Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 465 : Puncak Kemarahan Mr. Ye

 


TING!

 

Yeriko langsung membuka pesan yang dikirim oleh Refi. Pesan itu berupa file video. Ia langsung membuka pesan tersebut.

 

DEG!

 

Jantung Yeriko serasa berhenti untuk sesaat. Ia melihat jelas bayangan Yuna terikat dan dalam keadaan yang tidak baik.

 

“Yer, kalau kamu mau istri kamu selamat. Temui aku di Sheraton Hotel malam ini!”

 

Suara Refi terdengar jelas dalam video itu. Chandra, Lutfi dan Satria langsung menghampiri Yeriko untuk melihat video yang dikirimkan oleh Refi.

 

“Istriku, kenapa bisa kayak gitu?” tanya Yeriko lirih. Matanya memerah menahan amarah dan kepedihan.

 

“Sabar, Yer. Kita akan teliti video ini supaya bisa tahu di mana keberadaan Yuna sekarang,” tutur Chandra sambil mengelus-elus bahu Yeriko.

 

Satria langsung mengambil alih ponsel Yeriko. Ia dan Lutfi berusaha meneliti gudang kumuh dan gelap yang menjadi tempat Yuna disekap.

 

Yeriko bangkit dari sofa, ia berjalan mondar-mandir sambil memikirkan cara menghadapi dan membalas apa yang sudah dilakukan oleh Refi.

 

“AARGH ...!” teriak Yeriko histeris. Ia mengepal tangannya erat-erat dan langsung menghujamkan pukulan tangannya ke dinding. Ia tak lagi merasakan sakit saat darah segar mengucur dari punggung tangan hingga kulit metakarpalnya terbuka.

 

“Refi bangsat! Anjing!” teriak Yeriko sambil menendang lemari nakas yang tak jauh dari dirinya.

 

BRAK ...!

 

PRANG ...!

 

Nakas yang ditendang Yeriko terbalik, beberapa vas bunga dan guci yang ada di atasnya langsung pecah, berserakan ke lantai ruangan tersebut.

 

Jheni, Icha dan Bibi War yang ada di lantai bawah langsung berlari begitu mendengar teriakan Yeriko disertai barang-barang yang berjatuhan.

 

“Yer, sabar! Tenang dulu!” pinta Chandra sambil berusaha menghentikan amukan Yeriko.

 

Lutfi juga membantu Chandra agar Yeriko berhenti menyakiti dirinya sendiri. “Yer, berhenti, Yer!” pintanya sambil memeluk tubuh Yeriko dari belakang.

 

“Sadar, Yer! Kendalikan emosi kamu! Yuna nggak akan suka lihat kamu nyiksa diri sendiri kayak gini.”

 

“Gimana aku bisa tenang? Istri sama anakku dalam bahaya, Chan,” tutur Yeriko sambil meneteskan air mata. Wajah Yuna yang bengkak dan terluka membuat hatinya ngilu.

 

“Kalo kamu marah-marah kayak gini, nggak akan bisa nemuin Yuna!” seru Chandra.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia memejamkan mata sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. “Aku laki-laki yang nggak berguna. Aku nggak bisa melindungi istri dan anakku sendiri,” ucapnya sambil merosot ke lantai.

 

“Ada apa ini?” tanya Jheni begitu ia masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

Satria menoleh ke arah Jheni sambil menggelengkan kepala. Memberi isyarat agar tidak mengajukan pertanyaan pada Yeriko yang sedang diselimuti amarah dan kesedihan. Ia memanggil Jheni dan Icha untuk mendekat ke mejanya hanya menggunakan isyarat tangan.

 

Jheni dan Icha langsung menghampiri Satria. Satria menunjukkan rekaman video yang dikirim oleh Refi.

 

“Astaga! Yuna!?” Jheni dan Icha langsung menutup mulut mereka yang terbuka lebar.

 

“Jhen, kenapa Yuna bisa sampai kayak gitu? Dia orang baik, kenapa selalu dijahatin?” tutur Icha sambil terisak. Ia tidak tahan melihat tubuh Yuna yang begitu kotor dan terluka.

 

Jheni juga ikut menangis melihat keadaan Yuna. “Refi jahat banget!” ucapnya lirih. “Aku nggak akan ngelepasin dia gitu aja!” lanjutnya sambil mengusap air mata.

 

Icha terus terisak. Ia mengingat masa-masa saat ia dan Yuna sering bersama. Yuna adalah wanita yang ceria, apa adanya, baik hati dan selalu peduli dengan orang-orang di sekelilingnya.

 

“Cha, jangan nangis terus!” pinta Jheni saat menyadari video rekaman Yuna di menit terakhir. “Yuna nggak akan selemah ini. Kita juga harus kuat!”

 

Semua orang langsung menoleh ke arah Jheni. Mereka tahu, hanya Jheni yang mengerti bagaimana sifat Yuna. Yuna adalah gadis kecil pemberani. Ia tidak akan lari dari masalah, selalu menghadapi semua masalahnya dengan hati yang tegar dan kuat.

 

Jheni menghela napas. Ia memutar kembali video yang sudah dipindahkan ke laptop Satria. Jheni langsung menekan spasi pada keyboard untuk menghentikan video tersebut. “Lihat! Walau Yuna terluka, dia masih tersenyum di video ini. Dia mau ngasih tahu ke kita semua kalau dia baik-baik aja. Dia pasti lagi nunggu kita. Kita harus bergerak lebih cepat!”

 

Semua orang saling pandang. Mereka mengangguk dan bergerak cepat mencari keberadaan Yuna.

 

Yeriko bangkit dari lantai. Ia tidak ingin terus-menerus menjadi pria yang payah karena tidak bisa menolong istri dan anaknya. Ia memutar video itu berkali-kali.

 

“Earphone mana?” tanya Yeriko. “Carikan earphone!” perintahnya saat menyadari kalau Yuna mengucapkan sesuatu dalam video itu.

 

Jheni dan Riyan buru-buru mencarikan earphone untuk Yeriko. Riyan dengan cekatan mengambil earphone dari laci meja kerja Yeriko dan memberikan pada bosnya itu.

 

Yeriko langsung memasang earphone ke telinganya. Ia mencoba menangkap suara lirih yang keluar dari mulut Yuna. “Sat, si Yuna ngasih petunjuk buat kita. Dia ngomong apa di menit-menit terakhir itu?”

 

Satria langsung membesarkan suara laptopnya. Namun, suara Yuna memang sangat kecil. Hampir tak tertangkap dalam video itu. Satria mencoba membaca gerakan bibir Yuna. “Yer, dia bilang tempat ini bau lem dan karet.”

 

“Iya. Aku juga nangkapnya begitu,” sahut Yeriko. “Kira-kira, tempat apa yang bau lem atau karet.”

 

“Bangunan ini kelihatannya bangunan tua,” tutur Lutfi.

 

“Kemungkinan bekas pabrik.” Chandra ikut menambahkan.

 

“Pabrik?” Yeriko langsung menoleh ke arah Chandra.

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

“Kira-kira pabrik apa yang bau lem atau karet?” tanya Yeriko.

 

Chandra langsung menoleh ke arah Satria. “Sat, kamu yang punya akses data perusahaan atau pabrik di kota ini. Bisa dicek?” tanyanya.

 

Satria mengangguk. “Wait!” pintanya sambil berusaha meminta akses ke pihak-pihak terkait untuk mendapatkan data yang mereka inginkan.

 

Semua orang juga mencoba mengakses informasi lewat internet.

 

“Yer, obatin luka kamu dulu!” tutur Icha sambil menyodorkan First Aid Box ke arah Yeriko.

 

“Thanks, Cha!” Yeriko langsung meraih kotak obat tersebut. Ia dengan cekatan membersihkan dan membalut luka di tangannya sendiri. Semua orang sudah memahami bagaimana sifat Yeriko. Ia tidak akan pernah mau disentuh oleh wanita lain selain istrinya dan Bibi War – Wanita yang sudah merawatnya sejak kecil.

 

“Yer, ketemu. Ada enam pabrik karet dan tiga pabrik lem di kota ini. Semuanya tersebar di beberapa tempat. Aku suruh anak buahku menyebar secepatnya,” tutur Satria sambil menatap layar laptopnya. Ia mengirimkan pesan ke anak buahnya untuk menyebar ke beberapa titik.

 

“Yer, kamu siap-siap datengin si Refi. Jangan sampai dia lepas! Soal Yuna, kamu percayakan semuanya sama kami.”

 

Yeriko mengangguk. Ia menarik napas dalam-dalam. Berusaha setenang mungkin menghadapi kekalutan dan ketakutan yang menyelimuti perasaannya.

 

“Chan, kamu pergi ke arah timur. Ada anak buahku yang sudah bergerak ke sana. Lutfi, kamu ke utara, ketemu sama anggotaku di sana. Aku langsung ke Selatan.”

 

Chandra dan Lutfi menganggukkan kepala. Mereka bergegas berangkat menuju lokasi yang dimaksud oleh Satria.

 

“Yan, kamu sama anggotamu langsung ke sebelah Barat!” perintah Satria. Ia bergegas mematikan laptopnya dan memasukkan ke dalam tas.

 

“Jheni, Icha, kalian standby di rumah!” pinta Yeriko sambil bangkit dari tempat duduk. Ia bersiap untuk menemui Refi. Ia memilih pakaian yang berkelas dan merapikan penampilannya. Ia tidak ingin Refi melihat kekacauan dirinya dan merasa kalau bisa menghadapi Yeriko dengan mudah.

 

Jheni dan Icha menganggukkan kepala. Mereka saling berpelukan saat pria-pria yang ada di ruangan tersebut pergi satu per satu.

 

“Jhen, semoga Yuna baik-baik aja. Aku nggak tega lihat dia dijahatin kayak gini,” tutur Icha.

 

Jheni mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu tenang aja! Yuna itu kuat. Dia juga wanita yang baik dan cerdas. Tuhan pasti melindungi dia!” ucapnya. Ia berusaha menenangkan diri sendiri walau hatinya diselimuti kekhawatiran yang besar. Dalam hatinya, ia terus berdoa agar sahabatnya itu bisa pulang dengan selamat.

 

((Bersambung ...))

 

Apa yang akan dilakukan Tuan Ye untuk membalas perbuatan Refi? Tunggu kelanjutan ceritanya besok lagi ya...

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas