Menu BacaanMu
- Perfect Hero (501)
- Puisi (121)
- My Experience (118)
- Rumah Literasi Kreatif (87)
- Novel MLB (80)
- Cerpen (70)
- Then Love (60)
- Belajar Menulis (56)
- Esai (49)
- Artikel (43)
- Puisi Akrostik (43)
- Review Buku (22)
- Review Drama (18)
- Relima Perpusnas RI (16)
- Ekonomi & Bisnis (9)
- Novel The Cakra (8)
- Wisata (8)
- Aku dan Taman Bacaku (6)
- Dasawisma (6)
- Review Aplikasi (6)
- Kumpulan Novel (5)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Opini (4)
- Pendamping Nakal (3)
- Biografi Penulis (2)
- Daily (2)
- Donasi (1)
- Dongeng (1)
- Product (1)
Saturday, July 26, 2025
Tuesday, July 22, 2025
Audiensi Relima Ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara
Saturday, July 19, 2025
Pengalaman Mengikuti Musyawarah Wilayah dan Rapat Presidium Pemilihan Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Kaltim
Bersilaturahmi dan Bersinergi Bersama Komunitas Penggerak Literasi Kabupaten Kutai Kartanegara
Tak seperti hari kemarin, pagi ini langit di Rapak
Lambur cukup cerah. Sinar matahari yang hangat masuk lewat celah-celah jendela,
tapi aku masih enggan membuka mata. Kondisi tubuhku yang kurang sehat sejak
kemarin, membuatku terpaksa mengonsumsi obat dan tertidur dalam waktu yang
cukup panjang.
Pukul 07.30 WITA, aku masih memasak di dapur.
Padahal, setengah jam lagi jadwal kegiatan sudah harus dimulai. Aku tidak bisa
membeli sarapan karena rumah kakakku jauh dari kota dan tidak ada yang
berjualan nasi saat pagi hari. Jadi, aku pilih untuk memasak atau sekedar
menghangatkan sayur kemarin lebih dahulu.
Aku baru bisa berangkat dari Rapak Lambur pada jam
08.00 WITA menuju ke Aula SMA Negeri 2 Tenggarong. Meski datang terlambat,
acara baru saja dibuka dan aku segera duduk di kursi yang aku tempati pada hari
sebelumnya.
Kondisi tubuhku hari ini cukup fit dan bersahabat,
tidak seperti hari kemarin. Entah kenapa, aku tiba-tiba berubah menjadi manusia
tropis yang tidak bisa terkena hawa dingin. Hawa dingin benar-benar menyiksa
hidung dan tubuhku.
Materi pertama kali ini disampaikan kembali oleh
M. Arsyad dari GLK (Gerakan Literasi Kutai) yang melanjutkan materi tentang
pembuatan proposal komunitas. Kemudian, materi selanjutnya diisi oleh Ibu Mimi
Nuryanti dari Yayasan Lanjong Indonesia yang memberikan materi tentang
penyusunan RAB (Rancangan Anggaran Biaya) dan Laporan Keuangan Komunitas.
Materi-materi yang diberikan kali ini tentunya
sangat penting dan sangat bermanfaat, terutama bagi komunitas literasi. Sebab,
masih banyak komunitas literasi yang belum memiliki pelaporan administrasi yang
lengkap dan belum memiliki legalitas. Dengan adanya kegiatan ini, aku berharap
kalau semua komunitas literasi di Kutai Kartanegara bisa saling menguatkan demi
terwujudnya literasi untuk kesejahteraan masyarakat.
Tidak seperti hari kemarin, kegiatan bimtek hari
ini selesai lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan. Seharusnya selesai
jam lima sore, tapi jam setengah empat sore sudah selesai.
Aku cukup terkejut karena jadwal berjalan lebih
cepat dari sebelumnya. Sementara, aku belum mengabari suamiku yang posisinya
masih berada wilayah PLTGU Tanjung Batu yang jaraknya sekitar 15km dari SMA
Negeri 2 Tenggarong. Alhasil, aku harus menunggu jemputan terlebih dahulu.
Peserta dari beberapa kecamatan mulai beranjak
satu per satu. Aku masih bersantai di tempat dudukku. Kebetulan, ada Asih
(Anggota FLP Kukar) yang juga sedang menunggu jemputan.
Beberapa menit kemudian, ruang pertemuan ini mulai
kosong. Aku juga ikut berkemas. Mengemas laptop dan segala pernak-perniknya ke
dalam tas ranselku, kemudian melangkah keluar. Menunggu di luar ruangan lebih
mengasyikkan dan lebih menghangatkan tubuhku.
Baru duduk beberapa menit, tiba-tiba ada
pemberitahuan di dalam grup bimtek kalau ada tas yang tertinggal dan itu adalah
tas milikku. Aku segera berlari masuk kembali ke dalam aula dan mengambil tasku
yang disimpankan oleh panitia. Beruntungnya, aku belum keluar dari tempat
tersebut dan tidak menyadari kalau tas tanganku ternyata berada di luar ransel
dan berada di meja peserta lain. Jika aku membawa sepeda motor sendiri, mungkin
ceritanya akan menjadi berbeda.
Aku menunggu sekitar 30 menit di teras aula SMA
Negeri 2 Tenggarong. Cuaca sore cukup bersahabat dan hangat. Rasanya sangat nyaman
untuk kondisi tubuhku yang sedang flu.
Pria bertubuh besar itu datang dengan senyuman
yang mengembang. Ia tidak berkata banyak dan langsung menghampiriku. Menemaniku
duduk bersantai di teras aula SMA Negeri 2 Tenggarong. Menemaniku mengobrol
sembari menyesap sebatang rokok favorite-nya.
”Mau ke mana lagi?”
Pertanyaan itu keluar dari bibir suamiku yang sudah
sangat memahami bagaimana kehidupanku. Ia tahu, aku tidak mungkin hanya bertemu
dengan satu orang di kabupaten ini. Ya, aku sudah janjian bertemu dengan Ibu
Listy (Dinas Pendidikan) dan Habib (Ketua Himasja & Komunitas Pixelarasi).
Tapi, aku masih menunggu konfirmasi dari mereka, apakah mereka bisa bertemu
atau tidak.
Setelah bersantai beberapa menit, kami segera keluar
dari tempat tersebut. Aku merasa sangat senang kali ini karena bisa bertemu
dengan beberapa pengelola perpustakaan desa/kelurahan dan tbm yang ada di
wilayah Kutai Kartanegara. Sejauh ini bergerak di dunia literasi, aku belum
pernah bertemu dan berkumpul dengan mereka.
Aku berharap, semua pengelola perpustakaan dan tbm
di wilayah Kutai Kartanegara bisa saling bersinergi dan saling menguatkan untuk
terus menggerakkan literasi. Mengingat lokasi geografis Kabupaten Kutai Kartanegara
yang sangat luas dan jarak tempuh ke ibukota kabupaten juga sangat jauh. Momen
ini menjadi momen berharga untuk bisa saling bersilaturahmi, saling sharing,
dan saling menguatkan satu sama lain agar literasi di Kutai Kartanegara
benar-benar bisa bergaung demi kebermanfaatan dan kesejahteraan masyarakatnya.
Kutai Kartanegara, 16 Juli 2025
Friday, July 18, 2025
Bimtek Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2025
Kutai Kartanegara, 16 Juli 2025. Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur menggelar kegiatan Bimbingan Teknis
Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara pada tanggal 15-16 Juli
2025.
Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur terus menjaga komitmen dalam
mendukung peran komunitas-komunitas literasi di wilayah Kalimantan Timur dengan
memberikan Bimbingan Teknis (Bimtek). Tahun ini, Balai Bahasa Provinsi
Kalimantan Timur menggelar Bimtek bagi Komunitas Penggerak Literasi di
Kabupaten Kutai Kartanegara. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15-16 Juli
2025 di Aula SMA Negeri 2 Tenggarong.
Kegiatan bimtek ini diikuti oleh komunitas-komunitas yang ada di wilayah
Kutai Kartanegara. Selain dari Kukar, juga ada komunitas dari kota Samarinda
yang mengikuti kegiatan ini.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh Bapak Asep Juanda, S.Ag., M.Hum selaku
Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur. Tidak sekedar membuka kegiatan
dan memberikan sambutan, Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur juga
memaparkan tentang Kebijakan Literasi di daerah.
Materi kedua diisi oleh Ahmad Qoshashih dari Yayasan Lanjong Indonesia yang
memberikan materi tentang penyusunan profil dan portofolio komunitas. Materi
terakhir pada hari pertama kegiatan ditutup dengan materi tentang merancang
program yang inovatif di komunitas yang disampaikan oleh M. Arsyad dari GLK
(Gerakan Literasi Kutai).
Hari kedua diisi dengan materi tentang penyusunan proposal kegiatan yang
disampaikan oleh M. Arsyad dari GLK (Gerakan Literasi Kutai). Kemudian
dilanjutkan dengan materi penyusunan Rancangan Anggaran Biaya (RAB) dan Laporan
Keuangan Komunitas yang disampaikan oleh ibu Mimi Nuryanti dari Yayasan Lanjong
Indonesia.
Wednesday, July 16, 2025
Berjuang Demi Literasi Bersama Rintik Hujan di Tenggarong
Pagi hari, langit di Rapak Lambur tampak redup.
Gumpalan awan mendekap dan menyelimuti desa ini, seolah enggan untuk pergi. Rintik
hujan seolah sedang menarik-narik diri untuk tetap bercengkerama dalam selimut.
Dingin angin yang masuk lewat sela-sela jendela, membuat enggan untuk bangkit
dari peraduan.
Keadaan berbanding terbalik dengan tanggung jawab.
Rasa malas harus dikalahkan dengan tanggung jawab dan komitmen yang telah aku
buat sendiri. Dengan enggan, aku mengangkat kepalaku dari atas bantal agar
tidak terlena dengan nikmatnya rintik hujan di pagi hari.
Aku mengecek jam di ponsel. Waktu masih sangat
pagi. Rasanya masih ingin malas-malasan di tempat tidur. Tapi kakak sepupuku
sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi. Aku ingin membantu, tapi
sepertinya dia tidak membutuhkan bantuan. Ia tidak membuat menu baru, hanya
memanaskan makanan yang aku beli semalam, juga menu yang ia buat kemarin.
Ya, aku memang sudah sampai di rumah kakakku sejak
semalam. Perjalanan dari Samboja ke Tenggarong bukanlah perjalanan yang
pendek. Sementara, aku harus mengikuti kegiatan
”Bimbingan Teknis Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara” yang
dimulai sejak pukul 08.00 WITA. Tentunya tidak bisa bersantai di perjalanan
ketika harus berangkat di pagi hari. Jadi, aku memilih untuk berangkat di malam
hari dan menginap di rumah kakak sepupuku.
Satu-satunya tempat peraduan ketika aku ke pusat
kabupaten ialah rumah ini. Aku tidak punya tempat lain lagi untuk beristirahat.
Karena di sinilah rumah keluarga yang paling nyaman.
”Hatchiiim ...!”
Aku menggosok hidungku yang tiba-tiba gatal.
Tenggorokanku juga terasa sangat kering dan kepala pening. Sepertinya tubuhku tidak
terlalu bersahabat karena semalam terhempas oleh suhu dingin angin malam. Meski
sudah mengenakan jaket tebal, perjalanan panjang dan cuaca dingin setelah
hujan, membuat tubuhku yang tropis ini mulai protes.
Aku mencari obat di kotak obat milik kakakku. Aku harap
bisa menemukan salah satu obat yang biasa aku konsumsi dan cocok di tubuhku.
Sayang, aku tidak menemukannya.
Pukul 07.00 WITA, aku mulai resah karena rintik
hujan semakin rapat. Aku segera mengunduh aplikasi transportasi online agar
bisa sampai ke lokasi pelatihan menggunakan mobil, tidak menggunakan motor.
Mengingat cuaca hujan dan tubuhku sedang kurang sehat.
Hampir setengah jam aku mencoba mencari taksi
online. Beberapa aplikasi yang aku unduh tidak menemukan driver yang bersedia
menuju ke tempat tinggal kakakku. Mungkin karena lokasinya cukup jauh dari
pusat kota.
Akhirnya, aku terpaksa menggunakan sepeda motor
untuk bisa sampai ke SMA Negeri 2 Tenggarong, tempat di mana aku akan menimba
ilmu dan pengalaman baru.
Derasnya hujan, tak mengurungkan niatku. Usai sarapan
pagi, aku segera bersiap dan keluar dari rumah. Meski tubuh menggigil kedinginan,
tanganku tetap mantap mengenakan mantel dan helm. Usai berpamitan dengan kakak
dan suamiku, aku perlahan mengendarai sepeda motor menuju SMA Negeri 2
Tenggarong.
Rinai hujan membuat jalanan licin. Membuatku tidak
bisa melaju kencang seperti biasanya. Aku memilih mengendarai motor dengan hati-hati
sembari menahan gemeletuk gigi karena kedinginan. Semakin lama di perjalanan,
semakin lama juga tubuhku harus menahan dingin.
Di perjalanan aku terus berpikir ... di mana letak
SMA Negeri 2 Tenggarong ini. Sebab, aku belum pernah ke sana. Meski sudah diarahkan
berkali-kali, aku tetap tidak percaya diri karena aku adalah manusia yang buta
arah dan kesulitan membaca peta. Meski pakai Google Maps, aku masih saja sering
kesasar.
Pukul
08.20 WITA, aku masih berada di perjalanan. Sementara kegiatan akan dimulai pada
pukul 08.00 WITA apabila sesuai jadwal. Aku sangat khawatir jika terlambat
terlalu lama. Rasanya pasti akan sangat canggung ketika aku datang terlambat
seorang diri.
Beruntungnya, masih banyak peserta yang belum
datang ketika aku sampai di aula SMA Negeri 2 Tenggarong. Jadi, kegiatannya
belum dimulai.
Di depan aula, sudah ada beberapa orang. Aku
langsung menyapa salah seorang di sana. Dia juga langsung mengenaliku, padahal
kami belum pernah bertemu sama sekali. Biasanya hanya berkomunikasi lewat Whatsapp
karena jarak tempat tinggal kami yang sangat jauh meski masih berada dalam lingkup
satu kabupaten.
Beberapa menit kemudian, kami memasuki aula karena
Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur juga sudah tiba di lokasi. Acara
ini dibuka langsung oleh Bapak Asep Juanda, S.Ag., Hum. Bukan sekedar
memberikan sambutan, Bapak Asep Juanda juga memaparkan banyak materi tentang
Balai Bahasa kalimantan Timur.
Materi selanjutnya diisi oleh Ahmad Kosasih, Ketua
Yayasan Lanjong Indonesia yang memiliki banyak karya dan prestasi dalam bidang
seni pertunjukkan. Tentunya senang sekali bisa mendapatkan ilmu baru dari
pengelola Yayasan Lanjong Indonesia. Terutama tentang bagaimana membuat portofolio
yang baik bagi komunitas literasi.
Materi selanjutnya diisi oleh Muhammad Arsyad dari
Yayasan Gerakan Literasi Kutai. GLK merupakan salah satu komunitas literasi
yang sudah lama bergerak dan menjadi panutan bagiku. Tentunya sangat senang
bisa bertemu dengan orang-orang hebat di dalam forum ini. Kami mendapatkan bimbingan
langsung tentang bagaimana menyusun proposal komunitas yang baik dan benar.
Acara hari ini berjalan dengan baik. Sayangnya,
tubuhku yang kurang baik. Tubuh yang diterpa dinginnya angin malam, diguyur hujan
selama perjalanan, dan suhu ruang AC yang dingin, membuat tubuhku semakin
protes. Sepertinya ia tidak lagi menyukai kondisi dingin. Membuat tubuhku
terasa tidak nyaman karena flu menyerang untuk pertama kalinya.
Meski kondisi tubuh tak bersahabat, aku tetap
mengikuti kegiatan sampai selesai. Ini adalah komitmen yang telah aku buat
dengan diriku sendiri agar aku selalu bertangggung jawab atas apa yang telah
aku kerjakan hingga usai.
Bukan sekedar mendengarkan, aku juga masih
memiliki kekuatan untuk aktif berdiskusi di tengah kelemahan ini. Aku juga
masih menyempatkan diri untuk membuat tulisan ini. Aku harus terus bergerak
agar rasa sakit tak punya kesempatan untuk menggerogoti tubuhku yang mungil
ini.
Tentunya aku sangat bahagia bisa berada di tempat
ini karena aku bisa bertemu dengan orang-orang berhati mulia yang terus
bergerak memajukan literasi hingga pelosok negeri secara swadaya. Aku merasa mendapatkan
kekuatan dan semangat baru ketika bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi
dan senang berbagi pengalaman. Aku senang sekali mendengarkan banyak cerita
tentang suka-duka komunitas literasi yang ada di wilayah Kabupaten Kutai
Kartanegara.
Seperti yang dimandatkan oleh pengurus pusat, literasi
itu gerakan, bukan bersaing program. Oleh karenanya, kita harus terus bergerak
bersama memajukan literasi di negeri ini agar bangsa Indonesia bisa menjadi
bangsa yang berdaya saing dan mampu memajukan daerahnya. Kita tidak bisa
memulai dengan hal besar, tapi kita bisa memulainya dengan hal kecil. Hal kecil
yang selalu bersinergi dan berkelanjutan, akan melahirkan gerakan yang besar.
Dengan menjadi besar bersama, maka kita akan menjadi bangsa yang kuat dan siap
bersaing.
Saturday, July 12, 2025
AKU DAN TAMAN BACAKU || Bab 1 : Titik Balik Kehidupanku
Hari-Hari Berat dalam Hidupku
Friday, July 11, 2025
Perfect Hero Bab 290 : Ten Hours Before the Wedding Party
“Yun,
kamu belum ngantuk? Ini udah jam sebelas malam. Besok hari pernikahan kamu.
Jangan sampe kecapekan karena kurang tidur,” omel Jheni saat melihat Yuna belum
juga terlelap.
Yuna
menghela napas. “Aku nggak bisa tidur, Jhen.”
“Masih
deg-degan?” tanya Icha. “Kamu sama Yeriko kan udah sah jadi suami istri. Apa
yang kamu khawatirkan, Yun?”
“Iih
... kalian itu nggak ngerti perasaanku!” dengus Yuna.
“Aargh
...! Kamu ini rewel banget, Yun. Aku masih nggak ngerti gimana Yeriko yang cool
itu ngadepin kamu setiap hari. Betah aja dia jadi suami kamu. Kamu susah banget
ditidurkan aja. Udah kayak anak bayi aja,” keluh Jheni.
“Jhen,
aku tuh belum ngantuk. Aku udah terbiasa tidur sama Yeri. Nggak bisa tidur kalo
nggak ada dia,” rengek Yuna.
“Hahaha.
Astaga! Kamu nggak bisa tidur cuma karena Yeriko nggak satu kamar sama kamu?
Aku pikir, kamu gugup karena mau nikah,” sela Icha sambil tertawa lebar.
“Dua-duanya,
Cha!” sahut Yuna kesal.
“Ck,
kalo cuma Yeriko ... besok juga ketemu. Alay banget!” dengus Jheni kesal.
“Kamu
tuh belum tahu rasanya punya suami. Biasanya tidur dikelonin sama dia. Aku
nggak bisa tidur tanpa dipeluk sama dia,” tutur Yuna, ia sengaja membuat dua
sahabatnya itu cemburu.
“Nggak
usah pamer!” seru Jheni kesal. “Kamu mau tidur nggak? Kalo masih nggak mau
tidur, besok aku nggak mau jadi bridesmaid buat pengantin rewel kayak kamu!”
ancam Jheni. Ia memeluk guling sambil meracau.
Yuna
melipat wajahnya. Ia berbaring di ranjangnya, berusaha memejamkan mata agar
terlelap. Tapi, matanya malah sulit untuk terpejam. Ia meraih ponsel, membuka
aplikasi Whatsapp.
“Yuna,
tidur!” seru Jheni. “Bandel banget dikasih tahu. Kalo sampe besok si Irvan
ngomel karena kamu punya mata panda, yang dijejalin pertanyaan pasti aku terus
karena nggak mengurus kamu dengan baik. Kamu tahu, seharian ini aja aku udah
ditelepon berapa kali sama dia buat mastiin kalo anak buahnya kerjanya bagus.
Kamu bener-bener nggak bisa lihat aku tidur dengan baik malam ini?”
“Bawel
banget kayak emak-emak,” celetuk Yuna.
Jheni
langsung melempar bantal ke arah Yuna. “Kamu yang emak-emak bawel. Aku kayak
gini demi kebaikan kamu juga.”
“Iya,
Jheni sayang ... Jheni ter-lope-lope!”
“Ngece
banget sih!?” Jheni melompat dari tempat tidurnya dan langsung menyerang Yuna.
“Ssst
...! Jangan ribut! Icha udah tidur beneran,” bisik Yuna.
Jheni
langsung menoleh ke arah Icha. “Cepet banget dia tidur. Enak banget tidurnya,
kayak nggak punya beban hidup.”
“Kalo
kita? Nggak tidur-tidur gini, apa karena keberatan beban hidup?”
Jheni
tertawa kecil. “Kamunya aja yang bandel!” jawab Jheni sambil mengetuk dahi
Yuna. “Udah bercandanya. Tidur yuk!” ajaj Jheni.
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. Ia kembali berbaring, namun masih sulit untuk
memejamkan mata.
Dua
puluh menit berlalu.
Yuna
masih belum juga memejamkan mata.
“Kenapa
aku nggak bisa tidur?” tanya Yuna dalam hati. Ia menatap wajah Icha dan Jheni
yang sudah terlelap.
Yuna
menatap langit-langit kamar yang luas. Ia kembali melihat ponselnya dan membuka
pesan Whatsapp. “Yeriko udah tidur atau belum ya?” batinnya.
Yuna
mengetik pesan untuk Yeriko. Kemudian menghapusnya kembali. Begitu seterusnya
hingga beberapa menit terlewati.
“Hmm
... belum tidur?” Yeriko tiba-tiba mengirimkan pesan terlebih dahulu.
“Oh
My God!” Yuna berseru tanpa suara. “Dia juga belum tidur?”
Yuna
langsung tersenyum dan membalas pesan Yeriko. “Aku nggak bisa tidur. Kamu
sendiri kenapa belum tidur?”
“Kangen
kamu,” jawab Yeriko sembari mengirimkan emoji ‘hug’ untuk Yuna.
Yuna
tersenyum senang membaca pesan dari Yeriko. “Aku juga. Nggak bisa tidur tanpa
kamu,” balas Yuna.
Yeriko
langsung menelepon Yuna.
“Halo
...!” sapa Yuna berbisik. Ia perlahan turun dari tempat tidur.
“Aku
di bawah. Turun ya!”
“Serius?”
“Iya.
Kapan aku bercanda?”
“Oke.”
Yuna mematikan telepon dan mengendap-ngendap keluar dari kamar tersebut.
Beberapa
menit kemudian, Yuna menghampiri Yeriko yang sudah menunggunya di luar hotel.
“Hei
...!” sapa Yuna sambil menepuk punggung Yeriko.
Yeriko
berbalik dan tersenyum menatap Yuna.
“Kenapa
nggak masuk?” tanya Yuna.
“Mama
bener-bener kejam sama aku. Masa aku nggak boleh pesen kamar di sini. Malah
ditaruh di hotel lain.”
Yuna
tersenyum kecil. “Kenapa ya? Padahal, di sini kan bisa beda kamar juga.”
Yeriko
tersenyum. “Emang udah diatur sama Mama untuk keamanan. Karena pernikahan kita
tertutup banget. Katanya, banyak media yang minta buat ambil gambar. Kalo aku
check-in di sana. Media bakal ngira resepsi kita di sana.”
“Dasar
licik!” dengus Yuna.
Yeriko
tersenyum. “Kenapa belum tidur juga sampai jam segini?”
“Aku
nggak bisa tidur. Belum dipeluk sama kamu.”
“Umh,
sini!” Yeriko menarik Yuna ke dalam pelukannya. “Kita sudah menikah sejak enam
bulan lalu. Kenapa aku ngerasa malam ini masih single ya? Aku sampe nggak bisa
tidur menghadapi hari pernikahan besok.”
“Aku
pikir, aku doang yang ngerasa kayak gini.”
“Apa
yang kamu pikirkan?” tanya Yeriko.
“Semuanya.”
“Padahal,
semua udah diurus sama mama.”
“Gimana
sama mama? Apa dia bisa tidur?”
Yeriko
menggelengkan kepala. “Aku rasa, dia bisa tidur. Mungkin, orang WO yang nggak
bisa tidur karena ditekan terus sama mama.”
“Hihihi,
kasihan juga mereka ya? Udah kerja keras untuk pernikahan kita.”
“Aku
nggak bisa lama-lama di sini. Kamu cepet tidur ya! Besok, harus kerja keras.
Vitamin dari dokter, nggak lupa diminum kan?”
Yuna
menggelengkan kepala. “Nggak mungkin aku lupa.”
Yeriko
mengelus perut Yuna. “Jaga dia baik-baik ya!” pintanya lirih sambil mengecup
perut Yuna. “Kalian harus tidur sekarang. Kalau nggak tidur, Ayah akan merasa
bersalah karena udah buat Dedek ikut begadang.”
Yuna
tersenyum kecil sambil menggenggam tangan Yeriko yang masih di perutnya. “Siap,
Ayah!” sahutnya dengan suara yang sengaja dibuat seperti anak kecil.
Yeriko
tersenyum menatap Yuna. “Kembalilah ke kamarmu! Sampai ketemu besok,” ucapnya.
Kemudian mengecup bibir Yuna yang manis.
Yuna
mengangguk. “Ayah hati-hati!”
Yeriko
mengangguk. “Cepet masuk!”
“Tunggu
kamu pergi.”
“Aku
tunggu kamu masuk, baru pergi.”
“Aku
tunggu kamu pergi, baru aku masuk.”
Yeriko
tertawa kecil.
“Kayak
gini aja terus sampai besok. Hahaha.”
Yeriko
langsung memutar tubuh Yuna. “Kalo gitu, sekarang kalian kembali ke sana dan
tidur dengan nyenyak! Nggak boleh melawan perintah Ayah!”
Yuna
tertawa kecil. “Oke.” Ia melangkahkan kakinya perlahan. Rasanya, kakinya tak
ingin melangkah pergi. Ia terus menoleh ke belakang, menatap Yeriko yang masih
tersenyum di sana.
“Lihat
jalan baik-baik!” seru Yeriko.
Yuna
nyengir. Ia memutar wajahnya dan melangkah pasti memasuki hotel kembali. Ia
terus tersenyum sampai masuk ke dalam kamarnya.
Lampu
kamar yang gelap, tiba-tiba menyala.
“Dari
mana? Kenapa nggak tidur?” tanya Jheni yang sudah berdiri menghadang
Yuna.
“Kamu
ngagetin aja!” celetuk Yuna sambil melangkahkan kakinya. “Aku abis cari angin.
Nggak bisa tidur.”
“Angin
bisa bikin kamu tidur?”
“Huuaa
... ngomelnya besok aja! Aku ngantuk,” jawab Yuna sambil merebahkan tubuhnya ke
atas kasur.
Jheni
mengerutkan hidungnya. Ia kembali mematikan lampu dan berbaring kembali di
tempat tidurnya. “Kalo bukan temen, udah aku pites kamu, Yun. Ngeselin banget,”
celetuknya.
Yuna
hanya tertawa kecil mendengar celetukkan Jheni. Ia akhirnya bisa terlelap
setelah jam tiga pagi.
(( Bersambung ...))
.png)




.jpg)


.png)

.png)