Saturday, May 23, 2026

JURI PESANAN

 


"Saya mau anak saya Juara Nasional, apapun caranya!" pinta Muhdi sambil menatap serius ke arah Parman. 
"Mohon maaf, Pak! Saat ini peraturan dari pemerintah pusat sangat ketat. Untuk bisa jadi Juara Nasional, harus menjadi juara terlebih dahulu di tingkat daerah, kabupaten/kota dan provinsi. Tidak bisa langsung ikut ke tingkat Nasional," sahut Parman. 
"Saya tahu. Kamu atur semuanya!" pinta Muhdi sambil mengeluarkan segepok uang berwarna merah dan menyodorkannya ke hadapan Parman. 
Parman menatap segepok uang itu dengan perasaan tak karuan. Ruang kerja ber-AC yang dingin itu mulai terasa panas. 
"Masih kurang?" tanya Muhdi. 
"Sa-saya tidak berani, Pak. Ini ..."
Muhdi menambahkan satu gepok uang lagi ke hadapan Parman. "Ini cuma untuk uang jajan juri dari tingkat RT sampai Provinsi. Kalau anakku berhasil menang di tingkat Nasional, aku akan kasih kamu segini juga. Khusus untuk kamu saja," jelasnya. 
Parman menatap tumpukan uang di hadapannya dengan perasaan tak karuan. Ia tidak ingin melakukan apa yang diperintahkan Muhdi. Tapi, ia juga sedang membutuhkan banyak uang untuk keluarganya. Istrinya yang sedang mengandung, memerlukan banyak biaya untuk bersalin. Putera pertamanya juga perlu biaya untuk masuk sekolah. 
"Uang segini banyak, apa harus aku sia-siakan? Kapan lagi aku bisa dapat uang sebanyak ini?" batin Parman. Hatinya masih bergelut dengan pikirannya sendiri. 
"Kalau kamu tidak bersedia, aku bisa memberikannya pada orang lain," ucap Muhdi. Ia tidak sabar menunggu keputusan dari Parman. 
Parman menarik napas panjang. "Baik, Pak. Tapi ... apakah pengeluaran Bapak sepadan dengan hadiahnya nanti? Saya rasa, hadiahnya juara juga tidak akan sebanyak ini. Mungkin hanya seperenam atau seperdelapan dari uang ini."
"Uang bukan masalah buat saya. Kamu juga tidak perlu tahu apa tujuan saya! Mau kerjakan atau saya minta orang lain?"
Parman mengangguk. Ia segera meraih dua gepok uang yang ada di atas meja dan memasukkan ke dalam tasnya. "Baik, Pak. Akan saya kerjakan."
Muhdi langsung tersenyum puas. "Kalau kamu gagal, kamu tahu apa konsekuensinya!"
Parman mengangguk. Ia segera pamit dan undur diri dari ruang kerja Muhdi. 
Muhdi bukanlah orang asing bagi Parman. Mereka sudah saling mengenal sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama. Muhdi kini sukses menjadi pengusaha sukses dan kaya raya, sedang ia bekerja di salah satu instansi pemerintahan yang penghasilannya pas-pasan. 
Hidup di ibukota bukanlah hal yang mudah. Biaya hidup sangat tinggi. Parman tidak bisa terus-menerus mengandalkan gaji pokok untuk membiayai kehidupan keluarganya. Ia harus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang tambahan. Salah satu hal yang bisa ia lakukan adalah menerima pekerjaan seperti ini. Mengatur semuanya dari balik layar. 

Sehari setelahnya, Parman memilih menghabiskan waktu di kafe yang tak jauh dari tempatnya bekerja. Ia terlihat sibuk dengan laptop dan ponselnya. Bukan untuk bekerja, melainkan untuk mencari informasi tentang juri-juri yang akan bekerja dari level daerah sampai nasional.
Jemari tangannya piawai menuliskan pesan penawaran. Sesekali ia memberikan penawaran via telepon. Bahkan, ada yang bisa diajak bertemu langsung untuk bernegosiasi. 
Dua minggu setelahnya, kompetisi antar sekolah itu dimulai. Mulai dari kompetisi antar sekolah, hingga kompetisi antar kabupaten/kota. Semuanya sudah diatur dengan baik. 
Parman tak tinggal diam. Meski ia tak pernah muncul ke ruang kompetisi, tapi amplop-amplop yang telah ia siapkan sudah mendarat ke tujuan masing-masing dan diterima dengan baik. 
"Siapa yang menolak kalau dikasih uang banyak," batin Parman sambil melihat video pengumuman Juara Provinsi. Semua seperti yang diharapkan Muhdi. Tim Lomba Cerdas Cermat puteri semata wayangnya berhasil menjadi Juara Provinsi. Mereka masih akan berkompetisi sekali lagi untuk memperebutkan gelar sebagai Juara Nasional. 
"Harusnya bukan tim ini yang Juara Provinsi. Tim B jawabannya selalu bdnar, tapi disalahkan. Giliran Tim C jawabannya sama dengan Tim B, langsung ditambahin poin."
"Iya. Jurinya nggak bener, nih!"

Parman terlonjak melihat video di media sosial yang tiba-tiba sudah sangat ramai dengan komentar netizen. 

Drrt ... Drrt ... Drrt ...! 
Parman mengalihkan perhatiannya ke ponsel yang baru saja berdering. 

Muhdi Memanggil ... 

Parman menarik napas panjang sebelum menjawab panggilan telepon dari Muhdi. Ia merasa kalau Muhdi juga mengetahui kabar yang beredar. 

"Kamu tahu kabar yang lagi viral sekarang?" tanya Muhdi tanpa basa-basi. 
"Tahu, Pak. Soal pengumuman juara Lomba Cerdas Cermat? Saya akan menghubungi pemilik akun agar menghapus videonya."
"Nggak perlu! Videonya sudah dibagikan ulang ribuan kali. Kalau tiba-tiba jejak digital mereka hilang, pasti banyak orang berpikir negatif."
Parman terdiam. Ia masih berpikir. Tidak tahu bagaimana caranya keluar dari masalah ini.
"Nggak usah hiraukan anak yang sedang mencari perhatian itu. Saya mau, kamu tetap fokus mengawal puteri saya. Pastikan kalau keputusan juri tidak terpengaruh oleh postingan dan komentar netizen. Anakku harus jadi Juara Nasional, apa pun caranya!" pinta Muhdi. 
Akhirnya, Parman melakukan segala cara agar keputusan juri tidak dapat diganggu gugat meski banyak polemik yang terjadi di luar sana. Ia tahu, segala sesuatu bisa diatur dengan baik jika ada uang. Sebab, kenyangnya manusia hanya bertahan sebentar aja. Mereka lebih banyak merasakan lapar daripada kekenyangan. Orang-orang yang selalu lapar akan lebih mudah dikendalikan. 






0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas