Sunday, September 7, 2025

THEN LOVE BAB 18 : HAL SEDERHANA YANG SANGAT INDAH

BAB 18 -  HAL SEDERHANA YANG SANGAT INDAH



“Selamat sore ...!” sapa pelayan restoran pada Delana dan Chilton yang sedang asyik bercengkerama.

“Sore ...!” sahut Delana sambil tersenyum ceria.

“Kami punya promo untuk bulan Februari nanti akan ada anggur merah gratis untuk pelanggan. Silakan dibaca brosurnya! Syarat dan ketentuannya ada di dalam brosur,” tutur pelayan sembari memberikan brosur kepada Delana dan Chilton.

“Terima kasih.” Delana tersenyum manis sembari meraih brosur yang diberikan.

Pelayan tersebut menangkupkan kedua telapak tangannya sambil tersenyum. Ia membungkukkan badan dan berlalu pergi.

“Aargh ...! Kita bisa dapet anggur gratis!” seru Delana kegirangan. Ia membaca brosur yang diberikan oleh pelayan untuk mengetahui syarat dan ketentuan mendapatkan anggur gratis.

Chilton hanya tersenyum melihat Delana. Ia tidak tertarik membaca brosur tersebut karena ia tahu kalau Delana pasti akan membaca semuanya, dia cukup mendengarkan saja.

“Syarat dan ketentuan mendapat anggur gratis.” Delana membaca tulisan yang terdapat pada brosur. “Yang pertama, pasangan kekasih.” Delana langsung mendongak ke arah Chilton. Mereka bukan pasangan kekasih, tapi bisa saja berpura-pura jadi pasangan.

Delana tersenyum dan membaca syarat selanjutnya. “Yang kedua, menunjukkan foto selfie saat makan di Ocean’s Resto. Ah, ini bisa kita buat sekarang,” tutur Delana.

“Yang ketiga, wajib memposting foto romantis di bulan Februari dengan latar Ocean’s Resto dan menggunakan hashtag ValentineDaysOceans di akun media sosial,” tutur Delana melanjutkan bacaannya.

Chilton menatap Delana sambil tersenyum kecil. Cewek itu terlihat ceria mendapat anggur merah gratis di bulan kasih sayang.

“Kamu kenapa sih cuma senyum-senyum aja?” dengus Delana. “Ini syaratnya mudah banget. Kita bisa dapet anggur gratis sepuasnya!” seru Delana.

Chilton menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum heran. Cewek setajir Delana, ternyata masih suka dengan barang gratisan. Padahal, ia punya cukup uang untuk membeli.

“Sekarang, kita foto selfie dulu.” Delana mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. “Sini!” Delana menarik Chilton agar menyondongkan tubuhnya.

Delana mengambil gambar beberapa kali dengan latar meja makan mereka yang makanannya sudah ludes termakan.

“Oke, syarat pertama dan kedua sudah selesai,” tutur Delana sambil tersenyum menatap foto mereka yang terpampang di layar ponsel Delana.

“Uuh ... kamu ganteng banget!” Delana menggoyangkan pipi Chilton dengan telapak tangannya.

Chilton hanya tersenyum menanggapinya.

“Mau foto lagi?” tanya Delana sambil menatap Chilton.

Chilton menggelengkan kepala. Tapi, Delana dengan cepat pindah tempat duduk ke samping Chilton. Ia mengarahkan kamera ke wajah mereka berdua. Delana mengambil gambar dengan berbagai macam ekspresi lucu. Chilton yang awalnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, jadi ikut alay mengikuti gaya Delana.

“Aargh ...! Lucu,” teriak Delana sambil melihat hasil fotonya.

“Lucu apanya? Jelek banget kayak gitu,” celetuk Chilton ikut melihat hasil foto yang ada di ponsel Delana.

Delana mendongakkan wajahnya, tepat menatap Chilton. Chilton juga ikut menoleh dan menatap Delana. Mereka sama-sama terpaku selama beberapa detik dalam jarak yang begitu dekat.

Kamu adalah laki-laki yang membuat mataku melihat hal sederhana menjadi begitu indah,” ucap Delana dalam hatinya.

Chilton menatap lekat mata Delana. Ia bisa melihat bayangannya sendiri terlukis di dalam manik mata gadis itu. Ia mencoba menangkap ketulusan yang tergambar dari mata itu. Mata yang begitu teduh dan penuh kasih sayang.

“Ehem ...!” Chilton berdehem sembari mengusap tengkuknya untuk mengalihkan perasaan aneh yang tiba-tiba hadir dalam hatinya. “Pulang, yuk!” ajak Chilton.

“Eh!? Ayo!” Delana menganggukkan kepala. Ia meraih tas yang ia letakkan di atas kursi dan berlalu menuju meja kasir untuk membayar tagihan makan mereka.

Chilton menggenggam tangan Delana sampai ia tiba di sisi mobil. Ia membukakan pintu untuk Delana, memastikan Delana sudah duduk manis dan menutupnya kembali.

“Chil, yang untuk foto romantis itu, enaknya kita pake photografer kali ya? Biar bagus hasil fotonya,” tutur Delana saat Chilton sudah duduk di belakang kemudinya.

“Terserah,” jawab Chilton singkat sembari menyalakan mesin mobilnya.

“Kok, terserah sih?”

“Aku ngikut aja.” Chilton menoleh ke belakang untuk memastikan ia mengeluarkan mobilnya dari parkiran dengan baik.

Delana menghela napas kecewa. “Kamu mah nggak asyik,” celetuk Delana sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

“Ck, kamu nih perajuan betul,” gumam Chilton.

“Kamu loh lebih-lebih dari aku kalo merajuk,” sahut Delana.

Chilton tertawa kecil melihat wajah kesal Delana. “Aku ikut aja, yang penting kamu senang,” tutur Chilton sambil mengusap punggung tangan Delana. Ia langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah Delana.

***

“Bel, kamu ada kenalan fotografer yang bagus, nggak?” tanya Delana saat mereka sedang berkumpul di kamar Ivona.

“Fotografer tanya aku. Tanya Ivo, tuh!” Belvi menunjuk Ivona dengan dagunya.

Ivona sedang memilih beberapa pakaian di dalam lemarinya. “Tanya apa?” sahut Ivona.

“Ada kenalan fotografer yang bagus kah?” tanya Delana.

“Buat acara apa?” tanya Ivona.

“Buat foto couple gitu,” jawab Delana.

“What? Foto couple? Kalian udah jadian?” teriak Belvina.

“Iih, nggak usah teriak-teriak!” Delana menutup telinganya karena mendengar teriakan Belvi.

“Emang kamu udah jadian sama Chilton?” Ivona menghampiri Delana yang berbaring di ranjangnya.

“Belum.”

“Terus? Mau couple sama siapa?” tanya Belvi tertawa geli.

“Sama Chilton.”

“Nggak jadian kok mau foto pasangan?” tanya Belvi.

“Kepo.” Delana menjulurkan lidahnya ke arah Belvi. “Ada nggak, Vo?” tanya Delana menatap Ivona.

“Ada. Bentar aku cari kontaknya. Kamu langsung telpon dia aja! Bilang aja temen Ivo.” Ivona meraih ponsel dan mencari nama fotografer yang ia maksud.

“Bagus, nggak?” tanya Delana.

“Jangan meragukan aku! Kapan sih aku pake barang nggak berkualitas?”

Delana tersenyum senang mendengar ucapan Ivona.

Setelah mendapat nomor fotografer dari Ivona, Delana langsung menghubungi dan janji bertemu untuk membicarakan konsep foto romantis yang ia inginkan. Sebenarnya, bukan hanya untuk mendapat hadiah anggur merah gratis saja. Delana ingin memiliki kenangan indah bersama Chilton walau mereka belum menjadi sepasang kekasih. Setidaknya, Chilton tidak keberatan saat Delana mengajak berfoto romantis.

“Besok dia bisa ketemu buat diskusi konsep fotonya,” tutur Delana. “Oh, ya. Ada nomer butik yang di daerah Superblok itu kah, Von?” tanya Delana pada Ivona.

“Nggak ada. Tapi kayaknya tante aku punya, deh. Soalnya yang punya butik itu temennya tante aku,” tutur Ivona.

“Iya. Tanyain dong!” pinta Delana.

“Kamu mau cari apa sih?”

“Baju couple gitu buat foto besok. Masa iya udah booking fotografer mahal, tapi bajunya nggak serasi.”

“Oh, ya ya. I see.” Ivona mengangguk-anggukkan kepala. “Di sana bagus-bagus modelnya.”

“Iya, aku lihat di google tadi. Mudahan ada baju yang cocok,” tutur Delana.

“Kamu kenapa sih ribet banget cuma buat dapet anggur gratis? Aku rasa kamu nggak susah-susah banget sampe segitunya buat dapetin minuman gratis,” tutur Belvina.

“Iya. Dibanding sama anggur merah gratis itu, pengeluaran kamu buat sesi foto justru lebih banyak,” sambung Ivona.

Delana meringis menatap kedua sahabatnya. “Kalian tuh nggak peka banget sih? Ini kesempatan bagus buat aku makin deket sama Chilton. Lagian, kapan lagi aku punya alasan foto bareng dia?”

“Oooo ...” Ivona dan Belvina serempak membulatkan bibirnya.

“Ternyata ada misi terselubung?” goda Ivona.

“Pintar juga kamu ya?” sahut Belvina.

“Iya, dong. Siapa dulu? Delana gitu loh.”

“Eh, ini aku udah dapet nomer telepon butiknya. Aku kirim lewat WA aja ya,” tutur Ivona.

“Mantap!” seru Delana.

Delana langsung mengubungi pihak butik untuk mengatur pertemuan.

“Von, malam buka nggak?” tanya Delana.

“Apanya?”

“Butiknya.”

“Buka.”

“Kita langsung ke sana sekarang aja yuk!” ajak Delana.

“Hah!? Sekarang?”

“Iya.”

“Kenapa nggak bilang dari tadi?” tanya Ivona.

“Aku nggak kepikiran.”

“Ya udah, aku siap-siap dulu.”

“Nggak usah, gin. Gini aja nggak papa. Cuma bentar doang,” tutur Delana.

Ivona menghela napas. “Kalau bukan karena kamu dan Chilton, aku nggak bakal keluar dalam keadaan ngegembel kayak gini.”

Delana meringis. Mereka sepakat berangkat ke butik secepatnya dengan pakaian seadanya. Bahkan Ivona yang biasa pakai make-up, hanya memakai bedak dan lisptik tipis. Tapi tetap saja terlihat cantik.

***

“Chil, jam tujuh malam ke Ocean’s Resto ya!” pinta Delana via telepon.

“Ngapain?” tanya Chilton.

“Foto, dong. Kayak yang kita rencanain hari itu. Sekarang udah tanggal dua Februari nih.”

“Oh, oke. Jam tujuh ya?”

“Iya. Oh ya, aku ada kirim paketan ke asramamu. Wajib dipake ya!”

“Apa itu?”

“Udah, pake aja!” pinta Delana. “Aku mau siap-siap dulu ya. Bye ...!” Delana langsung mematikan sambungan teleponnya.

Setelah menelepon Chilton, Delana menelepon Ivona.

“Von, kamu di mana?” tanya Delana begitu panggilannya tersambung.

“Di rumah. Kenapa, Del?” tanya Ivona.

“Ke rumah ya! Dandanin aku,” pinta  Delana.

“Emang mau ke mana?”

“Mau nge-date dong sama Chilton,” jawab Delana sumringah.

“Ciyeee ... ya udah, aku meluncur ke sana sama Belvi.”

“Oke, ditunggu!” Delana langsung mematikan panggilan teleponnya.

Dua puluh menit kemudian, Ivona dan Belvina sudah sampai di rumah Delana. Mereka bertiga langsung masuk ke kamar Delana dan beraksi mengubah Delana menjadi seorang puteri yang cantik jelita. Ivona sibuk memoles make-up ke wajah Delana, sementara Belvina sigap menyiapkan barang yang dibutuhkan oleh Ivona.

“Taaraa ...!” seru Ivona setelah selesai mendandani Delana. Ia menggenggam bahu Delana dan mengajaknya berdiri di depan cermin.

Delana tersenyum melihat hasil make-up Ivona. Ia sangat senang karena bisa terlihat lebih cantik dari biasanya.

“Hmm ... sekarang tinggal pilih bajunya,” gumam Ivona.

“Bajunya udah aku siapin di kotak itu.” Delana menunjuk kotak berukuran 50x50 cm yang terlihat masih baru dari butik ternama.

Dengan cepat Belvina menyambar kotak itu dan membukanya. “Wow ...! Ini keren banget!” serunya sembari mengambil gaun yang ada di dalamnya.

Delana tersenyum bangga karena sahabatnya juga suka dengan gaun pilihannya.

“Keren, nih. Kamu sempat pesan design baju sendiri?” tanya Ivona. Ia mengambil gaun Delana dari tangan Belvina dan memakaikannya ke tubuh Delana.

Delana terlihat sangat cantik dengan gaun bernuansa pink hitam dengan hiasan kerlap-kerlip di kain brokatnya. Kakinya yang panjang terlihat begitu seksi mengenakan gaun selutut dan high heels warna senada. Bahunya terbuka dan memamerkan belahan dadanya.

“Cantik, tapi masih ada yang kurang. Apa ya?” tanya Ivona sambil mengetuk-ngetuk dagunya.

“Aksesoris!” seru Belvina.

“Aha, bener banget!” Ivona langsung melompat ke arah lemari aksesoris milik Delana. “Bagusnya pake yang mana ya?” tanya Ivona sambil mengamati aksesoris yang terpajang di lemari kaca.

Delana tersenyum. Ia membuka salah satu lemari pakaian dan mengeluarkan kotak perhiasan berwarna kuning keemasan. “Pake yang di sini aja!” pinta Delana sambil membuka kotak tersebut.

“Wow ...! Ini berlian asli?” tanya Belvina terpesona.

“Asli, dong!” sahut Delana. “Bagusnya pake yang mana?” tanya Delana sembari memilih perhiasan yang akan digunakan.

“Yang ini bagus, Del.” Ivona menunjuk kalung berlian mungil berbentuk tetesan air.

Delana tersenyum dan mencobanya. “Bagus?” Ia meminta pendapat dari kedua sahabatnya.

“Bagus!” jawab Belvina dan Ivona berbarengan sembari mengangkat kedua jempolnya.

“Oke. Aku pake yang ini aja.” Delana langsung memakai anting yang merupakan bagian dari set perhiasan kalungnya.

Setelah semuanya siap, Delana memesan taksi online menuju ke Ocean’s Resto.

“Kamu mau naik taksi?” tanya Ivona.

Delana menganggukkan kepala.

“Ngapain sih naik taksi segala? Aku antar,” tutur Ivona yang kebetulan membawa mobil ke rumah Delana.

“Boleh. Untung aja aku belum klik pesan, hehehe.”

“Ya udah. Ayo, berangkat!” ajak Ivona.

“Tukang fotonya udah kamu telepon?” tanya Belvina.

“Udah.”

Mereka langsung bergegas menuju Ocean’s Resto, tempat Delana dan Chilton akan melakukan sesi pemotretan.

***

Di Ocean’s Resto, Chilton menunggu Delana datang. Ia mengenakan kemeja berwarna pink dengan jas warna hitam pink. Kemeja dan jas yang ia kenakan sudah disediakan oleh Delana.

Beberapa menit kemudian, Delana muncul dan langsung menghampiri Chilton. Belvina dan Ivona hanya mengantar saja, mereka tidak ingin mengganggu dua sejoli yang sedang bersamaan.

“Udah lama nunggu?” tanya Delana sambil menepuk pundak Chilton.

 Chilton menoleh ke arah sumber suara, menatap Delana yang sudah berdiri di belakangnya. Ia mengernyitkan dahi mengamati wajah gadis yang terasa asing di depannya.

“Hei, kenapa lihatin kayak gitu?” Delana melambaikan tangan ke wajah Chilton.

“Eh!?” Chilton gelagapan begitu menyadari dirinya tenggelam dalam pesona kecantikan Delana. “Nggak papa.”

“Udah lama nunggu?” tanya Delana lagi.

“Nggak. Baru aja.”

“Tukang foto kita mana ya?” Delana mengedarkan pandangannya mencari sosok fotografer yang ia temui kemarin. Kemudian, ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas untuk menelepon.

“Fotografer?” tanya Chilton sambil mengerutkan keningnya.

Delana menganggukkan kepala.

“Cuma foto berdua, nggak perlu pake fotografer. Minta tolong pelayan resto atau pelanggan lain buat fotoin pake hape gin bisa,” cerocos Chilton.

Delana tersenyum sinis. “Nggak bagus!” celetuknya.

Chilton menggeleng-gelengkankan kepala melihat kelakuan Delana. Tapi, entah kenapa ia tidak bisa memprotes atau menolak keinginan gadis itu.

“Mas, di mana?” tanya Delana begitu teleponnya tersambung. “Saya di meja belakang, Mas. Pas tepi pantai. Pake dress pink. Oke.” Delana langsung mematikan teleponnya.

“Tunggu sebentar ya!” pinta Delana.

Chilton mengangguk-anggukkan kepala sembari melipat tangannya di depan dada.

Tak berapa lama, fotografer yang ditunggu akhirnya datang. Dengan senang hati Delana menyambutnya. Akhirnya, mereka melakukan sesi foto layaknya foto prewedding.

Syarat untuk mendapat anggur merah gratis sudah terpenuhi. Delana langsung menghampiri meja resepsionis dan mengajukan untuk bisa mendapat anggur merah gratis.

“Kamu yakin mau minum?” tanya Chilton begitu mereka kembali duduk di kursi meja makan yang berada di tepi pantai.

Delana mengangguk pasti. Setelah pelayan mengantarkan anggur ke meja mereka, Delana langsung membukanya dan menuangkan anggur untuk Chilton.

Chilton tersenyum sembari menatap Delana. “Berani habisin satu botol?” tanya Chilton menantang Delana.

“Berani!” Delana merasa tertantang. Ia langsung menenggak anggur yang sudah ada di tangannya.

Chilton mengernyitkan dahinya. Ia tak menyangka kalau Delana langsung menenggak minuman yang ada di tangannya. Chilton menyodorkan gelas yang ia pegang ke hadapan Delana dan langsung ditenggak oleh Delana.

Chilton menuangkan anggur ke gelas satu lagi dan meminumnya perlahan sembari menatap Delana yang mulai mengerjapkan matanya.

“Masih mau minum?” tanya Chilton.

Delana menganggukkan kepalanya. Ia menuangkan anggur ke dalam gelas dan langsung menenggaknya sampai habis.

Chilton tertawa kecil menatap Delana sambil menyesap anggur miliknya perlahan.

Delana menopang wajahnya yang hampir jatuh ke meja. Tangan satunya lagi masih bisa menuangkan anggur ke gelas dan meminumnya lagi sampai habis. Ia meletakkan gelas ke atas meja asal-asalan. Ia menjatuhkan kepalanya ke atas meja, menatap Chilton yang terlihat samar di hadapannya.

“Tolong tuangin lagi!” pinta Delana lirih.

“Kamu sudah mabuk.” Chilton menarik botol anggur agar menjauh dari hadapan Delana.

“Belum ... aku masih sadar,” sahut Delana yang sudah setengah sadar.

“Kamu sudah mabuk berat.”

“Enggak.” Dengan susah payah Delana mengangkat kepala dan menatap Chilton untuk membuktikan kalau ia belum mabuk. Tapi tiba-tiba pandangannya gelap dan tak bisa melihat apa-apa. Kepalanya kembali jatuh ke atas meja.

Chilton mengedarkan pandangannya, beberapa orang memerhatikan mereka. “Ayo, kita pulang!” ajak Chilton.

“Nggak mau!”

“Kamu mabuk, lagipula ini sudah malam.” Chilton menarik lengan Delana dan melingkarkan ke lehernya.

“Nggak mau. Aku mau di sini sama kamu,” rengek Delana manja.

Chilton tak peduli dengan ucapan Delana. Ia meraih tas Delana dan merangkulnya keluar dari resto menuju parkiran.

Karena Delana kesulitan berjalan, akhirnya Chilton memutuskan untuk menggendongnya sampai ke mobil.

“Punggungmu anget.” Delana menyandarkan kepalanya di bahu Chilton, pipinya tepat bersentuhan dengan telinga cowok itu.

“Aku sayang banget sama kamu. Aku pengen kita kayak gini terus selamanya,” bisik Delana di telinga Chilton.

Chilton tak begitu menghiraukan, ia mengira kalau Delana asal bicara karena sedang mabuk. Chilton membawa Delana masuk ke dalam mobil. Menyandarkan tubuhnya pada kursi dan memasangkan safety belt di pinggang Delana.

Chilton menghela napas panjang saat ia sudah duduk di balik kemudinya. Ia menatap Delana yang menyandarkan kepala sambil memejamkan mata. Tatapannya beralih ke bagian pundak sampai kaki Delana. Delana begitu seksi dan menggoda. Jantungnya berdebar tak karuan, ia mencoba menahan keinginannya untuk menyentuh gadis itu.

Chilton melepas jas miliknya dan menutupkannya ke tubuh Delana yang sudah tak sadarkan diri. Ia mengelus kepala Delana dengan  lembut dan mengecup pelipisnya. Ia tersenyum sambil menatap ke depan mobilnya, kemudian menyalakan mesin mobil dan bergegas mengantarkan Delana pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, Delana kesulitan mencari kunci rumah di dalam tasnya. Chilton membantu mencarikan, tapi tetap tak ada di dalam tas Delana.

“Kuncinya nggak ada,” tutur Chilton.

Delana mendesah kesal. Ia bersandar di dinding sebelah pintu rumahnya dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai.

“Adik kamu sudah tidur jam segini?” tanya Chilton.

Delana mengangguk-anggukkan kepala kemudian tertidur lagi.

Chilton berusaha mencari bel rumah Delana. Ia langsung memencet bel agar adiknya bisa keluar dan membukakan pintu untuk mereka.

“Belnya lagi rusak, belum dibaikin,” tutur Delana yang menyadari kalau Chilton sedang memencet bel rumahnya.

Chilton mengernyitkan dahinya. “Gimana caranya bangunin adikmu? Dia di kamar atas?” tanya Chilton.

Delana mengangguk-anggukkan kepala.

Tiba-tiba Chilton teringat untuk menelepon adiknya menggunakan ponsel Delana. “Hape kamu di mana?” tanya Chilton.

“Di tas.”

Chilton langsung mencari ponsel di dalam tas Delana. Ia menyalakan ponsel Delana dan tertegun dengan wallpaper yang digunakan oleh Delana. Foto yang mereka ambil sebelum Delana mabuk. Delana masih sempat memasangnya menjadi wallpaper ponselnya. Chilton tersenyum kecil karena foto itu terlihat begitu romantis dan penuh cinta.

“Diangkat nggak?” tanya Delana setengah sadar.

Chilton baru menyadari kalau ia ingin menelepon adik Delana agar membukakan pintu untuk mereka. “Nama di kontaknya apa?”

“Bryan Aubrey,” jawab Delana.

Chilton langsung menemukan nama yang dimaksud dan meneleponnya.

“Halo, Kak. Ada apa?” tanya Bryan dari ujung sana.

“Kakak di luar.”

“Hah!? Ini siapa?” Bryan terkejut karena ponsel kakaknya dibawa oleh laki-laki.

“Temennya Dela.”

“Kak Dela mana?” tanya Bryan.

“Ini. Di depan pintu rumah. Tolong bukain pintu ya!” pinta Chilton.

“Oke.” Bryan langsung mematikan telepon dan bergegas membukakan pintu rumah. Ia terkejut dengan laki-laki yang pulang bersama kakaknya, terlebih kakaknya pulang dalam keadaan mabuk.

“Kakak mabuk?” tanya Bryan pada Delana yang masih terduduk di lantai.

“Enggak. Kakak cuma pusing,” sahut Delana.

Bryan menggelengkan kepala melihat kakaknya terlihat kacau.

Chilton dengan cepat mengangkat tubuh Delana dan menggendongnya. “Kamarnya di mana?” tanya Chilton.

“Di atas,” jawab Bryan.

Chilton langsung masuk ke dalam rumah diikuti oleh Bryan. Ia menaiki anak tangga satu per satu dengan napas tersengal. “Aku baru tahu kalau ternyata kamu berat banget,” gumamnya.

“Kamarnya yang mana?” tanya Chilton begitu sampai di ujung tangga. Ia melihat ada beberapa pintu kamar di sana.

“Itu, Kak.” Bryan menunjuk pintu yang berada paling tengah.

Chilton melangkahkan kaki menuju pintu kamar Delana. Ia berhenti tepat di depan pintu. “Aku antar sampai sini aja. Kamu kuat gendong kakakmu?” tanya Chilton.

“Nanggung amat nganterinnya. Langsung tidurin di kamar aja!” pinta Bryan sembari membukakan pintu kamar Delana.

“Emang boleh kakakmu ditidurin?” tanya Chilton nakal.

“Ditidurkan maksudnya. Jangan macam-macam sama kakakku!” ancam Bryan.

Chilton tertawa kecil dan membawa Delana masuk ke dalam kamarnya. Sementara Bryan menunggu sambil bersandar di bibir pintu, memerhatikan dua orang yang sedang ada di dalam kamar.

Chilton meletakkan tubuh Delana dengan hati-hati. Kemudian ia bangkit. Tapi tubuhnya justru ditarik oleh lengan Delana yang melingkar di lehernya. “Jangan tinggalin aku, aku sayang sama kamu!” Delana mendekap erat tubuh Chilton.

Chilton menoleh ke arah Bryan yang sedang mengawasinya. “Aku nggak ke mana-mana, kamu tidur ya!” bisik Chilton sembari melepas pelukan Delana perlahan. Ia melepas sepatu Delana dan menyelimutinya. Kemudian bergegas keluar dari kamar.

“Makasih udah nganter kak Dela pulang,” tutur Bryan sambil menuruni anak tangga beriringan dengan Chilton.

“Ya. Jaga kakakmu dengan baik!” Chilton menepuk bahu Bryan, kemudian mempercepat langkahnya untuk keluar dari rumah.

Bryan menganggukkan kepala. Ia mengikuti langkah Chilton dan mengantarnya sampai halaman rumah.

Chilton segera masuk mobil, ia menyalakan mesin mobil. Ia membuka kaca mobil dan melambai ke arah Bryan yang berdiri di depan rumah.

Bryan membalas lambaian tangan Chilton, kemudian masuk rumah.

THEN LOVE BAB 17 : GADIS KAYA YANG MANDIRI

 BAB 17 - GADIS KAYA YANG MANDIRI



Chilton melangkahkan kakinya masuk ke kamar. Beberapa kali ia memeriksa ponselnya untuk memastikan Delana sudah membalas pesannya atau belum. Ia melempar ponsel itu ke atas kasur dengan kesal. Kemudian meraih remote televisi yang ia letakkan di atas kasur. Belum sampai ia menyalakan televisi, ponselnya berdering.

Dengan cepat, Chilton menyambar ponselnya dan tersenyum senang karena Delana meneleponnya.

“Halo ...!” sapa Chilton begitu menjawab teleponnya.

“Halo ... lagi di mana?” tanya Delana.

“Di rumah mama. Kenapa?”

“Nggak papa. Tadi, kamu nanyain aku kenapa?”

“Eh!? Ya, nggak papa. Pengen tanya aja.”

“Aneh banget,” celetuk Delana.

“Hehehe. Kamu ke mana aja? Kok, baru balas WA-ku?”

“Beresin kamar.”

“Seharian?” tanya Chilton.

“Iya. Abis dicat ulang dindingnya.”

“Kamu ngecat sendiri?”

“Nggak, lah. Ada tukang.”

“Yang ngerjain tukang, kenapa kamu yang sibuk sampe nggak aktif nomernya?”

“Aku bikinin cemilan buat tukangnya. Terus, aku ngatur ulang posisi furniture kamar aku. Ini juga baru selesai.”

“Oh.”

“Cuma oh?”

“Maunya apa?”

“Maunya ... kamu temenin aku ke showroom. Bisa nggak?” tanya Delana.

“Showroom? Mau beli mobil?”

“Beli motor.”

“Ke dealer kali.”

“Oh, iya. Emangnya apa sih bedanya showroom sama dealer?” tanya Delana.

“Beda!”

“Apa bedanya?”

“Showroom belum tentu ada dealernya. Kalo dealer, biasa udah ada showroom. Showroom buat mamerin produk doang.”

“Oh, gitu? Ya udah, temenin aku ya! Kayaknya kamu lebih paham soal ginian.”

“Oke. Kapan?” tanya Chilton.

“Besok kali ya? Hari ini pasti libur,” jawab Delana.

“Bisa. Jam berapa?”

“Pulang kuliah aja, gimana?” tanya Delana.

“Oke. Pulang kuliah aku jemput.”

“Sip! Tunggu aku depan gang aja ya!” pinta Delana.

“Kenapa? Aku bisa jemput kamu ke rumah.”

“Nggak papa. Biar cepet aja.”

“Oh, ya udah. Kalo emang maunya gitu.”

“Hehehe ... makasih ya!” ucap Delana. “Aku mau mandi dulu.”

“Belum mandi?”

“Belum. Kan aku bilang baru kelar beresin kamar. Belum mandi lah.”

Chilton tertawa kecil. “Ya udah, mandi gih! Bau tau!”

“Emang kecium sampe sana?”

“Banget!”

“Halah ... palingan itu kamu sering membayangkan aku ada di deket kamu terus kan?” goda Delana.

“Eh!? Pede amat ngomong gitu.”

“Hehehe ... bercanda. Aku mandi dulu, ya! Bye ...!” Delana mematikan sambungan teleponnya.

***

Keesokan harinya, Delana melenggang masuk ke kelas dengan sumringah. Ia langsung duduk di kursinya.

Ivona yang ada di sampingnya mengerutkan kening melihat Delana masuk kelas sambil bersenandung riang.

“Bahagia banget? Abis nge-date sama Chilton?” tegur Ivona.

“Nggak. Tapi mau!” sahut Delana gemas.

“Idih, centil amat!” celetuk Belvina yang duduk di belakang Delana.

“Sewot!” Delana mencebik ke arah Belvi. Belvi hanya tertawa menanggapinya.

“Pulang kuliah, aku mau jalan sama dia,” tutur Delana berbisik.

“Bukannya biasa juga jalan bareng ke tempat kalian ngajar?” tanya Belvina.

“Ini beda. Bukan ke tempat ngajar,” tutur Delana.

“Terus kemana?” tanya Ivona penasaran.

“Mau cari motor.”

“Motormu?” tanya Belvina.

Delana menganggukkan kepala.

“Mau ganti motormu yang hilang itu, Del?” tanya Ivona.

“Iya.”

“Terus pihak kantor kamu gimana? Nggak ada tanggung jawab sama sekali sama motormu yang hilang itu?” tanya Ivona.

Delana menggelengkan kepala. “Biar aja, lah. Aku juga nggak mau ribut.”

“Gitu memang kalo jadi orang kaya. Motor ilang, tinggal beli lagi. Coba kalo kita, ngilangin motor bisa-bisa nggak dikasih uang jajan lima tahun,” celetuk Belvina.

Delana dan Ivona tertawa mendengar ucapan Belvina. Mereka langsung memperbaiki posisi duduk ketika dosen memasuki kelas.

Setelah mata kuliah selesai, Delana langsung berlari keluar kelas. Ia tidak ingin Chilton menunggunya terlalu lama.

Delana menghentikan langkahnya saat ia sampai di gerbang masuk kampus. Dengan santai Chilton duduk di atas motor yang ia parkir di depan pintu gerbang. Delana ingin tertawa melihat kelakuan Chilton. Tapi, ia tahan karena Chilton terus menatapnya.

Delana melangkahkan kaki menghampiri Chilton. “Kamu ngapain parkir motor di sini? Ngehalangin orang mau lewat,” sapa Delana begitu ia sampai di depan Chilton.

“Ngehalangin gimana? Masih lebar gini,” jawab Chilton sembari menunjukkan gerbang kampus yang lebarnya lebih empat kali panjang motornya.

Delana tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya. “Kamu nggak malu dilihatin banyak orang?”

“Aku udah biasa dilihatin banyak orang.” Chilton tersenyum membanggakan diri. “Ayo naik!” pintanya pada Delana agar segera naik ke atas motor miliknya.

“Aku?” Delana menunjuk dirinya sendiri. “Aku jalan kaki aja.”

“Naik atau aku nggak temenin kamu cari motor?” ancam Chilton.

Delana menghela napas. “Rumah aku deket, jalan kaki nyampe.”

“Oke, kalo gitu. Aku nggak bisa nemenin kamu pergi.” Chilton menyalakan mesin motornya dan mengopel gas tinggi.

“Iya, iya. Aku naik!” Delana menahan lengan Chilton dan langsung bergegas menaiki motornya.

Chilton tersenyum penuh kemenangan dan mengantarkan Delana pulang ke rumah.

“Kamu udah mandi?” tanya Delana begitu mereka sampai di depan rumah.

“Udah.”

“Kalo gitu, kamu tunggu di teras ya! Aku mau mandi dulu,” pinta Delana.

Chilton menganggukkan kepala. “Jangan lama-lama! Keburu dealernya tutup.”

“Apaan, masih jam dua gini,” sahut Delana.

“Yah, siapa tahu aja mandinya sampe jam enam sore,” celetuk Chilton cekikikan.

Delana mencebik ke arah Chilton. Ia bergegas masuk ke dalam rumah dan bersiap-siap berangkat menuju tempat penjualan motor.

Beberapa menit kemudian, Delana sudah siap dan langsung keluar dari rumah menghampiri Chilton.

“Dek, Kakak berangkat dulu ya!” teriak Delana pada Bryan yang sedang makan siang sendirian.

“Ya.” Terdengar suara Bryan menyahut dari dalam rumah.

“Dah siap?” Chilton langsung bangkit dari tempat duduknya begitu Delana keluar dari pintu rumahnya.

Delana menganggukkan kepala. Mereka langsung bergegas pergi bersama mencari tempat penjualan sepeda motor yang akan mereka datangi.

“Chil, kita ke dealer mana?”

“Yang di MT Haryono aja.”

Delana mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

“Kamu mau cari motor apa?” tanya Chilton saat mereka masih di perjalanan.

“Motor yang sama.”

“Yang ilang kemarin?” tanya Chilton.

“Iya.”

“Kenapa nggak cari motor yang keluaran baru?”

“Nanti ayah nanyain kalau aku ambil motor baru,” jawab Delana.

“Hah!? Ayahmu belum tahu kalau motormu hilang?” tanya Chilton terkejut.

“Belum.”

“Gimana caranya dia nggak tahu, motor nggak ada di rumah.”

“Ayah pulang kerja selalu malam. Dia nggak perhatikan motorku.”

“Adik kamu nggak nanyain?”

“Enggak. Tapi, kayaknya dia udah curiga.”

“Kenapa kamu nggak jujur sama orang rumah?” tanya Chilton.

“Aku bukan nggak jujur. Nggak ada yang tanya, jadi aku pikir nggak perlu ngomong.”

“Jadi nunggu ditanyain baru kamu ngomong kalo motormu hilang?”

Delana menganggukkan kepala. “Iya.”

Chilton terdiam. Ia tak bertanya lagi sampai mereka sampai di halaman parkir dealer yang mereka tuju.

Delana turun dari motor Chilton dan melepas helmnya. Chilton langsung mengambil helm dari tangan Delana dan meletakkan di atas motornya.

Dari dalam toko terlihat SPG sudah berdiri dan tersenyum menyambut kedatangan Chilton dan Delana.

“Selamat sore ... selamat datang! Ada yang bisa kami bantu?” SPG cantik itu tersenyum manis ke arah Delana dan Chilton.

Chilton memasang senyum paling manis yang ia punya dan membuat para SPG tak berkedip menatapnya.

Delana menyubit pinggang Chilton untuk menghentikan aksi centilnya. “Kenapa kayak gitu sih!?” dengusnya kesal.

“Udah, lihat aja nanti!” bisik Chilton sembari memeluk pinggang Delana mesra.

Beberapa pelanggan cewek hampir berteriak melihat Chilton memperlakukan Delana begitu mesra. Semua mata iri melihat dua pasangan yang sangat serasi.

“Bisa lihat brosur scoopy?” tanya Chilton pada SPG.

“Eh!? Bisa, Mas.” Cewek cantik Sales Promotion Girls tersebut terlihat gugup. Ia terburu-buru mencari brosur yang ada di atas meja dan menjatuhkan beberapa barang yang ada di atas meja.

Delana mulai kesal dengan sikap Chilton yang mulai tebar pesona, bisa saja cewek- cewek itu nekat mengejar Chilton. Itu artinya, dia harus punya banyak pesaing untuk mendapatkan cinta Chilton.

Chilton tersenyum menerima brosur dari tangan SPG. Ia memeluk pinggang Delana dan mengajaknya duduk di kursi tunggu sembari melihat-lihat brosur yang ada di tangan Chilton.

“Kamu mau yang mana?” tanya Chilton menyodorkan brosur ke hadapan Delana.

Delana mengambil brosur dari tangan Chilton dan meneliti produk yang tertera satu per satu.

“Kok, nggak ada sih?” Delana membolak-balik brosur beberapa kali.

“Apanya?”

“Motor yang warnanya sama kayak punyaku.”

“Itu kan cuma gambar contoh. Langsung tanya aja! Siapa tahu masih ada.” Chilton menunjuk meja resepsionis.

“Temenin!” pinta Delana.

“Aku rasa perempuan lebih mudah mengambil perhatian laki-laki,” tutur Chilton sembari menatap cowok setengah baya yang duduk di balik meja resepsionis.

“Ish, males banget. Emangnya aku cewek apaan!?” tutur Delana kesal.

“Biar bisa dikasih harga miring lah,” sahut Chilton.

“Apa aku kelihatan kayak orang susah sampe harus godain om-om cuma buat dapetin harga motor lebih murah? Selisihnya paling cuma lima ratus ribuan aja.”

Chilton tersenyum menatap Delana. Delana memang cewek berkelas. Ia tidak mungkin mau menggoda laki-laki hanya untuk mendapatkan diskon dari barang yang ia inginkan. “Ayo!” Chilton menggenggam tangan Delana untuk berjalan ke meja resepsionis.

“Ya, Mas. Ada yang bisa dibantu?” tanya laki-laki setengah baya itu. “Silakan duduk!” Ia mempersilakan Chilton dan Delana duduk di depannya.

“Saya cari motor scoopy, yang warna biru putih masih ada?” Chilton mengedarkan pandangannya menatap deretan motor scoopy yang hanya berwarna merah, hitam dan cokelat.”

“Wah ... kosong, Mas. Adanya yang warna itu aja!” Laki-laki itu menunjuk deretan motor scoopy yang dilihat oleh Chilton.

“Gimana?” tanya Chilton pada Delana.

“Cari di dealer lain dulu, gimana?” tanya Delana balik. Ia tetap ingin motor yang sama dengan motornya yang hilang.

“Di sini pusatnya sih, Mbak. Kalo di sini nggak ada, di cabang lain juga nggak ada,” tutur petugas resepsionis.

Delana menghela napas. Ia menimbang-nimbang untuk mengambil sepeda motor berbeda atau mencari sepeda motor bekas pakai yang merk dan modelnya sama.

Chilton menatap wajah Delana. Menunggu gadis itu mengambil keputusan. “Gimana?” tanya Chilton karena Delana tak kunjung memberikan jawaban.

Delana menggigit bibir bawahnya. “Aku bingung.”

“Ck, ngapain bingung sih? Udah di sini juga,” celetuk Chilton. “Mending kamu ambil aja motor yang ada. Kalo ayah atau adik kamu nanyain, jawab jujur aja. Toh, nggak ada yang mau juga kehilangan sepeda motor ‘kan?”

“Hmm ... iya sih.” Delana memutar bola matanya menghadap ke langit-langit. “Iya, deh.”

“Nah, gitu! Daripada ribet.” Chilton langsung memperbaiki posisi duduknya menghadap meja. “Kena berapa scoopy-nya?” tanya Chilton.

“Cash atau kredit?”

Chilton menoleh ke arah Delana, memberi isyarat agar Delana memberikan jawaban.

“Cash,” sahut Delana.

“Kalo cash, kena segini Mas.” Laki-laki setengah baya itu menyodorkan kertas daftar harga.

“Nggak bisa kurang?” tanya Chilton.

“Nggak bisa, Mas. Udah pas.”

“Ini cash, loh. Masa nggak bisa kurang?”

“Hmm ... bisa, Mas. Tapi, nggak banyak?”

“Berapa?”

“Cuma bisa kurang lima ratus aja.”

“Itu sudah sama STNK dan BPKB kan?” tanya Chilton.

“Iya.”

“Gimana?” tanya Chilton pada Delana.

“Iya, deh. Aku ambil yang ini aja.”

“Uang kamu cukup?” tanya Chilton berbisik.

Delana menganggukkan kepala.

Chilton masih terus melakukan negosiasi dengan bos dealer tersebut agar bisa mendapat harga murah. Ia tak menyerah begitu saja sampai akhirnya ia bisa mendapat harga paling murah. “Oke, deh. Kita ambil scoopy.”

Laki-laki itu terlihat sumringah mendapatkan pembeli baru.

“Kita bisa lihat-lihat dulu, kan?” tanya Chilton.

Laki-laki itu mengangguk dan mempersilakan dengan senang hati.

Delana dan Chilton pergi berjalan-jalan untuk memilih motor yang akan mereka beli. Setelah menjatuhkan pilihannya, Delana langsung melakukan transaksi jua beli motor pada saat itu juga.

“Bisa diantar ke rumah kan?” tanya Delana setelah selesai membayar biaya pembelian sepeda motor.

“Bisa, Mbak. Alamatnya sesuai dengan data ini kan?” tanya karyawan dealer yang melayani.

“Iya,” jawab Delana sambil tersenyum.

“Oke. Udah selesai kan? Kita pulang yuk!” ajak Chilton sembari mengedarkan pandangannya. Sebenarnya ia sudah tak nyaman dengan beberapa SPG yang menatapnya centil. Ada yang sengaja berjalan mondar-mandir sambil membusungkan dada agar terlihat menggoda.

“Ayo!” sahut Delana sambil menganggukkan kepalanya.

Chilton merangkul Delana dan langsung keluar dari dealer. Ia sempat melambaikan tangan dan tersenyum pada SPG yang ada di dalam, membuat mereka histeris karena Chilton memang sangat tampan.

“Ehem ...!” Delana berdehem melihat kelakuan Chilton. Tak biasanya Chilton bersikap genit seperti ini.

“Cemburu?” tanya Chilton sembari menyolek dagu Delana.

Delana mengerucutkan bibirnya. “Siapa sih yang nggak cemburu kalo gebetannya godain cewek lain?” batinnya.

“Jangan merengut gitu! Aku cuma bercanda aja sama mereka.”

“Bercandanya nggak lucu. Kalo mereka naksir beneran sama kamu gimana?”

“Biasa aja. Banyak cewek yang naksir sama aku,” celetuk Chilton. Ia mengambil helm Delana yang ia letakkan di atas motornya. “Tapi cuma kamu yang bikin aku nyaman.” Chilton memasangkan helm Delana dan membantu menguncinya.

Delana tersenyum senang. Hatinya berbunga-bunga karena Chilton memberinya banyak harapan. Sampai kapan pun, ia akan tetap mencintai cowok yang ada di depannya saat ini. Sebab hanya dia yang mampu membuat Delana selalu bahagia.

“Ayo, naik!” pinta Chilton yang sudah menyalakan mesin motornya.

Delana tersenyum, ia menaiki motor Chilton. “Kita cari makan dulu ya!” pintanya.

“Mau makan di mana?” tanya Chilton.

“Di Ocean’s.”

Chilton langsung menoleh ke belakang begitu mendengar nama tempat makan yang disebutkan oleh Delana. “Itu restoran mahal.”

“Tenang. Aku yang traktir. Anggap aja tanda terima kasih karena kamu udah nemenin aku beli motor. Jadi dapet potongan harga yang lumayan, hehehe.”

“Ke sana pake motor, nggak papa?” tanya Chilton.

“Emangnya ada larangan ke sana nggak boleh pake motor?”

“Ya, nggak sih. Tapi, yang parkir di sana mobil semua. Masa iya kita pake motor. Ntar dikira nggak bisa bayar.”

“Nggak lah. Mau jalan kaki ke sana pun bisa. Nggak penting kendaraannya, yang penting isi dompetnya,” tutur Delana.

“Ck, aku nggak pede masuk ke sana bawa motor, bawa cewek pula,” celetuk Chilton.

“Kenapa sih? Aku pede aja.”

“Gengsi kita sebagai laki-laki.” Chilton membelokkan motornya ke arah jalan Ahmad Yani saat ia sampai di simpang lampu merah Plaza Balikpapan.

“Loh? Kita mau ke mana? Ocean’s di depan!” teriak Delana menunjuk ke arah Pasar Klandasan.

“Ke rumah Mama. Aku ambil mobil dulu.”

“Astaga ...! Ngapain ribet sih? Tinggal maju dikit aja kita udah sampe. Malah muter ke Gunung Dubs lagi kan jauh, Chil.”

“Nggak, sebentar aja.” Chilton menambah kecepatan motornya. Membuat Delana langsung memeluknya erat-erat.

“Kalo kamu malu mau ke sana pake motor, kita makan bakso aja yang deket sini. Jadi, nggak usah ribet ambil mobil,” seru Delana.

Chilton tak menghiraukan seruan Delana. Ia terus melajukan motornya melewati jalan Tanjung Pura.

“Tunggu sini!” pinta Chilton begitu mereka sampai di halaman rumah. Ia segera masuk ke dalam rumah untuk membuka garasi mobil.

“Chil, aku rasa kita nggak perlu kayak gini deh. Nggak harus makan di sana kalo emang kamu nggak bisa,” tutur Delana saat Chilton mendorong motornya ke dalam garasi.

“Nggak papa. Aku juga mau ke sana minum bir.” Chilton menurunkan standar motor dan membuka kunci mobilnya.

“Serius?” tanya Delana sembari mengamati wajah Chilton.

Chilton tersenyum lebar menanggapi tatapan Delana. “Tiga rius!”

“Senyumnya kayak nggak ikhlas gitu,” celetuk Delana.

Chilton tertawa kecil. “Udah, ayo masuk!” pinta Chilton sembari membukakan pintu mobil untuk Delana.

Delana tersenyum, ia melangkahkan kaki perlahan dan memasuki mobil Chilton.

Chilton membungkukkan badannya menatap Delana yang sudah duduk di dalam mobil. Ia tersenyum sembari mengusap ujung kepala Delana, kemudian menutup pintu mobil. Ia berjalan menuju pintu kemudi, menyalakan mesin mobil dan mengeluarkan mobilnya dari garasi secara perlahan.

Setelah mobilnya berada di tepi jalan. Chilton keluar dari mobil untuk mengunci garasi dan pintu pagar rumahnya. Ia kembali masuk ke dalam mobil dan bergegas melajukan mobilnya ke arah jalan Jenderal Sudirman.

Sepuluh menit kemudian, mobil Chilton sudah terparkir di depan Ocean’s Resto. Chilton ingin membukakan pintu untuk Delana, tapi cewek itu sudah membuka pintu sendiri untuknya. Ia tersenyum menatap Delana yang terlihat sangat mandiri dan tidak manja. Tapi, entah kenapa nalurinya ingin selalu memanjakan gadis itu tanpa diminta.

Chilton menggenggam erat tangan Delana memasuki ruang restoran, membuat perasaan Delana berbunga-bunga.

Delana semakin yakin kalau hubungan mereka akan berlanjut ke jenjang yang lebih baik lagi. Rasanya, ia ingin melompat-lompat ke sana kemari untuk mengungkapkan kebahagiaannya saat ini.

“Kita di belakang aja ya!” pinta Chilton, ia mengajak Delana duduk di salah satu meja dengan pemandangan pantai yang indah. Semilir angin pantai mengajak rambut indah Delana menari-nari bahagia, senada dengan senyum bahagia yang terlukis di bibirnya.

“Kamu mau makan apa?” tanya Chilton. Ia menepuk tangan memanggil waitres yang kebetulan berada tak jauh dari mereka.

Dengan sopan, pelayan tersebut menghampiri Chilton dan menanyakan menu apa yang akan mereka pesan.

“Aku mau kepiting,” tutur Delana.

Chilton memesan beberapa makanan yang ada di dalam daftar menu. Ia juga memesan satu botol bir untuk dinikmati bersama Delana.

“Kamu sering ke sini?” tanya Chilton sembari menunggu pesanan makanan mereka datang.

“Nggak juga. Kalo diajak sama Ayah aja sesekali. Aku kan jarang makan di luar.”

Chilton mengangguk-anggukkan kepala. Ia tahu kalau Delana pintar memasak dan jarang sekali makan di luar. Tapi, pilihan tempat makannya adalah tempat-tempat berkelas.

Tak berapa lama, pesanan mereka pun datang.

“Chil, makasih ya udah anterin aku cari motor. Kalo gak ada kamu, mungkin aku gak bisa dapet diskon.”

Chilton tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia menatap makanan yang sudah terhidang di atas meja sambil memegangi perutnya yang keroncongan.

“Laper ya? Mari makan ...!” seru Delana ceria.

Chilton tertawa kecil melihat Delana dengan semangat melahap kepiting pesanannya. Kemudian mereka asyik menikmati hidangan tanpa bersuara.

“Mau minum?” Chilton meraih botol bir yang yang sudah tersedia di atas meja.

“Eh!? Biar aku aja yang nuangin!” Delana menyambar botol bir tersebut, ia bangkit dan menuangkannya ke dalam gelas kosong yang ada di depan Chilton. Kemudian menuangkan ke gelas yang ada di depannya sendiri.

“Cheers ...!” Delana duduk sambil mengangkat gelas miliknya.

Chilton tertawa kecil, ia mengangkat gelas bir miliknya dan menyentuhkannya pada gelas Delana. Kemudian mereka menikmati bir bersama sambil menatap lautan yang indah.

“Del ...!” panggil Chilton.

“Ya,” sahut Delana menoleh.

“Kamu pernah ke sini sebelumnya sama orang lain selain ayah kamu?” tanya Chilton.

“Maksudnya pacar?” tanya Delana.

“Ya ... sejenis itu.”

“Aku belum pernah punya pacar.”

Chilton mengernyitkan dahinya menatap Delana. “Orang yang nggak pernah pacaran bisa memberikan perhatian untuk orang lain seperti sudah profesional dalam berpacaran.

“Profesonal apaan?”

Chilton tertawa kecil. “Dari cara kamu ngasih perhatian, dari cara kamu bersikap udah nunjukkin kalo kamu terlatih dalam hal memberikan kasih sayang.”

“Oh .. itu? Mungkin karena aku terbiasa merawat ayah dan Bryan dari kecil.” Delana tersenyum ke arah Chilton.

“Aku tahu rasanya seperti apa. Kita sama. Kamu besar tanpa seorang ibu dan aku besar tanpa seorang ayah,” tutur Chilton perlahan.

“Sudahlah. Aku nggak mau bahas soal ginian. Cuma bikin aku sedih,” sahut Delana.

Chilton tertawa kecil sambil menatap Delana. Cewek yang selalu ceria mengisi hari-harinya saat ini. Ia tidak tahu bagaimana carnaya berterima kasih pada gadis yang menciptakan keindahan dalam harinya.

“Del, makasih ya!” ucap Chilton.

“Untuk apa?” tanya Delana.

“Hmm ... untuk traktirannya,” jawab Chilton. Sebenarnya, ia ingin mengatakan kalau ia berterima kasih atas cinta yang diberikan Delana untuknya.

“Ah, biasa aja. Cuma traktir makan doang,” tutur Delana sambil tertawa. “Nggak ada bedanya sama aku bawain kamu sarapan setiap pagi.”

Chilton tertawa kecil. Ia menatap wajah Delana yang ikut berkilauan tertimpa cahaya matahari yang memantul dari lautan. Indah, satu kata yang bisa ia ungkapkan untuk sosok wanita yang bersamanya saat ini.

Saturday, September 6, 2025

THEN LOVE BAB 16 : DIHANCURKAN OLEH MASA LALU

 BAB 16 - DIHANCURKAN OLEH MASA LALU



Chilton melangkahkan kakinya memasuki rumah. Ia tersenyum kecil sembari memainkan kunci motor dengan tangannya. Ia tenggelam dalam perasaan bahagianya hingga tak melihat mamanya yang sudah duduk di meja makan menunggunya. Ia berlalu begitu saja hingga membuat mamanya menggelengkan kepala.

“Dari mana?” tanya Astria yang melihat puteranya melintas, melewati meja makan yang berada di dapur dan tak menyadari kalau mamanya ada di dalam rumah.

Chilton menghentikan langkahnya, ia mundur beberapa langkah dan menengok ke arah dapur.

“Mama?” Chilton membelokkan langkahnya memasuki dapur.

“Kamu dari mana? Kelihatan bahagia banget?” Astria menatap Chilton sambil tersenyum penuh arti.

“Dari tempat ngajar.” Chilton melangkahkan kaki mendekati mamanya, ia meletakkan kunci motor di atas meja, kemudian menjatuhkan tubuhnya ke kursi.

“Ketemu sama siapa di sana? Kelihatannya seneng banget?”

“Eh!? Biasa aja. Ketemu sama temen-temen kerja seperti biasa.”

“Apa ketemu temen biasa bisa sebahagia itu?” tanya Astria menggoda.

“Ah, Mama. Masak apa nih?” tanya Chilton mengalihkan pembicaraan. Ia mengamati makanan yang sudah tersaji di atas meja makan.

“Hmm ... mau ngalihin pembicaraan?” dengus Astria. “Kamu udah jadian sama dia?” tanya Astria setengah berbisik.

“Enggak.” Chilton menggelengkan kepala, ia langsung menyomot perkedel jagung yang tersaji di meja.

“Hmm ...” Astria mengangguk-anggukkan kepala, kemudian ia menunjuk syal yang ada di leher Chilton dengan dagunya. “Itu ... pake syal siapa?”

“Eh!?” Chilton menatap syal yang masih melingkar di lehernya. “Oh, ini punya Delana.”

“Ciyeee ...!”

“Apaan sih, Ma!?”

“Mama seneng aja, akhirnya anak Mama udah laku.”

“Laris, Ma. Ganteng ini!”

“Tapi belum punya pacar.”

“Eh!?”

“Pasti dia perhatian banget sama kamu. Sampe dikasih syal, biar nggak kedinginan.”

“Halah ... ini cuma dipinjamin aja. Besok aku cuci dan balikin ke dia.”

“Yah, walau cuma ngasih pinjam. Artinya dia udah perhatian banget sama kamu.”

“Cuma ngasih pinjem kayak gini masa perhatian?” celetuk Chilton sembari melepas syal yang melingkar di lehernya.

“Iya, dong. Itu kan biar kamu nggak kedinginan dan nggak sakit.”

Chilton tertawa kecil menatap syal yang ia letakkan di atas meja.

“Biasanya, kalo di film-film gitu si cowoknya yang ngasih pinjem jaket biar ceweknya nggak kedinginan. Ini malah ceweknya yang ngasih syal ke cowok biar nggak kedinginan,” tutur Astria menggoda sambil cekikikan.

“Korban film,” celetuk Chilton.

“Lah? Biasanya kan gitu. Waktu mama pacaran, pacar mama yang ngasih pinjem jaketnya biar nggak kedinginan.”

“Dia udah pake sweeter hangat. Masa mau aku kasih pinjem jaket lagi?” sahut Chilton.

“Kamu sendiri nggak pake jaket,” celetuk Astria.

Chilton nyengir. “Ketinggalan di asrama.”

“Gimana kalo dia nggak pake jaket? Kamu mau biarin dia kedinginan malam-malam gini?”

“Dia udah pake jaket, Ma.”

“Seandainya enggak?”

“Aku beliin aja jaket di toko. Banyak toko buka,” jawabnya santai.

Astria menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya.

“Dia itu beda sama yang lain,” ucap Chilton.

“Itu yang bikin kamu tertarik sama dia?”

“Aku nggak tertarik.”

Astria menghela napas. “Kalau nggak tertarik, kenapa sering jalan bareng?” tanya Astria.

“Ya ...” Chilton memutar bola matanya. “Dia yang ngajak, aku nggak bisa nolak.”

“Apa termasuk nggak bisa nolak perasaannya dia?” tanya Astria.

Chilton mengedikkan bahunya. “Kalo yang itu belum tahu. Kita baru aja kenal. Aku nggak mau buru-buru.”

“Jangan kasih harapan kalo kamu nggak suka sama dia. Itu lebih menyakitkan buat perempuan daripada ditolak cintanya!” tutur Astria.

“Aku nggak ngasih harapan.”

“Kenapa sering jalan bareng dia?”

“Aku nyaman aja.”

Astria tersenyum senang mendengar ucapan Chilton. Ia sangat senang dengan Delana, anak yang baik, ceria dan penyayang. “Jadi, udah jadian sama dia?”

“Hah!? Mana ada. Cuma temen.”

“Lebih dari temen juga nggak papa. Mama suka sama dia. Anaknya baik, ramah, penyayang dan bisa menghidupkan suasana.”

Chilton tersenyum kecil. “Ya, aku tahu. Dia juga suka sama aku.”

“Kalo gitu, kenapa nggak pacaran?”

“Apa aku harus pacarin semua cewek yang suka sama aku?” tanya Chilton balik.

Astria tersenyum menyelidik. Memang tidak mungkin ia meminta Chilton berpacaran dengan wanita yang menyukainya. Anaknya terlihat tampan dan memesona, ia rasa banyak wanita yang ingin menjadi kekasihnya.

“Ya udah, makan dulu! Kamu sudah makan atau belum?” Astria menyodorkan piring kosong ke depan Chilton.

“Belum.”

“Jalan sama cewek nggak ngasih makan?” tanya Astria lagi.

“Ngasih, lah. Emangnya aku kelihatan kere banget apa? Dianya yang nggak mau diajak makan,” sahut Chilton sewot.

“Cewek mah emang gitu. Biar laper ngomongnya kenyang karena gengsi.”

“Aku rasa dia bukan tipe cewek begitu.”

“Oh ya? Kenapa nggak mau diajak makan?’

Chilton mengedikkan bahunya. “Udah beli jagung rebus sama kacang. Dia juga nggak begitu suka makanan di luar. Dia lebih suka masakan rumah.”

Astria tertawa kecil. “Kenapa nggak diajak ke sini lagi? Biar makan malam bareng sekalian.”

Chilton menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sama sekali tidak kepikiran mengajak Delana mampir ke rumahnya. Padahal, tempat les dan rumah Chilton jaraknya tak begitu jauh.

“Kamu udah tahu banyak tentang dia, gitu juga sebaliknya. Kenapa nggak jadian aja, sih? Mama geregetan lihat kalian,” ucap Astria.

Chilton tersenyum kecil. “Nggak semudah itu. Aku juga belum yakin dia suka beneran sama aku atau enggak. Bisa jadi, dia suka sama aku cuma karena ganteng doang. Yang lain, belum tentu dia suka.”

“Apa selama ini ada yang dia nggak suka dari kamu? Mama rasa dia suka semua. Termasuk sikap cuek dan dinginmu itu.”

Chilton tertawa kecil membayangkan wajah Delana yang tetap sabar saat ia mengomel atau memarahi cewek itu. “Dia itu sabar banget,” celetuk Chilton. “Mau ngelakuin apa aja buat aku. Dia nggak malu ngelakuin itu. Padahal, aku sering marah dan dia tetep sabar. Bingung aku, hatinya dia itu terbuat dari apa?”

Astria tersenyum menatap mata anaknya. “Banyak cewek cantik di dunia ini. Tapi nggak banyak yang hatinya cantik. Mama lihat, dia tulus sama kamu.”

“Mama tahu dari mana?” tanya Chilton.

“Kita sama-sama perempuan.”

Chilton menghela napas. “Memang cuma wanita yang bisa mengerti wanita. Aku nggak paham sama sekali.”

Astria tertawa kecil. “Kalau kata anak zaman sekarang, kamu tuh nggak peka.”

Chilton menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tak ingin membuat mamanya terus-menerus mengajukan pertanyaan, terlebih tentang Delana. Tapi entah kenapa ia merasa nyaman bercerita tentang gadis itu pada mamanya. Satu hal yang tidak pernah ia lakukan seumur hidupnya.

“Ya udah, kita makan dulu!” pinta Astria.

Chilton menganggukkan kepala dan mulai menyantap makanan yang sudah dihidangkan oleh mamanya.

“Kuliahmu gimana?” tanya Astria.

“Baik.”

“Kapan ujian semester?”

“Belum tahu.”

“Uang kuliah udah dibayar?”

“Udah.”

“Besok kuliah?”

“Libur.”

Astria menghela napas. Ia seringkali bingung harus bertanya apa pada anaknya sendiri. Sebab, Chilton sering menjawab pertanyaan dari mamanya sesingkat mungkin. Hal ini membuat Astria begitu menyadari perbedaan yang terjadi pada anaknya. Chilton jarang sekali bicara. Tapi, ia bisa bercerita banyak bila mamanya membahas soal Delana.

“Kapan jadian?” tanya Astria mencoba mengetes reaksi Chilton.

“Eh!?” Chilton langsung mendongakkan kepala menatap mamanya. Sendok yang ia suapkan masih ada di dalam mulutnya. Cepat-cepat ia menyuap makanan ke dalam mulutnya. “Mama apaan sih!?” celetuk Chilton dengan mulut penuh makanan.

Astria tertawa kecil. “Kamu tuh, kalo ditanya yang lain jawabnya cuek amat. Giliran ditanya Delana, ceritanya banyak sambil senyum-senyum,” goda Astria.

Chilton menahan tawa. “Kalo mama ngolok terus, aku pulang ke asrama nih,” tutur Chilton.

“Yah, gitu aja ngambek.”

Chilton tergelak melihat ekspresi wajah mamanya yang tiba-tiba berubah jadi murung.

“Kamu ngerjain Mama?” dengus Astria.

“Enggak,” jawab Chilton menahan tawa. Ia senang sekali menjahili mamanya saat mereka sedang bersama.

“Dasar!” celetuk mamanya sembari membereskan bekas makan mereka yang sudah habis.

“Mama beneran suka sama dia?” tanya Chilton sambil tersenyum senang.

“Emang Mama kelihatan main-main?”

“Doain ya Ma! Semoga cewek yang Mama suka bisa jadi jodohku,” tutur Chilton.

“Aamiin,” sahut Astria. “Mama harap, kamu tidak akan salah memilih dan tidak mengecewakan Mama.”

Chilton tersenyum menatap mamanya yang sibuk membereskan meja makan dan dapurnya. Untuk seorang laki-laki, ia akan melakukan apa pun untuk bisa membahagiakan wanita yang ia cintai. Dia tidak akan menjadi pecundang jika semua itu untuk mamanya. Perempuan yang telah banyak berjuang dan berkorban untuknya.

***

Astria membereskan dapur usai makan malam bersama Chilton. Ia mencuci piring sambil terus tersenyum melihat perubahan anaknya. Entah kenapa, ia merasakan kebahagiaan kedekatan anaknya dengan Delana.

Astria menatap langit dari jendela dapurnya. Tiba-tiba, bayangan masa lalu berkelebat di pelupuk matanya. Bayangan kisah kelam masa SMA-nya.

“Aku hamil ...,” Astria terisak di sudut ruangan.

“Apa? Hamil?” Cowok berseragam SMA itu mendelik ke arah Astria.

Astria menganggukkan kepala perlahan. Matanya basah, ia tidak sendiri tidak menyangka kalau ia harus mengandung di usianya yang masih belia. Hanya untuk membuktikan rasa cintanya pada laki-laki yang ia sukai, ia harus rela mengorbankan tubuhnya dan juga masa depannya.

“Aargh ...!” Cowok itu berteriak sambil meninju dinding yang ada di sebelah kepala Astria. “Gugurin anak itu!” bisiknya sembari menatap tajam mata Astria. Ia merapatkan gigi-giginya, matanya merah menahan amarah.

Astria menggelengkan kepala sambil menatap iba pada cowok itu. Ia tidak ingin membunuh janin yang ada dalam perutnya. Ia tahu telah melakukan dosa, tapi membunuh anak yang tak bersalah adalah hal yang paling biadab. Sedang anak itu adalah buah cintanya sendiri, buah dari waktu yang ia gunakan untuk bersenang-senang bersama cowok yang ia cintai tanpa memikirkan masa depan.

“Kita masih sekolah. Apa kamu pikir aku siap jadi bapak? Hah!?” Cowok itu semakin geram karena Astria menolak menggugurkan kandungannya.

“Aku nggak mau bunuh anak ini. Ini anak kita. Kenapa kamu tega banget mau bunuh anak kita?” Astria terisak.

“As, aku nggak siap nikah. Kita masih sekolah. Kamu pikir itu anak mau hidup pake apa? Mau dikasih makan batu?”

“Kita pasti bisa hidupin anak ini, gimana pun caranya. Please ... Nikahin aku!” Astria mengenggam tangan cowok itu.

Cowok itu langsung menepiskan tangan Astria. Ia menatap tajam mata Astria yang hanya berjarak lima sentimeter dari matanya. Tangan kanannya menangkap rahang Astria dan menekannya erat. “Aku mau kamu gugurin bayi itu! Aku nggak mau keluarga aku tahu soal ini.”

“Sakit ...,” rintih Astria saat rahangnya ditekan sangat erat oleh cowok itu.

“Gugurin ...!” teriak cowok itu lagi, ia terus memaksa Astria untuk menggugurkan kandungannya.

Astria menggelengkan kepala perlahan. Air matanya semakin basah saat melihat cowok yang ia cintai berubah menjadi monster yang menakutkan. Dia lupa bahwa mereka pernah menjalani hari-hari indah bersama. Lalu, ketika buah cinta itu hadir ... tak membuat cowok itu semakin romantis. Justru menjadi monster yang siap melukai Astria saat itu juga.

“Aku nggak akan bunuh dia. Aku bakal ngerawat anak ini, sekalipun tanpa kamu,” tutur Astria lirih sembari memeluk perutnya sendiri. Ia takut, pacarnya akan nekat melukai anak yang ada di dalam janinnya itu.

Cowok itu melirik perut Astria yang belum terlihat membuncit. “Bagus!” Cowok itu melepaskan rahang Astria. “Jangan bilang sama siapa pun kalau anak itu anak aku! Mulai sekarang, kita nggak ada hubungan apa-apa lagi,” bisik cowok itu dan berlalu pergi meninggalkan Astria begitu saja.

Astria menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan terisak. Ia tidak tahu harus bagaimana menjalani hidupnya. Masa remajanya kini terenggut. Tapi, ia begitu mencintai anak yang ada di dalam rahimnya dan bertekad kuat akan melakukan apa pun demi buah hatinya. Meski semua harus ia jalani sendiri. Sebab, ini semua kesalahan yang ia perbuat dan ia harus rela menerima akibat dari perbuatannya sendiri.

Perasaan Astria hancur lebur. Ditinggalkan oleh cowok yang ia cintai dalam keadaan hamil. Kisah-kisah manis dan janji-janji manis pacarnya membuatnya terus terisak dan merasakan sakit yang lebih sakit daripada ditusuk belati.

Hari itu, menjadi hari yang paling kelam bagi Astria. Tapi juga menjadi hari yang baru untuknya. Ia memilih berhenti sekolah dan pindah ke luar kota. Jauh dari keluarga dan berusaha menghidupi anaknya seorang diri.

Astria memilih kota Balikpapan sebagai tempatnya memulai hidup baru. Ia mencari pekerjaan sambilan. Apa saja ia kerjakan demi bisa menghidupi dirinya sendiri dan calon bayi dalam perutnya.

Uang yang ia dapat dari bekerja sambilan, ia sisihkan sedikit demi sedikit untuk memulai sebuah bisnis kecil-kecilan.

Ia juga tak menyangka kalau usahanya terus berkembang dan kini ia bisa menghidupi anaknya dengan baik. Memberikan fasilitas yang baik untuk anak laki-laki satu-satunya.

Astria awalnya bekerja di salah satu rumah makan. Dia punya hobi membuat kerjainan tangan. Dari hobinya, ia sedikit demi sedikit memulai bisnis penjualan barang kerajinan dan bahan-bahan untuk membuat kerajinan tangan. Seiring dengan perkembangan bisnisnya, ia merambah ke dunia fashion dan hiburan. Tentunya, bukan hal yang mudah bagi Astria menjalani semua itu seorang diri. Terlebih, ia juga harus membagi waktu untuk anaknya.

Hari ini, Kehidupannya sudah jauh lebih baik dari kehidupannya belasan tahun lalu. Sebab, usahanya sudah berjalan dengan baik dan ia bisa meluangkan waktu untuk anaknya. Setidaknya, ia bisa melihat bagaimana putranya merasakan jatuh cinta pada seorang perempuan. Walau ia seringkali tidak bisa menyaksikan bagaimana puteranya tumbuh menjadi dewasa.

Astria mencoba tersenyum, walau matanya terus basah karena mengingat masa lalu membuatnya terus terluka. Menjadi single mom sejak SMA sampai puteranya duduk di bangku kuliah tentunya tidak mudah. Andai tak ada Chilton dalam hidupnya, mungkin ia tidak akan sekuat ini.

“Mama kenapa?” Tiba-tiba Chilton merangkul Astria dari belakang.

“Eh!?” Astria mengusap air matanya. “Nggak papa. Kamu belum tidur?” tanya Astria. Ia membalikkan tubuhnya menatap Chilton.

“Aku benci apa pun yang bikin Mama nangis.”

“Kenapa? Mama nangis bukan karena sedih. Mama menangis karena bahagia. Mama punya seorang anak yang sangat istimewa dalam hidup Mama.” Astria mengusap rambut Chilton perlahan. Ia menatap lekat mata anaknya yang kini tumbuh menjadi laki-laki dewasa.

“Mama masih tidak percaya kalau Chilton kecilnya Mama sekarang sudah menjadi laki-laki dewasa.” Astria tidak bisa menahan air matanya jatuh ketika menatap Chilton, satu-satunya harta paling berharga yang ia punya saat ini.

Chilton langsung memeluk erat tubuh mamanya. “Sekalipun itu air mata bahagia, aku nggak mau lihat Mama nangis. Karena aku tetap nggak bisa bedain air mata bahagia dan kesedihan. Mama bisa bohongi semua orang, tapi jangan bohongi aku! Aku sayang sama Mama.”

“Mama juga sayang banget sama kamu,” tutur Astria terisak.

“Please, jangan nangis Ma!” Chilton melepas pelukannya dan mengusap air mata mamanya.

Astria tersenyum. “Mama bahagia punya kamu dalam hidup Mama.”

Chilton membalas senyum mamanya dan memeluknya erat.

***

“Ma, nggak kerja?” Chilton mengernyitkan dahinya saat melihat mamanya masih duduk santai di depan televisi. Sementara, waktu sudah menunjukkan jam delapan pagi dan seharusnya sudah berada di kantor.

“Enggak. Belum nggak ada jadwal meeting. Kerjaan bisa Mama pantau dari rumah,” jawab Astria sambil tersenyum. “Kamu nggak kuliah?”

Chilton tak langsung menjawab, ia duduk di samping mamanya sambil meraih snack yang tersedia di atas meja. “Libur.”

“Oh iya, Mama lupa.”

Chilton tersenyum. Ia mengambil ponsel dari saku celana. Ia mengirimkan pesan pada Delana. “Di mana?” tanya Chilton via Whatsapp.

Astria menghela napas melihat sikap anaknya. “Ehem ... mamanya dicuekin karena hp,” celetuknya.

Chilton tersenyum dan langsung merangkul mamanya. “Ma ...!” panggilnya lirih.

“Apa?”

“Mama pernah jatuh cinta?” tanya Chilton.

Astria menatap wajah anaknya. “Kenapa tanyanya begitu? Kamu lagi jatuh cinta sama seseorang?”

“Jawab dulu pertanyaanku!” pinta Chilton.

“Kalo Mama nggak pernah jatuh cinta, gimana bisa ada kamu?” sahutnya sambil tersenyum.

Chilton tertawa kecil menanggapi ucapan mamanya. Ia sudah mengerti maksud dari ucapan mamanya.

“Kamu lagi jatuh cinta?” tanya Astria lagi.

Chilton tersenyum, melepas tangannya dari pundak Astria. “Enggak.”

“Yang bener?”

“Bener.”

“Yang kemarin kamu ajak ke sini, siapa?”

“Temen.”

“Temen apa demen?”

“Temen, Ma.”

“Temen spesial?”

“Belum.”

“Kalo belum, berarti mau?”

Chilton tertawa kecil menanggapi pertanyaan mamanya. Kalau sudah menyangkut soal Delana, sepertinya mamanya yang lebih bernafsu mendengar cerita tentang cewek itu.

“Mama tahu, kamu lagi jatuh cinta dan nggak mau mengakuinya.”

“Mama tahu dari mana? Aku nggak lagi jatuh cinta.”

“Orang yang lagi jatuh cinta, nggak ditunjukkan secara verbal juga sudah kelihatan.” Astria berusaha menahan senyum.

“Eh!? Masa sih? Kelihatan dari mananya?” tanya Chilton.

“Banyak.”

Chilton mengangkat kedua alisnya sembari menatap mamanya. “Contohnya?”

“Kamu lebih banyak tersenyum akhir-akhir ini,” jawab Astria.

Chilton mengangkat kedua alisnya. Ia mencoba mencerna kata-kata yang keluar dari mulutnya. “Apa benar aku jatuh cinta?” batinnya dalam hati. Ia sendiri tidak tahu apakah ia jatuh cinta pada Delana. Ia hanya merasa nyaman berada di dekat Delana. Tidak ada keinginan lebih untuk menjadikannya seorang pacar.

“Kamu nggak sadar lagi jatuh cinta?” tanya Astria menyelidik.

“Aku nggak jatuh cinta,” sahut Chilton mengelak.

“Nggak usah ngeles, deh! Mama tahu kamu lagi jatuh cinta. Jangan-jangan ... kamu juga nggak sadar jatuh cintanya sama siapa?”

“Iya, ganteng gini. Siapa yang nggak mau,” sahut Chilton percaya diri.

“Bukan soal siapa yang mau dan nggak mau. Ini soal perasaan kamu, bukan mereka.”

Chilton tersenyum kecil. “Lihat aja nanti!”

Astria tersenyum menatap puteranya. “Dengan siapapun kamu, jadilah laki-laki yang bertanggung jawab!” pesan Astria.

Chilton hanya tersenyum menanggapi pesan mamanya. “Mama nggak pengen nikah?” tanya Chilton.

Astria menghela napas dalam-dalam. Ia tak ingin menjawab pertanyaan dari anaknya. Ia sendiri masih belum yakin apakah ia bisa menjalani hidupnya dengan orang lain. Melihat wajah anaknya saja sudah cukup membuatnya bahagia dan bersemangat.

Chilton menyandarkan tubuhnya sambil menghela napas panjang. Ia merentangkan tangannya di punggung sofa sembari mengangkat satu kaki ke atas kaki satunya lagi. “Karena kita lagi sama-sama libur, gimana kalau kita jalan bareng?”

“Tumben ngajak Mama jalan?”

“Sekali-sekali.”

“Mau ke mana emangnya?”

“Sembarang Mama.”

“Hmm ... sepertinya Mama perlu ke salon, sudah lama nggak memanjakan diri.”

“Ayo!”

“Serius? Mau nungguin?”

Chilton menganggukkan kepala.

“Oke. Mama siap-siap dulu.”

Drrt ... Drrt ... Drrt ...!

Tiba-tiba ponsel Astria yang ia letakkan di meja bergetar. Ia langsung meraih dan melihat panggilan telepon dari kantornya.

“Pagi, ada apa?” tanya Astria saat ia menekan menu answer.

“....”

“Apa? Oke, saya ke sana sekarang.” Astria langsung menutup telepon dan bangkit dari tempat duduknya.

Astria menatap wajah Chilton yang tak lagi mau menatapnya. “Sayang, maafin Mama ya! Lain kali, kita bisa jalan bareng. Mama harus ke kantor sekarang.”

Chilton menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arah mamanya. Ia tidak marah, walau sedikit kecewa. Ia tahu mamanya sangat sibuk. Sejak dulu sudah bekerja keras untuk menghidupinya.

Chilton melirik ke arah mamanya yang terlihat terburu-buru berangkat ke tempat kerja. Entah kenapa, ia melihat mamanya seperti Delana. Perempuan yang energik, ceria dan tidak pernah mengeluh sekalipun ia kelelahan. Dua wanita yang hampir sama hadir dalam hidupnya. Walau mereka tak sama persis. Tapi setiap kali ia melihat mamanya, ia teringat pada Delana. Cewek yang selama ini dengan tulus memberikan banyak perhatian untuknya.

Karena di rumah sendirian, Chilton memilih untuk kembali ke kamarnya. Ia menaiki anak tangga menuju kamar. Tapi, langkahnya terhenti ketika melihat pintu balkon terbuka. Ia memilih melangkahkan kaki ke balkon, menikmati pemandangan kota dari atas balkon rumahnya.

Menikmati waktu seorang diri sudah menjadi hal biasa bagi Chilton. Pemikirannya beranjak dewasa begitu cepat. Membuatnya sulit bergaul dengan teman-teman sebayanya. Sifatnya yang pendiam juga membuat teman-teman kampusnya enggan mendekati. Ia menatap layar ponsel, menunggu pesan balasan dari Delana. Sebab pesan Whatsappnya hanya ada lambang satu checlist. Itu artinya, ponsel Delana dalam keadaan tidak aktif. Satu hal yang membuat ia kesal adalah menunggu lama Delana membalas pesannya.

Wednesday, September 3, 2025

Keseruan Read Aloud di Perpustakaan Pustaka Terang Desa Santan Ilir

 


Kenapa ada Relima di Kukar? 
Apa sebenarnya tujuan Relima datang ke desa-desa? 

Kutai Kartanegara merupakan salah satu daerah yang ditentukan oleh Perpustakaan Nasional untuk didampingi agar pemanfaatan buku dapat berjalan dengan baik dan mampu meningkatkan literasi. 

Dalam Laporan Akhir Kajian yang dirilis oleh Perpusnas RI, Laporan Akhir Kajian pada tahun 2023, menunjukkan tingkat IPLM (Indeks Pembanguna  Literasi Masyarakat) di Kutai Kartanegara sebanyak 56,94%. Kemudian mengalami peningkatan sebanyak 62,57 pada tahun 2024.

Oleh karenanya, pemerintah berupaya meningkatkan literasi dengan berbagai cara. Salah satu upaya terbaru yang dilakukan oleh Perpusnas RI ialah dengan meluncurkan program Relima. 

Relima (Relawan Literasi Masyarakat) berperan untuk menginventarisasi dan mendampingi perpustakaan dan taman baca yang menerima bantuan dari Perpusnas RI. 

Desa Santan Ilir, Kecamatan Marang Kayu adalah salah satu desa yang mendapatkan bantuan buku dari Perpustakaan Nasional. Oleh karenanya, sebagai Relima Kukar, aku memiliki tanggung jawab moral untuk bersilaturahmi dan mendampingi perpustakaan ini. 

Dua hari sebelumnya, aku sudah berkegiatan di Kecamatan Marang Kayu, yakni di SMP Negeri 5 Marang Kayu dan Perpustakaan Iqro' Smart Desa Perangat Baru. 


Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap-siap. Karena jarak tempatku menginap dengan Desa Santan Ilir cukup jauh. Jadi, aku harus bersiap lebih pagi agar aku bisa sampai tepat waktu. 
Pagi ini aku tidak lagi didampingi oleh staff Pusda. Sebab, SPT mereka hanya 2 hari. Sementara, aku masih ada 1 jadwal lagi yang harus aku lakukan di Desa Santan Ilir. Jadi, aku berangkat seorang diri dengan sepeda motor. 
Karena aku menggunakan sepeda motor, kemungkinan aku akan sampai lebih cepat. 
Benar saja, aku sampai di Kantor Desa Santan Ilir sekira pukul 09.30 WITA. Sekdes Desa Santan Ilir telah menjadwalkan kegiatan pada pukul 10.00 WITA. 





Pukul 09.30 WITA, aku sudah sampai di Perpustakaan Desa "Pustaka Terang" Desa Santan Ilir. Bersamaan dengan petugas perpustakaan dan peserta Read Aloud dari sekolah terdekat. Awalnya aku pikir yang datang adalah murid-murid TK/PAUD. Ternyata, yang datang adalah murid-murid SD. Otomatis, aku harus menyesuaikan bahan bacaan yang cocok untuk jenjang usia mereka. 

Kegiatan membaca nyaring berjalan dengan seru. Kami banyak berfoto ria. Di penghujung acara, Sekdes Desa Santan Ilir memberikan souvenir kepada saya dan saya menyambutnya dengan bahagia. 
Setelah kegiatan Read Aloud selesai, aku langsung diarahkan ke ruang rapat yang ada di lantai 2 kantor desa tersebut untuk melakukan kegiatan selanjutnya, yakni melakukan sosialisasi Relima kepada seluruh lembaga desa dan masyarakat di Desa Santan Ilir. 

Tuesday, September 2, 2025

Sosialisasi Relima Kukar di Desa Santan Ilir: Menyalakan Cahaya Literasi dari Ruang Rapat Desa

 


Sosialisasi Relima Kukar di Desa Santan Ilir: Menyalakan Cahaya dari Ruang Rapat Desa

📅 27 Agustus 2025
📍 Desa Santan Ilir, Kecamatan Marang Kayu, Kutai Kartanegara


Langit Santan Ilir siang itu tampak cerah dan tenang. Dari lantai dua kantor desa, aku bisa melihat pemandangan desa yang tenang, pepohonan yang rimbun seolah menjadi peneduh dalam menjalankan semangat literasi yang hendak kami bawa hari itu.

Setelah kegiatan Read Aloud pagi di Perpustakaan Desa Pustaka Terang milik Desa Santan Ilir, langkahku berlanjut ke ruang rapat lantai dua Kantor Kepala Desa Santan Ilir, tempat sosialisasi Relima akan digelar.

Ruang rapat itu sederhana, namun penuh kehangatan. Di sana telah hadir Kepala Desa Santan Ilir, lembaga desa, tokoh masyarakat, akademisi, serta masyarakat yang aktif di kegiatan perpustakaan. Beberapa dari mereka masih menenteng buku bacaan anak yang tadi digunakan untuk kegiatan membaca nyaring.

Di tengah tumpukan dokumen, gelas kopi, dan kipas angin yang berputar pelan, kami membicarakan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tumpukan buku, yakni tentang masa depan literasi di desa.


Kenapa Ada Relima di Santan Ilir?

Pertanyaan itu kembali kuucapkan, seperti yang pernah kutulis di blog sebelumnya.

“Kenapa ada Relima di Kutai Kartanegara?”
“Apa sebenarnya tujuan Relima datang ke desa-desa seperti Santan Ilir ini?”

Aku lalu menjelaskan bahwa Relima (Relawan Literasi Masyarakat) adalah bagian dari upaya Perpustakaan Nasional RI untuk memastikan bantuan buku dan sarana baca benar-benar dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Relima bukan hanya mengirimkan buku, tapi menghidupkan buku-buku itu, menjadikannya bagian dari denyut kehidupan sehari-hari.

Kehadiran kami di Santan Ilir bukan sekadar menjalankan program, tapi menyambung tali silaturahmi pengetahuan antara pemerintah, masyarakat, dan para penjaga kecil literasi yang bekerja diam-diam di perpustakaan desa.

Diskusi berlangsung hangat. Kepala desa bercerita tentang rencana memperluas jangkauan perpustakaan agar bisa melayani lebih banyak warga. Sekretaris Desa juga terlihat bersemangat dan antusias untuk menyalakan api literasi di desa ini. Kurasa, desa ini akan segera menjadi desa yang maju dan penuh prestasi lewat peningkatan kemampuan literasi.

Aku ingin di tempat ini buku-buku bisa hidup. Ia tidak berdiam di rak buku, tapi berdenyut di antara percakapan warga dan secangkir kopi.


Menjelang sore, sinar matahari masuk lembut dari jendela besar. Cahayanya jatuh ke meja, menyinari wajah-wajah lelah tapi bahagia.
Di bawah sana, anak-anak masih berlarian di sekitar perpustakaan desa, membawa buku yang mereka pinjam pagi tadi. Suara mereka bercampur dengan desir angin, menciptakan harmoni yang menenangkan.

Sebelum acara berakhir, Kepala Desa menyalamiku sambil tersenyum.

“Terima kasih sudah datang jauh-jauh untuk berbagi semangat,” katanya.
“Kadang kami hanya butuh diingatkan bahwa membaca itu penting.”

Aku mengangguk, menahan haru.
“Dan saya datang untuk itu, Pak,” jawabku, “mengingatkan, bukan dengan kata-kata besar, tapi lewat langkah kecil.”

Ketika kegiatan selesai, aku langsung berpamitan untuk pulang. Desa ini tampak tenang, tapi aku tahu di dalamnya ada semangat yang baru saja menyala.
Semangat untuk membaca, menulis, dan terus belajar.

Dalam perjalanan pulang, suara mesin motor berpadu dengan desir angin sore. Di kepalaku, terulang percakapan tadi. Tentang perpustakaan, anak-anak, dan masa depan. Dan aku tahu, perjalanan hari itu bukan hanya tentang sosialisasi, tapi tentang keyakinan.

Keyakinan bahwa literasi bisa mengubah arah hidup banyak orang, sejauh mana pun mereka dari kota.

Desa Santan Ilir hari itu bukan hanya lokasi kegiatan, tapi cermin kecil dari impian besar bangsa ini. Di ruang rapat yang hangat itu, aku belajar bahwa literasi tak akan pernah mati selama masih ada orang-orang yang mau menjaga nyalanya.

Karena sesungguhnya, literasi bukan hanya tentang membaca buku.
Ia adalah tentang membaca kehidupan, memahami manusia, dan berani menulis ulang masa depan dengan pena harapan.

Dan hari itu, di Santan Ilir, aku melihat sendiri, cahaya kecil itu telah menyala.





Suatu hari nanti aku akan kembali ke desa ini dan mendengarkan cerita-cerita luar biasa dari masyarakatnya.

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas