Wednesday, July 16, 2025

Berjuang Demi Literasi Bersama Rintik Hujan di Tenggarong

 


Pagi hari, langit di Rapak Lambur tampak redup. Gumpalan awan mendekap dan menyelimuti desa ini, seolah enggan untuk pergi. Rintik hujan seolah sedang menarik-narik diri untuk tetap bercengkerama dalam selimut. Dingin angin yang masuk lewat sela-sela jendela, membuat enggan untuk bangkit dari peraduan.

Keadaan berbanding terbalik dengan tanggung jawab. Rasa malas harus dikalahkan dengan tanggung jawab dan komitmen yang telah aku buat sendiri. Dengan enggan, aku mengangkat kepalaku dari atas bantal agar tidak terlena dengan nikmatnya rintik hujan di pagi hari.

Aku mengecek jam di ponsel. Waktu masih sangat pagi. Rasanya masih ingin malas-malasan di tempat tidur. Tapi kakak sepupuku sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi. Aku ingin membantu, tapi sepertinya dia tidak membutuhkan bantuan. Ia tidak membuat menu baru, hanya memanaskan makanan yang aku beli semalam, juga menu yang ia buat kemarin.

Ya, aku memang sudah sampai di rumah kakakku sejak semalam. Perjalanan dari Samboja ke Tenggarong bukanlah perjalanan yang pendek.  Sementara, aku harus mengikuti kegiatan ”Bimbingan Teknis Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara” yang dimulai sejak pukul 08.00 WITA. Tentunya tidak bisa bersantai di perjalanan ketika harus berangkat di pagi hari. Jadi, aku memilih untuk berangkat di malam hari dan menginap di rumah kakak sepupuku.

Satu-satunya tempat peraduan ketika aku ke pusat kabupaten ialah rumah ini. Aku tidak punya tempat lain lagi untuk beristirahat. Karena di sinilah rumah keluarga yang paling nyaman.

”Hatchiiim ...!”

Aku menggosok hidungku yang tiba-tiba gatal. Tenggorokanku juga terasa sangat kering dan kepala pening. Sepertinya tubuhku tidak terlalu bersahabat karena semalam terhempas oleh suhu dingin angin malam. Meski sudah mengenakan jaket tebal, perjalanan panjang dan cuaca dingin setelah hujan, membuat tubuhku yang tropis ini mulai protes.

Aku mencari obat di kotak obat milik kakakku. Aku harap bisa menemukan salah satu obat yang biasa aku konsumsi dan cocok di tubuhku. Sayang, aku tidak menemukannya.

Pukul 07.00 WITA, aku mulai resah karena rintik hujan semakin rapat. Aku segera mengunduh aplikasi transportasi online agar bisa sampai ke lokasi pelatihan menggunakan mobil, tidak menggunakan motor. Mengingat cuaca hujan dan tubuhku sedang kurang sehat.

Hampir setengah jam aku mencoba mencari taksi online. Beberapa aplikasi yang aku unduh tidak menemukan driver yang bersedia menuju ke tempat tinggal kakakku. Mungkin karena lokasinya cukup jauh dari pusat kota.

Akhirnya, aku terpaksa menggunakan sepeda motor untuk bisa sampai ke SMA Negeri 2 Tenggarong, tempat di mana aku akan menimba ilmu dan pengalaman baru.

Derasnya hujan, tak mengurungkan niatku. Usai sarapan pagi, aku segera bersiap dan keluar dari rumah. Meski tubuh menggigil kedinginan, tanganku tetap mantap mengenakan mantel dan helm. Usai berpamitan dengan kakak dan suamiku, aku perlahan mengendarai sepeda motor menuju SMA Negeri 2 Tenggarong.

Rinai hujan membuat jalanan licin. Membuatku tidak bisa melaju kencang seperti biasanya. Aku memilih mengendarai motor dengan hati-hati sembari menahan gemeletuk gigi karena kedinginan. Semakin lama di perjalanan, semakin lama juga tubuhku harus menahan dingin.

Di perjalanan aku terus berpikir ... di mana letak SMA Negeri 2 Tenggarong ini. Sebab, aku belum pernah ke sana. Meski sudah diarahkan berkali-kali, aku tetap tidak percaya diri karena aku adalah manusia yang buta arah dan kesulitan membaca peta. Meski pakai Google Maps, aku masih saja sering kesasar.

   Pukul 08.20 WITA, aku masih berada di perjalanan. Sementara kegiatan akan dimulai pada pukul 08.00 WITA apabila sesuai jadwal. Aku sangat khawatir jika terlambat terlalu lama. Rasanya pasti akan sangat canggung ketika aku datang terlambat seorang diri.

Beruntungnya, masih banyak peserta yang belum datang ketika aku sampai di aula SMA Negeri 2 Tenggarong. Jadi, kegiatannya belum dimulai.

Di depan aula, sudah ada beberapa orang. Aku langsung menyapa salah seorang di sana. Dia juga langsung mengenaliku, padahal kami belum pernah bertemu sama sekali. Biasanya hanya berkomunikasi lewat Whatsapp karena jarak tempat tinggal kami yang sangat jauh meski masih berada dalam lingkup satu kabupaten.

Beberapa menit kemudian, kami memasuki aula karena Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur juga sudah tiba di lokasi. Acara ini dibuka langsung oleh Bapak Asep Juanda, S.Ag., Hum. Bukan sekedar memberikan sambutan, Bapak Asep Juanda juga memaparkan banyak materi tentang Balai Bahasa kalimantan Timur.

Materi selanjutnya diisi oleh Ahmad Kosasih, Ketua Yayasan Lanjong Indonesia yang memiliki banyak karya dan prestasi dalam bidang seni pertunjukkan. Tentunya senang sekali bisa mendapatkan ilmu baru dari pengelola Yayasan Lanjong Indonesia. Terutama tentang bagaimana membuat portofolio yang baik bagi komunitas literasi.

Materi selanjutnya diisi oleh Muhammad Arsyad dari Yayasan Gerakan Literasi Kutai. GLK merupakan salah satu komunitas literasi yang sudah lama bergerak dan menjadi panutan bagiku. Tentunya sangat senang bisa bertemu dengan orang-orang hebat di dalam forum ini. Kami mendapatkan bimbingan langsung tentang bagaimana menyusun proposal komunitas yang baik dan benar.

Acara hari ini berjalan dengan baik. Sayangnya, tubuhku yang kurang baik. Tubuh yang diterpa dinginnya angin malam, diguyur hujan selama perjalanan, dan suhu ruang AC yang dingin, membuat tubuhku semakin protes. Sepertinya ia tidak lagi menyukai kondisi dingin. Membuat tubuhku terasa tidak nyaman karena flu menyerang untuk pertama kalinya.

Meski kondisi tubuh tak bersahabat, aku tetap mengikuti kegiatan sampai selesai. Ini adalah komitmen yang telah aku buat dengan diriku sendiri agar aku selalu bertangggung jawab atas apa yang telah aku kerjakan hingga usai.

Bukan sekedar mendengarkan, aku juga masih memiliki kekuatan untuk aktif berdiskusi di tengah kelemahan ini. Aku juga masih menyempatkan diri untuk membuat tulisan ini. Aku harus terus bergerak agar rasa sakit tak punya kesempatan untuk menggerogoti tubuhku yang mungil ini.

Tentunya aku sangat bahagia bisa berada di tempat ini karena aku bisa bertemu dengan orang-orang berhati mulia yang terus bergerak memajukan literasi hingga pelosok negeri secara swadaya. Aku merasa mendapatkan kekuatan dan semangat baru ketika bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi dan senang berbagi pengalaman. Aku senang sekali mendengarkan banyak cerita tentang suka-duka komunitas literasi yang ada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Seperti yang dimandatkan oleh pengurus pusat, literasi itu gerakan, bukan bersaing program. Oleh karenanya, kita harus terus bergerak bersama memajukan literasi di negeri ini agar bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang berdaya saing dan mampu memajukan daerahnya. Kita tidak bisa memulai dengan hal besar, tapi kita bisa memulainya dengan hal kecil. Hal kecil yang selalu bersinergi dan berkelanjutan, akan melahirkan gerakan yang besar. Dengan menjadi besar bersama, maka kita akan menjadi bangsa yang kuat dan siap bersaing.

 

 Kutai Kartanegara, 15 Juli 2025

 

 

 

 

 

Saturday, July 12, 2025

Aku dan Taman Bacaku Bab 4 : Warna yang Lahir dari Air Mata



Warna yang Lahir dari Air Mata
Oleh: Rin Muna


Hari itu, langit Kutai Kartanegara berwarna kelabu. Angin sore membawa suara tawa anak-anak yang berlarian menuju taman baca, tempat kecil yang kuimpikan menjadi rumah bagi imajinasi mereka. Di tangan-tangan mungil itu, buku-buku lusuh bergantian dibuka, tapi mata mereka justru menatap kotak krayon yang mulai kosong.

“Bu, habis ya pewarnanya?” tanya seorang bocah, menatapku dengan wajah polos yang entah kenapa terasa lebih menyentuh daripada kata-kata apa pun.

Aku hanya tersenyum. Dalam dadaku, ada kegelisahan yang tak bisa kusembunyikan. Aku tahu, kegiatan mewarnai hari itu tak akan berjalan seperti biasanya. Pewarna yang kami miliki tinggal serpihan-serpihan kecil yang tak cukup untuk mereka semua. Dan di dompetku, hanya tersisa uang lima puluh ribu rupiah. Uang yang sebenarnya sudah kusiapkan untuk uang jajan anakku besok pagi.

Aku menatap uang itu lama sekali. Di satu sisi, aku seorang ibu yang ingin anaknya bahagia, punya bekal kecil untuk membeli roti atau minum susu di sekolah. Tapi di sisi lain, aku seorang pendiri taman baca, seorang perempuan yang telah berjanji, bahwa tempat ini tidak akan padam hanya karena kekurangan.

Air mataku menetes tanpa izin. Bukan karena aku lemah, tapi karena aku sadar betapa beratnya menjadi penjaga api kecil bernama literasi di tengah keterbatasan. Aku menggenggam uang itu erat-erat, seolah memohon pengertian dari anakku yang belum tentu mengerti. Lalu tanpa berpikir lagi, aku melangkah ke warung terdekat, membeli beberapa kotak krayon murah, warna-warna sederhana yang terasa begitu berharga.

Sore itu, taman baca kembali penuh warna. Anak-anak tertawa sambil menggoreskan warna merah, biru, dan hijau di kertas bergambar. Tidak ada yang tahu bahwa warna-warna itu lahir dari air mataku, dari pengorbanan kecil seorang ibu yang memilih berbagi meski tak punya banyak.

Ketika melihat hasil gambar mereka menempel di dinding, aku tahu, tidak ada yang sia-sia. Mungkin uang jajan anakku habis hari ini, tapi ia akan tumbuh dengan melihat ibunya berjuang untuk kebaikan. Ia akan belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari apa yang kita miliki, tetapi dari apa yang kita berikan.

Dan malam itu, saat aku menutup pintu taman baca, aku menatap langit lagi. Masih kelabu, tapi entah kenapa terasa lebih hangat. Mungkin karena di bawah langit itu, ada cinta yang menjelma menjadi warna yang lahir dari tangan anak-anak, dan dari hati seorang ibu yang tak ingin menyerah.

Aku terduduk di sudut kamar. Meletakkan kepalaku serendah-rendahnya di hadapan Allah. Malam-malamku selalu aku sempatkan untuk berdialog dengan Tuhan, juga berdialog dengan diri sendiri.
"Ya Allah ... apa yang aku lakukan hari ini karena Engkau yang menyentuh hatiku untuk terus berbuat baik, meski bukan hal besar. Maka, berikanlah aku kekuatan dan kemampuan untuk menjalani semuanya. Aku percaya atas semua rancanganmu, Ya Allah. Aku hanya ingin menjalaninya dengan tulus. Maka, ajarkan aku ... bagaimana ketulusan itu tidak berbatas."

Satu minggu kemudian ...
"Kak Rin, kita mau ngamen. Nanti kita akan buka donasi untuk taman baca Kak Rin, ya," ungkap Aji, salah satu seniman dan mahasiswa Uniba, lewat pesan Whatsapp.

"Ngamen?"
Aku tertegun selama beberapa saat ketika mengingat kalimat yang kubaca. Tak terasa air mataku jatuh, mengalir menghangatkan pipi.
Aku tidak sanggup berkata-kata. Tanganku gemetaran memegang ponsel dan tidak tahu harus membalas apa. Kubiarkan cukup lama karena aku tidak memiliki kata yang tepat untuk menyampaikan rasa terima kasihku. 
Hanya air mata yang bisa kusampaikan sebagai rasa terima kasihku pada Allah. Karena Allah yang telah mengirimkan malaikatnya untukku. Lewat hati orang-orang yang telah ditentukan Allah.
Jika bukan karena Allah, mana mungkin mahasiswa-mahasiswa itu mau mengamen hanya untuk menggalang donasi. Sebab, kami tidak begitu dekat. Tapi hati mereka berhasil disentuh oleh Allah agar menjadi bagian dari apa yang telah aku upayakan.
Tak berapa lama, Abi (Ketua Fokus Balikpapan) juga menghubungiku. Membicarakan mengenai rencana pameran seni di Dahor Heritage. Beliau memintaku untuk membawa karya anak-anak taman baca sebagai bahan untuk mempromosikan kehadiran taman bacaku.
Aku masih belum mengerti apa maksudnya. Kemudian, beliau memberikan arahan untuk membuat "Panel Art" dari kardus bekas. Aku tidak banyak bertanya dan berpikir lagi, langsung aku iyakan saja.
Aku tahu, aku tidak memiliki apa pun untuk bisa membiayai kegiatan ini. Karena aku tahu kalau harga cat tidak murah, meski tidak terlalu mahal juga. 
Ketika aku memberitahu anak-anak yang biasa bermain ke taman baca, mereka sangat bersemangat untuk membuat karya. Namun, aku bingung ... dari mana aku bisa mendapatkan uang untuk membeli cat?
Aku mencoba untuk berkomunikasi dengan Kepala Desa, siapa tahu pemerintah desa atau staff-nya ada yang ingin menyumbang secara pribadi. Tapi ternyata tidak semudah yang aku pikirkan. Aku dibantu uang Rp 50.000 oleh Kepala Desa. Sisanya, aku harus mengusahakan sendiri.
Aku bertemu dengan salah seorang tokoh pendidik yang kebetulan mampir ke taman baca untuk melihat kegiatan anak-anak. Beliau mengatakan akan membantu mencari dana supaya bisa membelikan cat untuk kreasi anak-anak. Hari pameran sudah semakin dekat dan kami masih belum mendapatkan bantuan sedikitpun selain bantuan dari Kepala Desa.
Aku tidak bisa mengandalkan orang lain. Menunggu sesuatu yang tidak pasti, hanya akan membuatku kesulitan sendiri. Aku juga tidak ingin menyerah begitu saja. Terlebih ketika melihat semangat anak-anak, aku tidak ingin memadamkannya.
"Aku harus bisa menyisihkan uang," batinku sambil menatap mesin jahit yang ada di hadapanku. Karena aku tidak lagi bekerja, aku memilih untuk belajar menjahit dan memberanikan diri menerima jahitan, meski tidak banyak. Beberapa orang yang mempercayakan jahitannya, telah membantuku menghidupi keluarga kecilku, juga kegiatan di taman bacaku.
Aku sudah berusaha menyisihkan uang, tapi masih belum mencukupi. Sebab, uang yang aku dapatkan harus dibagi untuk kebutuhan sehari-hari, juga untuk uang sekolah anakku.
"Gimana caranya aku bisa dapat uang atau bantuan, ya?" gumamku. 
Tak lama kemudian, Kepala Desa mengajakku mengikuti pelatihan peningkatan SDM di mana aku diberi uang saku dan transport selama pelatihan.
"Alhamdulillah ...!" Aku merasa sangat senang. Aku mendapatkan ilmu baru, juga mendapatkan uang yang bisa aku gunakan untuk membeli cat. 
Aku berkeliling untuk membeli cat yang paling murah. Supaya bisa membeli beberapa warna agar anak-anak bisa membuat "Panel Art" sesuai dengan kreasi mereka. 
Aku tidak tahu bensinku cukup atau tidak jika aku harus berkeliling jauh mencari cat. Semoga cukup dan aku harus menyisihkan beberapa lembar uang untuk berjaga-jaga. Karena tidak semua toko menjual cat yang merk-nya murah. Motor juga tidak akan bergerak jika tidak ada bahan bakarnya.
Begitu aku mendapatkan cat murah, aku langsung pulang dengan bahagia. Anak-anak tidak begitu mementingkan apakah cat yang aku beli adalah cat murahan atau mahalan. Bagi mereka, yang penting ada warnanya.
Pembuatan karya seni "Panel Art" berhasil dan selesai dengan baik. Kemudian, kami harus membawa karya-karya itu ke lokasi pameran di kota Balikpapan.
Masalah baru muncul lagi karena aku tidak memiliki kendaraan untuk membawa Panel Art tersebut. Akhirnya, aku dibantu oleh Kepala Desa. Beliau yang mengantarkan kami sampai di lokasi pameran karena kebetulan putera beliau juga menjadi kontributor dalam pembuatan karya seni tersebut.
Di kegiatan pameran itulah, teman-teman seniman memberikan hasil donasinya kepada kami. Ada satu dus alat lukis yang diberikan kepada taman bacaku. Aku sangat senang menerimanya karena bisa digunakan untuk kegiatan mewarnai di taman bacaku selama beberapa bulan ke depan.
Ternyata, seperti inilah kalau membuka taman baca dan ingin mendedikasikan semuanya. Tidak hanya membuka saja. Aku harus rela untuk berkorban. Karena taman baca tidak akan hidup tanpa uang dan aku tidak bisa terus-menerus bersandar pada orang lain. 
Sejak aku mendirikan taman baca, aku memiliki dua dapur yang harus aku penuhi kebutuhannya, aku memiliki dua ruang tamu yang harus aku rawat kebersihannya, aku memiliki dua halaman yang harus terbuka untuk siapa saja.
Maka aku tepiskan kalimat pedih dari orang-orang yang membenciku, sebab mereka tidak tahu. Andai saja ada yang mau menggantikan posisiku, tentu aku akan menyerahkannya dengan senang hati. Agar aku tidak perlu menitikan air mata hanya untuk menjaga warna-warni yang sudah terlanjur aku tumpahkan di taman baca ini.





Aku dan Taman Bacaku Bab 3 : Perjuangan Membuka Taman Baca





Tanggal 18 Februari 2018.

Hari itu, langit Samboja tak secerah biasanya. Awan menggantung di ujung bukit, dan angin yang lewat membawa rasa gugup yang tak bisa kusembunyikan. Meski tak ada upacara atau pengguntingan pita, hatiku berdebar seperti akan menghadapi panggung besar.

Di teras rumahku yang sempit, dengan karpet lusuh dan beberapa kertas mewarnai hasil print-an sendiri, aku resmi membuka Taman Bacaan Bunga Kertas.

Nama itu kupilih bukan tanpa alasan.
Bunga kertas bukanlah bunga mahal. Ia tak butuh banyak air, tapi bisa tumbuh dan berbunga di tanah kering. Dan aku ingin taman baca ini seperti itu—sederhana, mandiri, tapi penuh warna dan disukai banyak orang. 

Anak-anak datang satu per satu, masih malu-malu.

Mereka duduk bersila di atas karpet tipis. Pensil warna kugulung dengan karet gelang, kuletakkan di tengah-tengah. Buku gambar seadanya kupotong dari kertas bekas kerjaan menjahit. Semuanya swadaya. Tidak ada sponsor, tidak ada sumbangan pemerintah.

Hanya ada aku, semangatku, dan 50 buku koleksi pribadiku yang setia menemaniku sejak belasan tahun lalu. Buku-buku yang pernah menemaniku dalam masa-masa sepi, buku-buku yang membuatku merasa tak sendiri di dunia. Dan kini, aku ingin buku-buku itu menemukan rumah barunya di tangan kecil anak-anak kampungku.

Namun, tak semua menyambut hangat.

Di sela-sela sore yang sibuk, aku sempat mendengar bisik-bisik dari balik pagar. 

“Untuk apa buka taman baca?”
“Udah susah gitu, malah repot urus anak orang.”
“Emang anak-anak mau baca buku zaman sekarang?”

Kalimat-kalimat itu terdengar lebih tajam dari jarum mesin jahitku yang sering kusalahkan kalau benangnya kusut. Tapi aku diam. Bukan karena tak bisa membalas, tapi karena aku sudah terbiasa hidup di tengah tanya-tanya yang bernada sinis.

Aku tahu, tak semua orang paham mimpi yang sedang tumbuh di kepalaku. Tak semua mata bisa melihat pentingnya sebuah taman baca di tengah desa kecil yang jauh dari pusat perhatian.

Tapi aku juga tahu, perubahan tak selalu datang dari tempat yang ramai. Kadang, ia bermula dari tikar usang dan satu rak buku di teras rumah.

Aku lalu memberanikan diri menyebar kabar di media sosial. Kupasang status di Facebook, kubuat tulisan di blog. Aku meminta bantuan pada siapa saja. Pada teman-teman kerja di perusahaaan tempatku pernah bekerja. Pada teman-teman penulis yang ada di seluruh Indonesia. Siapa tahu ada yang mau menyumbang buku. Kupikir, mungkin hanya satu dua yang peduli.

Tapi ternyata, balasannya tak terduga. Justru yang banyak membantu adalah teman-teman penulis dari seluruh Indonesia. Orang-orang yang belum pernah bertatap muka denganku, tapi sepertinya bisa membaca kegigihanku lewat kalimat-kalimat yang kutulis.

Paket demi paket datang. Ada yang dari Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Aceh, Tangerang, Pontianak, bahkan dari pelosok Sulawesi. Di dalamnya ada buku, ada pembatas halaman lucu, dan kadang surat-surat kecil yang membuat mataku berkaca:

“Semoga anak-anak di sana menyukai buku ini, ya.”
“Dari penulis kecil, untuk pembaca masa depan.”

Aku membaca semuanya sambil duduk di ruang tamu, memeluk satu kardus buku erat-erat. Rasanya seperti dipeluk balik oleh semesta. Bahwa aku tidak sendirian. Bahwa mimpi kecil ini ternyata punya banyak teman.

Kini, rak buku di taman bacaku mulai penuh. Anak-anak mulai datang lebih awal. Bahkan beberapa sudah berani meminjam buku untuk dibaca di rumah. Kadang aku melihat mereka berjalan kaki, membawa buku di dalam kantong plastik, melindunginya seolah itu harta karun.

Dan di situ aku tahu: segala sindiran kemarin tak ada artinya dibanding satu mata berbinar yang jatuh cinta pada buku pertama mereka.

Taman Bacaan Bunga Kertas tak akan sempurna. Tapi ia tumbuh. Dari halaman rumahku. Dari tekad yang kusemai pelan-pelan. Dari cinta yang tak pernah selesai kutuang.

Dan pada akhirnya, biarlah yang berkata “untuk apa” itu tetap bertanya.
Karena aku lebih memilih mendengar tawa anak-anak yang membaca dengan suara terbata.

Sore hari yang lelah, terkadang dibuat tambah lelah dengan ruang buku yang berhambur. Cukup sulit membiasakan anak-anak untuk merapikan buku setelah membaca. Apalagi merapikan pensil warna dan kertas-kertas hasil mewarnai yang sudah selesai. 

Aku menghela napas sejenak. Rasa lelahku tiba-tiba menghilang seketika ketika teringat tawa ceria anak-anak desa yang sering berkunjung ke taman baca. 

Ternyata, bahagia itu sederhana. Bisa bermanfaat untuk orang lain dan bisa melihat orang lain tertawa bahagia. 

Aku jadi lebih bersemangat menjalankan taman baca meski harus merogoh kocek pribadiku. Terkadang aku juga rela mengorbankan uang jajan anakku atau uang belanja dapur. Melihat anak-anak tersenyum bahagia dengan buku dan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan, aku sudah merasa sangat senang. 

Dengan wajah tersenyum bahagia, aku mengumpulkan buku-buku dan merapikannya kembali. Hatiku dipenuhi dengan harapan yang sangat besar terhadap anak-anak di desaku. Aku ingin mereka bisa menjadi generasi yang cerdas dan berdaya saing di masa depan. Tidak harus semua. Dari 2.600 penduduk desa, pasti ada satu anak yang bisa sukses dari hobi membaca. 

Aku tidak perlu diakui. Karena yang aku cari bukanlah pengakuan dari banyak orang, tapi kemanfaatan hidupku sendiri. Suatu hari nanti ketika Allah meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah aku lakukan di dunia, aku bisa menjawabnya dengan tenang. Aku persembahkan taman baca kecil ini sebagai amalan jariyah ilmu yang tidak akan terputus. Biarlah nanti buku-buku ini yang bercerita pada Tuhan tentang kegigihan dan ketulusanku dalam memberikan manfaat untuk orang lain. 

Aku tahu ini bukan hal besar. Ini adalah hal kecil yang kerap disepelekan banyak orang. Tapi dari langkah kecil inilah semuanya dimulai. Langkah kecil yang sepele, tapi tidak mudah untuk dilakukan, tidak mudah pula untuk dipertahankan. 

Aku berharap, taman baca ini tidak hanya berjalan dalam hitungan bulan. Tapi bisa bermanfaat sampai satu tahun ke depan, syukur-syukur bisa lebih dari satu tahun. 



AKU DAN TAMAN BACAKU || Bab 1 : Titik Balik Kehidupanku

Titik Balik Kehidupanku


Menjadi seorang wanita ternyata tidak mudah. Terlebih ketika memasuki usia dewasa. Ada titik di mana kita harus dihadapkan oleh pilihan yang sulit, antara karir dan keluarga.
Sudah satu minggu aku tidak pulang ke rumah. Bukan karena masalah keluarga, tapi karena tanggung jawab pekerjaan.
Ini bukan pertama kalinya. Setiap bulan saat tutup buku, aku harus lembur di kantor selama satu minggu penuh. Membuatku tidak bisa pulang ke rumah dan harus menginap di mess karyawan.
Beberapa tahun sebelumnya, aku menjalaninya dengan bahagia. Tidak ada beban yang bergelayut di pundak meski aku tidak pulang ke rumah dalam jangka waktu yang lama.
Tapi kali ini, aku mulai resah. Satu hari saja tidak pulang ke rumah, seperti ada beban yang begitu menyesakkan dada. Wajah mungil puteriku yang baru berusia dua tahun, membuatku tidak cukup tenang.
Sejak pindah kantor, kami harus tinggal berjauhan. Membuatku tidak bisa bertemu dengan puteriku sendiri. Padahal, ia masih butuh sosok ibu dalam kehidupannya yang baru.
Setelah berpikir panjang dengan begitu banyak pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk menyodorkan surat resign ke hadapan atasanku sendiri.
Ini bukan surat resign pertama. Ini surat resign yang ketiga kalinya. Pengajuanku untuk resign ditolak oleh bosku sebelumnya, meski keduanya adalah orang yang berbeda.
Bos pertama melarangku resign dan dia memberi nasihat “Ke depannya, kebutuhan keluargamu akan lebih banyak. Kamu yakin mau resign?”
Bukan cuma kalimat itu. Masih ada banyak kalimat yang dia berikan padaku hingga membuatku tetap bertahan bekerja di perusahaan.
Bos kedua menggantikan bos pertama yang dimutasi ke provinsi lain. Aku juga mengajukan resign dan mendapatkan penolakan. “Kalau kamu resign, kamu mau ngapain di kampung seperti ini?”
Dengan santai aku menjawab, “Mau nulis novel, Pak.”
Padahal, aku sama sekali tidak memiliki ilmu menulis. Hanya asal bicara agar surat pengunduran diriku diterima.
Bukan menandatangani surat resign, beliau malah memberi aku banyak wejangan. Akhirnya, aku mengurungkan kembali niatku untuk resign.
Bos kedua kembali di mutasi ke provinsi lain. Kemudian, datanglah bos ketiga.
Aku benar-benar memanfaatkan momen untuk bisa mengundurkan diri dari perusahaan. Bos yang baru tidak begitu paham seluk-beluk perusahaan, terutama tentang bagaimana kinerjaku selama ini. Aku tidak ingin terlalu lama membangun ikatan pekerjaan dengannya. Jadi, aku segera mengajukan surat pengunduran diri agar aku bisa segera berhenti bekerja dari perusahaan.
Bos ketiga tidak begitu banyak bertanya dan menasehatiku. Aku justru mendapat nasehat dari istri beliau supaya aku tidak harus resign. Bosku juga memberikan banyak tawaran agar aku tidak mengundurkan diri, karena akulah yang paling diandalkan di perusahaan tersebut.
Aku merasa, tidak ada yang istimewa dariku. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk perusahaan yang sudah menghidupiku. Bukan untuk cari muka, apalagi untuk bersaing dengan yang lain.
Sembari menatap langit sore yang cerah, aku berkata dalam hati. “Ilmu yang aku miliki saat ini adalah ilmu yang aku pelajari di masa lalu. Semua orang bisa mendapatkannya jika mereka mau. Akan ada orang yang jauh lebih hebat dari aku. Akan ada orang yang menggantikan posisiku, sekalipun aku berada di posisi yang penting.”
Hari itu, aku benar-benar memantapkan langkahku untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Ada wajah puteriku yang menari-nari di pelupuk mata. Meski aku kehilangan pekerjaan dan tidak tahu harus bagaimana menjalani hidup ke depannya, aku merasa sangat bahagia ketika mendapatkan Surat Pengalaman Kerja.









Satu bulan kemudian ...
Hatiku mulai resah. Uang tabunganku sudah sangat menipis. Hanya cukup untuk bertahan hidup selama beberapa hari ke depan. Sementara, aku tidak punya pekerjaan sama sekali. Aku berusaha untuk membuka usaha dengan sisa uang yang aku miliki, tapi usaha di kampung, ternyata tidaklah mudah.
“Aku harus gimana?”
Di tengah gelapnya malam aku merenung sembari menatap rembulan dari balik jendela kamar. Puteriku kecilku sudah tertidur lelap. Kakek dan nenekku juga sudah terlelap di kamarnya. Sesekali aku melihat wajah puteriku yang mungil, kemudian aku tersenyum. Entah apa yang membuatku tetap bisa tersenyum dalam kepahitan ini.
Aku melangkah perlahan mendekati kamar nenekku. Pintu kamarnya hanya ditutup menggunakan kain. Aku bisa menyibaknya dengan mudah. Nenek kakekku sudah tertidur pulas di dalam kelambu usang yang setiap hari mereka kenakan. Kalau tidak pakai kelambu, nyamuknya sangat banyak. Rumah kami masih terbuat dari kayu dan banyak lubang di sana-sini. Terlebih, lantai kamar nenek-kakekku masih tanah. Ketika hujan deras datang, kami biasa kebanjiran dan lantai di bawah dipan mereka selalu basah.
“Ya Allah, mudahkanlah rezekiku supaya bisa bikinkan kamar yang layak untuk mereka,” batinku sembari meneteskan air mata.
Aku melangkah mendekati meja dapur. Menyeduh secangkir kopi dan menyesapnya perlahan sembari menikmati kelamnya malam yang sunyi.
Malam ini tidak terlalu sunyi. Aku masih bisa mendengar suara jangkrik bercengkerama, suara katak berirama, dan suara burung hantu yang terkadang membuat bulu kuduk berdiri.
TING!
Aku langsung menoleh ke arah ponselku yang tiba-tiba menyala.
“Siapa yang chat malam-malam begini?” batinku.
Aku meraih ponsel tersebut dan membuka DM Instagram. Di sana tertera nama seorang pria yang tidak aku kenal. Siapa?
“Mbak, perkenalkan saya Abi Ramadhan, ketua Fokus (Forum Kreatif Usaha Sama-Sama). Saya lihat, Mbak sering bikin-bikin bunga dan kerajinan tangan. Kira-kira, berminat atau tidak ikut pameran bersama komunitas kami?”
Aku mengernyitkan kening sejenak. Dari mana dia tahu kalau aku sering bikin bucket dan kerajinan tangan? Padahal, kami tidak saling mengenal. Aku memang kerap membagikan kegiatanku di sosial media. Tapi tidak berpikir akan sampai sejauh ini.
Setelah berpikir cukup lama, aku menerima tawaran beliau untuk ikut pameran. Saat itu, aku membuka stand kriya di Royal Suite Hotel, tempat kami pameran untuk pertama kalinya.
Di sanalah aku bertemu dengan banyak seniman dan pengrajin. Ada banyak ilustrator, seniman lukis, juga pengrajin tas, busana, dan aksesoris.
Aku tidak tahu bagaimana caranya mempromosikan produk aku sendiri karena aku tidak punya teman di hotel tersebut. Apalagi, hotel adalah tempat yang sangat eksklusif. Tapi aku tidak akan pernah melupakan dua orang wanita yang berkunjung ke stand-ku. Mereka adalah teman-temanku saat aku bekerja di perusahaan. Asmi dan Mia.
Pameran Fokus selanjutnya berada di Dome Balikpapan yang mengusung tema “Mathilda Fest”. Di sinilah titik balik hidupku dimulai.
Dalam pameran tersebut, kami mendapatkan stand gratis untuk komunitas. Karena sektor seni dan kriya memang tidak seramai sektor kuliner. Sehingga, kami mendapatkan support dari pemerintah kota Balikpapan dengan difasilitasi stand dan tenda gratis.
Saat hari pertama pameran, perhatianku langsung terfokus pada stand buku-buku di sebelahku. Ada banyak buku yang bisa dibaca gratis. Bahkan, beberapa diberikan secara cuma-cuma kepada pengunjung yang berminat.
Tanpa ragu, aku langsung mendekati stand buku tersebut. Melihat-lihat buku, juga berkenalan dengan pemilik stand buku tersebut.
Namanya Ibu Roelyta Aminudin, beliau dikenal dengan nama tersebut. Pemilik dari PAUD An-Nisa dan TBM An-Nisa, yang juga dinobatkan menjadi Kampoeng Literasi Gajah Mada.
LITERASI – Sebuah kata yang masih asing di telingaku. Kata yang tiba-tiba memunculkan banyak tanya di kepalaku. Biasanya, aku tidak begitu peduli dengan frasa asing yang aku dengar. Tapi kali ini, seolah ada sesuatu yang memanggilku.
“Bu, literasi itu apa?” tanyaku.
Ibu Roelyta tersenyum. “Baca ini!”
Bukannya menjawab pertanyaanku, Ibu Roelyta malah memberiku sebuah flyer tentang “Gerakan Literasi Nasional”. Di dalamnya sudah ada pengertian tentang literasi, tujuan literasi, dan pola dasar literasi yang harus dimiliki oleh setiap individu.
Menarik.
Akhirnya, aku dipertemukan dengan orang yang mencintai buku. Sejak dulu, aku sangat suka dengan buku-buku. Hanya saja, aku tumbuh dan besar di lingkungan keluarga yang tidak cinta buku dan tidak membiasakan anak-anaknya membaca buku. Jadi, aku juga memiliki akses bahan bacaan yang minim. Terlebih, aku tinggal di pelosik desa yang jauh dari perkotaan dan memiliki akses informasi terbatas.
Rasa penasaranku tiba-tiba menjalar sampai ke ulu hati. Aku terus mendekati Ibu Roelyta untuk belajar. Aku selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke taman bacanya. Di sana, aku semakin terkagum-kagum dengan apa yang telah beliau lakukan.
“Bu, di Samboja itu nggak ada toko buku, nggak ada perpustakaan umum juga. Susah banget dapetin buku kalau di sana. Kalau mau bikin taman baca kayak Ibu gini, gimana caranya?” tanyaku sembari menemani Ibu Roelyta menyeduh kopi di dapurnya.
“Gampang aja. Yang penting kamu punya buku dan nama taman baca yang mau kamu buat,” jawab Ibu Roelyta.
“Cuma itu?” Keningku sedikit berkerut mendengar jawaban Ibu Roelyta. Aku masih tidak yakin, apakah bisa sesederhana itu?
Ibu Roelyta mengangguk yakin sambil tersenyum. “Mendirikan taman baca itu panggilan hati. Nggak ada uangnya. Kamu harus banyak keluar uang untuk memulainya. Kamu yakin, mau bikin taman baca juga?”
Aku terdiam sejenak, kemudian mengangguk yakin. “Aku pengen anak-anak yang suka baca buku tapi nggak punya uang, bisa tetap baca buku. Aku nggak mau mereka kayak aku, Bu. Pengen baca buku aja sulit. Harga buku mahal-mahal,” jawabku.
Ibu Roelyta tersenyum. “Kalau gitu, buka aja! Ibu akan mendukung kamu sepenuhnya. Kalau butuh apa-apa, ngomong sama Ibu!”
Aku mengangguk dan merengkuh tubuh Ibu Roelyta. “Terima kasih banyak, Bu!”
Ibu Roelyta tersenyum sambil mengelus lembut lenganku. “Ibu mau mengingatkan satu hal kalau kamu mau bikin taman baca. Kamu harus kuat! Akan ada banyak orang yang nggak suka sama kamu. Akan ada banyak orang yang nantinya minta bagian dari kamu, padahal mereka nggak ada sama sekali saat kamu berjuang.”
“Maksudnya, Bu?”
“Nanti kamu akan mengerti sendiri seiring berjalannya waktu. Yang penting kamu harus kuat, harus bisa melindungi dirimu sendiri dan taman baca yang kamu dirikan!” ucap Ibu Roelyta lagi.
Aku tersenyum sambil menyandarkan kepalaku ke pundak Ibu Roelyta. “Ya Allah, jika Kau sentuh hatiku agar melakukan sesuatu untuk orang banyak, maka aku tahu Engkau begitu dekat. Maka, permudahlah setiap langkahku. Semua kebaikan yang aku lakukan, kupersembahkan hanya untuk Engkau, Ya Allah...”



Baca Part selanjutnya di sini >>> Aku dan Taman Bacaku Part.2

Hari-Hari Berat dalam Hidupku







Aku masih ingat pagi itu—langit tampak mendung, seakan ikut merasakan apa yang hatiku simpan. Di ruang tamu yang terasa asing walau sudah kutinggali bertahun-tahun, aku dan suamiku duduk saling diam. Kata-kata akhirnya meluncur dari bibirnya, seperti pisau yang tak terlihat tapi menghujam dalam.

"Kita cukup sampai di sini."

Tidak ada teriakan. Tidak ada drama. Hanya kesunyian yang menelan segalanya. Aku tahu hubungan ini sudah lama retak, tapi tetap saja, mendengar kata-kata itu seperti dipaksa menelan kenyataan paling pahit. Kami bercerai seminggu kemudian. Saat tanda tangan terakhir kububuhkan, rasanya seperti melepas bagian dari diriku sendiri.

Tapi aku tak punya waktu lama untuk meratapi. Dua pasang mata kecil menatapku dengan harap, mereka adalah anak-anakku. Belum cukup umur untuk benar-benar mengerti, tapi cukup peka untuk merasakan bahwa rumah mereka tak lagi utuh. Mereka adalah alasanku bangun setiap pagi, bahkan ketika tubuh ini rasanya ingin menyerah.

Hari-hariku tak lagi tentang mencari kebahagiaan, tapi bertahan. Menghidupi dua anak bukan perkara mudah, apalagi ditambah nenek yang sudah renta dan orang tua yang mulai sakit-sakitan. Aku menjadi tumpuan untuk lima jiwa. Setiap lembar uang yang kudapat harus diatur sebijak mungkin. Pernah suatu malam, aku hanya makan nasi dan garam karena lauk terakhir kuberikan pada anak-anak.

Ada hari-hari ketika aku pulang larut, tubuh lelah setelah bekerja sambilan, lalu dapur bocor dan tagihan listrik datang bersamaan. Aku menangis diam-diam di kamar mandi, agar anak-anakku tak melihat air mata itu. Tapi dari situ aku belajar, bahwa air mata bukan tanda kelemahan, tapi bukti bahwa aku masih berjuang.

Terkadang aku iri melihat keluarga utuh di taman atau mendengar tawa pasangan yang saling berbagi tugas mengasuh anak. Tapi hidupku sudah berbeda. Aku tak bisa mengubah masa lalu, hanya bisa menata masa depan dengan apa yang ada.

Sekarang, meski belum sepenuhnya lepas dari perjuangan, aku bangga pada diriku sendiri. Aku bukan hanya seorang ibu tunggal. Aku adalah anak yang merawat orang tuanya, cucu yang menjaga nenek-kakeknya, dan seorang perempuan yang masih berdiri kokoh meski berkali-kali ingin roboh.

Hari-hari berat itu akan tetap ada. Tapi aku pun sudah menjadi lebih kuat dari hari kemarin. 

Aku dan Taman Bacaku Bab 2 : Tentang Keresahan Hati






Aku menatap beberapa buku yang ada di hadapanku. “Cuma segini?”
Tidak banyak koleksi buku yang aku miliki. Sebagian besar adalah karyaku bersama penulis-penulis FAM Indonesia. Sisanya adalah buku bacaan yang mampu aku beli.
Tidak banyak. Hanya sekitar 5 buah buku yang aku miliki, di luar karyaku sendiri. Aku tidak memiliki banyak koleksi buku karena keterbatasan ekonomi. Biasanya, aku pinjam dari teman atau dari perpustakaan jika ingin membaca buku. Jadi, aku tidak punya banyak koleksi pribadi.
“Apa iya aku bisa bikin taman baca?” gumamku lagi. Aku masih tidak yakin, juga tidak percaya diri.
Aku tidak punya latar belakang yang baik dalam dunia pendidikan. Juga bukan keturunan seorang pendidik. Orang tuaku hanya petani sawah. Nenek moyangku juga hanya pencari kayu bakar. Kenapa aku harus masuk ke jalan ini? Jalan yang tidak pernah ditempuh oleh keluargaku. Akankah aku bisa menjalankannya tanpa dukungan apapun dan siapa pun?
Aku menghela napas sejenak. Kuraih salah satu buku yang ada di sana dan membukanya. Ada banyak deretan kalimat yang kubaca, tapi tidak mampu menggugah keyakinanku.
Aku menutup buku itu kembali dan duduk termenung selama beberapa saat.
Apa aku harus diskusi lebih dulu dengan keluarga? Tapi apakah mereka akan setuju? Apakah mereka akan menolak? Tapi ... mereka tidak mungkin menolak selama hal yang aku lakukan adalah kebaikan.
Tiba-tiba terngiang kalimat candaan teman-teman ketika masih aktif bekerja di perusahaan.
“Lebih mudah minta maaf daripada minta izin.”
Aku rasa kalimat itu ada benarnya juga. Aku harap tidak akan ada kata “minta maaf” untuk langkah-langkah baik yang aku ambil.
Aku juga sudah dewasa. Bukan lagi remaja umur tujuh belas tahun yang masih bergantung pada orang tua dalam mengambil keputusan. Sudah waktunya aku mengambil keputusan untuk diriku sendiri. Hal sekecil ini tidak mungkin harus melibatkan keluarga, apalagi oranf lain.
“Ya Allah, aku buka taman baca atau nggak?” batinku masih tak karuan. Aku ini bodoh dan miskin, apa tidak akan menjadi bahan tertawaan banyak orang?
“Uhuk ... uhuk ...!”
Aku menoleh ke arah sumber suara yang membuyarkan lamunanku. Perlahan aku melangkahkan kaki ke ruang tamu. Ada kakekku yang sedang duduk bersandar sambil menonton televisi. Televisi itu tidak bersuara. Sebab, bersuara atau tidak akan tetap sama untuk kakek yang indera pendengarannya sudah tidak berfungsi dengan baik.
“Itu, Rin. Kok, kayak mbahmu ini,” ucap kakekku tiba-tiba.
Aku menaikkan salah satu alisku. Entah apa yang ditonton oleh kakekku sehingga ia bereaksi.
“Mbah Lanang nonton apa, Mbah?” tanyaku pada nenek yang juga duduk di sana.
“Nonton sinetron itu. Ada kakek-kakek di pinggir jalan itu didorong sama anaknya sampai jatuh,” jawab nenekku.
“Oh.”
Aku tidak berkata apa pun. Aku sudah terbiasa mendengar keluhan kakekku. Juga cerita-ceritanya di masa lalu.
“Aku ini orang bodoh. Dibodohi sama adik sendiri sampai kehilangan tanah. Aku nggak sengaja membakar lahan orang dan orang itu minta ganti rugi tanah. Aku sudah bilang, dipenjara berapa tahun pun, aku rela. Asal jangan ambil tanahku. Aku punya adik sepupu yang pandai. Dia tidak membelaku, malah membuatku kehilangan tanah, kehilangan semuanya. Sekarang, aku nggak punya apa-apa. Sudah tua. Mau kerja sudah nggak dipakai lagi tenaganya. Setiap hari cuma bisa numpang makan sama Rina. Kasihan Rina. ”
Kakekku terus meracau. Kalimat itu setiap hari aku dengar sampai aku hafal ceritanya.
Ada sebuah penyesalan besar yang sedang mendekap jiwa kakekku. Kejadian kebakaran lahan belasan tahun lalu, membuatnya hidup dalam penyesalan. Ditambah lagi satu sertifikat tanah miliknya ditukar oleh orang lain yang punya kuasa. Sehingga membuatnya menjadi tidak berdaya, tidak memiliki apa-apa untuk masa tuanya dan sisa hidupnya diselimuti rasa penyesalan.
“Huft ... begini nasibnya kalau jadi orang bodoh,” keluh kakekku lagi. “Tidak tahu cara membela diri. Sudah kehilangan semuanya. Sekarang aku nggak bisa apa-apa. Nggak punya apa-apa. Nggak dihargai lagi sama orang. Bahkan tetangga rame-rame hajatan, tidak pernah lagi diundang untuk datang.”
Aku menghela napas mendengar ucapan kakekku. Hidupnya penuh penyesalan karena tidak memiliki banyak ilmu pengetahuan.
Aku melangkahkan kakiku kembali masuk ke kamar. Menatap pemandangan di luar rumah lewat jendela kayu yang telah usang. Rintik hujan menyapaku, seolah mengajakku bercengkerama dalam hati yang bimbang.
Di tempat tidur, puteri kecilku sedang tertidur lelap. Bagaimana nasib dia nanti di masa depan? Jangan sampai anak-anakku hidup dalam penyesalan karena aku tidak bisa memberikan pendidikan yang baik untuk mereka.
Aku tersenyum. Kudekati wajah mungil puteriku dan kugenggam jemarinya yang sangat kecil.
“Nak, kamu berhak untuk punya kehidupan yang lebih baik nantinya. Mama akan lakukan apa aja untuk masa depan kamu. Mama akan terus berjuang keras sampai benar-benar tidak sanggup lagi,” batinku.
Aku tidak akan bisa mengubah nasib hidup keluargaku jika aku hanya berdiam diri saja. Aku harus melakukan sesuatu agar perekonomian keluargaku bisa lebih baik, tidak lagi dipandang hina oleh nasyarakat. Tapi aku tidak tahu harus memulai dari mana.
Membuat taman baca, tidak akan menghasilkan uang karena semuanya adalah kegiatan sosial. Tapi aku bisa bersedekah meski aku tidak kaya. Buku-buku adalah ilmu dan memberikan akses pada ilmu ialah amalan jariyah.
Pepatah dahulu mengatakan, “sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat.”
Bagaimana ilmu bisa bermanfaat jika kita hanya menyimpannya untuk diri sendiri?
Aku rasa, aku bisa bermanfaat jika aku membuka sebuah taman baca. Agar lebih banyak anak tidak mampu yang terselamatkan pendidikannya. Aku tidak ingin apa yang dialami kakekku, dialami juga oleh orang lain, khususnya keluargaku sendiri.
Aku ingin punya sesuatu yang menjadi amalan jariyah sekaligus pengingat seumur hidupku agar aku bisa menjadi insan yang lebih baik di masa depan.
Bismillah ... aku akan persembahkan sebuah taman baca untuk kakek-nenekku, kedua orang tuaku dan anak-anakku kelak. Agar menjadi amalan jariyah bagi keluargaku. Insya Allah, Allah akan bukakan pintu rezeki yang baik untukku. Aku akan berjuang di jalan kebaikan karena Allah dan aku yakin kalau Allah tidak akan membiarkan aku berjuang sendirian. Dia akan selalu mengirimkan malaikat-malaikatnya untukku.
Aku mulai mantap untuk membuka sebuah taman baca. Bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk orang lain yang membutuhkan. Meski kondisi ekonomi keluargaku sedang buruk, aku tetap membulatkan tekadku untuk membuat sebuah taman baca.
“Bagusnya aku kasih nama apa, ya?”
Aku mulai berpikir sejenak. Memikirkan nama yang cocok untuk taman bacaku.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku menemukan dua kata. Yakni “Bunga Kertas”.
Kenapa Bunga Kertas?
Bunga adalah sesuatu yang indah dan disukai banyak orang. Aku harap taman bacaku bisa menjadi seperti bunga yang disukai banyak orang dan menebar aroma kebaikan. Kertas melambangkan sebuah gerakan literasi di mana kertas bisa menjadi media untuk menuliskan dan menggambarkan banyak hal yang ada di dunia ini. Tidak hanya menjadi tempat yang disukai, Bunga Kertas juga bisa menjadi tempat yang nyaman untuk berbagi cerita.
Tanpa berpikir panjang lagi, aku siap untuk membuka sebuah taman bacaan masyarakat dengan nama Taman Bacaan Masyarakat Bunga Kertas.
Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tidak punya program khusus karena aku juga tidak tahu apa-apa tentang kegiatan seperti ini. Aku hanya ingin anak-anak desa bisa mendapatkan akses buku dan informasi yang mudah melalui taman bacaan. Karena taman baca bisa mewadahi semua kebutuhan seluruh masyarakat dari anak-anak sampai orang tua tanpa memandang status, usia, dan pekerjaan.
“Besok saja aku launching. Mumpung aku masih menganggur. Bisa aku gunakan untuk mengisi kegiatan di rumah. Aku bisa memulainya dengan mengajak anak-anak mewarnai atau menggambar. Mereka pasti suka. Tapi ... aku harus menyiapkan alat-alat menggambar. Uang dari mana buat beli? Buat makan keluargaku aja aku masih kesusahan.”
Lagi-lagi aku dihadapkan dengan keadaan yang membuatku putus asa.
Tapi entah kenapa, ada hal besar yang mendorongku untuk terus maju meski keadaanku sedang tidak baik-baik saja.
“Ah, sudahlah. Beli alat-alat mewarnai pakai uang seadanya. Nggak usah banyak-banyak, yang penting ada aja dulu. Nanti Allah pasti ganti rezekiku. Toh, aku masih bisa bergerak buat cari rezeki,” gumamku lagi.
Aku semakin mantab untuk membuka sebuah taman bacaan masyarakat dengan segala keterbatasan yang aku miliki. Aku beri nama “Taman Bacaan Masyarakat Bunga Kertas”.
Semoga tempat ini bisa benar-benar bermanfaat untuk keluarga, juga untuk orang-orang di sekitarku.

Friday, July 11, 2025

Perfect Hero Bab 290 : Ten Hours Before the Wedding Party

 


“Yun, kamu belum ngantuk? Ini udah jam sebelas malam. Besok hari pernikahan kamu. Jangan sampe kecapekan karena kurang tidur,” omel Jheni saat melihat Yuna belum juga terlelap.

Yuna menghela napas. “Aku nggak bisa tidur, Jhen.”

“Masih deg-degan?” tanya Icha. “Kamu sama Yeriko kan udah sah jadi suami istri. Apa yang kamu khawatirkan, Yun?”

“Iih ... kalian itu nggak ngerti perasaanku!” dengus Yuna.

“Aargh ...! Kamu ini rewel banget, Yun. Aku masih nggak ngerti gimana Yeriko yang cool itu ngadepin kamu setiap hari. Betah aja dia jadi suami kamu. Kamu susah banget ditidurkan aja. Udah kayak anak bayi aja,” keluh Jheni.

“Jhen, aku tuh belum ngantuk. Aku udah terbiasa tidur sama Yeri. Nggak bisa tidur kalo nggak ada dia,” rengek Yuna.

“Hahaha. Astaga! Kamu nggak bisa tidur cuma karena Yeriko nggak satu kamar sama kamu? Aku pikir, kamu gugup karena mau nikah,” sela Icha sambil tertawa lebar.

“Dua-duanya, Cha!” sahut Yuna kesal.

“Ck, kalo cuma Yeriko ... besok juga ketemu. Alay banget!” dengus Jheni kesal.

“Kamu tuh belum tahu rasanya punya suami. Biasanya tidur dikelonin sama dia. Aku nggak bisa tidur tanpa dipeluk sama dia,” tutur Yuna, ia sengaja membuat dua sahabatnya itu cemburu.

“Nggak usah pamer!” seru Jheni kesal. “Kamu mau tidur nggak? Kalo masih nggak mau tidur, besok aku nggak mau jadi bridesmaid buat pengantin rewel kayak kamu!” ancam Jheni. Ia memeluk guling sambil meracau.

Yuna melipat wajahnya. Ia berbaring di ranjangnya, berusaha memejamkan mata agar terlelap. Tapi, matanya malah sulit untuk terpejam. Ia meraih ponsel, membuka aplikasi Whatsapp.

“Yuna, tidur!” seru Jheni. “Bandel banget dikasih tahu. Kalo sampe besok si Irvan ngomel karena kamu punya mata panda, yang dijejalin pertanyaan pasti aku terus karena nggak mengurus kamu dengan baik. Kamu tahu, seharian ini aja aku udah ditelepon berapa kali sama dia buat mastiin kalo anak buahnya kerjanya bagus. Kamu bener-bener nggak bisa lihat aku tidur dengan baik malam ini?”

“Bawel banget kayak emak-emak,” celetuk Yuna.

Jheni langsung melempar bantal ke arah Yuna. “Kamu yang emak-emak bawel. Aku kayak gini demi kebaikan kamu juga.”

“Iya, Jheni sayang ... Jheni ter-lope-lope!”

“Ngece banget sih!?” Jheni melompat dari tempat tidurnya dan langsung menyerang Yuna.

“Ssst ...! Jangan ribut! Icha udah tidur beneran,” bisik Yuna.

Jheni langsung menoleh ke arah Icha. “Cepet banget dia tidur. Enak banget tidurnya, kayak nggak punya beban hidup.”

“Kalo kita? Nggak tidur-tidur gini, apa karena keberatan beban hidup?”

Jheni tertawa kecil. “Kamunya aja yang bandel!” jawab Jheni sambil mengetuk dahi Yuna. “Udah bercandanya. Tidur yuk!” ajaj Jheni.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia kembali berbaring, namun masih sulit untuk memejamkan mata.

Dua puluh menit berlalu.

Yuna masih belum juga memejamkan mata.

“Kenapa aku nggak bisa tidur?” tanya Yuna dalam hati. Ia menatap wajah Icha dan Jheni yang sudah terlelap.

Yuna menatap langit-langit kamar yang luas. Ia kembali melihat ponselnya dan membuka pesan Whatsapp. “Yeriko udah tidur atau belum ya?” batinnya.

Yuna mengetik pesan untuk Yeriko. Kemudian menghapusnya kembali. Begitu seterusnya hingga beberapa menit terlewati.

“Hmm ... belum tidur?” Yeriko tiba-tiba mengirimkan pesan terlebih dahulu.

“Oh My God!” Yuna berseru tanpa suara. “Dia juga belum tidur?”

Yuna langsung tersenyum dan membalas pesan Yeriko. “Aku nggak bisa tidur. Kamu sendiri kenapa belum tidur?”

“Kangen kamu,” jawab Yeriko sembari mengirimkan emoji ‘hug’ untuk Yuna.

Yuna tersenyum senang membaca pesan dari Yeriko. “Aku juga. Nggak bisa tidur tanpa kamu,” balas Yuna.

Yeriko langsung menelepon Yuna.

“Halo ...!” sapa Yuna berbisik. Ia perlahan turun dari tempat tidur.

“Aku di bawah. Turun ya!”

“Serius?”

“Iya. Kapan aku bercanda?”

“Oke.” Yuna mematikan telepon dan mengendap-ngendap keluar dari kamar tersebut.

Beberapa menit kemudian, Yuna menghampiri Yeriko yang sudah menunggunya di luar hotel.

“Hei ...!” sapa Yuna sambil menepuk punggung Yeriko.

Yeriko berbalik dan tersenyum menatap Yuna.

“Kenapa nggak masuk?” tanya Yuna.

“Mama bener-bener kejam sama aku. Masa aku nggak boleh pesen kamar di sini. Malah ditaruh di hotel lain.”

Yuna tersenyum kecil. “Kenapa ya? Padahal, di sini kan bisa beda kamar juga.”

Yeriko tersenyum. “Emang udah diatur sama Mama untuk keamanan. Karena pernikahan kita tertutup banget. Katanya, banyak media yang minta buat ambil gambar. Kalo aku check-in di sana. Media bakal ngira resepsi kita di sana.”

“Dasar licik!” dengus Yuna.

Yeriko tersenyum. “Kenapa belum tidur juga sampai jam segini?”

“Aku nggak bisa tidur. Belum dipeluk sama kamu.”

“Umh, sini!” Yeriko menarik Yuna ke dalam pelukannya. “Kita sudah menikah sejak enam bulan lalu. Kenapa aku ngerasa malam ini masih single ya? Aku sampe nggak bisa tidur menghadapi hari pernikahan besok.”

“Aku pikir, aku doang yang ngerasa kayak gini.”

“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Yeriko.

“Semuanya.”

“Padahal, semua udah diurus sama mama.”

“Gimana sama mama? Apa dia bisa tidur?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku rasa, dia bisa tidur. Mungkin, orang WO yang nggak bisa tidur karena ditekan terus sama mama.”

“Hihihi, kasihan juga mereka ya? Udah kerja keras untuk pernikahan kita.”

“Aku nggak bisa lama-lama di sini. Kamu cepet tidur ya! Besok, harus kerja keras. Vitamin dari dokter, nggak lupa diminum kan?”

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak mungkin aku lupa.”

Yeriko mengelus perut Yuna. “Jaga dia baik-baik ya!” pintanya lirih sambil mengecup perut Yuna. “Kalian harus tidur sekarang. Kalau nggak tidur, Ayah akan merasa bersalah karena udah buat Dedek ikut begadang.”

Yuna tersenyum kecil sambil menggenggam tangan Yeriko yang masih di perutnya. “Siap, Ayah!” sahutnya dengan suara yang sengaja dibuat seperti anak kecil.

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Kembalilah ke kamarmu! Sampai ketemu besok,” ucapnya. Kemudian mengecup bibir Yuna yang manis.

Yuna mengangguk. “Ayah hati-hati!”

Yeriko mengangguk. “Cepet masuk!”

“Tunggu kamu pergi.”

“Aku tunggu kamu masuk, baru pergi.”

“Aku tunggu kamu pergi, baru aku masuk.”

Yeriko tertawa kecil.

“Kayak gini aja terus sampai besok. Hahaha.”

Yeriko langsung memutar tubuh Yuna. “Kalo gitu, sekarang kalian kembali ke sana dan tidur dengan nyenyak! Nggak boleh melawan perintah Ayah!”

Yuna tertawa kecil. “Oke.” Ia melangkahkan kakinya perlahan. Rasanya, kakinya tak ingin melangkah pergi. Ia terus menoleh ke belakang, menatap Yeriko yang masih tersenyum di sana.

“Lihat jalan baik-baik!” seru Yeriko.

Yuna nyengir. Ia memutar wajahnya dan melangkah pasti memasuki hotel kembali. Ia terus tersenyum sampai masuk ke dalam kamarnya.

Lampu kamar yang gelap, tiba-tiba menyala.

“Dari mana? Kenapa nggak tidur?” tanya Jheni yang sudah  berdiri menghadang Yuna.

“Kamu ngagetin aja!” celetuk Yuna sambil melangkahkan kakinya. “Aku abis cari angin. Nggak bisa tidur.”

“Angin bisa bikin kamu tidur?”

“Huuaa ... ngomelnya besok aja! Aku ngantuk,” jawab Yuna sambil merebahkan tubuhnya ke atas kasur.

Jheni mengerutkan hidungnya. Ia kembali mematikan lampu dan berbaring kembali di tempat tidurnya. “Kalo bukan temen, udah aku pites kamu, Yun. Ngeselin banget,” celetuknya.

Yuna hanya tertawa kecil mendengar celetukkan Jheni. Ia akhirnya bisa terlelap setelah  jam tiga pagi.

 

(( Bersambung ...))


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas