilnya, kalian berdua yang isi minyaknya," ucap Pak Budi. 

"Wah ...! Beneran, Pak?" Mataku langsung berbinar melihatnya. "Biaya untuk beli minyaknya kira-kira berapa?"

"Dua ratus ribu cukup," jawab Pak Budi. "Untuk makan, kita beli masing-masing aja."

"Siap, Pak!"

Akhirnya, kami berangkat pada tanggal 22 Juli ke Kantor DPK Kaltim. Dodi Wahyudi yang berasal dari Paser, harus berangkat pukul 01.00 dinihari menggunakan bus agar bisa bertemu dengan Pak Budi di Kota Balikpapan. Sementara, aku menunggu di jalan poros Km.48, tepat di jalan poros Balikpapan-Samarinda. 

Untuk bisa sampai keluar ke jalan poros, aku juga masih harus menempuh jarak sekitar 11 kilometer. Jalan di lokasi tak semulus jalan di peta. Jalan rusak (eks. tambang) yang harus kami tempuh, membuat perjalanan jadi lebih lama dari perkiraan. 

Aku menunggu cukup lama di depan Toko Padil Jaya kilometer 48. Sebab, Pak Budi masih menunggu Dodi datang dari Paser. Bukan sekedar naik bus, Dodi masih harus menyebrang laut dari penajam untuk bisa sampai ke kota Balikpapan. Sekali lagi, perjalanan kami di daerah tak semulus jalan di peta. 


Kami sudah membuat janji dengan staff Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim untuk bertemu pada pukul 10.00 WITA. Sementara, kami masih berada di kilometer 48 pada pukul 08.30. Akhirnya, kami memilih jalur tol supaya bisa sampai tepat waktu. Meski kami harus keluar biaya lagi untuk bayar tol, tidak apa-apa. Itu lebih baik daripada kami datang terlambat dan membuat orang dinas menunggu kami. 

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, akhirnya kami sampai juga di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim. Begitu sampai, tidak ada ruangan lain yang kami tuju selain mencari toilet karena sudah cukup lama berada di perjalanan. Tak hanya itu, Dodi yang berangkat dari rumah pukul 01.00 dinihari, perlu mandi terlebih dahulu sebelum bertemu dengan orang dinas. Tentunya, aku harus menunggu Dodi selesai mandi dan berganti pakaian agar kami bisa bertemu dengan Kepala Dinas dalam keadaan bersih dan nyaman. 


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kami diarahkan untuk naik ke lantai 2. Staff yang sudah berkoordinasi dengan kami, sudah menunggu di depan ruang rapat /meeting room. 
"Mbak, mohon maaf, Kepala Dinas tiba-tiba ada acara di Kantor Gubernur. Jadi, tidak bisa hadir pagi ini," ucap staff yang bertemu dengan kami. 
Kami bertiga menghela napas kecewa, tapi bibir kami tetap berusaha untuk tersenyum. 
"Nggak papa, Bu. Kami bisa bertemu dengan staff bidang yang berkaitan dengan tugas kami saja," ucapku. 
Bagi kami, bisa bertemu dengan staff bidang saja sudah cukup. Dalam hal ini, kami tidak harus membuat laporan dengan sempurna. Yang penting, kami sudah melakukan upaya advokasi ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim. Untuk hasilnya seperti apa, kami harus melaporkan apa adanya. Bentuk dukungan seperti apa yang akan diberikan oleh pemerintah Provinsi, yang akan menilai adalah tim dari Perpusnas RI, bukan bergantung pada kami. 

Setelah berkenalan dan berdiskusi cukup lama, kami akhirnya berpamitan untuk pulang. Pihak DPK Kaltim mengaku sangat terbantu dengan adanya Relima, tapi mereka juga tidak bisa berbuat banyak karena saat ini pemerintah sedang melakukan efisiensi anggaran. Tentunya, kami juga tidak bisa berharap banyak pada mereka. 

Apalagi yang harus kami lakukan? Sudah jauh-jauh datang ke Samarinda dengan effort yang luar biasa, ternyata kami tidak bisa bertemu dengan Kepala Dinas. Kami berniat untuk menunggu Kadis kembali ke kantor, tapi sepertinya beliau tidak akan kembali karena urusannya belum selesai. 

Kami tidak tahu harus melakukan apa lagi. Aku langsung turun ke lantai dasar, menemui salah satu orang yang aku kenal saat aku mengikuti karantina Duta Baca pada tahun 2018, yakni Bunda Yeni. 

Aku sangat bahagia bisa bertemu langsung dengan Bunda Yeni setelah sekian lama. Bertemu dengan dia adalah hal yang mahal bagiku. Karena kami harus menempuh perjalanan jauh untuk bisa bertemu. 

Waktu sudah masuk waktu sholat dzuhur. Aku langsung meminta izin untuk sholat. Bu Yeni mengarahkanku untuk sholat di ruang majalah, tempat dia bekerja. Kebetulan, ada ruang kecil yang digunakan untuk sholat. 

Usai sholat, aku keluar ke lobi. Sejak awal, aku sudah berencana untuk membuat kartu anggota. Sebelum bertemu Bunda Yeni, aku sempat mengisi formulir untuk membuat kartu anggota. Sayangnya, formulir yang aku isi gagal dan tidak bisa cetak kartu. Jadi, aku mengisi kembali formulir baru supaya bisa mendapatkan kartu anggota perpustakaan provinsi. 

Begitu selesai mendapatkan kartu anggota perpustakaan, aku dan dua Relima lain bergeser ke belakang gedung, ke kantin. Karena perut kami sudah lapar. Sejak keluar rumah, kami bertiga belum ada yang sarapan. Rencananya mau sarapan bersama di perjalanan. Tapi semua tak sesuai rencana. Waktu kami sangat mepet, sehingga kami baru bisa sarapan setelah sholat dzuhur. 

Di kantin, kami melanjutkan perbincangan tentang tugas dan tantangan Relima. Terutama Relima Kukar yang tantangannya jauh lebih besar. Tidak ada hal lain yang aku pikirkan selain memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang transport agar aku bisa berkegiatan. Sepertinya bisnis-bisnis kecilku masih kurang untuk menopang semuanya. 

"Huft ...! Andai aja aku punya bisnis besar dan uangku banyak. Nggak perlu mikir dua kali untuk sedekahkan hartaku di jalan literasi ini," batinku sembari mengaduk kuah rawon yang sudah tersedia di hadapanku. 

"Meningkatkan literasi itu tugas negara, Rin. Ngapain kamu capek-capek ngurusin hal-hal yang seharusnya jadi tanggung jawab negara? Digaji kagak, keluar duit terus, iya." Kalimat jelek itu lagi-lagi muncul di kepalaku. Iblis di hatiku memang sering mengajakku bicara. 

Kalau aku mikir ... ini tugasnya negara, nggak akan ada yang benar-benar peduli pada kemajuan di negeri ini. Sekolah kini hanya jadi formalitas untuk memenuhi gengsi atas status sosial. Bukan untuk mencetak generasi yang benar-benar unggul dan cerdas. 

Kalau mikir ... nunggu kaya dulu baru bantu orang, kapan aku kaya? Karena standar kekayaan setiap orang itu berbeda. Kaya buatku, belum tentu kaya di mata orang lain. 

Aku ingin jadi orang yang bermanfaat. Yang bisa aku sedekahkan adalah ilmu dan sedikit harta yang aku punya. Aku tidak ingin hidupku berakhir dengan hal yang sia-sia. Sekedar cari makan, kemudian mati. 

"Kita ke mana lagi, nih? Mumpung free," tanya Pak Budi. 
"Bebas, Pak. Saya ngikut saja," jawabku. 
Kami bertiga seperti orang yang nggak punya kerjaan dan bingung mau ngapain. 
Awalnya, kami ingin main ke Tirtonegoro Foundation atau ke Kampoeng Dongeng Etam Samarinda. Tapi ternyata, pemiliknya sedang sibuk berkegiatan. Kalau mainnya terlalu sore, nanti kemalaman sampai rumah. 

Alhasil, kami memilih untuk langsung pulang saja. Dodi tak lagi ikut bersama kami. Aku hanya berdua dengan Pak Budi saja. Kami berbincang banyak hal, terutama tentang bagaimana mensiasati pergerakan Relima Kukar yang lokus kerjanya sangat luas. 

Kami tak berharap banyak, hanya berharap pengabdian kami bisa dimudahkan dan diberikan keberkahan. Karena reward terbaik adalah reward yang diberikan oleh Allah. 






Tuesday, August 19, 2025

THEN LOVE BAB 15 : TAK INGIN BERPISAH

 BAB 15 - Tak Ingin Berpisah



Pagi ini Delana dibuat tergesa-gesa berangkat ke kampus karena ia bangun kesiangan. Ia bahkan tak sempat membuatkan sarapan pagi untuk ayah dan adiknya. Ia kelelahan setelah kembali dari Pulau Derawan.

Delana langsung berlari secepatnya menuju kampus. Ia melewati taman tempat biasa dia dan Chilton bertemu. Ia tahu Chilton ada di sana, tapi ia tak punya banyak waktu untuk menyapa. Ia langsung masuk ke kelas karena dosen yang mengajar juga sudah berada di dalam kelas.

“Pagi, Pak! Maaf, saya terlambat,” tutur Delana begitu ia memasuki kelasnya.

Dosen yang mengajar langsung melirik jam yang ada di tangannya. “Jam berapa ini?”

“Jam delapan lewat lima belas, Pak.”

“Kenapa terlambat?”

“Bangun kesiangan,” jawab Delana lirih.

“Cewek, jam segini baru bangun,” celetuk dosen tersebut.

“Huu ....!” Terdengar teriakan riuh di dalam kelas saat mereka mendengar celetukan dosen. Beberapa cewek di kelasnya sengaja nyinyir dan membully Delana.

“Ya sudah, duduk!” pinta dosen.

Delana tersenyum kecut sembari melangkahkan kaki menuju kursinya. Ia bisa mendengar suara beberapa cewek kelas yang sengaja mengejeknya. Delana hanya menghela napas dalam-dalam sambil tersenyum agar perasaannya tetap baik-baik saja. Ia sudah terbiasa mendengar komentar pedas dari cewek-cewek di kampusnya. Terlebih lagi soal kedekatannya dengan Chilton.

Menjadi satu-satunya cewek yang berhasil mendekati Chilton, cowok paling keren dan populer di kampusnya. Tentunya ia menjadi satu-satunya sasaran kekesalan cewek-cewek yang tidak berhasil mendekati Chilton.

Delana tak ingin terlalu memikirkan hal itu. Ia tetap bersikap santai dan tidak pernah menanggapi celetukan-celetukan pedas tentangnya.

Sementara itu, Chilton menunggu Delana di taman kampus. Ia mengetahui kalau Delana sudah kembali dari liburannya dan seharusnya ia sudah masuk hari ini.

Beberapa menit menunggu, Delana tak kunjung datang. Ia mulai gelisah karena cewek itu mulai membuatnya tak tenang.

Chilton mencoba menelepon Delana, tapi tak kunjung mendapat jawaban.

“Sorry, aku nggak bisa angkat telepon kamu, chat aja! Aku gak sempat mampir ke taman karena aku telat berangkat ke kampus.” Delana mengirim pesan singkat untuk Chilton.

Chilton mendesah. Ia menyimpan kembali ponsel ke saku kemejanya dan bergegas menuju kelasnya yang ada di lantai dua.

Setelah mata kuliah selesai, Chilton menunggu Delana di depan kelasnya. Ia menyandarkan punggungnya di dinding. Saat Delana dan teman-temannya keluar dari dalam kelas, Chilton langsung menarik lengan Delana agar merapat ke tubuhnya.

“Chilton?” Delana terkejut karena Chilton menarik tubuhnya dengan tiba-tiba. Ia menoleh ke sekitar karena beberapa teman sekelasnya banyak yang menatap mereka berdua.

Chilton meringis. “Yang baru pulang dari liburan, mana oleh-olehnya?”

Delana tersenyum. “Oleh-olehnya capek.”

Chilton tertawa kecil. “Pergi liburan nggak ajak-ajak. Pulangnya nggak dibawain oleh-oleh pula.”

Delana menggigit bibirnya. “Maaf, aku nggak sempet cari oleh-oleh. Ayah juga ngajaknya mendadak banget.”

Chilton tersenyum. “Iya, nggak papa. Jam istirahat tadi ke mana?” tanya Chilton.

“Kamu nyari aku?” tanya Delana balik.

“Ck, kalo aku tanya, artinya aku tadi nyari kamu,” tutur Chilton sedikit kesal.

“Oh ... aku ke ruangan rektor tadi.”

“Ngapain?” tanya Chilton.

“Dipanggil.”

“Oh ... sore ini ada jadwal ngajar kan?” tanya Chilton.

Delana menganggukkan kepala.

“Mau bareng?”

“Nggak usah. Ntar aku berangkat sendiri aja.”

“Kenapa?”

“Nggak papa. Aku juga  udah izin telat karena ada urusan.”

“Oh.”

“Ya udah, aku balik dulu ya!” pamit Delana sembari melangkahkan kaki meninggalkan Chilton yang masih terpaku seorang diri.

Chilton mulai tak mengerti dengan dirinya sendiri. Entah kenapa ia tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak bertemu dengan gadis itu. Tanpa ia sadari, ia merasa rindu dengan kehadiran Delana dalam hari-harinya. Harinya terasa kosong saat Delana tak bersamanya.

 

***

Chilton menunggu Delana di pos security sepulang mengajar. Karena Delana izin satu jam, jadi dia harus mengganti jam izinnya. Ia lebih nyaman menunggu di pos security ketimbang menunggu di dalam bersama guru lain yang kerap menggodanya.

Waktu menunjukkan pukul 19.00 WITA, Delana masih belum keluar juga dari kelasnya. Padahal, murid-murid Delana sudah berhambur keluar dari gedung dan pulang ke rumahnya satu per satu.

“Dela kok lama banget, ya?” gumam Chilton. Ia kemudian memilih untuk masuk lagi ke dalam dan memeriksa keberadaan Delana.

Chilton membuka perlahan pintu ruang kelas tempat Delana mengajar. Ia mendapati ruangan Delana sudah sepi. Hanya Delana yang masih duduk di mejanya sembari mencari sesuatu dari dalam tasnya.

“Kamu masih di sini? Nggak pulang?” tanya Chilton sambil memasuki kelas Delana.

“Pulang, dong. Aku masih cari kunci motorku.” Delana terlihat sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya. Ia mulai tak sabar, ia membalik posisi tas dan membuat semua isinya berjatuhan ke atas meja.

“Kamu taruh di mana?” tanya Chilton.

“Di tas deh kayaknya.” Delana sampai mencari ke bawah meja dan kursi tapi tak juga mendapati kunci motornya.

Chilton akhirnya membantu mencari kunci motor Delana di semua sudut ruangan. Di bawah meja dan kursi murid, di bawah lemari, di lantai-lantai yang kosong. Tapi, mereka tetap tak mendapatkan kunci motor yang mereka cari.

“Coba diingat-ingat lagi, kamu taruh di mana?” tutur Chilton tetap bersikap tenang.

“Iih ... aku dateng langsung masuk kelas. Nggak bisa pulang kalo kunciku nggak ketemu,” rengek Delana. Ia menjatuhkan kepalanya di atas meja dan hampir menangis.

“Nggak ketinggalan di motor?” tanya Chilton.

“Oh, iya ya?” Delana langsung membereskan barang-barang yang terhambur di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas. “Mudahan aja masih ada di motornya.”

“Makanya, kalo naruh barang penting jangan teledor!”

Delana meringis. “Aku buru-buru tadi. Nggak enak sama anak muridku kalo kelamaan.”

“Lagian, kamu ada urusan apa sih tadi?”

“Ada, deh. Urusan cewek!” sahut Delana sambil tersenyum.

“Andalan.”

“Eh!?”

“Kalo ditanya, jawabnya urusan cewek terus.”

“Lah? Cowok juga gitu, kan?”

“Iya. Tapi, nggak kayak kamu.”

“Ya beda lah. Masa aku disamain sama cowok.”

Chilton tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya. Mereka bergegas keluar dari kelas dan berjalan menuju parkiran.

“Loh? Motor aku mana?” tanya Delana ketika sampai di parkiran. Ia hanya mendapati dua motor yang ada di parkiran. Yakni, motor Chilton dan motor security.

“Kamu yakin ke sini bawa motor? Nggak naik angkot?” tanya Chilton.

“Yakin, lah! Masa aku lupa sama motorku sendiri,” gerutu Delana. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju pos security.

“Bisa aja kamu ke sini naik taksi.”

“Chil, aku tuh nggak pikun-pikun banget!”

“Ya, siapa tau aja kamu lupa kalo kamu ke sini naik taksi atau angkot. Berasa bawa motor sendiri gitu.”

“Nggak usah kebanyakan becanda, deh!”

“Pak, lihat motor saya nggak?” tanya Delana pada security yang menjaga.

“Motor yang mana?” Satpam itu balik bertanya.

“Motor Scoopy warna biru putih.”

“Waktu saya sampe sini, cuma ada motor satu aja di parkiran. Motor Ninja merah itu aja.”

Delana dan Chilton saling pandang.

“Yang jaga tadi siang bukan bapak ini,” tutur Chilton.

“Iya, Mas. Baru aja ganti shift.”

“Aku nunggu kamu di pos dari tadi. Pas masuk lagi nyari kamu, kayaknya motor kamu masih ada di parkiran. Tapi, nggak aku perhatiin juga ada kuncinya atau enggak,” tutur Chilton sambil menatap Delana.

“Waktu ganti shift, security yang jaga tadi siang masih ada?” tanya Delana pada satpam yang menjaga.

“Udah nggak ada, Mbak. Karena tadi di jalan ban motor saya bocor. Jadi, agak telat nyampenya.”

“Aduh, gimana dong? Motor aku ke mana?” Delana berlutut ke lantai.

“Di sini ada cctv atau nggak sih, Pak?” tanya Chilton.

“Belum ada, Mas.”

“Terus gimana motor teman saya? Di mana tanggung jawab Bapak sebagai keamanan di kantor ini?” tanya Chilton dengan nada tinggi.

“Maaf, Mas. Ini memang kesalahan kami karena pos security sempat kosong. Tapi, gimana ya, Mas? Kami juga nggak bisa kalau harus gantiin motornya. Gaji kami jadi security nggak seberapa.” Security itu berbicara dengan santai tanpa rasa bersalah.

“Terus gimana ini motor temen saya? Bapak kira barang murah? Kalo kerja yang becus!” sentak Chilton sambil menggebrak meja.

“Ya. Nanti akan saya laporkan ke kantor dulu.”

“Nanti kapan? Udah hilang ini motornya!?”

“Saya telepon bos dulu, Mas.”

“Kalo telpon bos, motor Dela bisa kembali?” tanya Chilton geram.

“Kurang tahu, Mas. Tapi, pasti diusahain.”

“Daripada telpon bos nggak jelas ke depannya. Mending, bapak telpon polisi, deh!”

“Waduh, Mas. Kalo lapor ke polisi, urusannya jadi panjang.”

“Terus, Bapak maunya gimana? Mau diem aja!? Hah!?”

“Kami pasti berusaha untuk bertanggungjawab.”

“Gimana caranya? Motornya udah nggak tahu ke mana.”

“Anu .. Mas ...”

“Anu-anu! Emangnya si anu bisa balikin motor Dela!?” sentak Chilton.

Delana menghela napas, ia mencoba melerai pertikaian di antara keduanya. “Udah, Chil. Nggak usah dibuat ribut!” pinta Delana sambil menarik lengan Chilton dan menjauh dari pos security.

“Del, motor itu bukan barang murah, lho. Ada pos security sampe hilang, saking gimananya coba?” omel Chilton.

“Aku males ribut, Chil. Udahlah biar aja. Nanti aku ngomong sama ayah.”

“Yakin nggak papa?” tanya Chilton.

Delana menganggukkan kepala.

“Ya udah, pulang sama aku aja!” pinta Chilton.

Delana tersenyum. “Aku naik ojek online aja. Helmku ikut ngilang,” ucap Delana lemas.

“Halah ... gampang kalo soal helm doang.” Chilton melangkahkan kakinya menuju pos security. “Pak, pinjem helm!” pinta Chilton dengan sikap ketus.

Security tersebut tak banyak bertanya dan langsung meminjamkan helm miliknya.

“Besok pagi saya balikin!” Chilton bergegas menghampiri Delana yang sudah berdiri di samping motornya.

“Pake helm ini dulu, ya!” pinta Chilton, ia memasangkan helm tersebut ke kepala Delana.

“Emang nggak papa? Kalo bapak itu mau pulang gimana?” tanya Delana.

“Nggak papa.” Chilton mengunci helm yang dipakai Delana. “Lagian, dia aja nggak peduli sama motor kamu yang hilang. Kamu kenapa masih peduli sama dia? Cuma helm butut gini aja nggak ada harganya dibanding motormu yang ilang,” omel Chilton.

“Nggak boleh gitu, Chil. Kasihan bapak itu,” tutur Delana pelan.

Chilton menghela napas panjang dan menatap Delana. “Aku heran, kenapa sih kamu jadi orang kok baik banget?”

Delana tersenyum. “Emangnya jadi orang baik salah?”

“Ya, nggak sih. Tapi ... ah, sudahlah. Besok pagi aku balikin ke sini helmnya. Aku antar kamu pulang dulu.” Chilton menyentuh pipi Delana yang terasa begitu lembut dan dingin.

Delana tertegun menatap Chilton saat tangan hangat itu menyentuh pipinya yang dingin terkena angin malam. Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik sampai akhirnya Chilton menyadari apa yang telah ia perbuat. Tak seharusnya ia memperlakukan Delana seperti seorang pacar sedang ia sendiri tak bisa mengendalikan diri untuk selalu dekat dengan gadis itu.

“Sorry ...!” Chilton menarik tangannya dan langsung menaiki sepeda motor miliknya.

Delana tersenyum. Ia menyentuh pipinya. Sentuhan tangan Chilton masih begitu terasa di pipinya. Ia ingin menghentikan waktu saat itu juga. Andai saja Chilton mengerti kalau ia sangat bahagia saat itu.

“Ayo naik!” perintah Chilton setelah ia menyalakan motornya.

Delana langsung menaiki motor Chilton. Mereka segera keluar dari parkiran.

“Kamu nggak pake jaket?” tanya Delana yang melihat Chilton hanya mengenakan kaos lengan pendek.

Chilton menggelengkan kepala. “Ketinggalan di asrama.”

Delana membuka tas miliknya dan mengeluarkan syal berwarna merah dari dalam tasnya. Ia melingkarkan syal itu di leher Chilton agar tidak kedinginan.

“Nggak kamu pake?” tanya Chilton sembari melirik syal yang sudah melingkar di lehernya.

“Aku udah pake jaket. Lagian aku di belakang, jadi nggak langsung kena angin malam.”

Chilton tersenyum kecil. Ia terus melajukan motornya keluar dari jalan Prapatan.

“Pegangan!” pinta Chilton sembari menarik tangan kanan Delana menggunakan tangan kirinya. Ia meletakkan tangan Delana di atas perutnya. “Pegangan yang kuat!” Chilton menarik satu lagi tangan Delana agar memeluk tubuhnya.

Delana tersenyum. Ia mengeratkan pelukannya. “Chil, makasih ya!” tutur Delana. Ia menempelkan dagunya di pundak kiri Chilton.

Chilton tertawa kecil menanggapi ucapan Delana. Ia mengendarai motor dengan santai sambil menikmati jalanan kota. “Iya. Kamu nggak dimarahi ayahmu kalo motor kamu hilang?” tanya Chilton.

“Pasti dimarahi. Yah, mau gimana lagi? Siapa juga yang mau kehilangan motor? Emang lagi apes aja. Lagian, aku teledor banget naruh kunci di motornya. Kayaknya sih emang nggak aku cabut. Terus, Pak Satpam itu pasti nggak bakal nyadar kalo ada motor keluar pake motor dan helm aku,” cerocos Delana.

“Dikira anak-anak yang les biasa kali ya?” tanya Chilton.

“Nah, bisa jadi gitu juga. Namanya aja kunci aku ketinggalan di motor. Bisa aja yang maling bersikap seolah-olah itu motornya sendiri. Jadi, nggak ada yang curiga.”

“Hmm ... jangan-jangan salah satu anak les yang ngambil motor kamu,” tutur Chilton menduga-duga.

“Nggak boleh nuduh gitu kalo nggak ada buktinya.”

“Iya juga, sih. Tapi, kita bisa tanya-tanya sama anak didik kita. Mereka pasti hafal sama motor kamu. Kalo seandainya teman mereka yang bawa, mereka pasti tahu, Del.”

Delana menghela napas. “Nggak usah kayak gitu, deh! Aku males ribut, Chil. Kalo besok kamu tanya-tanya ke semua anak-anak yang ngeles. Pasti bakal bikin heboh dan bikin resah orang tua murid kita karena mereka pikir tempat kita nggak aman.”

“Terus gimana? Masa iya kamu mau ngasih motor kamu cuma-cuma ke maling? Setidaknya, kita ada usaha buat nyari itu motor.”

“Biar aja. Mungkin dia lagi butuh uang.”

“Nggak bisa gitu, Del. Kalo semua orang mikirnya kayak kamu. Makin banyak maling di dunia ini. Negara kita negara hukum, lebih baik kita lapor ke kantor polisi aja.”

“Hadeh ... itu lagi ribet!” celetuk Delana.

“Kamu ini aneh, lho. Susah banget dikasih tahu!” celetuk Chilton kesal.

“Chil, aku males ribut. Lagian aku selow aja. Kenapa kamu yang ngegas mulu, sih?”

“Emosi aku, Del. Motor itu bukan barang murah.”

Delana tersenyum. “Barang itu masih bisa dibeli. Yang penting kitanya baik-baik aja. Daripada dibegal, dilukai, dibunuh sama malingnya cuma karena dia mau ngambil motor?”

“Ya, iya sih. Tapi kan tetep aja kita bisa lapor polisi biar dibantu nyari motor kamu.”

“Nggak usah, Chil! Aku nggak mau berurusan sama polisi.”

“Kita yang lapor, bukan kita yang dilaporin!” Chilton makin geregetan dengan sikap Delana.

“Sama aja ribetnya.”

Chilton menghela napas. “Ya sudahlah. Aku sudah nggak bisa ngomong apa-apa lagi.”

Delana hanya tersenyum menanggapinya.

Chilton menatap senyum Delana lewat kaca spion. Ia ikut tersenyum dan bangga dengan cewek seperti Delana. Cewek yang sederhana, manis, cantik, baik hati dan selalu sabar menghadapi sikapnya yang dingin.

“Mau jagung rebus?” tanya Chilton ketika ia melihat pedagang jagung dan kacang rebus yang sedang berjualan di pinggir jalan.

“Boleh. Kayaknya enak,” jawab Delana.

Chilton menepikan motor di dekat penjual jagung rebus.

“Paklek, jagungnya berapa duit?” tanya Chilton.

“Lima ribuan.”

“Kalo kacangnya?”

“Mau beli berapa? Lima ribu, bisa. Sepuluh ribu, bisa.”

“Mmh ... sepuluh ribu aja!”

Paklek penjual jagung menganggukkan kepala. Ia membungkuskan kacang rebus ke dalam kantong plastik. “Jagungnya mau berapa?”

“Dua.”

Paklek penjual jagung langsung membungkus dua  buah jagung ke dalam kantong plastik dan menyodorkannya pada Chilton.

Chilton merogoh dompet di sakunya. “Ambil, Del!” pinta Chilton pada Delana agar ia mengambil jagung dan kacang rebus yang sudah disodorkan oleh penjualnya. Ia langsung membayar pesanannnya dan berjalan kembali mendekati motor yang ia parkir di tepi jalan.

“Makan di sini aja, yuk!” Chilton duduk di tepi trotoar, tepat di samping motornya.

“Chil, di sini dilihatin orang, kita kayak orang lagi mojok,” bisik Delana.

“Nggak usah dihirauin!” Chilton mengupas kulit jagung dan melahapnya.

“Nggak enak aja.”

“Buat apa nggak enak? Lihat noh!” Chilton menunjuk dua sejoli yang sedang berpelukan dan berciuman di tempat umum tanpa memperdulikan sekitarnya. “Mereka aja cuek. Serasa dunia milik berdua,” tutur Chilton.

Delana mengerucutkan bibirnya.

“Kenapa? Kepengen?” tanya Chilton. “Sini, aku peluk!” Chilton merangkul bahu Delana.

Delana tersenyum. Ia menundukkan kepala dan membuka perlahan kulit jagung yang sudah ia pegang di tangannya.

“Makannya jangan dilambat-lambatin!” celetuk Chilton. “Ntar kamu sengaja lambat-lambatin biar bisa lama-lama bareng aku.”

Delana mencebik ke arah Chilton.

Chilton tertawa kecil. Untuk pertama kalinya ia dan Delana terlihat begitu dekat. Ia memang menyukai Delana dan mulai terbiasa bersama, membuatnya merasa nyaman berada dekat dengan gadis itu. Ingin sekali ia mengatakan kalau ia menyukai Delana. Tapi, sebagai cowok ia gengsi karena pernah menantang Delana yang ingin sekali bisa merebut perhatian Chilton. “Tak perlu kamu rebut hatiku, sebab aku akan memberikannya cuma-cuma untuk kamu,” bisik Chilton dalam hatinya.

“Del ...!” panggil Chilton perlahan sembari menyandarkan dagunya di pundak Delana.

“Apaan, sih? Geli tau!” Delana menyondongkan badannya agar dagu Chilton tak menyentuh bahunya.

Chilton tertawa kecil dan melepas rangkulannya. Ia meletakkan kedua telapak tangan di lantai belakang tubuhnya, membuat tubuhnya bersandar pada tangannya sendiri. Ia menjulurkan kakinya ke depan lalu menarik napas dalam-dalam.

“Kamu beneran suka sama aku atau nggak sih?” tanya Chilton sambil menatap langit yang bertaburan bintang-bintang.

“Eh!?” Delana langsung menoleh ke arah Chilton yang duduk di sampingnya. “Menurut kamu?” tanya Delana balik.

Chilton tertawa kecil. “Udahlah, lupain aja.”

Setelah menghabiskan jagung dan kacang yang mereka beli. Chilton langsung mengajak Delana untuk melanjutkan perjalanan pulang.

“Mau makan?” tanya Chilton.

“Nggak, ah. Udah malem.”

“Emang kenapa?”

“Lagi diet.”

“Halah ... diet-diet segala. Kemarin-kemarin mau aja makan malam.”

“Beda dong! Kemarin aku belum diet, hehehe. Ini Makan jagung sebiji gin aku udah kenyang.”

“Serius, nggak laper?”

Delana menganggukkkan kepala. “Dua rius.”

“Ya udah. Kita langsung pulang aja!” ajak Chilton.

Mereka kembali duduk di atas motor. Chilton menyalakan motor dan mengendarainya menuju rumah Delana.

Motor Chilton berhenti di depan rumah Delana.

“Nggak mau mampir dulu?” tanya Delana begitu ia turun dari motor.

“Hmm ...” Chilton memutar bola matanya. “Nggak, deh. Aku mau istirahat. Capek banget!” ucapnya sembari memijit-mijit pundaknya.

Delana tersenyum kecut. Jauh di dalam lubuk hatinya ia masih ingin bersama Chilton. Entah kenapa, waktu terasa berputar begitu cepat. Ia tak punya banyak kesempatan untuk menjalani saat-saat romantis bersama Chilton.

“Kamu kenapa?” tanya Chilton menatap wajah Delana.

“Eh!?” Delana mendongakkan wajahnya. “Nggak papa.”

“Kok, murung gitu?” Chilton memerhatikan wajah Delana. Ia menyentuh dagu Delana dan menatapnya lekat.

Delana menarik napas dalam-dalam. Ia tidak mungkin berkata jujur kalau ia sedih karena harus berpisah dengan Chilton.

“Del ..!” panggil Chilton yang melihat Delana masih saja murung dan tak kunjung menjawab pertanyaannya.

Delana menghela napas. Ia sendiri masih tak paham kenapa ia merasa takut kehilangan. Ia takut kehilangan sosok cowok yang kini ada di depannya. Ia takut kehilangan waktu-waktu yang pernah mereka lalui bersama.

“Kamu kenapa sih, Del?” Chilton menggenggam bahu Delana.

Delana menggelengkan kepala. “Nggak papa,” jawabnya dengan nada berat.

“Kamu sakit?” Chilton meletakkan punggung tangannya ke dahi Delana.

Delana menggelengkan kepala perlahan. “Cuma capek, kayaknya butuh istirahat.” Delana menepikan tangan Chilton perlahan.

“Beneran, nggak papa?” tanya Chilton.

Delana mengangguk pelan.

“Oh, ya udah. Masuk, gih! Udah malem,” perintah Chilton.

Delana tersenyum. “Oke. Kamu hati-hati ya!” ucapnya. Ia melangkahkan kaki memasuki halaman rumahnya secara perlahan. Kali ini ia merasa langkahnya begitu berat. Sungguh, ia ingin mengatakan pada Chilton agar cowok itu tetap bersamanya. Tapi, ia sadar kalau ia tidaklah pantas untuk Chilton.

Delana menoleh ke belakang. Chilton masih duduk di atas motor sambil tersenyum menatap Delana. Chilton melambaikan tangan dan membuat Delana tersenyum ke arahnya.

Delana melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Ia melambaikan tangan pada Chilton sebelum akhirnya menutup pintu rumahnya.

Chilton baru menyalakan motornya saat Delana sudah menutup pintu, memastikan gadis itu sudah berada di dalam rumah.


((Bersambung...))

Sunday, August 17, 2025

Novel "Pendamping Nakal " Full Version


Rania tak pernah menyadari jika ia memiliki khodam leluhur yang nakal sejak ia masih kecil. Saat usianya menginjak 16 tahun, ia  berkonflik dengan teman sekelasnya sendiri. Rania tak mampu menahan amarah di dalam hatinya. Ia memgeluarkan banyak makian dalam keadaan emosi. Emosinya yang tidak terkendali membuat pendamping ghaib milik Rania ikut marah. Tanpa Rania sadari, teman yang berkonflik dengannya selalu celaka, bahkan sampai meregang nyawa sungguhan. 
Mungkinkah Rania menyadari apa yang ada di dalam dirinya? 
Berhasilkah Rania mengendalikan dirinya atau justru membunuh lebih banyak orang? 


Baca cerita lengkapnya pada bab-bab berikut ini:

Bab 1 - Pertarungan Pena Rania
Bab 2 - Ketabrak Mobil



Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas