Wednesday, August 13, 2025

Perfect Hero Bab 292 : The Wedding Day

 


“Selamat malam saya ucapkan kepada para tamu undangan yang telah berkenan hadir di acara yang sangat istimewa ini. Saya selaku MC di sini juga ikut merasa istimewa karena dipercaya untuk memandu pesta pernikahan Mas Yeriko dan Mbak Ayuna ...!” Suara Master of Ceremony mulai mengambil perhatian semua orang yang hadir di ballroom yang sudah didekorasi sangat mewah.

 

Deretan pergola dengan bunga-bunga indah berjejer rapi di tengah ruangan. Semua bunga yang ada di sana adalah bunga asli. Aroma yang keluar dari bunga-bunga itu sangat khas dan memanjakan semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.

 

Dekorasi ruangan yang sangat mewah dan hidangan berkelas, membuat semua orang berdecak kagum. Mereka terlihat sangat gembira menikmati kebahagiaan keluarga Hadikusuma. Hanya dua orang yang hatinya begitu iri dan cemburu di tempat itu. Siapa lagi, kalau bukan Melan dan Bellina. Keluarga Yuna yang ikut menghadiri acara pernikahan tersebut.

 

Setelah membuka acara dengan beberapa kalimat candaan, MC tersebut langsung menatap pintu masuk. “Mari kita sambut, pasangan pengantin kita yang sangat tampan dan cantik ini. Yeriko Sanjaya dan Fristy Ayuna!”

Semua orang menoleh ke arah yang ditunjuk oleh MC tersebut.

Yuna menahan napas saat kakinya melangkah masuk beriringan dengan langkah Yeriko. Semua orang menatapnya dan membuat dirinya sangat gugup. Andai ia tidak memeluk lengan Yeriko, mungkin tubuhnya sudah merosot ke lantai. Meleleh dan menghilang di antara orang-orang ini.

“Kenapa semua orang lihatin kita? Aku gugup banget,” bisik Yuna.

“Karena kamu tokoh utama yang paling cantik,” jawab Yeriko tanpa mengalihkan pandangannya. Ia segera membawa Yuna menaiki pelaminan dengan hati-hati.

“Eeaa ... ini dia dua tokoh utama hari ini. Terlihat sangat serasi sekali. Ganteng dan cantik. Bikin saya, jadi pengen nikah lagi kalau begini,” canda MC untuk membuat suasana lebih santai.

Bellina terus menatap Yuna. Ia sangat iri melihat Yuna mengenakan gaun pengantin mewah bertahtakan berlian di bagian dadanya. Ia tahu kalau gaun itu sangat mahal. Ia bahkan lebih sibuk memikirkan berapa banyak uang yang sudah dihabiskan keluarga Hadikusuma untuk menggelar pesta pernikahan yang sangat mewah. Hingga ia tak mendengarkan apa yang diucapkan oleh MC di atas panggung pelaminan.

Yeriko sudah mengambil alih microphone dari tangan MC. Ia menatap Yuna yang berdiri di depannya. Ia tak berhenti tersenyum.

“Fristy Ayuna ... perkenalkan, nama saya Yeriko Sanjaya Hadikusuma. Ini adalah kalimat yang tidak pernah terucap di hari pertama kita bertemu. Saat itu, aku dengan lancang memintamu menjadi seorang istri. Bahkan, aku tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya ... aku jatuh cinta pada wanita sederhana yang memandangku begitu sederhana. Kamu membuatku jatuh cinta dengan ribuan alasan yang sulit untuk kujelaskan.”

Yuna tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat terharu mendengar ucapan Yeriko. Ia benar-benar tidak menyangka kalau suaminya begitu sempurna, sangat sempurna, sangat-sangat sempurna. Semua kekagumannya, tak cukup hanya diungkapkan dengan kata-kata.

“Hari ini ... dihadapan orang tuaku, di hadapan keluarga besar kita, di hadapan semua sahabat-sahabatku. Aku berjanji akan mencintai kamu sepenuh hati sampai nanti. Jika nanti Tuhan mengambil ingatanku tentangmu, mereka semua akan mengingatkanku bahwa aku selalu mencintai kamu, aku nggak mau jauh dari kamu dan selalu melindungi kamu.”

Air mata Yuna langsung jatuh begitu mendengar ucapan Yeriko. Yeriko memang paling pandai membuatnya menangis terharu.

Tidak hanya Yuna, Jheni dan Icha yang berdiri di belakang Yuna juga ikut menangis mendengar ucapan Yeriko. Mereka menangis penuh haru.

“Ayuna ... aku ingin membuatmu jatuh cinta pada pandangan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Sampai waktuku memandang dunia ini habis. Maka, kamu membuat perasaan cintaku bertambah setiap detiknya. Agar aku bisa membuatmu bahagia di detik berikutnya,” tutur Yeriko sambil menatap lekat wajah Yuna.

Yuna mengangguk sambil menahan air matanya keluar.

Di tempat lain, Rullyta tersenyum melihat putera kesayangannya menemukan cinta sejatinya.

“Ayuna ... aku adalah pria biasa yang tidak bisa memberimu banyak hal. Izinkan aku memberikan seluruh hidupku untuk kamu.” Yeriko menjatuhkan satu lututnya ke lantai. Ia meletakkan microphone di lantai dan merogoh kotak cincin dari saku jasnya.

Tepat di hadapan Yuna. Ia menengadahkan kepalanya menatap Yuna dan membuka kotak cincin itu perlahan.

Mulut Yuna menganga begitu melihat cahaya yang keluar dari kotak cincin tersebut. Bukan hanya Yuna, tapi semua orang yang ada di ruangan itu pun ikut terpesona.

“Gila! Yeriko bisa ngasih Yuna kejutan sekeren ini,” bisik Lutfi di telinga Chandra.

“Tanya ke dia. Pesen cincinnya di mana?”

“Kamu yang tanya?”

“Kamu aja!”

“Eh, sst ...!” Mereka kembali fokus menatap Yeriko yang sedang memasangkan cincin berlian ke tangan Yuna.

Yeriko tersenyum. Ia mengecup punggung tangan Yuna. Kemudian bangkit dari lantai. Ia langsung menarik pinggang Yuna merapat ke tubuhnya. “Nggak ada sesuatu yang mau kamu katakan buat aku?”

Yuna menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Bukannya kamu pernah bilang kalau aku hanya bisa menerima semua yang kamu berikan buat aku?”

Yeriko tersenyum. Ia mencium lembut bibir Yuna yang manis.

Dari kejauhan, Bellina menatap Yuna penuh cemburu. Terlebih, Lian juga tak memalingkan pandangan matanya dari Yuna. Ia ingin seperti Yuna. Mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari suami dan keluarga besar Hadikusuma. Juga fasilitas mewah yang tidak bisa ia dapatkan dari Wilian.

Semua orang tenggelam dalam suka cita pesta pernikahan keluarga Hadikusuma.

“Yun, selamat ya!” Jheni langsung merengkuh Yuna ke dalam pelukannya.

“Makasih, Jhen.”

“Selamat ya, Yun. Akhirnya, bisa bernapas lega karena acara kalian berjalan lancar.” Icha juga ikut mengucapkan selamat.

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Yeriko langsung menarik lengan Yuna. “Aku kenalin sama seseorang,” ajaknya sambil menatap Satria dari kejauhan.

Lutfi dan yang lainnya mengikuti langkah Yeriko.

“Hei, Satria!” Yeriko langsung menepuk pundak Satria. “Lama nggak kelihatan. Kirain, udah lupa jalan pulang.”

Satria tersenyum kecil. “Ada-ada aja kamu, Yer.”

“Aku kira, kamu nggak bakal datang ke acara pernikahanku. Oh ya, kenalin. Ini istriku. Namanya Yuna.”

Satria mengangguk kecil.

“Yun, ini salah satu teman baikku. Namanya Satria Ardi Nugraha. Anaknya Bunda Yana.”

“Astaga! Ini anaknya Bunda Yana?” seru Yuna. “Salam kenal.” Ia mengulurkan tangan ke arah Satria.

Satria membalas uluran tangan Yuna sambil tersenyum.

“Gimana tugas di sana?” tanya Yeriko pada Satria.

“Yah, begitulah. Ada suka dan dukanya. Namanya juga tugas.”

“Eh, kita ke sana yuk! Sambil ngobrol-ngobrol.”

Mereka semua berkumpul di satu meja.

“Aku denger, kamu udah jadi komandan?”

“Hah, kata siapa?”

“Halah, sok merendah lu, Sat. Berita besar kayak gini, gimana kita nggak tahu?” sahut Lutfi.

“HAHAHA.” Satria tergelak.

“Nggak nyangka dia yang bertahan di militer. Kamu ingat nggak waktu latihan dulu? Dia yang paling lelet kalo soal makan sama mandi. Sekarang udah jadi komandan, masih gitu juga?” tanya Lutfi sambil tertawa.

“Ya, nggaklah. Malu sama anggota kalo masih begitu.”

“Bisa juga, Sat?” tanya Chandra.

“Bisa. Sudah terbiasa.”

Mereka sibuk membahas masa lalu mereka saat masih sama-sama berada di pendidikan militer. Sesekali tertawa saat mendengar cerita lucu yang keluar dari mulut Satria.

 

(( Bersambung ... ))

 

Selamat untuk Mr. & Ms. Ye

Semoga bahagia selalu.

Dukung terus cerita ini supaya bisa menghadirkan cerita yang lebih seru lagi ya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 291 : Last Minutes Before the Wedding Party

 


“Yun … Yuna!” seru Jheni di telinga Yuna.

“Apaan sih, Jhen!?” Yuna langsung menutup telinganya dengan bantal.

“Bangun, Yun. Udah pagi.”

Yuna bergeming.

Jheni langsung merebut bantal dari kepala Yuna. “Bangun! Siap-siap dandan!” seru Jheni kesal.

Yuna memicingkan mata sambil mengangkat tubuhnya. “Jam berapa, Jhen?”

“Jam lima.”

“Masih pagi banget. Acaranya kan mulai jam sepuluh.” Yuna merebahkan tubuhnya kembali dan menutup seluruh wajahnya dengan selimut.

“Astaga, Yuna!” Jheni geram dengan tingkah Yuna yang terlihat sangat santai.

“Aku masih ngantuk, Jhen!” balas Yuna.

“Siapa yang suruh kamu keliaran di luar tengah malam?”

“Yeriko!”

“Oh, jadi kalian berdua sekongkol buat bohongin kami, hah!?”

Yuna langsung menyingkap selimut dari tubuhnya. “Kamu cerewet banget, sih!?” dengusnya. Ia turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi sambil memejamkan mata.

 “Yeriko juga, tuh. Udah tua, masih aja kayak anak abege. Apa susahnya sih pisah cuma sebentar doang? Cuma semalem doangan. Alay bener tuh orang,” dengus Jheni kesal.

 

Icha hanya tertawa kecil melihat Jheni yang mengomel sendiri.

 

“Apa ketawa-ketawa? Bukain pintu, tuh!” perintah Jheni saat ia mendengar pintu diketuk.

 

Icha langsung menoleh ke arah pintu. Melangkah perlahan dan membukakan pintu. Beberapa orang karyawan berseragam khas hitam putih langsung masuk ruangan sembari membawa gaun pengantin yang akan dikenakan Yuna.

 

“Wow!” Icha dan Jheni melongo melihat gaun pengantin yang super mewah hasil rancangan dari desainer ternama di Asia.

 

“Gila, ini berapa milyar gaunnya Yuna doang!?” seru Jheni. “Ya ampun … Yuna bener-bener jadi Cinderella. Aku harus mengabadikan momen ini dengan baik. Ntar aku tulis dalam project novel aku selanjutnya.”

Jheni dan Icha tak henti-henti mengagumi gaun pengantin yang dirancang khusus untuk Yuna. Melihatnya, membuat mereka ingin segera menikah saat itu juga.

 

“Duh, kapan aku bisa pake gaun kayak gini?” tanya Icha dengan mata berbinar.

 

“Iya, Cha. Kayak mimpi di siang bolong. Rasanya, jadi pengen cepet-cepet dilamar sama Chandra.”

 

Icha mengangguk-anggukkan kepala. “Aku juga …”

 

“Eh, bukannya kamu sama Lutfi cuma pacaran kontrak? Emang bisa sampai nikah?”

Icha meringis ke arah Jheni. “Kalo kontraknya udah habis. Boleh berharap yang lebih dari itu kan?”

Jheni langsung mengetuk dahi Icha. “Pintar juga otak kamu. Bikin dia jatuh cinta beneran ke kamu. Ntar aku bantu comblangin,” ucap Jheni sambil mengerdipkan matanya.

 

“Nggak yakin. Ceweknya dia banyak,” sahut Icha santai.

 

“Kamu santai banget nanggepinnya? Sabar banget ngadepin Lutfi. Eh, by the way, kamu kan satu-satunya cewek yang paling deket sama Lutfi di antara yang lainnya. Kamu dapet banyak dukungan dari orang-orang terdekatnya Lutfi. Emangnya, kamu nggak punya perasaan sedikit pun ke dia?”

 

“Pertanyaan itu, harusnya kamu tujukan ke Lutfi. Dia punya perasaan atau nggak ke aku? Kalo aku sendiri, udah jelas sayang sama dia. Sedangkan dia, menganggap semua cewek yang dia deketin itu sama.”

 

“Hmm … pinter banget sih kalian nyembunyiin hubungan palsu ini dari kami? Emangnya, kamu dihargai berapa sama Lutfi?”

 

Icha tersenyum masam. Ia sebenarnya tidak menyukai hubungan ini. Namun, ia terpaksa melakukannya. Jika boleh memilih, ia akan memilih mencintai Lutfi dengan tulus. Bukan karena perjanjian mereka saat itu.

Jheni terdiam. Ia mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan Icha dan Lutfi. Keduanya terlihat sangat mesra dan baik-baik saja. Bila dibandingkan hubungannya dengan Chandra yang kaku. Tapi, Chandra tetap saja memiliki nilai plus bila dibandingkan dengan Lutfi.

“Hai, kalian … apa kabar?” sapa Irvan yang baru saja masuk ke kamar tersebut.

“Hai …!” balas Icha dan Jheni bersamaan.

“Mana pengantinnya, nih?” tanya Irvan.

 

Jheni dan Icha saling pandang. Mereka baru menyadari kalau Yuna sudah sangat lama berada di dalam kamar mandi. Mereka terlihat panik dan berlari menuju kamar mandi.

 

“Nggak dikunci,” tutur Jheni sambil memutar gagang pintu kamar mandi.

 

Mereka melihat Yuna yang duduk di pojok kamar mandi sambil memejamkan mata.

 

“Astaga, Yuna!” seru Icha dan Jheni.

 

Yuna langsung gelagapan dan terbangun dari tidurnya. “Kalian ngagetin aja.”

 

“Kamu masih bisa lanjutin tidur di sini?”

 

“Kita udah khawatir banget. Kenapa-kenapa di dalam kamar mandi. Irvan udah datang.”

 

Yuna bangkit. Ia melangkah menuju westafel dan membasuh wajahnya. “Kalian keluar dulu! Aku mau cipes!” seru Yuna.

 

Jheni dan Icha langsung keluar dan menutup pintu kamar mandi.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna keluar dari kamar mandi. Ia langsung ditarik oleh beberapa pegawai Ivan untuk mempersiapkan dirinya.

 

“Kenapa mata kamu sayu banget?” tanya Ivan sambil memerhatikan wajah Yuna.

 

“Aku ngantuk. Tidur sebentar lagi, boleh nggak?”

“Nggak bisa. Kamu kurang tidur?” tanya Irvan. Ia menoleh ke arah Icha dan Jheni. “Kalian ngajak pengantin begadang?”

Jheni dan Icha menggelengkan kepala.

“Ini pengantinnya udah sarapan atau belum?”

Jheni dan Icha kembali saling pandang. “Lupa, Cha. Kamu gimana sih?” bisik Jheni.

“Aku juga lupa. Ini pertama kali aku jadi bridesmaid.”

“Eh, kalian malah asyik ngobrol sendiri. Si Yuna udah sarapan apa belom?” tanya Irvan lagi.

“Belum, Van. Aku laper. Kasihan anak di perutku,” rengek Yuna.

Ivan langsung menatap Jheni dan Icha. “Kalian pesenin makanan buat Yuna!” perintahnya. “Jangan sampai dia pingsan karena kelaparan.”

“Iya. Kamu mau makan apa, Yun?”

“Tanya Bibi War. Semua menu makanku diatur sama Chef Rafa.”

“Aku mana punya nomernya Bibi War,” sahut Jheni geram.

“Nggak usah marah-marah!” pinta Yuna. “Ntar cepet keriput tuh kulit hidung.” Yuna menahan tawa sembari menyodorkan ponselnya.

Jheni meraih ponsel dari tangan Yuna dan menelepon Bibi War untuk menanyakan menu makanan yang seharusnya dikonsumsi pagi ini.

Beberapa menit kemudian. Yuna sudah berada di bawah kendali Irvan. Irvan telah menyiapkan peralatan make up khusus yang tidak berbahaya untuk ibu hamil. Sebab, Rullyta dan Yeriko sudah memberitahukan bahwa Yuna sedang hamil.

 

 

Tepat jam sembilan pagi, Yeriko dan dua sahabatnya berangkat menuju Sangri-La. Ia langsung melangkah menuju kamar tempat Yuna mempersiapkan dirinya.

“Heh, ngapain ke sini?” Jheni langsung menghalangi mereka masuk ke dalam ruangan begitu mengetahui kalau Yeriko dan dua pengawalnya datang.

“Yuna mana?” tanya Yeriko celingukan.

“Lagi make up. Nggak bisa diganggu.”

“Jhen, kamu cantik banget!” tutur Lutfi. “Lihat, si Chandra sampe gak kedip lihat kamu.”

Jheni menahan tawa. “Siapa dulu yang make up-in? MUA profesional kelas atas,” sahutnya bangga.

Yeriko tersenyum. Ia berusaha untuk melihat Yuna, namun Jheni keukeuh melarangnya.

“Kalian tunggu di kamar depan, tuh!” Jheni menunjuk pintu kamar yang sudah disediakan. Beberapa orang di dalamnya terlihat mondar-mandir mempersiapkan semua keperluan pernikahan yang akan dilaksanakan sebentar lagi.

Yeriko memilih untuk menuruti ucapan Jheni. Ia menunggu Yuna di ruang yang berbeda.

Di dalam ballroom, beberapa tamu terlihat sudah berdatangan.

Bellina dan Lian terlihat memasuki ruangan tersebut, juga kedua orang tua mereka.

Di belakangnya, ada walikota dan istrinya. Juga seorang pria tampan bertubuh tinggi nan kekar yang berhasil merebut perhatian semua orang si ruangan itu.

Pria itu langsung menghampiri Lutfi dan Chandra yang sudah ada di ruangan tersebut.

“Hei, Satria? Apa kabar?” sapa Lutfi begitu pria tampan itu menghampirinya.

“Baik. Kalian apa kabar?” tanya Satria sambil memberikan rangkulan hangat untuk dua teman lamanya.

“Baik, Sat. Akhirnya, nongol juga kamu ke sini.”

Satria tersenyum kecil. “Udah kelar tugas di sana. Sekarang, di sini aja sementara sampai ada tugas baru lagi.”

“Weh, sukses nih jadi prajurit?” tanya Chandra sambil menepuk bahu Satria.

Satria tertawa kecil menanggapi ucapan Chandra. “Kalian yang sudah pada sukses jadi pengusaha. Aku masih jadi pesuruh.”

“Pesuruh apanya? Komandan kan sekarang?” tanya Lutfi.

Satria tersenyum kecil. “Yeriko mana?”

“Belum turun. Masih lima belas menit lagi.”

“Oh.” Satria manggut-manggut.

Mereka bertiga terlihat serius membicarakan tentang dunia militer yang pernah mereka jalani bersama beberapa tahun lalu. Sembari menunggu MC membuka acara pernikahan tersebut.

 

 

(( Bersambung ...))

Happy Wedding Mr. Hero

 

Support terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Sunday, August 10, 2025

Masa Depanmu Bukan Tanggung Jawabku





Ada satu fenomena unik di dunia ini.
Ada orang yang masa depannya udah kayak mi instan—bahan lengkap, air ada, kompor ada—tapi dia tetap minta orang lain yang masakin, ngaduk, bahkan nyuapin.
Kalau bisa, sekalian ditiupin biar nggak panas.

Kamu pernah nggak ketemu orang yang hobinya ngeluh tentang masa depannya, tapi kalau disuruh bergerak malah bilang, “Liat nanti deh, masih males.”?
Atau yang lebih epik, dia mau sukses, tapi rencananya cuma dua kata, yaitu nebeng orang.

Nah, kalau kamu merasa ini mulai mirip kamu… duduklah!
Tarik napas! 
Baca pelan-pelan!
Karena aku mau bilang satu hal penting yang mungkin nggak pernah kamu dengar sejujurnya. 

Suatu hari aku berselisih paham dengan seseorang yang cukup dekat, tapi tidak begitu dekat juga. Saat aku mengungkit masa lalu untuk dijadikan sebuah pelajaran bersama, dia justru marah besar, mencaci maki dan melontarkan banyak kata yang tidak enak untuk kudengar. 
Yang lebih parahnya lagi, dia bertingkah seolah menjadi korban atas apa yang telah aku lakukan dan seolah menuntut masa depannya adalah tanggung jawabku dan dia tidak ingin semuanya hancur. 

Aku berpikir dan merenung cukup lama. Sebenarnya, masa depannya tidak bergantung padaku, juga bukan bagian dari tanggung jawabku. Karena dia bukan anakku yang semuanya harus aku tanggung, termasuk tentang bagaimana masa depannya kelak. 

Entah kenapa, banyak orang yang menuntut agar aku bertanggung jawab pada masa depan orang lain yang mereka sendiri tidak memiliki keberanian untuk bertanggung jawab pada dirinya sendiri. 

Kalau kamu baca tulisan ini, marahlah! Merenunglah! Ambillah pelajaran yang baik! 

Aku cuma mau bilang kalau masa depanmu bukan tanggung jawabku.
Bukan! Sama sekali bukan! 

Jangan salah paham. Aku bukan orang jahat. Aku cuma realistis. Hidup itu kayak warung pecel lele, semua orang punya lapak masing-masing. Aku sibuk ngurus sambelku sendiri, kamu ya ngurus lalapanmu. Kalau kamu nggak ngulek, masa aku yang disuruh nyiapin sambel buat kamu juga?

Aku sering lihat orang yang hobinya nyalahin keadaan. “Aku nggak maju-maju karena nggak ada yang dukung.” Padahal, kalau dipikir-pikir, yang nggak dukung itu bukan orang lain… tapi dia sendiri.

Bisa tuh maraton nonton drakor seminggu penuh, tapi kalau diajak ikut webinar gratis 2 jam langsung bilang, “Aduh, nggak sempat.”
Sempat buat rebahan lima jam, tapi nggak sempat buka laptop.

Bahkan kalau kita serumah, sekeluarga, atau sekampung, tetap saja masa depanmu itu jobdesknya kamu. 

Aku nggak pernah tanda tangan kontrak kerja sebagai “CEO Kehidupanmu” atau “Manager Kariermu”. Aku punya urusan sendiri, cicilan sendiri, mimpi sendiri. Yang percaya atau nggak, udah cukup bikin otakku penuh tanpa harus nyusun strategi hidup orang lain.


Masalahnya, sebagian orang masih percaya konsep aneh: “Kalau orang lain udah peduli sama aku, ya udah sekalian aja mereka yang ngurusin hidupku.”
Konsep ini biasanya datang sepaket dengan kebiasaan manis: nggak mau belajar, nggak mau berusaha, tapi rajin sekali minta tolong.

Contoh nyata?
Dia mau buka usaha. Minta pinjaman modal. Katanya “serius”. Aku bantu. Sebulan dua bulan dia rajin. Bulan ketiga mulai banyak alasan. Bulan keempat dia sibuk posting instastory liburan ke pantai. Bulan kelima? Bisnisnya bubar, tapi dia masih santai. Alasannya? “Ya kamu kan yang kasih modal, masa nggak sekalian ngajarin, ngontrol, ngejar target?”

Halo… modal itu bantuan, bukan kontrak perwalian masa depan.
Aku bantu bukan berarti aku mau jadi baby sitter mimpimu.

Masa depan itu kayak tanaman. Kalau mau panen, kamu yang nanam, kamu yang nyiram. Jangan nyodorin pot kosong sambil nyuruh orang lain nyiram tiap hari, lalu kamu tinggal rebahan sambil nonton drama Korea. Kalau pun ada orang baik hati yang mau nyiram, suatu hari dia akan berhenti—dan tanamanmu mati, karena pemiliknya nggak pernah peduli.

Kadang aku heran, kenapa banyak yang punya energi buat ngeluh, tapi nggak punya tenaga buat berusaha. Punya kuota buat stalking orang lain, tapi nggak ada kuota buat cari informasi kerja. Punya waktu buat nongkrong berjam-jam, tapi nggak ada waktu buat belajar skill baru.
Lalu ketika hidupnya nggak berubah, dia marah pada dunia, merasa semua orang jahat karena “nggak mau nolong”.

Sadar nggak, dunia ini sibuk. Semua orang berjuang dengan beban masing-masing. Kalau kamu masih pikir ada orang yang mau ngurus masa depanmu sepenuh waktu ... selamat! kamu lagi hidup di planet fantasi.

Mau aku kasih tahu rahasia kecil?
Orang yang bener-bener peduli sama masa depanmu, justru akan membiarkan kamu jatuh, supaya kamu belajar berdiri. Mereka nggak akan selalu membentangkan karpet merah tiap kamu mau melangkah, karena dunia nyata itu isinya jalan berbatu, bukan karpet hotel bintang lima.

Jadi mulai sekarang, yuk kita bikin perjanjian tidak tertulis! 
Aku akan tetap dukung kamu dalam bentuk semangat, doa, atau kadang masukan. Tapi aku nggak akan ikut memanggul masa depanmu di pundakku.
Kalau mau sukses, ayo… lari bareng!
Kalau mau nyerah, ya itu pilihanmu! 
Tapi jangan seret-seret aku buat ikut nyungsep.

Karena sekali lagi, dan tolong ini diingat baik-baik! 
Masa depanmu bukan tanggung jawabku! 
Kalau kamu mau hancur, silakan. Kalau kamu mau berhasil, berdirilah sendiri. Aku akan tepuk tangan dari sini.
Aku akan tepuk tangan untuk keberhasilanmu, meminjamkan pundak saat kamu sedih, bahkan mengingatkan kalau arahmu mulai melenceng. Tapi untuk menanam, menyiram, dan memanen—itu kerjaanmu, bukan tugasku! 
Ingat, hidup ini sistemnya BYO—Build Your Own masa depan. Mau sukses? Bangun sendiri. Mau gagal? Ya urus sendiri. Mau viral? Ya bikin konten sendiri.





Friday, August 1, 2025

Aku dan Taman Bacaku | Api Relawan itu Masih Ada

 


Jum'at, 1 Agustus 2025

Hari ini ada pemandangan yang tak biasa di taman bacaku meski kegiatannya masih sama seperti biasa.
Setiap hari Selasa dan Jum'at selalu ada kelas Bahasa Inggris (Gratis) yang aku buka untuk umum. Siapa saja boleh belajar di sini tanpa merasa terbebani dengan tuntutan apa pun. Aku merasa tidak layak mengambil tarif karena ilmuku juga tidak begitu tinggi. Hanya bisa mengajar berdasarkan bahan ajar yang aku pelajari. Aku juga lebih menuruti keinginan anak-anak yang ingin belajar. Terkadang, mereka mengajak bermain game seru berbahasa Inggris atau kegiatan yang lainnya. Sehingga, pembelajaran mereka tidak bisa dipaksakan karena aku mau mereka belajar dengan bahagia dan tidak terbebani oleh materi Bahasa Inggris yang dianggap sangat sulit oleh beberapa orang.

Biasanya, aku sudah pusing dengan kerusuhan anak-anak yang hadir. Pasalnya, aku harus mengajar seorang diri, sementara jenjang kemampuan bahasa Inggris mereka sudah berbeda. Ada yang sudah belajar selama berbulan-bulan. Ada juga yang baru bergabung dan baru mengenal kosakata.




Tapi hari ini aku cukup santai dalam mengajar. Kenapa? Karena ada anak-anak KKN dari UINSI yang membantuku mengajar. Mereka menjadi relawan pengajar selama  pengabdian di desa kami. Kebetulan, mereka juga tinggal di dekat taman bacaan kami. Sehingga, aku sangat mengharapkan kontribusi mereka dalam menghidupkan kegiatan di taman baca. Sebab, waktu dan tenagaku sangat terbatas. Aku sangat membutuhkan orang-orang yang memiliki kepedulian sama terhadap anak-anak di Desaku.



Aku tidak bisa memaksa seseorang untuk menjadi relawan pengajar. Juga tidak banyak berharap. Karena semuanya di sini gratis. Tidak ada donatur yang memberi honor untuk para relawan pengajar. Sehingga, aku hanya mengharapkan mereka yang terketuk pintu hatinya untuk membantuku. Meski hanya sesekali, itu sangat berarti untukku.
Seringkali aku berada di titik keputusasaan dan ingin menyerah karena harus berjalan seorang diri. Tapi di saat itulah Tuhan menunjukkan banyak keajaiban kepadaku. Keajaiban untuk tidak menyerah pada keadaan begitu saja.
Ketika ada orang yang datang dan menawarkan untuk menjadi relawan, aku sangat senang. Tidak ada yang bisa kuberikan kepada mereka selain sertifikat pengabdian yang mereka lakukan di taman bacaku. Sejujurnya, aku selalu merasa tidak enak hati jika harus merepotkan orang lain. Tapi, ada orang-orang yang justru datang dengan bahagia untuk direpotkan.



Di saat aku ingin menyerah dan berhenti dari semua kegiatan ini, Tuhan datangkan orang-orang yang membuat api semangat ini terus terjaga dan tidak pernah padam. Di saat air mata ini jatuh bercucuran karena ketidaksanggupanku, Tuhan mengirimkan tangan-tangan malaikat untuk mengusap air mataku dan memberiku kekuatan baru.

Ternyata ... api relawan itu masih ada meski nyalanya sangat kecil. Terkadang, aku tidak menyadarinya karena ruang gerakku terasa masih sangat gelap. Aku harap, suatu hari nanti akan ada banyak relawan yang mau mengabdikan dirinya ke taman bacaku. Membuat taman bacaku terus bergerak dan bermanfaat bagi anak-anak desa. Sebab, aku hanya mampu mendirikan dan memberikan ruang. Ada hal-hal yang tidak mampu aku lakukan. Aku hanya manusia biasa yang memiliki begitu banyak keterbatasan. Tanpa pengabdian yang tulus dari para relawan, taman bacaku tidak akan bisa bertahan sejauh ini.

Terima kasih untuk semua relawan yang pernah mengabdikan dirinya di taman bacaku. 

Kalau suatu hari nanti kita bertemu kembali, aku ingin dengar cerita tentang kesuksesan kalian di masa depan.





Thursday, July 31, 2025

Lebih Baik Aku yang Menunggu


LEBIH BAIK AKU YANG MENUNGGU
Oleh: Rin Muna




Aku selalu percaya, bahwa sabar bukan cuma perkara menahan diri, tapi juga memilih siapa yang akan kita beri waktu. Dan hari ini, aku memilih untuk menunggu.

Siang itu panasnya khas Kecamatan Samboja—matahari yang menggantung tepat di atas kepala, menguras napas siapa pun yang nekat berjalan tanpa pelindung kepala. Tapi aku tetap melangkah keluar rumah, meninggalkan desa Beringin Agung yang teduh, menuju sebuah warung bakso di depan Eramart. Lokasinya paling nyaman untuk janjian, tapi hari ini aku tidak sedang cari kenyamanan. Aku sedang menepati janji.

Kurir TIKI itu sebelumnya sudah menghubungiku. Nada bicaranya cepat dan to the point, seperti orang yang terlalu sering dikejar waktu. “Maaf, Kak. Saya nggak bisa antar ke Beringin Agung, jauh masuk ke dalam dan paketnya cuma satu doang. Bisa kutitip  di daerah Sungai Seluang aja?”
"Jangan, Mas! Itu dokumen penting. Jangan dititip ke orang. Langsung saya ambil aja. Kita ketemuan di luar,  gimana?"
"Oke, mbak. Mungkin sekitar 1,5 jam lagi saya sampai di Sei Seluang."
"Oke."
Panggilan telepon ditutup. Aku langsung menghela napas mendengarnya. Setiap kali ada paket datang, harus berjuang mengambilnya ke luar. Padahal sudah bayar full tarif sampai depan rumah. 
Kalau aku mau egois, aku bisa bilang, "nggak mau, Mas! Saya kan sudah bayar paketnya sampai depan rumah. Harusnya diantar sampai rumah."
Tapi aku tidak seegois itu. Aku mengerti para kurir hanya sedang bekerja mencari rezeki dan aku tidak ingin menyulitkannya. Kata ulama, kalau kita mempermudah urusan orang, urusan kita juga akan dipermudah. Aamiin. 

Ini bukan kali pertama kurir menolak masuk ke desaku. Aku paham—jalan masuk ke desaku cukup jauh, sekitar 8 kilometer, jalannya banyak rusak, kadang berlubang, kadang bikin shockbreaker trauma berkepanjangan. Tapi sebagai orang yang dibesarkan di desa, aku juga tahu, mengeluh tidak akan memperpendek jarak. Jadi ya, aku jawab, “Oke, nanti saya tunggu di warung bakso depan Eramart, ya, Mas.”

Kupacu motor pelan-pelan, melewati jalanan desa yang seperti labirin kecil. Di bahuku ada tas selempang lusuh yang sudah jadi saksi banyak pengambilan paket. Di dalamnya, selain dompet dan HP, terselip secuil kesabaran yang hari itu kusiapkan khusus untuk kurir.

Sampai di warung bakso, aku duduk di kursi lapis karpet yang warnanya sudah pudar. Di hadapanku semangkuk bakso mengepul dan segelas jeruk hangat manis yang entah kenapa terasa lebih manis saat dinikmati dalam suasana menunggu. Aku menengok kanan-kiri, belum ada tanda-tanda motor TIKI mendekat.
Menunggu itu memang bukan hal yang menyenangkan. Tapi entah kenapa, aku lebih rela aku yang menunggu daripada orang lain yang menungguiku. Apalagi kurir. Mungkin bagi sebagian orang, kerjaannya cuma antar barang. Tapi bagiku, mereka ini adalah jembatan antara harapan dan kenyataan—antara dokumen penting yang ia bawa dan ketulusan di tangannya.

Satu jam berlalu. Aku mulai berpikir, mungkin masih banyak pengiriman lain yang lebih prioritas. Tapi aku tetap di situ, karena janjinya denganku belum selesai. Dan aku percaya, menepati waktu bukan soal besar-kecilnya urusan, tapi tentang menghargai siapa yang kita ajak bicara.

Akhirnya, pengendara motor berjaket biru-putih-merah khas Tiki itu berhenti di depan warung.

“Maaf ya, Kak, lama,” katanya sambil buru-buru membuka box besar di belakang motornya.

Aku tersenyum. “Nggak apa-apa, Mas. Saya juga nyantai, kok. Baru sampai juga.”
Aku tahu aku berbohong. Tapi berbohong untuk kebaikan, tidak dianggap sebagai dosa. Justru, untuk menjaga semuanya baik-baik saja. Aku tidak ingin kejujuran menjadi menyakitkan untuk orang yang sedang berjuang menyampaikan dokumen penting itu ke aku. 

Aku tahu, bakso di hadapanku sudah tinggal kuahnya. Tapi nggak masalah. Lebih baik aku yang menunggu, daripada Mas kurir yang harus keliling cari-cari aku, di tengah panasnya jalanan, di bawah tekanan target pengiriman, dengan waktu yang kadang tidak bersahabat.

Kadang, hidup bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang mau meluangkan waktu. Hari itu aku belajar lagi satu hal kecil tapi penting bahwa menjadi orang yang menunggu dengan ikhlas itu seperti jadi pohon di pinggir jalan, dia diam, tapi membuat perjalanan orang lain jadi lebih nyaman.

Dan kalau boleh memilih, aku ingin terus jadi orang yang rela menunggu. Karena dalam menunggu, ada ruang untuk merenung. Dalam diam, ada waktu untuk belajar tentang sabar. Dan dalam sabar, selalu ada kehangatan kecil yang menyembuhkan.

Menunggu juga membuat kita mengerti, siapa yang diprioritaskan. Terkadang, aku juga menjadi orang yang ditunggu karena mereka menganggap aku lebih penting dari mereka. Tapi aku juga sering menunggu karena aku menganggap orang yang aku tunggu, lebih penting dari diriku sendiri. 


Kalau kamu sendiri gimana? Lebih suka menunggu, atau ditunggu?

#catatanRinMuna
#ceritahariini
#CODanDiWarungBakso
#hidupdidesa

Tuesday, July 22, 2025

Audiensi Relima Ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara

 


Suasana Desa Rapak Lambur pagi ini lumayan syahdu. Sinar matahari tak lagi menyelinap lewat sela-sela jendela karena tertutup awan tebal. Membuatku begitu nyaman terlelap di peraduan hingga tak sadar kalau sudah pukul 06.15 WITA. 

Begitu aku membuka mata, yang terlintas di pikiranku adalah janji pertemuan dengan Sekretaris Perpustakaan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara. Sebelumnya kami sudah membuat janji, sayangnya masih belum bisa bertemu. Kebetulan aku mengikuti pelatihan dari Balai Bahasa yang diselenggarakan di SMA Negeri 2 Tenggarong dan sudah menginap selama tiga malam di rumah kakakku.

Jadi, aku kembali mencoba menghubungi pihak Perpustakaan Daerah untuk bisa bertemu terkait rencana kegiatan Relima (Relawan Literasi Masyarakat) yang dibentuk oleh Perpusnas RI. 

Jadwal pertemuan sudah terkonfirmasi sejak semalam. Kami bisa bertemu pada jam sembilan pagi. 

Aku yang baru terbangun di jam enam pagi, tentunya cukup kelabakan. Sebab, aku masih harus menyiapkan sarapan pagi. Ditambah perjalanan dari Rapak Lambur ke pusat kota Tenggarong memakan waktu sekitar 45 menit. 

Usai sarapan pagi, aku langsung berpamitan dengan kakakku karena aku tidak akan pulang ke Rapak Lambur lagi. Aku langsung pulang ke Samboja. Mengingat kami sudah menginap selama 3 malam dan anak-anak di rumah sudah merindukan kami. 

Seperti biasa, aku selalu telat dari jadwal yang tengah ditentukan. Tapi aku beruntung karena pihak Perpustakaan Daerah juga masih dalam perjalanan dan kami sampai berbarengan. 

Begitu sampai di halaman Kantor Sekretariat Perpustakaan Daerah, aku langsung disambut oleh senyuman merekah dari Pak Fatoni. Beliau memang murah senyum. Bahkan sepertinya saat marah pun, wajahnya akan selalu tersenyum. Dia menyambutku dengan ramah dan mengajakku masuk ke dalam sebuah ruangan yang telah ditentukan. 

"WAAAH ...! DI SINI RUANGANNYA?" 
Kalimat itu spontan keluar dari bibirku saat melihat ruang diskusi atau ruang podcast yang design-nya sangat khas. Aku sering melihatnya di media sosial dan beberapa kegiatan pameran OPD. 

Beberapa menit kemudian, Ibu Yuli masuk ke ruangan. Menyambutku dengan senyum merekah dan pelukan hangat. Alhamdulillah, kami bisa bertemu kembali setelah beberaa lama. Terakhir kami bertemu saat aku mengantarkan produk olahan nanas ke Himba Karakah, rumah makan milik beliau. 

Kami duduk bertiga. Karena sudah saling mengenal sebelumnya, kami tidak perlu lagi memperkenalkan diri. Hanya aku yang perlu memperkenalkan diri dengan status baruku sebagai Relima (Relawan Literasi Masyarakat) dari Perpusnas RI. 

Aku juga memaparkan tentang apa itu Relima, peran dan fungsinya dan bagaimana aku bisa mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah terkait pergerakan Relima ini. 

Bersilaturahmi dan berdiskusi dengan pihak Perpustakaan Daerah adalah bagian dari advokasi Relima agar pergerakan Relima bisa lebih mudah saat terjun ke daerah. Perpusnas RI menginginkan kami bisa berkoordinasi dan bekerjasama dengan Perpustakaan Daerah dengan baik. Apapun yang diberikan oleh pemerintah daerah pada Relima adalah bentuk dukungan yang akan menjadi catatan bagi Relima dan Perpusnas RI. 

Kami semua berharap pergerakan Relima dapat bersinergi dengan seluruh pengelola tbm dan perpustakaan desa/kelurahan. Kami juga berharap pemerintah daerah dapat mendukung sepenuhnya pergerakan Relima (Relawan Literasi Masyarakat). Dukungan dari pemerintah, tentunya menjadi support penting bagi Relima agar pergerakan kami dapat berjalan dengan baik dan bisa selesai sesuai target. 

Harapan terbesar dariku adalah peran serta dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan minat baca dan menghidupkan aktivitas di taman bacaan atau perpustakaan desa/kelurahan. Tugas Relima tidaklah mudah, tapi semuanya akan jadi mudah ketika kita bergerak bersama, saling berangkulan dan saling menguatkan agar kesejahteraan masyarakat dapat terwujud dengan baik melalui literasi. 










Saturday, July 19, 2025

Pengalaman Mengikuti Musyawarah Wilayah dan Rapat Presidium Pemilihan Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Kaltim

 


Pagi ini aku terbangun dengan tergesa-gesa karena ada banyak jadwal yang harus aku lakukan hari ini. Bersyukurnya anak perempuanku yang duduk di kelas 4 SD sudah bisa mandiri. Ia selalu mengurus keperluan sekolahnya sendiri dan berangkat ke sekolah sendiri. Yang masih sulit mandiri adalah sang adik karena memang masih duduk di bangku TK. 

Hari ini, putera kecilku tidak masuk sekolah alias libur. Tapi orang tuanya diwajibkan datang ke sekolah untuk mengikuti rapat. Seperti biasa, tahun ajaran baru selalu membutuhkan perjuangan ekstra karena banyak yang harus dibayar dan dipersiapkan. 

Undangan rapat pukul 08.00 WITA dan aku masih belum mandi. Saat ini aku merasa lebih santai dan tidak harus datang on-time karena "terlambat" sudah menjadi budaya. Aku yang sangat sibuk, tidak ingin membuang-buang waktu dengan menunggu lama. Aku sedikit terlambat, tapi acara belum dimulai, persis seperti perkiraanku.


Usai mengikuti rapat di sekolah, aku langsung pulang ke rumah dan membuka laptopku. Tidak aku lupa kalau ada jadwal zoom meeting Musyawarah Wilayah untuk semua pengurus TBM di Kalimantan Timur. Aku tidak bisa hadir langsung, jadi aku meminta izin untuk hadir secara online. Sebab, pukul 13.00 WITA masih ada kegiatan Party Book bersama komunitas-komunitas pemuda Muara Jawa dan Samboja.

Aku baru masuk zoom setelah ada konfirmasi di grup kepengurusan bahwa zoom meeting sudah dimulai. Memang telat dari jadwal dikarenakan banyak yang hadir secara offline.
Acara dibuka oleh Presidium Wilayah Kaltim dengan memaparkan arti pentingnya gerakan literasi di wilayah Kaltim dan bagaimana Forum TBM berperan menjadi wadah untuk saling berbagi dan saling menguatkan.


Musyawarah Wilayah ini dihadiri langsung oleh pengurus daerah Forum TBM dari berbagai kota dan kabupaten di Kutai Kartanegara. Beberapa pengurus daerah yang hadir secara langsung berasal dari Pengurus Daerah FTBM Samarinda, FTBM Balikpapan, FTBM Kukar, FTBM Kubar/Malinau, FTBM Kutim, FTBM PPU, FTBM Bontang, FTBM Paser, dan FTBM Berau.

Aku merasa senang sekali karena akhirnya Forum TBM di Wilayah Kalimantan Timur bisa bergerak secara serempak. Tentunya ini akan sangat berperan penting dalam gerakan literasi di daerah ini. Sudah cukup lama aku bergabung di Forum TBM dan baru kali ini merasakan pergerakan Forum TBM yang cukup aktif. Bahkan, Forum TBM Kaltim telah membentuk kepengurusan daerah di beberapa kota dan kabupaten.

Tidak ada hal yang sulit ketika Tuhan yang menggerakkan. Begitu juga dengan pergerakan literasi ini. Semuanya bergerak secara swadaya, menggunakan uang pribadi untuk bisa menjalankan program-program literasi, terutama dalam pengentasan kemiskinan dan kesenjangan sosial. Jika bukan Tuhan yang menyentuh hati kita, tentunya kita tidak akan memiliki kepedulian kepada orang lain, terlebih orang-orang yang tidak kita kenal ke depannya.

Aku berharap, Forum TBM benar-benar bisa menjadi ruang berdiskusi, berjejaring, dan saling menguatkan. Karena terkadang kita ingin menyerah saat berjalan seorang diri. Di Forum TBM, kita sama-sama bergerak dan berjuang untuk saling menguatkan agar gerakan kita tetap konsisten dan hati kita tetap istiqomah berada di jalan ini.



Kutai Kartanegara, 19 Juli 2025

Bersilaturahmi dan Bersinergi Bersama Komunitas Penggerak Literasi Kabupaten Kutai Kartanegara

 


Tak seperti hari kemarin, pagi ini langit di Rapak Lambur cukup cerah. Sinar matahari yang hangat masuk lewat celah-celah jendela, tapi aku masih enggan membuka mata. Kondisi tubuhku yang kurang sehat sejak kemarin, membuatku terpaksa mengonsumsi obat dan tertidur dalam waktu yang cukup panjang.

Pukul 07.30 WITA, aku masih memasak di dapur. Padahal, setengah jam lagi jadwal kegiatan sudah harus dimulai. Aku tidak bisa membeli sarapan karena rumah kakakku jauh dari kota dan tidak ada yang berjualan nasi saat pagi hari. Jadi, aku pilih untuk memasak atau sekedar menghangatkan sayur kemarin lebih dahulu.

Aku baru bisa berangkat dari Rapak Lambur pada jam 08.00 WITA menuju ke Aula SMA Negeri 2 Tenggarong. Meski datang terlambat, acara baru saja dibuka dan aku segera duduk di kursi yang aku tempati pada hari sebelumnya.

Kondisi tubuhku hari ini cukup fit dan bersahabat, tidak seperti hari kemarin. Entah kenapa, aku tiba-tiba berubah menjadi manusia tropis yang tidak bisa terkena hawa dingin. Hawa dingin benar-benar menyiksa hidung dan tubuhku.

Materi pertama kali ini disampaikan kembali oleh M. Arsyad dari GLK (Gerakan Literasi Kutai) yang melanjutkan materi tentang pembuatan proposal komunitas. Kemudian, materi selanjutnya diisi oleh Ibu Mimi Nuryanti dari Yayasan Lanjong Indonesia yang memberikan materi tentang penyusunan RAB (Rancangan Anggaran Biaya) dan Laporan Keuangan Komunitas.

Materi-materi yang diberikan kali ini tentunya sangat penting dan sangat bermanfaat, terutama bagi komunitas literasi. Sebab, masih banyak komunitas literasi yang belum memiliki pelaporan administrasi yang lengkap dan belum memiliki legalitas. Dengan adanya kegiatan ini, aku berharap kalau semua komunitas literasi di Kutai Kartanegara bisa saling menguatkan demi terwujudnya literasi untuk kesejahteraan masyarakat.

Tidak seperti hari kemarin, kegiatan bimtek hari ini selesai lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan. Seharusnya selesai jam lima sore, tapi jam setengah empat sore sudah selesai.

Aku cukup terkejut karena jadwal berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Sementara, aku belum mengabari suamiku yang posisinya masih berada wilayah PLTGU Tanjung Batu yang jaraknya sekitar 15km dari SMA Negeri 2 Tenggarong. Alhasil, aku harus menunggu jemputan terlebih dahulu.

Peserta dari beberapa kecamatan mulai beranjak satu per satu. Aku masih bersantai di tempat dudukku. Kebetulan, ada Asih (Anggota FLP Kukar) yang juga sedang menunggu jemputan.

Beberapa menit kemudian, ruang pertemuan ini mulai kosong. Aku juga ikut berkemas. Mengemas laptop dan segala pernak-perniknya ke dalam tas ranselku, kemudian melangkah keluar. Menunggu di luar ruangan lebih mengasyikkan dan lebih menghangatkan tubuhku.

Baru duduk beberapa menit, tiba-tiba ada pemberitahuan di dalam grup bimtek kalau ada tas yang tertinggal dan itu adalah tas milikku. Aku segera berlari masuk kembali ke dalam aula dan mengambil tasku yang disimpankan oleh panitia. Beruntungnya, aku belum keluar dari tempat tersebut dan tidak menyadari kalau tas tanganku ternyata berada di luar ransel dan berada di meja peserta lain. Jika aku membawa sepeda motor sendiri, mungkin ceritanya akan menjadi berbeda.

Aku menunggu sekitar 30 menit di teras aula SMA Negeri 2 Tenggarong. Cuaca sore cukup bersahabat dan hangat. Rasanya sangat nyaman untuk kondisi tubuhku yang sedang flu.

Pria bertubuh besar itu datang dengan senyuman yang mengembang. Ia tidak berkata banyak dan langsung menghampiriku. Menemaniku duduk bersantai di teras aula SMA Negeri 2 Tenggarong. Menemaniku mengobrol sembari menyesap sebatang rokok favorite-nya.

”Mau ke mana lagi?”

Pertanyaan itu keluar dari bibir suamiku yang sudah sangat memahami bagaimana kehidupanku. Ia tahu, aku tidak mungkin hanya bertemu dengan satu orang di kabupaten ini. Ya, aku sudah janjian bertemu dengan Ibu Listy (Dinas Pendidikan) dan Habib (Ketua Himasja & Komunitas Pixelarasi). Tapi, aku masih menunggu konfirmasi dari mereka, apakah mereka bisa bertemu atau tidak.

Setelah bersantai beberapa menit, kami segera keluar dari tempat tersebut. Aku merasa sangat senang kali ini karena bisa bertemu dengan beberapa pengelola perpustakaan desa/kelurahan dan tbm yang ada di wilayah Kutai Kartanegara. Sejauh ini bergerak di dunia literasi, aku belum pernah bertemu dan berkumpul dengan mereka.

Aku berharap, semua pengelola perpustakaan dan tbm di wilayah Kutai Kartanegara bisa saling bersinergi dan saling menguatkan untuk terus menggerakkan literasi. Mengingat lokasi geografis Kabupaten Kutai Kartanegara yang sangat luas dan jarak tempuh ke ibukota kabupaten juga sangat jauh. Momen ini menjadi momen berharga untuk bisa saling bersilaturahmi, saling sharing, dan saling menguatkan satu sama lain agar literasi di Kutai Kartanegara benar-benar bisa bergaung demi kebermanfaatan dan kesejahteraan masyarakatnya.

 

 

Kutai Kartanegara, 16 Juli 2025

 

 

 

 

 

 

Friday, July 18, 2025

Bimtek Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2025

 



Kutai Kartanegara, 16 Juli 2025. Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur menggelar kegiatan Bimbingan Teknis Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara pada tanggal 15-16 Juli 2025.

Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur terus menjaga komitmen dalam mendukung peran komunitas-komunitas literasi di wilayah Kalimantan Timur dengan memberikan Bimbingan Teknis (Bimtek). Tahun ini, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur menggelar Bimtek bagi Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15-16 Juli 2025 di Aula SMA Negeri 2 Tenggarong.

Kegiatan bimtek ini diikuti oleh komunitas-komunitas yang ada di wilayah Kutai Kartanegara. Selain dari Kukar, juga ada komunitas dari kota Samarinda yang mengikuti kegiatan ini.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Bapak Asep Juanda, S.Ag., M.Hum selaku Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur. Tidak sekedar membuka kegiatan dan memberikan sambutan, Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur juga memaparkan tentang Kebijakan Literasi di daerah.

Materi kedua diisi oleh Ahmad Qoshashih dari Yayasan Lanjong Indonesia yang memberikan materi tentang penyusunan profil dan portofolio komunitas. Materi terakhir pada hari pertama kegiatan ditutup dengan materi tentang merancang program yang inovatif di komunitas yang disampaikan oleh M. Arsyad dari GLK (Gerakan Literasi Kutai).

Hari kedua diisi dengan materi tentang penyusunan proposal kegiatan yang disampaikan oleh M. Arsyad dari GLK (Gerakan Literasi Kutai). Kemudian dilanjutkan dengan materi penyusunan Rancangan Anggaran Biaya (RAB) dan Laporan Keuangan Komunitas yang disampaikan oleh ibu Mimi Nuryanti dari Yayasan Lanjong Indonesia.

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas