Tuesday, June 2, 2026

Perfect Hero Bab 535 : Pesta Teh Terselubung

 




Satu jam sebelum perjamuan teh ...

 

“Sore, Bunda ...!” sapa Yuna begitu ia masuk ke dalam rumah pribadi istri walikota.

 

“Sore, Cantik ...!” balas Yana penuh semangat. Ia menghampiri Yuna dan merangkulnya penuh kehangatan. “Kembarannya Bunda ... akhirnya datang juga.”

 

“Jauhnya, Ma ...!” sela Satria sambil tertawa kecil.

 

“Yee ... waktu masih muda, mama juga cantik kayak dia,” dengus Yana sambil menatap wajah Satria.

 

Yuna tertawa kecil. “Pastinya Bunda Yana lebih cantik dari aku waktu masih muda. Anaknya aja bisa ganteng banget kayak gini.”

 

“Peres!” sahut Satria.

 

“Kamu ini ... dipuji malah kayak gitu,” tutur Yana sambil menatap Satria.

 

“Aku baru percaya dia ngomong jujur kalau dia milih aku jadi suaminya, bukan milih Yeriko. Coba mama tanya ke dia! Ganteng mana, aku tau Yeri?”

 

Yuna menahan tawa mendengar pertanyaan Satria.

 

“Hayo ...!?” Satria menunjuk wajah Yuna. “Ganteng mana?”

 

Yuna meringis ke arah Satria. “Ganteng kamu, kok.”

 

“Jangan pake ‘kok’! Kesannya terpaksa kalau ngomongnya pakai ‘kok’. Emangnya main badminton!?”

 

“Itu cock, Sat! Ce-o-ce-ka!”

 

“Itu kan kalau di luar negeri. Kalau di dalam negeri, namanya tetep kok!” sahut Satria tak mau kalah.

 

“Udah, nggak usah berdebat cuma gara-gara kok!” sela Yana. “Kamu naik ke kamar, sana! Sebentar lagi, temen-temen mama mau datang, nih.”

 

“Mama Rully udah ada, Bun?” tanya Yuna.

 

“Udah, lagi siap-siap di halaman belakang.”

 

“Hawa-hawanya, emak-emak semua ini ... aku pergi aja!” ucap Satria sambil melengos pergi.

 

“Ke mana?”

 

“Jalan-jalan!” sahut Satria sambil melangkah pergi.

 

“Bawain mama oleh-oleh ya!”

 

“Oleh-oleh apa? Calon mantu?” tanya Satria sambil terkekeh geli.

 

Yana menganggukkan kepala, “High quality is number one!”

 

Satria tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Dikira nyari istri kayak nyari pentol bakso?” celetuk Satria sambil melangkahkan kakinya keluar rumah. Tangannya sibuk memainkan kunci sampai ia menjangkau mobilnya.

 

Di dalam rumah, Yana hanya mengajak Yuna menemui Rullyta yang sedang menyiapkan banyak hal untuk perjamuan kali ini.

 

“Sore, Ma ...!” sapa Yuna. “Ada yang bisa dibantu?”

 

“Hei ...! Udah datang?” Rullyta langsung berbalik dan memeluk pundak Yuna. “Cantik banget!” pujinya sambil mencubit pipi Yuna.

 

“Mama juga cantik,” balas Yuna sambil tersenyum menatap wajah mama mertuanya.

 

“Iya, dong. Walau udah tua, tetep harus tampil cantik.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah Rullyta yang masih terawat dengan baik meski usianya sudah menginjak lima puluh tahun.

 

“Ada yang bisa aku bantu, Ma?” tanya Yuna.

 

“Nggak ada. Kamu duduk aja! Semuanya udah siap, tinggal tunggu tamu undangan datang.”

 

“Oh.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala. Ia duduk di salah satu kursi yang ada di taman tersebut.

 

“Kamu lagi hamil, duduk santai di sini aja!” pinta Bunda Yana sambil menunjuk ke arah kursi yang sudah ia siapkan di taman tersebut.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia mengamati suasana taman belakang yang ada di rumah walikota tersebut. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi sangat sejuk dan asri. Tidak ada kolam renang seperti yang ada di belakang rumahnya. Akuarium dinding yang mengelilingi taman tersebut membuat tempat itu semakin sejuk.

 

“Eh, mereka udah mulai datang. Aku terima tamu dulu, ya!” pamit Bunda Yana sambil bergegas menuju pintu utama rumahnya.

 

Yuna dan Rullyta menganggukkan kepala. Mereka duduk berdampingan sambil menikmati pemandangan yang begitu menyejukkan mata.

 

“Ma, tamannya asyik banget ya? Aku baru sekali masuk ke sini. Mmh ... butuh biaya berapa bikin akuarium dinding kayak gini ya?”

 

“Kamu mau bikin juga?” tanya Rullyta.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Kayaknya bagus kalau di rumah ada akuarium dinding, jadi lebih sejuk. Tapi ... Yeriko suka atau nggak, ya? Dia kan lempeng banget.”

 

“Apa pun yang kamu buat, dia pasti suka,” sahut Rullyta sambil tersenyum.

 

“Ah, Mama ...! Belum tentu.”

 

“Kalau dia marah sama kamu, kasih tahu mama! Biar mama marahin balik!”

 

“Hahaha. Jangan, Ma! Aku nggak tega lihatnya kalau mama marahin dia terus.”

 

“Huft, kamu ini ... ujung-ujungnya belain suami kamu yang ngeselin itu!”

 

“Ma, dia anak mama, loh.”

 

“Nggak. Dia bukan anak mama! Udah mama tukar sama kamu. Sekarang, dia menantu mama, hahaha.”

 

Yuna ikut tergelak mendengar candaan Rullyta. “Mama ... ada-ada aja.”

 

Rullyta dan Yuna terus bercanda ria bersama hingga beberapa orang tamu yang datang mulai menyapa mereka.

 

“Rul, ini menantu kamu, ya?” tanya salah seorang tamu yang ada di ruangan tersebut.

 

Rullyta menganggukkan kepala.

 

“Wah, sudah berapa bulan?” tanya wanita itu sambil mengelus perut Yuna yang buncit.

 

“Delapan bulan, Tante.”

 

“Wah, udah deket lahiran! Semoga sehat terus sampai lahiran nanti!”

 

“Aamiin ...”

 

Di saat yang bersamaan, Mega dan Bellina masuk ke taman tersebut. Mata Bellina langsung tertuju pada Yuna yang sedang dikerumuni beberapa ibu-ibu pejabat yang beberapa orang di antaranya sudah sangat dikenal di tengah-tengah masyarakat.

 

Yuna hanya tersenyum begitu melihat Bellina sedang menatapnya. Ia langsung mendekati Rullyta yang berdiri tak jauh darinya. “Ma, kenapa ada Bellina di sini?”

 

Rullyta hanya memainkan alis sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna mengangkat kedua alisnya. Ia baru mengerti kalau mama mertua dan sahabatnya sedang menyiapkan jamuan terselubung untuk mereka. Ia harap, apa yang dilakukan mama mertuanya bisa membuat Bellina jera dan berhenti mengganggunya.

 

“Selamat sore semuanya ...!” sapa Bunda Yana pada semua tamu undangan yang sudah hadir di acara tersebut.  “Hari ini, saya sengaja mengundang kalian untuk menikmati pesta teh dari berbagai belahan dunia. Kalian pasti akan suka dengan aneka teh yang ada di sini. Selamat mencoba!”

 

Semua orang menganggukkan kepala. Mereka segera mencoba teh yang dihidangkan di tempat tersebut.

 

“Oh ya, saya juga mau memperkenalkan salah satu penggemar teh terbaik di dunia. Ada Ibu Mega yang sudah hadir di tempat ini. Dia akan berbagi pengalamannya dalam menikmati teh terbaik yang ada di seluruh dunia. Silakan, Ibu Mega! Semua orang ingin mendengarkan pengalaman Anda kali ini.”

 

Mega langsung melebarkan kelopak matanya. Ia memang sangat suka menikmati teh. Namun, ia tidak begitu memahami jenis-jenis teh terbaik yang ada di seluruh dunia. Ia hanya mencoba beberapa teh kesukaannya dan tidak bisa menjelaskan lebih banyak.

 

Mega mengedarkan pandangannya sambil tersenyum. Ia tidak ingin menjatuhkan harga dirinya begitu saja di depan semua orang.

 

Rullyta langsung menghampiri Mega dan berdiri di sebelahnya. “Kamu pernah bilang kalau sudah pernah menikmati aneka teh dari berbagai daerah. Aku sudah menyiapkan teh seduh yang bisa kamu kenali dari rasa dan aromanya,” ucapnya sambil menyodorkan secangkir teh ke arah Mega.

 

Mega tersenyum. Ia mengangguk sopan sambil meraih teh dari tangan Rullyta.

 

Rullyta menoleh ke arah pelayan yang memegang nampan berisi teko yang berdiri di sisinya. Ia kembali menuangkan teh ke dalam cangkir. “Menurut kamu, ini teh yang berasal dari mana?”

 

Mega menyesap teh yang sudah ada di tangannya.

 

Rullyta tersenyum sambil menatap wajah Mega yang terlihat ragu-ragu saat menyesap teh tersebut.

 

“Teman-teman ...! Kebetulan di sini ada menantu saya. Dia juga sering menemani saya menikmati teh-teh terbaik dari berbagai daerah. Dia juga lulusan Melbourne University dan sudah mencoba banyak produk teh dari berbagai tempat.” Rullyta menoleh ke arah Yuna sambil mengerdipkan salah satu matanya. “Sini ...!” ajaknya kemudian.

 

Yuna tersenyum. Ia bangkit dari tempat duduk sambil menghampiri Rullyta.

 

Rullyta memberikan secangkir teh yang sama dengan yang ia berikan pada Mega. Ia memperhatikan Yuna yang menyesap teh itu perlahan sambil menikmati aroma daun teh segar yang mengepul di atas cangkir tersebut.

 

“Gimana?” tanya Rullyta sambil menatap Mega dan Yuna bergantian. “Kalian bisa menebak, ini teh berasal dari mana?”

 

Yuna hanya tersenyum. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Rullyta.

 

Melihat Yuna yang hanya tersenyum, Mega langsung mengerti kalau Yuna juga tidak tahu menahu soal teh yang ada di tangannya itu. “Dia masih terlalu muda, nggak mungkin punya kemampuan yang baik untuk membedakan daun teh ini berasal dari mana,” batin Mega.

 

“Aku tahu ... dilihat dari warna, rasa dan aroma ini ... ini adalah salah satu teh yang berasal dari pegunungan di India,” tutur Mega sambil tersenyum penuh percaya diri.

 

Rullyta mengangkat kedua alisnya sambil menatap wajah Mega. “Jawaban yang cerdas! Tapi ... kamu masih salah!”

 

Mega membelalakkan matanya. “Emangnya, kamu tahu ... ini teh dari mana?”

 

“Tahu banget. Aku yang beli,” jawab Rullyta sambil tersenyum santai. Ia menoleh ke arah Yuna. “Gimana? Kamu udah bisa mendeteksi teh ini dari mana?”

 

“Hmm ...!” Yuna mengendus aroma teh tersebut sambil memutar-mutar cangkirnya perlahan. Kemudian, ia menganggukkan kepala. “Ini adalah salah satu teh yang aromanya sangat khas dan yang paling aku suka. Produk dalam negeri yang sudah mendunia dan paling banyak diminati di pasar Eropa. Ini teh hitam yang berasal dari kaki Gunung Kerinci.”

 

“Sekilas, memang hampir mirip dengan teh hitam dari daerah Assam yang ada di India. Tapi ... rasa di akhirnya sangat berbeda. Rasa dari teh yang ini tidak akan hilang walau dicampur dengan makanan atau rempah-rempah lain. Salah satu alasan kuat yang membuat produk ini bisa masuk ke pasar Eropa dengan mudah,” jelas Yuna.

 

Rullyta langsung tersenyum bangga mendengar penjelasan dari Yuna. “Bener banget! Teh hitam yang satu ini, memang aku beli langsung dari pegunungan Kerinci. Teh ini terkenal di Eropa. Aku pernah menikmati teh ini di salah satu jalan di Eropa dan cukup kaget dengan produk lokal, rasa internasional ini.”

 

Mega tersenyum sinis sambil menatap Rullyta dan Yuna. “Jelas aja dia tahu kalau ini teh dari pegunungan Kerinci. Udah kamu kasih tahu lebih dulu ‘kan?”

 

Rullyta tersenyum menanggapi ucapan Mega. “Kalau memang kamu curiga seperti itu ... silakan ambil produk teh lain yang ada di sini dan kita uji pengetahuan soal semua teh yang ada di sini.”

 

“Oke, siapa takut!?” sahut Mega. Ia tidak ingin menjatuhkan harga dirinya di depan semua orang. Maka, ia menerima tantangan dari Rullyta untuk membuktikan kalau ia tidak akan kalah dengan Yuna.

 

“Silakan pilih!” perintah Rullyta.

 

Mega langsung memilih salah satu white tea yang ada di meja lain dan mencobanya.

 

“Gimana? Ini teh dari mana?”

 

“Ini teh Fujian,” jawab Mega sambil menyesap teh yang ada di tangannya.

 

Rullyta tertawa kecil. “Itu bukan teh Fujian.”

 

“Terus?” tanya Mega sambil mengerutkan dahinya.

 

Rullyta menoleh ke arah Yuna untuk ikut mencoba teh tersebut.

 

Yuna mengangguk dan mencicipi teh yang sama. Ia langsung tersenyum begitu menyesap teh tersebut. “Emang mirip dengan rasa teh Fujian. Tapi, ini salah satu white tea grade 1 dari pegunungan di Cirebon. Bener atau nggak, Ma?”

 

Rullyta tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Tanya ke Bunda Yana. Soalnya, teh yang satu ini ... disiapkan sama dia.”

 

Yuna langsung menoleh ke arah Bunda Yana yang mengacungkan jempol ke arahnya. Ia langsung tertawa bahagia karena bisa menebak rasa teh itu dengan baik.

 

Mega menahan malu karena tidak bisa membedakan rasa teh dari berbagai daerah. Meski begitu, ia tetap saja berdiri sambil membusungkan dada. Ia tidak ingin terlihat payah di depan semua orang yang ada di sana.

 

Di sudut lain, Bellina juga menatap Yuna penuh kebencian. Ia semakin iri melihat Yuna yang selalu mendapat pujian dari banyak orang. Sementara, semua orang tidak pernah melihat dirinya sama sekali.

 

 ((Bersambung ...))

Kalau kalian, suka teh jenis apa?

Author sih suka semuanya, lebih suka lagi kalau ngetehnya bareng kamu ... iya, kamu! Eeeaak ...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tuesday, May 26, 2026

Buras bukan Sekadar Makanan, Ini Adalah Tradisi yang Harus Dijaga!

 

Idul Adha tahun ini, aku menemukan sebuah fenomena yang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. 

Aku lahir dan besar di wilayah transmigrasi yang mayoritas penduduknya adalah orang Jawa. Tapi, bukan berarti tidak ada penduduk suku lain. Desaku bukan hanya diisi oleh orang suku Jawa, tapi juga ada suku Sunda, Banjar, Batak, Dayak, dan Bugis.

Ada budaya yang sangat menarik ketika Idul Adha bagi orang-orang suku Bugis. Yakni, membuat Buras. Bagi mereka, buras adalah makanan wajib yang harus mereka sediakan untuk keluarga saat lebaran.

Tahun ini, bukan hanya orang Bugis yang berlomba-lomba membuat buras untuk meramaikan Hari Raya Idul Adha. Orang-orang Jawa di sekitarku juga sudah mulai menikmati tradisi yang satu ini. Saat aku berkeliling membagikan kupon kurban (kebetulan aku adalah Ketua RT), aku menemukan beberapa rumah warga disibukkan dengan membuat Buras, padahal mereka bukan berasal dari suku Bugis.

Hal ini, tentu sangat menarik. Sebab, tradisi suku Bugis berhasil memengaruhi suku lain. Hal ini tentunya akan berdampak positif pada tradisi leluhur yang akan terus terjaga.

Kita semua tahu bahwa Buras atau sering juga disebut sebagai Burasa adalah makanan khas Suku Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan. Bentuknya mirip lontong, tetapi rasanya lebih gurih karena dimasak menggunakan santan. 

Dalam suku Bugis dan Makassar, buras bukan sekadar makanan, tetapi simbol hubungan sosial, penghormatan dan kebersamaan keluarga.





Pembuatan buras biasanya tidak dilakukan sendiri. Saat menjelang Lebaran atau acara adat, para perempuan keluarga akan berkumpul untuk mencuci beras, memasak santan,

membungkus daun pisang, lalu mengikat buras bersama-sama.

Proses ini menjadi ruang silaturahmi dan mempererat hubungan keluarga. Tradisi “mabburas” di beberapa daerah bahkan dianggap bagian penting dari persiapan hari besar.

Ikatan tali yang digunakan untuk membuat buras juga tidak biasa. Ikatan itu terlihat banyak dan kuat. Ini adalah simbol persatuan. 

Buras diikat berjajar menggunakan tali rafia atau serat daun. Dalam pandangan budaya lokal, ikatan itu sering dimaknai sebagai hubungan kekeluargaan, persatuan, dan harapan agar rezeki serta hubungan antarkerabat tetap “terikat erat”.

Karena itu buras sering dibagikan ke tetangga dan keluarga sebagai tanda kasih dan penghormatan.

Berbeda dari lontong biasa, buras memakai santan yang pada masa dahulu dianggap bahan “mewah”. Karena itu buras identik dengan jamuan istimewa, penghormatan untuk tamu, dan simbol kecukupan rezeki.

Di banyak keluarga Bugis-Makassar, menyajikan buras saat hari raya dianggap bentuk penghormatan kepada tamu dan leluhur.

Buras hampir selalu hadir saat Eid al-Fitr, pesta pernikahan, aqiqah, syukuran rumah, hingga acara adat keluarga besar.

Tanpa buras, suasana Lebaran di banyak keluarga Sulawesi Selatan terasa “belum lengkap”.

Buras bukan sekedar makanan. Inj juga menyimbolkan suasana kesederhanaan yang bermakna.  Walaupun bahan dasarnya sederhana—beras, santan, dan daun pisang—buras membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan waktu lama untuk memasak.

Karena itu ia sering dimaknai sebagai pengingat bahwa sesuatu yang baik lahir dari proses yang tidak instan.

Tradisi kuliner seperti buras juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Bugis-Makassar memandang makanan bukan hanya untuk kenyang, tetapi sebagai media menjaga hubungan sosial, identitas budaya, dan penghormatan terhadap tamu maupun keluarga.


Sumber referensi:

detik.com

tabloidsinartani.

En.wikipedia.org


Jadi, gimana dengan kamu, nih?. 

Kalau kamu bukan orang bugis, apakah sudah ketularan dengan tradisi membuat makanan enak yang satu ini? 

Saturday, May 23, 2026

JURI PESANAN

 


"Saya mau anak saya Juara Nasional, apapun caranya!" pinta Muhdi sambil menatap serius ke arah Parman. 
"Mohon maaf, Pak! Saat ini peraturan dari pemerintah pusat sangat ketat. Untuk bisa jadi Juara Nasional, harus menjadi juara terlebih dahulu di tingkat daerah, kabupaten/kota dan provinsi. Tidak bisa langsung ikut ke tingkat Nasional," sahut Parman. 
"Saya tahu. Kamu atur semuanya!" pinta Muhdi sambil mengeluarkan segepok uang berwarna merah dan menyodorkannya ke hadapan Parman. 
Parman menatap segepok uang itu dengan perasaan tak karuan. Ruang kerja ber-AC yang dingin itu mulai terasa panas. 
"Masih kurang?" tanya Muhdi. 
"Sa-saya tidak berani, Pak. Ini ..."
Muhdi menambahkan satu gepok uang lagi ke hadapan Parman. "Ini cuma untuk uang jajan juri dari tingkat RT sampai Provinsi. Kalau anakku berhasil menang di tingkat Nasional, aku akan kasih kamu segini juga. Khusus untuk kamu saja," jelasnya. 
Parman menatap tumpukan uang di hadapannya dengan perasaan tak karuan. Ia tidak ingin melakukan apa yang diperintahkan Muhdi. Tapi, ia juga sedang membutuhkan banyak uang untuk keluarganya. Istrinya yang sedang mengandung, memerlukan banyak biaya untuk bersalin. Putera pertamanya juga perlu biaya untuk masuk sekolah. 
"Uang segini banyak, apa harus aku sia-siakan? Kapan lagi aku bisa dapat uang sebanyak ini?" batin Parman. Hatinya masih bergelut dengan pikirannya sendiri. 
"Kalau kamu tidak bersedia, aku bisa memberikannya pada orang lain," ucap Muhdi. Ia tidak sabar menunggu keputusan dari Parman. 
Parman menarik napas panjang. "Baik, Pak. Tapi ... apakah pengeluaran Bapak sepadan dengan hadiahnya nanti? Saya rasa, hadiahnya juara juga tidak akan sebanyak ini. Mungkin hanya seperenam atau seperdelapan dari uang ini."
"Uang bukan masalah buat saya. Kamu juga tidak perlu tahu apa tujuan saya! Mau kerjakan atau saya minta orang lain?"
Parman mengangguk. Ia segera meraih dua gepok uang yang ada di atas meja dan memasukkan ke dalam tasnya. "Baik, Pak. Akan saya kerjakan."
Muhdi langsung tersenyum puas. "Kalau kamu gagal, kamu tahu apa konsekuensinya!"
Parman mengangguk. Ia segera pamit dan undur diri dari ruang kerja Muhdi. 
Muhdi bukanlah orang asing bagi Parman. Mereka sudah saling mengenal sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama. Muhdi kini sukses menjadi pengusaha sukses dan kaya raya, sedang ia bekerja di salah satu instansi pemerintahan yang penghasilannya pas-pasan. 
Hidup di ibukota bukanlah hal yang mudah. Biaya hidup sangat tinggi. Parman tidak bisa terus-menerus mengandalkan gaji pokok untuk membiayai kehidupan keluarganya. Ia harus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang tambahan. Salah satu hal yang bisa ia lakukan adalah menerima pekerjaan seperti ini. Mengatur semuanya dari balik layar. 

Sehari setelahnya, Parman memilih menghabiskan waktu di kafe yang tak jauh dari tempatnya bekerja. Ia terlihat sibuk dengan laptop dan ponselnya. Bukan untuk bekerja, melainkan untuk mencari informasi tentang juri-juri yang akan bekerja dari level daerah sampai nasional.
Jemari tangannya piawai menuliskan pesan penawaran. Sesekali ia memberikan penawaran via telepon. Bahkan, ada yang bisa diajak bertemu langsung untuk bernegosiasi. 
Dua minggu setelahnya, kompetisi antar sekolah itu dimulai. Mulai dari kompetisi antar sekolah, hingga kompetisi antar kabupaten/kota. Semuanya sudah diatur dengan baik. 
Parman tak tinggal diam. Meski ia tak pernah muncul ke ruang kompetisi, tapi amplop-amplop yang telah ia siapkan sudah mendarat ke tujuan masing-masing dan diterima dengan baik. 
"Siapa yang menolak kalau dikasih uang banyak," batin Parman sambil melihat video pengumuman Juara Provinsi. Semua seperti yang diharapkan Muhdi. Tim Lomba Cerdas Cermat puteri semata wayangnya berhasil menjadi Juara Provinsi. Mereka masih akan berkompetisi sekali lagi untuk memperebutkan gelar sebagai Juara Nasional. 
"Harusnya bukan tim ini yang Juara Provinsi. Tim B jawabannya selalu bdnar, tapi disalahkan. Giliran Tim C jawabannya sama dengan Tim B, langsung ditambahin poin."
"Iya. Jurinya nggak bener, nih!"

Parman terlonjak melihat video di media sosial yang tiba-tiba sudah sangat ramai dengan komentar netizen. 

Drrt ... Drrt ... Drrt ...! 
Parman mengalihkan perhatiannya ke ponsel yang baru saja berdering. 

Muhdi Memanggil ... 

Parman menarik napas panjang sebelum menjawab panggilan telepon dari Muhdi. Ia merasa kalau Muhdi juga mengetahui kabar yang beredar. 

"Kamu tahu kabar yang lagi viral sekarang?" tanya Muhdi tanpa basa-basi. 
"Tahu, Pak. Soal pengumuman juara Lomba Cerdas Cermat? Saya akan menghubungi pemilik akun agar menghapus videonya."
"Nggak perlu! Videonya sudah dibagikan ulang ribuan kali. Kalau tiba-tiba jejak digital mereka hilang, pasti banyak orang berpikir negatif."
Parman terdiam. Ia masih berpikir. Tidak tahu bagaimana caranya keluar dari masalah ini.
"Nggak usah hiraukan anak yang sedang mencari perhatian itu. Saya mau, kamu tetap fokus mengawal puteri saya. Pastikan kalau keputusan juri tidak terpengaruh oleh postingan dan komentar netizen. Anakku harus jadi Juara Nasional, apa pun caranya!" pinta Muhdi. 
Akhirnya, Parman melakukan segala cara agar keputusan juri tidak dapat diganggu gugat meski banyak polemik yang terjadi di luar sana. Ia tahu, segala sesuatu bisa diatur dengan baik jika ada uang. Sebab, kenyangnya manusia hanya bertahan sebentar aja. Mereka lebih banyak merasakan lapar daripada kekenyangan. Orang-orang yang selalu lapar akan lebih mudah dikendalikan. 






Tuesday, May 19, 2026

Pengalaman Mengikuti Bimtek Relima 2026 Hari Pertama, 19 Mei 2026

 


Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melalui program Relawan Literasi Masyarakat (Relima) sedang cukup aktif diperbincangkan di tahun 2026 karena dijadikan salah satu program prioritas nasional untuk penguatan budaya literasi di Indonesia. Program ini sebenarnya diluncurkan sejak tahun 2025. Pada tahun 2026 skalanya diperluas dan mulai terlihat dampaknya di banyak daerah.
Tahun ini, jumlah relawan disebut mencapai sekitar 360 orang yang tersebar di 322 kabupaten/kota di Indonesia.

Fokus utama Relima bukan sekadar kegiatan membaca buku, tetapi juga mengadvokasi kegiatan literasi, membangun jejaring dengan pemerintah daerah, mengadakan kegiatan literasi masyarakat, pendampingan komunitas, hingga penguatan perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Program ini dianggap strategis oleh Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, karena Relima dinilai mampu  menyentuh langsung masyarakat dan membuat perpustakaan lebih hidup sebagai pusat aktivitas sosial dan kreativitas, bukan hanya tempat menyimpan buku.



Keberlanjutan program Relima ini tentunya tidak lepas dari perjuangan dan kerja keras para Relima pada tahun sebelumnya. Tahun 2025, 180 Relima Perpusnas RI bergerak bersama menyalakan api literasi hingga ke pelosok negeri. 

Aku menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman Relima di pelosok dan daerah kepulauan berjuang menjaga api literasi tetap menyala di tengah keterbatasan. Aku yang berada di wilayah Kutai Kartanegara, salah satu kabupaten terluas di Indonesia, masih kerap mengeluh karena kesulitan menjangkau daerah-daerah yang jauh dari tempat tinggalku. Tapi kemudian, aku merasa malu saat melihat ada Relima lain yang perjuangannya jauh lebih berat. Mereka harus menyebrang dari pulau ke pulau. Menghabiskan biaya transport yang tidak sedikit, tapi tetap bersemangat. Itulah salah satu alasan untukku agar tidak menyerah pada keadaan.

Relima hadir bukan untuk mencari penghasilan atau sekedar mencari cuan di Perpusnas RI. Sebab, sebelum menjadi Relima, teman-teman sudah berjuang penuh menjaga api-api literasi agar tidak padam. Mayoritas adalah pengelola TBM (Taman Bacaan Masyarakat) yang berdiri secara mandiri dan membiayai TBM-Nya sendiri. Semua relawan bergerak dari hati untuk masa depan bangsa. Jadi, kalau ada Relima yang hanya mengejar cuan, aku rasa tidak akan mampu bertahan. Sebab, honorarium yang didapat terkadang tidak lebih besar dari biaya operasional yang digunakan Relima dalam kegiatan dan pergerakannya. Aku harap, tahun ini Relima Perpusnas RI akan lebih baik lagi.

Untuk membantu kegiatan Relima Tahun 2026, Perpustakaan Nasional memberikan Bimbingan Teknis (Bimtek) kepada 360 Relima Perpusnas RI agar peran dan fungsi Relima dapat berjalan dengan baik di daerah masing-masing.



Relima memiliki 3 fungsi utama, yakni inventarisasi, kegiatan literasi, dan advokasi. 



Tidak hanya itu, Relima juga dituntut untuk memenuhi capaian atau target yang telah ditentukan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Relima dianggap berhasil jika capaian kinerja bisa dipenuhi 100%.

Tidak hanya itu, Relima juga memiliki banyak tugas dan kegiatan untuk menjaga nyala api literasi tetap menyala dan memiliki program yang berkelanjutan. Sehingga, ketika kontrak Relima sudah selesai, Relima tetap bisa bergerak dan berdampak di masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan.

Aku berharap, program Relima ini bisa terus berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya agar buku-buku di taman baca dan perpustakaan bisa tetap hidup dan menghidupkan.

Juknis Relima Tahun 2026 dapat dilihat dari link resmi Perpusnas RI berikut ini: https://linktr.ee/InfoRelima2026



Monday, May 18, 2026

Launching Relima Perpusnas RI Tahun 2026, Selamat Bertugas, Semoga Bermanfaat!

 


Menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional adalah mimpi kecil yang pernah aku ukir beberapa tahun lalu. Sejak tahun 2017, aku sudah aktif menulis bersama sebuah komunitas menulis. Saat itu, banyak hal yang aku lakukan agar aku bisa terus berlatih dan belajar menulis lebih baik lagi. Sebab, aku tidak mengerti apa pun tentang dunia kepenulisan saat itu.

Setelah belajar banyak di komunitas, aku mulai melangkah ke tempat lain untuk mengasah kemampuan menulis. Menjejaki beberapa platform menulis online.

Pertama kali menulis, tidak ada yang berkenan membaca tulisanku. Mungkin, hanya aku sendiri yang membacanya setelah dirilis selama beberapa minggu atau beberapa bulan. Tapi aku tetap menulis hingga suatu hari tulisanku dilirik oleh editor sebuah platform online. Dari situ, ilmu kepenulisanku terus berkembang karena editor selalu memberikan ilmu, materi dan tantangan baru dalam dunia kepenulisan.

Ada 2 tempat yang terasa begitu sulit untuk aku masuki, salah satunya adalah Perpusnas RI. Bagiku, tidak semua penulis, tulisannya bisa diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional. Tulisan-tulisan yang diterbitkan oleh Perpusnas adalah tulisan yang berkualitas tinggi. Aku ingin tulisanku bisa diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional, tapi aku selalu merasa "tidak mungkin", sebab keinginan itu terlalu tinggi.

Ternyata istilah "tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini" benar-benar ada. Tahun 2025, aku berhasil menjadi bagian dari Perpusnas RI melalui program Relima Perpusnas RI 2025. Tentunya tidak mudah untuk bisa menjadi bagian dari Perpusnas RI. Kita wajib mengirimkan esai tulisan kita agar bisa lolos kurasi. 

Di akhir pengabdian, perasaanku tak karuan. Terlebih dengan kebijakan pemerintah tentang efisiensi. Perpustakaan Nasional RI juga tak luput dari kebijakan efisiensi anggaran. Saat itu, semangatku mulai meredup. Bagaimana kita yang hanya masyarakat biasa, bisa bergerak jika stakeholder penting atau pemangku kepentingan saja tidak berdaya dan tidak mampu membuat kami menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Kemudian, 31 Maret 2025, aku mendapatkan kabar gembira tentang keberlanjutan program Relima. Admin Perpusnas RI yang baru, memintaku untuk mengirimkan esai baru sebelum tanggal 5 April 2026. Aku tidak lagi diminta persyaratan administrasi karena sudah lolos administrasi Relima 2025. Tapi aku wajib mengirimkan esai baru tentang perjalanan Relima tahun sebelumnya.

Esai berjudul "Relima Sebagai Role Model Literasi Kesejahteraan" membawaku lolos kembali menjadi Relima Tahun 2026. 

Sebenarnya, aku ingin vakum sementara dari kegiatan literasi karena aku sedang hamil anak ke-3. Aku khawatir tidak bisa memaksimalkan tugasku sebagai Relima karena akan repot dengan bayi baru. Tapi kemudian, kawanku memberi semangat untuk terus berlanjut. Aku juga khawatir jika Perpusnas RI tidak akan lagi percaya padaku jika aku sendiri menjadikan "kehamilan" ini sebagai rintangan yang tidak bisa aku takhlukan.



Kemudian, 13 Mei 2026, PPUK Perpusnas RI mengumumkan hasil Seleksi Relima Tahun 2026 melalui akun instagram gemarmembaca.id.
Tahun lalu, Relima Provinsi Kaltim hanya ada di 3 lokus (lokasi khusus), yakni Kota Balikpapan, Kabupaten Paser, dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Tahun ini personel Relima Kaltim bertambah menjadi 6 orang dari 5 lokus kabupaten/kota, yakni Kota Balikpapan (Budi Utomo, S.P), Kutai Kartanegara (Walrina), Kabupaten Paser (Faizzatul Wahidah), Kutai Timur (Abdul Muzh'af Suriadi, A.Md) dan Kota Samarinda (Rahmad Azazi Rhomantoro dan Andi Faisal, S.Pd, M.Pd). 



Tanggal 18 Mei 2026 menjadi hari bersejarah bagi Relima Perpusnas RI Tahun 2026. Hari ini merupakan hari peluncuran program Relima Tahun 2026. Ada 360 Relima yang akan bertugas menjaga api literasi di negeri ini tetap menyala. Sebab, buku-buku itu tidak akan hidup jika kita tidak menghidupkannya.

Selain launching program Relima Tahun 2026, juga ada kegiatan pengukuhan Duta Baca Indonesia tahun 2026. Mas Gol A Gong masih dipercaya oleh Perpusnas RI untuk menjadi Duta Baca Indonesia tahun ini. Program Safari Literasi yang beliau canangkan, memiliki dampak besar bagi perkembangan literasi di Indonesia.


Kolaborasi Duta Baca Indonesia dan Relima Perpusnas RI tentunya akan menghasilkan gerakan-gerakan yang luar biasa. Aku harap, kolaborasi ini akan terus berjalan dan bersinergi hingga ke daerah-daerah. Sehingga, antara Relima dan Duta Baca tidak berjalan sendiri-sendiri. Kami bisa saling berangkulan dan bersinergi dalam melakukan gerakan literasi di daerah masing-masing. Bagaimana menurutmu? Akankah gerakan literasi di daerah terus menyala dan makin membara dengan adanya Relima Perpusnas RI dan Duta Baca Indonesia?

Aku berharap akan menjadi gerakan yang lebih besar, mampu mencerdaskan dan menjaga martabat bangsa.





Tuesday, May 12, 2026

Perfect Hero Bab 534 : Undangan Pesta Balas Dendam

 


“Yan, besok kamu sibuk, nggak?” tanya Rullyta yang tiba-tiba sudah duduk di samping Yana saat wanita itu sedang bersantai di halaman belakang rumahnya.

 

“Lagi nggak ada agenda. Kenapa?” tanya Yana.

 

“Aku kesel banget sama sepupunya Yuna itu. Mau ngasih pelajaran secepatnya ke dia. Kamu tahu, anak menantuku dibikin bengkak wajahnya gara-gara tamparan dari dia. Aku heran sama Yuna, dia itu masih aja baik sama keluarganya yang jahat itu,” tutur Rullyta dengan nada berapi-api.

 

“Kalau ada ikatan saudara, memang seperti itu. Walau sering berantem, ntar baik lagi. Anak-anakku juga sering begitu.”

 

“Ini bukan berantem biasa, Yan. Yuna sampai bengkak begitu mukanya. Tega banget. Aku harus balas perlakuan mereka ke anak menantuku. Dia pikir, kami mau diam aja diperlakukan seperti ini?”

 

“Apa rencana kamu?” tanya Yana.

 

“Aku mau balas dendam ke anak itu. Dia harus tahu, dia lagi berhadapan dengan siapa saat ini. Aku mau buat pesta teh.”

 

“Boleh juga.”

 

“Kamu undang si Mega itu. Harus bawa anak menantunya ke pesta kali ini!”

 

“Gampang. Aku juga bakal undang istri orang-orang penting di kota ini. Aku yakin, akan lebih menyenangkan kalau mereka semua menjadi saksi.”

 

Rullyta mengangguk-anggukkan kepala. “Mereka berdua harus tahu sedang berhadapan dengan siapa. Dia pikir, aku bakal diam aja lihat anak menantuku disiksa sama saudaranya sendiri?”

 

Yana tersenyum sambil menatap Rullyta. Mereka mulai membicarakan persiapan dan rencana yang akan mereka buat pada pesta teh kali ini.

 

 

 

...

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

“Permisi, Nyonya ...!” sapa seorang pelayan sambil menghampiri Mega yang sedang bersantai di balkon rumahnya.

 

“Ya, ada apa?”

 

“Ada yang ngantar undangan,” jawab pelayan tersebut sambil menyodorkan kertas undangan ke arah Mega.

 

“Makasih, ya!” ucap Mega sambil meraih kertas undangan tersebut. Ia langsung membuka undangan itu dan membacanya.

 

“Cuma orang-orang penting yang datang ke perjamuan istri walikota, aku harus datang dengan penampilan yang paling baik. Di sana, pasti banyak istri pejabat dan pengusaha besar di kota ini,” tutur Mega sambil tersenyum bahagia.

 

Mega menghela napas sambil bangkit dari tempat duduknya. Baru saja ingin melangkah masuk, ponselnya tiba-tiba berdering.

 

Senyuman di bibir Mega mengembang begitu ia melihat nama istri walikota terpampang di layar ponselnya.

 

“Halo ...!” sapa Mega begitu ia menjawab panggilan telepon dari Yana.

 

“Halo, apa kabar?” sapa Yana.

 

“Baik, Yan. Gimana kabar kamu?”

 

“Alhamdulillah, baik. Undangan dari aku, sudah sampai?”

 

“Sudah, Yan. Baru aja sampai ke tanganku.”

 

“Bisa datang?”

 

“Bisa, dong.”

 

“Bawa menantu kamu ya!”

 

“Menantu?”

 

“Iya.”

 

“Mmh ... oke. Aku bakal bawa dia.”

 

“Iya. Harus dibawa dong, menantu kamu yang cantik itu.”

 

“Siap, siap!”

 

“Oke. Aku tutup teleponnya ya! Masih mau telepon tamu undangan yang lain.”

 

“Iya.”

 

Mega tersenyum bahagia begitu Yana menutup panggilan teleponnya. Namun, senyumnya hilang begitu ia mengingat wajah Bellina. Ia enggan membawa Bellina pergi ke pesta itu.

 

“Huft, kenapa harus bawa anak itu?” celetuknya. Tapi, ia tetap menekan nomor ponsel Bellina dan mengajaknya pergi ke perjamuan teh kali ini.

 

Mega sangat menyukai teh, ia dan wanita-wanita sosialitanya, seringkali menikmati aneka teh segar dari beberapa jenis daun teh yang ada di dunia. Di perjamuan teh kali ini, istri walikota akan menyajikan aneka jenis daun teh dari berbagai negara. Ini bukan pertama kalinya ia pergi ke jamuan teh, sehingga ia sangat antusias untuk hadir di antara ibu-ibu penikmat teh terbaik di dunia.

 

 

 

...

 

 

 

“Satria ...!” teriak Yana sambil menengadahkan kepalanya ke lantai atas.

 

“Iya, Ma. Kenapa?” sahut Satria.

 

“Tolongin Mama sebentar!”

 

Satria bergegas keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Ia menghampiri mamanya yang sudah berdiri di bawah anak tangga. “Ada apa?”

 

“Mama mau undang temen-temen mama menikmati perjamuan teh hari ini.”

 

“Terus? Aku disuruh beli teh lagi?” tanya Satria sambil mengenakan kaos lorengnya.

 

“Bukan. Mama mau, kamu jemput Yuna ya!”

 

“Yuna? Siapa lagi? Oh ... Mama bikin pesta kayak gini, mau nyariin aku jodoh? Aku nggak mau!” sahut Satria sambil berbalik dan menaiki anak tangga kembali ke kamarnya.

 

“Hei, mama belum selesai ngomong. Kamu main pergi aja!”

 

Satria menghentikan langkahnya. “Ma, Satria nggak mau dijodohin! Aku bisa cari istri sendiri. Ganteng gini, pakai acara jodoh-jodohan segala!”

 

“Kamu itu, dengerin mama dulu! Jangan nyerocos terus! Mama nyuruh kamu jemput si Yuna, istrinya Yeri. Bukan mau jodohin kamu.”

 

“Astaga! Istrinya Yeri? Kakak Ipar Kecil yang cantik dan baik hati itu?” tanya Satria sambil menatap Yana. Ia bergegas menuruni anak tangga kembali.

 

“Iya. Yeri lagi sibuk, nggak bisa antar. Jadi, kamu jemput dia! Mama sudah telepon si Yeri. Dia minta tolong kamu jemputin.”

 

“Yes! Bisa berduaan sama Kakak Ipar Kecil,” tutur Satria sambil mencolek dagu mamanya.

 

Yana mengernyitkan dahi sambil menatap Satria. “Eh, ingat! Dia istrinya sahabat kamu sendiri. Mau digodain!?”

 

“Hahaha. Bercanda, Ma. Yeriko itu cemburunya ngalah-ngalahin erupsi Merapi. Aku bisa panas-panasin dia. Aku ajak Kakak Ipar Kecil foto selfie bareng di mobil. Biar jenggotnya dia kebakar! Eh, dia nggak punya jenggot. Rambutnya aja deh yang kebakar. Biar otaknya mateng! Hahaha.”

 

“Kamu ini ... senang banget ngerjain temen sendiri,” tutur Yana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Siapa suruh cemburuan banget jadi laki-laki. Lagian, si Yuna juga cantiknya kebangetan. Kalau ketemu sama aku duluan, aku yang nikahin dia!” ucap Satria sambil mencomot roti bakar yang ada di atas meja makan dan melahapnya.

 

“Sat, jangan dibiasakan makan sambil jalan!” tegur Yana. “Kayak sapi aja.”

 

Satria menahan tawa sambil menatap wajah mamanya. “Ma, manusia itu paling pintar kalau bertingkah seperti binatang,” sahutnya dengan mulut penuh roti.

 

“Sama kayak kamu, pintar berdalih kalau dikasih tahu sama orang tua,” tutur Yana sambil menatap wajah puteranya.

 

Satria terkekeh. “Ini ‘kan hasil didikan mama,” celetuknya.

 

Yana melebarkan kelopak matanya.

 

Satria meringis menanggapi raut wajah mamanya yang menyimpan kemarahan. “Jangan marah-marah, Ma! Ntar cantiknya ilang. Aku jemput Kakak Ipar, sekarang. Pakai mobil yang mana?”

 

“Terserah mau pakai mobil mana!”

 

“Mobilnya kakak aku pakai ya!”

 

“Kenapa nggak pakai mobil kamu sendiri?”

 

“Kurang nyaman. Bagusan mobil kakak. Kuncinya mana, Ma?”

 

“Cari di sana!” jawab Yana sambil menunjuk sudut ruangan, tempat menggantung kunci kendaraan dan kunci-kunci rumahnya. “Panasin dulu! Kakakmu sudah lama nggak pakai mobilnya.”

 

“Keenakan di luar negeri, nggak ingat pulang,” celetuk Satria sambil meraih kunci mobil yang tergantung di tempatnya dan bergegas melangkah menuju garasi.

 

Yana tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah puteranya. Meski disegani di luar sana, Satria tetaplah menjadi anak yang sederhana dan sangat berisik baginya.

 

 ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas