Satu jam sebelum perjamuan teh ...
“Sore, Bunda ...!” sapa Yuna begitu ia masuk ke
dalam rumah pribadi istri walikota.
“Sore, Cantik ...!” balas Yana penuh semangat. Ia
menghampiri Yuna dan merangkulnya penuh kehangatan. “Kembarannya Bunda ...
akhirnya datang juga.”
“Jauhnya, Ma ...!” sela Satria sambil tertawa
kecil.
“Yee ... waktu masih muda, mama juga cantik kayak
dia,” dengus Yana sambil menatap wajah Satria.
Yuna tertawa kecil. “Pastinya Bunda Yana lebih
cantik dari aku waktu masih muda. Anaknya aja bisa ganteng banget kayak gini.”
“Peres!” sahut Satria.
“Kamu ini ... dipuji malah kayak gitu,” tutur Yana
sambil menatap Satria.
“Aku baru percaya dia ngomong jujur kalau dia
milih aku jadi suaminya, bukan milih Yeriko. Coba mama tanya ke dia! Ganteng
mana, aku tau Yeri?”
Yuna menahan tawa mendengar pertanyaan Satria.
“Hayo ...!?” Satria menunjuk wajah Yuna. “Ganteng
mana?”
Yuna meringis ke arah Satria. “Ganteng kamu, kok.”
“Jangan pake ‘kok’! Kesannya terpaksa kalau
ngomongnya pakai ‘kok’. Emangnya main badminton!?”
“Itu cock, Sat! Ce-o-ce-ka!”
“Itu kan kalau di luar negeri. Kalau di dalam
negeri, namanya tetep kok!” sahut Satria tak mau kalah.
“Udah, nggak usah berdebat cuma gara-gara kok!”
sela Yana. “Kamu naik ke kamar, sana! Sebentar lagi, temen-temen mama mau
datang, nih.”
“Mama Rully udah ada, Bun?” tanya Yuna.
“Udah, lagi siap-siap di halaman belakang.”
“Hawa-hawanya, emak-emak semua ini ... aku pergi
aja!” ucap Satria sambil melengos pergi.
“Ke mana?”
“Jalan-jalan!” sahut Satria sambil melangkah
pergi.
“Bawain mama oleh-oleh ya!”
“Oleh-oleh apa? Calon mantu?” tanya Satria sambil
terkekeh geli.
Yana menganggukkan kepala, “High quality is number
one!”
Satria tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan
kepala. “Dikira nyari istri kayak nyari pentol bakso?” celetuk Satria sambil
melangkahkan kakinya keluar rumah. Tangannya sibuk memainkan kunci sampai ia
menjangkau mobilnya.
Di dalam rumah, Yana hanya mengajak Yuna menemui
Rullyta yang sedang menyiapkan banyak hal untuk perjamuan kali ini.
“Sore, Ma ...!” sapa Yuna. “Ada yang bisa
dibantu?”
“Hei ...! Udah datang?” Rullyta langsung berbalik
dan memeluk pundak Yuna. “Cantik banget!” pujinya sambil mencubit pipi Yuna.
“Mama juga cantik,” balas Yuna sambil tersenyum
menatap wajah mama mertuanya.
“Iya, dong. Walau udah tua, tetep harus tampil
cantik.”
Yuna tersenyum sambil menatap wajah Rullyta yang
masih terawat dengan baik meski usianya sudah menginjak lima puluh tahun.
“Ada yang bisa aku bantu, Ma?” tanya Yuna.
“Nggak ada. Kamu duduk aja! Semuanya udah siap,
tinggal tunggu tamu undangan datang.”
“Oh.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala. Ia duduk
di salah satu kursi yang ada di taman tersebut.
“Kamu lagi hamil, duduk santai di sini aja!” pinta
Bunda Yana sambil menunjuk ke arah kursi yang sudah ia siapkan di taman
tersebut.
Yuna menganggukkan kepala. Ia mengamati suasana
taman belakang yang ada di rumah walikota tersebut. Ukurannya tidak terlalu
besar, tapi sangat sejuk dan asri. Tidak ada kolam renang seperti yang ada di
belakang rumahnya. Akuarium dinding yang mengelilingi taman tersebut membuat
tempat itu semakin sejuk.
“Eh, mereka udah mulai datang. Aku terima tamu
dulu, ya!” pamit Bunda Yana sambil bergegas menuju pintu utama rumahnya.
Yuna dan Rullyta menganggukkan kepala. Mereka
duduk berdampingan sambil menikmati pemandangan yang begitu menyejukkan mata.
“Ma, tamannya asyik banget ya? Aku baru sekali
masuk ke sini. Mmh ... butuh biaya berapa bikin akuarium dinding kayak gini
ya?”
“Kamu mau bikin juga?” tanya Rullyta.
Yuna menganggukkan kepala. “Kayaknya bagus kalau
di rumah ada akuarium dinding, jadi lebih sejuk. Tapi ... Yeriko suka atau
nggak, ya? Dia kan lempeng banget.”
“Apa pun yang kamu buat, dia pasti suka,” sahut
Rullyta sambil tersenyum.
“Ah, Mama ...! Belum tentu.”
“Kalau dia marah sama kamu, kasih tahu mama! Biar
mama marahin balik!”
“Hahaha. Jangan, Ma! Aku nggak tega lihatnya kalau
mama marahin dia terus.”
“Huft, kamu ini ... ujung-ujungnya belain suami
kamu yang ngeselin itu!”
“Ma, dia anak mama, loh.”
“Nggak. Dia bukan anak mama! Udah mama tukar sama
kamu. Sekarang, dia menantu mama, hahaha.”
Yuna ikut tergelak mendengar candaan Rullyta.
“Mama ... ada-ada aja.”
Rullyta dan Yuna terus bercanda ria bersama hingga
beberapa orang tamu yang datang mulai menyapa mereka.
“Rul, ini menantu kamu, ya?” tanya salah seorang
tamu yang ada di ruangan tersebut.
Rullyta menganggukkan kepala.
“Wah, sudah berapa bulan?” tanya wanita itu sambil
mengelus perut Yuna yang buncit.
“Delapan bulan, Tante.”
“Wah, udah deket lahiran! Semoga sehat terus
sampai lahiran nanti!”
“Aamiin ...”
Di saat yang bersamaan, Mega dan Bellina masuk ke
taman tersebut. Mata Bellina langsung tertuju pada Yuna yang sedang dikerumuni
beberapa ibu-ibu pejabat yang beberapa orang di antaranya sudah sangat dikenal
di tengah-tengah masyarakat.
Yuna hanya tersenyum begitu melihat Bellina sedang
menatapnya. Ia langsung mendekati Rullyta yang berdiri tak jauh darinya. “Ma,
kenapa ada Bellina di sini?”
Rullyta hanya memainkan alis sambil menatap wajah
Yuna.
Yuna mengangkat kedua alisnya. Ia baru mengerti
kalau mama mertua dan sahabatnya sedang menyiapkan jamuan terselubung untuk
mereka. Ia harap, apa yang dilakukan mama mertuanya bisa membuat Bellina jera
dan berhenti mengganggunya.
“Selamat sore semuanya ...!” sapa Bunda Yana pada
semua tamu undangan yang sudah hadir di acara tersebut. “Hari ini, saya
sengaja mengundang kalian untuk menikmati pesta teh dari berbagai belahan
dunia. Kalian pasti akan suka dengan aneka teh yang ada di sini. Selamat
mencoba!”
Semua orang menganggukkan kepala. Mereka segera
mencoba teh yang dihidangkan di tempat tersebut.
“Oh ya, saya juga mau memperkenalkan salah satu
penggemar teh terbaik di dunia. Ada Ibu Mega yang sudah hadir di tempat ini.
Dia akan berbagi pengalamannya dalam menikmati teh terbaik yang ada di seluruh
dunia. Silakan, Ibu Mega! Semua orang ingin mendengarkan pengalaman Anda kali
ini.”
Mega langsung melebarkan kelopak matanya. Ia
memang sangat suka menikmati teh. Namun, ia tidak begitu memahami jenis-jenis
teh terbaik yang ada di seluruh dunia. Ia hanya mencoba beberapa teh
kesukaannya dan tidak bisa menjelaskan lebih banyak.
Mega mengedarkan pandangannya sambil tersenyum. Ia
tidak ingin menjatuhkan harga dirinya begitu saja di depan semua orang.
Rullyta langsung menghampiri Mega dan berdiri di
sebelahnya. “Kamu pernah bilang kalau sudah pernah menikmati aneka teh dari
berbagai daerah. Aku sudah menyiapkan teh seduh yang bisa kamu kenali dari rasa
dan aromanya,” ucapnya sambil menyodorkan secangkir teh ke arah Mega.
Mega tersenyum. Ia mengangguk sopan sambil meraih
teh dari tangan Rullyta.
Rullyta menoleh ke arah pelayan yang memegang
nampan berisi teko yang berdiri di sisinya. Ia kembali menuangkan teh ke dalam
cangkir. “Menurut kamu, ini teh yang berasal dari mana?”
Mega menyesap teh yang sudah ada di tangannya.
Rullyta tersenyum sambil menatap wajah Mega yang
terlihat ragu-ragu saat menyesap teh tersebut.
“Teman-teman ...! Kebetulan di sini ada menantu
saya. Dia juga sering menemani saya menikmati teh-teh terbaik dari berbagai
daerah. Dia juga lulusan Melbourne University dan sudah mencoba banyak produk
teh dari berbagai tempat.” Rullyta menoleh ke arah Yuna sambil mengerdipkan
salah satu matanya. “Sini ...!” ajaknya kemudian.
Yuna tersenyum. Ia bangkit dari tempat duduk
sambil menghampiri Rullyta.
Rullyta memberikan secangkir teh yang sama dengan
yang ia berikan pada Mega. Ia memperhatikan Yuna yang menyesap teh itu perlahan
sambil menikmati aroma daun teh segar yang mengepul di atas cangkir tersebut.
“Gimana?” tanya Rullyta sambil menatap Mega dan
Yuna bergantian. “Kalian bisa menebak, ini teh berasal dari mana?”
Yuna hanya tersenyum. Ia tidak langsung menjawab
pertanyaan dari Rullyta.
Melihat Yuna yang hanya tersenyum, Mega langsung
mengerti kalau Yuna juga tidak tahu menahu soal teh yang ada di tangannya itu.
“Dia masih terlalu muda, nggak mungkin punya kemampuan yang baik untuk
membedakan daun teh ini berasal dari mana,” batin Mega.
“Aku tahu ... dilihat dari warna, rasa dan aroma
ini ... ini adalah salah satu teh yang berasal dari pegunungan di India,” tutur
Mega sambil tersenyum penuh percaya diri.
Rullyta mengangkat kedua alisnya sambil menatap
wajah Mega. “Jawaban yang cerdas! Tapi ... kamu masih salah!”
Mega membelalakkan matanya. “Emangnya, kamu tahu
... ini teh dari mana?”
“Tahu banget. Aku yang beli,” jawab Rullyta sambil
tersenyum santai. Ia menoleh ke arah Yuna. “Gimana? Kamu udah bisa mendeteksi
teh ini dari mana?”
“Hmm ...!” Yuna mengendus aroma teh tersebut
sambil memutar-mutar cangkirnya perlahan. Kemudian, ia menganggukkan kepala.
“Ini adalah salah satu teh yang aromanya sangat khas dan yang paling aku suka.
Produk dalam negeri yang sudah mendunia dan paling banyak diminati di pasar
Eropa. Ini teh hitam yang berasal dari kaki Gunung Kerinci.”
“Sekilas, memang hampir mirip dengan teh hitam
dari daerah Assam yang ada di India. Tapi ... rasa di akhirnya sangat berbeda.
Rasa dari teh yang ini tidak akan hilang walau dicampur dengan makanan atau
rempah-rempah lain. Salah satu alasan kuat yang membuat produk ini bisa masuk
ke pasar Eropa dengan mudah,” jelas Yuna.
Rullyta langsung tersenyum bangga mendengar
penjelasan dari Yuna. “Bener banget! Teh hitam yang satu ini, memang aku beli
langsung dari pegunungan Kerinci. Teh ini terkenal di Eropa. Aku pernah
menikmati teh ini di salah satu jalan di Eropa dan cukup kaget dengan produk
lokal, rasa internasional ini.”
Mega tersenyum sinis sambil menatap Rullyta dan
Yuna. “Jelas aja dia tahu kalau ini teh dari pegunungan Kerinci. Udah kamu
kasih tahu lebih dulu ‘kan?”
Rullyta tersenyum menanggapi ucapan Mega. “Kalau
memang kamu curiga seperti itu ... silakan ambil produk teh lain yang ada di
sini dan kita uji pengetahuan soal semua teh yang ada di sini.”
“Oke, siapa takut!?” sahut Mega. Ia tidak ingin
menjatuhkan harga dirinya di depan semua orang. Maka, ia menerima tantangan
dari Rullyta untuk membuktikan kalau ia tidak akan kalah dengan Yuna.
“Silakan pilih!” perintah Rullyta.
Mega langsung memilih salah satu white tea yang
ada di meja lain dan mencobanya.
“Gimana? Ini teh dari mana?”
“Ini teh Fujian,” jawab Mega sambil menyesap teh
yang ada di tangannya.
Rullyta tertawa kecil. “Itu bukan teh Fujian.”
“Terus?” tanya Mega sambil mengerutkan dahinya.
Rullyta menoleh ke arah Yuna untuk ikut mencoba
teh tersebut.
Yuna mengangguk dan mencicipi teh yang sama. Ia
langsung tersenyum begitu menyesap teh tersebut. “Emang mirip dengan rasa teh
Fujian. Tapi, ini salah satu white tea grade 1 dari pegunungan di Cirebon.
Bener atau nggak, Ma?”
Rullyta tersenyum sambil menatap wajah Yuna.
“Tanya ke Bunda Yana. Soalnya, teh yang satu ini ... disiapkan sama dia.”
Yuna langsung menoleh ke arah Bunda Yana yang
mengacungkan jempol ke arahnya. Ia langsung tertawa bahagia karena bisa menebak
rasa teh itu dengan baik.
Mega menahan malu karena tidak bisa membedakan
rasa teh dari berbagai daerah. Meski begitu, ia tetap saja berdiri sambil
membusungkan dada. Ia tidak ingin terlihat payah di depan semua orang yang ada
di sana.
Di sudut lain, Bellina juga menatap Yuna penuh
kebencian. Ia semakin iri melihat Yuna yang selalu mendapat pujian dari banyak
orang. Sementara, semua orang tidak pernah melihat dirinya sama sekali.
((Bersambung ...))
Kalau kalian, suka teh jenis
apa?
Author sih suka semuanya,
lebih suka lagi kalau ngetehnya bareng kamu ... iya, kamu! Eeeaak ...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
.png)
0 komentar:
Post a Comment