Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 464 : Buta Mata Buta Hati

 


“Ndul, piye iki?” tanya si Keriting sambil menatap tubuh Yuna yang terduduk di lantai dalam keadaaan terikat dan mulai lemah. Ia mulai khawatir karena Yuna terus-menerus memejamkan matanya.

 

“Aku juga bingung, Ting. Gimana kalau dia mati?” sahut si Gundul.

 

“Jangan sampe, Ndul! Kita cuma disuruh nyulik, bukan bunuh orang. Aku nggak mau kalau sampai ada yang mati. Dosaku udah banyak, nggak mau bunuh orang, Ndul.”

 

“Apalagi dia hamil. Kita bisa bunuh dua nyawa sekaligus,” sahut si Gundul.

 

“Eh, kalian itu udah jadi penjahat. Kita udah dibayar buat nyulik ini orang. Dia nggak kenapa-kenapa. Cuma tidur aja,” tutur pria yang dipanggil bos oleh si Gundul dan si Keriting.

 

“Tapi, Bos. Ini sudah dua puluh jam. Apa nggak kelamaan nyekap dia di sini selama ini?” tanya si Keriting.

 

“Kita lihat dulu! Kita di sini karena duit, Ting. Tugas kita cuma jagain perempuan ini aja. Selebihnya, biar ditangani sama Mbak Refi. Kalau perempuan ini mati, yang bunuh juga Mbak Refi, bukan kita,” tutur pria bertato yang sedang duduk santai di kursinya.

 

“Tapi, Bos. Kita bisa mencegah Mbak Refi membunuh wanita ini. Aku melas lihat wajah dia yang udah lemah kayak gitu. Mana cantik banget. Jadi kayak begitu,” tutur si Keriting sambil memerhatikan wajah Yuna yang kotor.

 

“Kita ini lagi belajar jadi penjahat. Jangan gampang kasihan sama orang! Kamu gimana sih!?” tutur si Bos.

 

“Ini pertama dan terakhir kali aku jadi penjahat. Aku nggak mau lagi nyiksa orang kayak gini.”

 

“Wes, wes ... ini udah nanggung. Kita udah terlanjur nyulik dia. Nggak bisa dilepasin gitu aja. Bisa jadi, polisi sekarang lagi nyari kita.”

 

“Bos, aku nggak mau dipenjara!” rengek si Keriting. “Aku belum kawin!”

 

“Iya, Bos. Anakku juga masih kecil.” Si Gundul ikut berbicara.

 

“Eh, kamu perlu uang buat bayar sekolah anakmu ‘kan? Udahlah. Kerjain aja ini sampai selesai. Tunggu Mbak Refi lunasin pembayaran kita, baru kita lepasin perempuan ini.”

 

“Tapi, Bos ... aku nggak mau kalau sampai ada yang mati. Nggak papa nggak dapet dua puluh juta. Yang penting, aku masih bisa hidup dan cari rejeki lain di luar sana,” tutur si Keriting.

 

“Ah, kamu ini ... kita sudah nanggung, sudah sampai kayak gini. Kita selesaikan aja dulu. Abis ini, kita nggak usah kayak gini lagi. Aku juga nggak berani kalau sampai bunuh orang,” tutur si Bos. “Ting, kamu kasih Mbak itu minum lagi! Jangan sampai lemas!”

 

Si Keriting menganggukkan kepala. Ia melangkah perlahan mendekati Yuna sambil membawa botol air mineral. “Mbak ...!” panggilnya lirih sambil menggoyangkan pundak Yuna.

 

Yuna membuka matanya perlahan. Walau memejamkan mata, ia bisa mendengar semua pembicaraan tiga pria tersebut. Ia memang sangat lemah, tapi ia tidak begitu khawatir karena preman yang menculiknya bukanlah orang-orang psikopat berbahaya.

 

“Minum dulu, Mbak!” perintah si Keriting.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Tatapan matanya mulai sayu karena ia sudah kelelahan terikat di tempat yang lembab dan dingin. Bibirnya mulai gemetaran menahan dingin yang mulai menusuk-nusuk tulangnya.

 

Si Keriting tersenyum sambil membantu Yuna minum air putih.

 

“Mas, aku kedinginan. Ada air hangat?” tanya Yuna lirih.

 

Si Keriting langsung mengedarkan pandangannya. “Nggak ada air hangat di sini, Mbak. Aku carikan dulu ya!”

 

Yuna mengangguk perlahan.

 

Si Keriting melepas jaket dan menyelimutkan jaket tersebut ke tubuh Yuna. Ia tidak tega melihat wajah Yuna yang sudah pucat dan lemah.

 

“Mau ke mana, Ting?” tanya si Bos saat si Keriting bergegas keluar dari tempat tersebut.

 

“Nyari kopi, Bos. Bos mau?”

 

“Boleh, boleh.”

 

Si Keriting mengangguk. Ia tersenyum ke arah Yuna dan berlalu keluar dari tempat tersebut. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawakan kopi panas untuk bosnya. Juga membawa air hangat untuk Yuna.

 

Yuna merasa beruntung karena orang yang menculik dirinya adalah orang baik dan mau menolong dirinya. Walau ada banyak hal yang mungkin saja berlawanan dengan pria-pria itu, salah satunya adalah himpitan ekonomi.

 

“Mas, ini di mana?” tanya Yuna lirih saat si Keriting memberinya minum air hangat.

 

“Di bekas pabrik karet, Mbak.”

 

“Daerah mana?”

 

Si Keriting menoleh ke arah dua temannya yang duduk tak jauh darinya. “Aku juga nggak tahu, Mbak.”

 

“Bukannya kamu bilang, udah pernah survey ke tempat ini?”

 

Si Keriting menganggukkan kepala. “Iya. Tapi, ke sini selalu sama bos. Dia yang tahu nama daerah di sini. Aku lupa.”

 

Yuna tersenyum kecil. “Ada berapa banyak pabrik karet di kota ini? Ini masih di Surabaya ‘kan?”

 

Si Keriting terdiam. “Aku ...” Ia menghentikan ucapannya saat mendengar suara sepatu high heels dan langkah yang teratur masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia langsung bangkit dari lantai, buru-buru menarik jaket yang menutupi tubuh Yuna dan berjalan menghampiri dua temannya. Ia tidak ingin menimbulkan masalah karena ketahuan bersikap baik pada orang yang mereka sandera.

 

Refi melangkahkan kakinya mendekati Yuna yang masih terikat di lantai. “Hai ...!” sapanya sambil tersenyum manis.

 

Yuna langsung menengadahkan kepalanya, menatap Refi yang berdiri di hadapannya.

 

Refi tersenyum puas melihat wajah Yuna yang ada di bawahnya. “Yun, akhirnya aku bisa membalaskan dendamku sama kamu. Selama ini, kamu selalu berlindung di balik kekuatan suami kamu dan orang-orangnya. Sekarang, suami kamu itu bahkan nggak punya kekuatan buat nolong kamu.”

 

“Suamiku bukan nggak punya kekuatan. Tapi, dia masih punya perasaan dan kasihan sama kamu. Lagian, dengan begini ... aku jadi tahu kalau cinta Yeriko ke aku sangat besar. Dia mau ngelakuin apa pun buat aku, bahkan memberikan nyawanya sendiri.”

 

Refi langsung menatap wajah Yuna dengan mata berapi-api. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan kalau Yeriko lebih mencintai Yuna. Wanita yang dikenalnya tak lebih dari setahun. “Yeriko cuma suka sementara aja sama kamu. Kalau kamu nggak godain dia terus. Dia nggak mungkin tergila-gila sama perempuan kayak kamu!” seru Refi.

 

Yuna tertawa kecil. “Ref, kamu sudah tahu kenyataannya seperti apa. Yeriko sudah menolak kamu secara terang-terangan. Yeriko cinta sama aku tanpa aku godain. Aku nggak perlu jadi wanita penggoda seperti kamu untuk dapetin cintanya Yeriko.”

 

Refi mengerutkan wajahnya. Tangannya langsung mencekik leher Yuna. “Kamu nggak akan bisa dapetin cinta Yeriko lagi! Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup bahagia. Kamu adalah orang yang paling aku benci di dunia ini! Karena kamu, aku kehilangan semuanya!” ucapnya sambil mengeratkan cekikannya.

 

Yuna menahan napas saat Refi mencekik lehernya. Ia hanya menatap mata Refi yang penuh dengan kebencian. Ia tidak ingin Refi terus-menerus hidup seperti ini. Dia bisa mendapatkan banyak kebahagiaan di luar sana jika mau berlapang dada menerima kenyataan kalau dirinya memang tidak berjodoh dengan Yeriko.

 

Refi melonggarkan tangannya, ia melepas cekikannya saat Yuna mulai kesulitan bernapas. Tangannya bergetar, ia tidak ingin merenggut nyawa orang lain dengan tangannya sendiri. Ia ingin melihat Yuna menderita, bukan ingin membunuhnya.

 

“Uhuk ... uhuk ...!” Yuna merasakan sakit di lehernya. Namun, ia tak bisa membalas apa yang dilakukan Refi karena tubuhnya terikat.

 

PLAK ...!

 

“Karena kamu, aku nggak bisa kembali sama Yeriko lagi!” seru Refi sambil menampar pipi Yuna yang sudah bengkak karena tamparan sebelumnya.

 

“Kamu yang udah buang Yeriko. Bukan aku yang merebut dia,” sahut Yuna lirih. Ia berusaha untuk tetap kuat menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.

 

PLAK ...!

 

“Kamu yang udah bikin Yeriko benci sama aku!” seru Refi. Ia terus menampar wajah Yuna bekali-kali. Jiwanya diselimuti dengan emosi yang tak bisa lagi dikendalikan.

 

Yuna berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata di hadapan Refi. Ia tidak ingin menyerah begitu saja. Sekalipun ia harus mati, ia ingin mati dalam keadaan terhormat. Bukan dalam keadaan berlutut di depan wanita seperti Refi.

 

Refi menghentikan tamparannya saat melihat darah segar keluar dari sela-sela bibir Yuna. Dadanya naik turun lebih cepat seiring dengan napasnya yang tersengal. “Kenapa kamu ambil semuanya dari aku!?” seru Refi sambil meneteskan air mata.

 

Yuna masih tersenyum menanggapi pertanyaan Refi. “Aku nggak ambil apa pun dari kamu. Kamu yang melepaskan dia sampai dia jatuh ke pelukanku.”

 

“Kenapa kamu masih senyum di saat kayak gini? Kamu nggak ngerasain sakit? Kamu nggak takut aku bunuh kamu, hah!?” tanya Refi sambil menangis.

 

“Cinta Yeriko ke aku, nggak akan berkurang sedikit pun walau aku mati,” jawab Yuna sambil tersenyum. “Aku bahagia, Ref. Aku bahagia karena aku akhirnya tahu siapa kamu sebenarnya. Aku bahagia karena bisa membuat Yeriko jatuh cinta sama aku dan melupakan wanita jahat seperti kamu. Aku nggak akan pernah menyesal sekalipun kamu bunuh aku karena aku sudah berhasil menyelamatkan Yeriko dari wanita seperti kamu.”

 

Refi tersenyum sambil mengusap air matanya. “Aku udah bilang, aku akan ngelakuin apa pun untuk mendapatkan Yeriko. Kalau kamu nggak mau menyerahkan dia secara baik-baik, aku terpaksa melakukannya dengan cara kasar.”

 

“Aku nggak akan menyerahkan Yeriko sama perempuan kayak kamu.”

 

“Yun, kamu udah sekarat gini. Masih nggak mau nyerah juga?”

 

“Aku nggak akan nyerah sampai aku mati,” jawab Yuna lirih.

 

Refi mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia menyalakan kamera video dan mengarahkannya ke tubuh Yuna. “Yer, kalau kamu mau istri kamu selamat. Temui aku di Sheraton Hotel malam ini!” ucap Refi sambil merekam wajah Yuna yang sudah membengkak dan mulutnya mengeluarkan darah.

 

“Ref, kenapa kamu suka banget tempat yang bau lem dan bau karet kayak  gini?” tanya Yuna lirih. “Bukannya ada tempat lain yang lebih bagus untuk bersenang-senang?” tanyanya lirih sambil menatap mata kamera ponsel Refi.

 

Refi tersenyum. Ia menghentikan rekamannya dan mengirimkan kepada Yeriko. Ia menatap Yuna yang tak berdaya. “Tempat ini lebih cocok buat kamu.” Ia menendang kaki Yuna dan berbalik pergi.

 

“Kalian jaga wanita ini baik-baik, jangan sampai lepas!” perintah Refi.

 

“Siap, Bos!”

 

Refi langsung bergegas melangkah pergi. Ia tersenyum puas melihat kondisi Yuna yang menderita. Ia juga sangat bahagia karena akan bertemu dengan Yeriko. Malam ini, ia akan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mendapatkan Yeriko.

 

((Bersambung ...))

Be Carefull ...! Tahan napas bacanya. I’m sorry ...! Yang nggak tahan konflik berat menepi dulu.

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas