Tuesday, February 24, 2026

Perfect Hero Bab 466 : Kebaikan Hati si Kriting

 


“Mbak ...!” panggil si Keriting saat melihat wajah Yuna yang semakin pucat.

 

Yuna membuka matanya perlahan. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Ia hanya bisa melihat samar-samar pria berambut keriting yang ada di hadapannya.

 

“Mbak, minum dulu!” pinta si Keriting sambil menyodorkan air minum ke arah Yuna. Ia membantu Yuna minum dari sedotan.

 

Yuna tersenyum saat ia sudah selesai meminum minuman yang diberikan pria berambut keriting tersebut. “Makasih ...!” ucapnya lirih.

 

Pria keriting itu mengeluarkan pisau dari tangannya.

 

Seketika, jantung Yuna berdegup kencang saat melihat pisau yang ada di tangan pria itu. Di saat yang bersamaan, ia merasakan perutnya kedutan. Ia langsung menatap perutnya yang terlihat buncit. “Dedek ...!” panggilnya lirih.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia mengumpulkan tenaga dan semangat dalam dirinya untuk tetap bertahan hidup demi anak yang ada di dalam kandungannya. Ia percaya, Yeriko pasti akan menolong dirinya. “Dek, Ayah pasti nolongin kita. Dedek harus tetap semangat ya! Bunda akan bertahan. Ayah kamu pasti bahagia bisa lihat kamu sudah bergerak di perut Bunda,” bisik Yuna dalam hati sambil menitikan air mata.

 

Yuna menatap pria berambut keriting itu dengan perasaan tak karuan. Ia mulai ketakutan saat pria yang ia pikir baik itu malah mengeluarkan pisau di hadapannya.

 

“Mbak, makan ini dulu ya! Mumpung si Bos lagi nggak ada.” Pria berambut keriting itu mengeluarkan buah pir dari kantong plastik yang ada di depan kakinya. Ia memotong buah pir tersebut dan menyuapkan ke mulut Yuna.

 

“Mbak harus kuat supaya bisa kabur dari tempat ini!” tutur si Keriting sambil terus menyuapi potongan buah ke mulut Yuna. “Mbak Repi itu sudah gila. Kami nggak mau membunuh siapa pun. Mbak harus bisa keluar dari sini secepatnya! Siapin energi yang banyak ya!”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia menatap pria muda yang penampilannya sangat kumuh, tapi memiliki hati yang baik. “Kenapa kamu mau nolongin saya?” tanyanya lirih.

 

Si Keriting tersenyum menatap Yuna. “Mbak, jadi orang baik itu susah. Saya tahu, Mbak adalah orang yang baik. Di dunia ini, harus ada orang baik yang melahirkan anak-anak yang baik juga. Supaya orang-orang jahat seperti kami, bisa berjalan ke tempat-tempat yang baik bersama orang yang baik juga.”

 

“Masnya juga orang baik. Pasti akan menemukan kehidupan yang baik di masa depan,” tutur Yuna sambil tersenyum.

 

“Jadi orang baik itu susah, Mbak. Makanya, nggak semua orang di dunia ini bisa jadi baik. Saya mah, tergantung keadaan. Saya bukan orang baik. Tapi saya masih punya Tuhan. Saya nggak mau membuat orang lain terbunuh.”

 

Yuna kembali tersenyum. “Makasih, kamu sudah bantu saya. Kalau nggak ada kamu ... mungkin saya sudah mati lebih cepat.”

 

“Nggak papa, Mbak. Saya mana tega lihat wanita hamil disiksa seperti ini. Ini pisaunya Mbak simpan. Gunakan dengan baik!” tutur pria berambut keriting tersebut sambil meletakkan pisau buah itu ke telapak tangan Yuna.

 

Yuna menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. “Makasih, Mas! Saya nggak akan ngelupakan kebaikan Mas ini.”

 

“Nggak usah dibahas lagi, Mbak! Saya harap, setelah ini kita nggak pernah ketemu lagi.” Pria itu bangkit dari lantai karena pintu gudang tersebut tiba-tiba terbuka. Ia langsung menghampiri si Gundul dan bersikap seolah tidak melakukan apa pun. Ia berpura-pura menenggak bir yang ada di atas meja.

 

Yuna menyandarkan kepala ke tiang yang ada di belakangnya. Ia menggenggam erat pisau yang ada di belakang tubuhnya dan pura-pura tertidur.

 

“Gimana? Aman?” tanya pria bertato yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.

 

“Aman, Bos!”

 

“Bagus!” sahut si Bos sambil memerhatikan wajah Yuna. “Dia nggak kenapa-kenapa ‘kan?”

 

“Nggak papa, Bos. Cuma lemes aja. Mungkin karena nggak dikasih makan dan dia lagi hamil.”

 

“Ck, kasihan juga. Tapi mau gimana lagi. Kita butuh duit,” ucap pria bertato tersebut sambil menyalakan rokoknya.

 

“Tapi, Bos. Perjanjian awal, kita cuma nyulik doang. Bukan bunuh orang,” tutur si Gundul.

 

“Kata siapa kita bunuh orang?”

 

“Perempuan itu udah lemes banget karena kita nggak kasih makan. Kalau dia mati gimana?” tanya si Keriting.

 

“Jangan sampai mati, goblok! Kasih aja dia makan, sedikit. Yang penting, nggak ketahuan Mbak Refi.”

 

“Dianya nggak mau makan, Bos,” sahut si Keriting. Ia mengerdipkan mata ke arah si Gundul.

 

“Iya, Bos. Dia nggak mau makan dan minum. Kalau gini terus, dia bisa mati kelaparan.” Si Gundul menambahkan.

 

“Ck, gimana ini? Kita cuma nyulik, jangan sampai ada yang mati. Aku emang preman, tapi aku nggak pernah bunuh orang.” Si Bos bertato itu mulai uring-uringan. “Mbak Refi mau kirim orang lagi ke sini. Setelah mereka datang, tugas kita selesai.”

 

“Siapa, Bos?”

 

“Aku nggak tahu.”

 

Si Gundul dan Si Keriting saling pandang. Mereka melihat Yuna yang masih terikat di sana. Mereka justru tidak tega meninggalkan Yuna begitu saja. Bisa saja, orang lain yang menggantikan mereka justru akan membuat Yuna terbunuh.

 

“Bos, sambil nunggu pengganti kita datang ... gimana kalau kita minum dulu untuk merayakan kebebasan kita?” tutur si Keriting sambil mengeluarkan botol-botol bir dari kotak yang ada di bawah meja.

 

“Bener juga,” sahut si Bos. Ia mengeluarkan beberapa gepok uang dari dalam saku jaketnya. “Ini bagian buat kalian berdua,” lanjutnya sambil meletakkan uang-uang tersebut ke atas meja.

 

“Wah ... thank you, Bos! Akhirnya, dapet juga duitnya,” tutur si Gundul sambil mengecup uang yang ada di tangannya.

 

Si Keriting juga langsung memasukkan uang tersebut ke dalam saku jaketnya. “Bos, kita rayakan dulu malam ini. Bos kan dapet bagian paling banyak, harus banyak minum juga,” tuturnya sambil membukakan botol bir untuk bosnya.

 

Pria bertato itu tertawa bahagia. Ia langsung menenggak minuman yang diberikan oleh si Keriting.

 

Si Gundul dan si Keriting tersenyum puas. Mereka saling memberi isyarat agar bisa membuat bosnya itu mabuk dan lengah, sehingga wanita yang mereka sandera bisa melarikan diri dengan mudah.

 

“Minum lagi, Bos!” seru si Keriting saat bosnya sudah menghabiskan tiga botol bir.

 

Si Bos mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menenggak semua minuman yang sengaja disiapkan oleh si Gundul dan si Keriting.

 

Pria bertato itu langsung menjatuhkan kepalanya ke kursi begitu ia sudah berada di bawah pengaruh alkohol. Ia terus meracau, tapi dua anak buah amatirannya itu tak menghiraukan ucapan bosnya.

 

“Jagain si Bos, Ndul!” bisik si Keriting. Ia melangkah menghampiri Yuna.

 

“Mbak ...!” panggil si Keriting lirih.

 

Yuna langsung membuka matanya perlahan tanpa mengubah posisi tubuhnya sedikit pun.

 

“Si Bos udah mabuk. Mbak bisa keluar sekarang,” tutur si Keriting berbisik.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia berusaha menyayat tali yang mengikat tangannya. “Aw ...!” rintihnya lirih karena mata pisau tersebut mengenai lengan tangannya sendiri.

 

“Sini, aku bantu, Mbak!” tutur si Keriting. “Si Bos udah mabuk. Mbak harus bisa keluar dari secepatnya sebelum orang-orang baru suruhan Mbak Repi datang ke sini.”

 

Yuna mengangguk. “Makasih banyak ya, Mas!”

 

“Jangan sampai ketahuan sama si Bos ya! Aku sama si Gundul harus pura-pura mabuk supaya Bos nggak curiga.”

 

Yuna mengangguk tanda mengerti. Ia melepaskan tali yang mengikat di pergelangan kakinya.

 

“Mbak, aku cuma bisa bantu sampai di sini. Kalau orang-orang Mbak Refi keburu datang, mereka pasti akan mencari keberadaan Mbak Yuna. Untuk sementara, jangan ke jalanan. Sembunyi di pohon atau semak tepi jalan sampai matahari terbit. Ini senter kecil untuk membantu penerangan, semoga bermanfaat,” tutur si Keriting sambil mengalungkan senter kecil ke leher Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia beruntung karena bertemu dengan penjahat yang baik hati dan tidak berpengalaman itu.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Kasih support untuk Mr. And Ms. Ye ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Cara Membangun Plot Twist



Plot twist itu seperti tamu tak diundang yang datang di tengah malam—kita kaget, tapi justru di situlah degup cerita terasa hidup. Coba bayangkan bagaimana J.K. Rowling menyembunyikan identitas Snape sejak awal seri Harry Potter. Atau bagaimana Agatha Christie mempermainkan logika kita dalam And Then There Were None. Kita tidak sedang dibohongi. Kita sedang “dipersiapkan” untuk terkejut.

Nah, kalau kamu ingin membangun plot twist yang bikin pembaca menepuk jidat sambil berbisik, “Ya ampun, kok aku nggak sadar dari tadi?” — yuk kita bahas pelan-pelan. Santai saja. Kita ngopi dulu. ☕


1. Bangun Petunjuk

Plot twist yang bagus itu bukan sulap murahan. Bukan tiba-tiba tokoh mati tanpa alasan, bukan tiba-tiba ternyata semua cuma mimpi. Itu namanya menjebak pembaca, bukan mengejutkan mereka.

Petunjuk itu seperti remah roti di hutan. Kecil. Hampir tak terlihat. Tapi ada.

Misalnya:

  • Dialog yang terdengar biasa, tapi menyimpan makna ganda.

  • Detail kecil yang seolah tidak penting.

  • Sikap tokoh yang sedikit “off” dari biasanya.

Petunjuk harus ada sejak awal. Disisipkan halus. Jangan disorot pakai stabilo. Pembaca cerdas, mereka akan menangkapnya—meski mungkin baru sadar setelah halaman terakhir.

Tanya ke diri sendiri:

Kalau twist ini dibongkar ulang dari awal cerita, apakah jejaknya sudah ada?

Kalau belum? Berarti kamu perlu menanam benihnya lebih dini.


2. Patahkan Ekspektasi Pembaca

Ini bagian serunya.

Pembaca itu makhluk penuh asumsi. Mereka suka menebak. Mereka merasa sudah tahu arahnya. Nah, tugas kita bukan memusuhi mereka. Tapi… menggiring mereka.

Caranya?

Bangun ekspektasi yang “masuk akal”. Biarkan mereka percaya bahwa tokoh A adalah pahlawan. Biarkan mereka yakin bahwa tokoh B adalah pengkhianat. Buat semuanya tampak logis.

Lalu… balikkan.

Contohnya, dalam The Sixth Sense karya M. Night Shyamalan. Kita mengikuti cerita dengan keyakinan penuh bahwa tokoh utamanya hidup seperti biasa. Semua adegan mendukung asumsi itu. Sampai akhirnya… boom. Kita sadar bahwa kita selama ini melihat dari sudut yang salah.

Twist bukan tentang “apa yang tidak kita ketahui”.
Twist adalah tentang “apa yang kita yakini, tapi ternyata keliru”.

Dan itu jauh lebih menyakitkan. Sekaligus memuaskan.


3. Ditunjukkan, Jangan Dinarasikan

Ini penting. Sangat penting.

Jangan tulis:

“Ternyata dia selama ini berbohong.”

Itu narasi. Itu laporan. Itu seperti kamu membacakan berita.

Sebaliknya, tunjukkan lewat:

  • Tatapan mata yang tak berani menatap lurus.

  • Tangan yang gemetar saat menyebut nama tertentu.

  • Pesan singkat yang terhapus cepat saat tokoh lain masuk ruangan.

Biarkan pembaca menyusun kepingan puzzle sendiri.

Plot twist yang kuat tidak dijelaskan panjang lebar. Ia terlihat. Ia terasa. Ia mengendap.

Pembaca bukan anak kecil yang harus diberi tahu semuanya. Mereka ingin terlibat. Mereka ingin merasa menemukan sendiri rahasianya.

Dan ketika mereka sadar… rasanya jauh lebih dalam.


4. Beri Ruang untuk Pembaca

Ini yang sering dilupakan.

Jangan terlalu sibuk menjelaskan twist sampai semua celah tertutup rapat. Sisakan sedikit ruang. Sedikit jeda. Sedikit kemungkinan.

Kenapa?

Karena pembaca suka berdiskusi. Suka berteori. Suka membayangkan “bagaimana jika”.

Coba lihat bagaimana Inception karya Christopher Nolan menutup ceritanya. Gasing itu jatuh atau tidak? Kita tidak pernah benar-benar diberi jawaban mutlak. Dan justru karena itu, filmnya hidup bertahun-tahun dalam percakapan.

Ruang membuat cerita bernapas.

Kalau semua dijelaskan sampai ke tulang-tulangnya, pembaca tidak punya tempat untuk tinggal di dalam cerita itu.


Jadi, Plot Twist Itu Apa Sih?

Plot twist bukan sekadar kejutan.
Ia adalah hasil dari perencanaan.
Ia adalah permainan psikologi halus antara penulis dan pembaca.

Kita tidak sedang menipu mereka. Kita sedang mengajak mereka percaya… sebelum akhirnya memutar arah.

Sekarang aku mau tanya kamu.

Di cerita yang sedang kamu tulis—apakah twist-mu sudah punya jejak?
Atau masih berupa “kejutan dadakan” yang belum ditanam akarnya?

Coba buka lagi naskahmu.
Cari detail kecil yang bisa kamu tanam hari ini.

Karena twist terbaik bukan yang membuat pembaca berkata,
“Ah, ini tidak masuk akal.”

Tapi yang membuat mereka berbisik pelan,
“Seharusnya aku tahu dari awal…”

Dan di situlah, sebagai penulis, kita tersenyum diam-diam.


Sunday, February 22, 2026

Menulis Seperti J.K. Rowling: Tentang Bertahan, Bukan Sekadar Terkenal



Menulis Seperti J.K. Rowling: Tentang Bertahan, Bukan Sekadar Terkenal

Ada satu hal yang sering kita lupa saat menyebut nama J.K. Rowling. Kita selalu ingat suksesnya. Jarang mengingat sepinya.

Kita hafal dunia sihir dalam Harry Potter—Hogwarts, tongkat sihir, Patronus, dan segala mantra yang terasa begitu nyata. Tapi sebelum dunia itu jadi rumah bagi jutaan pembaca, ia lebih dulu menjadi tempat pelarian seorang ibu muda yang hidupnya sedang tidak baik-baik saja.

Dan dari situlah pelajaran menulis itu sebenarnya dimulai.


1. Tulis dari Luka, Bukan dari Tren

Rowling tidak duduk dan berpikir, “Pasar lagi suka cerita sihir.”
Tidak.

Ia menulis karena cerita itu hidup di kepalanya. Karena ia butuh sesuatu untuk bertahan.

Kadang kita terlalu sibuk bertanya, “Ini laku nggak ya?”
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: “Ini jujur nggak ya?”

Menulis ala Rowling bukan tentang mengikuti tren. Tapi tentang setia pada cerita yang membuatmu merasa pulang.


2. Dunia yang Kuat Lahir dari Imajinasi yang Dirawat

Yang membuat Harry Potter terasa nyata bukan hanya konfliknya, tapi detailnya. Ada sejarah, ada aturan, ada konsekuensi. Dunia sihirnya bukan tempelan. Ia dibangun seperti fondasi rumah.

Artinya apa?

Kalau kamu sedang menulis, jangan malas mencatat.
Buat timeline.
Buat latar belakang tokoh.
Tentukan aturan dunia ceritamu.

Karena pembaca bisa membedakan mana dunia yang “dibuat”, dan mana dunia yang “dihuni”.


3. Punya Peta, Tapi Tetap Fleksibel

Rowling dikenal sebagai penulis yang rapi membuat outline. Ia sudah tahu akhir cerita jauh sebelum buku terakhir terbit.

Ini penting.

Menulis tanpa arah itu melelahkan. Tapi menulis dengan arah bukan berarti mematikan spontanitas. Peta itu bukan penjara. Ia hanya kompas.

Dan sebagai penulis, kita butuh kompas agar tidak tersesat di bab ke-50 sambil bertanya, “Ini mau ke mana, ya?”

(Relate? 😌)


4. Penolakan Itu Bagian dari Proses, Bukan Vonis

Naskah pertamanya ditolak berkali-kali. Bayangkan kalau ia berhenti di penolakan ke-3.

Mungkin dunia tidak akan pernah mengenal Harry.

Kadang kita berhenti bukan karena tidak mampu, tapi karena terlalu cepat percaya pada penilaian orang lain.

Rowling mengajarkan satu hal sederhana:
Ditolak bukan berarti selesai. Ditolak berarti belum waktunya.


5. Jangan Tunggu Ideal, Mulai Saja Dulu

Ia menulis di kafe. Di sela mengurus anak. Di tengah kondisi finansial yang tidak stabil.

Tidak ada ruang kerja estetik.
Tidak ada laptop mahal.
Tidak ada “mood yang sempurna”.

Yang ada cuma satu: komitmen.

Kita sering menunggu waktu luang. Padahal waktu luang jarang benar-benar datang. Yang ada hanyalah waktu yang kita paksa jadi ada.

Dan di situlah penulis lahir.


6. Biarkan Karaktermu Bertumbuh

Salah satu kekuatan besar Rowling adalah karakter yang berkembang. Mereka tidak selalu benar. Mereka cemburu, salah paham, takut, bahkan egois.

Dan justru itu yang membuat mereka manusia.

Tulisan yang kuat bukan tentang tokoh sempurna. Tapi tentang perjalanan mereka menjadi lebih dewasa.

Karena pembaca tidak jatuh cinta pada kesempurnaan. Mereka jatuh cinta pada proses.


7. Menulis Itu Tentang Ketahanan Mental

Kalau kita mau jujur, menulis bukan pekerjaan glamor.
Ia sunyi.
Ia sering tidak dihargai.
Ia kadang membuat kita meragukan diri sendiri.

Tapi lihat perjalanan Rowling.

Yang membuatnya sampai di titik itu bukan hanya bakat. Tapi daya tahan.

Dan mungkin itu yang paling relevan buat kita hari ini.

Menulis bukan lomba cepat. Ini maraton. Yang bertahan, yang akan sampai.


Cerita Bisa Mengubah Nasib

Ada sesuatu yang indah dari kisah hidup Rowling. Ia menulis bukan karena sudah sukses. Ia menulis saat hidupnya berantakan.

Dan justru dari situ lahir cerita yang mengubah hidupnya.

Jadi kalau hari ini kamu sedang lelah, sedang ragu, sedang merasa tulisanmu tidak cukup bagus…

Ingat ini:

Bisa jadi, cerita yang kamu tulis diam-diam di sudut kamar itu, suatu hari akan menemukan jalannya sendiri.

Karena menulis bukan tentang seberapa cepat kamu dikenal.
Tapi seberapa lama kamu mau bertahan.

Dan itu… sangat khas ala J.K. Rowling.

Thursday, February 19, 2026

Ibadah Yang Kini Terasa Mahal





Ada satu zaman yang pelan-pelan kita hidupi tanpa banyak sadar, zaman ketika manusia begitu sibuk mengejar dunia, sampai lupa bahwa ia sedang dikejar waktu.

Pagi dimulai dengan notifikasi. Siang dipenuhi target. Malam dihabiskan untuk menghitung untung dan rugi. Kita berlari dari satu ambisi ke ambisi lain, seakan hidup adalah perlombaan panjang yang garis akhirnya bisa kita tentukan sendiri.

Padahal sejak awal, garis akhir itu sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa.
Di tengah hiruk-pikuk itu, sholat sering menjadi jeda yang terasa mengganggu. Azan yang dulu terdengar syahdu, kini terdengar seperti pengingat yang datang di saat “tidak tepat”. Rapat belum selesai. Pesanan belum dikirim. Pelanggan belum dibalas. Akhirnya, sholat ditunda. Lalu terlupa. Kemudian tergantikan.

Mengaji lebih sunyi lagi nasibnya. Mushaf tersimpan rapi di rak, bersih dari debu karena jarang disentuh. Huruf-huruf suci itu menunggu untuk dibaca, tetapi tangan kita lebih sibuk menggulir layar. Ironisnya, kita bisa menghabiskan berjam-jam membaca kabar dunia, namun merasa berat membuka satu halaman Al-Qur’an.

Kita sering mengira ibadah adalah perkara waktu luang. Padahal ibadah justru penopang waktu itu sendiri.

Hari ini, sholat dan mengaji menjadi sesuatu yang terasa eksklusif. Bukan karena sulit dipelajari. Bukan karena mahal secara materi. Tetapi karena hati yang tenang untuk melakukannya semakin jarang dimiliki. 
Banyak orang punya uang berlimpah, rumah luas, kendaraan mewah, tetapi tidak punya kekhusyukan. Mereka bisa membeli jam tangan mahal, tetapi tidak bisa membeli ketenangan saat bersujud. Mereka bisa membayar guru terbaik untuk anaknya, tetapi tidak mampu memaksa dirinya duduk lima belas menit untuk mengaji.

Di situlah ibadah menjadi “mahal”.
Mahal bukan dalam rupiah, melainkan dalam kesiapan hati. Mahal dalam kesediaan menunda urusan dunia. Mahal dalam keberanian mengatakan, “Cukup dulu. Sekarang waktunya menghadap Allah.”

Kita hidup di era yang memuja produktivitas. Segala sesuatu diukur dari hasil. Berapa pemasukan hari ini? Berapa pertumbuhan bisnis bulan ini? Berapa capaian tahun ini? Namun jarang kita bertanya, "sudah berapa kali kita benar-benar khusyuk dalam sholat minggu ini? Sudah berapa ayat yang kita pahami maknanya bulan ini?"

Kesibukan bukanlah dosa. Bekerja bukanlah kesalahan. Bahkan dalam ajaran Islam, bekerja adalah bagian dari ibadah. Tetapi ketika pekerjaan membuat kita menunda sholat dengan sengaja, ketika lelah dunia membuat kita tak lagi punya tenaga untuk mengaji, di situlah keseimbangan mulai retak.

Sering kali kita berdalih, “Nanti kalau sudah mapan, saya akan lebih rajin ibadah.” Padahal sejarah menunjukkan, tidak semua orang yang mapan menjadi lebih taat. Banyak yang justru semakin jauh, karena merasa telah cukup dengan apa yang dimiliki. Kekayaan memberi rasa aman palsu—seakan hidup bisa dikendalikan sepenuhnya oleh usaha manusia.

Padahal satu sakit saja bisa meruntuhkan semuanya. Satu musibah bisa menghentikan seluruh rencana.
Sholat adalah pengakuan bahwa kita lemah. Mengaji adalah pengingat bahwa kita butuh petunjuk. Dan dunia tidak pernah menyukai manusia yang mengakui kelemahannya, karena dunia dibangun di atas citra kekuatan dan keberhasilan.

Maka tak heran jika menjaga sholat lima waktu terasa seperti perjuangan pribadi. Menjaga konsistensi mengaji terasa seperti mendaki bukit sunyi. Butuh disiplin. Butuh kesadaran. Butuh cinta.
Dan cinta tidak tumbuh dari kesibukan yang tak pernah jeda.

Barangkali yang perlu kita tanyakan bukanlah, “Mengapa saya tidak punya waktu untuk ibadah?” tetapi “Untuk apa sebenarnya semua kesibukan ini?” Jika seluruh lelah hanya berujung pada angka di rekening, tetapi hati terasa kosong, maka ada yang salah dengan arah perjalanan.

Kita sering takut miskin harta, tetapi jarang takut miskin pahala. Kita cemas kehilangan peluang bisnis, tetapi tenang saja ketika kehilangan waktu sholat. Padahal, yang pertama belum tentu dimintai pertanggungjawaban secara rinci; yang kedua pasti akan ditanya.

Ibadah memang sederhana. Gerakannya tidak rumit. Bacaannya tidak panjang. Tetapi konsistensinya menuntut kejujuran diri. Ia menuntut kita untuk menata ulang prioritas.
Dan mungkin di situlah harga sebenarnya.

Sholat dan mengaji menjadi mahal karena hanya orang-orang yang mampu mengalahkan egonya yang bisa menjaganya. Hanya mereka yang berani memperlambat langkah di tengah dunia yang berlari kencang. Hanya mereka yang sadar bahwa hidup bukan sekadar tentang bertahan, tetapi tentang kembali.

Dunia akan selalu menawarkan lebih banyak pekerjaan, lebih banyak target, lebih banyak ambisi. Namun waktu kita tidak pernah bertambah. Setiap detik yang berlalu adalah potongan kesempatan untuk mendekat atau justru menjauh.

Pada akhirnya, bukan seberapa sibuk kita yang akan ditanya. Bukan seberapa besar usaha kita membangun dunia. Tetapi seberapa setia kita menjaga hubungan dengan Pencipta dunia itu sendiri.

Karena ketika napas terakhir tiba, tidak ada rapat yang perlu diselesaikan. Tidak ada proyek yang harus dikirim. Yang tersisa hanyalah catatan amal.
Dan di sana, sholat yang dulu kita anggap bisa ditunda, serta ayat-ayat yang jarang kita baca, mungkin menjadi sesuatu yang paling kita rindukan.
Maka sebelum ibadah benar-benar menjadi terlalu mahal untuk kita bayar, barangkali hari ini adalah waktu terbaik untuk kembali. 

Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 465 : Puncak Kemarahan Mr. Ye

 


TING!

 

Yeriko langsung membuka pesan yang dikirim oleh Refi. Pesan itu berupa file video. Ia langsung membuka pesan tersebut.

 

DEG!

 

Jantung Yeriko serasa berhenti untuk sesaat. Ia melihat jelas bayangan Yuna terikat dan dalam keadaan yang tidak baik.

 

“Yer, kalau kamu mau istri kamu selamat. Temui aku di Sheraton Hotel malam ini!”

 

Suara Refi terdengar jelas dalam video itu. Chandra, Lutfi dan Satria langsung menghampiri Yeriko untuk melihat video yang dikirimkan oleh Refi.

 

“Istriku, kenapa bisa kayak gitu?” tanya Yeriko lirih. Matanya memerah menahan amarah dan kepedihan.

 

“Sabar, Yer. Kita akan teliti video ini supaya bisa tahu di mana keberadaan Yuna sekarang,” tutur Chandra sambil mengelus-elus bahu Yeriko.

 

Satria langsung mengambil alih ponsel Yeriko. Ia dan Lutfi berusaha meneliti gudang kumuh dan gelap yang menjadi tempat Yuna disekap.

 

Yeriko bangkit dari sofa, ia berjalan mondar-mandir sambil memikirkan cara menghadapi dan membalas apa yang sudah dilakukan oleh Refi.

 

“AARGH ...!” teriak Yeriko histeris. Ia mengepal tangannya erat-erat dan langsung menghujamkan pukulan tangannya ke dinding. Ia tak lagi merasakan sakit saat darah segar mengucur dari punggung tangan hingga kulit metakarpalnya terbuka.

 

“Refi bangsat! Anjing!” teriak Yeriko sambil menendang lemari nakas yang tak jauh dari dirinya.

 

BRAK ...!

 

PRANG ...!

 

Nakas yang ditendang Yeriko terbalik, beberapa vas bunga dan guci yang ada di atasnya langsung pecah, berserakan ke lantai ruangan tersebut.

 

Jheni, Icha dan Bibi War yang ada di lantai bawah langsung berlari begitu mendengar teriakan Yeriko disertai barang-barang yang berjatuhan.

 

“Yer, sabar! Tenang dulu!” pinta Chandra sambil berusaha menghentikan amukan Yeriko.

 

Lutfi juga membantu Chandra agar Yeriko berhenti menyakiti dirinya sendiri. “Yer, berhenti, Yer!” pintanya sambil memeluk tubuh Yeriko dari belakang.

 

“Sadar, Yer! Kendalikan emosi kamu! Yuna nggak akan suka lihat kamu nyiksa diri sendiri kayak gini.”

 

“Gimana aku bisa tenang? Istri sama anakku dalam bahaya, Chan,” tutur Yeriko sambil meneteskan air mata. Wajah Yuna yang bengkak dan terluka membuat hatinya ngilu.

 

“Kalo kamu marah-marah kayak gini, nggak akan bisa nemuin Yuna!” seru Chandra.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia memejamkan mata sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. “Aku laki-laki yang nggak berguna. Aku nggak bisa melindungi istri dan anakku sendiri,” ucapnya sambil merosot ke lantai.

 

“Ada apa ini?” tanya Jheni begitu ia masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

Satria menoleh ke arah Jheni sambil menggelengkan kepala. Memberi isyarat agar tidak mengajukan pertanyaan pada Yeriko yang sedang diselimuti amarah dan kesedihan. Ia memanggil Jheni dan Icha untuk mendekat ke mejanya hanya menggunakan isyarat tangan.

 

Jheni dan Icha langsung menghampiri Satria. Satria menunjukkan rekaman video yang dikirim oleh Refi.

 

“Astaga! Yuna!?” Jheni dan Icha langsung menutup mulut mereka yang terbuka lebar.

 

“Jhen, kenapa Yuna bisa sampai kayak gitu? Dia orang baik, kenapa selalu dijahatin?” tutur Icha sambil terisak. Ia tidak tahan melihat tubuh Yuna yang begitu kotor dan terluka.

 

Jheni juga ikut menangis melihat keadaan Yuna. “Refi jahat banget!” ucapnya lirih. “Aku nggak akan ngelepasin dia gitu aja!” lanjutnya sambil mengusap air mata.

 

Icha terus terisak. Ia mengingat masa-masa saat ia dan Yuna sering bersama. Yuna adalah wanita yang ceria, apa adanya, baik hati dan selalu peduli dengan orang-orang di sekelilingnya.

 

“Cha, jangan nangis terus!” pinta Jheni saat menyadari video rekaman Yuna di menit terakhir. “Yuna nggak akan selemah ini. Kita juga harus kuat!”

 

Semua orang langsung menoleh ke arah Jheni. Mereka tahu, hanya Jheni yang mengerti bagaimana sifat Yuna. Yuna adalah gadis kecil pemberani. Ia tidak akan lari dari masalah, selalu menghadapi semua masalahnya dengan hati yang tegar dan kuat.

 

Jheni menghela napas. Ia memutar kembali video yang sudah dipindahkan ke laptop Satria. Jheni langsung menekan spasi pada keyboard untuk menghentikan video tersebut. “Lihat! Walau Yuna terluka, dia masih tersenyum di video ini. Dia mau ngasih tahu ke kita semua kalau dia baik-baik aja. Dia pasti lagi nunggu kita. Kita harus bergerak lebih cepat!”

 

Semua orang saling pandang. Mereka mengangguk dan bergerak cepat mencari keberadaan Yuna.

 

Yeriko bangkit dari lantai. Ia tidak ingin terus-menerus menjadi pria yang payah karena tidak bisa menolong istri dan anaknya. Ia memutar video itu berkali-kali.

 

“Earphone mana?” tanya Yeriko. “Carikan earphone!” perintahnya saat menyadari kalau Yuna mengucapkan sesuatu dalam video itu.

 

Jheni dan Riyan buru-buru mencarikan earphone untuk Yeriko. Riyan dengan cekatan mengambil earphone dari laci meja kerja Yeriko dan memberikan pada bosnya itu.

 

Yeriko langsung memasang earphone ke telinganya. Ia mencoba menangkap suara lirih yang keluar dari mulut Yuna. “Sat, si Yuna ngasih petunjuk buat kita. Dia ngomong apa di menit-menit terakhir itu?”

 

Satria langsung membesarkan suara laptopnya. Namun, suara Yuna memang sangat kecil. Hampir tak tertangkap dalam video itu. Satria mencoba membaca gerakan bibir Yuna. “Yer, dia bilang tempat ini bau lem dan karet.”

 

“Iya. Aku juga nangkapnya begitu,” sahut Yeriko. “Kira-kira, tempat apa yang bau lem atau karet.”

 

“Bangunan ini kelihatannya bangunan tua,” tutur Lutfi.

 

“Kemungkinan bekas pabrik.” Chandra ikut menambahkan.

 

“Pabrik?” Yeriko langsung menoleh ke arah Chandra.

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

“Kira-kira pabrik apa yang bau lem atau karet?” tanya Yeriko.

 

Chandra langsung menoleh ke arah Satria. “Sat, kamu yang punya akses data perusahaan atau pabrik di kota ini. Bisa dicek?” tanyanya.

 

Satria mengangguk. “Wait!” pintanya sambil berusaha meminta akses ke pihak-pihak terkait untuk mendapatkan data yang mereka inginkan.

 

Semua orang juga mencoba mengakses informasi lewat internet.

 

“Yer, obatin luka kamu dulu!” tutur Icha sambil menyodorkan First Aid Box ke arah Yeriko.

 

“Thanks, Cha!” Yeriko langsung meraih kotak obat tersebut. Ia dengan cekatan membersihkan dan membalut luka di tangannya sendiri. Semua orang sudah memahami bagaimana sifat Yeriko. Ia tidak akan pernah mau disentuh oleh wanita lain selain istrinya dan Bibi War – Wanita yang sudah merawatnya sejak kecil.

 

“Yer, ketemu. Ada enam pabrik karet dan tiga pabrik lem di kota ini. Semuanya tersebar di beberapa tempat. Aku suruh anak buahku menyebar secepatnya,” tutur Satria sambil menatap layar laptopnya. Ia mengirimkan pesan ke anak buahnya untuk menyebar ke beberapa titik.

 

“Yer, kamu siap-siap datengin si Refi. Jangan sampai dia lepas! Soal Yuna, kamu percayakan semuanya sama kami.”

 

Yeriko mengangguk. Ia menarik napas dalam-dalam. Berusaha setenang mungkin menghadapi kekalutan dan ketakutan yang menyelimuti perasaannya.

 

“Chan, kamu pergi ke arah timur. Ada anak buahku yang sudah bergerak ke sana. Lutfi, kamu ke utara, ketemu sama anggotaku di sana. Aku langsung ke Selatan.”

 

Chandra dan Lutfi menganggukkan kepala. Mereka bergegas berangkat menuju lokasi yang dimaksud oleh Satria.

 

“Yan, kamu sama anggotamu langsung ke sebelah Barat!” perintah Satria. Ia bergegas mematikan laptopnya dan memasukkan ke dalam tas.

 

“Jheni, Icha, kalian standby di rumah!” pinta Yeriko sambil bangkit dari tempat duduk. Ia bersiap untuk menemui Refi. Ia memilih pakaian yang berkelas dan merapikan penampilannya. Ia tidak ingin Refi melihat kekacauan dirinya dan merasa kalau bisa menghadapi Yeriko dengan mudah.

 

Jheni dan Icha menganggukkan kepala. Mereka saling berpelukan saat pria-pria yang ada di ruangan tersebut pergi satu per satu.

 

“Jhen, semoga Yuna baik-baik aja. Aku nggak tega lihat dia dijahatin kayak gini,” tutur Icha.

 

Jheni mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu tenang aja! Yuna itu kuat. Dia juga wanita yang baik dan cerdas. Tuhan pasti melindungi dia!” ucapnya. Ia berusaha menenangkan diri sendiri walau hatinya diselimuti kekhawatiran yang besar. Dalam hatinya, ia terus berdoa agar sahabatnya itu bisa pulang dengan selamat.

 

((Bersambung ...))

 

Apa yang akan dilakukan Tuan Ye untuk membalas perbuatan Refi? Tunggu kelanjutan ceritanya besok lagi ya...

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 464 : Buta Mata Buta Hati

 


“Ndul, piye iki?” tanya si Keriting sambil menatap tubuh Yuna yang terduduk di lantai dalam keadaaan terikat dan mulai lemah. Ia mulai khawatir karena Yuna terus-menerus memejamkan matanya.

 

“Aku juga bingung, Ting. Gimana kalau dia mati?” sahut si Gundul.

 

“Jangan sampe, Ndul! Kita cuma disuruh nyulik, bukan bunuh orang. Aku nggak mau kalau sampai ada yang mati. Dosaku udah banyak, nggak mau bunuh orang, Ndul.”

 

“Apalagi dia hamil. Kita bisa bunuh dua nyawa sekaligus,” sahut si Gundul.

 

“Eh, kalian itu udah jadi penjahat. Kita udah dibayar buat nyulik ini orang. Dia nggak kenapa-kenapa. Cuma tidur aja,” tutur pria yang dipanggil bos oleh si Gundul dan si Keriting.

 

“Tapi, Bos. Ini sudah dua puluh jam. Apa nggak kelamaan nyekap dia di sini selama ini?” tanya si Keriting.

 

“Kita lihat dulu! Kita di sini karena duit, Ting. Tugas kita cuma jagain perempuan ini aja. Selebihnya, biar ditangani sama Mbak Refi. Kalau perempuan ini mati, yang bunuh juga Mbak Refi, bukan kita,” tutur pria bertato yang sedang duduk santai di kursinya.

 

“Tapi, Bos. Kita bisa mencegah Mbak Refi membunuh wanita ini. Aku melas lihat wajah dia yang udah lemah kayak gitu. Mana cantik banget. Jadi kayak begitu,” tutur si Keriting sambil memerhatikan wajah Yuna yang kotor.

 

“Kita ini lagi belajar jadi penjahat. Jangan gampang kasihan sama orang! Kamu gimana sih!?” tutur si Bos.

 

“Ini pertama dan terakhir kali aku jadi penjahat. Aku nggak mau lagi nyiksa orang kayak gini.”

 

“Wes, wes ... ini udah nanggung. Kita udah terlanjur nyulik dia. Nggak bisa dilepasin gitu aja. Bisa jadi, polisi sekarang lagi nyari kita.”

 

“Bos, aku nggak mau dipenjara!” rengek si Keriting. “Aku belum kawin!”

 

“Iya, Bos. Anakku juga masih kecil.” Si Gundul ikut berbicara.

 

“Eh, kamu perlu uang buat bayar sekolah anakmu ‘kan? Udahlah. Kerjain aja ini sampai selesai. Tunggu Mbak Refi lunasin pembayaran kita, baru kita lepasin perempuan ini.”

 

“Tapi, Bos ... aku nggak mau kalau sampai ada yang mati. Nggak papa nggak dapet dua puluh juta. Yang penting, aku masih bisa hidup dan cari rejeki lain di luar sana,” tutur si Keriting.

 

“Ah, kamu ini ... kita sudah nanggung, sudah sampai kayak gini. Kita selesaikan aja dulu. Abis ini, kita nggak usah kayak gini lagi. Aku juga nggak berani kalau sampai bunuh orang,” tutur si Bos. “Ting, kamu kasih Mbak itu minum lagi! Jangan sampai lemas!”

 

Si Keriting menganggukkan kepala. Ia melangkah perlahan mendekati Yuna sambil membawa botol air mineral. “Mbak ...!” panggilnya lirih sambil menggoyangkan pundak Yuna.

 

Yuna membuka matanya perlahan. Walau memejamkan mata, ia bisa mendengar semua pembicaraan tiga pria tersebut. Ia memang sangat lemah, tapi ia tidak begitu khawatir karena preman yang menculiknya bukanlah orang-orang psikopat berbahaya.

 

“Minum dulu, Mbak!” perintah si Keriting.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Tatapan matanya mulai sayu karena ia sudah kelelahan terikat di tempat yang lembab dan dingin. Bibirnya mulai gemetaran menahan dingin yang mulai menusuk-nusuk tulangnya.

 

Si Keriting tersenyum sambil membantu Yuna minum air putih.

 

“Mas, aku kedinginan. Ada air hangat?” tanya Yuna lirih.

 

Si Keriting langsung mengedarkan pandangannya. “Nggak ada air hangat di sini, Mbak. Aku carikan dulu ya!”

 

Yuna mengangguk perlahan.

 

Si Keriting melepas jaket dan menyelimutkan jaket tersebut ke tubuh Yuna. Ia tidak tega melihat wajah Yuna yang sudah pucat dan lemah.

 

“Mau ke mana, Ting?” tanya si Bos saat si Keriting bergegas keluar dari tempat tersebut.

 

“Nyari kopi, Bos. Bos mau?”

 

“Boleh, boleh.”

 

Si Keriting mengangguk. Ia tersenyum ke arah Yuna dan berlalu keluar dari tempat tersebut. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawakan kopi panas untuk bosnya. Juga membawa air hangat untuk Yuna.

 

Yuna merasa beruntung karena orang yang menculik dirinya adalah orang baik dan mau menolong dirinya. Walau ada banyak hal yang mungkin saja berlawanan dengan pria-pria itu, salah satunya adalah himpitan ekonomi.

 

“Mas, ini di mana?” tanya Yuna lirih saat si Keriting memberinya minum air hangat.

 

“Di bekas pabrik karet, Mbak.”

 

“Daerah mana?”

 

Si Keriting menoleh ke arah dua temannya yang duduk tak jauh darinya. “Aku juga nggak tahu, Mbak.”

 

“Bukannya kamu bilang, udah pernah survey ke tempat ini?”

 

Si Keriting menganggukkan kepala. “Iya. Tapi, ke sini selalu sama bos. Dia yang tahu nama daerah di sini. Aku lupa.”

 

Yuna tersenyum kecil. “Ada berapa banyak pabrik karet di kota ini? Ini masih di Surabaya ‘kan?”

 

Si Keriting terdiam. “Aku ...” Ia menghentikan ucapannya saat mendengar suara sepatu high heels dan langkah yang teratur masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia langsung bangkit dari lantai, buru-buru menarik jaket yang menutupi tubuh Yuna dan berjalan menghampiri dua temannya. Ia tidak ingin menimbulkan masalah karena ketahuan bersikap baik pada orang yang mereka sandera.

 

Refi melangkahkan kakinya mendekati Yuna yang masih terikat di lantai. “Hai ...!” sapanya sambil tersenyum manis.

 

Yuna langsung menengadahkan kepalanya, menatap Refi yang berdiri di hadapannya.

 

Refi tersenyum puas melihat wajah Yuna yang ada di bawahnya. “Yun, akhirnya aku bisa membalaskan dendamku sama kamu. Selama ini, kamu selalu berlindung di balik kekuatan suami kamu dan orang-orangnya. Sekarang, suami kamu itu bahkan nggak punya kekuatan buat nolong kamu.”

 

“Suamiku bukan nggak punya kekuatan. Tapi, dia masih punya perasaan dan kasihan sama kamu. Lagian, dengan begini ... aku jadi tahu kalau cinta Yeriko ke aku sangat besar. Dia mau ngelakuin apa pun buat aku, bahkan memberikan nyawanya sendiri.”

 

Refi langsung menatap wajah Yuna dengan mata berapi-api. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan kalau Yeriko lebih mencintai Yuna. Wanita yang dikenalnya tak lebih dari setahun. “Yeriko cuma suka sementara aja sama kamu. Kalau kamu nggak godain dia terus. Dia nggak mungkin tergila-gila sama perempuan kayak kamu!” seru Refi.

 

Yuna tertawa kecil. “Ref, kamu sudah tahu kenyataannya seperti apa. Yeriko sudah menolak kamu secara terang-terangan. Yeriko cinta sama aku tanpa aku godain. Aku nggak perlu jadi wanita penggoda seperti kamu untuk dapetin cintanya Yeriko.”

 

Refi mengerutkan wajahnya. Tangannya langsung mencekik leher Yuna. “Kamu nggak akan bisa dapetin cinta Yeriko lagi! Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup bahagia. Kamu adalah orang yang paling aku benci di dunia ini! Karena kamu, aku kehilangan semuanya!” ucapnya sambil mengeratkan cekikannya.

 

Yuna menahan napas saat Refi mencekik lehernya. Ia hanya menatap mata Refi yang penuh dengan kebencian. Ia tidak ingin Refi terus-menerus hidup seperti ini. Dia bisa mendapatkan banyak kebahagiaan di luar sana jika mau berlapang dada menerima kenyataan kalau dirinya memang tidak berjodoh dengan Yeriko.

 

Refi melonggarkan tangannya, ia melepas cekikannya saat Yuna mulai kesulitan bernapas. Tangannya bergetar, ia tidak ingin merenggut nyawa orang lain dengan tangannya sendiri. Ia ingin melihat Yuna menderita, bukan ingin membunuhnya.

 

“Uhuk ... uhuk ...!” Yuna merasakan sakit di lehernya. Namun, ia tak bisa membalas apa yang dilakukan Refi karena tubuhnya terikat.

 

PLAK ...!

 

“Karena kamu, aku nggak bisa kembali sama Yeriko lagi!” seru Refi sambil menampar pipi Yuna yang sudah bengkak karena tamparan sebelumnya.

 

“Kamu yang udah buang Yeriko. Bukan aku yang merebut dia,” sahut Yuna lirih. Ia berusaha untuk tetap kuat menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.

 

PLAK ...!

 

“Kamu yang udah bikin Yeriko benci sama aku!” seru Refi. Ia terus menampar wajah Yuna bekali-kali. Jiwanya diselimuti dengan emosi yang tak bisa lagi dikendalikan.

 

Yuna berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata di hadapan Refi. Ia tidak ingin menyerah begitu saja. Sekalipun ia harus mati, ia ingin mati dalam keadaan terhormat. Bukan dalam keadaan berlutut di depan wanita seperti Refi.

 

Refi menghentikan tamparannya saat melihat darah segar keluar dari sela-sela bibir Yuna. Dadanya naik turun lebih cepat seiring dengan napasnya yang tersengal. “Kenapa kamu ambil semuanya dari aku!?” seru Refi sambil meneteskan air mata.

 

Yuna masih tersenyum menanggapi pertanyaan Refi. “Aku nggak ambil apa pun dari kamu. Kamu yang melepaskan dia sampai dia jatuh ke pelukanku.”

 

“Kenapa kamu masih senyum di saat kayak gini? Kamu nggak ngerasain sakit? Kamu nggak takut aku bunuh kamu, hah!?” tanya Refi sambil menangis.

 

“Cinta Yeriko ke aku, nggak akan berkurang sedikit pun walau aku mati,” jawab Yuna sambil tersenyum. “Aku bahagia, Ref. Aku bahagia karena aku akhirnya tahu siapa kamu sebenarnya. Aku bahagia karena bisa membuat Yeriko jatuh cinta sama aku dan melupakan wanita jahat seperti kamu. Aku nggak akan pernah menyesal sekalipun kamu bunuh aku karena aku sudah berhasil menyelamatkan Yeriko dari wanita seperti kamu.”

 

Refi tersenyum sambil mengusap air matanya. “Aku udah bilang, aku akan ngelakuin apa pun untuk mendapatkan Yeriko. Kalau kamu nggak mau menyerahkan dia secara baik-baik, aku terpaksa melakukannya dengan cara kasar.”

 

“Aku nggak akan menyerahkan Yeriko sama perempuan kayak kamu.”

 

“Yun, kamu udah sekarat gini. Masih nggak mau nyerah juga?”

 

“Aku nggak akan nyerah sampai aku mati,” jawab Yuna lirih.

 

Refi mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia menyalakan kamera video dan mengarahkannya ke tubuh Yuna. “Yer, kalau kamu mau istri kamu selamat. Temui aku di Sheraton Hotel malam ini!” ucap Refi sambil merekam wajah Yuna yang sudah membengkak dan mulutnya mengeluarkan darah.

 

“Ref, kenapa kamu suka banget tempat yang bau lem dan bau karet kayak  gini?” tanya Yuna lirih. “Bukannya ada tempat lain yang lebih bagus untuk bersenang-senang?” tanyanya lirih sambil menatap mata kamera ponsel Refi.

 

Refi tersenyum. Ia menghentikan rekamannya dan mengirimkan kepada Yeriko. Ia menatap Yuna yang tak berdaya. “Tempat ini lebih cocok buat kamu.” Ia menendang kaki Yuna dan berbalik pergi.

 

“Kalian jaga wanita ini baik-baik, jangan sampai lepas!” perintah Refi.

 

“Siap, Bos!”

 

Refi langsung bergegas melangkah pergi. Ia tersenyum puas melihat kondisi Yuna yang menderita. Ia juga sangat bahagia karena akan bertemu dengan Yeriko. Malam ini, ia akan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mendapatkan Yeriko.

 

((Bersambung ...))

Be Carefull ...! Tahan napas bacanya. I’m sorry ...! Yang nggak tahan konflik berat menepi dulu.

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas