Tuesday, May 26, 2026

Buras bukan Sekadar Makanan, Ini Adalah Tradisi yang Harus Dijaga!

 

Idul Adha tahun ini, aku menemukan sebuah fenomena yang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. 

Aku lahir dan besar di wilayah transmigrasi yang mayoritas penduduknya adalah orang Jawa. Tapi, bukan berarti tidak ada penduduk suku lain. Desaku bukan hanya diisi oleh orang suku Jawa, tapi juga ada suku Sunda, Banjar, Batak, Dayak, dan Bugis.

Ada budaya yang sangat menarik ketika Idul Adha bagi orang-orang suku Bugis. Yakni, membuat Buras. Bagi mereka, buras adalah makanan wajib yang harus mereka sediakan untuk keluarga saat lebaran.

Tahun ini, bukan hanya orang Bugis yang berlomba-lomba membuat buras untuk meramaikan Hari Raya Idul Adha. Orang-orang Jawa di sekitarku juga sudah mulai menikmati tradisi yang satu ini. Saat aku berkeliling membagikan kupon kurban (kebetulan aku adalah Ketua RT), aku menemukan beberapa rumah warga disibukkan dengan membuat Buras, padahal mereka bukan berasal dari suku Bugis.

Hal ini, tentu sangat menarik. Sebab, tradisi suku Bugis berhasil memengaruhi suku lain. Hal ini tentunya akan berdampak positif pada tradisi leluhur yang akan terus terjaga.

Kita semua tahu bahwa Buras atau sering juga disebut sebagai Burasa adalah makanan khas Suku Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan. Bentuknya mirip lontong, tetapi rasanya lebih gurih karena dimasak menggunakan santan. 

Dalam suku Bugis dan Makassar, buras bukan sekadar makanan, tetapi simbol hubungan sosial, penghormatan dan kebersamaan keluarga.





Pembuatan buras biasanya tidak dilakukan sendiri. Saat menjelang Lebaran atau acara adat, para perempuan keluarga akan berkumpul untuk mencuci beras, memasak santan,

membungkus daun pisang, lalu mengikat buras bersama-sama.

Proses ini menjadi ruang silaturahmi dan mempererat hubungan keluarga. Tradisi “mabburas” di beberapa daerah bahkan dianggap bagian penting dari persiapan hari besar.

Ikatan tali yang digunakan untuk membuat buras juga tidak biasa. Ikatan itu terlihat banyak dan kuat. Ini adalah simbol persatuan. 

Buras diikat berjajar menggunakan tali rafia atau serat daun. Dalam pandangan budaya lokal, ikatan itu sering dimaknai sebagai hubungan kekeluargaan, persatuan, dan harapan agar rezeki serta hubungan antarkerabat tetap “terikat erat”.

Karena itu buras sering dibagikan ke tetangga dan keluarga sebagai tanda kasih dan penghormatan.

Berbeda dari lontong biasa, buras memakai santan yang pada masa dahulu dianggap bahan “mewah”. Karena itu buras identik dengan jamuan istimewa, penghormatan untuk tamu, dan simbol kecukupan rezeki.

Di banyak keluarga Bugis-Makassar, menyajikan buras saat hari raya dianggap bentuk penghormatan kepada tamu dan leluhur.

Buras hampir selalu hadir saat Eid al-Fitr, pesta pernikahan, aqiqah, syukuran rumah, hingga acara adat keluarga besar.

Tanpa buras, suasana Lebaran di banyak keluarga Sulawesi Selatan terasa “belum lengkap”.

Buras bukan sekedar makanan. Inj juga menyimbolkan suasana kesederhanaan yang bermakna.  Walaupun bahan dasarnya sederhana—beras, santan, dan daun pisang—buras membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan waktu lama untuk memasak.

Karena itu ia sering dimaknai sebagai pengingat bahwa sesuatu yang baik lahir dari proses yang tidak instan.

Tradisi kuliner seperti buras juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Bugis-Makassar memandang makanan bukan hanya untuk kenyang, tetapi sebagai media menjaga hubungan sosial, identitas budaya, dan penghormatan terhadap tamu maupun keluarga.


Sumber referensi:

detik.com

tabloidsinartani.

En.wikipedia.org


Jadi, gimana dengan kamu, nih?. 

Kalau kamu bukan orang bugis, apakah sudah ketularan dengan tradisi membuat makanan enak yang satu ini? 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas