Tuesday, February 24, 2026

Perfect Hero Bab 466 : Kebaikan Hati si Kriting

 


“Mbak ...!” panggil si Keriting saat melihat wajah Yuna yang semakin pucat.

 

Yuna membuka matanya perlahan. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Ia hanya bisa melihat samar-samar pria berambut keriting yang ada di hadapannya.

 

“Mbak, minum dulu!” pinta si Keriting sambil menyodorkan air minum ke arah Yuna. Ia membantu Yuna minum dari sedotan.

 

Yuna tersenyum saat ia sudah selesai meminum minuman yang diberikan pria berambut keriting tersebut. “Makasih ...!” ucapnya lirih.

 

Pria keriting itu mengeluarkan pisau dari tangannya.

 

Seketika, jantung Yuna berdegup kencang saat melihat pisau yang ada di tangan pria itu. Di saat yang bersamaan, ia merasakan perutnya kedutan. Ia langsung menatap perutnya yang terlihat buncit. “Dedek ...!” panggilnya lirih.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia mengumpulkan tenaga dan semangat dalam dirinya untuk tetap bertahan hidup demi anak yang ada di dalam kandungannya. Ia percaya, Yeriko pasti akan menolong dirinya. “Dek, Ayah pasti nolongin kita. Dedek harus tetap semangat ya! Bunda akan bertahan. Ayah kamu pasti bahagia bisa lihat kamu sudah bergerak di perut Bunda,” bisik Yuna dalam hati sambil menitikan air mata.

 

Yuna menatap pria berambut keriting itu dengan perasaan tak karuan. Ia mulai ketakutan saat pria yang ia pikir baik itu malah mengeluarkan pisau di hadapannya.

 

“Mbak, makan ini dulu ya! Mumpung si Bos lagi nggak ada.” Pria berambut keriting itu mengeluarkan buah pir dari kantong plastik yang ada di depan kakinya. Ia memotong buah pir tersebut dan menyuapkan ke mulut Yuna.

 

“Mbak harus kuat supaya bisa kabur dari tempat ini!” tutur si Keriting sambil terus menyuapi potongan buah ke mulut Yuna. “Mbak Repi itu sudah gila. Kami nggak mau membunuh siapa pun. Mbak harus bisa keluar dari sini secepatnya! Siapin energi yang banyak ya!”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia menatap pria muda yang penampilannya sangat kumuh, tapi memiliki hati yang baik. “Kenapa kamu mau nolongin saya?” tanyanya lirih.

 

Si Keriting tersenyum menatap Yuna. “Mbak, jadi orang baik itu susah. Saya tahu, Mbak adalah orang yang baik. Di dunia ini, harus ada orang baik yang melahirkan anak-anak yang baik juga. Supaya orang-orang jahat seperti kami, bisa berjalan ke tempat-tempat yang baik bersama orang yang baik juga.”

 

“Masnya juga orang baik. Pasti akan menemukan kehidupan yang baik di masa depan,” tutur Yuna sambil tersenyum.

 

“Jadi orang baik itu susah, Mbak. Makanya, nggak semua orang di dunia ini bisa jadi baik. Saya mah, tergantung keadaan. Saya bukan orang baik. Tapi saya masih punya Tuhan. Saya nggak mau membuat orang lain terbunuh.”

 

Yuna kembali tersenyum. “Makasih, kamu sudah bantu saya. Kalau nggak ada kamu ... mungkin saya sudah mati lebih cepat.”

 

“Nggak papa, Mbak. Saya mana tega lihat wanita hamil disiksa seperti ini. Ini pisaunya Mbak simpan. Gunakan dengan baik!” tutur pria berambut keriting tersebut sambil meletakkan pisau buah itu ke telapak tangan Yuna.

 

Yuna menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. “Makasih, Mas! Saya nggak akan ngelupakan kebaikan Mas ini.”

 

“Nggak usah dibahas lagi, Mbak! Saya harap, setelah ini kita nggak pernah ketemu lagi.” Pria itu bangkit dari lantai karena pintu gudang tersebut tiba-tiba terbuka. Ia langsung menghampiri si Gundul dan bersikap seolah tidak melakukan apa pun. Ia berpura-pura menenggak bir yang ada di atas meja.

 

Yuna menyandarkan kepala ke tiang yang ada di belakangnya. Ia menggenggam erat pisau yang ada di belakang tubuhnya dan pura-pura tertidur.

 

“Gimana? Aman?” tanya pria bertato yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.

 

“Aman, Bos!”

 

“Bagus!” sahut si Bos sambil memerhatikan wajah Yuna. “Dia nggak kenapa-kenapa ‘kan?”

 

“Nggak papa, Bos. Cuma lemes aja. Mungkin karena nggak dikasih makan dan dia lagi hamil.”

 

“Ck, kasihan juga. Tapi mau gimana lagi. Kita butuh duit,” ucap pria bertato tersebut sambil menyalakan rokoknya.

 

“Tapi, Bos. Perjanjian awal, kita cuma nyulik doang. Bukan bunuh orang,” tutur si Gundul.

 

“Kata siapa kita bunuh orang?”

 

“Perempuan itu udah lemes banget karena kita nggak kasih makan. Kalau dia mati gimana?” tanya si Keriting.

 

“Jangan sampai mati, goblok! Kasih aja dia makan, sedikit. Yang penting, nggak ketahuan Mbak Refi.”

 

“Dianya nggak mau makan, Bos,” sahut si Keriting. Ia mengerdipkan mata ke arah si Gundul.

 

“Iya, Bos. Dia nggak mau makan dan minum. Kalau gini terus, dia bisa mati kelaparan.” Si Gundul menambahkan.

 

“Ck, gimana ini? Kita cuma nyulik, jangan sampai ada yang mati. Aku emang preman, tapi aku nggak pernah bunuh orang.” Si Bos bertato itu mulai uring-uringan. “Mbak Refi mau kirim orang lagi ke sini. Setelah mereka datang, tugas kita selesai.”

 

“Siapa, Bos?”

 

“Aku nggak tahu.”

 

Si Gundul dan Si Keriting saling pandang. Mereka melihat Yuna yang masih terikat di sana. Mereka justru tidak tega meninggalkan Yuna begitu saja. Bisa saja, orang lain yang menggantikan mereka justru akan membuat Yuna terbunuh.

 

“Bos, sambil nunggu pengganti kita datang ... gimana kalau kita minum dulu untuk merayakan kebebasan kita?” tutur si Keriting sambil mengeluarkan botol-botol bir dari kotak yang ada di bawah meja.

 

“Bener juga,” sahut si Bos. Ia mengeluarkan beberapa gepok uang dari dalam saku jaketnya. “Ini bagian buat kalian berdua,” lanjutnya sambil meletakkan uang-uang tersebut ke atas meja.

 

“Wah ... thank you, Bos! Akhirnya, dapet juga duitnya,” tutur si Gundul sambil mengecup uang yang ada di tangannya.

 

Si Keriting juga langsung memasukkan uang tersebut ke dalam saku jaketnya. “Bos, kita rayakan dulu malam ini. Bos kan dapet bagian paling banyak, harus banyak minum juga,” tuturnya sambil membukakan botol bir untuk bosnya.

 

Pria bertato itu tertawa bahagia. Ia langsung menenggak minuman yang diberikan oleh si Keriting.

 

Si Gundul dan si Keriting tersenyum puas. Mereka saling memberi isyarat agar bisa membuat bosnya itu mabuk dan lengah, sehingga wanita yang mereka sandera bisa melarikan diri dengan mudah.

 

“Minum lagi, Bos!” seru si Keriting saat bosnya sudah menghabiskan tiga botol bir.

 

Si Bos mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menenggak semua minuman yang sengaja disiapkan oleh si Gundul dan si Keriting.

 

Pria bertato itu langsung menjatuhkan kepalanya ke kursi begitu ia sudah berada di bawah pengaruh alkohol. Ia terus meracau, tapi dua anak buah amatirannya itu tak menghiraukan ucapan bosnya.

 

“Jagain si Bos, Ndul!” bisik si Keriting. Ia melangkah menghampiri Yuna.

 

“Mbak ...!” panggil si Keriting lirih.

 

Yuna langsung membuka matanya perlahan tanpa mengubah posisi tubuhnya sedikit pun.

 

“Si Bos udah mabuk. Mbak bisa keluar sekarang,” tutur si Keriting berbisik.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia berusaha menyayat tali yang mengikat tangannya. “Aw ...!” rintihnya lirih karena mata pisau tersebut mengenai lengan tangannya sendiri.

 

“Sini, aku bantu, Mbak!” tutur si Keriting. “Si Bos udah mabuk. Mbak harus bisa keluar dari secepatnya sebelum orang-orang baru suruhan Mbak Repi datang ke sini.”

 

Yuna mengangguk. “Makasih banyak ya, Mas!”

 

“Jangan sampai ketahuan sama si Bos ya! Aku sama si Gundul harus pura-pura mabuk supaya Bos nggak curiga.”

 

Yuna mengangguk tanda mengerti. Ia melepaskan tali yang mengikat di pergelangan kakinya.

 

“Mbak, aku cuma bisa bantu sampai di sini. Kalau orang-orang Mbak Refi keburu datang, mereka pasti akan mencari keberadaan Mbak Yuna. Untuk sementara, jangan ke jalanan. Sembunyi di pohon atau semak tepi jalan sampai matahari terbit. Ini senter kecil untuk membantu penerangan, semoga bermanfaat,” tutur si Keriting sambil mengalungkan senter kecil ke leher Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia beruntung karena bertemu dengan penjahat yang baik hati dan tidak berpengalaman itu.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Kasih support untuk Mr. And Ms. Ye ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas