Thursday, October 16, 2025

[Puisi] Jalak dan Aspal




Kicau burung jalak mewarnai pagi
Menari-nari di ranting pohon yang tinggi
Bercengkerama dengan senang hati
Menjaga keindahan dunia hingga petang hari


Tapi itu dulu! 
Itu dulu ... 
Waktu hutan masih hijau
Waktu kabut pagi masih bersahabat dengan kami. 

Sekarang hutan sudah hitam
Ranting pohon sudah jadi betoneser

Jalak yang biasa menari di atas pohon
Kini meringkuk di atas aspal
Menikmati panas dan hitamnya jalanan

Tak ada lagi rumah bermain yang rindang
Rumah bermain kami diselimuti panasnya aspal jalanan
yang beradu dengan roda-roda penghidupan. 

Jalak-jalak itu tak lagi bisa terbang bebas
Setiap hinggap, selalu ada tangan kecil yang merenggut hidupnya. 
Bahkan mereka tak berdaya pada rengek manusia kecil. 

Manusia yang bertahan hidup dengan merenggut semuanya. 
Rumah main jalak dan penghidup sepanjang hayatnya. 







Hutan Bukit Soeharto, 16 Oktober 2025

Rin Muna


Wednesday, October 15, 2025

THEN LOVE BAB 39 : SIBUK DALAM DUNIA MASING-MASING

 


“Kenapa?” tanya Chilton lewat panggilan telepon.

“Bisa ketemu?” tanya Ratu balik.

“Di mana?” tanya Chilton.

“Di taman kampus.”

“Nggak usah. Aku tunggu di kantin aja!”

“Oke.”

Chilton langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia meraih jaket yang ia letakkan di atas ranjang dan bergegas keluar dari kamar asramanya.

“Hai ... Chil, apa kabar?” tanya Attala saat mereka bertemu di teras.

“Baik.”

“Denger-denger udah ganti cewek, ya? Aku kira bakal jadian sama Dela,” tutur Attala.

Chilton tidak menyahut. Ia terus melangkahkan kakinya meninggalkan Attala.

Attala menggeleng-gelengkan kepala. “The Real Chilton is come back,” gumamnya sambil menunjuk punggung Chilton dari kejauhan. Attala sudah lumayan lama mengenal Chilton. Chilton memang cuek dan dingin sebelum ia mengenal Delana. 

Hanya Delana yang bisa mengubah sikap dan sifat Chilton menjadi orang yang ramah. Tapi, ketika terdengar rumor kalau mereka berpisah. Chilton kembali menjadi cowok yang dingin. Attala merasa bicara dengan Chilton seperti bicara dengan manekin.

Chilton langsung duduk di salah satu kursi kantin. Ia menunggu Ratu menemuinya. Dari kejauhan, ia melihat Delana sedang berjalan kaki memasuki gang rumahnya. Di sana, biasanya ia menunggu Delana untuk mengajaknya keluar menikmati jalanan kota Balikpapan.

“Hei, ngelamun!” Ratu langsung menepuk pundak Chilton.

Chilton tertawa kecil menatap Ratu yang sudah duduk di depannya.

“Kamu lihatin apa, sih?” tanya Ratu sambil melihat ke arah gang yang ada di depan kampusnya.

Chilton menggelengkan kepala. “Nggak ngelihatin apa-apa,” jawabnya sambil menahan tawa.

Ratu menatap curiga ke arah Chilton. “Mencurigakan!” dengusnya. “Mana ada orang senyum-senyum sendiri tanpa sebab?”

Chilton tertawa kecil. “Kenapa ngajak ketemu?” tanya Chilton.

“Nggak papa. Kangen aja sama kamu,” jawab Ratu manja.

Chilton setengah tersenyum. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya. Entah kenapa ia merasakan hal berbeda saat ia bersama Delana. Ia tak bisa melakukannya saat bersama Ratu.

“Eh, katanya kamu ngajar bareng Dela, ya?” tanya Ratu.

Chilton menganggukkan kepala.

“Masih sering ketemu sama dia, dong?” tanya Ratu.

Chilton tersenyum. “Kamu mau minum apa?”

Ratu menghela napas. Ia tahu kalau Chilton sedang berusaha mengalihkan perhatiannya. “Es teh aja,” jawab Ratu.

Chilton langsung memesankan dua gelas es teh pada karyawan kantin.

“Chil, kamu sama Dela itu pernah pacaran?” tanya Ratu.

Chilton menggelengkan kepala. “Nggak.”

“Tapi, kalian kelihatan deket banget. Dan gosip yang beredar, kalian itu pacaran.”

“Itu kan cuma gosip.”

“Jadi, kalian itu nggak pernah pacaran?” tanya Ratu. Wajahnya terlihat sangat bahagia saat mengetahui kalau Chilton dan Delana tidak pernah punya hubungan spesial.

“Cuma temenan,” jawab Chilton.

Ratu tersenyum. Ia merasa kalau ia akan mudah mendapatkan cinta Chilton karena sepertinya ia sudah tidak lagi membuka diri untuk Delana.

“Oh ya, sekarang kalian jarang banget barengan. Ada masalah?” tanya Ratu.

Chilton menggelengkan kepala. “Cewek kayak dia nggak pantes buat aku.”

Ratu terkejut mendengar ucapan Chilton. Mulutnya menganga. Ia tak percaya kalau Chilton akan mengatakan hal seperti itu.

“Yah, emang dia biasa aja sih. Nggak cantik-cantik amat,” tutur Ratu. Ia berusaha membuat Chilton semakin membenci Delana.

Chilton tersenyum kecil. “Aku nggak butuh cewek cantik. Aku butuh cewek yang setia.”

“Hah!? Maksud kamu? Dia bukan tipe cewek setia?” tanya Ratu semakin penasaran.

Chilton mengangkat kedua alis sambil mengedikkan bahunya.

“Gila! Aku pikir dia tuh cewek yang setia banget. Kelihatannya aja polos. Sekalinya, serigala berbulu domba juga,” celetuk Ratu.

Chilton menahan amarah saat Ratu berusaha mengatakan hal buruk tentang Delana. Entah kenapa hatinya menolak untuk berpikir negatif tentang Delana. Jauh di dalam hatinya, Delana adalah perempuan paling baik yang pernah ia kenal dalam hidupnya. Walau pikirannya selalu dipenuhi hal buruk tentang gadis itu.

“Aku denger-denger, dia udah punya pacar,” tutur Ratu sambil menyeruput es teh yang sudah tersedia di depannya.

Chilton mengangkat kedua alisnya saat mendengar pernyataan Ratu. Apa benar Delana sudah punya pacar? Bukankah mereka baru saja memutuskan untuk berpisah? Dugaannya memang benar. Delana adalah cewek yang suka mempermainkan cowok.

“Aku denger-denger, pacarnya Dela tuh ganteng banget dan tajir abis,” tutur Ratu.

“Masa, sih?” tanya Chilton penasaran. Ia tidak suka bergosip. Tapi, ketika yang dibicarakan adalah Delana, ia langsung tertarik untuk mendengarkannya.

“Iya. Ternyata Dela demen juga sama cowok kaya.” Ratu menggeleng-geleng heran. “Aku pikir dia tuh gak matre. Ternyata, lebih parah dari dugaanku.”

Chilton mengangkat kedua alisnya. Apa benar Delana cewek matre? Selama ia dekat dengan Delana, dialah yang sering mentraktir makanan untuk Chilton.

“Dia emang suka cowok ganteng,” ucap Chilton.

“Kamu nggak cemburu lihat dia jalan sama cowok lain?” tanya Ratu.

“Cemburu kenapa? Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia,” jawab Chilton. Ia memang merasa tidak nyaman ketika tahu bahwa Delana telah memiliki kekasih. Tapi, karena dia telah menolak Delana. Ia pikir tidak masalah kalau Delana berpacaran dengan cowok lain.

Ratu tersenyum penuh kemenangan.

“Minggu ada waktu nggak?” tanya Chilton.

“Mmh ...” Ratu terlihat berpikir sejenak. “Nggak ada. Kenapa?”

“Jalan, yuk!” ajak Chilton.

“Hah!? Kamu serius ngajak aku jalan?” tanya Ratu dengan wajah sumringah.

Chilton menganggukkan kepala.

“Oke.”

Chilton tersenyum kecil. Ia dan Ratu memang berada dalam dunia yang berbeda. Tapi, mungkin saja Ratu bisa mengalihkan dirinya dari Delana. Satu-satunya cewek yang tidak akan pernah pergi dari singgasana hatinya. Meski ia harus melihatnya bersama orang lain. Itu lebih baik daripada ia harus dipermainkan oleh cewek seperti Delana.

***

“Del, kamu udah ngerjain tugas dari dosen?” tanya Belvina saat mereka duduk-duduk di kursi yang ada di koridor.

“Udah. Kenapa, Bel?” tanya Delana.

“Nggak papa, tanya doang.”

“Kirain mau minta bantuin ngerjain tugas juga.”

“Udah selesai juga punyaku.”

“Bantuin kerjain tugas aku dong!” pinta Ivona.

“Hah!? Tugas apaan?” tanya Delana.

“Dia pasti banyak tugasnya karena jarang masuk kuliah,” celetuk Belvina.

Ivona meringis.

“Del, ada cowok di depan gerbang nyariin kamu!” seru salah satu mahasiswa yang tiba-tiba menghampiri Delana.

“Hah!? Siapa?”

“Kayaknya bukan anak sini. Dia bawa banyak anak buah, bawa bunga, bawa hadiah, udah kayak mau lamaran aja,” celetuk mahasiswa tersebut.

“Eh!?” Delana dan dua temannya saling pandang. Ia masih tak bisa menerka-nerka siapa cowok yang dimaksud.

Delana langsung bangkit dan bergegas menuju gerbang kampus diikuti oleh kedua temannya.

Delana menghentikan langkahnya saat melihat cowok yang berdiri di depan pintu gerbang sambil membawa spanduk bertuliskan “I Love You Delana”.

Delana menghela napas. Ia tidak habis pikir kenapa Hendra bisa melakukan ini. Ia menyingkap kerumunan mahasiswa yang sedang menonton kehadiran Hendra dan beberapa temannya yang membawakan bunga, boneka dan beberapa bingkisan untuk Delana.

Delana menghampiri Hendra. “Kamu ngapain di sini?” tanya Delana.

“Nyariin kamu.”

“Ngapain bawa-bawa beginian?” tanya Delana sambil menunjuk beberapa orang yang ada di belakang Hendra.

Hendra tersenyum. “Ini hadiah buat kamu.”

“What!? Hadiah?” tanya Delana terkejut. Ia menoleh ke arah gedung kampus. Hampir semua mahasiswa memerhatikan mereka.

Hendra tersenyum ke arah Delana. “Kenapa? Nggak suka?”

“Ini terlalu berlebihan!” celetuk Delana. “Udah kayak mau lamaran aja!”

“Kalo kamu mau,” sahut Hendra sambil tersenyum ke arah Delana.

“Kamu tuh nggak malu dilihatin banyak orang kayak gini?” tanya Delana.

“Malu kenapa?”

Delana menghela napas. “Lihat aja orang-orang di belakang aku! Mereka semua perhatiin kita.”

Hendra tersenyum menatap kerumunan mahasiswa yang menontonnya. Ia melambaikan tangan ke arah para mahasiswa tersebut.

“Astaga ... malah dadah-dadah!” celetuk Delana sambil menurunkan lengan Hendra.

Hendra tersenyum ke arah Delana. Ia menjatuhkan lututnya ke lantai dan meraih tangan Delana. “Del, aku ke sini pengen ngungkapin sesuatu sama kamu,” tuturnya.

Delana mengangkat kedua alisnya.

“Kamu mau nggak jadi pacarku?” tanya Hendra.

Delana terkejut dengan pertanyaan Hendra. Ia menatap beberapa cowok yang ada di belakang Hendra. Kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Hendra.

“Sorry ...! Aku nggak bisa jadi pacar kamu, Hen.”

“Please, Del!” pinta Hendra sambil meraih kaki Delana.

“Aku nggak bisa, Hen. Aku nggak suka sama kamu.”

“Kenapa? Bukannya kita udah kenal dari kecil?” tanya Hendra.

“Kenal dari kecil, bukan berarti kita harus saling jatuh cinta. Aku nggak cinta sama kamu dan kamu juga nggak bisa maksain keinginan kamu.”

Hendra tertunduk. Matanya memerah dan tangannya mengepal kuat. Ia meninju lantai dengan keras sampai punggung tangannya terluka. “Aargh ...!” teriaknya kesal.

Delana mundur satu langkah dari hadapan Hendra. “Aku nggak suka kamu kayak gini,” tutur Delana dengan bibir bergetar. “Kamu terlalu emosional dan aku nggak nyaman ada di dekat kamu,” tutur Delana sambil melangkah mundur.

Hendra mendongakkan kepala menatap Delana. Ia berteriak kesal dalam hati karena Delana telah menolak cintanya.

“Bawa pulang semua itu. Maaf, aku nggak bisa nerima kamu,” tutur Delana sambil menunjuk semua hadiah yang masih di pegang oleh beberapa orang dengan dagunya.

Hendra bangkit. Ia berdiri sambil menatap lesu ke arah Delana. Tiba-tiba ia merasa tidak bersemangat. Ia sempoyongan dan hampir terjatuh. Anak buahnya dengan sigap menangkap dan menjaga bosnya agar tetap berdiri.

“Del, kamu boleh nolak cintaku. Tapi, aku mohon banget kamu terima semua hadiah dari aku!” pinta Hendra.

Delana menatap semua hadiah dari Hendra. Ia merasa tidak nyaman dengan hadiah-hadiah yang dibawakan Hendra. Ia tidak tahu bagaimana cara menerima hadiah sebanyak itu.

“Aku nggak bisa nerima hadiah sebanyak itu.”

“Aku kirim ke rumahmu.”

“Terserah kamu, Hen.” Delana membalikkan tubuhnya dan bergegas meninggalkan Hendra.

Hendra mengejar Delana dan langsung menarik lengannya dengan kuat hingga gadis itu terjerembap di dada Hendra. Hendra langsung memeluk Delana dengan erat. “Izinkan aku meluk kamu sebelum aku pergi,” bisik Hendra di telinga Delana.

Delana terdiam. Ia berusaha melepas pelukan Hendra tapi pelukannya terlalu kuat sehingga ia memilih untuk diam sampai Hendra selesai bicara.

“Hen, kita dilihatin banyak orang!” seru Delana.

“Aku nggak peduli!”

“Aku nggak bisa nerima cinta kamu,” tutur Delana lirih.

Hendra terdiam. Ia mengelus kepala Delana dengan lembut, kemudian melepas pelukannya.

Hendra menggenggam kedua pundak Delana. Ia menatap lekat mata gadis itu. “Tapi, kita masih bisa berteman kayak dulu, kan?” tanya Hendra sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Delana. Ia bisa melihat bayangannya sendiri di dalam manik mata Delana yang begitu indah.

Delana tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Makasih, ya! Aku pulang sekarang!” pamit Hendra. Ia melepaskan pundak Delana dan melangkah mundur perlahan kemudian bergegas pergi meninggalkan Delana.

Delana menghela napas lega saat Hendra akhirnya pergi dari hadapannya. Ia menatap ke seluruh mahasiswa yang menonton adegan dirinya dengan Hendra. Mereka mulai membubarkan diri satu persatu.

“Del, kenapa ditolak?” tanya Ivona.

“Aku nggak suka sama dia.”

“Padahal dia tuh udah so sweet banget!” celetuk Belvina. “Ganteng banget ternyata!”

“Ganteng tapi malu-maluin!” dengus Delana.

“Malu-maluin kenapa? Itu loh sweet banget. Dia nyatain cinta di depan semua orang.”

“Kamu pikir nggak malu ditontonin segitu banyaknya orang?”

“Ngapain malu sih? Itu kan bukan tindakan kriminal. Semua cewek suka digituin. Mereka pasti pada iri kalau kamu beneran nerima dia.”

Delana menghela napas mendengar pembicaraan dua sahabatnya itu.

“Iya. Kata mereka kamu tuh bego banget karena udah nolak cowok seganteng dan setajir dia.”

“Nyatain cinta aja udah kayak lamaran. Bawa hadiahnya banyak banget!”

“Apalagi kalo lamaran? Bisa-bisa seserahannya mobil sama rumah.”

“Kalian ngomongin apaan, sih?” dengus Delana.

“Ngomongin kamu!” sahut Belvina sambil tertawa.

“Udah deh! Nggak usah ngomongin aku terus! Ntar kamu jatuh cinta sama aku,” tutur Delana.

Belvina dan Ivona saling pandang kemudian tertawa bersamaan.

***

Hendra merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia tak menyangka kalau pernyataan cintanya mendapat penolakan dari Delana. Ia belum pernah ditolak sebelumnya dan hal ini benar-benar membuatnya kesal.

“Aargh ...!” teriak Hendra sambil mengacak rambutnya. Ia bangkit dan menatap dirinya di depan cermin.

“Apa aku kurang ganteng?” tanya Hendra pada bayangannya sendiri. Ia mengamati seluruh wajahnya dan ia rasa sudah cukup tampan.

“Apa aku kurang kaya? Kamu kenapa  nolak aku sih, Del?” tanya Hendra pada bayangannya sendiri.

Hendra merasa sangat kesal karena ia ditolak oleh wanita untuk pertama kalinya. Ia menarik dasi yang melingkar di lehernya dan melemparkan ke lantai.

“Bibi ...!” teriak Hendra.

Yang dipanggil langsung datang dengan tergopoh-gopoh. “Ada apa, Mas?”

“Ada stock whisky atau anggur merah?” tanya Hendra.

“Ada.”

“Bawa ke sini semua!”

“Semuanya Mas?”

“Iya. Kan aku bilang semua!” sentak Hendra.

Pembantu Hendra bergegas pergi dan kembali dengan membawa beberapa botol anggur merah.

Hendra langsung menyambar satu botol anggur yang sudah diletakkan di atas meja. “Makasih, Bi!” ucapnya sambil melambaikan tangan menyuruh pergi.

Hendra sengaja menenggak minuman beralkohol sedikit demi sedikit agar pikirannya lebih tenang. Ia merasa, Delana benar-benar mengacaukan pikirannya.

“Del ... aku cinta sama kamu. Kenapa kamu nolak aku?” Hendra terus meracau seorang diri dalam keadaan mabuk hingga ia tak sadarkan diri.

Keesokan harinya, Hendra sudah berada di depan rumah Delana.

Delana terkejut saat baru pulang dari kampus dan mendapati mobil Hendra sudah terparkir di depan pagar rumahnya.

“Kamu ngapain di sini?” sapa Delana pada Hendra yang berdiri bersandar di samping mobilnya.

“Nunggu kamu pulang.”

“Udah dari tadi?” tanya Delana.

“Lumayan.”

“Ya udah, masuk dulu, yuk!” ajak Delana sambil membuka pintu pagar rumahnya.

Hendra melangkah mengikuti Delana.

“Mobil kamu gak dimasukin ke halaman?” tanya Delana.

“Nggak usah.”

Delana tersenyum. Ia melangkahkan kakinya memasuki rumah.

“Udah makan?” tanya Delana.

“Belum. Aku mau ngajak kamu makan di luar.”

Delana menghentikan langkahnya dan menatap Hendra.

“Makan di sini aja, ya!” pinta Delana.

“Oh, ya? Boleh.”

“Oke. Aku masak dulu!” pamit Delana.

“Aku boleh bantuin kamu masak?” tanya Hendra sambil terus mengikuti langkah Delana.

“Bisa?” tanya Delana sambil tersenyum.

“Bisa kalo cuma bantuin doang.”

Delana tersenyum. “Ayo!” ajaknya.

Akhirnya, Hendra dan Delana menghabiskan banyak waktu di dapur. Memasak sambil bercanda ria.

“Mari makan!” seru Delana saat hidangan sudah tersedia di atas meja makan.

“Kamu memang suka masak sendiri ya?” tanya Hendra.

Delana mengangguk pasti.

“Bryan mana?”

“Masih sekolah.”

“Jam segini belum pulang?”

“Belum. Kalo ada ekskul tambahan di sekolahnya, dia pulangnya sore.”

Hendra mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.

“Mau minum bir?” tanya Delana.

“Ada?” tanya Hendra balik.

“Ada.” Delana tersenyum. Ia membuka lemari dapur dan mengeluarkan dua botol bir. “Ayah suka banget minum bir. Sudah lama kita nggak menghabiskan waktu bersama di meja makan sambil menikmati bir,” tutur Delana sambil terduduk lesu di kursi meja makan.

Hendra tersenyum menatap Delana. “Kangen sama ayah kamu?” tanya Hendra.

Delana menganggukkan kepala.

“Gimana kalo kita pergi bareng-bareng ke sana? Sekalian liburan.”

“Aku kuliah. Bryan sekolah.”

“Sabtu sama minggu aja gimana?”

“Mmh ...” Delana memutar bola matanya.

“Aku yang bayarin semuanya.”

Delana tersenyum. “Makasih. Tapi, aku rasa nggak perlu.”

“Katanya kangen sama ayah kamu?”

“Iya. Tapi, kami sering video call, kok.”

“Yah ... padahal aku pengen banget bisa ketemu ayah kamu.”

Delana tersenyum.

“Ayo, makan!” ajak Delana.

Mereka sama-sama menikmati masakan Delana.

“Del ...!” panggil Hendra

 “Ya.”

“Apa sih yang bikin kamu nggak mau jadi pacar aku?”

Delana mengangkat kedua alisnya. “Kita udah temenan dari kecil. Kayaknya lebih asyik kita tetep temenan kayak gini. Aku nggak suka sifatmu yang temperamen banget.”

“Sorry ... soal itu, aku ...”

Delana tersenyum sambil menatap Hendra. “Kamu harus bisa ngerubah sikap kamu.” Delana meraih tangan Hendra yang masih luka karena kejadian kemarin. “Kamu tahu, kamu bukan hanya bisa melukai dirimu sendiri, tapi juga melukai orang-orang terdekatmu,” tutur Delana sambil menatap luka di punggung tangan Hendra.

“Maaf, kalo selama ini aku udah bikin kamu takut!” tutur Hendra.

Delana tersenyum. Ia melepas tangan Hendra dan berkata, “semoga kamu bisa berubah menjadi laki-laki yang lebih baik lagi. Menjadi kuat tidak harus dengan berkelahi, menjadi hebat tidak harus terlihat tinggi. Ada banyak cinta di sekitarmu kalau kamu bisa lebih bijak dalam menyikapi hidup.”

Mata Hendra berbinar menatap Delana yang begitu bijak menasehatinya. “Del, kamu terlalu baik buat dilupain. Aku nggak akan pernah ngelupain kamu seumur hidupku.”

“Makasih!” tutur Delana sambil tersenyum.

Hendra tertawa kecil. Ia bahagia punya teman kecil seperti Delana. Mungkin, tak banyak wanita yang seperti Delana. Tapi, ia yakin suatu hari nanti akan menemukan cewek yang seperti Delana. Setidaknya, dia tahu bagaimana cara memilih pasangan hidup yang baik. Bukan seperti cewek-cewek yang hanya menemaninya bersenang-senang selama ini.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Delana dan Hendra menoleh ke arah pintu berbarengan.

“Bryan,” bisik Delana. “One ... two ... tree ...” Delana sengaja menghitung dan benar saja Bryan muncul di pintu dapur.

“Masak apa, Kak?” tanya Bryan. Ia langsung duduk di meja makan tanpa melepas seragam dan tasnya terlebih dahulu.

“Masak ini aja.” Delana menunjuk hidangan yang sudah tersedia di atas meja.

“Enak nih!” Bryan langsung bernafsu saat melihat ikan nila bakar dan sambal pencit mangga yang sudah tersedia di atas meja. Ia langsung mengambil piring, ia isi dengan sedikit nasi dan menyomot ikan nila.

“Eh!” Delana menepis tangan Bryan saat ia akan menyomot ikan nila.

“Kenapa, Kak?” tanya Bryan.

“Cuci tangan dulu!”

“Hehehe. Lupa,” sahut Bryan nyengir. Ia bangkit dari tempat duduknya dan langsung berjalan menuju tempat cucian piring untuk mencuci tangannya.

“Kebiasaan, tuh. Kalo mau makan jarang banget cuci tangan,” celetuk Delana.

Hendra tertawa kecil. “Namanya juga laki-laki.”

Bryan hanya tertawa dan kembali duduk di kursinya. Ia langsung makan dengan lahap.

“Doyan makan dia?” tanya Hendra pada Delana.

“Banget!”

“Kok, nggak gemuk ya?” tanya Hendra.

“Banyak kegiatan, Kak,” sahut Bryan dengan mulut penuh makanan. “Aku ikut ekskul basket sama beladiri.”

Delana tersenyum menatap adiknya yang selalu lahap makan apa pun yang dimasak oleh Delana.

“Kenapa ikut ekskul beladiri?” tanya Hendra.

“Biar bisa jagain Kakak,” jawab Bryan.

“Adik yang baik,” puji Hendra.

“Biar bisa kayak Kak Hendra juga,” tutur Bryan.

Hendra mengangkat kedua alisnya.

“Selalu menang kejuaraan nasional.” Bryan tersenyum sambil menatap Hendra.

“Kamu ikut beladiri juga?” tanya Delana pada Hendra. Ia sama sekali tidak tahu kalau Hendra adalah salah satu pemuda yang menjadi juara beladiri tingkat nasional. Dia memang tidak mengikuti berita-berita seperti itu.

Hendra hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Delana.

“Awas kamu kalo kayak Kak Hendra!” ancam Delana.

“Loh? Kenapa? Keren Kak kalo bisa dapet juara,” sahut Bryan.

“Bukan masalah juaranya. Masalahnya, Kak Hendra ini suka berantem di mana aja. Sok jagoan!” celetuk Delana sambil menatap sinis ke arah Hendra.

Hendra sama sekali tidak marah. Ia hanya tertawa kecil mendengar ucapan Delana.

“Emang dia jagoan, Kak!” seru Bryan membela Hendra.

“Kamu belain dia?” Delana mendelik ke arah Bryan.

“Sesama lelaki,” jawab Bryan pelan sambil menyembunyikan wajahnya.

Hendra tertawa kecil. “Ternyata, kamu lebih serem dari aku kalo lagi marah,” celetuk Hendra.

Delana memukul pundak Hendra sambil mengerutkan hidungnya.

“Eh, main pukul? Nggak boleh anarkis!” goda Hendra sambil menunjuk hidung Delana. Ia tertawa melihat wajah Delana yang merengut.

Delana mencebik ke arah Hendra. “Bodo amat!”

“Kak ...!” panggil Bryan.

“Ya.”

“Uang sekolah aku belum dibayar?” tanya Bryan.

“Astaga ...! Kakak lupa!” Delana menepuk dahinya sendiri.

“Pantesan. Tadi siang aku dipanggil sama kelapa sekolah. Katanya, aku belum bayar uang sekolah.”

“Iya. Besok kakak bayarin.”

“Beliin aku sepatu baru, ya!” pinta Bryan.

“Sepatu apa? Sepatu sekolah?” tanya Delana.

“Sepatu basket.”

“Kakak nggak ngerti beli begituan. Kamu pergi sendiri, ntar Kakak kasih uangnya.”

Bryan menganggukkan kepala.

Mereka melanjutkan makan sore bersama.

Hendra langsung berpamitan untuk pulang. Saat keluar dari rumah Delana, ia bertekad akan merubah dirinya yang terkesan menakutkan di mata Delana. Ia harus bisa mengubah rasa takut dan ngeri itu menjadi rasa aman agar orang yang ia cintai tetap nyaman berada di sampingnya. 


((Bersambung...)) 

THEN LOVE BAB 38 : TAK PERNAH BERUBAH

 


Minggu pagi, mobil Hendra sudah parkir di depan halaman rumah Delana sesuai janjinya.

“Pagi ...!” sapa Hendra sambil memberikan setangkai mawar putih untuk Delana begitu Delana membukakan pintu rumahnya.

“Pagi juga.” Delana mengernyitkan dahinya melihat bunga yang ada di tangan Hendra.

Hendra tersenyum dan menyodorkan bunga itu lebih dekat pada Delana.

“Ini maksudnya apa?” tanya Delana sambil menatap bunga yang masih berada di tangan Hendra.

“Hmm ... kamu nggak suka bunga, ya?” tanya Hendra. Ia kemudian mengangkat kantong plastik yang ia sembunyikan di belakang punggungnya. “Kalo yang ini, gimana?” tanya Hendra sambil menunjukkan kantong plastik berisi beberapa ice cream kesukaan Delana.

Delana tertawa kecil. “Kamu masih ingat aja,” celetuknya.

“Mau nggak?” tanya Hendra karena Delana tak kunjung mengambil semua pemberiannya.

Delana langsung menyambar kantong plastik berisi ice cream dari tangan Hendra. “Ayo, masuk dulu!” ajak Delana.

Hendra tertawa kecil. “Bunganya nggak mau?” tanya Hendra.

“Itu bunga asli atau bukan?” tanya Delana.

“Asli, dong! Masa iya aku beliin kamu bunga palsu.”

Delana tertawa kecil. Ia meraih bunga itu dari tangan Hendra. Delana langsung membuka pita dan plastik yang membungkus bunga tersebut.

“Loh? Kok, dirusakin?” tanya Hendra. Ia merasa kesal karena bunga yang ia berikan langsung dirusak Delana di depan matanya.

Delana tersenyum. Ia menghampiri pot bunga yang ada di teras rumah dan menancapkan bunga tersebut. “Kalau nggak dirusakin, dia bakal layu di tempatnya. Lebih baik di tanam,” tutur Delana.

Hendra tertawa kecil. Ia tak menyangka kalau Delana begitu peduli dengan pemberiannya. Ia berharap mawar itu akan tumbuh subur dan Delana akan selalu mengingatnya setiap kali ia keluar dari rumah.

“Masuk dulu, yuk!” ajak Delana sambil menarik lengan Hendra.

“Kamu sudah mandi apa belum?” tanya Hendra.

“Belum.” Delana meringis.

“Pantesan masih bau!” ejek Hendra.

“Idih ... sorry lah ya! Aku tuh biar nggak mandi seminggu juga tetep harum.” Delana mencebik ke arah Hendra.

“Harum jiggong!” seru Hendra.

“Ngolok! Cium neh kalo nggak percaya!” Delana meyondongkan tubuhnya.

“Sini!” Dengan senang hati Hendra bersiap mencium Delana.

“Enak aja!” Delana mengusap wajah Hendra dengan telapak tangannya.

“Aneh! Kamu yang mancing,” dengus Hendra.

Delana meringis. “Aku mandi dulu, kamu tunggu di sini, ya!”

“Kamu tuh aneh juga. Aku kan udah bilang mau jemput jam sembilan. Kenapa nggak siap-siap dari tadi?”

“Masih masak sama beres-beres rumah. Maklum lah cewek. Lagian, kalo minggu gini pembantu aku libur.”

“Hah!? Bukannya pembantu seharusnya dua puluh empat jam di dalam rumah?”

“Enggak. Aku cuma minta bantu nyuci, gosok sama beres-beres aja. Yang lain masih aku kerjain sendiri. Hitung-hitung, belajar jadi ibu rumah tangga,” ucap Delana sambil mengedipkan mata.

“Bagus!” Hendra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku naik dulu ya!” pamit Delana sambil bergegas pergi.

Hendra langsung duduk di sofa. Ia mengambil ponsel di sakunya dan memilih menonton video youtube sambil menunggu Delana.

Beberapa menit kemudian, Delana sudah muncul kembali.

“Udah siap?” tanya Hendra.

“Udah,’’ jawab Delana sambil tersenyum.

“Bryan mana? Dari tadi nggak kelihatan.”

“Masih tidur. Ini kan hari Minggu. Dia bangunnya siang.”

“Oh, anak muda memang begitu,” celetuk Hendra.

Delana tersenyum.

“Ayo, berangkat!” ajak Hendra. Ia bangkit dari sofa dan berjalan bersama Delana keluar dari rumah.

Hendra melajukan mobilnya ke arah jalan MT. Haryono.

“Kita mau ke mana?” tanya Delana.

“Udah, ikut aja!” ucap Hendra sambil tersenyum.

Sepuluh menit kemudian, Mobil Hendra memasuki jalan Syarifuddin Yoes.

Delana hanya terdiam sambil menikmati pemandangan kota yang tidak setiap hari ia lalui.

Delana tersentak saat Hendra membelokkan mobilnya memasuki halaman Royal Suite Hotel. “Kita mau ngapain ke sini?” tanya Delana ketakutan. Ia tak menyangka kalau Hendra mengajaknya ke hotel.

Hendra tersenyum menatap Delana. “Menurut kamu, kita mau ngapain?” Hendra menyondongkan tubuhnya ke arah Delana.

“Jangan macem-macem ya!” ancam Delana.

Hendra tertawa kecil. “Asal kamu nurut, aku nggak bakalan macem-macem kok,” tutur Hendra sambil memarkirkan mobilnya.

Delana terdiam. Otaknya sudah terisi semua prasangka buruk tentang Hendra. “Apa bener cowok kayak identik dengan istilah bad boy?” batin Delana dalam hatinya. “Kalo aku ikut sama dia, bisa aja dia ngajak aku masuk ke kamar hotel dan­−” tutur Delana dalam hati sambil bergidik. Ia sama sekali tak punya keinginan untuk keluar dari mobil.

“Ayo, turun!” ajak Hendra sambil menoleh ke arah Delana yang masih bergeming.

Delana tak bereaksi. Ia hanya mematung dan sama sekali tidak menggubris ajakan Hendra.

Hendra menghela napas. “Del ...!” panggil Hendra sambil meraih tangan Delana.

Delana langsung menepiskan tangan Hendra dengan kasar.

Hendra tertawa kecil. Ia tahu kalau Delana sudah berpikir negatif tentang dirinya karena ia mengajak gadis itu ke hotel.

“Del, jangan mikir porno ya! Aku ke sini cuma mau lihat pameran doang,” tutur Hendra sambil menahan tawa.

Delana langsung menoleh ke arah Hendra. “Serius?” tanya Delana.

“Ck, nggak percaya? Tanya sama security di depan!” perintah Hendra.

Delana menghela napas. “Oke. Aku percaya sama kamu. Tapi, kalo sampe masuk dan nggak ada pameran, kamu kuhajar loh!” ancam Delana.

“Iya. Aku mah rela dihajar sama cewek secantik kamu setiap hari,” tutur Hendra sambil tertawa kecil.

Delana tergelak mendengar ucapan Hendra.

“Nah, gitu dong! Ketawa lebih cantik daripada merengut terus.”

Delana tersenyum. Akhirnya mereka sama-sama keluar dari mobil.

Delana melangkahkan kaki memasuki lobi hotel. Ia mengedarkan pandangannya melihat suasana hotel yang bergaya etnik modern. Di beberapa sudut terlihat ukiran-ukiran khas dayak. Dinding-dindingnya juga dihiasi beberapa lukisan asli potret penari dan penduduk suku dayak.

Hendra menarik lengan Delana untuk melihat pameran karya seni dan sastra yang terpajang di koridor, tepat di sebelah Kahayan Cafe & Bar.

Delana menikmati hasil karya yang dipamerkan.

“Hei, Hen! Akhirnya datang juga,” sapa seseorang yang mengenakan jas hitam. Ia langsung merangkul Hendra.

“Iya. Kebetulan lagi nggak sibuk,” sahut Hendra sambil tersenyum.

“Siapa?” tanya teman Hendra sambil melirik Delana yang berdiri di samping Hendra.

“Oh, kenalin. Ini Dela,” jawab Hendra memperkenalkan Delana dengan temannya. “Ini namanya Rian, temen bisnis aku,” bisik Hendra di telinga Delana.

Rian langsung mengulurkan tangan pada Delana. Delana menyambutnya sambil tersenyum.

Teman-teman Hendra yang lain berdatangan satu per satu. Sehingga Hendra sibuk berbincang dengan teman-temannya.

“Aku mau lihat-lihat dulu ya!” bisik Delana di telinga Hendra.

“Sendirian nggak papa?” tanya Hendra.

Delana tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Oke.” Hendra membiarkan Delana melihat-lihat pameran sementara ia sibuk membicarakan pekerjaan dan bisnis bersama dengan teman-temannya.

Delana memerhatikan beberapa lukisan dan karya seni lain satu per satu. Matanya kemudian tertuju pada lorong yang menuju ke taman belakang. Di sana, terlihat beberapa orang sedang berkumpul bercanda gurau sambil menikmati suasana taman belakang hotel yang asri. Di sana juga tersedia photobooth. Pengunjung bisa berfoto ria dengan view taman yang indah dan asri.

“Hai, cantik!” sapa seseorang di belakang Delana.

Delana langsung membalikkan tubuhnya dan menatap tiga cowok yang sudah ada di belakangnya. Cowok-cowok itu terlihat sangat agresif dan Delana tidak nyaman dengan tatapannya.

“Boleh kenalan?” tanya salah satu cowok yang ada di depan Delana.

Delana tidak menjawab. Ia mundur beberapa langkah untuk menghindar dari tiga cowok tersebut.

“Kok diam aja?”

“Bisu ya?”

“Hahaha.”

“Cantik-cantik jangan sombong dong!” ucap salah satu cowok sambil menyolek dagu Delana.

Delana langsung menepis tangan cowok itu dengan kasar. “Jangan lancang ya!”

Cowok itu memerhatikan penampilan Delana dari ujung kaki sampai ke ujung rambut.

Delana terus melangkah mundur hingga bersandar di dinding. Tiga cowok tersebut terlihat sangat bernafsu menatap Delana.

“Kalian ngapain?” Tiba-tiba Hendra muncul dan langsung mendorong satu cowok yang berusaha mendekati Delana.

Delana langsung bersembunyi di balik punggung Hendra.

“Santai cuy! Kita cuma mau kenalan, kok.”

“Kenalan, nggak usah pegang-pegang!” sentak Hendra.

Ketiga cowok itu saling pandang kemudian tertawa sinis menatap Hendra.

“Kalian cari gara-gara sama aku, hah!?” Hendra langsung menarik kerah baju cowok itu.

“Jangan kelahi, Hen!” Delana menarik lengan Hendra agar melepaskan genggamannya.

Hendra mengikuti perintah Delana dan langsung melepaskan kerah baju cowok itu. Ia merangkul Delana dan bergegas pergi.

“Banci!” maki cowok itu saat Hendra sudah berbalik dan melangkah pergi.

Telinga Hendra panas mendengar ucapan cowok itu. Ia mengeratkan gigi-giginya. Tangannya mengepal kuat, dadanya naik turun secara perlahan dan urat matanya menegang.

Secepat kilat, Hendra berbalik dan langsung menghantam wajah cowok itu dengan kepalan tangannya. Cowok tersebut langsung jatuh tersungkur karena tidak menyangka kalau Hendra akan berbalik dan langsung memukulnya dengan cepat.

“Kamu nggak papa?” tanya kedua temannya saat melihat darah yang mengalir dari hidung dan mulut akibat terkena tinjuan.

Cowok itu terduduk sambil mengusap darah yang keluar dari hidungnya. Ia memandang Hendra penuh kebencian.

“Hen, jangan berantem di sini!” seru Delana sambil melihat ke sekeliling yang mulai rama menyaksikan adegan duel antara Hendra dan tiga cowok tersebut.

Hendra tak lagi menghiraukan ucapan Delana. Ia memasang kuda-kuda saat dua cowok yang masih berdiri tegak itu bersiap menyerangnya.

Hendra berusaha menghindari pukulan dari musuh dan menendang bagian vitalnya. Namun, satu musuhnya lagi justru menendang wajahnya dan ia tak sempat menghindar.

Delana berteriak saat melihat darah mengucur dari pelipis Hendra. Ia menitikan air mata, tak tega melihat wajah Hendra terluka.

“Ada apa ini?” tanya teman-teman Hendra yang tiba-tiba muncul. Di belakangnya juga ada security hotel yang menanyakan hal sama.

“Kalian ngapain di sini?” tanya salah satu teman Hendra pada tiga cowok yang menyerang Hendra.

“Nggak ngapa-ngapain, Bang,” jawab mereka sambil menundukkan kepala.

“Kamu kenapa babak belur kayak gini?” tanya Rian sambil membolak-balik wajah Hendra.

“Kelakuan mereka tuh!” Hendra menunjuk ketiga cowok itu dengan dagunya.

“Kenapa mereka?” tanya Rian. “Kalian nggak tahu siapa Bang Hendra?” tanya Rian pada cowok itu.

Ketiga cowok itu menggelengkan kepala.

“Ini Hendra Sutopo, senior kalian, goblok!” maki Rian.

Ketiga cowok itu terkejut mendengar nama Hendra Sutopo. Senior mereka dalam organisasi dan beberapa komunitas. Siapa yang tak kenal dengan nama Hendra Sutopo. Hampir seluruh kota mulai dari orang tua sampai anak-anak mengenal Hendra Sutopo sebagai anak muda yang berprestasi dalam kejuaraan beladiri nasional. Selain itu, ia juga punya banyak bisnis sehingga namanya semakin dikenal oleh masyarakat.

 “Maafin kami, Bang!” Ketiga cowok itu langsung bersimpuh di depan Hendra.

Hendra bergeming. Ia sama sekali tak ingin memberikan maaf kepada ketiga cowok itu.

“Kalian jangan pernah muncul di depanku lagi!” ucap Hendra sambil mencengkeram kerah salah satu cowok itu dan langsung mendorong tubuhnya hingga terduduk di lantai.

Ketiga cowok itu mengangguk ketakutan. Mereka takut akan mendapat masalah dalam organisasi dan dilarang mengikuti beberapa kegiatan oleh senior-seniornya.

Hendra langsung merangkul Delana keluar dari hotel.

“Hen, aku nggak suka kamu selalu berantem kayak gini,” tutur Delana sambil melangkahkan kaki keluar dari hotel. Mereka berjalan menuju parkiran dan langsung masuk ke mobil.

Hendra tak menghiraukan ucapan Delana. Ia memilih diam karena masih kesal dengan ketiga cowok yang berusaha menggoda Delana di acara pameran tersebut.

Delana membuka dashboard mobil.

“Nyari apa?” tanya Hendra melihat Delana mencari sesuatu di dashboard mobilnya.

“Kamu nggak simpan kotak P3K di dalam mobil?” tanya Delana.

“Di belakang kursi kayaknya,” tutur Hendra.

Delana langsung bangkit dan mencari kotak P3K di belakang kursinya. Ia kembali duduk saat barang yang ia cari sudah ketemu.

Hendra menyalakan mesin mobilnya.

“Bentar!” pinta Delana. “Aku bersihin dulu lukamu,” tutur Delana sambil mengeluarkan kapas dan alkohol dari dalam kotak P3K.

“Jangan pake alkohol! Perih,” pinta Hendra.

“Perihnya sebentar aja. Ntar juga hilang.” Delana menarik wajah Hendra perlahan. “Lagian, berantemnya berani tapi sama alkohol aja takut,” celetuk Delana sambil mengusapkan kapas pada luka yang ada di pelipis Hendra.

Hendra terpaku menatap wajah Delana yang begitu dekat dengannya. Ia berharap Tuhan akan menghentikan waktu sekarang juga agar ia bisa selalu dekat dengan Delana seperti ini. Wajah cantik Delana benar-benar membuat Hendra tak bisa mengalihkan pandangannya. Bukan hanya cantik, Delana juga baik hati dan begitu perhatian. Ia bisa melihat bulir air mata Delana sempat jatuh saat pelipisnya mengucurkan darah segar.

“Aku nggak suka cowok sok jagoan kayak kamu,” tutur Delana pelan sambil memasangkan plester pada luka Hendra.

“Aku bukan sok jagoan. Aku cuma nggak bisa lihat cewek digangguin sama cowok. Apalagi kamu perginya sama aku, jadi aku harus bisa jagain kamu gimanapun caranya,” sahut Hendra.

Delana menghela napas.

“Nggak pake berantem kan bisa. Kenapa harus berantem?”

“Mereka yang mulai duluan.”

“Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalo kamu yang nonjok mereka duluan,” sahut Delana.

“Mereka yang mancing emosi. Siapa yang nggak marah kalo dibilang banci!?” tutur Hendra kesal.

“Kayaknya kamu harus belajar buat ngendaliin emosi kamu, deh,” tutur Delana sambil menatap lekat wajah Hendra.

Hendra terdiam. Ia hanya melongo mendengar ucapan Delana. Ia mengakui kalau dirinya memang sulit sekali mengendalikan emosinya.

“Sekarang kita pulang!” ajak Delana.

Hendra tak banyak bicara. Ia menuruti keinginan Delana dan langsung mengendarai mobilnya menuju ke rumah Delana.

“Makasih ya udah nemenin aku hari ini,” tutur Hendra saat ia sudah sampai di depan rumah Delana.

Delana mengganggukkan kepala. Ia langsung membuka pintu mobil.

“Del ...!” Hendra menahan lengan Delana.

“Kenapa?” tanya Delana sambil menoleh ke arah Hendra.

“Sorry ... udah bikin kamu khawatir!”

Delana tersenyum. “Aku harap kamu bisa berubah,” tutur Delana. Ia langsung keluar dari mobil dan menutup kembali pintu mobil Hendra.

Hendra menghela napas dalam-dalam. Ia merasa perubahan yang terjadi pada Delana. Gadis itu tak lagi ceria sejak mereka keluar dari hotel. Bahkan, Delana tidak mengajaknya masuk ke rumah sama sekali. Biasanya, Delana selalu mengajaknya masuk ke dalam rumah terlebih dahulu untuk mengobrol sejenak.

***

“Del, kemarin jadi jalan bareng cowok kaya itu?” tanya Belvina.

“Jadi,” jawab Delana.

“Terus, terus?” tanya Belvina penasaran.

“Nggak ada terusannya.”

“Yaelah, masa nggak ada terusannya?”

Delana tersenyum kecut menanggapi pertanyaan Belvina.

“Kalian pergi ke mana aja?” tanya Belvina.

“Ke hotel.”

“What!? Kalian berdua ke hotel? Kalian udah ...?”

“Nggak usah mikir ngeres gitu! Cuma diajak lihat-lihat pameran doang,” sahut Delana.

“Wah ... kalo ada kata ‘cuma’, berarti pengen yang lain?” goda Belvina.

“Apaan sih kamu, Bel?” celetuk Delana sambil tersenyum malu. Entah kenapa Belvina berpikir kalau ia dan Hendra telah memiliki hubungan lebih.

“Halah ... ngaku aja! Kamu suka sama dia? Seneng aja sih akhirnya kamu bisa move on dari cowok itu,” tutur Belvina.

“Aku nggak suka sama dia.”

“Hah!? Kenapa? Bukannya kata Ivo, dia itu cowok yang perfect banget ya?”

Delana menggelengkan kepala. “Perfect apanya? Luarnya aja yang kelihatan perfect. Dalemnya nyeremin banget.”

“Nyeremin gimana?”

“Dia tuh emosional dan suka banget berantem. Kayaknya, tuh cowok kesenggol dikit aja udah marah,” jelas Delana.

“Masa sih?”

“Iya. Kemarin dia berantem lagi di hotel. Waktu itu nonton dibioskop juga berantem. Heran, deh. Berantem terus tiap jalan bareng dia.”

“Emangnya berantem gara-gara apa?” tanya Belvina.

“Gara-gara ada cowok yang godain aku.”

“Serius? So sweet ...!”

“So sweet apaan!?” dengus Delana. “Berantem kok so sweet?”

“Ya ampun ... kamu tuh nggak ngeh kah? Dia itu berantem karena jagain kamu, Del. So sweet banget tahu kalo ada cowok yang kayak gitu. Rela terluka demi cewek.”

Delana menghela napas melihat Belvina yang sedang menghayal entah apa.

“Tapi dia emosional banget. Aku takut aja ntar aku yang jadi sasaran kemarahan dia kalo dia temperamental kayak gitu.”

“Hmm ... iya juga sih. Terus gimana dong?” tanya Belvina.

“Gimana apanya?”

“Hubungan kalian berdua.”

“Ya nggak gimana-gimana. Biasa aja.”

“Nggak jadian?” tanya Belvina.

Delana menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sama Chilton yang deketnya berbulan-bulan aja aku nggak jadian. Apalagi sama cowok kayak gitu. Baru juga jalan bareng beberapa kali,” tutur Delana.

“Eh, tuh!” Belvina menyenggol lengan Delana sambil menunjukkan dua sejoli yang sedang berjalan beriringan menuju kantin.

Delana menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Belvina. Ia melihat Chilton dan Ratu sedang berjalan ke arah kantin.

Delana langsung mengalihkan pandangannya dan menyeruput jus alpukat yang sudah ia pesan sejak tadi.

Belvina masih menyikut-nyikut lengan Delana.

“Apa sih, Bel?” tanya Delana.

“Kamu nggak papa?” tanya Belvina sambil menatap Delana.

Delana tersenyum lebar membalas tatapan Belvina.

“Bagus, deh! Jangan mewek ya!”

“Nggak lah.”

“Dah move on?”

Delana tertawa kecil.

“Kamu masak apa hari ini?” tanya Belvina.

“Tadi pagi cuma bikinin nasi goreng buat Bryan. Kenapa?” tanya Delana saat Chilton dan Ratu tepat melintas di sampingnya.

“Yah ... pengen makan masakan kamu aja. Aku tuh suka kangen kalo udah lama nggak makan masakan kamu,” tutur Belvina sambil melirik ke arah Chilton yang menoleh ke arah mereka.

“Huu ... bilang aja mau yang gratisan!” dengus Delana sambil mengusap wajah Belvina dengan telapak tangannya.

Belvina meringis.

“Enaknya masak apa, Bel?”

“Kok, tanya aku? Kamu mau masak apa? Aku mah apa aja dimakan,” jawab Belvina.

“Bener ya, apa aja dimakan? Nanti aku bikinin burger tikus,” tutur Delana.

“Nggak gitu juga, kali,” sahut Belvina.

“Siapa tahu aja doyan,” celetuk Delana sambil menahan tawa.

Belvina bergidik geli. “Halah ... palingan juga kamunya nggak berani pegang tikus,” sahut Belvina sambil tertawa.

Delana tertawa. “Emang. Beraninya pegang kamu aja, Bel.”

“Aku atau dia?” tanya Belvina menggoda.

“Dia siapa?” tanya Delana sambil tersipu malu.

“Yang kemarin jalan sama kamu, lah.” Belvina mengeraskan suaranya saat melihat Chilton dan Ratu duduk di kursi yang ada di belakang Delana, tepat di hadapannya. Ia bisa melihat kalau Chilton sedang memerhatikan punggung Delana, bukannya memerhatikan Ratu yang ada di depannya.

“Sst ... jangan keras-keras ngomongnya!” pinta Delana sambil mengacungkan jari telunjuk di bibirnya.

“Kenapa? Nggak bakal ada yang cemburu juga kan?” Belvina mengedipkan matanya ke arah Delana. Ia juga bisa melihat dengan jelas wajah Chilton yang ada di belakang Delana. Cowok itu terlihat sangat dingin saat bersama Ratu. Berbeda sekali saat ia bersama Delana.

Belvina seringkali memerhatikan Chilton dan Delana saat bersama dan dia bisa merasakan kalau Chilton tidak begitu ceria saat bersama Ratu. Berbeda ketika cowok itu bersama Delana. Hampir setiap menit ia bisa melihat Chilton tersenyum bahkan tertawa.

“Yah, nggak gitu juga. Nggak enak aja diomongin. Aku sama dia cuma temenan aja,” tutur Delana.

Tiba-tiba ponsel Delana berdering. Ia langsung mengambil ponsel yang ia letakkan di saku bajunya.

“Siapa, Del?” tanya Belvina saat melihat Delana menatap layar ponselnya.

“Alan.”

“Alan Satria?” tanya Belvina.

Delana menganggukkan kepala.

“Jawab lah!”

Delana tersenyum dan langsung menggeser tombol telepon berwarna hijau.

“Halo ... kenapa, Lan? Tumben telepon?” tanya Delana.

“....”

“Hah!? Serius?” tanya Delana setengah berteriak. Ia kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri karena suaranya mengundang perhatian siswa lain di kantin kampus.

Belvina tertawa kecil melihat tingkah Delana.

“Aargh ...! Aku kangen banget sama kamu. Kapan balik ke sini?” tanya Delana.

“....”

Belvina tersenyum saat melihat ekspresi wajah tak biasa dari Chilton. Ia bisa melihat kalau Chilton tidak nyaman mendengar Delana menerima telepon dari cowok lain. Belvina tahu kalau Chilton menyukai Delana, tapi entah kenapa Chilton justru menolak sahabatnya itu.

“Seminggu? Bener ya! Awas kalo ngerjain!” ancam Delana pada Alan. “Langsung ke rumah!” pintanya.

“...”

“Manjanya minta jemput. Naik taksi juga bisa.”

“....”

“Iya. Pake motor nggak papa?”

“....”

“Nggak usah ngolok!” dengus Delana sambil mengerucutkan bibirnya.

“....”

“Oke.” Delana langsung mematikan sambungan teleponnya.

“Kenapa si Alan?” tanya Belvina.

“Mau balik ke sini. Minta dijemputin. Aku bilang naik motor aja jemputinnya. Dia malah ngolokin aku karena sampe sekarang aku masih belum mahir bawa mobil sendiri.”

Belvina tertawa.

“Kamu juga kenapa ngetawain aku?”

Belvina tertawa kecil. “Balik ke kelas yuk!”

Delana mengangguk. Mereka langsung bergegas keluar dari kantin dan kembali ke kelas mereka.



((Bersambung...))

Audiensi Forum TBM Kukar ke Kantor Wakil Bupati Kukar

 


Dunia tak selalu membuatmu diam. 

Terkadang, kita merasa sangat sedih karena kehilangan sesuatu. Tapi kemudian Allah menggantinya dengan rencana yang lebih indah. 

Aku bahkan masih belum bisa benar-benar melupakan konflik internal di dalam komunitasku sendiri. Hikmahnya, aku jadi punya waktu untuk mengembangkan program lain dan tidak terkungkung dalam satu wadah saja. Salah satunya adalah Forum TBM  yang telah membawaku berjalan begitu jauh. Hingga aku tidak menyangka jika aku akan bertemu dengan orang-orang hebat lewat jalan literasi. 


Memasuki Bulan Bahasa, Ketua Forum TBM Kukar mencoba untuk membuat kegiatan literasi. Entah apa bentuk kegiatannya, saya juga belum terpikirkan. Selain sibuk dengan kegiatan Relima, aku juga sibuk membagi waktu antara pekerjan dan kegitan sosial. 

Banyak hal yang harus dihadapi oleh Forum TBM Kukar yang baru terbentuk ini. Salah satunya ialah pendanaan karena semua kegiatan membutuhkan dana. 

Setelah berdiskusi dengan salah satu anggota dewan,  kami diarahkan untuk audiensi ke Wakil Bupati Kutai Kartanegara, H. Rendi Solihin. 

Ajudan Wakil Bupati Kukar mengaturkan kami untuk audiensi di tanggal 13 Oktober pukul 15.30 WITA di ruang kerja Pendopo Wakil Bupati Kukar. 
Kukar memiliki letak geografis yang luas. Jadi, tidak bisa ditempuh dalam waktu cepat. Untungnya kami dijadwalkan sore hari, jadi masih bisa berangkat siang hari. 
Pukul 11.30 WITA, aku sudah bersiap-siap untuk berangkat. Aku masih belum pasti mau menginap setelahnya atau langsung pulang ke Samboja. Tapi aku sudah menyiapkan pakaian ganti dan peralatan mandi, siapa tahu audiensi sampai malam hari dan aku  bisa menginap di Tenggarong. 
"Mak, belikan Sosis Kenjel!" anakku yang paling kecil merengek sebelum aku benar-benar berangkat. 
Aku mengiyakan meski waktu sudah semakin mepet dan aku khawatir terlambat sampai di Tenggarong. 
Belum sampai membelikan si kecil jajanan yang dia mau, tiba-tiba ia terjerungup di depan rumah. Kedua lututnya lecet dan membuatnya menangis hebat. Akhirnya, aku harus menenangkan dia lebih dahulu sebelum aku pergi. 

Aku tiba di Tenggarong pukul 14.00 WITA. Masih sempat bersantai terlebih dahulu. Jadi, aku menyusul Bunda Rawin dan Mbak Yanti yang sedang menunggu di Perpustakaan Daerah. 

Audiensi ini bertujuan untuk memperkenalkan keberadaan dan peran Forum TBM Kukar sebagai wadah komunikasi, kolaborasi, serta penguatan kapasitas pengelola taman bacaan di seluruh wilayah Kutai Kartanegara. Selain itu, forum juga menyampaikan berbagai program kerja dan rencana kegiatan tahun 2025–2026, termasuk rencana Bimbingan Teknis Pengelolaan TBM se-Kukar, Kemah Literasi Pegiat TBM, serta upaya membangun jejaring dengan lembaga pemerintah dan swasta dalam pengembangan literasi daerah

Sesuai jadwal yang telah ditentukan, aku dan teman-teman bergerak menuju Pendopo Wakil Bupati pada pukul 15.30 WITA. Kami tidak langsung bertemu Pak Wakil Bupati, karena ada beberapa organisasi yang audiensi juga. 
Kami bersantai di teras sambil membicarakan banyak hal tentang literasi. 
Pak Suparno Ghofar, pembimbing kami yang sangat humble langsung menyapa beberapa orang yang ada di sana. Kebetulan beliau adalah tokoh yang banyak dikenal dan juga banyak kenal tokoh-tokoh di sana. 
Kami tidak tahu, suasana di sana sangat riuh. Ternyata sedang ada perayaan hari ulang tahun ke-34 Pak Wakil Bupati dan beberapa OPD hadir di sana. 
Ibu Indah Guzel, mengarahkan kami untuk ikut menyantap hidangan yang tersedia. Ada dua buah tumpeng besar dan beberapa kue ulang tahun. 
Dengan malu-malu, kami masuk ke dalam ruangan untuk mengambil makanan. Tumpeng yang belum dipotong, membuat kami tidak memiliki keberanian untuk menyentuhnya. Walau bagaimanapun, kami pasti menunggu si pemilik tumpeng atau yang sedang berulang tahun-lah yang memotongnya. Akhirnya, kami hanya berani mengambil potongan-potongan buah. Menimbulkan gelak tawa ketika ajudan Pak Wakil Bupati mengetahui hal itu dan memotongkan tumpeng untuk kami semua.
Setelah menunggu giliran beberapa lama, akhirnya kami masuk ke dalam ruang kerja dan bertemu langsung dengan Bapak Wakil Bupati Kutai Kartanegara, kebetulan beliau adalah orang Samboja. Jadi, aku tidak bercerita banyak tentang Samboja karena beliau sudah pasti tahu keadaannya. 
Ketua Pengurus Wilayah Provinsi kami, Rahmad Azazi sudah berpesan bahwa audiensi tidak perlu lama-lama, mungkin sepuluh menit saja cukup. 
Tapi, rasanya kami berbicara cukup lama karena Bapak Wakil Bupati sangat terbuka untuk berdiskusi dengan Forum TBM. Kami juga didampingi oleh Plt. Kepala Perpustakaan Daerah, Ibu Rinda. 

Dalam pertemuan tersebut, Wakil Bupati Kukar menyampaikan apresiasi atas kiprah dan semangat para pegiat literasi yang telah berperan aktif dalam meningkatkan minat baca masyarakat hingga ke pelosok desa. Beliau juga memberikan sejumlah arahan dan dukungan terhadap kegiatan literasi yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, terutama yang melibatkan anak-anak, remaja, dan komunitas lokal.

Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab dan penuh semangat kolaboratif. Forum TBM Kukar berharap hasil audiensi ini menjadi awal dari sinergi yang lebih kuat antara pemerintah daerah dan komunitas literasi, demi terwujudnya Kutai Kartanegara sebagai Kabupaten Literasi yang berdaya dan berbudaya baca.

Kami menyelesaikan pembicaraan sebelum waktu sholat magrib habis. Jadi, kami masih sempat untuk sholat magrib lebih dahulu sebelum pulang. 
Aku, Bunda Rawin, Mbak Yanti, dan Bapak Suparno Ghofar melaksanakan sholat magrib di musholla pendopo tersebut. Sedang Rahmat Azazi langsung pulang ke kota Samarinda. 
Usai sholat, kami langsung bergerak pulang ke rumah masing-masing. Awalnya, aku ingin menginap di kota Tenggarong. Tapi aku mengurungkan niatku dan langsung pulang ke Samboja. Aku sampai di Samboja pukul 23.30 WITA. Teman-teman Forum TBM terus memantau perjalananku. Mungkin, mereka khawatir karena aku harus PP Samboja-Tenggarong menggunakan sepeda motor seorang diri. 
Kami berharap, kami bisa membuat gerakan literasi di Kutai Kartanegara lebih luas lagi. Literasi bisa bergerak bersama untuk memajukan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang. 


Saturday, October 11, 2025

Menjadi Pendamping Halal untuk Produk UMKM Keripik Singkong Si Papy

 



Tidak banyak yang tahu jika aku adalah pendamping halal untuk wilayah Kecamatan Samboja. Hanya segelintir orang yang mengenalku sebagai pendamping halal. Salah satunya adalah Ibu Sri Mujarti. 

Ibu Sri Mujarti telah lama berkecimpung di bidang UMKM. Beliau memproduksi keripik singkong yang rasanya gurih dan besar-besar. Benar-benar tidak kalah dengan keripik singkong yang dijual di minimarket. 

Akan tetapi, usaha beliau belum memiliki legalitas yang lengkap. Salah satu yang wajib dimiliki Pelaku Usaha di bidang kuliner adalah sertifikat halal. Sebab, semua produk yang tidak memiliki sertifikat halal, wajib mencantumkan keterangan tidak halal pada produknya. Tentunya, hal seperti ini akan berpengaruh pada penjualan produk. 

Oleh karenanya, aku hadir sebagai Pendamping Halal agar produk-produk UMKM mendapatkan sertifikat halal dengan mudah dan gratis. 

Friday, October 10, 2025

THEN LOVE BAB 37 : KEHADIRAN PRIA BARU

 


“Masak apa, Kak?” tanya Bryan saat melihat kakaknya sedang sibuk di dapur.

“Bikin cookies buat cemilan,” jawab Delana.

Tiba-tiba, ponsel Delana berdering. Bryan langsung mengintip nama penelepon yang tertera di layar ponsel Delana.

“Kak, Hendra Sutopo ini Kak Hendra yang dulu sering main sama kita waktu kecil?” tanya Bryan.

“Kamu masih ingat sama dia?” tanya Delana, ia membersihkan tangannya dan langsung meraih ponsel.

“Masih.”

Delana tersenyum. Ia langsung menjawab panggilan telepon dari Hendra. “Halo ...!” sapa Delana.

“Halo ... Gimana kabarnya?” tanya Hendra.

“Baik.”

“Lagi di mana sekarang?” tanya Hendra.

“Di rumah aja,” jawab Delana. “Kamu sendiri lagi di mana?”

“Lagi di kantor,” jawab Hendra. “Oh ya, aku boleh main ke rumah kamu?”

“Boleh. Kapan?” tanya Delana balik.

“Sekarang.”

“Loh? Bukannya kamu masih di kantor?” tanya Delana.

“Iya. Lagi nggak ada kerjaan. Pengen ke luar,” jawab Hendra.

“Oh, ke rumah aja! Pintu rumahku selalu terbuka lebar buat kamu.”

“Share lokasi,ya!” pinta Hendra.

“Siap!”

“Oke. Aku ke sana sekarang. Bye!” Hendra langsung mematikan panggilan teleponnya.

“Kak Hendra mau ke sini?” tanya Bryan.

Delana menganggukkan kepala.

Bryan tersenyum menatap Delana.

“Kenapa senyum-senyum?” dengus Delana.

“Nggak papa. Kalo Kak Hendra ke sini, biasanya bawain banyak makanan sama mainan.”

“Itu kan dulu waktu kalian masih kecil. Sekarang, nggak mungkin dia kayak gitu.”

“Yah, siapa tahu aja dia nggak berubah.”

Delana tertawa kecil. “Kamu aja sekarang udah berubah. Masa dia nggak berubah.”

Bryan meringis mendengar ucapan Delana.

Delana tersenyum. Ia mengirimkan lokasi pada Hendra dan melanjutkan kegiatannya membuat adonan kue.

Beberapa menit kemudian,terdengar suara klakson mobil saat Delana baru saja memasukkan  kue yang sudah dicetak ke dalam microwave.

Belum sampai Delana melepas apron dari badannya, ponselnya tiba-tiba berdering.

“Kak Hendra, Kak,” tutur Bryan sambil melongok ke arah layar ponsel Delana yang tergeletak di atas meja.

Delana buru-buru membersihkan tangan dan langsung menyambar ponselnya.

“Aku sudah di depan,” tutur Hendra begitu Delana mengangkat teleponnya.

“Oke. Wait!” pinta Delana sambil berjalan keluar dari rumahnya.

Hendra langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia menatap pagar rumah Delana. Ia bisa melihat dari balik tralis kalau gadis itu keluar dari pintu rumah mengenakan apron.

Hendra tersenyum saat melihat Delana membukakan pintu pagar rumahnya. Gadis itu terlihat sangat cantik tanpa riasan, rambutnya yang diikat asal-asalan sehingga beberapa helainya menutupi wajah. Delana masih mengenakan apron dan itu membuat Hendra membayangkan dirinya pulang bekerja, disambut oleh seorang istri.

Delana tersenyum. Ia menganggukkan kepala dan mempersilakan Hendra untuk memasukkan mobilnya ke halaman rumah. Delana langsung menutup kembali pagar rumahnya begitu mobil Hendra sudah masuk.

Hendra langsung keluar dari mobil dengan membawa beberapa kantong paper bag. Ia langsung memberikan kantong-kantong tersebut pada Delana.

“Apaan, nih?” tanya Delana sambil menahan senyum.

“Buka aja!” sahut Hendra sambil tersenyum.

Delana tertawa kecil. “Masuk dulu, yuk!” ajaknya.

Hendra menganggukkan kepala dan mengikuti langkah Delana. Hendra terkejut saat melihat cowok tampan yang membukakan pintu untuk mereka. Cowok itu sangat mirip dengan Delana.

“Kamu? Bryan?” tanya Hendra.

“Iya, Kak.” Bryan menganggukkan kepala.

“Tsah! Gila! Udah gede aja,” tutur Hendra sambil merangkul Bryan.

Bryan tersenyum sambil menahan sakit karena Hendra menepuk bahunya lumayan keras.

“Duduk, yuk!” ajak Delana yang melihat ekspresi wajah adiknya.

Hendra langsung melepaskan rangkulannya. Ia berjalan mendekati sofa dan duduk dengan santai.

“Dek, temenin Kak Hendra dulu, ya!” pinta Delana. “Ini, oleh-oleh dari Kak Hendra.” Delana menyodorkan paper bag ke arah Bryan.

“Ini serius buat Bryan?” tanya Bryan dengan wajah sumringah.

Delana menganggukkan kepala.

“Aku ke dapur dulu, ya! Belum kelar masak, nih,” pamit Delana pada Hendra.

Hendra menganggukkan kepala. “Lagi masak apa emangnya?”

“Bikin kue kering aja, sih,” jawab Delana sambil tersenyum. “Ntar kamu cobain! Aku ke belakang dulu, ya! Takut gosong,” tutur Delana sambil bergegas pergi.

Hendra tersenyum menatap kepergian Delana. Ia tak berkedip sama sekali sampai tubuh Delana benar-benar menghilang dari pandangannya.

“Kak Hendra sekarang tinggalnya di mana? Lama banget nggak pernah ketemu,” tutur Bryan.

“Eh!?” Hendra mengalihkan wajahnya ke hadapan Bryan. Tapi, matanya masih saja melirih ke arah pintu dapur. “Lulus SD, Kakak sekolah di Jakarta sampai sekarang,” jawab Hendra.

“Loh? Jadi, Kak Hendra baru aja balik dari Jakarta?” tanya Bryan.

“Enggak. Udah dua bulan Kakak ngurus perusahaan yang di sini.”

“Oh, kuliahnya Kakak?” tanya Bryan.

“Cuti.”

“Emangnya kuliah bisa cuti, ya?” tanya Bryan polos.

“Bisa, dong.”

Bryan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Beberapa menit kemudian, Delana keluar membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat dan cookies yang baru saja ia buat.

“Silakan diminum!” Delana mempersilakan sambil tersenyum. Ia meletakkan nampan di atas meja dan langsung duduk di sofa.

“Ini kue buatan kamu?” tanya Hendra menatap Delana yang tak lagi mengenakan apron.

Delana menganggukkan kepala. “Cobain!” pintanya.

Hendra mengambil satu cookies dan langsung menggigitnya. “Hmm ... enak banget!” pujinya.

“Nggak perez, kan?” dengus Delana.

Hendra tergelak sejenak. “Nggak, lah. Seriusan ini enak banget. Masih enak ini daripada cookies yang dijual di toko-toko itu.”

“Ah, kamu mah berlebihan.”

“Nggak percaya? Buka aja tuh!” Hendra menunjuk salah satu paper bag dengan dagunya. “Suruh aja Bryan cobain! Enakan mana?” tutur Hendra.

“Kakak bawain kue?” tanya Bryan langsung memeriksa isi paper bag tersebut. Ia mengambil satu kotak kue yang ada di dalamnya.

Hendra menganggukkan kepala.

Bryan langsung membuka kotak tersebut dan melihat cookies yang ada di dalamnya. “Sama,” ucapnya sambil membandingkan dengan cookies buatan Delana.

Delana dan Hendra tertawa kecil melihat tingkah Bryan.

“Enak mana? Cobain!” perintah Hendra.

Bryan mengambil satu cookies dari toko dan mencobanya. Ia juga melakukan hal yang sama pada cookies buatan kakaknya.

“Gimana?” tanya Hendra.

“Enak,” jawab Bryan dengan mulut penuh makanan.

Delana tertawa kecil melihat dua cowok yang terlihat membicarakan hal serius di depannya.

“Enakan mana?” tanya Hendra sambil menepuk lengan Bryan.

“Sama aja enaknya,” jawab Bryan.

“Ah, kamu ini!” celetuk Hendra. Ia membisikkan sesuatu pada Bryan. Bryan mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

“Ngomongin apa, bisik-bisik?” dengus Delana.

“Urusan cowok. Cewek mah nggak boleh tahu,” sahut Hendra.

Delana mengerutkan hidungnya. Ia merasa kalau Hendra dan Bryan sedang membicarakan tentang dirinya.

“Jeleknya mukamu kalo kayak gitu.” Hendra mengusap wajah Delana.

“Apaan sih!?” Delana langsung menepis lengan Hendra.

Mereka terdiam selama beberapa saat karena asyik menikmati kue buatan Delana.

“Del, nonton film, yuk!” ajak Hendra.

“Nonton film apaan?” tanya Delana.

“Apa aja, deh.”

“Aku ikut, Kak,” sahut Bryan.

“Ayo!” ajak Hendra.

“Nggak usah!” sergah Delana.

“Loh? Kenapa? Kak Hendra aja ngebolehin,” celetuk Bryan.

“Ini udah sore banget. Jadwal film jam segini itu dibatasin buat anak SMA,” tutur Bryan.

“Ah, masa sih? Kan nggak ada juga yang tahu kalo aku masih SMA,” sahut Bryan.

“Tahu, dong. Sebelum masuk pasti dimintain KTP!” seru Delana.

“Serius, Kak?” tanya Bryan sambil menggaruk kepala karena ia belum punya KTP.

“Iya. Kalo nggak percaya tanya Kak Hendra tuh!” ucap Delana sambil menunjuk Hendra dengan dagunya.

Bryan menoleh ke arah Hendra. “Beneran, Kak?” tanya Bryan.

Hendra menatap Delana yang menggeleng-gelengkan kepala sambil melambaikan tangan di depan dadanya. “Iya, kalo masih pelajar nggak boleh nonton film malam,” jawab Hendra sambil tersenyum. Ia melirik Delana yang menarik napas lega.

“Tapi, waktu itu aku nonton film sama temen-temen aku bisa aja.”

“Siang atau malam?” tanya Delana.

“Siang.”

“Kalo siang boleh. Banyak film buat anak SMA,” tutur Delana.

Bryan menghela napas. “Ya udah. Aku nonton tv aja,” celetuknya.

“Gitu baru anak pinter!” puji Delana sambil menyubit kedua pipi Bryan.

“Aku mandi dan ganti baju dulu ya!” seru Delana sambil berlalu pergi meninggalkan Hendra dan Bryan di ruang tamu.

Hendra menganggukkan kepala. Ia menunggu Delana di ruang tamu sambil bercengkerama bersama Bryan.

Beberapa menit kemudian, Delana turun dari kamarnya. Hendra hampir tak berkedip melihat penampilan Delana yang jauh lebih fresh dan lebih cantik dari sebelumnya.

Delana mengenakan mini dress berwarna merah dengan high heels berwarna hitam. Rambutnya dibiarkan terurai dengan beberapa helai yang ia jepit ke belakang dengan jepitan pita berwarna merah keemasan.

“Kakak kamu cantik banget,” gumam Hendra sambil menyolek lengan Bryan.

“Iya, lah. Kakak siapa dulu?” ucap Bryan bangga.

Hendra bangkit dari tempat duduk dan langsung menghampiri Delana.

Penampilan Delana kali ini memang sangat feminim. Hanya saja, ia tidak bisa mengenakan make-up seperti Ratu atau Ivona. Ia hanya memoleskan bedak dan lipstik tipis di bibirnya.

“Udah siap?” tanya Hendra.

Delana menganggukkan kepala.

“Yuk!” Hendra mengulurkan tangannya. Delana tersenyum dan menyambut uluran tangan Hendra. Tanpa pikir panjang, Hendra langsung menggenggam telapak tangan Delana dan bergegas pergi.

“Kami berangkat dulu ya!” pamit Hendra pada Bryan.

“Iya, Kak. Hati-hati ya! Jangan lupa bawain oleh-oleh!” seru Bryan.

“Mau dibeliin apa?” tanya Delana.

“Sate kambing ya!” pinta Bryan.

“Iya,” sahut Delana. Ia dan Hendra segera berangkat ke salah satu pusat perbelanjaan untuk menonton film.

Sesampainya di bioskop. Mereka memilih salah satu film romance yang akan diputar tiga puluh menit lagi.

“Yakin nonton ini?” tanya Hendra.

“Iya. Mau yang mana lagi? Nggak mungkin kan ambil film yang putarnya malam banget.”

Hendra tersenyum menatap Delana. Setelah memilih kursi, ia memesan minuman dan camilan untuk mereka bawa sambil menonton film.

Delana mengedarkan pandangannya. Ia teringat beberapa waktu lalu saat ia dan Chilton menonton film bersama. Delana tertawa kecil teringat saat Chilton dikerubungi banyak cewek.

Hendra tersenyum saat melihat Delana tertawa sendiri. Ia merasa kalau Delana menyukainya. Penuh percaya diri, Hendra menggenggam telapak tangan Delana dan mengajaknya masuk ke ruang tunggu.

“Kamu pernah nonton film sebelumnya?” tanya Hendra.

“Pernah,” jawab Delana.

“Sama siapa?”

“Temen.”

“Sama pacar?” tanya Hendra.

“Nggak pernah pacaran,” sahut Delana.

“Hah!?” Hendra menahan tawa. “Cewek zaman sekarang nggak pernah pacaran? Aku nggak percaya!”

“Aku juga nggak minta kamu buat percaya,” sahut Delana datar.

Hendra terdiam. Ia menatap lekat mata Delana yang tetap menatap ke depan dan tak mau menatapnya. Delana tidak mungkin berbohong. Ia terlihat serius saat mengatakan kalau ia belum pernah pacaran.

Hendra tersenyum, akhirnya ia menemukan wanita yang selama ini ia cari. Wanita baik hati yang bisa menemaninya menjalani sisa hidup. Ia yakin, Delana pasti jatuh cinta kepadanya. Ia akan melakukan apa saja untuk wanita di sampingnya itu.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah masuk ke dalam ruang theater.

Pemutaran film dimulai.

“Halo ... gimana kabarnya?” Tiba-tiba cowok di belakang Delana menelepon dengan suara keras.

“Baik, Baik. Aku lagi banyak kesibukan ...” Cowok di belakang Delana terus saja mengoceh lewat telepon.

Delana menoleh ke belakang. Ia melihat cowok itu, bukannya mengecilkan suaranya, cowok itu justru berbicara semakin keras.

“Mas, jangan keras-keras dong ngomongnya! Ganggu yang lain lagi nonton,” tegur Delana.

Cowok itu tak menghiraukan perkataan Delana. Ia tetap saja menelepon dengan suara keras. Bukan hanya Delana yang terganggu, tapi juga penonton lainnya.

Saat Delana mencoba fokus menonton film, cowok di belakangnya justru menendang kursi belakang Delana.

Delana menghela napas. Ia mencoba menahan emosi. Sementara Hendra yang ada di sampingnya sudah merasa kesal dengan cowok yang ada di belakangnya.

Hendra mengepalkan tangan dan merapatkan gigi-giginya, ia ingin bangkit untuk menegur cowok tersebut. Tapi, Delana menahan lengannya agar tetap duduk.

Cowok di belakang Delana menendang kursi Delana lagi. Delana semakin kesal dengan kelakuan cowok yang ada di belakangnya itu. Ia merasa tidak nyaman dan menonton film tidak lagi menyenangkan.

Hendra yang mengetahui Delana diganggu oleh cowok di belakangnya, langsung bangkit. Ia langsung meraih kerah baju cowok tersebut dan mengangkatnya dari atas kursi. “Berani-beraninya kamu gangguin dia!” sentak Hendra.

Cowok itu sama sekali tidak merasa bersalah, ia justru tersenyum sinis sambil menatap Hendra.

Semua mata penonton tertuju pada Hendra. Ini membuat Delana tidak nyaman. “Hen, udah Hen! Turunin dia!” pinta Delana.

“Dia ini udah gangguin kamu, Del. Belum pernah ngerasain dicium sama tanganku!” ucap Hendra geram. Ia mengepalkan tangan dan bersiap meninju wajah cowok itu.

“Jangan, Hen!” seru Delana sambil menahan lengan Hendra. “Turunin dia, please!” bisik Delana sambil memeluk tubuh Hendra agar cowok itu bisa lebih tenang. Ia tak peduli dengan semua mata yang menatap ke arahnya.

Hendra menghela napas dan melepaskan cowok itu dari tangannya. “Awas aja kalo berani ganggu dia lagi!” ancam Hendra. Ia mengelus pundak Delana yang masih memeluknya.

Delana melepas pelukannya. “Pulang yuk!” ajak Delana.

“Hah!? Filmnya baru dimulai,” tutur Hendra.

Delana menggelengkan kepala. “Aku udah nggak mood mau nonton film.”

“Oke, lah.” Hendra mengikuti keinginan Delana dan segera keluar dari ruang theater film.

“Aku nggak suka lihat kamu sok jagoan kayak gitu,” tutur Delana saat mereka sudah keluar dari bioskop.

“Aku nggak bisa lihat kamu diganggu sama orang lain,” sahut Hendra.

“Iya. Tapi nggak usah emosi kayak gitu juga. Malu dilihatin banyak orang.”

“Aku lebih malu lagi kalau nggak bisa jagain kamu!”

Delana menghela napas. Ia melihat Hendra mudah emosi setiap menghadapi masalah.

Hendra memang sangat emosional. Terlebih ia adalah bos perusahaan yang sangat sombong dan suka memperlakukan karyawan semena-mena. Baginya, berkelahi bukanlah hal yang aneh.

“Apa pun alasannya, aku tetep nggak suka!” ucap Delana sambil berlalu pergi meninggalkan Hendra.

“Loh? Del, tunggu!” Hendra mempercepat langkahnya agar bisa mengimbangi langkah Delana. “Iya, aku janji nggak bakal gitu lagi,” tutur Hendra. Ia berusaha meredam emosinya untuk Delana.

Delana hanya tersenyum kecil.

“Sekarang kita mau ke mana?” tanya Hendra.

“Pulang,” jawab Delana singkat.

“Kok, pulang? Makan dulu, yuk! Aku laper.”

“Aku nggak laper,” sahut Delana.

Hendra menghela napas. Ia merasa kalau telah membuat Delana tidak nyaman. Tapi, ia berpikir bahwa laki-laki harus bisa melindungi wanita yang sedang bersamanya.

Daripada membuat mood Delana semakin buruk, ia lebih memilih menuruti keinginan Delana untuk pulang ke rumah.

“Del, ayah kamu ke mana, ya? Aku lama banget di rumah kamu tapi nggak ada ketemu beliau,” tanya Hendra saat mereka berada di perjalanan pulang.

“Kerja di Berau.”

“Berau?” Hendra mengangkat alisnya. “Jauh juga, ya?”

Delana menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Jarang pulang jadinya?”

Delana mengangguk. “Udah lima bulan belum pulang.”

“Kerja apa ayahmu?” tanya Hendra.

“Ngurusin bisnisnya di sana.”

“Bisnis apa?”

“Mau buka cabang perusahaan di sana. Masih yang dulu,” jawab Delana.

Hendra mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. “Kapan-kapan aku main ke Berau, deh. Kangen juga, lama nggak ketemu Oom Harun,” tutur Hendra.

Delana tersenyum menatap Hendra. Untuk cowok sekaya Hendra, Balikpapan-Berau serasa Balikpapan-Samboja. Dekat.

Mobil Hendra berhenti tepat di depan rumah Delana.

“Besok ada waktu nggak?” tanya Hendra.

“Mmh ... besok kuliah. Kenapa?” tanya Delana balik.

“Pulang kuliah jam berapa?” tanya Hendra.

“Jam tiga. Tapi, langsung lanjut ngajar sampe malam.”

Hendra mengangkat kedua alisnya. Ia terlihat berpikir. “Kalo minggu ngapain?” tanya Hendra.

“Minggu free, jalan-jalan sama temen-temen kalo mereka ngajakin,” jawab Delana.

“Oke. Kalo gitu, minggu pagi jam sembilan aku jemput kamu ya!”

“Hah!? Mau ke mana?” tanya Delana.

“Ada, deh.” Hendra mengedipkan matanya.

Delana tertawa kecil. “Awas ya kalo macem-macem!” ancam Delana.

“Nggak, lah. Mana berani sih aku macem-macemin cewek secantik kamu.”

Delana tersipu mendengar ucapan Hendra. “Aku masuk dulu ya!” pamit Delana sambil membuka pintu mobil. “Mau masuk dulu?” tanya Delana menawarkan.

Hendra menggelengkan kepala. “Udah malem, kamu istirahat aja!”

Delana tersenyum dan langsung keluar dari mobil Hendra. Hendra melambaikan tangannya ke arah Delana dan bergegas pergi.

***

“Vo, si Hendra yang waktu itu kita ketemu di Dandito, semalam ngajak aku nonton film,” tutur Delana saat ia dan Ivona berkumpul di kamar Belvina.

Delana tidak peduli dengan Ratu yang sedang asyik berbaring sambil mengenakan earphone. Ia pikir, Ratu tak akan mendengarkan pembicaraan mereka.

“Oh ya? Temen kecil kamu itu?” tanya Ivona.

Delana menganggukkan kepala.

“Yang mana sih?” tanya Belvina ikut bergabung dalam obrolan.

“Yang kita ceritain waktu itu. Waktu aku beliin kamu udang goreng.”

“Oh ... yang malam itu? Aku belum pernah lihat orangnya.”

Delana dan Ivona tertawa.

“Iya juga ya? Kamu ada fotonya dia nggak?” tanya Ivona pada Delana. “Biar Belvi lihat,” lanjutnya.

Delana menggelengkan kepalanya.

“Di akun sosmednya dia? Instagram atau facebook gitu?” tanya Ivona.

Delana menggelengkan kepala. “Katanya sih dia follow aku di instagram. Tapi, aku nggak tahu nama akunnya dia yang mana. Followers aku kan banyak. Masa iya mau aku periksain satu-satu?” celetuk Delana.

“Nggak papa kali. Biar aku tahu orangnya yang mana,” sahut Belvina.

“Waktu itu aku udah coba nyari. Tapi, nggak tahu akunnya yang mana. Bisa aja kan dia nggak pake nama asli.”

“Hmm ... iya, juga sih.”

“Terus, kamu nonton film apa sama dia?” tanya Belvina penasaran.

“Nggak jadi nontonnya,” jawab Delana.

“Hah!? Kenapa?” tanya Belvina.

“Orang yang di belakang aku tuh ribut banget. Dia nendang-nendang kursiku dan bikin Hendra emosi,” tutur Delana.

“Emosi gimana?” tanya Ivona.

“Dia tuh ternyata emosional banget. Itu cowok mau dihajar sama dia. Ya ampun ... malunya pang aku dilihatin banyak orang.”

Ivona dan Belvina tertawa mendengar ucapan Delana. Sementara, Ratu sengaja menguping pembicaraan mereka dengan berpura-pura mendengarkan musik menggunakan earphone sambil bersenandung.

“Kamu naksir sama dia?” tanya Belvina.

Delana menggelengkan kepala. “Belum.”

“Berarti mau dong?” goda Belvina.

“Nggak tahu ya ...” sahut Delana sambil tersipu malu.

“Dia itu ganteng banget, tahu!” tutur Ivona pada Belvina. “Udah gitu kaya banget. Masih muda udah jadi bos di perusahaan. Kurang apa coba? Si Chilton mah lewat!” seru Ivona.

“Sst ... jangan keras-keras ngomongnya!” bisik Delana sambil mengacungkan jari telunjuk di bibirnya.

Ivona menutup mulutnya sambil melirik Ratu yang berbaring di tempat tidurnya. “Sorry!” ucapnya pelan.

“Biar kayak gitu, Dela tetep tergila-gila sama Chilton,” sahut Belvina sambil cekikikan.

Delana langsung memukul bahu Belvina. “Ish ... nggak ada cowok yang kayak Chilton,” tutur Delana perlahan.

“Bukan nggak ada, belum nemuin aja,” sahut Ivona.

“Iya. Ntar kalo udah ketemu sama cowok yang lebih ganteng, lebih kaya, lebih segala-galanya dari Chilton, kamu bakalan lupa sama cowok itu,” tutur Belvina.

Delana menghela napas. “Semoga aja aku bisa secepatnya lupain dia,” tutur Delana lirih.

“Aamiin ...!” ucap Ivona dan Belvina bersamaan.

Delana mencebik ke arah dua sahabatnya. Dalam hati, ia masih tak rela jika harus kehilangan Chilton untuk selamanya.

Belvina tertawa kecil melihat wajah Delana. “Kayaknya dia belum ikhlas ngelepasin Chilton,” bisik Belvina di telinga Ivona.

“Nggak usah bisik-bisik! Aku dengar!” sahut Delana.

Ivona tergelak. “Eh, nanti aku cariin cowok yang lebih baik dari Chilton. Si Hendra itu kan udah keren. Coba aja alihkan perhatian kamu ke dia. Siapa tahu aja dia bisa bikin kamu move on dan ngelupain Chilton,” tutur Ivona pelan.

“Iya. Aku coba!” sahut Delana.

“Nah, gitu dong!” seru Ivona.

“Iya. Aku nggak tahan lihat kamu murung terus gara-gara cowok itu. Pantes aja si Bryan sering banget ngadu ke aku,” tutur Belvina.

“Hah!? Ngadu apaan?” tanya Delana.

“Sejak hari itu, kamu sering murung dan kayaknya adik kamu itu ikut mikirin, deh. Kalo enggak, buat apa dia ngeluh sama aku?” tutur Belvina.

Delana menghela napas panjang. “Iya. Aku terlalu sibuk mikirin dia yang nggak pernah mikirin aku. Sampe-sampe aku ngorbanin adik aku sendiri.”

“Yah, untungnya si Bryan udah gede dan udah ngerti. Coba kalo masih kecil, pasti dia udah marah-marah kalo nggak kamu masakin.”

Delana mendongakkan kepala menatap Belvina. “Eh, si Bryan pernah pinjam uang ke kamu buat beli makan waktu aku nggak keluar kamar sama sekali itu ya?” tanya Delana. “Dia pinjam berapa? Aku belum gantiin.” Delana langsung meraih tas dan mengambil dompetnya.

“Nggak usah diganti. Cuma sedikit aja, kok.”

“Serius?” tanya Delana.

Belvina menganggukkan kepala.

“Thank you so much!” Delana menyubit kedua pipi Belvina.

“Sakit woy!” seru Belvina sambil mengusap pipinya yang memerah.

Delana dan Ivona tergelak melihat wajah Belvina.


((Bersambung...))

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas