“Ndul,
piye iki?” tanya si Keriting sambil menatap tubuh Yuna yang terduduk di lantai
dalam keadaaan terikat dan mulai lemah. Ia mulai khawatir karena Yuna
terus-menerus memejamkan matanya.
“Aku
juga bingung, Ting. Gimana kalau dia mati?” sahut si Gundul.
“Jangan
sampe, Ndul! Kita cuma disuruh nyulik, bukan bunuh orang. Aku nggak mau kalau
sampai ada yang mati. Dosaku udah banyak, nggak mau bunuh orang, Ndul.”
“Apalagi
dia hamil. Kita bisa bunuh dua nyawa sekaligus,” sahut si Gundul.
“Eh,
kalian itu udah jadi penjahat. Kita udah dibayar buat nyulik ini orang. Dia
nggak kenapa-kenapa. Cuma tidur aja,” tutur pria yang dipanggil bos oleh si
Gundul dan si Keriting.
“Tapi,
Bos. Ini sudah dua puluh jam. Apa nggak kelamaan nyekap dia di sini selama
ini?” tanya si Keriting.
“Kita
lihat dulu! Kita di sini karena duit, Ting. Tugas kita cuma jagain perempuan
ini aja. Selebihnya, biar ditangani sama Mbak Refi. Kalau perempuan ini mati,
yang bunuh juga Mbak Refi, bukan kita,” tutur pria bertato yang sedang duduk
santai di kursinya.
“Tapi,
Bos. Kita bisa mencegah Mbak Refi membunuh wanita ini. Aku melas lihat wajah
dia yang udah lemah kayak gitu. Mana cantik banget. Jadi kayak begitu,” tutur
si Keriting sambil memerhatikan wajah Yuna yang kotor.
“Kita
ini lagi belajar jadi penjahat. Jangan gampang kasihan sama orang! Kamu gimana
sih!?” tutur si Bos.
“Ini
pertama dan terakhir kali aku jadi penjahat. Aku nggak mau lagi nyiksa orang
kayak gini.”
“Wes,
wes ... ini udah nanggung. Kita udah terlanjur nyulik dia. Nggak bisa dilepasin
gitu aja. Bisa jadi, polisi sekarang lagi nyari kita.”
“Bos,
aku nggak mau dipenjara!” rengek si Keriting. “Aku belum kawin!”
“Iya,
Bos. Anakku juga masih kecil.” Si Gundul ikut berbicara.
“Eh,
kamu perlu uang buat bayar sekolah anakmu ‘kan? Udahlah. Kerjain aja ini sampai
selesai. Tunggu Mbak Refi lunasin pembayaran kita, baru kita lepasin perempuan
ini.”
“Tapi,
Bos ... aku nggak mau kalau sampai ada yang mati. Nggak papa nggak dapet dua
puluh juta. Yang penting, aku masih bisa hidup dan cari rejeki lain di luar
sana,” tutur si Keriting.
“Ah,
kamu ini ... kita sudah nanggung, sudah sampai kayak gini. Kita selesaikan aja
dulu. Abis ini, kita nggak usah kayak gini lagi. Aku juga nggak berani kalau
sampai bunuh orang,” tutur si Bos. “Ting, kamu kasih Mbak itu minum lagi!
Jangan sampai lemas!”
Si
Keriting menganggukkan kepala. Ia melangkah perlahan mendekati Yuna sambil
membawa botol air mineral. “Mbak ...!” panggilnya lirih sambil menggoyangkan
pundak Yuna.
Yuna
membuka matanya perlahan. Walau memejamkan mata, ia bisa mendengar semua
pembicaraan tiga pria tersebut. Ia memang sangat lemah, tapi ia tidak begitu
khawatir karena preman yang menculiknya bukanlah orang-orang psikopat
berbahaya.
“Minum
dulu, Mbak!” perintah si Keriting.
Yuna
tersenyum sambil menganggukkan kepala. Tatapan matanya mulai sayu karena ia
sudah kelelahan terikat di tempat yang lembab dan dingin. Bibirnya mulai
gemetaran menahan dingin yang mulai menusuk-nusuk tulangnya.
Si
Keriting tersenyum sambil membantu Yuna minum air putih.
“Mas,
aku kedinginan. Ada air hangat?” tanya Yuna lirih.
Si
Keriting langsung mengedarkan pandangannya. “Nggak ada air hangat di sini,
Mbak. Aku carikan dulu ya!”
Yuna
mengangguk perlahan.
Si
Keriting melepas jaket dan menyelimutkan jaket tersebut ke tubuh Yuna. Ia tidak
tega melihat wajah Yuna yang sudah pucat dan lemah.
“Mau
ke mana, Ting?” tanya si Bos saat si Keriting bergegas keluar dari tempat
tersebut.
“Nyari
kopi, Bos. Bos mau?”
“Boleh,
boleh.”
Si
Keriting mengangguk. Ia tersenyum ke arah Yuna dan berlalu keluar dari tempat
tersebut. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawakan kopi panas untuk
bosnya. Juga membawa air hangat untuk Yuna.
Yuna
merasa beruntung karena orang yang menculik dirinya adalah orang baik dan mau
menolong dirinya. Walau ada banyak hal yang mungkin saja berlawanan dengan
pria-pria itu, salah satunya adalah himpitan ekonomi.
“Mas,
ini di mana?” tanya Yuna lirih saat si Keriting memberinya minum air hangat.
“Di
bekas pabrik karet, Mbak.”
“Daerah
mana?”
Si
Keriting menoleh ke arah dua temannya yang duduk tak jauh darinya. “Aku juga
nggak tahu, Mbak.”
“Bukannya
kamu bilang, udah pernah survey ke tempat ini?”
Si
Keriting menganggukkan kepala. “Iya. Tapi, ke sini selalu sama bos. Dia yang
tahu nama daerah di sini. Aku lupa.”
Yuna
tersenyum kecil. “Ada berapa banyak pabrik karet di kota ini? Ini masih di
Surabaya ‘kan?”
Si
Keriting terdiam. “Aku ...” Ia menghentikan ucapannya saat mendengar suara
sepatu high heels dan langkah yang teratur masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia
langsung bangkit dari lantai, buru-buru menarik jaket yang menutupi tubuh Yuna
dan berjalan menghampiri dua temannya. Ia tidak ingin menimbulkan masalah
karena ketahuan bersikap baik pada orang yang mereka sandera.
Refi
melangkahkan kakinya mendekati Yuna yang masih terikat di lantai. “Hai ...!”
sapanya sambil tersenyum manis.
Yuna
langsung menengadahkan kepalanya, menatap Refi yang berdiri di hadapannya.
Refi
tersenyum puas melihat wajah Yuna yang ada di bawahnya. “Yun, akhirnya aku bisa
membalaskan dendamku sama kamu. Selama ini, kamu selalu berlindung di balik
kekuatan suami kamu dan orang-orangnya. Sekarang, suami kamu itu bahkan nggak
punya kekuatan buat nolong kamu.”
“Suamiku
bukan nggak punya kekuatan. Tapi, dia masih punya perasaan dan kasihan sama
kamu. Lagian, dengan begini ... aku jadi tahu kalau cinta Yeriko ke aku sangat
besar. Dia mau ngelakuin apa pun buat aku, bahkan memberikan nyawanya sendiri.”
Refi
langsung menatap wajah Yuna dengan mata berapi-api. Ia masih tidak bisa
menerima kenyataan kalau Yeriko lebih mencintai Yuna. Wanita yang dikenalnya
tak lebih dari setahun. “Yeriko cuma suka sementara aja sama kamu. Kalau kamu
nggak godain dia terus. Dia nggak mungkin tergila-gila sama perempuan kayak
kamu!” seru Refi.
Yuna
tertawa kecil. “Ref, kamu sudah tahu kenyataannya seperti apa. Yeriko sudah
menolak kamu secara terang-terangan. Yeriko cinta sama aku tanpa aku godain.
Aku nggak perlu jadi wanita penggoda seperti kamu untuk dapetin cintanya
Yeriko.”
Refi
mengerutkan wajahnya. Tangannya langsung mencekik leher Yuna. “Kamu nggak akan
bisa dapetin cinta Yeriko lagi! Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup bahagia.
Kamu adalah orang yang paling aku benci di dunia ini! Karena kamu, aku
kehilangan semuanya!” ucapnya sambil mengeratkan cekikannya.
Yuna
menahan napas saat Refi mencekik lehernya. Ia hanya menatap mata Refi yang
penuh dengan kebencian. Ia tidak ingin Refi terus-menerus hidup seperti ini.
Dia bisa mendapatkan banyak kebahagiaan di luar sana jika mau berlapang dada
menerima kenyataan kalau dirinya memang tidak berjodoh dengan Yeriko.
Refi
melonggarkan tangannya, ia melepas cekikannya saat Yuna mulai kesulitan
bernapas. Tangannya bergetar, ia tidak ingin merenggut nyawa orang lain dengan
tangannya sendiri. Ia ingin melihat Yuna menderita, bukan ingin membunuhnya.
“Uhuk
... uhuk ...!” Yuna merasakan sakit di lehernya. Namun, ia tak bisa membalas
apa yang dilakukan Refi karena tubuhnya terikat.
PLAK
...!
“Karena
kamu, aku nggak bisa kembali sama Yeriko lagi!” seru Refi sambil menampar pipi
Yuna yang sudah bengkak karena tamparan sebelumnya.
“Kamu
yang udah buang Yeriko. Bukan aku yang merebut dia,” sahut Yuna lirih. Ia
berusaha untuk tetap kuat menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
PLAK
...!
“Kamu
yang udah bikin Yeriko benci sama aku!” seru Refi. Ia terus menampar wajah Yuna
bekali-kali. Jiwanya diselimuti dengan emosi yang tak bisa lagi dikendalikan.
Yuna
berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata di hadapan Refi. Ia tidak ingin
menyerah begitu saja. Sekalipun ia harus mati, ia ingin mati dalam keadaan
terhormat. Bukan dalam keadaan berlutut di depan wanita seperti Refi.
Refi
menghentikan tamparannya saat melihat darah segar keluar dari sela-sela bibir
Yuna. Dadanya naik turun lebih cepat seiring dengan napasnya yang tersengal.
“Kenapa kamu ambil semuanya dari aku!?” seru Refi sambil meneteskan air mata.
Yuna
masih tersenyum menanggapi pertanyaan Refi. “Aku nggak ambil apa pun dari kamu.
Kamu yang melepaskan dia sampai dia jatuh ke pelukanku.”
“Kenapa
kamu masih senyum di saat kayak gini? Kamu nggak ngerasain sakit? Kamu nggak
takut aku bunuh kamu, hah!?” tanya Refi sambil menangis.
“Cinta
Yeriko ke aku, nggak akan berkurang sedikit pun walau aku mati,” jawab Yuna
sambil tersenyum. “Aku bahagia, Ref. Aku bahagia karena aku akhirnya tahu siapa
kamu sebenarnya. Aku bahagia karena bisa membuat Yeriko jatuh cinta sama aku
dan melupakan wanita jahat seperti kamu. Aku nggak akan pernah menyesal
sekalipun kamu bunuh aku karena aku sudah berhasil menyelamatkan Yeriko dari
wanita seperti kamu.”
Refi
tersenyum sambil mengusap air matanya. “Aku udah bilang, aku akan ngelakuin apa
pun untuk mendapatkan Yeriko. Kalau kamu nggak mau menyerahkan dia secara
baik-baik, aku terpaksa melakukannya dengan cara kasar.”
“Aku
nggak akan menyerahkan Yeriko sama perempuan kayak kamu.”
“Yun,
kamu udah sekarat gini. Masih nggak mau nyerah juga?”
“Aku
nggak akan nyerah sampai aku mati,” jawab Yuna lirih.
Refi
mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia menyalakan kamera video dan
mengarahkannya ke tubuh Yuna. “Yer, kalau kamu mau istri kamu selamat. Temui
aku di Sheraton Hotel malam ini!” ucap Refi sambil merekam wajah Yuna yang
sudah membengkak dan mulutnya mengeluarkan darah.
“Ref,
kenapa kamu suka banget tempat yang bau lem dan bau karet kayak gini?”
tanya Yuna lirih. “Bukannya ada tempat lain yang lebih bagus untuk
bersenang-senang?” tanyanya lirih sambil menatap mata kamera ponsel Refi.
Refi
tersenyum. Ia menghentikan rekamannya dan mengirimkan kepada Yeriko. Ia menatap
Yuna yang tak berdaya. “Tempat ini lebih cocok buat kamu.” Ia menendang kaki
Yuna dan berbalik pergi.
“Kalian
jaga wanita ini baik-baik, jangan sampai lepas!” perintah Refi.
“Siap,
Bos!”
Refi
langsung bergegas melangkah pergi. Ia tersenyum puas melihat kondisi Yuna yang
menderita. Ia juga sangat bahagia karena akan bertemu dengan Yeriko. Malam ini,
ia akan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mendapatkan Yeriko.
((Bersambung ...))
Be Carefull ...! Tahan napas bacanya. I’m
sorry ...! Yang nggak tahan konflik berat menepi dulu.
Dukung terus biar aku makin semangat bikin
cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment