Thursday, January 12, 2023

Autobiografi Walrina

 


Hai, salam kenal buat kalian yang belum kenal sama aku ...!
Yang udah kenal, nggak usah kenalan lagi, deh! Kalian nggak usah baca tulisan ini karena kalian udah tahu siapa aku, di mana aku lahir dan untuk apa aku dilahirkan, hahaha.

Aku mau langsung kenalan sama kalian yang belum kenal aku aja, deh.
Aku juga mau cerita banyak hal tentang hidupku yang penuh dengan liku-liku.
Tolong siapkan tisu yang banyak, karena perjalanan hidupku tidak mudah.

Namaku Walrina, biasa dipanggil Rina. 

Aku lahir di desa terpencil yang berada di wilayah Kalimantan Timur. Desa kecil yang dulu bernama Rawa Jaya itu, kini lebih dikenal dengan nama Desa Beringin Agung.
Aku lahir pada tanggal 09 November 1991 di pondok kecil yang menjadi rumah tinggal kedua orang tuaku. Tidak ada yang istimewa kala itu. Sekeliling rumah dipenuhi oleh pepohonan besar. Bahkan pada malam hari, seringkali binatang buas berada di dekat rumah. Bukan hal yang aneh bagiku saat masih kecil. Melihat babi hutan, beruang, landak, biawak dan ular besar sudah jadi konsumsi mataku sehari-hari. Aku bahkan sering makan rumput dan telur burung mentah karena tidak punya makanan dan tidak bisa memasak. Tak jarang juga aku mengonsumsi air hujan atau air sungai untuk aku minum. Alhamdulillah, masih sehat sampai detik ini walau sering minum air kali tanpa dimasak, hehehe.


Saat berusia enam tahun, aku merengek minta sekolah hanya karena tidak punya teman main ketika yang lain pergi bersekolah. Saat itu, orang tua masih keberatan kalau aku masuk sekolah. Pertama, karena belum siap dengan biaya sekolah (beli seragam, tas, alat tulis, dll). Kedua, karena usia masuk SD harusnya di usia tujuh tahun.
Setelah menangis setiap hari karena ingin sekolah, akhirnya aku diizinkan untuk bersekolah di SDN 038 Samboja. Aku harus menjalani dua tahun di kelas satu karena alasan usia. Soal mata pelajaran, aku sendiri tidak pernah memikirkan harus punya nilai berapa. 
Ketika pertama kali aku mendapat raport, aku menangis di kelas karena mendapatkan Ranking 1, sementara ranking teman-temanku semuanya lebih dari 1. Terlebih, temanku yang mendapatkan ranking 11, mengatakan kalau aku sangat bodoh, makanya hanya dapat ranking 1 saja. Sesampainya di rumah, keluargaku memberikan pengertian dan akhirnya aku masih bisa mendapatkan gelar ranking 1 hingga lulus sekolah dasar.
Setelah lulus sekolah dasar, aku tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi karena belum ada SMP di desa tempat tinggalku. Sekolah terdekat dengan rumah berjarak 10 kilometer dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki karena jalan keluar masih jalan setapak. Juga belum banyak orang yang memiliki kendaraan bermotor seperti saat ini.
Akhirnya, aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah di SMP Negeri 15 Balikpapan dan tinggal di sebuah panti asuhan yang terletak di km.8 yakni Panti Asuhan Ibu Pertiwi. Di sana, aku bisa menyelesaikan pendidikan hingga jenjang SMA dan bersekolah di SMA Negeri 06 Balikpapan.

Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku SMA, aku tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya karena tidak ada biaya. Sehingga, aku bekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit dan belajar banyak hal di sana. PT. Alam Jaya Persada menjadi perusahaan pertama kali tempatku belajar hingga aku bisa mendapatkan banyak ilmu pengetahuan tentang management bisnis di sana secara langsung. Meski aku hanya lulusan SMA, aku akhirnya bisa meng-handle pekerjaan manager saat dia sibuk dengan pekerjaannya di lapangan.

Setelah enam tahun sepuluh bulan bekerja di perusahaan kelapa sawit, aku memilih resign di penghujung tahun 2017. Aku memilih menjadi seorang ibu rumah tangga yang bisa berada di dekat anak-anak setiap harinya. Keseharianku hanya menjahit dan sesekali menulis sebuah cerita.
Pada 18 Februari 2018, aku memilih mendirikan sebuah taman baca di tengah keterbatasanku sendiri. Alhamdulillah, taman baca yang aku dirikan mendapat sambutan baik dari masyarakat Desa Beringin Agung dan sekarang telah berubah menjadi Yayasan Rumah Literasi Kreatif yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan, juga membawahi beberapa komunitas yang ada di Rumah Literasi Kreatif.
Sejak resign bekerja di tahun 2017, aku sudah aktif belajar menulis karena hobby. Banyak bergabung di komunitas literasi hingga akhirnya masuk ke industri penulisan profesional di tahun 2019 hingga sekarang.
Dari menulis, aku bisa menghidupi keluargaku, membangun sebuah rumah mungil untuk anak-anakku dan membiayai operasional Rumah Literasi Kreatif setiap harinya. Sampai saat ini, aku memilih tidak bekerja kembali di perusahaan karena aku tahu jika aku akan meninggalkan rumah baca yang sudah aku bangun. Untuk itu, aku memilih untuk tetap bergerak sebagai aktivis sosial pendidikan di desaku sendiri. Aku hanya mengandalkan hasil penjualan buku dan tulisan-tulisanku di internet untuk membiayai hidupku, keluargaku dan komunitas di Rumah Literasi Kreatif. Memang hasil dari menjahit dan menulis tidak seberapa, tapi diberi keberkahan oleh Allah sehingga Rumah Literasi Kreatif masih bisa berkembang dengan baik.
Aku adalah orang yang senang belajar banyak hal. Karena ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas juga menjadi salah satu bekalku untuk menulis sebuah buku. Semua hal yang ada di tulisanku memang berdasarkan hasil bacaan sehari-hari. Bukan hanya membaca buku, tapi membaca semua hal di sekitarku termasuk membaca gestur tubuh seseorang.
Semakin banyak ilmu pengetahuan yang aku ketahui, aku merasa semakin bodoh. Ternyata, dari sekian banyak pengetahuan yang sudah kumiliki, masih ada jutaan bahkan triliunan pengetahuan yang tidak aku miliki. Oleh karenanya, aku ingin belajar setiap hari meski sudah memiliki dua orang anak. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kata orang, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Oleh karenanya, aku memilih untuk mengambil studi S1 Prodi Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan di Universitas Terbuka. Aku berharap bisa melanjutkan studiku dengan baik dan bisa menggunakan ilmu yang kumiliki untuk berbagi dan memberikan kemanfaatan untuk orang yang lebih banyak lagi.

Inilah sekelumit kisah tentang diriku yang bisa aku tulis.
Saat ini aku adalah seorang single parent dan memiliki dua orang anak, yakni;
Alifia Shaumi Aleshana (lahir tahun 2015) 
Marga Mahesa Yudistira (lahir tahun 2020)

Beberapa prestasi yang aku dapatkan dalam beberapa tahun terakhir ini adalah :
1. Juara 1 Lomba Sinopsis Tingkat Sekolah Dasar antar Sekolah.
2. Juara 2 Lomba Sinopsis Tingkat Sekolah Dasar antar Kota/Kabupaten
3. Juara 3 Lomba Karya Ilmiah Tingkat SMP
4. 196 Nominator Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional dalam Buku “Lewat Angin Ku Kirimkan Segenggam Do’a Buat Abahku” 2017.
5. 60 Nominator Lomba Menulis “Dongeng” 2017.
6. Juara Favorite Duta Baca Kaltim 2018
7. Penghargaan Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan Kukar 2019
8. Membawa Rumah Literasi Kreatif mendapatkan penghargaan "Gold Category" pada ajang Indonesian CSR Award 2020 oleh Pertamina Hulu Sanga-Sanga
9. Membawa Rumah Literasi Kreatif mendapatkan penghargaan "Gold Category" pada ajang  ISDA (Indonesian Sustainability Development Award) Tahun 2021 oleh Pertamina Hulu Sanga-Sanga
10. Juara 3 Lomba Kaligrafi Cabang Kontemporer MTQ Samboja Tahun 2019
11. Juara Harapan 1 Lomba Kaligrafi Cabang Dekorasi MTQ Samboja Tahun 2022
12. Membawa KIM Mutiara Borneo mendapatkan Juara Terbaik 3 Lomba Video Kreatif antar KIM Se-Kabupaten Kukar Tahun 2023.
13. Membawa Rumah Literasi Kreatif mendapatkan penghargaan dari Bupati Kutai Kartanegara lewat program Pertamina Hulu Sanga-Sanga Tahun 2023.
14. Membawa Rumah Literasi Kreatif mendapatkan penghargaan Kategori "Silver" pada ajang PDB Award (Pembangunan Desa Berkelanjutan) Tahun 2024.
15. Membawa KIM Mutiara Borneo mendapatkan Juara Terbaik 1 Tingkat Provinsi Kaltim Pada Ajang KIMFest Nasional Tahun 2024 dan mewakili Provinsi Kaltim ke Kota Makassar.


Dalam dunia tulis-menulis, aku telah menerbitkan beberapa karya yang nggak keren-keren banget, tapi cukup membanggakan untuk diriku sendiri, hehehe.

Beberapa buku cetak yang telah aku terbitkan sejak aku belajar menulis hingga sekarang:

1. Buku Antologi Puisi “Ayah di Bahumu Aku Bersandar” – Fam Publishing, 2016.
2.Buku Antologi Puisi “Yang Membuka Pintu Surga” – Fam Publishing, 2016.

3. Buku Antologi Puisi “Menghempas Karang” – Fam Publishing, 2016.

4. Buku Antologi Puisi “Setangkai Padi Yang Merunduk” – Fam Publishing, 2016.

5. Buku Antologi Puisi “Dua Sayap” – Fam Publishing, 2016.

6. Buku Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid 7– Fam Publishing, 2016.

7. Buku Antologi Puisi “Kota yang Menjadi Kata” – Fam Publishing, 2016.

8. Buku Antologi Puisi “Malam-Malam Seribu Bulan” – Fam Publishing, 2016.

9. Buku Antologi Cerpen “Padamu Aku Bercerita” – Fam Publishing, 2016.

10. Buku Antologi Cerpen “Syair Tujuh Belas Agustus” – Fam Publishing, 2016.

11. Buku Antologi Cerpen “Puppy Love” – Fam Publishing, 2017.

12. Buku Antologi Puisi “Muda-Mudi Ibu Pertiwi” – Fam Publishing, 2017.

13. Buku Antologi Cerpen Anak “Dunia Kata” – Fam Publishing, 2017.

14. Buku Antologi Puisi “Lewat Angin Ku Kirimkan Segenggam Do’a Buat Abahku” – Fam Publishing, 2017.

15. Buku Antologi Dongeng “Janji Seekor Tikus dan Semut” – Fam Publishing, 2017.  

16. Buku Antologi Cerita "Asmara Negeri Somplak" - Plukme, 2018
17. Buku Antologi Cerita "Salikah" - Plukme, 2018
18. Buku Antologi Cerpen "Luka Labatula" - Kantor Bahasa Kalimantan Timur, 2018
19. Buku Antologi Cerpen "Please, Move On!" - Denta Publisher, 2021
20. Buku Antologi Cerpen "Layar-Layar Koyak" - Denta Publisher, 2022 
21. Buku Novel "Perfect Hero" - Novelindo Publishing, 2022
22. Buku Novel "I am Here, Mr. Rich" - Novelindo Publishing, 2022
23. Buku Antologi "Cerita Aku dan Samboja" - Rumah Literasi Kreatif, 2024.

Beberapa buku online yang telah aku terbitkan sejak aku belajar menulis hingga sekarang:
1. Alluna Wedding Party by Rin Muna -Novelme, 2019 [37.204 kata - On Going]
2. After Savage by Rin Muna - Novelme, 2019  [65.863 kata - On Going]
3. Then Love by Vella Nine - Novelme, 2019 [421.538 kata - Tamat]
4. Perfect Hero by Vella Nine - Novelme, 2020 [1.373.366 kata - Tamat]
5. Perfect Hero Seri 1 versi cetak by Vella Nine - Novelindo Publishing, 2022
6. Perfect Hero 2 by Vella Nine - Novelme, 2021 [ 572.955 kata - Tamat] 
7. Shaum Me by Vella Nine - Novelme, 2021 [87.124 kata - Tamat]
8. Bad Planter by Vella Nine - Novelme, 2021 [91.384 kata - On Going]
9. I am Here, Mr. Rich by Vella Nine - Novelme, 2022 [410.769 kata - Tamat]
10.  I am Here, Mr. Rich Seri 1 versi cetak by Vella Nine - Novelindo Publishing, 2022
11. Menikahi Lelaki Brengsek by Vella Nine - Karyakarsa, Goodnovel, Wattpad & Storial, 2022 [80.000 kata - Tamat]
12. Suami untuk Istri by Vella Nine - Fizzo, 2022 [ 617.400 kata - Tamat]
13. Assalamualaikum, Ya Habib by Vella Nine - Fizzo 2022 [147.600 kata - On Going]
14. Mrs. Rose & Mr. Rich by Vella Nine - Fizzo, 2023 [63.100 kata - On Going]
15. Catch Me Mr. Ghevin by Vella Nine – Fizzo, 2023 [70.700 kata – Tamat]
16. Magang 90 Hari by Vella Nine – Fizzo, 2023 [102.000 kata – Tamat]
17. The Cakra by Vella Nine – Fizzo, 2024 [151.800 kata – On Going]
18. Semua Karya Puisi, Cerpen, Esai, dll. di dalam blog pribadi www.rinmuna.com
19. Penulisan Jurnalistik / berita di media online www.mutiara-borneo.kim.id

Jangan bingung dengan karyaku yang acak-acakan ini dan punya tiga nama pena berbeda. Insya Allah, untuk karya-karya novel fiksi aku akan tetap menggunakan nama pena Vella Nine. Sementara untuk tulisan artikel, opini dan sejenisnya, aku akan tetap menggunakan nama pena Rin Muna. So, nggak usah bingung dengan dua nama pena itu karena orangnya cuma satu doang.


Mungkin ini aja autobiografi yang bisa aku tulis karena nggak ada lagi hal yang bisa aku tuliskan tentang aku.
Oh, ya, ada kegiatan organisasi yang aku ikuti, yakni :
1. Pendiri Yayasan Rumah Literasi Kreatif (Membawahi banyak komunitas literasi di dalamnya)
2. Wakil Ketua Bidang Pendidikan KNPI Samboja Periode 2019/2023
3. Ketua KIM Mutiara Borneo (Diskominfo) periode 2019/2024
4. Sekretaris BUMDes Maju Mapan Desa Beringin Agung Periode 2018/2021
5. Sekretaris BUMDes Maju Mapan Desa Beringin Agung Periode 2021/2023
6. Anggota IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) Ranting Samboja
7. Ketua RT 03 Desa Beringin Agung


Sepertinya hanya ini saja, jika ada kegiatan atau prestasi yang belum aku tulis dan kalian tahu, tolong diingatkan, ya!
Semoga autobiografi ini bermanfaat dan bisa menjadi pengingat untukku sendiri saat aku tua nanti.


Thank you so much!


Rin Muna


Pengurus Yayasan Rumah Literasi Kreatif

 

Yuk, kenalan sama pengurus Yayasan Rumah Literasi Kreatif!

Mereka yang selama ini berada di balik layar untuk membesarkan nama Rulika.


Klik Profil 👉 Walrina

 Klik Profil 👉 Hidayah Utama Lubis


 Klik Profil 👉M. Alwi Dahlan

Klik Profil 👉 Rikal Artha Yuda, S. Kep

Klik Profil 👉 Ade Surya Husaini

Klik Profil 👉Ikhsan Nurdia Pratama

 Klik Profil 👉Aisyah Nurul Hidayah

 Klik Profil 👉Anis Tri Astuti

 Klik Profil 👉Evi Trisnawati

 Klik Profil 👉Esti Wahyuni

Klik Profil 👉 Lia Selfiana

 Klik Profil 👉 Rendi Setiawan


Klik nama yang bergaris bawah untuk melihat profil pengurus, ya!


Salam kenal semuanya...

Doakan semoga kami bisa amanah dan ikut membantu memajukan negeri ini.



Salam,


Pengurus Yayasan Rumah Literasi Kreatif

Monday, January 9, 2023

Paguyuban Seni Kuda Lumping Sebagai Penjaga Nilai Sosial

 




Indonesia memiliki keberagaman dalam hal suku bangsa, bahasa, budaya, adat dan kebiasaan, bahkan agama dan kepercayaan. 

Desa Beringin Agung adalah desa yang berada di wilayah pelosok Kalimantan Timur, memiliki keberagaman di dalamnya. 

Dengan adanya program literasi di Rumah Literasi Kreatif, semakin membuat Desa Beringin Agung menjadi desa yang mudah dikenal oleh masyarakat luas. Desa ini bisa menjadi desa yang berkembang dengan pesat karena masyarakatnya menjunjung tinggi nilai budaya dan tradisi dari leluhur mereka.

Dari 6 literasi dasar yang menjadi bekal kehidupan kita dan juga salah satu program yang ada di Rumah Literasi Kreatif, literasi budaya dan kewargaan menjadi salah satu program yang harus berjalan dengan baik. Kegiatan literasi di Rulika tidak hanya berpusat dengan Rulika saja, tapi bisa melebar ke seluruh masyarakat secara luas. Artinya, program literasi yang dijalankan oleh Rulika sendiri memiliki kebermanfaatan yang luas dan tidak dibatasi oleh wilayah Desa Beringin Agung saja.

Sebelum adanya Rumah Literasi Kreatif, literasi budaya dan kewargaan di Desa Beringin sudah berjalan dengan baik sejak dulu. Semua warga Desa Beringin Agung hidup rukun dan menjaga kebersamaan.

Dengan adanya arus globalisasi dan modernisasi, warga desa Beringin Agung mendapat tantangan besar akan perubahan zaman. Kehidupan sosial masyarakat mulai terpengaruh budaya barat dan nilai sosial masyarakat mulai tergerus dengan sendirinya.

Untuk menjaga generasi muda tetap hidup rukun dalam kebersamaan, para sesepuh berusaha merangkul kaula muda dan generasi penerus untuk melestarikan budaya daerah. Membentuk sebuah paguyuban seni kuda lumping yang memiliki nilai sosial tinggi.

Dengan adanya kelompok paguyuban di Desa Beringin Agung, seni budaya daerah menjadi terjaga dengan baik. Masyarakat dan generasi penerus memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Kerukunan dengan tetangga juga ikut terjaga dengan baik.

Paguyuban seni kuda lumping adalah salah satu wadah untuk bertemu dan berkumpulnya warga setelah mereka melakukan aktivitas dan pekerjaan mereka sehari-hari. Dengan adanya paguyuban ini, warga menjadi sering guyub, hidup berdampingan bersama-sama dan solidaritas warga tetap terjaga dengan baik.

Sebab, manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Dengan adanya wadah kebersamaan warga, nilai sosial di masyarakat bisa terjaga dengan baik dan berkelanjutan. Semua warga bisa bergotong royong memberikan sumbangsih mereka untuk kemajuan desa. Kegiatan kumpul warga yang intensif juga mampu membangun kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan.






Film Crew | Divisi Literasi Digital | Rumah Literasi Kreatif

 

Yuk, kenalan sama Film Crew 

dari komunitas Literasi Digital Rumah Literasi Kreatif!



Lisda Safitri
Siswi kelas 3 SMA Negeri 2 Samboja
 Desa Beringin Agung, Samboja

Walrina
Alumni SMA Negeri 6 Balikpapan
Founder Yayasan Rumah Literasi Kreatif
Desa Beringin Agung, Samboja

M. Nisyam
Siswa Kelas 2 SMA Negeri 1 Samboja
Desa Beringin Agung, Samboja

Aisyah Nurul Hidayah
Alumni MA Nuruddin Samboja
Bendahara Yayasan Rumah Literasi Kreatif
Desa Beringin Agung, Samboja

M. Arifin
Siswa Kelas 3 SMA Negeri 1 Samboja
Desa Beringin Agung, Samboja

Arfin Pramudya
Siswa Kelas 3 SMA Harapan Samboja
Desa Beringin Agung, Samboja



M. Fauzi
Alumni SMK Duta Bangsa
Desa Beringin Agung, Samboja

Tulus Duwiati
Siswi Kelas 1 MA Nuruddin Samboja
Desa Beringin Agung, Samboja

Esti Wahyuni
Alumni SMA Negeri 1 Samboja
Ketua Divisi Literasi Budaya Rumah Literasi Kreatif
Desa Beringin Agung, Samboja.

Dhea Cony
Siswi Kelas 3 MA Nuruddin Samboja
Desa Beringin Agung



Sunday, December 11, 2022

Creative Class "Melukis di Sapu Tangan" Part 2 Rumah Literasi Kreatif



Hari ini, 11 Desember 2022

Creative Class "Melukis di Sapu Tangan" di Rumah Literasi Kreatif kembali dibuka.
Kelas ini terbuka untuk umum dan untuk semua usia. Siapa saja yang ingin belajar melukis, bisa ikut bersama di sini.

Mereka sangat bersemangat mengikuti kelas ini. Selain dapet temen baru, ilmu baru dan explore kreatifitas mereka, hasil karyanya bisa dibawa pulang dan digunakan untuk kegiatan sehari-hari. 

Selain dapet benefit itu semua, mereka juga dapet sertifikat kelas kreatif, loh.


Makasih buat anak-anak kreatif yang sudah berpartisipasi hati ini.
Makin semangat berkreasinya dan semoga bermanfaat.

Sampai ketemu di kelas-kelas selanjutnya!



Much Love,

Rin Muna

Friday, November 4, 2022

Stick Nanas Samboja | Cemilannya Kaum Rebahan



Hai, hai ...!

Ada yang baru, loh ....
Kali ini aku mau kenalin kalian produk baru yang lagi nge-hits banget. 
Aku punya produk olahan nanas yang bisa menemani kamu di segala suasana. Apalagi nemenin kamu nulis dan menghayal, ini cocok banget sama cemilan ini.

Selain enak dan mudah didapat, Stick Nanas ini juga punya banyak manfaat selain bikin kenyang dan ketagihan.


Kamu udah cobain cemilan hitam yang satu ini atau belum?
Kalau belum, buruan gih cobain!

Langsung aja DM miminnya buat dapetin produk olahan nanas yang masih fresh ini.

Silakan kunjungi IG @nanas.samboja atau chat admin di 0821-4949-9566
___________


Fyi,

Olahan makanan ini diproduksi oleh Mamuja Food.
Mamuja adalah salah satu komunitas atau lebih tepatnya kumpulan emak-emak yang sering berkunjung ke Rumah Literasi Kreatif. 
Mamuja berdiri pada tanggal 03 Februari 2019, setelah 1 tahun taman baca milik Walrina berdiri.
Mamuja adalah implementasi dari Literasi Finansial. Salah satu program literasi yang ingin diwujudkan secara nyata oleh pendirinya. Tidak ingin hanya menjadi bagian dari sosialisasi dan pelatihan-pelatihan formalitas, Mamuja lahir atas kepedulian orang-orang yang ingin maju secara bersama-sama. 
Mamuja adalah implementasi nyata dari Rumah Literasi Kreatif (Rulika), komunitas kecil yang kini sedang merangkak menjadi sebuah yayasan kecil pula. 
Rulika bergerak di bidang sosial pendidikan masyarakat dan menjadi inkubator sosial. Oleh karenanya, demi mewujudkan impian orang-orang di dalamnya, Mamuja menjadi bagian dari wujud nyata literasi finansial di negara ini.


Sebagian hasil keuntungan penjualan stick nanas ini akan disumbangkan untuk kepentingan sosial pendidikan di masyarakat. Jika kalian berkenan membeli, artinya kalian juga ikut berperan membantu memajukan pendidikan di pelosok-pelosok desa.


Yuk, dukung kemajuan di desa dengan membeli produknya!

Kalian nggak akan rugi, kok. Karena kalian dapet enaknya, dapet manfaatnya, juga dapet keberkahan karena sudah berbagi dengan banyak orang.


Jangan lupa koleksi Stick Nanas ini saat kalian nonton film/drama!



Much Love,

Rin Muna

Thursday, November 3, 2022

MAKAN DUIT TAMAN BACA!?


 


🐥 : Enak ya jadi Mbak Rina, makan duit dari Taman Baca?

🦧 : Duit Taman Baca gundulmu? Aku yang menghidupi Taman Baca. Bukan Taman Baca yang menghidupiku‼️


Coba buka taman baca juga!

Bisa nambah koleksi berapa buku setiap tahunnya tanpa minta-minta sumbangan? Bisa ngasih pelatihan gratis dan datangkan narasumber tanpa donatur?


Kerjasama sama Pertamina itu aku nggak digaji sepeserpun sama PHSS. Berasa aku ini karyawan mereka apa? 

Aku diajak buat program juga nggak mudah. Harus nyiapin persentasi dan pertanggungjawaban juga. 


Kalau nggak pernah terlibat dalam kegiatan sosial di taman baca, nggak usah ngomong aneh-aneh, deh!

Sekali-kali jadi relawan di sini ...

Supaya tahu gimana perjuangannya ngasih fasilitas gratis untuk warga.


Anak-anak belajar di sekolah, bayar. 

Nggak ada yang ngatain gurunya makan duit sekolahan 'kan?

Belajar dan baca buku di Rumah Literasi, gratis.

Aku dikata-katain makan duit taman baca. Mulutnya amazing banget, ya?


Kalau aku foto-foto mereka, ya itu bentuk pertanggungjawaban untuk donatur yang udah bantu kasih fasilitas gratis.


Emang nggak rutin kegiatannya...

Karena aku juga butuh menghidupi diriku sendiri, menghidupi anak-anak, dan menghidupi taman baca juga supaya bisa survive.


Kalau mau mengkritik atau ngasih saran, sampaikan langsung ke aku! Jangan sampaikan ke orang lain! 

Gunanya apa? Orang itu bisa bantu nambah koleksi buku atau fasilitas di taman baca?




Semua koleksi buku di taman baca aku dapetin dari hasil ngemis-ngemis sama temen-temen penulisku. Biar koleksi bacaan bisa update dan anak-anak yang pinjam buku nggak bosen sama buku yang itu-itu aja.

Nggak jarang aku sisihkan uang belanja atau uang jajan anakku buat bisa nambahin koleksi buku atau fasilitas yang lain.

Karena malu kalau mau minta-minta mulu. Sementara ongkir dari Pulau Jawa ke Kalimantan udah ratusan ribu karena buku itu berat.



Jadi, kalau kamu nggak bisa bantu memajukan taman baca yang dari awal aku perjuangkan seorang diri, nggak usah ngomong aneh-aneh!


Ngomongin aku di belakang, itu bukan solusi.

Kalau kamu iri ...

Buatlah yang lebih baik dari yang aku buat.

Bagiku ... proyek sosialku sudah cukup.


Karena rezekiku bukan dari taman baca.

Tapi rezekiku datang dari Allah karena aku memberi. 

Buatku itu reward yang dikasih Allah atas kerja keras dan perjuanganku selama ini.


Seringkali aku bilang ke Allah ... aku ingin menyerah.

But, Allah selalu kasih aku hadiah dan bikin aku semangat lagi.

Dia berkata. "Tugasmu belum selesai. Aku yang akan menolongmu."



Jika bukan karena kekuatan dari Tuhan, aku sudah menyerah sejak dulu.


Aku bukan wanita yang kuat.

Aku bukan orang yang baik.

Aku bukan orang yang kaya.


Aku hanya ... dituntun Allah hingga sampai ke titik ini.


Semoga kamu mengerti dan bisa merasakan menjadi aku suatu hari nanti.


Thursday, October 20, 2022

Kunjungan Dewan Komisaris Pertamina Hulu Indonesia ke Rumah Literasi Kreatif





Rabu, 19 Oktober 2022


Pada hari ini, Rumah Literasi Kreatif Bunga Kertas yang ada di Desa Beringin Agung mendapatkan kunjungan dari WMT Pertamina.
Bahagia sekali bisa bertemu langsung dengan Bapak Taufan Huneman (Komisaris Utama Pertamina Hulu Indonesia), Bapak Rahmat Utomo (Komite Komisaris Pertamina Hulu Indonesia), Bapak Sandy Zahaf (Manager Performance Regional 3), Bapak Darmapala (Senior Manager Production & Project Zona 9), Bapak Ade Diar Suhendar (Field Manager Pertamina Hulu Sanga-Sanga) dan seluruh rombongannya.
Hadir juga Bpk. Rendy Wiryawan (Ketua Yayasan Teman Kita), Pemerintah Desa dan tokoh masyarakat Desa Beringin Agung.
Sebagai penerima manfaat, saya diberi waktu untuk memaparkan beberapa program unggulan yang ada di Rumah Literasi Kreatif yang selama ini disupport oleh Pertamina Hulu Sanga-Sanga dalam proses pengembangan program kreatifitas dan proyek Social Incubator yang ada di desa kami.
Penyerahan Donasi Buku Bacaan dari Komisaris Pertamina Hulu Indonesia untuk Rumah Literasi Kreatif Bunga Kertas.

Penyerahan bingkisan dari Mamuja (Divisi Literasi Finansial) untuk Komisaris Pertamina Hulu Indonesia dan jajarannya.

Penyerahan hasil karya lukisan dari Adik Yoga (Tim Kaligrafi & Seni Lukis) untuk Komisaris Pertamina Hulu Indonesia.

Penyerahan bingkisan untuk Bapak Ade Diar Suhendar (Field Manager PHSS).

Foto bersama ibu-ibu Mamuja (Literasi Finansial) di Workshop Mamuja.





Sukses Dimulai Dari Hobby Membaca Buku


Terima kasih kepada Bapak Taufan Huneman ( Komisaris Utama Pertamina Hulu Indonesia)  yang telah mengajarkan sukses dari sebuah buku atau hobby membaca.

Kebanyakan orang sukses adalah orang yang suka membaca buku. Karena buku adalah sumber pengetahuan dan bisa memberikan wawasan yang luas.

Buku telah mengantarkan aku ke banyak dunia meski aku hanya berada di dalam satu ruangan.
Buku juga yang telah membuatku bertemu dengan orang-orang sukses seperti beliau yang terus mengajarkan aku untuk mencintai buku dan memberikan investasi buku untuk anak-anakku di masa depan.

"Membaca banyak buku membuat kita menjadi orang yang berpikiran terbuka dan memiliki rasa empati yang tinggi," ucap beliau dalam kunjungan ke Rumah Literasi Kreatif Bunga Kertas, Desa Beringin Agung, Samboja.

Orang yang banyak membaca buku akan merasa semakin bodoh. Karena ternyata, ilmu yang sudah kita dapatkan di dalam buku yang kita baca itu tidak ada apa-apanya dengan semua ilmu yang ada di dunia ini.

Sunday, October 16, 2022

Lesty Kejora Wanita yang Hebat



Maaf, kalau kali ini aku agak ke-trigger sama berita yang lagi viral soal artis terkenal yang menjadi korban KDRT. 
Karena setelah lihat cuplikan video yang beredar di dunia maya, aku ngerasa kayak flashback ke masa lalu.
Apa yang dialami Lesty, aku juga pernah mengalaminya. Nggak kebayang gimana ketakutannya melihat suami yang temperamental, yang tega memukul kita meski kita sedang dalam keadaan menggendong bayi yang itu adalah anak dia.
Aku inget banget, aku juga pernah hampir ditonjok dalam keadaan lagi gendong Arga yang baru umur tiga bulan. Tapi saat itu mantan suamiku masih bisa mengalihkan emosinya dengan nonjok dinding di  dekatku sampai jebol. Tapi nggak sampai di situ, dia masih punya kesempatan buat nyekik aku. Dan tatapan mata penuh emosi itu, nggak pernah bisa aku lupain. 
Meski dia sudah minta maaf berkali-kali dan aku juga sudah memaafkan, tapi kejadian itu nggak pernah bisa aku lupain. Bener-bener bikin aku trauma. Meski aku berusaha untuk bertahan dan memperbaiki semuanya, tetap saja gagal karena trauma disakiti secara fisik itu masih sangat membekas. Membuat aku kesulitan untuk menumbuhkan rasa sayang yang sudah hancur saat orang yang paling dekat denganku, malah menyakitiku tanpa beban.

Saat kekerasan itu terjadi, aku nggak bisa berbuat apa-apa. Aku juga nggak berani lapor polisi. Dua orang saksi yang melihat aku dicekik sama suamiku sendiri (Mbah Lanang & Mbah Wedok) juga memilih untuk diam dan bungkam. tidak membelaku sama sekali. Jadi, aku juga memilih untuk bungkam dan berusaha menyelesaikan permasalahanku sendiri. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang sudah terlanjur toxic.

Jujur, saat itu aku memang berada diselimuti keresahan karena aku sangat takut berada di sisi orang terdekatku, juga tidak berani mengakhiri hubungan dengan alasan anak.

Lesty Kejora adalah wanita yang hebat karena dia bisa dengan begitu cepat memutuskan memenjarakan pria yang sangat ia cintai. Untuk mengambil keputusan seperti itu, tentunya tidak akan mudah. 
Aku sendiri, meski aku tidak bisa lagi mencintai pria yang sudah menyakitiku secara verbal dan fisik, aku tetap tidak tega melaporkan dia ke polisi. Bahkan, melihat ayah dari anak-anakku hidup susah saja, sesungguhnya aku nggak tega. 
Lesty adalah wanita yang hebat karena bisa membuat suaminya sendiri kelimpungan dan memakai baju orange. Dia adalah wanita yang bisa memberikan shock therapy untuk suaminya yang telah melakukan perbuatan KDRT. Aku rasa, nggak banyak wanita yang memiliki keberanian seperti itu. Karena terkadang ada banyak pertimbangan sebelum mengambil keputusan untuk mengambil langkah hukum.

Ada banyak hal yang dipertaruhkan oleh Lesty Kejora ketika ia memutuskan untuk melaporkan suaminya sendiri. Mungkin apa yang dia pertaruhkan itu sepadan untuk membuat suaminya benar-benar jera. 

Lesty adalah wanita yang hebat karena dia sangat sabar dan mau menerima suaminya kembali di sisinya. Bagiku, itu hal yang sangat sulit. Berada satu ranjang lagi dengan pria yang pernah memukul kita ... itu sulit. Karena trauma itu akan selalu terbayang di pelupuk mata setiap kali melihat wajahnya.
Benar kata Dewi Persik. Sekeras apa pun menumbuhkan rasa sayang itu kembali, tetap tidak akan bisa. Karena bayangan dilukai secara fisik, membuat aku juga tidak bisa nafsu saat diranjang. Memaksakan diri melayani suami yang menjadi sumber ketakutan, memanglah sangat sulit.
Jika Lesty bisa melewati ini semua dan menghapus rasa traumanya. Dia adalah wanita yang hebat. Karena aku sudah berusaha begitu keras, aku tetap tidak bisa menjadi seperti dia.


Semoga wanita-wanita di luar sana dijauhkan dari pria yang ringan tangan dan selalu mendapatkan banyak kasih sayang dari pria yang dia cintai.



Salam,


Rin Muna





Friday, October 14, 2022

Extra Part 04 - I Lost You, Ustadz [Prekuel Assalamualaikum, Ya Habib]

 



Pagi-pagi sekali, Anjani melangkahkan kaki menuju sungai yang tak jauh dari rumahnya. Biasanya, teman-temannya akan berkumpul di sana. Bersantai sembari menikmati udara pagi yang sejuk. Gemericik air yang mengalir di antara bebatuan, benar-benar membuat suasana pagi di desa itu terasa sangat menenangkan.

Anjani langsung berlari menghampiri Halimah yang sedang bercengkerama dengan teman-teman wanita yang lainnya. “Halimah ...!”

“Anjani ...!” Halimah langsung bangkit dari atas batu yang ia duduki. Ia merentangkan kedua tangan sambil tersenyum lebar. Ia pun ikut berlari dan berpelukan dengan Anjani. Sudah hampir satu minggu mereka tidak bertemu. Sebab, Anjani pergi ke luar desa bersama kedua orang tuanya karena ada urusan keluarga.

“Anjani, aku kangen sama kamu. Gimana liburannya di Malang? Asyik?” tanya Halimah sambil mendekap erat tubuh Anjani dan berlompat kegirangan.

“Asyik, dong. Aku bawain oleh-oleh buat kalian,” sahut Anjani sambil menunjukkan dua paper bag di tangannya yang penuh dengan aneka cemilan khas kota Malang.

“Wah ...! Makasih, Anjani!” seru Ibrahim sambil menyambar paper bag dari tangan Anjani.

“Uch, dasar tukang makan!” celetuk salah satu gadis berkerudung cokelat yang ada di sana.

“Manusia hidup butuh makan,” sahut Ibrahim santai sambil melenggang pergi. Ia langsung menghampiri Agus dan Ihsan untuk menikmati cemilan bersama.

Anjani tersenyum sambil mengulurkan satu paper bag lagi ke hadapan Halimah. “Ini buat kalian, ya! Kue lapis legitnya khusus aku belikan buat Halimah karena dia paling suka itu.”

Halimah tersenyum lebar sambil meraih paper bag dari tangan Anjani. “Makasih banyak, sahabatku tersayang!”

Anjani mengangguk sambil tersenyum.

Halimah dan teman-teman yang lain, langsung berkerumun untuk menikmati cemilan yang dibawa oleh Anjani. Mereka semua terlihat bersemangat menikmati cemilan itu sambil bercengkerama.

Anjani tersenyum kecil. Ia tidak memilih untuk bergabung bersama dengan Halimah, tapi malah menghampiri Ibrahim, Agus dan Ihsan yang duduknya cukup jauh dari geng gadis yang ada di sana.

“Eh, Anjani ...? Makasih banyak makanannya, ya! Enak-enak, loh. Lain kali bawakan makanan kayak gini yang banyak!” ucap Agus begitu ia menyadari Anjani sudah berdiri di dekatnya.

“Gampanglah kalau cuma soal makanan. Aku bisa kasih makanan yang lebih banyak lagi buat kalian, asal kalian mau bantu aku,” ucap Anjani sambil tersenyum menatap wajah teman-temannya.

Ibrahim, Agus dan Ihsan saling pandang bersamaan, kemudian menatap wajah Anjani. “Bantu apa?”

“Aku mau ajak kalian dan Halimah liburan ke kota. Aku akan kasih tahu setelah sampai di sana. Bagaimana?” sahut Anjani sambil tersenyum penuh arti.

“Wah! Serius? Kamu mau ajak kami liburan? Kami nggak bayar ‘kan?”

Anjani menggeleng. “Nggak, dong. Aku yang ajak. Jadi, semuanya aku tanggung. Kalian semua tinggal ikut aja. Gimana? Liburan sekolah tinggal satu minggu lagi, loh.”

“Mau ... mau ... mau ...!” Tiga pria remaja itu terlihat sangat antusias dengan ajakan Anjani.

Anjani langsung tersenyum penuh kemenangan. “Kalian siap-siap, ya! Nanti sore kita berangkat.”

“Siap, Bu Bos!” sahut Ibrahim, Agus dan Ihsan bersamaan.

Anjani segera melangkah meninggalkan tiga pria itu dan bergabung bersama dengan Halimah dan lainnya.

Setelah menghabiskan cemilan yang dibawa Anjani dan posisi matahari yang muncul dari ufuk timur semakin meninggi, semuanya melangkah pulang dari tepi sungai untuk memulai aktivitas keseharian mereka masing-masing.

“Halimah, liburan kenaikan kelas ini kamu nggak ke mana-mana?” tanya Anjani.

Halimah menggeleng. “Aku mau pergi ke mana. Nggak pernah pergi ke mana pun selain kampung sebelah. Bantu Kak Annisa ngurus rumah dan kebun saja,” jawabnya lembut.

“Oh ya? Seminggu ini kamu ada ke kampung sebelah? Ketemu Ustadz Zuhri, dong?” tanya Anjani menggoda.

Halimah menggeleng. “Ustadz Zuhri lagi nggak ada. Katanya lagi pulang sebentar ke rumah orang tuanya.”

“Oh ya?” Anjani langsung tersenyum penuh arti mendengar ucapan Halimah. Sahabatnya itu memang tidak begitu mengetahui siapa Ustadz Zuhri yang sesungguhnya. Pria tampan itu adalah anak dari seorang Kiai di sebuah pesantren di kota Malang. Dia tinggal di desa untuk mengabdi kepada masyarakat, hanya untuk sementara waktu, tidak untuk menetap.

Halimah mengangguk-angguk tak bersemangat. Ia sangat menyukai Ustadz Zuhri dan mengetahui jika pria itu berasal dari kota Malang. Hanya saja, ia tidak pernah tahu pasti di mana pria itu tinggal dan dari keluarga seperti apa. Melihat ilmu agamanya yang sangat baik di usia begitu muda, tentu saja Ustadz Zuhri bukanlah pria yang terlahir di keluarga biasa.

“Oh ya? Kamu liburan ke Malang ‘kan? Kalau nggak salah, Ustadz Zuhri juga berasal dari kota Malang. Apa kamu ketemu beliau selama di sana?” tanya Halimah.

Anjani tertawa kecil mendengar pertanyaan Halimah. Ia tahu, sahabatnya itu pasti akan menanyakan hal ini dan ia sudah siap untuk menjawabnya. “Malang itu luas dan di sana ada ribuan orang, Halimah. Kalau tidak janjian, mana mungkin bisa bertemu dengan Ustadz Zuhri,” jawabnya. Ia tidak mungkin mengatakan pada Halimah jika keluarganya dan keluarga Ustadz Zuhri baru saja bertemu di pesantren milik orang tua Ustadz Zuhri.

“Iya juga, ya?” Halimah manggut-manggut tanda mengerti.

“Aku mau ajak kamu liburan ke kota. Dua hari aja. Gimana?” ucap Anjani sambil menatap serius ke arah Halimah.

“Eh!? Aku mana punya uang buat liburan, An. Apalagi ke kota,” jawab Halimah.

“Gampang. Aku yang traktir semuanya.”

“Beneran!?”

Anjani mengangguk. “Beneran, dong. Masa Anjani bohong, sih.”

“Mmh, aku izin ke Kak Annisa dulu, deh. Semoga dia bolehkan aku pergi liburan ke kota.”

“Pasti boleh dong kalau sama aku,” ucap Anjani. “Kita ke kota Malang. Siapa tahu bisa ketemu Ustadz Zuhri di sana. Dia nggak ninggalin pesan apa pun untuk kamu?”

Halimah menggeleng. “Terakhir hanya bilang kalau dia harus pulang ke rumah karena permintaan kedua orang tuanya.”

“Oh.” Anjani manggut-manggut. Ia merasa sangat senang karena Ustadz Zuhri saling manjaga jarak meski mereka berdua saling menyukai. “Oh, ya. Bukankah Ustadz Zuhri pernah bilang mau mengkhitbah-mu kalau sudah bisa nada tilawah dengan baik?”

Halimah mengangguk sambil tersenyum.

“Kok, dia belum datang ke rumahmu untuk melamar?” tanya Anjani lagi.

“Mmh ... aku sudah bicara dengan Ustadz Zuhri dan beliau sepakat untuk mengkhitbahku setelah aku lulus SMA. Aku harus selesaikan sekolahku dulu, An,” jawab Halimah sambil tersenyum manis. Ia sangat menyukai Ustadz Zuhri dan berharap pria itu bisa menikahinya setelah ia lulus dari sekolah. Ia ingin terus berada di sisi Ustadz Zuhri, dalam keadaan apa pun itu.

“Masih lama, dong? Kita baru naik ke kelas tiga. Masih satu tahun lagi?” tanya Anjani.

Halimah mengangguk. “Satu tahun waktu yang sebentar. Pasti nggak bakal terasa kalau dinikmati, hehehe.”

“Iya juga, sih.” Anjani tersenyum sambil merangkul lengan Halimah. “Semoga Ustadz Zuhri bisa menikahi kamu secepatnya. Kamu jangan mengecewakan dia, Halimah. Ustadz Zuhri pria baik-baik dan kamu harus menjaga kesucianmu. Kalau kamu ternodai sama pria lain, Ustadz Zuhri pasti tidak mau melihatmu lagi.”

Halimah mengangguk. “Aku tahu, Anjani. Aku pasti menjaga kesucianku dengan baik demi Ustadz Zuhri.”

“Cinta sama Ustadz Zuhri karena Allah atau karena dia ganteng banget?” tanya Anjani.

“Pertama karena dia pria yang pandai ibadah, kedua karena dia baik hati. Kalau wajah tampan, itu bonus,” jawab Halimah.

Anjani langsung mencebik ke arah Halimah. “Kamu secantik ini, mana mungkin mau menikah sama pria yang biasa-biasa kayak Ibrahim atau Agus itu. Udah hitam, dekil, miskin pula.”

“Hush! Anjani nggak boleh bicara seperti itu!” sahut Halimah. “Agus dan Ibrahim baik, kok.”

“Kalau salah satu dari mereka yang ngelamar kamu, kamu mau?” tanya Anjani.

“Kalau sudah jalan jodoh dari Allah seperti itu, aku pasti menerimanya, Anjani.”

Anjani menghela napas. “Kamu mah gitu. Mau sama semua cowok.”

“Astagfirullah ... itu fitnah, Anjani.”

“Hehehe. Bercanda,” sahut Anjani sambil cengengesan. “Hari ini kamu siap-siap, ya! Ntar sore kita berangkat ke kota. OK?”

Halimah mengangguk. “Kamu bantu aku izin sama Kak Annisa, ya!”

“Siap, Juragan!” sahut Anjani sambil memberi hormat ke arah Halimah.

“Juragan apaan? Yang asli juragan itu kamu. Aku cuma rakyat jelata dan buruh di kebun aja, An,” ucap Halimah lembut sambil geleng-geleng kepala.

“Ucapan itu doa. Amiinin, dong!” pinta Anjani.

“Aamiin Ya Rabb.” Halimah menengadahkan kedua tangan sambil menatap langit luas di atasnya. Ia dan Anjani segera pulang ke rumah untuk beraktivitas seperti biasa dan meminta izin agar mereka bisa pergi berlibur ke kota bersama.

 

 

[[Bersambung ...]]


Baca cerita asli "Assalamualaikum, Ya Habib!" di aplikasi Fizzo, ya!



Teirma kasih sudah dukung author terus...



Much Love,

@vellanine.tjahjadi

Saturday, October 1, 2022

Extra Part 03 - I Lost You, Ustadz [Prekuel Assalamualaikum, Ya Habib]

 BAB 3

OBSESI ANJANI



Anjani mondar-mandir di dalam kamar berkali-kali sambil sesekali menggigit jemari kukunya. Kalimat Ustadz Zuhri yang berniat untuk mengkhitbah Halimah, terus terngiang-ngiang di telinganya.

“Kalau Ustadz Zuhri beneran mau khotbah Halimah, itu artinya Halimah bakal jadi calon istrinya di masa depan? Kok bisa Ustadz Zuhri mau lamar dia? Kita masih sekolah. Emang Halimah mau nikah muda?” gumam Anjani.

“Halimah nggak mungkin menolak Ustadz Zuhri. Apalagi dia udah mau tujuh belas tahun. Sudah boleh untuk menikah. Apa Ustadz Zuhri bakal langsung menikahi Halimah atau menunggu dia lulus sekolah dulu, ya?”

“Aargh ...! Nggak peduli bakal nunggu atau langsung menikah. Intinya, kalau Ustadz Zuhri beneran ngelamar Halimah, mereka bakal tetap jadi suami istri,” ucap Anjani.

“Nggak boleh! Ini nggak boleh terjadi. Yang kenal sama Ustadz Zuhri itu aku duluan. Harusnya Ustadz Zuhri sukanya sama aku! Kenapa malah sama Halimah. Kesel banget sama Halimah. Caper banget di depan Ustadz Zuhri,” cerocos Anjani. Ia sibuk berdialog dengan dirinya sendiri.

Anjani menatap wajahnya di cermin. “Aku sama Halimah masih cantikan mana? Cantik aku ‘kan?” tanyanya pada bayangannya sendiri. “Abi aku juga guru Agama dan Ummi guru ngaji. Keluargaku juga keluarga yang agamanya baik. Kenapa Ustadz Zuhri malah pilih Halimah yang nggak punya orang tua dan kakaknya juga nggak alim. Kak Annisa, ke mana-mana nggak pernah pake hijab.”

“Anjani ... kamu nggak boleh kalah dari Halimah. Kamu harus bisa dapetin Ustadz Zuhri sebelum dia kembali ke kampungnya karena masa pengabdiannya selesai. Ayahnya Ustadz Zuhri itu Kiai dan punya pesantren. Kalau aku menikah dengan dia, masa depanku akan cerah,” ucapnya. Ia menegakkan tubuhnya dan tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Ia akan melakukan apa pun untuk membuat Ustadz Zuhri menjadi suaminya.

Anjani melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Ia langsung menghampiri ayahnya yang sedang bersantai sambil menonton televisi. “Abi ...!” panggilnya manja.

“Ada apa?”

“Anjani boleh minta sesuatu?” tanyanya sambil bergelayut manja di pundak ayahnya.

“Apa?”

“Anjani pengen menikah.”

“APA!? Kamu masih sekolah, sudah pengen nikah?” tanya Ayah Anjani sambil memperhatikan wajah puterinya. Matanya langsung berpindah ke bagian perut puterinya. “Kamu hamil?”

“Astagfirullah, Abi! Kenapa Abi berprasangka seburuk itu? Anjani masih suci, Bi. Mana mungkin Anjani hamil.”

“Terus, kenapa minta nikah?”

“Sebentar lagi lulus sekolah, Abi. Anjani pengen nikah aja. Soalnya, Anjani suka sama seseorang dan ingin menghindari zina dengan menikah. Boleh ya, Bi!”

Ayah Anjani menghela napas. “Kamu mau menikah dengan siapa? Anak-anak di kampung ini tidak ada yang masa depannya bagus. Mereka Cuma lulusan SMA. Paling-paling kerja di kebun setiap hari. Kamu mau punya suami begitu?”

Anjani menggeleng. “Nggak mau, Abi. Makanya aku mau dinikahkan dengan Ustadz Zuhri. Dia masih muda, tampan dan pandai agama.”

“Astagfirullah, Anjani! Kamu ini jangan sembarangan bicara! Ustadz Zuhri yang di kampung sebelah itu? Apa dia mau punya istri sepertimu? Dia hanya bertugas sementara saja di desa itu. Tidak akan lama tinggal di sana.”

“Anjani akan ikut ke manapun Ustadz Zuhri pergi jika Abi mau melamar kan Ustadz Zuhri jadi suamiku.”

“Astagfirullah ...! Harusnya kamu yang dilamar. Bukan melamar, Anjani!”

“Buat Ustadz Zuhri melamarku, Abi!”

“Gimana caranya? Kamu ingin menurunkan martabat Abi di depan semua orang?”

“Abi kenal dengan orang tua Ustadz Zuhri ‘kan?”

“Iya, kenal. Tapi tidak begitu dekat.”

“Minta orang tuanya untuk menjodohkan aku dan Ustadz Zuhri, Abi.”

Ayah Anjani terdiam sambil berpikir selama beberapa saat.

“Abi ... Anjani cuma mau menikah sama Ustadz Zuhri seumur hidup. Kalau tidak menikah dengan dia, Anjani tidak akan menikah seumur hidup!” ancamnya sambil bangkit dari sofa saat ayahnya tak kunjung memberikan keputusan. Ia langsung melangkah kasar menuju kamar.

“Kamu jangan marah-marah dulu! Abi akan usahakan. Tapi tidak janji. Semoga Ustadz Zuhri juga bersedia menikahimu.”

Anjani langsung tersenyum lebar mendengar ucapan ayahnya. “Terima kasih, Abi ...!” Ia berlari ke arah ayahnya dan memeluk tubuh pria itu sambil tersenyum ceria. Ia sudah mendapatkan akses untuk membuat ikatan dengan Ustadz Zuhri. Ia hanya butuh usaha lagi untuk membuat Ustadz Zuhri menyukainya. Ia harus bisa menggagalkan Ustadz Zuhri untuk mengkhitbah Halimah agar ia menjadi pemilik satu-satunya pria tampan nan sholeh tersebut.

 

[[Bersambung ...]]

 

Terima kasih buat kalian yang udah mau nunggu cerita ini!

Cerita ini adalah Prequel “Assalamualikum, Ya Habib!” yang ada di aplikasi Fizzo.

Jadi, kalau mau tahu kenapa ada cerita ini, baca dulu novel sebelumnya, ya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 



Friday, September 16, 2022

Bingungnya Jadi Janda



Hai ... Hai ...!

SELAMAT DATANG DI SESI CURHAT‼️

Seperti biasa, kali ini aku mu curhat tentang kehidupan aku.
Tulisan ini nggak terlalu penting dan receh banget. Tapi aku harap, ada secuil hikmah yang bisa kalian ambil dari pengalaman hidupku.

Ya, sesuai judul tulisanku kali ini ... aku lagi bingung banget saat aku tiba-tiba jadi janda.
Eh, nggak tiba-tiba juga, sih. Karena sebenarnya aku udah mendapat gelar sebagai janda sudah 10 bulan lalu.
10 bulan itu waktu yang sebentar atau lama, sih? 
Sebentar lah ya ... masih lama 10 tahun. Hehehe

Apa sih yang always aku bingungin saat ini?
Ya statusku inilah... Karena aku harus survive dan struggle sebagai ibu dari dua orang anak dan juga tulang punggung keluarga.
Sebenarnya, aku udah biasa jadi tulang punggung keluarga yang juga harus berbagi waktu buat ngurus rumah dan anak-anakku. Aku nggak pernah keberatan dan fine-fine aja gitu.

Tapi akhir-akhir ini ...
Aku agak bingung karena aku mulai keteteran buat cover kerjaan rumah dan cari nafkah sekaligus. Apalagi kerjaanku serabutan banget. Mengandalkan uang dari menjahit untuk kehidupan sehari-hari, masih jauh dari cukup karena yang datang jahitkan pakaian juga nggak banyak dan nggak setiap hari ada.
So, aku always cari sampingan lain. Artinya, aku memang punya second income dan third income supaya aku bisa bertahan hidup dan mempertahankan hidup anak-anakku.

Capek? Banget.
Dan yang bikin aku lebih capek lagi adalah dengerin keluhan dari orang yang paling Deket sama aku. Yaitu nenekku.
Maybe, karena suaminya udah meninggal setahun lalu dan ngerasa kesepian, dia jadi lebih bawel dari sebelumnya. Maunya dia tuh, aku pegang kerjaan rumah terus. Harus nyuci baju, nyuci piring dan beres-beres tepat waktu. Sementara, aku sering keteteran sama kerjaan yang tiba-tiba. Yah, namanya kerja serabutan, waktunya nggak bisa ditentukan dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore kayak orang kerja kantoran.
Alhasil, aku malah makin nggak konsen sama kerjaanku sendiri. Karena yang menurut aku prioritas (nyari nafkah buat keluarga) malah jadi sampingan. Karena aku harus mendahulukan ngurus rumah yang nggak menghasilkan apa-apa dan bikin aku kehilangan banyak job.

Aku udah berusaha keras buat beresin rumah. Meski nggak rapi-rapi banget karena aku emang nggak berbakat rapi-rapi rumah. Setidaknya, aku kelihatan kerja di depan nenekku biar dia nggak mengomel terus. Karena kalau aku lagi nulis novel di handphone, dia anggap aku cuma mainan doang. Alhasil, dia bakal ganggu aku dengan berbagai cara, hahaha.

Kalau menurut kalian, aku harus gimana ya?
Kalau pakai jasa ART, jelas aku belum mampu melakukannya karena income aku nggak nentu. Apalagi kalau yang baca tulisanku sepi. Makin sulitlah hidupku ini.

Jadi, buat kalian rumah berantakan itu wajar atau nggak sih buat aku yang harus hidup survive dan struggle buat anak-anakku?


Kasih pendapat kalian, dong!
Biar aku bisa lebih semangat menjalani hidup karena aku masih punya kalian yang nggak pernah lelah menemani aku bercerita tentang banyak hal di sekitarku. 
Entah itu aku kemas dalam bentuk fiksi maupun non-fiksi...


Much Love,
@rin.muna


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas