Friday, September 16, 2022

Bingungnya Jadi Janda



Hai ... Hai ...!

SELAMAT DATANG DI SESI CURHAT‼️

Seperti biasa, kali ini aku mu curhat tentang kehidupan aku.
Tulisan ini nggak terlalu penting dan receh banget. Tapi aku harap, ada secuil hikmah yang bisa kalian ambil dari pengalaman hidupku.

Ya, sesuai judul tulisanku kali ini ... aku lagi bingung banget saat aku tiba-tiba jadi janda.
Eh, nggak tiba-tiba juga, sih. Karena sebenarnya aku udah mendapat gelar sebagai janda sudah 10 bulan lalu.
10 bulan itu waktu yang sebentar atau lama, sih? 
Sebentar lah ya ... masih lama 10 tahun. Hehehe

Apa sih yang always aku bingungin saat ini?
Ya statusku inilah... Karena aku harus survive dan struggle sebagai ibu dari dua orang anak dan juga tulang punggung keluarga.
Sebenarnya, aku udah biasa jadi tulang punggung keluarga yang juga harus berbagi waktu buat ngurus rumah dan anak-anakku. Aku nggak pernah keberatan dan fine-fine aja gitu.

Tapi akhir-akhir ini ...
Aku agak bingung karena aku mulai keteteran buat cover kerjaan rumah dan cari nafkah sekaligus. Apalagi kerjaanku serabutan banget. Mengandalkan uang dari menjahit untuk kehidupan sehari-hari, masih jauh dari cukup karena yang datang jahitkan pakaian juga nggak banyak dan nggak setiap hari ada.
So, aku always cari sampingan lain. Artinya, aku memang punya second income dan third income supaya aku bisa bertahan hidup dan mempertahankan hidup anak-anakku.

Capek? Banget.
Dan yang bikin aku lebih capek lagi adalah dengerin keluhan dari orang yang paling Deket sama aku. Yaitu nenekku.
Maybe, karena suaminya udah meninggal setahun lalu dan ngerasa kesepian, dia jadi lebih bawel dari sebelumnya. Maunya dia tuh, aku pegang kerjaan rumah terus. Harus nyuci baju, nyuci piring dan beres-beres tepat waktu. Sementara, aku sering keteteran sama kerjaan yang tiba-tiba. Yah, namanya kerja serabutan, waktunya nggak bisa ditentukan dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore kayak orang kerja kantoran.
Alhasil, aku malah makin nggak konsen sama kerjaanku sendiri. Karena yang menurut aku prioritas (nyari nafkah buat keluarga) malah jadi sampingan. Karena aku harus mendahulukan ngurus rumah yang nggak menghasilkan apa-apa dan bikin aku kehilangan banyak job.

Aku udah berusaha keras buat beresin rumah. Meski nggak rapi-rapi banget karena aku emang nggak berbakat rapi-rapi rumah. Setidaknya, aku kelihatan kerja di depan nenekku biar dia nggak mengomel terus. Karena kalau aku lagi nulis novel di handphone, dia anggap aku cuma mainan doang. Alhasil, dia bakal ganggu aku dengan berbagai cara, hahaha.

Kalau menurut kalian, aku harus gimana ya?
Kalau pakai jasa ART, jelas aku belum mampu melakukannya karena income aku nggak nentu. Apalagi kalau yang baca tulisanku sepi. Makin sulitlah hidupku ini.

Jadi, buat kalian rumah berantakan itu wajar atau nggak sih buat aku yang harus hidup survive dan struggle buat anak-anakku?


Kasih pendapat kalian, dong!
Biar aku bisa lebih semangat menjalani hidup karena aku masih punya kalian yang nggak pernah lelah menemani aku bercerita tentang banyak hal di sekitarku. 
Entah itu aku kemas dalam bentuk fiksi maupun non-fiksi...


Much Love,
@rin.muna


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas