Menulis Seperti J.K. Rowling: Tentang Bertahan, Bukan Sekadar Terkenal
Ada satu hal yang sering kita lupa saat menyebut nama J.K. Rowling. Kita selalu ingat suksesnya. Jarang mengingat sepinya.
Kita hafal dunia sihir dalam Harry Potter—Hogwarts, tongkat sihir, Patronus, dan segala mantra yang terasa begitu nyata. Tapi sebelum dunia itu jadi rumah bagi jutaan pembaca, ia lebih dulu menjadi tempat pelarian seorang ibu muda yang hidupnya sedang tidak baik-baik saja.
Dan dari situlah pelajaran menulis itu sebenarnya dimulai.
1. Tulis dari Luka, Bukan dari Tren
Rowling tidak duduk dan berpikir, “Pasar lagi suka cerita sihir.”
Tidak.
Ia menulis karena cerita itu hidup di kepalanya. Karena ia butuh sesuatu untuk bertahan.
Kadang kita terlalu sibuk bertanya, “Ini laku nggak ya?”
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: “Ini jujur nggak ya?”
Menulis ala Rowling bukan tentang mengikuti tren. Tapi tentang setia pada cerita yang membuatmu merasa pulang.
2. Dunia yang Kuat Lahir dari Imajinasi yang Dirawat
Yang membuat Harry Potter terasa nyata bukan hanya konfliknya, tapi detailnya. Ada sejarah, ada aturan, ada konsekuensi. Dunia sihirnya bukan tempelan. Ia dibangun seperti fondasi rumah.
Artinya apa?
Kalau kamu sedang menulis, jangan malas mencatat.
Buat timeline.
Buat latar belakang tokoh.
Tentukan aturan dunia ceritamu.
Karena pembaca bisa membedakan mana dunia yang “dibuat”, dan mana dunia yang “dihuni”.
3. Punya Peta, Tapi Tetap Fleksibel
Rowling dikenal sebagai penulis yang rapi membuat outline. Ia sudah tahu akhir cerita jauh sebelum buku terakhir terbit.
Ini penting.
Menulis tanpa arah itu melelahkan. Tapi menulis dengan arah bukan berarti mematikan spontanitas. Peta itu bukan penjara. Ia hanya kompas.
Dan sebagai penulis, kita butuh kompas agar tidak tersesat di bab ke-50 sambil bertanya, “Ini mau ke mana, ya?”
(Relate? 😌)
4. Penolakan Itu Bagian dari Proses, Bukan Vonis
Naskah pertamanya ditolak berkali-kali. Bayangkan kalau ia berhenti di penolakan ke-3.
Mungkin dunia tidak akan pernah mengenal Harry.
Kadang kita berhenti bukan karena tidak mampu, tapi karena terlalu cepat percaya pada penilaian orang lain.
Rowling mengajarkan satu hal sederhana:
Ditolak bukan berarti selesai. Ditolak berarti belum waktunya.
5. Jangan Tunggu Ideal, Mulai Saja Dulu
Ia menulis di kafe. Di sela mengurus anak. Di tengah kondisi finansial yang tidak stabil.
Tidak ada ruang kerja estetik.
Tidak ada laptop mahal.
Tidak ada “mood yang sempurna”.
Yang ada cuma satu: komitmen.
Kita sering menunggu waktu luang. Padahal waktu luang jarang benar-benar datang. Yang ada hanyalah waktu yang kita paksa jadi ada.
Dan di situlah penulis lahir.
6. Biarkan Karaktermu Bertumbuh
Salah satu kekuatan besar Rowling adalah karakter yang berkembang. Mereka tidak selalu benar. Mereka cemburu, salah paham, takut, bahkan egois.
Dan justru itu yang membuat mereka manusia.
Tulisan yang kuat bukan tentang tokoh sempurna. Tapi tentang perjalanan mereka menjadi lebih dewasa.
Karena pembaca tidak jatuh cinta pada kesempurnaan. Mereka jatuh cinta pada proses.
7. Menulis Itu Tentang Ketahanan Mental
Kalau kita mau jujur, menulis bukan pekerjaan glamor.
Ia sunyi.
Ia sering tidak dihargai.
Ia kadang membuat kita meragukan diri sendiri.
Tapi lihat perjalanan Rowling.
Yang membuatnya sampai di titik itu bukan hanya bakat. Tapi daya tahan.
Dan mungkin itu yang paling relevan buat kita hari ini.
Menulis bukan lomba cepat. Ini maraton. Yang bertahan, yang akan sampai.
Cerita Bisa Mengubah Nasib
Ada sesuatu yang indah dari kisah hidup Rowling. Ia menulis bukan karena sudah sukses. Ia menulis saat hidupnya berantakan.
Dan justru dari situ lahir cerita yang mengubah hidupnya.
Jadi kalau hari ini kamu sedang lelah, sedang ragu, sedang merasa tulisanmu tidak cukup bagus…
Ingat ini:
Bisa jadi, cerita yang kamu tulis diam-diam di sudut kamar itu, suatu hari akan menemukan jalannya sendiri.
Karena menulis bukan tentang seberapa cepat kamu dikenal.
Tapi seberapa lama kamu mau bertahan.
Dan itu… sangat khas ala J.K. Rowling.
.png)
0 komentar:
Post a Comment