Tuesday, May 12, 2026

Perfect Hero Bab 534 : Undangan Pesta Balas Dendam

 


“Yan, besok kamu sibuk, nggak?” tanya Rullyta yang tiba-tiba sudah duduk di samping Yana saat wanita itu sedang bersantai di halaman belakang rumahnya.

 

“Lagi nggak ada agenda. Kenapa?” tanya Yana.

 

“Aku kesel banget sama sepupunya Yuna itu. Mau ngasih pelajaran secepatnya ke dia. Kamu tahu, anak menantuku dibikin bengkak wajahnya gara-gara tamparan dari dia. Aku heran sama Yuna, dia itu masih aja baik sama keluarganya yang jahat itu,” tutur Rullyta dengan nada berapi-api.

 

“Kalau ada ikatan saudara, memang seperti itu. Walau sering berantem, ntar baik lagi. Anak-anakku juga sering begitu.”

 

“Ini bukan berantem biasa, Yan. Yuna sampai bengkak begitu mukanya. Tega banget. Aku harus balas perlakuan mereka ke anak menantuku. Dia pikir, kami mau diam aja diperlakukan seperti ini?”

 

“Apa rencana kamu?” tanya Yana.

 

“Aku mau balas dendam ke anak itu. Dia harus tahu, dia lagi berhadapan dengan siapa saat ini. Aku mau buat pesta teh.”

 

“Boleh juga.”

 

“Kamu undang si Mega itu. Harus bawa anak menantunya ke pesta kali ini!”

 

“Gampang. Aku juga bakal undang istri orang-orang penting di kota ini. Aku yakin, akan lebih menyenangkan kalau mereka semua menjadi saksi.”

 

Rullyta mengangguk-anggukkan kepala. “Mereka berdua harus tahu sedang berhadapan dengan siapa. Dia pikir, aku bakal diam aja lihat anak menantuku disiksa sama saudaranya sendiri?”

 

Yana tersenyum sambil menatap Rullyta. Mereka mulai membicarakan persiapan dan rencana yang akan mereka buat pada pesta teh kali ini.

 

 

 

...

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

“Permisi, Nyonya ...!” sapa seorang pelayan sambil menghampiri Mega yang sedang bersantai di balkon rumahnya.

 

“Ya, ada apa?”

 

“Ada yang ngantar undangan,” jawab pelayan tersebut sambil menyodorkan kertas undangan ke arah Mega.

 

“Makasih, ya!” ucap Mega sambil meraih kertas undangan tersebut. Ia langsung membuka undangan itu dan membacanya.

 

“Cuma orang-orang penting yang datang ke perjamuan istri walikota, aku harus datang dengan penampilan yang paling baik. Di sana, pasti banyak istri pejabat dan pengusaha besar di kota ini,” tutur Mega sambil tersenyum bahagia.

 

Mega menghela napas sambil bangkit dari tempat duduknya. Baru saja ingin melangkah masuk, ponselnya tiba-tiba berdering.

 

Senyuman di bibir Mega mengembang begitu ia melihat nama istri walikota terpampang di layar ponselnya.

 

“Halo ...!” sapa Mega begitu ia menjawab panggilan telepon dari Yana.

 

“Halo, apa kabar?” sapa Yana.

 

“Baik, Yan. Gimana kabar kamu?”

 

“Alhamdulillah, baik. Undangan dari aku, sudah sampai?”

 

“Sudah, Yan. Baru aja sampai ke tanganku.”

 

“Bisa datang?”

 

“Bisa, dong.”

 

“Bawa menantu kamu ya!”

 

“Menantu?”

 

“Iya.”

 

“Mmh ... oke. Aku bakal bawa dia.”

 

“Iya. Harus dibawa dong, menantu kamu yang cantik itu.”

 

“Siap, siap!”

 

“Oke. Aku tutup teleponnya ya! Masih mau telepon tamu undangan yang lain.”

 

“Iya.”

 

Mega tersenyum bahagia begitu Yana menutup panggilan teleponnya. Namun, senyumnya hilang begitu ia mengingat wajah Bellina. Ia enggan membawa Bellina pergi ke pesta itu.

 

“Huft, kenapa harus bawa anak itu?” celetuknya. Tapi, ia tetap menekan nomor ponsel Bellina dan mengajaknya pergi ke perjamuan teh kali ini.

 

Mega sangat menyukai teh, ia dan wanita-wanita sosialitanya, seringkali menikmati aneka teh segar dari beberapa jenis daun teh yang ada di dunia. Di perjamuan teh kali ini, istri walikota akan menyajikan aneka jenis daun teh dari berbagai negara. Ini bukan pertama kalinya ia pergi ke jamuan teh, sehingga ia sangat antusias untuk hadir di antara ibu-ibu penikmat teh terbaik di dunia.

 

 

 

...

 

 

 

“Satria ...!” teriak Yana sambil menengadahkan kepalanya ke lantai atas.

 

“Iya, Ma. Kenapa?” sahut Satria.

 

“Tolongin Mama sebentar!”

 

Satria bergegas keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Ia menghampiri mamanya yang sudah berdiri di bawah anak tangga. “Ada apa?”

 

“Mama mau undang temen-temen mama menikmati perjamuan teh hari ini.”

 

“Terus? Aku disuruh beli teh lagi?” tanya Satria sambil mengenakan kaos lorengnya.

 

“Bukan. Mama mau, kamu jemput Yuna ya!”

 

“Yuna? Siapa lagi? Oh ... Mama bikin pesta kayak gini, mau nyariin aku jodoh? Aku nggak mau!” sahut Satria sambil berbalik dan menaiki anak tangga kembali ke kamarnya.

 

“Hei, mama belum selesai ngomong. Kamu main pergi aja!”

 

Satria menghentikan langkahnya. “Ma, Satria nggak mau dijodohin! Aku bisa cari istri sendiri. Ganteng gini, pakai acara jodoh-jodohan segala!”

 

“Kamu itu, dengerin mama dulu! Jangan nyerocos terus! Mama nyuruh kamu jemput si Yuna, istrinya Yeri. Bukan mau jodohin kamu.”

 

“Astaga! Istrinya Yeri? Kakak Ipar Kecil yang cantik dan baik hati itu?” tanya Satria sambil menatap Yana. Ia bergegas menuruni anak tangga kembali.

 

“Iya. Yeri lagi sibuk, nggak bisa antar. Jadi, kamu jemput dia! Mama sudah telepon si Yeri. Dia minta tolong kamu jemputin.”

 

“Yes! Bisa berduaan sama Kakak Ipar Kecil,” tutur Satria sambil mencolek dagu mamanya.

 

Yana mengernyitkan dahi sambil menatap Satria. “Eh, ingat! Dia istrinya sahabat kamu sendiri. Mau digodain!?”

 

“Hahaha. Bercanda, Ma. Yeriko itu cemburunya ngalah-ngalahin erupsi Merapi. Aku bisa panas-panasin dia. Aku ajak Kakak Ipar Kecil foto selfie bareng di mobil. Biar jenggotnya dia kebakar! Eh, dia nggak punya jenggot. Rambutnya aja deh yang kebakar. Biar otaknya mateng! Hahaha.”

 

“Kamu ini ... senang banget ngerjain temen sendiri,” tutur Yana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Siapa suruh cemburuan banget jadi laki-laki. Lagian, si Yuna juga cantiknya kebangetan. Kalau ketemu sama aku duluan, aku yang nikahin dia!” ucap Satria sambil mencomot roti bakar yang ada di atas meja makan dan melahapnya.

 

“Sat, jangan dibiasakan makan sambil jalan!” tegur Yana. “Kayak sapi aja.”

 

Satria menahan tawa sambil menatap wajah mamanya. “Ma, manusia itu paling pintar kalau bertingkah seperti binatang,” sahutnya dengan mulut penuh roti.

 

“Sama kayak kamu, pintar berdalih kalau dikasih tahu sama orang tua,” tutur Yana sambil menatap wajah puteranya.

 

Satria terkekeh. “Ini ‘kan hasil didikan mama,” celetuknya.

 

Yana melebarkan kelopak matanya.

 

Satria meringis menanggapi raut wajah mamanya yang menyimpan kemarahan. “Jangan marah-marah, Ma! Ntar cantiknya ilang. Aku jemput Kakak Ipar, sekarang. Pakai mobil yang mana?”

 

“Terserah mau pakai mobil mana!”

 

“Mobilnya kakak aku pakai ya!”

 

“Kenapa nggak pakai mobil kamu sendiri?”

 

“Kurang nyaman. Bagusan mobil kakak. Kuncinya mana, Ma?”

 

“Cari di sana!” jawab Yana sambil menunjuk sudut ruangan, tempat menggantung kunci kendaraan dan kunci-kunci rumahnya. “Panasin dulu! Kakakmu sudah lama nggak pakai mobilnya.”

 

“Keenakan di luar negeri, nggak ingat pulang,” celetuk Satria sambil meraih kunci mobil yang tergantung di tempatnya dan bergegas melangkah menuju garasi.

 

Yana tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah puteranya. Meski disegani di luar sana, Satria tetaplah menjadi anak yang sederhana dan sangat berisik baginya.

 

 ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas