“Mbak
...!” panggil si Keriting saat melihat wajah Yuna yang semakin pucat.
Yuna
membuka matanya perlahan. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Ia hanya bisa
melihat samar-samar pria berambut keriting yang ada di hadapannya.
“Mbak,
minum dulu!” pinta si Keriting sambil menyodorkan air minum ke arah Yuna. Ia
membantu Yuna minum dari sedotan.
Yuna
tersenyum saat ia sudah selesai meminum minuman yang diberikan pria berambut
keriting tersebut. “Makasih ...!” ucapnya lirih.
Pria
keriting itu mengeluarkan pisau dari tangannya.
Seketika,
jantung Yuna berdegup kencang saat melihat pisau yang ada di tangan pria itu.
Di saat yang bersamaan, ia merasakan perutnya kedutan. Ia langsung menatap
perutnya yang terlihat buncit. “Dedek ...!” panggilnya lirih.
Yuna
menarik napas dalam-dalam. Ia mengumpulkan tenaga dan semangat dalam dirinya
untuk tetap bertahan hidup demi anak yang ada di dalam kandungannya. Ia
percaya, Yeriko pasti akan menolong dirinya. “Dek, Ayah pasti nolongin kita.
Dedek harus tetap semangat ya! Bunda akan bertahan. Ayah kamu pasti bahagia
bisa lihat kamu sudah bergerak di perut Bunda,” bisik Yuna dalam hati sambil
menitikan air mata.
Yuna
menatap pria berambut keriting itu dengan perasaan tak karuan. Ia mulai
ketakutan saat pria yang ia pikir baik itu malah mengeluarkan pisau di
hadapannya.
“Mbak,
makan ini dulu ya! Mumpung si Bos lagi nggak ada.” Pria berambut keriting itu
mengeluarkan buah pir dari kantong plastik yang ada di depan kakinya. Ia
memotong buah pir tersebut dan menyuapkan ke mulut Yuna.
“Mbak
harus kuat supaya bisa kabur dari tempat ini!” tutur si Keriting sambil terus
menyuapi potongan buah ke mulut Yuna. “Mbak Repi itu sudah gila. Kami nggak mau
membunuh siapa pun. Mbak harus bisa keluar dari sini secepatnya! Siapin energi
yang banyak ya!”
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. Ia menatap pria muda yang penampilannya sangat
kumuh, tapi memiliki hati yang baik. “Kenapa kamu mau nolongin saya?” tanyanya
lirih.
Si
Keriting tersenyum menatap Yuna. “Mbak, jadi orang baik itu susah. Saya tahu,
Mbak adalah orang yang baik. Di dunia ini, harus ada orang baik yang melahirkan
anak-anak yang baik juga. Supaya orang-orang jahat seperti kami, bisa berjalan
ke tempat-tempat yang baik bersama orang yang baik juga.”
“Masnya
juga orang baik. Pasti akan menemukan kehidupan yang baik di masa depan,” tutur
Yuna sambil tersenyum.
“Jadi
orang baik itu susah, Mbak. Makanya, nggak semua orang di dunia ini bisa jadi
baik. Saya mah, tergantung keadaan. Saya bukan orang baik. Tapi saya masih
punya Tuhan. Saya nggak mau membuat orang lain terbunuh.”
Yuna
kembali tersenyum. “Makasih, kamu sudah bantu saya. Kalau nggak ada kamu ...
mungkin saya sudah mati lebih cepat.”
“Nggak
papa, Mbak. Saya mana tega lihat wanita hamil disiksa seperti ini. Ini pisaunya
Mbak simpan. Gunakan dengan baik!” tutur pria berambut keriting tersebut sambil
meletakkan pisau buah itu ke telapak tangan Yuna.
Yuna
menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. “Makasih, Mas! Saya nggak akan
ngelupakan kebaikan Mas ini.”
“Nggak
usah dibahas lagi, Mbak! Saya harap, setelah ini kita nggak pernah ketemu
lagi.” Pria itu bangkit dari lantai karena pintu gudang tersebut tiba-tiba
terbuka. Ia langsung menghampiri si Gundul dan bersikap seolah tidak melakukan
apa pun. Ia berpura-pura menenggak bir yang ada di atas meja.
Yuna
menyandarkan kepala ke tiang yang ada di belakangnya. Ia menggenggam erat pisau
yang ada di belakang tubuhnya dan pura-pura tertidur.
“Gimana?
Aman?” tanya pria bertato yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.
“Aman,
Bos!”
“Bagus!”
sahut si Bos sambil memerhatikan wajah Yuna. “Dia nggak kenapa-kenapa ‘kan?”
“Nggak
papa, Bos. Cuma lemes aja. Mungkin karena nggak dikasih makan dan dia lagi
hamil.”
“Ck,
kasihan juga. Tapi mau gimana lagi. Kita butuh duit,” ucap pria bertato
tersebut sambil menyalakan rokoknya.
“Tapi,
Bos. Perjanjian awal, kita cuma nyulik doang. Bukan bunuh orang,” tutur si
Gundul.
“Kata
siapa kita bunuh orang?”
“Perempuan
itu udah lemes banget karena kita nggak kasih makan. Kalau dia mati gimana?”
tanya si Keriting.
“Jangan
sampai mati, goblok! Kasih aja dia makan, sedikit. Yang penting, nggak ketahuan
Mbak Refi.”
“Dianya
nggak mau makan, Bos,” sahut si Keriting. Ia mengerdipkan mata ke arah si
Gundul.
“Iya,
Bos. Dia nggak mau makan dan minum. Kalau gini terus, dia bisa mati kelaparan.”
Si Gundul menambahkan.
“Ck,
gimana ini? Kita cuma nyulik, jangan sampai ada yang mati. Aku emang preman,
tapi aku nggak pernah bunuh orang.” Si Bos bertato itu mulai uring-uringan.
“Mbak Refi mau kirim orang lagi ke sini. Setelah mereka datang, tugas kita
selesai.”
“Siapa,
Bos?”
“Aku
nggak tahu.”
Si
Gundul dan Si Keriting saling pandang. Mereka melihat Yuna yang masih terikat
di sana. Mereka justru tidak tega meninggalkan Yuna begitu saja. Bisa saja,
orang lain yang menggantikan mereka justru akan membuat Yuna terbunuh.
“Bos,
sambil nunggu pengganti kita datang ... gimana kalau kita minum dulu untuk
merayakan kebebasan kita?” tutur si Keriting sambil mengeluarkan botol-botol
bir dari kotak yang ada di bawah meja.
“Bener
juga,” sahut si Bos. Ia mengeluarkan beberapa gepok uang dari dalam saku
jaketnya. “Ini bagian buat kalian berdua,” lanjutnya sambil meletakkan
uang-uang tersebut ke atas meja.
“Wah
... thank you, Bos! Akhirnya, dapet juga duitnya,” tutur si Gundul sambil
mengecup uang yang ada di tangannya.
Si
Keriting juga langsung memasukkan uang tersebut ke dalam saku jaketnya. “Bos,
kita rayakan dulu malam ini. Bos kan dapet bagian paling banyak, harus banyak
minum juga,” tuturnya sambil membukakan botol bir untuk bosnya.
Pria
bertato itu tertawa bahagia. Ia langsung menenggak minuman yang diberikan oleh
si Keriting.
Si
Gundul dan si Keriting tersenyum puas. Mereka saling memberi isyarat agar bisa
membuat bosnya itu mabuk dan lengah, sehingga wanita yang mereka sandera bisa
melarikan diri dengan mudah.
“Minum
lagi, Bos!” seru si Keriting saat bosnya sudah menghabiskan tiga botol bir.
Si
Bos mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menenggak semua minuman yang sengaja
disiapkan oleh si Gundul dan si Keriting.
Pria
bertato itu langsung menjatuhkan kepalanya ke kursi begitu ia sudah berada di
bawah pengaruh alkohol. Ia terus meracau, tapi dua anak buah amatirannya itu
tak menghiraukan ucapan bosnya.
“Jagain
si Bos, Ndul!” bisik si Keriting. Ia melangkah menghampiri Yuna.
“Mbak
...!” panggil si Keriting lirih.
Yuna
langsung membuka matanya perlahan tanpa mengubah posisi tubuhnya sedikit pun.
“Si
Bos udah mabuk. Mbak bisa keluar sekarang,” tutur si Keriting berbisik.
Yuna
menganggukkan kepala. Ia berusaha menyayat tali yang mengikat tangannya. “Aw
...!” rintihnya lirih karena mata pisau tersebut mengenai lengan tangannya
sendiri.
“Sini,
aku bantu, Mbak!” tutur si Keriting. “Si Bos udah mabuk. Mbak harus bisa keluar
dari secepatnya sebelum orang-orang baru suruhan Mbak Repi datang ke sini.”
Yuna
mengangguk. “Makasih banyak ya, Mas!”
“Jangan
sampai ketahuan sama si Bos ya! Aku sama si Gundul harus pura-pura mabuk supaya
Bos nggak curiga.”
Yuna
mengangguk tanda mengerti. Ia melepaskan tali yang mengikat di pergelangan
kakinya.
“Mbak,
aku cuma bisa bantu sampai di sini. Kalau orang-orang Mbak Refi keburu datang,
mereka pasti akan mencari keberadaan Mbak Yuna. Untuk sementara, jangan ke
jalanan. Sembunyi di pohon atau semak tepi jalan sampai matahari terbit. Ini
senter kecil untuk membantu penerangan, semoga bermanfaat,” tutur si Keriting
sambil mengalungkan senter kecil ke leher Yuna.
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. Ia beruntung karena bertemu dengan penjahat yang
baik hati dan tidak berpengalaman itu.
((Bersambung ...))
Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat
bikin cerita yang lebih seru lagi. Kasih support untuk Mr. And Ms. Ye ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment