Saturday, July 26, 2025

Aku dan Taman Bacaku Bab 2 : Tentang Keresahan Hati






Aku menatap beberapa buku yang ada di hadapanku. “Cuma segini?”
Tidak banyak koleksi buku yang aku miliki. Sebagian besar adalah karyaku bersama penulis-penulis FAM Indonesia. Sisanya adalah buku bacaan yang mampu aku beli.
Tidak banyak. Hanya sekitar 5 buah buku yang aku miliki, di luar karyaku sendiri. Aku tidak memiliki banyak koleksi buku karena keterbatasan ekonomi. Biasanya, aku pinjam dari teman atau dari perpustakaan jika ingin membaca buku. Jadi, aku tidak punya banyak koleksi pribadi.
“Apa iya aku bisa bikin taman baca?” gumamku lagi. Aku masih tidak yakin, juga tidak percaya diri.
Aku tidak punya latar belakang yang baik dalam dunia pendidikan. Juga bukan keturunan seorang pendidik. Orang tuaku hanya petani sawah. Nenek moyangku juga hanya pencari kayu bakar. Kenapa aku harus masuk ke jalan ini? Jalan yang tidak pernah ditempuh oleh keluargaku. Akankah aku bisa menjalankannya tanpa dukungan apapun dan siapa pun?
Aku menghela napas sejenak. Kuraih salah satu buku yang ada di sana dan membukanya. Ada banyak deretan kalimat yang kubaca, tapi tidak mampu menggugah keyakinanku.
Aku menutup buku itu kembali dan duduk termenung selama beberapa saat.
Apa aku harus diskusi lebih dulu dengan keluarga? Tapi apakah mereka akan setuju? Apakah mereka akan menolak? Tapi ... mereka tidak mungkin menolak selama hal yang aku lakukan adalah kebaikan.
Tiba-tiba terngiang kalimat candaan teman-teman ketika masih aktif bekerja di perusahaan.
“Lebih mudah minta maaf daripada minta izin.”
Aku rasa kalimat itu ada benarnya juga. Aku harap tidak akan ada kata “minta maaf” untuk langkah-langkah baik yang aku ambil.
Aku juga sudah dewasa. Bukan lagi remaja umur tujuh belas tahun yang masih bergantung pada orang tua dalam mengambil keputusan. Sudah waktunya aku mengambil keputusan untuk diriku sendiri. Hal sekecil ini tidak mungkin harus melibatkan keluarga, apalagi oranf lain.
“Ya Allah, aku buka taman baca atau nggak?” batinku masih tak karuan. Aku ini bodoh dan miskin, apa tidak akan menjadi bahan tertawaan banyak orang?
“Uhuk ... uhuk ...!”
Aku menoleh ke arah sumber suara yang membuyarkan lamunanku. Perlahan aku melangkahkan kaki ke ruang tamu. Ada kakekku yang sedang duduk bersandar sambil menonton televisi. Televisi itu tidak bersuara. Sebab, bersuara atau tidak akan tetap sama untuk kakek yang indera pendengarannya sudah tidak berfungsi dengan baik.
“Itu, Rin. Kok, kayak mbahmu ini,” ucap kakekku tiba-tiba.
Aku menaikkan salah satu alisku. Entah apa yang ditonton oleh kakekku sehingga ia bereaksi.
“Mbah Lanang nonton apa, Mbah?” tanyaku pada nenek yang juga duduk di sana.
“Nonton sinetron itu. Ada kakek-kakek di pinggir jalan itu didorong sama anaknya sampai jatuh,” jawab nenekku.
“Oh.”
Aku tidak berkata apa pun. Aku sudah terbiasa mendengar keluhan kakekku. Juga cerita-ceritanya di masa lalu.
“Aku ini orang bodoh. Dibodohi sama adik sendiri sampai kehilangan tanah. Aku nggak sengaja membakar lahan orang dan orang itu minta ganti rugi tanah. Aku sudah bilang, dipenjara berapa tahun pun, aku rela. Asal jangan ambil tanahku. Aku punya adik sepupu yang pandai. Dia tidak membelaku, malah membuatku kehilangan tanah, kehilangan semuanya. Sekarang, aku nggak punya apa-apa. Sudah tua. Mau kerja sudah nggak dipakai lagi tenaganya. Setiap hari cuma bisa numpang makan sama Rina. Kasihan Rina. ”
Kakekku terus meracau. Kalimat itu setiap hari aku dengar sampai aku hafal ceritanya.
Ada sebuah penyesalan besar yang sedang mendekap jiwa kakekku. Kejadian kebakaran lahan belasan tahun lalu, membuatnya hidup dalam penyesalan. Ditambah lagi satu sertifikat tanah miliknya ditukar oleh orang lain yang punya kuasa. Sehingga membuatnya menjadi tidak berdaya, tidak memiliki apa-apa untuk masa tuanya dan sisa hidupnya diselimuti rasa penyesalan.
“Huft ... begini nasibnya kalau jadi orang bodoh,” keluh kakekku lagi. “Tidak tahu cara membela diri. Sudah kehilangan semuanya. Sekarang aku nggak bisa apa-apa. Nggak punya apa-apa. Nggak dihargai lagi sama orang. Bahkan tetangga rame-rame hajatan, tidak pernah lagi diundang untuk datang.”
Aku menghela napas mendengar ucapan kakekku. Hidupnya penuh penyesalan karena tidak memiliki banyak ilmu pengetahuan.
Aku melangkahkan kakiku kembali masuk ke kamar. Menatap pemandangan di luar rumah lewat jendela kayu yang telah usang. Rintik hujan menyapaku, seolah mengajakku bercengkerama dalam hati yang bimbang.
Di tempat tidur, puteri kecilku sedang tertidur lelap. Bagaimana nasib dia nanti di masa depan? Jangan sampai anak-anakku hidup dalam penyesalan karena aku tidak bisa memberikan pendidikan yang baik untuk mereka.
Aku tersenyum. Kudekati wajah mungil puteriku dan kugenggam jemarinya yang sangat kecil.
“Nak, kamu berhak untuk punya kehidupan yang lebih baik nantinya. Mama akan lakukan apa aja untuk masa depan kamu. Mama akan terus berjuang keras sampai benar-benar tidak sanggup lagi,” batinku.
Aku tidak akan bisa mengubah nasib hidup keluargaku jika aku hanya berdiam diri saja. Aku harus melakukan sesuatu agar perekonomian keluargaku bisa lebih baik, tidak lagi dipandang hina oleh nasyarakat. Tapi aku tidak tahu harus memulai dari mana.
Membuat taman baca, tidak akan menghasilkan uang karena semuanya adalah kegiatan sosial. Tapi aku bisa bersedekah meski aku tidak kaya. Buku-buku adalah ilmu dan memberikan akses pada ilmu ialah amalan jariyah.
Pepatah dahulu mengatakan, “sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat.”
Bagaimana ilmu bisa bermanfaat jika kita hanya menyimpannya untuk diri sendiri?
Aku rasa, aku bisa bermanfaat jika aku membuka sebuah taman baca. Agar lebih banyak anak tidak mampu yang terselamatkan pendidikannya. Aku tidak ingin apa yang dialami kakekku, dialami juga oleh orang lain, khususnya keluargaku sendiri.
Aku ingin punya sesuatu yang menjadi amalan jariyah sekaligus pengingat seumur hidupku agar aku bisa menjadi insan yang lebih baik di masa depan.
Bismillah ... aku akan persembahkan sebuah taman baca untuk kakek-nenekku, kedua orang tuaku dan anak-anakku kelak. Agar menjadi amalan jariyah bagi keluargaku. Insya Allah, Allah akan bukakan pintu rezeki yang baik untukku. Aku akan berjuang di jalan kebaikan karena Allah dan aku yakin kalau Allah tidak akan membiarkan aku berjuang sendirian. Dia akan selalu mengirimkan malaikat-malaikatnya untukku.
Aku mulai mantap untuk membuka sebuah taman baca. Bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk orang lain yang membutuhkan. Meski kondisi ekonomi keluargaku sedang buruk, aku tetap membulatkan tekadku untuk membuat sebuah taman baca.
“Bagusnya aku kasih nama apa, ya?”
Aku mulai berpikir sejenak. Memikirkan nama yang cocok untuk taman bacaku.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku menemukan dua kata. Yakni “Bunga Kertas”.
Kenapa Bunga Kertas?
Bunga adalah sesuatu yang indah dan disukai banyak orang. Aku harap taman bacaku bisa menjadi seperti bunga yang disukai banyak orang dan menebar aroma kebaikan. Kertas melambangkan sebuah gerakan literasi di mana kertas bisa menjadi media untuk menuliskan dan menggambarkan banyak hal yang ada di dunia ini. Tidak hanya menjadi tempat yang disukai, Bunga Kertas juga bisa menjadi tempat yang nyaman untuk berbagi cerita.
Tanpa berpikir panjang lagi, aku siap untuk membuka sebuah taman bacaan masyarakat dengan nama Taman Bacaan Masyarakat Bunga Kertas.
Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tidak punya program khusus karena aku juga tidak tahu apa-apa tentang kegiatan seperti ini. Aku hanya ingin anak-anak desa bisa mendapatkan akses buku dan informasi yang mudah melalui taman bacaan. Karena taman baca bisa mewadahi semua kebutuhan seluruh masyarakat dari anak-anak sampai orang tua tanpa memandang status, usia, dan pekerjaan.
“Besok saja aku launching. Mumpung aku masih menganggur. Bisa aku gunakan untuk mengisi kegiatan di rumah. Aku bisa memulainya dengan mengajak anak-anak mewarnai atau menggambar. Mereka pasti suka. Tapi ... aku harus menyiapkan alat-alat menggambar. Uang dari mana buat beli? Buat makan keluargaku aja aku masih kesusahan.”
Lagi-lagi aku dihadapkan dengan keadaan yang membuatku putus asa.
Tapi entah kenapa, ada hal besar yang mendorongku untuk terus maju meski keadaanku sedang tidak baik-baik saja.
“Ah, sudahlah. Beli alat-alat mewarnai pakai uang seadanya. Nggak usah banyak-banyak, yang penting ada aja dulu. Nanti Allah pasti ganti rezekiku. Toh, aku masih bisa bergerak buat cari rezeki,” gumamku lagi.
Aku semakin mantab untuk membuka sebuah taman bacaan masyarakat dengan segala keterbatasan yang aku miliki. Aku beri nama “Taman Bacaan Masyarakat Bunga Kertas”.
Semoga tempat ini bisa benar-benar bermanfaat untuk keluarga, juga untuk orang-orang di sekitarku.

Tuesday, July 22, 2025

Audiensi Relima Ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara

 


Suasana Desa Rapak Lambur pagi ini lumayan syahdu. Sinar matahari tak lagi menyelinap lewat sela-sela jendela karena tertutup awan tebal. Membuatku begitu nyaman terlelap di peraduan hingga tak sadar kalau sudah pukul 06.15 WITA. 

Begitu aku membuka mata, yang terlintas di pikiranku adalah janji pertemuan dengan Sekretaris Perpustakaan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara. Sebelumnya kami sudah membuat janji, sayangnya masih belum bisa bertemu. Kebetulan aku mengikuti pelatihan dari Balai Bahasa yang diselenggarakan di SMA Negeri 2 Tenggarong dan sudah menginap selama tiga malam di rumah kakakku.

Jadi, aku kembali mencoba menghubungi pihak Perpustakaan Daerah untuk bisa bertemu terkait rencana kegiatan Relima (Relawan Literasi Masyarakat) yang dibentuk oleh Perpusnas RI. 

Jadwal pertemuan sudah terkonfirmasi sejak semalam. Kami bisa bertemu pada jam sembilan pagi. 

Aku yang baru terbangun di jam enam pagi, tentunya cukup kelabakan. Sebab, aku masih harus menyiapkan sarapan pagi. Ditambah perjalanan dari Rapak Lambur ke pusat kota Tenggarong memakan waktu sekitar 45 menit. 

Usai sarapan pagi, aku langsung berpamitan dengan kakakku karena aku tidak akan pulang ke Rapak Lambur lagi. Aku langsung pulang ke Samboja. Mengingat kami sudah menginap selama 3 malam dan anak-anak di rumah sudah merindukan kami. 

Seperti biasa, aku selalu telat dari jadwal yang tengah ditentukan. Tapi aku beruntung karena pihak Perpustakaan Daerah juga masih dalam perjalanan dan kami sampai berbarengan. 

Begitu sampai di halaman Kantor Sekretariat Perpustakaan Daerah, aku langsung disambut oleh senyuman merekah dari Pak Fatoni. Beliau memang murah senyum. Bahkan sepertinya saat marah pun, wajahnya akan selalu tersenyum. Dia menyambutku dengan ramah dan mengajakku masuk ke dalam sebuah ruangan yang telah ditentukan. 

"WAAAH ...! DI SINI RUANGANNYA?" 
Kalimat itu spontan keluar dari bibirku saat melihat ruang diskusi atau ruang podcast yang design-nya sangat khas. Aku sering melihatnya di media sosial dan beberapa kegiatan pameran OPD. 

Beberapa menit kemudian, Ibu Yuli masuk ke ruangan. Menyambutku dengan senyum merekah dan pelukan hangat. Alhamdulillah, kami bisa bertemu kembali setelah beberaa lama. Terakhir kami bertemu saat aku mengantarkan produk olahan nanas ke Himba Karakah, rumah makan milik beliau. 

Kami duduk bertiga. Karena sudah saling mengenal sebelumnya, kami tidak perlu lagi memperkenalkan diri. Hanya aku yang perlu memperkenalkan diri dengan status baruku sebagai Relima (Relawan Literasi Masyarakat) dari Perpusnas RI. 

Aku juga memaparkan tentang apa itu Relima, peran dan fungsinya dan bagaimana aku bisa mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah terkait pergerakan Relima ini. 

Bersilaturahmi dan berdiskusi dengan pihak Perpustakaan Daerah adalah bagian dari advokasi Relima agar pergerakan Relima bisa lebih mudah saat terjun ke daerah. Perpusnas RI menginginkan kami bisa berkoordinasi dan bekerjasama dengan Perpustakaan Daerah dengan baik. Apapun yang diberikan oleh pemerintah daerah pada Relima adalah bentuk dukungan yang akan menjadi catatan bagi Relima dan Perpusnas RI. 

Kami semua berharap pergerakan Relima dapat bersinergi dengan seluruh pengelola tbm dan perpustakaan desa/kelurahan. Kami juga berharap pemerintah daerah dapat mendukung sepenuhnya pergerakan Relima (Relawan Literasi Masyarakat). Dukungan dari pemerintah, tentunya menjadi support penting bagi Relima agar pergerakan kami dapat berjalan dengan baik dan bisa selesai sesuai target. 

Harapan terbesar dariku adalah peran serta dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan minat baca dan menghidupkan aktivitas di taman bacaan atau perpustakaan desa/kelurahan. Tugas Relima tidaklah mudah, tapi semuanya akan jadi mudah ketika kita bergerak bersama, saling berangkulan dan saling menguatkan agar kesejahteraan masyarakat dapat terwujud dengan baik melalui literasi. 










Saturday, July 19, 2025

Pengalaman Mengikuti Musyawarah Wilayah dan Rapat Presidium Pemilihan Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Kaltim

 


Pagi ini aku terbangun dengan tergesa-gesa karena ada banyak jadwal yang harus aku lakukan hari ini. Bersyukurnya anak perempuanku yang duduk di kelas 4 SD sudah bisa mandiri. Ia selalu mengurus keperluan sekolahnya sendiri dan berangkat ke sekolah sendiri. Yang masih sulit mandiri adalah sang adik karena memang masih duduk di bangku TK. 

Hari ini, putera kecilku tidak masuk sekolah alias libur. Tapi orang tuanya diwajibkan datang ke sekolah untuk mengikuti rapat. Seperti biasa, tahun ajaran baru selalu membutuhkan perjuangan ekstra karena banyak yang harus dibayar dan dipersiapkan. 

Undangan rapat pukul 08.00 WITA dan aku masih belum mandi. Saat ini aku merasa lebih santai dan tidak harus datang on-time karena "terlambat" sudah menjadi budaya. Aku yang sangat sibuk, tidak ingin membuang-buang waktu dengan menunggu lama. Aku sedikit terlambat, tapi acara belum dimulai, persis seperti perkiraanku.


Usai mengikuti rapat di sekolah, aku langsung pulang ke rumah dan membuka laptopku. Tidak aku lupa kalau ada jadwal zoom meeting Musyawarah Wilayah untuk semua pengurus TBM di Kalimantan Timur. Aku tidak bisa hadir langsung, jadi aku meminta izin untuk hadir secara online. Sebab, pukul 13.00 WITA masih ada kegiatan Party Book bersama komunitas-komunitas pemuda Muara Jawa dan Samboja.

Aku baru masuk zoom setelah ada konfirmasi di grup kepengurusan bahwa zoom meeting sudah dimulai. Memang telat dari jadwal dikarenakan banyak yang hadir secara offline.
Acara dibuka oleh Presidium Wilayah Kaltim dengan memaparkan arti pentingnya gerakan literasi di wilayah Kaltim dan bagaimana Forum TBM berperan menjadi wadah untuk saling berbagi dan saling menguatkan.


Musyawarah Wilayah ini dihadiri langsung oleh pengurus daerah Forum TBM dari berbagai kota dan kabupaten di Kutai Kartanegara. Beberapa pengurus daerah yang hadir secara langsung berasal dari Pengurus Daerah FTBM Samarinda, FTBM Balikpapan, FTBM Kukar, FTBM Kubar/Malinau, FTBM Kutim, FTBM PPU, FTBM Bontang, FTBM Paser, dan FTBM Berau.

Aku merasa senang sekali karena akhirnya Forum TBM di Wilayah Kalimantan Timur bisa bergerak secara serempak. Tentunya ini akan sangat berperan penting dalam gerakan literasi di daerah ini. Sudah cukup lama aku bergabung di Forum TBM dan baru kali ini merasakan pergerakan Forum TBM yang cukup aktif. Bahkan, Forum TBM Kaltim telah membentuk kepengurusan daerah di beberapa kota dan kabupaten.

Tidak ada hal yang sulit ketika Tuhan yang menggerakkan. Begitu juga dengan pergerakan literasi ini. Semuanya bergerak secara swadaya, menggunakan uang pribadi untuk bisa menjalankan program-program literasi, terutama dalam pengentasan kemiskinan dan kesenjangan sosial. Jika bukan Tuhan yang menyentuh hati kita, tentunya kita tidak akan memiliki kepedulian kepada orang lain, terlebih orang-orang yang tidak kita kenal ke depannya.

Aku berharap, Forum TBM benar-benar bisa menjadi ruang berdiskusi, berjejaring, dan saling menguatkan. Karena terkadang kita ingin menyerah saat berjalan seorang diri. Di Forum TBM, kita sama-sama bergerak dan berjuang untuk saling menguatkan agar gerakan kita tetap konsisten dan hati kita tetap istiqomah berada di jalan ini.



Kutai Kartanegara, 19 Juli 2025

Bersilaturahmi dan Bersinergi Bersama Komunitas Penggerak Literasi Kabupaten Kutai Kartanegara

 


Tak seperti hari kemarin, pagi ini langit di Rapak Lambur cukup cerah. Sinar matahari yang hangat masuk lewat celah-celah jendela, tapi aku masih enggan membuka mata. Kondisi tubuhku yang kurang sehat sejak kemarin, membuatku terpaksa mengonsumsi obat dan tertidur dalam waktu yang cukup panjang.

Pukul 07.30 WITA, aku masih memasak di dapur. Padahal, setengah jam lagi jadwal kegiatan sudah harus dimulai. Aku tidak bisa membeli sarapan karena rumah kakakku jauh dari kota dan tidak ada yang berjualan nasi saat pagi hari. Jadi, aku pilih untuk memasak atau sekedar menghangatkan sayur kemarin lebih dahulu.

Aku baru bisa berangkat dari Rapak Lambur pada jam 08.00 WITA menuju ke Aula SMA Negeri 2 Tenggarong. Meski datang terlambat, acara baru saja dibuka dan aku segera duduk di kursi yang aku tempati pada hari sebelumnya.

Kondisi tubuhku hari ini cukup fit dan bersahabat, tidak seperti hari kemarin. Entah kenapa, aku tiba-tiba berubah menjadi manusia tropis yang tidak bisa terkena hawa dingin. Hawa dingin benar-benar menyiksa hidung dan tubuhku.

Materi pertama kali ini disampaikan kembali oleh M. Arsyad dari GLK (Gerakan Literasi Kutai) yang melanjutkan materi tentang pembuatan proposal komunitas. Kemudian, materi selanjutnya diisi oleh Ibu Mimi Nuryanti dari Yayasan Lanjong Indonesia yang memberikan materi tentang penyusunan RAB (Rancangan Anggaran Biaya) dan Laporan Keuangan Komunitas.

Materi-materi yang diberikan kali ini tentunya sangat penting dan sangat bermanfaat, terutama bagi komunitas literasi. Sebab, masih banyak komunitas literasi yang belum memiliki pelaporan administrasi yang lengkap dan belum memiliki legalitas. Dengan adanya kegiatan ini, aku berharap kalau semua komunitas literasi di Kutai Kartanegara bisa saling menguatkan demi terwujudnya literasi untuk kesejahteraan masyarakat.

Tidak seperti hari kemarin, kegiatan bimtek hari ini selesai lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan. Seharusnya selesai jam lima sore, tapi jam setengah empat sore sudah selesai.

Aku cukup terkejut karena jadwal berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Sementara, aku belum mengabari suamiku yang posisinya masih berada wilayah PLTGU Tanjung Batu yang jaraknya sekitar 15km dari SMA Negeri 2 Tenggarong. Alhasil, aku harus menunggu jemputan terlebih dahulu.

Peserta dari beberapa kecamatan mulai beranjak satu per satu. Aku masih bersantai di tempat dudukku. Kebetulan, ada Asih (Anggota FLP Kukar) yang juga sedang menunggu jemputan.

Beberapa menit kemudian, ruang pertemuan ini mulai kosong. Aku juga ikut berkemas. Mengemas laptop dan segala pernak-perniknya ke dalam tas ranselku, kemudian melangkah keluar. Menunggu di luar ruangan lebih mengasyikkan dan lebih menghangatkan tubuhku.

Baru duduk beberapa menit, tiba-tiba ada pemberitahuan di dalam grup bimtek kalau ada tas yang tertinggal dan itu adalah tas milikku. Aku segera berlari masuk kembali ke dalam aula dan mengambil tasku yang disimpankan oleh panitia. Beruntungnya, aku belum keluar dari tempat tersebut dan tidak menyadari kalau tas tanganku ternyata berada di luar ransel dan berada di meja peserta lain. Jika aku membawa sepeda motor sendiri, mungkin ceritanya akan menjadi berbeda.

Aku menunggu sekitar 30 menit di teras aula SMA Negeri 2 Tenggarong. Cuaca sore cukup bersahabat dan hangat. Rasanya sangat nyaman untuk kondisi tubuhku yang sedang flu.

Pria bertubuh besar itu datang dengan senyuman yang mengembang. Ia tidak berkata banyak dan langsung menghampiriku. Menemaniku duduk bersantai di teras aula SMA Negeri 2 Tenggarong. Menemaniku mengobrol sembari menyesap sebatang rokok favorite-nya.

”Mau ke mana lagi?”

Pertanyaan itu keluar dari bibir suamiku yang sudah sangat memahami bagaimana kehidupanku. Ia tahu, aku tidak mungkin hanya bertemu dengan satu orang di kabupaten ini. Ya, aku sudah janjian bertemu dengan Ibu Listy (Dinas Pendidikan) dan Habib (Ketua Himasja & Komunitas Pixelarasi). Tapi, aku masih menunggu konfirmasi dari mereka, apakah mereka bisa bertemu atau tidak.

Setelah bersantai beberapa menit, kami segera keluar dari tempat tersebut. Aku merasa sangat senang kali ini karena bisa bertemu dengan beberapa pengelola perpustakaan desa/kelurahan dan tbm yang ada di wilayah Kutai Kartanegara. Sejauh ini bergerak di dunia literasi, aku belum pernah bertemu dan berkumpul dengan mereka.

Aku berharap, semua pengelola perpustakaan dan tbm di wilayah Kutai Kartanegara bisa saling bersinergi dan saling menguatkan untuk terus menggerakkan literasi. Mengingat lokasi geografis Kabupaten Kutai Kartanegara yang sangat luas dan jarak tempuh ke ibukota kabupaten juga sangat jauh. Momen ini menjadi momen berharga untuk bisa saling bersilaturahmi, saling sharing, dan saling menguatkan satu sama lain agar literasi di Kutai Kartanegara benar-benar bisa bergaung demi kebermanfaatan dan kesejahteraan masyarakatnya.

 

 

Kutai Kartanegara, 16 Juli 2025

 

 

 

 

 

 

Friday, July 18, 2025

Bimtek Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2025

 



Kutai Kartanegara, 16 Juli 2025. Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur menggelar kegiatan Bimbingan Teknis Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara pada tanggal 15-16 Juli 2025.

Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur terus menjaga komitmen dalam mendukung peran komunitas-komunitas literasi di wilayah Kalimantan Timur dengan memberikan Bimbingan Teknis (Bimtek). Tahun ini, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur menggelar Bimtek bagi Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15-16 Juli 2025 di Aula SMA Negeri 2 Tenggarong.

Kegiatan bimtek ini diikuti oleh komunitas-komunitas yang ada di wilayah Kutai Kartanegara. Selain dari Kukar, juga ada komunitas dari kota Samarinda yang mengikuti kegiatan ini.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Bapak Asep Juanda, S.Ag., M.Hum selaku Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur. Tidak sekedar membuka kegiatan dan memberikan sambutan, Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur juga memaparkan tentang Kebijakan Literasi di daerah.

Materi kedua diisi oleh Ahmad Qoshashih dari Yayasan Lanjong Indonesia yang memberikan materi tentang penyusunan profil dan portofolio komunitas. Materi terakhir pada hari pertama kegiatan ditutup dengan materi tentang merancang program yang inovatif di komunitas yang disampaikan oleh M. Arsyad dari GLK (Gerakan Literasi Kutai).

Hari kedua diisi dengan materi tentang penyusunan proposal kegiatan yang disampaikan oleh M. Arsyad dari GLK (Gerakan Literasi Kutai). Kemudian dilanjutkan dengan materi penyusunan Rancangan Anggaran Biaya (RAB) dan Laporan Keuangan Komunitas yang disampaikan oleh ibu Mimi Nuryanti dari Yayasan Lanjong Indonesia.

Wednesday, July 16, 2025

Berjuang Demi Literasi Bersama Rintik Hujan di Tenggarong

 


Pagi hari, langit di Rapak Lambur tampak redup. Gumpalan awan mendekap dan menyelimuti desa ini, seolah enggan untuk pergi. Rintik hujan seolah sedang menarik-narik diri untuk tetap bercengkerama dalam selimut. Dingin angin yang masuk lewat sela-sela jendela, membuat enggan untuk bangkit dari peraduan.

Keadaan berbanding terbalik dengan tanggung jawab. Rasa malas harus dikalahkan dengan tanggung jawab dan komitmen yang telah aku buat sendiri. Dengan enggan, aku mengangkat kepalaku dari atas bantal agar tidak terlena dengan nikmatnya rintik hujan di pagi hari.

Aku mengecek jam di ponsel. Waktu masih sangat pagi. Rasanya masih ingin malas-malasan di tempat tidur. Tapi kakak sepupuku sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi. Aku ingin membantu, tapi sepertinya dia tidak membutuhkan bantuan. Ia tidak membuat menu baru, hanya memanaskan makanan yang aku beli semalam, juga menu yang ia buat kemarin.

Ya, aku memang sudah sampai di rumah kakakku sejak semalam. Perjalanan dari Samboja ke Tenggarong bukanlah perjalanan yang pendek.  Sementara, aku harus mengikuti kegiatan ”Bimbingan Teknis Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara” yang dimulai sejak pukul 08.00 WITA. Tentunya tidak bisa bersantai di perjalanan ketika harus berangkat di pagi hari. Jadi, aku memilih untuk berangkat di malam hari dan menginap di rumah kakak sepupuku.

Satu-satunya tempat peraduan ketika aku ke pusat kabupaten ialah rumah ini. Aku tidak punya tempat lain lagi untuk beristirahat. Karena di sinilah rumah keluarga yang paling nyaman.

”Hatchiiim ...!”

Aku menggosok hidungku yang tiba-tiba gatal. Tenggorokanku juga terasa sangat kering dan kepala pening. Sepertinya tubuhku tidak terlalu bersahabat karena semalam terhempas oleh suhu dingin angin malam. Meski sudah mengenakan jaket tebal, perjalanan panjang dan cuaca dingin setelah hujan, membuat tubuhku yang tropis ini mulai protes.

Aku mencari obat di kotak obat milik kakakku. Aku harap bisa menemukan salah satu obat yang biasa aku konsumsi dan cocok di tubuhku. Sayang, aku tidak menemukannya.

Pukul 07.00 WITA, aku mulai resah karena rintik hujan semakin rapat. Aku segera mengunduh aplikasi transportasi online agar bisa sampai ke lokasi pelatihan menggunakan mobil, tidak menggunakan motor. Mengingat cuaca hujan dan tubuhku sedang kurang sehat.

Hampir setengah jam aku mencoba mencari taksi online. Beberapa aplikasi yang aku unduh tidak menemukan driver yang bersedia menuju ke tempat tinggal kakakku. Mungkin karena lokasinya cukup jauh dari pusat kota.

Akhirnya, aku terpaksa menggunakan sepeda motor untuk bisa sampai ke SMA Negeri 2 Tenggarong, tempat di mana aku akan menimba ilmu dan pengalaman baru.

Derasnya hujan, tak mengurungkan niatku. Usai sarapan pagi, aku segera bersiap dan keluar dari rumah. Meski tubuh menggigil kedinginan, tanganku tetap mantap mengenakan mantel dan helm. Usai berpamitan dengan kakak dan suamiku, aku perlahan mengendarai sepeda motor menuju SMA Negeri 2 Tenggarong.

Rinai hujan membuat jalanan licin. Membuatku tidak bisa melaju kencang seperti biasanya. Aku memilih mengendarai motor dengan hati-hati sembari menahan gemeletuk gigi karena kedinginan. Semakin lama di perjalanan, semakin lama juga tubuhku harus menahan dingin.

Di perjalanan aku terus berpikir ... di mana letak SMA Negeri 2 Tenggarong ini. Sebab, aku belum pernah ke sana. Meski sudah diarahkan berkali-kali, aku tetap tidak percaya diri karena aku adalah manusia yang buta arah dan kesulitan membaca peta. Meski pakai Google Maps, aku masih saja sering kesasar.

   Pukul 08.20 WITA, aku masih berada di perjalanan. Sementara kegiatan akan dimulai pada pukul 08.00 WITA apabila sesuai jadwal. Aku sangat khawatir jika terlambat terlalu lama. Rasanya pasti akan sangat canggung ketika aku datang terlambat seorang diri.

Beruntungnya, masih banyak peserta yang belum datang ketika aku sampai di aula SMA Negeri 2 Tenggarong. Jadi, kegiatannya belum dimulai.

Di depan aula, sudah ada beberapa orang. Aku langsung menyapa salah seorang di sana. Dia juga langsung mengenaliku, padahal kami belum pernah bertemu sama sekali. Biasanya hanya berkomunikasi lewat Whatsapp karena jarak tempat tinggal kami yang sangat jauh meski masih berada dalam lingkup satu kabupaten.

Beberapa menit kemudian, kami memasuki aula karena Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur juga sudah tiba di lokasi. Acara ini dibuka langsung oleh Bapak Asep Juanda, S.Ag., Hum. Bukan sekedar memberikan sambutan, Bapak Asep Juanda juga memaparkan banyak materi tentang Balai Bahasa kalimantan Timur.

Materi selanjutnya diisi oleh Ahmad Kosasih, Ketua Yayasan Lanjong Indonesia yang memiliki banyak karya dan prestasi dalam bidang seni pertunjukkan. Tentunya senang sekali bisa mendapatkan ilmu baru dari pengelola Yayasan Lanjong Indonesia. Terutama tentang bagaimana membuat portofolio yang baik bagi komunitas literasi.

Materi selanjutnya diisi oleh Muhammad Arsyad dari Yayasan Gerakan Literasi Kutai. GLK merupakan salah satu komunitas literasi yang sudah lama bergerak dan menjadi panutan bagiku. Tentunya sangat senang bisa bertemu dengan orang-orang hebat di dalam forum ini. Kami mendapatkan bimbingan langsung tentang bagaimana menyusun proposal komunitas yang baik dan benar.

Acara hari ini berjalan dengan baik. Sayangnya, tubuhku yang kurang baik. Tubuh yang diterpa dinginnya angin malam, diguyur hujan selama perjalanan, dan suhu ruang AC yang dingin, membuat tubuhku semakin protes. Sepertinya ia tidak lagi menyukai kondisi dingin. Membuat tubuhku terasa tidak nyaman karena flu menyerang untuk pertama kalinya.

Meski kondisi tubuh tak bersahabat, aku tetap mengikuti kegiatan sampai selesai. Ini adalah komitmen yang telah aku buat dengan diriku sendiri agar aku selalu bertangggung jawab atas apa yang telah aku kerjakan hingga usai.

Bukan sekedar mendengarkan, aku juga masih memiliki kekuatan untuk aktif berdiskusi di tengah kelemahan ini. Aku juga masih menyempatkan diri untuk membuat tulisan ini. Aku harus terus bergerak agar rasa sakit tak punya kesempatan untuk menggerogoti tubuhku yang mungil ini.

Tentunya aku sangat bahagia bisa berada di tempat ini karena aku bisa bertemu dengan orang-orang berhati mulia yang terus bergerak memajukan literasi hingga pelosok negeri secara swadaya. Aku merasa mendapatkan kekuatan dan semangat baru ketika bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi dan senang berbagi pengalaman. Aku senang sekali mendengarkan banyak cerita tentang suka-duka komunitas literasi yang ada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Seperti yang dimandatkan oleh pengurus pusat, literasi itu gerakan, bukan bersaing program. Oleh karenanya, kita harus terus bergerak bersama memajukan literasi di negeri ini agar bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang berdaya saing dan mampu memajukan daerahnya. Kita tidak bisa memulai dengan hal besar, tapi kita bisa memulainya dengan hal kecil. Hal kecil yang selalu bersinergi dan berkelanjutan, akan melahirkan gerakan yang besar. Dengan menjadi besar bersama, maka kita akan menjadi bangsa yang kuat dan siap bersaing.

 

 Kutai Kartanegara, 15 Juli 2025

 

 

 

 

 

Saturday, July 12, 2025

AKU DAN TAMAN BACAKU || Bab 1 : Titik Balik Kehidupanku

Titik Balik Kehidupanku


Menjadi seorang wanita ternyata tidak mudah. Terlebih ketika memasuki usia dewasa. Ada titik di mana kita harus dihadapkan oleh pilihan yang sulit, antara karir dan keluarga.
Sudah satu minggu aku tidak pulang ke rumah. Bukan karena masalah keluarga, tapi karena tanggung jawab pekerjaan.
Ini bukan pertama kalinya. Setiap bulan saat tutup buku, aku harus lembur di kantor selama satu minggu penuh. Membuatku tidak bisa pulang ke rumah dan harus menginap di mess karyawan.
Beberapa tahun sebelumnya, aku menjalaninya dengan bahagia. Tidak ada beban yang bergelayut di pundak meski aku tidak pulang ke rumah dalam jangka waktu yang lama.
Tapi kali ini, aku mulai resah. Satu hari saja tidak pulang ke rumah, seperti ada beban yang begitu menyesakkan dada. Wajah mungil puteriku yang baru berusia dua tahun, membuatku tidak cukup tenang.
Sejak pindah kantor, kami harus tinggal berjauhan. Membuatku tidak bisa bertemu dengan puteriku sendiri. Padahal, ia masih butuh sosok ibu dalam kehidupannya yang baru.
Setelah berpikir panjang dengan begitu banyak pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk menyodorkan surat resign ke hadapan atasanku sendiri.
Ini bukan surat resign pertama. Ini surat resign yang ketiga kalinya. Pengajuanku untuk resign ditolak oleh bosku sebelumnya, meski keduanya adalah orang yang berbeda.
Bos pertama melarangku resign dan dia memberi nasihat “Ke depannya, kebutuhan keluargamu akan lebih banyak. Kamu yakin mau resign?”
Bukan cuma kalimat itu. Masih ada banyak kalimat yang dia berikan padaku hingga membuatku tetap bertahan bekerja di perusahaan.
Bos kedua menggantikan bos pertama yang dimutasi ke provinsi lain. Aku juga mengajukan resign dan mendapatkan penolakan. “Kalau kamu resign, kamu mau ngapain di kampung seperti ini?”
Dengan santai aku menjawab, “Mau nulis novel, Pak.”
Padahal, aku sama sekali tidak memiliki ilmu menulis. Hanya asal bicara agar surat pengunduran diriku diterima.
Bukan menandatangani surat resign, beliau malah memberi aku banyak wejangan. Akhirnya, aku mengurungkan kembali niatku untuk resign.
Bos kedua kembali di mutasi ke provinsi lain. Kemudian, datanglah bos ketiga.
Aku benar-benar memanfaatkan momen untuk bisa mengundurkan diri dari perusahaan. Bos yang baru tidak begitu paham seluk-beluk perusahaan, terutama tentang bagaimana kinerjaku selama ini. Aku tidak ingin terlalu lama membangun ikatan pekerjaan dengannya. Jadi, aku segera mengajukan surat pengunduran diri agar aku bisa segera berhenti bekerja dari perusahaan.
Bos ketiga tidak begitu banyak bertanya dan menasehatiku. Aku justru mendapat nasehat dari istri beliau supaya aku tidak harus resign. Bosku juga memberikan banyak tawaran agar aku tidak mengundurkan diri, karena akulah yang paling diandalkan di perusahaan tersebut.
Aku merasa, tidak ada yang istimewa dariku. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk perusahaan yang sudah menghidupiku. Bukan untuk cari muka, apalagi untuk bersaing dengan yang lain.
Sembari menatap langit sore yang cerah, aku berkata dalam hati. “Ilmu yang aku miliki saat ini adalah ilmu yang aku pelajari di masa lalu. Semua orang bisa mendapatkannya jika mereka mau. Akan ada orang yang jauh lebih hebat dari aku. Akan ada orang yang menggantikan posisiku, sekalipun aku berada di posisi yang penting.”
Hari itu, aku benar-benar memantapkan langkahku untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Ada wajah puteriku yang menari-nari di pelupuk mata. Meski aku kehilangan pekerjaan dan tidak tahu harus bagaimana menjalani hidup ke depannya, aku merasa sangat bahagia ketika mendapatkan Surat Pengalaman Kerja.









Satu bulan kemudian ...
Hatiku mulai resah. Uang tabunganku sudah sangat menipis. Hanya cukup untuk bertahan hidup selama beberapa hari ke depan. Sementara, aku tidak punya pekerjaan sama sekali. Aku berusaha untuk membuka usaha dengan sisa uang yang aku miliki, tapi usaha di kampung, ternyata tidaklah mudah.
“Aku harus gimana?”
Di tengah gelapnya malam aku merenung sembari menatap rembulan dari balik jendela kamar. Puteriku kecilku sudah tertidur lelap. Kakek dan nenekku juga sudah terlelap di kamarnya. Sesekali aku melihat wajah puteriku yang mungil, kemudian aku tersenyum. Entah apa yang membuatku tetap bisa tersenyum dalam kepahitan ini.
Aku melangkah perlahan mendekati kamar nenekku. Pintu kamarnya hanya ditutup menggunakan kain. Aku bisa menyibaknya dengan mudah. Nenek kakekku sudah tertidur pulas di dalam kelambu usang yang setiap hari mereka kenakan. Kalau tidak pakai kelambu, nyamuknya sangat banyak. Rumah kami masih terbuat dari kayu dan banyak lubang di sana-sini. Terlebih, lantai kamar nenek-kakekku masih tanah. Ketika hujan deras datang, kami biasa kebanjiran dan lantai di bawah dipan mereka selalu basah.
“Ya Allah, mudahkanlah rezekiku supaya bisa bikinkan kamar yang layak untuk mereka,” batinku sembari meneteskan air mata.
Aku melangkah mendekati meja dapur. Menyeduh secangkir kopi dan menyesapnya perlahan sembari menikmati kelamnya malam yang sunyi.
Malam ini tidak terlalu sunyi. Aku masih bisa mendengar suara jangkrik bercengkerama, suara katak berirama, dan suara burung hantu yang terkadang membuat bulu kuduk berdiri.
TING!
Aku langsung menoleh ke arah ponselku yang tiba-tiba menyala.
“Siapa yang chat malam-malam begini?” batinku.
Aku meraih ponsel tersebut dan membuka DM Instagram. Di sana tertera nama seorang pria yang tidak aku kenal. Siapa?
“Mbak, perkenalkan saya Abi Ramadhan, ketua Fokus (Forum Kreatif Usaha Sama-Sama). Saya lihat, Mbak sering bikin-bikin bunga dan kerajinan tangan. Kira-kira, berminat atau tidak ikut pameran bersama komunitas kami?”
Aku mengernyitkan kening sejenak. Dari mana dia tahu kalau aku sering bikin bucket dan kerajinan tangan? Padahal, kami tidak saling mengenal. Aku memang kerap membagikan kegiatanku di sosial media. Tapi tidak berpikir akan sampai sejauh ini.
Setelah berpikir cukup lama, aku menerima tawaran beliau untuk ikut pameran. Saat itu, aku membuka stand kriya di Royal Suite Hotel, tempat kami pameran untuk pertama kalinya.
Di sanalah aku bertemu dengan banyak seniman dan pengrajin. Ada banyak ilustrator, seniman lukis, juga pengrajin tas, busana, dan aksesoris.
Aku tidak tahu bagaimana caranya mempromosikan produk aku sendiri karena aku tidak punya teman di hotel tersebut. Apalagi, hotel adalah tempat yang sangat eksklusif. Tapi aku tidak akan pernah melupakan dua orang wanita yang berkunjung ke stand-ku. Mereka adalah teman-temanku saat aku bekerja di perusahaan. Asmi dan Mia.
Pameran Fokus selanjutnya berada di Dome Balikpapan yang mengusung tema “Mathilda Fest”. Di sinilah titik balik hidupku dimulai.
Dalam pameran tersebut, kami mendapatkan stand gratis untuk komunitas. Karena sektor seni dan kriya memang tidak seramai sektor kuliner. Sehingga, kami mendapatkan support dari pemerintah kota Balikpapan dengan difasilitasi stand dan tenda gratis.
Saat hari pertama pameran, perhatianku langsung terfokus pada stand buku-buku di sebelahku. Ada banyak buku yang bisa dibaca gratis. Bahkan, beberapa diberikan secara cuma-cuma kepada pengunjung yang berminat.
Tanpa ragu, aku langsung mendekati stand buku tersebut. Melihat-lihat buku, juga berkenalan dengan pemilik stand buku tersebut.
Namanya Ibu Roelyta Aminudin, beliau dikenal dengan nama tersebut. Pemilik dari PAUD An-Nisa dan TBM An-Nisa, yang juga dinobatkan menjadi Kampoeng Literasi Gajah Mada.
LITERASI – Sebuah kata yang masih asing di telingaku. Kata yang tiba-tiba memunculkan banyak tanya di kepalaku. Biasanya, aku tidak begitu peduli dengan frasa asing yang aku dengar. Tapi kali ini, seolah ada sesuatu yang memanggilku.
“Bu, literasi itu apa?” tanyaku.
Ibu Roelyta tersenyum. “Baca ini!”
Bukannya menjawab pertanyaanku, Ibu Roelyta malah memberiku sebuah flyer tentang “Gerakan Literasi Nasional”. Di dalamnya sudah ada pengertian tentang literasi, tujuan literasi, dan pola dasar literasi yang harus dimiliki oleh setiap individu.
Menarik.
Akhirnya, aku dipertemukan dengan orang yang mencintai buku. Sejak dulu, aku sangat suka dengan buku-buku. Hanya saja, aku tumbuh dan besar di lingkungan keluarga yang tidak cinta buku dan tidak membiasakan anak-anaknya membaca buku. Jadi, aku juga memiliki akses bahan bacaan yang minim. Terlebih, aku tinggal di pelosik desa yang jauh dari perkotaan dan memiliki akses informasi terbatas.
Rasa penasaranku tiba-tiba menjalar sampai ke ulu hati. Aku terus mendekati Ibu Roelyta untuk belajar. Aku selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke taman bacanya. Di sana, aku semakin terkagum-kagum dengan apa yang telah beliau lakukan.
“Bu, di Samboja itu nggak ada toko buku, nggak ada perpustakaan umum juga. Susah banget dapetin buku kalau di sana. Kalau mau bikin taman baca kayak Ibu gini, gimana caranya?” tanyaku sembari menemani Ibu Roelyta menyeduh kopi di dapurnya.
“Gampang aja. Yang penting kamu punya buku dan nama taman baca yang mau kamu buat,” jawab Ibu Roelyta.
“Cuma itu?” Keningku sedikit berkerut mendengar jawaban Ibu Roelyta. Aku masih tidak yakin, apakah bisa sesederhana itu?
Ibu Roelyta mengangguk yakin sambil tersenyum. “Mendirikan taman baca itu panggilan hati. Nggak ada uangnya. Kamu harus banyak keluar uang untuk memulainya. Kamu yakin, mau bikin taman baca juga?”
Aku terdiam sejenak, kemudian mengangguk yakin. “Aku pengen anak-anak yang suka baca buku tapi nggak punya uang, bisa tetap baca buku. Aku nggak mau mereka kayak aku, Bu. Pengen baca buku aja sulit. Harga buku mahal-mahal,” jawabku.
Ibu Roelyta tersenyum. “Kalau gitu, buka aja! Ibu akan mendukung kamu sepenuhnya. Kalau butuh apa-apa, ngomong sama Ibu!”
Aku mengangguk dan merengkuh tubuh Ibu Roelyta. “Terima kasih banyak, Bu!”
Ibu Roelyta tersenyum sambil mengelus lembut lenganku. “Ibu mau mengingatkan satu hal kalau kamu mau bikin taman baca. Kamu harus kuat! Akan ada banyak orang yang nggak suka sama kamu. Akan ada banyak orang yang nantinya minta bagian dari kamu, padahal mereka nggak ada sama sekali saat kamu berjuang.”
“Maksudnya, Bu?”
“Nanti kamu akan mengerti sendiri seiring berjalannya waktu. Yang penting kamu harus kuat, harus bisa melindungi dirimu sendiri dan taman baca yang kamu dirikan!” ucap Ibu Roelyta lagi.
Aku tersenyum sambil menyandarkan kepalaku ke pundak Ibu Roelyta. “Ya Allah, jika Kau sentuh hatiku agar melakukan sesuatu untuk orang banyak, maka aku tahu Engkau begitu dekat. Maka, permudahlah setiap langkahku. Semua kebaikan yang aku lakukan, kupersembahkan hanya untuk Engkau, Ya Allah...”



Baca Part selanjutnya di sini >>> Aku dan Taman Bacaku Part.2

Hari-Hari Berat dalam Hidupku







Aku masih ingat pagi itu—langit tampak mendung, seakan ikut merasakan apa yang hatiku simpan. Di ruang tamu yang terasa asing walau sudah kutinggali bertahun-tahun, aku dan suamiku duduk saling diam. Kata-kata akhirnya meluncur dari bibirnya, seperti pisau yang tak terlihat tapi menghujam dalam.

"Kita cukup sampai di sini."

Tidak ada teriakan. Tidak ada drama. Hanya kesunyian yang menelan segalanya. Aku tahu hubungan ini sudah lama retak, tapi tetap saja, mendengar kata-kata itu seperti dipaksa menelan kenyataan paling pahit. Kami bercerai seminggu kemudian. Saat tanda tangan terakhir kububuhkan, rasanya seperti melepas bagian dari diriku sendiri.

Tapi aku tak punya waktu lama untuk meratapi. Dua pasang mata kecil menatapku dengan harap, mereka adalah anak-anakku. Belum cukup umur untuk benar-benar mengerti, tapi cukup peka untuk merasakan bahwa rumah mereka tak lagi utuh. Mereka adalah alasanku bangun setiap pagi, bahkan ketika tubuh ini rasanya ingin menyerah.

Hari-hariku tak lagi tentang mencari kebahagiaan, tapi bertahan. Menghidupi dua anak bukan perkara mudah, apalagi ditambah nenek yang sudah renta dan orang tua yang mulai sakit-sakitan. Aku menjadi tumpuan untuk lima jiwa. Setiap lembar uang yang kudapat harus diatur sebijak mungkin. Pernah suatu malam, aku hanya makan nasi dan garam karena lauk terakhir kuberikan pada anak-anak.

Ada hari-hari ketika aku pulang larut, tubuh lelah setelah bekerja sambilan, lalu dapur bocor dan tagihan listrik datang bersamaan. Aku menangis diam-diam di kamar mandi, agar anak-anakku tak melihat air mata itu. Tapi dari situ aku belajar, bahwa air mata bukan tanda kelemahan, tapi bukti bahwa aku masih berjuang.

Terkadang aku iri melihat keluarga utuh di taman atau mendengar tawa pasangan yang saling berbagi tugas mengasuh anak. Tapi hidupku sudah berbeda. Aku tak bisa mengubah masa lalu, hanya bisa menata masa depan dengan apa yang ada.

Sekarang, meski belum sepenuhnya lepas dari perjuangan, aku bangga pada diriku sendiri. Aku bukan hanya seorang ibu tunggal. Aku adalah anak yang merawat orang tuanya, cucu yang menjaga nenek-kakeknya, dan seorang perempuan yang masih berdiri kokoh meski berkali-kali ingin roboh.

Hari-hari berat itu akan tetap ada. Tapi aku pun sudah menjadi lebih kuat dari hari kemarin. 

Friday, July 11, 2025

Perfect Hero Bab 290 : Ten Hours Before the Wedding Party

 


“Yun, kamu belum ngantuk? Ini udah jam sebelas malam. Besok hari pernikahan kamu. Jangan sampe kecapekan karena kurang tidur,” omel Jheni saat melihat Yuna belum juga terlelap.

Yuna menghela napas. “Aku nggak bisa tidur, Jhen.”

“Masih deg-degan?” tanya Icha. “Kamu sama Yeriko kan udah sah jadi suami istri. Apa yang kamu khawatirkan, Yun?”

“Iih ... kalian itu nggak ngerti perasaanku!” dengus Yuna.

“Aargh ...! Kamu ini rewel banget, Yun. Aku masih nggak ngerti gimana Yeriko yang cool itu ngadepin kamu setiap hari. Betah aja dia jadi suami kamu. Kamu susah banget ditidurkan aja. Udah kayak anak bayi aja,” keluh Jheni.

“Jhen, aku tuh belum ngantuk. Aku udah terbiasa tidur sama Yeri. Nggak bisa tidur kalo nggak ada dia,” rengek Yuna.

“Hahaha. Astaga! Kamu nggak bisa tidur cuma karena Yeriko nggak satu kamar sama kamu? Aku pikir, kamu gugup karena mau nikah,” sela Icha sambil tertawa lebar.

“Dua-duanya, Cha!” sahut Yuna kesal.

“Ck, kalo cuma Yeriko ... besok juga ketemu. Alay banget!” dengus Jheni kesal.

“Kamu tuh belum tahu rasanya punya suami. Biasanya tidur dikelonin sama dia. Aku nggak bisa tidur tanpa dipeluk sama dia,” tutur Yuna, ia sengaja membuat dua sahabatnya itu cemburu.

“Nggak usah pamer!” seru Jheni kesal. “Kamu mau tidur nggak? Kalo masih nggak mau tidur, besok aku nggak mau jadi bridesmaid buat pengantin rewel kayak kamu!” ancam Jheni. Ia memeluk guling sambil meracau.

Yuna melipat wajahnya. Ia berbaring di ranjangnya, berusaha memejamkan mata agar terlelap. Tapi, matanya malah sulit untuk terpejam. Ia meraih ponsel, membuka aplikasi Whatsapp.

“Yuna, tidur!” seru Jheni. “Bandel banget dikasih tahu. Kalo sampe besok si Irvan ngomel karena kamu punya mata panda, yang dijejalin pertanyaan pasti aku terus karena nggak mengurus kamu dengan baik. Kamu tahu, seharian ini aja aku udah ditelepon berapa kali sama dia buat mastiin kalo anak buahnya kerjanya bagus. Kamu bener-bener nggak bisa lihat aku tidur dengan baik malam ini?”

“Bawel banget kayak emak-emak,” celetuk Yuna.

Jheni langsung melempar bantal ke arah Yuna. “Kamu yang emak-emak bawel. Aku kayak gini demi kebaikan kamu juga.”

“Iya, Jheni sayang ... Jheni ter-lope-lope!”

“Ngece banget sih!?” Jheni melompat dari tempat tidurnya dan langsung menyerang Yuna.

“Ssst ...! Jangan ribut! Icha udah tidur beneran,” bisik Yuna.

Jheni langsung menoleh ke arah Icha. “Cepet banget dia tidur. Enak banget tidurnya, kayak nggak punya beban hidup.”

“Kalo kita? Nggak tidur-tidur gini, apa karena keberatan beban hidup?”

Jheni tertawa kecil. “Kamunya aja yang bandel!” jawab Jheni sambil mengetuk dahi Yuna. “Udah bercandanya. Tidur yuk!” ajaj Jheni.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia kembali berbaring, namun masih sulit untuk memejamkan mata.

Dua puluh menit berlalu.

Yuna masih belum juga memejamkan mata.

“Kenapa aku nggak bisa tidur?” tanya Yuna dalam hati. Ia menatap wajah Icha dan Jheni yang sudah terlelap.

Yuna menatap langit-langit kamar yang luas. Ia kembali melihat ponselnya dan membuka pesan Whatsapp. “Yeriko udah tidur atau belum ya?” batinnya.

Yuna mengetik pesan untuk Yeriko. Kemudian menghapusnya kembali. Begitu seterusnya hingga beberapa menit terlewati.

“Hmm ... belum tidur?” Yeriko tiba-tiba mengirimkan pesan terlebih dahulu.

“Oh My God!” Yuna berseru tanpa suara. “Dia juga belum tidur?”

Yuna langsung tersenyum dan membalas pesan Yeriko. “Aku nggak bisa tidur. Kamu sendiri kenapa belum tidur?”

“Kangen kamu,” jawab Yeriko sembari mengirimkan emoji ‘hug’ untuk Yuna.

Yuna tersenyum senang membaca pesan dari Yeriko. “Aku juga. Nggak bisa tidur tanpa kamu,” balas Yuna.

Yeriko langsung menelepon Yuna.

“Halo ...!” sapa Yuna berbisik. Ia perlahan turun dari tempat tidur.

“Aku di bawah. Turun ya!”

“Serius?”

“Iya. Kapan aku bercanda?”

“Oke.” Yuna mematikan telepon dan mengendap-ngendap keluar dari kamar tersebut.

Beberapa menit kemudian, Yuna menghampiri Yeriko yang sudah menunggunya di luar hotel.

“Hei ...!” sapa Yuna sambil menepuk punggung Yeriko.

Yeriko berbalik dan tersenyum menatap Yuna.

“Kenapa nggak masuk?” tanya Yuna.

“Mama bener-bener kejam sama aku. Masa aku nggak boleh pesen kamar di sini. Malah ditaruh di hotel lain.”

Yuna tersenyum kecil. “Kenapa ya? Padahal, di sini kan bisa beda kamar juga.”

Yeriko tersenyum. “Emang udah diatur sama Mama untuk keamanan. Karena pernikahan kita tertutup banget. Katanya, banyak media yang minta buat ambil gambar. Kalo aku check-in di sana. Media bakal ngira resepsi kita di sana.”

“Dasar licik!” dengus Yuna.

Yeriko tersenyum. “Kenapa belum tidur juga sampai jam segini?”

“Aku nggak bisa tidur. Belum dipeluk sama kamu.”

“Umh, sini!” Yeriko menarik Yuna ke dalam pelukannya. “Kita sudah menikah sejak enam bulan lalu. Kenapa aku ngerasa malam ini masih single ya? Aku sampe nggak bisa tidur menghadapi hari pernikahan besok.”

“Aku pikir, aku doang yang ngerasa kayak gini.”

“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Yeriko.

“Semuanya.”

“Padahal, semua udah diurus sama mama.”

“Gimana sama mama? Apa dia bisa tidur?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku rasa, dia bisa tidur. Mungkin, orang WO yang nggak bisa tidur karena ditekan terus sama mama.”

“Hihihi, kasihan juga mereka ya? Udah kerja keras untuk pernikahan kita.”

“Aku nggak bisa lama-lama di sini. Kamu cepet tidur ya! Besok, harus kerja keras. Vitamin dari dokter, nggak lupa diminum kan?”

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak mungkin aku lupa.”

Yeriko mengelus perut Yuna. “Jaga dia baik-baik ya!” pintanya lirih sambil mengecup perut Yuna. “Kalian harus tidur sekarang. Kalau nggak tidur, Ayah akan merasa bersalah karena udah buat Dedek ikut begadang.”

Yuna tersenyum kecil sambil menggenggam tangan Yeriko yang masih di perutnya. “Siap, Ayah!” sahutnya dengan suara yang sengaja dibuat seperti anak kecil.

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Kembalilah ke kamarmu! Sampai ketemu besok,” ucapnya. Kemudian mengecup bibir Yuna yang manis.

Yuna mengangguk. “Ayah hati-hati!”

Yeriko mengangguk. “Cepet masuk!”

“Tunggu kamu pergi.”

“Aku tunggu kamu masuk, baru pergi.”

“Aku tunggu kamu pergi, baru aku masuk.”

Yeriko tertawa kecil.

“Kayak gini aja terus sampai besok. Hahaha.”

Yeriko langsung memutar tubuh Yuna. “Kalo gitu, sekarang kalian kembali ke sana dan tidur dengan nyenyak! Nggak boleh melawan perintah Ayah!”

Yuna tertawa kecil. “Oke.” Ia melangkahkan kakinya perlahan. Rasanya, kakinya tak ingin melangkah pergi. Ia terus menoleh ke belakang, menatap Yeriko yang masih tersenyum di sana.

“Lihat jalan baik-baik!” seru Yeriko.

Yuna nyengir. Ia memutar wajahnya dan melangkah pasti memasuki hotel kembali. Ia terus tersenyum sampai masuk ke dalam kamarnya.

Lampu kamar yang gelap, tiba-tiba menyala.

“Dari mana? Kenapa nggak tidur?” tanya Jheni yang sudah  berdiri menghadang Yuna.

“Kamu ngagetin aja!” celetuk Yuna sambil melangkahkan kakinya. “Aku abis cari angin. Nggak bisa tidur.”

“Angin bisa bikin kamu tidur?”

“Huuaa ... ngomelnya besok aja! Aku ngantuk,” jawab Yuna sambil merebahkan tubuhnya ke atas kasur.

Jheni mengerutkan hidungnya. Ia kembali mematikan lampu dan berbaring kembali di tempat tidurnya. “Kalo bukan temen, udah aku pites kamu, Yun. Ngeselin banget,” celetuknya.

Yuna hanya tertawa kecil mendengar celetukkan Jheni. Ia akhirnya bisa terlelap setelah  jam tiga pagi.

 

(( Bersambung ...))


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas