Thursday, August 14, 2025

Perfect Hero Bab 301 : Nginap di Rumah Besar Hadikusuma

 


“Sore, Ma!” sapa Yuna begitu ia sampai di rumah mama mertuanya.

“Hmm ... masih ingat main ke sini?” balas Rullyta dingin.

“Iih ... Mama, kok gitu sih? Ini, ada oleh-oleh buat Mama dan Kakek.” Yuna menyodorkan paper bag ke arah Rullyta.

“Mau nyogok Mama?” tanya Rullyta sambil menerima paper bag dari tangan Yuna.

Yeriko tertawa kecil melihat sikap mamanya. Ia sudah sangat hafal dengan mamanya itu. Ia langsung menerobos masuk begitu saja dan mencari kakek yang biasa bersantai di halaman belakang.

“Ma , jangan marah, dong!” pinta Yuna sambil menatap wajah Rullyta.

“Mama nggak marah, asal kalian nginap di sini malam ini.”

“Eh!? Oke.” Yuna langsung menyetujui permintaan Rullyta. Ia rasa, permintaan mama mertuanya kali ini sangat wajar karena mereka memang sudah lama tidak menginap di rumah besar keluarga Hadikusuma.

Rullyta memberikan paper bag pada salah satu pelayannya dan mengajak Yuna menghampiri kakek yang bersantai bersama Yeriko di halaman belakang rumahnya.

“Ma, Satria pindah tugas ke sini?” tanya Yeriko begitu Rullyta duduk di salah satu kursi panjang yang ada di sisi kolam renang.

“Kamu tanya dia!” sahut Rullyta santai sambil  menjulurkan kakinya.

“Ck, aku nggak bisa bedain dia itu serius atau bercanda.”

Rullyta tertawa kecil.

“Kakek rasa, dia nggak pindah tugas ke sini. Di Jakarta, karirnya sudah bagus. Kalau dia di sini, Kakek rasa ada sesuatu yang harus dia selesaikan.”

“Masuk akal,” sahut Yeriko.

“Kenapa kamu nggak tanyakan langsung ke dia?”

“Ck, dia itu ...” Yeriko menoleh ke arah Yuna. “Aku tinggal pergi, nggak papa?”

Yuna menaikkan kedua alisnya. “Ke mana?”

“Nemuin Satria.”

“Oh. Pergi aja!” sahut Yuna sambil tersenyum. “Aku mau nginap di sini.”

“Nginap?” Yeriko mengerutkan dahinya. “Kita cuma ...”

“Malam ini, Yuna punya Mama. Kalau kamu nggak mau nginap di sini. Silakan tidur di kamar kamu sendirian!”

Yeriko memutar bola matanya. “Kalian udah berkomplot buat nindas aku,” celetuk Yeriko. Ia bangkit dari tempat duduknya.

“Kamu merasa tertindas cuma karena tidur sendirian?” goda Rullyta.

“Aku ke sini dua jam lagi,” tutur Yeriko sambil berlalu pergi.

Rullyta dan yang lainnya tertawa kecil.

“Lihat, dia udah nggak bisa hidup tanpa kamu,” tutur Rullyta sambil menatap Yuna.

Yuna tersenyum menanggapi ucapan Rullyta. “Kebalik, Ma. Aku yang nggak bisa hidup tanpa dia.”

“Kalau gitu, kamu harus jagain suami kamu itu. Biar makin cinta sama kamu.”

“Pasti, dong!”

“Oh ya, udah periksa kandungan?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Gimana keadaan cucu Mama? Sehat, kan?”

“Iya, Ma. Sehat banget.”

“Syukur, deh. Gimana liburan kamu di Italia?”

Yuna tersenyum bahagia. “Sangat baik.”

“Kapan-kapan, temenin Mama liburan ya!” pinta Rullyta.

“Kapan ya?”

“Yah, Mama atur waktu dulu kalau bisnis Mama udah nggak terlalu sibuk.”

Yuna tersenyum. Ia sangat mengerti. Di balik kesuksesan Yeriko, masih ada Rullyta dan Nurali yang berada di belakangnya.

“Aku sebentar lagi punya anak, Ma. Pasti bakal ngerepotin banget.”

“Nggak, dong. Pasti akan menyenangkan kalau bisa jalan-jalan sama cucu kesayangan Mama.”

Yuna tersenyum menanggapi ucapan Mama mertuanya.

“Oh ya, Mama lihat sahabat kamu itu ... siapa namanya?”

“Jheni?”

“Nah, iya. Jheni. Dia pacaran sama Chandra?”

“Iya,Ma.”

“Berapa umurnya sekarang?”

“Seumuran sama aku. Tua dia empat bulan.”

“Oh. Mama lihat dia gadis yang baik. Belum mau menikah?”

“Mmh ... kurang tahu, Ma. Oh ya, kata Jheni ... Chandra punya mama tiri ya? Apa mama tirinya dia galak?”

Rullyta mengerutkan dahinya. “Kamu tanyakan langsung ke Chandra!”

“Nggak berani.”

Rullyta tersenyum menatap Yuna. “Yeriko, Satria, Lutfi dan Chandra sudah berteman lama. Mereka sangat mandiri. Tinggal jauh dengan keluarga bukan tanpa alasan. Selama ini, Mama juga membesarkan Yeriko seorang diri.” Ia melirik ayahnya yang duduk tak jauh dari mereka. Ia belum siap mengungkapkan perihal ayah Yeriko kepada Yuna. Suatu saat, ia pasti memberitahunya.

Rullyta tersenyum ke arah Yuna. “Oh ya, keadaan ayah kamu gimana?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Baik, Ma. Masih harus perawatan dulu sampai bener-bener sehat.”

“Ayah kamu sudah sembuh?” tanya Nurali.

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Baguslah kalau begitu.”

“Iya, Kek. Aku bakal nemenin ayah di rumah sakit beberapa hari ini. Semoga, ayah bisa pulih lebih cepat.”

“Aamiin. Mama ikut senang karena ayah kamu sudah sembuh. Kamu udah kasih kabar ke keluarga kamu?”

Yuna menggelengkan kepala. “Yeriko ngelarang aku ngasih tahu keluarga.”

“Oh. Ikuti aja apa maunya. Dia pasti sudah mempertimbangkan semuanya.”

Yuna menganggukkan kepala.

“Sudah waktunya makan. Ayo, kita makan!” ajak Rullyta.

“Yeriko gimana?”

“Nggak usah tunggu dia! Dia lagi nemuin Satria. Lutfi dan Chandra juga pasti di sana.”

“Oh.”

“Kenapa? Kamu khawatir sama dia?”

“Sedikit.”

Rullyta tersenyum kecil. “Mereka semua jago beladiri. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Yuna tersenyum kecil. Ia pergi makan bersama mama mertua dan kakek mertuanya.

Usai makan, ia langsung beristirahat di kamarnya sembari menunggu Yeriko pulang.

“Udah jam sepuluh, kenapa belum pulang juga sih?” Yuna mulai gelisah di dalam kamarnya.

“Ck, kenapa aku kayak gini? Bukannya, dia juga biasa kerja lembur sampai larut malam? Apa karena dia cuti lama, aku jadi manja gini,” gumam Yuna.

Yuna menatap layar ponselnya. Ia tidak bisa tidur dengan tenang karena Yeriko belum juga kembali ke sisinya. Untuk mengusir kegelisahannya, ia akhirnya menelepon Jheni.

“Halo ...!” sapa Jheni begitu panggilan telepon Yuna tersambung.

“Halo, kamu di mana, Jhen?”

“Aku selalu di hatimu, Yun.”

“Aku nanya serius!” sahut Yuna kesal.

“Aku pun serius, Yun. Aku ada di ujung telepon!” canda Jheni.

“Huu, itu sih udah tahu.”

“Kenapa telepon aku malam-malam gini? Mau pamer kalo abis bulan madu?”

“Udah puas aku pamerin ke kamu. Aku mau kasih kabar bahagia lagi.”

“Oh ya? Apa tuh?”

“Ayah udah sembuh.”

“Hah!? Serius?”

“Iya. Aku seneng banget. Akhirnya, ayahku bisa sembuh juga Jhen. Aku nggak nyangka bisa secepat ini. Selama sebelas tahun, ayah nggak bisa apa-apa. Sekarang, dia udah bisa manggil namaku,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca.

“Alhamdulillah, Yun. Aku ikut seneng. Akhirnya, kalian bisa berkumpul lagi.”

Yuna mengangguk. “Kebahagiaanku udah lengkap, Jhen. Aku punya suami yang baik dan bertanggung jawab. Punya mama mertua yang menyayangi aku seperti anaknya sendiri. Udah mau punya si Dedek yang bakal nemenin hari-hari aku dan ayah yang sudah kembali.”

“Selamat ya, Yun. Akhirnya, kamu sudah menemukan kebahagiaan. Happily ever after terus ya!”

“Aamiin. Oh ya, hubungan kamu sama Chandra gimana?”

“Baik, Yun.”

“Belum ada tanda-tanda kalau dia ...”

“Udahlah, nggak usah dibahas!” pinta Jheni. “Aku udah tahu arah pembicaraan kamu ke mana.”

“Huft, ternyata hubungan kalian rumit banget ya?”

“Andai boleh milih, pengennya sih yang mulus-mulus aja, Yun. Untungnya, akhir-akhir ini kerjaanku lumayan padat. Jadi, aku nggak terlalu mikirin hubunganku yang rumit ini. Hehehe, bawa santai aja lah, Yun. Daripada aku setres dan nggak tenang dengan kerjaanku.”

“Mmh ... iya, juga sih. Lagipula, kamu masih punya aku yang selalu mencintai dan menyayangi kamu dengan tulus.”

“Uch, thank you sahabatku yang paling cantik. I feel blue. Oh ya, aku masih kerjar deadline nih. Lanjut besok lagi teleponnya ya. Waktuku mepet banget, nih.”

“Oke. Good luck ya! Jangan lupa traktir kalau udah cair!”

“Udah kaya, masih aja demen gratisan!” celetuk Jheni.

“Hahaha.”

Jheni langsung mematikan panggilan teleponnya.

Yuna terkekeh saat panggilannya sudah berakhir. Di saat yang sama, Yeriko masuk ke dalam kamar.

“Telepon siapa?” tanya Yeriko.

“Eh!? Udah pulang? Kamu jalannya kayak kucing, nggak ada suaranya.” Yuna langsung menghampiri Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil. Ia menarik pinggang Yuna ke pelukannya. “Kenapa belum tidur? Masih nunggu aku pulang?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Lain kali, nggak perlu nunggu aku kayak gini. Kamu lagi hamil. Harus banyak istirahat. Nggak perlu khawatir sama aku.”

Yuna tersenyum sembari membantu Yeriko melepas jaketnya.

“Udah ketemu sama Satria?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Gimana hasil investigasi kamu?”

“Investigasi apaan? Bukan aku yang nanya dia. Malah dia yang nyerang aku pake banyak pertanyaan,” jawab Yeriko sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur. “Untungnya, aku sudah nikah. Jadi, bisa mengatasinya dengan santai.”

“Emangnya dia ngajuin pertanyaan apa ke kamu?”

“Kamu.”

“Aku?”

Yeriko mengangguk. “Kayak nggak tahu aja otak jahilnya mereka.”

“Kamu juga sering jahil ke mereka.”

“Aku nggak pernah merasa begitu.”

Yuna tertawa kecil. “Kamu nggak merasa bersalah setelah melakukan sesuatu?”

“Bersalah kenapa? Aku nggak ngelakuin kesalahan apa-apa.”

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia langsung berbaring di atas kasur. “Yang bener tidurnya!”

Yeriko bangkit dan kembali merebahkan diri di paha Yuna. “Anak kita lagi apa?”

“Lagi nunggu ayahnya pulang.”

Yeriko tersenyum kecil. Ia mengecup perut Yuna beberapa kali dan akhirnya terlelap sambil memeluk tubuh Yuna penuh kehangatan.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Aku dan Taman Bacaku Full Version

 





Hal terbodoh yang aku lakukan ialah membuka sebuah taman bacaan masyarakat di saat aku tidak punya uang. Langkah demi langkah aku lalui dengan berat. Semua pengorbanan dan ketulusan dibalas dengan caci-maki dan sindiran pedas yang menghancurkan mentalku. Tapi ada tangan-tangan kecil penuh harap yang harus aku perjuangkan. Melalui taman baca aku menghadirkan banyak buku untuk generasi-generasi baru yang ingin mencerdaskan masa depannya. 
Kalau hari ini aku bodoh, anak-cucuku jangan bodoh hanya karena tidak memiliki akses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan baru. 
Kita memang tidak selalu diterima dengan baik, tapi kita harus selalu baik. Tidak perlu menjadi orang baik yang sempurna hanya untuk melakukan satu kebaikan.



Simak semua bab ceritanya pada daftar bab di bawah ini:












THEN LOVE BAB 6 : WINNER WINNER CHICKEN DINNER

 

BAB 6 – WINNER WINNER CHICKEN DINNER

 


  Setelah berlatih keras, akhirnya Delana masuk ke dalam Squad Chilton yang diberi nama Squad Lembuswana.

Nama ID game Delana adalah Lady Death. Ia langsung masuk ke dalam squad Lembuswana dan disambut dengan ramah.

“Hay, Lady Death...! Welcome to Lembuswana Squad!” seru Chilton.

Chilton menggunakan nama ID game “Panglima Kumbang” dan menjadi leader dalam squad tersebut.

“Kita turun di mana nih?” tanya Chilton.

“Di School.”

“Males, ah.”

“Ya udah, di Georgepol,” seru Attala yang menggunakan nama ID “Dewa Sakti”.

Delana mengikuti instruksi tanpa ikut bicara. Ia fokus dengan  game yang akan segera berlangsung. Delana langsung berlari kencang mencari senjata yang bisa ia gunakan untuk membunuh lawannya.

“Lady, kamu di mana?” seru Chilton, Delana sangat familiar dengan suara Chilton.

“Di sini.”

“Jangan jauh-jauh!”

“Siap.”

“Eh, gila! Aku ditembakin dari mana?” teriak Dewa. Ia langsung mencari tempat yang aman dan menggunakan med kit untuk memulihkan kembali tokoh game miliknya.

“Knock satu,” tutur Dela. “Knock dua.” Ucap Delana lagi. “Huu... mantap!” ucap Delana setelah membunuh dua lawannya.

“Mantap!” seru Chilton.

“Ada orang di dalam rumah putih!” seru Chillo, coser paling cantik.

Dewa Sakti yang kebetulan berada di dekat rumah putih langsung nge-kill.

“Di mana lagi?” tanya Chilton.

“Di bukit itu ada!” teriak Delana. Ia langsung menembaki lawan yang bersembunyi di balik bukit.

“Di mana sih?” tanya Chilton.

“Itu di balik bukit!” seru Delana. Ia langsung menembak saat kepala lawannya muncul di balik bukit. “Hmm....mampus kau! Head kill!”

“Di atas banyak kayaknya,” tutur Chillo.

“Oke. Ayo, kita ke sana aja!” seru Delana.

“Pake mobil, pake mobil. Ayo!” seru Chilton. Teman-temannya mengikuti instruksi dari Chilton.

“Knock satu,” tutur Delana. “Knock dua,” lanjutnya. “Knock tiga!”

“Kill!”

“Lady! Aku knocked down, help!” teriak Chilton. “Revive cepet!”

Delana langsung mendekat dan melakukan reviving sesuai permintaan Chilton.

“Thanks, Lady.” Tutur Chilton. “Tiga lagi!” serunya.

Winner Winner Chicken Dinner.

Beberapa detik kemudian mereka memenangkan permainan.

“Huu ... keren!” teriak Chilton. “Lady Death, kamu keren mainnya.”

“Iya. Baru gabung udah GG,” sahut Attala.

“Oke. Aku pamit dulu, ya! Besok kita lanjut lagi!” ucap Chilton berpamitan dari arena game dan langsung melempar ponsel gamenya ke atas ranjang.

Chilton mengambil satu lagi ponsel yang ia gunakan untuk berkomunikasi dan langsung menelepon Delana.

“Sudah tidur?” tanya Chilton begitu teleponnya dijawab oleh Delana.

“Belum.”

“Masih ngapain?” tanya Chilton lagi.

“Baru kelar cuci tangan, cuci kaki and cuci muka. Nih, sekarang mau tidur.”

“Udah ngantuk?”

“Iya.”

“Besok bisa main lagi?”

“Hmm, belum tahu. Kenapa?” tanya Delana balik.

“Ya nggak papa. Mau ngajak kamu main lagi aja. Kamu tadi mainnya keren banget. Udah lama nge-gaming juga?” tanya Chilton.

“Eh!? Enggak. Aku baru-baru aja main game yang ini.”

“Oh ya? Tapi, lumayan bagus loh. Kamu tadi banyak nge-kill.”

“Hehehe. Belum seberapa. Aku masih punya target yang belum bisa aku kill.”

“Oh ya? Siapa?”

“Kamu.”

“Jadi, kamu mau bunuh aku, hah!?”

“Iya.”

“Idih, cantik-cantik kok killer?”

“Nggak papa, lah. Mending killer daripada ngiler.”

Chilton terbahak. “Apa hubungannya killer ama ngiler?”

“Nggak ada, sih.”

“Terus?”

“Biar kamu ketawa aja.”

Chilton tertawa kecil. “Ya udah. Met tidur ya! Maaf aku ngeganggu jadinya.”

“Iya.”

Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia menarik selimut dan terlelap. Sama seperti yang dilakukan Delana di saat yang sama.

 

***

Jam tujuh, setelah makan malam bersama ayah dan adiknya, Delana langsung masuk ke dalam kamar. Ia membuka buku materi pelajaran untuk besok.

“Syukur, deh. Lagi nggak ada tugas,” gumam Delana. Ia melangkahkan kakinya ke tempat tidur dan langsung menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang.

Tiba-tiba saja ponsel Delana berdering. Ia meraih ponsel tersebut dan menjawab panggilan video dari Chilton.

“Del, mabar yuk!” ajak Chilton melalui panggilan video.

“Jam berapa?” tanya Delana.

“Sekarang.”

“Oke. Kamu lagi di mana?” tanya Delana begitu melihat cowok bertubuh gembul yang ikut menatapnya dari belakang Chilton.

“Di kamar Attala,” jawab Chilton.

“Hai ...!” Attala melambaikan tangan sambil tersenyum. “Ayo, Lady Death! Kita main lagi! Kita hancurkan dunia per-PUBG-an!” ucapnya penuh semangat.

Delana tertawa kecil melihat tingkah Attala. “Kamu yang pakai username Dewa Sakti itu kah?” tanyanya.

Attala mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengunyah snack yang ada di tangannya.

Delana menahan tawa. Nama ID Attala keren, tapi tubuhnya gembul seperti itu. Ia pikir, Dewa sakti itu setampan Oppa Korea atau setampan Chilton.

“Kenapa ketawa begitu?” tanya Chilton.

“Nggak papa. Ayo, kalo mau main!” ajak Delana.

“Kamu pakai handphone ini juga mainnya?” tanya Chilton.

“Eh!? Maksudnya?”

“Kamu pake hp yang dipake video call ini kah nge-gamenya?” tanya Chilton.

“Oh, enggak. Aku pakai tab untuk nge-game.”

“Sip lah kalo gitu. Vc-nya nggak usah dimatiin ya!” pinta Chilton.

“Loh? Kenapa?” tanya Delana.

“Nggak papa.”

“Ribet, Chil! Ntar suaranya jadi dua.”

“Hp yang pake video call di mute aja. Suaranya pke yang di game!” tutur Chilton.

Delana menghela napas. “Iya, deh!” Ia menurut saja apa yang diinginkan Chilton daripada mereka nantinya malah sibuk berdebat dan membuat mereka semakin rumit.

“Cantik, Chil!” bisik Attala di telinga Chilton, tapi Delana bisa mendengarnya.

“Bisik-bisik kok kedengaran!” celetuk Delana.

“Hehehe...” Attala nyengir.

Chilton bersiap mengambil ponsel game miliknya. “Jauh-jauh dari aku!” pinta Chilton pada Attala.

“Astaga...! Mentang-mentang ada ceweknya, kita yang diusir.” Attala langsung menyambar satu bungkus snack dan berjalan menjauh dari meja tempat Chilton duduk.

Delana juga ikut mempersiapkan tab dan earphone miliknya. Ia bersiap masuk ke dalam permainan.

“Chillo bisa nggak?” teriak Chilton pada Attala yang duduk membelakanginya beberapa meter dari meja Chilton.

“Bisa, Guys!” jawab Attala sembari mengangkat jempolnya.

“Oke. Masuk!” seru Chilton.

Mereka mulai masuk ke permainan.

“Kita turun di Vikendi aja!” seru Attala.

Yang lain langsung mengikuti intruksi dari Attala. Mereka turun di area Vikendi dan langsung berlari cepat mengumpulkan senjata dan peralatan lainnya.

Delana langsung mendapat senjata M24 dan langsung beraksi mencari lawan.

“Dewa, tolong aku! Aku ditembakin dari atas,” seru Chillo. Ia langsung mencari tempat yang aman untuk memulihkan tenaga tokoh game miliknya.

Attala langsung beraksi dan menembaki musuh dari kejauhan. “Tenang, aku akan selalu menjagamu.”

“Ow, co cwiiit!” seru Delana menggoda.

“Kamu mau aku jagain juga?” tanya Dewa alias Attala.

“Nggak deh. Aku sudah ada yang jagain. Ntar kalian tembak-tembakan pula,” balas Delana.

“Hahaha. Ya, nggak lah. Aku mana mungkin tega makan temen.”

“Knock, knock!” seru Chilton.

“Panglima keren!” seru Delana.

“Lady, kamu udah kill berapa?” tanya Chilton.

“Tujuh.”

“Sip!” sahut Chilton. “Ayo, masih tiga puluh lagi,” lanjutnya.

“Banyak musuhnya di sini, Kuy!”

“Lumayan seru jadinya.”

“Aargh ...! Aku knocked down, tolong revive dong!” teriak Chillo.

“Siap, sayang ... apa sih yang nggak buat kamu,” balas Dewa langsung melakukan reviving pada tokoh Chillo.

“Jangan sampe ketembak!” seru Delana langsung membunuh musuh yang menembaki Chillo dan membuatnya Knocked Down. “Mampus kau!”

“Thanks, Lady. Kamu sudah melindungi kami.”

Chilton tersenyum sembari menatap layar ponsel yang masih melakukan panggilan video pada Delana. Tapi, sepertinya Delana sudah asyik dan tidak sadar kalau ponselnya masih melakukan panggilan video. Ia tak pernah menoleh ke kamera sedikitpun dan asyik dengan game yang ada di tangannya.

“Aku knock lagi, help!” teriak Chillo.

Kali ini, Panglima Kumbang yang melakukan reviving pada Chillo.

“Yah, kalah cepet aku,” celetuk Dewa.

“Dewa, kamu tinggalnya di mana?” tanya Chillo sambil terus fokus pada game-nya.

“Di perumahan Mall Fantasi.”

“Oh ... kenal sama Lady Death?” tanya Chillo karena sepanjang bermain game, Lady Death dan Dewa Sakti terlihat sangat akrab dan sudah tahu satu sama lain.

“Satu kampus,” sahut Lady Death alias Delana.

“Oh, ya? Wah, seru dong? Bisa ketemu tiap hari dan ngumpul main bareng?”

Semua bungkam. Tak ada yang menanggapi pertanyaan dari Chillo.

Mereka fokus pada permainan sampai akhirnya memenangkan permainan tersebut dalam waktu dua puluh menit.

Chilton langsung berpamitan untuk berhenti bermain dengan alasan ingin istirahat. Ia meletakkan ponsel game-nya dan menatap ke layar ponsel satunya yang ia letakkan di atas meja. Ia bisa melihat Delana sedang meletakkan tabnya ke atas meja dan pergi dari hadapan kameranya. Kemudian kembali lagi, menarik selimut dan menutup tubuhnya. Ia bisa melihat Delana mulai memejamkan matanya. Delana memang tidak ingat sama sekali kalau panggilan video dengan Chilton masih aktif karena ia aktifkan mode mute.

Chilton tersenyum menatap wajah Delana yang sudah terlelap. Ia langsung mematikan panggilan videonya dan bangkit dari duduknya. “Aku balik dulu,” tutur Chilton sembari menepuk pundak Attala. Ia bergegas keluar dari kamar Attala dan pulang ke asrama kampusnya.

 

***

“Ton, cewek yang deket sama kamu itu cantik juga ya?” tutur Attala saat ia sudah berada di dalam kamar Chilton.

Chilton hanya tersenyum kecil.

“Anaknya juga asyik banget,” ucap Atalla. “Udah gitu, dia mainnya GG juga ternyata.”

Chilton  tertawa kecil. “Si cantik Chillo itu kayaknya suka sama kamu. Dia nanyain kamu terus. Nggak pernah nanyain aku.”

“Yah, nggak papa lah. Kan kamu sudah punya Delana si Lady Death itu. Chillo buat aku, dong!”

“Ambillah...! Nggak demen aku cewek begitu,” tutur Chilton bergidik. Ia memang tidak suka dengan foto ID Chillo yang terlihat terlalu vulgar.

“Halah, munafik!”

“Hahaha .... cewek begitu cocoknya buat ereksi doang.” Chilton tergelak.

“Anjir...! Otakmu ngeres banget!”

“Emangnya kamu nggak?”

“Awweee...”

“Ayolah, main lagi!” ajak Chilton.

“Dela udah dikasih tahu?” tanya Attala.

“Bentar. Aku telpon dulu.” Chilton meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. “Kamu telpon Chillo!” pinta Chilton.

“Hallo, Del. Kamu lagi apa?” tanya Chilton begitu panggilannya tersambung.

“Lagi mau jalan, nih.”

“Hah? Ke mana?” Chilton langsung mengangkat punggungnya dan bangkit dari sofa.

“Mau ke mall, belanja bulanan.”

“Sama siapa?” tanya Chilton.

“Sama ayah and adikku.”

“Oh, ya udah.”

“Kenapa? Mabar kah?”

“Iya. Tapi, kalo kamu sibuk ya nggak usah.”

“Iya. Maaf, ya! Ntar aku ikut gabung kalo udah balik ke rumah. Main sama yang lain aja dulu. Nggak enak aku sama bos lakiku.” Delana menjepit ponsel dengan telinga dan pundaknya. Tangannya sibuk mengecek isi tas untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal terutama dompetnya.

“Oke, lah. Salam ya buat bosmu!”

“Salam apa?”

“Salam apa aja lah.”

“Hmmm... iya. Udah dulu, ya! Aku mau berangkat.”

“Oke.” Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya.

“Kenapa? Kok, lemes? Dela nggak bisa?” tanya Attala.

“Nggak bisa, dia. Mau jalan sama bos lakinya.”

“Ke mana?”

“Belanja bulanan katanya. Biasa, cewek.”

“Ya udah, kita main sama yang lain aja.”

“Males!” Chilton melangkahkan kakinya, mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu dan bergegas keluat.

“Mau ke mana?” teriak Attala.

“Jalan. Cari makan. Mau ikut?” tanya Chilton.

“Nggak. Udah janji mau mabar sama Chillo. Aku nitip aja!”

“Nitip apa?”

“Sate ayam aja.”

Chilton tak bertanya lagi.  Ia segera keluar dari asrama dan melajukan mobilnya tanpa tujuan. Ia menikmati jalanan kota, sampai ia masuk ke wilayah Gunung Dub. Akhirnya, ia memilih pulang ke rumah.

Chilton membuka pintu rumah yang terkunci. Ia tahu kalau mamanya belum pulang ke rumah karena mobilnya tak ada di garasi. Ia langsung masuk ke dalam rumah. Menaiki anak tangga ke lantai dua dan membuka pintu balkon yang ada di belakang rumahnya. Matanya berbinar tertimp cahaya lampu kota. Ia baru menyadari kalau suasana malam hari di belakang rumahnya terlihat begitu indah. Cahaya lampu-lampu kota berkerlap-kerlip di bawahnya, ditambah pemandangan air laut yang juga berkerlipan ditimpa cahaya bulan. Beberapa kapal besar juga terlihat menghiasi perairan. Ada juga menara pengeboran minyak di laut lepas pantai yang dipenuhi dengan cahaya lampu.

Chilton menghela napas panjang. Ia teringat dengan kata-kata Delana yang ingin sekali bisa melihat indahnya kota Balikpapan dari Gunung Dubs. Yah, memang indah dan dia baru menyadarinya selama ini.

Chilton menikmati dinginnya angin malam yang menyapa lembut kulitnya. Seakan berbisik tentang sebuah cerita dan kerinduan. Seakan bersenandung menyajikan syair-syair cinta penuh bahagia.

Chilton menundukkan kepalanya. Ia kembali masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya. Tiba-tiba ia ingin menginap di sini.

Drrrt ... Drrrt ... Drrt ...!

Chilton merogoh ponsel yang ada di sakunya. Ia membuka pesan dari Delana. “Aku sudah di rumah. Jadi mabar?”

Chilton tak segera membalas pesan dari Delana. Ia langsung menekan gambar video call.

“Kok, malah vc? Nggak jadi main?” tanya Delana.

“Bentar. Aku mau nunjukkin sesuatu ke kamu sebelum kita main.”

“Oh ya?” Delana memerhatikan Chilton yang terlihat di layar ponselnya. “Kamu di mana?”

“Aku di rumah Gunung Dubs.”

“Hmm ... jangan bilang kamu mau pamer suasana di belakang rumahmu itu!” dengus Delana.

Chilton tersenyum jahil. “Bagus banget, kamu nggak mau lihat?” Chilton berjalan keluar dari kamarnya menuju balkon. “Look at this!” Ia memutar tubuh dan kameranya. Memamerkan gemerlapnya lampu kota yang ada di bawahnya. “Keren kan?” pamernya.

Delana mengerutkan hidungnya. “Please, nggak usah bikin aku ngiri!”

“Kalo kamu ngiri, aku nganan.” Chilton menjulurkan lidahnya.

Delana kesal dibuatnya. Ia mengira kalau Chilton bermain game bersama Attala. Ternyata, ia malah keluyuran bahkan sampai pulang ke rumahnya. “Udah, deh. Mending kita mabar aja daripada kamu cuma bikin aku badmood!”

“Bentar, aku tanya Attala dulu. Dia main sama Chillo tadi.”

“Terus? Mereka kamu tinggal pergi?” tanya Delana.

“Iya. Masih males main tadi. Soalnya laper.”

“Oh ... jadi pulang ke rumah selajur cari makan?” tanya Delana.

“Iya.” Chilton terdiam sesaat karena teringat sesuatu. “Astaga!” Chilton menepuk jidatnya.

“Kenapa?”

“Tadi, Attala nitip belikan sate. Aku lupa ... asli!” seru Chilton. “Aku vc dia dulu.” Chilton langsung melakukan panggilan video tanpa menutup panggilannya dengan Delana.

“Nggak diangkat. Masih nge-game kali,” tutur Delana.

“Iya, kayaknya.” Chilton terus memanggil.

“Hei ... kamu di mana? Cari makan lama bener?” teriak Attala begitu tersambung. “Loh? Kamu di mana? Malah vc-an kalian ya?” dengus Attala.

“Aku di rumah Gunung Dubs. Lupa beliin kamu sate,” tutur Chilton. “Kayaknya aku mau nginep di rumah sini.”

“Eh, gile lu.” Attala berlagak bicara seperti orang Jakarta. “Aku di kamarmu nih.”

“Tidur aja di situ. Atau kunciin aja kamarku kalo kamu pulang. Besok pagi ambil kuncinya sama kamu.”

“Oke lah. Makananku gimana? Aku laper.”

“Delivery aja!”

“Ngomong kek dari tadi.”

Delana terkekeh mendengar perdebatan dua laki-laki itu.

“Masih main kah?” tanya Delana pada Attala.

“Masih. Kalian mau masuk?” tanya Attala.

“Iya.”

“Oke. Aku invite.”

“Oke.” Chilton mematikan panggilan videonya. Mereka melanjutkan obrolan lewat game.

“Georgepol aja ya!” pinta Chilton.

Mereka mengikuti instruksi dari Chilton dan turun di Georgepol.  Permainan berlangsung seru dan ramai. Kali ini Delana terlihat gemas dan penuh semangat membantai 20 musuh.

“Anjir! Aku Knocked Down!” teriak Chilton. “Aargh...!” Ia berteriak kesal karena akhirnya heronya mati. “Lady ...! Kenapa jauh-jauh dari aku?”

“Nggak malu dijagain cewek mulu?” celetuk Delana sambil tertawa.

“Awas kamu ya! Kalo ketemu beneran kugigit sampe habis!” maki Chilton bercanda.

“Mau aku kill duluan?” Delana tergelak. Ia tertawa bangga karena akhirnya ia bisa lebih tangguh daru Panglima Kumbang yang menjadi salah satu Pro Player dan juga ketua organisasi game di kotanya.

“Cari masalah ...,”

“Udah, jangan berantem!” seru Chillo. “Kamu diem aja nggak usah bikin buyar kita biar menang. Tinggal dua belas lagi musuhnya “

Chilton berdehem. Ia tak lagi banyak bicara dan membiarkan ketiga temannya menyelesaikan permainan.

“Hahaha. Panglima kita K.O!” teriak Attala.

“Dewa, kamu jangan ngolok gitu, mati juga baru tahu rasa!” sahut Chillo.

“Nggak, lah. Aku mah nggak noob.”

“Maksudnya? Kamu ngatain aku noob?” tanya Chilton.

“Enggak juga sih. Tapi bisa aja posisimu diganti sama Lady. Lihat aja dia makin keren mainnya.”

Chilton menggigit bibir dan memukul ranjangnya kesal. Ia tak mengerti kenapa hari ini dia bisa mati lebih dulu dari teman-temannya. Bahkan, ia baru membunuh tiga musuh. “Betenya aku eh.”

“Bete kenapa?”

“Bete nunggu gini. Lakasi lah!” seru Chilton.

“Sabar, tinggal tiga lagi musuhnya. Di mana mereka?” sahut Delana sembari fokus mencari posisi musuh.

“Di ujung sana ada,” teriak Chillo.

“Oke.” Delana dengan cepat mencari posisi musuh dan langsung menembakinya.

Winner Winner Chicken Dinner.

“Huu ... mantap!” teriak Delana dan yang lainnya juga.

“Udahan ya,” tutur Chilton.

“Kok cuma main sekali doang?” tanya Chillo.

“Bete aku. Ngantuk juga, mau tidur.”

“Tumben banget. Ini baru jam sebelas.”

“Namanya ngantuk itu nggak ditentuin sama jam,” sahut Chilton. “Lady, kamu masih mau main?” tanya Chilton.

“Eh!?”

“Ah ... eh ... ah ... eh ...!? Masih mau main gak?” Chilton meninggikan nada suaranya.

“Kamu kenapa sih marah-marah gitu sama Lady?” tanya Chillo heran.

“Sewot dia gara-gara mati,” sahut Attala sambil cekikikan.

“Bodo amat!” Chilton langsung log out dari permainan dan mengirim pesan pada Delana. “Nggak usah lanjutin game-nya!”

Delana menghela napas setelah membaca pesan dari Chilton. “Ini orang kenapa sih? Tiba-tiba jadi sensitif banget?” gumamnya.

Belum sampai ia meletakkan kembali ponselnya, Chilton sudah meneleponnya.

“Kenapa?” tanya Delana lembut.

“Kamu masih main?” tanya Chilton.

“Enggak.”

“Terus, lagi ngapain sekarang?”

“Siap-siap mau tidur.”

“Beneran nggak main lagi?”

“Enggak,” jawab Delana lirih. “Kamu kenapa sih tiba-tiba jadi marah-marah kayak gitu?” tanya Delana.

“Bete aku kalo kalah!” gerutu Chilton.

“Yang kalah kan kamu. Kenapa marah-marahnya sama aku?” tanya Delana mulai kesal.

“Kamu kejauhan jaraknya sama aku. Harusnya cepet revive aku tadi!”

“Tapi, aku kan udah kill dia juga jadinya.”

“Tetep aja aku mati duluan!”

“Ya udah, sih. Nggak usah marah-marah kayak gitu terus. Ini kan cuma game aja. Jangan snewen gitu, ntar cepet kena serangan jantung lho,” tutur Delana.

“Seneng kamu kalo aku kena serangan jantung!?”

Delana memutar bola matanya. “Salah lagi,” gumamnya. “Kamu jangan marah-marah terus kayak gitu, nanti cepet tua.”

“Ah, ya udah lah. Aku mau tidur.” Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia kesal dengan sikap Delana yang sama sekali tidak berpihak padanya.

Delana menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. Ia melanjutkan kembali permainannya. Ia lebih memilih bermain solo karena ia hanya bermain sendirian saja. Kalau ia meminta bergabung kembali dengan Attala dan Chillo, itu artinya ia mencari masalah baru. Bisa saja Attala mengadu pada Chilton kalau semalaman Delana ikut bermain game bersamanya.

 

***

Akhir-akhir ini Delana semakin asyik bermain game. Membuatnya jadi semakin malas belajar dan tidak mengerjakan tugas kuliahnya. Ia sama sekali tidak bersemangat membuka buku. Dia lebih semangat membuka game yang ada di ponselnya ketimbang buku yang sangat membosankan itu.

“Bel, aku minta tolong, dong!” rengek Delana saat bertemu dengan Belvi.

“Minta tolong apa?” tanya Belvi.

“Kerjain tugas aku! Please ...!” Delana menangkupkan kedua telapak tangannya.

“Kamu ngapain aja?” tanya Belvi.

“Aku sibuk banget banyak kerjaan,” jawab Delana berbohong. “Ntar aku kasih uang pulsa, deh.”

“Hmm ...” Belvi memutar bola matanya. “Nggak biasanya kamu nyuruh orang lain ngerjain tugas kuliah. Ada apa, Del?” tanya Belvi penasaran.

“Hehehe ... aku kebanyakan nge-game bareng Chilton. Tugas aku sampe numpuk kayak gini,” jawabnya sambil cengengesan.

“Ckckck ... aku tuh ngegame juga kali, Del. Tapi, nggak sampe segininya. Sampe lupa sama tugas kuliah.”

Delana hanya meringis menanggapi ucapan Belvi. “Bantuin ya! Please ...!”

Belvi menghela napasnya. “Oke, aku bantu. Dengan syarat, kamu harus nemenin aku ngerjain tugas ini dan nggak boleh main hp!”

“Siap, bos!”

Walau ia bilang siap, tapi Delana tak memenuhi janjinya. Belvi membantunya mengerjakan tugas kuliah sedangkan ia asyik bermain game online bersama Chilton. Belvi hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya aitu.

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas