Menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional adalah mimpi kecil yang pernah aku ukir beberapa tahun lalu. Sejak tahun 2017, aku sudah aktif menulis bersama sebuah komunitas menulis. Saat itu, banyak hal yang aku lakukan agar aku bisa terus berlatih dan belajar menulis lebih baik lagi. Sebab, aku tidak mengerti apa pun tentang dunia kepenulisan saat itu.
Setelah belajar banyak di komunitas, aku mulai melangkah ke tempat lain untuk mengasah kemampuan menulis. Menjejaki beberapa platform menulis online.
Pertama kali menulis, tidak ada yang berkenan membaca tulisanku. Mungkin, hanya aku sendiri yang membacanya setelah dirilis selama beberapa minggu atau beberapa bulan. Tapi aku tetap menulis hingga suatu hari tulisanku dilirik oleh editor sebuah platform online. Dari situ, ilmu kepenulisanku terus berkembang karena editor selalu memberikan ilmu, materi dan tantangan baru dalam dunia kepenulisan.
Ada 2 tempat yang terasa begitu sulit untuk aku masuki, salah satunya adalah Perpusnas RI. Bagiku, tidak semua penulis, tulisannya bisa diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional. Tulisan-tulisan yang diterbitkan oleh Perpusnas adalah tulisan yang berkualitas tinggi. Aku ingin tulisanku bisa diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional, tapi aku selalu merasa "tidak mungkin", sebab keinginan itu terlalu tinggi.
Ternyata istilah "tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini" benar-benar ada. Tahun 2025, aku berhasil menjadi bagian dari Perpusnas RI melalui program Relima Perpusnas RI 2025. Tentunya tidak mudah untuk bisa menjadi bagian dari Perpusnas RI. Kita wajib mengirimkan esai tulisan kita agar bisa lolos kurasi.
Di akhir pengabdian, perasaanku tak karuan. Terlebih dengan kebijakan pemerintah tentang efisiensi. Perpustakaan Nasional RI juga tak luput dari kebijakan efisiensi anggaran. Saat itu, semangatku mulai meredup. Bagaimana kita yang hanya masyarakat biasa, bisa bergerak jika stakeholder penting atau pemangku kepentingan saja tidak berdaya dan tidak mampu membuat kami menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Kemudian, 31 Maret 2025, aku mendapatkan kabar gembira tentang keberlanjutan program Relima. Admin Perpusnas RI yang baru, memintaku untuk mengirimkan esai baru sebelum tanggal 5 April 2026. Aku tidak lagi diminta persyaratan administrasi karena sudah lolos administrasi Relima 2025. Tapi aku wajib mengirimkan esai baru tentang perjalanan Relima tahun sebelumnya.
Esai berjudul "Relima Sebagai Role Model Literasi Kesejahteraan" membawaku lolos kembali menjadi Relima Tahun 2026.
Sebenarnya, aku ingin vakum sementara dari kegiatan literasi karena aku sedang hamil anak ke-3. Aku khawatir tidak bisa memaksimalkan tugasku sebagai Relima karena akan repot dengan bayi baru. Tapi kemudian, kawanku memberi semangat untuk terus berlanjut. Aku juga khawatir jika Perpusnas RI tidak akan lagi percaya padaku jika aku sendiri menjadikan "kehamilan" ini sebagai rintangan yang tidak bisa aku takhlukan.
Selain launching program Relima Tahun 2026, juga ada kegiatan pengukuhan Duta Baca Indonesia tahun 2026. Mas Gol A Gong masih dipercaya oleh Perpusnas RI untuk menjadi Duta Baca Indonesia tahun ini. Program Safari Literasi yang beliau canangkan, memiliki dampak besar bagi perkembangan literasi di Indonesia.
0 komentar:
Post a Comment