Friday, October 10, 2025

THEN LOVE BAB 36 : RASA YANG ANEH

 


Delana merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar yang kosong. Di sana, tergambar bayangannya bersama Chilton beberapa waktu lalu. Saat mereka masih berteman dengan baik. Menikmati pagi dan melalui malam bersama.

Delana menghela napas. Sudah seharusnya ia bisa menerima kenyataan bahwa dirinya dan Chilton memang tidak berjodoh.

Delana bangkit, ia melangkahkan kakinya perlahan menuruni anak tangga dan langsung masuk ke dapur untuk mencari minuman dingin.

Delana membuka pintu kulkas dan meraih botol berisi sirup nanas yang ia buat sendiri.

“Kak, tumben masih di rumah?” Suara Bryan mengagetkan Delana.

“Astaga ...! Kamu ngagetin aja!” seru Delana yang melihat Bryan sudah ada di belakangnya.

“Kakak ngelamun? Masa nggak lihat aku udah di dapur duluan?” tanya Bryan.

“Ah, kamu ini,” gumam Delana.

Bryan tersenyum. “Kakak nggak ngajar? Tumben jam segini masih di rumah?” tanya Bryan.

“Hah!? Emangnya ini hari apa?”

“Hari Senin,” jawab Bryan singkat.

Delana langsung menepuk jidatnya. “Astaga ...! Lupa!” Ia langsung menutup kulkas menggunakan kakinya dan beranjak pergi menuju kamar.

Bryan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kakaknya itu.

Delana menggerutu sambil mempersiapkan dirinya pergi ke tempat kursus. Memikirkan Chilton telah menguras waktu dan pikirannya. Hingga ia mengorbankan waktu-waktu penting bersama anak-anak muridnya.

Delana berlari keluar dari kamarnya. Jam mengajar seharusnya sudah dimulai. Tapi, Delana justru masih santai di rumah. Sedangkan untuk bisa sampai ke tempat mengajar, ia harus menempuh waktu sekitar tiga puluh menit.

Delana mengendarai sepeda motor terburu-buru. Ia terus menyalip kendaraan yang ada di depannya agar bisa cepat sampai ke tempat les.

Sesampainya di halaman gedung, tempat ia mengajar. Delana langsung memarkirkan motornya dengan terburu-buru. Ia tidak menurunkan standar motornya dengan baik sehingga motor tersebut ambruk.

“Kenapa, Mbak?” Security yang sedang berjaga langsung berlari menghampiri Delana.

“Rebah, Pak. Tolong, ya! Saya terlambat!” seru Delana sambil berlari masuk ke dalam gedung.

Security yang berjaga menggeleng-geleng heran melihat kelakuan Delana yang meninggalkan motornya begitu saja.

Delana langsung masuk ke kelas yang menjadi jadwal ia mengajar. Belum sampai masuk kelas, Delana terkejut karena sudah ada Chilton yang sedang menggantikannya mengajar siswa sekolah dasar.

“Kak Dela!” seru murid-murid Delana begitu melihat Delana berdiri di depan pintu.

Delana tersenyum. Ia melambaikan tangan sambil melangkahkan kakinya perlahan memasuki kelas. Ia terlihat malu-malu karena ada Chilton yang sudah ada di depan kelas.

“Kenapa terlambat?” tanya Chilton.

“Eh!?” Delana malah bengong mendengar pertanyaan Chilton.

“Kenapa terlambat?” Chilton mengulangi pertanyaannya lagi.

“Ada urusan.”

“Ngapain?”

“Kepo!” dengus Delana.

Chilton tersenyum kecil. “ Ya udah, aku balik ke kelas aku lagi.”

“Oke. Makasih, ya!”

Chilton menganggukkan kepala dan berlalu pergi meninggalkan Delana bersama murid-murid didikannya.

Jam kursus untuk murid sekolah dasar akhirnya usai. Di sela waktu menunggu jam kursus untuk murid sekolah menengah, Delana keluar dari gedung dan menghampiri tukang bakso yang sedang mangkal di depan halaman gedung.

“Paklek, baksonya satu, ya! Nggak usah pake saos!” pinta Delana. Ia menarik kursi plastik yang telah disediakan dan duduk di sana.

“Lek, bakso ya! Kayak biasa,” tutur Chilton yang tiba-tiba muncul. Ia langsung duduk di samping Delana.

Delana terdiam. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ingin menyapa, tapi ia masih ragu.

“Kuliah kamu gimana?” tanya Chilton.

“Baik,” jawab Delana sambil tersenyum.

Chilton mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kamu sendiri gimana?” tanya Delana.

“Apanya?”

“Kabarnya,” sahut Delana tanpa menoleh ke arah Chilton.

“Baik,” jawab Chilton sambil tersenyum.

Delana menarik napas dalam-dalam. Ia masih merasa canggung dengan keberadaan Chilton di sampingngnya. Ia mencoba menata hatinya agar terlihat baik-baik saja.

“Eh, kabar si Attala gimana?” tanya Delana. “Masih nge-game?”

“Kayaknya sih gitu. Dia masih sering ngajak aku main game,” jawab Chilton sambil meraih mangkuk bakso yang disodorkan oleh tukang bakso. Ia juga memberikan mangkuk bakso pada Delana.

“Makasih, Paklek!” ucap Delana.

“Maksih, Lek!” tutur Chilton sambil mengangkat sedikit mangkuknya.

Tukang bakso tersebut langsung menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Kamu masih mau diajak nge-game lagi sama dia?” tanya Delana melanjutkan pembiacaraan.

“Nggak lah. Ketemu sama cooser kayak Chillo lagi, geli aku,” ucap Chilton sambil bergidik.

Delana tergelak melihat ekspresi wajah Chilton.

Chilton tersenyum kecil menatap wajah ceria Delana. Wajah yang tak lagi ia lihat beberapa hari terakhir semenjak ia menolak gadis itu. “Aku nggak suka sama kamu, tapi hariku nggak biasa kalo nggak ada kamu,” bisik Chilton dalam hatinya.

Delana menghentikan tawanya. Ia sadar kalau ia bisa tetap berteman baik dengan Chilton tanpa harus berharap cowok itu akan mencintainya.

“Mama kamu apa kabar?” tanya Delana menatap Chilton sambil tersenyum.

Chilton langsung menatap Delana begitu mendengar mamanya disebut. Ia tak pernah mengajak cewek lain masuk ke dalam rumahnya, kecuali Delana. Mamanya selalu ingat dengan Delana. Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa ketika mamanya tahu kalau hubungannya dan Delana sudah berakhir, bahkan sebelum mereka berpacaran.

Chilton tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada mangkuk bakso yang ada di tangannya. “Sesekali dia nanyain kamu,” tuturnya.

“Oh, ya? Nanyain apa?” tanya Delana penasaran.

“Nanyain kabar kamu.”

“Aku baik,” jawab Delana sambil tersenyum bahagia. Entah kenapa ia merasa sangat bahagia ketika tahu kalau mamanya Chilton memberikan sedikit perhatian untuknya. Andai saja ia bisa punya mama seperti Mama Astria.

Chilton hanya tersenyum melirik Delana yang duduk di sampingnya.

“Kabar Zoya gimana?” tanya Delana.

Chilton menaikkan kedua alisnya begitu mendengar nama sahabatnya itu disebut. Entah kenapa ia merasa kesal setiap kali Delana menanyakan kabar cowok tampan seperti sahabatnya itu.

“Kenapa?” tanya Delana yang menyadari ekspresi kesal di wajah Chilton.

“Kamu emang suka cowok ganteng, ya?”

“Aku normal kali,” jawab Delana sambil tertawa. “Masih suka sama cowok, bukan sama cewek.”

Chilton tersenyum kecil. Ia tak ingin menjawab pertanyaan Delana tentang sahabatnya itu.

“Kamu cemburu?” goda Delana.

 “Hah!? Cemburu!? Nggak lah!” sergah Chilton.

“Kali aja cemburu sama sahabat sendiri,” celetuk Delana.

Chilton hanya tersenyum kecil menanggapinya.

“Kamu anggap aku teman baik, aku juga anggap dia teman baik kayak kamu,” tutur Delana.

“Bisa aja kamu jatuh cinta sama dia. Hati orang bisa berubah kapan aja,” sahut Chilton.

“Hmm ... iya juga, sih. Tapi kayaknya nggak mungkin deh kalo aku jatuh cinta sama cowok kayak dia. Kelewat ganteng. Aku bisa sakit hati terus setiap hari karena dia direbutin banyak cewek,” tutur Delana.

Chilton menoleh ke arah Delana. Bukankah dirinya juga jadi rebutan banyak cewek di kampus. Tapi, Delana tetap sabar dan setia menemani hari-harinya. Apa Delana juga sakit hati saat ia jalan bersama cewek lain? Tiba-tiba saja pertanyaan itu hadir dalam benak Chilton.

Ternyata, Chilton menyakiti Delana bukan pada malam ia menolak perasaan Delana, tapi sejak ia mengenal gadis itu.

Chilton memejamkan mata. Ia tak ingin terus menerus dihantui rasa bersalah karena kebaikan yang telah Delana berikan untuknya.

“Eh, ngomong-ngomong, kabar kamu sama Ratu gimana? Aku denger-denger kalian lagi deket banget ya?” tanya Delana.

Chilton hanya tersenyum menanggapi ucapan Delana.

“Syukur deh, akhirnya kamu bisa nemuin cewek yang tepat buat kamu,” tutur Delana sambil tersenyum walau dalam hatinya ia merasa sakit.

“Aku nggak terlalu cocok sama dia. Dunia kita beda banget,” tutur Chilton.

“Oh ya? Masa, sih? Kalian kelihatan serasi banget,” tutur Delana sambil menunjukkan senyum bahagia.

Chilton menaikkan kedua alisnya. Ia sama sekali tidak merasa cocok dengan Ratu. Tapi, bisa saja dia memilih Ratu ketimbang harus berpacaran dengan Delana yang mudah sekali menyukai pria tampan.

“Kalo aku jadian sama dia, menurut kamu gimana?” tanya Chilton sambil tersenyum.

Delana tersenyum. “Cocok. Ratu anaknya cantik banget, kamu juga ganteng banget. Kalian serasi,” tutur Delana. Ia mencoba tegar dan menerima kalau Chilton dan dirinya hanya bisa menjadi sebatas teman.

“Kamu sendiri, udah dapet cowok baru?” tanya Chilton.

“Eh!? Apaan, sih? Aku nggak nyari cowok, kok.”

“Bukannya kamu suka sama cowok ganteng?”

Delana menganggukkan kepala. “Suka bukan berarti cinta,” tutur Delana sambil bangkit dari tempat duduknya. Ia menghampiri rombong julan dan memberikan mangkuk bakso yang sudah kosong pada tukang bakso.

“Berapa Paklek?” tanya Delana.

“Sepuluh ribu, Mbak.”

“Dua. Sama punya dia sekalian,” tutur Delana sambil menunjuk Chilton dengan dagunya.

“Oh. Dua puluh ribu semuanya, Mbak.”

Delana merogoh uang yang ia simpan di sakunya. Ia mengambil dua lembar uang sepuluh ribuan dan memberikannya pada tukang bakso tersebut.

“Aku duluan, ya!” pamit Delana, ia langsung bergegas masuk ke dalam gedung tempat ia mengajar.

Chilton menganggukkan kepala. Ia ikut bangkit dan menghampiri tukang bakso yang berada beberapa meter darinya. “Berapa, Paklek?” tanya Chilton.

“Sudah dibayar sama mbak yang tadi,” jawab tukang bakso tersebut sambil mengambil mangkuk dari tangan Chilton.

“Hah!?” Chilton langsung menoleh ke arah Delana yang masih berjalan memasuki gedung. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Kebiasaannya memang tidak hilang. Ia lebih sering ditraktir Delana daripada mentraktir cewek itu.

***

Sore mulai berganti malam. Murid-murid sekolah dasar hanya kursus di jam sore. Malam hari akan diisi oleh murid-murid sekolah menengah. Delana dan Chilton masih saja mengambil jam malam karena permintaan murid-murid mereka.

Delana memasuki kelas. Sejak hari ini, ia memutuskan akan tetap berteman dengan Chilton seperti dulu. Tak ingin berubah sedikitpun. Agar dia tahu bahwa Delana tulus memberikan apa yang ia miliki untuk Chilton. Sekalipun Chilton telah menolak dirinya.

“Sore, Bu Guru Cantik! Ngelamun aja,” sapa Randi yang baru saja memasuki kelas.

“Heh!? Kamu ngagetin Kakak aja!” Delana tersentak saat Randi sudah ada di depannya.

“Ngelamunin siapa, Kak?” tanya Randi. Ia menyandarkan telapak tangannya di meja Delana. Murid-murid yang lain belum datang dan dia berani sekali menggoda Delana.

“Kepo aja, deh!” dengus Delana.

“Kayaknya aku tahu, deh.” Randi tersenyum sambil mengerdipkan matanya.

“Tahu apa anak kecil?”

“Aku nggak tahu apa-apa sih, Kak. Tapi, aku bisa ngerti kalo Kakak lagi mikirin guru yang ngajar di kelas sebelah kan?”

Delana mendelik ke arah Randi. Ia langsung mengetuk kepala Randi menggunakan spidol. “Sok tahu!” celetuk Delana.

“Aduh, sakit!” Randi mengusap-ngusap kepalanya yang terasa sedikit nyeri.

“Duduk!” perintah Delana sambil melotot.

Randi cengengesan. “Bu Guru Cantik kok galak banget? Aku makin suka, deh!” goda Randi.

Delana langsung mengangkat tas dan bersiap melemparkannya ke arah Randi.

“Ampun ... Kak!” teriaknya sambil melompat menjauhi Delana.

“Kalo udah nggak sama Kak Chilton, aku mau kok jadi penggantinya dia!” seru Randi.

Delana tersentak mendengar ucapan Randi. Bagaimana bisa muridnya bisa tahu perihal hubungannya dengan Chilton? Selama ini, ia dan Chilton memang terlihat sangat dekat. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama dan tidak heran jika orang-orang di sekeliling mereka juga mengetahui hal itu.

Randi hanya cengengsan dan langsung duduk di kursinya. Beberapa murid sudah mulai berdatangan dan mereka bercanda ria sebelum akhirnya Delana memulai jam pelajaran.

Dua jam kemudian, Delana akhirnya bisa keluar dari kelas. Ia langsung bergegas menuju parkiran untuk mengambil sepeda motornya.

“Duh, motorku kok nggak enak  ya?” gumam Delana ketika mengeluarkan sepeda motornya dari parkiran.

Delana turun dari motor dan langsung memerhatikan tubuh motornya.

“Astaga ...!” seru Delana saat mendapati ban belakang motonya bocor.

“Kenapa?” tanya Chilton yang tak jauh dari Delana.

“Ban motor aku kok bocor, ya?” tanyanya pada diri sendiri.

Chilton langsung menghampiri sepeda motor Delana dan memerhatikan bannya.

“Masih ada bengkel buka nggak ya jam segini?” tanya Delana.

Chilton melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. “Kalo udah jam sembilan kayak gini, biasanya udah pada tutup semua. Di sini jarang banget bengkel yang buka dua puluh empat jam.”

Delana menghela napas lesu. “Ya udah, lah. Aku pesen ojol aja,” Delana merogoh ponsel dari dalam tasnya.

“Ikut aku aja!” pinta Chilton.

“Eh!? Nggak usah. Rumah kamu deket di sini aja, sedangkan rumahku jauh banget.”

“Aku mau balik ke asrama, kok.”

“Mmh ...” Delana menimbang-nimbang saran dari Chilton. Ia ingin sekali bisa pulang bersama Chilton seperti dulu. Tapi, ia takut berharap lagi pada cowok itu. Ia takut kalau perasaannya akan semakin buruk jika menerima tawaran dari Chilton.

“Kenapa, Kak?” tanya Randi yang tiba-tiba muncul. Ia langsung menghampiri motornya yang terparkir di sebelah motor Delana.

“Motor Kakak bannya bocor,” tutur Delana.

“Hah!?” Randi langsung mengamati ban motor Delana. “Wah, parah ini mah,” tuturnya sambil memencet ban motor. “Jadi, gimana Kak? Kayaknya jam segini bengkel udah pada tutup.”

“Nggak papa. Kakak pesan ojek online aja,” tutur Delana sambil menunjukkan ponsel yang sudah ada di tangannya.

Chilton hanya memerhatikan pembicaraan mereka berdua.

“Udah pesen?” tanya Randi.

“Belum. Baru mau pesen.”

“Nggak usah pesen, Kak!” pinta Randi.

“Hah!? Kenapa?” tanya Delana.

“Aku antar sampe rumah.”

“Emangnya rumah kamu di mana?” tanya Delana.

“Kakak nggak perlu tahu di mana rumahku. Yang penting aku antar Kakak sampe rumah,” tutur Randi. Ia membuka jok motor dan mengambil beberapa peralatan yang ia simpan di dalamnya.

“Mau ngapain?” tanya Delana melihat Randi yang duduk di belakang motor Delana.

“Lepas bannya. Biar aku tambal di rumah,” jawab Randi sambil memutar kunci Y untuk membuka ban sepeda motor. Ia merasa terlalu keras hingga menekannya menggunakan kaki.

“Kelihatan, Ren?” tanya Delana. Ia memerhatikan penerangan di parkiran yang tidak begitu baik.

“Kelihatan, Kak,” jawab Randi. Ia serius melepas baut satu per satu.

“Chil, kamu diam aja. Bantuin dia dong! Kasihan,” tutur Delana sambil menatap Chilton.

“Nggak usah, Kak. Aku bisa sendiri, kok,” sahut Randi.

“Kamu biasa bongkar motor, ya?” tanya Chilton.

“Iya, Kak. Bapakku punya bengkel. Jadi, aku sering bantu-bantu di sana.”

“Oh. Baguslah! Aman kalo gitu,” tutur Chilton. “Aku balik duluan, ya!” pamitnya. Ia malas berlama-lama melihat Randi yang bertingkah layaknya hero untuk Delana.

“Iya, Kak. Hati-hati ya!” seru Randi.

Delana hanya tersenyum menatap dua cowok yang bersamanya. Ia tak ingin banyak menatap Chilton dan lebih fokus memerhatikan Randi.

Delana ikut berjongkok di sebelah Randi sambil menatap cowok remaja yang ada di depannya itu.

Chilton melirik Delana dan Randi sambil memakai helm dan menaiki sepeda motornya. Ia langsung menyalakan sepeda motor dan mengopel keras-keras, membuat Delana dan Randi sama-sama menoleh ke arahnya. Ia kesal karena Delana memberikan perhatian pada banyak cowok tampan. Randi memang anak muridnya, tapi ia sudah kelas tiga SMA dan bisa merasakan jatuh cinta.

Chilton langsung melajukan motornya keluar dari parkiran. Sementara Delana dan Randi menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Chilton.

“Kenapa tuh orang? Kesurupan kali,” celetuk Delana.

“Bukan kesurupan, Kak. Cemburu,” sahut Randi.

“Huu ... sok tahu!” Delana menoyor kepala Randi.

“Loh? Tahu dong. Aku tuh sudah gede, Kak. Udah bisa pacaran. Jadi, tahu aja cowok kalo cemburu kayak begitu modelnya.”

“Cemburu apaan? Kak Dela sama dia cuma temenan,” sahut Delana.

“Temenan apa Demenan?” tanya Randi.

“Ah, kamu bisa aja!” Delana mendorong sedikit pundak Randi. “Lanjutin, gih! Biar cepet kelar, ini udah malam.”

“Siap, Kak!” sahut Randi. “Ini udah kelar, kok.” Randi bangkit dan langsung menarik ban motor Delana.

“Ayo, kita pulang!” ajak Randi.

Delana tersenyum. Ia langsung memakai helm sementara Randi meletakkan ban motor Delana di bagian depan motornya.

“Besok sore aku bawain ke sini bannya. Kak Dela naik ojek dulu sementara nggak papa, kan?”

“Nggak papa. Santai aja! Ada Bryan, kok.”

“Hah!? Siapa Bryan? Pacar Kak Dela?”

“Bukan. Adiknya Kakak.”

“Owh ... kirain pacar Kak Dela,” celetuk Randi sambil tersenyum. Ia memakai helm dan langsung menyalakan mesin motornya.

Delana akhirnya pulang ke rumah diantar oleh Randi.

***

Delana masuk kampus seperti biasa. Tak ada yang istimewa hari ini. Ia menatap kursi taman, tempat ia dan Chilton biasa menghabiskan sarapan pagi bersama.

“Woi ... ngelamun!” teriak Belvina sambil menepuk bahu Delana.

“Setan! Jantungku mau copot,” maki Delana sambil mengelus-elus dadanya.

Belvina tergelak. “Ngapain sih lihatin ke  sana terus?” tanya Belvina. “Ntar gagal move on lagi! Ke kelas yuk!” ajak Belvina sambil menarik lengan Delana.

Delana tersenyum. Ia mengikuti langkah sahabatnya menyusuri koridor menuju kelasnya.

Mata Delana tertuju pada Chilton dan Ratu yang sedang berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Ia dan Chilton sudah banyak menghabiskan waktu bersama. Tapi, ia tak pernah bergandengan tangan di tempat umum seperti ini terlebih di area kampus.

Delana menghela napas panjang. Pada akhirnya ia tahu kalau Chilton memang lebih suka wanita yang cantik. Tak sepertinya yang terlihat sangat sederhana sekali.

“Del, udah ah! Nggak udah dilihatin terus!” pinta Belvina yang menyadari pandangan mata Delana tertuju pada Chilton dan Ratu.

Delana tersenyum. “Hidup ini konyol banget ya?” ucapnya. “Setengah tahun aku deket sama dia tapi nggak pernah bisa bikin Chilton jatuh cinta sama aku. Ratu yang baru hitungan minggu kenal sama Chilton udah bisa sedekat itu.”

“Udah, deh. Nggak usah bahas dia lagi!” pinta Belvina. “Ntar kamu mewek lagi.” Belvina menarik Delana agar cepat-cepat masuk ke dalam kelas.

Delana tersenyum. “Nggak, kok. Aku udah ikhlas banget kalo dia lebih bahagia sama orang lain,” tutur Delana.

“Hmm ...!” Belvina terlihat makin kesal karena Delana masih terus membahas soal Chilton.

“Bel ...!” panggil Delana saat mereka sudah masuk ke dalam kelas.

“Apa?” tanya Belvina.

“Kemarin aku ketemu dan ngobrol bareng Chilton.”

“Oh ya? Terus?”

“Dia bilang, dia nggak cocok sama Ratu. Tapi, hari ini aku lihat dia malah lengket banget sama cewek itu,” tutur Delana.

“Hadeh, omongan laki-laki mah nggak bisa dipercaya!” sahut Belvina.

“Iya, sih.” Delana langsung duduk di kursinya.

Belvina juga langsung duduk di samping Delana.

“Dia masih tinggal di kamar kamu, kan?” tanya Delana.

“Ratu?” tanya Belvina memastikan.

“Iya. Masa Chilton,” sahut Delana.

Belvina menahan tawa. “Iya. Kenapa emangnya?”

“Nggak papa. Dia nggak pernah cerita sama kamu soal Chilton?” tanya Delana.

Belvina menggelengkan kepala. “Nggak pernah. Lagian, dia juga jarang banget ada di kamar. Kalo malam selalu jalan entah ke mana. Siang dia sibuk sama kuliah dan kegiatannya. Aku yang sekamar aja jarang ketemu.”

Delana tertawa kecil. “Aku pikir dia sering cerita-cerita soal Chilton.”

“Kamu masih mau kepoin cowok itu mulu,” tutur Belvina kesal.

“Aku cuma pengen tahu aja sikap Chilton ke dia itu kayak gimana? Apa sama kayak waktu sama aku atau enggak?” tanya Delana.

“Hmm ... kalo soal itu aku kurang paham juga.”

Delana tersenyum. “Udah, nggak usah ikut mikir. Ntar kamu setress!” celetuk Delana.

Belvina meringis.

Beberapa menit kemudian, dosen pengajar masuk ke kelas dan langsung memberikan materi seperti biasa.

Setelah mata kuliah usai, semua mahasiswa berhamburan keluar dari kelas dan pulang ke rumah masing-masing.

“Del, aku ke rumah kamu, ya!” pinta Belvina.

“Ayo, lah! Ivo mana ya?” tanya Delana sambil celingukan.

“Iya. Dari tadi nggak kelihatan,” sahut Belvina. Mereka jarang sekali bertemu dengan Ivona di kampus karena mereka berbeda kelas.

“Banyak tugas kali dia. Kebanyakan libur soalnya,” tutur Delana sambil tertawa.

“Bisa jadi,” sahut Belvina sambil cekikikan.

“Telepon deh!” pinta Delana.

“Kamu aja yang telepon! Aku nggak ada pulsa,” sahut Belvina.

“Huu ... dasar!” Delana langsung mengambil ponselnya dan menelepon Ivona.

“Di mana Vo?” tanya Delana begitu Ivona mengangkat panggilan teleponnya.

“Masih di kelas aku. Banyak tugas. Kenapa?” tanya Ivona.

“Gitu sih. Kebanyakan liburnya jadi tugasnya numpuk,” tutur Delana.

“Iya nah. Kenapa nelepon?” tanya Ivona.

“Belvi mau ke rumah aku. Mau ikutan nggak?” tanya Delana.

“Mau. Nyusul aja ya! Aku selesaikan tugasku dulu. Tinggal dikit lagi, kok.”

“Oke siap! Ditunggu!” Delana langsung mematikan ponselnya. Ia dan Belvina berjalan beriringan menuju rumahnya sambil bercerita banyak.

     

((Bersambung...)) 

Jejak Kisah di Perpustakaan Cerdas Desa Ponoragan



Desa Ponoragan, 15 September 2025

Langit Kalimantan masih basah oleh embun pagi ketika aku ... Relima Perpusnas RI baru keluar dari rumah untuk menuju ke Perpustakaan Cerdas Desa Ponoragan. Kali ini aku tidak pergi sendiri karena kebetulan suami sedang libur bekerja. Jadi, dia punya waktu untuk mengantar dan menemaniku.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam, kami sampai juga di Desa Ponoragan. Awalnya, aku berhenti di depan kantor desa karena aku pikir kalau gedung perpustakaan tidak jauh dari kantor Kepala Desa seperti perpustakaan yang lain. Ternyata, ada Ketua BPD yang menyambut kedatangan kami dan mengarahkan kami ke gedung Perpustakaan Cerdas Desa Ponoragan yang letaknya sekitar 1,5 kilometer dari Kantor Kepala Desa.

Sesampainya di depan gedung perpustakaan, aku sangat terkejut karena sudah ada barisan kursi yang tersusun rapi dan cantik, lengkap dengan spanduk bertuliskan "Audiensi Relima". Padahal, aku berniat datang sendiri tanpa pendampingan dari Perpustakaan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara karena jaraknya masih dekat dan cukup terjangkau oleh sepeda motor.



 Bangunan gedung Perpustakaan Cerdas Desa Ponoragan sangat menarik dan penuh warna. Anak-anak yang datang ke sini juga pasti sangat senang. Terlebih fasilitas di perpustakaan juga sudah sangat baik. Sebab, Perpustakaan Cerdas Desa Ponoragan adalah salah satu juara perpustakaan dan telah terakreditasi.

Di sana sudah berkumpul sejumlah warga, petugas perpustakaan desa, dan unsur pemerintahan desa — kepala desa, sekretaris, bahkan Ketua RT dan perangkat desa. Saat itu, udara penuh kehangatan yang mungkin tidak bisa digambarkan dari huruf-huruf di layar.

Aku ingat satu momen: ketika kami membuka sesi sambutan, Kepala Desa Ponoragan Pak Sarmin berdiri di depan mikrofon, menatap kami dan berkata bahwa perpustakaan itu bukan sekadar tempat menyimpan buku, tapi ruang hidup desa. Ruang di mana warga bisa belajar, berdiskusi, dan membuka jendela dunia.  Ia juga mengatakan bahwa perpustakaan kadang juga dipakai sebagai ruang posyandu, pertemuan PKK atau ruang publik lain karena fungsinya yang fleksibel dan vital bagi masyarakat .

Sambutan itu membekas. Aku merasa seperti disambut ke “rumah besar” di mana Relima hanya tamu yang diijinkan meminjam ruang untuk menabur semangat literasi.

Aku menjelaskan apa itu Relima—gerakan literasi mobile dari Perpusnas yang bertujuan menjangkau wilayah-wilayah yang belum terlayani perpustakaan di tingkat desa. Warga menyimak dengan penuh antusias; beberapa menuliskan pertanyaan di kertas kecil, lalu aku ajak mereka berdiskusi.


Diskusi dengan Pengelola Perpustakaan & Pemerintah Desa sangat menguras emosiku. Pengelola perpustakaan desa menceritakan perjalanan panjang mereka: dari rak buku yang berdebu, sapu pinjaman yang belum teratur, hingga bagaimana mereka menggalang dana kecil dari warga agar perpustakaan tetap hidup. Pemerintah desa juga hadir mendukung penuh. Mereka siap menyisihkan anggaran desa untuk pemeliharaan perpustakaan agar tidak menjadi “projek sekali lalu mati”. Peran Pemerintah Desa tentunya menjadi salah satu hal penting dalam keberlanjutan kegiatan di perpustakaan. Selain pemerintah desa, dukungan dari pemerintah daerah juga mampu membuat fasilitas di Perpustakaan Cerdas Desa Ponoragan menjadi lebih baik dari perpustakaan-perpustakaan lain.




  

Terkadang kita sebagai pihak luar (Relima, Perpusnas) merasa “kami datang menyelamatkan”. Tapi di Ponoragan aku menyadari jika semangat itu ada di warga sejak lama. Kami datang hanya sebagai pemantik. Sambutan hangat dari pengelola perpustakaan dan pemerintah desa membuktikan bahwa mereka mau, mereka siap. Tanpa itu, program apa pun akan sulit lestari.


Sejak acara sosialisasi sampai diskusi, kami melihat bagaimana perpustakaan desa itu menjadi ruang multifungsi, ruang belajar, ruang komunitas, ruang kecil perubahan. Media lokal menyebut bahwa perpustakaan desa Ponoragan dirancang menjadi ruang multifungsi, memberi pelayanan literasi digital bagi masyarakat desa .


Inisiatif Relima harus dibarengi kerjasama dengan perangkat desa, pengelola perpustakaan lokal, komunitas, dan masyarakat luas. Di Ponoragan, perhatian pemerintah desa terhadap literasi dan dukungan logistik menjadi faktor penting agar sosialisasi itu tidak berhenti di “moment”, tapi bisa terus tumbuh.


Saat aku meninggalkan Ponoragan, sesosok cahaya kecil menyala di hatiku: bahwa desa-desa lain pun bisa seperti ini. Bahwa literasi bisa menjangkau tempat paling pinggiran. Bahwa Relima dan Perpustakaan Desa tak lagi menjadi istilah abstrak, tapi jalan konkret memperkuat masyarakat. 


Thursday, October 9, 2025

THEN LOVE BAB 35 : HADIAH TERAKHIR UNTUK DELA

 


“Zoy, kamu punya banyak temen artis kan?” tanya Chilton lewat telepon.

“Iya. Kenapa?”

“Carikan tiga orang anak seni yang paling bagus di sini.”

“Buat apa?” tanya Zoya.

“Buat ngisi pensi.”

“Pensi di mana?”

“Di kampus.”

“Maunya yang gimana?” tanya Zoya.

“Nggak enak diomongin lewat telepon. Kamu di mana sekarang?” tanya Chilton.

“Di rumah.”

“Aku ke sana sekarang.”

“Eh, aku mau ke luar,” sahut Zoya.

“Ke mana?” tanya Chilton.

“Ada acara di Novotel.”

“Oke. Aku nyusul ke sana. Ketemu di sana ya!” pinta Chilton.

“Oke.”

Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia menyambar kunci motor yang ia letakkan di atas meja. Ia mengenakan jaket dan helm, kemudian bergegas pergi menemui Zoya.

Chilton tak sabar menanti Zoya yang masih mengisi acara di aula hotel Novotel. Ia mondar-mandir di depan pintu masuk hotel, gelisah menunggu Zoya menelepon.

“Nunggu siapa, Mas?” tanya Satpam yang memerhatikan gerak-gerik Chilton.

“Eh!? Nunggu temen lagi ngisi acara di dalam.”

“Oh. Mas Zoya?” tanya satpam tersebut.

“Bapak kok tahu?” tanya Chilton.

“Ya tahu, lha wong artis terkenal gitu. Ganteng lagi.”

Chilton hanya tersenyum menanggapinya.

“Masuk aja, Mas!”

“Nggak usah, Pak. Saya tunggu di sini aja. Tunggu dia telepon baru saya masuk,” tutur Chilton. Ia menyadari kalau Zoya tidak mungkin keluar lewat pintu depan.

Drrt ... Drrt ... Drrt ...

Ponsel Chilton bergetar. Ia langsung membuka ponsel dan membaca pesan dari Zoya.

“Tunggu aku di kamar nomor 235. Telepon asistenku, ini nomornya!” pinta Zoya via pesan Whatsapp sembari mengirim nomor asistennya.

Chilton tersenyum. Ia langsung bergegas masuk ke hotel dan mencari kamar nomor 235 seperti yang dimaksud oleh Zoya.

Sesampainya di depan kamar. Chilton langsung menelepon asisten Zoya.

Beberapa menit kemudian, asisten Zoya membukakan pintu kamar dan mempersilakan Chilton masuk.

“Tunggu aja, Mas! Sebentar lagi Mas Zoya selesai, kok.”

Chilton mengangguk dan langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.

Beberapa menit kemudian, Zoya masuk ke dalam kamar hotel.

“Lama banget!” celetuk Chilton begitu melihat Zoya masuk ke dalam kamarnya.

“Namanya juga ngisi acara. Ada apa sih? Kamu sampe datengin aku kayak gini.” Zoya melempar jaketnya dan berbaring di atas sofa.

“Carikan aku anak-anak seni buat pensi!” pinta Chilton.

“Emangnya kamu mau bikin apa?” tanya Zoya.

“Aku mau ngisi acara, mau nyanyi.”

“Hah!? Seriusan?” Zoya terkejut dengan ucapan Chilton. Ia seringkali mengajak Chilton menyanyi di tempat umum tapi selalu menolak. Bahkan dibayar pun dia tidak mau. Bagaimana bisa sahabatnya itu tiba-tiba ingin menyanyi di acara pentas seni kampusnya?

“Emangnya aku kelihatan main-main?” tanya Chilton serius.

Zoya menahan tawa sambil memerhatikan wajah Chilton. “Ciye ... jerawatan gitu. Mikirin siapa?” goda Zoya yang melihat ada satu jerawat di dahi Chilton.

“Hah!?” Chilton langsung bangkit dan berjalan mencari cermin. Ia mengamati benjolan merah kecil yang tersemat di dahinya. “Sial!” umpatnya.

Zoya tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu.

“Kamu lagi deket sama siapa? Cewek yang di kolam renang itu?” tanya Zoya.

Chilton menggelengkan kepala. “Hubunganku sama dia lagi nggak baik.”

“Kenapa?” tanya Zoya.

“Sejak Atma bilang­−”

“Kamu percaya sama omongannya dia?” tanya Zoya.

“Bukan cuma omongannya dia. Aku juga nanya sendiri sama Dela. Dia memang demen cowok ganteng. Bisa aja dia memang lagi mau mainin aku.”

“Suatu hari kamu bakal nyesel udah nyia-nyiain cewek sebaik dia.”

“Maksud kamu?”

“Kemarin sore aku makan bareng dia,” tutur Zoya.

“Nah, kan! Apa aku bilang? Temenku sendiri mau diembat sama dia. Ckckck.” Chilton menggeleng-gelengkan kepala.

“Dengerin dulu!”

“Apa?” tanya Chilton kesal. “Udah jelas-jelas dia tuh kelakuannya kayak gitu kalo di belakang aku. Untung aja belum jadi pacar.”

“Chil, dia nggak seperti yang kamu pikirkan.”

“Kamu kenapa belain dia? Udah kena pelet sama dia?” dengus Chilton.

Zoya menggeleng-gelengkan kepala. “Kenapa kamu jadi sentimen gini? Kamu cemburu?” tanya Zoya sambil tertawa.

Chilton membuang pandangannya dan kembali duduk di sofa.

“Chil, dia itu tulus cinta sama kamu. Apa cuma karena omongan Atma, kamu tiba-tiba ngelupain semua hal yang udah dia kasih ke kamu?”

Chilton bergeming. Ia terbayang bagaimana Delana memperlakukannya begitu istimewa tanpa mengharapkan imbalan. Ia tak memaksakan Chilton harus mencintai Delana, gadis itu tetap saja memberikan perhatian dan kepedulian.

Tiba-tiba Chilton rindu pada sarapan pagi yang seringkali dibawakan Delana. Akhir-akhir ini, ia tak lagi bisa merasakan nikmatnya sarapan pagi bersama gadis itu.

“Udahlah, yang udah lewat nggak usah dibahas! Sekarang bantuin aku ngasih hadiah terakhir buat dia.”

“Hadiah apa?” tanya Zoya.

“Aku mau nyanyi buat dia.”

Zoya tertawa kecil. “Emang bener ya kata orang, cinta itu bisa merubah hidup seseorang. Menjadikan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Merubah benci jadi cinta, cinta jadi benci.”

“Ngomong apa sih kamu?”

“Nggak usah pura-pura bego!”

“Carikan anak seni!” seru Chilton.

“Butuh berapa?”

“Tiga aja.”

“Buat apa?”

“Buat ngiringin aku nyanyi.”

“Kalo ada, yang bisa lyrical dance gitu satu pasang.”

“Oh ... jadi, dari tiga orang itu ... dua lyrical dance dan satunya apa? Main musik?” tanya Zoya.

“Iya. Akustik aja.”

“Bukannya kamu bisa main musik sendiri?”

“Males ah!”

“Chil, dia pasti bakal lebih tersentuh kalo dia lihat kamu dan main musik sendiri,” tutur Zoy.

“Seriusan?” tanya Chilton.

Zoya menganggukkan kepala.

“Zoy, aku jadi bingung. Gimana caranya aku nyanyi akustikan terus ada yang nari juga di panggung.”

“Kalo saran aku, nggak usah pake lyrical dance. Cukup pake lagu yang menyentuh aja. Ntar yang nonton fokusnya terbagi antara kamu dan si penari,” tutur Zoya.

Chilton melirik langit-langit kamar. “Iya juga ya? Jadi, bagusnya gimana?”

“Ya udah, akustikan aja!”

“Gila! Aku nggak pede kalo disuruh tampil sendirian di panggung.”

“Jadi?”

“Kamu main keyboard deh! Carikan dua orang lagi yang bisa main gitar sama melodi!”

“Bikin band?”

“Nggak juga. Cuma ngiringin aku nyanyi doang.”

“Kirain, kamu mau bikin band sekalian.”

“Nggak. Cuma buat acara ini aja.”

Zoya mengangguk-anggukkan kepala. “Gampang lah kalo cuma cari gitaris aja. Ntar aku telepon temenku.”

“Sip lah! Di nego-nego harganya ya! Syukur-syukur bisa gratis,” pinta Chilton.

“Maunya yang gratisan mulu!” Zoya menoyor kepala Chilton.

Chilton tergelak. Rasanya, hampir semua orang suka apa pun yang gratis. Bukan karena dia tidak punya uang untuk membayar. Tapi, dia hanya ingin tahu seberapa peduli orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Chilton menghela napas. Tiba-tiba ia teringat pada tawa ceria Delana yang ia lihat setiap pagi. Gadis itu dengan senang hati menyiapkan sarapan untuknya tanpa meminta bayaran atau imbalan apa pun. Bahkan, Chilton membalasnya dengan cara menyakiti Delana. “Del, I’m so sorry!” bisiknya dalam hati.

“Kamu mau nyanyi lagu apa?” tanya Zoya.

“Apa ya? Aku belum kepikiran. Kasih aku rekomendasi lagu yang cocok dong!” pinta Chilton.

“Emang pensinya kapan?”

“Lima hari lagi.”

“Cepet amat? Kenapa baru ngomong sekarang?”

“Masih lama. Masih lima hari lagi.”

“Aku belum cari orang. Bisa aja mereka sibuk kalo dadakan gini.”

“Ya udah, hubungi sekarang!” pinta Chilton.

Zoya merogoh ponselnya. Ia langsung menelepon salah satu teman yang dia ingat bisa bermain gitar dengan sangat baik.

“Gimana?” tanya Chilton saat Zoya mematikan ponselnya.

“Nggak diangkat. Masih sibuk kali dia. Ntar aku telepon lagi. Kamu mau nyanyi lagu apa?” tanya Zoya lagi.

“Apa ya?” tanya Chilton balik.

“Gak jelasnya ai. Kamu yang mau nyanyi, malah tanya aku,” gumam Zoya.

“Terima Kasih Cinta, gimana?”

“Lagunya Afghan?”

“Iya,” jawab Chilton. “Terima kasih cinta, untuk segalanya. Kau berikan lagi, kesempatan itu. Tak akan terulang lagi, semua kesalahanku ... yang pernah menyakitimu ...” Chilton langsung menyanyikan lagu tersebut.

“Liriknya nggak dapet. Emangnya dia ngasih kamu kesempatan?”

Chilton melongo. “Iya ya?” Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Apa dong?”

“Ini aja, lagunya Dadali – Di Saat Aku Pergi,” ucap Zoya menyarankan.

“Yang gimana lagunya ya?” tanya Chilton sambil berusaha mengingat-ingat.

“Mungkin kau bukan cinta sejatiku. Mungkin kau bukan belahan jiwaku. Yang diturunkan Tuhan 'tuk menjadi Pendamping hidupku ...” Zoya menyanyikan bagian reff lagu yang ia maksud.

“Aha ... bagus tuh. Syairnya pas, tuh. Awalnya gimana ya?” tanya Chilton, ia berusaha mengingat-ingat lirik lagu tersebut.

“Biarlah aku pergi. Jangan lagi kau tangisi. Semoga pilihanmu. Yang terbaik untukmu ...” Zoya menyanyikan bagian awal lagu.

“Ah, awalnya nggak pas. Itu cocoknya kalau dia ada cowok lain!” seru Chilton.

“Terus? Kamu mau lagu yang gimana?” tanya Zoya.

“Aku maunya lagu yang bisa mewakili perasaanku buat dia. Aku pengen berterima kasih karena selama ini dia udah cinta sama aku.”

“Oh ... bentar.” Zoya membuka ponselnya. “Cari aja di Youtube!”

“Iya. Carikan lah!” pinta Chilton.

“Kamu sambil nyari juga!” sahut Zoya.

“Ah, satu aja, pake hapemu!” pinta Chilton. Ia menggeser posisi duduknya mendekati Zoya.

“D’masiv, Dengarlah Sayang, gimana?”

“Liriknya gimana?” tanya Chilton.

Zoya langsung menekan tombol play dan mereka bersama-sama mendengarkan lagu tersebut.

“Nggak ah. Ini ada lirik yang bilang kalo aku sedang berbohong. Aku nggak pernah bohong sama dia!” protes Chilton.

“Kamu nggak nyadar kalo selama ini kamu lagi ngebohongin dirimu sendiri?” tanya Zoya.

Chilton menatap kesal ke arah Zoya. “Sok tahu!”

Mereka kembali mencari lagu yang akan dinyanyikan oleh Chilton.

Akhirnya, Chilton menjatuhkan pilihannya pada dua lagu cinta dari sekian banyak lagu yang mereka cari.

“Oke. Dua lagu itu ya!” tegas Chilton.

“Beres!”

“Cari gitaris yang bagus!”

“Siap, Bos!”

Chilton tersenyum senang. Ia merapatkan jaketnya dan bangkit dari sofa.

“Mau ke mana?” tanya Zoya.

“Pulang.”

“Nggak makan dulu?” tanya Zoya.

“Makan di mana?”

“Di restoran sini aja.”

“Traktir ya!”

Zoya tertawa kecil. “Kamu tuh udah banyak duit masih aja suka yang gratisan!” seru Zoya. Ia merangkul Chilton dan keluar dari kamar. Mereka sama-sama menuju restoran untuk makan siang.

***

“Del, hari ini Chilton manggung di pensi. Kamu nggak mau nonton dia?” tanya Belvina.

“Mmh ...”

“Udah, nggak usah kebanyakan mikir! Lihat yuk!” Belvina menarik lengan Delana untuk keluar dari kelas. Ia mengajak Delana berdiri di bawah panggung. Ia terlihat senang bisa melihat Chilton sedang bersiap untuk mengisi acara tersebut di hari ketiga pentas seni yang akan berlangsung selama satu minggu.

“Tumben banget si Chilton mau nyanyi. Seumur-umur baru ini lihat dia naik ke panggung,” celetuk salah satu mahasiswa yang merupakan teman satu tingkat Chilton.

“Emang dia bisa nyanyi beneran?” sahut yang lain.

“Takut ai suaranya jelek. Nggak pernah denger dia nyanyi.”

Sementara para mahasiswa mengkhawatirkan suara Chilton, para mahasiswi justru berteriak kegirangan memanggil nama Chilton dari bawah panggung.

“Emang ya, kalo cowok ganteng itu fansnya banyak,” celetuk salah satu mahasiswa sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap para cewek di kampusnya.

 Delana hanya diam mendengar obrolan orang-orang di sekitarnya. Matanya tertuju pada Ratu yang sudah berdiri di panggung sebagai pembawa acara.

“Hai ... temen-temen semua! Apa kabar?” tanya Ratu dengan suara menggelegar.

Terdengar sahutan dari semua penonton yang begitu riuh.

“Hari ini ... di belakang saya udah ada cowok ganteng yang bakal ngasih persembahan lagu buat kalian semua.”

Ratu mengedarkan pandangannya. Ia melihat banyaknya penonton yang antusias melihat penampilan Chilton.

“Baiklah, mari kita saksikan penampilan istimewa dari salah satu mahasiswa kita yang paling ganteng! Raditya Chilton!” teriak Ratu mempersilakan Chilton untuk bersiap. Ratu langsung berjalan ke belakang panggung dan memberikan tempat untuk Chilton dan teman-temannya.

“Halo ... selamat pagi, semua!” sapa Chilton.

“Pagi ...!” sahut semua penonton.

“Aargh ... Chilton! I Love you!” teriak beberapa mahasiswi.

Chilton tersenyum sambil mengedarkan pandangannya. Ia mencari sosok gadis yang telah membuatnya berada di atas panggung hari ini.

Mata Chilton tertuju pada Delana yang terlihat tersenyum ke arahnya. Ia langsung tersenyum sembari menatap gadis yang pernah mengisi hari-harinya.

“Lagu ini aku persembahkan untuk seseorang yang pernah mengisi hati dan hari-hariku. Terima kasih karena pernah ada dalam hidupku.” Chilton menatap Delana sambil tersenyum.

Terdengar suara gitar mulai mengiringi.

>> ....<<

For all the times I felt cheated, I complained

You know how I love to complain

For all the wrongs I repeated, though I was to blame

I still cursed that rain

I didn't have a prayer, didn't have a clue

Then out of the blue

God gave me you to show me what's real

There's more to life with just how I feel

And all that I'm worth is right before my eyes

And all that I live for though I didn't know why

Now I do, 'cause God gave me you

For all the times I wore my self pity like a favorite shirt

All wrapped up in that hurt

For every glass I saw, I saw half empty

Now it overflows like a river through my soul

From every doubt I had, I'm finally free

And I truly believe

God gave me you to show me what's real

There's more to life than just how I feel

And all that I'm worth is right before my eyes

And all that I live for though I didn't know why

Now I do, 'cause God gave me you

In your arms, I’m someone new

With ever tender kiss from you

Oh ... must confess Iive been blessed

God gave me you to show me what's real

There's more to life than just how I feel

And all that I'm worth is right before my eyes

And all that I live for though I didn't know why

Now I do, 'cause God gave me you

God gave me you ...

>> ....<<

Terdengar tepuk tangan riuh saat Chilton mengakhiri lagu milik Bryan White yang berjudul “God Gave Me You”. Semua orang merasa senang mendengar suara Chilton yang sangat merdu. Tak ada yang menyangka kalau ternyata Chilton pandai bernyanyi.

Hanya Delana yang menitikan air mata. Ia mengingat masa-masa indah bersama Chilton. Saat itu adalah hari-hari paling bahagia dalam hidupnya. Ia merasa sangat dicintai tapi kini dijatuhkan. “Kenapa kamu harus nyanyiin lagu itu kalau pada akhirnya kamu tetap pergi,” bisik Delana dalam hati.

Delana mengusap air matanya. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi panggung. Ia tak punya kekuatan untuk menatap laki-laki yang ada di atas panggung tersebut. Terlalu banyak hal yang membuatnya bersedih karena kehilangan banyak waktu bersama Chilton.

“Lagi ... lagi ... lagi!” terdengar teriakan dari para penonton.

“Mau lagi?” tanya Chilton sembari menatap tubuh Delana yang perlahan menjauhi panggung.

“Iya!” sahut semua penonton.

“Oke. Aku kasih kalian satu lagu lagi. Lagu ini buat seseorang di sana yang sedang melangkah pergi dari hidupku. Semoga kamu mengerti ...!”

Delana menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah panggung sejenak dan melanjutkan langkahnya. Ia tidak akan bisa berada di sana terus-menerus. Membuat hatinya yang sudah luka semakin terluka.

>> ... <<

Seandainya ... Ku katakan yang sesungguhnya

Tentang perasaanku Padamu Selama ini

Seandainya Ku bisa Memutar kembali

Waktu yang Telah pergi Dariku

Saat kau ada Di sini denganku

Sebenarnya hatiku Selalu mencintaimu

Hanya saja Ku tak pernah Mengatakan Kepadamu

Dalamnya cintaku Menggenggam Tulus hatimu

Namun kini Kau katakan Cinta sudah terlambat

Seharusnya ... Ku tak biarkan

Kau menanti Kata cinta dariku

Yang tersimpan Terlalu lama

Dan seharusnya Ku pahami Isi hatimu

Yang tulus Menyayangi diriku

Sebelum cinta Menjadi miliknya

Sebenarnya Hatiku selalu Mencintaimu

Hanya saja Ku tak pernah Mengatakan Kepadamu

Dalamnya cintaku Menggenggam Tulus hatimu

Namun kini  Kau katakan Cinta sudah terlambat

Cinta sudah terlambat

Ho .. Hohuho ...

Sebenarnya Hatiku selalu Mencintaimu

Hanya saja Ku tak pernah Mengatakan Kepadamu

Dalamnya cintaku Menggenggam Tulus hatimu

Namun kini  Kau katakan Cinta sudah terlambat

Namun kini  Kau katakan Cinta sudah terlambat ...

>> ... <<

Chilton sadar kalau Delana masih terus menghindarinya. Ia memang tak lagi berada di bawah panggung menatapnya. Tapi, ia yakin kalau Delana mendengar suaranya sekalipun ia berada di luar kampus.

Delana membanting pintu toilet kampus. Ia mengunci dirinya di dalam toilet dan menangis sejadi-jadinya. Kali ini, hatinya jauh lebih sakit ketika ia tahu kalau sebenarnya Chilton sudah mencintainya. Ia sendiri tidak tahu kesalahan apa yang telah membuat Chilton pergi darinya.

Delana menghantupkan kepalanya ke dinding toilet beberapa kali. Ia merasa dirinya begitu bodoh hingga kehilangan banyak waktunya bersama cowok yang ia cintai. “Kamu bilang cinta, tapi kenapa kamu pergi?” bisik Delana pada dinding yang bisu. Ia tak bisa menahan air matanya jatuh berderai.

“Del, kamu nggak papa?” tanya Belvina sambil mengetuk pintu toilet.

Delana terkejut. Ia langsung mengusap air matanya. Ia sama sekali tidak menyadari kalau sejak awal ia bersama Belvina. Perasaannya tak karuan hingga tidak menyadari keberadaan Belvina.

“Nggak papa,” jawab Delana dengan suara parau.

“Beneran?” tanya Belvina khawatir karena Delana sudah berada di toilet selama tiga puluh menit hanya untuk menangis.

“Iya. Aku nggak papa.” Delana menyalakan keran dan membasuh wajahnya agar tidak terlihat sembab. Ia menarik napas dalam-dalam dan bersiap keluar dari toilet.

“Udah nangisnya?” goda Belvina saat Delana keluar dari kamar mandi.

Delana merengut mendengar pertanyaan Belvina.

“Nggak usah merengut gitu! Tambah jelek tahu!” dengus Belvina. Ia menarik pundak Delana dan menghadapkan wajahnya ke depan cermin. “Lihat! Mata kamu bengkak gini. Kamu tahu nggak berapa lama ada di dalam toilet?” tanya Belvina.

Delana menggelengkan kepala.

“Tiga puluh dua menit,” tutur Belvina sambil menunjukkan jam yang ada di ponselnya. Walau ia tahu kalau Delana tak akan bisa melihat jam yang ada di ponselnya karena ponsel itu tidak dinyalakan.

“Hah!? Seriusan?” tanya Delana melongo.

“Please, Dela! Move on, dong! Kalo kamu kayak gini terus. Banyak orang yang bakal ketawa bahagia di atas penderitaanmu,” tutur Belvina.

Delana menyandarkan tubuhnya ke dinding. “Kenapa sih nasibku gini banget?” ucapnya lirih.

 “Del, kita bisa mencintai seseorang. Tapi, nggak juga sampai kayak gini. Kata orang, cinta itu nggak harus memiliki.”

“Cinta memang nggak harus memiliki, tapi ingin memiliki,” sahut Delana.

Belvina menghela napas. “Kamu harus ikhlas, Del. Kamu harus bisa berbesar hati menerima ini semua. Kalian masih bisa berteman. Toh, sebelumnya kalian juga berteman kan?”

Delana terdiam. Ucapan Belvina memang benar. Selama ini ia hanya berteman dengan Chilton. Lalu kenapa ia harus merasakan patah hati?

Cinta telah membuatnya jadi bodoh. Delana kehilangan akal sehat karena ia sibuk memikirkan hatinya. Ia masih bisa berteman dengan Chilton. Ia sadar kalau semua kisahnya bersama Chilton sudah berakhir dan harus merelakan semuanya.

“Del ...!” Belvina memanggil nama Delana perlahan karena melihat sahabatnya itu masih terlihat melamun.

“Ya.” Delana mendongakkan kepala menoleh ke arah Belvina.

“Balik yuk!” ajak Belvina.

Delana menarik napas panjang. Ia menegakkan tubuhnya, berdiri di depan cermin sambil menatap bayangannya sendiri. “Apa aku sekacau ini hanya karena satu cowok?” gumamnya.

Belvina menggenggam pundak Delana. “Kamu layak buat dapetin yang lebih baik dari dia,” bisik Belvina. “Cowok yang cuma bisa nyakitin, nggak akan pernah bisa bikin kamu bahagia.”

Delana tersenyum pada bayangannya dan sahabatnya yang ada di belakangnya. “Bel, makasih banget karena kamu selalu ada buat aku di saat aku terpuruk kayak gini.”

Belvina tersenyum. “Iya. Karena sahabat itu lebih penting daripada cowok. Apalagi cowok yang bisanya cuma nyakitin. “

Delana mengelus pipi Belvina sambil tersenyum. “Thank you so much!” Delana mengecup pipi sahabatnya.

“Iih ... kamu nggak berubah jadi lesbong kan?” dengus Belvina sambil mengelus pipi yang dikecup Delana.

“Nggak lah. Aku masih normal!”

“Yah, kali aja jadi lesbong gara-gara ditolak mulu sama cowok,” celetuk Belvina.

“Ngolok!” Delana menjitak kepala Belvina.

“Sakit tahu!” Belvina mengelus kepalanya yang terasa sakit. “Ke kelas yuk! Kelamaan di sini ntar jadi bau toilet,” ajak Belvina.

Delana tertawa. Mereka akhirnya keluar dari toilet dan bergegas kembali ke kelas.

THEN LOVE BAB 34 : MEMILIH BERPISAH

 


“Vo, buruan balik yuk! Keburu mall tutup, nih.”

“Ayo!”

“Bukannya masih nunggu pesananmu dibungkus?” tanya Hendra.

“Oh iya. Lupa!” Delana menepuk dahinya.

“Tanyain aja ke sana!” pinta Ivona.

“Kalo udah selesai pasti diantar ke sini,” tutur Hendra.

Delana tersenyum. Beberapa menit kemudian, pesanan Delana sudah terbungkus rapi dan siap untuk dibawa pulang.

“Biar aku yang bayar!” pinta Hendra. Ia melangkahkan kaki menuju kasir sembari memberi isyarat pada Delana untuk tidak beranjak dari tempatnya.

“Hari ini lagi banyak rezeki. Ditraktir mulu,” bisik Ivona.

Delana bergeming. Ia menatap tubuh Hendra yang sedang berjalan menghampiri mereka.

“Yuk!” ajak Hendra.

Mereka keluar dari restoran dan langsung menuju ke pusat perbelanjaan.

“Del, kita masih satu kota tapi nggak pernah ketemu. Baru sekarang ketemu dan kamu udah beda banget,” tutur Hendra saat mereka baru keluar dari mobil dan berjalan menyusuri parkiran untuk masuk ke mall.

“Bedanya apa?” tanya Delana.

“Dulu kamu tomboy banget,” jawab Hendra.

Ivona tergelak. Ia membayangkan penampilan Delana saat masa remaja.

“Kayak laki-laki. Lihat nih!” Hendra menunjukkan bekas luka yang ada di dahinya. “Kelakuannya si Dela ini,” lanjutnya.

“Hah!? Serius? Ganas banget kamu, Del,” tutur Ivona sambil tertawa.

“Dia tuh dulu nyebelin banget. Udah kecil, hitam, ngeselin. Dia sering banget gangguin aku. Waktu dia lempar bonekaku ke dalam got, langsung aja aku lempar dia pake batu,” jelas Delana.

Hendra menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum mengingat masa kecilnya bersama Delana. “Tapi, abis itu dia yang nangis-nangis.”

“Hah!? Kok, bisa gitu?” tanya Ivona.

“Tanya aja tuh sama dia.” Hendra menunjuk Delana dengan dagunya.

“Takut aku, Vo. Waktu aku lempar kepalanya pake batu, darahnya keluar banyak banget. Aku takut dia mati,” jelas Delana.

Mereka mulai masuk ke dalam gedung mall. Delana langsung naik ke area penjualan ikan dan daging segar.

“Ngeri juga kamu, Del. Kamu nggak nangis juga?” tanya Ivona pada Hendra.

Hendra menggelengkan kepala sambil menyunggingkan sedikit senyumnya.

“Dianya santai aja sambil ngusapin darah. Aku yang panik. Udah gitu, aku dimarahin habis-habisan sama Ayah.”

“Semua orang bakal marah kalo anaknya nakal!” dengus Ivona.

Delana mencebik ke arah Ivona. Ia berjalan menghampiri rak-rak penjualan ikan.

“Kamu cari ikan apa?” tanya Hendra yang berdiri di samping Delana.

“Ikan kakap,” jawab Delana.

“Ini.” Hendra menunjuk ikan kakap berukuran sedang.

Delana menaikkan bibir bawahnya sambil berpikir. “Maunya yang gede,” sahut Delana.

“Oh. Ini, Del.” Hendra menunjukkan ikan kakap yang ada di dalam box sebelahnya.

Delana tersenyum. Ia memanggil karyawan yang bertugas menjaga stand ikan tersebut. “Saya mau ikan yang ini dua, ya!” pinta Delana.

“Baik, Mbak,” sahut karyawan tersebut dan langsung mempersiapkan pesanan Delana.

“Del, mau ice cream?” tanya Hendra sambil menatap box ice cream yang berada beberapa meter dari tempat mereka berdiri.

“Mmh ... boleh,” jawab Delana.

“Ambilin, Man!” perintah Hendra pada Mandala.

Delana mengerutkan keningnya sambil menatap Hendra. “Kita ke sana sendiri, deh!” pintanya sambil menarik lengan Hendra. “Man, tolong tungguin ikanku, ya! Kalo udah kelar dibungkus, bawain sekalian!” pinta Delana.

“Iya, Mbak Dela.” Mandala menganggukkan kepala.

Delana dan Hendra berjalan beriringan menuju box ice cream.

“Mbak Ivo nggak ikut cari ice cream?” tanya Mandala pada Ivona yang tidak beranjak dari tempatnya.

Ivona menggelengkan kepala. “Ntar juga dibawain sama Dela.”

“Oh. Mbak Dela pengertian banget ya?”

“Banget! Dia mah paling peduli sama temen.”

“Pak Bos juga kelihatan baik dan manis banget kalo sama Mbak Dela. Aslinya, dia sombong dan jahat banget. Baru kali ini aku lihat Bos Hendra ramah banget.”

“Naksir kali sama si Dela,” celetuk Ivona.

“Bisa jadi.” Mandala mengangguk-anggukkan kepala.

“Ini, Mas!” karyawan penjaga stand mengulurkan kantong berisi ikan pada Mandala. “Bayarnya di kasir,” lanjutnya sambil tersenyum ramah.

“Oke. Makasih.” Mandala menerima kantong tersebut dan bergegas menyusul bosnya yang sedang sibuk memilih ice cream bersama Delana.

“Man, mau ice cream juga?” tanya Hendra pada Mandala.

“Nggak, Bos,” jawab Mandala sambil menggelengkan kepala.

“Nggak usah malu-malu! Ambil yang kamu mau!” pinta Hendra.

Delana tersenyum. Ia mengambil satu ice cream Strawberry Selection dan menyodorkannya pada Ivona. “Nih, kesukaan kamu!” ucap Delana sambil tersenyum.

“Thank you so much! Kamu tuh emang temen paling pengertian,” tutur Ivona sambil meraih ice cream pemberian Delana.

Hendra menatap kagum pada sosok Delana. Delana masih saja seperti dulu, ia selalu ingat hal-hal kecil orang terdekatnya. Mulai dari makanan favorite sampai kebiasaan teman-temannya.

“Sifatmu nggak berubah, ya?” bisik Hendra.

Delana mengangkat alisnya menatap Hendra. “Maksudnya?”

Hendra tersenyum ke arah Delana. Ia tak ingin menjelaskan apa pun. Sebab ia tahu kalau Delana yang sekarang masih sama dengan Delana kecil belasan tahun lalu. Delana yang selalu ceria, baik hati dan perhatian walau seringkali menjahili Hendra.

“Pulang, yuk!” ajak Delana.

“Cari ikan aja?” tanya Hendra.

Delana menganggukkan kepala.

“Bahan-bahan yang lain?” tanya Hendra.

“Masih ada stok di rumah.”

“Oh.” Hendra mengangguk-anggukkan kepala. “Ya sudah, ayo pulang!”

Delana tersenyum. Ia berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaan miliknya. Tapi, Hendra tetap memaksa membayar semua barang yang mereka beli.

“Makasih, ya!” tutur Delana setelah mereka beranjak pergi dari meja kasir.

“Nggak perlu ngomong terima kasih!”  pinta Hendra sambil tertawa kecil. “Dulu waktu kecil, kamu yang sering ngerengek minta dibeliin es krim.”

Delana tersipu mendengar ucapan Hendra. Ia teringat saat Hendra membelikannya banyak es krim. Delana sampai terserang flu keesokan harinya karena terlalu banyak makan es krim.

Masa kecil memang berbeda dengan masa sekarang. Bagaimana bisa ia merengek pada Hendra setelah beberapa tahun tak pernah bertemu apalagi bermain bersama. Sekarang mereka sudah dewasa, cara mereka memandang saja sudah berbeda, apalagi bersikap satu sama lain.

“Del ...!” panggil Hendra pelan saat mereka sudah berada di parking area.

“Ya.”

“Aku boleh minta sesuatu sebelum kita berpisah hari ini?” Hendra mendekatkan wajahnya ke wajah Delana.

Delana membelalakkan matanya dan sedikit mundur. Ia tak menyangka kalau apa yang diberikan oleh Hendra hari ini harus ada imbalannya. Ia menatap Hendra yang tersenyum seperti lelaki hidung belang yang biasa mengajak wanita berbelanja sepuasnya sebelum ia tiduri.

Hendra mengernyitkan dahinya karena Delana terlihat ketakutan dengan sikap Hendra. “Kamu kenapa?” tanya Hendra. Ia meletakkan punggung tangannya di kening Delana. “Waras kan?”

Delana menepis tangan Hendra. “Kamu kira aku cewek apaan!?” dengusnya.

Hendra tertawa kecil. “Emangnya kenapa? Kamu nih mikirnya pasti udah macem-macem ya? Jadi cewek tuh jangan buruk sangka sama temen sendiri!”

Delana mengerutkan hidungnya karena kesal. “Terus? Kamu mau apa?” tanya Delana setengah berteriak.

“Selow ... aku cuma mau minta nomer hp kamu aja, kok.”

Delana menghela napas lega. “Kirain minta sesuatu tuh apaan!?” celetuknya. “Mana hp-mu?” tanya Delana.

Hendra tersenyum ke arah Delana. Ia mengambil ponsel dari sakunya dan memberikannya pada Delana.

Dengan cepat, Delana mencatat nomor ponselnya di ponsel Hendra. Ia menekan tombol panggilan untuk memastikan nomor Hendra tidak akan mengerjainya karena sudah ia simpan terlebih dahulu.

Delana menyerahkan kembali ponsel Hendra.

“Thanks, ya!” ucap Hendra.

Delana menganggukkan kepala sambil tersenyum manis ke arah Hendra. Senyuman yang membuat Hendra tak ingin jauh dari gadis itu.

Mereka akhirnya berpisah dan kembali ke rumah masing-masing.

***

“Dek, Kak Belvi udah datang apa belum?” tanya Delana saat Bryan membukakan pintu rumah.

“Belum.”

“Telepon dulu si Belvi!” pinta Delana pada Ivona.

“Iya, tuan puteri,” sahut Ivona sambil mengeluarkan ponsel dari tasnya.

“Bel, kita udah sampe, buruan ke rumah Delana sekarang!” teriak Ivona lewat telepon begitu panggilannya tersambung.

“Nggak usah teriak-teriak gitu juga kali, kayak orang hutan aja!” celetuk Delana. Ia langsung memberikan kantong plastik berisi udang goreng pada Bryan. “Satunya buat Belvi, ya!” tutur Delana.

“Iya, Kak.” Bryan langsung meraih udang goreng pemberian kakaknya. Ia membawanya ke dapur, mengambil piring dan nasi kemudian  duduk di meja makan.

Sementara Bryan makan, Delana menyalakan televisi dan merebahkan tubuhnya ke sofa bersama Ivona sembari menunggu Belvina datang.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara klakson motor dari luar pagar rumah. Delana langsung berlari keluar, membukakan pintu untuk Belvina.

“Kayaknya happy banget hari ini. Ketemu sama siapa aja?” tanya Belvina.

“Iih ... kepo!” dengus Delana.

“Huu ...!” Belvina langsung mengacak rambut Delana. Delana tertawa, ia langsung berlari masuk ke dalam rumah.

“Bel, itu udang gorengnya. Makan bareng sama Bryan sana!” perintah Delana pada Belvina.

Belvina langsung ngeloyor masuk ke dapur. Ia menyapa Bryan yang sedang asyik makan di meja makan sambil bermain ponsel.

“Woi ... makan dulu baru main hape!” tegur Belvina sambil menepuk bahu Bryan.

“Kak Belvi!? Ngagetin aja!”

Belvina meringis ke arah Bryan.

“Jatahku mana, Dek?” tanya Belvina.

“Tuh!” Bryan menunjuk kotak yang ada di depannya.

Belvina langsung meraih kotak tersebut dan membukanya. Ia langsung melahapnya satu persatu.

“Nggak pake nasi, Kak?” tanya Bryan.

Belvina menggelengkan kepala. “Udah malam. Ntar gemuk.”

Bryan mengangguk-anggukkan kepala.

“Del, minggu depan di kampus ada pensi. Kamu ikutan, nggak?” teriak Belvina sambil mendongakkan kepalanya ke arah Delana dan Ivona yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.

“Ikutan ngapain?” tanya Delana balik.

“Nyanyi kek, atau nari.”

“Kapan-kapan aku bisa nari? Kalo disuruh masak buat konsumsi baru aku mau,” sahut Delana.

“Wah, boleh juga tuh. Ntar aku bilang sama panitianya,” tutur Belvina. Ia melangkahkan kaki mendekati kedua sahabatnya sambil menenteng kotak udang goreng.

“Bercanda aja, aku!” seru Delana menahan tawa.

“Seriusan juga nggak papa. Lagian, masakan kamu kan enak,” tutur Belvina dengan mulut penuh makanan.

“Makan dulu, Bel!” sela Ivona.

Belvina meringis. Ia buru-buru menelan makanannya. “Kamu setuju nggak kalo Delana yang ambil cateringnya buat konsumsi?” tanya Belvina pada Ivona.

“Nggak!” sahut Ivona.

Belvina mengerutkan keningnya. “Lho? Kenapa?”

“Kalo dia sibuk terima orderan catering, dia nggak bakal ada waktu lagi buat kita. Sekarang aja sudah sibuk sambil ngajar,” tutur Ivona.

“Mmh ....” Belvina memutar bola matanya. “Iya juga ya? Tapi kan kita bisa bantuin dia masak kalo dia buka orderan catering,” tutur Belvina.

“Ribet, Bel!” sahut Delana.

“Eh, buka stand jualan aja di sana. Gimana?” tanya Belvina lagi.

“Kalo itu boleh aja. Tapi, buka stand apa, ya?” tanya Delana sambil mengetuk-ngetuk dagunya.

“Minuman sama cemilan gitu aja.”

“Minuman apaan?” tanya Delana.

“Kopi atau teh gitu?”

“Thai Tea, gimana? Kan lagi nghits tuh,” sahut Ivona.

“Ah, jangan jualan makanan atau minuman yang lagi ngehits! Ntar samaan sama stand lain,” tutur Delana.

“Ya nggak, lah. Kan ntar diatur sama panitianya biar stand-nya nggak sama,” jelas Belvina.

“Emang gitu ya?” tanya Delana.

“Biasanya sih gitu.”

“Tapi, yang tahun kemarin aku lihat ada stand yang sama.”

“Ah, iya!” seru Delana.

“Ya nggak papa, kali. Namanya rejeki kan beda-beda. Biar sama, tapi rasanya pasti beda. Aku yakin banget kalo buatan kamu tuh spesial dan bakal banyak peminatnya,” tutur Belvina.

“Mmh ... enaknya kita bikin minuman apa, dong?” tanya Delana lagi.

“Itu aja. Thai Tea,” jawab Ivona.

Delana mengedikkan bahu. “Yang lain, ah.”

“Apa kalo gitu?” tanya Belvina.

“Nggak tahu juga. Pusing mikirinnya. Mending jadi penonton aja lah,” tutur Delana.

“Ah, kamu mah. Udah nyerah sebelum perang,” celetuk Belvina.

Delana menghela napas. “Aku masih sambil ngajar, Bel. Takutnya malah nggak keurus kalo terlalu banyak kegiatan.”

“Iya. Biar aja lah. Kasihan Delana kalo kecapen,” sahut Ivona.

“Iya, deh.” Belvina akhirnya menyerah merayu Delana untuk membuka stand jualan di kampusnya.

“Aku udah ngantuk, kalian belum mau tidur?” tanya Ivona.

“Tidur, yuk!” ajak Delana sambil bangkit dari tempat duduknya.

Mereka langsung berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Delana.

“Dek, Kakak tidur duluan ya!” seru Delana ke arah dapur.

“Iya,” sahut Bryan.

“Jangan lupa matiin lampu!” teriak Delana sambil berlari kecil menaiki tangga.

Mereka akhirnya masuk ke kamar dan terlelap.

***

Hari ini, Delana masuk kampus seperti biasa. Ia melangkahkan kaki sembari melihat-lihat ke arah lapangan. Beberapa orang mulai sibuk mempersiapkan pentas seni untuk acara tahunan kampus.

“Del, apa perlu aku tanyain panitia soal stand?” tanya Belvi yang berjalan di sampingnya.

“Nggak usah, Bel!”

“Kenapa?” tanya Belvina.

“Acaranya bentar lagi. Nggak sempat nyiapin semuanya, Bel.”

“Hmm ... iya, juga sih.”

“Udahlah nggak usah. Lain kali aja,” tutur Delana.

“Iya. Eh, kita lihat daftar yang mau ngisi acara yuk!” ajak Belvina.

“Emangnya udah ada?” tanya Delana.

“Ada tuh di mading!” Belvina menunjuk mading yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Delana tersenyum. Ia dan Belvi berjalan beriringan menuju mading dan membaca satu persatu daftar nama mahasiswa atau komunitas kampus yang akan mengisi acara pentas seni.

Mata Delana tertuju pada sebuah nama yang berada dalam urutan nomor lima belas. Ia dan Belvina saling pandang ketika menemukan nama Raditya Chilton menjadi salah satu pengisi acara seni di kampus.

“Tahun kemarin ada dia nggak?” tanya Delana.

Belvina mengedikkan bahunya. Kita kan di kampus belum genap satu tahun.”

“Oh, iya ya?” Delana mengetuk-ngetuk dagunya.

“Dia bisa main musik?” tanya Belvina.

“Kayaknya sih bisa.”

“Kok, kayaknya?”

“Belum pernah lihat langsung waktu dia main musik. Tapi, aku lihat di rumahnya ada piano sama gitar gitu.”

“Berarti dia bisa main musik kalo ada piano di rumahnya,” tutur Belvina.

“Belum tentu. Bisa aja yang mainin mamanya.”

“Iya juga, sih. Kira-kira dia bakal nampilin apa ya?” tanya Belvina.

“Nggak tahu juga.”

“Ntar kita lihat dia, ya? Dia kan tampil di hari ketiga, jam sepuluh pagi. Catet!” perintah Belvina.

“Kenapa sekarang jadi kamu yang semangat banget mau nontonin dia?”

“Emangnya kamu nggak mau?” tanya Belvina.

Delana bergeming. Ia berpikir kalau pertanyaan Belvina tidak memerlukan jawaban sama sekali.

Belvina menghela napas menatap sahabatnya itu. Ia tak banyak bertanya lagi dan mengajak Delana untuk masuk ke dalam kelas.

Delana sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia tidak konsentrasi selama jam pelajaran berlangsung. Pikirannya tertuju pada Chilton. Entah kenapa, cowok itu selalu menghantui hari-harinya. Ia ingin melupakannya tapi tidak bisa.

Delana mencoba mencari celah di mana ia bisa mengganti posisi Chilton dengan orang lain dalam hatinya. Tapi, tempat Chilton terlalu dalam di hatinya dan ia tak mampu mengganti semua kisah yang pernah ia lewati bersama.

“Del, ke kantin yuk!” ajak Belvina.

Delana hanya menghela napas. Ia terlihat sangat lesu setiap kali Belvina mengajaknya keluar kelas.

“Del, ayolah! Move on, Baby!”

Delana tersenyum, ia bangkit dari kursi dan melangkahkan kaki dengan berat hati. Delana mengikuti langkah Belvina menuju kantin.

“Mau makan apa, Del?” tanya Belvina saat mereka sudah sampai di kantin.

Delana menggelengkan kepala. “Minum aja!” pintanya.

“Minum apa?” tanya Belvina.

“Jus alpukat aja.”

“Oke.” Belvina segera memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan. Tak butuh waktu lama, hanya beberapa menit saja, makanan dan minuman sudah terhidang di meja mereka.

“Del, seriusan nggak mau makan?” tanya Belvina.

“Iya. Lagi males.”

“Eh, lihat tuh si Chilton! Sekarang deketnya sama yang lain.” Terdengar suara salah satu mahasiswi yang duduk tak jauh dari meja Delana.

“Eh ... sst ...! Delana ada di belakangmu,” sahut salah satu temannya.

Cewek yang membicarakan Delana langsung menoleh ke belakang dan disambut senyum oleh Delana. Wajahnya merona malu karena ketahuan sedang membicarakan orang lain.

Pandangan mata Delana tertuju pada Chilton dan Ratu yang sedang berjalan bersama menuju kantin. Mereka terlihat sangat akrab. Ratu tidak sungkan merangkul lengan Chilton. Cowok itu juga sama sekali tidak risih dan merasa nyaman dengan sikap manja Ratu.

Saat memasuki kantin, Chilton langsung menatap Delana yang duduk tak jauh dari pintu masuk. Ia melirik tangan Ratu yang melingkar di lengannya. Ia tahu kalau apa yang terjadi hari ini akan menambah luka di hati Delana. Tapi, ia juga tidak ingin Delana terus-menerus berharap padanya. Sedangkan ia bisa saja menyukai cowok lain yang lebih tampan dan lebih keren darinya.

“Kamu mau makan apa?” tanya Ratu dengan gaya manja.

Mendengar ucapan Ratu, Delana hanya menggeleng kecil. Ia kesal sekali melihat cewek itu bermanja-manja dengan Chilton. Rasanya, ia ingin menyiram Ratu dengan jus alpukat yang ada di tangannya.

“Terserah,” jawab Chilton dingin. Mereka langsung duduk di meja yang ada di belakang Delana.

“Oke. Aku pesenin dulu. Jangan ke mana-mana, ya!” pinta Ratu.

Chilton tersenyum kecil. Ia tidak terlalu senang dengan Ratu. Tapi, kedekatannya kali ini bisa membuat Delana benar-benar melupakannya untuk selamanya.

“Eh, kamu jadi ngisi acara untuk pensi?” tanya Ratu saat ia sudah kembali duduk di samping Chilton.

“Jadi.”

“Mau nampilin apa?” tanya Ratu.

“Musik.”

“Oh ... aku jadi MC di acara pensi nanti. Tapi waktu aku kena jadwal tampil nari, kayaknya MC-nya bukan aku, deh,” tutur Ratu.

Chilton tak menanggapi ucapan Ratu. Ia hanya menatap meja yang ada di depannya sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya.

“Jadwal kamu tampil hari ke berapa?” tanya Ratu.

“Tiga.”

“Kamu kenapa sih kalo ditanya jawabnya singkat-singkat banget?” celetuk Ratu sambil merengut. Ia melirik Chilton yang terlihat sangat dingin di sampingnya.

“Emangnya mau jawab apa lagi?”

“Nggak ada, sih,” jawab Ratu,

Mereka tak lagi banyak bicara jika Ratu tak memulai pembicaraannya.

Delana mendengar semua pembicaraan mereka karena jarak mereka sangat Dekat.

“Del, kayaknya dia sengaja mau bikin kamu cemburu,” bisik Belvina di telinga Delana.

Delana mengangkat kedua alisnya, ia tak mengerti apa maksud Belvina.

Belvina menganggukkan kepala. “Kamu balas, dong!” bisiknya.

“Balas gimana?” tanya Delana berbisik.

Belvina menghela napas. Ia memperbaiki posisi duduknya. “Del, kemarin jalan ke mana aja sampe malam?” tanya Belvina dengan suara yang sengaja dikeraskan agar Chilton bisa mendengar pembicaraan mereka.

Delana memutar bola matanya dan langsung mengerti maksud Belvina. Ia ingin menunjukkan pada Chilton bahwa ia baik-baik saja dan masih banyak laki-laki yang jauh lebih baik darinya. “Ke taman, terus makan,” jawab Delana.

“Cuma ke taman sama makan doang sampe malam?” tanya Belvina.

“Iya. Aku kan jalan bareng Ivo sama temen cowoknya tuh. Harusnya sih jam setengah tujuh udah pulang. Tapi, pas temennya Ivo pulang duluan. Tiba-tiba aku ketemu sama temen kecilku. Dia minta temenin makan sampai selesai,” jelas Delana.

“Oh ... kamu ketemu sama temen kecil kamu? Cewek apa cowok?” tanya Belvina.

“Cowok.”

“Yang mana? Apa kamu pernah cerita sama aku?”

“Pernah. Di rumah ada foto aku bareng dia waktu kecil di dalam album. Yang aku bilang ke kalian kalo aku nimpuk dia pake batu, terus akunya nangis-nangis gara-gara lihat darah banyak banget keluar dari kepalanya,” jelas Delana sambil tertawa mengingat masa-masa kecilnya yang begitu konyol.

“Oh ... iya. Aku paham. Gimana dia sekarang? Ganteng nggak?” tanya Belvina.

“Ganteng banget. Nggak kayak dulu waktu kecil,” tutur Delana sambil tertawa. “Sekarang dia udah jadi bos di perusahaan gitu. Perusahaan ayahnya si kayaknya.”

“Wah ... tajir dong!?” seru Belvina.

Delana tersenyum menanggapi ucapan Belvina.

“Dia itu nggak berubah dari dulu. Selalu ngasih apa aja yang aku mau. Walaupun aku sering banget jahilin dan ngolokin dia. Dia nggak pernah marah sama sekali. Tetap aja suka manjain aku kayak adiknya sendiri.”

“Serius? Emangnya kemarin dikasih apa sama dia?” tanya Belvina.

“Dikasih es krim. Kamu tahu nggak, dulu waktu kecil aku tuh suka ngerengek minta es krim sama dia. Dia beliin aku es krim baanyaaak banget! Besoknya langsung kena flu gara-gara terlalu banyak makan dingin.”

“Itu sih kamunya yang bandel,” celetuk Belvina.

Delana meringis mendengar celetukan sahabatnya itu.

Telinga Chilton tidak tuli. Ia mendengar semua pembicaraan Delana dan sahabatnya. Ia semakin yakin kalau Delana begitu mudah menyukai pria tampan. Delana terdengar sangat bahagia ketika menceritakan cowok yang ia temui. Chilton tahu kalau cowok itu adalah teman kecil Delana. Tapi, bisa saja Delana jatuh cinta pada cowok itu.

Chilton merasa lega karena akhirnya tidak punya hubungan apa-apa dengan Delana. Daripada ia harus sakit hati karena dipermainkan oleh Delana, ia memilih untuk tidak memiliki hubungan apa pun dengan cewek itu.


((Bersambung...)) 

Deras Hujan Literasi di Rempanga dan Cerita Usai Read Aloud

 


16 September 2025.



Hari itu, udara di Desa Rempanga terasa hangat dan bersahabat ketika kami tiba untuk melakukan kegiatan Read Aloud dan sosialisasi program Relima dari Perpustakaan Nasional RI. Langit masih biru pucat, angin berhembus lembut, dan anak-anak yang duduk bersila di ruang perpustakaan tampak antusias mendengarkan cerita yang kami bacakan. Suasana begitu hidup, penuh tawa, tepuk tangan, dan mata berbinar yang membuat lelah perjalanan terasa lenyap begitu saja.

Sesi Read Aloud menjadi pembuka yang menyenangkan. Kami berbagi kisah dari buku-buku pilihan yang sarat pesan moral dan semangat literasi. Di sela kegiatan, beberapa anak ikut menirukan suara tokoh dalam cerita, ada pula yang dengan polosnya bertanya hal-hal lucu yang membuat kami semua tertawa. Momen sederhana itu terasa istimewa, mengingatkan bahwa literasi bukan sekadar membaca, tetapi tentang menghidupkan imajinasi dan menumbuhkan rasa ingin tahu.


Usai sesi membaca bersama, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi program Relima. Saya menjelaskan tujuan utama Relima — Revitalisasi Literasi Masyarakat — agar masyarakat desa memahami bahwa keberadaan perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi jantung pengetahuan yang bisa menggerakkan perubahan. Antusiasme warga begitu terasa. Ibu Kepala Desa Rempanga bahkan ikut menanggapi dengan semangat, bercerita tentang bagaimana anak-anak dan remaja di desanya mulai gemar membaca setelah kegiatan literasi sering diadakan.

Namun, begitu kegiatan selesai dan kami berkemas untuk pulang, langit tiba-tiba berubah. Awan gelap menggantung berat di atas atap balai desa, lalu hujan turun deras tanpa jeda. Jalanan desa yang tadinya berdebu seketika berubah menjadi aliran air kecil yang menari-nari di antara rerumputan. Kami semua terjebak di sana, menunggu reda sambil menyeruput teh hangat yang disuguhkan dengan ramah.

Tak lama kemudian, Ibu Kepala Desa datang menghampiri kami dengan senyum tulus. “Sudah hujan begini, jangan pulang dulu. Ayo makan siang,” ujarnya sembari membawakan beberapa bungkus nasi yang ia beli dari warung terdekat. 

Ada sayur asam yang segar, ayam bakar, dan sambal terasi yang menggugah selera. Kami makan sambil berbagi cerita tentang literasi, tentang anak-anak desa, dan tentang hujan yang tak kunjung reda di luar sana.



Hujan di Rempanga sore itu meninggalkan kesan mendalam. Bukan hanya karena kami sempat terjebak cuaca, tetapi karena hangatnya sambutan dan keramahan yang kami terima. Di balik hujan deras dan sepiring nasi hangat, saya menyadari bahwa semangat literasi memang tumbuh dari hal-hal sederhana. Dari tawa anak-anak, dari dukungan pemerintah desa, dan dari kepedulian bersama untuk menyalakan api pengetahuan.


Kami pulang saat hujan mulai reda, dengan hati penuh syukur dan pikiran yang kembali segar. Rempanga memberi pelajaran bahwa literasi bukan hanya tentang buku—tetapi juga tentang hubungan antarmanusia, tentang berbagi, dan tentang kehangatan yang tumbuh dari setiap cerita yang kita bawa.


Pendamping Nakal Bab 1 : Pertarungan Pena Rania

BRAK ...!

“Rania ...!”

Suara lantang Sarah menggelegar di seluruh ruang perpustakaan ketika gadis itu datang dan langsung menggebrak meja di hadapan Rania.

Rania terdiam menatap Sarah yang berdiri di depannya.

“Kamu ketua mading dan jurnalis sekolah, kan? Apa maksudnya kamu bikin berita kayak gini di majalah sekolah, hah!?” seru Sarah sambil menunjukkan lembar majalah yang ia maksud.

Rania melihat majalah itu sekilas dan langsung mengerti. Itu adalah artikel yang ditulis oleh timnya tentang fenomena kesurupan yang sering terjadi di sekolah akhir-akhir ini. Kebetulan Sarah juga sering kesurupan dan timnya mendapati foto Sarah yang paling bagus untuk dijadikan gambar pendukung artikel.

Rania dan timnya mempertimbangkan wajah Sarah yang cantik sebagai hal yang menarik. Selain itu, Sarah juga Ketua Osis yang cukup populer. Walau bagaimana pun, ia juga harus memikirkan strategi pasar dan bagaimana artikel-artikelnya bisa menarik lebih banyak pembaca.

“Bikin malu, aja. Tim ekskul kalian nggak punya bahan lain buat dijadikan berita? Ini berita kesurupan segala ditulis di sini. Kamu sengaja mau buka aib orang, hah!?” cerocos Sarah.

“Bukan begitu maksudnya, Kak. Berita ini dibuat berdasarkan fakta. Tanpa kami tulis pun, semua murid di sekolah ini tahu kalau Kak Sarah sering kesurupan,” sahut Rania.

“Terus, kalo semua orang sudah tahu ... kamu tulis di majalah? Biar apa? Biar kelihatan keren, gitu? Biar orang yang nggak tahu, jadi tahu semua? Senang kamu nyebarin aib orang, hah!?”

“Kak, kesurupan itu bukan aib. Aib itu kalau aku bikin berita tentang Kak Sarah hamil di luar nikah.”

PLAK ...!

Telapak tangan Sarah mendarat kencang di pipi Rania.

Rania langsung memegangi pipinya yang memanas. Air matanya otomatis menggenang menahan rasa sakit. Di sudut bibirnya, terlihat bercak darah yang keluar.

“Mau nangis!? Nangis aja!” sentak Sarah. “Hari ini aku cuma tampar kamu, ya! Kalau berani nyebarin rumor macem-macem lagi, aku nggak akan segan-segan bunuh kamu!” lanjutnya.

“Aku nggak akan nangis untuk sesuatu yang nggak salah!” sahut Rania.

“Kamu masih nggak sadar kalo salah, hah!? Kamu itu sudah melanggar privasi orang lain. Aku bisa tuntut kamu, ya!”

Rania tersenyum miring sambil menatap wajah Sarah. “Kamu paham atau nggak privasi itu apa? Semua hal yang sudah diketahui publik, itu namanya bukan privasi lagi. Privasi yang harus dijaga itu data diri kamu seperti kk, ktp, dan akun email. Karena bisa dipergunakan oleh oknum untuk mengambil keuntungan. Kalau Cuma kesurupan, itu bukan privasi. Kalau kamu nggak mau dilihat orang karena alasan privasi, kamu nggak perlu keluar rumah, nggak perlu ketemu manusia lain!”

“Kamu ...!?” Sarah makin geram melihat Rania yang melawannya. Ia langsung menarik rambut Rania hingga wajah gadis itu mendongak ke arahnya.

“Hari ini kamu masih punya kemampuan buat ngelawan aku, hah!? Aku pastikan posisimu sebagai ketua jurnalis sekolah cuma sampai hari ini aja!” ancam Sarah.

Rania tersenyum kecil. “Kamu pikir, bisa dengan mudah melengserkan posisiku? Kamu nggak takut kalau aku bikin berita tentang apa yang kamu lakuin ke aku hari ini?”

“Kamu ngancam aku!?”

“Siapa yang lebih dulu ngancam?” sambar Rania. “Aku berada di jalan kebenaran. Aku nggak akan gentar selama apa yang aku lakukan benar. Aku juga nggak akan ngebiarin orang seperti kamu mengendalikan aku. Kamu pikir, kamu siapa?”

“Aku ketua osis di sini. Ayahku juga donatur utama di sekolah ini. Aku bisa dengan mudah bikin kamu keluar dari sekolah ini!” jawab Sarah. Ia makin geram dengan Rania. Yang ia tahu, Rania adalah anak kutu buku yang jarang berbicara. Ia tidak menyangka jika Rania begitu berpendirian dan berani melawannya.

Rania tersenyum kecil. “Semua orang tahu itu. Tapi bukan berarti kamu bisa menindas orang seenaknya. Meskipun menyakitkan, kebenaran tetaplah kebenaran.”

“Nggak usah banyak bacot, ya! Kamu itu udah nyebar aib orang! Nggak usah mengalihkan pembicaraan!” sambar Sarah makin geram.

“Aku sudah bilang kalau itu bukan aib. Ada berapa banyak orang yang kesurupan di luar sana dan jadi bahan tontonan? Apa itu yang namanya aib? Kamu jangan membuat standar hidup sendiri! Hal biasa kamu anggap aib, sedangkan aib kamu anggap sebagai hal biasa,” ucap Rania yang tetap teguh pada pendiriannya.

“Kamu nggak boleh nulis apa pun tentang aku tanpa izin!” sentak Sarah makin geram. Ia semakin menarik keras rambut Rania hingga gadis itu tersungkur di lantai.

“Kita hidup di negara demokrasi. Semua orang bebas berbicara dan aku tahu sampai di mana batasannya. Kamu bukan siapa-siapa yang bisa membungkam mulutku dan menghentikan penaku begitu saja.”

Sarah langsung menginjak punggung tangan Rania yang berada di lantai dan menggilasnya. “Kamu masih nggak mau nyerah, hah!?” batinnya geram.

“Karena kamu menuduhku membuka aibmu ... bagaimana kalau aku sebarkan berita tentang kamu yang sering berada di kamar hotel bersama pria tua itu?” tanya Rania sambil menahan rasa sakit di punggung tangannya. “Supaya tuduhanmu itu bisa jadi kenyataan yang benar.”

Sarah makin menghentakkan kakinya. “Kamu jangam ngarang, ya! Aku ini anak orang paling kaya di sekolah ini. Mana mungkin aku jadi wanita simpanan, hah!?”

“Itu yang akan jadi berita paling besar, kan? Anak orang paling kaya di sekolah, yang setiap hari diantar pakai mobil mewah dengan semua barang-barang ber-merk, ternyata gadis simpanan oom-oom.”

Sarah kembali menjambak rambut Rania. “Kalau kamu berani fitnah aku, aku bakal kasih kamu pelajaran yang lebih sakit dari ini.”

“Fitnah? Kamu pikir, jurnalis sepertiku nggak punya bukti untuk membuktikan kebenarannya?” tanya Rania sambil menahan sakit di tangan dan kepalanya.

Sarah terdiam sejenak mendengar ucapan Rania. Jangan-iangan gadis culun ini sudah menguntitnya diam-diam? Gimana Rania bisa punya bukti kalau ia sering berada di hotel bersama Sugar Daddy yang selama ini memeliharanya?

Sarah tak peduli. Ia makin menjambak keras rambut Rania. Ia tahu tidak akan ada orang yang masuk ke perpustakaan tersebut. Sebab, tidak ada petugas khusus perpustakaan. Perpustakaan sekolah lebih banyak dikelola oleh tim mading sekolah dan menjadi markas bagi mereka. Satu-satunya orang yang sering berada di ruangan itu hanya Rania.

“Lepasin ...!” pinta Rania sambil memegangi rambut dengan salah satu tangannya.

“Aku bakal lepasin kamu kalau kamu berlutut minta maaf dan hapus semua konten tentang aku yang kesurupan!” pinta Sarah.

“Aku nggak punya alasan untuk menurunkan berita yang sudah timku rilis ke publik,” ucap Rania bersikukuh. “Apa kamu mau kalau aku menuliskan berita tentang kamu yang mengancamku?”

“Kalau kamu berani nulis berita jelek lagi tentang aku, aku nggak akan segan-segan buat bunuh kamu!” ancam Sarah. Ia langsung menghentakkan kakinya dengan keras di atas punggung tangan Rania dan menggilasnya.

“AARGH ...!” Suara Rania menggema di seluruh ruang perpustakaan yang sepi.

Sarah tak memperdulikan. Ia malah menikmati suara teriakan Rania. Ia tahu suara teriakan Rania tidak akan mudah didengar oleh orang di luar sana karena gedung perpustakaan terpisah jauh dengan kelas. Bahkan, masih harus melewati musholla sekolah tersebut. Sehingga gedung perpustakaan itu memang sangat sepi.

Meski banyak yang mendengar teriakan Rania, Sarah tetap tidak gentar untuk melukai gadis itu. Sebab, orang tuanya adalah donatur utama di sekolah tersebut. Tak ada satu pun yang berani melawan Sarah, sekalipun itu kepala sekolah.

Air mata Rania menetes deras sembari menahan rasa sakit di tangannya. Ia menatap tubuh Sarah yang perlahan menjauh darinya. Tepat di depan wajahnya, ia bisa melihat jemari-jemari tangannya tak lagi mulus seperti biasa. Kulit-kulitnya mengelupas. Dari sela-sela daging jemarinya, mengalir zat berwarna merah yang khas hingga menggenang di lantai keramik yang putih.

“Sialan kamu, Sarah. Cuma karena hal sekecil ini, kamu sampai menghancurkan jari-jari tanganku. Aku sumpahin kamu mati ketabrak mobil!” teriak Rania di sisa-sisa tenaganya yang hampir habis.

Rania merasa kepalanya sangat pening. Pandangannya memudar. Buku-buku yang berjejar rapi di rak, seolah terus bergerak hingga semuanya menghilang. Gelap!

 

 ((Bersambung...)) 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas