Wednesday, August 13, 2025

Perfect Hero Bab 293 : Keseruan Bersama Pengantin

 


“Eh, kita belum bikin games untuk pengantin. Gimana ... kalau kita nge-game dulu?” Jheni menatap semua orang yang duduk satu meja dengannya.

“Boleh,” sahut Lutfi. “Satria aja yang pandu. Dia doang yang nggak ada pasangan.”

“Hah!? Ini ... pasangan kalian beneran?” tanya Satria sambil menatap  Jheni dan Icha.

“Iyalah. Lu kira pura-pura?” sahut Lutfi sambil merangkul Icha. “Kenalin, ini cewekku, namanya Icha. Kalo itu si Jheni Kamarin, pacarnya Chandra.”

“Khamelin, Lut. Bukan Kamarin. Sembarangan aja ganti-ganti nama orang!” dengus Jheni.

“Halah, kamu kan suka dikamarin,” goda Lutfi.

“Bangsat kamu, Lut!” sahut Jheni kesal.

“Eh, yang bangsat bukan aku. Dia tuh!” ucap Lutfi sambil menunjuk Satria. “Bang Sat dia, Bang Satria. Hahaha.”

Satria hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Anggota sampe nggak ada yang berani manggil aku ‘abang’  gara-gara namaku begitu.”

“Padahal, namamu keren. Sayangnya, nggak cocok kalo dipanggil abang. Kan Bang Sat jadinya. Hahaha.” Lutfi tergelak.

“Sama kayak Unan. Kalo dipanggil Bang, jadinya Bang Unan.” Satria tak mau kalah.

“Kalau namanya Khairul?” tanya Yuna.

“Bang Khai, dong. Hahaha.” Lutfi menjawab sambil tertawa.

“Hahaha.” Semua orang ikut tertawa.

“Ayo main game!” ajak Satria.

“Ayo, game apa?” tanya Lutfi.

“Gini ...” Satria mengambil satu sumpit yang belum terpakai. “Yang kena tunjuk bagian kecil sumpit, artinya dia kalah dan harus minum ini sampai habis,” jelas Satria sambil memegang sumpit di tangannya. “Kalau nggak mau minum, harus jawab pertanyaan dari pemutar sumpit.”

“Boleh.” Semua setuju untuk ikut dengan permainan.

“Kecuali istriku,” tutur Yeriko.

“Kenapa?” tanya Satria.

“Dia lagi hamil. Nggak bisa minum.”

“Bisa jawab pertanyaan,” tutur Jheni.

“Hmm ... nggak papa, aku ikut aja. Bisa jawab pertanyaan, kok.”

“Oke, khusus buat Kakak Ipar Kecil, jawab pertanyaan aja,” tutur Satria. Ia langsung memutar sumpit untuk mencari orang pertama yang akan memulai permainan.

Ujung sumpit berhenti tepat menunjuk Lutfi. “Oke. Aku duluan.” Lutfi kembali memutar sumpit tersebut. Perlahan tapi pasti, ujung sumpit tersebut menunjuk ke arah Yeriko.

“Huu ... mantap!” seru Lutfi sambil menatap Yeriko.

Yeriko hanya tersenyum kecil.

“Mau minum atau jawab pertanyaan?” tanya Lutfi.

“Jawab pertanyaan.” Yeriko tidak ingin minum dan kehilangan kesadaran di malam pengantin mereka.

“Apa kesan pertama waktu pertama kali ketemu sama Kakak Ipar?”

Yeriko tertawa kecil sambil menatap Yuna.

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia benar-benar terlihat payah saat pertama kali bertemu dengan Yeriko. Ia malu jika ada orang yang menanyakan pertemuan pertama mereka. Ia sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya saat salah masuk ke toilet pria saat ia mabuk di bar.

“Pemabuk yang cabul,” jawab Yeriko sambil menahan tawa.

“Hahaha. Kenapa gitu?” tanya Satria. “Apa Kakak Ipar Kecil yang perkosa kamu duluan?”

Yeriko dan Yuna menahan tawa. Pertemuan pertama mereka memang sangat memalukan. Terlebih, Yuna dalam keadaan mabuk berat karena melampiaskan kekesalannya saat putus dengan Lian.

“Enak, Sat. Yeriko mah tinggal anteng aja. Hahaha,” sahut Lutfi.

Satria ikut tertawa mendengar ucapan Lutfi.

“Giliran kamu, Yer!”

Yeriko memutar sumpit di atas meja. Ujung sumpit berhenti tepat menunjuk Yuna yang duduk di sampingnya. Ia langsung tersenyum jahil.

Semua orang menunggu Yeriko memberikan pertanyaan untuk istrinya sendiri.

“Kenapa waktu itu kamu cium aku, padahal kita nggak kenal? Apa kamu bakal nyium cowok siapa aja yang kamu kenal di pinggir jalan?”

Jheni dan yang lainnya menahan tawa mendengar pertanyaan Yeriko. 

“Jawab, Yun!” seru Jheni, tak sabar mendengarkan jawaban dari Yuna.

“Mmh ... aku terpaksa karena dia jauh lebih ganteng dari Lian. Aku nggak tahu gimana caranya ngadepin Lian dan Bellina saat itu. Jadi, aku cium dia di depan Lian biar Lian percaya kalo aku baik-baik aja hidup tanpa dia,” jelas Yuna.

“Kalau yang di sana bukan aku. Apa kamu juga bakal cium cowok itu?”

“Mmh ... tergantung. Kalo dia ganteng, maybe yes.”

Yeriko langsung melebarkan kelopak matanya. “Sudahlah. Nggak perlu cemburu sama masa lalu. Ini hari pernikahan kalian,” sela Satria. “Lanjut mainnya!”

Yuna memutar sumpit. Kali ini, ujung sumpit menunjuk ke arah Chandra. Ia langsung tersenyum jahil sambil menatap Chandra.

Chandra menelan ludah saat melihat raut wajah Yuna. Ia merasa dirinya sedang masuk ke dalam bahaya. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Yuna saat menatapnya.

“Chan, pilih minum atau jawab pertanyaan?”

“Minum.” Chandra langsung meraih gelas wine dan meminumnya sampai habis.

Jheni tersenyum kecil menatap Chandra.

“Weh, kamu masih kuat minum juga,” tutur Satria sambil menatap Chandra.

Chandra tersenyum santai. Pipinya terlihat bersemu merah. Di antara mereka berempat, hanya Yeriko yang paling bisa minum banyak alkohol dan tidak mabuk parah.

Kini, giliran Chandra yang memutar sumpit. Ujung sumpit itu menunjuk ke arah Satria.

Satria langsung meminum wine tanpa ditanya terlebih dahulu.

“Kayaknya, sekarang lebih kuat minum,” tutur Lutfi sambil menatap Satria.

Satria tersenyum kecil. “Ada kondisi di mana kita berhadapan sama musuh. Kalau gampang mabuk, kita gampang dikendalikan. Jadi, aku banyak berlatih untuk ini.”

“Hahaha.”

Satria tersenyum kecil. Ia memutar sumpit dan langsung menunjuk ke arah Yeriko. Ia terlihat sangat senang sembari menatap wajah Yeriko.

“Minum atau jawab pertanyaan?” tanya Satria.

“Jawab pertanyaan.”

“Posisi apa yang paling kalian suka saat bercinta?” tanya Satria sambil tersenyum jahil.

“Heh, pertanyaan macam apa itu?” dengus Yuna.

“Halah, di sini semuanya udah dewasa. Setidaknya, kalian ngajarin kami trik yang bagus untuk memuaskan pasangan. Kali aja, bisa bikin cewek klepek-klepek sampai akhir,” tutur Satria.

“Jangan cuma sampai akhir, Sat. Kalo bisa, bikin mau lagi dan lagi,” sahut Lutfi sambil tertawa.

Chandra tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala. “Kalian berdua memang cocok,” celetuknya.

Lutfi dan Satria tertawa berbarengan.

“Heh, jawab, Yer!” perintah Satria.

“Kalian mau yang mana?” tanya Yeriko sambil menahan tawa.

“Yang paling enak, Yer,” sahut Satria.

“Semuanya enak.”

Satria tergelak. “Kamu bisa puasin istrimu nggak sih? Lempeng banget jawabannya. Semua enak, semua enak. Kita semua juga tahu kalo bercinta itu enak. Tapi, pasti ada posisi yang paling uueenak kan? Bagi rahasia ke kita sedikit aja! Gitu aja pelit banget!” cerocos Satria.

Yuna membelalakkan mata menatap Satria. “Waktu kenalan, ini cowok cool banget. Kupikir kalem kayak Chandra. Sekalinya, Lutfi kedua,” gumamnya dalam hati.

Yeriko tersenyum kecil menanggapi ucapan Satria. “Kalo mau tahu, buruan nikah!”

“Gitu aja. Nggak nikah gin bisa,” sahut Satria.

“Kamu suka jajan di luar?” tanya Yuna.

Satria langsung menggelengkan kepala. “Nggaklah. Sehat aku!”

“Kenapa bisa ngomong gitu?”

“Yaelah, kalo razia gabungan. Aku sering banget nangkepin pasangan muda-mudi beda alamat dalam satu kamar. Ngapain coba kalo nggak begituan? Satunya tinggal di Blitar, satunya di Magetan. Tidurnya di kostel Surabaya. Hahaha.”

Yuna menahan tawa mendengar ucapan Satria.

“Eh, aku kasih tahu ya. Kalian jangan sampe gonta-ganti pasangan!” tutur Satria sambil menunjuk Chandra dan Lutfi. “Ada beberapa kasus, cewek-cewek yang begitu bawa HIV/AIDS. Kalo udah nggak tahan, lebih baik nikah. Setia sama pasangan. Daripada jajan di luar. Nggak terjamin kebersihannya,” tutur Satria.

“Siap, Bang!” sahut Lutfi.

“Kamu manggil aku, Bang?” Satria mendelik ke arah Lutfi.

“Iya. Bang Sat,” sahut Lutfi terkekeh.

“Untungnya temen. Kalo bukan, udah aku tembak mati,” dengus Satria kesal.

Yuna tersenyum melihat sikap Satria. Dia pria yang periang jika sudah saling kenal. Suka asal bicara, tapi tetap bisa menasehati teman-teman yang lainnya.

“Ayo, main lagi!” ajak Satria.

“Udah, Sat. Aku mau ngamar,” sahut Yeriko.

“Argh, nggak bisa! Ini masih sore udah mau ngamar aja. Nggak ada yang boleh pergi dari tempat ini sampe jam dua belas malam. Yang pergi, aku keluarin AK47 sama AK101 ke depan muka kalian.”

“Emang bawa?” tanya Lutfi.

“Nggak. Tapi, gampang. Bisa nyuruh anak buah buat ambil.”

“Astaga, nggak segitunya juga, kali.”

Mereka terus berbincang penuh canda tawa. Bermain beberapa games. Tidak melepaskan kedua pengantin ini begitu saja hingga jam dua belas malam.

 

(( Bersambung ... ))

 

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 292 : The Wedding Day

 


“Selamat malam saya ucapkan kepada para tamu undangan yang telah berkenan hadir di acara yang sangat istimewa ini. Saya selaku MC di sini juga ikut merasa istimewa karena dipercaya untuk memandu pesta pernikahan Mas Yeriko dan Mbak Ayuna ...!” Suara Master of Ceremony mulai mengambil perhatian semua orang yang hadir di ballroom yang sudah didekorasi sangat mewah.

 

Deretan pergola dengan bunga-bunga indah berjejer rapi di tengah ruangan. Semua bunga yang ada di sana adalah bunga asli. Aroma yang keluar dari bunga-bunga itu sangat khas dan memanjakan semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.

 

Dekorasi ruangan yang sangat mewah dan hidangan berkelas, membuat semua orang berdecak kagum. Mereka terlihat sangat gembira menikmati kebahagiaan keluarga Hadikusuma. Hanya dua orang yang hatinya begitu iri dan cemburu di tempat itu. Siapa lagi, kalau bukan Melan dan Bellina. Keluarga Yuna yang ikut menghadiri acara pernikahan tersebut.

 

Setelah membuka acara dengan beberapa kalimat candaan, MC tersebut langsung menatap pintu masuk. “Mari kita sambut, pasangan pengantin kita yang sangat tampan dan cantik ini. Yeriko Sanjaya dan Fristy Ayuna!”

Semua orang menoleh ke arah yang ditunjuk oleh MC tersebut.

Yuna menahan napas saat kakinya melangkah masuk beriringan dengan langkah Yeriko. Semua orang menatapnya dan membuat dirinya sangat gugup. Andai ia tidak memeluk lengan Yeriko, mungkin tubuhnya sudah merosot ke lantai. Meleleh dan menghilang di antara orang-orang ini.

“Kenapa semua orang lihatin kita? Aku gugup banget,” bisik Yuna.

“Karena kamu tokoh utama yang paling cantik,” jawab Yeriko tanpa mengalihkan pandangannya. Ia segera membawa Yuna menaiki pelaminan dengan hati-hati.

“Eeaa ... ini dia dua tokoh utama hari ini. Terlihat sangat serasi sekali. Ganteng dan cantik. Bikin saya, jadi pengen nikah lagi kalau begini,” canda MC untuk membuat suasana lebih santai.

Bellina terus menatap Yuna. Ia sangat iri melihat Yuna mengenakan gaun pengantin mewah bertahtakan berlian di bagian dadanya. Ia tahu kalau gaun itu sangat mahal. Ia bahkan lebih sibuk memikirkan berapa banyak uang yang sudah dihabiskan keluarga Hadikusuma untuk menggelar pesta pernikahan yang sangat mewah. Hingga ia tak mendengarkan apa yang diucapkan oleh MC di atas panggung pelaminan.

Yeriko sudah mengambil alih microphone dari tangan MC. Ia menatap Yuna yang berdiri di depannya. Ia tak berhenti tersenyum.

“Fristy Ayuna ... perkenalkan, nama saya Yeriko Sanjaya Hadikusuma. Ini adalah kalimat yang tidak pernah terucap di hari pertama kita bertemu. Saat itu, aku dengan lancang memintamu menjadi seorang istri. Bahkan, aku tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya ... aku jatuh cinta pada wanita sederhana yang memandangku begitu sederhana. Kamu membuatku jatuh cinta dengan ribuan alasan yang sulit untuk kujelaskan.”

Yuna tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat terharu mendengar ucapan Yeriko. Ia benar-benar tidak menyangka kalau suaminya begitu sempurna, sangat sempurna, sangat-sangat sempurna. Semua kekagumannya, tak cukup hanya diungkapkan dengan kata-kata.

“Hari ini ... dihadapan orang tuaku, di hadapan keluarga besar kita, di hadapan semua sahabat-sahabatku. Aku berjanji akan mencintai kamu sepenuh hati sampai nanti. Jika nanti Tuhan mengambil ingatanku tentangmu, mereka semua akan mengingatkanku bahwa aku selalu mencintai kamu, aku nggak mau jauh dari kamu dan selalu melindungi kamu.”

Air mata Yuna langsung jatuh begitu mendengar ucapan Yeriko. Yeriko memang paling pandai membuatnya menangis terharu.

Tidak hanya Yuna, Jheni dan Icha yang berdiri di belakang Yuna juga ikut menangis mendengar ucapan Yeriko. Mereka menangis penuh haru.

“Ayuna ... aku ingin membuatmu jatuh cinta pada pandangan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Sampai waktuku memandang dunia ini habis. Maka, kamu membuat perasaan cintaku bertambah setiap detiknya. Agar aku bisa membuatmu bahagia di detik berikutnya,” tutur Yeriko sambil menatap lekat wajah Yuna.

Yuna mengangguk sambil menahan air matanya keluar.

Di tempat lain, Rullyta tersenyum melihat putera kesayangannya menemukan cinta sejatinya.

“Ayuna ... aku adalah pria biasa yang tidak bisa memberimu banyak hal. Izinkan aku memberikan seluruh hidupku untuk kamu.” Yeriko menjatuhkan satu lututnya ke lantai. Ia meletakkan microphone di lantai dan merogoh kotak cincin dari saku jasnya.

Tepat di hadapan Yuna. Ia menengadahkan kepalanya menatap Yuna dan membuka kotak cincin itu perlahan.

Mulut Yuna menganga begitu melihat cahaya yang keluar dari kotak cincin tersebut. Bukan hanya Yuna, tapi semua orang yang ada di ruangan itu pun ikut terpesona.

“Gila! Yeriko bisa ngasih Yuna kejutan sekeren ini,” bisik Lutfi di telinga Chandra.

“Tanya ke dia. Pesen cincinnya di mana?”

“Kamu yang tanya?”

“Kamu aja!”

“Eh, sst ...!” Mereka kembali fokus menatap Yeriko yang sedang memasangkan cincin berlian ke tangan Yuna.

Yeriko tersenyum. Ia mengecup punggung tangan Yuna. Kemudian bangkit dari lantai. Ia langsung menarik pinggang Yuna merapat ke tubuhnya. “Nggak ada sesuatu yang mau kamu katakan buat aku?”

Yuna menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Bukannya kamu pernah bilang kalau aku hanya bisa menerima semua yang kamu berikan buat aku?”

Yeriko tersenyum. Ia mencium lembut bibir Yuna yang manis.

Dari kejauhan, Bellina menatap Yuna penuh cemburu. Terlebih, Lian juga tak memalingkan pandangan matanya dari Yuna. Ia ingin seperti Yuna. Mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari suami dan keluarga besar Hadikusuma. Juga fasilitas mewah yang tidak bisa ia dapatkan dari Wilian.

Semua orang tenggelam dalam suka cita pesta pernikahan keluarga Hadikusuma.

“Yun, selamat ya!” Jheni langsung merengkuh Yuna ke dalam pelukannya.

“Makasih, Jhen.”

“Selamat ya, Yun. Akhirnya, bisa bernapas lega karena acara kalian berjalan lancar.” Icha juga ikut mengucapkan selamat.

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Yeriko langsung menarik lengan Yuna. “Aku kenalin sama seseorang,” ajaknya sambil menatap Satria dari kejauhan.

Lutfi dan yang lainnya mengikuti langkah Yeriko.

“Hei, Satria!” Yeriko langsung menepuk pundak Satria. “Lama nggak kelihatan. Kirain, udah lupa jalan pulang.”

Satria tersenyum kecil. “Ada-ada aja kamu, Yer.”

“Aku kira, kamu nggak bakal datang ke acara pernikahanku. Oh ya, kenalin. Ini istriku. Namanya Yuna.”

Satria mengangguk kecil.

“Yun, ini salah satu teman baikku. Namanya Satria Ardi Nugraha. Anaknya Bunda Yana.”

“Astaga! Ini anaknya Bunda Yana?” seru Yuna. “Salam kenal.” Ia mengulurkan tangan ke arah Satria.

Satria membalas uluran tangan Yuna sambil tersenyum.

“Gimana tugas di sana?” tanya Yeriko pada Satria.

“Yah, begitulah. Ada suka dan dukanya. Namanya juga tugas.”

“Eh, kita ke sana yuk! Sambil ngobrol-ngobrol.”

Mereka semua berkumpul di satu meja.

“Aku denger, kamu udah jadi komandan?”

“Hah, kata siapa?”

“Halah, sok merendah lu, Sat. Berita besar kayak gini, gimana kita nggak tahu?” sahut Lutfi.

“HAHAHA.” Satria tergelak.

“Nggak nyangka dia yang bertahan di militer. Kamu ingat nggak waktu latihan dulu? Dia yang paling lelet kalo soal makan sama mandi. Sekarang udah jadi komandan, masih gitu juga?” tanya Lutfi sambil tertawa.

“Ya, nggaklah. Malu sama anggota kalo masih begitu.”

“Bisa juga, Sat?” tanya Chandra.

“Bisa. Sudah terbiasa.”

Mereka sibuk membahas masa lalu mereka saat masih sama-sama berada di pendidikan militer. Sesekali tertawa saat mendengar cerita lucu yang keluar dari mulut Satria.

 

(( Bersambung ... ))

 

Selamat untuk Mr. & Ms. Ye

Semoga bahagia selalu.

Dukung terus cerita ini supaya bisa menghadirkan cerita yang lebih seru lagi ya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 291 : Last Minutes Before the Wedding Party

 


“Yun … Yuna!” seru Jheni di telinga Yuna.

“Apaan sih, Jhen!?” Yuna langsung menutup telinganya dengan bantal.

“Bangun, Yun. Udah pagi.”

Yuna bergeming.

Jheni langsung merebut bantal dari kepala Yuna. “Bangun! Siap-siap dandan!” seru Jheni kesal.

Yuna memicingkan mata sambil mengangkat tubuhnya. “Jam berapa, Jhen?”

“Jam lima.”

“Masih pagi banget. Acaranya kan mulai jam sepuluh.” Yuna merebahkan tubuhnya kembali dan menutup seluruh wajahnya dengan selimut.

“Astaga, Yuna!” Jheni geram dengan tingkah Yuna yang terlihat sangat santai.

“Aku masih ngantuk, Jhen!” balas Yuna.

“Siapa yang suruh kamu keliaran di luar tengah malam?”

“Yeriko!”

“Oh, jadi kalian berdua sekongkol buat bohongin kami, hah!?”

Yuna langsung menyingkap selimut dari tubuhnya. “Kamu cerewet banget, sih!?” dengusnya. Ia turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi sambil memejamkan mata.

 “Yeriko juga, tuh. Udah tua, masih aja kayak anak abege. Apa susahnya sih pisah cuma sebentar doang? Cuma semalem doangan. Alay bener tuh orang,” dengus Jheni kesal.

 

Icha hanya tertawa kecil melihat Jheni yang mengomel sendiri.

 

“Apa ketawa-ketawa? Bukain pintu, tuh!” perintah Jheni saat ia mendengar pintu diketuk.

 

Icha langsung menoleh ke arah pintu. Melangkah perlahan dan membukakan pintu. Beberapa orang karyawan berseragam khas hitam putih langsung masuk ruangan sembari membawa gaun pengantin yang akan dikenakan Yuna.

 

“Wow!” Icha dan Jheni melongo melihat gaun pengantin yang super mewah hasil rancangan dari desainer ternama di Asia.

 

“Gila, ini berapa milyar gaunnya Yuna doang!?” seru Jheni. “Ya ampun … Yuna bener-bener jadi Cinderella. Aku harus mengabadikan momen ini dengan baik. Ntar aku tulis dalam project novel aku selanjutnya.”

Jheni dan Icha tak henti-henti mengagumi gaun pengantin yang dirancang khusus untuk Yuna. Melihatnya, membuat mereka ingin segera menikah saat itu juga.

 

“Duh, kapan aku bisa pake gaun kayak gini?” tanya Icha dengan mata berbinar.

 

“Iya, Cha. Kayak mimpi di siang bolong. Rasanya, jadi pengen cepet-cepet dilamar sama Chandra.”

 

Icha mengangguk-anggukkan kepala. “Aku juga …”

 

“Eh, bukannya kamu sama Lutfi cuma pacaran kontrak? Emang bisa sampai nikah?”

Icha meringis ke arah Jheni. “Kalo kontraknya udah habis. Boleh berharap yang lebih dari itu kan?”

Jheni langsung mengetuk dahi Icha. “Pintar juga otak kamu. Bikin dia jatuh cinta beneran ke kamu. Ntar aku bantu comblangin,” ucap Jheni sambil mengerdipkan matanya.

 

“Nggak yakin. Ceweknya dia banyak,” sahut Icha santai.

 

“Kamu santai banget nanggepinnya? Sabar banget ngadepin Lutfi. Eh, by the way, kamu kan satu-satunya cewek yang paling deket sama Lutfi di antara yang lainnya. Kamu dapet banyak dukungan dari orang-orang terdekatnya Lutfi. Emangnya, kamu nggak punya perasaan sedikit pun ke dia?”

 

“Pertanyaan itu, harusnya kamu tujukan ke Lutfi. Dia punya perasaan atau nggak ke aku? Kalo aku sendiri, udah jelas sayang sama dia. Sedangkan dia, menganggap semua cewek yang dia deketin itu sama.”

 

“Hmm … pinter banget sih kalian nyembunyiin hubungan palsu ini dari kami? Emangnya, kamu dihargai berapa sama Lutfi?”

 

Icha tersenyum masam. Ia sebenarnya tidak menyukai hubungan ini. Namun, ia terpaksa melakukannya. Jika boleh memilih, ia akan memilih mencintai Lutfi dengan tulus. Bukan karena perjanjian mereka saat itu.

Jheni terdiam. Ia mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan Icha dan Lutfi. Keduanya terlihat sangat mesra dan baik-baik saja. Bila dibandingkan hubungannya dengan Chandra yang kaku. Tapi, Chandra tetap saja memiliki nilai plus bila dibandingkan dengan Lutfi.

“Hai, kalian … apa kabar?” sapa Irvan yang baru saja masuk ke kamar tersebut.

“Hai …!” balas Icha dan Jheni bersamaan.

“Mana pengantinnya, nih?” tanya Irvan.

 

Jheni dan Icha saling pandang. Mereka baru menyadari kalau Yuna sudah sangat lama berada di dalam kamar mandi. Mereka terlihat panik dan berlari menuju kamar mandi.

 

“Nggak dikunci,” tutur Jheni sambil memutar gagang pintu kamar mandi.

 

Mereka melihat Yuna yang duduk di pojok kamar mandi sambil memejamkan mata.

 

“Astaga, Yuna!” seru Icha dan Jheni.

 

Yuna langsung gelagapan dan terbangun dari tidurnya. “Kalian ngagetin aja.”

 

“Kamu masih bisa lanjutin tidur di sini?”

 

“Kita udah khawatir banget. Kenapa-kenapa di dalam kamar mandi. Irvan udah datang.”

 

Yuna bangkit. Ia melangkah menuju westafel dan membasuh wajahnya. “Kalian keluar dulu! Aku mau cipes!” seru Yuna.

 

Jheni dan Icha langsung keluar dan menutup pintu kamar mandi.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna keluar dari kamar mandi. Ia langsung ditarik oleh beberapa pegawai Ivan untuk mempersiapkan dirinya.

 

“Kenapa mata kamu sayu banget?” tanya Ivan sambil memerhatikan wajah Yuna.

 

“Aku ngantuk. Tidur sebentar lagi, boleh nggak?”

“Nggak bisa. Kamu kurang tidur?” tanya Irvan. Ia menoleh ke arah Icha dan Jheni. “Kalian ngajak pengantin begadang?”

Jheni dan Icha menggelengkan kepala.

“Ini pengantinnya udah sarapan atau belum?”

Jheni dan Icha kembali saling pandang. “Lupa, Cha. Kamu gimana sih?” bisik Jheni.

“Aku juga lupa. Ini pertama kali aku jadi bridesmaid.”

“Eh, kalian malah asyik ngobrol sendiri. Si Yuna udah sarapan apa belom?” tanya Irvan lagi.

“Belum, Van. Aku laper. Kasihan anak di perutku,” rengek Yuna.

Ivan langsung menatap Jheni dan Icha. “Kalian pesenin makanan buat Yuna!” perintahnya. “Jangan sampai dia pingsan karena kelaparan.”

“Iya. Kamu mau makan apa, Yun?”

“Tanya Bibi War. Semua menu makanku diatur sama Chef Rafa.”

“Aku mana punya nomernya Bibi War,” sahut Jheni geram.

“Nggak usah marah-marah!” pinta Yuna. “Ntar cepet keriput tuh kulit hidung.” Yuna menahan tawa sembari menyodorkan ponselnya.

Jheni meraih ponsel dari tangan Yuna dan menelepon Bibi War untuk menanyakan menu makanan yang seharusnya dikonsumsi pagi ini.

Beberapa menit kemudian. Yuna sudah berada di bawah kendali Irvan. Irvan telah menyiapkan peralatan make up khusus yang tidak berbahaya untuk ibu hamil. Sebab, Rullyta dan Yeriko sudah memberitahukan bahwa Yuna sedang hamil.

 

 

Tepat jam sembilan pagi, Yeriko dan dua sahabatnya berangkat menuju Sangri-La. Ia langsung melangkah menuju kamar tempat Yuna mempersiapkan dirinya.

“Heh, ngapain ke sini?” Jheni langsung menghalangi mereka masuk ke dalam ruangan begitu mengetahui kalau Yeriko dan dua pengawalnya datang.

“Yuna mana?” tanya Yeriko celingukan.

“Lagi make up. Nggak bisa diganggu.”

“Jhen, kamu cantik banget!” tutur Lutfi. “Lihat, si Chandra sampe gak kedip lihat kamu.”

Jheni menahan tawa. “Siapa dulu yang make up-in? MUA profesional kelas atas,” sahutnya bangga.

Yeriko tersenyum. Ia berusaha untuk melihat Yuna, namun Jheni keukeuh melarangnya.

“Kalian tunggu di kamar depan, tuh!” Jheni menunjuk pintu kamar yang sudah disediakan. Beberapa orang di dalamnya terlihat mondar-mandir mempersiapkan semua keperluan pernikahan yang akan dilaksanakan sebentar lagi.

Yeriko memilih untuk menuruti ucapan Jheni. Ia menunggu Yuna di ruang yang berbeda.

Di dalam ballroom, beberapa tamu terlihat sudah berdatangan.

Bellina dan Lian terlihat memasuki ruangan tersebut, juga kedua orang tua mereka.

Di belakangnya, ada walikota dan istrinya. Juga seorang pria tampan bertubuh tinggi nan kekar yang berhasil merebut perhatian semua orang si ruangan itu.

Pria itu langsung menghampiri Lutfi dan Chandra yang sudah ada di ruangan tersebut.

“Hei, Satria? Apa kabar?” sapa Lutfi begitu pria tampan itu menghampirinya.

“Baik. Kalian apa kabar?” tanya Satria sambil memberikan rangkulan hangat untuk dua teman lamanya.

“Baik, Sat. Akhirnya, nongol juga kamu ke sini.”

Satria tersenyum kecil. “Udah kelar tugas di sana. Sekarang, di sini aja sementara sampai ada tugas baru lagi.”

“Weh, sukses nih jadi prajurit?” tanya Chandra sambil menepuk bahu Satria.

Satria tertawa kecil menanggapi ucapan Chandra. “Kalian yang sudah pada sukses jadi pengusaha. Aku masih jadi pesuruh.”

“Pesuruh apanya? Komandan kan sekarang?” tanya Lutfi.

Satria tersenyum kecil. “Yeriko mana?”

“Belum turun. Masih lima belas menit lagi.”

“Oh.” Satria manggut-manggut.

Mereka bertiga terlihat serius membicarakan tentang dunia militer yang pernah mereka jalani bersama beberapa tahun lalu. Sembari menunggu MC membuka acara pernikahan tersebut.

 

 

(( Bersambung ...))

Happy Wedding Mr. Hero

 

Support terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Tuesday, August 12, 2025

Aku dan Taman Bacaku Bab 3 : Perjuangan Membuka Taman Baca





Tanggal 18 Februari 2018.

Hari itu, langit Samboja tak secerah biasanya. Awan menggantung di ujung bukit, dan angin yang lewat membawa rasa gugup yang tak bisa kusembunyikan. Meski tak ada upacara atau pengguntingan pita, hatiku berdebar seperti akan menghadapi panggung besar.

Di teras rumahku yang sempit, dengan karpet lusuh dan beberapa kertas mewarnai hasil print-an sendiri, aku resmi membuka Taman Bacaan Bunga Kertas.

Nama itu kupilih bukan tanpa alasan.
Bunga kertas bukanlah bunga mahal. Ia tak butuh banyak air, tapi bisa tumbuh dan berbunga di tanah kering. Dan aku ingin taman baca ini seperti itu—sederhana, mandiri, tapi penuh warna dan disukai banyak orang. 

Anak-anak datang satu per satu, masih malu-malu.

Mereka duduk bersila di atas karpet tipis. Pensil warna kugulung dengan karet gelang, kuletakkan di tengah-tengah. Buku gambar seadanya kupotong dari kertas bekas kerjaan menjahit. Semuanya swadaya. Tidak ada sponsor, tidak ada sumbangan pemerintah.

Hanya ada aku, semangatku, dan 50 buku koleksi pribadiku yang setia menemaniku sejak belasan tahun lalu. Buku-buku yang pernah menemaniku dalam masa-masa sepi, buku-buku yang membuatku merasa tak sendiri di dunia. Dan kini, aku ingin buku-buku itu menemukan rumah barunya di tangan kecil anak-anak kampungku.

Namun, tak semua menyambut hangat.

Di sela-sela sore yang sibuk, aku sempat mendengar bisik-bisik dari balik pagar. 

“Untuk apa buka taman baca?”
“Udah susah gitu, malah repot urus anak orang.”
“Emang anak-anak mau baca buku zaman sekarang?”

Kalimat-kalimat itu terdengar lebih tajam dari jarum mesin jahitku yang sering kusalahkan kalau benangnya kusut. Tapi aku diam. Bukan karena tak bisa membalas, tapi karena aku sudah terbiasa hidup di tengah tanya-tanya yang bernada sinis.

Aku tahu, tak semua orang paham mimpi yang sedang tumbuh di kepalaku. Tak semua mata bisa melihat pentingnya sebuah taman baca di tengah desa kecil yang jauh dari pusat perhatian.

Tapi aku juga tahu, perubahan tak selalu datang dari tempat yang ramai. Kadang, ia bermula dari tikar usang dan satu rak buku di teras rumah.

Aku lalu memberanikan diri menyebar kabar di media sosial. Kupasang status di Facebook, kubuat tulisan di blog. Aku meminta bantuan pada siapa saja. Pada teman-teman kerja di perusahaaan tempatku pernah bekerja. Pada teman-teman penulis yang ada di seluruh Indonesia. Siapa tahu ada yang mau menyumbang buku. Kupikir, mungkin hanya satu dua yang peduli.

Tapi ternyata, balasannya tak terduga. Justru yang banyak membantu adalah teman-teman penulis dari seluruh Indonesia. Orang-orang yang belum pernah bertatap muka denganku, tapi sepertinya bisa membaca kegigihanku lewat kalimat-kalimat yang kutulis.

Paket demi paket datang. Ada yang dari Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Aceh, Tangerang, Pontianak, bahkan dari pelosok Sulawesi. Di dalamnya ada buku, ada pembatas halaman lucu, dan kadang surat-surat kecil yang membuat mataku berkaca:

“Semoga anak-anak di sana menyukai buku ini, ya.”
“Dari penulis kecil, untuk pembaca masa depan.”

Aku membaca semuanya sambil duduk di ruang tamu, memeluk satu kardus buku erat-erat. Rasanya seperti dipeluk balik oleh semesta. Bahwa aku tidak sendirian. Bahwa mimpi kecil ini ternyata punya banyak teman.

Kini, rak buku di taman bacaku mulai penuh. Anak-anak mulai datang lebih awal. Bahkan beberapa sudah berani meminjam buku untuk dibaca di rumah. Kadang aku melihat mereka berjalan kaki, membawa buku di dalam kantong plastik, melindunginya seolah itu harta karun.

Dan di situ aku tahu: segala sindiran kemarin tak ada artinya dibanding satu mata berbinar yang jatuh cinta pada buku pertama mereka.

Taman Bacaan Bunga Kertas tak akan sempurna. Tapi ia tumbuh. Dari halaman rumahku. Dari tekad yang kusemai pelan-pelan. Dari cinta yang tak pernah selesai kutuang.

Dan pada akhirnya, biarlah yang berkata “untuk apa” itu tetap bertanya.
Karena aku lebih memilih mendengar tawa anak-anak yang membaca dengan suara terbata.

Sore hari yang lelah, terkadang dibuat tambah lelah dengan ruang buku yang berhambur. Cukup sulit membiasakan anak-anak untuk merapikan buku setelah membaca. Apalagi merapikan pensil warna dan kertas-kertas hasil mewarnai yang sudah selesai. 

Aku menghela napas sejenak. Rasa lelahku tiba-tiba menghilang seketika ketika teringat tawa ceria anak-anak desa yang sering berkunjung ke taman baca. 

Ternyata, bahagia itu sederhana. Bisa bermanfaat untuk orang lain dan bisa melihat orang lain tertawa bahagia. 

Aku jadi lebih bersemangat menjalankan taman baca meski harus merogoh kocek pribadiku. Terkadang aku juga rela mengorbankan uang jajan anakku atau uang belanja dapur. Melihat anak-anak tersenyum bahagia dengan buku dan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan, aku sudah merasa sangat senang. 

Dengan wajah tersenyum bahagia, aku mengumpulkan buku-buku dan merapikannya kembali. Hatiku dipenuhi dengan harapan yang sangat besar terhadap anak-anak di desaku. Aku ingin mereka bisa menjadi generasi yang cerdas dan berdaya saing di masa depan. Tidak harus semua. Dari 2.600 penduduk desa, pasti ada satu anak yang bisa sukses dari hobi membaca. 

Aku tidak perlu diakui. Karena yang aku cari bukanlah pengakuan dari banyak orang, tapi kemanfaatan hidupku sendiri. Suatu hari nanti ketika Allah meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah aku lakukan di dunia, aku bisa menjawabnya dengan tenang. Aku persembahkan taman baca kecil ini sebagai amalan jariyah ilmu yang tidak akan terputus. Biarlah nanti buku-buku ini yang bercerita pada Tuhan tentang kegigihan dan ketulusanku dalam memberikan manfaat untuk orang lain. 

Aku tahu ini bukan hal besar. Ini adalah hal kecil yang kerap disepelekan banyak orang. Tapi dari langkah kecil inilah semuanya dimulai. Langkah kecil yang sepele, tapi tidak mudah untuk dilakukan, tidak mudah pula untuk dipertahankan. 

Aku berharap, taman baca ini tidak hanya berjalan dalam hitungan bulan. Tapi bisa bermanfaat sampai satu tahun ke depan, syukur-syukur bisa lebih dari satu tahun. 



Sunday, August 10, 2025

Masa Depanmu Bukan Tanggung Jawabku





Ada satu fenomena unik di dunia ini.
Ada orang yang masa depannya udah kayak mi instan—bahan lengkap, air ada, kompor ada—tapi dia tetap minta orang lain yang masakin, ngaduk, bahkan nyuapin.
Kalau bisa, sekalian ditiupin biar nggak panas.

Kamu pernah nggak ketemu orang yang hobinya ngeluh tentang masa depannya, tapi kalau disuruh bergerak malah bilang, “Liat nanti deh, masih males.”?
Atau yang lebih epik, dia mau sukses, tapi rencananya cuma dua kata, yaitu nebeng orang.

Nah, kalau kamu merasa ini mulai mirip kamu… duduklah!
Tarik napas! 
Baca pelan-pelan!
Karena aku mau bilang satu hal penting yang mungkin nggak pernah kamu dengar sejujurnya. 

Suatu hari aku berselisih paham dengan seseorang yang cukup dekat, tapi tidak begitu dekat juga. Saat aku mengungkit masa lalu untuk dijadikan sebuah pelajaran bersama, dia justru marah besar, mencaci maki dan melontarkan banyak kata yang tidak enak untuk kudengar. 
Yang lebih parahnya lagi, dia bertingkah seolah menjadi korban atas apa yang telah aku lakukan dan seolah menuntut masa depannya adalah tanggung jawabku dan dia tidak ingin semuanya hancur. 

Aku berpikir dan merenung cukup lama. Sebenarnya, masa depannya tidak bergantung padaku, juga bukan bagian dari tanggung jawabku. Karena dia bukan anakku yang semuanya harus aku tanggung, termasuk tentang bagaimana masa depannya kelak. 

Entah kenapa, banyak orang yang menuntut agar aku bertanggung jawab pada masa depan orang lain yang mereka sendiri tidak memiliki keberanian untuk bertanggung jawab pada dirinya sendiri. 

Kalau kamu baca tulisan ini, marahlah! Merenunglah! Ambillah pelajaran yang baik! 

Aku cuma mau bilang kalau masa depanmu bukan tanggung jawabku.
Bukan! Sama sekali bukan! 

Jangan salah paham. Aku bukan orang jahat. Aku cuma realistis. Hidup itu kayak warung pecel lele, semua orang punya lapak masing-masing. Aku sibuk ngurus sambelku sendiri, kamu ya ngurus lalapanmu. Kalau kamu nggak ngulek, masa aku yang disuruh nyiapin sambel buat kamu juga?

Aku sering lihat orang yang hobinya nyalahin keadaan. “Aku nggak maju-maju karena nggak ada yang dukung.” Padahal, kalau dipikir-pikir, yang nggak dukung itu bukan orang lain… tapi dia sendiri.

Bisa tuh maraton nonton drakor seminggu penuh, tapi kalau diajak ikut webinar gratis 2 jam langsung bilang, “Aduh, nggak sempat.”
Sempat buat rebahan lima jam, tapi nggak sempat buka laptop.

Bahkan kalau kita serumah, sekeluarga, atau sekampung, tetap saja masa depanmu itu jobdesknya kamu. 

Aku nggak pernah tanda tangan kontrak kerja sebagai “CEO Kehidupanmu” atau “Manager Kariermu”. Aku punya urusan sendiri, cicilan sendiri, mimpi sendiri. Yang percaya atau nggak, udah cukup bikin otakku penuh tanpa harus nyusun strategi hidup orang lain.


Masalahnya, sebagian orang masih percaya konsep aneh: “Kalau orang lain udah peduli sama aku, ya udah sekalian aja mereka yang ngurusin hidupku.”
Konsep ini biasanya datang sepaket dengan kebiasaan manis: nggak mau belajar, nggak mau berusaha, tapi rajin sekali minta tolong.

Contoh nyata?
Dia mau buka usaha. Minta pinjaman modal. Katanya “serius”. Aku bantu. Sebulan dua bulan dia rajin. Bulan ketiga mulai banyak alasan. Bulan keempat dia sibuk posting instastory liburan ke pantai. Bulan kelima? Bisnisnya bubar, tapi dia masih santai. Alasannya? “Ya kamu kan yang kasih modal, masa nggak sekalian ngajarin, ngontrol, ngejar target?”

Halo… modal itu bantuan, bukan kontrak perwalian masa depan.
Aku bantu bukan berarti aku mau jadi baby sitter mimpimu.

Masa depan itu kayak tanaman. Kalau mau panen, kamu yang nanam, kamu yang nyiram. Jangan nyodorin pot kosong sambil nyuruh orang lain nyiram tiap hari, lalu kamu tinggal rebahan sambil nonton drama Korea. Kalau pun ada orang baik hati yang mau nyiram, suatu hari dia akan berhenti—dan tanamanmu mati, karena pemiliknya nggak pernah peduli.

Kadang aku heran, kenapa banyak yang punya energi buat ngeluh, tapi nggak punya tenaga buat berusaha. Punya kuota buat stalking orang lain, tapi nggak ada kuota buat cari informasi kerja. Punya waktu buat nongkrong berjam-jam, tapi nggak ada waktu buat belajar skill baru.
Lalu ketika hidupnya nggak berubah, dia marah pada dunia, merasa semua orang jahat karena “nggak mau nolong”.

Sadar nggak, dunia ini sibuk. Semua orang berjuang dengan beban masing-masing. Kalau kamu masih pikir ada orang yang mau ngurus masa depanmu sepenuh waktu ... selamat! kamu lagi hidup di planet fantasi.

Mau aku kasih tahu rahasia kecil?
Orang yang bener-bener peduli sama masa depanmu, justru akan membiarkan kamu jatuh, supaya kamu belajar berdiri. Mereka nggak akan selalu membentangkan karpet merah tiap kamu mau melangkah, karena dunia nyata itu isinya jalan berbatu, bukan karpet hotel bintang lima.

Jadi mulai sekarang, yuk kita bikin perjanjian tidak tertulis! 
Aku akan tetap dukung kamu dalam bentuk semangat, doa, atau kadang masukan. Tapi aku nggak akan ikut memanggul masa depanmu di pundakku.
Kalau mau sukses, ayo… lari bareng!
Kalau mau nyerah, ya itu pilihanmu! 
Tapi jangan seret-seret aku buat ikut nyungsep.

Karena sekali lagi, dan tolong ini diingat baik-baik! 
Masa depanmu bukan tanggung jawabku! 
Kalau kamu mau hancur, silakan. Kalau kamu mau berhasil, berdirilah sendiri. Aku akan tepuk tangan dari sini.
Aku akan tepuk tangan untuk keberhasilanmu, meminjamkan pundak saat kamu sedih, bahkan mengingatkan kalau arahmu mulai melenceng. Tapi untuk menanam, menyiram, dan memanen—itu kerjaanmu, bukan tugasku! 
Ingat, hidup ini sistemnya BYO—Build Your Own masa depan. Mau sukses? Bangun sendiri. Mau gagal? Ya urus sendiri. Mau viral? Ya bikin konten sendiri.





Thursday, July 31, 2025

Lebih Baik Aku yang Menunggu


LEBIH BAIK AKU YANG MENUNGGU
Oleh: Rin Muna




Aku selalu percaya, bahwa sabar bukan cuma perkara menahan diri, tapi juga memilih siapa yang akan kita beri waktu. Dan hari ini, aku memilih untuk menunggu.

Siang itu panasnya khas Kecamatan Samboja—matahari yang menggantung tepat di atas kepala, menguras napas siapa pun yang nekat berjalan tanpa pelindung kepala. Tapi aku tetap melangkah keluar rumah, meninggalkan desa Beringin Agung yang teduh, menuju sebuah warung bakso di depan Eramart. Lokasinya paling nyaman untuk janjian, tapi hari ini aku tidak sedang cari kenyamanan. Aku sedang menepati janji.

Kurir TIKI itu sebelumnya sudah menghubungiku. Nada bicaranya cepat dan to the point, seperti orang yang terlalu sering dikejar waktu. “Maaf, Kak. Saya nggak bisa antar ke Beringin Agung, jauh masuk ke dalam dan paketnya cuma satu doang. Bisa kutitip  di daerah Sungai Seluang aja?”
"Jangan, Mas! Itu dokumen penting. Jangan dititip ke orang. Langsung saya ambil aja. Kita ketemuan di luar,  gimana?"
"Oke, mbak. Mungkin sekitar 1,5 jam lagi saya sampai di Sei Seluang."
"Oke."
Panggilan telepon ditutup. Aku langsung menghela napas mendengarnya. Setiap kali ada paket datang, harus berjuang mengambilnya ke luar. Padahal sudah bayar full tarif sampai depan rumah. 
Kalau aku mau egois, aku bisa bilang, "nggak mau, Mas! Saya kan sudah bayar paketnya sampai depan rumah. Harusnya diantar sampai rumah."
Tapi aku tidak seegois itu. Aku mengerti para kurir hanya sedang bekerja mencari rezeki dan aku tidak ingin menyulitkannya. Kata ulama, kalau kita mempermudah urusan orang, urusan kita juga akan dipermudah. Aamiin. 

Ini bukan kali pertama kurir menolak masuk ke desaku. Aku paham—jalan masuk ke desaku cukup jauh, sekitar 8 kilometer, jalannya banyak rusak, kadang berlubang, kadang bikin shockbreaker trauma berkepanjangan. Tapi sebagai orang yang dibesarkan di desa, aku juga tahu, mengeluh tidak akan memperpendek jarak. Jadi ya, aku jawab, “Oke, nanti saya tunggu di warung bakso depan Eramart, ya, Mas.”

Kupacu motor pelan-pelan, melewati jalanan desa yang seperti labirin kecil. Di bahuku ada tas selempang lusuh yang sudah jadi saksi banyak pengambilan paket. Di dalamnya, selain dompet dan HP, terselip secuil kesabaran yang hari itu kusiapkan khusus untuk kurir.

Sampai di warung bakso, aku duduk di kursi lapis karpet yang warnanya sudah pudar. Di hadapanku semangkuk bakso mengepul dan segelas jeruk hangat manis yang entah kenapa terasa lebih manis saat dinikmati dalam suasana menunggu. Aku menengok kanan-kiri, belum ada tanda-tanda motor TIKI mendekat.
Menunggu itu memang bukan hal yang menyenangkan. Tapi entah kenapa, aku lebih rela aku yang menunggu daripada orang lain yang menungguiku. Apalagi kurir. Mungkin bagi sebagian orang, kerjaannya cuma antar barang. Tapi bagiku, mereka ini adalah jembatan antara harapan dan kenyataan—antara dokumen penting yang ia bawa dan ketulusan di tangannya.

Satu jam berlalu. Aku mulai berpikir, mungkin masih banyak pengiriman lain yang lebih prioritas. Tapi aku tetap di situ, karena janjinya denganku belum selesai. Dan aku percaya, menepati waktu bukan soal besar-kecilnya urusan, tapi tentang menghargai siapa yang kita ajak bicara.

Akhirnya, pengendara motor berjaket biru-putih-merah khas Tiki itu berhenti di depan warung.

“Maaf ya, Kak, lama,” katanya sambil buru-buru membuka box besar di belakang motornya.

Aku tersenyum. “Nggak apa-apa, Mas. Saya juga nyantai, kok. Baru sampai juga.”
Aku tahu aku berbohong. Tapi berbohong untuk kebaikan, tidak dianggap sebagai dosa. Justru, untuk menjaga semuanya baik-baik saja. Aku tidak ingin kejujuran menjadi menyakitkan untuk orang yang sedang berjuang menyampaikan dokumen penting itu ke aku. 

Aku tahu, bakso di hadapanku sudah tinggal kuahnya. Tapi nggak masalah. Lebih baik aku yang menunggu, daripada Mas kurir yang harus keliling cari-cari aku, di tengah panasnya jalanan, di bawah tekanan target pengiriman, dengan waktu yang kadang tidak bersahabat.

Kadang, hidup bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang mau meluangkan waktu. Hari itu aku belajar lagi satu hal kecil tapi penting bahwa menjadi orang yang menunggu dengan ikhlas itu seperti jadi pohon di pinggir jalan, dia diam, tapi membuat perjalanan orang lain jadi lebih nyaman.

Dan kalau boleh memilih, aku ingin terus jadi orang yang rela menunggu. Karena dalam menunggu, ada ruang untuk merenung. Dalam diam, ada waktu untuk belajar tentang sabar. Dan dalam sabar, selalu ada kehangatan kecil yang menyembuhkan.

Menunggu juga membuat kita mengerti, siapa yang diprioritaskan. Terkadang, aku juga menjadi orang yang ditunggu karena mereka menganggap aku lebih penting dari mereka. Tapi aku juga sering menunggu karena aku menganggap orang yang aku tunggu, lebih penting dari diriku sendiri. 


Kalau kamu sendiri gimana? Lebih suka menunggu, atau ditunggu?

#catatanRinMuna
#ceritahariini
#CODanDiWarungBakso
#hidupdidesa

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas